Renungan

Artikel-artikel renungan atau yang dapat memberi inspirasi

20 Berkat

Mengapa saya berkata "Saya tidak bisa" jika Alkitab mengatakan bahwa saya bisa melakukan segala sesuatu di dalam Dia yang memberi kekuatan kepada saya (Fil 4:13)

Mengapa saya merasa kurang jika saya tahu bahwa Allah akan memenuhi segala keperluan saya menurut kekayaan dan kemuliaanNya dalam Kristus Yesus (Fil 4:19)

Mengapa saya harus merasa takut jika Alkitab berkata bahwa Tuhan tidak memberi saya roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, ketertiban (2 Tim 1:7)

Mengapa saya harus merasa kurang iman jika saya tahu bahwa Allah telah mengaruniakan kepada saya ukuran iman tertentu (Rom 12:3)

Mengapa saya menjadi lemah jika Alkitab berkata bahwa Allah adalah terang dan keselamatan saya dan bahwa saya akan tetap kuat dan akan bertindak (Maz 27:1, dan 11:32)

Mengapa saya harus membiarkan iblis menang atas hidup saya jika Roh yang ada di dalam saya lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia (1 Yoh 4:4)

Mengapa saya harus pasrah kalah jika Alkitab berkata bahwa Allah dalam Kristus selalu membawa kita di jalan kemenanganNya (2 Kor 2:14)

Mengapa saya harus kekurangan hikmat jika Kristus sendiri telah menjadi hikmat bagi saya dan Allah akan memberi hikmat jika saya minta padaNya (1 Kor 1:30; Yak 1:5)

Mengapa saya harus depresi jika saya dapat mengingat bahwa saya dapat berharap pada Allah yang kasih setiaNya tidak habis-habisNya setiap pagi (Rat 3:21-23)

Mengapa saya harus kuatir, resah, dan rewel jika saya dapat menyerahkan segala kekuatiran saya pada Tuhan yang memelihara saya (1 Pet 5:7)

Mengapa saya harus selalu hidup dalam beban jika saya tahu bahwa di mana ada Roh Allah, ada kemerdekaan, dan Kristus telah memerdekakan kita (2 Kor 3:17; Gal 5:1)

Mengapa saya harus merasa terhukum jika Alkitab berkata bahwa saya tidak ada lagi di bawah penghukuman sebab saya di dalam Kristus (Rom 8:1)

Mengapa saya harus merasa sendirian jika Yesus berkata Ia akan selalu menyertai saya, tidak akan membiarkan dan tak akan meninggalkan saya (Mat 28:20; Ibr 13:5)

Mengapa saya harus merasa terkutuk atau merasa saya menjadi korban nasib sial jika Alkitab berkata bahwa Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum taurat sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu (Gal 3:13-14)

Mengapa saya harus merasa tidak puas dalam hidup ini jika saya,seperti Paulus, bisa belajar untuk menjadi puas dalam segala keadaan (Fil 4:11)

Mengapa saya harus merasa tidak layak jika Kristus telah dibuat menjadi dosa karena kita, supaya di dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah (2 Kor 5:21)

Mengapa saya merasa takut disiksa orang jika saya tahu bahwa jika Allah di pihak saya tidak ada yang akan melawan saya (Rom 8:31)

Mengapa saya harus bingung jika Allah adalah Raja Damai dan Ia memberi saya pengetahuan melalui RohNya yang diam di dalam kita (1 Kor 14:33; 2:12)

Mengapa saya harus terus-menerus gagal dan jatuh jika Alkitab berkata bahwa sebagai anak Allah saya lebih daripada orang-orang yang menang dalam segala hal, oleh Dia yang telah mengasihi saya (Rom 8:37)

Mengapa saya harus membiarkan tekanan hidup mengganggu saya jika saya dapat punya keberanian karena tahu Tuhan Yesus telah menang atas dunia dan penderitaan (Yoh 16:33) " Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah ! " (Mazmur 46:11a)

A Little Lesson about Life

Seseorang menemukan kepompong seekor kupu. Suatu hari lubang kecil muncul. Dia duduk mengamati dalam beberapa jam calon kupu-kupu itu ketika dia berjuang dengan memaksa dirinya melewati lubang kecil itu.Kemudian kupu-kupu itu berhenti membuat kemajuan. Kelihatannya dia telah berusaha semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi.

Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk membantunya. Dia mengambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu. Kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya. Namun, dia mempunyai tubuh gembung dan kecil, sayap-sayap mengkerut.

Orang tersebut terus mengamatinya karena dia berharap bahwa, pada suatu saat, sayap-sayap itu akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuhnya, yang mungkin akan berkembang seiring dengan berjalannya waktu.

Semuanya tak pernah terjadi.

Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak di sekitarnya dengan tubuh gembung dan sayap-sayap mengkerut. Dia tidak pernah bisa terbang. Yang tidak dimengerti dari kebaikan dan ketergesaan orang tersebut adalah bahwa kepompong yang menghambat dan perjuangan yang dibutuhkan kupu-kupu untuk melewati lubang kecil adalah jalan Tuhan untuk memaksa cairan dari tubuh kupu- kupu itu ke dalam sayap-sayapnya sedemikian sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut.

Kadang-kadang perjuangan adalah suatu yang kita perlukan dalam hidup kita. Jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa hambatan perjuangan, itu mungkin justru akan melumpuhkan kita. Kita mungkin tidak sekuat yang semestinya yang dibutuhkan untuk menopang cita- cita dan harapan yang kita mintakan.

Kita mungkin tidak akan pernah dapat "Terbang". Sesungguhnya Tuhan itu Maha Pengasih dan maha Penyayang.

Kita memohon Kekuatan... Dan Tuhan memberi kita kesulitan-kesulitan untuk membuat kita tegar.

Kita memohon kebijakan... Dan Tuhan memberi kita berbagai persoalan Hidup untuk diselesaikan agar kita bertambah bijaksana.

Kita memohon kemakmuran... Dan Tuhan memberi kita Otak dan Tenaga untuk dipergunakan sepenuhnya dalam mencapai kemakmuran.

Kita memohon Keteguhan Hati... Dan Tuhan memberi Bencana dan Bahaya untuk diatasi.

Kita memohon Cinta...Dan Tuhan memberi kita orang-orang bermasalah untuk diselamatkan dan dicintai.

Kita Memohon kemurahan/kebaikan hati...Dan Tuhan memberi kita kesempatan-kesempatan yang silih berganti.

Begitulah cara Tuhan membimbing Kita. Apakah jika saya tidak memperoleh yang saya inginkan, berarti bahwa saya tidak mendapatkan segala yang saya butuhkan? Kadang Tuhan tidak memberikan yang kita minta, tapi dengan pasti Tuhan memberikan yang terbaik untuk kita, kebanyakan kita tidak mengerti mengenal, bahkan tidak mau menerima rencana Tuhan, padahal justru itulah yang terbaik untuk kita.

Tetaplah berjuang...berusaha...dan berserah diri... Jika itu yang terbaik maka pasti Tuhan akan memberikannya untuk kita

Ada Pelangi di Balik Hujan

Oleh: Ev. Margareth Linandi

Hidup manusia di dunia ini tidak selalu penuh dengan kebahagiaan, kesuksesan, keindahan, akan tetapi ada kalanya kehidupan manusia seperti roda yang berputar , mengalami penderitaan, kesedihan, kegagalan, dan lainnya. Pada intinya tidak selalu ada sukacita dalam hidup dan ada kalanya masalah datang dalam hidup manusia.

Tokoh-tokoh Alkitab juga tidak selalu dijanjikan dengan keindahan, kebahagiaan, akan tetapi ada kalanya mereka harus menghadapi masalah terlebih dahulu, ujian barulah mereka mendapat kelegaan. Kita lihat Hana, ibu Samuel, dalam perjalanan hidupnya tidak selalu dia mengalami sukacita dalam hidupnya, kita lihat dari kehidupan keluarganya, dia tidak mengalami keindahan dalam keluarganya, dia malahan mengalami sakit hati,di mana ia dimadu, dan dihina oleh madunya karena ia mandul. ( I Sam 1:6). Kesakitan hatinya tidak membuat dirinya jauh dari Tuhan. Kesakithatian Hana justru membuat Hana makin dekat dengan Tuhan. Dia tidak mencari orang terdekat untuk share masalahnya. Langkah pertama yang dia lakukan adalah Hana berdoa kepada Tuhan dan menangis dengan tersedu-sedu ( I Sam 1: 9-10) bahkan karena pedihnya di hatinya Hana, tidak berkata-kata dalam doanya akan tetapi dia hanya bibirnya yang bergerak tapi tidak terdengar suaranya.

Akan tetapi Allah tidak tidur. Allah tahu kesedihannya dan setelah itu, Allah memberikan kepadanya seorang anak laki-laki sesuai kerinduannya dan Hana juga tidak melupakan janjinya. Hana tetap merawat Samuel dengan baik dan setelah Samuel disapih ia memberikan anaknya untuk melayani Tuhan.

Hidup manusia tidak selalu ada penderitaan, ada tagngisan air mata saja akan tetapi ada pelangi di balik hujan. Tuhan tidak memberikan ujian kepada kita yang membuat kita tidak sanggup untuk menanggung ujian itu. ( I kor 10:13). Bahkan dalam Roma 8:28 dikatakan, ” Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Allah.”

Memasuki tahun baru 2013, kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan kita, kita juga mungkin tidak tahu sampai berapa lama kita diberikan hidup, kita juga tidak tahu apa penderitaan , sakit, kesedihan yang akan kita alami di tahun baru ini akan tetapi kita harus lihat seburuk-buruknya masalah, sesakit-sakitya kita akan tetapi ada pelangi di balik hujan . Amin. Tuhan memberkati kita semua.

Ada Tawa di Balik Luka

Penulis : Lesminingtyas

Mungkin ini adalah tulisan saya yang paling konyol. Tidak ada kata puitis di dalam judul dan tidak ada pesan tersembunyi di balik tulisan ini. Semuanya saya nyatakan secara vulgar, terus terang dan tanpa basa-basi. Ini sejalan dengan sikap saya yang apa adanya, tanpa tambahan pemanis dan penyedap rasa. Kalau orang bertanya siapakah saya? Ya, saya adalah apa yang ada dalam tulisan saya.

Tanpa tedeng aling-aling, saya paling tidak suka dengan sikap NATO (No Action, Talk Only) atau istilah gaulnya OMDO (Omong Doang). Saya paling tidak suka dengan orang yang dengan berapi-api mengajarkan kesucian, kalau dirinya sendiri masih kotor. Saya juga tidak suka dengan pembawa Firman yang mengajak orang damai sejahtera, sedangkan dirinya masih saja bersungut-sungut, tidak pandai bersyukur dan menderita "pauperism" yang selalu merasa dirinya kekurangan.

Dengan kata lain, saya hanya menulis dan bersaksi mengenai apa yang saya imani dan amini. Sebelum saya mengajak orang bersuka cita, saya harus terlebih dulu bersuka cita. Saya tidak akan berbicara kepada orang banyak tentang Yesus Sang Pengasih, kalau saya sendiri masih terus mengiba, meminta belas kasihan orang lain dan tidak bisa mengasihi orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Saja juga tidak akan menulis tentang pentingnya bersyukur, sebelum saya pandai bersyukur baik dalam suka maupun duka, baik dalam keadaan sehat maupun terluka. Saya juga tidak akan bersaksi tentang indahnya melayani Tuhan, kalau saya masih diperhamba uang dan memilih-milih pelayanan yang "basah" dan beramplop tebal.

Kata "Luka" dalam tulisan ini mengandung makna yang sebenarnya, yaitu luka fisik. Saya perlu bersaksi tentang luka fisik, karena sendiri sering bergumul dengan sakit penyakit yang saya alami. Saya sendiri tidak setuju dengan syair lagu dangdut lawas yang mengatakan "lebih baik sakit gigi dapi pada sakit hati..." Mungkin bagi kebanyakan orang syair itu cocok. Tapi bagi saya pribadi, sangat tidak masuk akal. Mengapa demikian? Kalau saya sakit hati, saya hanya cukup menangis, mengadu kepada Tuhan di dalam doa, membaca Firman dan menyanyikan kidung-kidung pujian bertempo riang. Jadi tanpa harus bergantung isi dompet, rasa sakit hati saya bisa sembuh dengan kekayaan maaf yang saya miliki dan pengampunan yang Tuhan janjikan untuk saya sejauh saya mengampuni orang lain.

Nah, kalau sakit gigi gimana dong? Saya bisa merang-raung 1-2 hari hanya gara-gara sakit gigi. Gigi dan kepala saya makin sakit kalau dompet lagi kosong. Sampai saat ini saya belum pernah berhasil mengatasi sakit gigi atau sakit fisik lainnya tanpa bantuan orang lain, dokter atau obat-obantan yang semuanya berujung pada isi dompet. Jadi, bagi saya sakit fisik lebih berat dan lebih mahal dari pada sakit hati yang kesembuhannya sangat tergantung pada jamahan Tuhan Yesus. Kalau seseorang berjumpa dan memiliki hubungan pribadi yang erat dengan Tuhan Yesus, saya rasa tidak ada sikap dan perbuatan orang lain atau musuh yang bisa menyakitinya. Hati orang benar adalah tahta bagi Kristus dan Roh Kudus sendiri yang akan menangkal tombak dan pedang yang dihujamkan iblis. Dengan hikmat dan penyertaan Kristus kita akan mampu bertahan dan tidak goyah atau jatuh tersungkur ke dalam jurang dosa yang bernama sakit hati, dendam dan permusuhan.

Lagi pula kalau kita benar-benar kristiani, seharusnya tidak pernah ada kata musuh dalam hidup kita. Yang ada adalah orang yang memusuhi kita. Tetapi kita tetap tidak boleh menganggapnya sebagai musuh. Justru sebaliknya, kita harus berbelas kasihan terhadap orang-orang yang memusuhi kita atau sesamanya, karena dengan sikap memusuhi berarti mereka sedang berada jauh dengan Tuhannya.

Kembali ke soal sakit fisik, saya akui bahwa kadang-kadang saya KO karenanya. Saya setuju keselamatan dan kesehatan adalah mahal. Kalau soal keselamatan, saya anggap sudah beres karena sudah dibayar lunas oleh darah Kristus. Lha, kalau soal kesehatan, mau tidak mau saya harus merogoh kocek sendiri. Tuhan Yesus tidak pernah memberikan jaminan bahwa dengan mengikutNya, berarti saya akan terbebas dari sakit penyakit. Kalau saya sakit, Tuhan Yesus juga tidak pernah bermukjizat bim sala bim dan seketika itu juga penyakit saya lenyap. Tuhan Yesus juga tidak pernah memberi saya rejeki nomplok dari lotre, togel, kuis berhadiah berkedok SMS, arisan berantai atau penggandaan uang untuk berobat. Walaupun Tuhan Yesus sangat menyayangi saya, tetapi Ia belum pernah mengutus orang yang sekonyong-konyong datang dengan segepok uang untuk saya berobat. Tuhan Yesus justru berkali-kali mengingatkan saya harus bekerja keras walau harus menahan sakit.

Jadi kembali lagi, kesehatan bagi saya adalah sesuatu yang mahal. Untuk kesehatan saya, Tuhan Yesus hanya memberi saya kesadaran bahwa kesehatan lebih berharga dari pada sekedar materi. Ada kalanya Tuhan Yesus mengijinkan saya sakit supaya saya merasakan betapa Tuhan sangat mengasihi dan melawat saya melalui anak-anakNya. Tuhan Yesus mengijinkan saya sakit supaya ketika saya sehat, saya memiliki kepedulian, kasih sayang dan penghiburan untuk sesama yang menderita sakit.

Berbicara soal "Luka" saya justru tertawa dengan pengalaman konyol saya beberapa hari yang lalu. Tepatnya tanggal 12 Maret yang lalu, saya sungguh meraung-raung karena lutut saya terluka. Waktu itu kebetulan hari Sabtu, seperti biasa saya membeli koran Sinar Harapan tak jauh dari rumah. Sebelum ada kenaikan harga BBM, saya dan hampir seluruh tetangga sering menggunakan jasa ojek untuk keluar/masuk kompleks yang kira-kira 200m dari jalan yang dilalui angkot. Terlebih kalau hari sudah mulai gelap, banyak orang merasa ngeri berjalan sendiri melewati tanjakan terjal yang dipercaya orang masih angker.

Beberapa waktu yang lalu, saya menuliskan tentang bagaimana seharusnya kita menyikapi kenaikan harga BBM. Salah satunya saya menyarankan pembaca untuk berjalan kaki kalau hanya untuk jarak kurang dari 1 km. Saya tidak memusingkan apakah ada pembaca yang melakukannya atau tidak, tetapi saya harus tetap melakukannya sebagai saksi sekaligus teladan.

Waktu itu kira-kira jam 17.00 dan gelap sudah mulai mengusir senja. Saya memang sengaja berjalan kaki santai dengan tangan kiri menenteng koran dan tangan satunya menenteng duren (durian) pesanan anak saya. Selama perjalanan saya sedikit konflik dengan batin saya sendiri gara-gara dipanggil "teteh" oleh penjual durian. Saya tidak tahu apa sebabnya tapi panggilan itu kok rasanya aneh di telinga saya. Apalagi aksen bicara saya yang medok, penampilan saya yang "sudah tua" rasanya memang tidak pantas lagi dipanggil "teteh"oleh pedagang yang masih sangat belia itu.

Ketika saya menuruni jalan yang cukup menukik dan berbatu tajam, saya tergelincir dan sedetik kemudian saya sudah bersimpuh. Kejadiannya memang terlalu singkat dan saya sendiri kurang bisa menjaga keseimbangan. Jujur saja waktu itu saya lebih mengkuatirkan durian di tangan kanan dan celana panjang saya yang masih gres. Saya sempat blank beberapa detik dan tidak sadar di mana saya berada. Walaupun telapak tangan kanan saya tergores, saya masih lega ketika durian yang saya beli tidak mental jauh. Saya sering geli setiap mengingat "wajah kartun" saya yang bersuka cita dan bangga karena celana baru saya tidak robek, sedangkan rasa perih di lutut sudah tidak tertahankan. Saya juga geli mengingat nasehat saya yang sering saya pakai menghibur orang yang kira-kira demikian "Kalau kita mengerti seni jatuh, maka jatuhpun terasa nikmat dan indah". Sayang sekali, waktu jatuh saya sedang blank sehingga lupa menerapkan seni jatuh tanpa rasa sakit.

Sambil cengar-cengir saya memungut kembali duren yang telah melukai saya dan kembali berjalan dengan gagah, kembali ke rumah yang kira-kira masih berjarak 100m. Tapi begitu sampai di depan rumah, saya lemas sekali dan tiba-tiba ambruk. Tetangga saya yang melihat saya berlumuran darah, kontan panik karena menyangka saya blooding. Saya masih mendengar sayup-sayup suara para tetangga yang membagi tugas. Ada yang mengambil tanggung jawab menjaga anak-anak di rumah, ada yang bersedia mengontak RS dan ada juga yang menyalakan kendaraannya untuk mengatar saya ke rumah sakit.

Sebelum saya berangkat, saya masih sempat mengucapkan terima kasih untuk para tetangga dan menitipkan anak-anak kepada mereka. Karena dompet saya kebetulan kosong, saya pun menyerahkan ATM kepada salah seorang tetangga yang selama ini saya percaya dan saya ijinkan untuk tahu PIN saya.

Singkat cerita, saya harus telentang di RS. Hampir saja petugas salah membawa saya ke dokter kebidanan. Untung saja saya sadar dan berteriak "Oe, dengkul saya yang sakit, bukan ituannya". Tetangga saya pun menjadi malu karena ditertawakan petugas dan pasien lain.

Ketika dokter bedah memeriksa luka saya, langsung memerintahkan juru rawat untuk menyiapkan alat-alat operasi kecil. Dengan gaya instruksi, dokter itupun berkata "Kamu ambil gunting dan potong celananya! Kamu siapkan alkohol dan betadin untuk mencuci lukanya" Saya pun dengan cepat merespon "Lho, kok celana saya mau digunting, Dok?!" Dengan ketus dokter itu menjawab "Sekarang Ibu mau pilih celana atau dengkul?" 189ch, sadis man!" kata saya dalam hati, bernada cengengesan. Tetangga perempuan yang ikut mengantar saya tak kalah usilnya "Memangnya kredit celananya belum lunas, ya?" bisiknya sambil cekikikan. "Justru itu satu-satunya kenangan celana hasil keuntungan saya ngreditin celana, kok" kata saya melucu. Walaupun sudah dibius lokal, tetapi saya tetap berteriak-teriak ketika lutut saya mendapat 8 jahitan. Saya memang termasuk orang yang tidak tahan sakit. Saya pasti berteriak dan menangis begitu merasa sakit. Menyadari kelemahan tesebut, saya pun menggunakan telapak tangan saya untuk membekap mulut saya sendiri. Saya berharap walaupun saya berteriak, suara saya tidak sampai terdengar orang di luar ruangan.

Ketika dokter itu bertanya "Lho, tanganya kenapa?" Saya tetap mengaduh sambil berpura-pura tidak mendengar. Dalam hati saya bercanda-canda "Want to know aja! Udah tahu luka begitu, masih aja nanya! Kalau gua jawab jujur, memangnya lu mau ngapain? Memangnya beda tindakan untuk luka karena terjatuh dengan luka karena menahan durian? Gua minta diobatin, bukan pengin ditanya-tanya kenapa mengorbankan tangan untuk sebutir durian!"

Begitu selesai merawat dan menjahit luka saya, dokter itu menyarankan saya beristirahat dulu sambil menunggu radiolog datang untuk merontgen lutut saya. Dokter itu meminta saya untuk tidak terlalu banyak menggerakkan kaki kiri saya karena takut jahitannya akan jebol dan posisi tulang lutut dengan tempurungnya tidak pas. Waktu itu saya sempat protes "Lho, kalau belum jelas posisi tulang lutut dengan tempurungnya, kok sekarang sudah dijahit, dok? Nanti kalau lutut saya lepas dan harus dibetulkan, berarti jahitannya dibuka lagi, dok?" tanya saya was-was. Dokter jutek itu pun menjawab "Yang dokter saya apa situ?" Saya hanya menjawab dalam hati "Lha, jelas situ dong! Kalau situ bukan dokter, mana mungkin saya ngijinin situ nusuk-nusuk jarum di dengkul saya!"

Tidak cukup dengan hanya menasehati saya, dokter itu pun memerintahkan juru rawat untuk mengikat kaki saya dengan tempat tempa tidur. Saya hanya tersenyum sambil melucu di dalam hati "Lu orangnya nggak percayaan, ya? Gua nggak perlu gerak-gerakin kaki, cuma perlu gerak-gerakin jari tangan buat ngirim SMS ke atasan, sanak saudara dan kawan-kawan rohani. Lagian gua khan bukan orang yang bebal, kalau dinasehati untuk kebaikan nggak bakal ndableg"

Ketika tetangga menggoda "Mau makan apa? Durian ya?", saya pun hanya berkelakar "Kalau hanya ada satu permintaan yang boleh diajukan, saya minta lepasin ikatan kaki saya. Memangnya saya maling, pakai dikat-ikat segala?" Di tengah canda dan tawa, ada juga tetangga yang berseloroh "Lagian duren berduri saja dibela-belain, masih mending kalau durennya itu duda keren!". Saya pun berusaha membela diri dalam canda "Lho, duren yang itu juga penuh kenangan. Perlu perjuangan untuk mendapatkannya. Dari harga lima belas saya menawar dan menunggu lama untuk bisa mendapat harga sepuluh ribu. Untung saja, tangan ini tidak harus kena 10 jahitan!" Walaupun tangan saya sakit, saya masih menggunakan falsafah jawa "serba bejo". Maksudnya, masih bejo jatuh tertimpa durian, yang penting tidak terluka parah. Kalaupun terluka parah masih bejo, yang penting tidak tetanus. Kalaupun tetanus, masih bejo karena tidak mati. Kalaupun sampai mati masih tetap bejo karena bisa masuk surga.

Dari pada meratapi celanja baru yang sudah terpotong sebelah, saya mencoba bercanda ria dengan kawan-kawan rohani saya lewat SMS. Banyak SMS lucu dari adik-adik rohani saya, seperti "Mbak jangan lari-lari dulu ya.." Saya pun membalas dengan gurauan "Emangnya gw pesulap? Mo jalan aja gak bisa, gimana mo lari, oneng?!" Ada lagi pesan "Makanya Mbak jangan nakal, ha,ha,ha" dan saya pun membalas "Bawel ah!"

Walaupun lutut masih terasa nyeri dan perih, saya sempat menangis bahagia setelah mendapat SMS dari kakak kandung saya "Kamu layak mendapat bintang, karena penderitaan tidak membuatmu cengeng". Saya juga terharu ketika beberapa adik angkat saya menelpon dari Jakarta, Yogya dan Pontianak hanya karena mengkuatirkan keadaan saya. Saya juga terharu ketika orang terpenjara yang baru sekali saya lawat mengirim pesan lewat ponselnya "Ibu sakit apa? Bagaimana keadaan Ibu? Saya cuma bisa berdoa, semoga Ibu cepat sembuh, GBU" "Gila, baru sekali ini saya diberkati dengan �God bless you� sama nara pidana" kata saya heran bercampur harapan semoga orang itu pun percaya bahwa berkat Tuhan menjadi andalannya.

Ketika pulang ke rumah, gugatan pertama saya terima dari anak sulung saya yang duduk di kekas 6 SD."Makanya jangan nulis dan ngajarin orang jalan kaki, nanti disumpahin sama tukang ojek yang nggak dapat duit. Gara-gara Ibu nggak mau ngeluarin uang seribu untuk ojek, sekarang ibu harus mengeluarkan uang ratusan ribu" protes anak saya. "Bukan masalah jalan kaki atau naik ojek! Jalan kakinya sendiri memang bisa menghemat biaya dan membuat badan sehat. Kesalahan ibu adalah jalan sambil meleng. Jadi yang salah bukan tulisan ibu yang mengajak orang lain untuk jalan kaki. Toh ibu juga tidak mengajurkan orang berjalan sambil meleng!"

Ketika seorang tetangga menjenguk, ia pun membawa cerita kalau seminggu yang lalu anaknya jatuh dari ojek di tempat yang sama, sampai bengkak di sekujur tubuhnya. Dengan berapi-api ia membenarkan rumor yang mengatakan keangkeran tempat itu. Saya hanya tersenyum sambil berkata "Bukan salah tempatnya kok, tetapi saya yang meleng, nggak konsentrasi dan pikiran mengembara nggak karu-karuan"

Ketika saya berjalan tertatih-tatih ke kamar madi dan ke ruang makan, anak bungsu yang berumur 3 tahun berusaha menuntun saya. Ini sunguh suka cita yang luar biasa! Ketika saya memaksakan lutut kiri tidak tertekuk, anak saya tertawa geli dan berkata "Ibu kayak penguin!" Saya pun tertawa geli. Ketika saya mengenakan daster supaya lutut tidak tertekan, anak saya yang baru pertama kali melihat saya mengenakan baju spesifik untuk perempuan itu pun tertawa heran sambil nyeletuk "E.Ibu cantik!" Saya pun balik bertanya "Memangnya kemarin-kemarin ibu tidak cantik?". Dengan tawa lugu dan dengan sorot mata polos, anak saya menggelengkan kepala yakin. Saya pun menggelitiki perut anak saya sambil berkata "Enak saja! Ini sudah yang paling cantik, tahu?!"

Ternyata di balik luka masih saja ada tawa. Jadi, sekali lagi secara pribadi saya menolak ungkapan "lebih baik sakit gigi dari pada sakit hati" karena bagi saya sakit gigi lebih kompleks. Untuk menyembuhkan sakit gigi kita perlu motivasi pribadi, pertolongan Tuhan, pertolongan dokter dan tentunya persediaan uang. Sedangkan sakit hati bisa disembuhkan oleh diri sendiri dengan pertolongan Tuhan, tanpa dokter dan tanpa uang. Suka cita itu ternyata bukan identik dengan tanpa penderitaan. Suka cita dapat tercipta ketika seseorang berhasil memaknai sebuah penderitaan dan mengatasinya hingga berhasil keluar sebagai pemenang.

Air Mata Tuhan

Oleh: Sion Antonius

Apakah arti Natal? Jika saya memberikan jawaban Natal adalah hiburan, maka banyak orang mungkin tidak akan setuju. Hanya saja disetujui ataupun tidak faktanya memang menunjukkan bahwa Natal adalah hiburan. Cobalah kita tengok tawaran-tawaran tentang Natal, pastilah semua berkaitan dengan acaranya. Di Mall, ada acara apa di sana? Di Rumah Makan, ada acara apa di sana? Di hotel, ada acara apa di sana? Di diskotik, karaoke, semua membuat acara yang dikaitkan dengan Natal. Acara yang paling sederhana adalah dengan memberikan “Christmas discount”. Acara yang lebih “hebat” lagi tentulah masih banyak. Pada saat membuat tulisan ini, ada sms masuk menawarkan Christmas Dinner dengan tema “An Unforgettable Christmas”, indah bukan tawarannya, tapi apa hubungannya makan malam dengan kelahiran Kristus? Tidak berhubungan sama sekali. Berbicara tentang acara maka ini identik dengan hiburan apa dari acara tersebut, jika tidak menghibur itu bukan acara yang baik. Tidaklah heran apabila artis-artis membuat pertunjukkan dengan tema dikaitkan dengan Natal, walaupun isinya tidak berkaitan sama sekali. Film-film diluncurkan berkaitan dengan liburan Natal, bahkan jika saya tidak salah ingat, salah satu sekuel film Harry Potter pernah ditayangkan perdana dalam rangka liburan Natal. Mall-mall di hias dengan indah luar biasa, lampu berkerlap-kerlip, memberikan tontonan mata pada pengunjung. Jadi jika saya mengatakan Natal adalah hiburan nampaknya tidak salah.

Bagaimana dengan Natal di gereja? Jika saya katakan bahwa Natal di gerejapun adalah hiburan, mungkin banyak orang menjadi tersinggung dan marah. Hanya saja marah ataupun tidak, fakta menunjukkan Natal di gerejapun lebih banyak unsur hiburannya daripada maknanya. Saya menyaksikan sebuah “iklan” tentang perayaan Natal. Dalam video klip ditayangkan betapa hebatnya acara tahun yang lalu, lalu ada tulisan “KITA SUDAH LAKUKAN TAHUN YANG LALU, SEKARANG KITA AKAN LAKUKAN LAGI”. Saya merasakan pesan yang ingin disampaikan adalah tentang kemeriahan, pesta, glamornya, dan sekarang kita akan berpesta kembali. . Bagaimana seriusnya panitia dalam mempersiapkan “pertunjukan” bisa dipantau pada saat melakukan tata rias dan kostum. Rias wajah memanggil penata rias artis, mereka berjam-jam sebelum pertunjukkan (bahasa rohaninya pelayanan) sudah harus hadir untuk mendapatkan rias wajah dan kostumnya wah sangat mewah. Jadi Natal adalah hiburan. Apakah panitia melakukan kesalahan? Nampaknya tidak, karena saya bertanya kepada orang-orang muda, apa yang berkesan dari sebuah perayaan Natal? Jawabannya adalah dramanya, karena banyak ketawanya, lucu, menghibur. Secara “supply and demand” sudah cocok, menurut teori pemasaran sangat tepat. Jangan mengkritik untuk hal demikian, karena pandangan orang bisa berbeda. Bagi orang yang suka perayaan Natal yang penuh dengan hiburan ini sangat lumrah, bukankah Natal adalah sukacita dan sukacita adalah kemeriahan, pesta. Jika mengkritik malah bisa dikatakan sebagai orang yang tidak toleran dan tidak tahu bersukacita, bahkan mungkin balik dikritik. Pernah untuk sebuah acara, seorang pendeta berkata di atas mimbar, “Aneh ya, kita semua sukacita, tapi orang itu kritik kita, acaranya memboroskan uang, padahal dia tidak memberi persembahan”. Ada orang yang mengingatkan, malahan dianggap aneh, di kritik balik bahkan di atas mimbar. Pada saat gedung gereja disesaki banyak orang, saya jadi berpikir, seandainya Justin Bieber mengadakan acara pada tanggal dan jam yang sama dengan perayaan Natal dan tiketnya juga gratis, apakah masih ada orang mau datang ke tempat ibadah? Mungkin masih ada tapi akan lebih banyak orang pergi ke konser Justin Bieber, alasannya Justin tidak setiap tahun ke Bandung (penulis tinggal di Bandung), tapi perayaan Natal setiap tahun, jadi masih ada tahun depan. Kalau boleh saya memberi saran, acara perayaan Natal silakan lakukan apa saja, tapi jika fokus kita hanya pada acara, suatu saat acara ini akan ditinggalkan orang juga karena ada yang lain lebih menarik.

Saya teringat dengan kisah Raja Salomo pada saat membangun Bait Suci, 480 tahun setelah keluar dari Mesir (I Raja-Raja 6). Ini adalah peristiwa yang penting dan sangat dinantikan oleh bangsa Israel. Bait Suci yang dibangun Salomo adalah sangat luarbiasa megah dan mahal, lebih hebat dari Cristal Cathedral di Amerika Serikat. Salomo membangun Bait Suci selama 7 tahun. Pada saat pentahbisan Bait Suci, Salomo mempersembahkan 22 000 ekor lembu sapi dan 120 000 kambing domba (I Raja-Raja 8:63), secara tepat saya tidak tahu harga seekor sapi dan domba, tapi dari perkiraan, biaya untuk hewan itu pada saat ini berkisar 250-300 milyar rupiah. Orang Israel mengadakan perayaan selama 7 hari. Sangat luar biasa dan hebat. Apa respon Tuhan terhadap semua ini? Tuhan menerima semua ini (I Raja-Raja 9:3), adakah pujian dari Tuhan atas semua kemegahan ini? Tidak ada, bahkan Tuhan melanjutkan dengan sebuah peringatan yang keras. Jika Salomo dan anak-anaknya tetap beribadah kepada Tuhan, maka kerajaan Israel akan tetap berdiri, namun jika Salomo dan anak-anaknya berpaling dari Tuhan maka orang Israel akan di buang dari tanah perjanjian dan Bait Suci akan dihancurkan (I Raja-Raja 9:4-9). Sebuah peringatan yang menusuk ke dalam jiwa diberikan oleh Tuhan. Pada waktu membaca bagian ini, saya gemetar, ternyata Tuhan tidaklah “haus” dengan pujian. Usaha-usaha hebat dan megah yang dilakukan manusia, tidaklah membuat Tuhan lebih mengasihi dan mengagumi manusia. Perayaan-perayaan manusia tidaklah menggetarkan hati Tuhan, bahkan Dia memberikan peringatan sangat keras.

Pada bagian lain, saya teringat akan kisah perumpamaan tentang domba yang hilang dan dirham yang hilang (Lukas 15:1-10). Di bagian akhir dari perumpamaan ini Tuhan Yesus memberikan pesan, “AKAN ADA SUKACITA DI SORGA, KARENA SATU ORANG BERDOSA YANG BERTOBAT…..ayat 7, …..AKAN ADA SUKACITA PADA MALAIKAT-MALAIKAT ALLAH KARENA SATU ORANG BERDOSA YANG BERTOBAT…ayat 10”. Inilah yang akan menggetarkan sorga, pertobatan orang berdosa. Bukan perayaan-perayaan yang menghibur dan hebat karena bagi Tuhan semua itu tidaklah berarti apapun.

Kembali kepada pertanyaan apakah arti Natal? Natal adalah air mata Tuhan, apa maksudnya? Apakah Tuhan sedih dengan peraayan-perayaan Natal yang kehilangan makna, mungkin ya, tapi saya ingin kita melihat lebih jauh dari itu. Air mata Tuhan di sini, bukanlah berbicara tentang seseorang yang sedih karena kehilangan sesuatu, tapi berbicara tentang kesedihan sehingga harus melakukan sesuatu.

Kita lihat sebuah ayat yang sangat menjelaskan tentang air mata Tuhan, Yohanes 3:16…”KARENA BEGITU BESAR KASIH ALLAH AKAN DUNIA INI, SEHINGGA IA TELAH MENGARUNIAKAN ANAKNYA YANG TUNGGAL, SUPAYA SETIAP ORANG YANG PERCAYA KEPADANYA TIDAK BINASA, MELAINKAN BEROLEH HIDUP YANG KEKAL”.

Allah adalah Kasih, hal ini yang membawa Tuhan datang ke dalam dunia. Pada saat manusia jatuh ke dalam dosa Tuhan langsung membuat Proklamasi, bahwa akan ada keturunan manusia yang mengalahkan si jahat (Kejadian 3:15). Pada saat proklamasi ini air mata Tuhan sudah jelas nampak, Dia sedih karena manusia kehilangan hubungan dengan dengan penciptanya, oleh karenanya Allah harus bertindak.

Sedikit ilustrasi tentang kasih dan air mata, pada saat seorang bayi berusia beberapa bulan, seringkali bayi itu menangis di tengah malam karena lapar atau pakaiannya basah oleh air seni. Dalam keadaan seperti itu sangatlah tidak mungkin apabila ibunya bangun, kemudian sambil tertawa berkata,”wah lucunya anak saya tengah malam mau minum susu” atau ”aduh….lucu sekali…ngompolnya banyak”. Jika orang waras tidak akan berkata seperti demikian, yang mungkin dikatakan adalah,”Tuhan kuatkan saya”, karena ibu itu sudah lelah, ” sabar ya nak, mama buatkan susu, tapi mama cape, jadi mama buatnya agak lama, sabar ya”, demikianlah ibu itu berkata berulang-ulang, dan jika sangat lelah, mungkin ibu itu membuat susunya sambil berlinang air mata, tapi dia rela, karena apa? Karena kasih.

Cerita lain, seorang anak sakit, pada saat bersamaan ayahnya hanya memiliki uang untuk satu hari di depan. Ayah ini tidak akan tertawa terpingkal-pingkal berkata,”Lihat, uang aku tidak punya dan anakku sedang sakit”. Ayah yang waras tidak akan seperti demikian. Apakah ayah ini akan membiarkan anak yang sedang sakit tanpa membawanya ke dokter? Tentu saja tidak, dia dengan gagah akan mengatakan, “ Mari kita berobat supaya engkau sembuh”. Padahal hatinya hancur, bahkan air mata menetes, karena tidak tahu apa yang harus diperbuat untuk esok hari, karena apa? Karena kasih.

Dari 2 cerita ini, kondisi si ibu dan ayah sangat ekstrim, tapi saya ingin menggambarkan itulah kasih dengan air mata. Pada saat manusia jatuh ke dalam dosa, ini masalah serius, Tuhan tidak menganggap sebuah lelucon, Dia tidak sedang mentertawakan manusia, tapi sebaliknya sedang mencucurkan air mata. Tuhan sedang melihat manusia yang tanpa pengharapan dan harus ditolong. Karena kasihlah Dia pergi ke tempat manusia yang dikasihinya yang akan menolaknya. Jikalau kita tahu bahwa suatu daerah terkena wabah penyakit berbahaya, dan jika kita pergi ke sana pasti akan tertular? Apakah masih mau pergi? Pastilah kita tidak akan pergi. Yesus tidak demikian, Dia meninggalkan sorga untuk menanggung penyakit Anda dan saya. Kasih dengan air mata bercucuran adalah kasih yang habis-habisan ingin melakukan sesuatu untuk orang lain. Pada waktu dalam taman Getsemani, di sanalah kita bisa melihat kasih yang bercucuran air mata dari Tuhan. Di dalam doanya Ia berkata…Jikalau mungkin cawan ini lalu…., Yesus dapat membuat cawan itu berlalu, tapi itu artinya manusia tetap tanpa pengharapan. Dan Yesus menerima cawan itu….supaya ada pengharapan bagi manusia, sehingga di atas kayu salib Dia berkata, “Sudah genap”.

Natal bukanlah hiburan, tontonan, lelucon, tapi bukti keseriusan Allah, karena kasihNya maka Dia datang ke dalam dunia. Jadi alangkah naifnya kita, jikalau dalam merayakan Natal tidak memahami keseriusan Allah, kita hanya mau merayakan Yesus menurut gaya dan cara berpikir manusia. Seharusnya di dalam merayakan Natal maka kita menangisi diri sendiri, karena kitalah maka Dia datang. Jikalau kita tidak berdosa maka Allah tidak perlu menanggung penderitaan. Masih inginkah kita berpesta pada saat Natal?

Pada saat Natal kita bisa mengguncang sorga dengan cara membawa jiwa-jiwa yang bertobat. Jadi jika ada drama, maka drama itu harus membuat orang bertobat. Jika paduan suara menyanyi maka harus ada yang berobat. Jika menaikkan pujian, maka hendaklah pujian itu membawa orang bertobat. Jika berkhotbah, kabarkan firman yang membuat orang bertobat. Karena air mata Tuhan, Dia hadir ditengah-tengah umat manusia, maka kita bisa merayakan Natal, biarlah sukacita kita dalam meresponnya adalah sebuah tindakan yang menggoncang sorga. Selamat Natal 2011.

Catatan: istilah air mata Tuhan adalah perumpamaan tentang kasih yang berkorban, bukan dimaksudkan secara hurufiah Tuhan yang cengeng dan menangis.

Air Mata adalah Bahan untuk Menenun Pelangi yang Terindah

Oleh: Kenia Oktavianie

Pagi ini saya terbangun karena suara seseorang menangis di kamar asrama saya. Sedikit kaget, karena tangisannya begitu kencang di pagi hari yang masih sangat sunyi. Selidik punya selidik, saya mengetahui penyebab ia menangis, ternyata salah satu keluarganya meninggal dunia.

Kejadian pagi ini membuat saya berpikir tentang air mata. Saya teringat pembicaraan saya beberapa hari yang lalu dengan seorang teman. Ia membagikan percakapannya dengan seorang ibu yang suaminya di rawat di rumah sakit karena stroke. Ibu ini menyampaikan pengamatannya selama ia menjaga suaminya berbulan-bulan di rumah sakit. Ia menemukan bahwa orang yang kebanyakan dirawat di rumah sakit karena penyakit stroke adalah seorang laki-laki. Lalu ibu ini membuat sebuah analisa yang menurut saya masuk akal.

Ya, kebudayaan kita menuntut laki-laki untuk tetap kuat dalam kondisi apapun. Jangan menangis kalau kamu benar-benar seorang laki-laki, mungkin kata-kata inilah yang sering kali kita dengar dari mulut orang tua. Hal ini membuat sebagian besar laki-laki yang hidup dalam pola didikan seperti ini bertumbuh menjadi pribadi yang memendam perasaan dan kesedihan. Akibatnya tingkat stress meningkat, dan timbul penyakit karena emosi yang tertahankan. Mungkin inilah yang menyebabkan wanita lebih kuat, mereka lebih bebas mengekspresikan perasaan mereka tanpa tekanan.

Hal ini membuat saya berpikir, sesungguhnya apa yang salah dengan air mata? Bukankah Allah menciptakan air mata untuk suatu tujuan? Dan benarkah ada perbedaan antara pria dan wanita dalam hal menangis? Apakah air mata mengindikasikan kelemahan?

Saya berusaha mencari beberapa penelitian ilmiah tentang air mata. Salah satu yang saya dapatkan adalah ini, "Seseorang yang menangis bisa menurunkan level depresi karena dengan menangis, mood seseorang akan terangkat kembali. Air mata yang dihasilkan dari tipe menangis karena emosi mengandung 24% protein albumin yang berguna dalam meregulasi sistem metabolisme tubuh dibanding air mata yang dihasilkan dari iritasi mata" (sr: indohot.org). Luar biasa bukan? Allah memang menciptakan air mata dengan sebuah tujuan!

Lalu apa yang salah dengan air mata? Apakah air mata mengindikasikan kelemahan?

Alkitab sendiri menyatakan dengan gamblang, pria-pria gagah perkasa yang menangis. Tengoklah Daud, prajurit hebat yang berhasil mengalahkan Goliat. Dia menangis. Bahkan di dalam Mazmur jelas menyebutkan, "Lesu aku karena mengeluh; setiap malam aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku." Daud menangis, bahkan setiap malam.

Ayub menangis dalam kesengsaraannya, "mukaku merah karena menangis, dan bulu mataku ditudungi kelam pekat (Ayub 16:16). Petrus menangis karena menyadari ia telah berbuat dosa dengan mengkhianati Yesus. Yusuf menangis ketika ia bertemu kembali dengan saudara-saudaranya. Dan Yesus pun menangis (Yohanes 11:35).Ya, pria-pria itu menangis.

Lalu apa yang salah dengan tangisan dan air mata? Tidak ada bukan? Setiap orang berhak untuk menangis, tidak peduli gender, usia, atau jabatan sosial. Mengapa? Karena kita masih manusia. Bukankah tangisan adalah reaksi dari perasaan yang alami, sama halnya dengan tertawa? Bahkan Pengkotbah 7:3 mengatakan, "Bersedih lebih baik dari pada tertawa, karena muka muram membuat hati lega."

Air mata mengindikasikan kelemahan? Apa yang salah dengan itu? Bukankah setiap manusia memang lemah? Bukankah ini manusiawi? Air mata justru menunjukkan kerapuhan kita sebagai manusia yang terbatas dan kebutuhan kita akan Pribadi yang tidak terbatas.

Lagi pula bukankah segala sesuatu ada waktunya, "Ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari (Pengkotbah 3:4). Berikanlah waktu pada kesedihan, jika memang itu yang sedang kamu alami. Tidak ada yang salah dengan itu, Allah menciptakannya untuk suatu tujuan yang mulia. Penyangkalan akan kesedihan, sesungguhnya malah membuat manusia jatuh ke dalam ketimpangan emosi yang lebih parah.

Ada penggalan kata-kata indah yang saya baca di buku karya Max Lucado,

Air mata melegakan otak yang panas,

seperti hujan pada awan-awan bermuatan listrik.

Air mata melepaskan kesengsaraan hati yang tak terpikulkan,

seperti luapan air yag mengurangi tekanan banjir pada bendungan

Air mata adalah bahan yang dibuat di surga untuk menenun pelangi yang terindah.

Pada akhirnya, Allah memang mengizinkan kita menangis, dan itu wajar karena kita masih manusia. Bahkan Ia mengahargainya. Namun sebagai seorang Kristen yang dewasa, alkitab mengatakan dalam 1 Tes 4:13b, "supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan." Dalam tangisan karena dukacita yang terdalam pun, ketahuilah bahwa pengharapan di dalam Allah tidak pernah berubah.

Pujilah Tuhan untuk setiap kesempatan untuk menangis. Pujilah Tuhan untuk setiap kesempatan berduka cita. Pujilah Tuhan untuk pengharapan yang Dia berikan.

Jadi, sedang ingin menangis? Lakukan saja! Tidak ada yang salah dengan itu :) Allah menghargainya.

Aksesoris ‘Salib’ di Pinggiran Jalan

Oleh: Sefnat A. Hontong

Sejak tahun 2001 hampir di seluruh wilayah Halmahera di mana terdapat jemaat Gereja Masehi Injili di Halmahera (GMIH), selalu pada saat menjelang perayaan Paskah (masa pra Paskah); --seperti sekarang ini--, akan terlihat fenomena ‘Salib’ di pinggiran jalan. Seolah-seolah tanpa ‘salib’ di pinggiran jalan, belumlah lengkap suasana dan perayaan masa pra Paskah. Beberapa orang pernah bercerita dan menganalisa fenomena yang dianggap baru ini. Sebagian dari mereka mengatakan ‘tradisi’ ini diadopsi dari kebiasaan warga jemaat di Gereja Masehi Inili di Minahasa (GMIM) dalam merayakan masa pra Paskah. Sebagian lagi menyatakan merasa heran dan bingung karena fenomena ini secara tiba-tiba muncul dan terus lestari hingga kini.

Tanpa mempersoalkan dari mana tradisi ini disumberkan, saya lebih memilih untuk melihatnya sebagai sebuah fakta dari dalam, yang saya sebut dengan ‘fakta kontinuitas hidup pasca rusuh’, yang membutuhkan sebuah symbol aplikatif-survived. Berikut saya ingin menjelaskannya!
 
‘Salib’, Fenomena Kontinuitas Hidup Pasca Rusuh

F.W. Dillistone dalam ‘The Power of Symbols’, mengutip Ernst Cassirer seorang professor asal Jerman, menegaskan bahwa manusia adalah “animal symbolicum”, yang berarti: hanya dengan menggunakan simbol-simbol, manusia dapat mencapai potensi dan tujuan hidupnya yang tertinggi.

Tanpa bermaksud mengungkit-ungkit masa lalu yang suram, saya ingin mencatat bahwa accessories ‘Salib’ di pinggiran jalan di masa-masa pra Paskah, --yang mulai muncul sekitar tahun 2001 dan lestari hingga kini--; berdasarkan kutipan pemikiran di atas, pada dasarnya hendak menunjukkan kepada kita tentang sebuah cara berada atau cara mengungkapkan diri (bereksistensi) sebagai masyarakat yang hidup, yang tidak akan ‘kalah’ begitu saja terhadap kekerasan dan konflik yang berdarah-darah.

Hal semacam itu bukan hendak menunjuk pada sikap superioritas sekelompok masyarakat yang satu terhadap sekelompok masyarakat yang lain, namun adalah sebagai wujud dari totality being of community, yang teraktualisasi melalui penghayatan symbol-simbol yang hidup dalam masyarakat. Yang sekarang ini, kebetulan secara kasatmata diwakili penghayatannya oleh warga gereja (orang Kristen)--. Intinya dalam pandangan saya, fakta accessories ‘Salib’ di pinggiran jalan seperti yang tampak sekarang ini, mau memberi indikasi kepada kita bahwa: sesudah masa-masa sulit, selalu ada pengharapan baru untuk hidup di masa depan.
 
Salib Lambang Penderitaan, Rekonsiliasi, dan Perdamaian.

Lalu bagaimana teologi Kristen memberi makna terhadap fakta ’Salib’ seperti ini? Banyak orang Kristen akan secara otomatis mengatakan bahwa ’Salib’ adalah lambang penderitaan. Namun dalam kesaksian Alkitab, makna ’salib’ sebenarnya tidak berhenti pada penderitaan (dan kematian), melainkan berlanjut pada kebangkitan dan hidup baru. Kalau ’salib’ hanya bermakna penderitaan dan kematian, maka kesaksian tentang Yesus-pun akan berhenti dan selesai pada ’kayu salib’. Tetapi, Alkitab memberi kesaksian yang lain, setelah penderitaan dan kematian, Yesus bangkit dan memperoleh hidup baru. Makna ’salib’ masih berlanjut, tidak berhenti pada penderitaan melainkan melampauinya dan menghadirkan kehidupan baru.

Di sini ’salib’ sekaligus menjadi ’jalan’ datangnya kehidupan baru. Karya Yesus seperti itulah yang hendak dijelaskan oleh rasul Paulus dalam Efesus 2:12-16 dan Kolose 1:19-20. Kata memperdamaikan dan pendamaian dalam Efesus 2:12-16 dan Kolose 1:20 tersebut ditulis dengan kata Yunani apokatallaxai -- yang berarti: ’memperdamaikan’ --, dan kata eirenopoietas -- yang berarti ’pendamaian’--. Kata apokatallasso -- yang berarti memperdamaikan --, dipakai dalam rangka menjelaskan proses rekonsiliasi, sedangkan kata eirenopoietas, -- yang berarti pendamaian -- digunakan dalam rangka menjelaskan keadaan atau kondisi yang penuh damai dan sejahtera (eirene) sebagai akibat dari proses rekonsiliasi. Intinya melalui apokatallasso terciptalah eirenopoietas, dan eirenopoietas itu tercipta justru karena peristiwa ’salib’.

Dalam era pasca konflik dan dalam upaya membangun perdamaian seperti di Halmahera dan Maluku Utara, makna ’Salib’ seperti ini sangat penting. Bahkan harus dikatakan jika ’Salib’ hanya dimaknai sebagai lambang penderitaan, hal itu belum mewakili makna ’Salib’ yang sesungguhnya. ’Salib’ yang disaksikan oleh Alkitab adalah ’Salib’ yang bermakna selain penderitaan, juga rekonsiliasi dan perdamaian. Bukan saja rekonsiliasi dan perdamaian dengan Allah, melainkan juga dengan sesama dan seluruh kosmos. Malah menurut saya, jika makna ’Salib’ sebagai rekonsiliasi dan perdamaian ini dibawa ke konteks masyarakat Halmahera dan Maluku Utara di era pasca konflik, maka makna yang harus ditekankan adalah ’Salib’ sebagai simbol rekonsiliasi dan perdamaian di antara manusia yang beragama Kristen dan Islam.

Maka dari itu, apabila accessories ’Salib’ di pinggiran jalan adalah simbol perwujudan diri sebagai masyarakat yang hidup dan tidak ’kalah’ pada kekerasan dan konflik yang berdarah-darah, maka panggilan dan tanggung yang sedang menanti kita adalah membangun perdamaian dan rekonsiliasi yang sejati.

Allah Sumber Penghiburan

Penulis : Lucy Midyette Hobgood

Bacaan : 2 Korintus 1:3-7

Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. . Mat. 5:4 Dua tahun yang lalu, adik laki-lakiku meninggal. Satu bulan kemudian, ibu mertuaku pun meninggal. Selama musim dingin yang suram itu aku berjalan dalam lembah kesedihan dan air mata. Aku bertanya apa tujuan hidupku. Bagaimana Allah dapat menghiburku dalam kesedihan yang mendalam ini?

Pada awal kesedihanku, teman-teman gereja menghiburku dengan kartu ucapan, kunjungan, bunga dan makanan. Pada saat itu, putraku yang berusia 5 tahun tiba-tiba berhenti, berbalik dan berkata, "Mama, mau dipeluk?" Pelukannya menyelimuti aku dengan perasaan bahwa Allah hadir. Suatu malam ketika aku tidak bisa tidur, aku berdoa, "Ya Tuhan, aku membutuhkan Engkau." Segera sesudah itu, telepon berdering. Ternyata seorang sahabatku memberi perhatian dan menjadi jawaban dari doaku. Di lain kesempatan, teman yang lain mengajakku makan siang dan mendengarkan kesedihanku. Firman Allah menjadi sauh bagi jiwaku saat aku mengikuti pemahaman Alkitab dalam kelompok sel. Allah setia dan melalui gereja-Nya, Ia menghiburku.

Apakah Roh Allah mendorong Anda untuk menghibur seseorang yang tengah berduka saat ini? Jika kita percaya dorongan itu, kita menjadi saluran penghiburan Allah bagi mereka yang berduka.

Pokok Pikiran : Setiap kita dapat menjadi jawaban Allah atas doa seseorang yang memohon penghiburan.

Allah, Otoritas, dan Kita

Oleh: Pdt. Samuel T. Gunawan, M.Th

"Samuel yang muda itu menjadi pelayan TUHAN di bawah pengawasan Eli. Pada masa itu firman TUHAN jarang; penglihatan-penglihatan pun tidak sering” 1 Samuel 3:1

Pendahuluan

Kecenderungan banyak orang adalah independen, tidak bergantung dan bertanggung jawab kepada siapa pun. Dengan demikian, merasa bebas berbuat sekehendaknya sendiri, tanpa pengayoman dan pengawasan. Inilah awal dari kekacauan dan bencana!

Allah menetapkan seseorang atau beberapa orang di atas kita untuk kebaikan kita. Mereka seperti payung yang melindungi kita. Payung-payung tersebut adalah otoritas yang telah ditetapkan Allah dalam kehidupan kita. Payung otoritas itu bisa merupakan bentuk hubungan antara suami dan istri (Efesus 5:22-23), orang tua dan anak (Efesus 6:1-3), pemerintah dan masyarakat (Roma 13:1-5), atasan dan bawahan dalam pekerjaan (Efesus 6:5-8), para pemimpin rohani dan jemaat (Ibrani 13:7,17). Apapun warna payung itu, berapapun besar payung itu, bahkan seandainya payung itu berlubang, hendaknya kita jangan keluar dari payung itu. 

Inti Renungan

Apakah otoritas itu? Otoritas adalah wewenang, hak atau kuasa untuk mewajibkan kepatuhan. Dari segi iman Kristen, Allah mempunyai hak, kedaulatan dan kuasa tertinggi untuk menuntut kepatuhan dari ciptaan, karena Dialah sang Pencipta dan Tuhan segala bangsa.  Allah juga berdaulat menetapkan semua otoritas yang ada, baik orang tua, pemerintah, atasan dalam pekerjaan, dan pemimpin rohani.


Bagaimana sikap kita  terhadap otoritas? Secara positif, sikap kita terhadap otoritas adalah tunduk dan taat. Tunduk, artinya menerima dan menghormati otoritas yang atas kita. Taat, artinya melakukan perintah selama otoritas diatas kita tersebut tidak membawa kita berbuat dosa, sesuai aturan kebenaran dan sesuai dengan firman Tuhan. Secara negatif, sikap yang harus dihindari orang Kristen terhadap otoritas adalah Pertama, penyalahgunaan terhadap otoritas; Kedua, melawan otoritas. Penyalahgunaan otoritas, terjadi saat seseorang menggunakan kewenangan yang dimiliki untuk kepentingan yang salah; atau saat ia bertindak sewenang-wenang terhadap yang seharusnya dipimpin dan diayomi. Sedangkan melawan otoritas dapat terjadi dalam dua bentuk yaitu: (1) egoisme adalah  sikap mementingkan diri sendiri, sulit diatur dan tidak mengikuti aturan, lebih mengutamakan perasaan dan keinginan sendiri; (2) pemberontakan yaitu sikap konfrotasi terhadap otoritas yang disebabkan berbagai hal seperti kekecewaan atau  ketidakpuasan terhadap otoritas, hingga menghasilkan gosip, penghakiman dan konflik yang tak terselesaikan. Memberontak terhadap otoritas merupakan menyebabkan kekakacauan. Seorang istri yang tidak mau tunduk pada otoritas suaminya atau seorang suami yang tidak mau tunduk pada otoritas Kristus telah menjadi penyebab utama kekacauan dalam rumah tangga. Seorang staf yang tidak tidak mau tunduk pada otoritas pimpinannya menyebabkan ia kehilangan kesempatan bahkan kehilangan otoritas.


Otoritas dan kebenaran. Orang Kristen harus diingatkan bahwa posisi yang dipegangnya dan  didapatnya saat ini adalah karena Tuhan yang memberikan dan menetapkannya, entah ia sebagai pemegang otoritas atau yang berada dibawah otoritas. Jika seseorang menginginkan posisi itu tetap kokoh, ia harus belajar untuk hidup benar dihadapan Tuhan. Amsal 16:12 mengatakan: “.. tahta menjadi kokoh oleh kebanaran”. Hidup benar dihadapan Tuhan, bertanggung jawab, kesetiaan dan ketekunan dalam melaksanakan hal-hal yang dipercayakan, maka Tuhan akan memberikan promosi untuk hal-hal yang lebih besar lagi. Sebaliknya, keluar dari otoritas menyebabkan kehilangan kesempatan.

Refleksi:


Dalam ayat bacaan kita, Samuel bertumbuh dibawah pengawasan seorang imam, walau pun imam tersebut  sudah tidak diurapi, tetapi Samuel tetap tunduk pada otoritas jabatan imam tersebut. Ia tidak sibuk mengoreksi atau menggosip imam Eli. Ia memberi diri dibawah pengawasan imam Eli. Ia memilih menjadi orang yang bertanggung jawab. Merupakan bagian dan tanggung jawab Tuhan untuk berurusan dengan imam Eli sesuai dengan caraNya. Dan sikap inilah yang membawa Samuel kepada perkenan dan pemakaian Allah yang lebih besar atas dirinya.
Semakin dekat kita dengan para pemimpin kita, semakin banyak hal yang dapat kita pelajari dari mereka. Namun, kedekatan hubungan itu juga membuat kita mengetahui kelemahan mereka. Akhirnya, muncul kekecewaan jika kita hanya melihat kelemahan tersebut. Sebaliknya, justru dengan mengetahui kelemahan pemimpin kita tersebut, ini merupakan proses yang baik sehingga hubungan yang kita jalin menjadi lebih realistis.  Hal sama juga dapat terjadi dalam hubungan keluarga orang tua dan anak, pemimpin rohani dan jemaat, dan lainnya.

Kesimpulan:


Dari apa yang dijelaskan diatas, ada dua sikap yang perlu kita kembangkan yaitu: Pertama, tetaplah berada dalam payung otoritas, artinya jangan memberontak terhadap otoritas apalagi keluar dari otoritas. Kedua, bila ada kesalahan atau kelemahan otoritas tetaplah menjadi orang-orang yang bertanggung jawab dan tunduk pada otoritas.  Bila perlu ada koreksi sampaikan dengan sikap hormat dan tunduk. Tunduk pada otoritas bukan berarti kita harus menaati hal yang salah. Kita perlu menaati hal yang benar, tetapi menolak perintah yang salah yang bertentangan dengan aturan kebenaran dan firman Tuhan.

Always Positive Thinking!!!

Oleh: Ev. Sudiana

Ada seorang ayah yang menjelang ajalnya di hadapan sang istri berpesan DUA hal kepada 2 anak laki-lakinya :

- Pertama: Jangan pernah menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadamu.
- Kedua: Jika pergi ke toko jangan sampai mukanya terkena sinar matahari.

Waktu berjalan terus. Dan kenyataan terjadi, bahwa beberapa tahun setelah ayahnya meninggal anak yang sulung bertambah kaya sedang yang bungsu menjadi semakin miskin.

Pada suatu hari sang Ibu menanyakan hal itu kepada mereka.

Jawab anak yang bungsu:

"Ini karena saya mengikuti pesan ayah. Ayah berpesan bahwa saya tidak boleh menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadaku, akibatnya modalku susut karena orang yang berhutang kepadaku tidak membayar sementara aku tidak boleh menagih".

"Juga Ayah berpesan supaya kalau saya pergi atau pulang dari rumah ke toko dan sebaliknya tidak boleh terkena sinar matahari. Akibatnya saya harus naik becak atau andong, padahal sebetulnya saya bisa berjalan kaki saja, tetapi karena pesan ayah itu, akibatnya pengeluaranku bertambah banyak."

Kepada anak yang sulung yang bertambah kaya, sang Ibu pun bertanya hal yang sama.

Jawab anak sulung :

"Ini semua adalah karena saya mentaati pesan ayah. Karena Ayah berpesan supaya saya tidak menagih kepada orang yang berhutang kepada saya, maka saya tidak pernah menghutangkan sehingga dengan demikian modal tidak susut".

"Juga Ayah berpesan agar supaya jika saya berangkat ke toko atau pulang dari toko tidak boleh terkena sinar matahari, maka saya berangkat ke toko sebelum matahari terbit dan pulang sesudah matahari terbenam.
Karenanya toko saya buka sebelum toko lain buka, dan tutup jauh sesudah toko yang lain tutup."

"Sehingga karena kebiasaan itu, orang menjadi tahu dan tokoku menjadi laris, karena mempunyai jam kerja lebih lama".

MORAL CERITA:

PERBEDAAN PERSEPSI; Kisah di atas menunjukkan bagaimana sebuah kalimat ditanggapi dengan presepsi yang berbeda. Jika kita melihat dengan positive attitude maka segala kesulitan sebenarnya adalah sebuah perjalanan membuat kita sukses tetapi kita bisa juga terhanyut dengan adanya kesulitan karena rutinitas kita. Pilihan ada di tangan Anda.

'Berusahalah melakukan hal biasa dengan cara yang luar biasa'

JESUS LOVES U

Situs penulis: www.menatarohani.blogspot.com/

Anak Beruang yang Penakut

Oleh: Yon Maryono

Ada tampilan Youtube tentang perilaku seekor anak beruang yang lucu karena ekspresi ketakutannya. Terdengar para pemirsanya tertawa karena menyaksikan anak beruang terguling-guling, menghindar, berlari di pojok sangkarnya setiap melihat bayangan dirinya. Saya pun ikut tersenyum melihatnya, tidak hanya perilaku ketakutannya, tetapi juga keheranan karena anak beruang itu takut dengan bayangannya sendiri. Bayangan yang selalu menempel dan seolah-olah mengejar di mana sang beruang kecil itu berada. Yah, anak beruang itu instingnya belum terlatih sehingga kurang peka bahwa induknya siap menjaga dan selalu berada di sampingnya.

Akhirnya, saya pun mentertawakan diri sendiri, karena saya sebagai orang percaya mengaku sebagai anak-anak Allah (bdk. 1 Yoh 3:1), tetapi kenyataannya selalu dihantui perasaan kuatir, gelisah, cemas dan perasaan takut menghadapi pergumulan hidup. Mengaku sebagai anak Allah, tetapi tidak sadar Bapa selalu dekat dengan kita. Mengaku sebagai anak Allah tetapi tidak sepenuhnya tunduk dengan aturan Bapanya. Mengaku sebagai anak Allah tetapi tidak menyadari warisan yang tidak bernilai di sorga, tetapi masih bergelimang di lumpur dosa. Mengaku sebagai anak-anak Allah, yang sering kita nyatakan bahwa Dialah sumber dan jalan keluar bagi semua masalah, ternyata kita hidup dalam alam retorika karena antara apa yang di kata bibir dan isi hati jauh berbeda. Saya baru sadar, saya sudah di Baptis, saya sudah mengakui Iman Percaya kepada Yesus, saya "mengaku" sudah hidup baru tetapi tidak mengerti bahwa hidup baru itu baru dapat dimulai bukan dari baptisan, bukan dari pengakuan di mulut tetapi hidup baru itu baru dimulai dari kematian. Kita lupa, ajaran Kristus yang paradoksal : lahir baru itu timbul dari kematian. Anda boleh klaim lahir secara phisik pada saat lahir di bumi, tetapi lahir baru dimulai dengan kematian. Selama kita belum merasakan mati bersama Kristus, menyalibkan kemauan daging kita, dan mengenakan manusia baru yang roh dan pikiran kita sudah diperbaharui menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (bdk Ef 4:23-32) maka di baptis dengan cara selam atau percik pun tidak ada artinya.

Kondisi orang percaya yang gelisah, takut dalam ungkapan Pemazmur telah diingatkan: Mengapa engkau tertekan hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam jiwaku? Berharaplah kepada Allah (Mazmur 42:12). Dalam Mazmur ini tersirat bahwa manusia yang selalu kuatir dalam kehidupannya adalah manusia yang ragu berharap kepada Allah. Iman yang bercampur dengan keraguan memberikan celah bagi iblis masuk di dalamnya. Jadi, bila orang percaya ketakutan maka iblis tertawa. Iblis akan membiarkan orang ini masuk Gereja setiap minggu bahkan ikut dalam setiap kegiatan Gereja. Iblis membiarkan orang ini berdoa. Si Iblis mengetahui, mereka yang mengaku anak Allah, adalah orang peragu terhadap kekuasaan-Nya, sehingga tidak mungkin memunyai kuasa atau kemampuan mengusirnya. Mungkin si Iblis juga bergumam: Kasihan... deh lu.

Anak Kerang

Pada suatu hari seekor anak kerang di dasar laut mengadu dan mengaduh pada ibunya sebab sebutir pasir tajam memasuki tubuhnya yang merah dan lembek.

"Anakku," kata sang ibu sambil bercucuran air mata, "Tuhan tidak memberikan pada kita bangsa kerang sebuah tangan pun, sehingga Ibu tak bisa menolongmu. Sakit sekali, aku tahu anakku. Tetapi terimalah itu sebagai takdir alam." "Kuatkan hatimu. Jangan terlalu lincah lagi. Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu dan nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa kau perbuat", kata ibunya dengan sendu dan lembut.

Anak kerang pun melakukan nasihat bundanya. Ada hasilnya, tetapi rasa sakit bukan alang kepalang. Kadang di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Dengan air mata ia bertahan, bertahun-tahun lamanya. Tetapi! tanpa disadarinya sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya. Makin lama makin halus. Rasa sakit pun makin berkurang. Dan semakin lama mutiaranya semakin besar. Rasa sakit menjadi terasa lebih wajar.

Akhirnya sesudah sekian tahun, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, dan berharga mahal pun terbentuk dengan sempurna. Penderitaannya berubah menjadi mutiara ; air matanya berubah menjadi sangat berharga. Dirinya kini, sebagai hasil derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lain yang cuma disantap orang sebagai kerang rebus di pinggir jalan.

Cerita di atas adalah sebuah paradigma yg menjelaskan bahwa penderitaan adalah lorong transdensial untuk menjadikan "kerang biasa" menjadi "kerang luar biasa". Karena itu dapat dipertegas bahwa kekecewaan dan penderitaan dapat m! engubah "orang biasa" menjadi "orang luar biasa".

Banyak orang yang mundur saat berada di lorong transdensial tersebut, karena mereka tidak tahan dengan cobaan yang mereka alami. Ada dua pilihan sebenarnya yang bisa mereka masuki : menjadi ´kerang biasa´ yang disantap orang, atau menjadi `kerang yang menghasilkan mutiara´. Sayangnya, lebih banyak orang yang mengambil pilihan pertama, sehingga tidak mengherankan bila jumlah orang yang sukses lebih sedikit dari orang yang `biasa-biasa saja´.

So..sahabat mungkin saat ini kamu sedang mengalami penolakan, kekecewaan, patah hati, atau terluka krn orang2 disekitar kamu..cobalah utk tetap tersenyum dan tetap berjalan di lorong tersebut, dan sambil katakan didalam hatimu.. "Airmataku diperhitungkan Tuhan..dan penderitaanku ini akan mengubah diriku menjadi mutiara2..."

Anjing Kecil

Untuk benar-benar memahami rasa sakit (kesukaran) dalam hidupmu, kau harus menjalaninya. Seorang petani mempunyai beberapa anak anjing yang akan di jualnya. Dia menulisi papan untuk mengiklankan anak-anak anjing tersebut, dan memakukannya pada tiang di pinggir halamannya.

Ketika dia sedang dalam perjalanan untuk memasangnya, dia merasakan tarikan pada bajunya. Dia memandang ke bawah dan bertemu mata dengan seorang anak laki-laki kecil.

" Tuan," anak itu berkata, "Saya ingin membeli salah satu anak anjing anda." "Yah," kata si petani, sambil mengusap keringat di lehernya, "Anak-anak anjing ini berasal dari keturunan yang bagus dan cukup mahal harganya."

Anak itu tertunduk sejenak, kemudian merogoh ke dalam saku bajunya, Ia menarik segenggam uang receh dan menunjukkannya kepada si petani.

"Saya punya tiga puluh sembilan sen. Apakah ini cukup untuk melihatnya?" "Tentu," kata si petani yang kemudian bersiul " Dolly, kemari!" panggilnya.

Dolly keluar dari rumah anjingnya dan berlari turun diikuti oleh anak-anaknya. Si anak laki-laki tersebut menempelkan wajahnya ke pagar, matanya bersinar-sinar.

Sementara anjing-anjing tersebut berlarian menuju pagar, perhatian anak laki-laki tersebut beralih pada sesuatu yg bergerak di rumah anjing. Perlahan keluarlah seekor anak anjing, lebih kecil dari yang lain. Ia berlari menuruni lereng dan terpeleset. Kemudian dengan terpincang-pincang berlari, berusaha menyusul yang lain.

"Aku mau yang itu," kata si anak, menunjuk pada yg anak anjing kecil itu.

Sang petani berjongkok disampingnya dan berkata," Nak, kau tidak akan mau anak anjing yang itu, dia tidak akan bisa berlari dan bermain bersamamu seperti yang bisa dilakukan anak-anak anjing lainnya."

Anak itu melangkah menjauh dari pagar, meraih ke bawah, menggulung celana di salah satu kakinya, memperlihatkan penguat kaki dari logam yang melingkari kakinya hingga sepatu yg di buat khusus untuknya.

Ia memandang sang petani, dan berkata, "Anda lihat, tuan, saya juga tidak bisa berlari, dan anak anjing itu memerlukan seseorang yang memahaminya."

Dunia penuh dengan orang-orang yang memerlukan seseorang lain yang mau memahaminya. Yesus berkata, "Sebab barangsiapa malu karena Aku, Aku-pun akan malu karena orang itu di hadapan Bapa-Ku"

Tidak merasa malu? berikut ini adalah test yg paling mudah............jika kau mengasihi Tuhan, dan tidah malu atas hal-hal indah yang dilakukan-Nya bagi kita.

Antara Mbok Wek dan Yu Paing

Penulis : (Kerjasama dengan Retno Palupi)

Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia. (Ef. 4:29) Praaang! Terdengar bunyi piring pecah. Diikuti langkah kaki laki-laki yang berlari meninggalkan seorang ibu yang bersimpuh tersedu. "Duh Gusti, ampuni anakku! Ngger, Cah Bagus, taat sama orang tua!" Demikianlah cara Mbok Wek (begitu orang-orang sekampung memanggilnya) menanggapi kenakalan anak-anaknya: ia selalu mendaraskan kata-kata bagus yang berlawanan dengan kekurangajaran si anak. Ratapannya jadi lebih menyerupai sebuah doa.

Lain lagi dengan Yu Paing (bukan nama sebenarnya). Janda cerai yang mesti menanggung tujuh anak ini cenderung bermuka masam. Kalau anak-anaknya membuat masalah, tak ayal perkataan lucah langsung terlontar mencemari udara kampung kami.

Hasilnya? Setelah besar, anak-anak Mbok Wek menjadi "orang": ada yang insinyur, dokter spesialis, perwira polisi, pengusaha. Adapun anak-anak Yu Paing: yang perempuan terjerumus ke dalam pelacuran, yang laki-laki menjadi begundal jalanan.

Perkataan adalah "senjata" yang ampuh. Ia bisa dipakai untuk membangun, namun bisa pula disalahgunakan untuk menghancurkan orang. Karena itulah, saat membicarakan kehidupan baru yang semestinya dijalani oleh orang-orang yang telah ditebus, Paulus berbicara panjang lebar tentang pentingnya berkata-kata secara bijaksana.

Ya, sebagai orang Kristen, kita perlu mengekang lidah dan menjadi teladan dalam perkataan. Kalau hati kita telah diperbarui, semestinya perkataan kita juga diperbarui, karena yang diucapkan mulut meluap dari hati.

Antara Usaha dan Anugerah

Penulis: Yogi Triyuniardi

Alkisah, ada seorang anak manusia yang sedang bergumul dengan Sang Penciptanya. "Tuhan", seru anak manusia itu. "Mengapa Engkau begitu jauh? Mengapa aku Kau buang di bumi ini?" Tidak ada jawaban.

"Aku ingin bertemu denganMu, ya Allahku." kata anak manusia itu. Aku tahu dari nenek moyangku, bahwa Engkau bertahta di atas langit."

"Aku akan berusaha melintasi langit itu, agar aku bisa bertemu denganMu!" Lalu ia membuat sepasang sayap besar yang terbuat dari kerangka kayu, dilapisi oleh bulu-bulu burung elang yang besar, diikat secara tersusun rapi, layaknya sayap seekor burung.

Setelah beberapa bulan mengerjakan sayap ini, dan selesai, ia membawa sayap buatannya ke puncak tebing yang paling tinggi, memasang sayap tersebut ke tubuhnya, dan mengepak-ngepakan sayapnya, layaknya seekor burung. Ia melompat dan berhasil terbang di udara! Ia berkata dalam hatinya, "Tuhan, aku akan kembali ke rumahMu."

Langit begitu luas. setelah beberapa jam anak manusia itu mengepakkan sayap buatannya, ia menjadi lelah. Angin berhembus lebih kencang dan merusakkan sayap buatannya. Ia jatuh dari langit, tanpa daya.

Sebelum ia terhempas ke bumi, ia sempat berkata dalam hatinya, "Tuhan, aku sudah berusaha dengan sekuat tenagaku. Namun aku gagal. Aku tak bisa bertemu denganMu. Maafkan aku yang sombong ini, Ya Tuhanku."

Tiba-tiba dalam hatinya ada suara, "AnakKu, Kuterima permohonan maafmu. sekarang engkau tahu bahwa semua usahamu sia-sia. Aku mau supaya engkau percaya sepenuhnya padaKu."

Ia menjawab, "Ya Tuhan, sekarang aku percayakan hidupku. Aku berserah penuh kepadaMu." Lalu terdengar suara seperti benda jatuh dari langit. Sang anak manusia telah mati.

Tubuhnya memang mati. tetapi jiwa dan rohnya tidak. Ia segera keluar dari tubuhnya yang sudah menjadi mayat, dan melayang ke udara, kembali ke pangkuan Bapa di Sorga.

Saudara-saudariku yang kukasihi dalam Tuhan Yesus, banyak orang mengira bahwa kita dapat kembali ke sorga dengan kekuatan dan usaha kita sendiri. Kita harus mencari pahala sebanyak-banyaknya, dengan tujuan bahwa Allah akan melupakan dosa kita yang besar itu, dan melihat "jasa" yang kita lakukan. Ketahuilah, bahwa usaha manusia itu sia-sia, dan hanya Allah saja yang dapat menyelamatkan kita. Dan Ia telah menyelamatkan kita dengan menebus kita dari dosa-dosa dan pelanggaran kita, Ia cuma minta supaya kita percaya kepadaNya.

Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: Jangan ada orang yang memegahkan diri. (Efesus 1:8-9)

Tuhan Yesus memberkati.

Apa yang Kelihatan Baik Belum Tentu Benar Adanya

Suatu sore, seorang pemuda datang ke sebuah restoran yang menjual ayam goreng dan membeli 9 potong ayam. Ia membawa ayam gorengnya ke taman, untuk dinikmati bersama kekasihnya di bawah sinar rembulan yang romantis. Ketika membuka bungkusan ayam goreng itu, pemuda itu terkejut. Bukan ayam yang didapatinya, melainkan uang hasil penjualan restoran itu sebanyak 9000 dollar. Pemuda itu kemudian mengembalikan uang itu dan meminta ayam goreng sebagai gantinya. Pemilik restoran, merasa kagum atas kejujuran si pemuda, menanyakan namanya dan mengatakan hendak menelpon wartawan surat kabar dan stasiun televisi agar membuat cerita tentang si pemuda. Ia akan menjadi pahlawan, sebuah contoh nilai kejujuran dan moral yang akan mengilhami yang lain!

Namun pemuda yang sedang lapar itu menolaknya. "Kekasihku sedang menunggu. Aku hanya ingin ayam gorengku." Pemilik restoran menjadi semakin kagum atas sikap si pemuda yang begitu rendah hati. Ia memohon agar diijinkan menceritakan kejadian itu kepada wartawan. Pada saat itulah si pemuda jujur menjadi marah dan meminta ayam gorengnya.

"Aku tidak mengerti" kata pemilik restoran. "Anda adalah satu-satunya pemuda jujur di tengah dunia yang tidak jujur! Ini merupakan suatu kesempatan yang baik untuk mengatakan kepada dunia bahwa masih ada orang-orang jujur yang mau bertindak benar. Saya mohon, beritahukan nama Anda dan juga nama wanita itu. Apakah ia istrimu?"

"Itulah masalahnya," kata si pemuda. "Istriku ada di rumah. Wanita di dalam mobil itu adalah kekasihku. Sekarang berikan ayamku agar aku dapat pergi dari sini."

Moral of the story: Mudah untuk terlihat baik di depan orang-orang yang tidak mengenalmu. Banyak di antara kita yang melakukan perbuatan baik di sana sini, pergi ke tempat ibadah, berkata benar, dan semua orang mengira kita adalah sosok ideal yang sebenarnya tidak demikian.

Yang terpenting adalah apa yang ada di dalam hatimu. Tidaklah Penting berapa banyak hal yang kau perbuat atau apa yang orang lain kira tentang dirimu. Yang penting adalah hal yang terdalam. Jangan lakukan sesuatu supaya orang lain menyukaimu atau supaya seseorang kagum padamu - lakukan sesuatu untuk dirimu sendiri, jadikan dirimu seseorang yang lebih baik.

Apakah Ada Hari Esok

Oleh: Yon Maryono

Pada saat melihat tayangan TV, penyanyi Utha Lekumahuwa kembali ke pangkuan Bapa di Sorga, yang diiringi background soundtrack musiknya "esok ‘kan masih ada", terbesit pesan optimis dalam kehidupan esok bagi pribadinya. Lagu itu telah memberikan kenangan bagi penggemarnya yang sekaligus rasa duka mendalam. Pada akhir hidupnya, didasarkan pemberitaan diabdikan dalam pelayanan Gereja telah memberikan pesan lain bahwa hari esok sungguh telah dipersiapkan dan dipertanggungjawabkan dengan baik di hadapan Bapa. Pertanyaan bagi kita adalah: Apakah hari esok ada bagi kita? Apakah sisa waktu hidup kita telah diisi kehidupan sesuai kehendak Tuhan, dan memberi buah kepada sesama?

Saya mengenal sepasang suami isteri doktor Teologi. Mereka pernah ditawari dalam jabatan dalam kekuasaan pemerintahan, tetapi tawaran jabatan dan fasilitas tersebut ditolaknya. Cerita ini pernah diungkapkan pada suatu kesempatan kepada saya: "Sepanjang perjalanan hidup saya," kata sang suami, "kami sudah cukup berbahagia dan bersuka cita karena tidak pernah melakukan sesuatu, yang menurut penilaian kami pribadi kurang baik di mata Tuhan. Kami kuatir kalau masuk dalam lingkaran kekuasaan, tergiur dan kami jatuh, sehingga kehidupan yang telah terbina 50 tahun tidak berarti dihadapan-Nya." Pasangan suami-isteri ini berfikir tentang sisa perjalanan hidup, hari esok mereka yang dapat runtuh oleh karena pengaruh duniawi, sehingga tidak dapat mengakhiri pertandingan dalam hidup ini dengan baik. Pantaslah, kalau hidup mereka sederhana, hidupnya tidak di jalan utama atau komplek orang kaya. Saya pun juga mengenal saudara seiman eks salah satu menteri di negeri ini yang parkir kendaraan jabatannya di tepi gang, pernah makan dengan nasi bungkusan. Hidupnya sederhana tidak seperti manajer yang penuh segala fasilitas mengelilinginya. Memang, kehidupan terasa aneh bila berbeda dengan kehidupan dunia.

Kemungkinan masalahnya tidak terletak pada usia, penampilan sederhana, kekayaan atau kemewahan, tetapi pandangan dan sikapnya terhadap kehidupan esok yang merupakan bagian sisa waktu hidup yang tidak pasti. Mereka selalu berjaga dan waspada, sebagaimana Surat 1 Petrus 4:2: Supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah. Sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu (Mark 12:15b). Selanjutnya, Paulus dalam 2 Timotius 2:7 menuliskan pengakuan yang luar biasa: aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memeliharan iman. Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah (Fil 1:21-22b). Coba kita perhatikan kata "telah" yang diucapkan Paulus "mencapai garis akhir" saat dia masih hidup. Mampukah kita katakan demikian saat ini.

Ada kisah heroik yang luar biasa yang banyak menginspirasi spirit untuk bertanding sampai akhir, seseorang bernama John Stepen Akhwari. Seorang pelari marathon dari Tanzania yang mengikuti Olimpiade Meksiko 1968. Ia menjadi terkenal bukan karena nomor satu dalam Marathon itu, tetapi justru yang paling buncit. Itu pun saat lapangan pertandingan sudah ditinggalkan penonton, dan masih tersisa beberapa panitia pertandingan. Pada saat berlari ia cedera dilutut sampai terlepas engselnya, keluar darah. Lututnya dibalut, ia terus berlari dan berlari, sambil menahan derita sakitnya. Ia menyeret kakinya setapak demi setapak... terus... terus... dengan kekuatan akhirnya sampai ke garis finish. Tahukah saudara, juara pertama dalam Marathon ini bernama Mamo Wolde dari Ethiopia dengan waktu 2:20:26. Dan Akhwari masuk finish dengan waktu 3:25:27 artinya pertandingan sudah berakhir 1 jam lebih yang lalu. Pada terik matahari dan panitia sudah membersihkan lapangan, salah satu Panitia terkejut dan menghampiri bertanya: "Mengapa dalam kondisi luka seperti ini saudara tetap meneruskan pertandingan?" Jawab Akhwari, "Negaraku mengirim aku sejauh 10000 mil dari tempat ini bukan untuk memulai pertandingan tetapi negaraku mengirim aku untuk mengakhiri pertandingan dengan baik." Koran paginya yang menjadi "Head Line" bukan juara satunya tetapi orang yang paling akhir masuk ke garis finsh oleh karena semangatnya menyelesaikan pertandingan. Spirit Paulus yang telah mengakhiri pertandingan telah dicontoh dengan baik oleh Akhwari.

Dari perenungan ini, membawa dalam suatu pembelajaran bahwa hidup ini ternyata tidak tergantung dari lamannya tetapi kualitasnya, hidup ini tidak tergantung awalnya tetapi akhirnya. Oleh karena itu, selalu menganggap hari esok adalah hari akhir telah mendorong tindakan berjaga dan waspada untuk mencapai akhir kehiduan yang berkualitas di hadapan Kristus.

Apakah Hidupku Berkesan Baik?

Oleh: Ev. Margareth Linandi

Ada seorang anak Tuhan yang memiliki tujuan ingin memberitakan Injil ke segala tempat. Satu kali, dia memberanikan diri untuk berbicara dengan papa dan mamanya sebelum dia pergi memberitakan Injil ke desa-desa terpencil. Dia berkata, ”Pa, Ma, ayo dong ikut Nani (bukan nama asli) pergi ke gereja! Enak loh mengenal Tuhan itu.” Kemudian muncul satu jawaban yang sangat menyesakkan Nani dari papanya, ”Nak, kami tahu sekali bahwa Tuhan Yesus sangat baik, dan dia sangat sayang dengan kami semua. Kami juga ingin percaya kepada Tuhan, tetapi kami tidak bisa pergi ke gereja. Mengapa? Karena kelakuanmu sehari-hari belum menjadi contoh bagi kami. Bagaimana tidak, kamu selalu marah-marah dan melawan kami. Ketika kami menasihatimu untuk tidak pulang larut malam dengan temanmu, kamu tidak menurutinya. Kami selalu mendapat laporan dari kepala sekolah bahwa kamu sering menyontek waktu ulangan, kamu juga suka menjahili guru dan tidak mendengarkan perkataannya, sehingga hasil ulanganmu selalu 'Do, Re, Mi'. Apakah Tuhan Yesus mengajarkan seperti itu? Tentu tidak kan? Cobalah perbaiki dahulu sikapmu itu, baru kemudian kamu bisa mengajak kami pergi ke gereja.”

Mendengar pengakuan papanya, Nani menjadi sangat malu. Dia segera masuk ke kamar dan berlutut, serta berdoa meminta Tuhan mengampuninya, dan mengubahkan dia menjadi anak yang selalu memuliakan nama-Nya melalui perbuatan.

Terkadang, kita pun sama dengan Nani. Kita ingin orang lain percaya dan diselamatkan, akan tetapi kelakuan kita tidak menjadi berkat bagi banyak orang. Justru kelakuan kita menghambat orang untuk datang kepada Tuhan. Tuhan Yesus dalam Matius 5:48 mengatakan, ”hendaklah kamu sempurna, sama seperti Bapamu sempurna.” Pertanyaannya adalah mudahkah untuk sempurna? Sebagian orang berpendapat bahwa itu sulit, tetapi Tuhan menuntut kita untuk sempurna. Sempurna ini bukan berarti kita bebas dari dosa, tetapi sedapat mungkin kita hidup memuliakan nama Tuhan dan menyenangkan hati Tuhan. Menjadi contoh bagi banyak orang, baik dalam segala aspek hidup kita meliputi pikiran, perkataan, dan perbuatan kita. Perintah Yesus ditegaskan lagi dalam Matius 5:13 bahwa kita harus menjadi garam dunia. Garam di sini melambangkan perkataan kita. Terkadang secara tidak sengaja, ada perkataan kita yang menyinggung perasaan orang lain sehingga orang lain tersinggung dan sakit hati dengan perkataan kita. Atau ada kalanya kita tidak menyadari, bahwa perkataan kita sudah menimbulkan luka di hatinya.

Garam berfungsi untuk memberikan pengaruh rasa asin pada orang yang mencicipinya, akan tetapi sangatlah menyedihkan kalau kita sebagai garam dunia tidak bisa memberikan pengaruh baik pada keluarga juga orang lain. Alkitab secara tegas mengatakan dalam ayat 13b, tidak ada gunanya selain dibuang dan diinjak orang.. Luar biasa dampaknya, alangkah menyakitkan dan menyedihkan kalau kita tidak berguna dan tidak menjadi berkat sehingga diremehkan orang dan mempermalukan nama Tuhan.

Kita juga adalah terang dunia. Ini berarti bahwa perbuatan kita harus menjadi contoh bagi dunia ini, ketika kita mempunyai terang, tidak mungkin kita menyembunyikan terang itu. Tetapi sebaliknya, terang itu membuat orang lain melihat kita dan sebagai dampaknya adalah kita memuliakan Tuhan dalam perbuatan kita dan terlebih, Tuhan dipuji. (Matius 5:16).

Kita sebagai garam dan terang dunia, apakah kita sudah membuat orang lain berkesan baik tentang kita? Atau sebaliknya, orang lain setiap melihat kita mengganggap kita sebagai pembawa masalah, dan mempermalukan nama Tuhan?
     
Ketika kita mau membawa orang lain pada Tuhan, kita harus lebih dulu menjaga kesucian hidup kita, supaya akhirnya orang melihat perbuatan kita yang baik dan memuliakan nama Tuhan. Contoh: ketika kita ingin orang tua kita berhenti merokok, maka kita sebagai anak Tuhan juga harus berhenti merokok. Ketika kita ingin dihormati orang, maka kita juga harus menghormati mereka terlebih dahulu.

Biarlah orang lain mempunyai kesan baik tentang kita dan nama Tuhan dimuliakan. Amin.

Apakah Mujizat Masih Terjadi?

Oleh: Pdt. Samuel T. Gunawan. M.Th

Nas: Keluaran 15:22-27

PENDAHULUAN

Teks dalam Keluaran 15:22-27, mengisahkan tentang mujizat kedua yang Allah nyatakan kepada umat-Nya Israel setelah mereka meninggalkan Mesir, yaitu mujizat air pahit di Mara menjadi manis ketika Musa atas petunjuk Tuhan melemparkan sepotong kayu ke air itu. Perlu dijelaskan bahwa mujizat pertama adalah mujizat terbelahnya Laut Teberau yang membuka jalan bagi orang Israel untuk menyeberangi laut tersebut. Ini terjadi ketika Musa atas perintah Tuhan memukul air laut itu.                   

Saat ini saya mengajak Anda untuk memahami arti kata ”mujizat” ini, apa tujuan mujizat dan apakah mujizat masih berlaku sekarang ini. Pada saat membicarakan tentang Allah dan mujizat, maka ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu: Pertama, keselarasan Tuhan dengan hukum-hukum alam yang dibuatnya. Tuhan tidak kontradiksi dengan hukum alamiah yang dibuatnya. Tuhan yang membuat hukum-hukum alam adalah Tuhan yang melampuai hukum-hukum alam itu. Kedua, bahwa dunia dan hukum-hukam alam tidak berlangsung dengan sendirinya. Allah terus menerus menopang dan memelihara segala yang ada dengan firmanNya yang penuh kekuasaan (Ibrani 1:3). Ketiga, Tuhan sebagai Pribadi pembuat mujizat. Tuhan dapat menggunakan sebab-musabab alamiah pada waktu Ia bekerja dengan cara yang tidak biasa atau yang menakjubkan. Tuhan tidak hanya kadangkala campur tangan di dalam dunia ini. Orang-orang yang tidak sampai pada pengertian diatas biasanya meremehkan mujizat-mujizat yang aktual, menolak campur tangan Allah yang bekerja dan pada akhirnya menjadi penganut deisme atau skeptisisme, entah secara teoritik atau praktis.              

MEMAHAMI DAN MENDEFINISIKAN “MUJIZAT”                      

Sebenarnya kata ”mujizat” dapat dipahami dalam dua keadaan: Pertama, untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa yang biasa tetapi memberi kesan yang mendalam. Contoh : Misalnya kita menyebut kelahiran seorang bayi sebagai suatu mujizat. Terbit dan terbenamnya matahari sebagai suatu mujizat. Istilah mujizat dalam kasus-kasus seperti ini menunjukkan hal-hal yang biasa, yang disebabkan oleh penyebab yang luar biasa, yakni kuasa Allah. Kedua, mujizat yang menunjuk pada tindakan Allah yang melampuai hukum alam. Ini merupakan intervensi supra alami ke dalam hukum-hukum alam. Mujizat disini merupakan penggunaan istilah dalam bentuk teknis. Contoh : Musa membelah laut Teberau atau mengubah air yang pahit di Mara menjadi manis. Yesus mengubah air menjadi anggur, atau membangkitkan Lazarus dari kematian. Semua merupakan contoh bagaimana Allah bekerja melampuai hukum alam yang diciptakanNya. Semua peristiwa itu nyata, tetapi tidak ada penjelasan alamiah mengenai peristiwa-peristiwa itu. Semuanya mengkonfirmasikan kekuasaan Allah.              

Lalu, apakah mujizat itu? Untuk mendefiniskan mujizat kita perlu memperhatikan kriteria berikut : Pertama, awali dengan gagasan bahwa Kristus menopang segala yang ada dengan firmanNya yang penuh kekuasaan (Ibrani 1:3); Bahwa segala sesuatu ada di dalam Dia (Kolose 1:17); Bahwa Tuhan di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendakNya (Efesus 1:11). Kedua, definisi mujizat yang alkitabiah didasarkan pada pemahaman mengenai tindakan pemeliharaan yang terus menerus (kontinuitas) dilakukan oleh Tuhan yang mengendalikan, melindungi, memelihara dan mengatur segala sesuatu. Ketiga, sebuah definisi tentang mujizat perlunya mempertimbangkan terminologi Alkitabiah untuk kata mujizat itu sendiri. Ini adalah studi kata yang melibatkan ”eksegese” dalam teologi.                

Berdasarkan tiga kriteria diatas, maka definisi mujizat adalah sebagai berikut: ”Mujizat adalah suatu aktivitas Allah yang kurang lazim (tidak umum) dimana Ia membangkitkan rasa terpesona dan ketakjuban manusia dan memberikan kesaksian tentang diriNya sendiri.” Bila memperhatikan terminologi Alkitabiah untuk kata mujizat seringkali menunjukkan kepada gagasan mengenai pekerjaan kuasa Allah yang membangkitkan kekaguman dan keterpesonaan manusia. Kata Ibrani ”ot” dan Yunani ”semeion” umumnya diterjemahkan dengan kata ”tanda”. Artinya sesuatu yang menunjuk kepada atau mengindikasikan sesuatu yang lain, terutama mengacu kepada mujizat, yang menujukkan adanya aktivitas dan kuasa Allah. Kata Ibrani “mopet” dan Yunani ”teras” diterjemahkan dengan kata ”keajaiban” yaitu suatu peristiwa yang menyebabkan orang kagum atau heran. Kata ibrani ”gaburah” dan Yunani ”dunamis” diterjemahakan dengan mujizat atau pekerjaan yang berkuasa, artinya suatu tindakan yang meperlihatkan kuasa besar, terutama kuasa ilahi (mengacu pada mujizat).              

Sering kali kata ”tanda-tanda dan mujizat-mujizat” digunakan sebagai suatu ungkapan umum yang mengacu kepada mujizat (keluaran 7:3; Ulangan 6:22; Mazmur 135:9; Kisah Para Rasul 4:30; 5:12; Roma 15:19, dan seterusnya. Kadangkala ketiga istilah ini dikombinasikan ”kekuatan-kekuatan dan tanda-tanda dan mujizat-mujizat” (Kisah Para Rasul 2:22), atau ”tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan kuasa-kuasa” (2 Korintus 12:12; Ibrani 2:4). Berikut ini beberapa contoh ayat Alkitab Perjanjian Baru untuk penggunaan kata diatas. Kisah Para Rasul 4:22 “Sebab orang yang disembuhkan oleh mujizat itu sudah lebih dari empat puluh tahun umurnya” (kata Yunani untuk “disembuhkan oleh mujizat” dalam ayat ini adalah to semeion touto tes iaseos” yang berarti “mujizat kesembuhan”). Kisah Para Rasul 5:12 “Dan oleh rasul-rasul diadakan banyak tanda dan mujizat di antara orang banyak” (kata Yunani untuk “banyak tanda dan mujizat” dalam ayat ini adalah “semeia kai terata”). Kisah Para Rasul 8:13 “Simon sendiri juga menjadi percaya, dan sesudah dibaptis, ia senantiasa bersama-sama dengan Filipus, dan takjub ketika ia melihat tanda-tanda dan mujizat-mujizat besar yang terjadi” (Kata Yunani untuk kalimat “tanda-tanda dan mujizat-mujizat besar” adalah “semeia kai dunameis”). Ibrani 2:4 “Allah meneguhkan kesaksian mereka oleh tanda-tanda dan mujizat-mujizat (semeiois te kai terasin) dan oleh berbagai-bagai penyataan kekuasaan (dunamesin) dan karunia Roh Kudus (pneumatos hagiou merismois), yang dibagi-bagikan-Nya menurut kehendak-Nya. Disini mujizat dihubungkan dengan karunia Roh Kudus.          

MUJIZAT DAN TUJUANNYA                      

Sepanjang sejarah umat manusia Allah telah mengungkapkan kuasa dan hadiratNya di dalam mujizat-mujizat yang terjadi. Berikut ini beberapa contoh yang disebutkan di Alkitab : Tulah-tulah yang terjadi di Mesir adalah mujizat (Keluaran 4-12);Terbelahnya laut Teberau, air pahit di Mara yang diubah menjadi manis adalah mujizat (Keluaran 14-15); Mana dari langit dan air dari batu karang adalah mujizat (Keluaran 16-17; 1 Korintus 10:1-6); Yesus mengubah air menjadi anggur, meneduhkan angin badai, membangkitkan Lazarus dari kematian, dan lainnya seperti yang tertulis dalam ke empat kitab Injil adalah mujizat. (lihat kitab Matius, Markus, Lukas dan Yohanes); Mujizat-mujizat yang dilakukan oleh murid-murid Kristus, Rasul Paulus dan orang percaya seperti yang tertulis dalam kitab Kisah Para Rasul; Dan lain-lain yang disebutkan didalam Alkitab.                

Alkitab adalah sebuah buku yang berisi mujizat-mujizat yang tercatat dari Kitab Kejadian sampai dengan Kitab Wahyu. Dan mujizat terbesarnya adalah kebangkitan Kristus. Adapun tujuan dari mujizat-mujizat itu adalah : 1) Menyatakan kehendak, kedaulatan, kekuasaan dan kemuliaan Allah; 2) Menuntun manusia agar berpaling dari berhala kepada Allah; 3) Menguatkan keyakinan dan kepercayaan orang percaya kepada Allah; 4) Memberkati, menyatakan belas kasih, dan kepeduliaan Allah kepada manusia; 5) Menyatakan tindakan pemeliharaan yang terus menerus (kontinuitas) dilakukan oleh Tuhan yang mengendalikan, melindungi, memelihara dan mengatur segala sesuatu.                 

APAKAH MUJIZAT MASIH TERJADI SAAT INI?                      

Pada saat ini ada banyak pandangan dan tangapan yang berbeda tentang mujizat yang dapat dikelompokkan ke dalam tiga pandangan utama, yaitu: Pertama, pandangan skeptis, yang menyangkali mujizat dapat terjadi. Mereka tidak mempercayai mujizat dapat terjadi. Selain skeptiksesme, yang termasuk dalam pandangan ini antara lain, agnostisme, empirisme, naturalisme, rasionalisme, dan materialisme. Kedua, pandangan sessasionis, yang percaya bahwa mujizat sebenarnya terjadi di Alkitab, tetapi Allah telah berhenti melakukan mujizat pada saat pewahyuanNya selesai dalam Firman Tuhan. Jadi menurut pandangan ini mujizat hanya berlaku bagi orang-orang yang hidup pada zaman Alkitab ditulis. Ketiga, pandangan kontinuasionis atau disebut juga pandangan non-sessasionis, yang menyatakan bahwa mujizat terjadi pada zaman Alkitab, tetapi juga masih terjadi sampai sekarang. Ini adalah pandangan yang paling konsisten dengan Alkitab. Saya percaya bahwa mujizat terjadi di zaman Alkitab dan tetap terjadi sampai saat ini.              

Menurut beberapa pakar teologi, setelah konsili karthago pada tahun 397 M bahwa kanon Alkitab telah dianggap selesai dan ditutup. Artinya tidak ada lagi penambahan buku pada 66 kitab dalam Alkitab. Berhubungan dengan Alkitab, kita yakin bahwa pewahyuan sudah berhenti. Kita yakin, bahwa tidak ada lagi buku-buku yang ditulis setingkat dengan Alkitab aslinya dalam hal pewahayuan dan inspirasi Allah. Tetapi, pewahyuan Allah itu sendiri masih tetap dinyatakan sampai saat ini, atau dengan kata, Allah masih mewahyukan dirinya sampai hari ini. Berdasarkan pemahaman terhadap pewahyuan umum dan pewahyuan khusus dimana Tuhan menyatakan diri dan kehendakNya kepada manusia, kita dapat yakin bahwa pewahyuan Allah sendiri masih diterjadi sampai saat ini. Pewahyuan itu diantaranya melalui alam semesta, melalui Alkitab, melalui Kristus, melalui gereja, dan melalui mujizat-mujizat. Itu berarti menegaskan kembali bahwa mujizat masih terjadi sampai saat ini.               

Kenyataan bahwa adanya mujizat-mujizat palsu (tiruan dari setan) bukan berarti kita menolak semua mujizat yang terjadi atau menganggapnya semua mujizat adalah palsu. Sebaiknya diuji dulu, setidaknya dengan dua tolok ukur yaitu: pertama, sesuai/tidak bertentang dengan Alkitab; kedua, dari buahnya yang membawa kemuliaan bagi Kristus.                    

ANALISIS TERHADAP AYAT MATIUS 7:22-23 DAN MARKUS 13:22                      

Dua bagian Alkitab yang sering digunakan oleh penganut sessasionisme dalam mendukung pandangan mereka yang menyatakan mujizat telah berhenti adalah Matius 7:22-23 dan Markus 13:22. Karena itu kedua ayat tersebut perlu diteliti lebih lanjut. Matius 7:22-23, “Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Berdasarkan ayat ini mudah sekali bagi penganut sessasionisme menyimpulkan bahwa semua mujizat, kesembuhan tanda-tanda ajaib sekarang ini bukan dari Tuhan. Benarkah demikian? Konteks Matius 7:22-23 ini tidak boleh dilepaskan dari ayat-ayat sebelumnya khususnya ayat 15 dimana Kristus sedang berbicara tentang kewaspadaan terhadap “nabi-nabi palsu” yang berusaha mengelabui orang-orang percaya dengan cara penyamaran atau pemalsuan. Pemalsuan adalah upaya untuk menyerupai yang asli tetapi tidak memiliki mutu atau kualitas seperti aslinya”. Kata lain untuk “palsu” adalah “tiruan atau imitasi”. Kedua, orang-orang yang “bernubuat, mengusir setan, dan mengadakan banyak mujizat” dalam ayat tersebut bukanlah orang percaya yang lahir baru (diselamatkan) hal itu nyata dalam pernyataan Kristus “Aku tidak pernah mengenal kamu!”. Mereka adalah “nabi-nabi palsu” yang “pembuat kejahatan” yang melawan “kehendak Tuhan”. Berbeda dengan orang percaya yang dikenal oleh Kristus “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku” (Yohanes 10:27). Ketiga, frase “banyak orang” dalam ayat 22 berarti “bukanlah semua orang”. Dengan demikian orang-orang yang melakukan mujizat, penyembuhan dan bernubuat yang berasal dari Tuhan, sesuai dengan kehendak Tuhan bukanlah termasuk kelompok orang yang ditolak tersebut. Iblis selalu berusaha meniru dan memalsukan karya-karya Tuhan untuk menarik perhatian orang-orang Kristen. Tetapi, orang Kristen sejati tidak akan mudah tertipu karena mereka mengenal Kristus (Yohanes 10:27). Dengan mengenali yang asli orang Kristen akan terhindar dari penipuan. Keempat, nabi-nabi palsu ini dapat kenali oleh orang percaya dari “buahnya”. Kristus mengatakan “dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka” (Matius 7:17). Yang dimaksud dengan buah disini bukanlah hasil pekerjaan berupa kemampuan untuk “bernubuat, mengusir setan dan penyembuhan”, melainkan kemurnian “ajaran, motivasi, dan karakter hidup” (2 Petrus 2:1-22) yang sesuai dengan kehendak Tuhan (Matius 7:21). Jadi, ayat ini tidak diamksudkan untuk menyatakan semua “nubuat, mujizat, kesembuhan” itu palsu, melainkan peringatan kepada orang Kristen untuk mewaspai “kepalsuan”.

