Sumber: Buletin GKI Kayu Putih Jakarta
Bangkitnya Yesus dari kematian merupakan makna dari Perayaan Paskah Umat Kristiani. Makna ini sebenarnya sejajar dengan Paskah Yahudi, Hari Raya Paskah merupakan peringatan peristiwa sejarah yaitu pembebasan orang Israel dari perbudakan di Mesir (Keluaran 12:1-28). Paskah mempunyai ciri dirayakan terus-menerus (Misynah Pesakhim). Perayaan Paskah mengingatkan orang Israel akan penyerahan anak sulung kepada Tuhan, juga akan korban anak domba serta pelaburan kedua tiang pintu dan ambang pintu atas dengan darah domba sehingga Allah melewatkan keluarga orang Israel dalam rumah itu dari tulah. Paskah; dari kata Ibrani pesakh yang artinya lewat. Jadi, Paskah sama-sama dimaknai sebagai perayaan pembangkitan dari kematian.
Peristiwa ini sebenarnya hendak menunjuk pada penolakan terhadap Yesus sekaligus penerimaan terhadap orang berdosa. Hal ini mirip dengan kehidupan manusia saat ini. Ada banyak orang yang menolak untuk percaya kepada Yesus, namun justru me nunjukkan penerimaannya terhadap dosa.
Bangkitnya Yesus dari kematian merupakan makna dari Paskah Kristen. Makna ini sebenarnya sejajar dengan Paskah Yahudi, yang bermakna lewatnya bangsa Israel dari suatu proses kematian di Mesir (Keluaran 12:1-28) (Paskah – dari kata Ibrani pesakh yang artinya lewat). Jadi, Paskah sama-sama dimaknai sebagai perayaan pembangkitan dari kematian.
Ketika Yesus dijatuhkan hukuman salib oleh Pontius Pilatus, hal itu bukan disebab kan oleh karena Yesus adalah seorang penjahat besar yang ditangkap. Penyaliban itu lebih didasarkan pada permintaan orang banyak yang turut mengadili Yesus (bnd. Mrk. 15:13-15). Di mata orang banyak saat itu, Yesus dipandang telah melakukan kejahatan besar yang setara dengan kejahatan para penjahat yang dihukum salib. Memang menurut para ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang sering kali berhadap-hadapan dengan Yesus, Yesus telah melakukan pelanggaran terhadap aturan agama Yahudi, misalnya: menghujat Allah dan karenanya layak untuk dijatuhi hukuman mati (lih. Mrk. 14:64).
Orang Israel dulu mempersembahkan korban untuk menebus dosanya. Ini bukanlah sebuah cara yang adil sebenarnya. Manusia yang berdosa, namun hewan yang dikorbankan. Namun, hal itu nyatanya dipakai sebagai sebuah cara sekaligus simbol dari upaya manusia melakukan penebusan dosa. Pada akhirnya, manusia sendirilah yang seharusnya menebus hukuman atas dosa. Dan penebusan yang paling sahih hanyalah dapat dilakukan oleh manusia yang tidak berdosa.
Persoalannya adalah apakah ada manusia yang tidak berdosa? Ada! Dialah Yesus! Oleh karena itu, Ia-lah satu-satunya manusia yang mampu menebus dosa umat manusia. Dosa manusia ditebus oleh manusia juga. Di sinilah kita dapat melihat terjadinya keadilan; suatu keadilan yang diprakarsai Allah dan ditawarkan kepada manusia dalam peristiwa Paskah.
Jadi, ucapan tersebut bukanlah ekspresi perasaan kemanusiaan Yesus yang tengah menderita disalib, karena tokh Ia sudah pernah mengalami semua bentuk penderitaan dan kepedihan manusiawi yang paling berat dan itu tidak membuat-Nya mengaduh. Ucapan tersebut bukan pula ekspresi kekecewaan Yesus yang mengharap Allah akan menghadirkan dunia baru, karena bukan itu tujuan-Nya datang ke dunia. Bukan pula sekadar mengulangi Mzm 22:2 sebagai suatu latihan kesalehan. Teriakan itu diucap kan seolah suatu pertanda; pertanda akan bahaya dosa dan akibatnya, yakni diting galkan Allah.
Sikap yang demikian ini didasarkan pada prapaham bahwa peristiwa pembuangan ke Babel diakibatkan oleh kegagalan bangsa Israel dalam taat kepada Allah. Oleh karena itu, agar mereka tidak mengalami peristiwa buruk yang serupa itu, mereka berusaha untuk sungguh-sungguh menerapkan ketaatan kepada Allah melalui pelaksanaan Taurat. Hanya saja sayang ketaatan yang mereka miliki adalah ketaatan yang mem buta. Mereka lebih taat kepada Hukum Taurat, tafsirannya, dan adat-istiadat Yahudi ketimbang taat pada kehendak Allah (bnd. Mat. 15:3-6). Sehingga muncullah legal isme dalam cara beragama mereka.
Sikap Kristus di Getsemani (Luk. 22:41) memelopori kebiasaan orang Kristen untuk berlutut bila berdoa, mengingat orang Yahudi biasanya berdoa dengan berdiri dan menengadahkan kedua tangannya ke atas.
Golgota (bahasa Aramnya adalah gulgolta = tengkorak) adalah nama sebuah bukit, tempat di mana Yesus disalibkan bersama dua penjahat besar lainnya (lih. Mat. 27:33; Luk. 23:33). Letaknya di luar Yerusalem, tidak jauh dari pintu gerbang kota dan dari jalan besar. Di dekatnya ada satu taman dengan satu kuburan.
Tentang nama Golgota, ada 3 kemungkinan yang bisa terjadi: di tempat itu terdapat banyak tengkorak, tempat itu adalah tempat pelaksanaan hukuman mati, atau tempat itu sedikit banyak menyerupai tengkorak. Saat ini, belum diperoleh kepastian tentang tempat yang pasti dari Golgota.
Dalam Surat Ibrani, Yesus Kristus disebut sebagai Imam Besar (Ibr. 9:11). Namun berbeda dengan Imam Besar yang memimpin ibadah penebusan dosa, Yesus Kristus sendiri yang menjadi kurban penebusan dosa. Ia masuk ke dalam tempat yang kudus sambil membawa darah-Nya sendiri. Jika darah lembu dan domba jantan serta percikan abu lembu muda dapat menguduskan mereka yang najis, maka terlebih lagi darah Yesus Kristus. Ia menyucikan hati nurani kita dari perbuatan yang sia-sia (lih. Ibr. 9:12-14)
Sebagaimana telah disinggung di atas, bagi gereja mula-mula, setiap hari Minggu adalah hari Paskah, karena pada hari Minggulah Yesus bangkit dari kematian. Baru pada abad ke-2 ZB, mulai ada jemaat-jemaat Kristen yang mengkhususkan hari Minggu tertentu untuk dirayakan sebagai hari Paskah setahun sekali. Namun, hal ini pun menimbulkan kebingungan. Hari Minggu yang mana yang dipilih sebagai hari Paskah? Terhadap hal ini, ada perbedaan yang muncul. Jemaat Kristen asal Yahudi berpendapat bahwa hari Paskah sebaiknya ditetapkan sama seperti Paskah Yahudi, yaitu hari ke-14 bulan Nissan, yakni bulan dalam penanggalan Yahudi. Artinya, Paskah itu bisa jatuh pada hari apa saja. Sementara itu, jemaat Kristen yang berasal dari bangsa-bangsa lain berpendapat bahwa Paskah sebaiknya dirayakan pada hari Minggu.
Untuk menjembatani perbedaan pendapat itu, pada tahun 325 ZB, dalam sebuah konsili (= persidangan gerejawi) di Nicea, ditetapkan sebuah patokan bersama untuk menetapkan hari Paskah. Paskah dirayakan pada hari Minggu pertama sesudah bulan purnama yang jatuh pada atau sesudah tanggal 21 Maret, yaitu tanggal permulaan musim semi. Apabila bulan purnama itu jatuh pada hari Minggu, maka Paska diraya kan pada hari Minggu berikutnya.
Keputusan itu dipegang terus oleh semua Gereja di seluruh dunia hingga kini. Dengan patokan itu, setiap tahun Paskah jatuh antara tanggal 22 Maret dan 25 April. Bulan purnama itu sendiri sudah bisa dihitung jauh-jauh hari sebelumnya, sehingga tanggal Paskah sudah dapat dihitung sekian tahun di muka.
Lalu, ketika mereka berdua berpapasan dengan Yesus, dikatakan “Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia” (Luk. 24:16). Salah satu faktor utama dalam diri manusia yang dapat menghalangi orang melihat dengan jelas adalah penderitaan, kesedihan dan kedukaan. Hati yang gelap tidak memungkinkan seseorang melihat karya Allah.