Selanjutnya sessanionisme juga menggunakan Markus 13:22, “Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat dengan maksud, sekiranya mungkin, menyesatkan orang-orang pilihan”. Berdasarkan ayat ini penganut sessasionisme mengajarkan bahwa Kristus telah memperingatkan orang Kristen bahwa pada akhir zaman, para mesias dan nabi palsu akan mengadakan mujizat-mujizat, dan mujizat tersebut begitu menyesatkan sehingga “sekiranya mungkin menyesatkan orang-orang pilihan”. Karena itu, mengikuti orang-orang (atau gereja-gereja) yang mengadakan mujizat sekarang ini berbahaya dan harus dihindari supaya tidak tersesat karena mengikuti nabi palsu. Logika yang digunakan seperti ini: “Mesias-mesias palsu mengadakan mujizat; mujizat terjadi di gereja K (inisial); karena itu, gereja K sesat”. Sebagai sanggahan, Pertama, kita perlu mengetahui bahwa Perjanjian Baru tidak mengajarkan penalaran cacat (logical fallacy) seperti itu. Kedua, konteks Markus 13:22 tidak dikatakan bahwa para mesias palsu dan nabi palsu itu begitu lihainya sehingga orang Kristen sejati tidak bisa mengenalinya. Ketiga, dalam konteks ayat itu juga tidak dikatakan bahwa orang-orang pilihan akan tersesat, melainkan dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa para mesias dan nabi palsu itu akan berusaha untuk menyesatkan orang pilihan, tetapi tidak dikatakan bahwa orang pilihan akan tersesat atau mengikuti mereka. Frase Yunani “pros to apoplanan, ei dunaton, tous eklektous, dalam ayat tersebut secara harafiah berarti “dengan maksud, sekiranya mungkin, menyesatkan orang-orang pilihan”. Sebaliknya, Yesus memberikan cara untuk menguji nabi-nabi palsu, yaitu “dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka” (Matius 7:16). Orang Kristen sejati tidak akan mudah tertipu karena mereka mengenal Kristus (Yohanes 10:27); tetapi mereka mengenal penyesatan dari buahnya, yaitu kemurnian ajaran dan karakter hidupnya (2 Petrus 2:1-22). Kita tidak perlu ragu-ragu terhadap orang Kristen (atau gereja) yang mengajarkan doktrin yang murni, memuliakan Tuhan Yesus Kristus, memasyurkan Injil, memajukan pekerjaan Allah, dan memberikan dampak yang baik kepada banyak orang. Dari buahnya kita tahu bahwa hal seperti ini tidak menyesatkan. Doktrin yang benar dan buah-buah kebaikan bukanlah ciri agama palsu.    

BAGAIMANA MUJIZAT TERJADI?                      

Bagaimana mujizat terjadi? Kembali kita ke dalam konteks Keluaran 15:22-27, dimana saya akan membagikan 5 hal mengapa atau bagaimana mujizat terjadi. Pertama, mujizat terjadi karena adanya kebutuhan-kebutuhan yang tidak bisa dikerjakan oleh manusia dalam keadaan tertentu. Contoh : Kebutuhan akan air di Mara, kebutuhan akan akan anggur pada pesta di Kana, lima roti dan dua ikan untuk lima ribu orang. Itu semua adalah kebutuhan-kebutuhan yang berbeda pada keadaan yang berbeda.                   

Kedua, mujizat terjadi menurut kehendak dan cara Tuhan. Diluar kemampuan kita untuk memahaminya. Contoh : Bagaimana sepotong kayu bisa mengubah air yang pahit menjadi manis? itu tidak masuk akal, tepatnya diluar kemampuan kita untuk memikirkannya! Sehingga ada penafsir yang menafsirkan bahwa sepotong kayu itu menggambarkan salib Kristus. Saya menghargai tafsiran mereka. Tetapi jelas tafsiran ini tidak dapat diterima, karena salib Kristus tidak terdiri dari sepotong kayu tetapi dua potong balok. Kuasa Allah yang menyebabkan air di Mara itu menjadi manis bukan karena sepotong kayu tersebut. Ini sama artinya bahwa kematian Kristus di kayu saliblah yang menebus dosa dan menyelamatkan kita bukan balok salibnya, sehingga tidak perlu kita menyembah kepada balok salib Kristus tapi kepada Kristus saja. Coba bandingkan dengan mujizat-mujizat yang terjadi melalui pelayanan nabi Elisa dalam 2 Raja-raja 2:19-25 tentang air di Yerikho yang disehatkan dengan garam yang ditaruh dalam sebuah pinggan baru; 2 Raja 4:38-41 tentang makanan beracun yang ditawarkan racunnya dengan tepung; dan 2 Raja-raja 6:1-7 tentang mata kapak yang mengapung. Semua mujizat itu dilakukan menurut cara dan kehendak Tuhan dengan metode dan sarana yang berbeda-beda.             

Ketiga, mujizat terjadi karena ada pribadi-pribadi atau orang-orang yang berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah. Tidak dapat disangkal lagi bahwa Allah mendengarkan doa hamba-hambaNya dan orang-orang percaya. Ini banyak tercatat dalam Alkitab. Dalam kasus ini, Musa berdoa kepada Allah dan Allah menujukkan sepotong kayu sebagai jawaban doa Musa. Perlu bagi saya untuk menegaskan ini, bahwa jawaban dari doa yang kita naikkan kepada Allah tidak harus selalu seperti yang kita pikirkan atau inginkan, tetapi pasti bahwa Allah memberi yang terbaik bagi kita. (Bandingkan dengan Elia dalam Yakobus 5:17-18; 1 Raja-raja 17).                 

Keempat, mujizat terjadi karena ada pribadi-pribadi atau orang-orang yang yang percaya kepada Allah dan KuasaNya. Pribadi-pribadi atau orang-orang seperti ini adalah mereka yang telah membangun hubungan pribadi yang berkualitas dengan Allah dan yang telah mengalami sendiri kuasa Allah. (Bandingkan 2 Raja-raja 4:1-7, tentang minyak dalam buli-buli seorang janda yang berlipat kali ganda karena percaya pada perkataan nabi Elisa).                   

Kelima, mujizat terjadi karena ada pribadi-pribadi atau orang-orang yang yang taat kepada Allah dan firmanNya. Ketika Allah berfirman, Musa segera menaatinya, maka terjadilah mujizat. (bandingkan dengan kasus kesembuhan Naaman dari kustanya kerena mau melakukan perintah nabi Elisa dalam 2 Raja-raja 5:1-14).                    

KESAKSIAN: KUASA TUHAN YANG MENEGUHKAN FIRMAN-NYA                      

Beberapa tahun yang lalu saya diminta untuk mendoakan seseorang di rumah sakit. Selesai ibadah raya minggu siang saya beserta istri dan tim kami mengunjungi dan mendoakan orang tersebut. Setelah selesai kami segera akan pulang, tetapi di pintu depan ruangan itu ada seorang pria setengah baya yang menghampiri saya, dan memperkenalkan diri pada saya. Pria ini mengatakan bahwa ia mengenal saya di desa Tumbang Empas (sekarang desa ini masuk di Kabupaten Gunung Mas, Provinsi Kalimantan Tengah) ketika saya dalam pelayanan penginjilan ke sana. Ia kemudian menceritakan masalahnya, dan mengapa ia berada di rumah sakit itu. Ia meminta saya mendoakan putranya yang besok pagi akan dioperasi karena menderita penyakit ”kencing batu” atau prostat. Saya setuju dan kemudian kami bersatu hati untuk berdoa. Setelah selesai kami pergi dan tidak mengetahui apa yang terjadi kemudian.                

Sekitar empat tahun berlalu setelah kejadian itu, tanpa sengaja saya bertemu lagi dengan bapak ini. Dia menceritakan kepada saya bahwa anaknya yang kami doakan minggu siang itu, esok paginya sebelum operasi, buang air kecil dengan bantuan selang kecil dan ketika buang air kecil ini sangat sakit karena ternyata ada ”kotoran” berupa pecahan-pecahan daging yang keluar. Dokter memeriksa dan mengatakan bahwa anak tersebut tidak jadi dioperasi karena ”batu daging” yang akan dioperasi pagi itu telah bersih keluar ketika anak ini buang air kecil. Puji Tuhan! itulah mujizat Tuhan kita. Dia ajaib, Dia besar, Dia mahakuasa, KuasaNya tak terbatas bagi kita yang percaya. Paulus berkata, “betapa hebat kekuatan (dynamis) Nya (Allah) bagi kita yang percaya, sesuai dengan tenaga (energeia) dari kekuatan (kratos) kuasa (ischys) Allah yang dikerjakanNya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari Antara orang mati” (Efesus 1:19-20).               

Mujizat dan kuasa Tuhan yang tak terbatas bersumber dari pribadi Tuhan yang Mahakuasa dan tak terbatas. Mahakuasa berarti bahwa Allah kuat dalam segala-galanya dan sanggup melakukan apa saja yang sesuai dengan sifatNya sendiri. Di dalam Alkitab, kata Yunani “Shaddai” berarti ”Mahakuasa” yang hanya dipakai untuk Allah yaitu “El Shaddai” tercatat 56 kali (Kejadian 17:1). Dan kata “Shaddai” ini merupakan dasar bagi konsep kemahakuasan Tuhan. Tuhan tidak dibatasi oleh apapun. Tuhan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, Ia tidak dibatasi oleh keadaan, ia tidak dibatasi oleh ciptaaNya. Karena Dia yang menciptakan ruang dan waktu dan seluruh ciptaan yang ada. Dia sanggup melakukan apa saja yang Dia kehendaki yang sesuai dengan sifat atau atributNya yang sempurna. Jadi percayalah kepadaNya bahwa Ia dapat memberikan sebuah mujizat bagi kita yang akan membaikkan kehidupan kita dan memuliakan namaNya.               

PENUTUP                      

Setelah mendengarkan renungan ini, yakinkan diri Saudara bahwa “KARENA TUHAN MASIH ADA, MUJIZAT MASIH TERJADI HARI INI!" Dan Anda dapat mengalaminya atas kehendak Allah, melalui iman, doa dan ketaatan Anda, Dialah jawaban atas kebutuhan-kebutuhan Anda!”                    

Saat ini, seandainya Saudara meminta kepada Tuhan satu permohonan dalam hidup Saudara, dan mengetahui bahwa Ia akan dapat mengabulkan permintaan dan melakukannya bagi saudara, apakah yang akan Saudara minta kepadaNya : Memulihkan perkawinan Saudara yang retak atau diambang kehancuran? Mengubah sesuatu dalam pekerjaan Anda? Membawa kembali anak-anak Saudara yang terpengaruh oleh pergaulan bebas atau obat-obatan terlarang? Menyembuhkan tubuh Saudara yang sakit? Memulihkan keadaan ekonomi Saudara? Membenahi keuangan Saudara? Mengantar seorang kekasih kepada Kristus? Apapun permintaan Saudara kepada Tuhan, yakinlah bahwa Ia campur tangan dalam situasi Saudara dan kuasaNya tak terbatas untuk menolong kita.                 

Mari bersama dengan saya berdoa:

“Bapa di sorga, kami menyembahMu karena Engkaulah satu-satunya Allah yang Mahakuasa, Berdaulat, Mahamulia dan Mahakasih. Tuhan Yesus, kami bersyukur memilikiMu sebagai Juruselamat dan Tuhan kami, yang penuh kasih dan kuasa. Sungguh kematian dan kebangkitanMu adalah mujizat yang terbesar di dunia ini, dan kedatanganMu yang kedua kali nanti juga akan menjadi mujizat yang paling menakjubkan, sekaligus mengagetkan manusia di alam jagat ini. Ya Tuhan, terima kasih banyak, karena Engkau tidak berubah, dan janjiMu pun tidak berubah. Kalau dahulu Engkau melakukan mujizat, sekarangpun Engkau anggup melakukan barbagai mujizat. Jadikanlah hidup kami ini sebuah mujizat bagi kemuliaanMu, dan demi menjadi berkat bagi banyak orang. Dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin!”               

*Penulis adalah teolog Protestan-Kharismatik, Pendeta di GBAP Jemaat El Shaddai; Pengajar di STT IKAT dan STT Lainnya. Mendapatkan gelar S.E dari UNPAR; S.Th M.Th dari STT-ITC Trinity. Setelah mempelajari Alkitab lebih dari 15 tahun menyimpulkan tiga keyakinannya terhadap Alkitab yaitu : 1) Alkitab berasal dari Allah. Ini mengkonfirmasikan kembali bahwa Alkitab adalah wahyu Allah yang tanpa kesalahan dan Alkitab diinspirasikan Allah; 2) Alkitab dapat dimengerti dan dapat dipahami oleh pikiran manusia dengan cara yang rasional melalui iluminasi Roh Kudus; dan 3) Alkitab dapat dijelaskan dengan cara yang teratur dan sistematis.                

Arti Sebuah Derita

1 Petrus 4:1 Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamupun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian,
karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa

1 Petrus 4:2 supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah.

1 Petrus 4:3 Sebab telah cukup banyak waktu kamu pergunakan untuk melakukan kehendak orang-orang yang tidak mengenal Allah. Kamu telah hidup dalam rupa-rupa hawa nafsu, keinginan, kemabukan, pesta pora, perjamuan minum dan penyembahan berhala yang terlarang.

1 Petrus 4:4. Sebab itu mereka heran, bahwa kamu tidak turut mencemplungkan diri bersama-sama mereka di dalam kubangan ketidaksenonohan yang sama, dan mereka memfitnah kamu.

1 Petrus 4:5 Tetapi mereka harus memberi pertanggungan jawab kepada Dia, yang telah siap sedia menghakimi orang yang hidup dan yang mati.

1 Petrus 4:6 Itulah sebabnya maka Injil telah diberitakan juga kepada orang-orang mati, supaya mereka, sama seperti semua manusia, dihakimi secara badani; tetapi oleh roh dapat hidup menurut kehendak Allah.

1 Petrus 4:7. Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.

Ketika kita menanggapi positif panggilan dan pemilihan Kristus, saat itu kita memilih derita sebagai jalan hidup. Menjadi orang Kristen, berarti siap untuk bersekutu dengan Dia yang telah menekuni jalan salib. Ingatlah kata-kata Yesus, bahwa jalan hidup yang benar adalah jalan sempit yang menuju kehidupan. Jalan sempit itu dipilih pengikut-Nya. Sebaliknya, jalan lebar yang menuju kebinasaan dipilih mereka yang ingin hidup semaunya. Matius 7:13 “Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya;“.

Begitu hitam-putih-nyakah pilihan itu? Apakah orang Kristen benar-benar tidak boleh bersenang-senang, berpesta, dan menjadi kaya? Jawabannya, ya dan tidak. Ya, pada pilihan yang memang hitam-putih. Sebagai pengikut Kristus, kita terikat pada Yesus Kristus. Kita memperoleh hidup berdasarkan pengorbanan-Nya di kayu salib. Jawabannya menjadi tidak ketika kita mendefinisikan arti penderitaan itu.

Pertama - Kita tidak perlu mengalami derita fisik seperti yang Yesus alami, karena Dia yang telah mengalaminya untuk kita

Kedua - Yang menjadi derita kita adalah nuansa cemooh, dan fitnah(4c). Status kita sebagai orang sebagai orang Kristen terkadang menjadi bahan pertimbangan utama kemajuan karir maupun ditengah pergaulan.

Ketiga - Derita kita justru berasal dari kebimbangan kita sendiri menyangkal diri. Kata Yesus Setiap orang yang mau mengikut Aku, Ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari, dan mengikut Aku“.(Lukas 9:23).

Selamat menjalani hidup yang bercirikan penderitaan. Dan selamat pula menikmati hidup yang dilimpahkan dengan damai sejahtera dan sukacita, dalam pengharapan.

Ayam Goreng...

Tinggallah pasangan suami istri sederhana yang dikaruniai satu orang anak perempuan yang berumur 5 tahun. Keluarga ini adalah keluarga yang takut Tuhan, hari-hari mereka selalu diwarnai dengan doa dan ibadah. Nilai-nilai kebenaranpun ditanamkan dalam diri si anak sedari kecil.

Suatu hari, sang suami diberhentikan dari pekerjaan karena alasan yang tidak jelas. Awalnya ia kuat, namun lama-kelamaan ia mulai kecewa dan nyaris putus asa, bahkan ia mulai meragukan kebaikan dan keperdulian Tuhan dalam keluarganya. Iapun mulai enggan berdoa. Dengan penuh kesabaran sang istri terus menghibur dan menguatkan sang suami dengan firman Tuhan. Sang istripun terus berdoa dan berpuasa agar suaminya tetap kuat dalam Tuhan.

Keuangan yang terus menipis memaksa mereka untuk lebih berhemat, termasuk dalam makanan sehari-hari. Suatu malam mereka berkumpul untuk makan malam. Di hadapan mereka tersedia hidangan yang sangat sederhana.

Tiba-tiba si anak memanggil sang ayah. "Ayah, Tasyha pengen makan ayam goreng"

Mendengar keinginan si anak, sang ayah merasa hancur, air matanya hampir menetes. Dengan lembut sang Ibu menjawab: "Tasyha, apapun yang Tuhan b�ri kita harus mengucap syukur. Lagipula lauk kita malam ini tidak kalah enaknya koq dengan ayam goreng, apalagi kalau sebelum makan kita berdoa dulu." Ia juga menyentuh tangan suaminya, tanda agar suaminya tidak menangis di depan sang anak.

Dengan wajah gembira sang anak menatap ayahnya. "Oh iya, Tashya lupa, ayah pernah bilang sama Tashya bahwa dalam Tuhan Yesus semuanya bisa terjadi dan berubah. Itu artinya Tuhan bisa merubah rasa lauk ini jadi rasa ayam goreng. Benarkan ayah?"

Gelagapan si ayah menjawab "Iya."

"Ma, Tashya aja yang berdoa ya!" Setelah selesai berdoa, dengan kepolosannya sang anakpun makan dengan lahapnya sambil sedikit menjerit. "Wah, Tuhan Yesus hebat. Rasa lauk ini benar-benar seperti rasa ayam goreng. Ayah cobain dech"! Sang anak memasukkan ke dalam mulut sang ayah.

Sang ayahpun menangis. Ia bukan lagi menangis karena tidak bisa memberikan ayam goreng. Ia menangis karena ternyata anaknya yang berumur lima tahun lebih beriman dibanding dirinya yang telah mengenal dan mengecap pertolongan Tuhan puluhan tahun.

Jujur saja, kita pun sering seperti ini; mengenal Tuhan bertahun-tahun bahkan merasakan pertolongan- pertolongan Tuhan dalam hidup kita. Namun saat ujian datang, dengan mudah kita melupakan kebaikan-Nya. Mengapa saat ujian datang kita lebih memandang beratnya ujian tersebut? Mengapa bukan kebaikan-Nya yang kita pandang?

"Tuhan Yesus Memberkati."

Bahkan Seorang Anak Berusia 7 Tahun

Bahkan Seorang Anak Berusia 7 Tahun Melakukan yang Terbaik Untuk...

Penulis : Karen Kingsbury

Kisah berikut ini sangat menyentuh perasaan, dikutip dari buku "Gifts From The Heart for Women" karangan Karen Kingsbury. Kisahnya sbb:

Di sebuah kota di California, tinggal seorang anak laki2 berusia tujuh tahun yang bernama Luke. Luke gemar bermain bisbol. Ia bermain pada sebuah tim bisbol di kotanya yang bernama Little League. Luke bukanlah seorang pemain yang hebat. Pada setiap pertandingan, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kursi pemain cadangan. Akan tetapi, ibunya selalu hadir di setiap pertandingan untuk bersorak dan memberikan semangat saat Luke dapat memukul bola maupun tidak.

Kehidupan Sherri Collins, ibu Luke, sangat tidak mudah. Ia menikah dengan kekasih hatinya saat masih kuliah. Kehidupan mereka berdua setelah pernikahan berjalan seperti cerita dalam buku-buku roman. Namun, keadaan itu hanya berlangsung sampai pada musim dingin saat Luke berusia tiga tahun. Pada musim dingin, di jalan yang berlapis es, suami Sherri meninggal karena mobil yang ditumpanginya bertabrakan dengan mobil yang datang dari arah berlawanan. Saat itu, ia dalam perjalanan pulang dari pekerjaan paruh waktu yang biasa dilakukannya pada malam hari. "Aku tidak akan menikah lagi," kata Sherri kepada ibunya. "Tidak ada yang dapat mencintaiku seperti dia". "Kau tidak perlu menyakinkanku," sahut ibunya sambil tersenyum. Ia adalah seorang janda dan selalu memberikan nasihat yang dapat membuat Sherri merasa nyaman. "Dalam hidup ini, ada seseorang yang hanya memiliki satu orang saja yang sangat istimewa bagi dirinya dan tidak ingin terpisahkan untuk selama-lamanya. Namun jika salah satu dari mereka pergi, akan lebih baik bagi yang ditinggalkan untuk tetap sendiri daripada ia memaksakan mencari penggantinya."

Sherri sangat bersyukur bahwa ia tidak sendirian. Ibunya pindah untuk tinggal bersamanya. Bersama-sama, mereka berdua merawat Luke. Apapun masalah yg dihadapi anaknya, Sherri selalu memberikan dukungan sehingga Luke akan selalu bersikap optimis. Setelah Luke kehilangan seorang ayah, ibunya juga selalu berusaha menjadi seorang ayah bagi Luke.

Pertandingan demi pertandingan, minggu demi minggu, Sherri selalu datang dan bersorak-sorai untuk memberikan dukungan kepada Luke, meskipun ia hanya bermain beberapa menit saja. Suatu hari, Luke datang ke pertandingan seorang diri. "Pelatih", panggilnya. "Bisakah aku bermain dalam pertandingan ini sekarang? Ini sangat penting bagiku. Aku mohon ?" Pelatih mempertimbangkan keinginan Luke. Luke masih kurang dapat bekerja sama antar pemain. Namun dalam pertandingan sebelumnya, Luke berhasil memukul bola dan mengayunkan tongkatnya searah dengan arah datangnya bola. Pelatih kagum tentang kesabaran dan sportivitas Luke, dan Luke tampak berlatih extra keras dalam beberapa hari ini. "Tentu," jawabnya sambil mengangkat bahu, kemudian ditariknya topi merah Luke. Kamu dapat bermain hari ini. Sekarang, lakukan pemanasan dahulu."

Hati Luke bergetar saat ia diperbolehkan untuk bermain. Sore itu, ia bermain dengan sepenuh hatinya. Ia berhasil melakukan home run dan mencetak dua single. Ia pun berhasil menangkap bola yang sedang melayang sehingga membuat timnya berhasil memenangkan pertandingan. Tentu saja pelatih sangat kagum melihatnya. Ia belum pernah melihat Luke bermain sebaik itu. Setelah pertandingan, pelatih menarik Luke ke pinggir lapangan. "Pertandingan yang sangat mengagumkan," katanya kepada Luke. "Aku tidak pernah melihatmu bermain sebaik sekarang ini sebelumnya. Apa yang membuatmu jadi begini?" Luke tersenyum dan pelatih melihat kedua mata anak itu mulai penuh oleh air mata kebahagiaan. Luke menangis tersedu-sedu. Sambil sesunggukan, ia berkata "Pelatih, ayahku sudah lama sekali meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Ibuku sangat sedih. Ia buta dan tidak dapat berjalan dengan baik, akibat kecelakaan itu. Minggu lalu, Ibuku meninggal." Luke kembali menangis. Kemudian Luke menghapus air matanya, dan melanjutkan ceritanya dengan terbata-bata "Hari ini,..hari ini adalah pertama kalinya kedua orangtuaku dari surga datang pada pertandingan ini untuk bersama-sama melihatku bermain. Dan aku tentu saja tidak akan mengecewakan mereka.". Luke kembali menangis terisak-isak. Sang pelatih sadar bahwa ia telah membuat keputusan yang tepat, dengan mengizinkan Luke bermain sebagai pemain utama hari ini.

Sang pelatih yang berkepribadian sekuat baja, tertegun beberapa saat. Ia tidak mampu mengucapkan sepatah katapun untuk menenangkan Luke yang masih menangis. Tiba-tiba, baja itu meleleh. Sang pelatih tidak mampu menahan perasaannya sendiri, air mata mengalir dari kedua matanya, bukan sebagai seorang pelatih, tetapi sebagai seorang anak. Sang pelatih sangat tergugah dengan cerita Luke, ia sadar bahwa dalam hal ini, ia belajar banyak dari Luke. Bahkan seorang anak berusia 7 tahun berusaha melakukan yang terbaik untuk kebahagiaan orang tuanya, walaupun ayah dan ibunya sudah pergi selamanya. Luke baru saja kehilangan seorang Ibu yang begitu mencintainya. Sang pelatih sadar, bahwa ia beruntung ayah dan ibunya masih ada. Mulai saat itu, ia berusaha melakukan yang terbaik untuk kedua orangtuanya, membahagiakan mereka, membagikan lebih banyak cinta dan kasih untuk mereka. Dia menyadari bahwa waktu sangat berharga, atau ia akan menyesal seumur hidupnya.

Hikmah yang dapat kita renungkan dari kisah Luke yang HANYA berusia 7 TAHUN :

Mulai detik ini, lakukanlah yang terbaik utk membahagiakan ayah & ibu kita. Banyak cara yg bisa kita lakukan utk ayah & ibu, dgn mengisi hari-hari mereka dgn kebahagiaan. Sisihkan lebih banyak waktu untuk mereka. Raihlah prestasi & hadapi tantangan seberat apapun, melalui cara-cara yang jujur utk membuat mereka bangga dgn kita. Bukannya melakukan perbuatan2 tak terpuji, yang membuat mereka malu. Kepedulian kita pada mereka adalah salah satu kebahagiaan mereka yang terbesar.

Bahkan seorang anak berusia 7 tahun berusaha melakukan yang terbaik untuk membahagiakan ayah dan ibunya. Bagaimana dengan Anda ? Berapakah usia Anda saat ini ?

Apakah Anda masih memiliki kesempatan tersebut ? Atau kesempatan itu sudah hilang untuk selamanya?

Sumber: Gifts From The Heart for Women

Bangunlah dan Berjalanlah

Oleh:Salohcin

Yohanes 5:1 9 & 14

Yohanes 5 dimulai dengan kedatangan Yesus ke Yerusalem iaitu pada waktu Hari Raya orang Yahudi. Di Yerusalem dekat pintu Gerbang Domba ada sebuah kolam yang bernama Betesda iaitu beerti Rumah Belas Kasihan Di situ terdapat banyak orang sakit yang menunggu goncangan air kolam yang dilakukan oleh malaikat supaya siapa yang masuk ke kolam itu akan disembuhkan apapun juga penyakit mereka. Salah satu orang yang menunggu goncangan air kolam itu ialah orang sakit yang sudah sakit selama 38 tahun. Nama orang ini tidak disebutkan dalam alkitab tetapi kita akan belajar sesuatu yang bermakna daripada peristiwa yang berlaku antara orang sakit ini dengan Yesus. Kalau alkitab terjemahan King James, orang sakit itu digelar The impotent man(ayat 7) iaitu dalam bahasa Yunani disebut Ëœadunatos" yang bermaksud tiada kekuatan(powerless), tidak mampu bergerak dan berada dalam keadaan yang mustahil untuk melakukan sesuatu. Nah, pada masa ini betapa banyak orang kristian yang mengalami keadaan seperti orang sakit ini yang seolah olah tiada kekuatan, pertumbuhan yang terbantut, lumpuh secara rohani, tidak mengalami kemenangan di dalam kehidupan kristian mereka dan mudah saja jatuh ke dalam perangkap iblis serta diikat oleh kuasa kegelapan. Ini menyebabkan orang kristian tidak maju dalam hidup rohani dan fizikal mereka. Orang kristian yang impotent tidak akan berhasil dalam menjangkau jiwa jiwa orang lain karena tiada kesaksian yang baik dari kehidupan mereka yang mampu menarik orang lain kepada Kristus. Bagaimanakah kita dapat mendemonstrasikan kuasa Tuhan dalam hidup kita sedangkan diri kita hidup dalam keadaan yang tidak bertumbuh dan lemah secara rohani? Kita tidak akan dapat menjadi saksi Kristus yang efektif jika kita dalam keadaan yang sakit secara rohani. Mari kita menyelidiki keadaan hidup kita. Adakah kita terus bertumbuh dan semakin matang di dalam Tuhan atau kita semakin jauh daripada Tuhan dan lemah seperti orang sakit itu? Firman Tuhan ini bukan sahaja ditujukan kepada kita secara individu, tetapi juga untuk sesebuah jemaat(gereja), persekutuan kristian dan juga keluarga kristian.

Seperti mana firman yang di dalam kitab nabi Hagai 1:5, perhatikanlah keadaanmu!, mari kita lihat di manakah posisi kehidupan kristian kita. Di ayat yang ke 6 dikatakan bahawa Yesus melihat keadaan orang sakit itu dan Yesus tahu bahwa dia sudah lama sakit, lalu Yesus bertanya kepadanya maukah engkau sembuh? Ini merupakan suatu berita yang baik bagi kita semua. Sesungguhnya Yesus sangat prihatin terhadap apa yang terjadi kepada diri kita. Dia tidak mau keadaan kita yang lemah berterusan tetapi Dia datang untuk memulihkan kehidupan kita. Apa yang harus kita ketahui ialah bahawa Yesus berinisiatif untuk datang menolong kita. Seperti keaadaan orang sakit ini, dia tidak mampu untuk datang kepada Yesus karena dengan kekuatannya sendiri karena dia sangat lemah dan memang mustahil. Selama 38 tahun orang sakit itu menderita dan mungkin sudah beribu kali dia mencoba mencari jalan untuk mendapat kesembuhan namun dia tidak berdaya. Dia juga sudah berusaha untuk masuk ke kolam Betesda(rumah pengampunan) untuk mendapat pemulihan tetapi tidak juga berjaya. Begitu juga dengan hidup kita tanpa Tuhan. Kita tidak dapat pergi kepada Bapa dengan usaha kita sendiri karena kita memang lemah tetapi Tuhan sendiri yang bertindak untuk datang ke dalam dunia untuk memulihkan kehidupan kita dan supaya kita dapat pergi kepada Bapa yang di syurga. Yesus adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup(yoh 14:6). Belas kasihan(betesda) juga datang melalui Yesus sendiri yang menjadi pendamai antara kita dengan Tuhan.

Kesakitan pada tubuh kita atau lemah secara rohani boleh disebabkan oleh dosa-dosa kita. Seperti yang terjadi kepada orang sakit itu, dia sakit disebabkan oleh dosanya. Oleh sebab itu Yesus berkata kepadanya: "Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk." (yohanes 5:14). Di dalam kitab Mazmur 107:17 juga ad a mengatakan: Ada orang orang menjadi sakit oleh sebab kelakuan mereka yang berdosa, dan disiksa oleh sebab kesalahan kesalahan mereka Kadang kadang kita boleh sakit karena kita masih sakit hati dengan orang lain ataupun dengan kata lain kita tidak mau mengampuni kesalahan orang lain. Awas! Sikap tidak mengampuni adalah suatu DOSA! Mengampuni atau memaafkan adalah suatu perintah dalam firman Tuhan. Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu." Matius 6:14 15 Bukankah ngeri akibatnya jikalau kita tidak mau berdamai dan mengampuni orang lain? Saya sudah melihat hal yang seperti ini berlaku di mana orang tersebut tidak mau berdamai, meminta maaf dan memaafkan orang yang menyakiti hatinya. Perkara yang amat menyedihkan adalah mereka ini adalah orang yang melayani Tuhan.

Suatu hal yang saya pelajari dari hal tersebut, kita sebagai manusia masing masing mempunyai ego di dalam hati kita. Kita susah untuk mengampuni orang lain karena kita merasa diri kita betul dan kita mau orang lain yang mengikuti keinginan kita. Ini yang dinamakan kesombongan. Sekalipun kita adalah orang yang melayani Tuhan, ego ataupun kesombongan itu boleh wujud di dalam diri kita. Ego ini harus dikikis dan dibuang dari dalam diri kita. Mari kita selidiki hati kita, adakah kita masih menyimpan kesalahan orang lain atau sakit hati kepada orang lain termasuk orang yang sama sama melayani dengan kita suatu ketika dahulu? Pilihan terletak di dalam tangan kita. Jikalau kita mengambil keputusan untuk mengampuni, maka kita juga akan di ampuni oleh Tuhan tetapi jikalau kita tidak mau berdamai dan memaafkan orang yang menyakiti hati kita, maka Tuhan juga tidak akan mengampuni kita. Apabila kita tidak di ampuni oleh Tuhan, sesungguhnya api neraka adalah tempat yang akan kita pergi sesudah di hakimi.

Maukah kita mengalami hal yang seperti itu? Saudara dan saudari yang dikasihi Tuhan, jikalau Tuhan sudah sanggup mengampuni dosa kita bahkan melupakan dosa dosa kita itu, apakah alasan kita untuk tidak mau memaafkan orang lain? Tidak ada ruginya jika kita memaafkan dan berdamai dengan orang lain malah saya percaya kita akan memiliki damai di dalam hati kita. Salah satu kompenen di dalam kasih ialah tidak menyimpan kesalahan orang lain. Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.

1 Korintus 13:4-6

Jikalau kita masih marah akan perbuatan orang terhadap diri kita maka itu bermakna bahawa kita tidak memenuhi tuntutan kasih. Mari kita berbalik semula kepada kisah orang sakit itu. Apabila Yesus datang kepadanya dan bertanya maukah engkau sembuh?, orang sakit itu menjawab: "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku."

Nah, mari kita perhatikan betul-betul. Orang sakit ini tidak menjawab pertanyaan Yesus tetapi dia memberi alasan. Seharusnya orang sakit itu cuma perlu menjawab "ya" atau "tidak" . Orang sakit itu seolah olah menyalahkan orang lain dengan alasan yang dia beri. Seringkali apabila kita menghadapi suatu masalah, kita mencari alasan dan tidak kurang juga yang menuduh orang lain untuk membela dirinya. Kita juga suka menuding jari kepada orang lain daripada merenung sedalam dalamnya perihal mengenai diri kita sendiri. Sejak zaman Adam dan Hawa, sikap tuduh menuduh sudah wujud dalam manusia setelah mereka berdosa memakan buah pengetahuan akan apa yang baik dan jahat. Apabila Tuhan bertanya kepada Adam, Adam menyalahkan Hawa dan Hawa pula menyalahkan ular.

Perhatikan:

Firman Nya: "Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?" Manusia itu menjawab: "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan."Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: "Apakah yang telah kau perbuat ini?" Jawab perempuan itu: "Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.

Kejadian 3:11,13

Sikap ini telah diwarisi oleh manusia sampai pada hari ini. Begitu susah untuk manusia mengakui kesilapannya sendiri sebaliknya menuduh orang lain seperti yang dilakukan juga oleh orang sakit itu. Hal ini mengingatkan saya tentang sebuah lagu kanak kanak yang berjudul "Bangau oh bangau". Lagunya seperti ini:

Bangau oh bangau,kenapa engkau kurus?
Macam mana aku tak kurus,ikan tidak timbul.

Ikan oh ikan kenapa kau tak timbul?
Macam mana aku nak timbul,rumput panjang sangat.

Rumput oh rumput,kenapa kau panjang sangat?
Macam mana aku tak panjang,kerbau tak makan aku.

Kerbau oh kerbau,kenapa kau tak makan rumput?
Macam mana aku nak makan,perut aku sakit?

Perut oh perut,kenapa engkau sakit?
Macam mana aku tak sakit,makan nasi mentah?

Nasi oh nasi kenapa engkau mentah?
Macam mana aku tak mentah,kayu abi basah?

Kayu oh kayu,kenapa engkau basah?
Macam mana aku tak basah,hujan timpa aku?

Hujan oh hujan kenapa timpa kayu?
Macam mana aku tak timpa,katak panggil aku.

Katak oh katak kenapa panggil hujan?
Macam mana aku tak panggil,ular nak makan aku.

Ular oh ular,kenapa nak makan katak?
Macam mana aku tak makan,memang makanan aku!

Walaupun lirik lagu itu menceritakan kisah binatang tetapi ilham lagu itu adalah dari manusia. Di sini terbukti sekali lagi bahawa manusia memang suka menuduh. Daripada lagu itu adalah lebih baik untuk kita belajar daripada ular yang mengaku saja perbuatannya walaupun di dalam alkitab ular selalu melambangkan iblis namun saya ingin katakan tidak semestinya begitu. Adakah anda setuju? Pada masa sekarang ini, banyak orang sudah berhenti melayani Tuhan. Apabila mereka di tanya, ada yang mengatakan mereka sudah jemu dengan sikap pelayan Tuhan yang lain, rasa diri mereka tidak di hargai dalam memberi pendapat, merasakan pelayanan mereka di suatu tempat itu tidak berbaloi dan hanya membuang masa. Memang tidak dinafikan ada waktunya kita melayani bersama pelayan Tuhan yang lain yang mempunyai kerenah yang berbeda-beda dan kadang kadang menyakitkan hati kita dan ada juga waktunya pelayanan yang kita lakukan seolah olah tidak dihargai. Namun begitu, kita harus kembali kepada dasar kita iaitu Yesus sendiri. Siapakah yang sedang kita layani sebenarnya? Kita bukan ingin memuaskan hati manusia dan mendapat penghargaan dari manusia tetapi semuanya untuk Tuhan. Amen?

Di dalam sesebuah pelayanan, kita harus belajar untuk saling menghormati pelayan Tuhan yang lain. Jangan kita menunggu orang lain supaya menghormati kita dahulu maka baru kita mau menghormati orang lain. Perhatikan firman Tuhan ini: "Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat"

Roma 12:10

Jika kita saling mendahului dalam memberi hormat, setiap konflik dapat di selesaikan. Saya pernah mengalami saat saat kekecewaan dan hampir putus asa dalam pelayanan. Saya kecewa melihat sikap pelayan pelayan Tuhan yang seolah-olah tidak mengambil serius hal pelayanan mereka dan membuat saya kadang-kadang marah dan rasa tidak mau meneruskan pelayanan saya di tempat tersebut. Namun satu hal yang saya lakukan dan di sini saya ingin mengongsikannya bersama dengan saudara dan saudari yang membaca penulisan saya ini. Di saat saya merasa kecewa melihat sikap pelayan Tuhan yang lain, saya membawa semua hal itu ke hadapan Tuhan melalui doa. Dalam doalah saya sering meluapkan segala perasaan saya pada Tuhan dan sering kali saya meluapkannya dengan tangisan. Ingin saya nyatakan di sini bahawa tidak salah kita meluahkan isi hati kita kepada Tuhan karena Dia memang rindu kita berkongsi segala masalah dan beban kita kepada Nya. "Percayalah kepada Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita". Mazmur 62:9

Apabila kita selalu melakukannya maka hubungan kita dengan Tuhan juga akan semakin intim. Yesus sentiasa mengalu alukan kita yang berbeban berat untuk datang kepada Nya. "Marilah kepada Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu". Matius 11:28 Coba kita praktikkan hal ini. Luahkan segalanya kepada Tuhan walaupun itu kekecewaan dan kemarahan. Jika kita melakukannya, kita akan beroleh kekuatan daripada Tuhan untuk bersabar,tekun dalam pelayanan,bahkan memaafkan orang yang menyakiti hati kita. Memang berat rasanya untuk memaafkan orang tetapi jika kita membawa hal itu kepada Tuhan maka Dia akan memampukan kita untuk memaafkan orang lain. Setelah saya meluahkan segalanya kepada Tuhan, tibalah saatnya untuk saya berdiam diri di hadapan Tuhan. Untuk apa? Untuk mendengar isi hati Tuhan. Ingin saya tegaskan di sini bahawa sangat penting untuk mendengar isi hati Bapa kita yang di Syurga. Jangan kita hanya tahu untuk berdoa bla bla bla tetapi selepas itu tidak memberi ruang kepada Tuhan untuk berbicara kepada kita. Mendengar isi hati Tuhan boleh dilakukan dengan merenung firman Tuhan dan suara Roh Kudusnya. Pada waktu itulah kita akan belajar banyak perkara yang akan mengubah persepsi fikiran kita dan juga motivasi yang benar dalam melayani Tuhan.

Kita harus merelakan supaya hati kita dibentuk oleh Tuhan. Lalu apakah yang saya dengar daripada Tuhan? Roh Kudus mulai berbicara: "Engkau harus berfokus kepada Ku. Pelayananmu harus tertuju kepada Ku. Mengenai hamba hamba Ku yang lain, Aku juga mengasihi mereka sama seperti Aku telah mengasihi kamu. Belajarlah untuk mengasihi dan menerima mereka". Dari kata kata itu saya belajar sesuatu yang sangat berharga. Saya belajar untuk melayani Tuhan dalam keadaan apapun saya berada dan siapapun orang yang di sekeliling saya. Tuhan mengajar saya supaya menerima kelemahan orang lain sebagaimana Tuhan juga telah menerima seadanya diri saya ini.

Kita sebagai manusia masing masing mempunyai kelemahan yang tersendiri dan sebab itulah kita harus saling mendukung dan melengkapi satu dengan yang lain. Saya berpendapat bahwa ada waktunya kelemahan itu baik. 3 sebab yang menyebabkan saya mengatakan demikian yaitu:

  1. Kelemahan kita akan mengajar kita bahawa kita memerlukan orang lain.

  2. Mengelakkan kita daripada bersikap sombong dan mementingkan diri
    sendiri. Jika kita tiada kelemahan, boleh menyebabkan kita merasa tidak memerlukan bantuan orang lain bahkan kita akan menolak Tuhan karena kita merasa mampu untuk melakukan banyak perkara.

  3. Menggalakkan persekutuan yang membentuk satu tubuh Kristus yang
    sempurna. Masing masing kita memainkan peranan untuk memberi faedah
    kepada tubuh Kristus secara bersama. Rujuk 1 korintus 12:12,30

Jika pada waktu ini kita merasa begitu lemah dan dan banyak kekurangan, kita harus bersandar kepada Tuhan dan mengimani Dia dengan sungguh sungguh karena hanya melalui Dia kita dapat melakukan segala hal walaupun yang mustahil bagi manusia. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku (Filipi 4:13).

Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah. (Yeremia 17:7,8)

Marilah kita jangan berdalih lagi. Jangan kita terlalu banyak memberi alasan dalam hidup ini. Yesus sedang bertanya kepada kita baik yang mengalami kesakitan pada tubuh, lemah secara rohani, keadaan gereja yang mundur dan keadaan keluarga yang mungkin semakin retak, Yesus bertanya: Maukah engkau sembuh? Maukah kau dipulihkan? Maukah kau mendapat kekuatan yang baru daripada Ku? Jikalau anda sudah tidak melayani Tuhan disebabkan anda telah disakiti dan kecewa melihat karena hamba hamba Tuhan yang lain, pada saat ini Tuhan ingin bertanya: Maukah kau mengampuni orang yang menyakiti hatimu dan berdamai dengan mereka tanpa menyimpan sedikit rasa marah terhadap mereka? Maukah kau mengasihi mereka seperti mana Aku juga mengasihi mereka dan mengasihi engkau? Maukah kau kembali melayani Ku untuk kemuliaan Ku? Saudara dan saudari yang dikasihi, renungkan pertanyaan di atas dan ambillah keputusan yang wajar. Berdoalah dan renungkan firman Tuhan supaya anda mengetahui kehendak Nya.

Jika anda merasa Tuhan menjamah dan berbisik di dalam hati anda saat anda membaca penulisan ini, jangan keraskan hatimu. "Pada hari ini, jika kamu mendengar suara Nya, janganlah keraskan hatimu! Ibrani 4:7b. Saya juga ingin mengongsikan sedikit kalimat doa yang sering saya ucapkan kepada Tuhan iaitu begini: Tuhan,ajar aku melihat orang lain seperti mana Engkau melihat mereka. Ajarlah aku menerima keadaan mereka sebagaimana Engkau telah menerima apapun keadaan diri saya. Ajar juga saya mengasihi mereka seperti mana Engkau mengasihi mereka.

Apabila kita dengan sungguh-sungguh menginginkan hal seperti itu, Tuhan akan mengubah cara kita melihat orang lain, mengubah cara kita berfikir dan menilai serta membentuk hati kita dengan mengalirkan kasih Nya ke dalam hati kita supaya kita dapat mengasihi orang lain. Tuhan melihat manusia dengan penuh kasih sayang dan belas kasihan dan Dia menginginkan kita juga melakukan hal yang sama.

Berbalik kepada kisah orang sakit itu, di ayat yang ke 8, Yesus berkata kepadanya: "Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah." Di ayat yang ke-9 pula mengatakan: Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan. Tetapi hari itu hari Sabat. Melalui ayat inilah kemuncak mesej yang ingin saya kongsikan bersama dengan saudara dan saudari. Kita dapat melihat reaksi Yesus yang tidak memberi respon kepada alasan orang sakit itu yang seolah olah menyalahkan orang lain. Ini karena Yesus tahu bahwa alasannya itu tidak dapat menyelesaikan apa apa dan tidak dapat memulihkan keadaannya itu. Marilah kita menyadari bahawa alasan dan rungutan kita tidak akan berhasil memulihkan keadaan kita. Namun ada berita baik bagi kita semua iaitu: Firman Tuhan mampu memulihkan kita. Kata kata yang keluar dari mulut Yesus adalah firman yang berkuasa yang menyembuhkan orang sakit itu dan keadaannya dipulihkan. Saya percaya hal itu juga dapat berlaku kepada kita karena Yesus yang kita sembah tidak pernah berubah dan Ia sama dari dahulu kala sebelum dunia dijadikan, hari ini, dan sampai selama lamanya.

Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selamalamanya. Ibrani 13:8, "Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah, dan kamu, bani Yakub, tidak akan lenyap. Maleakhi 3:6, Hanya firman Tuhan yang mampu melepaskan kita dari ikatan dosa dan iblis serta menyembuhkan kita. Jika pada saat ini kita berasa lemah dan tidak berdaya baik dari segi tubuh badan maupun dari segi rohani, marilah kita mulai tekun dalam merenungkan firman Tuhan serta hidup sesuai dengan firman Tuhan itu supaya segala ikatan dosa dan sakit penyakit kita dikalahkan. Bagi yang sakit pada tubuh badan, percayalah kepada firman Tuhan dan mulailah mengucapkan kata kata iman kepada dirimu sendiri. Contohnya begini: Dalam nama Yesus aku telah sembuh. Saya berdoa bagi yang sakit secara jasmani, di dalam nama Yesus Kristus, anda telah di sembuhkan. Kenapa Firman Tuhan itu sangat berkuasa untuk menyembuhkan? Jawapannya tertulis di dalam alkitab. Contohnya: disampaikan Nya firman Nya dan disembuhkan Nya mereka, diluputkan Nya mereka dari liang kubur. Mazmur 107:20, Firman Tuhan adalah Tuhan sendiri sebab itu Ia berkuasa. Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.Ia pada mulanya bersama sama dengan Allah.

Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan (Yohanes 1:1,3). Bagi yang terikat dengan tabiat tabiat dosa seperti mabuk,ketagihan rokok,sikap pemarah,ketagihan seksual dan sebagainya, firman Tuhan juga mampu membebaskan kita asal saja kita tekun merenungkan dan mengamalkannya. Maka kata Nya kepada orang orang Yahudi yang percaya kepada Nya: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar benar adalah murid Ku, dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu (Yohanes 8:31,32).

Tabiat tabiat buruk memang sangat sukar dilepaskan kalau kita tidak mempunyai tekad yang kuat untuk ingin lepas dan tidak membenarkan kuasa Roh Kudus untuk bekerja dalam hidup kita. Roh Kudus bekerja melalui firman Tuhan yang kita baca dan renungkan. Perhatikan perkataan tetap, dan frasa kebenaran itu akan memerdekakan kamu di ayat yang di atas. Tetap dalam firman Tuhan berarti suatu tindakan yang berterusan dalam mendengar,merenungkan dan melakukan firman-Nya. Jangan sesekali mengamalkan rutin seminggu,sebulan atau setahun sekali dalam merenungkan firman Tuhan. Ia nya harus dilakukan secara berterusan dari hari ke hari.

Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung. Jika hal itu kita lakukan, saya percaya kita akan terlepas dari semua ikatan yang membelenggu kehidupan kita yang menyebabkan kita lumpuh rohani dan tidak dapat melangkah lebih jauh bersama Tuhan tetapi jika kita tidak melakukannya, itu bermakna kita tidak serius dalam hubungan kita dengan Tuhan dan keadaan kita juga sukar dipulihkan.Tuhan ingin memulihkan segala aspek kehidupan kita tetapi kita harus memberi respon yang positif kepada firman-Nya.

Pada waktu ini banyak orang kristian, gereja Tuhan dan persekutuan kristian yang sudah semakin tenggelam, ada yang suam suam kuku dan tidak kurang juga yang sudah berpaling daripada Tuhan. Perhatikanlah ke mana arah tuju gereja, persekutuan, keluarga dan hidup anda. Adakah semuanya semakin maju atau sebaliknya. Tuhan sebenarnya mau anak anak Nya semakin bertumbuh dalam mengenali Nya, semakin dewasa dalam iman dan berbuah lebat. Tuhan ingin supaya kita bangun daripada keadaan kita yang tidak mengalami kemajuan dan hanya melalui Yesus sahaja penerobosan( breakthrough) dapat terjadi di dalam kehidupan kita. Tuhan juga ingin kita bangun dari kekecewaan, penderitaan, kemiskinan dan dari apa saja yang menghalang kita untuk terus bertumbuh dan dimaksimakan sepenuhnya potensi kita bagi Kristus Yesus. Bangun juga berarti sadar dari keadaan yang seolah olah tidur, termenung, berangan angan dan di buai mimpi. Berjalan pula berarti kita melangkah dengan iman dan maju ke hadapan. Tuhan memang inginkan anak-anak-Nya supaya berhasil dalam kehidupan mereka. Kejayaan dan keberhasilan akan kita nikmati apabila kita tinggal di dalam Firman Nya karena di luar Yesus kita tidak dapat membuat apa apa(Yoh 15:5). Hanya di dalam Yesus sahaja ada harapan dan kemenangan. Seperti yang terjadi dengan orang sakit yang disembuhkan oleh Yesus itu, pasti dia tidak pernah menyangka bahwa keadaan hidupnya boleh berubah. Selama 38 tahun dia tidak melihat adanya harapan dan masa depan yang baik namun kehadiran Yesus telah mengubah segalanya. Begitu juga dengan kehidupan kita, jika Yesus hadir dalam hidup kita Dia mampu mengubah segala sesuatu yang tidak berpengharapan menjadi sesuatu yang penuh harapan.

Benarkanlah Yesus hadir dalam hidup anda. Untuk mengakhiri penulisan saya ini, sekali lagi saya ingin katakan: BANGUNLAH DAN BERJALANLAH!

Batu Besar

Suatu hari seorang dosen sedang memberi kuliah tentang manajemen waktu pada para mahasiswa MBA. Dengan penuh semangat ia berdiri depan kelas dan berkata, "Okay, sekarang waktunya untuk quiz." Kemudian ia mengeluarkan sebuah ember kosong dan meletakkannya di meja. Kemudian ia mengisi ember tersebut dengan batu sebesar sekepalan tangan. Ia mengisi terus hingga tidak ada lagi batu yang cukup untuk dimasukkan ke dalam ember. Ia bertanya pada kelas, "Menurut kalian, apakah ember ini telah penuh?" Semua mahasiswa serentak berkata, "Ya!"

Dosen bertanya kembali, "Sungguhkah demikian?" Kemudian, dari dalam meja ia mengeluarkan sekantung kerikil kecil. Ia menuangkan kerikil-kerikil itu ke dalam ember lalu mengocok-ngocok ember itu sehingga kerikil-ker ikil itu turun ke bawah mengisi celah-celah kosong di antara batu-batu. Kemudian, sekali lagi ia bertanya pada kelas,
"Nah, apakah sekarang ember ini sudah penuh?" Kali ini para mahasiswa terdiam. Seseorang menjawab, "Mungkin tidak."

"Bagus sekali," sahut dosen. Kemudian ia mengeluarkan sekantung pasir dan menuangkannya ke dalam ember. Pasir itu berjatuhan mengisi celah-celah kosong antara batu dan kerikil. Sekali lagi, ia bertanya pada kelas, "Baiklah, apakah sekarang ember ini sudah penuh?" "Belum!" sahut seluruh kelas.

Sekali lagi ia berkata, "Bagus. Bagus sekali." Kemudian ia meraih sebotol air dan mulai menuangkan airnya ke dalam ember sampai ke bibir ember. Lalu ia menoleh ke kelas dan bertanya, "Tahukah kalian apa maksud illustrasi ini?"

Seorang mahasiswa dengan semangat mengacungkan jari dan berkata, "Maksudnya adalah, tak peduli seberapa padat jadwal kita, bila kita mau berusaha sekuat tenaga maka pasti kita bisa mengerjakannya."

"Oh, bukan," sahut dosen, "Bukan itu maksudnya. Kenyataan dari illustrasi mengajarkan pada kita bahwa: bila anda tidak memasukkan "batu besar" terlebih dahulu, maka anda tidak akan bisa memasukkan semuanya."

Apa yang dimaksud dengan "batu besar" dalam hidup anda? Anak-anak anda; Pasangan anda; Pendidikan anda; Hal-hal yang penting dalam hidup anda; Mengajarkan sesuatu pada orang lain; Melakukan pekerjaan yang kau cintai; Waktu untuk diri sendiri; Kesehatan anda; Teman anda; atau semua yang berharga.

Ingatlah untuk selalu memasukkan "Batu Besar" pertama kali atau anda akan kehilangan semuanya. Bila anda mengisinya dengan hal-hal kecil (semacam kerikil dan pasir) maka hidup anda akan penuh dengan hal-hal kecil yang merisaukan dan ini semestin ya tidak perlu. Karena dengan demikian anda tidak akan pernah memiliki waktu yang sesungguhnya anda perlukan untuk hal-hal besar dan penting.
Oleh karena itu, setiap pagi atau malam, ketika akan merenungkan cerita pendek ini, tanyalah pada diri anda sendiri: "Apakah "Batu Besar" dalam hidup saya?" Lalu kerjakan itu pertama kali."

IMPIAN = BATU BESAR

Batu Karang yang Teguh

Oleh: John Adisubrata

"Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman." (Yohanes 6:44)

Menabur benih-benih firman Tuhan sedini mungkin dalam kehidupan orang-orang di sekeliling kita sering mengakibatkan hasil penuaian yang tidak tersangka. Kesempatan untuk bisa menyaksikannya selalu berbeda-beda, sesuai dengan waktu dan kehendak Tuhan, karena hanya Dia yang mampu menumbuhkan benih-benih tersebut.

Banyak orang menabur firman dengan harapan untuk dapat menyaksikan "tuaian" tindakan mereka seketika itu juga. Tetapi kenyataan yang sebenarnya, menakjubkan sekali! Buah-buah yang dihasilkan melalui benih-benih firman Tuhan yang ditaburkan ke dalam hidup orang-orang, terkadang baru terlihat nyata bertahun-tahun, berpuluh-puluh tahun, bahkan mungkin beratus-ratus tahun kemudian. Kisah "Batu Karang yang Teguh" ini sudah membuktikannya!

Salah satu sekolah dasar di kota Surabaya yang pernah saya kunjungi beberapa puluh tahun yang lalu, telah mempertemukan saya dengan Pak Paliyama, seorang guru SD kelas 6 yang masih muda. Tuhan telah memakai guru ini sebagai alat untuk mempengaruhi kehidupan saya dalam usia yang amat dini. Benih-benih firman yang ditaburkan melalui pelayanannya di sekolah ikut membantu persiapan-persiapan bagi pertobatan hidup saya beberapa tahun yang lalu.

Setiap hari Jum"at segenap siswa sekolah dasar tersebut dipisahkan menjadi beberapa kelompok. Masing-masing kelompok diwajibkan untuk mengikuti pelajaran-pelajaran agama yang ditawarkan di sana. Entah bagaimana, saya yang baru berumur kira-kira 7 tahun dikategorikan oleh guru saya ke dalam kelompok siswa-siswa yang mengikuti pelajaran agama Kristen, meskipun pada saat itu kami sekeluarga masih belum menjadi "penganut" agama tersebut. Mungkin sekali, karena kakak saya yang memutuskan bagi adik-adiknya.

Pak Paliyama selalu mempersiapkan pelajaran agamanya dengan penuh kedisiplinan, dibantu oleh salah seorang dari guru-guru yang lain secara bergantian. Setiap minggu ia memulainya dengan mengajak kami untuk berdoa bersama, dan mengajarkan nyanyian lagu-lagu rohani yang pada waktu itu tidak saya ketahui. Salah satu dari lagu-lagu yang diperkenalkan olehnya, yang amat membekas di dalam hati saya, adalah lagu Hymne kuno: "Batu Karang yang Teguh".

Sebelum pelajaran agama dimulai, ia selalu mempersiapkan lirik dari lagu-lagu tersebut untuk ditulis di papan secara rapi. Tidak jarang ia memberikan tugas tersebut kepada saya. Ia mengetahui, bahwa saya selalu tertarik pada semua hal-hal yang berhubungan dengan kesenian, oleh karena itu sering ia mempercayakannya kepada saya.

Suaranya selalu terdengar lantang dan bagus, setiap kali ia memimpin kami menyanyi dari depan ruangan kelas. Satu hal yang tidak dapat saya lupakan selama bertahun-tahun mengikuti pelajaran agama Kristen di situ, adalah menyadari, bahwa ia mempunyai kemampuan pendengaran yang amat hebat. Sering kali ia datang menghampiri, berdiri, dan menyanyi di sebelah (bersama) saya, karena di luar pengetahuan saya sendiri, saya sedang menyanyikan irama lagu-lagu tersebut dalam nada suara dua. Pak Paliyama amat menyukainya!

Selain itu, saya juga terkenang akan ceritera-ceritera bersambung yang selalu dibawakan olehnya dengan penuh ketrampilan. Tentu saja pada waktu itu saya tidak menyadari, bahwa kisah-kisah tersebut sungguh terjadi, bahkan berasal dari dalam firman Allah yang hidup. Tetapi yang pasti, hal itu bukan merupakan suatu masalah yang besar bagi saya!

Sebagai seorang anak yang masih berjiwa polos, setiap hari Jum"at saya terus mendengarkan kisah-kisah yang diceriterakan olehnya dengan penuh perhatian, disertai rasa keingin-tahuan yang berkobar-kobar. Kisah-kisah yang membuat saya selalu tidak sabar untuk mengetahui kelanjutan dan akhirnya. Saya masih ingat akan kekecewaan yang saya rasakan, jika kisah tersebut ternyata harus dihentikan setengah jalan, disebabkan oleh karena jam pelajaran agama sudah berakhir.

Selain peristiwa ajaib Natal yang mengawali kisah kelahiran Tuhan Yesus, yang paling membekas di dalam hati saya, adalah kisah klasik pengalaman Yusuf dan kesepuluh kakak-kakaknya. Dan di samping kejadian termasyhur tentang peristiwa pembakaran Sadrakh, Mesakh dan Abednego dari Kitab Daniel, yang sampai saat ini tidak pernah saya lupakan, adalah kisah raja Belsyazar, seputar kalimat "Mene, mene, tekel ufarsin". (Daniel 5:25)

Sering kali saya bertanya-tanya mengenai segala kemungkinan yang menyebabkan saya merasa begitu tertarik pada ceritera-ceritera kristiani tersebut, melalui pelajaran agama yang ditawarkan oleh Pak Paliyama.

Apakah karena pada saat itu, seperti umumnya anak-anak yang masih kecil, saya gemar mendengarkan kisah-kisah yang diceriterakan oleh orang lain, seperti yang dilakukannya dari depan kelas? Atau, ... apakah karena kepribadian saya yang selalu mengikuti perkembangan buku-buku ceritera dongeng, buku-buku komik, buku-buku silat, bahkan cerpen-cerpen yang ditawarkan oleh koran-koran dan majalah-majalah di Indonesia?

Atau, ... apakah karena sedari kecil saya selalu suka mempelajari irama musik-musik populer, sehingga saya menjadi tertarik pada lagu-lagu rohani yang diajarkan olehnya di sekolah? Atau, ... apakah karena di dalam persepsi kanak-kanak saya, Pak Paliyama adalah seorang (Kristen) yang baik, yang menyebabkan saya mengagumi pribadinya?

Atau kemungkinan yang lain, ... apakah semua itu terjadi, karena firman Tuhan harus digenapi? Rasul Paulus menulis kepada jemaat di Efesus: "Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya." (Efesus 1:4)

Taburan benih-benih firman melalui lirik lagu-lagu berdasarkan ayat-ayat Alkitab, dan kisah-kisah menarik yang diambil langsung dari sana, ternyata telah tergores dalam hati. Sekarang sesudah saya lahir baru, pengalaman-pengalaman yang mengawalinya di sekolah tersebut, membawa kembali semua kenangan sangat manis yang terjadi dalam jam-jam pelajaran agama di sana. Bagaimana kami berdoa, bagaimana kami bersama-sama menyanyikan lagu-lagu rohani, dan bagaimana kami sekelas asyik mendengarkan Pak Paliyama berceritera di dalam kelas, ... semua itu tampak amat jelas dalam ingatan saya!

"demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan padanya." (Yesaya 55:11) Firman Allah, yang diluar pengetahuan saya sendiri, sudah menerobos masuk ke dalam hati saya melalui pelayanannya yang amat sederhana, ternyata telah berhasil "menghidupkan" roh saya kembali berpuluh-puluh tahun kemudian, karena semenjak saat benih-benih firman tersebut ditaburkan, mereka tidak pernah meninggalkan saya lagi! Itulah bukti kebenaran kasih karunia Tuhan!

Alhasil, ayat termasyhur ini digenapi dalam kehidupan saya! Dan semua itu terjadi hanya oleh karena jasa bantuan seorang guru, yang bersedia membagikan "Kabar Baik" firman Tuhan kepada murid-murid di sekolah secara amat sederhana, dengan membagikannya seperti apa adanya, seperti yang tertulis di dalamnya.

Semenjak kami sekeluarga memutuskan untuk "memeluk" agama Kristen tidak lama sesudahnya, saya yang masih berusia amat muda, tidak pernah mendapatkan kesempatan seindah itu lagi. Karena itu saya sadar akan pentingnya pelayanan-pelayanan yang tampak sangat tidak berarti pada saat dilakukan, tetapi dapat mempengaruhi dan mengubah kehidupan orang-orang yang terlibat di dalamnya bertahun-tahun, berpuluh-puluh tahun, bahkan mungkin beratus-ratus tahun kemudian!

Pelayanan tanpa pamrih, tanpa mengharapkan balasan apa-apa yang dapat menguntungkan diri pribadi! Tuhan Yesus mengatakan dalam Injil Yohanes: "Sekarang juga penuai telah menerima upahnya dan ia mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal, sehingga penabur dan penuai sama-sama bersukacita. Sebab dalam hal ini benarlah peribahasa: Yang seorang menabur dan yang lain menuai. Aku mengutus kamu untuk menuai apa yang tidak kamu usahakan; orang-orang lain berusaha dan kamu datang memetik hasil usaha mereka." (Yohanes 4:36-38)

Sebelum saya meninggalkan sekolah tersebut, saya sempat menjadi salah seorang dari murid-murid kelas 6 SD yang berada di bawah pengawasan Pak Paliyama.

Saya harus mengakui, bahwa dari semua guru yang ikut mengambil bagian dalam pendidikan saya di sekolah dasar tersebut, hanya dia seorang saja yang telah meninggalkan suatu kenangan manis yang tak terlupakan. Apakah karena ia seorang Kristen yang transparan? Saya tidak bisa menjawabnya! Yang pasti, ia sudah mempengaruhi masa kanak-kanak saya dengan memperkenalkan Tuhan Yesus Kristus sebagai awal persiapan kelahiran baru yang saya alami beberapa tahun yang lalu.

Saya percaya, bahwa pelayanannya yang amat sederhana tersebut juga sudah mempengaruhi kehidupan anak-anak yang lain. Saya mengetahui kenyataan ini, karena kakak-kakak saya, yang pernah menjadi murid-muridnya, menyetujui pendapat saya mengenai guru teladan ini!

Biarlah Tuhan saja yang memberkati Pak Paliyama selalu, dimanapun ia berada. Haleluya!

Belajar Hidup dalam Kerendahan Hati

Penulis : sunanto choa

Mat 11:29 "Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan."

Belum lama ini saya membaca sebuah buku tentang kerendahan hati karangan Adrew Murray, seorang hamba Tuhan besar di abad lalu.

Winkie Pratney dalam kata sambutannya untuk buku itu mengatakan bahwa kerendahan hati masih merupakan salah satu kebutuhan terbesar dalam zaman kita.

Begitu banyak buku yang membahas tentang kunci hidup sukses dan diberkati, tapi hanya sedikit yang menempatkan kerendahan hati sebagai syarat untuk mencapai kesuksesan sejati. Kerendahan hati seharusnya menjadi tujuan dan sasaran dalam hidup kekristenan kita sebab itulah kunci untuk menemukan kebahagiaan dan kedamaian sejati.

Dalam bahasa Yunani kerendahan hati dituliskan dengan kata "praios" ( terjemahan b.Ingris : meek ) yang mana berarti juga lemah lembut. Kata praios juga dipakai dalam salah satu tema kotbah Yesus di bukit ( beatitudes ) yaitu berbahagialah orang yang lemah lembut ( praios) , karena mereka akan memiliki bumi. Para teolog yang ahli bahasa aram ( bahasa yang Yesus gunakan ) memperkirakan maksud Yesus dengan lemah lembut ( meek ) di sini adalah seseorang yang menyerah kepada Allah. Kerendahan hati memang erat kaitannya dengan peyerahan dan ketergantungan total kepada Allah. Dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, Rasul Paulus menuliskan tentang buah Roh yang salah satunya adalah kerendahan hati/kelemahlembutan ( praios, praiotes ). Jadi ternyata kerendahan hati juga merupakan salah satu bagian dari buah Roh. Salah satu tanda kedewasaan rohani adalah memiliki buah Roh termasuk salah satunya buah kerendahan hati/kelemahlembutan.

Yesus merupakan tedadan utama kita dalam mempelajari hidup dalam kerendahan hati. Selama hidupNya di dunia ini, Yesus selalu berjalan dalam kerendahan hati dan ketaatan kepada Bapa. Oleh karena itu pelayananNya membawa pengaruh yang begitu besar dan tidak dapat tertandingi oleh siapapun manusia yang pernah hidup di dunia. Sejak manusia jatuh ke dalam dosa maka dunia ini sudah dikuasai oleh kesombongan dan keangkuhan hidup. Yesus datang dengan bersenjatakan kerendahan hati untuk mengalahkan dan menaklukkan kesombongan tersebut. Kesombongan hanya dapat dikalahkan oleh kerendahan hati.

Walaupun Yesus merupakan anak Raja dari segala Raja namun Ia memilih untuk lahir di kandang yang hina. Lalu Ia juga memilih untuk dilahirkan sebagai anak tukang kayu yang mana bukan pekerjaan terhormat. Selama 30 tahun, Ia juga bekerja sebagai tukang kayu walaupun sebenarnya Ia bisa saja melayani sejak remaja sebab kemampuan dan hikmatNya sudah memungkinkan untuk itu. Namun dengan sabar Yesus menunggu dalam kerendahan hati sampai waktunya (kairos) telah tiba bagi Dia untuk melayani sebagai anak Allah. Salah satu definisi dari kerendahan hati adalah kerelaan untuk mengalami hinaan dan tidak dikenal.

Pada masa-masa terakhir hidupNya di dunia ini, Yesus membasuh kaki murid-muridNya sebagai lambang kerelaanNya untuk melayani dan menjadi hamba bagi orang lain. Yesus mengatakan kepada para muridNya sebagaimana Aku membasuh kakimu maka kamu wajib saling membasuh kaki yang mana berarti harus saling melayani dan merendahkan diri. Selain berarti kerelaan untuk tidak dikenal, kerendahan hati juga berarti kerelaan untuk melayani dan menjadi hamba bagi orang lain. Kita wajib saling melayani satu dengan yang lain dalam kerelaan bila ingin hidup dalam kerendahan hati. Salah satu bentuk saling melayani tersebut adalah dengan saling mendoakan satu dengan yang lain.

Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya ( I Ptr 5:6 ). Syarat untuk mendapatkan promosi/peninggian dari Allah adalah hidup dalam kerendahan hati. Bila kita hidup dalam kerelaan untuk tidak dikenal dan melayani orang lain maka Tuhan akan meninggikan kita pada waktunya. Promosi yang sejati datang dari Tuhan bukan dari manusia. Bila Tuhan sendiri yang mempromosikan kita maka tidak ada satupun manusia yang dapat menghalangiNya.

Selain itu hidup dalam kerendahan hati juga akan membuat hidup kita berhasil dan dipenuhi berkat. Tetapi orang-orang yang rendah hati akan mewarisi negeri dan bergembira karena kesejahteraan yang berlimpah-limpah ( Mzm 37:11). Walaupun bangsa kita sedang dirundung krisis yang sepertinya tiada berujung namun bila kita hidup dalam kerendahan hati maka kita akan mewarisi negeri ini dan menikmati kesejahteraan yang berlimpah-limpah. Jaminan kita bukan datang dari manusia tetapi datang dari Allah. Tuhan tidak akan pernah gagal menepati janjiNya sebab Ia tidak bisa gagal.

Bill Gothard mengatakan setiap pagi ia membiasakan diri merendahkan dirinya dalam doa kepada Tuhan. Setiap pagi ia mengakui kelemahan dan ketidaklayakannya kepada Tuhan. Bill berkata, "Bila Saya tidak merendahkan diri maka akan ada orang yang dengan senang hati akan merendahkan saya ". Daripada direndahkan lebih baik kita merendahkan diri di hadapan Tuhan.

Segala sesutu yang kita lakukan berulang-ulang akan menjadi kebiasaan kita. Kebiasaan-kebiasaan dalam hidup kita itulah yang disebut karakter kita. Bila kita membiasakan diri untuk hidup dalam kerendahan hati maka lambat laun kita akan memiliki karakter kerendahan hati. Kerendahan hati bukanlah sebuah karunia Roh melainkan karakter yang harus terus dilatih.

Beberapa waktu belakangan ini saya mulai membiasakan diri merendahkan diri setiap pagi dihadapan Tuhan. Setiap pagi saya mengakui kepada Tuhan semua kelemahan dan ketidakberdayaan saya. Saya mengakui dalam doa betapa saya ini lemah dan rentan terhadap dosa karena masih tersusun dari darah dan daging. Saya memohon kasih karunia dan kekuatan kepada Tuhan agar sepanjang hari bisa hidup dalam kekudusan dan kebenaran. Setelah melakukan kebiasaan itu, saya merasakan adanya sebuah kemenangan dan lebih mudah untuk hidup dalam kekudusan sepanjang hari. Bukan berarti setelah itu tidak ada lagi pencobaan dan godaan tetapi tersedia anugerahNya yang memberikan kekuatan untuk mengatasi setiap pencobaan yang datang.

Kita semua sebenarnya layak binasa karena dosa namun oleh anugerahNya saja kita dibenarkan dan diselamatkan. Semuanya memang hanya karena anugerahNya bukan karena kuat kita. Marilah kita hidup dalam kerendahan hati seperti Tuhan kita, Yesus Kristus !

Bencana dan Waktu

Di hari minggu sore, saya sering berkunjung untung menonton televisi di rumah sepupu saya yang berlangganan TV kabel. Discovery adalah salah satu saluran favorit saya. Kemarin, saya menonton sebuah acara yang sebelumnya juga sudah saya tonton tapi saya tonton lagi dengan seksama karena mempesona, yaitu tentang meletusnya gunung Vesuvius tahun 79 A.D, memusnahkan daerah-daerah di sekitarnya, termasuk kota Pompeii dan Herculaneum.

Gunung dan kota-kota ini berada di kawasan yang sekarang adalah negara Italia. Kota Pompeii yang pada saat itu dikuasai Romawi, dihuni oleh sebagian orang Romawi dan sebagian Yunani dengan populasi sekitar 20 ribu orang. Beberapa hari sebelum Vesuvius meletus, Pompeii seperti layaknya sebuah kota, dipadati rumah-rumah, toko, kuil, hotel, lapangan, serta ramai dengan manusia lalu lalang, berdagang, mengobrol, menonton pertunjukan gladiator, musik, dan sebagainya, bahkan juga segala aktivitas dosa: bertaruh, berselingkuh, dan membunuh. Tak ada yang menduga bahwa beberapa saat dalam waktu sangat singkat mereka semua binasa, orang merdeka maupun budak. Hampir sama dengan warga Aceh beberapa waktu sebelum gelombang Tsunami datang. Tak ada yang menduga bahwa usianya hanya tingal beberapa hari. ("Engkau menghanyutkan manusia; mereka seperti mimpi, seperti rumput yang bertumbuh..." Mazmur 90:5) Mereka, warga Pompeii, binasa dalam sekejap dan kerangka serta fosil mereka tersisa sebagai monumen sejarah bagi kita yang hidup. Sehari sebelumnya, seorang wanita cant ik dengan perhiasan dan jubah yang indah, pahlawan yang gagah, pada tanggal 26 Agustus 79, semua menjadi patung batu dan tengkorak. Historia vitae magistra, sejarah adalah guru kehidupan.

Yang saya renungkan adalah, bagaimana rasanya jika di depan mata kita, hujan batu dan lava yang mengalir deras menuju ke arah kita? Atau seperti seorang di Aceh, Thailand atau Sri Lanka yang menatap ombak bergulung menuju ke arah kita? Saat itu deposito, emas dan perak, jabatan dan gelar kita tak ada artinya, tak akan mampu menyelamatkan. Apa yang akan ada di benak saudara? Yang jelas momen itu bukan untuk membahas "Being and Time"-nya Heidegger, bukan pula "The Origin of Species"-nya Charles Darwin, buku-bukunya Karen Amstrong, segala debat teologis, indeks harga saham gabungan hari ini, atau menyesal bahwa kita kemarin lupa membayar perpuluhan.

Apakah yang terjadi pada warga kota Pompeii dan Aceh tak mungkin terjadi pada kita? Saya sadar betul, kalau saya ada di tengah momen dahsyat yang sungguh mengerikan itu, saya tak akan lagi menginginkan gelar akademik impian saya, rumah dengan kebun yang saya dambakan...hanya satu nama saya ingat, Yesus Kristus, karena hanya Dia yang mengatakan "Akulah Jalan dan Kebenaran dan Hidup. Tak seorang pun akan sampai kepada Bapa kalau tidak melalui Aku." dan satu harapan, namaku ada di Kitab Kehidupan.

Segala produk-produk fashion dan kosmetik mahal yang kita lihat di etalase toko, mobil-mobil mewah di showroom, tak lagi punya makna. Warga Pompeii yang kaya akhirnya harus bernasib sama dengan para budak maupun ternak. "Tetapi dalam segala kegemilangannya manusia tidak dapat bertahan, ia boleh disamakan dengan hewan yang dibinasakan." (Mazmur 49:13)

Kita mungkin sedang tidak mengalami bencana. Tapi bagi tiap orang, hari terakhirnya di dunia ini pasti tiba. Entah kapan. Waktu terus berlalu dan alangkah mengerikannya kalau kita binasa dalam kekekalan!

"Emas dan perakmu sudah berkarat, dan karatnya akan menjadi kesaksian terhadap kamu dan akan memakan dagingmu seperti api. Kamu telah mengumpulkan harta pada hari-hari yang sedang berakhir." (Yakobus 5:3).

Adakah kita selalu sibuk dengan diri kita sendiri di hari-hari akhir? kita tak tahu kapan Yesus datang tetapi perlu kita sadari, waktunya sudah singkat. Di sekeliling Vesuvius kini, tinggal ribuan warga Italia. Gunung itu tak bisa dikatakan sudah mati. Demikian pula banyak gunung vulkanik di negara kita. Kita tak tahu apakah tsunami tak akan datang lagi. Tapi kita perlu tahu, bahwa kalau kita hidup di dalam Kristus, maka hidup kita untuk Dia dan menjadi bermakna, dan kematian adalah pintu kita untuk selamanya hidup dalam damai sejahtera bersamaNya. Dalam hidup ini, kita tak perlu ketakutan menghadapi hari esok, karena Allah ada bersama dengan kita. "Sungguh hatinya melekat kepadaKu, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku," (Mazmur 91:14). Dalam Yesus, hidup jadi punya arti, dan mati pun adalah keuntungan karena kita pulang ke tempat yang terang. Tuhan memberkati.

Sumber: iseloadji

Benih

Suatu ketika, ada sebuah pohon yang rindang. Dibawahnya, tampak dua orang yang sedang beristirahat. Rupanya, ada seorang pedagang bersama anaknya yang berteduh disana. Tampaknya mereka kelelahan sehabis berdagang di kota. Dengan menggelar sehelai tikar, duduklah mereka dibawah pohon yang besar itu.

Angin semilir membuat sang pedagang mengantuk. Namun, tidak demikian dengan anaknya yang masih belia. "Ayah, aku ingin bertanya..." terdengar suara yang mengusik ambang sadar si pedagang.

"Kapan aku besar, Ayah? Kapan aku bisa kuat seperti Ayah, dan bisa membawa dagangan kita ke kota?"

"Sepertinya", lanjut sang bocah, "Aku tak akan bisa besar. Tubuhku ramping seperti Ibu, berbeda dengan Ayah yang tegap dan berbadan besar. Kupikir, aku tak akan sanggup memikul dagangan kita jika aku tetap seperti ini."

Jari tangannya tampak mengores-gores sesuatu di atas tanah.

Lalu, ia kembali melanjutkan, "Bilakah aku bisa punya tubuh besar sepertimu, Ayah?"

Sang Ayah yang awalnya mengantuk, kini tampak siaga. Diambilnya sebuah benih, di atas tanah yang sebelumnya di kais-kais oleh anaknya. Diangkatnya benih itu dengan ujung jari telunjuk. Benda itu terlihat seperti kacang yang kecil, dengan ukuran yang tak sebanding dengan tangan pedagang yang besar-besar. Kemudian, ia pun mulai berbicara.

"Nak, jangan pernah malu dengan tubuhmu yang kecil. Pandanglah pohon besar tempat kita berteduh ini. Tahukah kamu, batangnya yang kokoh ini, dulu berasal dari benih yang sekecil ini. Dahan, ranting dan daunnya, juga berasal dari benih yang Ayah pegang ini. Akar-akarnya yang tampak menonjol, juga dari benih ini. Dan kalau kamu menggali tanah ini, ketahuilah, sulur-sulur akarnya yang menerobos tanah, juga berasal dari tempat yang sama."

Diperhatikannya wajah sang anak yang tampak tertegun. "Ketahuilah Nak, benih ini menyimpan segalanya. Benih ini menyimpan batang yang kokoh, dahan yang rindang, daun yang lebar, juga akar-akar yang kuat. Dan untuk menjadi sebesar pohon ini, ia hanya membutuhkan angin, air, dan cahaya matahari yang cukup. Namun jangan lupakan waktu yang membuatnya terus bertumbuh. Pada mereka semualah benih ini berterima kasih, karena telah melatihnya menjadi mahluk yang sabar."

"Suatu saat nanti, kamu akan besar Nak. Jangan pernah takut untuk berharap menjadi besar, karena bisa jadi, itu hanya butuh ketekunan dan kesabaran."

Terlihat senyuman di wajah mereka. Lalu keduanya merebahkan diri, meluruskan pandangan ke langit lepas, membayangkan berjuta harapan dan impian dalam benak. Tak lama berselang, keduanya pun terlelap dalam tidur, melepaskan lelah mereka setelah seharian bekerja.

Jangan pernah merasa malu dengan segala keterbatasan. Jangan merasa sedih dengan ketidaksempurnaan. Karena Allah, menciptakan kita penuh dengan keistimewaan. Dan karena Allah, memang menyiapkan kita menjadi mahluk dengan berbagai kelebihan.

Mungkin suatu ketika, kita pernah merasa kecil, tak mampu, tak berdaya dengan segala persoalan hidup. Kita mungkin sering bertanya-tanya, kapan kita menjadi besar, dan mampu menggapai semua impian, harapan dan keinginan yang ada dalam dada. Kita juga bisa jadi sering membayangkan, bilakah saatnya berhasil?

Kapankah saat itu akan datang?

Teman, kita adalah layaknya benih kecil itu. Benih yang menyimpan semua kekuatan dari batang yang kokoh, dahan yang kuat, serta daun-daun yang lebar. Dalam benih itu pula akar-akar yang keras dan menghujam itu berasal. Namun, akankah Allah membiarkan benih itu tumbuh besar, tanpa alpa dengan bantuan tiupan angin, derasnya air hujan, dan teriknya sinar matahari?

Begitupun kita, akankah Allah membiarkan kita besar, berhasil, dan sukses, tanpa pernah merasakan ujian dan cobaan?

Akankah Allah lupa mengingatkan kita dengan hembusan angin "masalah", derasnya air "ujian" serta teriknya matahari "persoalan"?

Tidak Teman. Karena Allah Maha Tahu, bahwa setiap hambaNya akan menemukan jalan keberhasilan, maka Allah akan tak pernah lupa dengan itu semua.

Jangan pernah berkecil hati. Semua keberhasilan dan kesuksesan itu telah ada dalam dirimu.

Berapa Nilainya Jiwa Anda?

Oleh: Mang Ucup

Cobalah renungkan oleh akal sehat anda, apakah anda bersedia sekedar hanya untuk melindungi dua ekor ayam, tetapi dilain pihak harus mengorbankan ribuan ekor ayam-ayam lainnya. Secara itung-itungan matematika ini sudah tidak logis dan tidak masuk diakal, tetapi hal inilah yang terjadi dan dilakukan oleh pihak Israel. Israel ingin melindungi dua jiwa warganya untuk ini mereka tanpa ragu-ragu bersedia mengorbankan ribuan jiwa lainnya dalam perang Libanon. Kebalikannya ketika jaman Hitler jiwa orang Yahudi itu tidak bernilai sama sekali, bahkan jutaan jiwa mereka diambil dengan cara begitu saja seperti layaknya membabat rumput.

Begitu juga untuk hilangnya satu jiwa tentara Amerika entah itu di Vietnam,Irak ataupun Afganistan mereka akan menagih puluhan sampai ribuan jiwa lain sebagai penggantinya. Oleh sebab itulah apakah salah apabila saya mengambil kesimpulan seakan-akan jiwa dari orang Amerika atau Israel itu ada jauh lebih berharga daripada jiwa-jiwa manusia lainnya? Rupanya dimata mereka itu, kalau dibandingkan dengan jiwa bangsa lainnya, tidak ada nilainya, sama seperti juga jiwa nyamuk atau laler begitu.

Jiwa siapa yang lebih bernilai jiwanya Amrozi ataukah jiwanya Tibo. Jiwanya Paus ataukah jiwanya Osama bin Laden. Kalau dilihat dari segi nilai uangnya, maka jiwanya Osama Bin Laden jauh lebih bernilai, buktinya Amerika bersedia untuk membayar puluhan juta AS Dollar untuk mendapatkan jiwanya dari Osama bin Laden.

Seperti juga pepatah: "Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya atau lain negara lain pula nilai jiwanya." Lihat saja di Indonesia sekarang ini jiwa rakyatnya itu hampir tidak ada nilainya, sebab dalam kebanyakan kasus nilai jiwa rakyat Indonesia itu dianggap hanya sekedar angka atau nomor saja. Entah rakyatnya meninggal ratusan atau ribuan pemerintah tidak pernah mau gubris atau ambil pusing, misalnya dalam kasus Lapindo maupun dalam kasus-kasus pencemaran lingkungan lainnya. Mereka lebih mementingkan jiwa dari seorang menteri atau konglomerat daripada puluh ribu jiwa rakyatnya.

Bagaimana caranya menilai jiwa seseorang? Jelas jiwa wong cilik itu nilainya sangat murah sekali, masalahnya mana yang mau mengeluarkan uang puluhan sampai ratusan juta khusus untuk melindungi atau mempertahan jiwa dari wong cilik. Beda dengan jiwa dari pejabat ataupun para wong sugih. Lihat saja jiwa Soeharto berapapun biayanya mereka akan usahakan; agar tetap bisa dipertahankan terus.

Ketika Ibu Tien jiwanya melayang, seluruh rakyat Indonesia berkabung selama tujuh hari tujuh malam, apakah hal yang sama akan terjadi apabila Soeharto meninggal belum tentu?

Apakah jiwa seorang itu dinilai berdasarkan status, jabatan maupun kekayaan dari si pemilik jiwa? Saya yakin demikian, sebab berapa banyak dana, waktu maupun personal yang disediakan untuk melindungi jiwanya dari President Bush, beda dengan jiwanya mang Ucup yang nilainya tidak lebih daripada nilainya jiwa si Bleki anjing tetangga, kojor tidak kojor ya podo wae begitu.

Menurut segi pandangan agama jiwa setiap orang itu sangat berharga dipandangan Sang Pencipta, tetapi kebalikannya apabila jiwa manusia itu begitu berharga, kenapa Ia mengirim bencana alam untuk mencabut jutaan jiwa umat-Nya?

Setiap orang dapat menentukan nilai jiwanya melalui usuransi jiwa. Siapa saja berhak dan boleh menilai, bahwa jiwanya itu jauh lebih tinggi maupun lebih berharga daripada jiwa yang lain. Hanya sayangnya satu kenyataan pahit yang kita harus terima entah itu si Bush atau si Ucup jiwa kita itu tidak bernilai sama sekali, karena pada suatu saat akan ia akan pergi menghilang wuuu.usss-Gone with the wind en never kam bek, alias minggat buron begitu saja meninggalkan jasad kita.

Kita tidak akan bisa menilai jiwa kita, sebab jiwa ini bukannya milik kita, melainkan hanya sekedar pinjaman saja dari sang Pencipta

Pada saat jiwa anda meninggalkan tubuh anda, anda ini tidak akan ada nilainya lagi; selain "seonggok daging". Tubuh anda yang diam dan terbujur kaku, akan dibawa ke kamar mayat. Di sana, ia akan dimandikan untuk terakhir kalinya. Segera setelah anda dimakamkan, maka bakteri-bakteri dan serangga-serangga berkembang biak pada mayat tersebut. Manusia yang tadinya wong cantik, wong pinter, wong kaya akhirnya menjadi "seonggokkan daging busuk dan tulang" yang tak dapat dikenali lagi. Ia akan mengalami akhir yang menjijikkan. Itulah nilainya diri anda dan saya.

Banyak orang yang ngotot pada saat jiwanya mo diambil oleh Sang Pemiliki,kita ngambek, bahkan berusaha dengan berbagai macam cara untuk mempertahankannya, entah melelalui dukun, mukjizat ataupun pergi ke spesialist yang paling canggih di luar negeri. Ini sama seperti kalau kita pinjam buku dari taman bacaan, pada saat waktunya sudah usai maka wajarlah kalau ditagih oleh sipemilik. Kalau tidak mau mengembalikannya dengan alasan apapun juga otomatis kita harus bayar bute. Begitu juga dengan jiwa kita, kalau kita tidak mau mengembalikannya, mungkin kita akan dikenakan sangsi, dimana badan kita jadi lumpuh, alias mati tidak hidup pun tidak.

Apakah anda mempunyai pandangan beda dari mang Ucup ?

Berbagi Ketegaran

Penulis : Lesminingtyas

Ketika komunitas kami mengadakan retret di sebuah villa, seperti biasa teman-teman berubah layaknya celebrities yang suka potret sana potret sini. Seorang teman dengan kamera digital barunya sangat bersemangat memotret setiap polah tingkah temannya. Sangatlah manusiawi jika seseorang senang dengan foto-foto yang menampilkan gambar dirinya dalam pose yang menawan. Namun apa jadinya ketika teman laki-laki kami yang itu diambil gambarnya ketika ia sedang tidur dengan sarungnya yang terbuka, sehingga CDnya yang berwarna abu-abu tampak close up? Tentu saja ia akan sangat malu. Lebih malu lagi, ketika foto itu menjadi konsumsi umum.

Teman saya yang berwajah tampan mirip Delon dan menjadi idola teman-teman perempuan itu tidak hanya malu, tetapi menjadi marah ketika beberapa "fans" menggodanya dengan panggilan seronok "Sexy nih ye!" atau "Mulus nih ye" atau "Hallo abu-abu!" Saya sangat mengerti ketika Delon itu bermuka masam dan berusaha menyembunyikan wajahnya. Sayang sekali, walaupun ia telah menunjukkan sikap tidak senang, namun tidak seorang pun mempedulikan perasaannya.

Ketika semakin banyak orang mentertawakan fotonya, ia pun menjadi sangat marah. Ia kemudian menegur Didi; teman kami yang memotret dan mempertontonkan foto seronoknya. Melalui SMS Delon merasa keberatan kalau foto seronoknya dipertontonkan untuk umum. Sikap tersebut rasanya tidak berlebihan karena tindakan Didi memang telah melecehkannya.

Sayang sekali si pemotret yang ditegur itu tidak mau mengakui kesalahannya. Ia justru menarik tangan dan memaksa saya untuk membaca SMS dari Delon. Untuk tidak memperpanjang masalah, saya menyarankan si pemotret untuk meminta maaf. Saya yakin, hanya "permintaan maaf" yang bisa menghentikan ketegangan. Namun karena si pemotret tidak merasa bersalah, ia pun merasa gengsi untuk menuliskan kata maaf. Si pemotret itu justru membalas SMS yang berisi pembelaan diri. Saya kembali mengingatkan bahwa Didi boleh saja membela diri, tapi setidaknya tetap meminta maaf dan secara santun terlebih dahulu, baru kemudian mengemukakan alasan tindakannya. Saya menyarankan Didi untuk membalas SMS Delon dengan menuliskan "Maaf, bukan maksud saya.."

Didi yang kebetulan bukan saudara seiman saya itu meremehkan sikap saya yang menurutnya terlalu mudah untuk meminta maaf. Didi mengecam saya sebagai pengecut. Iapun dengan emosi membalas SMS Delon dengan kata-kata "Kayak anak kecil aja lu! Dasar perempuan, beraninya cuma SMS. Maumu apa sih?"

Sekali itu Delon kecewa. Delon yang mengharapkan kata maaf dari Didi, malah menerima kata-kata yang tidak mengenakkan. Delon pun kembali membalas SMS Didi "Maaf, saya hanya mengingatkan bahwa kita tidak boleh melecehkan dan merendahkan martabat sesama. Semoga bapak mengerti"

Didi kembali berang dan membalas SMS Delon "Kalau kamu laki-laki, hadapi saya!" Saya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sikap Didi yang juga mendapat dukungan dari beberapa teman. Karena provokasi Didi, situasi justru semakin tidak menguntungkan bagi Delon.

Sebagai teman seiman, saya pun menghampiri Delon. Delon pun hanya menunduk malu karena ia tahu bahwa saya sudah melihat posenya yang seronok. Saya yang sudah sering menerima perlakukan tidak adil dan pelecehan dari teman-teman, berusaha menghibur Delon. "Saya tahu Delon tidak salah menegur Didi karena Delon berhak membela diri ketika dilecehkan. Saya kira yang penting kita sudah menyampaikan yang seharusnya kita sampaikan. Soal orang lain mau menerima atau defensive, itu bukan urusan kita. Saat ini Delon masih sakit hati dan marah karena Didi tidak mau minta maaf khan? Kenapa Delon harus menunggu orang lain meminta maaf? Kalau mau survive di komunitas kita, jangan sekali-sekali berharap orang lain mau mengakui kesalahan dan datang kepada kita untuk meminta maaf. Di sini, permintaan maaf sangatlah mahal. Untuk kebaikan kita sendiri, kita sebaiknya proaktif untuk mengampuni tanpa menunggu permintaan maaf orang lain" saya menasehati.

"Tapi dalam kasus ini saya sangat sakit hati Mbak" jawab Delon. "Sakit hati itu manusiawi, tapi jangan pernah berharap orang lain mengerti perasaan kita dan mau datang untuk menyembuhkan luka hati kita. Semakin kita memikirkan sikap teman yang menyakiti kita, luka hati kita justru semakin dalam" kata saya lagi. "Terus apa yang harus saya lakukan?" tanya Delon polos. "Ampuni dan lupakan kesalahan mereka. Kalau perlu kita yang datang kepada mereka untuk meminta maaf sekaligus memberi tahu bahwa kita sudah mengampuninya" saya menyarankan. "Ya, saya tahu itu memang sikap yang paling bijaksana. Tapi mereka juga perlu dididik supaya menjadi baik" Delon masih belum menerima sepenuhnya. "Kenapa harus menuntut orang lain untuk berbuat baik? Tugas kita hanya mengingatkan kesalahan mereka, soal mereka mau mengakui atau mengukuhinya, bukan urusan kita" kata saya. "Uh, benci dech kalau hidup sama orang yang sama-sama sudah dewasa tapi tingkahnya childish seperti itu!" keluh Delon. "Ngapain juga kita memikirkan sikap mereka, sedangkan mereka sendiri tidak pernah mempedulikan perasaan kita. Lagi pula, buat apa kita membenci kalau kita punya Amsal 10:12. yang mengajarkan bahwa kebencian menimblukan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran"

Delon memang bukan orang yang bebal. Ia mudah sekali mendengarkan didikan. Hari berikutnya Delon mendatangi Didi untuk meminta maaf. Delon juga meminta kepada Didi untuk menganggap bahwa tidak pernah terjadi sesuatu di antara mereka. Saya senang sekali melihat Delon yang bersikap ksatria.

Saya pikir sikap Delon yang merendah itu akan membuat Didi menyadari kesalahannya. Sayang sekali, di belakang Delon, Didi masih saja menepuk dada dan tertawa bangga "Akhirnya, anak kemarin sore itu bertekuk lutut juga! Aku kok dilawan!" Saya pun diam tak bersemangat "Oh.dunia! Berapa lama lagi Kasih akan menakhlukkanmu?" desah saya.

Berbuat Baik

Oleh: Yoseph Heriyanto

"Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya." Efesus 2:10

Sering kita mendengar pernyataan bahwa perbuatan baik itu belum tentu dibalas dengan kebaikan pula. Pertanyaannya adalah apakah lantas kita memilih untuk tidak berbuat baik kepada orang lain? Tentu jawabannya adalah tidak.

Perbuatan baik adalah kewajiban bagi semua orang tanpa harus mempertimbangkan alasannya apa, kalau berbuat baik itu memiliki alasan tertentu berarti perbuatan baik yang kita lalukan tersebut bukanlah perbuatan yang tulus. Jika perbuatan baik itu diikuti dengan “pamrih”, maka perbuatan baik itu bukanlah tindakan yang utuh.

Seperti kata pepatah di atas, ketika kita akan melakukan perbuatan yang baik kepada orang lain tetapi di sertai dengan pemikiran bahwa apakah nanti kebaikan saya juga akan mendapatkan balasan yang baik? Apakah ada keuntungannya buat saya ketika saya melakukan kebaikan bagi orang lain? dan apakah orang lain tersebut mau menerima kebaikan saya? Jika kita berpikir demikian, maka selamanya kita tidak bisa melakukan hal yang baik kepada orang lain.

Melalui Efesus 2:10 kita diingatkan kembali bahwa kita diselamatkan Tuhan bukan untuk menjadi orang yang pasif, melainkan kita dituntut untuk menjadi orang yang aktif. Aktif dalam hal apa? Aktif dalam hal melakukan pekerjaan baik. Melakukan perbuatan yang baik kepada orang lain adalah perwujudan iman yang aktif seperti yang dikehendaki oleh Tuhan.

Yang menjadi pertanyaannya adalah bagaimana dengan tindakan kita di dalam kehidupan sehari-hari sebagai orang yang sudah diselamatkan Tuhan?

Sudahkah kita melakukan tindakan atau perbuatan yang baik? Ataukah sebaliknya, kita seringkali menjadi batu sandungan dan tidak menjadi berkat bagi orang lain.

Marilah kita senantiasa melakukan perbuatan yang baik bagi kehidupan orang lain dengan terus mengingat bahwa Tuhan telah terlebih dahulu melakukan kebaikan dalam hidup kita dan telah menyelamatkan kita. Dimanapun kita berada, baik di lingkungan tempat kita belajar, tempat kita bekerja, dan bahkan di manapun tempat kita bersosialisasi/berkomunikasi dengan orang lain, tebarkanlah benih-benih perbuatan yang baik. Sehingga dengan kehadiran kita di manapun, dalam situasi apapun, orang lain diberkati.

Amin.

Bersikaplah ramah dan berbuat baik kepada semua orang. Sebab, barangkali di balik pakaiannya yang sederhana mereka menyimpan sayapnya yang perkasa.

Berkat Sejati

Oleh:Sion Antonius

Pada waktu berdoa kita sering berkata, Tuhan berkatilah hidup kami, Tuhan berkatilah pekerjaan kami, Tuhan berkatilah gereja kami dan seterusnya. Kata berkat itu menjadi sangat penting dan ketika diucapkan dalam kegiatan yang bersifat rohani maka menjadikan situasi menjadi sangat religius dan agung. Banyak orang berlomba-lomba ingin menjadi orang yang diberkati. Namun pernahkah kita berdiam diri dan merenungkan arti kata berkat dengan sangat mendalam?

Pengertian kita tentang konsep berkat pada umumnya adalah sangat dangkal bahkan cenderung hanya merupakan ungkapan nafsu serakah akan materi. Orang Kristen ketika berpikir untuk meminta berkat kepada Tuhan, maka berkat yang diharapkan adalah curahan materi yang berkelimpahan. Saat kita berdoa Tuhan berkatilah hidup kami maka yang diharapkan adalah adanya curahan materi yang banyak berupa uang. Jika setelah berdoa dan kemudian ada curahan uang yang banyak pada rekening, maka saat itulah kita merasa mendapat berkat. Demikian pula dengan pekerjaan, kita merasa mendapat berkat apabila pekerjaan itu menghasilkan uang yang banyak. Gereja kita mendapat berkat tatkala bisa memperluas gedung dan membeli tanah karena banyaknya uang yang ada pada kas. Pikiran seperti inilah yang saya maksud dengan dangkal dan ungkapan nafsu serakah. Pandangan orang mengenai berkat semata-mata hanyalah mengenai berapa banyak uang yang bisa saya peroleh. Jika kita mendapat berkat materi maka ada fenomena yaitu itulah orang yang diperkenan oleh Tuhan. Semakin seseorang menjadi kaya maka semakin orang lain dan dirinya sendiri merasa sebagai orang yang baik dihadapan Tuhan.

Istilah orang baik di sini merujuk pada satu kondisi yaitu sebagai orang yang saleh di bandingkan orang yang lebih miskin materi. Kita harus mengerti berkat itu tidak identik dengan uang atau kekayaan. Namun pandangan ini tidak banyak yang bisa mengertinya, karena pandangan orang pada umumnya adalah seperti fenomena yang sudah saya sebutkan, jika kaya maka dia adalah orang yang diberkati oleh Tuhan. Dan kita juga kemudian terjebak pada pemikiran jika seseorang miskin pasti tidak diberkati Tuhan. Mengapa orang pada umumnya dapat setuju pada fenomena seperti ini? Saya beri 2 alasan yang sederhana, pertama: ketika ada yang diminta untuk memberikan kesaksian, maka seringkali adalah mereka yang memiliki keberhasilan di bidang bisnis, keberhasilan orang ini membuat orang yang menyaksikan digiring untuk berkesimpulan itulah orang yang diberkati Tuhan. Dari kesimpulan ini menimbulkan kesimpulan lain yaitu di dalam gereja orang miskin posisinya sangat kurang dihargai. Alasan kedua: coba lihat daftar pemberi persembahan, maka pada umumnya diurut dari pemberi yang terbesar hingga yang terkecil. Mungkin ada yang beralasan itu hanya untuk memudahkan saja dalam menyusun laporan. Saya pikir alasan ini tidak cukup kuat untuk mendukung pendapat tersebut. Alasan yang sesungguhnya adalah karena mereka yang memberi persembahan dengan angka besar adalah orang-orang yang dipandang penting dalam gereja, mereka dipandang sebagai kelompok orang yang diberkati, sehingga dihormati, oleh karenanya mereka harus berada dalam daftar paling depan.

Saya pikir 2 alasan tersebut sudah bisa menggambarkan betapa terhormatnya menjadi orang kaya. Dua alasan sederhana yang sudah saya sebutkan ini sudah bisa cukup untuk memicu orang-orang Kristen juga untuk berlomba-lomba menjadi orang kaya secara materi. Untuk mendukung fenomena tersebut masih banyak alasan yang lainnya, saya tidak akan menuliskannya lebih banyak. Jika sudah tahu fenomenanya bagaimana dengan faktanya? Faktanya adalah justru seringkali orang kaya itu mempunyai moralitas dan etika yang amburadul. Moralitas dan etika dalam menjalankan bisnisnya ketika ditelusuri banyak yang tidak sesuai dengan ajaran dalam Alkitab. Dengan fakta seperti ini apakah bisa ditarik kesimpulan bahwa orang kaya adalah orang yang lebih istimewa di hadapan Tuhan? Di hadapan Tuhan belum tentu, tapi dihadapan manusia adalah ya. Ayub kaya dan dia istimewa di hadapan Tuhan, tapi tidak berarti setiap orang kaya istimewa dihadapan Tuhan. Janda miskin bisa lebih berharga di hadapan Tuhan.

Nafsu serakah manusia ini sulit dibuat menjadi lebih benar, karena dasar pemikirannya yang sudah keliru yaitu banyaknya materi sebagai bukti akan begitu baiknya hubungan dengan Tuhan. Nafsu yang serakah ini semakin mendapat dukungan oleh karena adanya kesaksian dari orang-orang yang menjadi kaya karena ikut Tuhan. Mereka menebarkan pesona betapa indahnya menjadi kaya dan disayang Tuhan. Padahal Alkitab mencatat ketika seorang muda yang kaya datang kepada Yesus, dia disuruh menjual seluruh hartanya dan mengikut Dia. Bukan orang kaya yang disayang Tuhan, tetapi mereka yang taat kepada kehendaknya. Konsep berkat bagi orang Kristen harus lebih mulia, lebih agung daripada hanya sekedar uang. Seandainya kita berdoa berkatilah hidup kami, maka kalaupun tidak ada curahan materi yang berkelimpahan, tapi memiliki istri/suami yang mengasihi keluarganya, bukankah ini juga berkat? Sebagai orang tua yang anaknya mau belajar dengan sungguh-sungguh di sekolah tanpa menghamburkan biaya, apakah itu bukan berkat? Dianugerahi kesehatan yang baik sehingga tidak pernah berobat ke dokter, masihkah tidak merasakan ini sebagai sebuah berkat? Istri/suami yang baik, anak yang baik, kesehatan yang baik itu adalah berkat yang seharusnya diterima dengan rasa syukur kepada Tuhan.

Manusia pada umumnya, termasuk orang Kristen juga terkadang tidak menyadari bahwa setiap detik dalam kehidupan manusia adalah berkat. Manusia diciptakan Tuhan dan diberi tempat dalam dunia ini pada saat Dia sudah menyelesaikan penciptaan alam semesta. Manusia adalah ciptaan yang paling terakhir, hal ini supaya ciptaan ini bisa melangsungkan kehidupan dengan kondisi alam yang mendukung mereka dapat bertahan hidup. Jadi ketika manusia dapat hidup di dunia, dia hidup berdasarkan berkat-berkat dari Tuhan. Jikalau Tuhan tidak mengatur kondisi planet bumi sedemikian rupa, maka manusia tidak dapat hidup di dalamnya. Celakanya manusia seringkali tidak menyadari adanya berkat ini, kehidupan di dunia ini dipandang sebagai sebuah keadaan yang biasa saja. Ketika menghirup oksigen tidak dirasakan sebagai berkat. Baru ketika sakit dan harus membeli oksigen supaya dapat bernapas dengan lancar dan memerlukan biaya yang sangat mahal, kita menyadari oksigen adalah berkat. Betapa sempitnya pikiran kita dalam memandang berkat dari Tuhan, sehingga banyak hal yang berseliweran dalam kehidupan yang harusnya diakui sebagai berkat tapi kita tidak merasakan itu sebagai berkat.

Berkat dari Tuhan itu bukan semata-mata kekayaan materi saja. Berkat Tuhan itu luas dan dalam tidak dapat diukur dan dibatasi oleh pemikiran manusia. Bahkan ada sebuah berkat yang jarang dirasakan sebagai berkat, bahkan oleh orang Kristen sekalipun, berkat itu adalah pemulihan hubungan antara manusia dengan Allah, itu adalah BERKAT SEJATI yang seharusnya paling dikejar oleh umat manusia. Berkat itu adalah Yesus Kristus sendiri. Berkat ini ironisnya adalah yang paling dihinakan bahkan dianggap tidak bernilai dan tidak berguna oleh banyak orang. Mengapa orang tidak menghargai berkat yang berupa pemulihan hubungan antara Allah dan manusia? Ini karena perbedaan pandangan antara Allah dan manusia terhadap dosa. Manusia memandang dosa bukan hal yang fatal dalam hubungan dengan Allah. Manusia mengira dosa seperti sebuah kesalahan biasa yang bisa mudah diperbaiki.

Ilustrasinya seperti ini, dalam sebuah ulangan matematika seseorang mendapat nilai ulangan 80, dia salah dalam 2 soal, kesalahan pengerjaan ini membuat dia berpikir lain kali dia tidak akan mengulang kesalahan itu, dan di sisi lain dia berpikir toh nilainya masih cukup untuk lulus ujian. Cara berpikir seperti ini dijadikan sama untuk masalah dosa, manusia berpikir jika saya berdosa dan bisa memperbaikinya (dengan cara mohon pengampunan dan tidak mengulanginya) maka dosa bisa diselesaikan. Penyelesaian masalah dosa dianggap seperti soal keliru biasa dalam perbuatan kemudian diperbaiki dengan gampang. Pengampunan dosa selalu Tuhan sediakan namun akibat dosa selalu harus ada pertanggungan jawabnya, contohnya adalah dosa yang dibuat oleh Daud, dia mendapat pengampunan, namun ada akibat yang harus ditanggungnya.