Dua orang murid tersebut mengalami sikap mental yang benar-benar pesimis, sehing ga penderitaan dipandang sebagai suatu bencana. Bagi mereka, tidak ada lagi pengharapan. Semuanya sudah tamat. Yesus yang mereka kenal adalah Yesus yang mati, Yesus yang tergantung di kayu salib (lih. Luk. 24:21). Itulah yang membuat mereka putus asa.
Bagi orang Kristen, memang iman kita adalah kepada Yesus yang tersalib, tetapi juga Yesus yang bangkit, Yesus yang menang. Itulah sebabnya lambang salib yang digunakan orang Protestan adalah salib yang kosong! Karena memang Yesus sudah tidak ada lagi di sana. Salib itu menjadi pengharapan kita! Jadi, penderitaan yang kita alami tidak seharusnya membuat kita putus asa apalagi kehilangan pengharapan, karena kita beriman kepada Yesus yang bangkit, yang memberi pengharapan dan kekuatan kepada kita!
Sebagaimana kita ketahui, Pontius Pilatus adalah seorang gubernur Romawi yang memerintah di propinsi Yudea. Pada zaman Tuhan Yesus setiap hukuman mati harus mendapat persetujuan dari pejabat pemerintah Roma yang ada di daerah tersebut. Oleh sebab itu, para pemimpin agama Yahudi membawa Yesus ke hadapan Pilatus, di kediamannya.
Bagi Pilatus sendiri, tidak ada keraguan sedikit pun tentang ketidakbersalahan Yesus (Mat. 27:23). Ia tidak dapat mengerti mengapa orang-orang Yahudi begitu mengingin kan kematian Yesus, namun tekanan politik dari orang-orang Yahudi membuat ia mengizinkan penyaliban atas diri Yesus. Pilatus takut kalau-kalau orang-orang Yahudi itu akan melaporkan kepada pemerintah Roma bahwa Pilatus tidak mau menghukum mati seorang pemberontak yang membahayakan kedaulatan Roma. Pilatus akhirnya memilih tindakan melawan apa yang semula ia pandang sebagai kebenaran. Dalam keputusasaan ia kemudian memilih untuk melakukan hal yang salah.
Dari pemaparan tersebut, nama Pontius Pilatus sebenarnya menjadi simbol dan peringatan bagi manusia untuk sadar akan bahaya berkompromi dengan ketidak benaran. Nama Pontius Pilatus hendak mengingatkan kita agar sungguh-sungguh mau berpihak kepada kebenaran dan menolak berkompromi dengan kejahatan.
Quo vadis Domine (bahasa Latin), artinya, “Tuan, ke manakah tuan hendak pergi?” Ini adalah sebuah pertanyaan yang sangat terkenal dari Petrus. Konon, ketika Petrus telah ditetapkan untuk dihukum mati oleh Kaisar Nero di Roma, ia melarikan diri ke luar kota Roma. Di luar pintu gerbang kota, Petrus bertemu dengan seorang laki-laki yang hendak memasuki kota. Maka terjadilah percakapan antara Petrus dengan laki-laki itu:
Petrus : Tuan, ke manakah tuan hendak pergi? (Bhs. Latin :“Quo Vadis Domine”)
Lelaki : Aku hendak pergi ke Roma unt312293alibkan (kemudian Petrus mengenal bahwa lelaki itu adalah Tuhan Yesus sendiri).
Petrus : Tuhan, bukankah Engkau hanya sekali saja disalibkan?
Lelaki : Aku melihat engkau melarikan diri dari kematian dan
Aku hendak menggantikanmu.
Petrus : Tuhan, aku pergi. Aku akan memenuhi perintah-Mu.
Lelaki : Jangan takut, karena Aku menyertaimu.
Kemudian Petrus kembali ke dalam kota dan dengan sukacita menjalani hukuman matinya. Ketika hendak disalibkan, ia meminta untuk disalibkan dengan kaki ke atas dan kepala ke bawah. Petrus mengatakan bahwa ia tidak layak disalibkan seperti Tuhannya.
Bangsa Romawi memiliki agama dan sistem peribadahannya tersendiri. Dapat dikata kan bahwa orang-orang Romawi menyembah dewa/i dan bahkan menyembah kaisar. Oleh karena itu, ketika kekristenan muncul pada abad-abad pertama, keberadaannya sangat mengguncang kekaisaran Romawi.