Konsep tanggung jawab terhadap dosa ini sering dilupakan orang. Kemudian manusia juga berpikir, jika saya dosanya cuma 2 dan yang benarnya 8, bukankah itu sudah lebih dari cukup untuk dikategorikan sebagai orang benar? Manusia memandang dirinya masih cukup baik dihadapan Allah, yang jahat adalah pembunuh, pencuri, penipu, penzinah, pemerkosa dan kejahatan lainnya, apabila tidak melakukan kejahatan tersebut maka dia merasa sebagai orang baik. Membuat sederhana masalah dosa juga terjadi pada Adam dan Hawa, saat mereka berdosa Alkitab hanya mencatat mereka malu, tapi tidak dicatat mereka berupaya mencari jalan untuk menyelesaikan dosanya, mereka hanya bisa diam dan solah-olah berkata, ya sudahlah, wong sudah terjadi. Sedangkan di pihak Allah, dosa itu sangat fatal dan Dia jijik karenanya. Saya mencoba menggambarkan jijiknya dosa. Pernah menonton acara Fear Factor? Dalam acara itu seringkali peserta yang ikut harus makan makanan yang menjijikkan. Ketika peserta memakannya ada yang muntah dan jijik. Seperti itulah Allah memandang dosa kita yang menjijikkan. Dia ingin memuntahkan kita, karena kita begitu menjijikkan dihadapanNya. Dosa sedemikian najis dihadapan Allah, maka Dia tidak bisa kompromi dengan dosa. Perbedaan pandangan ini membuat adanya jurang yang sangat dalam antara manusia dan Allah dalam memandang dosa.

Perbedaan ini membawa perbedaan juga ketika melihat berkat Allah dalam penebusan dosa. Banyak orang Kristen yang juga salah menilai tentang masalah dosa. Tidak sedikit orang Kristen merasa Allah terlalu berlebihan dalam penebusan dosa, mereka merasa tidak terlalu jahat dalam dunia ini. Sehingga penebusan Yesus di kayu salib membawa akibat yang biasa saja bagi banyak orang Kristen. Jika diadakan survey maka dapat dipastikan sangat sedikit orang Kristen yang bersyukur karena sudah di tebus dosanya. Mereka juga seringkali sangat puas dan bangga dengan pelayanannya, seolah-olah Tuhan pasti berkenan, mengganti kekudusan dengan pelayanan, yang pelayanannya banyak pasti lebih kudus dihadapan Tuhan. Jadi ketika sudah menjadi orang baik, maka orang Kristen merasa pantas kalau Tuhan memberkati mereka dengan materi yang berkelimpahan. Orang Kristen tidak merasa puas akan berkat penebusan dosa tapi minta lebih banyak berkat lagi yang lain, karena apa? Sebab orang Kristen merasa layak dihadapan Tuhan.

Segala hal yang dianggap perbuatan baik oleh manusia adalah sampah dihadapan Allah. Banyak upaya manusia dilakukan untuk memperkenan hati Allah. Manusia mencari kebenaran akan tetapi selalu tidak memperoleh kesimpulan akhir yang memuaskan. Jika akhirnya manusia berkesimpulan sudah menemukan kebenaran, sebenarnya itu adalah kesimpulan yang salah, karena ketika manusia berkesimpulan mereka tidak berdasarkan nilai-nilai yang ditetapkan oleh Allah. Kesimpulan itu dibuat berdasarkan apa yang dipandang benar oleh manusia tentang apa yang dikehendaki oleh Allah.

Saya ingin memberikan ilustrasi yang sederhana, seorang ayah pergi ke sebuah rumah makan, kemudian anaknya memberikan mie bakso si ayah tidak memakannya, memberikan lagi ayam goreng, lagi-lagi tidak dimakan, diberikan lagi gado-gado, ayahnya semakin tidak mau makan, akhirnya ayahnya bicara dia mau bubur polos saja, anaknya protes, makan bubur kurang kenyang, ayahnya lalu berkata bahwa gigi palsunya tertinggal, jadi kalau mau makan hanya bisa bubur polos saja yang tinggal di telan beres. Dari ilustrasi ini kita melihat bahwa upaya anaknya adalah sia-sia, karena yang menentukan standar bisa dimakan atau tidak adalah si ayah. Ilustrasi ini tidak bisa menggambarkan hubungan manusia dan Allah, tetapi saya ingin mengilustrasikan bahwa kehendak Allah itu tidak bisa diselami oleh manusia, karena untuk memahami manusia lainnya saja kita sudah tidak mampu apalagi memahami jalan pikiran Allah. Upaya manusia memperkenan hati Dia hanyalah kesia-siaan, karena standarnya hanya milik Allah. Allah sendiri yang menentukan bagaimana manusia berdosa dapat diselamatkan. Manusia tidak bisa menebak-nebak apa kira-kira yang Allah suka supaya mereka diperkenan. Allah tidak sama dengan manusia, sehingga Dia bisa ditawari sesuatu oleh manusia supaya manusia mendapat belas kasihan. Manusia masih beranggapan dapat mengalahkan iblis, namun Allah menentukan bahwa yang dapat mengalahkan iblis hanyalah Dia sendiri.

Jika Allah tidak berinkarnasi menjadi manusia maka persoalan dosa itu tidak dapat selesai. Standar ukuran keberhasilan penyelesaian masalah dosa adalah ditentukan oleh Allah bukan oleh manusia.. Allah berkata Aku adalah Aku apa maksudnya? Ini berarti Allah yang berdaulat dan sebagai standar yang tertinggi, keputusannya adalah mutlak, kehendaknya bebas dari intervensi siapapun. Allah hanya tunduk pada diriNya sendiri. Jadi kematian Yesus Kristus di atas kayu salib dan bangkit pada hari yang ketiga itu adalah standar yang telah Allah tentukan supaya manusia ditebus dari dosa, itu artinya BERKAT SEJATI untuk umat manusia. Manusia boleh untuk tidak mendapat berkat yang lainnya, namun mereka tidak boleh kehilangan berkat yang satu ini. Berpikir untuk mengerti Yesus Kristus sebagai berkat harus dimulai pada saat manusia jatuh ke dalam dosa. Ketika manusia berdosa maka Allah pencipta bisa saja menghancurkan Adam dan Hawa, lalu menciptakan manusia yang baru. Bagi Allah tindakan ini sah-sah saja, karena Dia adalah yang memiliki kedaulatan. Ciptaannya mau diapakan, itu adalah hak Allah. Namun Allah tidak bertindak seperti itu, tetapi membiarkan kisah manusia itu berlanjut. Adam dan Hawa dibiarkan hidup bahkan berkembang biak sesuai dengan perintahnya. Bahkan Allah memberi kejutan yaitu pada saat Adam dan Hawa berdosa, Dia membuat sebuah janji yaitu ada penebusan dosa, iblis akan dikalahkan, ini dimeteraikan melalui janji sulung. Saya sudah menuliskan bahwa berkat Tuhan itu luas dan dalam tidak dapat kita selami.

Bagaimana kita bisa mengerti, manusia yang gagal tapi Allah masih merencanakan karya yang agung? Ketika Allah berjanji untuk menyelesaikan masalah dosa manusia, maka itu membawa sebuah akibat yaitu hanya Allah sendiri yang dapat memenuhi janjinya. Manusia tidak dapat menyelesaikan masalah dosa, karena mereka sudah kalah, sudah berada dalam kekuasaan iblis. Allah sendiri yang harus merebut manusia dari kuasa iblis. Allah harus pergi untuk mengalahkan maut. Untuk mengalahkan maut maka Allah harus menjadi manusia yang tidak berdosa dan mati di salib. Inilah yang dimaksud dengan rencana Allah yang luas dan dalam tak terselami oleh akal manusia. Namun Yesus Kristus yang sudah mengalahkan maut ini, tetaplah dipandang sebelah mata, banyak manusia yang menghinakan karya keselamatannya. Manusia tetap lebih suka mencari jalan sendiri untuk mendapat belas kasihan dari Allah. Pengorbanan Yesus Kristus untuk menjadi penyelesai masalah dosa dianggap terlalu gampang dan murah. Padahal Yesus melakukan karya keselamatan ini bukan karena gampang dan murah, akan tetapi karena terlalu sulit dan mahalnya penebusan dosa ini sehingga Allah sendiri yang harus berinkarnasi menjadi manusia.

Allah yang sedemikian otonom, juga dikatakan Maha Adil, oleh karenanya Dia mempunyai standar dimana semua orang dapat kesempatan yang sama untuk memperoleh penyelesaian dalam masalah dosa. Penyelesaian itu oleh Allah di cantumkan dalam Yohanes 3:16 Karena begitu besar kasih Allah dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Undangan dari Allah ini ditanggapi oleh banyak manusia dengan tawar hati dan sinis, mereka tidak percaya bahwa dosa dapat diselesaikan dengan cara yang sangat mudah, yaitu percaya kepada Yesus. Mudahnya cara penyelesaian dosa bukan berarti Allah bertindak dengan cara murahan, tetapi sekali lagi harus dingat, hal ini karena terlalu mahalnya upaya penyelesaian dosa, sehingga Allah harus memberikannya dengan cuma-cuma. Bagi manusia mungkin terlalu mudah tapi tidak bagi Allah. Bagi Allah itu adalah tindakan yang sangat sulit, sehingga Yesus di taman getsemani, berdoa hingga keringatnya seperti darah. Apa yang dialami Yesus ini dikarenakan pecahnya pembuluh darah oleh karena pergumulan yang sedemikian beratnya, sehingga pada butiran keringat juga ada darah, secara medis disebut hemohidrosis. Jika penebusan adalah perkara yang gampang maka tidak mungkin Yesus mengalami keadaan ini.

Berikut saya akan menggambarkan betapa sakitnya pada waktu puncak Allah menebus dosa manusia melalui penyaliban. Kita mulai dahulu dengan hukuman salib. Penyaliban adalah salah satu jenis hukuman mati untuk kejahatan yang berat dan bagi warganegara bukan Romawi. Hukuman salib itu bukan hanya untuk membuat seseorang menjadi mati, tetapi melalui hukuman salib itu seseorang yang dihukum mati juga di inginkan supaya mengalami penderitaan yang sangat hebat. Semakin orang yang disalib mengalami penderitaan maka tujuan hukuman itu menjadi semakin tercapai. Jadi tujuan utama salib adalah membuat seseorang sangat menderita sebelum mengalami kematian.

Penderitaan untuk yang mendapat hukuman karena di salib adalah karena keluarnya darah secara sedikit demi sedikit sehingga membuat suplai oksigen menjadi tidak maksimal, akibatnya orang yang di salib harus mengerahkan segenap daya untuk bisa bernapas. Upaya ini membuat paru-paru dan jantung bekerja dengan keras dan mengalami sakit yang luar biasa pada saat mengambil napas. Jika sudah sampai pada puncaknya diharapkan orang yang di salib itu mati karena kekurangan oksigen yang berakibat gagal jantung. Penderitaan lainnya adalah tangan dan kaki yang dipaku. Apakah kita pernah tertusuk sesuatu hingga berdarah? Saya pernah disuntik vaksin dimana akibatnya selama 1 minggu tangan menjadi bengkak dan sakit sekali. Dalam penyaliban paku yang di tusukkan pada tangan (banyak yang menganalisa pada pergelangan) adalah berukuran sangat besar supaya bisa mengakibatkan pendarahan dan dapat menyangga tubuh. Dengan paku yang besar seperti itu maka sakit yang ditimbulkan pastilah sangat luar biasa. Rasa sakit semakin bertambah disebabkan Tuhan Yesus yang sedang di salib tidak bisa diam begitu saja, karena untuk bernapas Dia harus menggerakkan seluruh tubuhnya, bergeraknya tubuh ini mengakibatnya sakit yang semakin timbul pada tangan dan kaki yang di paku. Tubuh yang harus bergerak ketika mengambil napas itu, juga membuat punggung yang penuh luka bekas dicambuk memakai paku kecil pada ujungnya, mengalami gesekan, punggung inipun mengalami sakit amat sangat yang tak terbayangkan. Yesus yang di salibkan sungguh-sungguh mengalami penderitaan yang sangat….sangat…. tak tertahankan. Pada saat menonton visualisasi penderitaan Yesus dalam film The Passion of The Christ, saya membutuhkan waktu jeda hingga beberapa minggu untuk dapat menonton dari awal hingga akhir, saya tidak sanggup menonton penderitaan yang sedemikian hebat.

Jika kita sudah memahami penderitaan yang begitu hebat dari Tuhan Yesus supaya kita dapat ditebus dari dosa. Jika kita tahu bahwa menebus manusia dari dosa adalah sedemikian mahalnya karena harus ditebus oleh nyawa. Jika kita tahu bahwa pemulihan hubungan manusia dan Allah adalah berkat yang paling agung. Apa respon kita?

PERTAMA: penebusan dosa bukanlah untuk orang lain, pada waktu Yesus disalib itu adalah untuk saya, bukan untuk dia, bukan untuk mereka. Manusia berdosa yang menjijikkan dihadapan Allah adalah saya. Setelah ditebus dari dosa maka saya adalah orang yang diberkati Tuhan. Berkat ini yang utama maka jika saya tidak mendapatkan berkat yang lainnya, saya tetap bersyukur kepada Tuhan.

KEDUA: bersyukurlah senantiasa, apapun keadaan kita. Baik ketika banyak berkat materi maupun jika tidak memiliki materi yang banyak.

KETIGA: sebagai orang Kristen hendaknya bertobat dan menjadi orang-orang yang memandang hidup bukanlah untuk mencari keberhasilan secara materi. Kekayaan itu ada gunanya untuk hidup kita, tapi biarlah itu bukan menjadi tujuan utama hidup selama berada di dalam dunia. Konsentrasi orang Kristen bukanlah untuk mendapatkan berkat materi lagi, karena bagi setiap orang percaya Allah tidak akan lalai menjaga kita. Orang Kristen sudah mendapat berkat yang terbesar, oleh karenanya ambisi kita di dunia hendaknya tidak berfokus pada mencari kesenangan duniawi. Berkat materi haruslah menjadi urusan yang tidak kita pentingkan lagi. Tujuan mengikut Tuhan Yesus hendaknya bukan lagi supaya menjadi orang kaya, ini karena adanya konsep berpikir Dia adalah Raja dan kita anaknya pasti juga seperti raja.

KEEMPAT: pengorbanan Yesus di kayu salib adalah berkat yang mahal oleh karenanya kita harus menjadikan diri kita sebagai berkat untuk orang lain. Jadikan diri kita menjadi tempat dimana orang lain bisa merasakan berkat dari Tuhan. Jikalau kita diberi berkat materi, cobalah untuk membagi berkat itu melalui pelayanan yang bersifat menolong orang lain, jangan hanya memakai materi untuk kepuasan diri sendiri. Dalam merayakan JUMAT AGUNG dan PASKAH, seharusnya kita bisa lebih memahami kasih dan pengorbanan Tuhan Yesus. Dan dengan meneladani kasih dan pengorbanan Tuhan Yesus maka konsentrasi utama dari orang percaya adalah bagaimana mengupayakan orang lain yang belum mendapatkan BERKAT SEJATI yaitu Yesus Kristus, bisa juga memperolehnya. Hidup bukan hanya untuk diri sendiri atau untuk keluarga sendiri atau gereja kita saja, tapi bagaimana menjadi saksi-saksi Kristus kepada dunia.

Berkat dan Perintah

Oleh: Triastoto

Yang diberikan oleh Allah Bapa kepada kita itu ada dua, yaitu berkah dan perintah. Berkah yang kita terima adalah karya penyelamatan Allah melalui pengorbanan Tuhan Yesus di Kayu Salib dan Kebangkitan-Nya pada hari yang ke tiga. Berkah ini kita terima dengan gratis oleh Bapa, alias tidak bayar apa-apa. Namun perintah adalah hal-hal yang diharuskan untuk dilakukan atau yang dituntut kepada kita. Dalam Injil Yohanes 14:15 "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku."

Perintah ini secara ringkas ada di Matius 5, 6, dan 7 seluruh perikop, selain itu juga terdapat di Matius 25 ayat 35–40.

Namun kebalikan dari berkah, maka perintah harus dilakukan dengan seluruh jiwa raga kita atau dalam istilah Rasul Paulus, dalam Roma 12 ayat 1 adalah “tubuh“, kita harus mempersembahkan seluruh tubuh kita, itu merupakan persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah.
Ada 2 perintah yang “berat” yang sampai saat ini penulis tidak bisa melakukannya, yaitu :

- Dalam Injil Matius 28:19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, 28:20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

Yang menjadi masalah adalah penulis tinggal di antara suku bangsa Sunda (Bogor), namun sampai saat ini belum satu orang Sunda pun yang saya jadikan murid Kristus.

- Dalam Injil Lukas 21:3 Lalu Ia berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu. 21:4 Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya."

Yang menjadi masalah kita ini tidak pernah mempersembahkan dari kekurangan kita. Gambaran janda miskin adalah yang paling tepat dari kita harus mempersembahkan seluruh kehidupan kita. Sebab janda miskin tersebut setelah mempersembahkan maka dia sudah tidak punya apa-apa, yang dia punya tinggal Tuhan saja. Dia tidak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya tetapi yang dia tahu hanya menuruti perintah Tuhan dengan segenap dan sebulat-bulat hati dan seluruh nasibnya hanya dia serahkan kepada Allah Bapa saja. Kita selaku orang “modern“ kadang kita menganggap hal yang demikian “tidak masuk akal” karena tidak menyisakan untuk berjaga-jaga. Kita sama sekali tidak punya “keberanian“ untuk benar-benar bergantung kepada Tuhan Yesus saja saja. Kalau kita masuk gereja dalam dompet ada Rp 500.000,00 paling yang kita persembahkan hanya Rp 50.000,00, padahal seharusnya yang kita persembahkan Rp 400.000,00 sedang sisanya yang Rp 100.000,00 kita gunakan untuk membeli bensin... jadi kita impas.

Berpikir Negatif Tidak Menguntungkan

Penulis : Andrew Ho

"No empowerment is so effective as self-empowerment. In this world, the optimists have it, not because they are always right, but because they are positive. Even when wrong, they are positive, and that is the way of achievement. - Tidak ada kekuatan yang paling efektif dibandingkan kekuatan dari dalam diri sendiri. Di dunia ini, hanya orang-orang optimis yang mempunyai kekuatan besar. Bahkan ketika segalanya berjalan keliru, mereka tetap positif dan itulah jalan menuju prestasi." (David Landes - California)

Berdasarkan beberapa penelitian ilmiah disimpulkan bahwa berpikir negatif memberikan pengaruh buruk yang lebih besar dibandingkan dengan dampak positifnya. Salah satu pengaruh berpikir negatif adalah melemahkan sistem kekebalan tubuh. Berpikir negatif juga menyebabkan seseorang tertekan dan kehilangan banyak energi. Dampak yang lebih buruk dari berpikir negatif adalah mengakibatkan seseorang tidak mampu lagi berbuat sesuatu untuk menciptakan prestasi maupun kebahagiaan.

Kisah asmara sepasang muda-mudi berikut ini menjelaskan bagaimana pikiran yang negatif menyebabkan kisah asmara itu kandas begitu saja.

Tragedi itu bermula ketika pemuda tersebut harus pergi berjuang ke medan perang. Pada saat menghadapi peperangan, kaki kanannya putus terkena bom. Ia merasa tidak lagi pantas memiliki gadis pujaan hati karena cacat kaki.

Terpaksa ia meminta bantuan temannya agar memberitahu kekasihnya itu bahwa ia sudah gugur di medan peperangan. Pasca kejadian itu, ia justru melalui hari-hari dengan keputusasaan, karena ia masih sangat mencintai wanita itu. Hingga suatu ketika ia mendengar bahwa mantan kekasihnya akan segera menikah.

Pemuda tersebut merasa senang bercampur sedih. Di satu sisi ia senang kekasih hatinya sudah dapat menemukan pengganti, tetapi ia sedih karena kekasihnya akan segera menjadi milik orang lain. Pemuda tersebut ingin melihat mantan kekasihnya tersenyum bahagia. Ia sengaja datang pada acara pernikahan dan terus memperhatikan wanita itu secara diam-diam.

Tetapi ia sangat terperanjat ketika melihat calon suami kekasihnya itu. Sebab pria itu adalah teman seperjuangan yang terputus kedua kakinya akibat perang. Pemuda tersebut sangat menyesal mengapa dulu ia berpikir negatif dan terburu-buru memutuskan untuk mengundurkan diri karena kakinya terputus satu. Mengapa ia tidak menemui kekasihnya terlebih dahulu dan menanyakan secara langsung? Tetapi semua sudah terlambat, pemikiran negatif hanya meninggalkan penyesalan.

Kisah tersebut sebenarnya menegaskan bahwa kita seharusnya memikirkan kemungkinan terbaik terlebih dahulu, sebelum memikirkan kemungkinan terburuk. Sebab apa yang terjadi di depan nanti mungkin jauh lebih baik dari apa yang kita pikirkan. Semoga kita mempunyai satu kesamaan pendapat bahwa berpikir positif itu jauh lebih menguntungkan.

Karena itu budayakan berpikir positif dalam hidup Anda. Kemampuan berpikir positif terbentuk oleh kebiasaan-kebiasaan yang positif pula.

Berikut ini merupakan tips mengkondisikan diri agar setiap saat berpikir positif.

Tips yang pertama adalah mengurangi informasi negatif.

Mungkin Anda cenderung lebih sering mendengar berita tentang tragedi maupun tindak kejahatan, penindasan, penyelewengan dan lain sebagainya. Tetapi berita tentang keharmonisan, kepedulian, kejujuran dan cinta kasih seringkali luput dari perhatian. Maka mulai saat ini kurangi informasi tentang hal-hal yang negatif. Pada saat yang sama, konsumsi berita-berita yang membangkitkan optimisme. Ada baiknya jika Anda berusaha bergaul hanya dengan orang-orang yang secara pasti memberikan masukan positif terhadap cara berpikir. Brian Tracy mengatakan, "Get around the right people. Associate with positive, goal-oriented people who encourage and inspire you. - Bergaulah dengan orang yang tepat. Bekerjasamalah dengan orang yang positif, yang berorientasi kepada hasil, mereka yang membangkitkan semangat dan menginspirasikan banyak hal kepadamu." Dengan demikian, lambat laun cara berpikir Anda akan lebih positif.

Tips yang kedua adalah memfokuskan diri hanya kepada hal-hal yang positif.

Dalam hal ini Anda dituntut untuk lebih mensyukuri karunia Tuhan Yang Maha Esa. Daripada memikirkan tentang sesuatu yang hilang dalam hidup, akan lebih baik bila Anda membuat daftar anugrah Tuhan YME yang membuat Anda merasa lebih bersyukur.

Contohnya jika Anda sedang kesal atas kemalangan yang menimpa, mungkin berupa ban kempes, macet, pekerjaan belum beres, kehilangan dan lain sebagainya. Daripada terus memikirkan kemalangan itu, apakah tidak sebaiknya Anda merenungkan betapa besar anugrah Tuhan Yang Maha Esa, karena keajaiban kerja milyaran sel dalam tubuh Anda. Anugerah itu memungkinkan Anda tetap bernafas, melihat, mendengar, dan lain sebagainya. Pada saat itulah, Anda akan dapat merasakan bahwa kemalangan yang sedang Anda alami tidaklah seberapa dibandingkan anugrah Tuhan YME. Sehingga Anda dapat berpikir positif lagi dan dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik.

Tips selanjutnya adalah menerima kejadian apa adanya dan menghilangkan kesan negatif atau trauma.

Namun jika trauma itu benar- benar sulit dihilangkan, bukan berarti itu merupakan tanda-tanda kelemahan Anda. Cobalah sekali lagi memikirkan solusi-solusi konstruktif dan melakukan sesuatu yang memudahkan usaha Anda melupakan segala trauma atau kesan negatif.

Sebaiknya praktekkan beberapa tips tersebut minimal dalam kurun waktu satu bulan. Pada saat itu Anda dapat menilai bahwa cara berpikir sangat menentukan apakah Anda mampu memperoleh hasil negatif ataukah positif. Kata Zig Ziglar, "It"s not the situation, but wheather we react (negative) or respond (positive) to the situation that"s important. - Bukan persoalan situasinya yang tidak tepat, yang terpenting adalah bagaimana kita mereaksi atau merespon situasi tersebut." Pada saat yang sama Anda akan dapat menilai apakah benar berpikir positif sangat memudahkan Anda menjalani kehidupan ini?

Setelah itu barulah Anda boleh memutuskan untuk berpikir negatif ataukah berpikir positif saja. Saya sangat yakin Anda mengerti mana yang harus dipilih!

Berpikir Sederhana

Terpetik sebuah kisah, seorang pemburu berangkat ke hutan dengan membawa busur dan tombak. Dalam hatinya dia berkhayal mau membawa hasil buruan yang paling besar, yaitu seekor rusa. Cara berburunya pun tidak pakai anjing pelacak atau jaring penjerat, tetapi menunggu di balik sebatang pohon yang memang sering dilalui oleh binatang-binatang buruan.

Tidak lama ia menunggu, seekor kelelawar besar kesiangan terbang hinggap di atas pohon kecil tepat di depan si pemburu. Dengan ayunan parang atau pukulan gagang tombaknya, kelelawar itu pasti bisa diperolehnya. Tetapi si pemburu berpikir, "untuk ada merepotkan diri dengan seekor kelelawar? Apakah artinya dia dibanding dengan seekor rusa besar yang saya incar?"

Tidak lama berselang, seekor kancil lewat. Kancil itu sempat berhenti di depannya bahkan menjilat-jilat ujung tombaknya tetapi ia berpikir, "Ah, hanya seekor kancil, nanti malah tidak ada yang makan, sia-sia." Agak lama pemburu menunggu. Tiba-tiba terdengar langkah-langkah kaki binatang mendekat, pemburupun mulai siaga penuh, tetapi ternyata, ah... kijang.

Ia pun membiarkannya berlalu. Lama sudah ia menunggu, tetapi tidak ada rusa yang lewat, sehingga ia tertidur. Baru setelah hari sudah sore, rusa yang ditunggu lewat. Rusa itu sempat berhenti di depan pemburu, tetapi ia sedang tertidur. Ketika rusa itu hampir menginjaknya, ia kaget. Spontan ia berteriak, "Rusa!!!" sehingga rusanya pun kaget dan lari terbirit-birit sebelum sang pemburu menombaknya. Alhasil ia pulang tanpa membawa apa-apa.

Banyak orang yang mempunyai idealisme terlalu besar untuk memperoleh sesuatu yang diinginkannya. Ia berpikir yang tinggi-tinggi dan bicaranya pun terkadang sulit dipahami. Tawaran dan kesempatan-kesempatan kecil dilewati begitu saja, tanpa pernah berpikir bahwa mungkin di dalamnya ia memperoleh sesuatu yang berharga.

Tidak jarang orang-orang seperti itu menelan pil pahit karena akhirnya tidak mendapatkan apa-apa. Demikian juga dengan seseorang yang bergumul dengan pasangan hidup yang mengharapkan seorang gadis cantik atau perjaka tampan yang baik, pintar dan sempurna lahir dan batin, harus puas dengan tidak menemukan siapa-siapa.

Berpikir sederhana, bukan berarti tanpa pertimbangan logika yang sehat. Kita tentunya perlu mempunyai harapan dan idealisme supaya tidak asal tabrak. Tetapi hendaknya kita ingat bahwa seringkali Tuhan mengajar manusia dengan perkara-perkara kecil terlebih dahulu sebelum mempercayakan perkara besar dan lagipula tidak ada sesuatu di dunia yang perfect yang memenuhi semua idealisme kita. Berpikirlah sederhana.

Bersepeda Bersama Yesus

Penulis : Deisy

Pada awalnya, aku memandangTuhan sebagai seorang pengamat; seorang hakim yang mencatat segala kesalahanku, sebagai bahan pertimbangan apakah aku akan dimasukkan ke surga atau dicampakkan ke dalam neraka pada saat aku mati. Dia terasa jauh sekali, seperti seorang raja. Aku tahu Dia melalui gambar-gambar-Nya, tetapi aku tidak mengenal-Nya.

Ketika aku bertemu Yesus, pandanganku berubah. Hidupku menjadi bagaikan sebuah arena balap sepeda, tetapi sepedanya adalah sepeda tandem, dan aku tahu bahwa Yesus duduk di belakang, membantu aku mengayuh pedal sepeda.

Aku tidak tahu sejak kapan Yesus mengajakku bertukar tempat, tetapi sejak itu hidupku jadi berubah. Saat aku pegang kendali, aku tahu jalannya. Terasa membosankan, tetapi lebih dapat diprediksi ? biasanya, hal itu tak berlangsung lama. Tetapi, saat Yesus kembali pegang kendali, Ia tahu jalan yang panjang dan menyenangkan. Ia membawaku mendaki gunung, juga melewati batu-batu karang yang terjal dengan kecepatan yang menegangkan. Saat-saat seperti itu, aku hanya bisa menggantungkan diriku sepenuhnya pada-Nya!

Terkadang rasanya seperti sesuatu yang "gila", tetapi Ia berkata, "Ayo, kayuh terus pedalnya!"

Aku takut, khawatir dan bertanya, "Aku mau dibawa ke mana?" Yesus tertawa dan tak menjawab, dan aku mulai belajar percaya. Aku melupakan kehidupan yang membosankan dan memasuki suatu petualangan baru yang mencengangkan.Dan ketika aku berkata, "Aku takut!" Yesus menurunkan kecepatan, mengayuh santai sambil menggenggam tanganku.

Ia membawaku kepada orang-orang yang menyediakan hadiah-hadiah yang aku perlukan ? orang-orang itu membantu menyembuhkan aku, mereka menerimaku dan memberiku sukacita. Mereka membekaliku dengan hal-hal yang aku perlukan untuk melanjutkan perjalanan ? Perjalananku bersama Tuhanku. Lalu, kami pun kembali mengayuh sepeda kami.

Kemudian, Yesus berkata, "Berikan hadiah-hadiah itu kepada orang-orang yang membutuhkannya; jika tidak, hadiah-hadiah itu akan menjadi beban bagi kita. "Maka, aku pun melakukannya. Aku membagi-bagikan hadiah-hadiah itu kepada orang-orang yang kami jumpai, sesuai kebutuhan mereka. Aku belajar bahwa ternyata memberi adalah sesuatu yang membahagiakan.

Pada mulanya, aku tidak ingin mempercayakan hidupku sepenuhnya kepadaNya. Aku takut Ia menjadikan hidupku berantakan; tetapi Yesus tahu rahasia mengayuh sepeda. Ia tahu bagaimana menikung ditikungan tajam, Ia tahu bagaimana melompati batu karang yang tinggi, Ia tahu bagaimana terbang untuk mempercepat melewati tempat-tempat yang menakutkan. Aku belajar untuk diam sementara terus mengayuh ? menikmati pemandangan dan semilir angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahku selama perjalanan bersama Sahabatku yang setia: Yesus Kristus.

Dan ketika aku tidak tahu apa lagi yang harus aku lakukan, Yesus akan tersenyum dan berkata ? "Mengayuhlah terus, Aku bersamamu."

Berserah Diri

Oleh: SMT GULTOM

Menjelang akhir tahun 2013, dan di Indonesia pada tahun 2014 akan menghadapi pergantian suksesi kepemimpinan nasional. Dapat dibayangkan berbagai kesibukan setiap individu guna mempersiapkan semua yang berkenaan dengan hal-hal keduniawian semata. Sesuai dengan Firman Tuhan bahwa masa ini adalah masa yang sukar dan akan semakin sukar. Harus dicamkan ini bukan zaman damai atau zaman kelimpahan secara duniawi dimana orang percaya tidak lagi menghadapi tantangan dan percobaan hidup. Ini adalah masa perang, masa konflik rohani yang paling sukar. Untuk ini kita membutuhkan kecerdasan roh yang tinggi dan pengurapan yang baru agar kita sanggup menghadapi masa-masa yang sukar ini. Iblis sungguh-sungguh berusaha menghancurkan pekerjaan Tuhan dan membunuh iman orang percaya. Orang percaya akan makin diperhadapkan dengan berbagai tantangan yang mengancam iman dan kesetiaan yang murni kepada Kristus. Kita harus mengenali ancaman-ancaman tersebut dan menemukan cara mengantisipasinya.

Berserah diri adalah kata yang tidak popular, yang tidak disukai hampir seperti kata tunduk. Kata tersebut menyiratkan makna kalah, dan tidak seorangpun ingin menjadi pecundang. Berserah diri menimbulkan gambaran tidak enak, yaitu mengaku kalah dalam pertempuran, kalah dalam suatu permainan, atau menyerah pada musuh yang lebih kuat. Kata tersebut hampir selalu digunakan dalam konteks yang negatif. Para penjahat yang tertangkap menyerahkan diri kepada penguasa.

Dalam budaya persaingan zaman ini kita diajar untuk tidak pernah menyerah dan tidak pernah tunduk, jadi kita tidak banyak mendengar tentang menyerah. Jika menang adalah hal yang amat penting, maka menyerah tidaklah terpikirkan. Kita lebih suka berbicara tentang soal menang, berhasil, mengalahkan, menaklukkan dari pada tentang mengalah, tunduk, taat, dan menyerah. Tetapi menyerahkan diri kepada Tuhan adalah inti penyembahan. Itu merupakan tanggapan wajar terhadap kasih dan belas kasihan Tuhan yang mengherankan. Kita memberi diri kita kepada Dia, bukan karena takut atau wajib, melainkan di dalam kasih,”karena Tuhan lebih dahulu mengasihi kita”(1Yohanes 4:9-10, 19). Setelah menggunakan 11 pasal dari Kitab Roma untuk menjelaskan tentang kasih karunia Tuhan yang ajaib kepada kita, Paulus mendorong kita untuk sepenuhnya menyerahkan hidup kita kepada Tuhan di dalam penyembahan. Ibadah yang sejati, yaitu mendatangkan kesenangan bagi Tuhan, terjadi bila kita memberi diri kita sepenuhnya kepada Tuhan. Mempersembahkan diri kepada Tuhan itulah yang dimaksud dengan penyembahan. Tindakan berserah diri ini disebut dengan banyak hal: penyucian, menjadikan Yesus Tuhan Anda, memikul salib Anda, mati bagi diri sendiri, berserah diri kepada Roh Kudus. Yang penting adalah bahwa Anda mengerjakannya, bukan sebutan apa yang Anda gunakan untuknya. Tuhan menginginkan kehidupan Anda, seluruhnya. Sembilan puluh lima persen tidaklah cukup.

Ada tiga penghalang yang merintangi penyerahan diri total kita kepada Tuhan: ketakutan, keangkuhan, dan kebimbangan. Kita tidak menyadari betapa Tuhan sangat mengasihi kita, kita ingin mengendalikan hidup kita sendiri, dan kita salah memahami makna dari berserah diri. Percaya adalah unsur yang sangat diperlukan untuk berserah diri. Anda tidak akan berserah diri kepada Tuhan kecuali jika Anda mempercayai-Nya, tetapi Anda tidak bisa mempercayai-Nya sebelum Anda mengenal Dia dengan lebih baik. Ketakutan menghalangi kita untuk berserah diri, tetapi kasih membuang segala ketakutan. Semakin Andamenyadari betapa besarnya Tuhan mengasihi Anda, semakin mudah penyerahan diri jadinya.

Bidang yang paling sulit untuk diserahkan bagi banyak orang adalah uang mereka. Banyak orang berpikir,”Aku ingin hidup bagi Tuhan tetapi aku juga ingin memperoleh cukup uang untuk hidup dengan nyaman dan pensiun suatu saat.”Pensiun bukanlah tujuan dari kehidupan yang berserah, karena pension akan bersaing dengan Tuhan untuk memperoleh perhatian utama kehidupan kita. Yesus berkata,”Kamu tidak dapatmengabdi kepada Tuhan dan kepada mammon dan karena di mana hartamu berada, disitu juga hatimu berada”(Matius 6:21-24)

Teladan terbesar dari penyerahan diri adalah Yesus. Malam sebelum Dia disalibkan, Yesus menyerahkan diri-Nya kepada kehendak Bapa di surga.

Alkitab sangat jelas tentang bagaimanaAnda memperoleh keuntungan bila Anda sepenuhnya menyerahkan kehidupan Anda kepada Tuhan. Pertama, Anda mengalami ketentraman, selanjutnya Anda mengalami kemerdekaan dan ketiga, Anda mengalami kuasa Tuhan di dalam kehidupan Anda. Pencobaan-pencobaan yang susah hilang dan masalah-masalah yang menguasai bisa dikalahkan oleh Kristus bila diserahkan kepada-Nya. (Ayub 22:21 dan Roma 6:17).

Orang-orang yang berserah diri adalah orang-orang yang Tuhan pakai. Tuhan memilih Maria untuk menjadi ibu Yesus, bukan karena dia berbakat atau kaya atau cantik, tetapi karena dia sepenuhnya berserah diri kepada-Nya. Tempatkan Yesus Kristus di kursi pengemudi dari kehidupan Anda dan lepaskan tangan Anda dari kemudi. Janganlah takut, tidak ada apapun di bawah kendali-Nya yang bisa lepas kendali.

Selamat Hari Natal & Tahun Baru. Tuhan Yesus memberkati kita.

Berserah kepada Rancangan Tuhan

Oleh: Agung

"Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN."Yesaya 55:8.

Ayat diatas dengan tegas menjelaskan bahwa rancangan Allah tidak sama dengan rancangan manusia. Bagi orang Kristen ayat ini pasti sudah tidak asing lagi. Tanpa dihafalpun sudah terhafal sendiri karena terlalu sering di dengar. Dikatakan memang mudah tapi dipraktekkan sangat sulit. Saya jadi teringat apa yang ditulis Yohanes ketika di pulau Patmos. Wahyu 10:10, "Lalu aku mengambil kitab itu dari tangan malaikat itu, dan memakannya: di dalam mulutku ia terasa manis seperti madu, tetapi sesudah aku memakannya, perutku menjadi pahit rasanya. Firman Tuhan itu mudah sekali diperkatakan, bahkan cukup enak untuk disampaikan namun pada prakteknya sangat susah, dengan kata lain terasa pahit."

Pada umumnya manusia lebih memilih rancangannya sendiri dari pada rancangan Tuhan. Karena rancangan manusia lebih terfokus kepada hal-hal duniawi sementara rancangan Tuhan lebih terfokus kepada hal-hal rohani. Manusia lebih memilih mengembangkan kehidupan jasmani dari pada kehidupan rohani. Contohnya dalam memilih pasangan hidup, manusia lebih cenderung memilih pasangan yang cantik/ganteng, sementara rancangan Tuhan lebih terfokus kepada kecantikan rohaniah.

Karena rancangan Tuhan lebih tertuju kepada hal-hal yang bersifat rohani maka orang yang hidup dalam keinginan daging akan sangat sulit mengikutinya. Itulah sebabnya mereka lebih cenderung memilih rancangan sendiri karena rancangan Tuhan sangat menyakitkan dan melelahkan.

Ada satu tokoh di Alkitab yang lebih memilih mengikuti rancangan Tuhan walaupun karena itu dia harus sangat menderita. Namanya Yusuf. Yusuf adalah anak yang paling dikasihi Yakub. Dalam kehidupan sehari-hari Yakub senatiasa memberikan yang terbaik kepadanya. Bahkan ia mendapatkan jubah maha indah yang tidak di dapatkan oleh saudara-saudaranya yang lain. Tuhan mempunyai rencana yang besar buat Yusuf dan Yusuf tahu akan hal itu karena Tuhan menyatakannya melalui mimpi-mimpi. Namun untuk rencana besar itu Yusuf harus mengalami proses yang sangat menderita. Dia harus meninggalkan zona nyaman dan turun ke dalam zona penderitaan. Pertama ia dijual menjadi budak, Setelah menjadi budak Yusuf harus turun lagi kepada penderitaan yang lebih dalam yaitu menjadi tahanan, ia ditahan karena suatu kesalahan yang tidak dilakukannya. Yusuf tidak menyalahkan siapa-siapa. Ia tidak menyalahkan saudara-saudaranya apalagi menyalahkan Tuhan. Yusuf bisa berbuat begitu karena ia menyadari bahwa ia sedang berada dalam rencana Tuhan dan Tuhan sedang mempersiapkan dia untuk suatu rencana yang besar yaitu menyelamatkan keturunan Israel. Memang benar ia berada dalam rencana Tuhan, karena setelah itu ia diangkat menjadi penguasa atas Mesir dan dengan demikian ia dapat menyelamatkan kaum keturunan ayahnya dari bahaya kelaparan yang sedang melanda dunia. Kejadian 50:19-20, "Tetapi Yusuf berkata kepada mereka: "Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah? Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar." Ayat ini menguatkan keyakinan saya bahwa Yusuf menyadari sejak awal bahwa Tuhan punya rancangan besar dalam hidupnya dan ia memilih rancangan Tuhan itu. Bagaimana dengan kita, apakah kita mau memilih rancangan Tuhan? Atau memilih rancangan kita sendiri?

Saudaraku, Tuhan punya rencana yang indah buat kehidupan kita. Saya tidak tahu apa rencana Tuhan untuk saudara namun satu hal yang pasti bahwa rencana Tuhan tidak merancangkan rancangan kecelakaan melainkan rancangan yang damai sejahtera yaitu masa depan yang penuh harapan. (Yeremia 29:11). Amin.

Bersikap Jujur

Oleh: Sujud Prasetio

Baca: Mazmur 25:1-22

"Ketulusan dan kejujuran kiranya mengawal aku, sebab aku menanti-nantikan Engkau." Mazmur 25:21

Beberapa tahun yang lalu, saya melakukan kesalahan yang fatal. Karena dengki, saya mencuri uang bulek (tante). Ketika saya didakwa, saya mengelak dengan 1001 alasan. Dua tahun kemudian saya pun mengakuinya. Bagi saya mengakui kesalahan tidak membuat harga diri saya rendah. Justru inilah sikap yang seharusnya di lakukan. Bersikap jujur. Oleh karena itu saya tidak malu menyaksikan ini.

Banyak orang sulit untuk jujur, bahkan terhadap dirinya sendiri. Keteledoran atau kesalahan apa pun selalu ada dalih untuk menyalahkan orang lain atau pun menyalahkan keadaan. Apa pun alasannya adalah dalih untuk membenarkan diri. Matius 25 menceritakan seseorang yang menerima satu talenta menyalahkan tuan yang empunya talenta. Ironis bukan! Koq tidak langsung berkata: "maaf, aku salah!" Begini kan urusannya cepat selesai. Sekali pun sikap ini sepele, tidak semua orang dapat melakukannya. Hanya orang- orang yang berjiwa besarlah yang mampu melakukannya.

Pergumulan Daud di dalam doa mengingatkan perjalanan hidupnya. Daud mengintrospeksi dirinya di hadapan Tuhan. "kiranya ketulusan dan kejujuran mengawal aku . . ." (Mazmur 25:21). Daud menyadari sikap hidup jujur adalah hal yang prinsip di hadapan Tuhan. Maka, tidak heran jika Allah mendaftarkan Hukum Taurat yang ke-9 "Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu." (Keluaran 20:16). Hukum ini mengemukakan bahwa Tuhan begitu menghargai kebenaran. Ketika orang bersikap tidak jujur, yang terjadi bukannya saling menolong, tetapi merongrong. Bukan memberdayakan, tetapi memperdayakan. Ketidakjujuran hanya dapat di lunasi dengan kejujuran. Bukannya menutupi ketidakjujuran dengan kebohongan. Beranikah Anda jujur terhadap Allah, manusia, dan diri sendiri?

Bersyukur...

Aku tak selalu mendapatkan apa yang kusukai, oleh karena itu aku selalu menyukai apapun yang aku dapatkan. Kata-Kata Diatas merupakan wujud syukur. Syukur merupakan kualitas hati yang terpenting. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tentram dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur akan senantiasa membebani kita. Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia.

Bersyukurlah bahwa kamu belum siap memiliki segala sesuatu yang kamu inginkan
....
Seandainya sudah, apalagi yang harus diinginkan?

Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu...
Karena itu memberimu kesempatan untuk belajar...

Bersyukurlah untuk masa-masa sulit...
Di masa itulah kamu tumbuh...

Bersyukurlah untuk keterbatasanmu...
Karena itu memberimu kesempatan untuk berkembang ...

Bersyukurlah untuk setiap tantangan baru ...
Karena itu akan membangun kekuatan dan karaktermu ...

Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat ...
Itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga ...

Bersyukurlah bila kamu lelah dan letih ...
Karena itu kamu telah membuat suatu perbedaan ...

Mungkin mudah untuk kita bersyukur akan hal-hal yang baik...
Hidup yang berkelimpahan datang pada mereka yang juga bersyukur akan masa surut...

Rasa syukur dapat mengubah hal yang negatif menjadi positif ...
Temukan cara bersyukur akan masalah-masalahmu dan semua itu akan menjadi berkah bagimu ...

Bertahan dalam Pelayanan

Oleh: Maslin Tumanggor Simbolon

Dari kitab 2 Korintus 4:17

Rasul Paulus menyuruh kita untuk tetap bertahan dalam pelayanan karena begitu banyak hal yang indah kita dapatkan saat kita terus bertahan dan melayani di mana kita ditempatkan oleh ALLAH kita. Sedikitnya ada 4 hal yang sangat penting yang harus saudara ketahui yaitu :

1. Kita dipanggil, dipilih, dan setia itu semua hanya oleh karena Kasih karunia BAPA bukan dgn kekuatan kita atau lebih tepatnya karena kemurahan ALLAH semata. (2 Korintus 4:1). Sebagai mantan penganiaya orang-orang Kristen, Paulus sadar betul bahwa dia tidak layak untuk menerima kasih karunia ALLAH tersebut.

2. Karena ketaatan kita kepada YESUS KRISTUS maka kita pun harus melayani orang lain (2 Korintus 4:5). Jadi heran kalo ada anak-anak TUHAN yang sudah bertobat bertahun-tahun namun tidak mau melayani, itu menjadi suatu tanda tanya "bagaimana dasar pertobatanya dan apa yang ia cari dalam pelayanan tersebut".

3. Karena orang yang melayani ALLAH mengalami pembaharuan-pembaharuan batiniah walaupun fisiknya merosot karena usia tapi dia semakin bijaksana dan berhikmat dalam pengenalan FIRMAN TUHAN. (2 Korintus 4:16). Paulus juga mengingatkan kita bahwa bersama ALLAH ada pembaharuan yang tidak dapat dibandingkan dengan hal-hal dunia ini.

4. Karena ada upah kekal yang BAPA sediakan bagi anak-anak-Nya yaitu Hidup kekal bersama DIA di sorga yang baru.( 2 Korintus 4:18).

Jadi Saudaraku yang terkasih janganlah pergi dari pelayanan karena ditolak oleh wanita atau pria yang kita sukai karena ALLAH lebih utama dari hal-hal tersebut. ALLAH sampai hari ini mengerjakan yang terbaik bagi anak-anak-Nya. Kata mengerjakan dalam bahasa aslinya adalah "KATERGAZOMAI" yang artinya ALAH mengerjakan dengan kekuatannya untuk membentuk anak-naknya yang kuat dan pasti mencapai tujuanya. Jadi saudaraku maju terus karena ALLAH bekerja sampai hari ini untuk kebaikanmu. Tinggal manusia tersebut mau tidak dibentuk oleh ALLAH??? Apakah saudara mau menikah sama anak kecil? Atau mempelai yang tidak punya tujuan??? Atau... banyak lagi. Memang pembentukkan ALLAH itu sangat sakit tapi kita akan menjadi anak-anak-Nya yang perkasa. apakah saudara mau menjadi orang biasa-biasa saja???? semuanya terserah kita sebagai anak-anaknya.

Bertumbuh dalam Penderitaan

Oleh: Ev. Margareth Linandi

 

Setiap orang di dalam dunia ini mengalami apa yang dinamakan pertumbuhan baik secara fisik maupun rohani. dari fisik misalnya seseorang mengalami proses dari bayi, anak-anak, remaja, pemuda, menikah, memiliki anak dan menjadi orang tua. Dari segi pendidikan seseorang bertumbuh mulai dari Playgroup, TK A, TK B, SD, SMP, SMA dan universitas.

Sama halnya dengan pertumbuhan fisik, rohani kita juga mengalami pertumbuhan yaitu dengan adanya ujian demi ujian, untuk membuat iman kita bertumbuh. Hal ini dikarenakan dan dikatakan dalam Matius 16:24 bahwa" setiap orang yang mau mengikut Yesus, ia harus menyangkal diri, memikul salib dan mengikut Aku." dengan demikian perjalanan mengikut Yesus tidaklah mudah, dan ada kalanya kerikil-kerikil tajam dalam hidup kita harus kita lewati.Tuhan tidak pernah menjanjikan langit akan tampak biru terus akan tetapi ada kalanya langit akan tampak gelap(masalah).

Menyangkal diri memiliki pengertian rela melepaskan keinginan daging atau hawa nafsu dunia yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Contoh: kemarahan, iri hati, dengki, dan lainnya. Memikul salib memiliki pengertian rela menderita demi mengikut Yesus dan memberitakan Injil. misalnya Petrus, seorang yang antusias dalam mengikut yesus, namun ia pernah juga jatuh yaitu menyangkal Yesus 3x namun pada akhirnya ia bangkit dan setia melayani Tuhan , dan pada akhirnya Petrus mati dengan cara sama seperti Yesus mati yaitu disalib terbalik. Contoh lain: Paulus seorang penganiaya Kristen namun berubah menjadi orang yang setia melayani Tuhan dan bahkan dalam perjalanan melayani Tuhan, ia harus mengalami karam kapal dan dipenjara, Stefanus mati karena mempertahankan imannya dan memberitakan Injil Tuhan akhirnya mati dirajam batu, dan lain-lain.

Ada macam-macam penderitaan:

  1. Penderitaan karena diri sendiri misalnya menderita karna menjadi penjahat, pencuri, sakit karna tidak menjaga kebersihan dan diri sendiri.
  2. Penderitaan karena Iblis, contohnya adalah Ayub dicobai dalam hal harta benda musnah, 10 anaknya mati, sakit barah busuk.
  3. Penderitaan karena memberitakan Injil dan melayani Yesus.
  4. Penderitaan karna faktor lingkungan misalnya narkoba, pergaulan bebas, dan lainnya.


Sikap yang harus dilakukan dalam menghadapi penderitaan:

  1. Diam dan tenanglah (I Petrus 4:7)artinya menguasai diri dan jadilah tenang, berserah pada Tuhan supaya kita dapat berdoa.
  2. Dalam I Petrus 4:12, intiya adalah jangan takut dan jangan gentar ini disebabkan Allah beserta kita.
  3. Dalam I Petrus 4:13-14, intinya adalah bersukacita di tengah penderitaan. Kebanyakan orang bahagia jika ia hidup dalam keadaan tenang akan tetapi jika ia kehilangan orang yang dikasihinya, sulit bagi kita untuk bersukacita. Bersukacita disini bukan berarti tertawa di tengah kesedihan akan tetapi bisa menerima masalah itu dan kuat menghadapi penderitaan.


Penderitaan, masalah, pergumulan janganlah menjadi bumerang bagi kita, tetapi justru harus bertumbuh dalam penderitaan.Tips Cara bertumbuh dalam penderitaan yang menimpa hidup kita ada 3 be-te+1 b:( Dalam Roma 5:3-5):

  1. Bertekun dalam penderitaan artinya tidak lari dari masalah dan menghadapi masalah dengan bertekun dalam Tuhan.
  2. Bertahan artinya tahan uji. Tahan uji adalah satu peristiwa dimana seseorang tidak mundur dalam imannya pada Tuhan atau menyalahkan Tuhan saat masalah datang.
  3. Berterima kasih artinya bersyukur dan menerima segala sesuatu yang terjadi dan tidak bersungut-sungut.
  4. Berharap, artinya mempercayakan penderitaan itu pada Tuhan.


Biarlah renungan ini menjadi berkat bagi yang membacanya. Amin.

Betapa Lucunya, Tapi Nyata...

Kadang terasa berat nya apabila dibawa ke gereja untuk disumbangkan; tetapi betapa kecilnya kalau dibawa ke Mall untuk dibelanjakan! Betapa lamanya melayani Allah selama satu jam; namun betapa singkatnya kalau kita melihat film.

Betapa sulitnya untuk mencari kata-kata ketika berdoa(spontan); namun betapa mudahnya kalau mengobrol atau bergosip dengan teman tanpa harus berpikir panjang-panjang.

Betapa asyiknya apabila pertandingan basketball diperpanjang waktunya ekstra namun kita mengeluh ketika khotbah di gereja lebih lama sedikit daripada biasa.

Betapa sulitnya untuk membaca satu perikop dari Kitab Suci; namun betapa mudahnya membaca 100 halaman dari novel yang laris.

Betapa getolnya orang untuk duduk di depan dalam pertandingan atau konser namun lebih senang duduk di bangku paling belakang di gereja.

Betapa sulitnya untuk menyesuaikan jadwal waktu kita, 2 atau 3 minggu sebelumnya untuk suatu acara gerejani; namun betapa mudahnya menyesuaikan waktu dalam sekejap pada saat terakhir untuk event yang menyenangkan.

Betapa sulitnya untuk mempelajari suatu bab sederhana dari Injil untuk di sharingkan dengan orang lain; namun betapa mudahnya untuk mengulang-ulangi gosip yang sama kepada orang lain itu.

Betapa mudahnya kita mempercayai apa yang dikatakan oleh koran; namun betapa kita meragukan apa yang dikatakan oleh Kitab Suci.

Betapa setiap orang ingin masuk sorga seandainya tidak perlu untuk percaya atau berpikir,atau mengatakan apa-apa,atau berbuat apa-apa.

Betapa kita dapat menyebarkan seribu lelucon melalui e-mail, dan menyebarluaskannya dengan FORWARD seperti api; namun kalau ada mail yang isinya tentang Kerajaan Allah; betapa seringnya kita ragu-rag u, enggan membukanya dan mensharingkannya, serta langsung klik pada icon DELETE.

ANDA TERTAWA ...? ANDA BERPIKIR-PIKIR?

Sebar luaskanlah Sabda-Nya, bersyukurlah kepada TUHAN,DIA BAIK,PENGASIH DAN PENYAYANG.

Bila Orang Benar Harus Menderita

Oleh: Sunanto

Ayb 42:5 “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.” Saya sendiri banyak mengalami penderitaan dan juga banyak melihat orang lain yang menderita namun saya belum pernah melihat ada orang yang mengalami penderitaan seberat Ayub.

Satu hal yang pasti, sumber penderitaan yang kita alami bukanlah dari Tuhan tetapi Tuhan mengijinkannya terjadi untuk mendatangkan kebaikan bagi hidup kita. Iblis memang sangat suka membuat kita menderita tetapi sebenarnya dia bukan merupakan sumber penderitaan itu. Kita semua merupakan orang yang lahir dalam keadaan sakit jiwanya akibat natur dosa yang kita bawa, ditambah lagi dengan pengaruh lingkungan dan salah asuh dari orang tua yang membuat penyakit itu semakin parah. Kita mengasihi orang lain karena kita membutuhkan mereka untuk memuaskan keakuan kita. Hal ini bukan kasih melainkan manipulasi sebab kasih yang sejati itu tanpa syarat. Kasih yang sejati tidak dipengaruhi oleh kondisi objek yang dikasihi. Allah tetap mengasihi kita sekalipun kita hidup dalam dosa sebab Allah adalah kasih sehingga Dia tidak bisa tidak mengasihi. Sebenarnya kita semua merupakan pecandu-pecandu dimana kita mencandui dukungan, penghargaan dan perasaan dibutuhkan dari orang lain. Kisah Yakub mengambarkan bagaimana seseorang yang mencari identitas akibat tidak menerima pengakuan dari seorang Ayah. Sebenarnya yang dibutuhkan oleh Yakub bukanlah hak kesulungan melainkan yang ia butuhkan adalah sebuah pengakuan. Sumber penderitaan Yakub bukanlah Esau melainkan dirinya sendiri yang sakit.

Setelah Yakub dipulihkan dan memperoleh indentitas dari Allah ketika ia bergumul di sungai Yabok maka dengan sendirinya ia bisa berdamai dengan Esau. Tatkala sumber masalah Yakub yang sebenarnya selesai maka masalahnya dengan Esau juga selesai. Jika kita ingin mengubah orang lain maka hal pertama yang perlu kita lakukan adalah mengubah diri kita dulu. Jangan bermimpi untuk dapat mengubah dunia bila anda belum mengubah diri anda.

Setelah kita selesai dalam menjalani proses pendewasaan seperti yang dialami Ayub maka kita akan mengalami Allah bukan hanya sekedar mengetahui. Kita akan mengalami sebuah tingkat keintiman dan pengenalan akan Allah dalam sebuah dimensi yang baru. Selain itu kita juga akan bisa melihat kemuliaan Allah dalam diri orang lain sama seperti Yakub bisa melihat kemuliaan Allah di wajah Esau setelah ia dipulihkan ( Kej 33:10). Kita tidak akan meletakkan orang lain lebih tinggi atau lebih rendah sebab posisi semua orang sama dihadapan kita. Kita akan memperlakukan seorang Presiden sama seperti memperlakukan seorang pengemis di jalanan sebab pada keduanya kita dapat melihat kemuliaan Allah.

Kita tidak akan lebih mengasihi orang yang menguntungkan kita atau lebih tidak mengasihi orang yang merugikan kita. Yang ada pada kita hanyalah cinta yang sejati yaitu kasih yang tanpa syarat. Inilah tujuan akhir dari semua krisis dan penderitaan yang Tuhan ijinkan menimpa hidup kita yaitu agar kasihNya dicurahkan dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita !

Bolehkah Aku Bicara?

Oleh: Herwin

Apakah anda mengenalku? Seharusnyalah demikian, karena aku adalah komoditi yang paling banyak dicari di muka bumi. Aku dapat dikenali di hampir seluruh bagian dari dunia, tidak soal apa bahasanya. Jarang ada orang dari negeri manapun yang pergi ke suatu tempat tanpa membawaku serta. Peperangan dan lamanya peperangan sering kali juga ditentukan oleh banyaknya dan adanya aku.

Anak-anak direnggut dari orangtua demi tebusan yang aku bayar. Aku dirampas dengan todongan senjata atau dengan rela diberikan kepada orang-orang yang membuat janji-janji palsu. Ada wanita-wanita yang menikah karena aku, yang lain bercerai karena aku pula. Aku dapat membuat keluarga-keluarga berantakan dan mendatangkan banyak sekali kesengsaraan atas orang-orang yang mencintaiku. Pernah aku melihat seseorang menghianati teman terbaik yang pernah ia miliki demi 30 keping dari padaku. Maka benarlah apa yang dikatakan oleh seorang pengajar pada abad ke I, yang mengatakan bahwa "Cinta kepadaku merupakan akar segala kejahatan" (1 Timotius 6: 10)

Ya, aku adalah uang. Aku lahir pertama kali pada zaman Mesopotamia Purba (abad 18-16 SM). Aku dibuat dari perak dan digunakan secara reguler dalam transaksi bisnis waktu itu. Kemudian di Mesir aku dibuat dari tembaga, perak, dan emas. Aku pun mulai dikembangkan dalam bentuk kertas pada tahun 1024 di China sewaktu ekspansi perdagangan untuk pertama kalinya menyebabkan kehabisan koin.

Sepanjang sejarah sejak aku dilahirkan, aku begitu disanjung dan dipuja oleh banyak orang, sehingga seorang penulis Amerika, Washington Irvin pernah menggambarkan diriku sebagai dollar yang mahakuasa, objek besar kesayangan universal di seluruh negeri. Akan tetapi di negeri anda mungkin aku dikenal dengan sebutan Peso, Pound, Franc, Gulden, dan Rupiah. Apapun sebutan bagiku, aku tetap dicari secara gila-gilaan dan dapat dikatakan dengan sangat memuakkan. Bahkan bukan oleh orang biasa, dalam kitab Mika 3: 11 dikatakan "Para kepalanya memutuskan hukum karena suap, dan para imamnya memberikan pengajaran karena bayaran, para nabinya menenung karena uang."

Sebutanku pun segera berubah sesuai dengan caranya aku dipergunakan. Ada yang menyebutku uang registrasi, uang administrasi, uang damai, ataupun uang suap. Ada lagi yang menyebutku uang kopi, uang rokok, uang tunjangan, dsb. Bagi beberapa orang aku adalah uang biaya hidup sehari-hari yang penting, namun sangat susah untuk dicari, sehingga ada yang menuduhku seakan-akan aku memiliki sayap lalu terbang. Mereka yang tak habis-habisnya mencintaiku merangsang diri sendiri dengan impian yang berkilauan untuk kekayaan dan kebahagiaan. Namun sayang, meskipun ada yang sudah menimbun aku dalam jumlah besar, ternyata mereka mendapati bahwa aku masih belum mendatangkan kebahagiaan sejati yang mereka bayangkan. Dalam keadaan ini aku jadi ingat kepada kata-kata orang yang berhikmat dan yang paling kaya yang hidup pada tahun 1000 SM. Dia pernah mengatakan bahwa "Enak tidurnya orang yang bekerja, baik ia makan sedikit maupun banyak, tetapi kekenyangan orang kaya sekali-kali tidak membiarkan dia tidur" (Pengkotbah 5: 11)

Maka carilah aku dengan bijaksana, pergunakanlah aku dengan bersahaja, pasti engkau akan bahagia. Akan tetapi bila engkau mencariku dengan membabi-buta, berhati-hatilah engkau pasti akan celaka. Karena Raja Salomo yang sangat berhikmat pada zamannya pernah mencoba membandingkan aku dengan hikmat yang dapat dimiliki oleh orang-orang. Tapi pada akhirnya ia pun mengatakan bahwa "Bila dibandingkan dengan hikmat, aku adalah sama-sama sebagai perlindungan akan tetapi hikmat memiliki kelebihan tertentu yaitu dapat memberikan kehidupan kepada yang memilikinya" (Pengkotbah 7: 12)

Dan aku sadar akan kelemahanku ini. Bukti-bukti sejarah telah menunjukkan bahwa aku tidak akan bermanfaat kalau orang yang mengelolaku tidak berhikmat. Maka benar pula yang dikatakan oleh orang-orang yang rendah hati, bahwa aku bukanlah segala-galanya, sebab ada hal-hal yang jelas-jelas tidak dapat aku lakukan, seperti yang dikatakan oleh pepatah lama yang telah berkali-kali kubaca dan sangat menyakitkan hatiku, karena memperlihatkan kelemahanku :

What money can buy

A bed but no sleep

computer but not brains

food but not appetites

finery but not beauty

a house but not a home

medicine but not health

luxuries but not culture

amusement but not happines

sex but not love.

Maaf aku tidak sanggup menerjemahkannya ke dalam bahasa ibuku, karena aku hanya bisa meniru. Akan tetapi yang jelas, carilah aku dengan bijaksana, pergunakanlah aku dengan bersahaja dan berpadalah pada apa yang ada, maka pasti engkau akan bahagia. Aku rasa sekian dulu saja, aku tidak akan sanggup untuk membuka kelemahanku lebih banyak lagi.

Bumi Butuh 'Raja Hijau'

Oleh: Sefnat A. Hontong

Bacaan: Mazmur 72:1-20

Pukul 21.53 waktu Karibia pada hari Selasa tanggal 12 Januari 2010 atau pukul 06.53 WIT hari Rabu tanggal 13 Januari 2010, bumi pernah dibuat menangis karena peristiwa gempa bumi berskala besar (7,0 Skala Richter) yang terjadi di Haiti, sebuah Negara kepulauan di Amerika Latin. Menurut Badan Survey Geologi Amerika Serikat (United States Geological Survei); gempa berskala 7,0 Skala Richter tersebut merupakan gempa bumi terbesar dalam 200 tahun lebih (sejak tahun 1771). Sementara itu, menurut Koordinator Kemanusiaan PBB Elisabeth Byrs: gempa Haiti merupakan sebuah musibah terburuk yang pernah ditangani PBB. Kerusakan infrastruktur diperkirakan melebihi kerusakan akibat tsunami yang menghancurkan Aceh pada tahun 2004. Byrs mencatat setidaknya saat tsunami Aceh kantor pemerintah masih ada yang berdiri, tapi di Haiti seluruh fasilitas publik hancur dan tidak tersisa, termasuk istana kepresidenan Haiti dan Markas Besar PBB. Untung saja sang presiden Rene Preval dan isterinya selamat dari bencana itu. Sedangkan dari sudut korban jiwa ada beberapa data yang berbeda, ada yang mengatakan 200 ribu orang, ada juga 300 ribu, bahkan menurut Senator Haiti Youri Latortue korban jiwa diperkirakan mencapai 500 ribu orang. Sungguh suatu peristiwa yang menakutkan dan mengerikan.

Gempa bumi yang terjadi di Haiti dan di berbagai belahan bumi lainnya, dalam hemat saya merupakan moment penting bagi setiap umat beragama untuk bersama-sama mengintropeksi diri maupun ajaran dan teologi masing-masing dalam rangka membangun komitmen untuk memelihara dan menjaga kelestarian bumi ciptaan Allah. Dalam salah satu situs internet ditegaskan bahwa penyebab utama adanya krisis ekologi itu berawal dari adanya krisis spritualitas umat. Oleh Karena itu, menurut situs ini, para agamawan mempunyai tugas dan tanggung jawab yang besar dalam hal memperbaiki krisis spiritualitas umat agar bisa berdampak pada perbaikan krisis ekologis yang parah seperti sekarang ini.

Imbauan dan kesadaran teologis semacam itu-lah yang juga mau ditegaskan oleh penulis Kitab Mazmur pasal 72 ini. Agaknya konteks persoalan yang dihadapi oleh penulis Kitab ini adalah praktek ketidak-adilan, ketidak-benaran, dan pemerasan (yang dilakukan oleh para elite politik), serta fenomena supremasi hukum yang sangat lemah dalam realitas sosial masyarakat. Akibatnya yang menjadi korban adalah ‘orang-orang kecil’. karena tidak mempunyai akses untuk bersuara atau membantah realitas sosial yang dikendalikan oleh kekuasaan yang tidak adil.

Melihat fakta itu, sang penulis tidak menyerah. Dalam doanya kepada Tuhan ia merasa yakin bahwa kondisi yang sedang ‘sakit’ itu pasti akan berubah dan sembuh dengan datangnya seorang ‘raja yang ideal’, yaitu seorang raja yang bisa membawa perubahan yang berarti dalam kehidupan masyarakat. Pokok penting dalam doa sang penulis ini adalah munculnya kesadaran tentang adanya hubungan sebab-akibat antara kekuasaan politik yang tidak adil dengan krisis ekologi yang melanda kehidupan umat manusia. Bahwa kekuasaan politik yang tidak adil tidak hanya berdampak pada hancurnya sikon sosial, ekonomi dan politik, tetapi juga bisa menyebabkan timbulnya krisis lingkungan hidup.

Saya mencatat bentuk kesadaran sang pemazmur itu ada dalam 3 (tiga) ayat berikut ini. Pertama, dalam ayat 3 “Kiranya gunung-gunung membawa damai sejahtera bagi bangsa, dan bukit-bukit membawa kebenaran!”. Kedua, dalam ayat 6 “Kiranya ia seperti hujan yang turun ke atas padang rumput, seperti dirus hujan yang menggenangi bumi!”. Ketiga, dalam ayat 16 “Biarlah tanaman gandum berlimpah-limpah di negeri, bergelombang di puncak pegunungan; biarlah buahnya mekar bagaikan Libanon, bulir-bulirnya berkembang bagaikan rumput di bumi”. Kata-kata seperti: gunung, bukit, hujan, padang rumput, bumi, gandum, buah, dan bulir dalam ketiga ayat tersebut jangan ditafsirkan sebagai kata-kata yang mempunyai makna konotasi atau makna kiasan, tetapi justru menunjuk pada makna yang sesungguhnya. Gunung ya gunung, bukit ya bukit, hujan ya hujan dst. Bahwa seorang raja sebagai pemimpin politik yang baik adalah seorang yang akan mengatur segala kebijakkan politiknya untuk menjaga keutuhan segala ciptaan Allah dengan baik dan tidak mengeksploitasinya dengan sewenang-wenang.

Melihat fakta kerusakan lingkungan sekarang ini, saya merasa bumi kita sedang membutuhkan ‘raja-raja’ sebagai pemimpin politik yang punya gagasan dan ide serta tekad untuk menjaga keutuhan ciptaan Allah, agar kehidupan di bumi ini dapat berlangsung terus; itulah ‘Raja-raja Hijau’. Dalam konteks politik di tahun 2013 dan 2014 ini saya rasa pesan ini bisa menjadi referensi untuk menentukan sikap politik yang ideal dalam masyarakat demokratis. Mari! kita pilih seorang ‘Raja Hijau’, yakni sang pemimpin politik di daerah kita yang mempunyai gagasan dan ide serta tekad yang bulat untuk tetap menjaga keutuhan ciptaan Allah, agar kehidupan kita di bumi Maluku Utara secara khusus dapat berlangsung terus dan tak akan pernah diganggu oleh monster-monters alam yang mengerikan.

Cerdik Seperti Ular Tulus Seperti Merpati

Oleh:Yogi Triyuniardi

"Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati." Matius 10:16 . Banyak orang tahu pepatah alkitab yang satu ini, yaitu: hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. kita bahkan seringkali menggunakan pepatah ini sebagai suatu alasan untuk membenarkan suatu tindakan yang kita lakukan. Apa sih artinya, menjadi cerdik seperti ular, dan menjadi tulus seperti merpati? nah, mari, kita bahas bersama-sama.

Ular, sebenarnya tidak dikategorikan sebagai hewan yang cerdik. Seringkali justru dikaitkan sebagai binatang yang licik. Bisanya yang mematikan, dan pagutannya yang secepat kilat ketika menyergap mangsa yang tak siap, menunjukkan sikap ke "licik" an dari ular. Lalu, mengapa Tuhan Yesus mengatakan bahwa kita harus cerdik seperti ular?

Merpati, adalah sejenis burung yang mampu terbang berkilo-kilometer jauhnya, kembali ke tempat asalnya. Oleh karena itu, merpati dipakai sebagai lambang pt pos, yang mengantarkan surat ke tempat tujuannya, walaupun jaraknya jauh. Lalu, dimana letak ketulusannya? banyak orang menganggap, merpati putih, lambang perdamaian, karena sifatnya yang elok dan bulunya yang melambangkan kesucian. namun, tak sedikit pula merpati yang berbulu abu2, coklat, belang2, bintik2 dll.

Dalam penerapan di kehidupan kekristenan, pepatah ini biasa ditafsirkan bahwa kita harus memiliki hati yang tulus seperti merpati, tetapi juga harus bertindak cerdik, seperti ular. Rasanya tidak salah. Ketulusan hati dan kecerdikan dalam bertindak sepertinya memang harus kita miliki. Istilah kerennya, "pake hikmat" dalam segala hal.

Namun banyak orang lupa, bahwa konteks ayatnya adalah mengenai "domba di tengah serigala". Kita, orang Kristen, digambarkan sebagai domba, binatang yang patuh namun tak berdaya. Serigala, adalah segala bentuk kejahatan yang menguasai dunia ini. Kita, yang adalah domba, yang telah dikuduskan dari dosa, diperhadapkan kembali kepada dunia fana ini, yang sarat dengan cobaan, godaan, hawa nafsu, dan segala kejahatan lainnya.

Banyak orang juga lupa, bahwa yang mengutus kita, sang domba, adalah Tuhan Yesus sendiri, Allah yang hidup, sang Gembala yang baik. Sang Gembala mengutus Domba ke tengah kawanan serigala, tentunya bukan untuk mati konyol diterkam serigala. Lalu bagaimana? untuk itulah kita perlu perhatikan pepatah yang terkenal itu: hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Ular, adalah hewan melata yang tak berkaki dan tak punya sayap. kelihatannya lemah. salah satu sifat ular yang jarang orang ketahui adalah: karena kondisi tubuhnya, ular biasanya cenderung untuk menjauh dari bahaya yang mengancam. Ular tahu tempat2 aman yang jauh dari gangguan musuh.

Merpati, adalah burung yang pada umumnya hafal jalan pulang ke tempat asalnya. Walaupun ia dilepas di tempat yang jauh, ia sanggup untuk kembali ke rumah tempat ia dibesarkan.

Apakah artinya, cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati? Dalam konteks Yesus sebagai Gembala, mengutus kita sebagai domba ke tengah serigala, pahamilah:

  1. Domba tidak diutus sendirian, tetapi berjalan bersama Gembalanya.
  2. Ketika kawanan serigala datang mengancam, kita sebagai domba harus cerdik seperti ular, yaitu berlindung pada Sang Gembala. lawanlah kejahatan dengan kebaikan. kita tidak boleh membalas kejahatan, melainkan datang kepada Yesus, mengasihi sesama dan mengampuni musuh. Datanglah kepada Tuhan dengan ketulusan seperti merpati, yang tahu jalan kembali kepada tempat asalnya, dalam hal ini adalah Yesus, Yang Empunya Kerajaan Sorga. Kita datang kepada Yesus bukan dengan hati sombong, angkuh, atau pun tidak percaya, melainkan dengan menaruh percaya sepenuhnya kepadaNya, bahwa hanya Dialah yang sanggup melindungi kita dari segala kejahatan.

Semoga renungan ini dapat membangun kita semua.

Tuhan Yesus memberkati.

Cerita Kepiting

Oleh: Ev. Sudiana

Kita semua pasti tahu wujud dari binatang kepiting. Namun, tidak banyak orang tahu sifat kepiting. Di Filipina, masyarakat pedesaan gemar sekali menangkap dan memakan kepiting sawah. Kepiting itu ukurannya kecil, tapi rasanya cukup lezat. Kepiting-kepiting itu dengan mudah ditangkap di malam hari, lalu dimasukkan ke dalam baskom tanpa diikat. Keesokan harinya, kepiting-kepiting itu akan direbus, dimasak, lalu disantap untuk lauk selama beberapa hari. Yang paling menarik dari kebiasaan ini adalah, kepiting-kepiting itu selalu berusaha keluar dari baskom sekuat tenaga dengan menggunakan capit-capitnya yang kuat. Tapi seorang penangkap kepiting yang berpengalaman selalu tenang meskipun hasil buruannya selalu berusaha melosokan diri. Si pemburu tahu betul sifat si kepiting. Bila ada kepiting yang hampir meloloskan diri keluar dari baskom, teman-temannya pasti akan menariknya lagi kembali ke dasar. Jika ada lagi yg naik dengan cepat ke mulut baskom, lagi-lagi temannya akan menariknya turun dan begitu seterusnya sampai akhirnya tidak ada yg berhasil keluar.

Begitu pula dalam kehidupan, tanpa sadar, di sekitar kita juga ada orang-orang seperti kepiting-kepiting itu.

Seharusnya bergembira jika ada teman atau saudara kita mengalami kasih Tuhan dan mau bertobat, tapi malahan menarik-narik kembali ke lumpur dosa. Atau jika ada teman yang diberkati, tapi malah mencurigai, atau iri dengki, tidak disukai.

Jangan sampai kita memunyai ciri-ciri orang yang bersifat kepiting:

1. Selalu menilai negatif setiap tindakan yang dilakukan orang di sekitar kita.

2. Lebih suka mengkritik, mencela, dan meremehkan orang lain daripada berusaha untuk bertobat atau berusaha menjadi orang yang sukses.

3. Kurang mawas diri dan kurang bersyukur, sehingga hati selalu gelisah, hidup menjadi tidak tenang.

"Orang yang hebat bukanlah orang yang pandai menjatuhkan orang lain, melainkan orang yang pandai mengendalikan dirinya".

Situs penulis: http://www.menatarohani.blogspot.com/

Dalam Kelemahan, Aku Kuat

Oleh: Margareth Linandi

Ketika kita melihat orang sakit keras, apa pandangan kita? Mungkin ada pandangan positif atau ada juga pandangan negatif mengapa orang bisa mengalami sakit keras.

Adapun pandangan negatifnya:

1. Orang itu sakit karena dosanya. Karena selama hidupnya berbuat jahat, makanya dia sakit.

2. Orang itu sakit karena dia tidak bisa menjaga diri. Dia selalu tidur pagi dan tidak pernah makan yang bergizi, tidak pernah makan buah dan lain sebagainya.

3. Orang itu sakit karena banyak menyimpan akar pahit atau kebencian terhadap seseorang.

Adapun pandangan positifnya:

1. Allah punya rencana indah buat hidupnya (Roma 8:28).

2. Penyakit itu diberikan supaya orang dapat melihat kemuliaan Tuhan lewat itu semua.

3. Penyakit itu diberikan sebagai ujian untuk bertumbuh imannya pada Tuhan.

Apapun pandangan orang baik positif atau negatif, mari kita lihat jawaban Alkitab tentang orang yang sakit keras dan tidak disembuhkan, bukan berarti Tuhan jahat tapi Tuhan punya rencana untuk orang tersebut.

Siapa yang tidak mengenal tokoh-tokoh ini, mereka sakit tetapi Tuhan tidak memberi kesembuhan full kepada mereka karena Tuhan ada sesuatu rencana untuk mereka.

1. Fanny Crosby, penulis lagu-lagu hymn, bagaimana keadaannya saat menulis lagu-lagu itu -- salah satu lagu yang terkenal adalah Amazing Grace? Fanny Crosby adalah seorang wanita Kristen yang tangguh, betapa tidak, pada awal kelahirannya Fanny lahir dengan keadaan sehat, tidak buta, dan tidak cacat. Tapi apa yang terjadi kemudian, Fanny sakit demam dan dokter memberikan obat yang salah padanya sehingga mengakibatkan kebutaan pada matanya. Apakah Fanny beranggapan Tuhan jahat? Tidak, justru Tuhan baik dan sayang padanya, makanya dia bisa menuliskan lagu ini. Di tengah kelemahannya Fanny menyatakan kemuliaan Allah.

2. Nick Vuljnick, dia adalah seorang motivator yang sangat luar biasa. Siapa dia? Nick adalah seorang anak yang lahir dari keluarga Kristen. Saat lahir, sang ibu harus mengalami kesakithatian yang sangat dalam karena menyadari bahwa anaknya cacat.

Nick lahir dengan kedua tangan buntung, dan kakinya pendek sebelah. Secara manusia, Nick merasa sangat sedih, tapi apakah Nick menyalahkan Tuhan? Tidak, dia bisa menerima kenyataan walaupun dia cacat dan kecacatannya dipakai oleh Tuhan, untuk menjadikannya mandiri dan dipakai Tuhan untuk memberkati banyak orang melalui kesaksiannya.

3. Ralph Tan, seorang Singapura. Dia adalah seorang yang sehat, dia menikah dengan Alice, di Hongkong. Setelah umur pernikahannya yang baru seumur jagung, Ralph harus mendapat vonis di mana dia menderita kanker telinga, dan tidak ada kesembuhan. Makin menjalani pengobatan, kondisi Ralph makin menyedihkan. Dia tidak bisa makan, minum, dan semuanya sakit, akan tetapi Tuhan memakai kesakitannya untuk menjadi kemuliaan Tuhan. Dalam keadaan seperti itu, Ralph tidak menyalahkan Tuhan dan justru ia masih sempat memberitakan Injil kepada keluarganya. Walaupun pada akhirnya, Ralph mati karena penyakitnya, tapi nama Tuhan dimuliakan.

Dari begitu banyak contoh-contoh yang penulis kemukakan, mereka adalah orang yang mengalami keterbatasan fisik, tapi justru dalam hal itu Tuhan memakai untuk menjadi alat kemuliaan-Nya.

Siapa yang tidak mengenal Paulus? Paulus (nama awalnya adalah Saulus) awalnya adalah seorang murid dari guru besar Gamaliel dan ia adalah seorang penganiaya murid Kristus. Pada satu kali Saulus ditangkap oleh Tuhan di Ddamsyik dan apa yang terjadi? Ada suara dari langit mengatakan, "Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?" dan cahaya begitu hebat sampai Saulus mengalami kebutaan selama 3 hari. (Kis.9:1-9).

Setelah itu Saulus bertobat dan menjadi anak Tuhan. Sejak saat itu Saulus mengganti namanya dengan Paulus. Setelah ditangkap oleh Tuhan, Paulus (nama pertobatannya) mengalami perubahan yang luar biasa. Dia menjadi pekerja Tuhan memberitakan Injil.

Dalam pelayanannya sebagai pemberita Injil, Paulus banyak kali mengalami kesusahan dan penderitaan. Dia juga pernah mengalami karam kapal, dipenjara, dan lainnya hanya karena memberitakan Injil Kristus, bahkan dia sempat mengalami "duri dalam daging". Alkitab mencatat duri dalam daging dalam 2 Kor. 12 adalah utusan Iblis yang mengecohnya, dia meminta Tuhan agar utusan Iblis itu mundur tetapi jawaban Tuhan sangat menyedihkan. Mengapa? Karena dikatakan, "Cukuplah kasih karuniaKu bagimu…" tapi kalimat itu tidak sampai di situ, dilanjutkan dalam ayat 9b "justru dalam kelemahanlah kuasaku menjadi sempurna."

Paulus memohon kepada Tuhan supaya Tuhan mencabut duri dalam dagingnya, tapi Tuhan tidak mencabutnya, bukan karena Tuhan jahat akan tetapi justru dalam kelemahanlah, kuasa Tuhan menjadi sempurna. Dalam kelemahanlah, aku kuat karena Tuhan memampukan kita melewati semua itu.

Saat ini, apa duri dalam daging yang kita alami? Kesedihan? Sakit? Susah? Jangan kuatir, ingat mungkin Tuhan tidak menyembuhkan kita sampai saat ini, bukan karna Tuhan jahat melainkan ada rencana Tuhan yang ingin Tuhan tunjukkan kepada kita. Dan justru dalam kelemahan itulah kita menjadi kuat karena Tuhan menopang kita. Amin.

Dari Ulat Menjadi Kupu-Kupu

Oleh: Sunanto

Rom 12:2 “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.“

Sebagai seorang pecinta keindahan, saya sangat menyukai kupu-kupu sebab serangga ini mempunyai sayap yang sangat indah. Selain itu setiap kupu-kupu memiliki corak dan warna yang berbeda sehingga sulit menemukan kupu-kupu yang sama persis. Namun kupu-kupu yang indah tersebut sebenarnya berasal dari ulat kepompong yang mana sama sekali tidak menarik untuk dipandang bahkan bagi beberapa orang agak menjijikkan. Untuk menjadi kupu-kupu yang indah dan dapat terbang, ulat kepompong harus mengalami sebuah perubahan (transformasi) yang disebut juga proses metamorfosis.

Kata berubahlah pada ayat diatas berasal dari kata ‘metamorphoo’ yang artinya diubah, ditrasformasikan atau berubah bentuk. Oleh karena itu proses perubahan (transformasi) yang kita alami dapat digambarkan seperti proses yang dialami oleh ulat kepompong yang berubah menjadi kupu-kupu.

Satu waktu ada seseorang menemukan ulat kepompong di sebuah pohon yang ada dipekarangan rumahnya. Karena tidak dapat terbang akhirnya sang kupu-kupu tersebut menjadi mati. Orang yang berniat untuk membantu sang kupu-kupu malah tanpa disengaja telah membuat kupu-kupu tersebut mati muda.

Proses perubahan (transformasi) dalam kerohanian kita menuntut penderitaan dan perjuangan sebab itu merupakan peraturan Allah. Kunci kemenangan Yesus adalah penyerahan hidupNya yang total kepada Bapa. Jika kita ingin mengalami kemenangan dalam setiap ujian dan tantangan yang melanda hidup kita maka kita juga harus berani menyerahkan hidup kita sepenuhNya kepada kehendak Allah. Semakin cepat kita menyerah semakin cepat kemenangan itu dapat kita raih.

Beberapa tahun belakangan ini kata transformasi menjadi kata yangsangat populer di kalangan kristiani Indonesia. Saya agak terkejut ketika beberapa waktu yang lalu seseorang bertanya kepada saya kapankah akan terjadi transformasi di Indonesia sebab sudah doa begitu lama kok sepertinya tidak terjadi apa-apa. Saya percaya bahwa Tuhan ingin mentransformasi bangsa ini tetapi saya percaya hal itu hanya akan terjadi bila sudah cukup banyak jumlah orang Kristen di Indonesia yang sudah ditransformasikan hidupnya. Akan tetapi, hal itu tidak akan terjadi jika kita sebagai gereja tidak terlebih dahulu mengalami transformasi tersebut. Saya percaya, hari-hari ini Roh Kudus sedang bekerja di setiap denominasi gereja yang ada di negeri ini untuk mencari orang-orang yang bersedia Dia pakai untuk mengubah negeri ini. Dengan mata iman, saya telah melihat datangnya sebuah pasukan besar dari berbagai denominasi gereja yang akan dipakai oleh Tuhan untuk mengubah dan membawa negeri masuk ke dalam tujuannya. Semoga anda termasuk salah satu anggota pasukan yang dipilih oleh Allah tersebut !

Di Sebuah Toko Serba Ada

Oleh: Puji R.

Di sebuah kota yang tidak terlalu ramai terdapat Toko Serba Ada yang dikelola oleh seorang yang dermawan. Kali ini ia mengadakan sebuah sayembara. Sayembara ini menyediakan berbagai hadiah menarik dengan hadiah utama sebuah sepeda motor. Syaratnya mudah, namun penuh rahasia, karena Ia hanya menuliskan, "Belanjalah di toko kami dan dapatkan hadiahnya."

Sampai pada batas hari yang telah ditentukan, pengunjung toko tersebut masih tetap ramai, namun tak satu pun pengunjung yang mengetahui rencana Sang Pemilik Toko untuk menentukan siapa yang berhak mendapatkan hadiahnya.

Pada hari terakhir nampaklah antrean yang cukup panjang di kasir. Terlihat seorang gadis sedang menunggu untuk membayar belanjaannya, namun hal yang tidak menyenangkan terjadi pada gadis itu. Pada waktu ia hendak melangkah maju ke depan kasir, tiba-tiba seorang gadis kecil ditemani ayahnya menyerobot antreannya, pantas saja kalau si gadis ini geram sekali dan mulai berkata, "Pak, antre donk, yang lain juga antre." Tetapi bapak dari gadis itu menjawab dengan nada yang sedikit keras, "Kenapa Mbak?" sambil bertolak pinggang, lanjutnya, "dia anak kecil dan lagi belanjaannya cuma satu barang!", Begitu katanya, sambil terus bertolak pinggang. Gadis itu terdiam dengan muka yang sangat kesal (dia terdiam karena tidak mau ada keributan). Kemudian Ibu si gadis itu mencoba untuk menenangkan anaknya dengan berkata, "Udah biar aja, toh ga juga terlalu lama. (mungkin Ibunya bisa saja mempermasalahkan persoalan itu.) Diantrean belakang ada seorang ibu nyeletuk, "Gimana negara ini mau maju, orang anak kecil aja sudah di ajar untuk mengambil hak orang lain."

Tanpa disadari oleh seluruh pengunjung dan pegawai toko itu, ternyata Sang Pemilik Toko telah memasang kamera model CCTV untuk merekam seluruh kejadian yang terjadi dari hari ke hari termasuk kejadian tersebut.

Hari berikutnya tibalah saatnya Sang Pemilik mengumumkan sipa yang berhak menerima hadiah utama itu, dan ternyata hadiah itu jatuh pada gadis yang diserobot anak kecil itu. Rupanya untuk menentukan pemenangnya, Sang Pemilik menentukannya dengan memakai urutan antrean bayar di kasir, urutannya dikaitkan dengan ulang tahun Sang Pemilik yang pada hari itu berusia 70 tahun, jadi Gadis itu ada pada urutan antrean yang ke-70.

Alkisah kasir yang melayani hari itu dipecat, kenapa??? Karena dari rekaman CCTV itu nampak bahwa si kasir tetap melayani orang yang nyerobot dari belakang, bukannya menegurnya.

Bapak dan Ibu, kita pernah juga melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak harus kita lakukan atau melegalkan cara-cara tertentu untuk mendapatkan sesuatu, padahal cara-cara itu dilarang. Memang sepintas cara-cara ilegal itu nampak bisa menyelesaikan masalah, namun sebenarnya mengundang masalah bahkan menambah masalah yang dapat merugikan kita di kemudian hari. Jadi tetaplah lakukan sesuatu sesuai dengan prosedurnya.

Diusir

Diusir kalau dalam terminologi yang kita pikirkan memang bukan sesuatu hal yang menyenangkan. Namun diusir dalam cerita ini merupakan sesuatu hal yang menyenangkan. Adam dan Hawa diusir dari taman eden bukan karena berbuat dosa melainkan memang dia diciptakan untuk cultivate (menatalayani) bumi. Mereka tidak boleh berlama-lama di tempat training centrenya (di taman eden) melainkan harus keluar dari taman itu dan mulai berkarya di luar eden. Pengusiran yang menyenangkan. Ketika Tuhan Yesus disalib, Maria dan Yohanes berdiri di bawah salib melihat Dia. Seorang ibu yang pernah melahirkan anaknya yang sekarang tergantung di kayu salib, pasti lah sedih dan ingin berlama-lama di situ. Anak yang dulu dia lahirkan di kandang domba, dia besarkan, dia beri makan, dan bercanda dengan anak itu (di film passion of the Christ ada sedikit digambarkan adegan mereka berbincang-bincang tentang meja, tapi begitulah sedikit penggambarannya), bagaimana perasaan si ibu melihat anaknya sekarang begini, pasti sedih luar biasa.

Tapi apa kata Tuhan Yesus? "Ibu, ini anakmu. Anak, ini ibumu". Maria pulang ke rumah Yohanes, Yohanes mengurus Maria. Pulanglah kalian, begitu lah kira-kira maksudnya. Ini beban ku, bukan beban kalian. beban kalian adalah melanjutkan tugas yang telah kuperintah kan. Diusir...

Matius 28: 18-20, murid-murid disuruh pergilah dan beritakan Injil kepada seluruh makhluk. Diusir...

Setiap hari minggu, jemaat di seluruh gereja diusir ketika habis kebaktian. Pulanglah, dan terimalah berkat Tuhan! Ada berkat Tuhan ketika kita diusir.

Kita diusir tapi ada penyertaan Tuhan. Ketahuilah Aku menyertai mu sampai akhir jaman. Kita diusir untuk melakukan kehendak Tuhan. Jangan berlama-lama, taat dan setia melakukan kehendak Tuhan. Mari kawan-kawan kita bekerja lebih giat lagi. Ada Tuhan menyertai kita. Immanuel.

Doa Mengubah Segala Sesuatu

Oleh: Margareth Linandi

Setiap orang di dunia pasti menginginkan adanya mujizat yang datang dari atas. Banyak contoh misalnya orang yang sakit keras dan hampir tidak bisa disembuhkan (sudah mencapai kanker stadium lanjut) selalu mengharapkan mujizat terjadi, di lain sisi, seseorang yang kondisi ekonominya hampir bangkrut berharap ada mujizat dari Tuhan dan ekonomi kembali pulih. Seseorang yang keluarganya broken home juga menginginkan adanya mujizat yang nyata dalam kehidupan keluarga.

Apakah mujizat masih terjadi? Kalau kita melihat banyak tokoh gereja yang juga mengalami mujizat; contoh: Abraham. Abraham adalah pahlawan iman yang mengalami mujizat dari Tuhan buktinya adalah Sara yang umurnya telah tua dan mandul, tetapi bagi Tuhan tidak ada yang mustahil bagi Tuhan dan mujizat terjadi; di mana waktu Sara umur 90 tahun, ia dapat hamil. Ini menunjukkan mujizat masih nyata (Kejadian). Bukan hanya itu saja, kita juga melihat contoh tokoh lain yang mengalami mujizat yaitu Hana. Hana adalah ibu Samuel; seorang wanita yang dimadu oleh suaminya dan istri keduanya selalu mengolok-olok dan mengatakan mandul pada Hana, ia sangat sedih tapi ia percaya mujizat masih terjadi, dia berdoa dengan sungguh-sungguh dan hasilnya ia mendapat anak dan menepati janjinya untuk memberikan anaknya pada Tuhan.(1 Samuel 1) Di samping itu banyak tokoh-tokoh Alkitab lainnya yang mengalami mujizat diantaranya Rahel, Ribka, dan lainnya.

Bicara tentang mujizat, mujizat adalah campur tangan Tuhan dan jawaban yang indah dari doa yang kita naikkan. Yakobus 5:16 berkata” Doa orang benar bila didoakan akan sangat besar kuasanya…” Ini adalah satu janji dari Tuhan, apabila kita berdoa dengan sungguh kepada Tuhan maka mujizat akan terjadi, pemulihan akan terjadi.

Akan tetapi mujizat tidak selalu diartikan kesembuhan atau kesuksesan, mujizat adalah jawaban Tuhan yang terindah yang Tuhan berikan walau tidak sesuai dengan harapan kita. Tidak semua doa kita dijawab sesuai keinginan kita, akan tetapi doa orang benar bila didoakan akan sangat besar kuasanya.

Ada kalanya kita tidak mendapat jawaban doa dikarenakan ada beberapa faktor:

1. Ada kebencian atau dendam dalam hati kita pada orang lain.

Kalau kita berdoa, meminta sesuatu tapi masih ada dendam maka tentulah Tuhan tidak akan menjawab karena Tuhan tidak mau kita ada menyimpan sesuatu yang buruk pada orang lain.

2. Karena kita masih ragu akan pertolongan Tuhan dan kuasa Tuhan.

Sering kali kita berpikir apa iya Tuhan bisa menyelesaikan masalah kita... sedang masalah kita berat dan sepertinya Tuhan tidak mampu menyelesaikan masalah kita sehingga yang muncul adalah doa kita tidak dijawab oleh Tuhan... Dalam Injil, dikatakan jika kita punya iman sebesar biji sesawi saja kita bisa memindahkan gunung…. Maksud dari kalimat ini adalah kalau kita mau berdoa, doakan dengan penuh iman dan keyakinan, walaupun itu berat percayalah bahwa Tuhan akan menyelesaikan untuk kita dan mujizat pasti terjadi.

3. Kita tidak menyerahkan beban kita pada Tuhan.

Matius 11:28 mengatakan ”Marilah kepadaku, hai kamu yang letih lesu dan berbeban berat Aku akan memberi kelegaan kepadamu” Ketika masalah berat, datanglah pada Tuhan serahkan semua pergumulan kita pada Tuhan dan Tuhan akan menjawab doa kita.

Doa dapat mengubah segala sesuatu dan mujizat pasti terjadi jika kita selalu bersandar pada Tuhan dan berserah pada-Nya, jangan pernah ragu dan yakinlah mujizat akan terjadi dan itu akan terjadi.

Segala kemuliaan bagi Allah. Amin.

Dosa dan Masalah

Oleh: Yon Maryono

Pada saat kita berfikir tentang istilah pekerja maka tidak terlepas dari definisi orang yang melakukan pekerjaan untuk memperoleh penghasilan, dapat berupa gaji atau materi baik materi, uang maupun non materi. Tetapi bila istilah pekerja itu dikaitkan dengan PSK atau pekerja Seks Komersial, anda akan termenung benarkah istilah pekerja itu sama dengan definisi yang kita harapkan? Mengapa perbuatan percabulan atau perzinahan dikatagorikan pekerjaan sebagaimana profesi lainnya? Hal ini menunjukan bahwa tindak pelanggaran asusila yang merupakan perbuatan dosa dikemas menjadi pelanggaran yang merupakan masalah sosial.

Memaknai Dosa

Mencoba memahami pengertian dosa didasarkan Alkitab, maka segala pengertian dosa harus berlatar belakang pelanggaran manusia terhadap hukum Allah (1 Yohanes 3:4). Dosa adalah kegagalan, kekeliruan atau kesalahan, kejahatan, pelanggaran, tidak menaati hukum, kelaliman atau ketidak adilan dengan ciri utama dalam segala seginya tertuju kepada Allah (Ensiklopedi Alkitab Masa Kini I, hal. 257). Definisi tersebut menunjukan bahwa lingkup dosa tidak hanya berupa tindakan misalnya pembunuhan, itu pasti! Ajaran kesepuluh hukum Allah jelas, dan semua orang mengatakan kejahatan, tetapi Alkitab mengatakan lebih dari itu: Markus 7: 21-22 diuraikan: Dosa timbul dari hati dan pikiran; sebab dari dalam, dari hati orang timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan (Mark 7:21-22 bdn Gal 5:19-21)

Dengan demikian, dosa adalah ketidaktaatan yang disengaja kepada Allah. Ketaatan itu dapat berupa suatu perbuatan, jalan pikiran, keinginan yang tidak hanya mendukakan Allah tetapi juga menyakiti sesama dan diri sendiri, bahkan dapat merusak kesejahteraan seluruh komunitas atau jemaat.

Akibat dosa

Sebenarnya, apa yang seharusnya dirasakan manusia bila melakukan perbuatan dosa atau melanggar perintah Tuhan!

Pertama: Manusia bersembunyi dan gentar berhaapan dengan Allah. Manusia yang bernama Adam bersembunyi dari hadapan Allah, malu dan ketakutan. (Kej 3:8). Manusia gentar berjumpa dengan Allah, Sebab barang siapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuaannya yang jahat itu tidak tampak (Yoh 3:20). Manusia yang berdosa cenderung mengabaikan kebenaran Firman Tuhan, ia menyembunyikan dosanya dalam kegelapan.

Kedua: Sikap menyalahkan Allah. Lihatlah sikap Adam: “Perempuan yang Kau tempatkan di sisiku” penyebab dosa! (Kej 3:12). Seolah karena dia diberikan pendamping menjadi penyebab semuanya itu. Dosa ditutup dosa yang justru menjerumuskan manusia ke tempat lebih gelap sehingga menjauhkan dirinya dengan Allah. Karena itu, setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia (1 Yohanes 3:6).

Ketiga: Allah menyembunyikan wajah-Nya. Akhirnya, sikap Allah sangat jelas: Aku telah menyembunyikan wajah-KU oleh karena kejaharan mereka. (Yer 33:5). Makna menyembuyikan wajahKu secara kiasan berkaitan dengan ketidak hadiran Allah dihadapan manusia. Apa akibatnya bila kita kehilangan wajah Tuhan atau Tuhan tidak bersama kita? Indra Tuhan tidak berpihak pada kita, mata Tuhan yang menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatanNya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia tidak terjadi oleh karena mereka berlaku bodoh. (1 Taw 16:9).

Keempat : Manusia akan mengalami konflik hubungan antar sesama dan dalam diri sendiri. Hubungan yang harmonis antar sesama menjadi rusak, manusia yang hidup dalam kegelapan kehilangan persekutuan dengan sesama.

Kompromi dan Kemunafikan

Setelah mengetahui dosa dan akibatnya, mengapa kita kurang waspada, tetap melihat dosa sebagai masalah bukan dosa adalah dosa. Mungkin banyak sebab yang normatif, antara lain belum mengerti dan paham firman Tuhan, belum hidup baru, kurang intim dalam doa kepada Tuhan, dan lain-lain. Yang ingin saya katakan bahwa ada orang setiap setiap hari baca Alkitab dan berdoa, dosen atau pendeta yang setiap hari mengajar teologi, mereka jatuh.

Oleh karena itu, diidentifikasi persoalan besarnya antara lain :
Pertama, kompromi. Ya, kompromi terhadap dosa. Seperti contoh PSK di atas. Percabulan adalah hubungan mesum biasanya dianggap sama dengan perzinahan. Zinah dalam bahasa Yunani Porneia mulanya berarti hubungan seks sebelum kawin, tetapi kemudian mempunyai arti yang lebih luas yakni hubungan seks yang tidak wajar. Tetapi bila kita baca Matius 5:28 Tuhan berkata : setiap orang yang memandang perempuan dan menginginkannya, sudah berzinah dengan dia didalam hatinya. Di ayat ini “keinginan” sama sifatnya dengan perbuatan. Padahal siksaan atas perbuatan percabulan telah digambarkan dalam Yudas 1:7 seperti Sodom dan Gomora dan kota-kota sekitarnya, yang dengan cara yang sama melakukan percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar, telah menanggung siksaan api kekal sebagai peringatan kepada semua orang. Dengan demikian, apabila dosa perzinahan dikompromikan dengan masalah sosial yang sudah merata, dan dianggap kesusilaan itu tidak perlu dipersoalkan bagaikan kebutuhan minuman dan makanan, maka kompromi ini telah menganggap Firman Tuhan tidak sebagai hukum atau perintah tetapi sebagai nasehat yang boleh dilakukan atau tidak dilakukan tergantung situasi dan kondisi. Mungkin lebih tepat bila dikatakan bahwa kompromi tersebut mengarah Dosa ditutup dengan dosa.

Kedua, Kemunafikan, termasuk keserakahan dan kesombongan. Kata Yunani Hupokrites berarti seorang pemain drama, buta terhadap kesalahan mereka (Mat 7:5), hanya Kristus satu-satunya yang dapat membaca isi hati sesungguhnya, yang dapat menghakimi mereka sebagai munafik. (Mat. 23:27-28). Cobalah kita renungkan setiap ketidak harmonisan hubungan kita dengan saudara, rekan atau kolega. Hal itu mungkin terjadi disebabkan karena kemunafikan, keserakahan dan kesombongan, akibatnya kita sudah kehilangan kasih terhadap sesama. Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi sesama (bukan hanya orang Kristen) seperti Aku mengasihi kamu (Yohanes 13). Ya, hukum kasih yang setiap minggu diucapkan dalam kebaktian di gereja itu adalah perintah bukan nasehat, tetapi orang banyak menabraknya.

Mungkin kita banyak menemukan dalam kehidupan sehari-hari bahkan kehidupan bergereja terjadi pengemasan serupa dalam lain konteks. Kita sudah kehilangan hikmat untuk membedakan antara dosa dan masalah, sehingga kecenderungan penyelesaiannya didasarkan latar belakang masalahnya dan pendekatannya dapat kearah manajemen konflik, ekonomi, psikologi atau disiplin ilmu lainnya dengan mengabaikan firman Tuhan, aspek spiritual, sebagai perintah dalam kehidupan.

Gembala-Gembala di Padang

Oleh: Yosi Rorimpandei

“Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.”

Cerita mengenai para gembala di padang menjadi salah satu peristiwa yang selalu mewarnai perayaan Natal di berbagai gereja. Lukas memang menyajikan cerita ini dengan sangat baik. Namun, harus kita ingat bahwa Lukas tidak pernah menuliskan suatu cerita yang lepas dari tujuan penulisan kitabnya.

Cerita ini, di samping memberi kita data tambahan untuk kelengkapan historis, khususnya mengenai kapan Yesus lahir, juga menambah narasi doksologi dengan kelahiran Sang Juruselamat. Lukas, tanpa kehilangan karakteristiknya, berusaha menggambarkan bagaimana Allah menyapa realitas sosial yang sebelumnya tidak disapa lagi oleh agama, khususnya orang-orang yang merasa beragama.

Dalam narasi ini, Lukas menampilkan bagaimana para gembala yang selama ini menggembalakan hewan-hewan kurban, kini menerima kabar gembira atas lahirnya Gembala Agung, sekaligus Kurban Suci itu sendiri. Di Daerah Itu...

“En te khora te aute” bisa juga diartikan “di daerah atau wilayah yang sama”, yaitu di daerah atau wilayah Yudea, di sekitar Betlehem (Luk. 2:4). Betlehem disebut “Kota Daud”, sebab Daud berasal dari sana (1Sam. 17:12). Dalam Bahasa Ibrani, kata “Betlehem” (Beth Lekhem) berarti “Rumah Roti” dan merupakan salah satu kota tua di Palestina.

Meskipun Daud berasal dari Betlehem dan sangat mengasihi kota itu (2Sam. 23:15), namun Daud tidak melakukan apa-apa terhadap kota itu. Betlehem sendiri termasuk kota yang tidak begitu diperhitungkan di kalangan umat Yahudi pada zaman Perjanjian Lama. Meski demikian, Nabi Mikha menubuatkan kelahiran Mesias dari kota kecil itu (Mi. 5:2).

Betlehem adalah kota yang subur. Di sana terdapat padang rumput, sehingga memungkinkan para gembala untuk menggembalakan ternak mereka. Di sana juga terdapat padang Yaar (Mzm. 132:6) yang kaya akan pepohonan, serta menara Edar (Migdal-Edar) sebagai bukti bahwa di sana merupakan tempat yang baik untuk menggembalakan ternak (Kej. 35:21). Di kota inilah Daud menggembalakan domba ayahnya (1Sam. 17:15).

Gembala-gembala di Padang...

Di dalam Mishna disebutkan bahwa domba-domba dari Betlehem diperuntukkan sebagai kurban dalam ibadah-ibadah di Bait Allah. Karena itu, para gembala (poimenes) yang menjaga kawanan domba di sana bukanlah gembala biasa. Mereka bukanlah gembala-gembala yang dianggap sebagai masyarakat kelas dua dalam struktur sosial Yahudi pada waktu itu. Mereka adalah gembala-gembala yang dihormati.

Memang dalam tradisi Yahudi kemudian, mereka termasuk dalam kelompok yang disingkirkan dalam tradisi keagamaan Yahudi oleh para Rabbi. Mereka disingkirkan lantaran sikap mereka yang cenderung mengasingkan diri dari peraturan-peraturan agama.

Beberapa seniman sering menggambarkan gembala-gembala itu di tengah padang di malam hari hanya dilindungi dengan pakaian mereka. Namun, dalam masyarakat Yudea pada waktu itu, biasanya gembala-gembala tinggal di kemah-kemah atau pondok-pondok selama mereka menjaga kawanan domba. Sesekali mereka keluar untuk memastikan bahwa kawanan domba mereka dalam keadaan baik.

Dari Mishna yang sama dikatakan bahwa kawanan domba itu mulai berada di sana tiga puluh hari sebelum Paskah Yahudi, yaitu pada bulan Adar menurut kalender Ibrani (sekitar bulan Maret dalam kelender Masehi). Pada waktu itu, Palestina mulai memasuki musim penghujan.

Pada bulan Kheshwan (sekitar bulan November), kawanan domba itu dibawa pulang dari padang. Artinya, para gembala dan kawanan domba itu berada di padang antara bulan Adar sampai Kheshwan atau sekitar bulan Maret sampai November. Clement dari Aleksandria mengatakan bahwa kelahiran Yesus (Natal) terjadi pada tanggal 21 April, sementara pendapat lain mengatakan 22 April. Ada juga yang mengatakan bahwa Natal seharusnya dirayakan pada 20 Mei.

Gereja Katolik, Protestan, dan beberapa Gereja Ortodoks merayakan Natal pada 25 Desember, sedangkan Gereja Ortodoks Koptik, Yerusalem, Rusia, Serbia, dan Georgia, merayakan Natal pada 7 Januari. Gereja Armenia justru lebih menekankan pada peristiwa Epifania (kedatangan orang majus) ketimbang Natal.

Banyak upaya untuk mempertahankan agar Natal tetap diperingati pada tanggal 25 Desember, termasuk oleh Hippolytus yang mendasarkan perhitungannya pada masa pemerintahan kaisar Augustus.

Namun, tanggal 25 Desember, dalam kalender Ibrani bertepatan dengan bulan Kislew dan Teveth dalam kelender Ibrani. Pada bulan ini, Palestina berada pada musim dingin. Tidak ada bukti historis yang mendukung bahwa para gembala tetap berada di padang pada musim dingin, apalagi di malam hari.

Adanya upaya di kalangan gereja tertentu untuk mencari tanggal yang lebih tepat untuk merayakan Natal dapat diterima sebagai suatu kewajaran. Namun, upaya-upaya itu pun hanya akan memunculkan kebingungan dan polemik yang tidak esensial. Pada kenyataannya, perhitungan kalender Masehi mengalami masalah sehingga mengharuskan ditambahkannya satu hari untuk bulan Februari setiap empat tahun (kabisat).

Setelah diperhitungkan kembali, para ahli akhirnya menyimpulkan bahwa Yesus lahir sebelum tahun Masehi. Dengan demikian, sia-sialah mencocok-cocokkan kalender Masehi dengan tanggal kelahiran Yesus yang sebenarnya. Masalah yang sama terjadi dalam penanggalan Ibrani.

Kelender Ibrani berdasar pada tiga fenomena astronomi: rotasi bumi (sehari), revolusi bulan atas bumi (sebulan), dan revolusi bumi atas matahari (setahun). Ketiganya tidak saling berhubungan. Rata-rata bulan berputar mengitari bumi dalam 29½ hari, sedangkan bumi mengitari matahari sekitar 365¼ hari atau 12,4 bulan lunar. Karenanya, untuk mendapatkan jumlah yang tepat, maka jumlah hari dalam sebulan kalender Ibrani adalah 29 atau 30 hari sesuai perputaran bulan, sedangkan jumlah bulan dalam setahun kalender Ibrani adalah 12 atau 13 bulan sesuai perputaran matahari, dimana tahun dengan jumlah bulan 13, disebut Shana Me’ubereth (Tahun Hamil) atau kabisat dalam istilah Indonesia.

Masalah utama dalam kalender Ibrani adalah perhitungan 12,4 bulan dalam satu tahun matahari. Artinya, jika setahun dihitung 12 bulan, kalender mengalami kekurangan sekitar 11 hari setiap tahunnya, sedangkan jika dihitung 13 bulan, maka kalender akan mengalami kelebihan 19 hari dalam setahun. Akibatnya, bulan yang seharusnya jatuh pada musim semi, karena kesalahan perhitungan dapat jatuh pada musim dingin.

Menghadapi problem ini, pada zaman dahulu, Sanhedrin menetapkan bahwa Paskah Yahudi jatuh pada musim semi. Artinya, jika dalam setahun, Paskah tidak jatuh pada musim semi, maka Sanhedrin akan menambahkan satu bulan dalam setahun. Model perhitungan ini bertahan sampai abad keempat masehi. Dengan demikian, kita tetap akan menemukan kesulitan melacak kelahiran Yesus berdasarkan kalender Ibrani.

Kalender Ibrani baru menemukan bentuknya yang tepat pada abad keempat, ketika Hillel II menetapkan kalender Ibrani berdasakan perhitungan matematika dan astronomi. Perhitungan Hillel II adalah dengan menambahkan bulan Adar menjadi dua, yaitu I Adar dan II Adar. Penambahan satu bulan dilakukan pada tahun ke-3, 6, 8, 11, 14, 17, dan 19 dalam satu putaran (19 tahun).

Pada Waktu Malam...

Yesus lahir pada waktu malam. Puncak karya penebusan pun terjadi pada waktu malam. Berdasarkan tradisi Yahudi, Mesias datang di tengah malam. Dengan demikian, narasi ini menggenapi setiap nubuatan dalam Perjanjian Lama, bahwa Mesias akan lahir di Betlehem Efrata, Kota Daud, di malam hari [oyr79].

Gempa di Nias

Yesus menjawab mereka: "Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea lain, karena mereka mengalami nasib itu? Tidak! KataKu kepadamu. Tetapi jika kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian." (Lukas 13:2-4) Salam damai sejahtera dalam Kristus, Saudara-saudari yang terkasih dalam Tuhan Yesus,

Kalau sehari sesudah hari Natal kita dikejutkan oleh badai tsunami yang telah meluluh lantakkan aceh dan sekitarnya, maka sehari sesudah hari Paskah (Kebangkitan Yesus Kristus) kita kembali dikejutkan. Kali ini Gempa berkekuatan 8.7 skala richter yang menggoncang pulau Nias dan pulau simeulue. Lalu mulai banyak spekulasi di kalangan Kristen yang beredar. Apa yang akan terjadi sehari setelah hari kenaikan Tuhan Yesus ke surga? Akankah pulau jawa dan benua australia tinggal separuh saja? nggak usah panik. tinggal tunggu aja tanggal mainnya.

Apapun bencana yang masih terjadi, siapapun yang terkena bencana, firman Tuhan tetap sama, tidak berobah, dahulu, sekarang, sampai selama-lamanya. Ayat yang saya kutipkan ala hamburger juga sama dengan tulisan saya mengenai tsunami. Orang manapun tidak lebih besar dosanya, sehingga mereka tertimpa musibah/bencana. Tetapi orang yang tidak mau bertobat, siap-siaplah untuk terima bencana.

Beberapa hari ini saya banyak merenung dan bertanya pada Yesus, kalau aceh terkena musibah, itu wajar aja. mereka kan nggak kenal Tuhan yang benar. mereka menolak Yesus sebagai Tuhan, dan Firman Tuhan katakan bahwa orang seperti itu sudah dibawah hukuman. Tetapi mengapa, orang nias yang kebanyakan kristen, juga ikut-ikutan tertimpa musibah? lewat berita kita bisa melihat, lebih dari 100 bangunan gereja roboh.

Alkitab mencatat bahwa ketika Yesus memasuki kota Yerusalem dengan naik keledai, semua orang memuji Dia. Hosana! Diberkatilah Raja yang datang dalam nama Tuhan! Tapi sehari kemudian, mereka pula yang berkata: Salibkan Dia! Salibkan Dia! Menjadi orang Kristen bukan jaminan bahwa orang itu mengakui Yesus sebagai satu-satunya Tuhan dan Juruselamat. Banyak dari kita (introspeksi diri sendiri yach) yang setelah menjadi Kristen, masih punya sesembahan dan jimat-jimat, masih terikat dengan tradisi dan adat istiadat suku yang sebenarnya diluar ajaran Yesus. Juga, setelah menjadi Kristen, cara hidup lama nggak berobah, masih tetap mencintai dosa.

Pertobatan bagi orang yang belum mengenal Yesus, cobalah untuk mengaca pada hukum Taurat. sudahkah kalian melakukannya? tidak bohong, tidak mencuri, tidak membunuh, tidak berzinah, hormati orang tua, jangan mengingini kepunyaan orang lain? kalau sadar bahwa kalian tidak bisa hidup secara demikian, artinya kalian adalah orang berdosa, dan orang berdosa tidak layak masuk sorga, karena sorga cuma untuk orang-orang yang kudus. Kalian butuh korban yang sempurna, yang darahNya mampu menyucikan kalian dari segala dosa.

Pertobatan bagi orang yang sudah percaya Yesus adalah taati perintahNya. Yesus adalah Tuhan (Lord), artinya kita adalah hambaNya. Yesus memerintahkan supaya kita dibabtis (ditenggelamkan) air, ya kita taat aja. Yesus minta kita mengasihi dan mengampuni orang lain. Just do it (bukan iklan lho). Yesus mengajarkan bahwa kita harus mengutamakan perintah Allah ketimbang adat istiadat manusia.

Luk 19:40 berkata: JawabNya: "Aku berkata kepadamu: Jika mereka ini diam, maka batu ini akan berteriak".

Ketika gempa terjadi, adakah orang yang berseru menyebut nama Tuhan? Yesus, Yesus, tolonglah aku! Adakah? atau hanya ketakutan dan lari kesana-kemari. Yah, kembali ke introspeksi diri. apa yang akan kita lakukan jika bencana itu datang kepada kita. Pesan Tuhan sudah jelas. Barangsiapa yang berseru menyebut nama Tuhan (Yesus) akan diselamatkan. Amien!

Tuhan Yesus memberkati.

"Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang yang diam di Yerusalem? Tidak! KataKu kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian." (Lukas 13:4-5)

Generasi yang Berbeda

Oleh: Sujud Prasetio

Di pemandangan orang bukan percaya, orang Kristen hampir tidak ada perbedaan yang begitu menonjol. Zaenal Mahmud Abidin naik motor ngebut jatuh babak belur kemudian masuk rumah sakit. Begitu juga dengan Yohanes Lukas Handianto naik motor, truk berhenti ditubruk babak belur juga, bahkan pingsan kemudian masuk rumah sakit juga. Kecuali ko Achong kecelakaan lima kali tidak apa-apa. Sebelum percaya makan nasi, ketika sudah percaya tetap makan nasi. Orang yang tidak mengenal Kristus pun bisa sukses. Agama pun begitu, hampir isinya tidak ada yang beda, setiap agama menyajikan yang baik, sebagian ajaran tentang kebaikan yang ada di Kristen juga ada di kepercayaan lain. Bahkan orang yang tidak beragama pun tahu berbuat baik, seperti yang diajarkan oleh orang beragama. Apalagi saudara, di televisi kita disajikan acara dari CBN Solusi maupun Obat Malam. Tayangan Kristen yang menceritakan kisah-kisah yang dialami orang percaya yang menerima mujizat Tuhan. tetapi ada juga tayangan dari agama lain yang juga berisi tentang orang-orang yang mengalami mujizat. Sekalipun kita tahu sumber mujizatnya berbeda. Toh yang penting kan menerima mujizat. Apa yang dirindukan tercapai. Tak peduli dari setan atau Tuhan. Seperti itulah gambaran iman orang-orang yang tidak mengenal Kristus.

Saudara kepercayaan lain mengajarkan tentang pertobatan, mereka juga mengajarkan tentang iman. Jadi soal pertobatan dan bahkan soal iman tidak hanya saudara dapatkan di dalam iman Kristen, tetapi agama lain kepercayaan lain juga mengajarkan hal yang sama. Orang harus bertobat, orang harus beriman. Lalu apa bedanya?

Kesempatan ini saya akan sampaikan tentang perbedaan orang percaya dan bukan percaya dari sisi teologis maupun dalam kehidupan praktis. Saya melihat banyak orang tidak menyadari berkat yang luar biasa yang Tuhan sudah berikan bagi kita yang menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat.

Lalu apa yang tidak diajarkan oleh kepercayaan lain? Ya ini, kelahiran baru, lahir baru. Kelahiran baru di dalam kekristenan itu penting. Orang bisa saja berkata aku sudah bertobat, bahkan lebih lagi orang bisa berkata aku orang yang beriman, aku sudah dibaptis. Tetapi Alkitab mengajarkan hanya melalui Kelahiran baru kita dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah, kelahiran baru adalah pintu masuk Kerajaan Allah, dengan kata lain tidak ada cara lain untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kecuali ia dilahirkan kembali.

BACA ALKITAB YOHANES 3:1-13

Yohanes 3:1-13 menceritakan pertemuan seorang pria anggota Sanhedrin datang kepada Tuhan Yesus. Pria tersebut adalah seorang guru Yahudi bernama Nikodemus. Nikodemus sendiri memanggil Yesus sebagai Guru. Dalam hal ini, ada Seorang Guru yang berasal dari Sorga dan seorang lagi seorang guru yang berasal dari Yahudi. Nikodemus mengakui Tuhan Yesus sebagai Guru yang diutus oleh Allah, sedangkan Nikodemus sendiri menyandang gelar guru karena belajar. Nikodemus kagum melihat tanda-tanda ajaib yang telah ditunjukkan Tuhan Yesus. Kepada Nikodemus, Tuhan Yesus menyatakan : "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." Guru Yahudi itu tidak mengerti dengan maksud pernyataan Tuhan Yesus tersebut. Pikirnya, mana mungkin seorang dilahirkan kembali kalau ia sudah tua. Dalam hal ini, Nikodemus menggunakan akal kekuatan pikirannya sendiri untuk memahami pernyataan yang telah dinyatakan oleh Tuhan Yesus. Selanjutnya Tuhan Yesus menambahkan, jika seseorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sekali lagi, Nikodemus bertambah bingung dengan pernyataan Tuhan Yesus, sebab segala sesuatu yang dipelajarinya selama ini tidak dapat mencerna pernyataan yang diungkapkan Tuhan Yesus kepadanya.

KENAPA HARUS LAHIR BARU?

Kepercayaan lain mengajarkan ketika orang lahir dari kandungan seorang ibu, ia adalah manusia suci, ia manusia tidak berdosa. Berbeda dengan ajaran kekristenan, setiap manusia telah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Artinya siapan pun itu termasuk bayi yang baru lahir, ia adalah manusia berdosa. Memang ia belum melakukan perbuatan dosa mungkin, tetapi jangan lupa ia juga adalah keturunan Adam dan Hawa, sekalipun bayi tidak melakukan tindakan yang mendatang dosa, tetapi jangan lupa bayi tersebut gennya adalah dari Adam yang berdosa. Untuk itulah Tuhan Yesus berkata "jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." (Yohanes 3:3). Manusia harus dilahirkan kembali oleh sebab manusia Adam dan Hawa telah jatuh ke dalam dosa, demikian juga keturunannya. Jadi apa yang dilahirkan oleh daging adalah daging. Jadi lahir baru bukanlah suatu pilihan malainkan suatu keharusan. Kelahiran kembali tidak dapat digantikan dengan perbuatan baik, dengan amal, dengan menjadi orang yang beragama, bahkan lahir baru tidak dapat digantikan dengan baptisan (lahir baru bukanlah baptisan). Rasul Paulus dalam Galatia 6:15 berkata: "Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya."

Kenapa mesti lahir baru? Karena kegagalan Agama. Perbuatan manusia tidak membawa orang kepada Kerajaan Allah.

Matius 23:14-15 Tuhan mengecam ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, Tuhan berkata celakalah kamu! Karena orang-orang Yahudi menobatkan orang untuk masuk agama Yahudi, kamu menjadikan dia ke neraka. Bahkan Yesaya berkata kesalehan kita seperti kain kotor di hadapan Tuhan (Yesaya 64:6). Ketika seseorang mencoba untuk datang kepada Allah dengan kebenarannya sendiri, di hadapan Allah orang itu tidak lain selain seperti kain kotor yang tidak layak di hadapan-Nya: "Sesungguhnya jika seseorang tidak dilahirkan kembali tidak diubahkan ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." Tidak akan pernah ada peraturan baru atau kultur baru atau situs baru atau bangsa yang baru tanpa manusia yang baru. Kita tidak akan pernah melihat perubahan terjadi sebelum perubahan pada setiap individu terjadi, entah itu di dalam pemerintahan ataupun di sekolah ataupun di negara ataupun dalam satu konsili ataupun di dalam keluarga ataupun di dalam jemaat.

APAKAH KELAHIRAN BARU ITU?

Nikodemus berfikir bahwa ia sudah layak untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Secara logika Nikodemus tidak salah kalau ia berkata bahwa ia sudah layak masuk surga. Ia berpikir bahwa ia diselamatkan oleh karena: "Ia adalah anak Abraham, ia adalah orang Yahudi dan oleh sebab itu dia adalah anggota Kerajaan Allah." Itulah yang dipikirkan oleh Nikodemus dan itu jugalah yang dipikirkan semua orang Israel bahkan orang-orang Israel pada zaman ini. Yohanes Pembaptis pernah menegur orang Israel dengan keras, ia berkata: "siapakah yang mengatakan kepada kamu bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang? Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan dan janganlah mengira bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu Abraham adalah Bapa kami! Karena aku berkata kepadamu Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini!" (Matius 3: 7-9). Dengan kata lain Yesus sedang berkata: "Nikodemus, sekalipun kamu orang Yahudi, sekalipun kamu bagian dari umat pilihan Allah, meskipun kamu keturunan Abraham, tetapi jika kamu tidak dilahirkan kembali, kamu tidak ada bedanya dengan mereka yang tidak mengenal Allah. Inilah yang membuat kita berbeda dengan orang lain.

Dilahirkan kembali berarti Allah mengaruniakan hidup baru di dalam Kristus oleh pekerjaan Roh Kudus dengan perantaraan Firman Allah. Kelahiran baru berarti menerima kodrat ilahi oleh pekerjaan Roh Kudus dengan perantaraan Firman (II Petrus 1:4). Dan jawaban Yesus atas pertanyaan Nikodemus perihal kelahiran baru terdapat di dalam Yohanes 1:12, dikatakan begini: "Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah." Dalam Alkitab BIS dikatakan begini: "Namun ada juga orang yang menerima Dia dan percaya kepada-Nya; mereka diberi-Nya hak menjadi anak Allah, yang dilahirkan bukan dari manusia, sebab hidup baru itu dari Allah asalnya." Jadi lahir baru bukan usaha dari manusia melainkan anugerah Allah bagi setiap orang yang percaya. Allahlah yang mengerjakan kelahiran kembali. Tepat sekali jika Paulus berkata: "Sebab oleh karena kasih karunia kamu diselamatkan karena iman, itu bukan hasil usahamu tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu, jangan ada orang yang memegahkan diri" (Efesus 2:8-9). Kemudian perhatikan kalimat berikutnya "karena kita ini buatan Allah diciptakan dalam Kristus Yesus." Artinya apa saudara, Tuhan sedang mengerjakan setiap orang percaya dari dalamnya. Dari dasarnya dulu. Mustahil orang akan berubah jika yang di dalam ini tidak diubah dulu.

TANDA-TANDA DAN HASIL KELAHIRAN KEMBALI

Hidup di dalam Kristus itu luar biasa. Ketika kita menerima Kristus, pada saat itulah Tuhan mulai mengerjakan hidup kita. hal inilah yang tidak dimiliki oleh ajaran mana pun, kecuali ajaran Kristus. Dan luar biasa adalah, Tuhan mengerjakan hidup kita dari dalam. Tuhan sedang mengerjakan perubahan yang dari dalam keluar. Bukan hanya hidup kekal yang akan kita dapatkan, tetapi kita pun yang masih di dunia ini juga menikmati berkat-berkatNya. Dan kuncinya hanya satu kita berserah dan menbiarkan Tuhan mengerjakan hidup kita untuk serupa dengan-Nya. Tujuan Bapa dalam hidup kita hanya satu, menjadikan kita serupa denganNya. Tidak ada jalan lain kecuali Allah sendiri yang mengerjakannya.

Ketika orang dilahirkan kembali: hatinya mengalami perubahan. Yang tidak mengasihi Tuhan menjadi mengasihi. Dari yang tidak pernah merindukan Tuhan, begitu merindukan Tuhan. Ingatkah ketika Anda bertobat pertama kali? Apakah yang Anda rasakan? Anda begitu tidak layak di hadapanNya, kemudian ketika saudara merasakan kasih Tuhan, saudara mulai menangis dan tiba-tiba saudara begitu mengasihi Tuhan. saudara mempunyai kerinduan yang dalam kepada Tuhan. Itulah saat-saat saudara dijamah Tuhan dan Tuhan mulai melahirkan kembali saudara. Kenapa orang bisa gampang melakukan dosa? Jawabannya simpel, karena tidak mengasihi Tuhan.

Ketika orang dilahirkan kembali, Ia mengalami perubahan dalam karakternya. Ketika yang di dalam ini sudah dibentuk, maka yang di luar pasti mengikuti. Orang yang dilahirkan kembali mengalami perubahan dalam hidupnya. Bukan pribadinya yang berubah, orangnya tetap sama. Tetapi sekarang ia secara berbeda dikendalikan. Orang yang lahir baru berjalan menurut Roh, dan diperintah oleh Roh Kudus. Saudara tidak sejahtera lagi jika berbuat dosa, saudara tidak nyaman jika melakukan dosa.

Jadi orang yang lahir baru pasti mengalami perubahan kelakuan. I Yohanes 3:9: "Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah." Alkitab BIS berkata: "Orang yang sudah menjadi Anak Allah, tidak terus-menerus berbuat dosa, sebab sifat Allah sendiri ada padanya. Dan karena Allah itu Bapanya, maka ia tidak dapat terus-menerus berbuat dosa." Orang yang dilahirkan baru adalah orang yang sama, namun mempunyai karakter yang berbeda dari manusia yang lama.

Ada pertanyaan seperti ini: "Bila aku adalah seseorang yang dilahirkan kembali, mengapa aku begitu sering jatuh bangun dalam dosa?" Max Lucado memberikan gambaran yang menjelaskan kepada kita semua tentang hal ini, demikian: Menurut Anda, kenapa Anda sangat sering jatuh pada awal-awal kelahiranmu? Apa Anda langsung berjalan dengan dua kaki ketika lahir? Tentu tidak. Dan ketika kamu mulai untuk berjalan, kamu lebih sering jatuh ketimbang berdiri. Apakah kita akan mengharapkan hal yang berbeda dalam perjalanan kehidupan rohani kita? "Tapi aku terlalu sering jatuh, sehingga aku mempertanyakan apakah aku sudah benar-benar selamat atau tidak." Kembali ke kelahiran jasmanimu. Bukankah dulu Anda juga sering terjatuh ketika kamu belajar berjalan? Dan ketika Anda jatuh, apakah Anda mempertanyakan kevali dan kelahiranmu? Apakah kamu, sebagai seorang balita yang berumur satu tahun, ketika jatuh ke lantai, menggeleng-gelengkan kepalamu dan berpikir bahwa mungkin kamu bukan manusia? Tentu tidak. Proses jatuh dari seorang anak kecil tidak dapat membatalkan kenyataan bahwa dia dilahirkan, sebagai manusia. Dan begitu pula, proses jatuh dari seorang Kristen tidak membatalkan kelahiran spiritualnya. Karena Allah sudah menanamkan benih Illahi di dalam hidup kita. Saat benih itu bertumbuh kita akan berubah.

Paulus pernah berkata bahwa ada bayi rohani yang membutuhkan susu bukan makanan keras. Hal ini seolah-olah Paulus sedang menunjukkan ada level-level tertentu yang berhubungan dengan hal rohani. Kita juga pernah mendengar istilah dewasa rohani. Orang yang lahir baru tidak bararti bahwa ia tidak dapat jatuh dalam dosa. Tetapi sekalipun ia jatuh, dosa tersebut tidak menguasainya. Bukan berarti dosa tidak ada lagi dalam hidup kita, tetapi dosa tidak punya kuasa lagi atas hidup kita. Godaan akan menggoda kita, tapi tidak akan menguasai kita. Betapa luar biasa harapan ini!Sehingga kita akan bangkit dan tidak berusaha untuk kembali ke lobang dosa yang sama.

Ketika orang dilahirkan kembali, orang tersebut akan menerima kuasa sebagai anak-anak Allah. Yoh. 1:12 mengatakan kita akan menerima kuasa jika kita percaya kepadaNya. Roma 8:14 Setiap orang yang dipimpin Roh Allah adalah anak Allah. I Yoh. 5:4 Kita menerima kuasa untuk mengalahkan dunia dan kuasa untuk bebas dari dosa-dosa kita. Artinya kita sebagai orang percaya mempunyai potensi. Potensi untuk menjadi baik, potensi untuk melakukan apa saja bersama dengan Tuhan. Tidak ada alasan untuk minder, tidak ada alasan untuk takut, tidak ada alasan untuk kuatir, karena kita mempunyai kuasa.

Dunia mengajarkan tentang kekuatan yang ada dalam diri manusia. Banyak buku-buku dan bahkan di televisi tidak sedikit yang mengajarkan tentang kekuatan pikiran, sugesti, pemikiran positif. Dan saya pun mengakui kalau hal-hal tersebut bisa membuat hidup kita berubah. Orang bisa sukses dengan itu. Tetapi saudara hal tersebut sebenarnya itu hal yang natural, hal yang wajar, semua manusia mempunyainya. Tetapi apa yang dimiliki oleh orang percaya tidak dimiliki oleh orang lain. Tuhan tidak ingin kekuatan natural kita yang menonjol dalam hidup kita, tetapi lebih lagi Tuhan rindu yang supranatural yang ada dalam hidup kita menonjol. Bisa tidak saudara? Bisa! Kita punya Roh Kudus yang menyertai kita.

Ini bedanya saya dan saudara adalah anak-anak Allah, untuk itu kita hidup selayakanya sebagai anak-anak Allah. Kita adalah orang-orang Kerajaan Allah. Untuk itu kita pun harus hidup dengan mental anak-anak Tuhan, mental orang-orang Kerajaan Allah.

Sekali lagi Saudara, bahwa saya dan Anda adalah orang-orang yang berbeda dan luar biasa. Yang sedang berjalan bersama Anda adalah Pribadi yang Mahakuasa. Kita yang terbatas sedang berjalan dengan Pribadi yang tiada batas. Jadi, tidak ada alasan untuk takut dan minder. Bersama Tuhan kita dapat melakukan perkara-perkara besar. Haleluya!

Gifts From the Heart for Women

Penulis : Kingsbury

Bahkan Seorang Anak Berusia 7 Tahun Melakukan Yang Terbaik Untuk .......

Tahun yang bernama Luke. Luke gemar bermain bisbol. Ia bermain pada sebuah tim bisbol di kotanya yang bernama Little League. Luke bukanlah seorang pemain yang hebat. Pada setiap pertandingan, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kursi pemain cadangan. Akan tetapi, ibunya selalu hadir di setiap pertandingan untuk bersorak dan memberikan semangat saat Luke dapat memukul bola maupun tidak.

Kehidupan Sherri Collins, ibu Luke, sangat tidak mudah. Ia menikah dengan kekasih hatinya saat masih kuliah. Kehidupan mereka berdua setelah pernikahan berjalan seperti cerita dalam buku-buku roman. Namun, keadaan itu hanya berlangsung sampai pada musim dingin saat Luke berusia tiga tahun. Pada musim dingin, di jalan yang berlapis es, suami Sherri meninggal karena mobil yang ditumpanginya bertabrakan dengan mobil yang datang dari arah berlawanan. Saat itu, ia dalam perjalanan pulang dari pekerjaan paruh waktu yang biasa dilakukannya pada malam hari. "Aku tidak akan menikah lagi," kata Sherri kepada ibunya. "Tidak ada yang dapat mencintaiku seperti dia". "Kau tidak perlu menyakinkanku," sahut ibunya sambil tersenyum. Ia adalah seorang janda dan selalu memberikan nasihat yang dapat membuat Sherri merasa nyaman. "Dalam hidup ini, ada seseorang yang hanya memiliki satu orang saja yang sangat istimewa bagi dirinya dan tidak ingin terpisahkan untuk selama-lamanya. Namun jika salah satu dari mereka pergi, akan lebih baik bagi yang ditinggalkan untuk tetap sendiri daripada ia memaksakan mencari penggantinya."

Sherri sangat bersyukur bahwa ia tidak sendirian. Ibunya pindah untuk tinggal bersamanya. Bersama-sama, mereka berdua merawat Luke. Apapun masalah yg dihadapi anaknya, Sherri selalu memberikan dukungan sehingga Luke akan selalu bersikap optimis. Setelah Luke kehilangan seorang ayah, ibunya juga selalu berusaha menjadi seorang ayah bagi Luke.

Pertandingan demi pertandingan, minggu demi minggu, Sherri selalu datang dan bersorak-sorai untuk memberikan dukungan kepada Luke, meskipun ia hanya bermain beberapa menit saja. Suatu hari, Luke datang ke pertandingan seorang diri. "Pelatih", panggilnya. "Bisakah aku bermain dalam pertandingan ini sekarang? Ini sangat penting bagiku. Aku mohon ?" Pelatih mempertimbangkan keinginan Luke. Luke masih kurang dapat bekerja sama antar pemain. Namun dalam pertandingan sebelumnya, Luke berhasil memukul bola dan mengayunkan tongkatnya searah dengan arah datangnya bola. Pelatih kagum tentang kesabaran dan sportivitas Luke, dan Luke tampak berlatih extra keras dalam beberapa hari ini. "Tentu," jawabnya sambil mengangkat bahu, kemudian ditariknya topi merah Luke. Kamu dapat bermain hari ini. Sekarang, lakukan pemanasan dahulu." Hati Luke bergetar saat ia diperbolehkan untuk bermain. Sore itu, ia bermain dengan sepenuh hatinya. Ia berhasil melakukan home run dan mencetak dua single. Ia pun berhasil menangkap bola yang sedang melayang sehingga membuat timnya berhasil memenangkan pertandingan. Tentu saja pelatih sangat kagum melihatnya. Ia belum pernah melihat Luke bermain sebaik itu. Setelah pertandingan, pelatih menarik Luke ke pinggir lapangan. "Pertandingan yang sangat mengagumkan," katanya kepada Luke. "Aku tidak pernah melihatmu bermain sebaik sekarang ini sebelumnya. Apa yang membuatmu jadi begini?" Luke tersenyum dan pelatih melihat kedua mata anak itu mulai penuh oleh air mata kebahagiaan. Luke menangis tersedu-sedu. Sambil sesunggukan, ia berkata "Pelatih, ayahku sudah lama sekali meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Ibuku sangat sedih. Ia buta dan tidak dapat berjalan dengan baik, akibat kecelakaan itu. Minggu lalu,......Ibuku meninggal." Luke kembali menangis. Kemudian Luke menghapus air matanya, dan melanjutkan ceritanya dengan terbata-bata "Hari ini,.......hari ini adalah pertama kalinya kedua orangtuaku dari surga datang pada pertandingan ini untuk bersama-sama melihatku bermain. Dan aku tentu saja tidak akan mengecewakan mereka.......". Luke kembali menangis terisak-isak. Sang pelatih sadar bahwa ia telah membuat keputusan yang tepat, dengan mengizinkan Luke bermain sebagai pemain utama hari ini. Sang pelatih yang berkepribadian sekuat baja, tertegun beberapa saat. Ia tidak mampu mengucapkan sepatah katapun untuk menenangkan Luke yang masih menangis. Tiba-tiba, baja itu meleleh. Sang pelatih tidak mampu menahan perasaannya sendiri, air mata mengalir dari kedua matanya, bukan sebagai seorang pelatih, tetapi sebagai seorang anak..... Sang pelatih sangat tergugah dengan cerita Luke, ia sadar bahwa dalam hal ini, ia belajar banyak dari Luke. Bahkan seorang anak berusia 7 tahun berusaha melakukan yang terbaik untuk kebahagiaan orang tuanya, walaupun ayah dan ibunya sudah pergi selamanya............Luke baru saja kehilangan seorang Ibu yang begitu mencintainya........ Sang pelatih sadar, bahwa ia beruntung ayah dan ibunya masih ada. Mulai saat itu, ia berusaha melakukan yang terbaik untuk kedua orangtuanya, membahagiakan mereka, membagikan lebih banyak cinta dan kasih untuk mereka. Dia menyadari bahwa waktu sangat berharga, atau ia akan menyesal seumur hidupnya...............

Hikmah yang dapat kita renungkan dari kisah Luke yang HANYA berusia 7 TAHUN :

Mulai detik ini, lakukanlah yang terbaik utk membahagiakan ayah & ibu kita. Banyak cara yg bisa kita lakukan utk ayah & ibu, dgn mengisi hari-hari mereka dgn kebahagiaan. Sisihkan lebih banyak waktu untuk mereka. Raihlah prestasi & hadapi tantangan seberat apapun, melalui cara-cara yang jujur utk membuat mereka bangga dgn kita. Bukannya melakukan perbuatan2 tak terpuji, yang membuat mereka malu. Kepedulian kita pada mereka adalah salah satu kebahagiaan mereka yang terbesar.

Bahkan seorang anak berusia 7 tahun berusaha melakukan yang terbaik untuk membahagiakan ayah dan ibunya. Bagaimana dengan Anda ? Berapakah usia Anda saat ini ?

Apakah Anda masih memiliki kesempatan tersebut ? Atau kesempatan itu sudah hilang untuk selamanya.........?

Hal Kekuatiran

Oleh: Fidiakris

Saat Teduh pagi ini saya buka Matius 6:25-34 mengenai hal kekuatiran. Dalam perikop ini firman Tuhan berkata, "Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai."

Ini adalah janji Tuhan buat umat-Nya. Lalu bagaimana dengan orang-orang dunia, apakah janji ini juga berlaku? Ya. Janji ini juga berlaku buat orang-orang dunia. Namun ada perbedaannya. Orang dunia hidup dalam kekuatiran mereka, sedangkan kita hidup dalam janji Tuhan. Dan bagaimana kita meraih janji Tuhan itu? Apakah kita menunggu saja sampai sesuatu jatuh dari langit (baca : tanpa melakukan sesuatu)? Atau kita menghabiskan waktu kita dalam khayalan dan impian kita terhadap janji Tuhan itu?

Tidak. Kita perlu melakukan bagian kita yaitu berusaha, misalnya bekerja atau berkarya. Tanpa bermaksud menghakimi; kita sering melihat tayangan-tayangan reality show dimana sebuah keluarga atau seseorang yang miskin yang ditolong dengan sejumlah uang atau harta benda oleh program acara tersebut. Kalo kita simak baik-baik, anggota keluarga tersebut anak-anaknya telah berusia produktif namun tidak bekerja. Yah tidak heran kalo mereka jarang bisa makan atau bahkan harus puasa dan hidup di bawah garis kemiskinan. Mereka telah menyia-nyiakan hidup mereka dengan hanya berpangku tangan.

Dalam penciptaan langit dan bumi, Tuhan bekerja selama 6 hari. Tuhan tidak berpangku tangan, masakan kita berpangku tangan? Lalu, bagaimana dengan kita yang adalah ciptaan Nya yang sempurna? Tuhan ingin kita berkarya baik dalam pekerjaan kita atau pelayanan kita, di mana Tuhan telah memberikan tempat yang Dia inginkan kita berada. Berkarya /bekerja adalah sesuatu yang Tuhan inginkan dari kita. Berusahalah dan bertekun didalamnya, maka janji Tuhan akan digenapi. Amin.

Hanya Dekat Allah Saja Aku Tenang

Oleh: Sunanto

Mzm 62:2-3 “Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah.”

Tepat pada hari pertama tahun 2007, kita dikejutkan dengan menghilangnya sebuah pesawat milik Adam Air yang sampai hari ini masih belum terungkap penyebab kecelakaan tersebut. Belum lagi pesawat tersebut diketemukan, sebuah kapal motor tenggelam yang mengakibatkan hilangnya ratusan nyawa manusia.Beberapa hari yang lalu kembali lagi terjadi kecelakaan yang kali ini menimpa angkutan yang katanya paling aman yaitu kereta api. Sepertinya tidak ada lagi transportasi yang terjamin keamanannya di negeri ini, baik angkutan udara, laut dan darat mengalami kecelakaan. Memasuki tahun 2007 ini kita juga dibayang-bayangi oleh ancaman wabah flu burung yang dikuatirkan akan bermutasi sehingga bisa menular antar manusia sebab ternyata ditemukan kucing dan anjing juga sudah tertular oleh virus ini.

Akibatnya banyak orang yang saat ini diserang oleh ketakutan dan kekuatiran, terutama mereka yang akan berpergian jauh. Tetapi sebagai orang beriman kita tidak boleh takut menghadapi situasi ini. Ketakutan bukanlah datang dari Tuhan sebab Tuhan tidak memberikan roh ketakutan kepada kita melaink an Roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan kedamaian.Kita harus melawan rasa takut tersebut dengan datang ke hadiratNya. HadiratNya merupakan tempat teraman yang ada di dunia ini.

Saya percaya bila Tuhan mengijinkan malapetaka-malapetaka tersebut terjadi pasti ada tujuannya. Tuhan mengijinkan situasi yang tidak nyaman ini agar kita terdorong untuk mendekat kepadaNya dan menemukan rasa aman yang sejati yang hanya dapat diperoleh di hadiratNya. Saya sendiri sering diijinkan oleh Tuhan mengalami situasi yang tidak aman dan kadang juga mengancam keselamatan hidup saya. Terus terang kalau boleh, saya tidak ingin melalui jalan yang tidak nyaman tersebut. Tetapi saya harus melewatinya sebab itu merupakan cara Tuhan untuk melatih iman saya agar bertumbuh semakin kuat. Ketegangan hidup merupakan salah satu cara untuk menguatkan otot-otot manusia batiniah kita. Dua tahun belakangan ini hidup saya diwarnai dengan ketegangan demi ketegangan tetapi justru dalam masa yang tegang ini saya merasa kerohanian saya bertumbuh paling pesat dibanding masa-masa yang tidak banyak ada ketegangan.

Tujuan utama Tuhan menciptakan manusia adalah agar mereka bisa saling bersekutu dan bersahabat. Tetapi sejak manusia jatuh ke dalam dosa, persekutuan tersebut menjadi terganggu. Sejak jatuh ke dalam dosa, manusia tidak lagi memiliki rasa aman yang datang dari persekutuan dengan Allah sebab dosa memisahkan mereka dari Allah. Lalu manusia mengalihkan pencarian rasa aman (identitas) mereka pada pekerjaan, jabatan, popularitas dan hubungan dengan orang lain. Tetapi semuanya tidaklah dapat memberikan rasa aman yang sejati kepada manusia. Tidak ada orang kaya yang tidak takut hartanya akan hilang, tidak ada orang terkenal yang tidak takut satu saat ketenarannya akan sirna, tidak ada orang yang memiliki jabatan yang tidak takut kehilangan jabatan tersebut. Hanya hubungan dengan Allah melalui Kristus Yesus yang dapat memberikan rasa aman yang sejati kepada kita !

Hari Tuhan

Oleh: Berea Indonesia

Mengapa kita harus berkumpul?

Yesus memanggil kita "gereja" yaitu tubuh-Nya. Oleh karena itu gereja bukanlah berarti gedung atau bangunan, tetapi "Ekklesia". Dengan kata lain, perkumpulan atau persekutuan orang-orang percaya "di dalam" Yesus sebagai tubuh-Nya.

Orang-orang Kristen selalu menghadiri Ibadah pada Hari Tuhan. Pada Hari Tuhan, orang-orang Kristen datang dari daerah tempat tinggal mereka masing-masing untuk beribadah kepada Tuhan dan dipersatukan dengan Dia.

Pada hari ini, kita beribadah, mengucap syukur kepada Allah yang memberikan kita hidup melalui Yesus, dan yang juga menguduskan tubuh kita oleh Roh Kudus, sebagai bait-bait kudus Allah.

Pada malam Ia dikhianati, Yesus membagikan cawan dan roti kepada murid-murid-Nya dan memerintahkan mereka untuk melakukan hal ini sebagai peringatan akan Dia. (Lukas 22:19-20, 1 Korintus 11:23-25). Jadi murid-murid biasanya berkumpul bersama pada Hari Tuhan untuk memecahkan roti (Kisah Para Rasul 20:7).

Tuhan kita dibangkitkan dari kematian pada hari pertama minggu itu. Setelah Dia diangkat ke surga, Dia sudah mengutus Roh Kudus kepada kita sesuai dengan janji-Nya untuk menyaksikan fakta bahwa Dia dibangkitkan dan bahwa Dia juga sedang membela kita di sebelah kanan Allah (Roma 8:34).

Oleh karena itu, kita harus berkumpul pada Hari Tuhan, tidak seperti mereka yang tidak rindu untuk beribadah, dan giat menantikan menjelang tibanya Hari itu (Ibrani 10:25) untuk memperingati dan memberitakan kematian dan kebangkitan Yesus dan turunnya Roh Kudus.

Mengapa "Hari Tuhan"?

Karena itu adalah harinya Tuhan (Wahyu 1:10). Yesus dibangkitkan dari kubur pagi-pagi sekali pada hari pertama minggu itu (Markus 16:1-7) dan menjadi buah sulung kebangkitan, harapan dari semua umat manusia (1 Korintus 15:20). Turunnya Roh Kudus -- yang Yesus sudah janjikan -- terjadi pada hari Pantekosta, Hari Tuhan (Kisah Para Rasul 2:1-4). Sejak hari itu, orang-orang percaya mulai bersaksi tentang Yesus Kristus (Kisah Para Rasul 1:8). Oleh karena itu Hari Tuhan menjadi peringatan lahirnya Gereja Kristus.

Hari Tuhan adalah hari pertama dari tiap-tiap minggu (1 Korintus 16:2), hari yang penuh dengan hidup dan berkat bagi enam hari yang berikut. Yesus mati satu hari sebelum hari Sabat, dibaringkan di kubur pada hari Sabat dan dibangkitkan dari kematian pada Hari Tuhan. Melalui kebangkitan-Nya, Dia menghancurkan kuasa maut dan memastikan keselamatan kita. Pada Hari Tuhan dua ribu tahun silam, orang-orang Kristen dibebaskan dari maut dan kutuk. Jadi sekarang ini pada Hari Tuhan, kita menghargai benar harapan akan kebangkitan dan kehidupan kekal.

Roh Kudus mendiami orang-orang Kristen yang telah disucikan oleh darah Yesus, dan memberikan kesaksian atas kebangkitan Yesus.

Hari Sabat tidak mampu memberi kebebasan sejati bagi roh jiwa kita. Yesus Kristus menyempurnakan hari Sabat dan memberi kebebasan sejati kepada roh jiwa manusia. Yesus Kristus lebih besar daripada hari Sabat dan Dialah Tuhan atas hari Sabat (Matius 12:8). Marilah kita menghadiri ibadah dengan setia untuk mematuhi perintah-Nya.

Ucapan Syukur untuk Keselamatan Kita, Inspirasi untuk Kebangkitan Kita

Pada Hari Tuhan, kita dipenuhi dengan ucapan syukur atas penebusan dan keselamatan. Hari Tuhan adalah hari sukacita, hari satu-satunya yang adalah milik kasih karunia dan kebenaran. Pada Hari Tuhan ini, orang-orang Kristen bertemu dan saling membagi pengharapan mereka atas kebangkitan. Jika tidak ada kebangkitan, iman kita mejadi sia-sia (1 Korintus 15:12-20). Tujuan akhir iman bagi kita orang-orang Kristen adalah kebangkitan (Filipi 3:10-14).

Kristus dibangkitkan dari kematian, menjadi buah sulung kebangkitan diantara mereka yang tertidur dan terangkat ke sorga.

Ketika Dia datang kembali, mereka yang menjadi milik-Nya pertama-tama akan dibangkitkan (1 Korintus 15:20-23), dan sisanya akan ikut dalam kebangkitan yang berikut (1 Korintus 15:24). Jika tidak ada kebangkitan orang mati maka tidak ada harapan untuk kehidupan kekal. Untuk dibangkitkan dari kematian sebagai yang tidak bisa binasa lagi adalah bagian inti dari iman kita dan suatu janji penting dari Allah untuk Gereja Kristen masa kini.

Diberkatilah mereka yang akan termasuk dalam kebangkitan pertama (Wahyu 20:4-6). Pada Hari Tuhan, kita memperbaharui kepastian kita akan kebenaran dan janji mengenai kebangkitan pertama. Selama kita menerima kesaksian Tuhan melalui Firman-Nya. Kita juga dapat mengalami sebelumnya sejenis kehidupan yang kita akan miliki di surga ketika kita memerintah untuk selama-lamanya.

Oleh karena itu, kita harus mengakhiri kebiasaan kita yang bermalas-malasan dan berpartisipasi dalam pekerjaaan melayani Gereja untuk kemuliaan Kristus. Kita harus hidup sebagai imamat yang rajani (1 Petrus 2:9) dan berjaga-jaga dalam menantikan kedatangan Yesus Kristus yang kedua.

Beberapa Kebiasaan-kebiasaan yang Baik dalam Beribadah pada Hari Tuhan

  1. Pada hari-hari kerja:

  2. Tetap berjaga-jaga dan mempersiapkan diri untuk menghadiri Ibadah pada Hari Tuhan. Pada hari Sabtu malam, persiapkan uang persembahan dan perlengkapan yang diperlukan seperti Alkitab, Kidung Pujian, alat tulis dan lain-lain.

  3. Pada Hari Tuhan:

  4. Bangun lebih pagi dan mempersiapkan diri. Tiba di gereja dua puluh menit sebelum ibadah dimulai. Beribadah dengan kepenuhan Roh Kudus (Yohanes 4:24). Ambil bagian dalam pekerjaan pelayanan (Efesus 4:12). Jauhkan diri dari melakukan kesenangan, dan keinganan duniawi dan dari amarah. Gunakan kata-kata berkat. Layani sesama. Jangan membuat janji untuk tujuan keduniawian dan rencana apapun untuk mengadakan perjalanan.

Hasil Percakapan Goa dan Matahari

Penulis : Manati I. Zega

Belum lama ini, saya membaca beberapa buku tentang dongeng anak-anak. Dalam sebuah buku disebutkan demikian. Suatu hari terjadi percakapan saling menyombongkan diri di antara Goa dan Matahari. Goa berkata: "akulah sumber kegelapan. Barangsiapa yang mendekat kepadaku pasti akan mengalami kegelapan yang luar biasa. Tidak ada alasan baginya untuk lepas dariku. Pasti tidak ada yang mampu mengalahkan aku di dalam dunia ini. Akulah raja di atas segala raja, yakni raja kegelapan. Karena itu, jika seseorang berani mencoba masuk, pasti akan tersesat di dalamku."

Selesai mengatakan demikian. Sekaranglah giliran matahari menyatakan siapa dirinya yang sesungguhnya. "Akulah sumber terang, tegas matahari meyakinkan. Barangsiapa yang mendekat kepadaku pasti akan mengalami terang. Tidak ada yang mampu mengalahkan terangku."

Mendengar pernyataan tersebut, goa ternyata tidak mau kalah dan sangat keberatan menerima pernyataan yang disampaikan matahari tersebut. Karena itulah mereka memutuskan untuk saling mengundang dan adu kekuatan.

Kali ini, yang pertama mendapat undangan adalah goa. Dalam undangan istimewa ini, matahari diundang datang ke tempatnya. Dengan senang hati, goa menerima tawaran ini. Tidak lama menunggu, goapun mulai beraksi dan langsung terbang menuju ke matahari. Ketika terbang, semakin dekat dengan matahari semakin teranglah goa yang tadinya gelap gulita. Bahkan, ketika tiba di tempat matahari, goa yang tadinya begitu gelap, berubah menjadi terang benderang. Gelap yang tadinya pekat, berubah menjadi terang yang sungguh luar biasa.

Setelah kejadian itu, goa yang tadinya mengaku sumber kegelapan protes luar biasa. Pikirnya, mungkin karena sayalah yang ke matahari. Coba jika dia yang datang ke tempatku, gelapku kan tidak mungkin lenyap.

Karena itu, untuk langkah berikutnya, sekarang gilirannya goa mengundang matahari datang ke bumi. Undangan itupun diterima dengan senang hati. Mataharipun langsung meluncur dari tempat yang tinggi dan menuju ke tempat dimana goa berada.

Begitu sampai di bumi, matahari langsung ke tempat goa. Begitu sampai di tempat tersebut, goa yang tadinya gelap gulita, berubah menjadi terang benderang.

Saudara, cerita di atas menjadi sumber inspirasi bagi kita: di mana ada terang, di situ kegelapan lenyap. Terang sekecil apapun dapat mengusir kegelapan yang paling pekat.

Siapakah terang yang sebenarnya? Yesus berkata : AKULAH TERANG DUNIA. Sumber terang yang sesungguhnya adalah Yesus Kristus. Barangsiapa yang dengan rendah hati datang kepada-Nya, kegelapan hatinya akibat dosa diterangi oleh kasih abadi. Kasih yang kekal, kasih yang sempurna. Itulah kasih Allah yang menjelma menjadi manusia melalui peristiwa NATAL.

Hati Nurani dan Moral

Penulis : Dr. R.C. Sproul

Ketika kita harus memilih di dalam bidang moral maka nyatalah fungsi hati nurani sangat rumit. Hukum Allah memang tidak berubah untuk selamanya. Namun disamping taat kepada hukum-hukum ini kita juga perlu mengusahakan agar hukum-hukum ini mencapai keharmonisan dalam hati kita.

Standar dari organ intern ini disebut "hati nurani". Ada orang melukiskan suara intern yang samar-samar ini sebagai suara Allah di dalam diri manusia. Di dalam hati nurani manusia, yaitu tempat yang sangat tersembunyi terdapat keberadaan pribadi, karena ini bersifat tersembunyi sehingga kita sangat sulit mengenal fungsinya. Freud telah memasukkan psikologi ke dalam istana ilmiah sehingga manusia mulai menyelidiki alam bawah sadar, menggali lubang-lubang yang paling dalam di dalam pribadi manusia.

Sehingga manusia takut dan kagum waktu menghadapi hati nurani. Apa yang dinyatakan oleh suara intern ini mungkin seperti komentar seorang psikolog sebagai "menemukan neraka." Namun kita harus memandang hati nurani sebagai sesuatu yang bersifat surgawi, sesuatu yang berhubungan dengan Allah dan bukanlah organ yang berasal dari neraka. Mari kita membayangkan tokoh di dalam film karton, pada waktu ia diperhadapkan untuk memilih dalam bidang moral maka ada malaikat dan setan, yang masing-masing hinggap di kiri kanan bahunya. Keduanya berusaha manarik dia seperti menarik gergaji untuk memperoleh otak manusia yang malang ini. Hati nurani dapat merupakan suara dari surga dan juga dapat berasal dari neraka. Dia mungkin berbohong, juga mungkin mendorong kita mencapai kebenaran. Dua macam hal yang dapat keluar dari satu mulut. Jika bukan melakukan tuduhan maka ia melakukan pengampunan. Slogan Walt Disney yang terkenal: "Biarlah hati nuranimu memimpin engkau" sangat populer.

Namun ini paling banyak hanya bisa dipandang sebagai teologi untuk anak kecil. Sedangkan terhadap orang Kristen hati nurani bukanlah pengadilan tertinggi untuk memutuskan kelakukan yang benar. Hati nurani sangat penting tetapi tidak cukup sebagai standar, dia selalu berkemungkinan untuk menjadi bengkok dan salah memimpin. Di dalam Perjanjian Baru 31 kali menyebut tentang hati nurani sepenuhnya menyatakan kemungkinan terjadi perubahan hati nurani. Hati nurani juga mungkin telah digerogoti menjadi keropos atau karena kerap kali berdosa sehingga kebal. Yeremia melukiskan orang Israel dengan istilah "bermuka pelacur." Ini disebabkan orang Israel terus menerus berdosa sehingga kehilangan perasaan malu di dalam hatinya. Mereka menegarkan tengkuk, membekukan hati, sehingga hati nurani mereka tidak berfungsi lagi. Demikian juga orang-orang yang anti masyarakat mungkin setelah membunuh manusia tetap tidak merasa menyesal dan hilanglah fungsi teguran hati nurani yang normal.

Meskipun hati nurani bukan hakim tertinggi di dalam prinsip moral, namun melakukan sesuatu yang melanggar hati nurani tetap suatu hal yang berbahaya. Ingatlah pada waktu Martin Luther di dalam sidang Worms menghadapi tekanan moral yang luar biasa besarnya dan gentar di tengah kepahitan yang optimal itu. Ada orang menganjurkan untuk menyerahkan iman, maka di antara jawabannya terdapat, "Hati nuraniku telah ditawan oleh Firman Allah." Melakukan sesuatu yang melanggar hati nurani adalah tidak benar dan merupakan hal yang tidak aman dan berbahaya sekali. Begitu hidup Luther melukiskan dinamika emosi semacam ini pada waktu ia mempergunakan istilah "ditawan." Hati nurani dapat bekerja secara penuh di dalam diri manusia. Pada saat manusia dipegang oleh suara hati nurani sehingga menghasilkan kekuatan maka dengan sendirinya timbul keberanian yang luarbiasa. Hati nurani yang ditawan oleh Firman Allah adalah hati nurani yang anggun dan berdinamika. "Bertindak melanggar hati nurani adalah tidak benar dan bahaya." Benarkah kalimat Luther ini? Kita harus berhati-hati menjelajahinya sehingga dapat mencegah langkah-langkah yang dapat melukai jari kaki kita yang berjalan di tepi pisau cukur kriteria moral ini. Jikalau hati nurani mungkin disalahtafsirkan atau salah arah mengapa kita harus tidak berani bertindak melanggarnya? Apakah kita harus masuk ke dalam dosa karena mengikuti hati nurani? Kita berada di tengah-tengah kedua bahaya ini sehingga bergerak, maju maupun mundur. Jikalau kita dikatakan berdosa menurut hati nurani, perlu diingat meskipun sudah bertobat hati nurani tetap memerlukan Firman Tuhan untuk memberikan pimpinan yang benar. Namun jikalau kita bertindak melanggar hati nurani kita tetap telah melakukan dosa. Dosa ini mungkin tidak tergantung apa yang sudah kita perbuat tetapi tergantung fakta bahwa kita yang sudah mengetahui dengan jelas sesuatu yang jahat tetap terjun ke dalamnya, ini menyangkut prinsip Alkitab yang menyatakann "segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman adalah dosa." Misalnya (sekali lagi misalnya) ada orang diajar dan percaya bahwa memakai lipstick adalah berdosa tetapi ia tetap memakainya maka orang ini sudah berbuat dosa. Sebenarnya dosa bukan tergantung pada lipstick itu tetapi tergantung pada usahanya untuk melanggar perintah Allah.

Penguasaan terhadap hati nurani merupakan semacam kekuatan dengan daya pemusnahan di dalam gereja. Orang legalis selalu menitikberatkan penguasaan dosa, sedangkan orang antilegalis selalu secara diam-diam menyangkal dosa. Hati nurani adalah semacam alat yang rumit yang harus kita hargai. Jikalau seseorang mau mempengaruhi hati nurani orang lain maka ia menghadapi tugas berat, ia harus memelihara kepribadian orang lain menjadi sempurna seperti pada saat diciptakan Allah. Jikalau kita mempersalahkan orang lain dengan penghakiman yang bersifat memaksa dan tidak benar maka kita mengakibatkan tetangga kita terikat kaki tangannya berarti kita memberikan rantai kepada mereka yang sudah dibebaskan Allah. Tetapi jikalau kita secara paksa mengakibatkan orang berdosa, menganggap diri tidak bersalah maka kita akan mendorong mereka lebih terjerumus ke dalam dosa. Dan akan menerima hukum Allah yang seharusnya dapat dihindarkan.

Hati Terpikat dan Terjerat

Oleh: Yon Maryono

Wanita mana yang hatinya tidak suka dengan kata-kata rayuan? Pernyataan itu tidak hanya relevan jaman sekarang, tetapi pada awal mula penciptaan. Perempuan telah terpikat rayuan ular untuk makan buah pohon pengetahuan yang dilarang Tuhan. Demikianlah perintah Tuhan kepada manusia: Semua pohon dalam Taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya pastilah engkau mati. Hal ini bermakna, kebebasan itu dengan syarat, manusia harus menahan diri dari apa yang sudah ditetapkan Allah agar tidak dilakukan manusia (Kejadian 2:15-17). Ternyata, manusia tidak peduli terhadap perintah Tuhan. Sosok Ular, sebagai figure iblis memikat manusia, untuk memanjakan keinginan dirinya, sehingga manusia menolak bergantung pada Sang Pencipta. Tanggung jawab kesalahan atas pilihan itu bukan terutama pada ular melainkan pada diri manusia itu sendiri sehingga merusak keharmonisan hubungan antara manusia dan Allah. Itulah yang terjadi dalam diri manusia sehingga jatuh dalam dosa. Akibatnya, Tuhan menghalau mereka dalam kehidupan yang harus dihadapi dengan susah payah, manusia keluar dari hadirat Tuhan. Murid Yesus, seperti Yudas pun terpikat dan tidak dapat lepas dari pengaruh Iblis. Pengaruh itu ada sejak mula, jaman Kristus bahkan sampai sekarang atau akhir jaman. Mengapa? Firman Tuhan: Aku (Tuhan) akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini antara keturunanmu dan keturunannya (Kej. 3:15).

Dengan jujur renungkanlah, adakah perbuatan ini selalu kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti: pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan (Markus 7:21-22). Yakobus menuliskan: Jika kamu menaruh perasaan iri hati dan kamu mementingkan diri sendiri, janganlah kamu memegahkan diri dan janganlah berdusta melawan kebenaran! Itu bukanlah hikmat yang datang dari atas, tetapi dari dunia, dari nafsu manusia, dari setan-setan (Yakobus 3:14-15). Oleh karena itu: Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: Percobaan ini datang dari Allah. Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut (Yakobus 1:13-15).

Karakter jahat atau kegelapan itu sudah menguasai manusia, sehingga manusia tidak dapat lagi mengenali atau mencari kebenaran atas usahanya sendiri. Paulus menuliskan: Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik (Roma 7:18). Jika kita telah memahami hal ini maka dengan sendirinya kita mengetahui bahwa tanpa Anugerah dari Allah maka manusia tidak akan pernah bisa kembali kepada Kebenaran yang sesungguhnya. Sehingga apa yang dipilih manusia tidak berpusat lagi kepada Allah.

Jagalah hati

Dalam psikologi, ego manusia terkait dengan badan, otak, dan hati. Jika badan diasosiasikan dengan eksistensi fisik, otak dengan pikiran, hati dengan intelektual, maka intelektual dalam hal ini sangat penting karena otak dan badan di bawah kendali dan berasal dari intelektual. Intelektual adalah pusat manusia (the centre of human being), yang bersemayam di dalam hati. Dalam ilmu psikologi, kualifikasi intelektual harus didampingi dengan kualifikasi moral. Jika tidak didampingi spiritual, intelektual tidak akan berfungsi. Secara psikologis, intelektualitas menjadi spiritualitas ketika manusia sepenuhnya hidup di dalam kebenaran.

Alkibab adalah sumber segala pengetahuan. Oleh karena itu, narasi dalam psikologi sudah sepenuhnya tertuang di Alkitab. Narasi dalam Alkitab sering mengidentifikasi bahwa pusat perintah keinginan manusia tergantung dari sikap hati, atau Levav (bahasa ibrani). Kecenderungan manusia untuk bersikap atau bertindak ditentukan oleh Hati, dan dari hati cenderung selalu membuahkan kejahatan semata-mata (Kej 6:5). Hati adalah tempat berfikir (Markus 2:6-8) dan tempat perasaan (Lukas 24:32). Demikian pula, dosa timbul dari hati dan pikiran; sebab dari dalam, dari hati orang timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan (Markus 7:21-22). Oleh karena itu, hati inilah yang dipengaruhi iblis, sehingga liciknya hati, lebih licik dari segala sesuatu (Yer.17:9). Dalam Alkitab, hakekat hati manusia dimanifestasikan dengan segala sifat, jasmani, intelektual, dan jiwa sebagai suatu kesatuan, sehingga hati adalah sebuah sinergi antara jiwa, akal budi, dan kekuatan.

Oleh karena itu, sejak kita belajar dan mengetahui kebenaran firman Tuhan, tetapi kita memberi waktu diskusi dengan diri sendiri untuk mempertimbangkan melakukan atau tidak melakukan kebenaran itu, saat itulah iblis masuk dalam hati kita untuk memutar balikan kebenaran firman Tuhan. Hati menjadi tujuan utama yang diserang iblis. Hati juga menjadi tujuan utama yang dibentuk Tuhan. Tuhan menyelidiki hati, menguji batin dan menjadikannya hati kita bersih melalui penyerahan diri dan ketaatan kita sebagai pelaku kebenaran firman Tuhan. Jagalah hati, jangan sampai terpikat dan terjerat rayuan iblis. Percayalah janji Tuhan: orang yang suci hatinya akan melihat Allah, dan dapat memahami kasih Allah (Mat.5:8; Efesus 3:17).

Tuhan memberkati.

Hendaklah Perkataanmu Menjadi Berkat Bagi Orang Lain.

Sumber: Daniel Alamsjah / Borobudur.

Hendaklah kamu penuh dengan Roh, dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung pujian-pujian dan nyanyian rohani. Hendaklah Perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya diantara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan pujian-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah didalam hatimu.

Mulutku mengucapkan pujian-pujian kepada Tuhan dan biarlah segala makhluk memuji namaNyayang kudus untuk seterusnya dan selamanya.

Haleluyah! Sungguh, bermazmur bagi Allah kita itu baik, bahkan indah, dan layaklah memuji-muji itu. Bernyanyilah bagi Tuhan dengan nyanyian syukur, bermazmurlah bagi Allah kita dengan kecapi!

Dan aku mengdengar suatu suara dari langit bagaikan desau air bah dan bagaikan deru guruh yang dasyat. Dan suara yang kudengar itu seperti bunyi pemain-pemain kecapi yang memetik kecapinya. 1 Kort. 14:15, Efes. 5:18-19, Kolose 3:16, Mazm. 145:21; 147:1,7; Wah 14:2.

Hatiku meluap dengan kata-kata indah, aku hendak menyampaikan sajakku kepada raja, lidahku ialah pena seorang juru-tulis yang mahir (Mazm. 45 :2)

Setiap orang percaya setiap perkataannya/perbuataannya harus dipertanggung jawabkan kepada Tuhan , makanya Tuhan memberikan mulut kita satu, supaya kita jangan banyak berkata-kata saja, setiap perkataan yg keluar dari mulut berasal dari hati kita, karena dari hati dan mulut, kita bisa mengaku Yesus adalah Tuhan (Roma 10 : 8). Siapa yang memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari pada kesukaran (Amsal 21: 23), maka perkataan orang2 percaya Jangan ada perkataan kotor keluar dari mulut mu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun dimana perlu supaya mereka yang mendengar beroleh kasih karunia (Efes.4: 29)

Tuhan Yesus berkata kepada kita semua Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya (Lukas 6 : 45)

Oleh sebab itu setiap orang percaya biarlah apa yg diucapkannya, dan ditulis di setiap millis ini membawa berkat bagi banyak orang dan penuh kasih. ( Efesus 4 : 6) .

Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah tetapi tidak mengekang lidahnya ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya (Yohanes 1 : 26)Tuhan memberkati.

Hendaklah Kamu Penuh dengan Roh

Oleh: Ev.sudiana

Bacaan: Efesus 5: 15- 21

Teks yang kita baca pagi ini memberi satu instruksi/perintah kepada kita: “Hendaklah kamu penuh dengan Roh” (Efesus 5:18). Apabila kita meneliti nats tersebut, maka ayat ini terdapat 2 macam interpretasi.

1. Kita dipenuhi oleh Roh Kudus, sehingga kehidupan kita menyatakan suatu kemenangan akan kuasa keselamatan Allah, yang Ia berikan kepada kita dalam Tuhan Yesus Kristus.

2. Sebagai pengikut Kristus kita hendaklah terus mengalami anugerah Tuhan, senantiasa hidup dalam kemenangan kehidupan yang dikontrol oleh Roh Kudus.

Marilah kita terus telusuri makna pengajaran perikop yang kita baca ini.

Kita memunyai hidup baru.

Pengertian yang pertama dari ayat 18 ialah, saat kita bertobat, percaya dan menerima Tuhan Yesus, maka kita dimeteraikan dengan Roh Kudus: ini adalah permulaan hidup baru kita di dalam Yesus Kristus. Oleh karena itu kehidupan kita hendaknya sesuai dengan status kita selaku anak-anak Allah. Karena kita juga disebut sebagai terang dunia, hendaklah kita hidup sebagai anak-anak terang. Ayat 1-5. Firman Tuhan mengajarkan bahwa “percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan disebutpun jangan di antara kamu … Demikian juga perkataan yang kosong atau yang sembrono … ” ayat 3 - 4. Hidup kita bukan lagi sebagai orang yang bebal, tetapi sebagai orang arif. Dengan perkataan lain, pola hidup baru kita harus bertolak belakang dengan pola kehidupan yang lama.

Kita terus hidup dalam kemenangan.

Sebagai pengikut Kristus, kita hendaklah terus mengalami anugerah Tuhan. Sehingga kita dapat senantiasa hidup dalam kekayaan kehidupan rohani yang dikontrol oleh Roh Kudus. Paulus menggunakan suatu perumpamaan untuk membandingkan pola kehidupan yang lama seperti orang yang mabuk karena anggur. Alkohol membuat orang mabuk. Kemabukan sebenarnya berarti bahwa seseorang sudah kehilangan kekuatan mengontrol prilakunya. Karena dalam keadaan mabuk, seseorang akan melakukan tindakan yang tak senonoh dengan tatanan kesusilaan. Perkataan dan kelakuannya tidak ditAndai dengan kesopan-santunan. Sebaliknya orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus setiap sendi kehidupan dan prilakunya dikontrol oleh Roh Kudus. Paulus menulis inilah pola kehidupan yang harus kita pelihara senantiasa.

Hidup kita adalah untuk Kristus dan misi-Nya.

Pada Kisah Para Rasul 1: 4-5 dan ayat 8, kita mengetahui kalau karya Roh Kudus adalah untuk memberitakan Injil Kristus serta memasyhurkan nama-Nya. Dalam Kolose 3:17 Paulus menulis: “Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah Bapa kita.” Ini adalah sesuatu pengajaran yang paralel dengan Efesus 5:18-21. Dengan demikian maka kehidupan pengikut Tuhan Yesus akan membawa segala puji syukur oleh Dia kepada Allah Bapa. Nah, adakah kehidupan kita menyatakan Keagungan Tuhan? Kemuliaan Tuhan? Kekudusan Tuhan? Kasih dan keadilan Tuhan? Hanya kehidupan kita yang dipenuhi oleh Roh Kudus yang dapat melakukannya.

Hidupku Jadi Berarti

Oleh: Ev. Sudiana

KALAU KU HIDUP -- KU HIDUP BAGIMU 'YESUS KU'

AKU INGIN TERUS "HIDUP" BAHKAN SETELAH AKU MATI dan JIKA TUHAN MEMBIARKAN AKU "HIDUP", AKU AKAN MEMBUAT SUARAKU DIDENGAR ORANG. (Isi buku harian Anne Frank yg hidup pd zaman Nazi-perang yg kejam).

The Diary of a Young Girl, terbit di Belanda, 1947 dan di Amerika, 1952. Di Negeri Paman Sam, buku ini menjadi buku yang wajib dibaca para siswa di sekolah, dan digemari para tokoh besar seperti John F. Kennedy, Hillary Clinton, dan Nelson Mandela. Mereka mengaku mendapat kekuatan serta termotivasi.

JIKA SAAT INI AKU MASIH HIDUP, ADA BANYAK YANG HARUS AKU LAKUKAN "SESUAI PERINTAH TUHAN", hingga saat aku di panggil "aku adalah  pemenang".

Benarlah perkataan ini: "Jika kita mati dengan Dia, kitapun akan hidup dengan Dia;" (2 Timotius 2:11)

JESUS LOVE U

Hikmat dari Allah

Oleh: Natanael Simatupang

Bacaan: I Kor 2:6-16

Sungguhpun demikian kami memberitakan hikmat di kalangan mereka yang telah matang, yaitu hikmat yang bukan dari dunia ini, dan yang bukan dari penguasa-penguasa dunia ini, yaitu penguasa-penguasa yang akan ditiadakan.

Tetapi yang kami beritakan ialah hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita.

Tidak ada dari penguasa dunia ini yang mengenalnya, sebab kalau sekiranya mereka mengenalnya, mereka tidak menyalibkan Tuhan yang mulia.

Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia."

Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah.

Siapa gerangan di antara manusia yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia? Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah.

Kita tidak menerima roh dunia, tetapi roh yang berasal dari Allah, supaya kita tahu, apa yang dikaruniakan Allah kepada kita.

Dan karena kami menafsirkan hal-hal rohani kepada mereka yang mempunyai Roh, kami berkata-kata tentang karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh.

Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.

Tetapi manusia rohani menilai segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain.

Sebab: "Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga ia dapat menasihati Dia?" Tetapi kami memiliki pikiran Kristus.


Dalam dunia yang kacau dan kehidupan Moral manusia pada Akhir zaman yg sangat bobrok, kita memerlukan hikmat Allah yang menjaga kita dari segala kehancuran moral. Hikmat Allah akan melindungi kita dari perbuatan yang jahat. Dengan hikmat Allah kita mengerti cara hidup sesuai dengan kehendak Allah dan mengenal Allah dengan sungguh-sungguh.

Hikmat datang dari Allah, dunia tidak mau mengenalnya dan menganggap kebodohan. Hikmat Allah bertentangan dengan hikmat dunia. Dunia mengajarkan keserakahan, ketamakan, kesombongan, hawa nafsu dll., sedangkan Hikmat Allah mengajarkan Kebaikan, kemurahan, kerendahan hati, dan penguasaan diri.

Hikmat Allah mengerjakan perkara-perkara Rohani dalam diri Kita sehingga kita semakin naik dan mulia di hadapan Allah dan Manusia. Membentuk karakter kita menjadi baik dan menyenangkan setiap orang.

Hukum Kelimpahan

Oleh: Asty Bortan

Suatu hari yang indah, seorang kakek tua hendak menaiki bus. Pada saat dia hendak menginjakkan kakinya ke anak tangga bus, salah satu sepatunya terlepas dan jatuh ke jalan. Seketika bus tertutup dan bergerak dengan cepat, sehingga dia tidak bisa memungut sepatu yang terlepas tadi. Lalu si kakek yang tua itu dengan tenang melepas sepatunya yang sebelah dan melemparkannya keluar jendela bus sambil tersenyum.

Seorang pemuda yang duduk di sebelahnya dan melihat kejadian itu keheranan, dan bertanya kepada si kakek tua, "saya memerhatikan apa yang kakek lakukan. Mengapa kakek melempar sepatu yang sebelah juga?"

Si kakek menjawab "Supaya siapa yang menemukan sepatu saya bisa memanfaatkannya."

Ternyata si kakek itu memahami filosofi dasar dalam hidup.

JANGAN MEMPERTAHANKAN SESUATU HANYA KARENA KAMU INGIN MEMILIKINYA ATAU KARENA KAMU TIDAK INGIN ORANG LAIN MEMILIKINYA.

Karena kelekatan akan sesuatu (benda, materi,peristiwa ataupun seseorang) membuat hidup kita terbatas.

Kita kehilangan banyak hal di sepanjang masa hidup. Kehilangan tersebut pada awalnya tampak tidak adil dan merisaukan, tapi itu terjadi supaya ada perubahan positif yang terjadi dalam hidup kita.

Seperti si kakek dalam cerita itu mengajarkan kepada kita untuk belajar dengan rela melepaskan sesuatu.

Tuhan sudah menentukan bahwa, memang itulah saatnya si kakek tua kehilangan sepatunya. Mungkin saja si kakek itu kehilangan sepatu supaya nanti dia bisa mendapatkan sepasang sepatu baru yang lebih baik. Satu sepatu hilang, dan sepatu yang tinggal sebelah tidak akan bernilai banyak bagi si kakek. Tapi dengan melemparkan keluar jendela, sepatu itu akan menjadi hadiah yang berharga bagi gelandagan yang membutuhkannya.

BERSIKERAS MEMPERTAHANKANNYA TIDAK MEMBUAT KITA ATAU DUNIA AKAN MENJADI LEBIH BAIK.

Kita semua harus memutuskan kapan sesuatu hal atau seseorang masuk dalam hidup kita, atau kapan saatnya kita lebih baik bersama yang lain.

KERELAAN KITA AKAN MEMBERIKAN RUANG PERTUMBUHAN BAGI HIDUP KITA SENDIRI.

Memang tidak mudah bagi kita melepaskan sesuatu yang telah menjadi milik kita. Namun, Tuhan telah menjanjikan bahwa segala sesuatunya telah dia sediakan bagi semua yang percaya akan rancangan-Nya.

Hukum Truk Sampah

Oleh: Ev. Sudiana

Suatu hari saya naik sebuah taxi dan menuju ke Bandara. Kami melaju pada jalur yang benar ketika tiba-tiba sebuah mobil hitam melompat keluar dari tempat parkir tepat di depan kami. Supir taxi menginjak pedal rem dalam-dalam hingga ban mobil berdecit dan berhenti hanya beberapa senti dari mobil tersebut. Pengemudi mobil hitam tersebut mengeluarkan kepalanya dan memaki ke arah kami. Supir taxi hanya tersenyum dan melambai pada orang tersebut. Saya sangat heran dengan sikapnya yang bersahabat. Saya bertanya, "Mengapa Anda melakukannya? Orang itu hampir merusak mobil Anda dan dapat saja mengirim kita ke rumah sakit!"

Saat itulah saya belajar dari supir taxi tersebut mengenai apa yang saya kemudian sebut "Hukum Truk Sampah". Ia menjelaskan bahwa banyak orang seperti truk sampah. Mereka berjalan keliling membawa sampah, seperti frustrasi, kemarahan, kekecewaan. Seiring dengan semakin penuh kapasitasnya, semakin mereka membutuhkan tempat untuk membuangnya, dan seringkali mereka membuangnya kepada Anda.

Jangan ambil hati, tersenyum saja, lambaikan tangan, berkati mereka, lalu lanjutkan hidup. Jangan ambil sampah mereka untuk kembali membuangnya kepada orang lain yang Anda temui, di tempat kerja, di rumah atau dalam perjalanan. Intinya, orang yang sukses adalah orang yang tidak membiarkan "truk sampah" mengambil alih hari-hari mereka dgn merusak suasana hati.

Hidup ini terlalu singkat untuk bangun di pagi hari dengan penyesalan, maka kasihilah orang yang memperlakukan Anda dengan benar, berdoalah bagi yang tidak. Hidup itu 10% mengenai apa yang kau buat dengannya dan 90% tentang bagaimana kamu menghadapinya. Hidup bukan mengenai menunggu badai berlalu, tapi tentang bagaimana belajar menari dalam hujan. Selamat menikmati hidup yang diberkati dan bebas dari "sampah".

Ia Telah Bangkit

Penulis : Herlianto

"Janganlah kamu takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya. Mari, lihatlah tempat Ia berbaring.." (Matius 6:19-21)

Yesus yang bangkit memang menjadi sandungan bagi mereka yang menolak Dia, dan untuk meredam fakta historis para saksi mata yang bersaksi tentang kebangkitan itu, Makamah Agama Yahudi menebarkan dusta yang menyebut bahwa "mayat Yesus dicuri para muridnya" (Matius 6:11-15). Dusta-dusta ini terus berkembang dengan berjalannya waktu.

Sepanjang sejarah banyak usaha dilakukan orang untuk mengubah fakta historis ini, ada yang menyebut bukan Yesus yang disalib tetapi Yudas. Dalam film Jesus Christ Superstar (1973) disebutkan Yesus mati frustrasi dalam kegagalan dan Yudas dijadikan pahlawan yang dikorbankan Tuhan. Film yang lain The Last Temptation of Christ (1988) menggambarkan Yesus di atas kayu salib, dalam frustrasinya sebelum mati ia membayangkan menikah dengan Maria Magdalena.

Sebuah buku best seller berjudul Holy Blood Holy Grail (1982) menyebut Yesus menikah dengan Maria Magdalena dan keturunannya tinggal di Perancis Selatan, demikian juga buku best seller lainnya Jesus The Man menyebut Yesus tidak mati di salib tetapi hanya pingsan dan disembuhkan oleh Simon Magus dan lari melalui lorong-lorong gua Qumran. Dusta terakhir disebarkan oleh buku best seller The Da Vinci Code yang menyebut Yesus menikah dengan Maria Magdalena dan sekarang keturunannya tinggal di Inggeris. Tidak kurang ada dusta lainnya yang menyebut bahwa Yesus kabur ke Timur dan mati di Kashmir.

Fakta menunjukkan bahwa setelah Perjamuan Malam dan kemudian Yesus mati di salib, murid-murid menjadi ketakutan dan frustrasi sehingga mereka tidak berani keluar dan tinggal merenung di ruang yang terkunci dan kembali dalam pekerjaan asal mereka, tetapi peristiwa kebangkitan ternyata mengubah segala sesuatu secara radikal.

Petrus yang pengecut dan menyangkal kenal dengan Yesus yang diadili dan akan disalib menjadi pemberani yang berani berbicara lantang bersaksi akan iman kebangkitan yang dipercayainya di depan mahkamah agama. Para Rasul lainnya juga menjadi bergairah mengabarkan Injil kemana-mana, bahkan Thomas yang pernah meragukan kebangkitan Yesus akhirnya menjadi perintis gereja Mar Thoma di India. Perbahan psikologis dalam diri para Rasul ini juga dialami Rasul Paulus, seorang farisi fanatik yang biasa mengejar dan membunuh murid-murid Yesus. Setelah pertemuannya dengan Yesus yang telah bangkit dalam perjalanannya ke Damsyik, ia menjadi rasul kabangkitan yang rela mati demi Nama yang pengikutnya pernah diburu-buru untuk dibunuh olehnya.

Peristiwa sejarah juga menunjukkan adanya ledakan agama besar setelah kebangkitan. Josephus ahli sejarah Yahudi juga menyebut soal kebangkitan agama itu, dan ledakan para pengikut Yesus dengan cepat berlipat ganda dan menakutkan banyak politisi Romawi sehingga mereka mengejar para pengikut Yesus, menjadikannya makanan para singa di Koloseum Roma, dan bahkan menyalibkan mereka di jalan-jalan. Namun iman kebangkitan terus mendorong umat menyebarkan kabar baik kebangkitan itu.

Fakta sejarah lainnya adalah adanya kubur yang kosong dan para pemuka agama Yahudi dan tentara Romawi yang ganas itu tidak bisa menunjukkan dimana mayat Yesus diletakkan atau disembunyikan kalau memang Yesus tidak bangkit. Yesus yang bangkit dilihat oleh banyak sekali orang sehingga mustahillah kalau semuanya itu hasil halusinasi mereka yang sudah terlanjur percaya.

Petunjuk menarik sebagai bukti Yesus bangkit pada hari minggu adalah perubahan Paskah Perjanjian Lama (Tuhan membebaskan umat Israel dari perbudakan Mesir) yang dirayakan pada hari Sabat Sabtu yang begitu ketat dilaksanakan sebagai ritus agama oleh umat Yahudi, dengan bangkitnya Yesus pada hari pertama dalam minggu mendorong umat Kristen tidak lagi merayakan Sabat Sabtu tetapi melaksanakan ibadat di hari Minggu sebagai peringatan mingguan akan Yesus yang telah bangkit pada hari itu. Perubahan melawan tradisi agama yang ketat ini tentu disebabkan peristiwa sejarah yang benar-benar terjadi. Paskah sekarang berarti Tuhan menang atas maut dan Tuhan membebaskan umat manusia dari dosa.

Yesus yang bangkit telah mendorong banyak penginjil untuk memberitakan kabar baik itu ke seluruh dunia dan banyak orang rela sekalipun harus mati sebagai martir karena kesaksian mereka. Polycarpus ketika akan dibakar kecuali kalau ia mau menyangkali Yesus dan menyembah kaisar, berseru: "70 tahun Ia (yang telah bangkit itu) tidak pernah mengecewakan saya, bagaimana saya harus mengecewakan Dia pada hari ini?", ia mati dibakar. Iman Kristen tidak didasarkan pada penderitaan Yesus atau penyaliban-Nya, tetapi iman Kristen didasarkan kebangkitan Yesus dari kematian yang menunjukkan kemenangan-Nya atas maut dan bahwa Ia adalah Tuhan atas kehidupan ini.

Berita Yesus yang telah bangkit tetap diberitakan sampai sekarang, dan bukan sekedar sebagai fakta historis tetapi sebagai janji bahwa Tuhan Yesus akan membangkitkan umat yang percaya. Bagi pengikut Tuhan Yesus, Ia adalah Kristus, sang juruselamat, yang membebaskan umatnya dari perhambaan dosa dan membawa kepada keselamatan dan kebangkitan tubuh bila telah mati.

Peringatan Paskah bukan sekedar ritual agama, tetapi merupakan momentum bagi manusia untuk menyadari bahwa hidup manusia itu harus dipertanggung-jawabkan di hadapan Allah pada saat mereka meninggal atau belum meninggal saat kedatangan-Nya kedua kali kelak. Namun, bagi mereka yang mau menerimanya sebagai juruselamat dan mengakui dosa-dosa mereka dan tidak berbuat lagi dan melakukan kehendak Allah, maka kebangkitan menjadi jaminan bila nanti mati meninggalkan dunia yang fana ini.

Berita Ia telah bangkit bukan sekedar catatan Alkitab yang terjadi 2000 tahun yang lalu, melainkan kabar baik yang tetap diberitakan sampai sekarang, bahwa Ia menjanjikan kebangkitan juga bagi orang yang percaya dan diperkenan-Nya, dan menjadi pengharapan hidup bagi semua orang yang membuka diri kepada-Nya.

Selamat Hari Paskah, Amin!

Ibadah kepada Tuhan Ada Harganya.

Oleh: Yon Maryono

Dalam 2Samuel 24: 18- 24, Pada saat Gad berkata kepada Daud : “Pergilah, dirikanlah mezbah bagi TUHAN di tempat penggirikan Arauna, orang Yebus itu “. Terungkap kata “membayar harga” ketika Daud menjawab sebagai berikut : “Aku mau membelinya dari padamu dengan membayar harganya, sebab aku tidak mau mempersembahkan kepada Tuhan, Allahku, korban bakaran dengan tidak membayar apa-apa.” Daud diperintah Tuhan ketempat Penggirikan Arauna, orang Yebus. Yebus adalah salah satu suku bangsa Kanaan yang tinggal di daerah pegunungan disekitar Yerusalem. Penguasanya bernama Arauna dibawah kuasa Daud pada waktu itu (2 Sam 5:6-10). Dibawah kuasa dapat merujuk pemahaman bahwa penguasa dapat memaksa jajahannya untuk menyerahkan sesuatu. Ya, Daud dapat melakukan itu kepada Arauna. Tetapi Daud tidak memaksa Arauna. Tempat penggirikan Arauna untuk pendirian mezbah bagi Tuhan dibayar harganya oleh Daud. Demikian juga, cerita di I Tawarikh 21, Daud membayar harga untuk penggirikan Ornan. Berapa harga yang dibayar Daud ? Apakah Daud memberi Arauna lima puluh syikal perak untuk membeli tempat penggirikannya, seperti diceritakan dalam II Samuel 24:24, ataukah dengan enam ratus syikal emas, seperti dinyatakan dalam I Tawarikh 21:25? Beberapa penafsir menjelaskan selisih atau perbedaan tersebut terletak pada sikap dua penulis dari teks-teks itu. Daud barangkali membeli tempat pengirikan itu dengan harga lima puluh syikal, seperti dicatat Kitab Samuel; tetapi sesudah itu dia memutuskan bahwa Bait Allah akan dibangun di sana, karenanya dia membeli seluruh tanah perbukitan itu dengan harga enam ratus syikal, sebagaimana dikatakan penulis Tawarikh. Syikal dalam ensiklopedi Alkitab adalah ukuran berat. 50 Syikal setara dengan 500 gram, 600 sykal setara 6000 gram. Harga 6000 gram bila dirupiahkan saat ini dengan harga emas sekitar Rp 360.0000,--/gram = 6000 X Rp 360.000,- = Rp 2.160.000.000,--. (Dua Milyar seratus enam puluh juta rupiah)
Dalam pesan ini, pokok masalahnya bukan nilai uang dan luas tanahnya. Daud dalam beribadah telah membayar harga untuk Tuhan. Berapa banyak diantara kita yang menyadari bahwa membangun Bait Allah adalah melaksanakan ibadah kepada Tuhan dengan harga yang perlu dibayar ?
Tuhan memberkati.

Sumber:
Pribadi

Iblis Bahagia

Jika si Iblis menulis ucapan bahagianya, maka bunyinya mungkin akan seperti ini:

Iblis Menggugat

Oleh: Hwian Christianto

(percakapan imajiner antara Allah dan Iblis tentang tanggung jawab)

Iblis: Baiklah, disini dan saat ini aku ingin meluruskan beberapa hal yang selama ini sangat merugikan aku. Pertama, hai Raja, lihatlah manusia itu, makhluk yang Kau cipta dengan penuh keistimewaan itu dan Kau kasihi dengan nyawa-Mu itu selalu saja tidak mau bertanggung jawab atas segala dosanya.

Allah (Raja): Mengapa kau katakan begitu?

Iblis: Engkau sendiri sebenarnya sudah tau ketika dia melakukan segala kebusukan hatinya. Pastilah Engkau tahu ketika dia dengan sengaja mengatupkan mulutnya di Gereja saat memuji-Mu, ketika dia begitu malas untuk berdoa, ketika dia bermalas- malasan di tempat tidurnya bahkan ketika dia mulai berjalan mengandalkan dirinya sendiri. Semua itu jelas-jelas, salah manusia, makhluk yang Kau sayangi itu. Benar bukan?!

Allah: Apakah yang kau maksudkan iblis?

Iblis: Aku hanya menuntut keadilan dari semua yang dituduhkan kepadaku. Coba saja lihat, betapa aku seringkali dan malah selalu menjadi kambing hitam dari semua dosa yang manusia lakukan itu. Coba lihat, dalam kasus seorang Kristen yang tidak sungguh-sungguh bernyanyi memuji-Mu di Gereja, selalu saja aku yang di salahkan. Yang karena intimidasi-lah sehingga membuat mereka malas, yang karena pencobaan-lah sehingga mereka merasa tertarik pada lagu- lagu pop dan rock dunia ketimbang lagu-lagu-Mu.

Allah : Benarkah engkau tidak bertanggung jawab apa-apa atas semua kejatuhan manusia itu, hai iblis?

Iblis: Ya, kalo dibilang sama sekali tidak bertanggung jawab ya tidak juga, namun Raja, Engkau sendiri yang menetapkan peperangan ini, jadi bukan salah aku dan para serdadu ku semata jika manusia itu jatuh ke dalam dosa.

Allah: Namun engkau berperan di dalamnya bukan?

Iblis: Nah, itu aku akui, tetapi manusia sendirilah yang membuahkan keinginan berdosa itu dengan kehendaknya yang rakus sehingga memberontak melawan Engkau. Sungguh, ini semua bukan 100% kesalahanku

Allah: Hai iblis, ketahuilah, Aku ini Allah, Raja atas semua yang ada, termasuk atas kamu. Akulah Allah yang tetap menyatakan kebenaran dan keadilan tidak ada yang terjadi tanpa seijin Aku. Untuk keluhan dan gugatanmu itu, bukankah dari sejak awal Aku sudah menghukum dengan adil atas semua pihak yang bertanggung jawab. Manusia, memang Aku kasihi namun tidak dengan memanjakan mereka, Aku tahu dengan benar sebesar apa dosa mereka dan siapa yang harus bertanggung jawab atasnya. Kepada manusia, Aku hukum mereka terpisah dari hubungan yang kekal dan indah dengan Aku. Mereka akan merasakan hidup tanpa Allah sebagai akibat dosa mereka sendiri. Dan untukmu, engkau akan menjadi musuh dan seteru manusia di dalam pergumulannya melawan dosa dan kembali kepada-KU.

Iblis: Oke, oke aku paham mengenai hal itu, tetapi jangan selalu menyalahkan aku dong. Semua dosa yang di perbuat manusia sekali lagi, mereka-lah yang seharusnya bertanggung jawab bukanlah aku. Aku kan hanya melakukan bagianku untuk menggoda mereka, menipu mereka dan membujuk mereka agar jauh dari-Mu. Nah, soal mereka akhirnya menjauh dari-Mu itukan tergantung mereka sendiri bukan aku yang salah.

Allah: Hai iblis, sangkamu Aku tidak mengetahui semua maksud dan tipu dayamu! Lihatlah apa yang Aku lakukan kepadamu, ketika engkau masih menjadi malaikat kesayangan-Ku, engkau Ku puji sebagai pelayan-Ku yang setia namun apa yang Ku peroleh darimu, pujian tidak kau berikan, malahan engkau iri kepada kemuliaan- Ku dan mengingini takhta-Ku. Itulah kenapa engkau, menjadi bapa penipu. Dan untukmu Aku sudah mempersiapkan satu hukuman yang kekal bagimu, itulah keadilan-Ku bagimu.

Iblis:bagimana dengan manusia?

Allah: Aku-lah Allah yang menyatakan kehendak-Ku, didalam otoritas-Ku, Aku nyatakan segala kasih dan anugerahKu kepada mereka. Jika mereka berdosa, Aku tetap menuntut mereka untuk bertanggung jawab atas dosa mereka. Mereka tetap harus berlutut di hadapan-Ku, dan bertobat atas semua perbuatan jijik yang mereka lakukan. Aku yang menuntut semua orang yang berdosa kepada- Ku.

Iblis: Wah, maaf aku tidak akan biarkan itu terjadi Raja, selama hari penghukuman itu belum tiba, aku tetap akan mengerjakan peperangan ini, membawa sebanyak mungkin orang-orang yang Kau kasihi itu pelan namun pasti segera menjauh dari-Mu. Akan ku buat mereka terlena dengan zona kenyamanan mereka, bersukacita atas keberhasilan mereka sehingga lupa kepadaMu, mengorek luka hati mereka kepada setiap orang yang mereka kasihi sehingga nanti aku tidak akan sendirian di Neraka.

Allah: di bawah kuasa dan anugerah-Ku, semua manusia yang percaya kepadaKu akan tetap Ku pelihara dan bertekuk lutut kepadaKu. Mereka akan setia dan melayani Aku. Mereka akan terus bertumbuh dan semakin membenci dosa dan takut akan Aku. Itulah janjiKu atas mereka.

Iblis: Huahahahahahaa, lihat saja nanti!!

Ikatkan Sehelai Pita Kuning Bagiku...

Pada tahun 1971 surat kabar New York Post menulis kisah nyata tentang seorang pria yang hidup di sebuah kota kecil di White Oak, Georgia, Amerika. Pria ini menikahi seorang wanita yang cantik dan baik, sayangnya dia tidak pernah menghargai istrinya. Dia tidak menjadi seorang suami dan ayah yang baik. Dia sering pulang malam- malam dalam keadaan mabuk, lalu memukuli anak dan isterinya.

Satu malam dia memutuskan untuk mengadu nasib ke kota besar, New York. Dia mencuri uang tabungan isterinya, lalu dia naik bis menuju ke utara, ke kota besar, ke kehidupan yang baru. Bersama-sama beberapa temannya dia memulai bisnis baru. Untuk beberapa saat dia menikmati hidupnya. Sex, gambling, drug. Dia menikmati semuanya.

Bulan berlalu. Tahun berlalu. Bisnisnya gagal, dan ia mulai kekurangan uang. Lalu dia mulai terlibat dalam perbuatan kriminal. Ia menulis cek palsu dan menggunakannya untuk menipu uang orang. Akhirnya pada suatu saat naas, dia tertangkap. Polisi menjebloskannya ke dalam penjara, dan pengadilan menghukum dia tiga tahun penjara.

Menjelang akhir masa penjaranya, dia mulai merindukan rumahnya. Dia merindukan istrinya. Dia rindu keluarganya. Akhirnya dia memutuskan untuk menulis surat kepada istrinya, untuk menceritakan betapa menyesalnya dia. Bahwa dia masih mencintai isteri dan anak-anaknya. Dia berharap dia masih boleh kembali. Namun dia juga mengerti bahwa mungkin sekarang sudah terlambat, oleh karena itu ia mengakhiri suratnya dengan menulis, "Sayang, engkau tidak perlu menunggu aku. Namun jika engkau masih ada perasaan padaku, maukah kau nyatakan? Jika kau masih mau aku kembali padamu, ikatkanlah sehelai pita kuning bagiku, pada satu-satunya pohon beringin yang berada di pusat kota. Apabila aku lewat dan tidak menemukan sehelai pita kuning, tidak apa-apa. Aku akan tahu dan mengerti. Aku tidak akan turun dari bis, dan akan terus menuju Miami. Dan aku berjanji aku tidak akan pernah lagi menganggu engkau dan anak-anak seumur hidupku."

Akhirnya hari pelepasannya tiba. Dia sangat gelisah. Dia tidak menerima surat balasan dari isterinya. Dia tidak tahu apakah isterinya menerima suratnya atau sekalipun dia membaca suratnya, apakah dia mau mengampuninya? Dia naik bis menuju Miami, Florida, yang melewati kampung halamannya, White Oak. Dia sangat sangat gugup. Seisi bis mendengar ceritanya, dan mereka meminta kepada sopir bus itu, "Tolong, pas lewat White Oak, jalan pelan- pelan...kita mesti lihat apa yang akan terjadi..."

Hatinya berdebar-debar saat bis mendekati pusat kota White Oak. Dia tidak berani mengangkat kepalanya. Keringat dingin mengucur deras. Akhirnya dia melihat pohon itu. Air mata menetas di matanya...

Dia tidak melihat sehelai pita kuning...

Tidak ada sehelai pita kuning....

Tidak ada sehelai......

Melainkan ada seratus helai pita-pita kuning....bergantungan di pohon beringin itu...Ooh...seluruh pohon itu dipenuhi pita kuning...!!!

Kisah nyata ini menjadi lagu hits nomor satu pada tahun 1973 di Amerika. Sang sopir langsung menelpon surat kabar dan menceritakan kisah ini. Seorang penulis lagu menuliskan kisah ini menjadi lagu, "Tie a Yellow Ribbon Around the Old Oak Tree", dan ketika album ini di-rilis pada bulan Februari 1973, langsung menjadi hits pada bulan April 1973.

*) Dalam kisah "Anak yang Hilang", diceritakan Sang Bapa melihat si anak murtad dari kejauhan. Berarti dia telah berdiri menanti di pinggir jalan. Selama bertahun-tahun. Terus, tak pernah menyerah. Tetangganya mungkin mengejek dia setiap hari.

Dia tidak menghukum si anak murtad. Melainkan lari cepat tanpa memperdulikan kehormatannya memeluk dia, dan menghujaninya dengan ciuman.

Jika ada pohon beringin di sorga, tentulah pohon itu akan dipenuhi ribuan, jutaan, ...tak terhitung...pita-pita kuning....

Allah yang seperti itu yang kita miliki sebagai Bapa...

Uh, adakah yang lebih berharga dalam hidup?

Iman dan Perkataan Yesus

Oleh: Andy

Ada banyak lagu dan pujian yang kita naikkan untuk menyatakan isi hati kita kepada Tuhan. Beberapa di antaranya merupakan ungkapan pernyataan iman tentang kepedulian Allah terhadap hidup kita. Tentu saja Tuhan senang dengan iman yang dinyatakan lewat pujian kepada Dia.

Demonstrasi iman yang dinyatakan seorang perwira di Kapernaum kepada Yesus bahkan membuat Yesus heran akan dia dan berkata “..Iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai sekalipun di antara orang israel” (Lukas 7:1-10). Pernyataan Yesus tentang keheranan-Nya akan iman seorang perwira Yahudi jelas merupakan suatu pujian yang tulus dan tidak mengandung kepentingan apapun juga. Bukan karena iman ini lahir dari seorang perwira Kerajaan Romawi yang disegani dan dihormati. Bukan juga karena Yesus bermaksud memperoleh “posisi aman” karena berkenalan dengan seorang perwira tinggi Romawi. Pujian yang Yesus nyatakan dalam bentuk keheranan-Nya lebih disebabkan beberapa hal berikut ini.

1. Sebagai seorang Perwira tinggi Kerajaan Romawi, dia bisa saja memanfaatkan kedudukannya untuk memerintahkan Yesus supaya datang dan menyembuhkan hambanya yang sedang sakit. Tetapi yang terjadi adalah dia mengirimkan beberapa orang tua-tua Yahudi untuk memohon pertolongan Yesus.

2. Perwira tinggi Romawi ini bukan mengirimkan sembarang orang untuk menemui Yesus. Dia mengirimkan tua-tua Yahudi yang sangat dihormati dalam pelayanan rumah Ibadah orang Yahudi. Ini merupakan pernyataan iman yang sangat dalam yaitu bahwa dia mengakui Yesus lebih tinggi daripada imam-imam orang Yahudi.

3. Perwira ini bersusah payah untuk mendapatkan Yesus hanya karena kepeduliannya terhadap bawahannya yang sakit lumpuh. Dia tidak sedang bersusah payah untuk memperoleh kesembuhan bagi dirinya sendiri atau keluarganya. Tetapi sebagai seorang perwira tinggi yang memiliki banyak bawahan, dia bahkan peduli terhadap salah seorang bawahannya yang sakit.

4. Perwira ini dengan segala kenyamanan, kehormatan, kekayaan dan fasilitas yang dimilikinya sebenarnya sangat memungkinkan baginya untuk masuk dalam perangkap kenikmatan seorang penguasa dan melupakan sisi lain dari kehidupan agamawinya. Tetapi Alkitab mencatat perwira ini merupakan seorang yang sangat peduli terhadap pembangunan rumah ibadah orang Yahudi.

5. Perwira ini tidak mengajukan banyak pertanyaan kepada Yesus, tidak juga meragukan kemampuan Yesus, tidak menaruh curiga kepada Yesus dan tidak menginginkan apapun dari Yesus selain kesembuhan bawahannya. Sebaliknya Perwira ini justru mengungkapkan keyakinannya kepada Yesus dalam satu perkataan fenomenal yang penuh kuasa, ....”tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh ”

Alkitab tidak mencatat kejadian ini sebagai perumpamaan, tetapi sejarah perjalanan Yesus ketika memasuki kota kecil Kapernaum. Yesus tentu saja tahu bahwa DIA akan bertemu seorang perwira di kota ini. Tetapi Yesus tidak pernah menyangka kalau seorang perwira tinggi yang hanya sebatas pernah mendengar tentang mujijat yang Dia (Yesus) lakukan ini, menaruh kepercayaan yang sangat tinggi kepada-Nya. Itu sebabnya Yesus berkata ...”Ia heran akan dia”

Seringkali dalam hidup kekristenan, kita dihadapkan pada suatu pilihan untuk mempercayai Yesus sepenuhnya atau tidak. Lihatlah perkembangan teknologi dan kemampuan intelegensia manusia yang semakin menakjubkan. Apakah kita masih sungguh-sungguh perlu Tuhan dalam abad modern yang diberi label “Tuhan sudah mati” ? Manusia sekarang tidak lagi takut akan Tuhan.

Keberadaan Tuhan merupakan ejekan di dunia internet. Manusia hidup dalam kesombongan dan kebodohan terbesar sepanjang sejarah. Manusia masuk dalam perlombaan untuk menyamai Tuhan sebagaimana yang dilakukan oleh Lucifer dan Nimrod dalam pembangunan menara babel. Babel yang merupakan lambang dari kebejatan moral, kerajaan ego, penyembahan berhala dan nafsu percabulan dengan dunia pada akhirnya akan dihancurkan (Wahyu 14:8).

Perkataan Yesus banyak kita jumpai di mana-mana. Sebagian menggunakan perkataan Yesus untuk mencari keuntungan dengan mendramatisasi jemaat lewat kotbah-kotbah di atas mimbar, yang lain menghiasi perkataan Yesus dalam bingkai-bingkai indah untuk dijual sebagai pajangan semata, beberapa sekolah Kristen menawarkan sensasi pendidikan karakter serupa Kristus dalam mata program tahunannya dengan biaya sekolah yang sangat mahal, hamba-hamba Tuhan berlomba-lomba mengutip perkataan Yesus untuk memotivasi jemaat membangun gedung gereja yang lebih besar sementara melupakan hakekat dasar jemaat sebagai tubuh Kristus yang utama, dan masih banyak lagi lainnya.

Perkataan Yesus tidak lagi memiliki kuasa karena dimanfaatkan untuk tujuan lain yang tidak sesuai dengan karakter Ilahi. Perkataan Yesus hanya serupa mantera untuk menghalau kesialan hidup. Perkataan Yesus tidak lagi termanifestasi menjadi seperti aliran sungai yang memuaskan orang yang mendengarnya tetapi sebaliknya menjadi perdebatan bahkan di antara sesama orang yang mengaku dirinya percaya kepada Yesus. Ironis.

Itu sebabnya ketika kita mengusir setan, setan tidak pergi. Ketika kita berdoa mencurahkan berkat, berkat tidak datang. Dan saat kita mencari kesembuhan dalam nama Yesus, yang kita dapati hanyalah kekecewaan belaka. Iman kita membeku dalam jerat waktu. Iman kita mati dalam pengharapan dan keniscayaan. Iman kita tidak bertransformasi menjadi kenyataan.

Iman seorang perwira Romawi merupakan refleksi atas kondisi iman yang Yesus harapkan kita miliki. Gaya hidup perwira Romawi yang menaruh kepedulian atas rumah Allah dan sesamanya merupakan sinkronisasi yang harmonis dan sesuai dengan perintah-Nya dalam Ulangan 6:5, dan Imamat 19:18, Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu,.. dan Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

Kepedulian terhadap sesama akan menggerakkan hati Yesus untuk bertindak dalam hidup kita, sehingga ketika kita menyatakan perkataan Yesus, perkataan Yesus tidak akan kembali dengan sia-sia. Hukum kasih melebihi semua yang mampu kita kerjakan, lebih berharga daripada jika kita memberi diri untuk dibakar (1 Kor. 13:3). Dan ketika kita melakukannya, pujian yang Yesus berikan kepada sang perwira, tidak mustahil juga akan diberikan kepada kita. Biarkan Yesus terheran-heran dengan iman yang kita miliki saat ini.

Tuhan memberkati.

Iman yang Baru

Penulis : Diana Sihotang

Roma 8:35

Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?

Sementara aku bersiap-siap melanjutkan pendidikan di luar negeri, aku khawatir dan cemas sebab aku belum pernah pergi jauh dari rumah. Imanku masih baru, dan aku takut kalau terpisah dari komunitas imanku, aku akan kembali ke dosa-dosa lamaku. Aku merasa masih terlampau muda dalam iman untuk menghadapi dunia luar seorang diri. Namun, melanjutkan pendidikan sangat penting bagiku.

Saat aku bergumul apakah aku harus berangkat atau tidak, aku terus dihibur dan diingatkan akan kasih Allah. Ia menolongku menyadari bahwa tidak ada satu pun, bahkan kelemahanku, yang mampu memisahkan diriku dari kasih Allah [Roma 8:38-39 - 38 Sebab aku yakin, baik maut mau pun hidup, baik malaikat-malaikat, mau pun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, mau pun yang akan datang, 39 atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, mau pun yang di bawah, atau pun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.].

Hari ini aku merupakan bagian dari suatu komunitas iman yang baru di mana aku bisa lebih melayani Allah dan bahkan terus bertumbuh di dalam iman. Doa harian dan pemahaman Alkitab membantuku agar imanku tetap teguh. Dan bila aku mulai mengkhawatirkan hubunganku dengan Allah, aku teringat akan Yeremia 29:11 - "Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan."

Tidak ada sesuatu apa pun yang mampu memisahkan kita dari kasih Allah.

Indahnya Kekudusan

Oleh:Sunanto

Pada tanggal 31 Desember 1999, saya dengan beberapa orang teman pergi ke Opera House untuk menikmati malam pergantian menuju milenium baru sebab di tempat itu akan ada fire work yang katanya sangat indah dan fantastik. Kabarnya tradisi perayaan tahun baru di Sydney merupakan yang termahal di dunia. Sejak siang hari kami sudah berangkat ke sana sebab sangat banyak orang yang ingin menyaksikan momen tersebut. Penantian kami ternyata tidak sia-sia, fire work yang berlangsung hampir satu jam itu dan diakhiri dengan tulisan eternity di Harbour Bridge sungguh sangat menakjubkan.

Tepat pada detik pergantian menuju milenium baru, kembang api raksasa itu keluar secara bersamaan dari Opera House, Harbour Bridge, Darling Harbour, Centre Point dan beberapa gedung tinggi lainnya.Wow, itu merupakan pemandangan terindah yang pernah saya lihat dalam hidup ini. Bila anda menyaksikan sendiri momen itu saya jamin pasti anda akan terpesona oleh keindahan pemandangan tersebut. Namun setelah saya mengalami indahnya hidup dalam hadirat Allah maka saya merasa keindahan pemandangan pada malam pergantian milenium itu masih kalah indah.