Banyak para pengikut Yesus yang menjadi martir karena mempertahankan imannya kepada Yesus. Bahkan menurut catatan sejarah, hampir seluruh murid Tuhan Yesus menjadi martir karena mempertahankan imannya kepada Yesus (lih. F.D. Wellem, Hidupku Bagi Kristus, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003). Bahkan ada ratusan bahkan ribuan lainnya yang menjadi martir karena mempertahankan imannya di hadapan penguasa-penguasa Romawi.
Bangsa Mesir menguburkan telur di makam mereka. Bangsa Yunani menempatkan telur di atas makam. Sementara itu bangsa Romawi punya pepatah, “Semua kehidupan berasal dari telur.” Dalam sebagian besar kebudayaan dan masyarakat, telur merupakan perlambang kelahiran dan kebangkitan. Itulah sebabnya ketika gereja mulai merayakan kebangkitan Yesus pada abad ke-2, telur menjadi simbol yang populer. Pada masa itu, orang-orang kaya menghias telur dengan daun dari emas, sementara orang yang kurang mampu merebus telur dengan bunga atau daun tertentu sehingga kulit telurnya menjadi berwarna.
Uang sejumlah 30 keping perak juga setara dengan nilai mata uang Romawi sebesar 3 denarius, yang bila dikurskan ke dalam rupiah saat ini bernilai sejumlah Rp. 4.392,00, suatu harga yang sangat murah bagi seorang manusia. Namun di sini kita dapat melihat adanya suatu kontras. Harga yang sangat murah tersebut dipakai Allah untuk membayar lunas segala dosa dan pelanggaran manusia, justru dengan harga yang sangat mahal, yaitu kematian Yesus Kristus (bnd. 1 Kor. 6:20; 7:23).
Bagi kita saat ini, perintah vigilate et orate sebenarnya merupakan sesuatu yang masih tetap relevan untuk dilakukan. Perintah ini mengajak kita untuk memiliki suatu kesadaran diri terhadap segala kemungkinan godaan, memiliki kepekaan terhadap seluk-beluk godaan, dan memiliki suatu persiapan spiritual yang ditempuh melalui doa.
Dari catatan Alkitab, kita dapat melihat bahwa Tuhan Yesus memiliki sahabat dua wanita bersaudara, yakni Maria dan Marta (Yoh. 11:5). Bahkan wanitalah yang dikisahkan memberi penghargaan yang luar biasa kepada Yesus, melebihi para murid-Nya, yakni ketika seorang wanita meminyaki kaki Yesus dengan minyak yang sangat mahal harganya (Mat. 26:7). Wanita jugalah yang menunjukkan kesetiaannya mengikut Yesus sampai di kayu salib dan turut bersedih ketika Yesus mati (lih. Mrk. 15:40-41), sementara para murid Yesus sudah kocar-kacir menyelamatkan diri (Mrk. 14:50). Dan para wanitalah yang pertama kali bermaksud mengunjungi kubur Yesus, sebelum kepada mereka dinyatakan mengenai kebangkitan-Nya.
Perilaku para wanita yang dicatat dalam Alkitab itu telah menjadi teladan perilaku seorang murid Yesus yang memiliki kesungguhan dan ketulusan dalam mengikut Yesus.
Oleh karena itu, ada banyak simbol yang digunakan oleh orang-orang Kristen pada abad-abad pertama untuk mengekspresikan imannya.
Ada tanda ikan yang di atasnya tertulis ichtus, merupakan akronim dari bahasa Yunani: Iesus Christos uhios Theos Soter, yang artinya Yesus Kristus Anak Allah Juruselamat. Ada juga simbol “X” yang menunjuk kepada Kristus yang merupakan salah satu huruf dalam bahasa Yunani, yaitu singkatan dari kata xplotovc, (baca: Kristous). Simbol “X” ini sendiri mirip dengan tanda salib yang dimiringkan, yang juga menunjuk kepada Yesus Kristus.
Dari latar belakang yang demikian, sebenarnya kita dapat mengetahui pandangan ideologi yang dianutnya, yakni bahwa ia memiliki pengharapan mesianis politik. Yudas berharap agar Yesus dapat menjadi mesias secara politik yang mengangkat pedang terhadap pemerintah Romawi
Perilaku para murid yang demikian sebenarnya bisa menjadi cermin bagi kita. Allah melalui Yesus Kristus telah terlebih dahulu menunjukkan kasih dan kesetiaan-Nya kepada kita, bagaimana dengan kita?