Bagi anda yang pernah merasakan jatuh cinta pasti akan mengenang masa-masa indah tersebut. Beberapa kali saya pernah merasakan indahnya saat sedang jatuh cinta dengan seorang wanita tetapi masih lebih indah saat menikmati curahan kasihNya. Seperti kata Benny Hinn, sangat sulit untuk mendefinisikan keindahan kasih Allah yang dicurahkan dalam hati manusia. Hidup dalam kekudusan bukanlah hal yang membosankan melainkan hal yang paling membahagiakan dalam hidup ini. Saat kita telah mengecap keindahan sukacita sorgawi itu maka seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus, semua kenikmatan yang dunia dapat berikan bagaikan sampah dibandingkan dengan keindahan tersebut. Orang-orang yang telah mengalami kasih Allah tidak akan takut mati lagi bahkan mati dianggap keuntungan.

Katekismus Westminster mengatakan tujuan akhir manusia adalah memuliakan Allah dan menikmati Dia selamanya. Banyak orang Kristen yang beranggapan bahwa yang Tuhan inginkan dari hidupnya adalah pelayanan. Tujuan hidup kita adalah menikmati persekutuan dengan Allah dan dari persekutuan terjadi pembuahan yang akan melahirkan pelayanan. Pelayanan bukanlah tujuan melainkan hasil dari persekutuan dengan Allah. Orang yang giat melayani belum tentu mengasihi Tuhan tetapi orang yang mengasihiNya pasti akan melayani Tuhan dan sesama.

Hanya orang yang bersih tangan dan murni hatinya yang boleh naik ke gunung Tuhan. Kesucian merupakan syarat utama untuk bisa mengalami persekutuan yang intim dengan Allah. Sebelum kita masuk ke dalam realitas keindahan kasih Allah itu maka terlebih dahulu akan ada proses pengudusan. Sama seperti emas dimurnikan dengan api, hati manusia dimurnikan oleh panasnya api pengujian. Kitab Petrus berkata “janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu. Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya.” Bersabarlah bila saat ini anda sedang diproses dan diuji oleh Tuhan sebab sukacita, kasih dan kuasa yang baru menanti di ujung proses itu. Satu hari nanti pasti anda akan mengalami keindahan dari pelangi kasihNya!

Indahnya Mengampuni

Oleh: Ev.Margareth Linandi

Ada seorang ibu yang mempunyai seorang anak perempuan bernama Dita. Dita, sebelum ayahnya meninggal, adalah seorang yang sangat mengasihi orang tuanya. Setelah ayahnya meninggal, Dita menjadi anak yang sangat nakal. Hampir tiap hari ada saja ulah Dita mengambil makanan dari orang lain tanpa bayar, mencuri mainan tetangganya, merusakkan mainan tetangganya, memecahkan kaca, dan lainnya. Sikap Dita seperti itu membuat tetangganya membenci Dita dan ibunya. Hampir satu kali Dita dikeroyok oleh tetangganya dan hendak dipukuli. Saat itu ada seorang tetangganya yang adalah RT setempat menghimbau warganya untuk mengampuni Dita. Seorang tetangga menjawab ”Memang enak mengampuni?” Jawab Bu RT, “Memang enak kok mengampuni itu”.

Satu kali seperti biasa Dita membuat ulah dan ia hampir masuk ke dalam sumur dan di dalam sumur itu ada seekor ular. Dita ketakutan. Sementara itu, tetangganya yang teringat perkataan ibu RT itu menolong Dita dan memang ternyata mengampuni itu enak sekali.

Dari cerita di atas kita bisa melihat mengampuni tidaklah mudah tapi ketika kita belajar mengampuni akan terasa indah.

Bicara tentang pengampunan, mudahkah untuk melakukannya? Sampai berapa kali harus mengampuni? Bisakah kita mengalah demi memperoleh kemenangan? Saya akan mencoba mengupas lebih dalam tentang indahya mengampuni.

Dalam Matius 18:21-35, Petrus seorang murid Tuhan yang sangat ambisius pernah bertanya "Tuhan, sampai berapa kalikah aku harus mengampuni musuhku? Sampai tujuh kalikah?” (Bagi Petrus 7 adalah angka yang sangat besar dan batas untuk bisa mengampuni orang). Jawab Yesus: ”Bukan cuma 7x tapi 70x7x." Artinya mengampuni tanpa batas, mengampuni terus menerus. Yesus menjelaskan tentang pengampunan dengan perumpamaan ada seorang yang berhutang kepada raja 10.000 talenta. 1 talenta= 6000 dinar. Jika dikalikan adalah hamba itu punya utang bisa mencapai 60.000.000 dinar. Ia selalu memohonkan kepada raja supaya raja menghapuskan utangnya (walau itu tidak mungkin karena tak dapat dilunaskan) tapi akhirnya hati raja penuh dengan belas kasihan dan akhirnya raja membebaskan utang hamba itu. Setelah dibebaskan, dia bertemu temannya yang berhutang kepadanya 100 dinar. Tapi hamba ini luar biasa jahat karena dia memaksa temannya yang berhutang 100 dinar untuk membayar hutangnya dan bahkan menjebloskannya dalam penjara; teman-temannya mengetahuinya dan akhirnya sampai ke telinga raja. Raja akhirnya memutuskan untuk memasukkan dia ke dalam penjara sampai hutangnya lunas. Hal ini terjadi karena hamba yang telah dibebas hutangkan oleh raja harusnya juga mengampuni temannya yang berhutang lebih sedikit dari dia.

Mengapa orang sangat sulit untuk mengampuni? Ada orang yang mengatakan mengampuni gampang dan ada pula yang mengatakan susah. Adapun alasan mengapa orang susah mengampuni adalah:

1. Karena manusia masih hidup dalam kedagingan dan masih egois hanya mementingkan diri sendiri bukan orang lain.

2. Karena orang tersebut terlalu sering menyakitkan hati kita.

3. Karena begitu besar luka yang ditimbulkan orang tersebut sehingga susah untuk diampuni.

Apa dampaknya kalau kita tidak bisa mengampuni orang?

Dalam Matius 6:15 dikatakan jikalau kita tidak mengampuni kesalahan orang maka Bapa di surga juga tidak akan mengampuni kesalahan kita.

Sungguh mengerikan bila itu terjadi pada kita. Kita mungkin bertanya ”Memang mudah mengampuni?” sementara orang itu sangat menyakiti hati kita. Tapi kenyataannya bahwa jika kita tidak mau mengampuni kesalahan orang lain maka kesalahan kita juga tidak akan diampuni.

1. Doa-doa kita tidak dijawab oleh Tuhan. Mungkin kita sudah berdoa selama berpuluh-puluh tahun, untuk satu pergumulan tapi tidak dijawab-jawab, jangan kita berkata Tuhan kenapa jahat? Tidak adil? tapi ketika doa kita tidak dijawab Tuhan koreksilah diri kita apakah selama ini ada dendam dalam hati kita kepada orang lain, jika ada selesaikanlah dan kita akan mendapat jawaban doa.

2. Kita akan hidup dalam perasaan gelisah, tidak ada damai, karena yang ada hanyalah kemarahan, kekesalan.

3. Kalau kita tidak bisa mengampuni orang maka dendam yang ada akan tertanam dalam diri kita dan menimbulkan penyakit dan yang umumnya terjadi adalah tumor dan kanker karena ada dendam yang tak terselesaikan.

Apa alasan kita harus mengampuni?

Secara teologis jelas, karena Allah telah mengampuni kita dan rela mati disalib demi menebus manusia yang berdosa. Allah mati disalib, dipakaikan mahkota duri, dicambuk bukan karena salah Yesus bahkan Ia ditinggalkan Allah Bapa akan tetapi Dia mau melakukannya karena Dia sudah mengampuni dosa kita dan mengasihi kita. Apa akibatnya jika Yesus tidak mau mati disalib? Tentulah semua orang termasuk saya akan masuk dalam neraka.

1. Mengampuni memang susah tapi ketika belajar untuk mengampuni orang maka kita akan merasakan indahnya mengampuni. Saya akan mengemukakan tips-tips bagaimana yang harus dilakukan sebagai bentuk pengampunan?

2. Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan tapi kalahkan dengan kebaikan; bila musuh kita menampar pipi kanan,beri pipi kiri. Ini adalah metafora yang artinya bisa berbuat baik bagi musuh kita.

3. Berdoa bagi mereka yang membenci kita dan memusuhi kita.

Jangan hidup dalam dendam, tapi hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang.

Kita boleh marah dan bahkan Yesus juga pernah marah waktu rumahNya dipakai untuk penjualan kambing domba dan tempat penukaran orang tapi jangan dendam. Dalam Roma 12:16-21 ada dikatakan ”Pembalasan adalah hak Ku” Jadi jangan kita mengambil hak Tuhan tapi biar Tuhan yang balas kalau kita diperlakukan tidak adil oleh orang yang membenci kita.

4. Bila musuh kita lapar beri dia makan, jika haus beri dia minum. Dengan demikian akan menumpukkan bara api di atas kepalanya (Mat 5:38-48) ini berarti kalau kita tidak membalas kepada orang yang sudah berbuat jahat tapi mengasihi orang itu, orang itu akan melihat kemuliaan Tuhan dan malu karena kita tidak mendendam tapi mengasihinya. Sungguh indah mengampuni itu. Amin.

Ingat Tuhan dalam Rencana-Mu

Oleh: Ev. Margareth Linandi

Dalam kehidupan ini, sebelum melakukan segala sesuatu perlu memikirkan perencanaannya. Seorang pemudi yang sudah berusia 25 tahun ke atas pasti sudah mulai memikirkan rencana-rencana yang akan ditempuh untuk jalan hidupnya. Ia mulai merencanakan hubungan serius dengan lawan jenis, lalu menikah. Merencanakan apa yang harus dilakukan setelah menikah? Merencanakan adanya bayi dalam keluarga baru, setelah itu merencanakan siapa yang boleh dan tidak boleh bekerja, dan lainnya. Intinya kehidupan manusia tidak lepas dari perencanaan.

Ada lagi seorang bos yang memunyai rencana bagaimana ia harus mengembangkan perusahaannya. Dia mulai membuka anak perusahaan di kota A, B, C dan mendapatkan untung bagi dia dan keluarga.

Seorang kaya raya divonis menderita kanker tentunya akan berencana untuk pergi berobat ke Singapura atau Penang dan sanggup membayar dengan terapi-terapi mahal yang dapat mematikan sel kankernya. Semua rencana indah dan berguna.

Dalam Yakobus 4 dikisahkan tentang seorang yang ingin pergi dan berdagang serta mendapat untung. Apakah salah jika kita membuat rencana? Tidak salah, justru bagus. Buatlah rencana sebaik mungkin, tetapi Yakobus 4:13-17 mengingatkan kita untuk melibatkan Tuhan dalam perencanaan kita bukan dengan mengandalkan otak dan pikiran kita saja.

Mengapa kita harus melibatkan Tuhan dalam rencana kita?

Penulis mencatat ada 3 alasan:

1. Karena kita tidak tahu sampai kapan kita bisa hidup.
Umur manusia ada di tangan Tuhan. Tuhanlah yang empunya hidup kita dan mengatur hidup kita termasuk rencana kita. Walau kita sudah berencana sebaik mungkin, belum tentu besok kita masih bisa hidup.

2. Karena rencana kita yang kita buat belum tentu sesuai dengan rencana Tuhan dan menyenangkan hati Tuhan.

3. Karena mungkin saja rencana kita membuat Tuhan berduka.

4. Rencana kita tidak sesuai dengan rencana Tuhan.

Biarlah ketika kita berencana sesuatu, kita bisa mengatakan, ”Jikalau Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” (Yakobus 4:15).

Jikalau apa yang kita rencanakan tidak sesuai dengan kehendak Tuhan dan Tuhan menggagalkannya, jangan kecewa dan marah karena rencana Tuhan lebih mulia di atas segala-galanya. Amin. Tuhan memberkati.

Iri Hati

Oleh: Marolop Simatupang

Iri hati didefenisikan sebagai suatu "perasaan tidak senang atas keunggulan atau keberuntungan orang lain. Dalam Alkitab sering disebut dengan kedengkian, atau dendam." (Cruden’s Complete Corcordance)

Iri hati harus dibedakan dari kecemburuan. Kita cemburu atas kepunyaan kita; kita iri kepada kepunyaan orang lain. Cemburu ialah takut kehilangan apa yang dimilikinya; iri hati adalah sakit hati melihat orang lain punya. (Crabb’s English Synonymus).

Alkitab menempatkan iri hati ke dalam daftar "perbuatan daging." "Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu -- seperti yang telah kubuat dahulu -- bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah." (Galatia 5:19-21). Kontras sekali dengan daftar "buah-buah Roh." (Galatia 5:22, 23). Iri hati merupakan sifat asli Iblis, akar kejahatan.

Dalam kitab Roma pasal 1, iri hati digolongkan dengan keserakahan, kebencian, perselisihan, tipu muslihat, fitnah dan pembunuhan, menjadi salah satu dari dosa-dosa yang membawa pada maut. Dosa-dosa tersebut dikecam oleh Alkitab.

Iri hati sangat merusak kehidupan. Seorang yang iri, akan berusaha merusak kebaikan-kebaikan yang nampak dalam diri orang lain. Iri hati membuat orang "merendahkan reputasi baik orang dan memutar-balikkannya ke dalam nama yang buruk."

Alkitab mengecam sifat iri hati. Salomo mengatakan, "Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang." (Amsal 14:30). Iri hati itu seperti penyakit kanker, menggerogoti vitalitas hidup dan jiwa manusia.

Karena iri hati banyak orang melakukan kejahatan besar. Iri hati menyebabkan Kain membunuh Habel, adiknya (Kejadian 4:1-8). Karena iri hati sekarang ini beberapa orang berusaha membunuh reputasi atau kebaikan orang lain. Karena iri hati orang Yahudi menyerahkan Yesus agar disalibkan. Pilatus "memang mengetahui, bahwa mereka telah menyerahkan Yesus karena dengki." (Matius 27:18).

Karena iri hati-lah sehingga Yusuf dijual oleh saudara-saudaranya ke perhambaan. (Kejadian 34). "... Dan saudara-saudaranya iri hati kepadanya." (Kejadian 34:11). Iri hati membawa orang kepada tindak kriminal, berbuat dosa.

Sifat iri hati harus disingkirkan dari karakter hidup kita. Iri hati akan membuat orang berpusat pada diri sendiri. Iri hati dan sifat mementingkan diri sendiri itu berdekatan. Sebab iri hati merupakan manifestasi sifat mementingkan diri sendiri. Iri hati akan membawa dosa-dosa mendasar lainnya, yang menularkan kejahatan. Contoh, Kain membunuh Habel, adiknya, awalnya karena iri hati.

Rasul Petrus menasihatkan, "Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah." (1 Petrus 2:1). Jangan beri tempat iri hati di hatimu. Tapi milikilah kasih yang sejati. Sebab "kasih tidak mencari keuntungan diri sendiri." (1 Korintus 13:5).

Jadilah Pelita

Oleh: William Wiguna

Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita. Orang buta itu terbahak berkata: "Buat apa saya bawa pelita? Kan sama saja buat saya! Saya bisa pulang kok." Dengan lembut sahabatnya menjawab, "Ini agar orang lain bisa melihat kamu, biar mereka tidak menabrakmu." Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa pelita tersebut. Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan menabrak si buta. Dalam kagetnya, ia mengomel, "Hei, kamu kan punya mata! Beri jalan buat orang buta dong!" Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu.

Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si buta. Kali ini si buta bertambah marah, "Apa kamu buta? Tidak bisa lihat ya? Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa lihat!" Pejalan itu menukas, "Kamu yang buta! Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah padam!" Si buta tertegun.... Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf, "Oh, maaf, sayalah yang "buta", saya tidak melihat bahwa Anda adalah orang buta." Si buta tersipu menjawab, "Tidak apa-apa, maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya." Dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali pelita yang dibawa si buta. Mereka pun melanjutkan perjalanan masing-masing.

Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang menabrak orang buta kita. Kali ini, si buta lebih berhati-hati, dia bertanya dengan santun, "Maaf, apakah pelita saya padam?" Penabraknya menjawab, "Lho, saya justru mau menanyakan hal yang sama." Senyap sejenak... secara berbarengan mereka bertanya, "Apakah Anda orang buta?" Secara serempak pun mereka menjawab, "Iya...," sembari meledak dalam tawa. Mereka pun berupaya saling membantu menemukan kembali pelita mereka yang berjatuhan sehabis bertabrakan.

Pada waktu itu juga, seseorang lewat. Dalam keremangan malam, nyaris saja ia menubruk kedua orang yang sedang mencari-cari pelita tersebut. Ia pun berlalu, tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang buta. Timbul pikiran dalam benak orang ini, "Rasanya saya perlu membawa pelita juga, jadi saya bisa melihat jalan dengan lebih baik, orang lain juga bisa ikut melihat jalan mereka."

Pelita melambangkan terang kebijaksanaan. Membawa pelita berarti menjalankan kebijaksanaan dalam hidup. Pelita, sama halnya dengan kebijaksanaan, melindungi kita dan pihak lain dari berbagai aral rintangan (tabrakan!).

Si buta pertama mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin, keangkuhan, kebebalan, ego, dan kemarahan. Selalu menunjuk ke arah orang lain, tidak sadar bahwa lebih banyak jarinya yang menunjuk ke arah dirinya sendiri. Dalam perjalanan "pulang", ia belajar menjadi bijak melalui peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Ia menjadi lebih rendah hati karena menyadari kebutaannya dan dengan adanya belas kasih dari pihak lain. Ia juga belajar menjadi pemaaf.

Penabrak pertama mewakili orang-orang pada umumnya, yang kurang kesadaran, yang kurang peduli. Kadang, mereka memilih untuk "membuta" walaupun mereka bisa melihat. Penabrak kedua mewakili mereka yang seolah bertentangan dengan kita, yang sebetulnya menunjukkan kekeliruan kita, sengaja atau tidak sengaja. Mereka bisa menjadi guru-guru terbaik kita. Tak seorang pun yang mau jadi buta, sudah selayaknya kita saling memaklumi dan saling membantu. Orang buta kedua mewakili mereka yang sama-sama gelap batin dengan kita. Betapa sulitnya menyalakan pelita kalau kita bahkan tidak bisa melihat pelitanya. Orang buta sulit menuntun orang buta lainnya. Itulah pentingnya untuk terus belajar agar kita menjadi makin melek, semakin bijaksana. Orang terakhir yang lewat mewakili mereka yang cukup sadar akan pentingnya memiliki pelita kebijaksanaan.

Sudahkah kita sulut pelita dalam diri kita masing-masing? Jika sudah, apakah nyalanya masih terang, atau bahkan nyaris padam? JADILAH PELITA, bagi diri kita sendiri dan sekitar kita. Sebuah pepatah berusia 25 abad mengatakan: Sejuta pelita dapat dinyalakan dari sebuah pelita, dan nyala pelita pertama tidak akan meredup. Pelita kebijaksanaan pun, tak kan pernah habis terbagi.

Jangan Berhenti Pada Jembatan Saja

Ibrani 4:16 Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya. Sudahkah kita mendapat pertolongan pada waktunya? Saat Saudara menempatkan Yesus pada posisinya yang tepat, yaitu sebagai Tuhan, pada saat itu juga kita menerima sebuah hak yang istimewa. Hak ini adalah hak untuk masuk ke tahta karunia-Nya setiap saat. Bukankah ini suatu yang sangat luar biasa ! Suatu kehormatan bagi kita untuk dapat masuk dengan penuh keberanian masuk ke ruangan tahta kerajaan-Nya yang luar biasa. Tapi bukan ini saja, kita dapat mendekati Dia dan meminta apa saja yang kita mau. Itu hak kita!

Kalau Alkitab bahkan sampai sejelas ini menyatakannya, masih juga banyak orang tidak mau masuk dengan penuh keberanian ke tahta Allah. Mereka berpikir "saya tidak akan pernah bisa masuk dalam kediaman Allah, maka saya hanya akan berdiri di luar sini dan berteriak dan berharap Dia mendengarnya. Saya teringat akan kejadian suatu hari ketika saya berada dalam suasana doa saya, merengek-rengek, memohon-mohon, dan mem-bombardir pintu sorga untuk sebuah pemulihan. Setelah saya berada dalam situasi tersebut beberapa saat, Tuhan bertanya kepada saya tentang apa yang saya lakukan?

Jawab saya : "sedang mem-bombardir pintu sorga untuk sebuah pemulihan."

"Kenenth, berapa besar kota kudusku?" Tanya Tuhan.

"Sebesar yang Alkitab katakan, sekitar 1200 kubik atau luasnya sekitar 1500 mil persegi dan 1500 mil tingginya."

"Lalu kenapa kamu mem-bombardir pintu sorga? Bayangkan saja kalau tahtaku tepat berada di tengah kota itu, paling tidak ada jarak 750 mil dari pintu ini bukan? Dan lagi, pintu ini tidak dikunci. Mengapa kamu tidak berhenti saja mem-bombardir pintu sorga dan masuk?

Setelah saya menyesal akan memakai metode doa saya yang lama tanpa berpikir. Sekarang saya menyadari bahwa Alkitab berkata "dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia" dan sejak itu saya berani mengunjunginya setiap waktu.

Apakah saudara memerlukan sesuatu dari Tuhan? Jangan buang waktu untuk hanya berdiri di depan pintu gerbang sorga. Melalui Yesus, kita memiliki setiap ruangan tahta Allah. Maka masuklah. Pintu-Nya selalu terbuka untuk saudara.

Pelajaran Alkitab :"Ibrani 4:14-16, Ibrani 5:1-9"

Jangan Menunda Kesempatan!

Ada seorang pengusaha muda yang pagi itu terburu-buru berangkat kantor karena ia bangun rada kesiangan. Sementara pagi itu ia ada meeting dengan rekan bisnis-nya. Karena terburu-buru, ia tidak sempat menikmati sarapan pagi buatan isterinya. Ia lalu memutuskan untuk mampir ke sebuah toko untuk membeli roti sebagai ganti sarapan pagi. Pikirnya, "nanti roti ini dimakan di kantor saja". Ketika ia sedang memilih roti yang hendak dibelinya, matanya tertarik mengamati seorang anak kecil berusia kira-kira sepuluh tahun yang sedang memilih bunga di toko sebelah. Anak kecil ini terlihat sedang tawar menawar harga bunga dengan pelayan toko tersebut.

"Mbak, harga bunga ini berapa?" tanyanya kepada pelayan toko. "Lima puluh ribu rupiah", jawab sang pelayan. Kemudian ia memilih bunga yang lain dan bertanya kembali,

"Kalau bunga yang ini berapa?".

"Ini lebih mahal lagi, seratus lima puluh ribu rupiah!" jawab sang pelayan. "Kalau yang ini berapa?" tanyanya sambil menunjukkan bunga yang lebih bagus lagi. "Ini harganya dua ratus lima puluh ribu, nak!" jawab sang pelayan. Anak ini terlihat bingung karena harga bunganya bertambah tinggi, sementara ia tidak menyadari bahwa bunga yang ia tunjuk itu bunga yang paling bagus. Dengan sedih ia bertanya, "Adakah bunga yang harganya lima ribu?" .

Anak ini ternyata hanya memiliki uang lima ribu rupiah walau keinginannya untuk mendapatkan bunga itu sangat besar. Belum sempat pelayan toko itu menjawab, pengusaha muda ini segera bertanya kepada sang anak, "Nak, kamu mau beli bunga buat siapa?"

Kemudian anak ini menjawab, "Saya mau beli bunga buat mama, karena hari ini mama ulang tahun!" Pengusaha muda ini tersentak, dalam hatinya ia berkata, "Wah... mati aku, aku lupa! Hari ini isteriku ulang tahun. Aku belum mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya. Kalau sampai aku lupa, ia bisa marah!"

Segera ia berkata kepada pelayan toko, "Mbak, saya beli bunga ini. Saya beli 2 ikat. Satunya buat anak ini. Tolong nanti antar bunga ini ke alamat rumah saya," katanya sambil memberikan kartu namanya. Kemudian pengusaha muda itu memberikan bunga tersebut kepada sang anak dan mengucapkan terima kasih sudah mengingatkannya bahwa hari ini ternyata isterinya juga berulang tahun. Anak itu kemudian pergi.

Pengusaha ini segera bergegas ke mobilnya dan melanjutkan perjalanan ke kantor. Ketika ia sedang mengendarai mobil, ia melewati anak kecil tadi sedang berjalan. Iapun berhenti dan bertanya apakah ia satu jurusan dengannya. Anak kecil itu mengiyakan dan kemudian masuk ke dalam mobilnya. Sampai di suatu tempat yang agak sepi anak ini minta turun. Pengusaha muda tersebut heran melihat anak kecil ini masuk melewati sebuah lorong kecil.
Karena penasaran, ia mengikuti sang anak dari belakang. Betapa terkejutnya ia ketika melihat anak kecil ini menaruh bunganya di sebuah gundukan tanah kuning yang masih basah.

Kemudian ia bertanya, " Nak, ini kuburan siapa? " Anak kecil itu kemudian menjawab, " Oom, hari ini mama ulang tahun. Tetapi sayang, mama baru saja meninggal dua hari yang lalu. Oleh sebab itu saya datang ke tempat ini untuk membawakan mama bunga dan mengucapkan selamat ulang tahun." Pengusaha muda begitu tersentak dengan perkataan anak ini.

"Apakah isteriku masih hidup saat ini? " tanyanya dalam hati. Segeralah ia berlari masuk ke mobil, mengendarainya dengan kecepatan tinggi dan menuju ke toko tadi. Dengan terengah-engah ia berkata kepada pelayan toko, "Mana bunga yang tadi saya beli? Bunganya tidak usah dikirim, biar saya saja yang langsung memberikannya ke tangan isteri saya. " Dengan cepat ia menyambar bunga tersebut dan menyetir pulang.Sampai di rumah, ia segera berlari mendapatkan isterinya. "Puji Tuhan! Isteriku masih hidup! " Sambil memberikan bunga ia berkata, " Isteriku, selamat ulang tahun". Kemudian ia mencium dan memeluk isterinya kuat-kuat sambil mengucap syukur kepada Tuhan. Sambil menangis ia berkata, " Terima kasih, Tuhan.Engkau masih memberikan kesempatan kedua kepadaku. "

Banyak diantara kita terlalu sibuk dengan aktifitas sehari-hari. Aktifitas dan rutinitas ternyata sudah � membunuh � perhatian dan momen-momen penting yang harus dinikmati bersama orang-orang yang kita kasihi; orang tua, suami, isteri, anak-anak, dan saudara-saudara kita. Demi mengejar karier, uang dan jabatan bahkan pelayanan banyak orang melupakan keluarga.

Seorang businessman hanya berpikir bahwa memenuhi kebutuhan materi isteri dan anak-anak sudah membuatnya merasa menjadi ayah yang baik. Seorang pelayan Tuhan berpikir bahwa dengan sibuk dalam pelayanan dan dikenal di mana-mana sudah membuatnya merasa menjadi orang yang benar di dalam keluarganya.

Kita tidak sadar, kita sudah salah jika berpikir demikian. Hari ini, kalau kita masih diberi kesempatan untuk hidup semua hanyalah kasih karunia Tuhan. Oleh sebab itu, jangan tunggu sampai besok untuk menunjukkan kasih dan sayang kita kepada orang-orang disekitar kita, terutama orang-orang yang paling dekat dengan kita. Jangan tunggu mereka mati kita baru menyadarinya. Jangan tunggu sampai besok!

Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi dengan hari esok. Jika kita masih hidup pada hari ini berarti ini kesempatan kedua buat kita. Ambil kesempatan kedua yang Tuhan anugrahkan buat kita hari ini.

Jangan Pisahkan

Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. -- Kolose 3:16

Saya menyumbangkan lagu secara spontanitas dalam resepsi pernikahan seorang sahabat. Terbawa oleh suasana nostalgia, saya memilih Biru, yang pernah dipopulerkan oleh Vina Panduwinata. Lagu yang mendayu tersebut diakhiri dengan suatu permohonan, "Tuhan, jangan Kaupisahkan apa pun yang terjadi. Kuingin slalu dekat kekasihku." Hm, romantis nian.

Namun, sesampainya di rumah, dan setelah memikirkan lirik lagu itu lebih jauh, saya jadi malu sendiri. Bukannya karena suara saya fals, melainkan karena kata-kata permohonan tersebut terasa tidak pas, dan malah berlawanan dengan berkat pernikahan.

Yang jelas, permohonan tersebut salah arah. Dalam pernikahan Kristen, Tuhan adalah pihak yang mempersatukan, memberkati dan meneguhkan. Ide tentang kemungkinan perpisahan atau perceraian bagi pasangan yang telah menikah tidaklah bersumber dari hati Allah.

Permohonan itu lebih tepat bila ditujukan kepada manusia, khususnya pasangan yang telah mengikat janji untuk memadu kasih mereka dalam sebuah pernikahan. Seperti yang diingatkan oleh Tuhan Yesus, kelonggaran perceraian dalam hukum Musa diberikan justru karena ketegaran hati manusia. Peringatan itu mengisyaratkan bahwa kesatuan dan keutuhan rumah tangga bukanlah karunia yang jatuh dari langit. Suami-istrilah yang bertanggung jawab untuk memelihara, memupuk dan menyiram kasih di antara mereka, agar jangan sampai "beku dan membiru".

Dan ingat, bila ingin beromantis ria, jangan salah pilih lagu!

Sumber: Renungan Malam, April 2005

Jangan Takut Menjadi Anak Raja

Penulis : Kristian.N

"Jangan takut menjadi anak Raja". Sebuah kalimat yang terdengar aneh di telinga kita. Jika dipikir, apa yang perlu ditakutkan jika kita menjadi seorang anak raja? bukankah sebagai anak raja berarti kita dekat dengan sumber kekuasaan. Kita tidak perlu takut dengan apapun. bahkan kita bisa melakukan apapun yang kita mau? lalu kenapa kita harus takut? Tidak, tidak demikian. Kalimat di atas sebenarnya cukup beralasan, dan benar. Setidaknya jika kita memandang dari sisi kita sebagai orang percaya. Sebagai orang percaya, Allah tidak hanya memulihkan kita, tapi juga telah mengangkat kita dan melayakkan kita menjadi anak-anakNya. Lalu apa sebenarnya yang akan kita alami sebagai anak Raja, sehingga kita dinasihati untuk tidak perlu menjadi takut?

Kita memang memiliki alasan untuk takut, sebab sebagai anak Raja, kita ternyata harus mau mengikuti jejak Kristus sebagai yang Sulung diantara kita. Sama seperti Kristus menjalanai jalan penderitaan, menyangkal diri dan memikul salibNya, untuk memuntaskan tugas yang diberikan Allah, seperti itu jugalah kita.

Beberapa waktu yang lalu mungkin kita sempat mengenal pengajaran teologi kemakmuran yang mengajarkan bahwa sebagai anak Raja kita berhak dan akan mendapatkan warisan kemakmuran, kekayaan dan kesuksesan dari Allah. Benarkah demikian, jika itu benar, mengapa Kristus sebagai yang Sulung di antara kita justru memilih jalan yang jauh dari itu semua? Jauh dari kemakmuran dan popularitas sebagai Anak Raja. Sebaliknya selama hidupnya Kristus diwarnai dengan kesederhanaan, pengorbanan dan penyangkalan diri. mahkota yang Dia pakai tidak terbuat dari emas tapi dari anyaman semak belukar. Bukan mahkota yang bertatahkan berlian tapi bertaburan duri tajam. Penderitaan dan pengorbanan Kristus bukanlah tanpa alasan. Jalan yang Dia pilih bukan tanpa tujuan. Melalui hidupnya Kristus ingin menunjukan jalan yang harus kita lalui jika kita ingin disebut sebagai anak Raja yang layak menjadi ahli waris kerajaan Allah bersama dengan Dia.

Kekristenan bukanlah jalan yang menjanjikan kemakmuran, kemapanan dan kepenuhan materi seperti yang dimiliki oleh anak-anak raja dunia. Kekristenan adalah jalan terjal sarat dengan pengorbanan dan penyangkalan diri yang didasari oleh semangat cinta kasih dan kerendahan hati. Kita akan sering dihadapkan pada berbagai batu ujian. Tuhan sengaja meletakkan batu-batu ujian di sepanjang jalan yang kita lalui, menjadi pijakan kaki kita untuk naik ke atas setapak demi setapak, hingga mencapai puncak kemenangan, kedewasaan karakter menjadi sempurna.

"karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak." Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang. (Ibrani 12:6-8)

Karena itulah kita sebenarnya memiliki alasan untuk takut disebut sebagai anak Raja. Siapa yang tidak takut hidup menderita? siapa tidak takut ditolak dan diremehkan? Siapa yang siap berkorban dan tidak mendapatkan apa-apa? Mengikut jejak Kristus berarti kita harus siap untuk ditolak dan dipinggirkan. Tapi Allah akan selalu melihat perjuangan kita. Penderitaan yang kita alamai adalah sarana untuk mengasah karakter kita sehingga layak untuk disebut anak-anak Raja. Tidak ada seorangpun yang berhak duduk bersama dengan Kristus tanpa harus memikul salib.

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. (Matius 16:24)

Tapi sekali lagi meskipun kita memiliki alasan untuk menjadi takut, kita tidak perlu takut. Kristus sudah memenangkan kita. Dia yang sekarang duduk di sebelah kanan Allah Bapa, Dia sendiri yang akan memampukan kita untuk memikul salib yang dibebankan kepada setiap kita selama kita masih di hidup di dunia. Sekarang kita sadar bahwa kita tidak berjuang sendiri, ada Kristus yang siap memikul beban kita. Tinggal apakah kita mau memberikan beban kita untuk kita pikul bersama-sama denganNya.

Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan." (Matius 11:9-10)

Kristus telah meninggalkan jejak kakinya supaya kita bisa ikuti. Sebagai pedoman untuk kita melangkahkan kaki, agar tidak tersesat.

Meskipun kita diremehkan karena kelemah lembutan kita, tapi tetaplah berbuat baik.

Jadi meskipun kita diolok-olok karena dianggap naif, tapi mari kita tetap hidup jujur.

Meskipun dimusuhi karena kita tidak mau berkompromi dengan ketidak adilan, tetapi tetaplah berpegang pada kebenaran.

Meskipun kita dimusuhi tetapi tetaplah mengasihi.

adalah wajar jika dunia tidak mengerti kita dan bahkan menolak kita. Sebab kita bukan berasal dari dunia. Jika dunia bangkit melawan kita, sebenarnya bukan kita yang mereka munsuhi tapi Kristus yang panjinya kita bawa. Yang melalui kita dunia mengenalNya

Dunia tidak dapat membenci kamu, tetapi ia membenci Aku, sebab Aku bersaksi tentang dia, bahwa pekerjaan-pekerjaannya jahat. (Yohanes 7:7)

"Mereka akan berperang melawan Anak Domba. Tetapi Anak Domba akan mengalahkan mereka, karena Ia adalah Tuan di atas segala tuan dan Raja di atas segala raja. Mereka bersama-sama dengan Dia juga akan menang, yaitu mereka yang terpanggil, yang telah dipilih dan yang setia." (Wahyu 17:14)

Sebab hanya dengan inilah dunia akhirnya akan mengakui bahwa kita layak disebut anak-anak Raja, Allah yang maha tinggi. Mari kita dengan suka cita memikul salib kita. Melalui cahaya kemuliaan Tuhan yang bersinar dalam diri kita, melalui kualitas hidup kita, mari beritakan kepada setiap orang bahwa Allah mengasihi mereka, dan bahwa mereka juga layak disebut sebagai anak-anak Allah, sama seperti kita, yang layak menjadi ahli waris kerajaan sorga bersama dengan Kristus sebagai Yang Sulung di antara kita.

Inilah semangat pembebasan, semangat Paskah yang sebenarnya. Selamat Paskah.

Sumber: http://noviz.melesat.com/

Jonathan Brown

Sumber: Speakers Source Book

Di kota Vanastorbil, tinggallah seorang yang sangat kaya bernama Jonathan Brown. Ia mempunyai banyak uang, tanah, rumah dan pabrik. Suatu saat ia berkata: "Segala yang aku miliki, akan menjadi milik Tuhan saat aku meninggal dunia." Kemudian ia membuat surat wasiat yang terinci.

Untuk sebuah gereja kecil di dekat rumahnya, ia merencanakan untuk membangunkan sebuah bangunan besar lengkap dengan menara yang tinggi. Untuk gembalanya, sebuah rumah baru dengan kamar yang luas dan nyaman. Sebuah perpustakaan di desa akan mendapat bagian pula. Ia teringat untuk membantu sebuah sekolah di mana anak-anak muda belajar dan mendalami pengetahuannya. Anak sahabatnya dipersiapkan untuk dikirim ke sekolah misi. Semua biaya akan ditanggungnya.

Ketika gembalanya menyarankan agar tuan Brown memberikan sebagian hartanya lebih dahulu, ia menggumam: "Aku akan menjadi miskin bila aku berikan hartaku sebelum aku meninggal."

Sang setan yang mendengar gumaman tuan Brown, nyeletuk: "Ahem, saya tahu bahwa orang ini akan berumur panjang." Kemudian sang setan ini melalukan semua penyakit dari tuan Brown. Pada usia enampuluh tahun, ia masih sangat sehat dan kuat. Umur tujuhpuluh tahun, ia terlihat tidak pernah loyo. Ketika umur delapan puluh, ia masih berjalan tegap bagaikan anak muda. Ketika usianya menginjak sembilanpuluh, keponakannya sempat berujar: "Kapankah dia akan mati?"

Akhirnya, meninggalah tuan Jonathan Brown ini pada usia seratusdua tahun. Semua kenalannya berkumpul dan pengacaranya membacakan surat wasiat. Tetapi tidak ada penerima waris yang ditemukan. Gereja kecil dekat rumahnya sudah tutup dan tidak terdengar lagi kebenaran diberitakan. Gembalanya sudah meninggal dalam kemiskinannya. Perpustakaan di desa sudah tidak ada lagi. Sekolah yang ingin dibantunya, sudah ditutup dengan meninggalkan banyak hutang. Sementara itu, anak yang akan dibiayai sekolahnya, tetap dalam kebodohannya, mempunyai tujuh orang anak dan duabelas cucu. Semuanya tidak lebih baik dari dirinya.

Kemudian, setiap kenalannya, mengambil sebagian hartanya. Pengacaranya bahkan lupa bahwa ia mendapatkan bayaran dua kali. Tidak ada sahabat. Tidak ada ratap tangis. Bahkan tidak ada seorang anak pun yang menunggu di sudut ruangan itu. Sementara itu, sang setan tersenyum dan berbalik mencari mangsa baru.

Saudaraku, biarlah kisah ini menjadi pelajaran buat kita semua. Apa yang ada pada kita hari ini adalah milik Tuhan. Apa yang bisa dilakukanlah hari ini, lakukanlah, karena mungkin besok sudah terlambat.

Kado Terindah

Oleh: Mang Ucup

Sering tersirat di dalam pikiran kita: "Wah kalau saya hidup ketika jaman Tuhan Yesus masih hidup, pasti akan saya berikan seluruh kasih sayang saya kepada Dia, bahkan kalau perlu jiwa dan raga sayapun bersedia saya korbankan untuk-Nya!" Tetapi seperti juga yang tercantum di Matius 25:40 "Ketahuilah: waktu kalian melakukan hal itu, sekalipun kepada salah seorang dari saudara-saudara-Ku yang terhina, berarti kalian melakukannya kepada-Ku!"

Artaban adalah orang Majus yang ke empat yang tidak mendapatkan kesempatan untuk bisa bertemu dengan Tuhan Yesus ketika Ia dilahirkan di Bethlehem. Bahkan sebelumnya Artaban telah menjual seluruh harta kekayaannya agar ia bisa mempersembahkannya untuk Raja yang akan dilahirkan. Dari hasil uang tersebut ia membeli tiga buah batu permata yang sangat berharga sekali ialah batu permata saphir biru, ruby merah dan mutiara putih. Ia telah berjanji untuk bertemu di satu tempat khusus dengan ketiga orang Majus lainnya ialah Caspar, Melchior dan Balthasar, karena waktu sudah sangat mendesak sekali, jadi apabila Artaban terlambat maka ia akan ditinggal oleh mereka. Dalam
perjalanan ia melihat orang berbaring ditengah jalan, rupanya orang tersebut sedang menderita sakit berat dan sangat membutuhkan sekali pertolongannya. Apabila ia tidak menolong orang tersebut, pasti orang tersebut akan meninggal dunia, sebab mereka berada disatu tempat yang sepi dan jauh dari penduduk.

Tetapi kalau ia menolongnya pasti ia akan terlambat dan akan di tinggal pergi oleh kawan-kawan yang lainnya. Walaupun demikian karena ia mengetahui menolong jiwa orang ada jauh lebih penting dari segala-galanya, maka ia rela di tinggalkan oleh kawan-kawannya. Akibatnya cukup fatal bagi Artaban, ia harus menjual batu permata sapir yang seyogianya untuk Raja tersebut, sebab ia harus membiayai seluruh biaya karavan mulai dari onta-onta, makanan, minuman dan pemandu jalan untuk melampaui padang pasir sekali lagi. Disamping itu ia juga merasa sedih, sebab sang Raja tidak akan mendapatkan batu spahir nya tersebut.

Walaupun ia berusaha untuk mengejar kawan-kawannya secepat mungkin, ternyata setibanya di Bethlehem pun ia terlambat lagi, karena Jusuf & Maria berikut Bayi nya sudah tidak ada disana lagi. Pada saat Artabhan tiba di Bethlehem, perajurit-perajuritnya Raja Herodes sedang dengan ganasnya menjalankan perintah Herodes untuk membunuh para bayi. Ditempat ia menginap bayi putera pemilik penginapannya hendak dibunuh pula oleh seorang komandan dari Herodes. Artabhan melihat dan mendengar ratapan tangis dari ibu bayi tersebut dan ia merasa tidak tega dan merasa terpanggil untuk menolongnya. Oleh sebab itulah ia rela menukar jiwa dari bayi tersebut dengan batu permata ruby yang dibawanya. Hal ini membuat Arthaban bertambah sedih, karena batu permatanya untuk sang Raja semakin berkurang, bahkan hanya tinggal satu batu mutiara saja sisanya. Sebelum ia tiba di Yerusalem, tigapuluh tahun lebih ia mencari sang Raja dimana-mana dan ia merasa
tercenggang mendengar bahwa Raja yang dicarinya bertahun-tahun akan di salib di Golghata.

Walaupun demikian ia merasa terhibur sebab ia masih memiliki batu permata terakhir ialah batu mutiara yang bisa ia gunakan untuk menebus hidup-Nya Raja, agar Ia tidak disalib. Seperti halnya ketika ia menebus hidupnya seorang bayi ketika ia berada di Bethlehem. Dalam perjalanan menuju ke Golgatha ia melihat seorang anak perempuan menangis dan meratap meminta tolong kepadanya: "Tuan tolonglah saya, para perajurit akan menjual diri saya sebagai budak, karena ayah saya mempunyai hutang banyak. Ayah saya tidak mampu melunasi hutang tersebut, oleh sebab itulah sebagai gantinya ia mengambil diri saya untuk dijual. Tolong tuan!" Walaupun betapa sedihnya hati Arthaban, tetapi ia melihat keadaan sangat mendesak sekali, sebelum anak ini dijual dan dijadikan budak untuk seumur hidupnya, lebih baik ia menukar batu mutiaranya untuk menebus anak tersebut dan menyelamatkannya.

Setelah itu langit menjadi gelap gulita dan terjadi gempa bumi, sehingga ia jatuh terbaring dan gadis tersebut jatuh pula terbaring diatas pundaknya. Tiba-tiba secara tidak sadar ia mengerakkan bibirnya dan berbicara: "Tuhan, kapan kami pernah melihat Tuhan lapar lalu kami memberi Tuhan makan, atau haus lalu kami memberi Tuhan minum? Kapan kami pernah melihat Tuhan sebagai orang asing, lalu kami menyambut Tuhan ke dalam rumah kami? Kapan Tuhan pernah tidak berpakaian, lalu kami memberi Tuhan pakaian? Kapan kami pernah melihat Tuhan sakit atau dipenjarakan, lalu kami menolong Tuhan?"

Dan dari jauh terdengar suara sayup-sayup yang sangat lembut menjawab:
"Ketahuilah: waktu kalian melakukan hal itu, sekalipun kepada salah seorang dari saudara-saudara-Ku yang terhina, berarti kalian melakukannya kepada-Ku!" Setelah itu meninggalah Arthaban. Ia meninggal dengan mulut penuh senyuman, karena ia mengetahui bahwa semua jerih payahnya dan semua hadiah untuk Raja telah diterima oleh Raja dengan baik.

Kapten Kapal

Oleh: Michael

Sebuah kapal laut akan terus berputar-putar di tengah laut jika tidak ada tujuannya. Dan ia akan menjadi kapal yang berguna jika kapal tersebut ada tujuannya, entah ia akan ke pulau Kalimantan, Sulawesi atau menuju pulau Jawa. Dan bagaimana kapal tersebut dapat memiliki tujuan, maka dalam kapal tersebut harus ada yang mengendalikannya. Atau yang biasa kita kenal dengan seorang awak kapal atau kapten kapal.

Ketika kapal tersebut telah memiliki kapten kapal, maka ia akan di bawa ke tempat tujuan yang pasti, entahkah akan ke Pulau Jawa, Kalimantan, Bali, yang jelas ketika ia memiliki Kapten kapal, maka ia akan di bawa ke tempat tujuan yang pasti. Misalkan ia akan menuju ke Pulau Bali, maka kapal tersebut akan terus berfokus kepada jalur menuju pulau Bali. Hingga akhirnya tiba di tempat tujuan dan Kapal ini menjadi berarti.

Itulah kehidupan kita manusia. Setiap orang akan menjawab bahwa tujuan hidup mereka hanyalah, dilahirkan, bertumbuh dewasa, bersekolah dngan baik, setelah itu bekerja, dan menghasilkan uang dan lalu menikah, memiliki anak, membesarkan anak, dan kemudian menjadi tua dan mati. Demikian pula anaknya, akan kembali melakukan hal yang sama, bersekolah, bekerja, memiliki keluarga, mejadi tua dan mati. Sebagian besar orang akan menjawab hal serupa. Yang mereka tau itulah mengapa mereka dilahirkan. Mereka akan seperti kapal tadi, yang hanya berputar-putar di tengah laut, tidak tahu tujuan sebenarnya.

Secanggihnya sebuah kapal, dan semodernnya sebuah kapal, dia sendiri tidak tahu bagaimana dia dipergunakan dengan baik dan berarti. Sehebatnya dan sepintarnya kita manusia, kita tidak pernah tahu apa tujuan kita dilahirkan di dunia ini. Pertanyaannya, sudakah kita memiliki Nahkoda, seorang Kapten dalam hidup kita, Yang mengatur dan mengarahkan hidup kita, memberikan arti tujan hidup yang sebenarnya? Sehingga kita dapat berkata, "Hidup saya memang berarti", kita bisa tahu tujuan hidp kita yang sebenarnya jika ada seorang yang mengarahkannya. Kapten itu berarti, sebuah pegangan, keyakinanan, pengharapan yang pasti! Dia bukan hanya akan mengarahkan kehidupan kita selama di bumi ini. Namun Dia juga memberikan sebuah pengharapan yang kekal dan tidak mengecewakan. Bahkan jaminan setelah kematian diberikan-Nya pada kita.

Siapakah Dia? YESUS...... Dia telah membuktikan dengan memberikan Nyawa-Nya ada kita hingga mati di kayu salib. Dia paling tahu siapa kita. Dia paling tahu harus diperlakukan seperti apa hidup kita ini. Datanglah pada-Nya, Dia akan mebawamu kepada hidup dan tujuan yang pasti, hingga engkau akan berkata "Hidupku berarti...." "Yesus mengasihi semua orang......."

Kasih

Seekor anak anjing yang kecil mungil sedang berjalan-jalan di ladang pemiliknya. Ketika dia mendekati kandang kuda, dia mendengar binatang besar itu memanggilnya. Kata kuda itu : "Kamu pasti masih baru di sini, cepat atau lambat kamu akan mengetahui kalau pemilik ladang ini mencintai saya lebih dari binatang lainnya, sebab saya bisa mengangkut banyak barang untuknya, saya kira binatang sekecil kamu tidak akan bernilai sama sekali baginya." ujarnya dengan sinis.

Anjing kecil itu menundukkan kepalanya dan pergi, lalu dia mendengar seekor sapi di kandang sebelah berkata : "Saya adalah binatang yang paling terhormat di sini sebab nyonya di sini membuat keju dan mentega dari susu saya. Kamu tentu tidak berguna bagi keluarga di sini." dengan nada mencemooh.

Teriak seekor domba : "Hai sapi, kedudukanmu tidak lebih tinggi dari saya, saya memberi mantel bulu kepada pemilik ladang ini. Saya memberi kehangatan kepada seluruh keluarga. Tapi omonganmu soal anjing kecil itu, sepertinya kamu memang benar. Dia sama sekali tidak ada manfaatnya di sini."

Satu demi satu binatang di situ ikut serta dalam percakapan itu, sambil menceritakan betapa tingginya kedudukan mereka di ladang itu. Ayam pun berkata bagaimana dia telah memberikan telur, kucing bangga bagaimana dia telah mengenyahkan tikus-tikus pengerat dari ladang itu. Semua binatang sepakat kalau si anjing kecil itu adalah makhluk tak berguna dan tidak sanggup memberikan kontribusi apapun kepada keluarga itu.

Terpukul oleh kecaman binatang-binatang lain, anjing kecil itu pergi ke tempat sepi dan mulai menangis menyesali nasibnya, sedih rasanya sudah yatim piatu, dianggap tak berguna, disingkirkan dari pergaulan lagi.

Ada seekor anjing tua di situ mendengar tangisan tersebut, lalu menyimak keluh kesah si anjing kecil itu. "Saya tidak dapat memberikan pelayanan kepada keluarga di sini, sayalah hewan yang paling tidak berguna di sini."

Kata anjing tua itu : "Memang benar bahwa kamu terlalu kecil untuk menarik pedati, kamu tidak bisa memberikan telur, susu ataupun bulu, tetapi bodoh sekali jika kamu menangisi sesuatu yang tidak bisa kamu lakukan. Kamu harus menggunakan kemampuan yang diberikan oleh Sang Pencipta untuk membawa kegembiraan."

Malam itu ketika pemilik ladang baru pulang dan tampak amat lelah karena perjalanan jauh di panas terik matahari, anjing kecil itu lari menghampirinya, menjilat kakinya dan melompat ke pelukannya. Sambil menjatuhkan diri ke tanah, pemilik ladang dan anjing kecil itu berguling-guling di rumput disertai tawa ria. Akhirnya pemilik ladang itu memeluk dia erat- erat dan mengelus-elus kepalanya, serta berkata, "Meskipun saya pulang dalam keadaan letih, tapi rasanya semua jadi sirna, bila kau menyambutku semesra ini, kamu sungguh yang paling berharga di antara semua binatang di ladang ini, kecil kecil kamu telah mengerti artinya kasih.........

Catatan: Jangan sedih karena kamu tidak dapat melakukan sesuatu seperti orang lain karena memang tidak memiliki kemampuan untuk itu, tetapi apa yang kamu dapat lakukan, lakukanlah itu dengan sebaik-baiknya. Dan jangan sombong jika kamu merasa banyak melakukan beberapa hal pada orang lain, karena orang yang tinggi hati akan direndahkan dan orang yang rendah hati akan ditinggikan.

Kasih Karunia Allah (God’s Grace)

Oleh: Pdt. Samuel T. Gunawan, M.Th

Khotbah Ibadah Raya GBAP El Shaddai Palangka Raya
Minggu, 10 Pebruari 2013

“Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita--oleh kasih karunia kamu diselamatkan--" (Efesus 2:4-5)

Pendahuluan

Himne klasik karya John Newton “Sungguh Besar Anugerah-Nya (Amazing Grace)” merupakan salah satu lagu yang digemari di dunia. Namun, anugerah itu lebih menakjubkan daripada yang kita ketahui. Anugerah atau kasih karunia dipakai sebagai terjemahan bahasa Ibrani “?? - khen”. Kata ini berarti perbuatan seorang atasan yang menunjukkan kepada bawahannya kasih karunia, padahal sebenarnya bawahan itu tidak layak menerimanya. Kasih karunia adalah pemberian Allah kepada manusia padahal manusia tidak pantas untuk menerimanya. Kata ini misalnya digunakan dalam Kejadian 6:7, “Tetapi Nuh mendapat kasih karunia (khen) di mata TUHAN”. Keluaran 33:17, “Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Juga hal yang telah kaukatakan ini akan Kulakukan, karena engkau telah mendapat kasih karunia di hadapan-Ku dan Aku mengenal engkau”. Kata Yunani “?a??? - kharis” adalah kata benda yang biasa dipakai untuk menerjemahkan kata Ibrani “khen”. Kata “kharis” yang secara umum berarti “pemberian, hadiah, anugerah, kemurahan hati, dan karunia”. Dalam Perjanjian Baru kata kasih karunia atau anugerah ini dihubungkan dengan keselamatan dari Allah bagi manusia. Misalnya, Petrus dalam sidang pertama di Yerusalemmengatakan “Sebaliknya, kita percaya, bahwa oleh kasih karunia (kharitos) Tuhan Yesus Kristus kita akan beroleh keselamatan sama seperti mereka juga” (Kisah Para Rasul 15:11). Paulus mengatakan dalam Efesus 2:5-7 “telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita -- oleh kasih karunia (khariti) kamu diselamatkan -- dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga, supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya (kharitos autou) yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus. Kepada Titus, Paulus juga menuliskan “Karena kasih karunia (kharis) Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata” (Titus 2:11).

Istilah “kasih karunia” sering kali oleh beberapa orang sering disamakan dengan “belas kasihan”. Pengertian dari dua istilah ini seharusnya dibedakan. Anugerah, disebut juga kasih karunia (grace) adalah pemberian Allah yang tidak selayaknya diberikan kepada kita karena kita tidak pantas untuk menerimanya. Sedangkan belas kasihan (mercy), yang disebut juga rahmat adalah tindakan Allah yang tidak memberikan kepada kita apa yang sepatutnya kita terima, yaitu penghakiman dan ke neraka untuk selama-lamanya. Allah yang kaya dengan rahmatNya, Ia menahan murkaNya, dan sebaliknya memberi kita anugerahNya (Efesus 2:4). Jadi kasih Allah yang besar itu, dinyatakan dalam kemurahanNya melalui dua pemberian, yaitu kasih karunia dan rahmat. Perbedaan itu dapat digambarkan demikian, “Jika seseorang membunuh anak laki-laki anda dan dihukum mati, dan anda membiarkan hukuman berlaku itu adalah keadilan. Jika anda menyatakan supaya si pembunuh jangan dihukum mati, itulah belas kasihan atau rahmat. Jadi si pembunuh tidak menerima apa yang seharusnya dia terima karena kejahatannya. Namun, jika anda membawa si pembunuh anak anda itu ke rumah anda dan mengadopsinya sebagai anak anda, dan memberi dia seluruh kasih dan hak-hak istimewa serta warisan yang akan anda berikan kepada anak anda, itu kasih karunia atau anugerah.”

Anugerah pertama-tama muncul setelah Kejatuhan, tampak dalam janji Allah mengenai seorang Penebus (Kejadian 3:15). Kemudian, kasih nyaris didefinisikan Allah ketika Ia menjelaskan diri-Nya kepada Musa sebagai “Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya” (Keluaran 34:6). Anugerah memperoleh bentuknya yang sempurna pada Perjanjian Baru, di dalam Yesus Kristus, Penebus yang dijanjikan Allah. Yohanes mengatakan “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yohanes 1:14). Frase Yunani “penuh kasih karunia dan kebenaran” adalah “plêrês kharitos kai alêtheias” yang diterjemahakan dengan “penuh anugerah dan kebenaran”. Selanjutnya Yohanes mengatakan, “sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus” (Yohanes 1:17). Kematian Kristus di kayu salib telah menebus kita dari dosa-dosa, melanggengkan jalan anugerah yang ditawarkan Allah tanpa mengkompromikan keadilan-Nya dan kebenaran-Nya (Titus 3:7; Roma 3:26).

Anugerah Umum

Para teolog membagi anugerah menjadi dua kategori besar, yaitu: anugerah umum dan anugerah khusus. Yang pertama disebut umum karena anugerah ini disediakan bagi semua orang. Anugerah umum (common grace) mengacu pada pemberian Allah secara universal, meliputi menyediakan kebutuhan dasar, mencegah kejahatan, menunda penghakiman, dan menopang keteraturan. Anugerah khusus (special grace) diberikan hanya untuk kaum pilihan Allah. Anugerah ini berbicara mengenai perbuatan Allah yang menebus, menguduskan, dan memuliakan umat-Nya. Yang termasuk dalam anugerah khusus ini ialah menerangi pikiran mereka untuk memahami Injil, menginsyafkan hati mereka mengenai perlunya percaya, dan meyakinkan kehendak mereka untuk menerimanya. Jadi, dapat dikatakan bahwa anugerah Allah adalah penyataan Allah yang berdaulat dan penuh kasih kepada segenap ciptaan-Nya, yaitu seluruh umat manusia secara umum dan kepada umat pilihan-Nya secara khusus.

Anugerah umum (common grace) adalah kebaikan Allah yang tanpa syarat (unconditional grace) pada semua orang yang diperlihatkan dalam pemeliharaanNya kepada mereka. Anugerah umum dari Allah yang diberikan bagi semua ciptaan-Nya ini bersifat inklusif. Anugerah inklusif ini meliputi tindakan Allah yang mencipta, mengelola, memelihara dan mengendalikan alam semesta ciptaan-Nya. Anugerah inklusif ini didasarkan pada kedaulatan Allah dan kasihNya. Permazmur menekankan kedaulatan Allah ini saat ia mengatakan, “TUHAN melakukan apa yang dikehendaki-Nya, di langit dan di bumi, di laut dan di segenap samudera raya” (Mazmur 135:6), dan menekankan kasih Allah saat mengatakan “TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya. TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya” (Mazmur 145:8-9). Anugerah umum ini dinyatakan melalui pemberian berkat-berkat umum bagi umat manusia, seperti: Ia mengaruniakan panas dan hujan kepada orang yang benar dan orang jahat (Matius 5:45). Ia juga menentukan musim untuk dinikmati oleh semua manusia (Mazmur 104:19-20). Tuhan bahkan memberikan tempat khusus bagi manusia sebagai makluk ciptaan-Nya yang mulia dengan mengindahkannya serta memberikan otoritas dan peran khusus baginya (Mazmur 8:4-7). Melalui penghargaan dan otoritas dari Tuhan ini, manusia dikaruniai hak untuk berkuasa atas semua ciptaan-Nya yang lain (Mazmur 8:8-9).

Jadi, dapat dikatakan bahwa anugerah yang inklusif ini menyatakan kepedulian Tuhan kepada manusia dan semua makhluk, yang diwujudkannya dengan mencipta, mengelola, memelihara dan mengendalikan seluruh alam semesta ciptaan-Nya. Anugerah inklusif ini memberikan tempat bagi semua manusia, untuk mengambil peran dalam karya ciptaan Allah. Kebenaran yang dapat ditegaskan di sini ialah bahwa Tuhan oleh kedaulatan dan kasih-Nya yang kekal “memelihara” semua makhluk ciptaan-Nya dengan menyediakan semua yang dibutuhkan bagi kelangsungan kehidupan manusia serta alam semesta secara teratur serta bersinambung.

Melalui anugerah yang inklusif ini nyata kebaikan Tuhan yang memelihara, mengelola serta mengendalikan alam semesta ciptaanNya sehingga semuanya berjalan sesuai dengan hukum yang telah ditetapkanNya, sehingga bumi dan alam semesta akan terus bergerak secara dinamis. Melalui anugerah inklusif ini, Tuhan menyatakan kesetiaan-Nya dalam memelihara umat manusia dari dosa dan kejahatan, sehingga dalam kondisi sejahat-jahatnya moral manusia, dunia akan terus terpelihara oleh anugerahNya. Secara lebih khusus, Tuhan meneguhkan, memelihara, menuntun dan memaknai kehidupan setiap individu untuk menjalani tujuan kekal yang telah ditetapkannya (Ayub 42:2; Mazmur 145:8-9; Amsal 16:4; Pengkhotbah 3:1-14; 8:17; Yesaya 49:1; Yeremia 1:5; 1 Petrus 2:9;).

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa anugerah umum dari Allah adalah untuk seisi alam semesta dan semua manusia ciptaan-Nya. Di sini terlihat bahwa pemeliharaan Allah melalui anugerah umum ini didasarkan kedaulatanNya dan tindakan kasihNya yang besar. Semuanya menegaskan bahwa pemeliharaanNya ini ditujukan kepada semua ciptaan Allah untuk menikmati kebaikan-Nya yang kekal.
 
Anugerah Khusus

Jika anugerah umum yang diberikan kepada semua orang, maka anugerah khusus tidak diberikan kepada semua orang. Anugerah khusus (special grace) diberikan hanya untuk kaum pilihan Allah. Anugerah ini berbicara mengenai perbuatan Allah yang menebus, menguduskan, dan memuliakan umatNya. Kebenaran tentang anugerah khusus menjelaskan tentang rancangan kekal serta tindakan Tuhan menyelamatkan manusia berdosa melalui Yesus Kristus (Efesus 1:4-14). Anugerah ini menyatakan perbuatan Allah yang menebus, menguduskan, dan memuliakan umat-Nya. Yang termasuk dalam anugerah khusus ini ialah menerangi pikiran mereka untuk memahami Injil, menginsyafkan hati mereka mengenai perlunya percaya, dan meyakinkan kehendak mereka untuk menerimanya.
Keselamatan di sini sepenuhnya merupakan bagian dari rencana Allah (Devine decree) yang kekal. Dalam rancangan kekal itu, keselamatan ditetapkan selengkapnya oleh Allah. Keselamatan ini kemudian dilaksanakan seutuhNya oleh Yesus Kristus, Juruselamat (Matius 1:21-23) dan diterapkan sepenuhnya oleh Roh Kudus (Roma 8:15-17). Berdasarkan kebenaran ini, dapat dikatakan bahwa keselamatan sepenuhnya dilakukan oleh Allah Yang Esa, melalui karya Yesus Kristus yang menyerahkan nyawaNya mati di atas kayu salib menggantikan manusia berdosa (1 Korintus 15:1-4; 2 Korintus 5:13-14) dan diterapkan oleh Roh Kudus. Perlulah ditekankan bahwa “keselamatan” yang diuraikan di sini adalah merupakan pengungkapan tentang bagaimana peroses “penyelamatan itu dilaksanakan oleh Allah,” yang di dalamnya setiap orang berdosa, yang telah di tetapkanNya untuk memperoleh bagian dan mengalami secara subyektif akan karya agung-Nya ini (Lihat: Kisah Para Rasul 13:48b), yaitu mereka yang telah ditentukan dan dipanggilNya menjadi percaya (Banding: Roma 8:29-30). Keselamatan yang khusus ini menjelaskan rencana Allah yang spesial yaitu “Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa” (2 Petrus 3:9b), dimana “Semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal menjadi percaya” (Kisah Para Rasul 13:48b).

Keselamatan sebagai pemberian anugerah Allah itu (Yohanes 10:28-29) membawa manusia berdosa berpaling (konversi) kepada Allah melalui pertobatan dan percaya (2 Petrus 3:9c; 2 Korintus 7:10; 1 Yohanes 5:13-15; Yohanes 6:47; Ibrani 11:1), yang olehnya setiap orang yang percaya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16). Keselamatan pemberian Allah ini begitu spesial, yang memberikan pengalaman subjektif bagi orang percaya, yaitu ada regenerasi (Yohanes 3:3-8; 2 Korintus 5:17), pembenaran (Keluaran 23:7; Ulangan 25:1; Amsal 17:15; Yesaya 5:25; Yeremia 3:11; Yehezkiel 16:50-51; Matius 12:37; Lukas 7:29; Roma 3:4), adopsi (Yohanes 1:12; Galatia 4:1-5; 3:29), pengudusan (Keluaran 15:11, 12; 19:6; Yesaya 5:24; 6:3; 10:17; Yehezkiel 20:39-44; Hosea 11:9; Matius 6:9; 5:48; Lukas 11:2; 1 Petrus 3:15), persatuan dengan Kristus (Yohanes 16:14; 15:58; Roma 5:15-19), ketekunan (Filipi 2:12-13; Roma 7:21-26; Ibrani 6:17-20; 12:1-2), dan pemuliaan di dalam Kristus (1 Timotius 3:6; 2 Timotius 2:11-13; Ibrani 2:5-13).Tindakan Allah yang menyelamatkan di dalam Yesus Kritus ini dan pengalaman spesial akan keselamatan itu memberikan kepastian kepada orang percaya akan hidup kekal yang telah diterima dari Allah (Yohanes 10:28-29).

Penting untuk memperhatikan bagaimana para teolog meninjau anugerah khusus dari empat sudut pandang, yaitu:

1. Anugerah yang mendahului (Previent grace), ini menekankan bahwa anugerah Allah datang terlebih dahulu. Ia yang memulai tanpa menunggu inisiatif kita atau jasa kita, inilah sifat anugerah yang sangat menonjol. “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1 Yohanes 4:19) dan “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita ketika kita masih berdosa” (Roma 5:8).

2. Anugerah yang efektif (Efficacious grace), yang berarti bahwa anugerah ini menyelesaikan apa yang Allah maksudkan. Tidak ada yang mampu menggagalkan rencana Allah untuk menyelamatkan. Seperti kata Yesus, “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang” (Yohanes 6:37). Selanjutnya Yesus menegaskan “dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa” (Yohanes 10:28-29).

3. Anugerah yang tidak dapat ditolak (Irresistible grace), ini berasal dari anugerah yang efektif, yang berarti anugerah ini sampai kapanpun tidak dapat ditolak. Terlepas dari pergumulan sementara melawan Allah, pada akhirnya Ia akan mengalahkan dan memenangi kaum pilihan. Karena Allah memberi umat-Nya sebuah hati yang baru untuk mengenali-Nya, mereka mengenal dan meresponi suara-Nya serta mengikuti Dia (Yer. 24:7; Yoh. 10:27).

4. Anugerah yang memadai (Sufficient grace), berarti anugerah yang cukup untuk mencapai maksud Allah menyeamatkan orang-orang yang dipilihNya. “Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi pengantara mereka” (Ibrani 7:25).

Bahkan setelah keselamatan pun, anugerahNya cukup bagi kita (2 Korintus 12:9), meskipun untuk bertumbuh di dalam anugerah merupakan kerjasama manusia dan Allah. Dengan kata lain, kita yang diselamatkan karena anugerah tidak berhak untuk memiliki kehidupan Kristen yang pasif. Anugerah pasca keselamatan itu sedikit pun tidak memasukkan unsur jasa atau usaha. Namun, Paulus mengingatkan secara langsung bahwa orang-orang Kristen hendaknya bekerja sebagaimana Allah bekerja di dalam kita (Filipi 2:12-13). Konsekuensi praktis dari anugerah Allah di dalam kita ialah memperlakukan orang-orang lain dengan lemah lembut. Kita memberlakukan pengampunan Allah dan kebaikanNya kepada mereka, entah mereka layak menerimanya atau pun tidak. Hasilnya, semua orang yang mengamati kita tentu akan melihat anugerah Allah tampak di dalam diri kita.

Perlunya Anugerah

Perlunya anugerah Allah bagi manusia didasarkan pada anggapan tentang natur keberdosaan manusia. Akibat dari dosa pertama Adam dan Hawa, citra Allah dalam diri manusia telah tercoreng dan mengakibatkan dosa masuk dan menjalar kepada setiap manusia (Roma 3:10-12, 23; 5:12). Adam dan Hawa telah membuat dosa menjadi aktual pada saat pertama kalinya di Taman Eden, sejak saat itu natur dosa telah diwariskan kepada semua manusia (Roma 5:12; 1 Korintus 15:22). Kita perlu ingat bahwa akibat-akibat sepenuhnya dari kejatuhan tidak hanya terwujud seketika di dalam Adam dan Hawa tetapi juga di dalam keturunan-keturunan mereka, yakni semua umat manusia. Akibat jangka panjang dari kejatuhan adalah dosa menurun pada semua manusia dan maut menurun pada semua manusia. Akibat pertama dari kejatuhan adalah dosa menurun kepada semua orang. Dosa manusia meliputi dosa pertalian, dosa warisan dan dosa pribadi. Dosa warisan dapat didefinisikan sebagai keberadaan berdosa dari semua orang yang yang dibawa sejak lahir. Dosa pertalian disebut juga penghitungan atau imputasi dosa. Di sini dimaksudkan dengan pertalian adalah pertautan, pelimpahan atau pengaitan sesuatu terhadap seseorang. Dasar Alkitab untuk pertalian dosa adalah Roma 5:12 yang mengajarkan bahwa dosa bahwa dosa masuk kedalam dunia melalui satu orang yaitu, Adam kepada segala bangsa (Roma 5:12-21). Dosa pribadi atau dosa aktual dapat didefinisikan sebagai dosa-dosa yang berasal dari tindakan, perkataan, atau pikiran yang manusia lakukan. Dosa aktual tidak ditularkan, melainkan setiap orang melakukan dosanya sendiri dan setiap orang pasti menderita akibat dosanya sendiri. Walau tidak ditularkan, dosa aktual juga bisa mempengaruhi orang lain (Keluaran 20:5; 1 Timotius 5:22). Dalam Roma 3:9-18 Paulus menjelaskan tentang penghukuman atas semua orang karena dosa-dosa yang mereka lakukan sendiri. Hukuman itu berlaku umum dan didasarkan atas perbuatan jahat, baik lewat perkataan maupun lewat perbuatan. Dosa itu merupakan suatu kenyataan karena kita mewarisi tabiat dosa dan dosa Adam dipertalikan kepada kita. Manusia menipu, tidak berbelas kasihan, menghina Tuhan, membunuh, memeras, mencuri, bertengkar, menyiksa, menindas, dan lain sebaginya. Dosa-dosa aktual ini menyadarkan kita akan kenyataan keuniversalan dosa dan bahwa setiap orang melakukan dosa secara aktual, kecuali bayi. Alkitab menegaskan bahwa “kita semua bersalah dalam banyak hal” (Yakobus 3:2) dan “semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah” (Roma 3:23). Bentuk dosa-dosa aktual adalah perkataan dan perbuatan misalnya: berdusta (1 Yohanes 1:6), pilih kasih (Yakobus 2:4), keduniawiaan (1 Korintus 3:1-4), penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, dan lainnya (Galatia 5:19-21).

Selanjutnya, akibat dari kejatuhan adalah maut menurun pada semua manusia (Kejadian 2:17). Sebagaimana dosa masuk ke dalam dunia oleh satu orang, demikian juga akibat dosa itu yaitu maut menurun pada semua orang (Roma 5:12-21; 6:23; Kejadian 2:17). Sebagaimana dosa bersifat universal maka maut juga bersifat universal. Manusia pada mulanya diciptakan dengan kapasitas bagi kekekalan dan tidak perlu mati. Secara khusus akibat dari dosa maka manusia mengalami tiga bentuk hukum (1) Akibat dari dosa warisan atau dosa asal, maka manusia mengalami kematian rohani yang ditandai dengan terputusnya/terpisahnya hubungan dengan Allah dalam kehidupan sekarang ini (Yohanes 5:24; Roma 5:12-21; 8:6; Efesus 2:1; 1 Timotius 5:6). Jika hal ini tidak berubah dalam diri manusia di sepanjang hidupnya, maka kematian kekal atau kematian yang kedua akan menyertainya (wahyu 20:11-15). Kematian kekal dimana manusia akan dibuang ke tempat yang gelap dan penuh dengan siksaan yang akhirnya membawa mereka jauh dari hadirat Allah (Matius10:28; 25:41; 2 Tesalonika 1:9; Ibrani 10:31; Wahyu 14:11; 20:11-15). (2) Akibat dari dosa yang dipertalikan adalah kematian jasmani (Roma 5:13-14). Kematian jasmani yang ditandai oleh kematian fisik tubuh yang fana (Kejadian 2:17; Bilangan 16:29; 27:3; Mazmur 90:7-11; Pengkhotbah 12:7). (3) Akibat dari dosa-dosa pribadi (aktual) adalah hilangnya persekutuan yang harmonis Orang yang tidak beriman tidak memiliki persekutuan dengan Allah karena dosa-dosanya; dan apabila orang percaya berdosa, ia kehilangan sukacita dalam persekutuan dengan keluarga Allah. Bila ia mengakui dosanya dan diampuni maka persekutuannya dipulihkan (1 Yohanes 1:7-9).

Dosa telah menyebabkan manusia mengalami kerusakan total (total depravity) dan ketidakmampuan total (total inability). Yang dimaksud dengan kerusakan total bukanlah berarti (1) bahwa setiap orang telah menunjukkan kerusakannya secara keseluruhan dalam perbuatan, (2) bahwa orang berdosa tidak lagi memiliki hati nurani dan dorongan alamiah untuk berhubungan dengan Allah, (3) bahwa orang berdosa akan selalu menuruti setiap bentuk dosa, dan (4) bahwa orang berdosa tidak lagi mampu melakukan hal-hal yang baik dalam pandangan Allah maupun manusia. Arti dari kerusakan total adalah (1) bahwa dosa telah menjangkau setiap aspek natur manusia: termasuk rasio, hati nurani, kehendak, hati, emosinya dan keberadaannya secara menyeluruh (2 Korintus 4:4, 1Timotius 4:2; Roma 1:28; Efesus 4:18; Titus 1:15); dan (2) bahwa secara natur, tidak ada sesuatu dalam diri manusia yang membuatnya layak untuk berhadapan dengan Allah yang benar (Roma 3:10-12). Sedangkan ketidakmampuan total berarti: (1) Orang yang belum lahir baru tidak mampu melakukan, mengatakan, atau memikirkan hal yang sungguh-sungguh diperkenan Allah, yang sungguh-sungguh menggenapi hukum Allah; (2) tanpa karya khusus dari Roh Kudus, orang yang belum lahir baru tidak mampu mengubah arah hidupnya yang mendasar, dari dosa mengasihi diri sendiri menjadi kasih kepada Allah. Perlu ditegaskan bahwa ketidakmampuan total bukanlah berarti orang yang belum lahir baru sesuai naturnya tidak mampu melakukan apa yang baik dalam pengertian apapun. Ini berarti, orang yang belum lahir baru masih mampu melakukan bentuk-bentuk kebaikan dan kebajikan tertentu. Tetapi perbuatan baik ini tidak digerakan oleh kasih kepada Allah dan tidak pula dilakukan dengan ketaatan yang sukarela pada kehendak Allah.

Jadi, manusia dalam natur lamanya yang berdosa tidak menyadari dan tidak mampu menanggapi hal-hal rohani dari Allah. Manusia tidak mampu melakukan apapun untuk mengubah natur maupun keadaan keberdosaannya (Roma 3:9-20). Maka jelaslah bahwa manusia memerlukan kasih karunia Tuhan yang memampukannya untuk dapat kembali melakukan hal yang benar menurut pandangan Tuhan. Manusia yang telah mati secara rohani perlu dihidupkan kembali secara rohani. Paulus mengatakan “Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka. Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain. Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita -- oleh kasih karunia kamu diselamatkan –“ (Efesus 2:1-5).

Sifat Allah yang kudus menyebab Ia murka terhadap manusia yang melanggar hukum-hukumNya dan mengharuskanNya menghukum manusia berdosa tersebut. Sementara itu, sifat Allah yang kasih menuntutNya mengasihi manusia berdosa, dengan memberikan kemurahan, kebaikan dan belas kasihan kepada manusia. Disini kekudusan dan kasih Allah dikonfrontasikan. Allah tidak dapat mengorban salah satu dari kedua sifat tersebut, yaitu kekudusan dan kasih. Lalu bagaimana cara Allah menegakkan supremasi hukum dan keadilanNya atas dosa manusia? Korban pengganti, yang akan menjalankan hukuman itu. Paulus dalam kolose 2:13,14 mengatakan “Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib” Hanya kematian Kristus saja yang dapat meredakan kemarahan Allah dan memenuhi tuntutan keadilanNya. Kristus secara sukarela menanggung hukuman yang seharusnya dijatuhkan kepada manusia. Dengan demikian kekudusan, hukum, dan keadilan Allah telah ditegakkan, dan secara simultan kasihNya kepada manusia dinyatakan.

Pribadi yang terlibat dalam korban keselamatan itu ialah Allah yang menjelma menjadi manusia. Hanya pribadi ini yang dapat menyebabkan keselamatan manusia. Lalu, mengapa Allah harus menjadi manusia? Alkitab menyatakan bahwa hukuman bagi dosa adalah maut, dan satu-satunya jalan mengatasi dosa adalah dengan korban darah dan kematian. Berhubung Allah tidak dapat mati, maka harus terjadi inkarnasi agar ada natur atau sifat manusia yang bisa mengalami kematian dan dengan demikian membayar hukuman dosa. Hanya Allah-Manusia yang memenuhi syarat untuk menjadi Juruselamat Sejati. Juruselamat itu harus manusia agar dapat mati bagi dosa-dosa manusia, Juruselamat itu juga harus Allah, supaya dalam kematianNya Ia dapat hidup dan membayar harga dosa (Roma 1:1-4). Melalui kematian-Nya di kayu salib Kristus melenyapkan perseteruan antara manusia dengan Allah (Efesus 2:16); Kristus menjadi terkutuk karena kita di atas kayu salib (Galatia 3:13); Kristus telah memikul dosa kita di dalam tubuhNya di kayu salib supaya kita hidup untuk kebenaran (1 Petrus 2:24); Kristus melakukan pendamaian yang diadakan oleh darah salib Kristus (Kolose 1:21); Kristus dipaku di kayu salib untuk membayar hutang dosa dengan harga yang lunas (Kolose 2:14). Puncak dari penderitaan Kristus adalah kematianNya di kayu salib. Dikayu salib terjadi pendamaian, penggantian, penebusan, pengampunan dan pembenaran. Kristus telah mati di kayu salib satu kali dan korbanNya sempurna dihadapan Allah. Karya Kristus disalib ini memberi jalan keluar bagi manusia dari dosa-dosa manusia. Rasul Yohanes mengatakan, “sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus” (Yohanes 1:17). Kematian Kristus di kayu salib telah menebus kita dari dosa-dosa, membentangkan jalan anugerah yang ditawarkan Allah tanpa mengkompromikan keadilan-Nya dan kebenaran-Nya (Titus 3:7; Roma 3:26).

Penutup

Bagaimanakah seharusnya respon kita terhadap kasih karunia Allah Allah?

Pertama, menerima kasih karunia Allah itu dengan percaya kepada Yesus Kristus. Rasul Petrus dengan tegas mengatakan, “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.’”. (Kisah Para Rasul 4:12) .

Banyak ayat dalam Alkitab menegaskan bahwa tanggung jawab manusia dalam keselamatan hanya percaya (Yohanes 1:12; 3:16,18,36; 5;24; 11:25-26; 12:44; 20:31; Kisah Para Rasul 16:31; 1 Yohanes 5:13, dan lainnya). Tetapi, “apakah percaya itu?” Iman yang dimaksud oleh Yohanes dalam Injilnya adalah “aktivitas yang membawa manusia menjadi satu dengan Kristus”, sama dengan yang dimaksudkan oleh Paulus dalam surat-suratnya, yaitu “kepercayaan kepada Kristus”. Jadi, kita yang percaya kepada Kristus tidak hanya menerima hidup yang kekal tetapi juga memiliki hidup yang kekal itu.
 
Satu-satunya jalan supaya tidak binasa tetapi beroleh hidup kekal adalah dengan percaya kepada Yesus Kristus. Karena sudah adanya korban Yesus Kristus, maka jalan untuk selamat itu menjadi begitu sederhana dan mudah, yaitu hanya dengan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Cara ini disebut sebagai ‘the greatest simplicity’ (kesederhanaan terbesar). Kita tidak mempercayai keselamatan karena perbuatan baik ataupun karena iman ditambah perbuatan baik, tetapi hanya karena kasih karunia oleh iman. Rasul Paulus menulis dalam Efesus 2:8-9, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri”.

Tetapi karena begitu sederhana, banyak orang lalu meremehkan cara ini, padahal hanya ini satu-satunya jalan untuk selamat dan tidak ada yang lain. Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan karena Dia adalah satu-satunya yang dapat membayar hutang dosa kita (Roma 3:23). Tidak ada agama lain yang mengajarkan dalamnya dan seriusnya dosa kita dan akibat-akibatnya. Tidak ada agama yang menawarkan pembayaran dosa seperti yang disediakan oleh Yesus. Tidak ada “pendiri agama” lain yang adalah Allah yang menjelma menjadi manusia (Yohanes 1:1, 14), yaitu satu-satunya cara untuk melunasi utang dosa. Yesus haruslah Allah supaya Dia dapat membayar hutang kita. Yesus harus menjadi seorang manusia supaya Dia bisa mati. Keselamatan hanya tersedia melalui iman di dalam Yesus Kristus. “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kisah 4:12). Allah memungkinkan manusia berbaik dengan Dia, hanya kalau manusia percaya kepada Yesus Kristus. Allah berbuat ini untuk semua orang yang percaya kepada Kristus; sebab tidak ada perbedaannya (Roma 3:22). Alkitab mengajarkan kita bahwa tidak ada jalan lain untuk mendapatkan keselamatan selain melalui Kristus. Yesus berkata dalam Yohanes 14:6, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6). Textus Receptus menulis ayat ini demikian: e?? e?µ? ? ?d?? ?a? ? a???e?a ?a? ? ??? ??de?? e??eta? p??? t?? pate?a e? µ? d? eµ?? (ego eimi he hodos kai he aletheia kai he zoe oudeis erkhetai pros ton patera ei me di emou). Penggunaan kata sandang “he” di depan kata “hodos (jalan), aletheia (kebenaran), dan zoe (hidup)”, menunjukkan bahwa hanya Dia satu-satunya dan tidak ada yang lain selain Dia saja.

Apakah Anda membuat keputusan untuk menerima Kristus karena apa yang Anda baca di sini? Menerima kasih Allah dalam Kristus adalah keputusan paling serius dan paling penting. Ketika kita datang pada Tuhan dan percaya pada Kristus, kita disatukan dengan Dia, diselamatkan dan mendapat hidup yang kekal. Rasul Yohanes mengatakan, “Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam AnakNya. Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup” (1 Yohanes 5:11-12).

Kedua, melakukan perbuatan baik sebagai rasa syukur untuk apa yang telah Allah lakukan bagi kita (Efesus 2:8-9). Salah satu cara kita diminta untuk memberi respon terhadap kasih karunia Allah adalah dengan melakukan pekerjaan baik. Pernyataan klasik tentang keselamatan hanya “karena kasih karunia oleh iman” adalah frase Yunani “tê gar khariti este sesôsmenoi dia tês pisteôs” yang diterjemahkan “Sebab adalah karena kasih karunia kamu telah diselamatkan melalui iman”, langsung diikuti oleh pernyataan ini “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” (Efesus 2:10). Frase Yunani “pekerjaan baik” dalam ayat ini adalah “ergois agathois” diterjemahkan “perbuatan-perbuatan yang baik”. Kata “agathois” berasal dari kata “agathos” yaitu kata Yunani biasa untuk menerangkan gagasan yg “baik” sebagai kualitas jasmani atau moral. Kata ini dapat berarti “baik, mulia, patut, yang terhormat, dan mengagumkan”. Jadi, pelayanan kita untuk Allah dilakukan karena rasa terima kasih kita untuk kasih karuniaNya, bukan sebagai upaya untuk menggantikan kasih karunia dengan pekerjaan atau perbuatan-perbuatan yang baik. Perhatikan apa yang Paulus katakan mengenai dirinya sendiri, “Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku” (1 Korintus 15:10). Rasul Paulus yang telah mengatakan bahwa ia diselamatkan hanya karena kasih karunia yang tidak sepatutnya ia terima, namun ia tidak duduk dan bermalas-malasan, melainkan melayani Tuhan dan bekerja dengan giat bagi Allah.

Telah disebutkan diatas, menurut Paulus dalam Efesus 2:8 bahwa kita tidak diselamatkan karena perbuatan-perbuatan. Tetapi menurut Yakobus, iman tanpa perbuatan adalah mati. Apakah Yakobus bertentangan dengan Paulus? Jawabannya tidak, karena Paulus dan Yakobus menggunakan kata “ergon” atau perbuatan/pekerjaan dengan pengertian yang berbeda. Ketika Paulus menyebut diselamatkan bukan karena perbuatan atau pekerjaan maka yang dimaksud adalah menunjuk kepada keinginan seseorang untuk memperoleh perkenan dan keselamatan melalui usaha menanati hukum taurat dengan kekuatan sendiri dan bukan melalui iman pada anugerah Tuhan. Sedangkan ketika Yakobus menggunakan kata perbuatan (ergon, bentuk tunggal dari erga yang berarti perbuatan atau pekerjaan) menunjuk kepada perbuatan-perbuatan yang bersumber dari iman sejati dan kehidupan yang telah diselamatkan. Kata “ergon” dalam Yakobus menunjuk kepada kualitas dasar dari kehidupan seseorang yang dinyatakaan dengan perilakunya. Tindakan atau perbuatan seseorang mencerminkan fakta bahwa iman sejati ada di dalam perbuatan-perbuatan itu. Dengan demikian hubungan antara iman dan perbuatan adalah bahwa setelah diselamatkan kita harus aktif mengerjakan keselamatan itu didalam kehidupan kita dengan perbuatan-perbuatan yang kita lakukan atau hal-hal yang kita kerjakan. (Filipi 2:12-13; Efesus 2:10, agatha). Perbuatan-perbuatan itu merupakan tanda apakah iman kita itu benar-benar hidup (Yakobus 214-17) dan tanda ketaatan iman kepada Allah, yang berbeda dengan setan yang percaya pada Allah tetapi tidak taat (Yakobus 2:18-20).

Ketiga, kita harus bertumbuh dalam kasih karunia. Rasul Petrus memberikan nasehat yang penting dan sangat berharga dengan berkata “Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya” (2 Petrus 3:18). Kata Yunani yang diterjemahkan dengan “bertumbuhlah” adalah “auksanete”, merupakan bentuk kata kerja aktif imperatif atau kata kerja bentuk perintah. Kata “auksanete” ini berasal dari kata “auksano” yang berarti “tumbuh, bertambah, berkembang, dan bertambah besar”. Disini Petrus menasihati untuk bertumbuh dalam pengertian akan kasih karunia karena makin baik pengertian kita akan kasih karunia, makin baik kita akan menjalani hidup sebagai orang percaya. Cara untuk bertumbuh dalam pengertian akan kasih karunia berarti bertumbuh dalam pengetahuan akan Yesus Kristus, sebab kasih karunia bukanlah suatu konsep yang abstark, tetapi suatu Pribadi. Kata Yunani yang diterjemahkan dengan “pengenalan” adalah “gnosis” yang berarti “pengetahuan yang sebenarnya”. Dengan demikian, cara kita bertumbuh dalam kasih karunia adalah dengan mengenal Yesus Kristus melalui persekutuan yang akrab dengan Dia, karena makin baik kita mengenal Yesus, makin banyak kita mengalami kasih karuniaNya.

* Pdt. Samuel T. Gunawan adalah seorang Protestan-Kharismatik, Pendeta dan Gembala di GBAP Jemaat El Shaddai; Pengajar di STT IKAT dan STT Lainnya. Menyandang gelar Sarjana Ekonomi (SE) dari Universitas Palangka Raya; Sarjana Theology (S.Th); Magister Theology (M.Th) in Christian Leadership; dan Magister Theology (M.Th) in Systematic Theology dari STT Trinity.

Kasih Kristiani (Mengaktualisasi Kasih yang Tergambar dalam 1 Korintus 13)

Oleh: Pdt. Samuel T. Gunawan, M.Th

Khotbah Ibadah Raya GBAP El Shaddai Palangka Raya
Minggu, 24 Pebruari 2013

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan..” (1 Korintus 13:4-8a)

PENDAHULUAN

1 Korintus 13 adalah salah satu pasal yang paling di kenal dalam Alkitab, sekaligus pasal yang paling rumit. Bagi kebanyakan orang Kristen, gambaran kasih disini lebih merupakan gagasan ketimbang pengalaman, atau lebih bersifat teoritik ketimbang praktis. Daya tarik ayat ini membuat banyak orang Kristen terpana bagaikan memandang gunung yang menjulang tinggi dalam kemegahannya sehingga membuat kita tertarik untuk mengukur ketinggiannya, namun menyadari betapa kita terikat di bumi dan tidak memiliki peralatan untuk mendakinya. Kita mengenal kasih, tetapi kita juga mengenal diri kita dan betapa jauhnya aktualitas kasih kita. Kasih itu sendiri “tak pernah gagal”, kitalah yang gagal, bahkan seringkali gagal menerapkannya.

Kita tahu, jauh lebih mudah menulis dan membicarakan tentang kasih ketimbang melaksanakannya. Walau pun demikian, pada ayat-ayat pembukaan, Paulus menantang kita untuk “mengejar dan mendapatkan kasih” (1 Korintus 14:1). Kita belum memilikinya dalam pengertian melaksanakannya, namun kita sangat mendambakannya. Bukankah ini seharusnya memberi kita semangat? Bukankah kerinduan itu sendiri merupakan kilasan kasih yang selalu berharap, selalu bertekun (1 Korintus 13:7)? Bukankah keinginan kita untuk menyingkirkan keangkuhan dan kedengkian serta ambisi merupakan tanda kasih? Ketika kita bersikap kasar, bukankah kepedihan yang muncul membuktikan kasih kita kepada orang yang kita lukai? Apabila kita mengakui diri kita kurang mengasihi, setidaknya kita telah mulai “meninggalkan sifat dan tindakan kita yang kekanak-kanakan” (1 Korintus 13:11). Orang yang bersifat kekanak-kanakan tidak mengasihi tetapi merasa mengasihi. Saat kita sadar bahwa kita “tidak mengasihi” namun ingin berubah kita telah membuat semacam kemajuan. Marilah kita, tetap mengaktualisasikan kasih yang telah didefinikan ini (1 Korintus 13:1-13) dalam kehidupan kita, karena kasih adalah kekuatan untuk hidup dalam sukacita sebagai orang-orang yang tidak sempurna di dalam kasih.

APAKAH KASIH ITU ?

Pertanyaan penting yang akan kita ajukan ialah: Apakah kasih itu? Kasih dalam pengertian insani atau pun ilahi merupakan bentuk ungkapan yang paling dalam dari kepribadian sekaligus hubungan pribadi paling akrab dan paling dekat.

Kata Ibrani Perjanjian Lama yang paling dominan untuk kasih adalah “aheb” berkonotasi beragam makna sesuai dengan konteksnya. Perjanjian Baru kebanyakan menggunakan dua kata Yunani yaitu: “agape” dan “philia”. Kata “agape adalah kata yang paling dominan dalam Perjanjian Baru. Kata “agape” jarang digunakan dalam bahasa Yunani sebelum kata itu dipakai secara khas oleh orang Kristen untuk mengungkapkan kasih. “Agape” dipakai untuk menyatakan kasih Allah, kasih sejati, tidak mementingkan diri, tidak menuntut balas jasa, dan kasih dari hati yang peduli pada orang lain. Sedangkan kata “philia” yaitu kasih sayang antar sahabat atau teman; kata ini sering diasosiakan dengan kasih persaudaraan. Dua kata Yunani klasik “eros” dan “storge” tidak digunakan dalam Alkitab. Kata “eros”, menunjukkan cinta dengan daya tarik seksual atau erotika. Kasih ini sering dihubungkan dengan romantistik. Sedangkan kata stôrge berarti kasih alami dalam keluarga, seperti kasih seorang ibu dan anaknya tidak digunakan di dalam Alkitab.

Kasih “agape” dapat diaktulisasikan kepada Allah dan kepada sesama. Secara khusus, dalam konteks 1 Korintus pasal 13 ini, Paulus menggunakan kata “agape” dalam hubungan dengan sesama. Kristus dalam Matius 22:34-40 meringkas tugas orang Kristen dengan hukum kasih, yaitu kasih kepada Tuhan, kepada diri sendiri dan kepada sesama. Kasih agapaô perlu memenuhi hidup kita dan mengontrol kasih yang lainnya (philia, eros, storge). Semua kasih yang lain hanya dapat diperbaiki dan berfungsi dengan benar dalam proporsi yang tepat bila kasih “agape” mengontrolnya. Kasih ini mengatur relasi kita dalam keluarga, sesama, ditempat kerja (Yohanes 13:34), dan bagi mereka yang membutuhkan bahkan mereka yang memusuhi (Lukas 10:25-37).

MENGAPA PAULUS MENULIS PASAL KASIH INI?

Mengapa Rasul Paulus, ketika menulis surat kepada jemaat di Korintus, ini justru menuliskan tentang kasih?

Paulus memiliki dua alasan pokok dalam pikirannya ketika ia menulis surat 1 Korintus ini: Pertama, untuk membetulkan masalah yang serius dalam jemaat di Korintus yang telah diberitahukan kepadanya. Hal-hal ini meliputi pelanggaran yang dianggap remeh oleh orang Korintus, tetapi dianggap oleh Paulus sebagai dosa serius. Kedua, untuk memberikan bimbingan dan instruksi atas berbagai pertanyaan yang telah ditulis oleh orang Korintus. Hal-hal ini meliputi soal doktrin dan juga perilaku dan kemurnian sebagai perorangan dan sebagai jemaat.

Secara khusus alasan yang paling penting mengapa Rasul Paulus menulis pasal tentang kasih (1 Korintus 13) ini adalah karena ia sedang memberikan teguran kepada jemaat di Korintus. Mereka adalah jemaat yang menerima karunia besar dari Tuhan, karunia-karunia Roh Kudus, dan gereja yang dinamis sekali. Tetapi, Korintus adalah jemaat yang paling bermasalah, baik itu masalah doktrinal, kurangnya moralitas, hubungan seksual di antara anggota keluarga, dan sebagainya. Di tengah-tengah situasi yang kacau itu, Rasul Paulus memberikan pengajarannya tentang penggunaan karunia dan pentingnya karunia Roh Kudus sehingga tidak mereka salah gunakan. Setelah dia memberikan pengajarannya, barulah dia menekankan bahwa yang terpenting dari semuanya adalah kasih.

Ada tiga hal yang Paulus harapkan dipahami oleh jemaat melalui ajaran tentang kasih dalam 1 Korintus 13 ini, yaitu: motivasi kasih (1 Korintus 13:1-3), karakteristik kasih (1 Korintus 13:4-8a), dan keunggulan kasih (1 Korintus 13:8b-13).

MOTIVASI KASIH (1 KORINTUS 13:1-3)

Apa gunanya penggunaan karunia, perbuatan besar dan dahsyat jika tidak ada kasih yang melatarbelakanginya? Banyak orang tidak akan setuju perlunya memeriksa motivasi dari apa yang kita sebut perbuatan baik. Banyak orang mengklaim bahwa karisma, pengetahuan, dan pengorbanan adalah sama dengan kasih. Tetapi masing-masing hal itu perlu diperiksa seperti seperti yang pasal ini sudah lakukan.

Paulus mengatakan, “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku”. (1 Korintus 13:1-3). Di dalam ayat ini, tercatat tujuh karunia, yaitu: karunia bahasa lidah, nubuat, hikmat (menyelami rahasia), pengetahuan, iman, memberi (membagi-bagikan), dan mati syahid (menyerahkan tubuh untuk dibakar). Karunia-karunia ini sangat penting, sperti ditunjukkan di pasal-pasal yang mengapitnya (khususnya pasal 12 dan 14). Namun demikian, kata Paulus, memakai atau menjalankan karunia tanpa kasih tidaklah berguna dan tidak berfaedah, bahkan sia-sia. Kasih adalah “jalan yang lebih utama” dan melampaui “karunia-karunia utama” (1 Korintus 12:31). Karena itu kasih harus “dikejar” (1 Korintus 14:1) dan karunia-karunia dijalankan dengan kasih (1 Korintus 13:1-3). Ingat, karunia-karunia (charismata) akan berhenti diujung sejarah, tetapi kasih akan tetap berlanjut (1 Korintus 13:8).

1. Fasih berbicara tanpa kasih adalah omong kosong. Walaupun seseorang sangat pandai berbicara, sopan, atau menghibur yang mendengarkan, tanpa kasih, dia akan menggunakan lidahnya untuk tujuan pribadinya. Meskipun ribuan orang akan terkesan, tergerak, dan tersentuh, namun perkataannya sama saja dengan bunyi gong. Dengan adanya gerakan hiburan di gereja, orang-orang bersedia memaklumi semua kegagalan yang para pendeta dan guru lakukan untuk menjaga agar gereja tetap ramai.

2. Berpengetahuan tanpa kasih tidak berguna. Ilmuwan, teolog, doktor, dan filsuf semuanya berpura-pura memiliki pengetahuan yang luar biasa, tetapi tanpa kasih, pengetahuan ini akan menghancurkan mereka dan orang lain. Mereka yang memiliki pengetahuan adalah mereka yang seharusnya menggerakkan dunia. Para ekonom, pemuka agama, konselor, atau peneliti, semuanya memiliki pengetahuan khusus yang akan memberikan dampak signifikan dalam sejarah manusia. Dampak tidak diperoleh dari pengetahuan, namun dari apa yang dilakukan seseorang dengan pengetahuan itu. Bila dia tidak mengasihi, maka pengetahuan tidak lagi penting. Ketidakpedulian yang dibarengi kasih adalah lebih baik daripada pengetahuan yang dibarengi dengan pengejaran kepentingan diri, apa pun bidang pengetahuannya. Sekarang ini, kita menghabiskan banyak waktu, energi, dan uang untuk mengejar pengetahuan. Kita meluangkan sedikit waktu untuk memeriksa hati mereka yang bergelar tinggi. Gereja-gereja yang mencari pendeta tampaknya lebih menekankan gelar daripada kasih.

3. Kebaikan dan pengorbanan tanpa kasih tidak berfaedah. Kita akan berpikir bahwa mereka yang menyerahkan seluruh milik mereka dan melakukan pengorbanan diri yang besar merupakan suatu hal yang sangat mulia. Namun sekali lagi, kita bisa memberikan seluruh kekayaan kita, bahkan mengorbankan hidup kita, tetapi tanpa kasih, semua itu tidak ada gunanya. Saya bertanya-tanya seberapa besar bantuan yang diberikan atas dasar kasih daripada atas dasar motivasi memiliki reputasi terkenal. Bila nama kita tidak dikenal, akankah kita tetap memberikan sebanyak yang kita sudah kita lakukan? Pengorbanan yang besar tidak sama dengan kasih karena pengorbanan ini bisa saja berasal dari alasan egois agar dihargai dan dikenal. Ringkasannya, kita harus mulai memeriksa segala tindakan kita; apakah kita melakukannya atas dasar kasih atau pemenuhan ego. Kita memiliki kemampuan yang hebat untuk membohongi diri kita sendiri dan orang lain menurut maksud kita yang sebenarnya. Sering kali, jauh di dalam hati, kita menyukai perhatian, tepuk tangan, piala, dan kekuasaan. Kemampuan besar dalam pidato, pengetahuan, dan pengorbanan akan menggerakkan orang, namun tidak akan menyelamatkan mereka. Komunikasi, pengetahuan, dan ketaatan adalah tiga penajam hidup yang sangat berkuasa, namun ketiga hal ini membutuhkan hati yang mengasihi untuk mewujudkannya dengan benar di dunia ini sehingga memberikan manfaat bagi orang lain.

KARAKTERISTIK KASIH (1 KORINTUS 13:4-8a)

Semua orang mengaku memiliki kasih, namun sedikit yang telah merasakan kekuatan, pengertian, dan komitmennya yang luar biasa. Kasih berdasarkan pengertiannya memiliki beberapa natur. Tanpa sifat-sifat (natur) itu, kasih akan hilang. Paulus mengatakan “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan..” (1 Korintus 13:4-8a).

1. Natur kasih. Paulus dalam 1 Korintus 13:4-8a, tidak berusaha mendefinisikan apa itu kasih, tetapi memperlihatkan sifat-sifat dan tindakan moral dari kasih. Tercatat enam belas sifat dan tindakan moral kasih yang disebutkan Paulus, yaitu: (1) kasih itu sabar (bersabar, memberi kesempatan), hê agapê makrothumei ; (2) kasih itu murah hati (bermurah hati atau baik hati), hê agapê chrêsteuetai ; (3) kasih itu tidak cemburu (tidak iri hati), hê agapê ou zêloi; (4) kasih itu tidak memegahkan diri, hê agapê ou perpereuetai; (5) kasih itu tidak (menjadi) sombong, hê agapê ou phusioutai; (6) kasih itu tidak melakukan yang tidak sopan, hê agapê ouk askhêmonei; (7) kasih itu tidak mencari keuntungan-keuntungan diri sendiri, hê agapê ou zêtei ta heautês; (8) kasih itu tidak pemarah (tidak mudah tersinggung, hê agapê ou paroxunetai; (9) kasih itu tidak menyimpan kesalahan orang lain (tidak mengingat hal yang jelek), hê agapê ou logizetai to kakon; (10) kasih itu tidak bersukacita karena ketidakadilan (tidak bersukacita atas perbuatan yang tidak benar), hê agapê ou khairei epi tê adikia; (11) kasih itu bersukacita bersama kebenaran, hê agapê sugkhairei tê alêtheia; (12) kasih itu menutupi segala sesuatu, hê agapê panta stegei; (13) kasih itu percaya segala sesuatu, hê agapê panta pisteuei; (14) kasih itu mengharapkan segala sesuatu, hê agapê panta elpizei; (15) kasih itu sabar menanggung segala sesuatu, hê agapê panta hupomenei; (16) kasih itu tak berkesudahan, hê agapê oudepote ekpiptei .

2. Dua aspek kasih. Enam belas komponen kasih diatas dapat dikelompokan menjadi dua kategori yaitu: aspek kasih yang memberi diri dan aspek kasih yang mengekang diri. Baik kasih yang memberikan diri, maupun kasih yangmengekang diri adalah kasih agape, kasih yang memang tidak lagi bertumpu pada apa yang orang lain lakukan kepada kita.
(1)    Aspek kasih yang memberikan diri. Ada delapan karakteristik dar kasih yang memberi diri yaitu: Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, kasih bersukacita karena kebenaran, kasih menutup segala sesuatu, kasih percaya segala sesuatu, kasih mengharapkan segala sesuatu., kasih menanggung segala sesuatu, dan kasih tak berkesudahan. Semua orang dapat memberikan dirinya, tapi pertanyaannya adalah kepada siapa dan untuk siapa. Jadi, murah hati adalah benar-benar kita harus keluar dari diri kita, melampaui diri kita yang sempit ini sehingga kita melebarkan, memperluas diri kita, dan akhirnya bisa memberikan diri kepada orang lain meskipun rasanya tidak ada keinginan.
(2) Aspek kasih yang mengekang diri. Ada delapan karakteristik dari kasih yang mengekang diri, yaitu: Kasih tidak cemburu, kasih tidak memegahkan diri, kasih tidak sombong, kasih tidak melakukan yang tidak sopan, kasih tidak mencari keuntungan untuk diri sendiri, tidak pemarah, kasih tidak menyimpan kesalahan orang lain, dan kasih tidak bersukacita karena ketidakadilan. Semua kata-kata yang digunakan mengacu pada satu konsep yang serupa akarnya, yaitu mengekang diri. Jadi, kasih membuat manusia membatasi dirinya, kasih membatasi tindakan kita yang seharusnya agresif menjadi tidak agresif. Tidak cemburu artinya seolah-olah kita mau menuntut sesuatu yang seharusnya menjadi milik kita, kita mau menguasai sesuatu yang baik, yang indah, dan yang menyenangkan buat kita. Tapi kasih berhasil membatasi diri sehingga kita tidak menguasai orang. Jadi, kasih memunyai unsur mengekang diri.

3. Penjelasan dari enam belas karakter kasih.
(1) Kasih Itu Sabar. Orang yang sabar yang mampu untuk mendengarkan dan peduli pada orang-orang di sekitarnya. Kasih tidak memaksakan aturan dan batasan waktunya sendiri. Orang-orang, khususnya orang-orang yang terluka, dapat menyedot banyak waktu kita. Orang sabar percaya kepada Tuhan bahwa Ia akan memberikan cukup waktu untuknya mendengarkan orang lain. Kasih juga mampu memperlakukan semua orang dengan cara yang benar. Kita cenderung mengharapkan orang lain untuk mendengarkan kita seperti kita mendengarkan orang lain, tetapi sering kali hal ini tidak berhasil. Orang yang sabar percaya kepada Tuhan bahwa Ia akan memberikan hikmat untuk memerhatikan setiap orang dengan baik.
(2) Kasih Itu Murah Hati. Murah hati atau baik hati adalah bersikap baik dan peduli pada orang lain. Kasih itu murah hati. Kita mungkin berpikir hal ini tidak perlu dikatakan, namun setelah apa yang telah dilakukan atas nama kasih diteliti baik-baik, kita akan bijaksana bila mengukur kasih hanya dengan gelas ukur yang disebut kemurahan hati. Bila seseorang itu tidak murah hati, berarti dia tidak mengasihi.
(3) Kasih Tidak Cemburu. Rasa cemburu atau iri hati biasanya muncul saat orang lain (dan bukan kita) mendapatkan perhatian. Saat kecemburuan muncul, kita harus mempertanyakan apakah ada kasih. Beberapa orang mengatakan bahwa kasih itu cemburu karena kasih menginginkan dan mengharapkan orang lain. Namun, kasih yang sejati memberikan hak mereka atas perhatian orang lain. Kasih justru memberikan dirinya sendiri supaya orang lain mendapatkan keuntungan.
(4) Kasih Tidak Memegahkan Diri. Ketika seseorang memegahkan diri, maka objek pembicaraan direndahkan dan dipandang sebagai alat untuk digunakan. Memegahkan diri berarti meninggikan diri sendiri dan merendahkan orang lain. Kasih meminta seseorang untuk melihat sisi baik dalam diri orang lain dan lebih sering diam jika belum melihat sisi baik yang ada pada diri orang lain.
(5) Kasih Tidak Sombong. Kesombongan mulai muncul ketika kita merasa lebih baik daripada orang lain. Perbedaan memegahkan diri dari kesombongan adalah bahwa memegahkan diri berbicara tentang keberhasilan seseorang, sedangkan kesombongan terdapat di dalam pikiran. Kesombongan akan mengeluarkan buah yang tidak diinginkan melalui pandangan, perilaku, komentar, tipuan, dan perlakukan umum terhadap orang lain. Kasih lebih menghormati orang lain di atas keinginan pribadinya.
(6) Kasih Tidak Melakukan yang Tidak Sopan. Tindakan yang tidak sopan adalah tindakan yang aneh untuk menarik perhatian orang lain. Perilaku yang aneh atau kasar menarik perhatian orang lain. Mencari perhatian untuk diri sendiri adalah lawan dari kasih di mana kita seharusnya memberikan perhatian kepada orang-orang yang membutuhkan. Kita berfokus pada orang lain.
(7) Kasih Tidak Mencari Keuntungan untuk Diri Sendiri. Ketika kita mencari kesejahteraan diri kita sendiri, kita menghalangi kemampuan kita untuk mengasihi. Kasih mengusahakan kesejahteraan orang lain. Bila kita lebih mementingkan diri sendiri, maka kita akan memberikan perlakuan istimewa pada diri kita sendiri. Kita bahkan akan berbohong, curang, memfitnah, mengumpat, dan lain untuk melayani kebutuhan diri kita sendiri.
(8) Kasih Tidak Pemarah. Kasih yang sejati tidak mudah goyah. Kasih yang pura-pura mudah berubah. Seseorang akan mudah marah saat dia hidup untuk dirinya sendiri. Kita pasti merasa tidak nyaman saat tersinggung; setidaknya harga diri kita diserang, namun natur kasih tidak akan berubah.
(9) Kasih Tidak Menyimpan Kesalahan Orang Lain. Tidak menyimpan kesalah berarti cepat mengampuni orang lain dan menolak kepahitan. Kasih tidak pahit hati. Mungkin ia terluka, tersakiti, danteraniaya, namun kasih akan selalu mengampuni. Kasih tidak menyimpan kesalahan atau berencana untuk balas dendam. Kasih menghapus kesalahan setiap hari untuk memampukannya memerhatikan kebutuhan orang lain.
(10) Kasih Tidak Bersukacita Karena Ketidakadilan. Orang yang tidak hidup di dalam kasih berpikir bahwa mereka tidak bersalah atas perilaku yang kasar dan tidak adil, dan mereka merasa bahagia dengan perilaku buruk tersebut. Apabila kita merasa kebahagiaan dalam perilaku buruk orang lain maka kasih tidak ada di dalamnya. Entah kita atau orang lain terlibat dalam perilaku yang tidak baik, mereka yang memiliki kasih yang sejati tidak akan bersukacita.
(11) Kasih Bersukacita Karena Kebenaran. Kasih mungkin rendah hati karena kebenaran, namun kasih masih tetap menemukan kesetiaannya yang terdalam terhadap kebenaran. Kasih tidak memilih-milih orang sehingga menghalangi kebenaran. Pasangan dari kasih adalah kebenaran, di mana cahayanya bersinar terang; tidak ada kebohongan dan ketidaksetiaan.
(12) Kasih Menutup Segala Sesuatu. Mudah marah berujung pada konflik pribadi yang tidak ada gunanya, misalnya dalam hubungan saudara kandung atau pernikahan. Dengan menanggung segala sesuatu, kasih dapat menahan kekasaran, dosa, dan kebobrokan moral yang absolut. Dari air berlumpur, muncullah bunga lili putih.
(13) Kasih Percaya Segala Sesuatu. Mencari Tuhan untuk memohon pertolongan, kekuatan dan pembaharuan untuk setiap situasi sulit yang saya alami adalah bagian dari kasih. Kasih terlindungi dari pesimisme usia dan memampukan setiap orang dengan penuh hormat dan harapan.
(14) Kasih Mengharapkan Segala Sesuatu. Kasih bukanlah khayalan buta, namun dengan kesetiannya, kasih dapat melihat ke depan pada kesempatan istimewa yang setiap relasi bawa setiap hari. Kasih hidup dalam pengharapan kepada Tuhan bahwa anugerah Tuhan dapat bersinar di tempat yang gelap.
(15) Kasih Menanggung Segala Sesuatu. Kasih sanggup bertahan karena kasih Allah di dalam Kristus adalah selamanya. Kasih yang kita miliki memang terbatas, namun saat kasih Allah memenuhi kita, maka tidak ada yang bisa menghentikannya. Kasih Allah mengatasi rasa malu, celaan, dan kejahatan. Kasih itu rendah hati sama seperti kasih Allah dalam Kristus mengejar hal-hal tersebut sehingga kita bisa menerima kasih itu.
(16) Kasih Tak Berkesudahan. Tidak ada rentang waktu untuk kasih Allah. Kasih Allah tidak berhenti saat matahari terbenam atau dimulai pada minggu yang baru. Kasih illahi akan terus ada ada menembus waktu dan kekekalan. Di malam-malam gelap, akan selalu ada cahaya abadi dari kasih Allah. Kasih akan menyinari kebencian dan menembus hal yang paling buruk dengan pergorbanan.

KEUNGGULAN KASIH (1 KORINTUS 13:8-13)

Di jantung kasih ada kekuatan untuk bertahan. Kasih “tahan menderita dan tahan menanggung segala sesuatu” (1 Korintus 13:4-7); Kasih tidak berkesudahan (1 Korintus 13:8); Kasih tetap bertahan (1 Korintus 13:13). Frase Yunani “kasih tidak berkesudahan” adalah “hê agapê oudepote ekpiptei” yang dapat diterjemahkan “kasih sejati tidak pernah gagal; tidak pernah berhenti sampai kesudahannya”. Makna frasa “hê agapê oudepote ekpiptei”, harus dipahami dari kata “hê agapê” sendiri, serta pemakaian frasa “oudepote ekpiptei”. Pertama-tama, analisa leksikal perlu dilakukan pada kata “hê agapê” , dimana pemakaian kata “hê agapê” oleh Paulus dilihat sebagai kasih yang mengarahkan relasi antar manusia. Tentu saja ini diperkuat oleh konteks yang memperlihatkan bahwa Paulus sedang berusaha membenahi kesalahpahaman jemaat Korintus mengenai karunia-karunia lahiriah.

Tetapi meskipun “hê agapê” pada pasal 13 dimengerti sebagai kasih yang mengarahkan relasi antar manusia, “hê agapê” juga mempunyai makna teologis yang khusus. Pengertian terhadap makna “hê agapê” harus dimulai dengan pemahaman bahwa bagi Paulus, sumber “hê agapê” sendiri adalah Allah yang bekerja di dalam Kristus. Sangat jelas bahwa Paulus amat sepakat dengan Yohanes 4:8, “Allah adalah kasih”. Paulus memahami bahwa kasih adalah natur dari Allah sendiri (Roma. 8:37-39). Karena itu Paulus mengingatkan jemaat Korintus yang sejatinya telah berada di dalam Kristus, harus memiliki kasih itu dalam kehidupan mereka. Paulus melihat kasih Kristus yang rela disalib adalah kasih yang diwujudkan dalam tindakan (Efesus 5:1-2). Sehingga kasih pun adalah sebuah tindakan, sebuah behavior, bukan sebagai sesuatu yang abstrak yang tidak dapat dilihat. Kontras dengan banyak pemikiran dunia dalam memandang kasih hanya sebagai emosi, Alkitab dengan gamblang menjelaskannya dan memperlihatkannya bahwa kasih bukan semata-mata apa yang dirasakan oleh seseorang, melainkan apa yang dilakukannya!. Disini kita mendapat hikmat Kristiani yang praktis yang tahu bagaimana kita seharusnya bertindak karena Allahlah yang pertama-tama mengasihi kita (1 Yohanes 4:19). Kasih adalah sebuah kualitas karakter yang membedakan antara antara umat Allah dengan manusia dunia. Kasih adalah dasar sikap hidup umat Kristen, sehingga kasih adalah yang pertama-tama dan terutama untuk dimiliki orang Kristen sebelum segala karunia-karunia lahiriah. Inilah yang disebut dengan keutamaan kasih.

Kata “ekpiptei” memakai tense present, yang berarti saat ini, terus-menerus, tanpa mengerti sampai kapan berakhirnya. Sehingga sebenarnya bentuk present pada kata kerja ini juga punya unsur future, melihat hubungan dengan kata kerja yang mengikutinya. Modus indikatif memastikan keseriusan, dan kepastian bahwa “hê agapê” tidak akan berakhir. Berbeda dengan dua kata kerja pada klausa berikutnya, memakai tensa future, lebih tepatnya predictive future, yang berarti di masa depan dua subjek pada dua klausa tersebut (pengetahuan dan bahasa) benar-benar akan berakhir, digantikan dengan suatu keberadaan yang lain. Bentuk indikatif yang dipakai adalah declarative indicative, yang menunjukkan pernyataan yang tegas oleh Paulus, serta kepastian dari hal yang dinyatakan. Kesimpulan yang jelas adalah bahwa karunia-karunia lahiriah, yang tidak sempurna (1 Korintus 13:9) akan lenyap ketika yang sempurna tiba (1 Korintus 13:10). Frase “Yang sempurna tiba” atau “elthê to teleion” disini jelas merujuk kepada kedatangan Kristus kali yang kedua, karena saat itulah Paulus akan “mengenal dengan sempurna” dan “meninggalkan sifat kanak-kanak.” “hê agapê” berbeda dengan karunia-karunia lahiriah, karena ketika yang sempurna itu tiba ia tidak akan berakhir. Dengan tepat Terjemahan Baru Bahasa Indonesia menerjemahkan “oudepote ekpiptei”dengan frasa “tidak berkesudahan.” Inilah sifat “hê agapê” yang melampaui temporalitas dan punya nada eskatologis.

Nada eskatologis dari “hê agapê” ini diperkuat oleh ayat 13 yang merupakan kesimpulan dari pasal 13 dan menunjukkan keutamaan kasih, bahkan bila dibandingkan dengan iman dan pengharapan. Kasih adalah yang paling besar dari kedua hal tersebut, karena ketika Kristus datang kali yang kedua, iman dan pengharapan akan berakhir. Iman akan mencapai kepenuhannya, dan pengharapan akan mendapatkan penggenapannya. Di dalam kekekalan, kasih akan terus bertahan sebagai karakter dari relasi Allah dan umat-Nya.

Kasih bertahan dan karena itu akan ada untuk menilai kehidupan kita. Kita mungkin mengagungkan orang-orang yang memiliki karunia, tetapi kasihlah yang membuat karunia ini berkilau dalam kehidupan seseorang. Bisa berbicara dengan bahasa yang berbeda mungkin bisa membuat orang lain kagum, tetapi seperti yang dikatakan dalam nubuatan bahwa kemampuan itu akan sia-sia bila orang tersebut tidak memiliki kasih. Karunia akan disalahgunakan bila kita tidak membiarkan kasih mengendalikan hati kita.

Kasih bukanlah perasaan meskipun kasih menghasilkan banyak perasaan yang menyenangkan. Kasih merupakan suatu komitmen untuk dengan sengaja memberikan diri kepada orang lain. Kontras dengan banyak pemikiran dunia dalam memandang kasih hanya sebagai emosi, Alkitab dengan gamblang menjelaskannya dan memperlihatkannya bahwa kasih bukan semata-mata apa yang dirasakan oleh seseorang, melainkan apa yang dilakukannya! Disini kita mendapat hikmat Kristiani yang praktis yang tahu bagaimana kita seharusnya bertindak karena Allahlah yang pertama-tama mengasihi kita (1 Yohanes 4:19). Bila kasih berhenti, maka kita tahu bahwa itu bukanlah kasih. Bila kasih menemui halangan terhadap kepribadian seseorang, keganjilan, penampilan, atau karunia, maka kita melihat kasih itu sebagai pesona atau hasrat saja. Meskipun Anda sehat, bersemangat, muda, dan cantik, waktu akan membawa perubahan yang tidak diinginkan, misalnya sakit penyakit, kelemahan, keriput pada kulit, dan hilangnya rasa kasih.

Kasih yang sejati tidak akan pernah berkesudahan karena kasih tidak menyerah; kasih tidak bisa menyerah. Kekuatan kasih tidak didasarkan pada apa yang Anda lihat pada diri seseorang, tetapi dalam komitmen Anda terhadap orang itu. Kasih yang sejati tidak berhenti, tetapi hari demi hari terus tumbuh menjadi lebih indah. Kasih tidak mengabaikan kesulitan, rasa sakit, luka, dan rasa malu yang kadang-kadang membuat kita marah, karena kasih yang berada dalam keadaan yang seperti ini akan menjadi semakin kuat. Kita semua akan memikul tanggung jawab. Kita seharusnya meninggalkan sikap yang buruk. Bila kita ingin dinilai secara menyeluruh, maka saya perlu memahami hati kita sekarang dan mengejar ketiga hal yang luar biasa: iman, pengharapan, dan kasih.

PENUTUP

Frase dalam 1 Yohanes 4:19, “kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” diterjemahkan dari kalimat bahasa Yunani “hemeis agapao hoti autos protos agapao hemes” (kita mengasihi, sebab Ia lebih dahulu mengasihi kita). Frase “kita mengasihi” atau “hemeis agapao” adalah bentuk kata kerja present aktif subjunctif, artinya sesuatu yang sedang dan masih dilakukan. Kristus dalam Matius 22:34-40 meringkas tugas orang Kristen dengan hukum kasih, yaitu kasih kepada Tuhan, kepada diri sendiri dan kepada sesama. Kasih perlu memenuhi hidup kita dan mengontrol kasih yang lainnya. Semua kasih yang lain hanya dapat diperbaiki dan berfungsi dengan benar dalam proporsi yang tepat bila kasih mengontrolnya. Kasih ini mengatur relasi kita dalam keluarga, sesama, ditempat kerja (Yohanes 13:34), dan bagi mereka yang membutuhkan bahkan mereka yang memusuhi (Lukas 10:25-37).

Alkitab mengajarkan bahwa kasih merupakan sesuatu yang harus kita kembangkan, karena itu Alkitab memerintahkan untuk mengasihi dengan aktif. Kasih bukan sekedar keinginan berbuat baik, melainkan keputusan dan sikap melakukannya. Secara khusus, rasul Yohanes dalam 1 Yohanes Pasal 4 mendorong kita untuk mengasihi berdasarkan alasan: Pertama, Kasih adalah sifat Allah sendiri yang dinyatakan dengan mengaruniakan AnakNya kepada kita (ayat:7-10), dan kita mengambil bagian dalam sifatNya karena kita lahir dari Dia (ayat 7). Kedua, Karena Allah mengasihi kita, maka kita yang sudah mengalami kasih, yaitu anugerah, belas kasih, kebaikan, dan pertolonganNya, wajib mengasihi orang lain meskipun kita untuk itu kita harus berkorban secara pribadi (ayat 11). Ketiga, jika kita saling mengasihi, Allah tetap ada di dalam kita dan kasihNya disempurnakan di dalam kita (Ayat 12).

Karena Allah telah lebih dahulu mengasihi kita, maka kita mendapat kekuatan untuk mengasihi. Terjemahan Bible In Basic English mengatakan “we have the power of loving, because he first loved us” (“kita memiliki kekuatan mengasihi, karena Ia lebih dahulu mengasihi kita”). Jadi, marilah kita mengasihi bukan hanya dengan perkataan, tetapi dengan perbuatan dan tindakan kasih (1 Yohanes 3:18). Bersama Paulus kita dapat berdoa “… oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih... supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan” (Efesus 3:16-19). Amin!

DAFTAR PUSTAKA REFERENSI

Boice, James M., 2011. Fondations Of The Christian Faith: A Comprehensive And Readable Theology. Terjemahan, Penerbit Momentum : Jakarta.
Chamblin, J. Knox., 2006. Paul and The Self: Apostolic Teaching For Personal Wholeness. Terjemahan, Penerbit Momentum : Jakarta.
Douglas, J.D., ed, 1988. The New Bible Dictionary. Universities and Colleges Christian Fellowship, Leicester, England. Edisi Indonesia dengan judul Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, 2 Jilid, diterjemahkan (1993), Yayasan Komunikasi Bina Kasih : Jakarta.
Drewes, B.F, Wilfrid Haubech & Heinrich Vin Siebenthal., 2008. Kunci Bahasa Yunani Perjanjian Baru. Jilid 1 & 2. Penerbit BPK Gunung Mulia : Jakarta.
Ferguson, B. Sinclair, David F. Wright, J.I. Packer., 1988. New Dictionary Of Theology. Inter-Varsity Press, Leicester. Edisi Indonesia, jilid 1, diterjemahkan (2008), Penerbit Literatur SAAT : Malang.
Gutrie, Donald., ed, 1981 New Tastament Theology, . Intervarsity Press, Leicester, England. Edisi Indonesia dengan Teologi Perjanjian Baru, 3 Jilid, diterjemahkan (1991), BPK Gunung Mulia: Jakarta.
Ladd, George Eldon., 1974. A Theology of the New Tastament, Grand Rapids. Edisi Indonesia dengan Judul Teologi Perjanjian Baru. 2 Jilid, diterjemahkan (1999), Penerbit Kalam Hidup: Bandung.
Mounce, William D., 2011. Basics of Biblical Greek, edisi 3. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT : Malang.
Newman, Barclay M., 1993. Kamus Yunani – Indonesia Untuk Perjanjian Baru, terjemahkan, BPK Gunung Mulia: Jakarta.
Schafer, Ruth., 2004. Belajar Bahasa Yunani Koine: Panduan Memahami dan Menerjemahkan Teks Perjanjian Baru. Penerbit BPK Gunung Mulia : Jakarta.
Sproul, R.C., 1997. Essential Truths of the Christian Faith. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT : Malang.
Ridderbos, Herman., 2004. Paul: An Outline of His Theology. Terjemahan, Penerbit Momentum : Jakarta.
Stamps, Donald C., ed, 1995. Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan. Terj, Penerbit Gandum Mas : Malang.
Susanto, Hasan., 2003.Perjanjian Baru Interlinier Yunani-Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru, jilid 1 dan 2. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT : Malang.

Kasih: I Want to Know what Love is

Penulis : John Adisubroto

ADA APA DENGAN CINTA?

Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai KASIH, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. (1 Korintus 13:1)

Isi : Dari masa ke masa di setiap bagian penjuru bumi selalu tercipta lagu-lagu baru dengan tema klasik mengenai cinta, lagu-lagu yang sering kali menggambarkan kerinduan seseorang untuk mengutarakan isi hatinya kepada seorang kekasih idamannya. Tidak jarang lagu-lagu tersebut juga dibubuhi syair-syair berbau cengeng, yang melukiskan penderitaan-penderitaan yang harus dilalui seseorang oleh karena: tertolaknya cinta, rasa duka gara-gara cinta yang bertepuk sebelah tangan, retaknya hubungan kasih yang mengakibatkan perpisahan, bahkan perceraian di dalam keluarga.

Di Amerika Serikat syair lagu-lagu semacam itu mudah sekali ditemukan melalui musik-musik berirama Country Western, yang sering kali menjadi bahan tertawaan para penolaknya. Di Jerman lagu-lagu tersebut dijuluki dengan suatu nama ejekan: Die Schnulze.

Yang paling menakjubkan, hingga sekarang lagu-lagu cengeng seperti itu masih mempunyai banyak penggemar di Indonesia. Pada zaman penjajahan pra-1945 lagu-lagu tersebut biasanya hanya diwakili oleh musik yang berirama Keroncong. Tetapi semenjak dasawarsa ke-70 mereka juga melanda dunia musik Indonesia melalui lagu-lagu yang berirama populer lainnya.

Apakah lagu-lagu bernada dan bersyair cengeng mengenai cinta, bahkan mengenai segala masalah yang dimulai oleh cinta, sebenarnya menjadi sukses oleh karena para penggemarnya bisa menghayati kesejajaran syair-syairnya dengan pengalaman-pengalaman atau masalah-masalah hidup mereka sendiri?

Pernahkah Anda mendengar dan memperhatikan syair sebuah lagu rock berjudul I Want to Know What Love is (Aku Ingin Mengetahui Arti Kasih) yang sangat ngetop kurang-lebih pertengahan dasawarsa ke-80 yang lalu? Lagu tersebut memperdengarkan irama sangat manis dengan nada-nada minor, diiringi kata-kata lirih yang dengan jitu sekali dapat menyentuh dan menyayat-nyayat hati para pendengarnya.

Apakah lagu I Want to Know What Love is sebenarnya melukiskan kehidupan seseorang yang sedang dilanda kesepian, lalu berupaya untuk menemukan MAKNA KASIH yang sejati dari seorang kekasih idamannya? Atau, apakah syair lagu sangat catchy tersebut mempunyai suatu arti yang jauh lebih dalam lagi, sehingga dapat membongkar rahasia kerinduan hati manusia akan MAKNA HIDUP yang lebih berarti, di tengah-tengah arus gelombang kehidupan yang bergejolak tak menentu ini?

Yang pasti irama refrein lagu ballad ciptaan Mick Jones, pemain gitar utama rock group Foreigner, telah mengungkapkan suatu syair yang berulang kali memaparkan kerinduan hatinya untuk mengetahui kebenaran makna kasih yang sejati. Perhatikanlah dengan seksama arti sebenarnya yang tersembunyi di balik setiap kata kasih di dalam refrein lagu yang ditulis oleh pena pemusik berbakat ini:

I want to know what love is (Aku ingin mengetahui arti kasih)
I want you to show me (Aku ingin agar engkau menunjukkannya kepadaku)
I want to feel what love is (Aku ingin merasakan kebenaran kasih)
I know you can show me (Aku tahu engkau sanggup menunjukkannya kepadaku)

Perhatikanlah juga syair yang dipergunakan di dalam bridge lagu tersebut, yang meneriakkan rasa putus asa yang diderita olehnya:

In my life there"s been heartache and pain (Di dalam hidupku ada kepiluan dan derita)

I don´t know if I can face it again (Ku tak tahu apakah aku mampu menghadapinya lagi)

Can´t stop now, I´ve travelled too far (Tak bisa berhenti sekarang, ku tlah berkelana terlampau jauh)

To change this lonely life (Tuk mengubah hidup yang kosong/sepi ini)

Tak dapat dibantah, lagu tersebut telah mengemukakan suatu kenyataan hidup masyarakat dunia pada masa itu. Bahkan yang pasti, inti syairnya masih tetap relevan sampai sekarang untuk menyingkapkan rahasia kehampaan hidup yang diam-diam selalu tersembunyi di dalam hati para penggemarnya!

Amsal raja Salomo yang menyinggung masalah ini, mengatakan: Orang yang menyanyikan nyanyian untuk hati yang sedih adalah seperti orang yang menanggalkan baju di musim dingin, dan seperti cuka pada luka. (Amsal 25:20)

Setiap generasi, baik yang sudah berlalu maupun masakini, pasti akan melewati masa-masa genting, di mana mereka terus berusaha untuk menelusuri di dalam kehidupan mereka arti kasih yang sesungguhnya. Kendatipun di luar kesadaran mereka sendiri, yang sebenarnya amat mereka dambakan adalah makna dan tujuan hidup itu sendiri!

Melalui media dunia, masyarakat mengajarkan kepada umat manusia untuk mencari makna hidup sesuai dengan standar-standar yang sudah ditentukan olehnya, yaitu: mendahulukan kepentingan diri sendiri, mengabaikan moral hidup, penampilan yang sempurna, harta kekayaan yang berlebih-lebihan, kedudukan karir yang dapat meningkatkan status di mata masyarakat, kekuasaan yang semena-mena, penghargaan dan sanjungan manusia, serta segala sesuatu yang dapat menaikkan harga diri sendiri. Semua itu merupakan syarat-syarat utama di dalam kesemuan arti makna hidup yang diajarkan oleh masyarakat dunia kepada para penduduknya. Jadi makna hidup yang bersifat egosentris sekali!

Lagu ballada yang dialunkan oleh suara khas penyanyi tenar Lou Gramm, pelopor rock group Foreigner, telah jitu mengemukakan secara terbuka sekali kondisi hati manusia yang sebenarnya, yang terus-menerus berusaha menemukan sesuatu untuk memenuhi kekosongan hidup mereka yang tak pernah terpuaskan. Kehidupan hampa yang mengakibatkan rasa pilu dan sedih, yang tidak jarang memaksa mereka untuk bertindak nekat, mengambil jalan pintas sebagai satu-satunya cara untuk mengatasi, atau mengakhiri kepedihan hati mereka.

Berbeda sekali dengan lagu-lagu cengeng mengenai cinta yang sering kali menimbulkan rasa jemu di dalam hati kala mendengarkannya berulang-ulang kali, lagu I Want to Know What Love is mampu memberikan suatu message yang amat relevan, dengan menuding secara jitu sekali masalah kehidupan umat manusia sepanjang masa. Terutama bagi kaum muda-mudi yang sedang memburu makna kasih yang murni, yang menurut dugaan mereka, adalah jawaban mutlak bagi kebahagiaan hidup yang sejati.

Oleh karena itu, pada saat diluncurkan untuk pertama kali di bulan Januari 1985, lagu I Want to Know What Love is dapat segera menjamah hati setiap pendengarnya secara masal, yang mengakibatkan lagu tersebut dengan mudah serentak menduduki tingkat penjualan single per keping tertinggi music charts (No 1) di seluruh dunia. Selain meraih kedudukan itu di Australia, lagu tersebut juga berhasil melanda tangga lagu-lagu ARIA (Australian Record Industry Association) - Top 50 selama berpuluh-puluh minggu!

Sebuah lagu yang jelas dapat mengemukakan rahasia isi hati para pendengarnya, yang selalu merindukan KASIH yang dapat memuaskan serta membebaskan diri mereka dari rasa takut atau kuatir akan masa depan yang tidak terduga. Tetapi kenyataan yang harus diakui, usaha untuk menemukannya menggunakan standar-standar yang sudah ditentukan oleh masyarakat dunia sambil mengandalkan kekuatan diri sendiri, akan selalu berakhir dengan kekecewaan, karena semua itu sia-sia belaka.

Jadi, ada apa sebenarnya dengan CINTA?

Salah satu dari tulisan-tulisan rasul Petrus yang dicatat di dalam firman Tuhan mengenai kesia-siaan dan kekosongan hidup manusia, mengatakan: Sebab: Semua yang hidup adalah seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering, dan bunga gugur, tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya. Inilah firman yang disampaikan Injil kepada kamu. (1 Petrus 1:24-25)

sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. (Yakobus 4:14)

MEMBURU KASIH

Dunia orang mati dan kebinasaan tak akan puas, demikianlah mata manusia tak akan puas. (Amsal 27:20)

Di dalam video berseri The Alpha Course, sebuah acara penginjilan populer yang paling modern dewasa ini di negara-negara barat, Rev Nicky Gumbel, seorang pendeta gereja Anglican di Inggris yang masih muda, menarik dan penuh karisma, berusaha mempelajari dan membahas sebab-musabab ketidak-puasan hidup yang selalu dialami oleh umat manusia pada umumnya.

Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia mengisahkan segala kesia-siaan tingkat-tingkat hidup yang harus didaki olehnya guna menemukan makna hidupnya. Suatu pengalaman yang pasti sudah dilalui oleh semua orang pra-kelahiran-baru mereka!

Rev Nicky Gumbel menceriterakan bagaimana cepat rasa jemu yang timbul di dalam hatinya, tatkala ia berhasil meraih sesuatu yang sudah lama diidam-idamkan olehnya.

Ia menyinggung peristiwa yang terjadi di masa kanak-kanaknya, ketika ia terpaksa harus terus-menerus bermain di halaman atau di dalam rumahnya, yang membuat dirinya selalu berkhayal: Andaikan saja aku sudah mulai masuk sekolah dasar . Ketika masa tersebut tiba, dan ia memulai pendidikannya di sana, dalam jangka waktu yang amat singkat ia menjadi bosan, dan berpikir: Pasti ada sesuatu lain yang jauh lebih berarti dari pada ini .

Ia mulai berharap, agar secepatnya ia bisa meraih usia belasan tahun! Dugaannya, masa yang diidam-idamkan itu tentu akan menjadi suatu masa yang lebih mengesankan dari pada masa yang sedang dilalui olehnya. Tetapi ternyata, ketika baru saja beberapa minggu berlalu semenjak ia mencapai usia tersebut, ia menjadi jemu lagi, dan mulai menggerutu tidak puas: Tentu ada sesuatu lain yang jauh lebih berguna dari pada ini .

Kemudian ia menjadi tidak sabar dengan pendidikan sekolah menengahnya, karena ingin cepat selesai agar bisa memasuki masa remajanya di perguruan tinggi, yang menurut dugaannya tentu akan membuat dirinya merasa puas. Tetapi setelah beberapa minggu berlalu semenjak kakinya menginjak kampus-kampus universitas, kembali ia menjadi bosan dengan status hidup yang baru saja diraih olehnya!

Benak pikirannya dipenuhi oleh pelbagai pertanyaan tak terjawabkan, yang membuat pemuda yang baru saja menginjak usia dewasa tersebut menjadi bertambah penasaran serta menuntut: Pasti ada sesuatu lain yang jauh lebih mengesankan lagi dari pada ini .

Ia mengira, bahwa mungkin dengan berpesta-pora setiap akhir pekan, berdansa dan bersosialisasi bersama sahabat-sahabat karibnya, ia bisa menemukan solusi bagi masalahnya. Tetapi ternyata setelah mengalaminya selama beberapa minggu berturut-turut, kembali ia merasa bosan dan tidak puas dengan hidupnya! Terpana hatinya bertanya-tanya: Apakah mungkin kehadiran seorang gadis idaman di dalam hidupku dapat melengkapi perasaanku yang hampa ini?

Di luar dugaannya, bahkan sesuai dengan harapannya, pemuda berwajah tampan tersebut berhasil menemukan seorang gadis yang seketika itu juga bersedia menjadi teman kencannya. Tetapi ternyata setelah beberapa minggu berlalu, penuh keheranan ia harus mengakui lagi, bahwa gadis cantik itu pun tidak dapat menghapus rasa bosan dan jemu yang terus menghantui dirinya!

Amsal Salomo mencatat: Harapan orang benar akan menjadi sukacita, tetapi harapan orang fasik akan menjadi sia-sia. (Amsal 10:28)

Ia bertanya-tanya tentang makna hidup yang tak henti-henti dikejar olehnya, melalui tingkat-tingkat hidup yang telah, sedang dan akan dilaluinya. Mengapa ia tidak bisa sekali pun merasa puas atau lengkap, dan hatinya selalu merasa terdorong oleh keinginan-keinginan untuk mencari sesuatu yang baru? Apakah yang menyebabkannya?

Tentu saja dengan mudah kita dapat menghayati dan memahami frustrasi perjuangan hidup yang diuraikan oleh Rev Nicky Gumbel, karena setiap orang yang belum berhasil menemukan makna hidupnya, bersedia ataupun tidak, pasti harus melalui masa-masa yang serupa.

Semua insan di dunia mengalami masa-masa kritis seperti itu, karena mereka akan terus berusaha mengejar cinta atau kebahagiaan semu, sesuai dengan standar-standar yang ditentukan oleh masyarakat dunia, yang terbukti tidak akan pernah dapat memenuhi kekosongan hidup manusia!

Sebelum ia lahir baru dan menyadari panggilan hidupnya, yaitu untuk melayani Tuhan di ladang-Nya (Church of England), Rev Nicky Gumbel yang pernah bekerja sebagai seorang hakim yang berhasil, mengakui dengan terus terang, bahwa ia adalah seorang penentang agama Kristen yang tergigih. Bahkan ia mengakui gemar menyakiti hati teman-temannya, dengan mencemoohkan mereka yang menjadi pengikut-pengikut Kristus.

Berulang kali tanpa tedeng aling-aling ia mengutarakan rasa tidak senang akan acara-acara ibadah gereja yang pernah diikuti olehnya. Ia menyetarakan kedinginan ibadah-ibadah tersebut dengan suatu upacara penguburan, disebabkan oleh karena kekakuan program dan keseriusan para pembawa khotbah yang sering kali memberikan kesan buruk kepadanya, seakan-akan mereka adalah para undertakers (orang-orang yang mengurus pemakaman).

Menurut dia, agama Kristen adalah sebuah agama yang tidak relevan lagi dengan keadaan dunia masakini, amat membosankan, dan yang diciptakan khusus untuk orang-orang yang berjiwa lemah, karena mereka tidak bisa menerima kenyataan hidup yang sesungguhnya.

Tanpa disadari olehnya, justru ia sendiri yang sedang berkelana, berputar-putar bagaikan seorang yang terjebak di dalam sebuah labyrinth kehidupan, terus-menerus berusaha mencari jalan keluar, tetapi PINTU yang diperlukan untuk membebaskan dirinya masih belum ditemukan!

Nabi Yesaya melukiskan sebab-sebab kesia-siaan hidup umat Israel pada waktu itu seperti ini: Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, . (Yesaya 53:6a)

Diam-diam pemuda itu terus mempertanyakan di dalam hatinya: Mengapa aku tidak pernah merasa puas dengan segala sesuatu yang sudah berhasil kudapatkan, tetapi selalu mengharapkan sesuatu yang lebih, yang belum aku miliki? Apakah yang menyebabkannya?

TUHAN mengetahui rancangan-rancangan manusia; sesungguhnya semuanya sia-sia belaka. (Mazmur 94:11)

KASIH TAK SAMPAI

Janganlah menyimpang untuk mengejar dewa kesia-siaan yang tidak berguna dan tidak dapat menolong karena semuanya itu adalah kesia-siaan belaka. (1 Samuel 12:21)

Suatu pengalaman mengenai perjalanan hidup yang tak terpuaskan juga pernah dikisahkan oleh Count Leo Tolstoy, bangsawan Rusia abad ke-19 yang amat termasyhur di seluruh dunia sebagai seorang pengarang buku-buku kesusasteraan yang berbobot sekali. Di antaranya yang paling dikenal adalah: War and Peace dan Anna Karenina. Sesuai dengan catatan Encyclopedia Britanica, kedua buku tersebut diakui oleh badan-badan sastera dunia sebagai buku-buku Rusia yang paling penting di dunia sepanjang masa.

Tolstoy melukiskan perjalanan hidupnya guna menemukan makna kasih di dalam sebuah buku filosofi yang berjudul A Confession and What I Believe (Sebuah Pengakuan dan Apa yang Kuyakini). Buku autobiographical tersebut tercatat di dalam sejarah benua Eropah, sebagai salah satu dari buku-buku kontroversiil, yang pada pertengahan tahun 1880-an telah dilarang beredar oleh pemerintah negaranya, karena dikuatirkan dapat mempengaruhi serta meracuni pikiran dan hidup para pembacanya.

Di dalam buku tersebut Tolstoy memulai kisah hidupnya dengan berterus-terang mengakui, bahwa semenjak kecil ia menolak dan menentang secara tegas pengaruh-pengaruh agama Kristen yang diberikan oleh kedua orang tua dan keluarganya.

Sebagai seorang pemuda intelektuil dengan harta warisan yang berkelimpahan, ia menyangka, bahwa makna hidupnya dapat ditemukan di tengah-tengah tempat mesum kota Moscow. Setiap malam ia mencari dan membeli di sana kenikmatan-kenikmatan insani melalui pelayanan para pelacur, disertai usaha untuk memabukkan dirinya sendiri melalui konsumsi minuman-minuman alkohol secara berlebih-lebihan. Dugaannya, tindakan-tindakan tersebut akan memberi kepuasan pada hidupnya yang terasa hampa. Tetapi kenyataannya tidak seperti itu!

Lalu Tolstoy berusaha mencari makna hidup di tempat-tempat perjudian elite kota tersebut. Dengan mempertaruhkan kekayaannya di atas meja judi, ia berusaha membangkitkan gairah hidupnya lagi. Kembali ia harus mengakui, bahwa segala usaha untuk menemukan damai sejahtera di dalam hidupnya di tempat-tempat maksiat tersebut juga berakhir dengan sia-sia belaka. Tolstoy tetap merasa hidupnya amat kosong!

Semenjak kanak-kanak Tolstoy dan keluarganya selalu menyadari ketrampilannya di sekolah di bidang seni menulis dan kesusasteraan. Oleh karena itu, ia mengharapkan, agar melalui kesibukan-kesibukan yang akan dilakukan setiap hari dengan mengarang buku-buku ceritera fiksi, rasa hampa yang memilukan hatinya bisa teratasi.

Ternyata buku-buku hasil karya penanya mendapat sambutan sangat hangat dari masyarakat Rusia pada masa itu, bahkan diakui sampai sekarang sebagai buku-buku kesusasteraan yang paling berarti di dunia, karena sekaligus dapat melukiskan sejarah negara komunis tersebut dengan akurat sekali. Semenjak diluncurkan untuk pertama kali, mereka terjual dengan laris sekali di negaranya. Bahkan beberapa dari buku-buku hasil karyanya berhasil menerima Awards penghargaan yang amat tinggi dari negara-negara lain di dunia.

Melalui kesuksesan penjualan buku-bukunya secara antarbangsa, harta kekayaan yang dimiliki oleh Tolstoy menjadi semakin bertambah. Tetapi di balik kenyataan, bahwa ia sukses, kaya dan termasyhur di Rusia, bahkan di seluruh dunia, Tolstoy juga harus menerima kenyataan yang lain, bahwa hidupnya tetap terasa kosong dan tak terpuaskan.

Lalu Tolstoy menduga, bahwa jawaban bagi semua kekecewaan yang tak henti-henti dialami olehnya, terletak pada pembinaan sebuah rumah tangga yang harmonis. Pada tahun 1862 ia menikahi gadis idamannya, dan mereka dikaruniai 13 orang anak. Tolstoy sangat mengasihi keluarganya. Ia melimpahi seluruh kebutuhan-kebutuhan hidup mereka. Kesibukan sehari-hari yang dilewatkan bersama isteri dan anak-anaknya, ternyata berhasil mengalihkan perhatiannya dari masalah-masalah ketidak-puasan hidup yang diderita olehnya, kendatipun HANYA untuk sekejab saja!

Di mata para penggemarnya, yang mengenal dia sebagai seorang bangsawan Rusia yang amat kaya dan termasyhur di dunia, Tolstoy sudah berhasil meraih taraf hidup yang tinggi sekali, yang sempurna. Padahal kenyataan yang sebenarnya sungguh berbeda, karena hanya dia saja yang mengetahui keaslian keadaan dirinya. Tolstoy tetap merasa, bahwa SESUATU yang dibutuhkan untuk memenuhi kekosongan hidup dan menghibur kepiluan hatinya tidak pernah berhasil ditemukan olehnya. Ia merasa dirinya bagaikan sebutir debu tak berarti yang sedang melayang-layang di tengah-tengah kebesaran dan keluar-biasaan alam semesta. Sepanjang hidupnya sebuah pertanyaan selalu terngiang-ngiang di dalam hatinya: Apakah sebenarnya tujuan hidupku, yang oleh karena kematian tubuhku tidak dapat dimusnahkan?

Pertanyaan tersebut terus-menerus menghantui batin Tolstoy, sehingga akhirnya hampir saja dia tertipu oleh Iblis untuk membunuh dirinya sendiri, seperti yang dipaparkan olehnya di dalam buku: A Confession and What I Believe dengan terus terang sekali!

Nabi Yesaya pernah menegur bangsa Israel karena kebodohan mereka yang telah meninggalkan TUHAN, Allah mereka, dengan menyembah berhala buatan tangan-tangan mereka sendiri: Orang yang sibuk dengan abu belaka, disesatkan oleh hatinya yang tertipu; ia tidak dapat menyelamatkan jiwanya atau mengatakan: Bukankah dusta yang menjadi peganganku? (Yesaya 44:20)

Rasul Yohanes juga memperingati orang-orang percaya di dalam suratnya: Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. (1Yohanes 2:16)

Sepanjang akhir perjalanan hidup Tolstoy, tak henti-hentinya ia bertanya: Mengapa hatiku terus-menerus terasa pilu? Apakah sebenarnya tujuan hidupku? Apakah makna kehadiranku di dunia?

Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia. (Pengkhotbah 5:9)

BILIK KASIH

Segala sesuatu menjemukan, sehingga tak terkatakan oleh manusia; mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar. (Pengkhotbah 1:8)

Kalimat yang dipergunakan oleh rock group Foreigner sebagai judul lagu mereka I Want to Know What Love is, ternyata bukan merupakan sebuah pernyataan ingin tahu yang tak terjawabkan bagi Rev Nicky Gumbel atau Count Leo Tolstoy saja, tetapi juga bagi banyak orang-orang lain pada umumnya.

Mereka semua mempertanyakan sebab-musabab ketidak-puasan hati, dan kesia-siaan segala sesuatu yang sudah berhasil dicapai sepanjang hidup mereka. Seperti yang dicatat oleh penulis kitab Pengkhotbah mengenai semua yang diperhatikan olehnya di dunia: Inilah perkataan Pengkhotbah, anak Daud, raja di Yerusalem. Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia belaka. (Pengkhotbah 1:1-2)

Suatu analogi yang sederhana sekali bisa menjelaskan catatan Pengkhotbah tersebut, dan sekaligus memberikan pengertian secara gamblang sekali mengenai misteri kekosongan hidup yang tak terpecahkan, disertai solusinya. Setiap orang yang sudah pernah mengalaminya, pasti dengan mudah dapat menghayati analogi ini.

Bagi mereka yang dilahirkan di negara-negara barat, dan dibesarkan dengan makanan-makanan pokok tradisi mereka sendiri, seperti roti, kentang, pasta dan lain sebagainya, tetapi bermukim di salah satu negara di benua Asia, mereka tentu memahami masalah yang akan mereka hadapi, jika setiap hari diharuskan menelan nasi sebagai penggantinya.

Schapelle Corby, seorang narapidana muda berwajah cantik, berasal dari daerah Gold Coast, Australia, yang awal tahun 2005 telah dijatuhi hukuman penjara selama 20 tahun di pulau Bali, pernah mengeluh mengenai masalah yang sama, ketika ia diwawancarai oleh seorang wartawan dari negaranya. Schapelle diadili dan dinyatakan bersalah, karena ia terlibat di dalam usaha penyelundupan 4 kilogram ganja masuk ke Indonesia melalui bandar udara pulau Bali hampir 2 tahun sebelumnya.

Karena wajahnya yang menarik, dan juga proses pengadilannya di kota Denpasar yang menyebabkan terbongkarnya beberapa hal-hal menghebohkan yang diduga terjadi di dalam lapangan udara kota-kota besar Australia, berita mengenai dirinya pada saat itu menjadi berita sensasi terhangat di sana. Dan oleh karena cara-cara penyampaian berita yang menunjukkan rasa simpati berlebih-lebihan dan yang amat memihak kepadanya, banyak sekali penduduk negara itu merasa yakin, bahwa ia tidak bersalah dalam kasus penyelundupan ganja tersebut.

Semenjak saat itu status diri Schapelle di mata masyarakat Australia menjadi berubah sekali. Ia bukan seorang narapidana yang bersalah lagi, tetapi seorang celebrity yang amat disayangi media dan masyarakat negaranya. Oleh karena itu banyak sekali orang-orang yang tergerak hatinya untuk menolong wanita muda ini dengan bantuan moril maupun materiil, agar ia dapat membuktikan di hadapan para penegak hukum di Indonesia, bahwa ia tidak bersalah.

Melalui suatu wawancara singkat ia mengungkapkan rasa tidak senang akan jenis-jenis makanan yang setiap hari harus disantap olehnya di penjara. Selama ia terkurung di sana, dari hari ke hari nasi putih selalu menjadi makanan pokoknya, baik untuk sarapan pagi, makan siang, bahkan untuk makan malam. Schapelle mengatakan, bahwa ia sudah merasa muak menyaksikan nasi yang sama dihidangkan kepadanya di atas piring aluminium penjara! Ia rindu akan makanan pokok negaranya sendiri, yaitu: roti, yang menurut dia merupakan satu-satunya bahan makanan yang bisa membuat dirinya merasa puas!

Bagi orang-orang barat lainnya yang selalu berkelana di dunia, ungkapannya bukan merupakan sesuatu hal yang aneh, karena tentu saja sesuai dengan pengalaman yang mereka lalui sendiri, mereka dapat menghayati rasa jengkel yang diutarakan oleh Schapelle Corby.

Begitu juga kebalikannya, setiap orang yang berasal dari salah satu negara di benua Asia, yang sebelum pergi merantau, sepanjang hidupnya memakan nasi putih pagi, siang dan malam, tentu akan mengalami kesulitan yang sama, jika sepanjang hari perut mereka tidak dipuaskan oleh makanan pokok tersebut.

Berdasarkan hasil percakapan-percakapan dan diskusi-diskusi mengenai pengalaman banyak orang dari pelbagai negara di Asia, yang sedang hidup dirantau orang di negara-negara barat, dapat disimpulkan suatu persamaan pendapat yang amat menakjubkan. Dengan penuh keseragaman mereka mengakui, bahwa seolah-olah di dalam tubuh mereka terdapat dua perut yang terletak berdampingan.

Perut yang pertama bisa menerima berbagai jenis santapan, yang seketika itu juga dapat memuaskan diri mereka, meskipun untuk jangka waktu sekejab saja. Tetapi perut mereka yang kedua, yang terpenting, hanya dapat dipuaskan oleh makanan pokok mereka sendiri, yaitu nasi putih. Setiap kali mereka merebahkan diri untuk beristirahat di waktu malam, tubuh mereka akan selalu merasa tidak lengkap, jika hanya perut yang pertama saja yang terisi oleh sayur, daging, roti, kentang, pasta, atau bahan-bahan makanan lainnya. Karena perut yang kedua masih tetap menunggu kehadiran nasi putih di dalamnya!

Melalui keselarasannya, analogi sederhana tersebut tampak sangat mudah untuk dipakai sebagai suatu landasan guna menjelaskan sebab-sebab ketidak-puasan hidup umat manusia. Karena bagaikan kiasan dua bagian perut yang berada di dalam tubuh orang-orang Asia, ditinjau secara rohani, seolah-olah di dalam diri setiap orang juga terdapat dua ruang kehidupan yang terletak berdampingan, yang selalu rindu untuk diperhatikan.

Ruang kehidupan yang pertama adalah sebuah ruang yang mudah sekali dipuaskan oleh segala sesuatu yang telah dicapai seseorang, diukur dari standar-standar yang sudah ditentukan oleh masyarakat dunia, seperti: kesibukan atau kesuksesan karir pekerjaan, persahabatan yang sejati, perkawinan yang berbahagia, kemakmuran dan kesejahteraan hidup berkeluarga yang patut dijadikan teladan orang-orang lain, kekuasaan dan pengaruh di dalam masyarakat, harta kekayaan yang berkelimpahan, melakukan tindakan amal, penampilan yang sempurna, dan lain sebagainya. Bahkan tidak jarang ruang tersebut dijejali dengan kepuasan-kepuasan semu yang didapatkan melalui penyalah-gunaan obat-obat bius atau dari hubungan-hubungan tanpa moral yang sudah direstui oleh umum.

Semua itu dapat segera memenuhi dan memuaskan ruang kehidupan yang pertama. Tetapi rasa puas tersebut akan menjadi luntur, dan berlalu secepat berubahnya pendapat atau sikap manusia! Mereka akan merasa bosan, dan menuntut kesempatan-kesempatan lain yang belum terjangkau, seperti yang sudah diuraikan oleh Rev Nicky Gumbel dan Count Leo Tolstoy sebelumnya.

Tanpa sadar, mereka terus berusaha melengkapi hidup dengan memenuhi dan mengisi ruang yang pertama saja! Padahal ruang kehidupan mereka yang kedua tetap kosong, terbengkalai dan tak terpuaskan, karena ruang itu masih terus menantikan SESUATU yang paling penting, yang dapat mengubah sikap hidup mereka!

Apakah atau SIAPAKAH, yang satu-satunya dapat mengisi dan memuaskan ruang kehidupan yang kedua? Apakah ruang tersebut terus menanti-nantikan kehadiran KASIH sejati, yang dapat memenuhi dan memuaskannya, seperti teriakan memilukan syair lagu I Want to Know What Love is?

Sebab dipuaskan-Nya jiwa yang dahaga, dan jiwa yang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan. (Mazmur 107:9)

SANTAPAN KASIH

Mereka meninggalkan Aku, sumber air yang hidup, untuk menggali kolam bagi mereka sendiri, yakni kolam yang bocor, yang tidak dapat menahan air. (Yeremia 2:13)

Sebelum peristiwa kecelakaan lalu lintas yang terjadi pertengahan tahun 1997 di kota Paris, Perancis, yang mengakibatkan kematiannya yang menggemparkan berbagai media di seluruh dunia, almarhumah Lady Di (Puteri Diana) pernah mengutarakan kepedihan hatinya di depan umum: Ada suatu perasaan tidak berdaya, dan terasingkan, yang mencekam diri setiap orang, yang mengakibatkan mereka merasa tidak mampu untuk mengarungi arus kehidupan modern yang kompleks ini. Pada akhirnya mereka harus mengakui, bahwa di dalam diri mereka ada sesuatu yang kurang, yang menyebabkan hidup mereka terasa hampa dan tidak lengkap.

Puteri yang sepanjang hidup mudanya selalu dirundung malang tersebut akhirnya bercerai dari calon raja Inggris, Pangeran Charles. Ia merasa gagal setelah berkali-kali berusaha untuk memenangkan kembali cinta kasih suaminya, yang ternyata lebih mengutamakan isteri orang lain dari pada isteri sendiri. Oleh karena itu, di samping kesibukan sehari-hari sebagai seorang celebrity yang mempromosikan perbuatan-perbuatan amal di dunia, ia terus berusaha untuk menemukan KASIH di tempat-tempat yang keliru, yang akhirnya mengakibatkan kematiannya yang tragis tersebut. Sampai sekarang peristiwa kecelakaan fatal yang menghebohkan itu terus mengolah spekulasi-spekulasi baru mengenai sebab-musababnya, yang selalu diikuti oleh pelbagai teori isapan jempol.

Yang amat menakjubkan, sebelum perceraian mereka berdua resmi dilaksanakan, pada suatu kesempatan lain bekas suaminya juga mengungkapkan di depan umum perasaan hampa di dalam hidupnya yang senada sekali dengan ucapan Lady Di: Di tengah-tengah kemajuan pesat ilmu pengetahuan dunia, terasa ada suatu tekanan yang memilukan jiwa, yang terus-menerus mengingatkan, bahwa di dalam hidup ini ada sesuatu yang kurang. Sesuatu amat berarti, yang dapat memberi makna bagi hidup ini.

Bagaikan Count Leo Tolstoy dan celebrities lainnya, yang ternama dan amat kaya di dunia, taraf kebahagiaan hidup kedua bangsawan Inggris ini sudah mencapai suatu tingkat yang selalu menjadi idaman setiap orang. Mereka termasyhur, dikagumi, dielu-elukan, kaya dan berkuasa, bahkan pada waktu itu Lady Di diakui oleh masyarakat dunia sebagai salah seorang puteri bangsawan yang cantik dan paling menarik. Karena asal-usul, pengaruh dan kedudukan mereka yang tinggi, selama hidup mereka tidak akan pernah kekurangan. Tetapi semua yang sudah berhasil mereka raih sesuai dengan standar kebahagiaan hidup yang ditentukan oleh masyarakat dunia, tidak bisa menggantikan SESUATU sangat berarti yang masih KURANG di dalam hidup mereka.

Bernard Levine, salah seorang kolumnis yang diakui termahir di dunia masakini, sering kali menyatakan keinginan hatinya untuk memahami misteri kehidupan umat manusia melalui karya-karya penanya. Suatu teka-teki hidup yang biasanya menimbulkan pertanyaan-pertanyaan spontan di dalam benak pikiran setiap orang: Apakah yang kita lakukan di dunia ini? Kita berasal dari mana? Ke manakah kita akan pergi? Siapakah sebenarnya kita? Apakah guna hidup ini? Beberapa waktu yang lalu ia mengakui dengan terus terang, bahwa ia belum berhasil memecahkannya.

Sebuah kolom surat kabar pernah menampilkan salah satu komentarnya yang terkenal: Negara-negara seperti negara kita (Inggris) dipenuhi oleh penduduk yang memiliki segala kebutuhan materi yang mereka inginkan. Sebagai keluarga-keluarga berbahagia terkadang mereka berdiam diri saja, tetapi tidak jarang mereka juga mengeluh penuh keputus-asaan, karena menyadari, bahwa ada sebuah lubang yang besar di dalam hidup mereka. Betapa pun banyaknya makanan dan minuman yang mereka tuangkan ke dalamnya, betapa pun banyaknya kendaraan-kendaraan mewah dan set-set televisi baru yang mereka sumbatkan di dalamnya, bahkan berapa pun banyaknya anak-anak yang patut dibanggakan disertai sahabat-sahabat setia yang mereka paradakan di tepi-tepinya, semua itu memilukan.

Jelas sekali, kolumnis yang mengaku bahwa ia bukan seorang pengikut Kristus ini, sedang memperbincangkan ruang yang kedua, ruang kehidupan manusia yang tak terpuaskan. Laksana perut kedua yang terus menantikan kehadiran makanan pokok yang dirindukan oleh setiap orang, yaitu satu-satunya bahan makanan yang dapat mengisi kekosongannya, serta memuaskan kebutuhan diri mereka.

Bukankah Tuhan Yesus mengumpamakan diri-Nya sendiri sebagai ROTI HIDUP yang dapat memuaskan rasa lapar yang diderita oleh setiap orang? Bahkan Ia berkata, bahwa semua orang yang percaya kepada-Nya tidak akan pernah merasa haus lagi. Injil Yohanes pasal yang ke-6 ayat 25-59 membahas secara detil pernyataan Yesus mengenai tema Roti Hidup tersebut.

Kata Yesus kepada mereka: Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi. (Yohanes 6:35)

Seandainya perkataan Tuhan Yesus tersebut ditujukan kepada orang-orang Asia, tentu Ia akan mengumpamakan diri-Nya sendiri sebagai NASI HIDUP, satu-satunya makanan pokok yang mampu memuaskan kebutuhan diri mereka.

Juga di dalam Injil yang sama pasal 4, dikisahkan pertemuan Tuhan Yesus dengan seorang wanita Samaria di kota Sikhar. Suatu pertemuan yang telah mengubah hidup perempuan yang mempunyai 5 suami dan sedang hidup di dalam dosa perzinahan dengan seorang laki-laki bukan suaminya. Pada waktu ia menimba air dari dalam perigi Yakub, Tuhan Yesus menyapa dan menawarkan kepadanya AIR HIDUP, yang akan menjadi mata air di dalam dirinya dan terus-menerus memancar keluar sampai kepada hidup yang kekal.

Melalui ayat-ayat termashyur yang mengibaratkan diri-Nya sebagai Roti Hidup atau Pemberi Air Hidup, Tuhan Yesus memberi jaminan kepada kita, bahwa Ia-lah satu-satunya KASIH yang selalu dicari-cari oleh setiap orang. Ia menjamin akan memenuhi dan memuaskan ruang kehidupan mereka yang kedua, bagaikan analogi makanan pokok yang dibutuhkan oleh perut kedua setiap orang. Satu-satunya pernyataan paling berani, yang tidak pernah diucapkan oleh para pemimpin agama-agama lainnya sepanjang masa!

Dengan kata lain Tuhan Yesus memproklamirkan, bahwa Dia saja yang mampu memuaskan rasa lapar dan dahaga yang diderita oleh setiap orang! Karena sesuai dengan isi firman Allah, dan terbukti sampai detik ini melalui kesaksian-kesaksian mereka yang sudah lahir baru, hanya Tuhan Yesus Kristus yang mampu memberi makna dan tujuan hidup yang berarti kepada umat manusia.

Jadi, apakah sebenarnya makna dan tujuan hidup setiap insan di dalam dunia ini? Apakah guna hidup umat manusia?

Jawab Yesus kepadanya: Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal. (Yohanes 4:13-14)

ALLAH ADALAH KASIH

Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. (1 Yohanes 4:10)

Jika ditinjau dari asal-usulnya, kata Love (Kasih/Cinta) di dalam bahasa Yunani mempunyai arti yang berbeda-beda. Berdasarkan dongeng kuno kebudayaan negara tersebut, Eros, si dewa Cinta, telah menjadi penyebab awal pengertian kata cinta/kasih (eros) yang bersifat seksuil.

Sedangkan Philia, yang berasal dari kata philos, memberi pengertian cinta/kasih yang lebih merujuk pada sifat-sifat menggemari, menyukai atau mengasihi dengan mesra. Jadi kasih yang mempunyai arti lebih dalam dari pada kasih yang hanya berkisar pada hasrat tubuh belaka.

Tetapi sebuah kata Yunani lain: Agape, yang tertera di dalam kitab-kitab Perjanjian Baru, telah memberikan kepada kata cinta/kasih arti yang paling berbeda. Kasih agape di situ berarti: kasih Allah Bapa, kasih Tuhan Yesus Kristus yang sejati, kasih kristiani, kasih yang murni, kasih tanpa syarat atau batas, kasih tanpa mengharapkan balasan, kasih yang mau berkorban, kasih yang memberi bukan meminta, kasih sorgawi! Inilah kasih abadi yang dapat menembus hati setiap insan di dunia serta mengubah kehidupan mereka.

Kasih agape adalah satu-satunya kasih yang memberikan makna bagi hidup, yang selalu dirindukan oleh setiap orang, yaitu mereka yang tak henti-hentinya mengalami rasa hampa di dalam hidup, seperti yang sudah diulas sebelumnya oleh Rev Nicky Gumbel, Count Leo Tolstoy, Lady Di, Prince Charles, Bernard Levine, Mick Jones, atau oleh para celebrities termasyhur lainnya. Bahkan kasih agape adalah kasih yang dialunkan oleh suara lantang penyanyi tenar Lou Gramm di dalam syair lagu: I Want to Know What Love is, suatu jeritan pilu yang mewakili kerinduan hati setiap orang guna mengetahui rahasia makna hidup mereka di dunia.

Pada masa pelayanan-Nya, Tuhan Yesus menjelaskan melalui kiasan roti (atau nasi), yang merupakan satu-satunya makanan pokok manusia bagi perut mereka yang kedua, bahwa Ia adalah Kasih itu sendiri, satu-satunya Firman Allah, makanan pokok (rohani) manusia bagi ruang kehidupan mereka yang kedua, yang dapat memenuhinya, serta memuaskan diri mereka.

Semenjak kehadiran dosa di dalam hidup umat manusia, semua orang menjadi SANGAT tidak kudus di hadapan Pencipta mereka, Allah Bapa Yang Mahakudus. Dosa-dosa itu menghalangi hak mereka untuk bisa langsung menghadap kepada-Nya. Tanpa kehadiran Tuhan Yesus Kristus sebagai Perantara (Firman/Kasih) di dalam ruang kehidupan yang kedua, semua orang akan selalu merasa tidak puas, karena mereka tidak pernah bisa mengetahui, atau mengerti makna dan tujuan kehadiran mereka di dunia.

Makna dan tujuan hidup umat manusia adalah untuk mengenal secara pribadi Allah Bapa di sorga, sebab Ia rindu untuk mengaruniakan kasih agape kepada umat-Nya melalui persekutuan yang intim dengan mereka, seperti persekutuan mula-mula dengan umat ciptaan-Nya yang pertama, Adam dan Hawa, sebelum mereka jatuh ke dalam dosa. Oleh karena itu tanpa kehadiran Tuhan Yesus Kristus melalui Roh Kudus, yaitu KASIH itu sendiri, guna melayakkan dan menguduskan diri mereka, semua orang tidak akan pernah bisa menghadap Pencipta mereka. Karena makna dan tujuan hidup umat manusia adalah untuk mengetahui kehendak Tuhan, serta melakukannya, seperti contoh yang sudah diperlihatkan oleh Yesus kepada para pengikut-Nya.

Suatu hal yang paling menyedihkan bagi mereka yang sudah menyelesaikan masa hidup di dunia adalah kenyataan, bahwa mereka telah melalui semua itu tanpa mengetahui atau mengerti makna dan tujuan hidup mereka.

Helmut Thielicke, seorang ahli ilmu agama Kristen, pernah menyinggung masalah tersebut dengan menulis: Tuhan telah menentukan di akhir kehidupan setiap orang suatu peran gilang-gemilang di dalam pertunjukan yang disutradarai oleh-Nya, tetapi mereka mengabaikannya, karena melewatkan semua kesempatan-kesempatan indah yang sudah diberikan oleh Tuhan kepada mereka sebelumnya.

Semenjak hadirnya dosa di dunia, dengan licin sekali Iblis berusaha mengelabui mata umat manusia untuk mengalihkan fokus tujuan utama hidup mereka. Tipuannya mengiming-imingkan kepada mereka kasih eros yang bersifat sementara, supaya mereka gagal menemukan KASIH agape, kasih yang abadi. Mereka terjebak oleh kenikmatan sejenak yang sering kali justru mengakibatkan hati terasa pilu, sedih, hampa dan putus asa, bahkan tidak jarang disusul oleh tindakan-tindakan nekat membabi-buta yang biasanya berakhir di alam maut. Karena Iblis, bapa segala dusta, mempunyai rancangan-rancangan yang berlawanan sekali dengan rencana kasih agape Allah Bapa, yaitu hidup yang kekal.

Tuhan Yesus mengatakan: Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta. (Yohanes 8:44)

Ps Rick Warren, seorang pendeta senior sebuah gereja Baptis di Amerika Serikat, serta penulis buku kristiani terlaris di dunia masakini: The Purpose Driven Life, telah menamai bab pertama buku tersebut dengan judul: Semuanya Dimulai dengan Allah.

Kalimat-kalimat yang mengawali isi buku luar biasa tersebut berbunyi: Semua itu bukan mengenai engkau. Makna hidupmu jauh lebih besar dari pada segala sesuatu yang telah engkau capai, damai sejahteramu, atau kebahagiaanmu. Semua itu jauh lebih besar dari pada keluargamu, karirmu, bahkan impian-impianmu yang paling mustahil dan ambisi-ambisimu. Jika engkau ingin tahu, mengapa engkau ditempatkan di atas planet ini, engkau harus memulainya dengan Allah. Engkau dilahirkan oleh kehendak-Nya dan untuk kehendak-Nya.

Suatu kutipan yang menyimpulkan segala-galanya bagi setiap orang yang sedang menelusuri makna hidup mereka di dunia, karena kenyataannya tidak dapat disangkal lagi: Bukan kita atau kepentingan diri kita sendiri yang seharusnya menjadi pusat kehidupan, tetapi Allah! Dia-lah pusat hidup segenap umat manusia, karena semua yang diciptakan diawali dengan Dia, yang adalah Kasih itu sendiri!

Selain di dalam surat rasul Paulus kepada jemaat di Korintus yang pertama, yang membahas tema KASIH, yaitu pribadi Allah (1 Korintus 13:1-13), rasul Yohanes juga menulis mengenai tema yang sama di dalam suratnya yang pertama: Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia. (1 Yohanes 4:16)

Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai KASIH, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku. (1 Korintus 13:3)

KASIH YANG MEMUASKAN

Kata Yesus kepadanya: Akulah JALAN dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. (Yohanes 14:6)

Count Leo Tolstoy nyaris tersesat seperti yang telah diuraikan oleh Helmut Thielicke, karena kesalahan-kesalahan penerapan upayanya yang selalu berkisar sekitar kepentingan dirinya sendiri, dan bukan berpusat pada Tuhan seperti anjuran Ps Rick Warren di awal bukunya, The Purpose Driven Life.

Menjelang usianya yang lanjut, Tolstoy memutuskan untuk mengundurkan diri dari tekanan hidup yang hectic di tengah-tengah kebisingan kota metropolitan, dan membawa keluarganya pindah dari sana untuk bermukim di desa. Di luar kesadarannya sendiri, ia hidup dikelilingi oleh para petani yang beriman pada Kristus, yang kemudian berhasil membimbing dia untuk mengetahui makna hidupnya. Akhirnya Tolstoy berhasil menemukan KASIH abadi, yang semenjak saat itu selalu menjadi pusat kehidupannya.

Membaur bersama para petani kristiani yang hidup sederhana, tetapi penuh sukacita, ia menyadari kesia-siaan harta kekayaannya, kemasyhuran namanya, bahkan segala sesuatu yang sudah berhasil diraih olehnya. Semua detil mengenai kesaksian pertobatan hidupnya yang amat kompleks tersebut dapat ditemukan di dalam buku klasik tulisannya: A Confession and What I Believe.

Raja Salomo menulis: Karena siapa dapat makan dan merasakan kenikmatan di luar Dia? (Pengkhotbah 2:25) Di situ ia ingin mengajarkan, bahwa kehidupan yang tidak berpusat pada Tuhan adalah kehidupan yang tidak berarti, tidak memuaskan, dan tidak bermakna.

Di dalam semua Injil Perjanjian Baru, Tuhan Yesus menyatakan di depan umum asal-usul kedatangan-Nya di dunia. Dan kepada murid-murid-Nya Ia memberitahukan, bahwa tidak lama lagi Ia akan kembali ke tempat itu. Suatu pernyataan kontroversiil yang pada masa itu tidak mudah untuk dapat dicernakan begitu saja oleh daya pikiran mereka yang amat terbatas. Menjawab pertanyaan-pertanyaan dan tuduhan-tuduhan orang-orang Yahudi yang memendam rasa benci terhadap diri-Nya, Yesus berkata kepada mereka, bahwa Ia sudah ada jauh sebelum Abraham ada.

Kata Yesus kepada mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada. (Yohanes 8:58) Di dalam bahasa Inggris (NKJV), ayat tersebut memberikan suatu pengertian yang jauh lebih dalam lagi: Jesus said to them, Most assuredly, I say to you, before Abraham was, I AM.

Selain pernyataan mengenai asal mula Tuhan Yesus yang diterangkan dengan jelas sekali di awal Injil Yohanes: Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. (Yohanes 1:1), rasul Yohanes juga menambahkan: Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya. (Yohanes 1:18)

Pada malam perjamuan terakhir, sebelum Tuhan Yesus menubuatkan tindakan rasul Petrus yang akan menyangkal diri-Nya 3 kali, Ia menyatakan kepadanya: Ke tempat Aku pergi, engkau tidak dapat mengikuti Aku sekarang, tetapi kelak engkau akan mengikuti Aku. (Yohanes 13:36)

Yesus juga berusaha menghibur murid-murid-Nya pada malam yang sama: Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. (Yohanes 14:1-2) Suatu pernyataan disertai janji luar biasa, yang dikatakan oleh Tuhan Yesus sendiri dengan penuh ketegasan kepada mereka!

Bahkan ketaatan hidup-Nya juga direkam di dalam Injil tersebut: Kata Yesus kepada mereka: Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. (Yohanes 4:34)

Pernyataan-pernyataan Tuhan Yesus tersebut membuktikan, bahwa selama Ia melayani di dunia, Ia adalah satu-satunya orang yang mengetahui makna dan tujuan hidup-Nya. Karena Ia mengetahui asal-usul-Nya, apa yang harus dilakukan oleh-Nya di dunia, dan akhirnya, ke mana Ia akan pergi. Berbeda sekali dengan mereka yang selalu mempertanyakan: Kita berasal dari mana? Siapakah sebenarnya kita? Apakah yang kita lakukan di dunia? Apakah guna hidup ini? Ke manakah kita akan pergi?

Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa. (Yohanes 16:28)

Yang paling menakjubkan, kejadian-kejadian luar biasa sekitar kelahiran, pelayanan, kematian, penguburan dan kebangkitan-Nya, telah diberitakan oleh para nabi Allah beribu-ribu tahun sebelumnya. Begitu pula kedatangan-Nya kembali ke dunia di akhir zaman. Tidak ada seorang pun yang (pernah) hidup di atas planet ini, baik orang-orang biasa, maupun pelopor-pelopor (agama) terpenting di dalam sejarah dunia, yang dinubuatkan dengan begitu detilnya oleh banyak orang dari berbagai masa, dan yang kemudian digenapi secara akurat sekali seperti semua peristiwa yang terjadi di dalam hidup Tuhan Yesus Kristus.

Berlainan dengan ajaran para pelopor agama-agama lain, yang menawarkan pelbagai-macam anjuran, wejangan, serta bimbingan-bimbingan penuh kebijaksanaan kepada pengikut-pengikut mereka untuk menemukan solusi bagi teka-teki hidup tak terpecahkan, Tuhan Yesus adalah satu-satunya pelopor agama yang berani mengikrarkan dengan tegas sekali kepada para pengikut-Nya, dan kepada umum, bahwa Ia adalah JAWABAN bagi pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Selain Ia adalah KASIH itu sendiri, Tuhan Yesus juga tidak pernah membantah orang-orang di sekeliling-Nya yang menjuluki Dia sebagai: Nabi, Raja, Mesias, Anak Allah, Tuhan atau Allah. Bahkan Ia mengibaratkan diri-Nya sendiri sebagai JALAN KEHIDUPAN, satu-satunya jalan yang menghubungkan umat manusia kepada Allah Bapa di sorga, atau sebagai PINTU yang bisa membawa mereka kepada keselamatan hidup.

Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput. (Yohanes 10:9)

Mengakui Yesus di dalam hidup kita sebagai Tuhan, Mesias, Anak Allah, bahkan Allah, adalah kunci terpenting bagi kita untuk bisa bersekutu secara intim dengan Allah Bapa di sorga. Melalui pengakuan kita yang tulus dari hati nurani yang terdalam, dengan segera Ia menyatakan makna dan tujuan hidup kita bagi kemuliaan nama dan kerajaan-Nya. Perhatikanlah apa yang terjadi setelah rasul Petrus dengan tulus mengakui Yesus sebagai Juruselamatnya.

Maka jawab Simon Petrus: Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup! Kata Yesus kepadanya: Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Aku berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga. (Matius 16:16-19)

Tuhan Yesus Kristus adalah KASIH yang dapat memberi kepuasan kepada mereka yang mencari makna dan tujuan hidup di dunia. Karena hanya melalui Dia yang bersemayan di dalam ruang kehidupan yang kedua setiap orang, asal-usul mereka, apa yang harus dilakukan di dunia, dan ke mana mereka akan pergi bukan merupakan suatu teka-teki hidup tak terpecahkan lagi. Tuhan Yesus sendiri yang akan membuka mata hati mereka, serta memuaskannya!

Nabi Yeremia menyampaikan pesan TUHAN kepada kaum Yehuda: Sebab Aku akan membuat segar orang yang lelah, dan setiap orang yang merana akan Kubuat puas. (Yeremia 31:25)

Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya. (Matius 11:27)

KASIH YANG MEMBENARKAN

Kata Yesus kepadanya: Akulah jalan dan KEBENARAN dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. (Yohanes 14:6)

Banyak orang mempertanyakan arti kebenaran, bagaikan Pontius Pilatus, gubernur Romawi atas Yudea, yang bertanya langsung kepada Tuhan Yesus di gedung pengadilan, sebelum Ia dijatuhi hukuman mati atas paksaan permintaan orang-orang Yahudi: Apakah kebenaran itu? (Yohanes 18:38a)

Pertanyaan tersebut dilontarkan olehnya sebagai suatu tanggapan atas pernyataan Yesus: Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku. (Yohanes 18:37b)

Kebenaran kristiani adalah kebenaran umum! Jika benar, itu adalah kebenaran bagi semua orang. Tetapi jika tidak benar, maka itu sama sekali bukan kebenaran bagi mereka! Karena kepercayaan kristiani hanya dilandaskan pada kebenaran Injil tentang kelahiran, kehidupan, pelayanan, penyaliban, kematian, kebangkitan dan kenaikan Tuhan Yesus ke sorga, begitu juga kedatangan-Nya kembali ke dunia. Oleh karena itu, jika kekristenan terbukti benar, takdir kehidupan abadi setiap orang setelah meninggalkan dunia, sangat tergantung pada sikap mereka di dalam menanggapi kebenaran tersebut. Suatu peringatan yang dikatakan oleh Tuhan Yesus sendiri melalui Injil Yohanes 14 ayat 6!

Kebenaran firman Tuhan harus diterima seluruhnya, bukan hanya sebagian kecil atau sebagian besar saja. Karena Alkitab adalah kebenaran bersejarah yang dicatat oleh orang-orang yang mengenal Dia dengan akrab, dan juga oleh mereka yang dipanggil untuk menjadi saksi-saksi bagi kerajaan Allah setelah kenaikan-Nya ke sorga.

Rasul Petrus menulis tentang kebenaran yang dialami olehnya sendiri: Sebab kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus sebagai raja, tetapi kami adalah saksi mata dari kebesaran-Nya. Kami menyaksikan, bagaimana Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa, ketika datang kepada-Nya suara dari Yang Mahamulia, yang mengatakan: Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan. Suara itu kami dengar datang dari sorga, ketika kami bersama-sama dengan Dia di atas gunung yang kudus. (2 Petrus 1:16-18)

Begitu pula rasul Yohanes yang menulis pengalamannya di dalam Injil ke-4: Dan orang yang melihat hal itu sendiri yang memberikan kesaksian ini dan kesaksiannya benar, dan ia tahu, bahwa ia mengatakan kebenaran, supaya kamu juga percaya. (Yohanes 19:35)

Sekali lagi, kebenaran kristiani adalah kebenaran umum! Tidak ada kebenaran yang hanya berlaku bagi sebagian orang saja, tetapi tidak berlaku bagi orang-orang lain. Kebenaran bagi seseorang adalah kebenaran bagi semua orang! Oleh karena itu, kebenaran bukan hanya berguna untuk sekelompok orang yang memerlukannya, yang mau menjadi pengikut-pengikut Kristus, tetapi juga untuk orang-orang lain yang belum mengetahuinya, bahkan untuk mereka yang menolaknya!

C S Lewis, salah seorang ahli ilmu agama Kristen yang sangat termasyhur di dunia, pernah mengutarakan pendapatnya: Agama Kristen adalah suatu pernyataan, yang jika salah, tidak mempunyai arti penting sama sekali, tetapi jika benar, adalah suatu kepentingan yang tidak ada batasnya! Satu hal yang tidak mungkin, adalah kepentingan yang asal-asalan saja.

Apakah Alkitab memberitakan Injil yang benar-benar terjadi? Apakah Yesus, yang tercatat di situ telah melakukan begitu banyak mujizat-mujizat luar biasa 2000 tahun yang lalu, bukan seorang tokoh khayalan? Apakah pernyataan para pengikut Kristus mengenai KASIH yang mereka beritakan dapat dipertanggung-jawabkan? Dan oleh karena itu, apakah kebenaran agama Kristen merupakan suatu kepentingan yang tidak ada batasnya, seperti salah satu kemungkinan yang sudah dikatakan oleh C S Lewis?

Para ahli ilmu pengetahuan yang amat termasyhur sepanjang masa, yang direkam di dalam sejarah sebagai penemu-penemu pelbagai-macam ilmu-ilmu baru yang berguna bagi segenap umat manusia di dunia, mengakui kekompleksan misteri alam semesta yang tidak dapat dipecahkan begitu saja dengan menggunakan tingkat kecerdasan (IQ) mereka yang sangat tinggi.

Banyak di antara para cendekiawan tersebut juga menolak mempercayai isi Alkitab. Keinginan mereka untuk melakukan penelitian pribadi guna membuktikan ketidak-benaran berita Injil, justru mengakibatkan banyak di antara orang-orang termasyhur itu akhirnya menyerahkan diri mereka kepada Tuhan, dan menjadi hamba-hamba-Nya (pendeta).

Tokoh-tokoh PALING cerdas di dunia sepanjang masa seperti Boyle, Calvin, Faraday, Galileo, Kepler, Koch, Lister, Lodge, Maxwell, Mendel, Newton, Pasteur, Simpson dan banyak scientists lainnya mengakui kenyataan penemuan mereka sendiri, bahwa kebangkitan Yesus 2000 tahun yang lalu benar-benar terjadi!

Kebenaran tidak dapat diterima mempergunakan kecerdasan akal pikiran manusia saja, tetapi hanya bisa diakui sebagai suatu kebenaran, jika lubuk hati mereka yang paling dalam bisa melihat-nya melalui mata KASIH di dalam hidup mereka. Karena kebenaran bukan monopoli orang-orang berotak saja, melainkan berlaku bagi semua orang dari berbagai-macam lapisan masyarakat, dengan latar belakang yang beraneka-ragam, dari orang-orang biasa sampai yang paling intelek. Kebenaran tidak pernah memandang bulu!

Rasul Paulus menulis di dalam suratnya kepada jemaat di Roma: Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah sudah membangkitkan Dia dari antar orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan. (Roma 10:9-10)

Dan kepada jemaat di Korintus ia juga memperingatkan: Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa ... tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: Yesus adalah Tuhan, selain oleh Roh Kudus. (1 Korintus 12:3)

Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. (Matius 5:6)

KASIH (Kristus) adalah pokok seluruh kebenaran, yang dipakai sebagai standar untuk mengukur dan membandingkan bukti-bukti kebenaran-kebenaran lainnya di dunia. Menurut pengertian orang-orang Yahudi pada masa pelayanan Yesus, kebenaran bukan merupakan pengetahuan yang tertanam di dalam otak saja, tetapi yang ada dan yang dapat dirasakan di dalam hati. Ketika Yesus berkata: Akulah KEBENARAN, Ia mempunyai maksud untuk mengajar para pengikut-Nya, bahwa mereka bisa mengalami kebenaran melalui persekutuan yang intim dengan diri-Nya. Ternyata pernyataan Yesus tersebut terbukti sampai sekarang!

Untuk bisa memahaminya lebih dalam, sebuah kiasan yang amat sederhana menyimpulkannya secara gamblang sekali.

Akhir-akhir ini di Australia Internet Dating merupakan salah satu industri yang paling menguntungkan para pengelolanya. Situs-situs semacam itu tumbuh pesat bagaikan jamur-jamur liar di kota-kota besar, untuk melayani kebutuhan orang-orang yang terlampau sibuk dengan karir mereka. Tidak jarang situasi tersebut menyebabkan mereka kehilangan waktu lenggang guna menemukan pasangan hidup secara tradisionil, baik bagi mereka yang sudah terlambat usianya, maupun yang masih muda belia.

Bagi kasus-kasus perkenalan yang jujur dan berhasil, berkencan melalui surat-surat elektronik dunia sibernetika, melukiskan dengan kata-kata raut muka masing-masing, bentuk tubuh, pendidikan, tabiat, minat, kegemaran dan lain sebagainya, biasanya oleh karena rasa cocok yang timbal-balik, berakhir dengan terjalinnya tali persahabatan. Pada saat itu sikap saling menyukai karena merasa cocok hanya tertanam di dalam benak pikiran mereka saja, berdasarkan semua data yang telah mereka baca!

Tetapi ketika mereka bertemu muka, dan menjalin persekutuan pribadi untuk pertama kalinya, rasa suka berdasarkan pengetahuan, yang awalnya berada di dalam benak pikiran mereka, langsung bersemi di dalam hati. Karena segala data mengenai kawan kencan yang telah mereka ketahui lewat layar komputer, dibuktikan kebenarannya melalui pengalaman yang mereka lalui bersama! Mengakui kebenaran adalah seperti memindahkan semua data yang kita ketahui dari dalam otak, melalui suatu pengalaman pribadi, ke dalam hati.

Jawaban Tuhan Yesus atas pertanyaan Pontius Pilatus mengenai kebenaran kedudukan-Nya sebagai Raja orang-orang Yahudi menegaskan penjelasan di atas: Apakah engkau katakan hal itu dari hatimu sendiri, atau adakah orang lain yang mengatakannya kepadamu tentang Aku? (Yohanes 18:34)

Analogi Internet Dating sejati yang berakhir dengan berhasil, melukiskan pengalaman orang-orang kristiani yang mau menjalin persekutuan intim dengan Allah Bapa di sorga. Melalui pengalaman itu, pengetahuan firman Tuhan yang sebelumnya tertanam di dalam otak, dipindahkan dan diukir di dalam hati sebagai suatu kebenaran yang mutlak! Tuhan Yesus saja, melalui kuasa Roh Kudus, memungkinkan proses itu terjadi!

Agama Kristen tidak hanya menyatakan, bahwa Yesus sudah bangkit 2000 tahun yang lalu, karena kejadian tersebut dicatat oleh para saksi matanya di dalam Alkitab, tetapi kekristenan adalah suatu pernyataan di mana kebenaran kebangkitan-Nya dibuktikan melalui kesaksian-kesaksian para pengikut-Nya, yang hingga saat ini tanpa ragu-ragu mengatakan, bahwa mereka TAHU Yesus hidup! Mereka berani mengikrarkan kebenaran tersebut, karena mereka selalu bertemu dan bercakap-cakap dengan Dia!

Alkitab mengibaratkan hubungan Allah Bapa dengan umat-Nya laksana persekutuan intim dua insan yang saling mengasihi. Di dalam Perjanjian Lama, Ia memulainya dengan umat pilihan-Nya yang pertama, bangsa Israel, yang sering kali dikiaskan di sana sebagai seorang istri yang tidak setia. Tetapi ... kendatipun perbuatan mereka jahat, dan sering kali menyakitkan hati-Nya, TUHAN tetap mengasihi mereka tanpa syarat, dengan kasih agape.

Di dalam kitab-kitab Perjanjian Baru hubungan Tuhan dengan umat-Nya (gereja Tuhan atau mempelai wanita) diakhiri dengan klimaks KISAH CINTA tersebut, yaitu perkawinan yang akan mengikat persekutuan mereka secara abadi. Firman Tuhan di Wahyu 19:6-10 melukiskan peristiwa itu sebagai perjamuan kawin Anak Domba. Sepanjang sejarah dunia dari awal sampai akhir (nanti), KASIH dan hubungan kasih agape telah menjadi dasar pokok seluruh kebenaran firman Allah. Tuhan Yesus menyatakan melalui e-mail kepada jemaat di Laodikia, bahwa Ia-lah yang dari semula memprakarsai persekutuan intim dengan umat-Nya di sana.

Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku. (Wahyu 3:20)

Tantangan serupa juga ditujukan kepada umat-Nya sekarang. Apakah kita bersedia menyambut tawaran e-mail Tuhan Yesus, membuka pintu hati kita, dan menerima Dia sebagai kebenaran KASIH di dalamnya?

Pengalaman pribadi dengan Tuhan Yesus Kristus melalui Roh Kudus, yang disebut Lahir Baru, akan membuka semua kebenaran Injil kepada kita mengenai kelahiran, kehidupan, pelayanan, penyaliban, kematian, kebangkitan dan kenaikan Tuhan Yesus ke sorga. Bahkan kedatangan-Nya kembali ke dunia untuk kedua kalinya, terasa bagaikan suatu janji pribadi (perseorangan) kepada kita yang amat nyata! Karena Ia sendiri yang menjamin kebenaran tersebut kepada kita!

Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. (Matius 24:30)

Tuhan Yesus tidak hanya membenarkan kita di hadapan Allah Bapa, tetapi juga membukakan segala kebenaran yang tidak kita sadari sebelumnya! Yesus berkata: , tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu. (Yohanes 14:26)

Tuhan Yesus Kristus sudah bangkit 2000 tahun yang lalu! Saat ini Ia duduk di sebelah kanan Allah Bapa di sorga, tetapi melalui Roh Kudus, Ia bekerja di tengah-tengah umat-Nya, bahkan di dalam hati setiap orang yang mengasihi-Nya.

Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. (Yohanes 17:3)

KASIH YANG MEMBEBASKAN

Kata Yesus kepadanya: Akulah jalan dan kebenaran dan HIDUP. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. (Yohanes 14:6)

Tuhan Yesus tidak hanya memberi kepuasan hidup, serta menjamin kebenaran setiap orang yang mau menerima Dia di hadapan Allah Bapa, Ia juga mengaruniakan kepada kita kebebasan HIDUP yang sejati. Hidup di dalam kebenaran KASIH, yang menghalau rasa takut, kuatir, duka, sesal dan lain-lainnya, semua yang berkaitan dengan perbuatan-perbuatan dosa yang pernah kita lakukan. Inilah kebebasan terpenting yang sangat diperlukan oleh setiap insan di dunia.

Rasul Yohanes yang membahas mengenai KASIH, menulis: Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih. (1 Yohanes 4:18)

KASIH membebaskan kita dari rasa menyesal, rasa bersalah, kecanduan, keinginan untuk melakukan dosa-dosa yang sama, bahkan rasa takut akan konsekuensi-konsekuensinya. Setiap orang selalu menyadari perbuatan-perbuatan dosa yang pernah mereka lakukan, meskipun tidak jarang ada di antara mereka yang sengaja berusaha meniadakannya, dengan berpura-pura seolah-olah mereka tidak pernah menyadarinya!

Melakukan kesalahan-kesalahan yang diketahui sebagai dosa berbeda dengan kekeliruan-kekeliruan yang dilakukan oleh karena keteledoran para pelakunya. Kekeliruan bisa terjadi di dalam bank - ketika menghitung uang tunai, di dalam dapur - ketika memasak santapan makan malam, di dalam kantor - ketika mengetik tuts-tuts keyboard komputer, di dalam gereja - ketika menyanyikan lagu-lagu pujian dengan nada yang sumbang, dan lain sebagainya. Melakukan hal-hal yang keliru tidak membuat hati nurani kita tertekan atau merasa tertuduh, karena kekeliruan adalah bagian dari hidup, itu bukan dosa!

Tetapi melakukan kesalahan-kesalahan dosa dan akibat-akibatnya, akan selalu menghantui diri setiap orang. Kendatipun kita berusaha untuk meniadakannya, perbuatan-perbuatan dosa akan tetap tertanam di dalam benak pikiran kita, yang mau tidak mau mempengaruhi hati nurani dan sikap hidup para pemiliknya.

Iblis, yang dijuluki di Wahyu 12:10 sebagai pendakwa umat Tuhan, akan selalu berusaha untuk memastikan, bahwa kita tidak pernah melupakan tindakan-tindakan dosa yang jahat dan memalukan tersebut. Pada setiap kesempatan yang kita berikan kepadanya, dosa-dosa itu dan seluruh konsekuensinya akan diparadakan di depan kita.

Perasaan bersalah dan hal-hal serupa lainnya yang disebabkan oleh perbuatan-perbuatan dosa, seperti takut akan hukuman, takut mati, takut miskin, takut kehilangan orang-orang yang kita kasihi, takut kesepian dan lain sebagainya, pasti akan menimbulkan fobi di dalam hati setiap orang sepanjang masa, yang menyebabkan hidup mereka selalu merasa tertekan oleh beban-beban yang berat!

Perasaan-perasaan itulah yang sering kali menjadi penyebab utama kekosongan atau ketidak-puasan hidup setiap orang. Jika kita perhatikan sebab-sebabnya dengan lebih teliti, bukan merupakan sesuatu hal yang mengherankan, bahwa mereka harus menanggung penderitaan itu, karena alasan-alasan terjangkitnya rasa-rasa takut tersebut selalu berkisar sekitar kepentingan diri mereka sendiri. Ironis sekali, karena tidak jarang justru perasaan takut mati yang diderita oleh seseorang, adalah pendorong utama tindakan-tindakan nekat mereka untuk membunuh diri!

Iblislah yang menjadi provokator segala rasa bersalah atau takut yang dialami oleh setiap orang, karena berlawanan dengan kehendak Allah Bapa, tujuan utamanya adalah untuk membinasakan hidup kita! Firman Tuhan memperingatkan, bahwa hidup di dalam dosa adalah seperti bekerja full-time untuk sebuah perusahaan milik Iblis, karena sebagai budak-budaknya lambat laun mereka semua akan di-gaji dengan maut. Berbeda sekali dengan tawaran kasih karunia Allah Bapa yang diberikan secara cuma-cuma kepada kita, melalui pengorbanan Anak-Nya yang tunggal, Tuhan Yesus Kristus. Kita tidak perlu mengerjakannya lagi, karena semua sudah ditanggung dan dibayar oleh-Nya sendiri.

Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. (Roma 6:23)

Tujuan kedatangan Kristus di dunia, selain untuk memberi hidup yang kekal kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya, adalah untuk membebaskan kita dari belenggu-belenggu dosa yang pernah, sedang, bahkan yang akan kita lakukan. Itulah yang dimaksudkan dengan Yesus sudah mati untuk menebus dosa-dosa kita, agar kita mempunyai hidup!

Mungkin berkali-kali sebelumnya kita berusaha untuk memahami arti pengorbanan Yesus di kayu salib 2000 tahun yang lalu, tetapi selalu gagal untuk memahami maknanya, karena kita tidak bisa melihat sangkut-paut pengorbanan tersebut dengan masa sekarang! Rasul Paulus menjelaskannya dengan indah sekali kepada jemaat di Roma: Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. (Roma 5:8) Inilah yang dimaksudkan dengan keajaiban kasih karunia Tuhan: kita menerima KASIH, pada saat kita tidak berhak untuk mendapatkannya!

Pengorbanan Yesus di bukit Golgota baru tampak jelas, dan menjadi relevan, ketika Ia membuka mata hati nurani kita dari dalam. Pada saat Ia menyatakan diri-Nya secara pribadi kepada kita, makna pengorbanan-Nya di kayu salib menjadi nyata, seperti yang dicatat oleh rasul Yohanes: Dan kamu tahu, bahwa Ia sudah menyatakan diri-Nya, supaya Ia menghapus segala dosa, dan di dalam Dia tidak ada dosa. (1 Yohanes 3:5)

Melalui pengorbanan-Nya, Yesus mengutarakan kepada umat yang mau menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat, bahwa segenap dosa kita telah ditanggung oleh-Nya di kayu salib 2000 tahun yang lalu, sekali dan untuk selama-lamanya!

Itulah yang dimaksudkan oleh Injil, ketika Yesus menyerukan kata-kata memilukan ini: Eloi, Eloi, lama sabakhtani? - Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Markus 15:34), yang menggambarkan pada saat itu terputusnya hubungan Yesus dengan Allah Bapa untuk menggantikan kedudukan kita. Dan ucapan terakhir di atas kayu salib: Sudah selesai. (Yohanes 19:30), yang berarti, bahwa makna dan tujuan hidup-Nya di dunia, yaitu untuk menyelamatkan umat manusia dari segala dosa mereka dan konsekuensi-konsekuensinya, yaitu maut, sudah diambil alih oleh Dia sekali dan untuk selama-lamanya!

Dengan kata lain, pengorbanan-Nya untuk segenap umat manusia pada saat itu sudah rampung! Tidak ada seorangpun setelah itu yang mempunyai hak untuk mengatakan, bahwa mereka akan atau harus meneruskan tugas Yesus untuk menggenapi rencana Allah bagi keselamatan hidup manusia, karena Ia gagal menyelesaikannya! Yesus sudah menggenapi seluruhnya, bahkan Ia memproklamirkannya sendiri di depan umum pada saat kematian-Nya!

Selain itu, ucapan terakhir Tuhan Yesus tersebut juga meneguhkan, bahwa semenjak pengorbanan-Nya di kayu salib berakhir, Ia tidak ingin melihat umat-Nya menderita lagi, karena Ia sudah menanggung seluruhnya, yaitu semua penderitaan mengerikan akibat dosa-dosa kita!

Tuhan Yesus bisa menghayati perasaan-perasaan kita, karena Ia pernah mengalaminya sendiri. Ia pernah hidup di tengah-tengah umat ciptaan-Nya, sebagai manusia sepenuhnya, hanya tanpa dosa. Kitab Ibrani mencatat: Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai. (Ibrani 2:18)

Lagipula kebenaran janji Tuhan tidak pernah berubah, karena firman-Nya berkata: Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya. (Ibrani 13:8)

Percayakah Anda, bahwa kebenaran KASIH yang telah membebaskan umat manusia 2000 tahun yang lalu, masih tetap berlaku sampai sekarang? Perhatikanlah pengikut-pengikut Kristus di sekeliling Anda, mereka yang sedang mempraktekkan kasih (Kristus) sekarang, karena mereka adalah saksi-saksi-Nya yang hidup di akhir zaman. Haleluya!

Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia. (1 Korintus 3:3)

EPILOKASIH

Sebab: Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga ia dapat menasihati Dia? Tetapi kami memiliki pikiran Kristus. (1 Korintus 2:16)

Kekosongan hidup yang dilukiskan oleh rock group Foreigner di dalam lagu I Want to Know What Love is mengemukakan kerinduan hati setiap orang untuk mengetahui makna dan tujuan hidup mereka di dunia. Mencapai standar-standar yang ditentukan oleh masyarakat umum tidak akan pernah bisa memenuhi kehampaan hidup yang mereka derita.

Seperti yang sudah diuraikan sebelumnya, harta kekayaan yang berkelimpahan, kemasyhuran nama, penampilan yang sempurna, keberhasilan karir pekerjaan, persahabatan yang sejati, perkawinan yang berbahagia, kemakmuran dan kesejahteraan hidup berkeluarga, kekuasaan dan pengaruh di dalam masyarakat, melakukan tindakan amal, dan lain sebagainya, hanya mampu untuk memuaskan ruang kehidupan manusia yang pertama secara sementara.

Tetapi ruang kehidupan yang kedua akan terus mendambakan makanan atau minuman pokok rohani yang ditawarkan dari sorga. Tuhan Yesus Kristus mengibaratkan diri-Nya sendiri sebagai Roti (Nasi) Hidup - bagi setiap orang yang selalu merasa lapar, atau Air Hidup - bagi mereka yang selalu merasa haus, karena Ia-lah satu-satunya KASIH agape yang mampu memuaskan kebutuhan mereka untuk selama-lamanya.

Yesus adalah JALAN kehidupan yang menghubungkan diri kita kepada Allah Bapa di sorga. Hanya Dia yang dapat memberi kepuasan kepada setiap orang yang sedang menelusuri makna dan tujuan hidup mereka di dunia. Melalui persekutuan yang intim dengan Bapa, asal-usul kita, tindakan-tindakan yang harus kita lakukan di dunia, dan akhirnya ke mana kita akan pergi bukan merupakan suatu teka-teki hidup yang tak terpecahkan lagi!

Yesus adalah KEBENARAN hidup yang bukan hanya membenarkan diri kita di hadapan Allah Bapa saja, tetapi juga memberi kemampuan pada kita untuk memahami isi firman Tuhan. Catatan-catatan bersejarah di dalam Injil mengenai kelahiran, kehidupan, pelayanan, penyaliban, kematian, kebangkitan dan kenaikan Tuhan Yesus ke sorga, bahkan kedatangan-Nya kembali ke dunia untuk kedua kalinya, menjadi suatu pengertian yang amat nyata bagi mereka yang mengasihi-Nya! Karena Ia sendiri yang akan menjamin seluruh kebenaran tersebut!

Yesus adalah HIDUP yang dapat membebaskan kita dari belenggu-belenggu dosa yang pernah, sedang, dan akan kita lakukan. Ia juga membebaskan umat-Nya dari rasa menyesal, rasa bersalah, kecanduan, hasrat untuk melakukan dosa-dosa yang sama, bahkan rasa takut akan konsekuensi-konsekuensinya. Ia tidak ingin melihat kita tertekan oleh beban-beban tersebut lagi, sebab Ia sudah menanggung semuanya untuk kita di kayu salib, sekali dan untuk selama-lamanya! Rasul Yohanes mengatakan: Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka. (Yohanes 8:36)

Karena inti seluruh kebenaran KASIH agape yang ditawarkan oleh Injil Tuhan Yesus Kristus kepada mereka yang merindukannya, disimpulkan di dalam sebuah ayat sederhana yang mempunyai arti luar biasa: Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16)

Keinginan Allah Bapa bagi umat-Nya adalah kekudusan yang mutlak, yang hanya dapat dipenuhi syaratnya melalui kehadiran Anak-Nya yang tunggal, Tuhan Yesus Kristus, di dalam hidup mereka. Karena Ia rindu untuk selalu bersekutu dengan kita (gereja-Nya), laksana persekutuan dua insan yang sedang dimabuk cinta, setia dan saling mengasihi dengan kasih yang murni. Suatu persekutuan yang begitu intim, sehingga tidak memungkinkan menyusupnya pihak ketiga di dalamnya.

Kasih Bapa sudah dibuktikan melalui pengorbanan dan penderitaan Anak-Nya di kayu salib bagi keselamatan hidup kita. Yesus bersedia menjalani semuanya dengan sukarela, karena Ia sangat mengasihi Anda dan saya! Terbukti dari segala usaha yang sudah direncanakan dan dilakukan oleh-Nya semenjak dahulu kala untuk memprakarsai pemulihan hubungan akrab dengan umat-Nya yang telah terhalang, oleh karena perbuatan dosa Adam dan Hawa. Nabi Yesaya menyampaikan pesan kasih TUHAN kepada bangsa Israel untuk meneguhkan janji, yang sudah diberikan melalui Yakub: Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku. (Yesaya 43:1b)

Imbalan dari kita yang diharapkan oleh-Nya hanya ... percaya dan mengaku, bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat kita (Roma 10:9-10). Kita harus mengundang Dia untuk masuk ke dalam hidup kita, menjadikan Dia pusat kehidupan, serta penolong di dalam setiap langkah yang akan kita lakukan. Oleh karena kepribadian Roh Kudus yang amat lembut dan penuh KASIH, Ia tidak akan mengharuskan kita untuk menerima tawaran-Nya tersebut. Mau ataupun tidak, keputusan yang terakhir selalu berada di tangan Anda dan saya!

Kehadiran KASIH di dalam hidup setiap orang pasti akan mentransformasi pribadi mereka. Secara supranatural Ia akan mengarahkan fokus hidup kita kepada hal-hal yang berlawanan dengan kebiasaan-kebiasaan yang selalu kita lakukan sebelumnya.

Menyadari kehadiran KASIH di dalam hati kita, adalah bagaikan harapan yang diutarakan oleh rasul Paulus kepada jemaat di Efesus: Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. (Efesus 3:18-19)

Sedikit demi sedikit kita diubahkan oleh-Nya menjadi orang-orang yang selalu kita inginkan, yang mengetahui makna dan tujuan hidup kita, merasa puas dengan segala yang tersedia, bersyukur dan menyadari karunia-karunia yang kita miliki. Bahkan yang terpenting, kita akan menjadi berkat bagi mereka yang memerlukannya! Pada saat kita merasa lemah, Ia akan menguatkan diri kita. Pada saat hati kita merasa bimbang, Ia-lah Pendorong dan Penghibur kita. Pada saat kita merasa gagal dan tidak layak sama sekali, Ia akan mengingatkan, bahwa kita adalah biji-biji mata-Nya yang paling berharga!

Dengan bantuan Roh Kudus, kita dapat melihat penyebab-penyebab kehampaan hidup yang pernah kita alami sebelumnya, atau yang sedang dialami oleh orang-orang lain. KASIH-Nya (bukan kasih kita) yang akan memampukan segalanya. Karena kehendak Allah Bapa di sorga adalah, untuk melihat diri kita diubahkan selalu, dan akhirnya ... menjadi sama seperti Anak-Nya, kudus dan tidak bercela di hadapan hadirat-Nya! Itulah sebenarnya makna dan tujuan utama hidup segenap umat manusia!

Jawaban bagi orang-orang yang sedang mencari atau mempertanyakan makna dan tujuan hidup mereka, seperti yang sudah diutarakan oleh rock group Foreigner di dalam syair lagu: I Want to Know What Love is, adalah syair dari sebuah lagu kristiani terkenal karya Andrae Crouch: Jesus is THE ANSWER (Yesus-lah JAWABANNYA)! Karena Yesus, Nama di atas segala nama, sanggup menjawab semua pertanyaan yang ada, dan akan memecahkan segenap teka-teki hidup manusia di dunia, bagi mereka yang mempunyai hasrat untuk menelusurinya.

Jesus is THE ANSWER, for the world today (Yesus-lah JAWABANNYA, bagi keadaan dunia masakini)
Above Him theres no other, Jesus is THE WAY (Di atas Dia tidak ada yang lain, Yesus-lah JALANNYA)

Pada waktu itulah kamu akan tahu, bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. (Yohanes 14:20)

Jika Anda merasa tertarik pada artikel Kasih: I Want to Know What Love is, dan oleh karena itu, bersedia mengorbankan waktu Anda untuk mengikutinya dengan penuh kesabaran sampai bab yang terakhir ini, lalu merasa, bahwa beberapa di antara tema-tema yang saya uraikan di atas bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan hidup yang sedang membebani diri Anda, saya yakin hal itu bukan kebetulan.

Apabila Anda membaca ayat ini: Jawab Yesus: Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini? (Yohanes 11:25-26), dan ... Anda menjawab: PERCAYA!, maka Anda telah menerima kebenaran yang ditawarkan oleh firman Tuhan. Ingatlah akan uraian sebelumnya, bahwa kebenaran kristiani adalah kebenaran umum, dan kebenaran firman Tuhan tidak bisa diterima hanya sebagian kecil saja, melainkan harus diterima keseluruhannya.

Perhatikanlah poin-poin yang terdaftar di bawah ini. Kendatipun tidak lengkap mewakili semua perubahan yang akan terjadi di dalam hidup setiap orang yang mengenal Dia secara intim, perhatikanlah, apakah ada beberapa di antaranya yang bisa merangsang hasrat Anda untuk menemui KASIH secara pribadi?

Jika Anda memiliki DIA (KASIH) di dalam hidup Anda:

Seperti yang sudah diuraikan sebelumnya, perubahan-perubahan hidup di dalam KASIH selalu terjadi secara bertahap, tergantung pada kedewasaan iman kita. Jika Anda merasa, bahwa salah satu (atau beberapa) dari poin-poin yang terdaftar di atas sudah terjadi setelah Anda menerima Dia sebagai Juruselamat Anda, itulah tanda mula-mula kehidupan di dalam KASIH yang sangat mengesankan dan relevan sekali dengan keadaan dunia masakini, karena Anda sedang dipersiapkan oleh Tuhan untuk menghadapinya. Ingatlah selalu, hanya KASIH-Nya (bukan kasih kita) yang memampukan diri Anda dan saya.

Apabila Anda mempunyai DIA (KASIH), semua peristiwa dan kejadian-kejadian yang menguasai media dunia dewasa ini tidak akan menyebabkan hati Anda merasa resah! Peperangan antar suku/bangsa, kekejaman terorisme yang semakin menggila, bencana-bencana alam dahsyat yang mengerikan, tindakan-tindakan kriminil yang membabi-buta, timbulnya berbagai-macam penyakit-penyakit baru di dunia yang mengherankan, penyembahan-penyembahan berhala (mencintai diri sendiri, uang, kekayaan, materialisme), sikap yang suka memberontak terhadap authority - terutama terhadap Tuhan, toleransi akan perbuatan-perbuatan dosa yang sudah direstui oleh masyarakat, dan lain sebagainya, peristiwa-peristiwa seperti itu tidak akan membuat hati Anda merasa takut atau gelisah!

Karena Anda tahu dengan pasti, bahwa DIA (KASIH) yang berdiam di dalam diri Anda, berkuasa di atas segala-galanya. Bahkan Anda bisa memahami masalah-masalah tersebut sebagai sebagian kecil saja dari pelbagai tanda akhir zaman yang harus terjadi. Ia akan menjelaskannya secara pribadi kepada Anda, membuka mata hati nurani Anda, karena semua itu sudah dinubuatkan oleh Tuhan Yesus 2000 tahun yang lalu, dengan detil sekali.

Jawab Yesus kepada mereka: Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang. Kamu akan mendengar deru perang atau kabar-kabar tentang perang. Namun berawas-awaslah, jangan kamu gelisah; sebab semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya. Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. Akan ada kelaparan dan gempa bumi di berbagai tempat. Akan tetapi semuanya itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru. Pada waktu itu kamu akan diserahkan supaya disiksa, dan kamu akan dibunuh dan akan dibenci semua bangsa oleh karena nama-Ku, ... . (Matius 24:4-9)

Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah. (Yohanes 16:2)

Jika Anda mempunyai hasrat untuk hidup selama-lamanya di dalam kasih Tuhan, mengetahui dengan pasti makna dan tujuan hidup Anda, maka Anda harus membuka pintu hati, mengundang dan menerima Dia yang sedari awalnya telah memprakarsai pemulihan hubungan intim dengan diri Anda. Ketahuilah, bahwa pada saat Anda merasa tertarik untuk mengikuti kesudahan ulasan artikel: Kasih: I Want to Know What Love is ini, Yesus sedang berdiri di depan pintu hati nurani Anda, dan ... Ia sedang mengetuknya! (Wahyu 3:20)

Apabila Anda mempunyai keinginan untuk hidup di dalam kasih karunia Tuhan yang dipenuhi oleh sukacita, hidup mengesankan yang sangat relevan dengan keadaan dunia masakini, ucapkanlah dari lubuk hati Anda yang terdalam doa di bawah ini:

Bapa di sorga, aku mengakui, bahwa aku orang berdosa. Ampunilah aku dari segala dosa-dosaku. Aku percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah, dan Ia sudah membayar lunas semua dosaku melalui curahan darah-Nya di kayu salib. Saat ini aku memanggil nama Yesus untuk keselamatanku. Dengan iman aku percaya, bahwa aku sudah menerima karunia hidup-Nya, Yesus berada di dalam hidupku, dan dosa-dosaku telah Kau ampuni. Aku percaya, bahwa sekarang aku sudah menjadi pengikut Kristus. Dan setelah kematianku, aku akan hidup bersama Dia untuk selama-lamanya. Terima kasih Bapa atas keselamatan yang telah Engkau karuniakan kepadaku. Di dalam nama Yesus Kristus, Juruselamatku. Amin!

Jika Anda mengucapkan doa tersebut dari dalam lubuk hati Anda, maka Anda baru saja Lahir Baru. (Yohanes 3:3-8) Bersyukurlah, karena sekarang KASIH sudah bersemayan di dalam hidup Anda. Oleh karena itu, secara bertahap Anda akan menyaksikan sendiri perubahan-perubahan yang drastis pada gaya hidup Anda!

Selamat datang di dalam keluarga Kerajaan Allah! Marilah mulai sekarang kita bersama-sama ikut mengambil bagian di dalam pertumbuhan tubuh Kristus di akhir zaman, setia melayani di ladang-Nya sesuai panggilan hidup kita, rajin bersekutu dengan umat Tuhan yang lain, dan menjaga kekudusan hidup masing-masing sambil terus bersiap-siap, menantikan saat kedatangan untuk kedua kalinya Tuhan dan Raja kita, Yesus Kristus, Hakim Yang Maha-adil!

Datanglah segera, ya Tuhan Yesus! (Wahyu 22:20)

Haleluya, sebab Dia hidup! Saya berani mengatakannya, karena saya baru saja bertemu dan bercakap-cakap dengan Dia, ke-KASIH jiwa saya!

Amin!

Kasihilah Musuhmu

Oleh: Imelda Seloadji

Dia mendapat cuti sampai empat bulan. Tiga bulan cuti melahirkan, satu bulan cuti liburan. Dia suka datang terlambat, dan di jam kerja kadang-kadang menghilang untuk berenang di club atau minum kopi. Dia membuat anak buahnya menangis karena tertekan. Dia dinilai tidak punya kemampuan oleh koleganya. Masih banyak lagi alasan untuk tidak menyukai orang ini.

Saya yakin kita semua pernah menghadapi orang yang tidak menyenangkan di sekeliling kita. Mungkin sebagian Anda adalah orang yang cuek, sehingga pemandangan tidak menyenangkan bisa tidak Anda gubris, yang penting Anda pribadi tidak diganggu. Anda mungkin tipe orang yang bisa tersenyum ke semua orang meski hati Anda sedang jengkel. Saya bukanlah orang yang seperti itu. Seorang yang tiga kali mengikuti test DISC dan hasilnya selalu sama: dominan dan cermat mentok, alias choleric-melancholic sejati. Saya tidak bisa tenang kalau orang diperlakukan tidak adil. Saya tidak bisa cuek habis jika orang mengakui pekerjaan saya sebagai prestasinya dan berkata kepada rekan dan diri sendiri: "yang penting tanggal 25 gue kagak diganggu..". Saya tidak nyaman jika orang yang tidak kompeten menempati posisi penting. Yang telah terjadi pada diri saya, saya tidak bisa tidur dua malam karena hal itu. Saya orang yang apa adanya, wajah saya merefleksikan suasana hati saya. Sulit bagi saya memberi senyum yang tulus pada orang yang saya tidak sukai, tapi saya orang yang berani mengambil resiko demi mereka yang saya sebut sahabat. Itulah diri saya. Saya bukan Bunda Theresa. Hanya, betapapun saya berusaha mencari pembenaran, kalimat pendek Firman Tuhan ini tidak pernah ada tapinya. "Kasihilah musuhmu." Di suatu malam saya berdebat dengan Tuhan: "tapi bukankah Yesus pernah mengatakan bahwa Herodes adalah serigala setelah ia memenggal saudara sepupu-Nya Yohanes Pembaptis? Yesus saja bisa emosi" Well, saya berusaha menarik Dia ke tempat saya, Dia perlu merasakan apa yang saya rasakan.

Kasihilah musuhmu. Kasih itu perintah, bukan perasaan, kata Pak Eddy Leo. Kalau saya menyebut diri saya Kristen, ini adalah identitas saya. Saya menjerit dalam hati, Tuhan sungguh saya tidak mampu. Namun sungguh satu hal saya tahu, Dia mengasihi saya. Dia tahu semua pergumulan hati saya, sakit hati saya. Dia Allah yang peduli. Dia tidak memberi perintah tanpa memberi saya kemampuan dari Dia untuk melakukannya. Namanya saja musuh, bagaimana mengasihi? Tapi Dia ada untuk memampukan saya. Saudaraku, musuh Anda tidak peduli dan tidak merasakan kemarahan di dalam hati Anda. Anda rugi sendiri jika menyimpan kekesalan dan dendam. Datanglah kepada Yesus dan letakkan beban pergumulan Anda. Dia ada untuk menjadi pendengar Anda yang baik dan Dia adalah sahabat yang sejati. He is really "A shoulder to cry on.".

Kasih itu perintah, bukan perasaan. Saya suka pernyataan itu. Saya harus berjuang. Tapi saya tahu saya tidak sendiri. Ada Immanuel yang bersama saya. Dia adalah Kasih, dan kalau Dia di dalam saya, saya pasti bisa mengasihi. Juga Anda yang mungkin membaca sharing singkat ini yang mau berdoa bersama saya. Jika Anda memiliki luka, kekecewaan, sakit hati, kemarahan, atau dendam, saya juga mau berdoa untuk Anda. Jika Anda tidak mampu mengatasi sendiri sakit hati Anda, tetaplah berdoa, baca Firman, dan berbagilah dengan saudara seiman yang dapat Anda percaya. Bukan untuk gosip, tapi untuk menopang Anda. Jangan berusaha menutupi keadaan Anda supaya Anda terlihat baik. Jangan menyimpan ranjau dalam diri Anda yang akan meledak di kemudian hari. Kasihilah musuhmu. YA! BISA! BERJUANG!!!!! Tuhan memberkati.

Kata-kata yang Ramah

Bacaan : Efesus 4:29-32

Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun (Efesus 4:29) Salah satu kehormatan paling besar yang pernah ditawarkan kepada saya datang di tengah salah satu peristiwa hidup yang paling menyedihkan.

Tahun lalu hati saya hancur ketika teman baik dan rekan sekerja saya, Kurt De Haan, meninggal secara tiba-tiba saat ia sedang keluar untuk lari-lari pada jam makan siang seperti biasanya. Kurt adalah redaktur pelaksana Our Daily Bread sejak tahun 1989 sampai ia meninggal. Kepergiannya merupakan pukulan hebat bagi kami masing-masing di RBC Ministries. Namun, Mary istrinya dan keempat anak mereka mengalami duka yang jauh lebih dalam.

Beberapa hari sebelum pemakaman, Mary menelepon dan meminta saya untuk menyampaikan pidato tentang Kurt. Saya terharu mendapat hak istimewa ini.

Ketika saya merenungkan kehidupan Kurt, ada salah satu sifat yang terus-menerus muncul ke permukaan. Sifat itu merupakan karakteristik yang luar biasa, dan itu menjadi inti dari kata-kata penghormatan saya bagi almarhum. Selama 22 tahun saya mengenal, bekerja bersama, dan bercakap-cakap dengannya, saya tidak pernah sekalipun mendengar Kurt mengatakan sesuatu yang negatif tentang orang lain.

Benar-benar warisan luar biasa dari hati seorang kristiani yang sejati! Kurt telah hidup sesuai dengan standar Efesus 4:29-32. Ia selalu berusaha untuk membangun orang lain, dengan menunjukkan keramahan serta kasih mesra, bukannya kepahitan atau kejahatan.

Apakah orang lain juga akan dapat mengatakan hal yang sama tentang kita? --Dave Branon

PERKATAAN YANG RAMAH MENJADI MINYAK PELUMAS YANG MENGHILANGKAN GESEKAN DARI KEHIDUPAN

Kebahagiaan Ilahi

Oleh: Sunanto

Biasanya pada masa-masa awal hidup Kekristenan kita, Tuhan akan berinisiatif menyediakan berkat-berkatNya bagi kita sehingga kita berjalan lebih dengan pancaindera kita daripada dengan iman kita.Saya masih ingat pada tahun-tahun awal setelah bertobat sepertinya Tuhan menjawab doa-doa saya tanpa perlu banyak pergumulan.Saya berdoa minta komputer, beberapa hari kemudian sudah ada komputer di kamar saya.Saya berdoa minta pekerjaan yang terbaik sehabis lulus dari kuliah, Tuhan menjawabnya dengan memberikan pekerjaan yang baik, bahkan dengan pendapatan di atas rata-rata.

Hal yang sangat wajar bila seorang bayi disediakan semua kebutuhannya oleh orang tuanya. Mau makan disuapi, mau mandi dimandikan, mau jalan-jalan digendong.Tetapi bila bayi itu mulai bertumbuh menjadi remaja maka ia harus belajar untuk menjadi mandiri.Demikian juga cara Tuhan dalam melatih kita, Dia memperlakukan kita sesuai tingkat pertumbuhan rohani kita.

Saya pernah bertanya kepada Tuhan mengapa banyak sekali orang Kristen yang sepertinya hidupnya tidak pernah mengalami krisis.Mengapa saya harus mengalami krisis dan belajar hidup dalam iman, sementara banyak orang Kristen yang lain sepertinya tidak pernah mengalaminya ? Ternyata hal itu karena mereka memang tidak mengalami pertumbuhan rohani sehingga belum siap untuk dilatih hidup dalam iman oleh Tuhan.Jika ada orang Kristen yang tidak pernah dilatih Tuhan untuk hidup dalam iman maka itu artinya dia tidak mengalami pertumbuhan rohani yang berarti.Sebuah fakta yang sangat menyedihkan sebagian besar orang Kristen yang ada saat ini masihlah menjadi bayi-bayi rohani meskipun mereka sudah bertobat belasan bahkan puluhan tahun.Gereja dipenuhi oleh orang-orang Kristen duniawi yang lebih memfokuskan diri mereka mengejar berkat dan kenikmatan dari dunia ini daripada mengejar kebahagiaan ilahi.Seperti kata Billy Graham, dunia Kekristenan modern membutuhkan sekali lagi sebuah kebangunan rohani untuk mengubah keadaan ini.

Dalam perjalanan rohani menuju kedewasaan, Tuhan akan mengijinkan sebuah masa kegelapan menaungi hidup kita supaya kita belajar untuk membedakan hidup dalam naungan berkat Allah dan hidup dalam kebahagiaan ilahi. Melalui masa yang gelap tersebut, Tuhan sedang memindahkan jiwa kita dari daerah agamawi yang masih terpengaruh emosi ke daerah iman. Tujuan Tuhan mengijinkan krisis penyempurnaan itu adalah agar kita belajar untuk mengantungkan kebahagiaan kita hanya pada Dia bukan pada dunia ini.Setelah proses pengujian itu selesai kita akan mengalami bahwa hanya Tuhan satu-satunya pribadi yang dapat memuaskan dan membahagiakan jiwa kita. Kita akan mengalami kebahagiaan ilahi sehingga semua kenikmatan yang dapat dunia ini berikan bagaikan sampah jika dibandingkan dengan kenikmatan yang dapat kita peroleh dari hadiratNya. Oh, alangkah bahagianya hidup yang dilingkupi oleh hadiratNya !

Kecewa

Oleh: Herwin

Apakah saudara setuju dengan pernyataan ini, bahwa apa yang kita inginkan, bila tidak menjadi kenyataan akan mendatangkan kekecewaan? Ini merupakan keadaan yang sering kali kita alami, bukan? Kenapa ini selalu terjadi? Ya karena kita tidak sempurna sehingga Yeremia 10: 23 sangat tepat diterapkan untuk kita manusia yang berdosa ini, karena di sana dikatakan "Manusia tidak berkuasa menetapkan langkahnya". Dan dampaknya bagi kita, Amsal 13: 12 mengatakan bahwa "harapan yang tertunda menyedihkan hati."

Marilah Sekarang Kita Melihatnya dalam Kasus Anak Muda

Mungkin kita sudah menetapkan ingin menikah hanya dengan yang seiman, akan tetapi ternyata, orang yang mendekati kita bukan orang yang seiman. Atau mungkin kita sudah merasa cocok dengan sifat-sifat orang yang kita kasihi, satu iman pula. Akan tetapi ternyata orang itu lebih mengasihi orang lain daripada kita. Yang lebih ironis, kalau ternyata orang yang kita kasihi itu memperlakukan kita dengan cara yang tidak pengasih.

Maka Perasaan Apa yang Bisa Muncul dalam Diri Kita?

Mazmur 73: 12-13 dikatakan "Sesungguhnya, itulah orang-orang fasik: mereka menambah harta benda dan senang selamanya! Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah." (kita bisa seperti ini bukan? Merasa bahwa upaya kita selama ini untuk terus berjalan di jalan Allah sia-sia? Karena apa yang kita inginkan ternyata tidak terlaksana, sedangkan orang-orang lain selalu berhasil)

Akan tetapi menarik sekali, kalau kita membaca di ayat 16 dari pasal ini dikatakan, "Tetapi ketika aku bermaksud untuk mengetahuinya, hal itu menjadi kesulitan di mataku." (LAI) Di beberapa terjemahan istilah yang digunakan "I thought" (berfikir) seperti di:

(English Standard Version) 16) "But when I thought how to understand this, it seemed to me a wearisome task."

(New King James Version) 16) "When I thought how to understand this, It was too painful for me."

(Darby Translation) 16) "When I thought to be able to know this, it was a grievous task in mine eyes."

Yang dimaksud di ayat ini bukan hanya sekedar berpikir dalam arti menghayal, lamunan atau berupa penyesalan, akan tetapi ini merupakan pemikiran yang dalam dengan akal sehat dan renungan, sehingga kalau kita membaca pada ayat-ayat selanjutnya, raja Asaf dapat mengambil kesimpulan yang benar, bahwa orang-orang yang tadinya dibayangkan bahagia itu sebenarnya berada dalam suatu posisi yang sangat riskan dan berbahaya.

Bagaimana Cara Mengatasinya?

Dalam kasus anak muda, sering kali kalau dalam kondisi kasih tak sampai atau diperlakukan kurang baik dari sang kekasih akan membuat, rasanya menjadi hidup segan mati tak mau, bukan? Akan tetapi, ada satu syair lagu yang menarik bagi kaum muda dalam kondisi ini. Dari antara kata-katanya ada tersirat bagaimana perasaannya yang hancur, rasa takut ditinggalkan yang sangat besar sehingga ia menggunakan istilah petrified bukan terified. Akan tetapi ada yang menarik dari kata-kata syair itu, karena ia sama seperti raja Asaf, misalnya ia mengatakan :

I spent so many night, just thinking how you have done me wrong. (Kata memikirkan ini bukan berarti hanya suatu lamunan, khayalan yang disertai oleh tangisan bombay, akan tetapi ini berupa pemikiran yang dalam, menggunakan akal sehat, renungan dan penganalisaan) sehingga ia dapat menyimpulkan seperti dalam kata-kata syair selanjutnya

I am stronger, get along (ia menjadi lebih kuat dan dapat melewati masa sulit itu) Bahkan selanjutnya ia dapat mengatakan

"I used to cry, but now I can ...... my head high" (sehingga, ketika sang kekasih ingin mendekatinya kembali, ia memiliki keberanian untuk angkat kepala, dengan lain perkataan ia sudah sanggup untuk mengatakan "Siapa kau"; "Mau apa kau". Yang dulu tidak dapat dilakukannya) Bahkan ia juga dapat mengatakan :

I"m not a stupid little person, that still in love with you. You are not welcome any more. I will survive .... I will survive.

Apakah Ini Mungkin?

Ya, kalau kita mau merubah cara berpikir kita. Karena banyak orang yang mengatakan bahwa cinta itu buta, sehingga sulit bagi kita untuk mengatasi perasaan-perasaan itu. Maka, mari kita lihat di 1 Korintus 16: 13 dikatakan "Berjaga-jagalah! Berdirilah dengan teguh dalam iman! Bersikaplah sebagai laki-laki! Dan tetap kuat!" Nah, kenapa ayat ini mengatakan untuk bersikap sebagai laki-laki bukan perempuan? Karena perempuan sering kali menggunakan perasaan sedangkan laki-laki menggunakan logika, sedangkan dalam keadaan jatuh cinta perasaanlah yang kacau, sehingga apapun yang dilakukan sang kekasih selalu benar saja dalam pandangan kita. Jadi kalau kita menggunakan akal sehat tentu kita dapat mengatasinya. Sebagai contoh saja. Apakah diantara teman-teman yang membaca artikel ini pernah dikecewakan oleh seseorang yang kita kasihi? Pasti pernah bukan? Coba renungkan, kenapa sekarang kita bisa mengatasinya, apakah kalau kita terus hanya berpegang pada perasaan, kita bisa mengatasinya? Bukankah, karena kita sadar bahwa hidup ini harus dilalui dan tangisan dan keputusasaan tidak akan dapat mengatasinya?

Jadi teman-teman kaum muda, kenyataan apapun yang kita alami, janganlah mundur, akan tetapi teruslah pakai akal sehat, pelajarilah Alkitab dan renungkanlah dan praktikkan. Maka pada akhirnya kita juga akan dapat mengatakan, "I will survive!!!!!"

Kehendak Tuhan atau Diizinkan Tuhan?

Saya baru pulang dari Gereja dan dapat kirim ceritra ini dan yang mau menafsirkannya? Salam tafsir-tafsiran 8-)) BJ Di salah satu gereja di Eropa Utara, ada sebuah patung Yesus Kristus yang disalib, ukurannya tidak jauh berbeda dengan manusia pada umumnya.

Karena segala permohonan pasti bisa dikabulkan-Nya., maka orang berbondong-bondong datang secara khusus kesana untuk berdoa, berlutut dan menyembah,hampir dapat dikatakan halaman gereja penuh sesak seperti pasar.

Di dalam gereja itu ada seorang penjaga pintu, melihat Yesus yang setiap hari berada di atas kayu salib, harus menghadapi begitu banyak permintaan orang, ia pun merasa iba dan di dalam hati ia berharap bisa ikut memikul beban penderitaan Yesus Kristus.

Pada suatu hari, sang penjaga pintu berdoa menyatakan harapannya itu kepada Yesus.

Di luar dugaan, ia mendengar sebuah suara yang mengatakan, "Baiklah! Aku akan turun menggantikan kamu sebagai penjaga pintu, dan kamu yang naik di atas salib itu, namun apapun yang kau dengar, janganlah mengucapkan sepatah kata pun." Si penjaga pintu merasa permintaan itu sangat mudah.

Lalu, Yesus turun, dan penjaga itu naik ke atas, menjulurkan sepasang lengannya seperti Yesus yang dipaku diatas kayu salib. Karena itu orang-orang yang datang bersujud, tidak menaruh curiga sedikit pun. Si penjaga pintu itu berperan sesuai perjanjian sebelumnya, yaitu diam saja tidak boleh berbicara sambil mendengarkan isi hati orang-orang yang datang.

Orang yang datang tiada habisnya, permintaan mereka pun ada yang rasional dan ada juga yang tidak rasional, banyak sekali permintaan yang aneh-aneh.Namun, demikian, si penjaga pintu itu tetap bertahan untuk tidak bicara, karena harus menepati janji sebelumnya.

Pada suatu hari datanglah seorang saudagar kaya, setelah saudagar itu selesai berdoa, ternyata kantung uangnya tertinggal. Ia melihatnya dan ingin sekali memanggil saudagar itu kembali, namun terpaksa menahan diri untuk tidak berbicara. Selanjutnya datanglah seorang miskin yang sudah 3 hari tidak makan, ia berdoa kepada Yesus agar dapat menolongnya melewati kesulitan hidup ini. Ketika hendak pulang ia menemukan kantung uang yang ditinggalkan oleh saudagar tadi, dan begitu dibuka, ternyata isinya uang dalam jumlah besar. Orang miskin itu pun kegirangan bukan main, "Yesus benar-benar baik, semua permintaanku dikabulkan!" dengan amat bersyukur ia lalu pergi.

Diatas kayu salib, "Yesus" ingin sekali memberitahunya, bahwa itu bukan miliknya. Namun karena sudah ada perjanjian, maka ia tetap menahan diri untuk tidak berbicara. Berikutnya, datanglah seorang pemuda yang akan berlayar ke tempat yang jauh. Ia datang memohon agar Yesus memberkati keselamatannya. Saat hendak meninggalkan gereja, saudagar kaya itu menerjang masuk dan langsung mencengkram kerah baju si pemuda, dan memaksa si pemuda itu mengembalikan uangnya. Si pemuda itu tidak mengerti keadaan yang sebenarnya, lalu keduanya saling bertengkar.

Di saat demikian, tiba-tiba dari atas kayu salib "Yesus" akhirnya angkat bicara.

Setelah semua masalahnya jelas, saudagar kaya itu pun kemudian pergi mencari orang miskin itu, dan si pemuda yang akan berlayar pun bereggas pergi, karena khawatir akan ketinggalan kapal.

Yesus yang asli kemudian muncul, menunjuk ke arah kayu salib itu sambil berkata, "TURUNLAH KAMU! Kamu tidak layak berada disana." Penjaga itu berkata, "Aku telah mengatakan yang sebenarnya, dan menjernihkan persoalan serta memberikan keadilan, apakah salahku?" "Kamu itu tahu apa?", kata Yesus.

"Saudagar kaya itu sama sekali tidak kekurangan uang, uang di dalam kantung bermaksud untuk dihambur-hamburkannya. Namun bagi orang miskin, uang itu dapat memecahkan masalah dalam kehidupannya sekeluarga. Yang paling kasihan adalah pemuda itu. Jika saudagar itu terus bertengkar dengan si pemuda sampai ia ketinggalan kapal, maka si pemuda itu mungkin tidak akan kehilangan nyawanya. Tapi sekarang kapal yang ditumpanginya sedang tenggelam di tengah laut."

Ini kedengarannya seperti sebuah anekdot yang menggelikan, namun dibalik itu

terkandung sebuah rahasia kehidupan...

Kita seringkali menganggap apa yang kita lakukan adalah yang paling baik, namun kenyataannya kadang justru bertentangan. Itu terjadi karena kita tidak mengetahui hubungan sebab-akibat dalam kehidupan ini.

Kita harus percaya bahwa semua yang kita alami saat ini, baik itu keberuntungan maupun kemalangan, semuanya merupakan hasil pengaturan yang terbaik dari Tuhan buat kita, dengan begitu kita baru bisa bersyukur dalam keberuntungan dan kemalangan dan tetap bersuka cita.

Sebab kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan buat kita. ( Roma 8:28)

Kepedulian

Oleh: Yon Maryono

Ada dua narasi Alkitab tentang perilaku orang kaya terhadap sesamanya. Pertama, Lukas 16:19-31 yang melukiskan tingkah-laku orang kaya dengan gaya hidup yang ditandai oleh suasana pesta pora dan kemewahan setiap hari. Sementara di pintu gerbang rumahnya duduk seorang pengemis yang sangat miskin dan kelaparan bernama Lazarus. Lazarus hanya makan dari sisa-sisa roti yang dibuang di lantai. sebagai alat pembersih tangan bagi para tamu setelah acara pesta selesai. Apa orang kaya itu tidak pernah melihat dan mengenal Lazarus? Ia melihat dan mengenalnya, karena selalu duduk di depan rumahnya. Tetapi ia telah mengeraskan hatinya. Pesan utama dari kisah perumpamaan Tuhan Yesus ini, sebenarnya bukan menyalahkan seseorang sukses dan menjadi kaya. Sebab para bapa leluhur Israel juga merupakan orang-orang kaya seperti Abraham, Ishak, dan Yakub. Tetapi yang menjadi persoalan utama dalam perumpamaan Tuhan Yesus tersebut adalah bagaimana seseorang menyikapi kekayaannya; dan bagaimana pula seseorang memperlakukan sesamanya yang sedang menderita.

Kedua, Markus: 10:17-31, ketika Yesus dalam hikmat-Nya memberikan ujian, yang memaksa pemuda kaya untuk memilih antara kekayaan dunia dan kekayaan sorgawi. "Juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku" (Markus 10: 21). Ternyata pemuda itu gagal menghadapi kemelut ini, membalikkan punggungnya dari Sang Guru, dan pergi dengan sedih. Pemimpin muda yang kaya ini sudah mendekati kerajaan, tetapi gagal memasukinya, karena dia tidak menempatkan Allah sebagai yang terutama, walupun harus menyerahkan harta benda yang mahal harganya. Pesan yang hendak disampaikan dalam ayat ini adalah: manusia diharapkan tidak diperhamba harta atau kekayaannya. Manusia seharusnya menghindarkan diri dari ketamakan dalam mencari harta dunia, tapi secara lebih serius harus lebih mementingkan pencarian harta sorgawi.

Firman Tuhan adalah pedang bermata dua. Saudaraku, mungkin ada orang Kristen yang mengaku "percaya" pada Yesus Kristus, menerima ajaran-Nya, penyembahan dan pujian di gereja, budaya spiritual, kelimpahan berkat dan urapan. Tetapi saudaraku, begitu bicara wawasan hidup sesuai ajaran Yesus Kristus yang meletakkan semua isu duniawi di dalam konteks kekekalan, "Juallah hartamu untuk orang miskin atau bantulah orang menderita" yakni perlakuan kasih kepada sesama sesuai ajaran Yesus... ya, saudaraku, mereka mengacuhkannya atau menolaknya. Pada saat ada bencana di mana-mana, kita melihat tayangannya, melihat penderitaanya, hati kita tersentuh. Cukupkah? Tuhan berfirman: "Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya. Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: "Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi sedang yang diminta ada padamu." (Amsal 3:28)

Winston Churchill merumuskan ajaran tersebut dengan pernyataan: "We make a living by what we get, but we make a life by what we give." Kita hidup dengan apa yang kita dapatkan, tetapi kita menciptakan kehidupan dengan apa yang kita berikan (kepada orang lain).

Tuhan memberkati.

Kepiting

Anda suka kepiting ?? Atau tidak suka kepiting ?? Atau suka kepiting tetapi tidak mau makan kepiting ??? Cerita teman saya ini sebaiknya anda baca, karena cocok bagi yang suka kepiting maupun yang tidak suka kepiting termasuk juga cocok bagi yang tak mau kepiting...

Beberapa tahun yang lalu, kalau tidak salah tahun 1986, saya berkunjung ke kota Pontianak, teman saya disana mengajak saya memancing Kepiting. Bagaimana cara memancing Kepiting? Kami menggunakan sebatang bambu, mengikatkan tali ke batang bambu itu, di ujung lain tali itu kami mengikat sebuah batu kecil.

Lalu kami mengayun bambu agar batu di ujung tali terayun menuju Kepiting yang kami incar, kami mengganggu Kepiting itu dengan batu, menyentak dan menyentak agar Kepiting marah, dan kalau itu berhasil maka Kepiting itu akan ´menggigit´ tali atau batu itu dengan geram, capitnya akan mencengkeram batu atau tali dengan kuat sehingga kami leluasa mengangkat bambu dengan ujung tali berisi seekor Kepiting gemuk yang sedang marah. Kami tinggal mengayun perlahan bambu agar ujung talinya menuju sebuah wajan besar yang sudah kami isi dengan air mendidih karena di bawah wajan itu ada sebuah kompor dengan api yang sedang menyala. Kami celupkan Kepiting yang sedang murka itu ke dalam wajan tersebut, seketika Kepiting melepaskan gigitan dan tubuhnya menjadi merah, tak lama kemudian kami bisa menikmati Kepiting Rebus yang sangat lezat.

Kepiting itu menjadi korban santapan kami karena kemarahannya, karena kegeramannya atas gangguan yang kami lakukan melalui sebatang bambu, seutas tali dan sebuah batu kecil.

Kita sering sekali melihat banyak orang jatuh dalam kesulitan, menghadapi masalah, kehilangan peluang, kehilangan jabatan, bahkan kehilangan segalanya karena : MARAH . Jadi kalau anda menghadapi gangguan, baik itu batu kecil atau batu besar, hadapilah dengan bijak, redam kemarahan sebisa mungkin, lakukan penundaan dua tiga detik dengan menarik napas panjang, kalau perlu pergilah ke kamar kecil, cuci muka atau basuhlah tangan dengan air dingin, agar murka anda mereda dan anda terlepas dari ancaman wajan panas yang bisa menghancurkan masa depan anda.

Kerajaan yang di Dalam

Jika kita perhatikan lebih jauh, sebenarnya manusia menyukai dan terfokus pada hal-hal yang dapat dilihat oleh mata jasmani mereka. Memang manusia cenderung memperhatikan sesuatu yang terlihat oleh mata jasmani. Manusia tidak suka hal-hal yang tidak terlihat, sama seperti bangsa Israel di zaman nabi Samuel. Mereka meminta seorang raja manusia yang jelas terlihat oleh mata jasmani mereka, yang dapat memimpin mereka dalam peperangan dan membebaskan mereka dari segala persoalan mereka. Dengan permintaan ini, sesungguhnya mereka telah menolak Raja yang tidak terlihat yaitu Tuhan, Allah Israel sendiri.

Tetapi Tuhan Yesus datang dan membukakan pada kita bahwa baik persoalan kita yang sesungguhnya, maupun solusi atas persoalan kita itu, semuanya ada di dalam diri kita. Persoalan kita yang sesungguhnya adalah hati kita yang licik ini, bahkan dikatakan lebih licik dari segala sesuatu (Yeremia 17:9). Hati kita inilah yang menajiskan kita (Matius 15:19-20). Inilah yang merupakan persoalan kita sesungguhnya. Namun, Tuhan Yesus juga mengungkapkan bahwa jawaban atas persoalan kita itu ada di dalam diri kita juga. Jawaban atas persoalan kita adalah kerajaan sorga yang ada di dalam diri kita.

Lukas 17 yang telah kita kutip di atas menegaskan, “…Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu”. Terjemahan bahasa Indonesia "di antara" ini, berasal dari kata Yunani "entos". Kata Yunani "entos" sebenarnya berarti "di dalam". Selain di dalam Lukas 17:21, kata Yunani "entos" ini hanya dipakai satu kali lagi yaitu di dalam Matius 23:26. Di dalam Matius 23:26, Tuhan Yesus menggunakan kata "entos" ketika Ia berkata, “Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam (entos) cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih”. Kita tahu bahwa arti suatu kata ditentukan oleh bagaimana ia digunakan, atau bagaimana penggunaannya. Di dalam Matius 23:26, "entos" digunakan sedemikian sehingga tidak mungkin seseorang menerjemahkannya menjadi "di antara", seperti yang terdapat dalam terjemahan bahasa Indonesia pada Lukas 17:21. Sesuai penggunaannya di dalam Matius 23:26, kita pasti menerjemahkan "entos" menjadi "di dalam". Oleh karena itu, terjemahan yang tepat dari Lukas 17:21 adalah, “…Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di dalam kamu”.

Ketika Tuhan Yesus mengatakan, “…sesungguhnya Kerajaan Allah ada di dalam kamu", Ia katakan hal ini bukan kepada murid-murid-Nya atau kepada orang yang telah percaya pada-Nya. Namun, Ia mengatakannya kepada orang-orang Farisi, yang jelas-jelas menentang-Nya. Jadi, kita dapat simpulkan bahwa kerajaan Allah itu ada di dalam diri setiap orang, entah orang itu sudah percaya Tuhan atau belum. Tentu saja, bagi orang yang belum percaya Tuhan, kerajaan sorga yang di dalam mereka tidak memberi pengaruh apa-apa atas kehidupannya. Tetapi yang sedang kita permasalahkan di sini adalah bahwa jawaban dari persoalan setiap manusia, ada di dalam diri mereka sendiri.

Jika seseorang telah sungguh-sungguh percaya Tuhan Yesus dan mengalami lahir baru, serta menyadari bahwa kerajaan sorga itu ada di dalam dirinya, bahkan bertumbuh terus dalam pengenalannya akan kerajaan sorga, maka kuasa dan kemuliaan kerajaan sorga itu akan membereskan kenajisan hatinya. Kerajaan sorga itu seperti ragi yang akan mengkhamirkan seluruh adonan. Artinya, kerajaan sorga itu pada akhirnya akan mempengaruhi seluruh keberadaan orang tersebut. Jika seseorang telah dipenuhi dan dipengaruhi secara total oleh kerajaan sorga, maka persoalan orang tersebut sudah selesai. Demikianlah cara Tuhan menyelesaikan persoalan manusia. Ia menyelesaikannya dari dalam, oleh kuasa dan kemuliaan kerajaan sorga.

Telah kita sebutkan di atas, bahwa persoalan manusia adalah hatinya yang licik, yang pada gilirannya menajiskan seluruh keberadaannya. Hati manusia yang licik ini tidak dapat diselesaikan dan dibereskan dengan melakukan rutinitas agamawi, dengan teori-teori atau doktrin-doktrin apapun juga, dengan pendidikan dan peraturan-peraturan apapun juga, bahkan penjara-penjara pun tidak mampu mengubah hati manusia. Hati manusia hanya dapat dibereskan oleh kuasa dan kemuliaan kerajaan sorga. Dan kerajaan sorga itu ada di dalam diri setiap orang.

Siapakah raja di dalam kerajaan sorga ini? Ketika Pilatus bertanya pada Yesus, “... Jadi Engkau adalah raja?" Jawab Yesus: "Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang kedalam dunia ini...". (Yohanes 18:37). Yesus adalah raja di dalam kerajaan sorga. Walaupun orang-orang Yahudi menolak-Nya, tetapi siapapun yang menerima-Nya, akan mengalami kuasa dan kemuliaan kerajaan sorga itu. Kuasa dan kemuliaan kerajaan sorga inilah yang akan menyelesaikan persoalan manusia. Datanglah kerajaan-Mu, Amin.

Blog penulis: Gema Sion Ministry

Kerja adalah Sebuah Kehormatan

Seorang pemuda yang sedang lapar pergi menuju restoran jalanan dan iapun menyantap makanan yang telah dipesan. Saat pemuda itu makan datanglah seorang anak kecil laki-laki menjajakan kue kepada pemuda tersebut, "Pak mau beli kue, Pak?" Dengan ramah pemuda yang sedang makan menjawab "Tidak, saya sedang makan". Anak kecil tersebut tidaklah berputus asa dengan tawaran pertama. Ia tawarkan lagi kue setelah pemuda itu selesai makan, pemuda tersebut menjawab: "Tidak dik saya sudah kenyang". Setelah pemuda itu membayar ke kasir dan beranjak pergi dari warung kaki lima, anak kecil penjaja kue tidak menyerah dengan usahanya yang sudah hampir seharian menjajakan kue buatan bunda. Mungkin anak kecil ini berpikir "Saya coba lagi tawarkan kue ini kepada bapak itu, siapa tahu kue ini dijadikan oleh-oleh buat orang di rumah". Ini adalah sebuah usaha yang gigih membantu ibunda untuk menyambung kehidupan yang serba pas-pasan ini.

Saat pemuda tadi beranjak pergi dari warung tersebut anak kecil penjaja kue menawarkan ketiga kali kue dagangan. "Pak mau beli kue saya?", pemuda yang ditawarkan jadi risih juga untuk menolak yang ketiga kalinya, kemudian ia keluarkan uang Rp 2000,- dari dompet dan ia berikan sebagai sedekah saja. "Dik ini uang saya kasih, kuenya nggak usah saya ambil, anggap saja ini sedekahan dari saya buat adik". Lalu uang yang diberikan pemuda itu ia ambil dan diberikan kepada pengemis yang sedang meminta-minta. Pemuda tadi jadi bingung, lho ini anak dikasih uang kok malah dikasihkan kepada orang lain. "Kenapa kamu berikan uang tersebut, kenapa tidak kamu ambil?. Anak kecil penjaja kue tersenyum lugu menjawab, "Saya sudah berjanji sama ibu di rumah,ingin menjualkan kue buatan ibu, bukan jadi pengemis, dan saya akan bangga pulang ke rumah bertemu ibu kalau kue buatan ibu terjual habis. Dan uang yang saya berikan kepada ibu hasil usaha kerja keras saya. Ibu saya tidak suka saya jadi pengemis".

Pemuda tadi jadi terkagum dengan kata-kata yang diucapkan anak kecil penjaja kue yang masih sangat kecil buat ukuran seorang anak yang sudah punya etos kerja bahwa "kerja itu adalah sebuah kehormatan", kalau dia tidak sukses bekerja menjajakan kue, ia berpikir kehormatan kerja di hadapan ibunya mempunyai nilai yang kurang. Suatu pantangan bagi ibunya,bila anaknya menjadi pengemis, ia ingin setiap ia pulang ke rumah melihat ibu tersenyum menyambut kedatangannya dan senyuman bunda yang tulus ia balas dengan kerja yang terbaik dan menghasilkan uang.

Kemudian pemuda tadi memborong semua kue yang dijajakan lelaki kecil, bukan karena ia kasihan, bukan karena ia lapar tapi karena prinsip yang dimiliki oleh anak kecil itu "kerja adalah sebuah kehormatan", ia akan mendapatkan uang kalau ia sudah bekerja dengan baik.

Makna yang bisa diambil :
Kerja bukanlah masalah uang semata, namun lebih mendalam mempunyai sesuatu arti bagi hidup kita. Kadang mata kita menjadi "hijau" melihat uang, sampai akhirnya melupakan apa arti pentingnya kebanggaan profesi yg kita miliki.

Bukan masalah tinggi rendah atau besar kecilnya suatu profesi, namun yang lebih penting adalah etos kerja, dalam arti penghargaan terhadap apa yang kita kerjakan. Sekecil apapun yang kita kerjakan, sejauh itu memberikan rasa bangga di dalam diri, maka itu akan memberikan arti besar.

"IN MATTERS OF PRINCIPLE STANDS LIKE A ROCK, IN MATTERS OF TASTE SWIM WITH THE CURRENT"

Keselamatan adalah Kuasa Allah

Oleh: Leonardi Setiono

Saya terkadang merenungkan, mengapa saya bisa menjadi seorang Kristen. Mengapa saya begitu yakin bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan menuju kepada Allah Bapa di Surga, jalan kepada keselamatan dan kehidupan kekal. Kadang saya merenung mengapa saya begitu bodoh menolak sesuatu yang menyenangkan, hanya karena Alkitab melarangnya, hanya karena saya percaya Allah tidak menyukainya. Mengapa saya mempercayai cerita tentang keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus?

Sampai hari ini saya tetap percaya.

Kebetulan kemarin saya dan istri bercakap-cakap dan sedikit menyingung tentang mengapa Allah menciptakan manusia dan diakhiri dengan tawa bersama, seraya mengakui bahwa kita ini orang-orang bodoh yang coba memahami Allah dengan logika dan hikmat manusia. Kita menjadi beriman bukan karena kita memahami logika tentang Allah, atau telah mencerna masuk akalnya penebusan Kristus. Tidak, kita memang orang-orang bodoh yang mendapat kasih karunia Allah untuk percaya kepada berita keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus (Efesus 2:8-9). Cobalah Anda membaca I Korintus 2:1-16, di sana kita akan melihat bahwa kita menjadi seorang yang beriman bukan karena telah mendengarkan presentasi yang luar biasa tentang teori keselamatan, tetapi karena kasih karunia Allah, karena ada kuasa Allah yang dinyatakan dalam hidup kita.

Sebab itu 1 Korintus 4:20 mengatakan, "Sebab Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa." Kita mendengar dan menerima kabar baik di dalam Kristus bukan karena perkataan, bukan juga karena logika manusia, bukan karena telaah ilmiah, tetapi karena kuasa Allah. Tuhan Yesus waktu di dunia dan menyampaikan kabar baik kepada orang Israel, bukan dengan kata-kata indah dan ilmiah, tetapi Alkitab menuliskan bahwa Ia menyampaikan dengan kuasa (Matius 7:29, Lukas 4:32, Markus 1:22,27). Demikian juga dengan kita. Kita menerima perintah untuk menyampaikan kabar baik tersebut bukan dengan kata-kata hikmat, tetapi dengan disertai kuasa Allah.

Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:18-20)

Bacalah juga dalam Lukas 24:49, jelas disebutkan bawah kita akan diperlengkapi dengan kuasa dari tempat yang tinggi untuk memberitakan kabar baik dan menjadi saksi Kristus. Juga dalam Kisah Para Rasul 1:8, bacalah dan Anda akan menemukan bahwa setelah kita menerima kuasa kita diutus untuk menjadi saksi Kristus ke seluruh dunia.

Berita tentang injil jika kita sampaikan dengan hikmat dunia, dengan logika, secara ilmiah, dan dengan kata-kata yang manis dan meyakinkan maka kita tidak akan melihat pertobatan, sebab mereka menjadi percaya bukan karena kata-kata kita, tetapi karena kuasa Allah. Bacalah Kisah Para Rasul, bagaimana injil mula-mula disebarkan mulai dari Yerusalem sampai ke seluruh dunia, semua dilakukan dengan kuasa Allah. Bahkan mereka berdoa memohon kuasa Allah sebelum mereka keluar dengan berani memberitakan kabar baik tersebut (Kisah Para Rasul 4:29:31). Setiap kesaksian, setiap berita, dan kabar baik tentang Kristus yang kita sampaikan, Allah berjanji akan meneguhkannya dengan kuasa-Nya (Ibrani 2:4, Markus 16:20).

Demikian juga dengan saya dan Anda, mengapa menjadi begitu bodoh mempercayai cerita tentang keselamatan, hanya dengan percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Sebab kita bukan mendengar kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi karena kita telah dijamah oleh kuasa tersebut.

Mulai hari ini, marilah kita menjadi saksi-saksi Kristus yang disertai dengan kuasa dari tempat yang tinggi (berdoalah untuk itu). Terkadang tanpa berkata-kata pun kita dapat membuat seseorang bertobat dan menerima Kristus. Saya melihat sendiri kuasa Allah yang berkerja pada dua orang teman saya, satu di SMA dan satu lagi waktu kuliah.

Injil harus diberitakan dengan kuasa Allah, bukan dengan kata-kata hikmat (apalagi debat, stop bagi mereka yang berdebat antar agama, kebenaran tidak ditemukan dalam debat agama).

Kesembuhan

Oleh: Ev. Sudiana

Kesembuhan bukan hanya kehendak Tuhan -- tapi janji-Nya
 
Setibanya di rumah Petrus, Yesuspun melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam. Maka dipegang-Nya tangan perempuan itu, lalu lenyaplah demamnya. Iapun bangunlah dan melayani Dia. Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: "Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita." (Matius 8:14-17)

Menerima Firman
Berdoalah agar Anda diberi pengertian tentang janji disembuhkan dari penyakit

Merenungkan Firman
Bagaimanakah Tuhan Yesus bisa kita seperti menyembuhkan ibu mertua Petrus 'iman'

Membagikan -- Melakukan Firman
Dampak dari kesembuhan yg akan kita alami "menjelang malam banyak orang di bawa kepada Tuhan Yesus dan disembuhkan" ada hal yg harus kita taruh dalam hati kita -- mau melayani Tuhan; mau bersaksi, memuliakan Tuhan, mengharapkan orang lain juga sembuh, menjadi berkat, menolong orang lain. Tuhan kan melihat ke dalam hati kita, inilah pengaruhnya. 

Penghalang terbesar mengapa banyak org Kristen tidak disembuhkan adalah karena mereka tidak yakin dan tidak tahu kehendak Tuhan tentang kesembuhan 'makanya harus rajin baca alkitab', dapat membuat kita menjadi ragu-ragu dalam memperoleh kesembuhan.

Kesembuhan adalah sebuah perjanjian bukan hanya kehendak Tuhan, Kel 23:25-26, ada sebuah pola perjanjian tentang kesembuhan. Di sini Tuhan berjanji untuk memberikan kesembuhan kepada kita apabila kita hidup beribadah kepadaNya. “Tetapi kamu harus beribadah kepada TUHAN, Tuhanmu; maka Ia akan memberkati roti makananmu dan air minumanmu dan Aku akan menjauhkan penyakit dari tengah-tengahmu. Tidak akan ada di negerimu perempuan yang keguguran atau mandul. Aku akan menggenapkan tahun umurmu, met sembuh -- met panjang umur. (Maz90)

JESUS LOVE U

Ketika "Nenek Gila" itu Meneteskan Air Mata

Penulis : Gurgur Manurung

Beberapa bulan yang lalu saya menjaga ibuku di salah satu rumah sakit swasta di Balige. Pada pukul 2 pagi, datang pasien baru di kamar tempat ibu saya dirawat. Pasien baru itu berumur 50 tahun dan diantar seorang anak kecil berumur 10 tahun dan duduk di kelas 4 Sekolah Dasar (SD). Sebelum pasien baru itu masuk, jumlah pasien di kamar itu 4 orang, setelah pasien baru masuk jumlahnya 5 orang dan semuanya perempuan dengan umur rata-rata 50 tahun.

Pasien baru itu hanya membawa tas kecil yang isinya sepasang baju, tanpa membawa persediaan tempat minum, selimut, sisir atau perlengkapan lainnya. Pada pukul 4 pagi dia menyanyikan lagu-lagu gereja dengan fasih tetapi fals. Tingkah lakunya itu mengusik pasien yang ada dikamar itu apalagi pasien yang dekat dengannya, kami agak jauh darinya. Sambil menyanyi, dia menggigil karena kedinginan dan memanggil-manggil nama Tuhan.

Melihat si pasien baru itu kedinginan, saya seorang yang masih sangat muda memberikan selimutku, walaupun ibuku tidak menyetujuinya dengan alasan supaya saya dapat merawat ibuku dengan baik, maklum udara Balige amat dingin saat itu. Ketika saya berikan selimutku, diapun memegang tanganku dan mencubit pipiku dengan gemas.

Pada pukul 5 pagi aku berdoa dan membaca Alkitab. Sampai pukul 5.30 setelah selesai aku berdoa semua pasien dan penjaga masih tertidur lelap. Aku melihat anak kecil yang membawa si nenek itu tidur meringkuk dilantai karena kedinginan. Saya sangat kasihan melihatnya dan akupun memberi baju hangatku yang masih kupakai, karena kupikir aku akan lari pagi yang nantinya akan hangat setelah berlari. Pada saat aku berlari, udara Balige teramat dingin dan akupun sempat menggigil karena dinginnya amat luar biasa. Ditengah jalan, aku minta dibuatkan air teh hangat di sebuah kantin.

Setelah aku pulang ke rumah sakit, para pasien, penjaga telah terbagun dan para mahasiswa perawat praktek sibuk membersihkan lantai. Aku duduk santai dipekarangan rumah sakit yang persis didepan kamar ibu saya dirawat. Si nenek itu menghampiri saya dan mengajakku bernyanyi lagu-lagu Gereja sambil tepuk tangan. Jujur saja, nenek itu jorok, bau dan rambutnya urakan, kakinya kotor dan kukunya panjang. Bapa Manurung (panggilan si nenek kepada saya), ayo kita menyanyi katanya. Hampir semua masyarakat yang melihat kami merasa jengkel. Anehnya, pasien yang dekat si nenek menuduh saya yang membuat semua itu terjadi. Manurung, semua itu karena kamu terlalu memanjakan sinenek gila itu, kata ibu itu. Ibuku menjadi marah padaku, karena ibuku menganggap aku batu sandungan.

Bagiku tidak masalah tudingan orang, pada dasarnya dimataku semua orang sama. Aku tidak lebih hormat kepada pejabat, pendeta, orang kaya atau siapapun jika dibandingkan rasa hormat dan sayangku terhadap orang gila, semua saudaraku dan ibuku tahu sifatku itu. Aku sering protes kepada Tuhan dan kukatakan, Tuhan, jika kamu sayang padaku, mengapa Engkau tidak sayang kepada orang gila itu?. Walaupun aku protes, dalam segala perilakuku aku harus hormat kepada keputusan Tuhan atas dunia ini.

Setelah tiga hari nenek itu diprotes oleh yang satu kamar dengan kami, akhirnya pihak rumah sakit memindahkannya ke ruangan khusus. Pada saat mau pergi ke ruang khusus, si nenek menanya, bapa Manurung, aku bawa selimutmu dan bajumu yang sangat bagus ini ya, katanya dengan penuh harap. Aku mengiyakan dengan rasa haru yang mendalam. Aku ikut mengantarnya sambil melipat selimut dan bajunya yang bau. Dalam hatiku, aku protes kepada perawat yang tidak membersihkan sinenek dengan baik. Perawat enggan merawat dengan alasan keluarganya saja tidak peduli dan banyak protes lagi katanya.

Setelah di ruang khusus, si nenek masih tetap berulah dan selalu keluar ruangan dan memanggilku kembali untuk menyanyikan lagu-lagu Gereja. Si nenek semakin bertingkah. Si nenek bilang, rumah sakit itu akan diajukan ke pengadilan karena tidak serius menanganinya. Makin hari si nenek makin suka berteriak dan membeberkan perilaku perawat terhadapanya selama di ruang khusus. Anehnya lagi, dia tidak mau diam jika bukan saya yang mendiamkanya dengan lembut dan tulus. Jika mau jujur, aku tulus memberi kasih sayang kepada nenek itu. Sementara perawat dan mahasiswa praktek itu sudah semakin jengkel melihat tingkah si nenek. Apalagi si nenek selalu teriak, bahwa dia akan mengajukan perilaku para perawat itu ke direktur rumah sakit.

Saya selalu berusaha menyadarkan para perawat dan mahasiswa praktek itu tidak perlu menanggapi teriakan si nenek. Kelihatan sekali mahasiswa akademi perawat itu mau menurutiku karena direktur mereka di kampus adalah sahabat karib saya pada waktu mahasiswa dulu. Saya agak ragu melihat ketulusan di hati mereka untuk merawat si nenek itu. Apalagi sudah 5 hari di rumah sakit, tak seorangpun keluarganya menjenguk. Pihak rumah sakitpun mulai curiga, bagaimana dan siapa yang menanggung biaya rumah sakit.

Melihat keadaan itu, pada hari ke enam aku mulai menanyakan anak kecil yang kelas 4 SD itu tentang perihal tempat tinggal dan latar belakang mereka. Ternyata mereka berasal dari desa Muara Kabupaten Tapanuli Utara (TAPUT). Menurut anak kecil itu, si nenek memiliki banyak pohon mangga, anak perempuanya masuk saksi Yehuva dan sedang sakit tumor ganas dan tergeletak di rumah, menantunya 3 bulan yang lalu meninggal bunuh diri karena ditinggal suaminya pergi ke Tanjung Pinang propinsi Riau. Aku sangat kaget mendengar cerita anak kecil itu. Setelah anak kecil itu bercerita, dia minta saya untuk mengantarnya ke pelabuhan danau Toba karena hari pekan di Balige, jadi masyarakat Muara datang ke Balige. Anak kecil itupun permisi kepada sinenek dan si nenek berpesan agar anak kecil itu menitipkan mangga kepada saya.

Ketika kami tiba di pelabuhan danau toba, masyarakat Muara yang hadir disitu menanyakan dengan siapa anak kecil itu berada di situ dan kaum bapak sangat curiga dengan keberadaan saya. Anak kecil itu menceritakan semuanya dan seorang perempuan separuh baya menanyakan siapa yang bertanggung jawab tentang hal biaya pengobatan kepada saya. Kebingungan menghantui pikiranku dan semakin tidak mengerti tentang keadaan yang sebenarnya. Anehnya, mereka sangat marah kepadaku dan akupun hanya berserah kepada Tuhan.

Saya menjelaskan keberadaanku dan meminta salah satu dari keluarga terdekat untuk membicarakan semuanya dengan pihak rumah sakit. Tetapi diantara mereka tidak ada yang mengaku keluarga dekat. Kapal sudah mulai berbunyi menandakan kapal menuju Muara akan segera berangkat. Tulang (panggilan anak kecil itu kepadaku) aku mau pulang supaya aku bisa sekolah besok. Saya melihat kesedihan di wajah anak kecil itu, akupun memeluknya dan mengatakan supaya rajin belajar. Aku melambaikan tanganku ke anak kecil itu sambil berdoa " Tuhan, pakailah anak itu menjadi berkat". Aku sangat sayang kepda anak kecil itu.

Pada hari ke 10, seorang perempuan separuh baya secara sembunyi-sembunyi mendekati nenek itu. Dia sangat terkejut ketika melihat aku tiba-tiba masuk kekamar si nenek. Mungkin pikirannya saya adalah pihak rumah sakit. Saya menerka bahwa perempuan separuh baya itu keluarganya yang ketakutan jika membicarakan biaya rumah sakit. Dengan lembut aku meminta supaya perempuan itu mau menemaniku untuk membicarakanya dengan pihak rumah sakit. Apalagi rumah sakit itu adalah milik intitusi Gereja Besar di Balige. Setelah pembicaraan yang amat panjang, perempuan itu bersedia membayar 25% dari keseluruhan biaya dan pihak rumah sakit milik yayasan Gereja itupun menyetujuinya.

Sebelum mereka akan pulang, aku meminta supaya kami berdoa dulu. Setelah berdoa aku mengantarkan mereka ke pintu rumah sakit dan nenek itu menanyakan bagaimana dengan selimut dan bajumu bapa Manurung?. Aku mengatakan, dengan ketulusan hatiku, bawalah dan buatlah itu sebagai kenangan yang indah. Nenek itu memmelukku dan meneteskan air matanya. Selamat jalan nek.

Saya menghampiri ibuku yang sakitnya 70% sembuh. Dia mengatakan, apanya kerjamu di Jakarta, pantaslah kamu anak perantau yang paling miskin. Padahal sekolahmu jauh lebih tinggi dibandingkan anak-anak di kampung kita. Aku menjawab dengan lembut, bukankah segala-galanya kutinggalkan demi merawat mama?. Bukankah banyak orang lebih mementingkan uang dari merawat ibunya?, Bukankah orang membagun kuburan yang mahal, padahal semasa hidupnya diabaikan?. Coba anak mama, tidak peduli segalanya demi merawat mama. Ibukupun memelukku dan menangis. Aku berkata dengan penuh kasih sayang, mama, mulai saat ini serahkanlah hidupmu sepenuhnya kepada Tuhan, sebab mama kemarin Haemoglobin (Hb) Cuma 2, Sekarang sudah sehat. Terpujilah nama Tuhan.

Gurgur Manurung adalah pemerhati sosial tinggal di Bogor.

Ketika Bencana Menimpa

Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu. -- Mazmur 119:71

Ketika musibah gempa dan tsunami terjadi akhir tahun lalu, Tuhan mendadak muncul di mana-mana, di tempat-tempat yang tidak biasanya. Ia disebut-sebut dalam lagu, dalam puisi, dalam email di milis, dalam perbincangan antartetangga. Artikel-artikel opini di koran umum yang biasanya tabu menyinggung-nyinggung soal Tuhan, kini secara khusus mengusung wacana ketuhanan di tengah penderitaan. Ada yang bernada membela Tuhan, tidak kurang pula yang mempersalahkan Tuhan.

Di sini saya tidak hendak membela suatu pandangan teologis. Saya hanya ingin mengamati sebuah kecenderungan yang tampaknya universal. Kenapa ketika terjadi bencana mahadahsyat, kita baru berpaling pada Tuhan? Kenapa baru setelah ilmu pengetahuan, teknologi dan nalar manusia gagal menyodorkan penjelasan memuaskan, kita lalu teringat untuk melibatkan Tuhan?

Kita bisa menariknya ke dalam skala yang lebih kecil, ke dalam kehidupan kita sehari-hari. Sewaktu keadaan berjalan mulus dan baik-baik saja, seberapa sering kita mengingat Tuhan? Pernahkah kita berpikir: Kenapa keberuntungan ini menimpa saya? Baru saat persoalan pelik terjadi, benak kita dipenuhi tanda tanya: Kenapa ini terjadi? Mengapa menimpa aku? Di mana Tuhan saat aku menderita? Adakah Ia peduli?

Penderitaan, seperti dikatakan Daud, adalah kesempatan baik untuk lebih mengenal jalan-jalan Tuhan. Namun, kalau kita tidak belajar untuk mengenal Dia pada saat kesenangan, kita cenderung akan kehilangan jejak-Nya pada saat penderitaan.

Sumber: Renungan Malam, April 2005

Ketika Hal Baik Terjadi Pada Orang Jahat

Oleh:Imelda Seloadji

Renungan: Mazmur 73

Mungkin beberapa dari kita pernah membaca buku karangan seorang rabbi Yahudi yang cukup populer, Harold Kushner, "When Bad Things Happen to Good People". Dari judulnya saja kita bisa memperkirakan isinya: buku ini bermaksud membantu orang untuk memahami mengapa hal-hal yang buruk atau negatif terjadi dalam hidupnya, sementara ia merasa dirinya tidak pernah melakukan kejahatan apapun. Saya rasa sudah banyak tulisan dan kotbah yang membantu menguatkan orang-orang yang mengalami musibah maupun tekanan, mencoba menjelaskan mengapa penderitaan tetap harus dialami oleh "orang baik", itulah sebabnya judul ini saya angkat, karena ini adalah sebuah tema pergumulan hidup yang lain, yaitu: bagaimana jika hal baik terjadi pada orang jahat?

Banyak orang mungkin bertanya, mengapa masih banyak koruptor yang hidup enak? Mereka bahkan bisa melakukan ibadah keagamaan tanpa rasa bersalah. Mengapa para pengusaha yang melakukan kecurangan bisnis sepertinya menikmati segalanya, dan bisa tetap rajin beribadah sesuai keyakinan mereka masing-masing, bahkan terlihat begitu saleh di depan banyak orang. Kita persempit lagi contohnya. Di sekitar kita, mungkin ada tetangga yang suka gosip, tapi hidupnya nyaman. Di kantor, ada orang yang sebenarnya tidak punya kemampuan, tidak bijaksana, tidak menjadi teladan karena suka datang terlambat padahal rumah dekat, pandai memainkan jurus kodok (jilat atas, injak bawah, sepak kiri-kanan) tapi mendapatkan promosi untuk menduduki jabatan yang tinggi. Sementara kita melihat orang yang idealis, berpegang pada nilai dan prinsip, karirnya tidak secepat para "kodok" tersebut dan mungkin bahkan dizalimi oleh mereka.

Tema tulisan ini adalah sebuah pengakuan jujur akan suatu hal yang seharusnya tidak boleh ada di hati kita: sikap iri hati. "Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir. Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik. Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka; mereka tidak mengalami kesusahan manusia, dan mereka tidak kena tulah seperti orang lain...(Mazmur 73:2-5)" Dalam benak kita sudah terpola suatu konsep yaitu bahwa orang baik seharusnya bernasib baik dan orang jahat bernasib buruk. Maka jika kemalangan menimpa orang-orang yang kita pandang baik kita akan sangat bersimpati dan jika menimpa pada orang jahat, kita akan berkata, "sudah karmanya", atau "menuai apa yang dia tabur.". Nah, ketika ternyata keberuntungan dialami orang yang jahat, "rasa keadilan" kita mulai terganggu.

Apakah Anda mengalaminya? Saya mengalaminya dan karena itulah saya ingin berbagi. Mazmur 73 menunjukkan bagaimana Asaf dengan jujur juga mengemukakan isi hatinya, dengan kesadaran bahwa nyaris ia tergelincir, yaitu jatuh ke dalam dosa iri hati, akibat rasa tidak terima melihat orang jahat menikmati kebahagiaan, dan Allah sepertinya tidak bertindak apa-apa. Kita marah, sakit hati, dan orang yang membuat kita kepahitan toh tenang-tenang saja dan kita rugi sendiri. Mazmur 73 yang luar biasa memberitahukan kepada kita bahwa Tuhan tahu isi hati kita, Tuhan juga tahu bagaimana kita terluka dengan semua ketidakadilan yang kita alami. Lalu bagaimana kita bisa pulih? Mazmur 73 memberikan jawabannya:

"Ketika hatiku merasa pahit dan buah pinggangku menusuk-nusuk rasanya, aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu. Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku. Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan. Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya. (Mazmur 73: 21-26)

Dengan selalu tinggal di hadirat Tuhan, kita akan sadar bahwa di luar sana semua kesia-siaan. Ingatlah bahwa kebahagiaan orang fasik semu. Memang dengan kemampuan sendiri kita tidak bisa menghibur diri. Kita perlu Roh Kudus untuk menuntun kita sampai kita bisa melihat segala sesuatu dengan kaca mata Tuhan. Nah ketika cara pandang kita berubah, kita akan bisa menjadi pribadi yang bahagia dan bersyukur. Makin kita masuk ke hadirat Tuhan, makin kita hidup dalam pimpinan Roh, makin dunia tidak lagi menjadi fokus kita (Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan). Ijinkan Allah memproses kita untuk membawa kita ke tingkat kerohanian yang selanjutnya. Maka, dalam kondisi emosi seperti apapun, jangan Anda merasa terdakwa, tetapi apapun suasana hati Anda tetap datang kepada Tuhan, tetap setia membaca Firman dan berdoa. Jujurlah dengan keadaan kita tetapi jangan bersembunyi seperti Adam setelah berbuat dosa, karena bukan kebaikan yang melayakkan kita datang ke hadirat-Nya tetapi melalui darah Anak Domba.

Makin kita mengenal kemuliaan Allah, dunia makin tidak bermakna. Ketika obsesi kita tidak lagi pada jabatan, kekayaan dan sebagainya, kita bisa berseru, "Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya." Kita akan sadar, tanpa memiliki Allah di dalam hidup mereka, orang-orang fasik meski nampaknya memiliki seluruh dunia tidak akan pernah merasakan kebahagiaan dan kedamaian yang sesungguhnya. Tidak ada yang lebih mahal selain memiliki dan dimiliki oleh Allah, dan bukankah hal itu adalah hak istimewa mereka yang telah ditebus oleh Kristus?

Kisah Dua Orang Raja

Kali ini kita akan mencoba membandingkan kedua raja itu: baik karakternya maupun tujuan hidupnya! Lalu kita akan mengambil keputusan: raja mana yang akan kita ikuti?

HERODES AGUNG

Raja Herodes yang memerintah sewaktu Yesus lahir adalah Herodes Agung. Berikut ini resume dari hidup Herodes Agung:

(a) Ia memerintah sekitar tahun 74 Sebelum Masehi sampai 4 Masehi
(b) Ia anak dari Herodes Antipater dan Kupros (seorang wanita keturunan Arab)
(c) Ia adalah bangsa Idumea (yang merupakan keturunan Edom)
(d) Ia menjadi raja ketika orang Persia menguasai Yerusalem
(e) Semasa memerintah ia membangun kembali Bait Allah diYerusalem untuk mengambil hati orang Yahudi
(f) Ia menganut paham Pluralis -- semua agama sama saja
(g) Secara kejiwaan, ia adalah orang yang sangat tidak aman (ia nantinya memerintahkan agar bayi berusia dibawah 2 tahun dibunuh, hanya takut akan raja yang baru lahir)
(h) Ia bahkan membunuh beberapa saudaranya yang mengancam tahtanya
(i) Saking kejamnya Herodes sampai-sampai Kaisar Agustus menyindirnya :” Lebih baik menjadi babinya Herodes daripada jadi anaknya!”
(j) Setelah mati kerajaannya dibagi menjadi 4 -- untuk anak-anaknya yang berjumlah 4 orang.

YESUS KRISTUS

Yesus Kristus adalah sang Raja Mesias yang dijanjikan Allah untuk manusia. Inilah resume hidupnya:

(a) Ia telah menjadi raja bahkan sebelum kelahirannya ke dunia (karena Ia adalah raja atas alam semesta ini).
(b) Tapi Ia menyerahkan tahtanya dan berinkarnasi menjadi seperti kita
(c) Ia lahir dari ke dua orang tua yang sederhana (orang desa biasa)
(d) Tempat tidur pertamanya adalah sebuah palungan (tempat makan ternak)
(e) Yang pertama kali menyapanya adalah para gembala dan ternaknya
(f) Sebelum berusia dua tahun ia harus melarikan diri karena terancam dibunuh
(g) Oleh para pemimpn agama Yahudi ia dituduh sebagai penipu, orang yang dirasuk setan dan gila
(h) Ia dicari para pemimpin agama Yahudi untuk dibunuh
(i) Akhirnya Ia memberikan nyawanya di atas kayu salib untuk keselamatan kita
(j) Kerajaan-Nya kekal, tidak pernah berakhir

Nah, kalau disuruh memilih dari 2 raja itu mana yang kita akan ikuti, kita tentu memilih Yesus Kristus, raja diatas segala raja. Kenapa kita memilih Yesus. Karena ada 3 hal besar yang dilakukan Yesus Kristus untuk kita!

3 Hal Besar yang Dilakukan Yesus untuk Kita

1. Cradle= Bayi kecil -- Ia menjadi manusia sama seperti kita -- (Filipi 2:6-7)

Dalam sejarah dunia tidak ada Allah manapun yang ”berani” dan rela menjadi sama dengan manusia yang ingin diselamatkannya. Tapi Yesus berani melakukannya!

Ini menunjukkan empati Yesus yang dalam kepada manusia berdosa. Karena ia pernah menjadi manusia maka Ia bisa merasakan semua kepedihan hidup, hanya Dia tidak menjadi berdosa.

a) Ia pernah merasakan sakitnya dikhianati -- oleh Petrus
b) Ia pernah merasakan sakitnya dipaku dan dicambuk tentara Roma -- ketika di salib
c) Ia merasakan perihnya diolok dan dihina -- ketika dalam perjalanan menuju salib
d) Ia pernah merasakan lapar seperti kita -- setelah habis berpuasa di padang gurun dsb.

Nah, karena Dia sudah pernah merasakan semua perasaan manusiawi kita yang terburuk, maka Ia bisa menolong kita dalam keadaan kita yang paling buruk sekalipun.

Anda yang hari ini merasa dikhianati, sakit, menderita, kelaparan – Anda boleh datang kepadaNya. Dia akan menolong Anda. Karena Dia adalah juru selamat yang penuh empati!

2. Cross= Salib -- Ia memberikan hidupnya untuk kita di kayu salib (Efesus 2:15-16)

Salib adalah lambang pengorbanan paling dahsyat yang dilakukan oleh Kristus. Disalib adalah cara mati yang paling hina. Bagi orang Romawi hanya penjahat besar, para budak dan pembunuh kelas kakap yang dihukum salib!

Ia yang tidak berdosa bersedia menjadi dosa agar bisa menanggung beban dosa kita lewat kematiannya di atas kayu salib. Semua itu Ia lakukan semata-mata demi cinta-Nya yang besar kepada kita!

Dalam kekristenan salib menjadi lambang beberapa hal :

(a) Penderitaan, kesakitan dan beban berat (Matius 10:38 dan Matius 16:24). Anda yang merasa berbeban berat dan menderita, peganglah salib Kristus agar memperoleh kelepasan.
(b) Dalam Tulisan Paulus salib adalah lambang penebusan (1 Korintus 1:18; Galatia 6:14; Filipi 3:18). Anda yang berbeban berat dengan dosa, datanglah pada salib Kristus, maka Anda akan memperoleh pengampunan!
(c) Salib juga merupakan lambang pengudusan (Galatia 5:24). Kita menjadi kudus kalau kita beriman pada ”sosok” yang mati di atas kayu salib itu!

3. Crown= mahkota -- Ia akan memberi kita mahkota (Wahyu 2:10)

Bagi kita yang setia mengikut Dia sampai akhir hidup kita akan diberi mahkota oleh-Nya. Mahkota itu merupakan lambang dari 2 hal:

(a) Pemerintahan/kekuasaan. Raja pada masa lalu selalu mengenakan mahkota pada saat pelantikannya.
(b) Hadiah dari sebuah perlombaan. Juara Olympiade Yunani kuno dimahkotai dengan daun Zaitun.

Kita yang percaya kepadaNya sampai akhir akan memperoleh mahkota agar bisa memerintah bersama Dia dan memperoleh hadiah hidup kekal dari-Nya.

 

Sungguh, Dia raja yang layak kita sembah sujudi dan ikuti!

Kesimpulannya: Natal adalah berita tentang kelahiran raja segala raja yang rela menjadi hina seperti kita manusia agar kita bisa memperoleh kemuliaan seperti diri-Nya! Ia layak kita ikuti di sepanjang hidup kita!

Kisah George

Oleh: PD Immanuel

Aku dilahirkan dengan sifat mirip dengan papaku. Papaku, orangnya sangat keras tapi berhati lembut. Diam-diam aku mulai membandingkan sifat-sifatku dengannya. Dia orangnya cepat marah dan kalau marah dia bisa diam seribu bahasa. Jika ada orang yang menghinanya atau menyinggung perasaannya tak segan dia pasti membalasnya dengan lebih kasar dengan apa yang diperbuat orang tersebut. Jika dia sudah berlaku baik terhadap sahabatnya, dan sahabatnya itu berlaku sebaliknya tidak segan-segan orang tersebut di musuhinya alias kita tidak bisa bersahabat lagi. Sifat itu persis sama dengan yang aku punya. Mungkinkah itu genetic namanya? Atau apalah namanya, aku pikir kesamaan kelemahan itulah yang membuat aku merasa menjadi kembaran papaku.

Tidak gampang mengakui kelemahan itu pikirku. Aku sudah terbentuk seperti ini di dalam keluargaku. Karakterku tidak bisa berubah begitu saja. Dan aku tidak pernah merugikan orang lain pikirku. Jika ada orang yang baik kepadaku, aku pasti baik tapi jika orang berbuat jahat kepadaku, aku tidak perduli dan mau tahu tentang orang tersebut. Istilahnya dalam kamusku mengampuni adalah kata langka dalam kamus hidupku.Satu kali aku membaca sebuah artikel yang sangat menyentuh hatiku dan membuatku berubah.

Pada suatu hari, hari itu begitu cerah sebab george, 15 thn diajak mamanya pergi ke stasiun untuk menjemput pamannya yang baru tiba dari Los Angeles. George dengan senang hati memakai bajunya yang terbaik, tidak lupa dia menyemir sepatunya supaya mengkilat. Paman John, selalu membawa buku kesukaan George. Itu yang di tunggu-tunggu oleh George. Setelah mereka siap mamanya mulai menyetir mobil butut mereka dan berkata George sesampainya di stasiun bisakah kamu menunggu di ruang tunggu dan jangan jauh-jauh dari tempat itu. Karena mama sering melihat anak-anak sebayamu suka berkelahi antar gang di stasiun. Jadi hati-hatilah.

George tahu mamanya sangat kuatir karena memang akhir-akhir ini di televisi diberitakan bahwa ada perkelahian antar gang. Gang orang putih dan gang orang hitam. George sendiri tidak tahu pasti apa pokok masalah gang-gang itu sehingga mereka sering berkelahi. Tapi yang pasti George berdoa kepada Tuhan karena dia percaya Tuhan selalu menjaganya kemanapun dia dan mamanya pergi. Sejak papanya meninggal mamanya selalu pergi bersamanya. Walaupun mamanya Cuma seorang perawat di sebuah rumah sakit yang tidak terlalu terkenal tapi George merasa keluarga mereka selalu bahagia. George punya suatu keinginan jika dia sudah lulus dari universitas dan mendapat pekerjaan dengan gaji yang baik, dia akan membelikan mamanya rumah. Karena sekarang mereka hanya tinggal di sebuah apartemen kecil.

George, George, kita sudah sampai panggil mamanya membuyarkan lamunannya tentang masa depan. Mereka bergegas masuk ke stasiun. Orang-orang sudah mulai berdatangan untuk menjemput sanak-saudara mereka. Kurang 20 menit lagi kereta yang ditumpangi pamannya akan tiba. Mamanya tiba-tiba menitipkan tas tangan berwarna hitam kepada George, sambil berkata George mama mau ke toilet sebentar. Bisakah kamu duduk disini sampai mama kembali? George mengganggukan kepalanya tanda mengiyakan karena di dalam kepalanya dia masih penasaran serta menerka-nerka buku apakah gerangan yang akan dia dapatkan dari paman John.

Di toilet, Ross mengucap syukur kepada Tuhan, karena ada George permata hatinya.George adalah penghiburannya. Ross mencuci tangannya sambil tersenyum memandangi dirinya di depan cermin. Rambutnya sudah ada ubannya. Walaupun kulitmu hitam tapi senyummu manis. Itu kalimat yang sering diucapkan oleh papanya George. Jika Ross melihat wajah George dia selalu teringat akan almarhum, Mark. Mmm, Mark meninggal saat George berumur 8 thn. Mark ditembak oleh orang yang tidak dikenal. Sampai sekarang si penembak belum tertangkap. Ross tidak mau mengingat hal itu lagi karena dengan mengingat kejadian itu lagi berarti dia tidak mengampuni orang yang telah menembak Mark suaminya.

Ross bergegas keluar dari toilet dan menuju tempat dimana George duduk. Sampai di tempat ruang tunggu, tidak didapatinya george. Kemana George, pikirnya sudah diperingatkan jangan kemana-mana masih saja anak itu tidak mendengarkan nasehatnya. Tak berapa jauh dari tempatnya berdiri, Ross melihat ada anak-anak seusia George kira-kira 5 orang sedang di borgol polisi. Mereka adalah anak-anak kulit putih, astaga ditangan mereka ada yang membawa senjata laras panjang serta pistol betulan. Tiba-tiba Ross mulai pusing melihat begitu banyak kerumunan orang. Dan tiba-tiba dia melihat ada ambulance datang, dan ada sebuah tandu diturunkan, dan orang yang terbaring di atas tandu tersebut? Sepertinya ada orang yang mengalami kecelakaan pikirnya. Ross tidak jelas mengenalnya karena semakin banyak orang yang ada di sekitar tempat itu untuk melihat kejadian tersebut dari jarak dekat. Ross berlari kearah kerumunan orang-orang, dia berpikir pasti George ada di sekitar kerumunan orang-orang itu.Waktu dia mendekat jaraknya hanya 25 meter, Ross bisa melihat dengan jelas diatas tandu tersebut George, anak satu-satunya, terbujur kaku bermandikan darah. Yang diingatnya hanya dia pingsan setelah itu.

Tiba-tiba Ross terbangun di sebuah ruangan yang semuanya berwarna putih yang dia tahu pasti tempat ini adalah rumah sakit. Ada seorang polisi perempuan mendekatinya dan mengulurkan segelas air putih kepadanya. Hi, saya Maria, dia memperkenalkan dirinya. George,George bisik Ross dengan pelan kepada polisi tersebut. Dia menggenggam tangan Ross dengan lembut sambil mengatakan Maafkan aku anak ibu tidak bisa diselamatkan lagi. Dia mendapat 3 tembakan. Waktu kami bawa ke rumah sakit, dia masih sadar tapi setelah itu dia meninggal karena kehabisan darah. Ross tidak bisa berkata apa-apa lagi selain air matanya yang terus mengalir. Dalam diam Ross hanya berdoa meminta kekuatan kepada Tuhan. Ross harus belajar menerima kenyataan pahit. Ya, sangat Pahit suami dan anaknya meninggal dengan cara yang sama yaitu dengan di tembak. Polisi mengindifikasi bahwa gang anak putihlah yang telah menembak George. Anak-anak tersebut mengira George adalah musuhnya karena George berkulit hitam.

Satu bulan kemudian Ross diperkenankan bertemu dengan anak-anak yang telah menembak George dan setelah itu dia mengadakan press conference. Bapak-ibu sekalian saya berdiri disini sebagai seorang ibu yang sangat mengasihi anak saya satu-satunya. Saya mendedikasikan hidup saya untuk anak saya. Berat ketika saya tahu dia telah pergi meninggalkan saya untuk selama-lamanya. Tapi di tempat saya berdiri, saya mau tegaskan, jangan ada lagi pertumpahan darah. Kehilangan orang yang paling kita kasihi itu sangat menyakitkan. Kepada orang yang telah menembak George dan semua keluarganya saya mau mengatakan bahwa saya tidak memiliki dendam sedikitpun. Saya telah mengampuni mereka. Seperti Yesus telah mengampuni dosa-dosa saya, demikian juga saya telah mengampuni kalian. Ross merelakan kematian George karena dia tahu George sudah ada di tempat yang nyaman bersama Bapa di Surga.

Kisah diatas mengubah cara berpikirku seratus persen tentang hal mengampuni. Jika ada orang yang berbuat jahat kepada kita, tetaplah mengasihi mereka. Karena kasih Allah tidak terbatas.

Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.(Matius 6:14-15) (Mazmur 8)

  1. Mengapa Tuhan menciptakan manusia ?
    • Untuk menyaksikan kemuliaan-Nya
    • Untuk menjadi saksi antara Allah dan Iblis (1 Korintus 6 : 3)
    • Untuk menjadi objek kasih-Nya
    • Untuk memelihara dan menguasai alam ciptaan Tuhan (Kejadian 2 : 15)
  2. Bagaimanakah cara Tuhan menciptakan manusia ? Tuhan menciptakan manusia dari tanah liat dan menghembuskan nafas hidup ke dalam mulutnya. Demikianlah Tuhan menciptakan laki-laki (Adam). Namun manusia itu tidak mempunyai kawan yang sepadan dengannya dan Tuhan mengambil tulang rusuknya dan menciptakan seorang wanita sebagai istrinya.
  3. Terdiri dari unsur apakah manusia ? Manusia terdiri dari tubuh, jiwa dan roh
  4. Adam dan Hawa yang berbuat dosa, tapi mengapakah seluruh umat manusia yang menanggung dosanya ?
    • Sanksi dan hukum dosa sudah diberitahukan sebelum manusia jatuh ke dalam dosa. (Kejadian 2 : 16-17)
  5. Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa mereka sebelum mereka mempunyai keturunan. Sebab itu seluruh keberadaan manusia yang ada di dalam Adam itu turut jatuh ke dalam dosa.
  6. Apakah arti berdosa itu ?
    • Tidak mencapai sasaran yang Tuhan inginkan.
    • Tidak sempurna.
    • Tidak mau mengenal Allah dengan benar (Roma 1 : 32)
    • Pelanggaran terhadap perintah atau hukum Allah
  7. Apakah akibat dosa yg telah diperbuat oleh Adam dan Hawa ?
    • Manusia kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3 : 23)
    • Adam harus bekerja keras untuk mendapatkan rejekinya (Kejadian 3 : 17)
    • Manusia diusir dari hadapan Allah (Kejadian 3 : 23)
    • Manusia mengalami kemunduran fisik (Kejadian 3 : 16-19)
  8. Apakah yang menjadi standar hukum bagi umat manusia ?
    • Hukum Taurat (Kejadian 20 : 1-17)
    • Hati nurani manusia (Roma 2 : 12-16)
    • Hukum Kasih (Matius 22 : 37-40)
  9. Apakah yang dimaksud dengan dosa asal dan siapa sajakah yang tidak berdosa asal ? Status berdosa dimiliki oleh semua manusia sebagai sanksi dan hukum dosa. Hanya satu yang tidak berdosa asal yaitu Yesus, karena Dia adalah Allah yang telah menjelma menjadi manusia.
  10. Apakah sifat dari dosa itu ?
    • Membuat manusia berani melawan Allah
    • Universal, tidak pandang bulu, siapapun bisa berbuat dosa
  11. Dapatkah manusia melepaskan diri dari dosa ? Dosa adalah pelanggaran terhadap sanksi dan hukuman/perintah Tuhan. Manusia hanya mampu mengekang diri supaya tidak terlalu banyak melakukan perbuatan dosa, namun usaha untuk mengurangi dosa yang sudah diperbuat adalah sia-sia. Tidak ada seorangpun yang berkurang jumlah dosanya.

Kompas Hidup (Ibrani 12:2)

Oleh: Suardin Gaurifa

"Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan..."

Pernahkah saudara bertanya, mengapa kapal yang berlayar di kegelapan pun bisa sampai ke tujuannya dengan tepat? Mengapa pesawat yang apabila sudah mengudara hingga melampaui awan-awan dan daratan tak kelihatan setitik pun dapat sampai ke kota yang dituju dengan tepat? Itu bukan karena ada kacamata yang tembus pAndang hingga kiloan meter, atau ada malaikat pengawal perjalananya. Tetapi hanya oleh karena satu alat yang tidak terlalu besar yang namanya kompas dan radar bagi pesawat. Tanpa kompas dalam sebuah kapal sama dengan kegelapan yang paling gelap, sebab akan terombang-ambing oleh gelombang tanpa arah yang jelas dan tanpa radar bagi sebuah pesawat sama dengan kesesatan.

Setiap manusia yang lahir di dunia ini bukan karena kebetulan. Ada tujuan dibalik kehadirannya di permukaan bumi ini. Allah punya tujuan yang unik dan khusus bagi setiap kita dan tujuan itu adalah untuk mempermuliakan Dia, Yesaya menulis demikian “Semua orang yang disebutkan dalam nama-Ku yang kuciptakan untuk kemuliaan-Ku yang ku bentuk dan juga kujadikan.”(Yes. 43:7).

Namun hidup dalam memuliakan Tuhan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Berbagai tantangan awan dan kegelapan kehidupan menguji kesetiaan kita untuk tetap ada dalam koridor yang benar sesuai keinginan Tuhan. Tetapi jangan pernah putus asa dan mundur dari perlombaan hidup yang sedang dijalani sebab Yesus sudah memberi teladan yang baik dengan kesetiaan-Nya menjalani penderitaan sampai akhir tujuan kedatangan-Nya ke dunia ini. Jadikan Kristus sebagai kompas hidupmu supaya sampai pada tujuan yang Allah kehendaki dalam hidupmu. Biar badai kesulitan, amukkan penderitaan, medan persoalan, hujan krisis, terpaan penyakit, silih berganti jangan pernah berpaling tetapi tetap melangkah sesuai kompas hidup kita, jalani dengan mata yang tertuju kepada Yesus.

Konsekuensi Sebuah Pilihan

Oleh: Leonard Bengs

Ulangan 30:19-20 "Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini:kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihanlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka"

Siapapun orangnya, jika diperhadapkan dengan pilihan seperti diatas, pasti akan memilih kehidupan bukan kematian dan memilih berkat dari pada kutuk. Namun kita harus tahu jika kita memilih kehidupan dan berkat, maka ada hal-hal yang harus kita lakukan, yaitu :

  1. Mengasihi Tuhan Allah (termasuk menyenangkan hati-Nya)
  2. Mendengarkan suara-Nya (termasuk melakukan firman-Nya)
  3. Berpaut pada Tuhan (selalu rindu untuk selalu bersama Tuhan)

Bila kita melakukan hal-hal di atas, maka Tuhan sendiri yang akan memberikan tanah perjanjian dan umur yang panjang kepada kita.

Kontraktor

Oleh: Herwin

Bagaimana perasaan kita jika kita baru saja kita memasuki rumah yang baru direnovasi, akan tetapi ternyata banyak yang retak-retak dan rusak? Apakah kita akan memanggil kontraktor yang merenovasi rumah kita tersebut, ataukah kita akan mencari saja kontraktor yang lain untuk memperbaiki rumah kita? Tentu kita akan mengambil opsi yang pertama, bukan? Kita akan memanggil kontraktor yang telah merenovasi rumah kita dan meminta pertanggungjawabannya atas kerusakan rumah yang baru direnovasinya itu. Apakah pola berpikir seperti ini masuk akal bagi kita? Apakah kita sendiri mau bila diminta untuk mempertanggungjawabkan sesuatu yang bukan kita perbuat?

Hal yang sama telah dilakukan oleh Allah. Pada waktu umat manusia jatuh dalam dosa, Allah mengutus Yesus Kristus untuk mengatasinya. Mengapa bukan malaikat-malaikat yang lain? Ada beberapa alasan yang masuk akal dalam hal ini.

Pertama: Karena Yesus Kristus yang telah membentuk kita. Marilah kita lihat buktinya berdasarkan ayat-ayat dari Alkitab.

Kolose 1:16 berkata, "karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia."

Siapa yang dimaksudkan oleh ayat ini? Kalau kita perhatikan konteksnya di ayat 13, jelas ini menunjuk kepada Kristus. Jadi, rupanya melalui Kristuslah segala sesuatunya telah diciptakan.

Apakah ada dasar alkitabiah yang menunjukkan bahwa dalam hal penciptaan Allah tidak melakukannya sendiri?

Kejadian 1: 26, Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi"

Mengapa ayat ini menggunakan kata ganti "Kita"? Bukankah kalau Allah sedang berbicara kepada diri-Nya sendiri, maka kata gantinya tentu "Aku"? Bukankah kata ganti "Kita" menunjukkan Allah sedang mengajak pribadi yang lain untuk memulai penciptaan manusia? Kalau demikian, siapa yang diajak oleh Allah?

Dalam terjemahan Alkitab Dunia Baru di Amsal 8:30 Yesus digambarkan sebagai pekerja Ahli. Dalam terjemahan "English Standard Version" Amsal 8:30 menggunakan istilah "Seperti Seorang Pekerja Ahli" (like a master workman) sedangkan dalam "New American Standard Bible" menggunakan istilah "sebagai seorang pekerja ahli" (as a master workman).

Dari terjemahan ini jelas mendukung bahwa Yesus Kristus juga berperan dalam penciptaan. sehingga kata-kata di Kolose 1:16 yang sedang menceritakan tentang keutamaan Kristus, yang secara eksplisit mengatakan bahwa Yesus yang mencipta, bukanlah suatu pengakuan yang sembrono.

Jadi, apakah adil bila ketika terjadi pemberontakan umat manusia, Allah kemudian menyuruh malaikat yang lain untuk menyelesaikannya? (Kalau mungkin, tentu malaikat itu akan mengatakan "Lho yang buat Yesus kok aku yang harus mati untuk hasil karyanya yang jelek?" atau "karena Yesus yang buat, Yesuslah yang harus memperbaikinya").

Kedua: Yesus sangat menyayangi umat manusia.

Amsal 8:31, Aku bermain-main di atas muka bumi-Nya, dan anak-anak manusia menjadi kesenanganku.

Coba renungkan ilustrasi ini:

Kalau kita memiliki anjing, dan kita sangat menyayangi anjing itu, maka ketika suatu hari kita akan ditugaskan ke luar kota selama 1 bulan, kepada siapa kita akan menitipkan anjing tersebut? Apakah kepada orang-orang yang kita ketahui tidak begitu suka anjing, atau kepada orang-orang yang memang sangat suka anjing? Tentu kepada orang yang suka anjing, bukan? Mereka akan merawatnya, memandikannya, memberinya makan, dan mengajaknya berjalan-jalan.

Begitu juga dengan Allah. Ketika ada masalah dengan umat manusia, maka Allah memberikan tugas ini kepada Yesus, karena sudah jelas bahwa Yesus sangat menyayangi umat manusia, sehingga Allah yakin bahwa umat manusia tentu mendapat perlakuan yang terbaik. Bahkan kalau kita perhatikan pada ayat di Efesus 5:2, "dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah"

Yesus rela mati untuk kita semua, apakah hanya untuk murid-murid-Nya Yesus rela mati? Perhatikan ayat-ayat di bawah ini:

Matius 20:28, "Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."

1 Timotius 2:6, "yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia; itu kesaksian pada waktu yang ditentukan."

Kedua ayat ini menunjukkan bahwa tebusan Yesus diperuntukkan untuk semua orang, bukan hanya untuk murid-murid-Nya saja, bahkan Yesus juga memerintahkan murid-murid-Nya untuk mengasihi yang lain.

Yohanes 13:34, "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi."

Ayat ini menunjukkan bahwa Yesus bukan hanya bisa memberikan perintah untuk saling mengasihi, akan tetapi Yesus bahkan rela mati untuk kita dan telah memberikan teladan-Nya. Bukankah ini menunjukkan bahwa Allah tidak salah pilih, dengan mengutus putra-Nya ke bumi?

Jadi, jika kita dapat melihat dari peristiwa ini, kita dapat mengetahui bahwa ada dua kasih terbesar yang telah dinyatakan kepada kita, yaitu kasih terbesar dari Allah dan juga putra-Nya, Yesus Kristus. Marilah kita praktikkan apa yang telah Yesus perintahkan di Yohanes 13:34 yaitu untuk saling mengasihi satu sama lain.

Kontraktor II

Oleh: Herwin

Bahan renungan ini, sebagai lanjutan dari bahan renungan "Kontraktor", mencoba menjelaskan mengapa Amsal 8:22-36 menunjuk kepada Yesus.

Perhatikan ayat 22 yang mengatakan "TUHAN telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaan-Nya, sebagai perbuatan-Nya yang pertama-tama dahulu kala."

Kata "aku" dalam ayat ini tidak menunjuk kepada Salomo sebagai penggubah kitab Amsal, karena Salomo baru lahir kira-kira 1067 S.M. Sedangkan di ayat ke 23 dikatakan "sudah sejak purbakala aku dibentuk, pada mula pertama, sebelum bumi ada."

Kalau kita melihat kepada ayat-ayat sebelumnya, kata "aku" juga tidak menunjuk kepada hikmat sebagai permulaan ciptaan Allah, karena Roma 16:27 dikatakan "bagi Dia, satu-satunya Allah yang penuh hikmat, oleh Yesus Kristus: segala kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin." Sejak Allah ada, hikmat juga sudah ada; dan hikmat tidak diciptakan, karena hikmat merupakan pengetahuan yang dipraktikkan. Apakah kita akan menyebut seseorang sebagai seorang yang berhikmat kalau sudah tahu bahwa kompor itu panas dan masih dipegang juga olehnya, tanpa alat bantu? Tidak bukan?

Kalau begitu, kalimat "TUHAN telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaan-Nya" menunjuk kepada siapa? Ini menunjuk kepada Yesus Kristus, coba perhatikan ayat-ayat berikut ini:

Kolose 1:15 mengatakan, "Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan."

Siapa yang dimaksud dengan ayat ini yang mengatakan "Ia ..., lebih utama dari segala yang diciptakan"?

Wahyu 3:14 mengatakan, "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia: Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah."

Siapa yang dikatakan sebagai permulaan dari ciptaan Allah? Untuk mendapat jawabannya coba kita jawab pertanyaan berikut, siapa yang menyampaikan wahyu kepada Rasul Yohanes? Di Wahyu 1:1 dikatakan, "Inilah wahyu Yesus Kristus ........" Jadi cocok bukan kalau Amsal 8:22 menunjuk kepada Yesus?

Perhatikan ayat ke 30 dikatakan "aku ada serta-Nya sebagai anak kesayangan, setiap hari aku menjadi kesenangan-Nya, dan senantiasa bermain-main di hadapan-Nya."

Kata sebagai "anak kesayangan", menunjuk kepada siapa? Mari kita perhatikan ayat-ayat ini:

Matius 3: 17 dikatakan, "lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah aku berkenan" ( Yesus dibabtis)

Matius 17: 5 dikatakan, "Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: "inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia (Yesus transfigurasi)

Dari dua ayat ini, jelas membantu kita mengerti bahwa yang dimaksud Amsal 8:30 "sebagai anak kesayangan" menunjuk kepada Yesus. Karena hanya kepada Yesuslah dua kali dikatakan sebagai anak yang kukasihi/kusayangi tidak ada pribadi lain yang dikatakan demikian oleh Allah.

Perhatikan ayat ke 35 dikatakan "Karena siapa mendapatkan aku, mendapatkan hidup, dan Tuhan berkenan akan dia."

Siapakah di dalam alkitab yang pernah mengatakan kata-kata yang seperti ini? Mari kita perhatikan ayat dibawah ini :

Yohanes 14: 6 dikatakan, "Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."

Roma 6: 23 dikatakan "Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Krisus Yesus, Tuhan kita."

Jadi jelas dari ketiga ayat di Amsal 8: 22; 30 dan 35 ini, Yesuslah yang dimaksudkan, bukan?

Kuat Versus Lemah

Oleh: Sujud Prasetio

Ada seorang anak kecil yang membutuhkan uang Rp. 300.000 untuk membeli sepeda baru. Ia sudah berhari-hari berdoa, tetapi belum ada jawaban. Akhirnya, dia memutuskan untuk menulis surat permintaan dan mengirimkannya kepada Tuhan. Pada sampul surat dia menuliskan "Kepada Yth. TUHAN di sorga." Tentu saja alamat ini membingungkan Pak Pos. Akhirnya, Pak Pos memutuskan untuk meneruskan surat itu kepada Presiden. Saat membaca surat itu, Presiden merasa terharu. Dia lalu memerintahkan stafnya untuk memenuhi permintaan itu. Tetapi staf Presiden memutuskan hanya akan memberi uang Rp. 100.000, mereka menilai bahwa uang sejumlah itu sudah cukup banyak untuk ukuran anak kecil.

Seminggu kemudian, Presiden kembali menerima surat dari anak itu yang juga di tujukan kepada TUHAN di sorga. Surat itu berbunyi, "Terima kasih Tuhan karena sudah mengabulkan doaku. Tetapi, lain kali kalau mengirimkan uang, jangan lewat pemerintah, ya. Seperti biasa, mereka mengkorupsi uang. Saya yakin bahwa engkau mengirim uang Rp. 300.000, tetapi saya hanya menerima Rp. 100.000. (di sadur dari Purnawan Kristanto.)

Kisah di atas hanya cerita fiksi, tetapi di dalamnya terdapat pelajaran yang berharga bagi kita. Kecenderungan orang ketika ia mulai berkuasa, itulah kesempatan untuk berbuat seenaknya tanpa memikirkan kesusahan orang lain. Hukum alam mengajar siapa yang kuat itulah yang akan menjadi penguasa. Dan tidak sedikit orang yang bertindak dengan semena-mena terhadap orang-orang yang lemah. Bahkan lebih lagi ada yang berusaha mengambil keuntungan dari orang-orang yang lemah. Mungkin ada yang tidak memanfaatkan orang lemah untuk kepentingannya sendiri, tetapi memandang rendah dan lebih memilih untuk menghakimi dan merendahkan orang lemah dari pada menolong dan memberkati. Sikap-sikap seperti ini bertolak belakang dengan ajaran Tuhan Yesus, siapa yang ingin menjadi pemimpin harus mau menjadi pelayan.

Paulus menasihatkan suatu pelajaran yang mulia bagi kita semua. "Kita yang kuat wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri. Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya." (Rm. 15:1-2). Hal ini mengingatkan kita pada ajaran Tuhan Yesus yang berkata: "kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Bagian ayat yang di sampaikan oleh Paulus memberi pelajaran kepada kita mengenai dua hal. Pertama kita jangan menutup mata dengan kesusahan orang lain. Ada banyak orang bersikap acuh tak acuh dengan penderitaan orang lain. Tidak peduli terhadap orang-orang yang sedang membutuhkan bantuan. Bahkan kadang dengan teman dan saudara sendiri pun tidak mau tahu. Apakah ini menjadi sikap orang percaya? Betapa sedihnya Tuhan Yesus ketika Ia melihat kita sebagai anak-anakNya menutup mata dengan kesusahan orang lain. Amsal menasihatkan demikian: "Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya. Janganlah engkau berkata kepada sesamamu:"pergilah dan kembalilah, besok akan ku beri," sedangkan yang di minta ada padamu." (Ams. 3:27-28).

Tuhan sudah memberkati kita dengan kekayaan, ketrampilan, karunia-karunia. Jikalau kita mau membagikan anugerah yang sudah Tuhan berikan kepada orang lain yang membuat orang di bangun, bukankah hal itu perbuatan mulia? Tidak ada sesuatu yang berarti, kecuali kita menjadi sebab baik bagi orang lain. Dengan tegas Yakubus juga berkata: "Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa." (Yak. 4:17). Marilah kita peka dengan kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan orang lain. Berbuat baik adalah merupakan kesempatan. Saya percaya akan ada saatnya kita ingin berbuat baik, tetapi sudah tidak ada waktu lagi. Untuk itu marilah kita gunakan kesempatan-kesempatan yang ada untuk berbuat baik dengan sungguh-sungguh dan segenap hati.

Yang kedua kita belajar agar tidak mementingkan diri sendiri. Senangkah kita jika ada orang berkata kepada kita seperti ini:"dasar orang egois?" Tentunya kita akan tersinggung dan mungkin bisa marah. Predikat "egois" hanya pantas di berikan kepada orang yang tidak peduli terhadap kesusahan orang lain, orang yang pelit, orang yang mencari keuntungannya sendiri, orang yang mementingkan diri sendiri, orang yang selalu ingin menang sendiri, orang yang ingin mendapatkan apa yang di inginkannya dengan menghalalkan segala cara, orang yang tidak mau berkorban, orang yang tidak mau di rugikan. Dan intinya adalah orang yang memusatkan hidupnya kepada dirinya sendiri itulah orang yang "egois."

Saya tertarik dengan filosofi hidup orang Jawa. Menurut falsafah hidup orang Jawa, seseorang akan di sebut lengkap/sempurna hidupnya, jika sudah memiliki lima hal. Lima hal tersebut jika di singkat dan di terjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah seperti ini:

  1. Memiliki pasangan hidup
  2. Mempunyai rumah/tempat tinggal
  3. Mendapatkan intelektual;
  4. Mempunyai Kekuasaan; dan yang terakhir adalah
  5. harus bisa membagikan pengalaman hidup kepada orang lain.

Pelajaran yang sungguh berharga jika kita mau menerapkan bagian yang terakhir dari filosofi orang Jawa. Kalau saudara tidak ingin mendapat predikat sebagai "orang segois" bagikanlah apa yang saudara miliki. Tidak harus uang. Tetapi ketrampilan-ketrampilan yang ada, agar orang-orang yang saudara bagi dapat dibangun, dan akhirnya dapat bertumbuh bersama-sama. Jadi pada dasarnya adalah marilah kita belajar untuk memikirkan kesenangan orang lain, agar kita menjadi berkat bagi sesama. Jika saudara merasa orang yang kuat, maka itu adalah kesempatan untuk menolong yang lemah. Tuhan Yesus memberkati!!

Lawan Iblis

Oleh: Pdp. Jafar Thamrin, S.Th

Bacaan: Efesus 6:10-19

Mungkin Anda akan bertanya, bagaimana mungkin melawan iblis. Bukankah iblis itu adalah roh, sehingga dalam hal ini iblis tidak bisa dilawan?! Namun kalau pertanyaan itu diajukan kepada saya, maka saya akan menjawab, “Bisa”. Iblis biasanya membutuhkan wadah untuk dia pakai melawan manusia. Jadi benar kata Kitab Suci: “karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.” Dalam hal ini yang kita lawan bukan darah dan daging, tapi apa yang ada di balik darah dan daging itu. Sebagai contoh, nabi Elia menantang nabi-nabi baal di gunung Karmel. Kelihatannya nabi Elia melawan darah dan daging, namun pada dasarnya tidak. Nabi Elia melawan iblis yang menumpangi para nabi baal. Iblis harus dilawan. Kita tidak bisa hanya mempunyai sikap untuk bertahan dari serangan iblis.

Suatu hari waktu saya menunggu untuk naik pesawat, ada dua hal yang menarik perhatian saya di lapangan bandara. Pertama, bendera merah yang berfungsi menunjukkan arah angin. Kedua, kendaraan berat yang berfungsi mendorong mundur pesawat. Kedua hal ini menyadarkan saya bahwa sebuah pesawat dapat terbang karena dua hal. Ia harus melawan arus angin agar dapat terbang. Kedua, ia harus maju terus agar sampai ke tujuan. Bila sudah terbang, maka sebuah pesawat tidak dapat dan tidak mungkin mundur; berhenti sedetik saja ia akan jatuh. Demikian juga dengan kehidupan iman orang kristiani. Pertama, seorang anak Tuhan harus berani melawan arus dunia yang tidak benar. Kedua, sebagai anak Allah ia tidak boleh mundur, imannya tidak boleh mudah kendur dan putus asa karena adanya tantangan dan hambatan yang dibuat oleh kuasa kegelapan.

Menjadi pertanyaan buat kita orang percaya, bagaimana supaya kita bisa menang melawan iblis seperti nabi Elia yang menang saat menantang para nabi baal atau apa rahasia yang membuat nabi Elia menang? Inilah rahasia kemenangan Elia, yaitu “Doa dan Firman Allah”. Doa merupakan senjata yang ampuh untuk melawan iblis. Tidak ada senjata yang lain yang akan digunakan selain doa dan Firman Allah (Efesus 6:17). Pedang Roh yaitu “Firman Allah, dalam segala doa dan permohonan”. Mungkin kita sebagai orang percaya mengeluh dan berkata: “doa lagi... doa lagi, firman lagi... firman lagi.” Tapi hanya itu senjata kita orang percaya untuk melawan iblis. Karena dengan doa dan Firman Allah akan membuat kita menang waktu ada serangan, bahkan pada waktu kita menantang iblis.

Jadi, senjata untuk menyerang balik iblis adalah firman TUHAN dan doa. “Berdoalah setiap waktu di dalam Roh”. Setiap waktu? Apa artinya selalu? Ya. Tentu saja. Iblis selalu menunggu waktu yang tepat untuk menyerang. Kalau kita tidak selalu siap, pasti mudah untuk diserang. Akhirnya, serahkanlah hidupmu dalam doa dan dalam tuntunan Firman Allah.

Lima Keberanian yang Harus Kita Miliki

Oleh: Philip Kuncoro

Salah satu karakter yang dimiliki oleh orang-orang besar adalah memiliki keberanian. Beberapa tahun lalu diadakan penelitian terhadap 200 orang yang dianggap sangat sukses. Setelah diselidiki ada satu kesamaaan karakter pada semua orang tersebut, yaitu: Mereka adalah orang-orang yang berani bermimpi besar, memiliki tujuan yang jelas dan bertindak untuk mencapai tujuan tersebut.

Tidak mungkin ada prestasi hebat dan spektakuler kalau tidak ada keberanian!

(a) Daud bisa menang terhadap Goliat karena dia berani menantang Goliat itu.

(b) Yosua berhasil menaklukkan Kanaan, karena ia berani menyeberangi sungai Yordan dan menyerbu Kanaan.

(c) Gideon berhasil menaklukkan Amalek, karena ia berani menaati perintah Tuhan yang aneh (pasukannya disuruh dikurangi hingga tinggal 300 orang).

Pokoknya, di sepanjang sejarah kita melihat bahwa orang-orang pemberani sering kali akan menghasilkan karya atau prestasi yang hebat. Bahasan kali ini kita akan melihat 5 jenis keberanian yang akan mengubah hidup kita!

5 Keberanian yang Harus Kita Miliki

1. Berani bermimpi dan melakukan hal yang besar – Kej.7:5-9

Berani bermimpi adalah sebuah keberanian yang sangat besar. Jika bermimpi besar saja seseorang sudah tidak berani, mana mungkin orang tersebut bisa menghasilkan hal-hal yang spektakuler.

Tetapi setelah memiliki mimpi yang besar, seseorang harus berani melakukan hal-hal yang besar pula untuk mewujudkan mimpinya tersebut.

Sebagai contoh:

(a) Walt Disney – memiliki mimpi untuk membuat taman bermain yang komplit, yang bisa buat main anak-anak maupun orang tuanya. Maka ia mulai bertindak dan jadilah Disney land (semacam dufan di Amerika, yang kemudian di tiru di seluruh dunia, termasuk dufan).

(b) Ir. Ciputra – memiliki mimpi membangun sebuah tempat hiburan rakyat, yang komplet dan menyenangkan. Maka ia mulai bertindak dan dibangunnyalah Ancol, sebagai tempat hiburan rakyat yang indah di Jakarta Utara.

2. Berani berubah – Roma 12:2

Berubah, itu mudah dikatakan tetapi sulit dilakukan. Sebab sudah kodratnya manusia selalu senang berada di zona nyaman. Tapi kalau Anda ingin maju dan berprestasi besar, maka Anda harus berani berubah meninggalkan zona nyaman Anda.

Kata berubah dalam Roma 12:2 berasal dari kata Yun. Metamorphoo = berubah, menjelma (transmutasi).

 

Contoh nyata:

 

(a) Ulat tidak akan bisa kemana-mana (hanya di daun saja) kalau ia tidak berani berubah jadi kupu-kupu (bisa terbang bebas ke mana-mana)

(b) Kecebong hanya akan bisa hidup di air saja, kalau ia tidak berubah jadi katak (bisa hidup di dua alam air dan tanah)

(c) Murid-murid Yesus hanya akan menjadi penjala ikan (fisherman) selamanya, kalau mereka tidak berani berubah menjadi penjala manusia (fisher of man) - Markus 1:16-17.

3. Berani fokus pada keyakinan – Mat.9:28-30

Mungkin lingkungan atau teman-teman memandang Anda secara negatif, tapi satu hal yang tidak boleh hilang pada diri Anda adalah keyakinan pada diri sendiri.

Kalau Anda tetap fokus pada keyakinan Anda bahwa Anda bisa meraih sesuatu yang hebat, apapun hambatannya tidak akan bisa menghalangi Anda.

Berikut ini ada beberapa contoh:

(a) Thomas Alfa Edison baru bisa menciptakan bola lampu listrik setelah melakukan 10.000 kali percobaan. Setiap kali gagal ia tidak menyerah dan tidak pernah hilang keyakinan bahwa bola lampu bisa diciptakannya. Akhirnya ia berhasil juga menciptakannya!

(b) Bartimeus tetap yakin bahwa Yesus mendengar teriakannya dan bersedia menyembuhkannya, meskipun murid-murid Yesus menyuruhnya diam. Hasilnya, Yesus memintanya mendekat dan mencelikkan matanya.

(c) Perempuan Kanaan yakin benar bahwa Yesus mau menyembuhkan anaknya yang kerasukan setan. Maka ia terus meminta kepada Yesus. Sekalipun ditolak berkali-kali, ia akhirnya mendapatkan apa yang diyakininya itu. Anaknya disembuhkan oleh Yesus!

4. Berani mengambil resiko

Kalau Anda ingin berprestasi hebat, kalau Anda ingin mengukir sejarah, Anda harus menjadi pribadi yang berani mengambil resiko.

Ada banyak tokoh Alkitab yang mengukir prestasi hebat karena berani mengambil resiko:

(a) Esther berani mengambil resiko kehilangan nyawanya dengan menghadap raja. Tapi hasilnya, tindakannya itu berhasil menyelamatkan bangsanya (Ester 4:8)

(b) Nehemia berani mengambil resiko membangun kembali tembok Yerusalem yang runtuh. Sekalipun menerima banyak tentangan akhirnya ia berhasil menyelesaikan juga!

(c) Paulus berani mengambil resiko menyeberang lautan dan samudera untuk mengabarkan injil. Hasilnya, ia tercatat sebagai orang yang paling sukses dalam hal pekabaran injil!

5. Berani menang – Roma 8:37

Ada manusia yang tidak hanya takut gagal, tetapi juga takut menang. Ciri-ciri mereka adalah sebagai berikut :

(a) Mereka tidak berani mengambil tantangan

(b) Mereka tidak berani mengambil peluang yang muncul

(c) Mereka merasa tidak mampu

(d) Mereka menganggap diri mereka sendiri sebagai orang yang tidak layak!

Padahal untuk menang atau mengukir prestasi besar kita harus punya keberanian untuk menang. David Ambrose berkata: "Jika Anda memiliki keinginan untuk menang, Anda telah mencapai setengah kemenangan Anda. Jika tidak, Anda telah mencapai setengah kegagalan Anda!"

Menyimpulkan pembahasan hari ini: para pemenang adalah para pemberani. Kalau Anda berani, maka Anda membuka peluang Anda untuk menjadi pemenang dan peraih prestasi!

Madu dan Racun Sama Hebatnya di Tangan Tuhan

Oleh: Yon Maryono

Kata Madu banyak dikaitkan dengan situasi sukacita, seperti diterapkan dalam istilah Bulan Madu bagi pengantin, demikian sebaliknya kata Racun. Oxford English Dictionary tidak memberikan etimologi sama sekali, tetapi menyebutkan bahwa kata Bulan Madu ini berasal dari abad ke-16: "Bulan pertama setelah pernikahan, ketika yang ada hanyalah kelembutan dan sukacita”. Salah satu kutipan tertua dalam Oxford English Dictionary menunjukkan bahwa, meskipun di masa kini bulan madu mempunyai arti positif, kata ini sesungguhnya merupakan rujukan mengejek kepada memudarnya cinta yang niscaya terjadi seperti tahap-tahap peredaran bulan. Istilah Racun, Beracun digunakan untuk segala sesuatu yang dapat berakibat fatal atau berbahaya apabila dimasukkan dalam jumlah tertentu ke makhluk hidup. Tapi kedua istilah itu dalam pengalaman penulis sama hebatnya di tangan Tuhan.

Suasana bulan Madu dengan Tuhan tidak jauh beda maknanya. Banyak orang percaya mengalami hidup dalam suasana sukacita dalam Tuhan, karena mereka kelimpahan berkat jasmani dan rohani. Tetapi umumnya penilaian itu diukur dari: harta, kekayaan, jabatan dan kekuasaan serta aktivitas mereka dalam pelayanan Gereja dan sesama. Tuhan telah memberikan berkat, itulah pandangan orang umumnya. Suatu pandangan didasarkan penampilan fisik , bahwa ia memasuki masa sukacita yang dapat disebut masa kehidupan berbulan madu dengan Tuhan, karena Tuhan seolah memberikan segala apa yang diminta. Kata “seolah” perlu digaris bawahi karena iblis juga bisa.

Bila kita mencoba memahami pengalaman hidup ini, banyak keberhasilan seseorang atas kenikmatan dunia: Karier, Kekuasaan, Kekayaan ternyata berjalan di luar kemampuan dirinya, tapi ia mengklaim itu upaya sendiri. Iblis tertawa. Manusia dijebak rasa percaya diri yang berlebihan. Keberhasilan itu dianggap semata-mata hasil kekuatan sendiri, seakan-akan manusia tidak memerlukan kekuatan dan kuasa Tuhan. Tanpa disadari, situasi ini telah membentuk bangunan tembok penghalang yang menyekat mata hati dan rohani manusia akan karya Tuhan. Suasana sukacita itu hanya semu, sukacita dalam pujian orang, sukacita dalam kesombongan jasmani maupun rohani. Pujian dan kesombongan itu telah membawa ke dalam alam keserakahan. Dengan mengejar kekayaan, dan kekuasaan kehidupan rohani tercekik (Lukas 8:14), dan dibawa ke dalam pencobaan dan keinginan yang mencelakakan (1 Tim 6:9). Akibatnya, ada di antara kita menghadapi persoalan dalam kehidupan yang berkelanjutan disebabkan ulah sendiri. Seolah luka yang menimpa sangat payah dan sukar disembuhkan bagaikan keracunan yang akut, akibatnya ada yang berkeinginan mau bunuh diri. Ya, masa bulan madu itu telah berlalu, dan masuk dalam suasana kesesakan karena duka dan derita menghadang, ibarat tubuh kemasukan racun dalam jumlah yang berbahaya.

Pada situasi kesesakan, manusia yang sadar akan dirinya akan merasakan bahwa segala kenikmatan yang diperoleh sebelumnya hanyalah sia-sia. Lenyap tanpa bekas. Hidup yang tidak dilandasi rasa syukur dalam segala hal kepada Tuhan akan sangat dirasakan akibatnya. Pada saat inilah, manusia akan dapat merasakan doa adalah bagian pergumulan. Seluruh keluarga bahkan Pendeta membantu berdoa siang dan malam dengan tidak jemu-jemu atas pergumulan hidup yang sedang menghadang. Sehari bagaikan sebulan, tidak sabar menunggu waktu Tuhan sangat dirasakan dalam kungkungan pergumulan. Ketekunan dan penuh berharap bagian pergumulan, tidak seperti masa-masa bulan madu yang penuh sukacita, berkat, berkat, dan berkat datang tanpa diundang.

Kemampuan untuk menyingkapkan tembok penghalang bagi mata hati seseorang adalah Rahasia Tuhan. Tetapi banyak dilihat orang bersaksi bahwa ia terlepas dari situasi kesesakan hanya karena pertolongan Tuhan. Situasi kesesakan yang dianggap racun itu ternyata telah mengubah seseorang untuk berbalik kepada Tuhan. Bahkan berdampak luar biasa, mula-mula maksud dan tujuan doa untuk kepentingan hadapi pergumulan, namun semua itu sekarang lebih suatu kebutuhan untuk memuji dan menyembah Tuhan. Itukah cara Tuhan bekerja untuk menegur umat-Nya? Tuhan bekerja di mana sikap iman ada, sebagaimana Mazmur 37:5-6: Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepadaNya, Ia akan bertindak, Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang dan hakmu seperti siang. Tuhan tidak lalai janji-Nya, tetapi Ia sabar supaya manusia berbalik dan bertobat (2 Petrus 3:8-9).

Di mana letak masalahnya? Madu dan racun itu pada hakekatnya terbentuk oleh karena perbuatan kita sendiri. Apabila kita mengakui hidup dalam Kristus, seharusnya naluri intim dengan Tuhan dan selalu ucap syukur dalam pertobatan kepada Tuhan adalah kebutuhan. Kenyataannya itu semua sering hanya dalam ucapan di bibir tanpa hati. Naluri manusia selama ini terhalang dengan kemauan daging yang lebih besar sehingga naluri itu tertutup dan tertekan. Inilah kebebalan rohani yang mengakibatkan seseorang menghadapi pergumulan hidup yang disebabkan ulah sendiri. Sehingga, manusia telah gagal mencapai bahkan mendekati kesempurnaan sebagaimana amanat Tuhan Yesus hendaknya kamu sempurna sama seperti Bapa-Mu yang di surga adalah sempurna (Matius 5:48).

Rasul Paulus menyampaikan pesan Tuhan. Tetaplah berdoa, mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.(1 Tesalonika 5:17-18). Inilah makna pesan Tuhan: Percayakah engkau bahwa Aku butuh persembahanmu dari hati yang bersalah? Apa artinya uang atau harta dari bibirmu yang tak pernah ucap syukur dan berdoa. Bagi-Ku cukup setetes air mata dari hati yang siap dibentuk.

Tuhan memberkati kita semua.

Makna Murah Hati

Oleh: Yon Maryono

Murah hati, kemurah hatian, kemurahan hati, dan kemurahan hanyalah sebuah kata atau kata majemuk yang tidak berarti kalau hanya disebut dan diuraikan maknanya dalam Kamus Bahasa. Kemurahan dalam bahasa Yunani disebut chrestotes, bahasa Latin disebut benignitas, dan bahasa Inggris disebut kindness. Benignity artinya perbuatan baik yang nyata, kelembutan dalam berlaku terhadap sesama dan bersikap penuh rahmat. Alkitab menulis kata terkait murah hati ini cukup sering, seperti dalam kitab Rut 2:2; Nehemia 2:8; Yeremia 3:12; Mazmur 30:5 (30-6); Matius 5:7; Matius 20:15; Lukas 6:36; Yakobus 1:5; 1 Korintus 13:4. Penulisan murah hati dalam Alkitab intinya perbuatan murah hati dilakukan oleh Tuhan dan maunusia. Lukas 6:36 menuliskan: Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.

Pesan alkitab sangat jelas. Ada beberapa perbuatan dan sikap yang mencerminkan murah hati yang terakumulasi dalam sebuah tindakan nyata, yaitu :
- Murah hati adalah respos atas anugerah keselamatan dari Tuhan
- Murah hati tak berdiam diri saat melihat orang yang membutuhkan.
- Murah hati berarti mau terlibat dalam penderitaan orang lain karena tak kuasa meninggalkannya.
- Murah hati itu kesediaan untuk menerima dan memaafkan dan memulai dengan sebuah relasi yang baru dengan tidak memperhatikan latar belakang yang dibayangi dendam, sakit hati atau luka batin lainnya. Inilah yang dimaknai bahwa murah hati selalu ada unsur pengampunan
- Murah hati adalah kasih yang ditunjukan dalam perbuatan
- Murah hati tindakan tulus, tidak mengungkit-ungkit atas tindakan yang telah dilakukan untuk kepentingan sesama.
- Murah hati adalah tindakan yang tidak didasari perbedaan ras, suku, agama bahkan politik atau kepentingan pribadi lainnya

Pada saat orang Kristen setiap hari baca Alkitab, pergi ke Gereja, dan berdoa tetapi tidak peduli terhadap orang yang membutuhkan di sekitarnya, yakni uluran kasih, pengharapan dan kebenaran Firman Allah, apakah mereka Pelaku kebenaran firman Tuhan dalam perbuatan murah hati seperti teteladan Kristus? Jawabanya: mereka termasuk saya bukan pelaku kebenaran firman Tuhan. Kita mengenal Allah tetapi tidak menuruti perintah-Nya. Kita telah berbuat dosa, Ini jawaban yang jujur. Namun, jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa yaitu Yesus Kristus yang adil. Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita. Selanjutnya: Barang siapa mengatakan bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup (bdk 1 Yohanes 2 ayat 1).

Anda dan saya wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup. Paulus selalu mengibaratkan dirinya seorang atlet oleh raga yang harus selalu berlatih. Wajib hidup seperti Kristus diperlukan latihan yang terus menerus, demikian pula perbuatan murah hati. Kita mungkin tak punya banyak uang, tetapi kita dapat memberi diri kita dalam tenaga, pikiran, waktu, dan hal-hal lainnya yang dapat meringankan beban penderitaan sesama. Selamat berlatih. Iman tanpa perbuatan adalah sia-sia. Tuhan memberkati.

Masa Depan Cerah 2013

Oleh: Pdt. Samuel T. Gunawan, M.Th

Khotban Ibadah Akhir Tahun 2013
Senin, 31 Desember 2012

“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”. - Filipi 4:13 -

Pendahuluan
 
Hari ini adalah hari terakhir dalam tahun ini. Banyak hal yang sudah terjadi dalam hidup kita pada tahun ini. Ada keberhasilan dan ada juga kegagalan. Namun, bukan kah Tuhan menjanjikan kita bahwa Dia akan selalu membawa kita pada keberhasilan (2 Korintus 2:14). Janji Tuhan mengatakan bahwa kita dapat menanggung segala sesuatu. Kata “segala” berarti seluruh masalah, tetapi mengapa kita seringkali patah semangat, bahkan mengalami kekalahan? Karena pada waktu mengalami masalah, kita tidak mengandalkan Tuhan yang memberi kita kekuatan kepada kita.

Perhatikanlah firman Tuhan dalam Yeremia 17:5-8! Ternyata, Tuhan berlaku keras terhadap orang yang mengandalkan manusia dan kekuatannya sendiri. Tuhan bukan hanya mempermasalahkan, tetapi bahkan mengutuk orang yang berlaku demikian. Orang yang mengandalkan kekuatannya berarti tidak mengakui kekuasaan Tuhan. Ia bersikap mengesampingkan Tuhan, dan hatinya menjauh dari Tuhan. Orang yang mengandalkan kekuatan manusia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik (Yeremia 17:6). Dikatakan bahwa ia seperti semak bulus (ar’ar). Mungkin adalah jenis tumbuhan juniperus oxycedrus atau tamarix mannifera, jenis semak yang hidup di padang gurun dan karang terjal. Seperti semak ini, hidup kita kering, dan tidak berubah.

Orang yang mengandalkan kekuatan manusia itu seperti orang yang tinggal sendirian di padang gurun. Bayangkan saja jika anda tinggal di padang belantara, gurun pasir atau tanah tandus. Pada ayat 6 dipakai istilah akaba yang menunjuk pada padang belukar di tempat mana hewan buas mencari makan (baca ayub 39:1-7). Bayangkan saja jika anda tinggal di tempat mengerikan seperti itu. Pokoknya, orang yang mengandalkan kekuatan manusia dan dirinya sendiri, kesengsaraan dan kematian menjadi sahabatnya. Hidupnya menjadi terkutuk karena tidak diperkenan Tuhan.

Melangkah Meraih Masa Depan

Sebenarnya, kita tidak perlu khawatir akan tahun mendatang. Jika kita berjalan dengan Tuhan dan mau mengikuti segala perintah-Nya, Dia yang akan membawa kita ke jalan kemenangan. Biarlah tahun yang ada di hadapan kita merupakan tahun kemenangan bagi kita semua dan masa depan kita adalah masa depan yang cerah.

Pertama, Tuhan menjanjikan masa depan yang penuh harapan, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan” (Yeremia 29:11). Tetaplah berada pada yang benar ditengah-tengah kesulitan dan tantangan kehidupan. Ikuti arah mata kompas maka dimanapun kita tidak akan tersesat. Pasti cepat atau lambat kita akan menemukan jalan. Ingat, setiap kemenangan dihasilkan dari pertandingan. Hari terpanjang sekalipun pasti akan berakhir. Setiap masalah pasti ada jalan keluar. Itulah kekuatan harapan. Alkitab berkata, “Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak; Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang” (Mazmur 37:5,6).

Kedua, segala perkara dapat kita tanggung didalam Tuhan yang memberi kekuatan. Paulus mengingatkan kita “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Filipi 4:13). Kita dapat mengandalkan Tuhan dan kuasaNya. Kuasa Tuhan yang tak terbatas bersumber dari pribadi Tuhan yang Mahakuasa dan tak terbatas. Mahakuasa berarti bahwa Allah kuat dalam segala-galanya dan sanggup melakukan apa saja yang sesuai dengan sifatNya sendiri. Di dalam Alkitab, kata ”Mahakuasa” yang hanya dipakai untuk Allah tercatat 56 kali. Dan kata ini merupakan dasar bagi konsep kemahakuasan Tuhan. Tuhan tidak dibatasi oleh apapun. Tuhan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, Ia tidak dibatasi oleh keadaan, ia tidak dibatasi oleh ciptaaNya. Karena Dia yang menciptakan ruang dan waktu dan seluruh ciptaan yang ada. Dia sanggup melakukan apa saja yang Dia kehendaki yang sesuai dengan sifat atau atributNya yang sempurna. Jadi percayalah kepadaNya bahwa Ia dapat memberikan sebuah mujizat bagi kita yang akan membaikkan kehidupan kita dan memuliakan namaNya. Tuhan memberikan kita kekuatan untuk berhasil. “Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini” (Ulangan 8:18). Paulus mengingatkan bahwa “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya” (2 Korintus 8:9).

Ketiga, dengan mengendalkan Tuhan maka kita akan disertai dan diberkati. Yeremia menggambarkan keadaan “diberkati’ itu seperti pohon yang ditanam ditepi aliran air, yang bertumbuh subur, dan terus berbuah (Yeremia 17:8). Penggambaran yang sama juga diberikan oleh Daud dalam Mazmur 1:3, “Ia seperti pohon, yang ditanam ditepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil”. Pertumbuhan, kesuburan, buah yang lebat, dan kesuksesan akan mewarnai kehidupan orang-orang yang mengandalkan Tuhan. Hal-hal buruk akan dijauhkan, kita tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering (Yeremia 17:8). Artinya, kemiskinan, kegagalan, sakit penyakit dan kematian akan dijauhkan dari kehidupan kita.

Bagaimana cara mengandalkan Tuhan? (1) hanya menaruh harapan kepada Tuhan (Yeremia 17:7). Fokus iman kita adalah Tuhan. Meskipun saat ini anda berobat dan dirawat dokter, anda harus tetap berfokus kepadaa Tuhan. Kepercayaan anda hanyalah kepada Kristus, Sang Penyembuh. Jangan pernah mengandalkan obat, dokter, dan rumah sakit lebih dari keyakinan kita kepada Tuhan. (2) hidup di dalam iman kepada firman Tuhan. Yeremia mengatakan bahwa orang yang diberkati itu seperti pohon yang subur. Sementara itu, Daud mengatakan bahwa hidup kita akan seperti pohon yang subur jika kita merenungkan Taurat Tuhan siang dan malam (Mazmur 1:2). Jadi, percaya kepada Tuhan dan firmanNya merupakan pola hidup yang mengandalkan Tuhan.

Refleksi dan Ajakan

Waktu yang sudah lewat tidak akan bisa kembali. Kita tidak perlu menyesali kegagalan kita pada masa lalu, tetapi kita perlu mengubahya menjadi batu loncatan untuk meraih keberhasilan pada masa yang akan datang. Karena itu: Pertama, mintalah agar Tuhan mencurahkan kuasa dan belas kasihNya kepada kita. Kedua, mintalah agar kita memiliki hati yang mau percaya dan berharap kepadaNya.

Saat ini, seandainya Saudara meminta kepada Tuhan satu permohonan dalam hidup Saudara, dan mengetahui bahwa Ia akan dapat mengabulkan permintaan dan melakukannya bagi saudara, apakah yang akan Saudara minta kepadaNya : Memulihkan perkawinan Saudara yang retak atau diambang kehancuran? Mengubah sesuatu dalam pekerjaan anda? Membawa kembali anak-anak Saudara yang terpengaruh oleh pergaulan bebas atau obat-obatan terlarang? Menyembuhkan tubuh Saudara yang sakit? Memulihkan keadaan ekonomi Saudara? Membenahi keuangan Saudara? Mengantar seorang kekasih kepada Kristus? Apapun permintaan Saudara kepada Tuhan, yakinlah bahwa Ia campur tangan dalam situasi Saudara dan kuasaNya Tak Terbatas untuk menolong kita.

Pada kesempatan ini, saya mengingatkan kita untuk: Pertama, pastikan bahwa Saudara benar-benar mempercayai Tuhan benar dalam Kristus. Kedua, cari gereja yang baik yang mengajarkan Alkitab benar. Ketiga, luangkan waktu setiap hari untuk berdoa pada Tuhan dan membaca Alkitab. Keempat, kembangkan hubungan dengan orang-orang yang dapat menolong Anda secara rohani.

Doa dan Pengakuan Iman:

Bapa di sorga, kami menyembahMu karena Engkaulah satu-satunya Allah yang Mahakuasa, berdaulat, mahamulia dan Maha kasih. Tuhan Yesus, kami bersyukur memilikiMu sebagai Juruselamat dan Tuhan kami, yang penuh kasih dan kuasa. Sungguh kematian dan kebangkitanMu adalah mujizat yang terbesar di dunia ini, dan kedatanganMu yang kedua kali nanti juga akan menjadi mujizat yang paling menakjubkan, sekaligus mengagetkan manusia di alam jagat ini. Ya Tuhan, terima kasih banyak, karena Engkau tidak berubah, dan janjiMu pun tidak berubah. Kalau dahulu Engkau melakukan mujizat, sekarangpun Engkau anggup melakukan barbagai mujizat. Jadikanlah hidup kami ini sebuah mujizat bagi kemuliaanMu, dan demi menjadi berkat bagi banyak orang. Dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin

Masa Penghayatan Penderitaan Kristus

Oleh: Yon Maryono

Pada saat seorang pendoa dalam doanya mengucapkan kami tolak menderita, tolak sakit ginjal, tolak kemiskinan, tolak kegagalan dan sebagainya. Timbul pertanyaan pada diri saya, kalau menderita atau dianiaya oleh karena kebenaran Tuhan (Mat 5:10), bagaimana? Setiap manusia pasti pernah menderita. Ada banyak sebab manusia menderita: akibat perbuatan dosa, akibat perbuatan bodoh, atau karena hal itu merupakan realitas hidup di dunia yang berdosa ini. Namun, ada juga orang yang menderita karena kehendak Allah untuk menunaikan misi-Nya, termasuk para Rasul Yeus yang akhir hidupnya mati karena dianiaya, disiksa, disalib bahkan dipenggal kepalanya seperti Rasul Paulus. Dalam fakta kehidupan, manusia tidak bisa berbuat lain kecuali menghadapinya. Oleh karena itu, pemahanan makna penderitaan yang salah dapat menimbulkan sikap rohani yang salah pula. Seseorang dapat menyalahkan diri sendiri, bila ia tidak berhasil atau gagal atau terserang penyakit. Biasanya pertanyaan yang muncul: Apa dosa saya kepada Tuhan? Padahal sakit gatal karena tidak pernah mandi, dianggap penyakitnya terjadi karena dosa, atau di PHK karena krisis ekonomi akibat dosanya. Bukankah Nabi Elia juga terkena dampaknya ketika terjadi kekeringan (I Raja-raja 17:5-6)?

Oleh karena itu, merenungkan makna penderitaan adalah penting, karena karena penderitaan itu merupakan fakta yang tidak dapat kita hindarkan. Justru di dalam dunia sekuler diyakini No Crisis No Growth. Inilah salah satu maksud penetapan perayaan minggu-minggu sengsara, yang dikenal masa Pra-Paskah, dalam kalender gerejawi. Sebuah penghayatan terhadap penderitaan Yesus untuk direnungkan dan dihayati maknanya dalam kehidupan kita.

Mengapa Yesus mau menderita?

Dalam Perjanjian Lama, Kitab Yesaya 53, yang ditulis 600-700 SM, menubuatkan bahwa melalui penderitaan-Nya banyak orang akan diampuni, dibenarkan, ditebus, dan disembuhkan. Penderitaan-Nya juga akan menghasilkan pengangungan dan pemuliaan-Nya. Tidak ada seorang pun manusia yang dapat menanggung beban penderitaan seberat itu. Siapakah hamba Allah ini yang disebut dalam nubuatan Nabi Yesaya? Dalam Perjanjian Baru dan sampai sekarang hanya Yesus satu-satunya yang menggenapi nubuatan Nabi Yesaya. Dia adalah Anak Allah, sebagai pendamai manusia dan Allah, yang patut menerima pujian, hormat, dan sembah semua umat tebusan Allah.

Dalam Lukas 9:51 “ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarahkan pandangan-Nya ke Yerusalem”. Yesus tahu bahwa di Yerusalem akan menghadapi konflik dalam situasi yang membahayakan diri-Nya. Namun, Dia tetap bersiap menuju kesana. Yesus mengalami penderitaan bukan karena kesialan, bukan pula karena nasib buruk. Tapi memang inilah jalan yang ditentukan oleh Bapa bagi-Nya sejak semula. Yesus telah datang ke dalam dunia ini dengan tujuan “mati” demi menebus dosa manusia. Dia sadar bahwa di sanalah Dia akan menggenapkan rencana Bapa-Nya. Kekuatan Yesus adalah kekuatan ketaatan yang bulat kepada kehendak Allah, Bapa-Nya.

Pengajaran apa yang dapat kita renungkan dalam perjalanan menuju penderitaan Yesus?

Pertama : Yesus menderita dan mati untuk menebus dosa manusia. Yesus sebagai Juru Damai antara Allah dan manusia. Dia sebagai Juru Selamat atas murka Allah, karena dosa manusia telah ditebus dan ditanggungkan kepada-Nya. Manusia seharusnya menyadari hutang budi yang tidak terukur kepada-Nya dan seharusnya membalas dengan persembahan tubuh dan jiwanya kepada Yesus Kristus (bdk Roma 12:1). Kedua, pengajaran kasih dalam hal menangani konflik : “Masukkan pedang itu kembali kedalam sarungnya, sebab orang yang menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang …” (Mat 26:52). Penggunaan alat yang keliru dalam menyelesaikan masalah dalam menghadapi tekanan penderitaan justru akan menghancurkan tujuan.. Kekerasan tidak pernah efektif untuk menyelesaikan masalah. Tetapi kekuatan moral spiritual dalam wujud kasih yang tulus, kejahatan dibalas kebaikan, kesabaran, kemurahan hati, selalu berpengharapan dalam Tuhan, dengan tidak memandang dari kelompok manapun. justru akan menciptakan persatuan, kesehatian dan kedamaian,. Kita percayakan pembalasan ada ditangan Tuhan (bdk Roma 12: 12-21). Ketiga, penderitaan membawa kedewasaan rohani (Roma 5:3-5; Yak 1:2-4).. Penderitaan adalah bagian dari proses menghayati pengharapan kristiani (IPet 4:13; 5:1, 10). No crisis no growth. Dalam penderitaan kita semakin bertumbuh, dekat dan semakin mencintai Tuhan.

Bagaimana sikap kita hadapi penderitaan?

Di samping sikap kasih yang tulus, sabar dan murah hati, Yesus menambahkan peringatan: Vigilate et orate “berjagalah dan berdoalah” (Mat. 26:41) yang ditujukan kepada murid-murid yang mendampingi-Nya di Taman Getsemani, tetapi saat itu murid Yesus tidak kuasa menahan rasa kantuknya. Perintah itu sungguh masih relevan ketika kita hadapi pergumulan dalam kehidupan saat ini. Perintah ini mengajak kita untuk “tidak mengantuk” tetap waspada dan berjaga terhadap segala kemungkinan cobaan iblis, memiliki kepekaan terhadap hal-hal yang berakibat dosa, dan selalu intim dengan Tuhan melalui doa. Demikianlah rasul Paulus mengingatkan kita bahwa semua penderitaan yang kita hadapi di zaman sekarang ini tidaklah sebanding dengan kemuliaan yang akan kita nikmati kelak sebagai anak-anak Allah (Rom:8:18). Karena itu, tetaplah bertekun dalam doa dam selalu berpengharapan dalam Tuhan.

Tuhan memberkati kita semua.

Mawar Berduri

Suatu ketika, ada seseorang pemuda yang mempunyai sebuah bibit mawar. Ia ingin sekali menanam mawar itu di kebun belakang rumahnya. Pupuk dan sekop kecil telah disiapkan. Bergegas, disiapkannya pula pot kecil tempat mawar itu akan tumbuh berkembang. Dipilihnya pot yang terbaik, dan diletakkan pot itu di sudut yang cukup mendapat sinar matahari. Ia berharap, bibit ini dapat tumbuh dengan sempurna. Disiraminya bibit mawar itu setiap hari. Dengan tekun, dirawatnya pohon itu. Tak lupa, jika ada rumput yang menganggu, segera disianginya agar terhindar dari kekurangan makanan. Beberapa waktu kemudian, mulailah tumbuh kuncup bunga itu. Kelopaknya tampak mulai merekah, walau warnanya belum terlihat sempurna. Pemuda ini pun senang, kerja kerasnya mulai membuahkan hasil.

Diselidikinya bunga itu dengan hati-hati. Ia tampak heran, sebab tumbuh pula duri-duri kecil yang menutupi tangkai-tangkainya. Ia menyesalkan mengapa duri-duri tajam itu muncul bersamaan dengan merekahnya bunga yang indah ini. Tentu, duri-duri itu akan menganggu keindahan mawar-mawar miliknya.

Sang pemuda tampak bergumam dalam hati, "Mengapa dari bunga seindah ini, tumbuh banyak sekali duri yang tajam? Tentu hal ini akan menyulitkanku untuk merawatnya nanti. Setiap kali kurapihkan, selalu saja tanganku terluka. Selalu saja ada ada bagian dari kulitku yang tergores. Ah pekerjaan ini hanya membuatku sakit. Aku tak akan membiarkan tanganku berdarah karena duri-duri penganggu ini."

Lama kelamaan, pemuda ini tampak enggan untuk memperhatikan mawar miliknya. Ia mulai tak peduli. Mawar itu tak pernah disirami lagi setiap pagi dan petang. Dibiarkannya rumput-rumput yang menganggu pertumbuhan mawar itu. Kelopaknya yang dahulu mulai merekah, kini tampak merona sayu. Daun-daun yang tumbuh di setiap tangkai pun mulai jatuh satu-persatu. Akhirnya, sebelum berkembang dengan sempurna, bunga itu pun meranggas dan layu.

Teman, kisah tadi memang sudah selesai. Tapi, ada ada satu pesan moral yang bisa kita raih didalamnya. Jiwa manusia, adalah juga seperti kisah tadi. Di dalam setiap jiwa, selalu ada "mawar" yang tertanam. ALLAH yang menitipkannya kepada kita untuk dirawat. ALLAH lah yang meletakkan kemuliaan itu di setiap kalbu kita. Layaknya taman-taman berbunga, sesungguhnya di dalam jiwa kita, juga ada tunas mawar dan duri yang akan merekah.

Namun sayang, banyak dari kita yang hanya melihat "duri" yang tumbuh. Banyak dari kita yang hanya melihat sisi buruk dari kita yang akan berkembang. Kita sering menolak keberadaan kita sendiri. Kita kerap kecewa dengan diri kita dan tak mau menerimanya. Kita berpikir bahwa hanya hal-hal yang melukai yang akan tumbuh dari kita. Kita menolak untuk "menyirami" hal-hal baik yang sebenarnya telah ada. Dan akhirnya, kita kembali kecewa, kita tak pernah memahami potensi yang kita miliki.

Banyak orang yang tak menyangka, mereka juga sebenarnya memiliki mawar yang indah di dalam jiwa. Banyak orang yang tak menyadari, adanya mawar itu. Kita, kerap disibukkan dengan duri-duri kelemahan diri dan onak-onak kepesimisan dalam hati ini. Orang lain lah yang kadang harus menunjukannya.

Teman, jika kita bisa menemukan "mawar-mawar" indah yang tumbuh dalam jiwa itu, kita akan dapat mengabaikan duri-duri yang muncul. Kita, akan terpacu untuk membuatnya merekah, dan terus merekah hingga berpuluh-puluh tunas baru akan muncul. Pada setiap tunas itu, akan berbuah tunas-tunas kebahagiaan, ketenangan, kedamaian, yang akan memenuhi taman-taman jiwa kita. Kenikmatan yang terindah adalah saat kita berhasil untuk menunjukkan diri kita tentang mawar-mawar itu, dan mengabaikan duri-duri yang muncul.

Semerbak harumnya akan menghiasi hari-hari kita. Aroma keindahan yang ditawarkannya, adalah layaknya ketenangan air telaga yang menenangkan keruwetan hati. Mari, kita temukan "mawar-mawar" ketenangan, kebahagiaan, kedamaian itu dalam jiwa-jiwa kita. Mungkin, ya, mungkin, kita akan juga berjumpa dengan onak dan duri, tapi janganlah itu membuat kita berputus asa. Mungkin, tangan-tangan kita akan tergores dan terluka, tapi janganlah itu membuat kita bersedih nestapa.

Teman, biarkan mawar-mawar indah itu merekah dalam hatimu. Biarkan kelopaknya memancarkan cahaya kemuliaan-Nya. Biarkan tangkai-tangkainya memegang teguh harapan dan impianmu. Biarkan putik-putik yang dikandungnya menjadi bibit dan benih kebahagiaan baru bagimu. Sebarkan tunas-tunas itu kepada setiap orang yang kita temui, dan biarkan mereka juga menemukan keindahan mawar-mawar lain dalam jiwa mereka. Sampaikan salam-salam itu, agar kita dapat menuai bibit-bibit mawar cinta itu kepada setiap orang, dan menumbuh-kembangkannya di dalam taman-taman hati kita.

GOD Bless Us

Melayani Dengan Cinta

Oleh: Sunanto

Yoh 13:14-15 “Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.”

Di dalam natur kita sebagai manusia, kita cenderung lebih suka untuk dilayani daripada melayani. Sama seperti murid-murid Yesus, kita lebih suka menjadi yang terbesar daripada menjadi yang terkecil. Hal ini disebabkan karena manusia sejak kejatuhannya dalam dosa telah dipenuhi oleh kesombongan. Yesus datang ke dunia ini dengan bersenjatakan kerendahan hati untuk mengalahkan dunia yang dipenuhi oleh kesombongan. Walaupun Dia merupakan anak Allah, Raja dari segala Raja tetapi Dia rela dilahirkan di kandang domba yang hina dan mati disalib laksana seorang penjahat. Yesus memberikan teladan sebagai seorang pemimpin sejati yang lebih suka melayani daripada dilayani.

Memikul salib dan penyangkalan diri (kehendak) akan menghasilkan kematian terhadap diri sendiri. Bukti nyata dari seseorang yang telah mengalam i kematian terhadap diri sendiri adalah timbulnya kerinduan untuk melayani orang lain. Semakin seseorang mati terhadap dirinya maka ia semakin rindu untuk melayani orang lain. Dr. Ravi Zacharias berkata “ Kita begitu mudah mengklaim hak-hak kita sampai-sampai kita mengubur tuntutan yang memanggil kita untuk melayani ”. Konflik yang terjadi dalam sebuah rumah tangga umumnya ditimbulkan karena masing-masing pihak lebih menuntut haknya untuk dilayani daripada melayani. Suami dan isteri masing-masing maunya menang sendiri dan tidak mau mengalah. Jika keduanya terus bertahan dengan keegoannya maka konflik tidak akan bisa diselesaikan dengan baik. Lalu komunikasi menjadi terganggu dan bila tidak terjadi pemberesan maka bisa mengarah kepada perceraian.

Bila hubungan kita dengan orang lain tidak di dalam Tuhan pasti akan berakhir dengan kekecewaan. Hal ini disebabkan setiap manusia memiliki naluri untuk mencari kepuasan melalui hubungan dengan sesamanya. Padahal tidak ada seorangpun manusia yang dapat memberikan kepuasan penuh kepada orang lain. Hanya hubungan dengan Tuhan yang dapat memberikan kepuasan sejati kepada manusia. Hanya orang yang telah menemukan kepuasan sejati melalui hubungan dengan Kristus mampu melayani dengan cinta yang sejati.

Oleh karena itu hal utama yang perlu kita kejar dalam hidup ini adalah mengalami kepenuhan Allah sehingga lewat itu hidup kita akan benar-benar dipuaskan. Dari kepuasan itu akan lahir sebuah pelayanan yang dilandasi oleh cinta bukan kewajiban. Yesus berkata “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” Hanya manusia yang telah menerima kasih dari Kristus yang mampu memberikan kasih yang tanpa syarat itu. Terimalah cintaNya dan layanilah orang lain dengan cinta itu !

Membangun Lumbung

Oleh: Pdt. Samuel T. Gunawan

Khotbah Minggu Pagi di GBAP El Shaddai Palangka Raya 28 Oktober 2012

“TUHAN akan memerintahkan berkat ke atasmu di dalam lumbungmu dan di dalam segala usahamu; Ia akan memberkati engkau di negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu” (Ulangan 28:8)

Pendahuluan

Lumbung merupakan ide dari Tuhan. Pada waktu mendaftarkan berkat-berkat yang diperoleh dari ketaatan dalam ulangan 28 disana ditemukan bahwa Tuhan juga memberkati lumbung atau gudang penyimpanan. Istilah moderen lainnya untuk lumbung adalah bank tempat penabungan. Perlu diingat, bahwa berkat yang dijanjikan dalam ulangan 28 adalah “bless of conditional covenant” atau “berkat perjajian bersyarat”. Ciri dari perjanjian bersyarat terlihat dari formula “jika – maka” dalam ayat 1. Artinya, Tuhan akan melakukan apa yang dijanjikanNya apabila umatNya taat melakukan syarat-syarat yang dituntutNya dalam perjanjian itu. Jadi, membangun lumbung bukan hanya merupakan hal yang baik, tetapi merupakan ide dari Tuhan; “Good idea and God’s idea”


Tujuan Membangun Lumbung

Pada zaman Perjanjian Lama, Lumbung-lumbung dibuat supaya ada kepastian akan kecukupan persediaan, seperti gandum untuk makanan, yang dapat digunakan jika masa paceklik seperti kelaparan datang atau saat ada bencana yang melanda. Yusuf adalah seorang adalah seorang pria yang pertama kali melakukan hal ini ketika ia menyuruh bangsa Mesir menyimpan gandum selama tujuh tahun lamanya. Melalui kebijakan ekonomi yang dibuatnya, melindungi Mesir dan bangsa-bangsa lainnya dari kelaparan, ketika tujuh tahun kelaparan terjadi. Melalui kecukupan persediaan dalam lumbung yang dibuat mereka memiliki banyak persediaaan, bahkan cukup banyak untuk memberi makan mesir dan bangsa lainnya, termasuk keluarga Yusuf sendiri (Baca Kejadian 41-48).


Jadi tujuan dari lumbung adalah untuk memastikan adanya persediaan yang cukup dan untuk memenuhi kebutuhan kita dan orang lain pada masa-masa yang sulit. Rasul Paulus menginatkan hal ini kerika ia menasihati jemaat Korintus, “Tentang pengumpulan uang bagi orang-orang kudus, hendaklah kamu berbuat sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang kuberikan kepada Jemaat-jemaat di Galatia. Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-masing -- sesuai dengan apa yang kamu peroleh -- menyisihkan sesuatu dan menyimpannya di rumah, supaya jangan pengumpulan itu baru diadakan, kalau aku datang. Sesudah aku tiba, aku akan mengutus orang-orang, yang kamu anggap layak, dengan surat ke Yerusalem untuk menyampaikan pemberianmu” (1 Korintus 16:1-3). Perhatikan nasihat Paulus dalam ayat ini adalah bahwa harus menyisihkan uang pada hari minggu untuk lumbung pribadi mereka se merekahingga keika Rasul Paulus atau utusannya datang mengunjungi mereka, persembahan sudah siap tersedia dan menunggu untuk diambil. Dari ayat-ayat ini terlihat bahwa merupakan ide baik untuk menyisihkan sedikit uang untuk mengisi lumbung pribadi kita.

Berapa Banyak yang Harus Ditabung?
 
Jika kita bebas dari utang atau tidak mempunyai utang, berapa banyak uang yang harus kita tabung? Tuhan memberikan kita dalam hal ini, artinya secukupnya sesuai dengan berkat dan kemampuan yang dimiliki. Dengan demikian kita harus mengunakan akal sehat yang diberikan Tuhan pada kita. Jika saat ini kita hanya berkerja musiman atau tidak menentu sehingga suatu saat akam menghadapi atau mengalami waktu yang panjang tanpa pekerjaan apapun,  maka kita harus menyisihkan lebih banyak uang dibandingkan orang yang memiliki pekerjaan dan pendapatan yang stabil dan teratur, speerti pegawaian negeri sipil atau pegawai perusahaan tetap. Angka baik untuk memulai adalah 10 persen yang berati kita harus mengembalikan 10 persen kepada Tuhan yaitu persepuluhan, lalu menyimpan 10 persen lainnya untuk ditabung, kemudian hidup dengan jumlah 80 persen.

Tetapi, dalam hal ini kita perlu meminta hikmat dan tuntunan Tuhan berapa banyak yang perlu kita simpan. Masalah yang penting adalah kita mempertahankan keseimbangan antara memiliki terlalu sedikit dan terlalu banyak. Maksudnya, sebaiknya kita mempunyai persediaan yang cukup dalam lumbung kita, sehingga jika sewaktu-waktu ada kebutuhan mendadak atau kesempatan khusus untuk memberi, kita memiliki uang yang kita butuhkan. Namun terlalu banyak sehingga akhirnya kita mulai mengandalkan uang sebagai sumber keamanan. Jangan pernah lupa bahwa kita percaya kepada Tuhan, bukan kepada uang. Perhatikan dua bagian Alkitab yang memberi peringatan berikut ini:

“Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk. Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah” (Yeremia  17:5-8).

“Kata-Nya lagi kepada mereka: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: "Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah” (Lukas 12:15-21).

Saran-Saran Agar Bisa Membangun Lumbung

Karena membangun lumbung adalah hal yang baik dan merupakan ide dari Tuhan maka perlu bagi kita untuk melakukannya. Berikut ini saran-saran praktis agar lumbung kita diberkati dan ada persediaan yang cukup.

1. Membayar kepada Tuhan apa yang menjadi milik-Nya (Amsal 3:9-10; Maleakhi 3:6-10). Hal yang paling bijaksana yang harus kita lakukan adalah membayar kepada Tuhan terlabih dahulu. Tuhan sangat ingin memberkati kita sampai berkelimpahan. Tetapi kita akan kehilangan kelimpahanNya jika kita tidak mengungkapkan kasih kita kepadaNya melalui ketaatan. Ketaatan dalam membayar kepada Tuhan menunjukkan keadaan hati kita dan kasih kita kepada Allah (Matius 6:21; Lukas 12:34). Allah ingin kita memberi kepada terlabih dahulu dan memberikan yang terbaik, yaitu yang pertama dari penghasilan kita. Pembayaran kepada Allah itu adalah buah sulung dan persepuluhan. Buah sulung ialah yang pertama dari penghasilan kita (Amsal 3:9-10; bandingkan Bilangan 18:12-13). Sedangkan persepuluhan adalah 10 persen dari pendapatan kita yang dibayar (dikembalikan)  kepada Tuhan (Maleakhi 3:6-10; bandingkan Imamat 27:30, 32; Ulangan 14:22). Kata Ibrani untuk “persepuluhan” adalah “ma’ser” yang berarti “sepersepuluh bagian”.

Mengapa kita perlu membayar  buah sulung dan persepuluhan? Karena itu adalah milik Tuhan yang harus dikembalikan kepadaNya. Selain itu, buah sulung dan persepuluhan adalah pagar yang akan melindungi benih-benih yang kita tabur dalam hidup kita hingga menghasilkan buah. Kita membayar buah sulung dan persepuluhan dengan kasih dan harapan kepada Tuhan yang sangat ingin memberkati kita secara melimpah dan selalu siap menolong kita jauh lebih banyak dari apa yang kita doakan dan pikirkan (Efesus 3:20). Ada orang Kristen yang berpendapat bahwa keharusan membayar persepuluhan  itu adalah bagi orang Israel saja karena hal itu berkaitan dengan hukum Taurat. Ini adalah pemikiran yang keliru. Kira-kira empat ratus tahun sebelum hukum Taurat ada, Alkitab mencatat bahwa Abraham telah mempersembahkan sepersepuluhnya kepada Milkisedek (Kejadian 14:18-20). Orang Kristen membayar persepuluhan karena mengakui keimaman Melkisedek, dimana Kristus menjadi imam menurut peraturan Melkisedek (Ibrani 6:19-20; 7:1-17).

2. Bekerjalah dengan rajin (Amsal 6:6-11; 10:4; 13:4; 22:29; Ulangan 28:8).  Ada banyak orang sebenarnya berkecukupan jika mereka tidak membiarkan sifat malas menguasai mereka. Dengan rajin bekerja kita mencukupkan kebutuhan kita dan mulai menyisihkan kelebihannya untuk ditabung guna mencukupi kebutuhan yang tidak terduga. Ada yang mengajarkan bahwa cara memperoleh harta yang terbaik adalah dengan cara bekerja sesedikit mungkin dan mendapatkan hasil sebanyak mungkin. Ada pula yang mengajarkan bahwa bekerja adalah segala-galanya. Lalu, bagaimana konsep Allah tentang bekerja? Bagaimanakah seharusnya kita bekerja ? Ada dua prinsip dalam bekerja dengan rajin, yaitu prinsip bekerja dengan iman dan prinsip bekerja dengan etika Alkitab.  Prinsip pertama, bekerja dengan iman. Kita harus bekerja dengan iman karena bekerja adalah bagian dari perjanjian (kovenan) Allah (Kej 2:3;15,19; Ulangan 28:1-8). Jadi kita bukan hanya perlu bekerja, melainkan bekerja dengan iman. Mengapa? Orang yang rajin bekerja dengan iman, hidup di dalam hukum Perjanjian. Mereka pasti diberkati oleh Allah Karena Allah terikat dengan janjiNya. Semakin kita setia bekerja dengan keras di dalam perjanjian Allah, maka semakin besarlah kekuatan kita untuk menarik berkat Allah. Prinsip kedua, bekerja dengan etika Alkitab. Paulus dalam Kolose 3:22-25 memberikan prinsip dan etika dalam bekerja, yaitu : 1) Bekerja dengan segenap hati seperti untuk Tuhan yaitu: segenap akal pikiran, segenap kreativitas, segenap keterampilan, dan segenap kesungguhan; 2) Bekerja dengan prinsip ketaatan, yaitu : taat pada peraturan, taat pada kebenaran, taat pada pimpinan, taat pada tata krama, taat pada janji, dan taat pada kelompok. 3) Bekerja dengan takut akan Tuhan karena kita  ingat bahwa dari Tuhanlah kita akan menerima bagian upah kita melalui pimpinan atau kantor tempat kita bekerja.

3. Hiduplah dengan bijaksana, sederhana, dan hemat (Amsal 21:5; Efesus 5:15-17; 1 Timotius 6:8-10). Buatlah rencana yang terbaik bagi hidup kita. Mulailah dengan merencanakan anggaran belanja (). Berdasarkam Amsal 21:5, kita melihat bahwa membuat rencana dan anggaran belanja adalah membentuk dan mengikuti rencana kelimpahan. Dalam bentuk yang sederhana, sebuah anggaran belanja adalah cara untuk melacak uang yang masuk dan keluar. Berikut ini prinsip-prinsip dan cara-cara mengatur keuangan kita. 1)  Pahami kondisi keuangan kita: berapa besar/banyak pendapatan kita dan berapa pengeluaran kita yaitu: kewajiban dan kebutuhan kita. Hal ini akan menempatkan kita pada gaya hidup yang tepat, sehingga menghindari ”lebih besar pasak dari pada tiangnya”. 2) Buat anggaran yaitu catatan penerimaan dan catatan pengeluaran. Tujuannya adalah untuk mengetahui dari mana datangnya pendapatan / penerimaan keuangan kita, dan mengetahui kemana atau untuk keperluan apa pengeluaran keuangan kita. ini bertujuan sebagai bahan evaluasi untuk selanjutnya. 3) Menentukan prioritas dengan cara membedakan pengeluaran menurut kepentingannya, yaitu : (a) kewajiban-kewajiban, yaitu kewajiban kepada Allah seperti buah sulung, persepuluhan dan persembahan lainnya; kewajiban kepada pemerintah dan kewajiban lainnya seperti pajak, listrik, PDAM, telpon, pembayaran utang atau cicilaan kredit, iuran, dll. (b) Kebutuhan pokok yaitu kebutuhan yang harus terpenuhi sepert: pangan atau makanan; sandang atau pakaian; papan atau rumah tempat tinggal; biaya transport; biaya pendidikan; biaya kesehatan. (c) Keinginan yaitu sesuatu yang tidak begitu penting, yang tidak akan mempengaruhi apapun jika tidak dipenuhi. Keinginan lebih banyak berkenaan dengan gaya hidup seseorang, bukan kebutuhan mendasar, yaitu : rekreasi; vcd player; jajan; hanphone, dll. (d) Kemewahan yaitu pengeluaran yang jauh di atas normal karena didalamnya ada kualitas tertentu yang harus dibayar, misalnya : motor gede; mobil sport; villa; makan direstoran mahal; menginap dihotel berbintan dan lain-lain. Ingatlah, Keuangan kita harus mengutamakan kebutuhan pokok (makanan, pakaian, dan tempat tinggal), bukan keinginan-keinginan kita. Apa yang kita butuhkan pasti dijawab oleh Tuhan, apa yang kita inginkan belum tentu dijawab Tuhan (Yakobus 4:3). Apa yang kita inginkan akan terjawab kalau keinginan kita adalah keinginan-keinginan Allah. Hal itu terjadi saat kita manunggal dengan firman (Yohanes 15:7). 4) Biasakan hidup sederhana. Hemat berbeda dengan pelit. Hemat adalah sikap yang penuh pertimbangan di dalam melakukan pengeluaran agar tidak terjadi hal yang tidak perlu. Pelit adalah sikap susah untuk melakukan pengeluaran sekalipun untuk hal-hal yang perlu. Hidup hemat dapat dilakukan dengan cara: Tidak menggunakan kartu kredit;    Kurangi makan diluar rumah dan jajan yang tidak perlu; Hindari belanja yang impulsif menurut dorongan hati atau keinginan semata-mata; dan buat daftar belanja sebelum bepergian berbelanja atau ke pasar.

4. Bertekadlah untuk membayar utang (Ulangan 28:12). Hutang bukanlah dosa, tetapi berbahaya, sebab satu langkah lagi kita akan berbuat dosa yaitu bila kita tidak membayar hutang. Hanya orang fasik (orang berdosa) yang berhutang dan tidak membayar hutang (Mazmur 37:21). Karena itu pastikan kita membayar hutang. Rencana Allah untuk kita bukanlah agar kita meminjam uang, melainkan agar kita memberi pinjaman (Ulangan 28:12). Semakin kita setia pada harta orang lain (tidak berhutang), semakin kita dipercayakan banyak harta (Lukas 16:12). Pertanyaan: Bagaimana bila ada utang ? Bayarlah dan tepat janji (Amsal 6:1-5). Semakin kita tepat janji dalam membayar tagihan atau hutang, semakin setialah kita pada harta orang lain. Karena itu, Tuhan akan semakin banyak mempercayakan harta kepada kita. Alkitab berkata seseorang yang tidak tepat janji dengan hutangnya akan menjadi tidak bebas (budak) sehingga pekerjaan kita tidak produktif (Amsal 6:1-5).
Jika anda terlilit utang, maka bertekadlah untuk lepas dan bebas dari utang. Cara membebaskan diri dari utang bukanlah menyembunyian diri, melarikan diri atau bunuh diri. Cara terbaik untuk bebas dari utang adalah dengan mulai bertekad membayar utang. Berikut ini beberapa saran yang dianjurkan untuk bebas dari utang: 1) Buatlah daftar utang-utang mulai dari yang terbesar hingga yang terkecil; 2) Mulailah membayar utang yang terkecil nilainya; 3) berfokuslah untuk melunasi satu utang lebih dulu sampai selesai, kemudian lanjutkan membayar hutang-hutang lainnya hingga semua hutang terbayar; 4) mintalah berkat Tuhan untuk kecukupan hidup anda dan untuk membayar utang-utang anda. 5) Walaupun anda terlilit utang, paksalah menabung walalupun sedikit jumlahnya.

Penutup

Kita tak pernah tahu keadaan di depan kita, tetapi kita dapat mempercayakan kehidupan kita kepada Tuhan karena Dia menginginkan hidup kita diberkati dan berhasil. Pertama, Tuhan menjanjikan masa depan yang penuh harapan, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan” (Yeremia 29:11). Kedua, Tuhan memberikan kekuatan untuk berhasil. Tuhan tidak memberikan kita harta, tetapi kekuatan untuk memperoleh harta kekayaan, “Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini” (Ulangan 8:18).  Paulus mengingatkan bahwa “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya” (2 Korintus 8:9).


Membuat lumbung, atau menabung yaitu menyisihkan sebagian dari pendapatan kita merupakan hal yang baik dan ide ini datangnya dari Tuhan. Tuhan memang tidak mengatakan bahwa kita harus menumpuk uang, tetapi adalah bijaksana apabila kita memiliki beberapa sumber ekstra yang mungkin kita perlukan untuk kebutuhan-kebutuhan yang tak terduga atau kepentingan orang lain. Bukankan merupakan suatu hal yang bijaksana jika kita mengetahui adanya suatu kebutuhan untuk kita maupun orang lain dan mendapati bahwa kita ada persediaan cukup untuk kebutuhan itu tanpa terlibat utang? Kita dapat belajar dari wanita yang bijaksana dalam amsal 31:25,” .. ia tertawa tentang hari depan”. Inilah wanita yang takut akan Tuhan, yang cakap, dan melakukan yang terbaik untuk masa depannnya seisi rumahnya (baca Amsal 31:10,30).


* Pdt. Samuel T. Gunawan adalah seorang Protestan-Kharismatik, Pendeta dan Gembala di GBAP Jemaat  El Shaddai; Pengajar di STT IKAT dan STT Lainnya. Menyandang gelar Sarjana Ekonomi (SE) dari Universitas Palangka Raya; Sarjana Theology (S.Th) dan Magister Theology (M.Th) dari STT Trinity.

Memberikan Pujian

Oleh: Marinus Waruwu

Seorang pengemis duduk mengulurkan tangannya di sudut jalan. Tolstoy, penulis besar Rusia yang kebetulan lewat di depannya, langsung berhenti dan mencoba mencari uang logam di sakunya. Ternyata tak ada. Dengan amat sedih ia berkata, "Janganlah marah kepadaku, hai Saudaraku. Aku tidak bawa uang."

Mendengar kata-kata itu, wajah pengemis berbinar-binar, dan ia menjawab, "Tak apa-apa Tuan. Saya gembira sekali, karena Anda menyebut saya saudara. Ini pemberian yang sangat besar bagi saya."

Setiap manusia, apapun latar belakangnya, memiliki kesamaan yang mendasar: ingin dipuji, diakui, didengarkan dan dihormati.

Kebutuhan ini sering terlupakan begitu saja. Banyak manajer yang masih beranggapan bahwa orang hanya termotivasi uang. Mereka lupa, nilai uang hanya bertahan sampai uang itu habis dibelanjakan. Ini sesuai dengan teori Herzberg yang mengatakan bahwa uang tak akan pernah mendatangkan kepuasan dalam bekerja.

Manusia bukan sekadar makhluk fisik, tapi juga makhluk spiritual yang membutuhkan sesuatu yang jauh lebih bernilai. Mereka butuh penghargaan dan pengakuan atas kontribusi mereka. Tak perlu sesuatu yang sulit atau mahal, ini bisa sesederhana pujian yang tulus.

Namun, memberikan pujian ternyata bukan mudah. Jauh lebih mudah mengritik orang lain.

Seorang kawan pernah mengatakan, "Bukannya saya tak mau memuji bawahan, tapi saya benar-benar tak tahu apa yang perlu saya puji. Kinerjanya begitu buruk." "Tahukah Anda kenapa kinerjanya begitu buruk?" saya balik bertanya. "Karena Anda sama sekali tak pernah memujinya!"

Persoalannya, mengapa kita begitu sulit memberi pujian pada orang lain?

Menurut saya, ada tiga hal penyebabnya, dan kesemuanya berakar pada cara kita memandang orang lain.

  1. Kita tidak tulus mencintai mereka. Cinta kita bukanlah unconditional love, tetapi cinta bersyarat. Kita mencintai pasangan kita karena ia mengikuti kemauan kita, kita mencintai anak-anak kita karena mereka berprestasi di sekolah, kita mengasihi bawahan kita karena mereka memenuhi target pekerjaan yang telah ditetapkan.

    Perhatikanlah kata-kata di atas: cinta bersyarat. Artinya, kalau syarat-syarat tidak terpenuhi, cinta kita pun memudar. Padahal, cinta yang tulus seperti pepatah Perancis: L`amour n`est pas parce que mais malgre. Cinta adalah bukan "cinta karena", tetapi "cinta walaupun". Inilah cinta yang tulus, yang tanpa kondisi dan persyaratan apapun.

    Cinta tanpa syarat adalah penjelmaan sikap Tuhan yang memberikan rahmat-Nya tanpa pilih kasih. Cinta Tuhan adalah "cinta walaupun". Walaupun Anda mengingkari nikmat-Nya, Dia tetap memberikan kepada Anda. Lihatlah bagaimana Dia menumbuhkan bunga-bunga yang indah untuk dapat dinikmati siapa saja tak peduli si baik atau si jahat. Dengan paradigma ini, Anda akan menjadi manusia yang tulus, yang senantiasa melihat sisi positif orang lain. Ini bisa memudahkan Anda memberi pujian.

  2. Kita lupa bahwa setiap manusia itu unik. Ada cerita mengenai seorang turis yang masuk toko barang unik dan antik. Ia berkata, "Tunjukkan pada saya barang paling unik dari semua yang ada di sini!" Pemilik toko memeriksa ratusan barang: binatang kering berisi kapuk, tengkorak, burung yang diawetkan, kepala rusa, lalu berpaling ke turis dan berkata, "Barang yang paling unik di toko ini tak dapat disangkal adalah saya sendiri!"

    Setiap manusia adalah unik, tak ada dua orang yang persis sama. Kita sering menyamaratakan orang, sehingga membuat kita tak tertarik pada orang lain. Padahal, dengan menyadari bahwa tiap orang berbeda, kita akan berusaha mencari daya tarik dan inner beauty setiap orang. Dengan demikian, kita akan mudah sekali memberi pujian.

  3. Paradigm paralysis. Kita sering gagal melihat orang lain secara apa adanya, karena kita terperangkap dalam paradigma yang kita buat sendiri mengenai orang itu. Tanpa disadari kita sering mengotak-ngotakkan orang. Kita menempatkan mereka dalam label-label: orang ini membosankan, orang itu menyebalkan, orang ini egois, orang itu mau menang sendiri. Inilah persoalannya: kita gagal melihat setiap orang sebagai manusia yang "segar dan baru". Padahal, pasangan, anak, kawan, dan bawahan kita yang sekarang bukanlah mereka yang kita lihat kemarin. Mereka berubah dan senantiasa baru dan segar setiap saat.

Penyakit yang kita alami, apalagi menghadapi orang yang sudah bertahun-tahun berinteraksi dengan kita adalah 4 L (Lu Lagi, Lu Lagi -- bahasa Jakarta). Kita sudah merasa tahu, paham dan hafal mengenai orang itu. Kita menganggap tak ada lagi sesuatu yang baru dari mereka. Maka, di hadapan kita mereka telah kehilangan daya tariknya.

Sewaktu membuat tulisan ini, istri saya pun menyindir saya dengan mengatakan bahwa saya tak terlalu sering lagi memujinya setelah kami menikah. Sebelum menikah dulu, saya tak pernah kehabisan bahan untuk memujinya. Sindiran ini, tentu, membuat saya tersipu-sipu dan benar-benar mati kutu.

Pujian yang tulus merupakan penjelmaan Tuhan Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Maka, ia mengandung energi positif yang amat dahsyat. Saya telah mencoba menerapkan pujian dan ucapan terima kasih kepada orang-orang yang saya jumpai: istri, pembantu yang membukakan pagar setiap pagi, bawahan di kantor, resepsionis di kantor klien, tukang parkir, satpam, penjaga toko, maupun petugas di jalan tol.

Efeknya ternyata luar biasa. Pembantu bahkan menjawab ucapan terima kasih saya dengan doa, "Hati-hati di jalan, Pak!" Orang-orang yang saya jumpai juga senantiasa memberi senyuman yang membahagiakan. Sepertinya mereka terbebas dari rutinitas pekerjaan yang menjemukan.

Pujian memang mengandung energi yang bisa mencerahkan, memotivasi, membuat orang bahagia dan bersyukur. Yang lebih penting, membuat orang merasa dimanusiakan.

Sumber: Indonesia Business Online, Penulis: Arvan Pradiansyah

Mempersiapkan Natal

Penulis : Herlianto

"Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di atas palungun, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan." (Lukas 2:6-7).

Hari Natal yang di kenang di seluruh dunia dipenghujung tahun sudah makin jauh dari Natal pertama yang syahdu dan sederhana seperti gambaran dalam ayat di atas. Hari Natal pertama diisi dengan kesederhanaan dimana di samping orang-orang Majus yang kaya hadir juga para gembala yang sederhana untuk menyambut kelahiran bayi Yesus, kelahiran-Nya yang tidak dirayakan di penginapan atau di istana, tetapi di sebuah palungan di kota Betlehem. Inilah makna Natal sebenarnya dimana damai Allah menyertai semua manusia, damai di hati tanpa dekorasi yang berarti.

Masakini, memasuki bulan Desember, kita dapat menyaksikan di mana-mana, terutama restoran, mal dan hotel, dan di siaran TV, banyak dikumandangkan persiapan menyambut hari Natal dengan belanja akhir tahunnya, apakah masih ada yang tersisa dari Natal Betlehem di balik hiruk-pikuk perayaan Natal di masa kini?

Pohon Natal adalah gambaran yang indah di Eropah di musim salju ketika salju memenuhi permukaan bumi dan pohon-pohon berguguran daunnya, di situ kita melihat pohon-pohon den yang tegap berdiri dengan kehijauan daunnya yang tetap memberikan harapan segar. Di malam hari, di balik pohon ini kita dapat melihat kerlap-kerlip lampu-lampu rumah di sela-sela daun-daunnya. Apalagi kesan indah ini diiringi lagu ´Malam Kudus´ memberi rasa syahdu dan damai bagi mereka yang melihat pohon itu dan mendengar lagu itu. Pohon yang kemudian dijadikan lambang pohon terang itu sekarang sudah meluas menjadi hiasan di toko-toko serba ada di seluruh dunia, namun apakah makna sebenarnya Natal yaitu ´kelahiran Juruselamat manusia´ itu masih bisa dilihat di balik kemeriahan belanja akhir tahun itu?

Sebenarnya Franciscus dari Assisilah yang pertama kali memperkenalkan replika kandang dengan ternak dengan patung-patung kecil Yusuf, Maria dan bayi dalam palungan dan para majus dan gembala disekitarnya, yang sering kita lihat sebagai hiasan Natal baik di gereja maupun di rumah. Replika inilah yang menjadi hiasan sejak abad-13 sebelum pohon Natal diperkenalkan, dan diiringi Christmas Carol yang dinyanyikan sekelompok orang dari rumah ke rumah. Pohon Den dengan kerlap-kerlip kemudian dijadikan lambang kekekalan dan dijadikan pohon Natal seperti yang kita kenal sekarang.

Pohon Natal yang sederhana itu kemudian di abad-18 berkembang dengan adanya penambahan dekorasi hiasan-hiasan Natal, dan lama kelamaan dekorasi itu begitu lebatnya sehingga lambang pohon dan sinarnya yang menjadi simbol kekekalan dan kesyahduan menjadi terkubur oleh hiruk pikuk dan kemeriahan hiasannya. Suasana Natal untuk mengenang kesederhanaan kelahiran Tuhan Yesus yang menyelamatkan manusia kini banyak tertutup oleh pesta pora dengan segala hiasan yang mewah dan bukan lagi dirayakan oleh umat Kristiani saja tetapi meluas oleh umum. Perayaan Natal perlu kembali mengalami ´de-sekularisasi´.

Pada abad-11, Nicholas seorang uskup yang baik hati yang suka membagi-bagikan hadiah pada anak-anak dirayakan pada tengah malam tanggal 5 Desember, namun lama-lama legenda ´Santo´ Nicholas ini di adopsi di negeri Belanda dan dirayakan sebagai ´Sinter-Klaas´ dan kemudian di Amerika dirayakan sebagai ´Santa Calus´ yang sekarang dimasukkan ke dalam rangkaian perayaan Natal dan sambil menaiki kereta salju ditarik rusa kutup terbang di atas rumah-rumah penduduk sambil membagi-bagikan hadiah di rayakan di malam Natal.

Figur Santa Claus ini merupakan campuran figur Santo Nicholas dan Odin, dewa yang disembah orang Norwegia. Gambaran mitologi Odin ini lebih-lagi pada masakini diisi dengan berbagai pertunjukan gaib dengan peri-peri yang membawa tongkat berujung bintang mendatangkan mujizat-mujizat. Masa kini beberapa supermal menghadirkan ´magic´ Christmas dengan gambaran peri bertongkat-bintang gaib ini. Gambaran Natal yang serba wah ini kemudian makin rusak karena sudah menjadi hiasan umum baik di daerah lampu merah di New York, London maupun Paris, dan di Ginza di Tokyo yang mayoritas penduduknya bukan Kristen suasana Natal juga di rayakan dengan meriah. Natal bukanlagi merupakan moral-force yang menobatkan tetapi sekedar perayaan.

Benar-benar kemeriahan perayaan Natal masakini perlu di de-mitologisasikan, agar kita dapat mengenal benar-benar berita kesukaan akan kelahiran juruselamat yang mendatangkan damai sejahtera bagi semua manusia di dunia. Perayaan yang meriah di gedung gereja yang tertutup, dan lebih lagi di ballroom hotel yang eksklusif sudah jauh berbeda dengan kondisi palungan di malam Natal pertama yang dihadiri para gembala yang sederhana.

Umat Kristen sedang menyiapkan hari Natal di akhir tahun ini, dan sudah tiba saatnya umat Kristen mengembalikan hakekat Natal kepada artinya semula dan tidak terkecoh oleh gemerlapannya kerlap-kerlip lampu listrik dan dekorasi yang wah. Umat Kristen perlu men de-sekularisasi-kan dan de-mitologisasi-kan perayaan-perayaan natal yang sudah melenceng jauh dari makna asalinya.

Di tengah kepedihan yang dialami ribuah keluarga yang menghadapi PHK di PT-DI, dan begitu banyaknya keluarga digusur dari rumah kumuh mereka atau tempat jualan mereka di kaki lima dan tidak memperoleh tempat membaringkan kepala, dan palunganpun tidak, umat Kristiani dipanggil untuk menghadirkan Natal terutama bagi mereka yang tersingkir, yang terpinggirkan, dan yang dilupakan. Setidaknya dengan menjalankan upacara dengan sederhana, apalagi kalau disertai dengan kasih yang meluap keluar ke jalan-jalan yang dingin, setidaknya umat manusia benar-benar lebih bisa merasakan bahwa Natal itu memang mendatangkan damai sejahtera bagi manusia di bumi dan bukan sebaliknya.

Selamat mempersiapkan Natal mendatang dan menyatakan kasih dan damai sejahtera Allah bagi umat di sekeliling kita. Amin!

Mencari Tahu Maksud Tuhan

Penulis : Lesminingtyas

Beberapa waktu yang lalu saya menuliskan tentang "Apa Kehendak Tuhan di Balik Kenaikan Harga BBM". Beberapa orang dengan cepat bereaksi dengan mengatakan bahwa kenaikan harga BBM adalah murni kehendak pemerintah, bukan kehendak Tuhan. Memang betul, sesesuatu bisa terjadi pada diri kita karena ulah pemerintah atau gara-gara orang lain.

Sebagai orang percaya, seharusnya kita tidak boleh berhenti menyalahkan keadaan dan mencari kambing hitam. Kita juga tidak perlu mempertanyakan mengapa begini, mengapa begitu. Kita harus memaknai setiap peristiwa, baik suka maupun duka dengan mencari tahu apa yang Tuhan kehendaki untuk kita lakukan. Buat apa kita buang-buang waktu untuk bertanya mengapa begini mengapa begitu, kalau kita tidak pernah mendapatkan jawaban yang pasti. Kalaupun kita bisa mereka-reka jawaban, buat apa kalau jawaban tersebut tidak bisa merubah keadaan menjadi lebih baik?

Sebagai orang yang hidup berpengharapan di dalam Tuhan, kita harus selalu memandang bahwa Tuhan mengijinkan segala sesuatu terjadi pada diri kita, supaya hidup kita lebih baik lagi. Kita harus percaya bahwa baik suka maupun duka, dipakai Tuhan untuk kebaikan kita. Melalui kesulitan-kesulitan hidup, Tuhan ingin membentuk supaya kita benar-benar kuat, tegar, memiliki kemampuan untuk recovery atau bahkan memiliki resilience yang tinggi.

Ada juga orang yang berpendapat bawa segala sesuatu yang membuat kita takut, kuatir dan meresahkan, termasuk kenaikan harga BBM merupakan pekerjaan iblis. Tapi tunggu dulu, bukankah Ayub yang hidup saleh, jujur, takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan tetap diijinkan hidup menderita dalam kesengsaraan yang begitu panjang? Kalau waktu itu Ayub bersungut-sungut atau marah dan mempertanyakan sikap Tuhan yang dipandang begitu tega terhadap dirinya, mungkin saja ia akan mati dalam keputusasaan. Namun dengan kesetiaannya, Ayup bisa recovery dan memiliki resilience yang sangat bagus.

Pada akhir kisah Ayup baru kita menyadari bahwa rencana Tuhan memang indah pada waktuNya. Ternyata Tuhan memulihkan dan memberkati kehidupan Ayub selanjutnya, lebih dari kehidupan yang sebelumnya (Bandingkan Ayub 1 dan 2 dengan Ayub 42 : 10-17).

Belajar dari kisah Ayup, kita menjadi tahu bahwa melalui setiap kejadian, Tuhan tidak ingin kita terbujuk oleh iblis sehingga kita bersungut-sungut, marah, putus asa dan tak berpengharapan. Sesulit apapun keadaan yang kita hadapai, kita tetap harus berpengharapan di dalam Tuhan. Kesetiaan hidup di dalam Tuhan hendaknya kita pancarkan dalam menghadapi setiap peristiwa, di mana kita harus selalu bertanya "Apa yang Tuhan kehendaki di balik peristiwa ini?"

Dengan bertanya seperti itu, secara psikis kita telah menemukan 50% solusi dari setiap peristiwa yang terjadi. Selebihnya kita bisa berserah diri dan percaya bahwa Tuhan jugalah yang akan memampukan kita untuk menghadapi setiap kesulitan.

Suatu kali, saya hampir tidak bisa menerima kenyataan hidup ini. Saya yang berprofesi sebagai sekreatis di sebuah organisasi internasional, masih muda, ramah, baik hati, suka menolong dan aktif melayani Tuhan dan sesama, tiba-tiba menderita sakit TBC. Apakah penyakit yang menakutkan, menjijikkan dan bisa mematikan itu datangnya dari iblis? Lalu mengapa saya yang setia melayani Tuhan, masih bisa "dikutuk" oleh iblis? Mengapa Tuhan membiarkan penyakit itu membuat saya dikucilkan oleh lingkungan, sedangkan sebelumnya saya gemar melayani dan mengasihi sesama? Apakah kuasa Tuhan kalah hebatnya dari kuasa iblis? Kalau penyakit itu bukan dari iblis, tetapi dari Tuhan, apakah Tuhan saya sudah buta dan tidak tahu kebaikan yang harus diberikan kepada umatNya yang telah setia melayaniNya?

Saya pantas bersyukur kalau waktu itu saya tidak marah atau bertanya seperti di atas. Kalau saja, saya terus larut mempertanyakan keadaan saya, mungkin saya sudah mati karena putus asa. Ketika saya mencoba bertanya "Apa yang Tuhan kehendaki di balik penyakit yang menjijikkan itu?". Ternyata saya menjadi semakin yakin bahwa Tuhan adalah mentor terbaik dalam kehidupan saya. Sepanjang jalan kehidupan saya, saya baru mengerti arti pentingnya kesehatan setelah Tuhan mengijinkan saya sakit. Setelah Tuhan memulihkan saya, saya pun mengerti bahwa kesehatan lebih berharga dari pada materi.

Dengan merasakan betapa pahit dan sakitnya ketika menderita sakit TBC, saya pun bisa berempati dan peduli terhadap penderita TBC yang tersisih dan tercecer. Dengan merasakan betapa sepinya hidup dikucilkan karena penyakit TBC, saya pun menjadi semakin bijaksana untuk memanusiakan penderita TBC. Ketika dunia ini meninggalkan saya, kemudian Tuhan mengirimkan anak-anakNya untuk menolong dan menguatkan saya, saya semakin yakin hakul yakin bahwa kasih dan penyertaan Tuhan dalam hidup saya tidak pernah berkesudahan.

Suatu ketika, seseorang yang sangat saya cintai pergi meninggalkan saya. Pantaskan saya mempertanyakan kepada Tuhan, mengapa semua itu bisa terjadi? Layakkah saya bertanya "Mengapa orang yang tidak mengenal Kristus bisa hidup bahagia, sedangkan saya yang setia mengikutNya, Tuhan biarkan hidup merana?" Mungkin kalau saya tak henti-hentinya bertanya mengapa begini mengapa begitu, saya pun akan mati karena kesepian.

Saya bersyukur karena jauh-jauh hari sebelum saya ditinggalkan orang yang sangat saya cintai, sudah ada Ayup yang kehilangan tujuh anak laki-laki, tiga anak perempuan, ribuan ternak serta harta bendanya. Saya sadar betul bahwa penderitaan saya belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan penderitaan Ayup. Kalau Tuhan sanggup memulihkan Ayup yang remuk redam, maka hati saya yang tergores sedikit pasti lebih gampang dipulih oleh jamahan kasih Tuhan. Saya pun akhirnya menyadari bahwa dengan hidup ditinggalkan kekasih, justru membuat saya bisa merasakan dan menikmati cinta kasih Tuhan yang melampaui segala cinta manusia. Dengan kesendirian dan kelemahan saya, tangan Tuhan yang kuat dan penuh kasih sungguh sangat terasa.

Ketika kenaikan gaji saya tidak sebesar rekan kerja yang lain, apakah saya layak besungut-sungut, marah, sirik, kecewa atau berprasangka buruk bahwa pimpinan saya tidak bijaksana dan pilih kasih? Tentunya Tuhan tidak menghendaki demikian. Yang bisa saya lakukan adalah mensyukuri keadaan sambil mencari tahu apa maksud Tuhan di balik peristiwa tersebut. Bisa jadi, Tuhan mengijinkan saya untuk mendapatkan kenaikan gaji yang lebih kecil, karena rekan kerja yang lain lebih banyak membutuhkan uang. Tuhan juga menghendaki supaya saya pandai bersukur bukan hanya pada saat berkelimpahan, tetapi dalam kondisi pas-pasan pun saya harus tetap bersukur. Melalui peristiwa itu Tuhan juga ingin membentuk saya menjadi pribadi yang murah hati walaupun harus dengan berhemat diri. Tentunya Tuhan tidak membiarkan saya kelimpungan, dengan penghasilan kecil tetapi tetap harus berbagi kepada orang lain. Tuhan memperlengkapi saya dengan kemampuan mengendalikan pengeluaran secara bijaksana. Tuhan juga mencukupi kebutuhan saya bukan hanya dari gaji, supaya saya selalu sadar bahwa Tuhan Yesus lah Sumber Berkat yang sejati.

Ketika saya tahu banyak gereja ditutup, dirusak, dibakar serta dibom dan orang-orang Kristen hidup tertindas di negeri ini, layakkah saya resah, takut, marah, mendendam dan menuntut balas? Saya yakin Tuhan tidak menghendaki demikian, karena Ia telah berfirman bahwa pembalasan adalah hakNya. Melalui peristiwa itu Tuhan ingin supaya saya menjadi pengikutNya yang sunggung-sungguh militant dan selalu berjaga-jaga menunggu hariNya tiba. Tuhan memberi kita kekuatan sehingga walau kita ditindas, namun tidak terjepit; walau habis akal namun tidak putus asa, walau dianiaya namun tidak ditinggal sendirian, walau dihempaskan namun tidak binasa (II Kor 4 : 8).

Roma 12 : 14 juga mengajarkan kepada kita untuk memberkati orang-orang yang menganiaya kita. Dengan kita mengampuni, mengasihi dan memberkati para perusak rumah Tuhan dan penindas umat Kristen itu, saya yakin suatu saat nanti dunia ini tahu bahwa orang Kristen itu baik karena Yesus adalah Baik. Suatu saat nanti mata dunia akan dicelikkan bahwa orang Kristen cinta damai karena Tuhan Yesus lah Raja Damai.

Kembali ke persoalan awal tentang kenaikan harga BBM, pantaskah kita bersungut-sungut, menggerutu, marah, kuatir, berteriak-teriak menuding bahwa kebijakan pemerintah tidak adil dan tidak berpihak pada rakyat kecil? Jawabannya sangat sederhana : Buat apa kuatir, kalau kekuatiran itu tidak menyelesaikan masalah. Buat apa marah atau berteriak-teriak kalau toh tidak bisa mengubah keadaan menjadi lebih baik.

Saya setuju jika kita bisa menggunakan cara-cara yang kristiani untuk mempengaruhi pemerintah supaya bisa menghasilkan kebijakan yang benar-benar bijaksana. Namun bila memang keadaan sudah tidak bisa kita ubah, dan kenaikan harga BBM sudah tidak bisa kita tawar, paling bijaksana adalah menerima keadaan dengan legowo. Marilah kita bertanya "Apa yang Tuhan kehendaki dari keputusan pemerintah yang gila-gilaan menaikkan harga BBM itu?"

Setidaknya Tuhan menghendaki kita untuk tetap tenang dan tidak kuatir. Seperti tertulis dalam Matius 6 : 21 "Siapakah di antara kamu yang karena keku165rannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?"

Lalu bagaimana dengan kenaikan harga BBM yang pasti akan berimbas pada kenaikan harga semua bahan pokok dan biaya hidup lainnya? Apapun yang terjadi, kita tetap berpegang pada Firman Tuhan, seperti tertulis yang dalam Mat 6 : 25 "Karena itu Aku berkata kepadamu : Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang henak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh lebih penting dari pada pakaiaan?"

Lalu bagaimana dengan orang-orang miskin dan kaum marginal yang sebelum kenaikan harga BBM saja hidupnya sudah kembang kempis, makannya pun Senin Kamis (hanya makan di hari Senin dan Kamis)? Apakah Tuhan begitu tega membiarkan orang-orang miskin yang sebagian besar belum menerima Kristus itu menderita kelaparan?

Tuhan akan dipandang tega, pelit dan tak berperasaan kalau kita; anak-anakNya tidak menunjukkan belas kasihan kepada mereka yang menderita. Kasih Kristus akan dipandang oleh dunia sebagai bualan murahan kalau kita; anak-anakNya tidak mewujudnyatakan kasih melalui pelayanan kepada sesama. Injil Kristus juga dianggap tidak lebih baik dari komik Doraemon jika kita sebagai Alkitab terbuka tidak memancarkan Kasih Kristus. Sekarang, kita bisa bertanya pada diri sendiri, apakah kita sudah menjadi Alkitab yang terbuka bagi orang lain? Apakah orang lain bisa menyaksikan bahwa hidup kita benar-benar penuh pengharapan? Apakah orang lain bisa membaca dan melihat kebaikan dan kasih Kristus di dalam kita?

Lalu apa yang harus kita lakukan untuk menolong korban terparah dari kenaikan harga BBM, khususnya anak-anak dan perempuan miskin dan masyarakat marginal pada umumnya, sedangkan keadaan perekonomian kita sendiri ikut gonjang-ganjing? Bagaimanapun sulitnya hidup kita, Tuhan ingin kita memberi makan kepada orang yang kelaparan, memberi minum kepada yang haus, memberi tumpangan kepada mereka yang tak berdangau, memberi pakaian kepada yang telanjang dan melawat orang yang sakit dan kesepian. Itu semua harus kita lakukan bukan hanya sebagai tugas sosial, tetapi lebih merupakan pelaksanaan dari Amanat Agung yang Tuhan mandatkan dalam Matius 25: 31-46.

Mungkin para pembaca akan bertanya "Lho, sekarang ini kita sendiri sedang berada pada posisi yang sama sebagai korban kenaikan harga BBM? Kalau korban diharuskan menolong korban lain, apakah tidak sama dengan jeruk menolong jeruk? Mana mungkin!". Jawabannya adalah : "Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan!"

Sebagian orang mungkin akan mengeluh betapa sulitnya menjadi pengikut Kristus. Kalau kita berpikir bahwa itu sulit, maka segala sesuatu akan benar-benar sulit. Namun kalau kita mau membuka diri dan menyatakan iman, pengharapan dan kasih dalam kehidupan sehari-hari, maka Tuhan pasti akan menolong kita.

Dengan kerinduan untuk menolong orang-orang miskin yang putus asa dan tak berpengharapan gara-gara kenaikan harga BBM, maka Tuhan akan memperlengkapi kita dengan ketrampilan hidup berhemat dan kemampuan untuk hidup sederhana. Bisa jadi Tuhan tidak menambahkan berkat materi untuk mengejar kenaikan harga barang-barang kebutuhan sehari-hari. Tetapi Tuhan akan memperlengkapi kita dengan kreativitas untuk menikmati hidup dalam suasana yang pas-pasan. Bisa jadi, dengan kenaikan harga BBM ini kita terlatih untuk mengganti daging sapi, ayam, lobster, cumi-cumi, keju dan makanan mewah lain dengan tempe, tahu, ikan asin, telor dan kacang merah yang tak kalah nilai gizinya.

Bisa jadi, dengan semakin meroketnya harga-harga kebutuhan pokok, kita bisa lebih selektif untuk memilih makanan yang tidak terlalu mahal tetapi sehat, bergizi, tetapi non kolestrol dan non fat. Bisa jadi dengan semakin mahalnya beras, kita bisa lebih kearif memanfaatkan singkong, ubi, kentang, talas atau ganyong sebagai sumber karbohidrat. Atau jangan-jangan inilah saatnya bagi kita yang sudah over weight untuk mengurangi asupan karbohidrat dan protein, sehingga badan lebih ramping, sehat dan menarik.

Bagaimana dengan biaya transport yang sebentar lagi akan naik? Kita bisa tetap berpikir positif tentang hal tersebut. Mungkin sudah waktunya kita memutuskan untuk bepergian untuk hal-hal yang penting saja. Untuk menuju tempat yang berjarak kurang lebih 1 km, mungkin ada baiknya kita membiasakan diri untuk berjalan kaki. Selain menghemat uang, cara ini tentu sangat baik untuk kesehatan. Siapa tahu dengan semakin sering kita berjalan kaki, kita pun bisa saling menyapa dengan tetangga atau bahkan bisa mendapat kenalan baru.

Bisa jadi, dengan semakin mahalnya biaya transport, kita terpaksa menghentikan kegiatan di luar rumah yang tidak mendatangkan kemuliaan Tuhan dan tidak membawa kebaikan untuk diri sendiri dan sesama. Shopping yang bersifat hura-hura atau sekedar cuci mata di mall, dugem ke diskotik atau tempat hiburan malam sudah pasti lebih baik dihentikan demi kemuliaan Tuhan dan demi menyelamatkan kantong.

Marilah kita syukuri dan maknai setiap peristiwa yang terjadi, sambil mencari tahu apa maksud Tuhan di balik itu. Satu hal yang harus kita ingat adalah bahwa Tuhan telah memiliki master plan yaitu Rencana dan Karya Penyelamatan yang begitu indah dan sangat baik untuk kita. Dengan memohon berkat dan kekuatan dariNya, kita bisa memaknai setiap peristiwa, memandang hidup ke depan dan berkontribusi secara positif dalam master plan yang telah Tuhan siapkan.

Menciptakan

Oleh: Yosi Rorimpandei

Kata “menciptakan” adalah kata kedua dalam Kejadian 1:1. Namun, karena menyesuaikan dengan aturan Bahasa Indonesia, maka dalam alkitab terjemahan Bahasa Indonesia, kata “menciptakan” di tempatkan sesudah kata Allah.

Dalam naskah Ibraninya, kata “menciptakan” menggunakan kata BARA. Kata BARA dalam pengertian "mencipta" hanya dikenakan kepada TUHAN. Artinya, tidak ada aktivitas "mencipta" lainnya yang dapat disetarakan dengan aktivitas "mencipta"-nya TUHAN.

Bagaimanapun kemampuan manusia, termasuk kemampuan menghasilkan individu baru melalui teknologi yang kini disebut kloning, tidak akan mampu menyamai kemampuan "mencipta"-nya TUHAN.

Dalam alkitab berbahasa Latin, yaitu yang disebut Vulgata, kata BARA diterjemahkan dengan kata CREATIO, yaitu suatu istilah yang menjadi akar dari istilah yang kini kita kenal dengan sebutan "kreativitas."

Para ahli psikologi modern, selama bertahun-tahun pernah mengusulkan adanya Creativity Quotient (CQ) untuk melengkapi IQ (Intelligence Quotient), EQ (Emotional Quotient), dan SQ (Spiritual Quotient). Namun, hasil dari penelitian tersebut menyimpulkan bahwa tingkatan kreativitas manusia tidak dapat diukur dengan standard tertentu, seperti ketika kita mengukur IQ. Karenanya, CQ pun batal dijadikan standard baru.

Dari sini jelas, bahwa tingkatan kreativitas adalah suatu tingkatan yang tak terukur dengan berbagai pendekatan psikologis modern. Apalagi, ketika kita berbicara tentang kreativitas TUHAN. Suatu tingkatan kreativitas tertinggi yang tidak mungkin dijangkau oleh manusia.

Dengan kreativitas yang Maha Sempurna itulah, TUHAN menciptakan alam semesta ini, dan karena itulah juga kita berkewajiban untuk memelihara hasil kreativitas TUHAN.

Ada banyak hasil kreativitas TUHAN di sekitar kita. Mulai dari diri kita sendiri sampai alam semesta dimana kita tinggal, semuanya dihasilkan oleh kreativitas itu.

Kini, sebagai mahluk ciptaan TUHAN, sudah sepantasnya kita melakukan segala upaya kita untuk menjaga ciptaan-ciptaan TUHAN itu. Sebab, salah satu wujud kecintaan kita kepada TUHAN adalah bagaimana kita mencintai ciptaan TUHAN lainnya.

Saya teringat, ketika saya masih duduk di bangku SMP, saya memiliki kegemaran membuat cerita bergambar (komik). Salah satu komik saya yang paling disenangi oleh teman-teman saya bercerita tentang petualangan seorang pahlawan cilik yang berjuang membela kebenaran dan keadilan.

Karena komik itu sangat disukai oleh teman-teman saya, mereka pun sering meminjamnya dan membawanya ke rumah meskipun komik itu belum selesai. Saya akan melanjutkan komik itu setelah mereka selesai membacanya.

Suatu ketika, komik itu rusak gara-gara teman-teman saya berebutan membacanya. Mereka dengan sangat menyesal mengembalikan komik itu kepada saya dan memohon maaf. Sebagai gantinya, mereka memberikan kepada saya buku kosong untuk saya menggambarkan edisi lanjutan komik itu.

Saya memaafkan mereka dan saya pun memutuskan untuk menggambar kembali komik yang sudah saya buat. Meski demikian, rasa kecewa dan rasa tidak percaya muncul dalam diri saya terhadap mereka. Sejak itu, saya tidak lagi mengizinkan komik itu dibawa pulang atau diperebutkan. Mereka pun nampaknya memahami keputusan saya itu.

Kejadian itu membuat saya berpikir bahwa betapa seringnya kita menyakiti hati TUHAN. Ketika kita dengan “tanpa rasa bersalah” merusakkan segala hasil kreativitas TUHAN. Merusak keseimbangan alam, membakar hutan, membuat berbagai bentuk polusi bagi lingkungan, hingga tindakan-tindakan yang mungkin kita anggap sepeleh, seperti membuang sampah sembarangan atau mencemari lingkungan dengan bahan-bahan berbahaya.

TUHAN memang mengampuni. Ia sanggup mengembalikan segala kerusakan itu dengan Kemahakuasaan-NYA. Namun, bukankah TUHAN tidak pernah kompromi dengan kesalahan yang berulang-ulang?

Bencana alam yang kini banyak kita tanggung hendaknya menyadarkan kita betapa kita telah berkali-kali merusak kreativitas TUHAN, sementara kita hanya sanggup mengembalikan “buku kosong” kepada-NYA untuk meminta DIA “melukiskan kembali” setiap kerusakan yang kita buat. Inikah wujud kecintaan kita kepada-NYA?

Mengakui Kuasa Allah dalam Doa

Oleh: Puji R.

Matius 6:8

"Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya."

Perkataan yang diucapkan oleh Tuhan Yesus ini hendak mengajarkan kepada kita tentang bagaimana caranya berdoa. Kalimat ini juga mau menyatakan tentang Kuasa Allah. Kuasa Allah yang menembus batas sampai kedalaman hati dan pikiran manusia.

Ketika kita sakit secara jasmani atau sakit secara rohani, seringkali kita bawa dalam doa-doa kita, bahkan orang sering mengatakan bahwa kalau kita sakit atau sedang dirundung masalah datanglah kepada Tuhan dalam doa. Kita menyadari bahwa ada suatu Kuasa yang mampu melepaskan kita dari belenggu yang mengikat kita yaitu Allah. Namun dari kebanyakan orang yang mengaku sudah berdoa untuk sakitnya atau untuk masalahnya, tetapi kesembuhan atau jalan keluarnya tidak mereka temukan, lantas apa yang menjadi penyebabnya??? Ada dua hal yang harus kita lakukan untuk memperoleh kemenangan, sembuh dari sakit penyakit dan keluar dari masalah melalui doa-doa kita:

  1. Mengakui Kuasa Allah.

  2. Fokuskan diri kita pada Kuasa Allah dan akui dengan sungguh bahwa Kuasa Allah saja yang mampu menyembuhkan kita dari sakit penyakit. Jangan fokuskan pikiran kita pada penyakit yang sedang kita derita. Kita tidak perlu menceritakan lagi penyakit yang sedang kita derita, karena sebenarnya Allah telah mengetahui apa yang akan kita sampaikan kepada Allah sebelum kita mengucapkannya. Daripada berkata, "Ya Tuhan, aku sakit", lebih baik kita berkata, "Ya Tuhan, Engkaulah sumber kekuatanku dan keselamatanku".

  3. Hikmat Allah

  4. Allah memiliki hikmat untuk memecahkan setiap masalah, Ia memiliki kuasa untuk meraih setiap kemenangan. Untuk hal ini kita dapat belajar dari Nabi Daud yang selalu bersikap positif dalam doanya, sehingga ia mampu berkata pada akhir doanya dalam Mazmur 23:6, "Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa".

Mengapa Persembahan Tidak Diterima

Oleh: Yoanna Greissia

Sudah waktunya memberi persembahan untuk Tuhan

Korban penghapusan dosa...Pencurahan darah

Kedua pemuda itu bersiap-siap

Memberikan yang seharusnya diberikan...

Si sulung, petani yang rajin, hasil tanahnya baik

Si bungsu, peternak yang ulet, kambing dombanya gemuk

Sudah waktunya memberi persembahan untuk Tuhan

Korban penghapusan dosa...pencurahan darah

Si bungsu memilih ternak terbaik

dicurahkan darah, diambil lemak-lemaknya

dibakarnya sebagai korban persembahan untuk Tuhan

Penghapusan dosa...

Si sulung berpikir

"Ah, mengapa harus mencurahkan darah,

mengapa banyak sekali aturan

Aku punya hasil tanahku

Ku rasa aku dapat memberikannya untuk Tuhan

Aku tetap memberikan yang terbaik"

Kayu disiapkan, korban disiapkan

dari mezbah yang satu darah tercurah

lemak-lemak terbakar...

dari mezbah yang lain dedaunan disimpan

dan dibakar...

Tuhan melihat... Tuhan memilih...

Si sulung berteriak dalam hati...

"mengapa persembahanku tidak diterima?"

"aku rasa sudah memberikan yang terbaik"

"Apa yang salah?"

Si sulung tak mengerti

Persembahan...

Seharusnya menyukakan hati Tuhan

Seharusnya sesuai dengan yang Tuhan mau

dan bukan apa yang kita mau....

Saat Tuhan menjadi fokus...

kita memberikan persembahan

Saat diri kita menjadi fokus...

kita memberikan diri kita hiburan

Persembahan, adalah tentang memberi, bukan menonjolkan diri

Persembahan, adalah tentang kerendahan hati, bukan kesombongan

Persembahan, adalah tentang yang terbaik menurut Tuhan, bukan menurut kita...

Persembahan adalah soal hati...dan bukan sekedar harta

More poems: greissia.wordpress.com

Mengasihi Tuhan Melebihi Segalanya

Penulis : Sunanto

Lukas 14:26 "Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku." Menurut saya, perkataan Yesus pada ayat ini merupakan pernyataan terkeras diantara pernyataan-pernyataan keras lainnya yang pernah Ia ucapkan. Yang dimaksud Yesus dengan membenci ini bukan dalam arti sebenarnya melainkan merupakan ungkapan kiasan. Maksud perkataan ini adalah apabila kita tidak mengasihi Yesus melebihi mengasihi orang tua, anak, saudara dan nyawa sendiri maka kita tidak dapat menjadi muridNya. Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku ( Mat 10:37 ). Untuk mengikut Yesus kita harus melepaskan dan menyerahkan semua hal yang kita kasihi termasuk juga nyawa kita.

Yesus itu memang tokoh yang penuh kontroversial dan berbeda dengan kebanyakan tokoh yang pernah hidup di dunia ini. Biasanya seorang tokoh akan mencari pengikut sebanyak mungkin dengan cara merayu dan mengiming-imingi orang untuk mengikuti dia. Tetapi Yesus malah memberikan syarat yang sulit bagi orang yang ingin mengikutiNya. Bahkan Ia mengusir orang banyak yang mengikutiNya karena mereka mengikutiNya hanya untuk mendapatkan makanan ( berkat ). Seorang kaya bertanya kepadaNya hal apakah yang harus ia lakukan untuk memperoleh hidup yang kekal ? Orang kaya ini adalah orang yang taat melakukan segala perintah Allah ( hukum taurat ). Tapi Yesus berkata kepada orang kaya tersebut agar ia menjual semua hartanya dan membagikan kepada orang miskin, lalu kemudian baru mengikut Yesus. Yesus menuntut penyerahan total bagi setiap orang yang ingin menjadi muridNya.

Saya percaya salah satu penyebab mengapa saat ini begitu banyak terdapat orang Kristen suam-suam yang sangat tidak efektif bagi kerajaan Allah adalah karena mereka telah menerima injil yang tidak seutuhnya. Saat ini banyak penginjil/pengkotbah modern yang memberitakan injil murahan tanpa disertai tanggung jawab untuk memikul salib. Mereka merayu dan mendorong orang untuk mau percaya dan menerima Kristus tanpa mengajarkan konsekuensi yang harus diterima untuk menjadi murid Kristus. Malah sebaliknya mereka diajar tentang hal-hal indah dan enak yang akan diperoleh bila mereka mau menerima Kristus. Padahal dalam kenyataannya justru dalam mengikut Kristus, kita akan mengalami penderitaan dan kesulitan yang bisa jadi melebihi sebelum kita mengenalNya. Orang Kristen yang bertobat melalui injil murahan ( tanpa salib ) akan sulit bertahan saat menghadapi goncangan dan kesulitan hidup yang harus dihadapi sebagai murid Kristus. Itulah sebabnya mengapa ditemukan hanya sebagian kecil ( kurang dari 5 persen ) para petobat baru yang dihasilkan dari kebaktian kebangunan Rohani ( KKR ) yang dapat bertahan dan bertumbuh menjadi orang Kristen sejati.

Penginjil besar Charles Finney sering berkotbah selam empat atau lima hari sebelum memberikan sebuah panggilan mimbar ( altar call ). Finney bahkan menyuruh duduk kembali orang-orang yang sambil menangis maju ke mimbar selama ia berkotbah dan berkata " Tolong kembali ke tempat duduk anda sebab anda belum siap ". Itulah sebabnya pengijilannya begitu efektif sehingga 97 persen dari para petobat yang dihasilkannya menjadi pengikut Kristus sejati. Pertobatan bukanlah sekedar ungkapan emosi melainkan sebuah proses perubahan pikiran.

Mengapa saya menghubungkan tentang mengasihi Tuhan ( Kekristenan sejati ) dengan proses pertobatan ? Sebab bagaimana cara seseorang bertobat dan dilahirkan baru sangat menentukan kualitas rohaninya Secara ilmiah dan ilmu pengetahuan ditemukan bahwa para ibu yang dibius ( agar tidak merasakan sakit ) saat melahirkan bayi dengan metoda biuslah dan tariklah maka anak-anak yang dilahirkan akan lebih mudah tercandu obat-obat terlarang. Demikian juga secara rohani maka mutu pertobatan dan kelahiran baru seseorang sangat mempengaruhi kualitas kehidupan rohaninya. Seseorang yang mengalami pertobatan sejati melalui injil sejati biasanya akan tumbuh menjadi orang Kristen radikal yang mengasihi Tuhan. Sebaliknya seseorang yang bertobat melalui injil murahan yang penuh kemudahan akan menjadi orang Kristen suam-suam yang tidak akan bertahan menghadapi kesulitan dan badai kehidupan.

Tujuan saya menulis artikel ini bukan untuk melemahkan iman anda kepada Tuhan tetapi justru untuk menguatkannya. Saya berdoa melalui tulisan ini agar bagi anda yang belum mengalami pertobatan sejati bisa mengalami pertobatan tersebut sehingga anda bertumbuh menjadi orang Kristen sejati yang radikal dan mengasihi Tuhan melebihi segalanya. Saya percaya saat ini Roh Tuhan sedang dicurahkan dan bekerja di bangsa ini. Mari datanglah Roh Kudus dan bakar kami dengan api kekudusanMu !

Mengatasi Kekuatiran Hidup

Oleh: Pdt. Samuel T. Gunawan, M.Th

Khotbah Ibadah Raya GBAP El Shaddai Palangka Raya
Minggu, 03 Maret 2013

Berdasarkan Ajaran Kristus dalam Matius 6:25-34

“Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?” (Matius 6:25)

Pendahuluan

Kekuatiran adalah “rasa takut tentang sesuatu hal yang belum pasti terjadi; merasa cemas; atau merasa gelisah”. Kekuatiran hadir pertama kali dalam kehidupan manusia sebagai akibat dosa. Kekuatiran merupakan dampak dari kejatuhan manusia pertama (Adam dan Hawa) dalam dosa. Akibat dari kejatuhan itu, dosa telah menjalar kepada semua manusia dan menjangkau setiap aspek natur dan kemampuan manusia: termasuk rasio, hati nurani, kehendak, hati, emosinya dan keberadaannya secara menyeluruh (2 Korintus 4:4, 1Timotius 4:2; Roma 1:28; Efesus 4:18; Titus 1:15).

Sebagaimana dosa bersifat universal, maka kekuatiran juga bersifat universal. Artinya, tidak ada seorang pun manusia yang tidak pernah mengalami kekuatiran. Setiap orang pernah merasa kuatir tentang sesuatu hal. Manusia selalu diserang oleh kekuatiran dan tekanan-tekanan hidup yang dapat memperburuk keadaannya. Banyak orang yang kuatir mendererita kesulitan-kesulitan jasmani seperti: gugup, tidak bisa tidur, gelisah, sakit kepala, sulit bernafas, keringat berlebihan, dan sebagainya. Ketidakmampuan melepaskan diri dari kekuatiran dapat membawa seseorang kepada keadaan yang lebih serius seperti stres, depresi dan gangguan mental lainnya, bahkan bunuh diri. Itu sebabnya, Kristus memberikan pengajaran khusus tentang kekuatiran, dan melarang sikap kuatir ini (Matius 6:25-34)

Bentuk-Bentuk Umum Kekuatiran

Bentuk kekuatiran yang dialami manusia secara umum, yaitu: Pertama, kuatir terhadap akibat dari kejahatan atau kesalahan yang telah dilakukan. Tatkala Adam berdosa dengan cara melanggar perintah, maka ia mulai sadar akan dirinya, menyadari kesalahannya, dan menjadi takut kepada Tuhan. Ketakutan ini diekspesikan dengan menyembunyikan dirinya dari hadapan Tuhan (Kejadian 3:7-11). yang menyatakan, “Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat. Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman. Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: "Di manakah engkau?" Ia menjawab: "Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi." Firman-Nya: "Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?” Saat ini, banyak orang yang melakukan kesalahan atau kejahatan hidup di dalam ketakutan. Mereka kuatir bahwa apa yang telah mereka lakukan diketahui orang lain, dan menyadari konsekuensi yang akan dialami akibat perbuatan mereka tersebut. Supaya kesalahan atau kejahatan tersebut tidak ketahuan, maka mereka berupaya sedemikian rupa untuk menutupinya. Tujuannya adalah supaya dosa itu tidak diketahui orang lain! Tetapi justru hal ini yang menjadikan hidup mereka hancur karena kekuatairan akan “terbongkarnya” kesalahan dan kejahatan terus membayangi hidup mereka.

Kedua, kekuatiran pada realiatas kematian yang pasti akan dialami. Seseorang tidak dapat memprediksi kapan kita mati. Masalah kematian merupakan misteri yang penuh dengan berbagai teka-teki yang membingungkan. Kapan, dimana dan bagaimana seseorang mati adalah misteri baginya. Tidak ada seorangpun yang tahu kapan kematian itu akan datang menjemputnya. Tidak ada seorang pun yang tahu pasti berapa panjang usianya di dunia ini. Bila kita melakukan riset singkat ke kuburan, dan mencatat usia mereka yang meninggal, pastilah kita akan menemukan berbagai jenis usia, mulai dari bayi, anak kecil, remaja, pemuda, dewasa, dan orang tua yang usianya mungkin mencapai 100 tahun sesungguhnya kita tidak bisa mengukur atau menebak berapa usia seseorang. Statistik dunia memberitahukan kita bahwa setiap dua setengah detik, ada seorang manusia yang meninggal dunia. Bagaimana cara matinya pun bervariasi. Sekali lagi, semua fakta memberikan kita teka-teki tentang misteri kematian, sekaligus memberikan tanda peringatan agar kita bersiap-siap menghadapi kematian bila datang menjemput. Tetapi, sayangnya banyak orang yang tidak siap ketika kematian kapan saja bisa datang menjemputnya. Pilihan-pilihan dalam hidup kita sekarang ini akan menentukan kemana kita akan pergi setelah kematian.

Ketiga, kekuatiran terhadap hidup dan kehidupan yang harus dijalani setiap hari. Orang yang kuatir sedemikian tercekam tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Sampai mereka lupa mengurus masa kini. Mereka ditandai oleh kekuatiran tentang segala macam hal. Hal-hal kecil yang tak berarti akan dibesar-besarkan. Mereka kuatir kesulitan masa depan, kuatir tentang kesehatan, kuatir tentang pekerjaan, kuatir tentang keluarga, dan lainnya yang sebnarnya hanya ada dalam angan-angan mereka.

Alasan Mengapa Kita Tidak Perlu Kuatir?

Kristus memerintahkan agar kita tidak perlu kuatir tentang hidup kita, tentang apa yang kita makan minum dan pakai, serta tidak perlu kuatir tentang masa depan kita (Matius Tetapi disini perlu ditegaskan beberapa salah tafsir mengenai ajaran Yesus dalam Matius 6:25-34 ini, yaitu: (1) Ada yang beranggapan bahwa orang Kristen tidak perlu bekerja. Ini adalah kesalahan dalam memahami ayat 32. (2) Ada juga yang mengajarkan orang Kristen tidak perlu membuat rencana mengenai masa depan mereka. Ini adalah kesalahan dalam memahami ayat 34. (3) Ada juga yang salah memahami ayat 33 sehingga motivasinya bukan mencari kerajaan Allah dan kebenarannya, tetapi mencari “semua yang akan ditambahkan”. Ini jelas keliru!

Berdasarkan yang dikatakan Tuhan Yesus tersebut beberapa alasan yang menjadikan kita tidak perlu kuatir, yaitu:

Pertama, kita tidak perlu kuatir karena kita memiliki Allah Bapa yang mahabaik dan berkemurahan (Matius 6:26,28-30). Dalam ayat 26 ini, Tuhan Yesus menguatkan lagi kepercayaan kepada Bapa di Sorga dengan menggunakan contoh bagaimana Allah memelihara burung-burung itu. Walaupun burung itu tidak menjalankan menabur dan menuai, serta mengumpulkan dalam lumbung, namun binatang itu menerima makanan dari Tuhan. Kalau Tuhan memelihara binatang itu, apalagi anak-anak-Nya, Ia pasti memelihara mereka. Sebagai anak-anak Allah, kita mempunyai tempat yang lebih penting dan berharga daripada burung-burung itu.

Kemudian, dalam ayat 28-32. Tuhan Yesus mengambil contoh “bunga bakung di ladang" untuk melukiskan kasih Allah Bapa yang memelihara. Sebenarnya, Bunga Bakung yang dimaksudkan disini kemungkinan besar adalah bunga anemone, yang banyak sekali di lereng gunung pada bulan Februari dan Maret di Palestina, dengan warnanya yang ungu, sama dengan pakaian kebesaran seorang raja. Kemudian yang dimaksud dengan “rumput” dalam ayat 30 mengacu pada bunga-bunga anemone itu. Jadi, apa yang dimaksud dalam ayat 29 merujuk kepada Raja Israel Salomo yang terkenal akan kekayaannya, bunga anemone yang begitu singkat umurnya, dan yang tidak lama kemudian ikut terpotong bersama rumput yang dipakai sebagai bahan bakar untuk memenuhi kebutuhan manusia (lihat Yakobus 1:11). Bunga itu, kata Yesus, mempunyai “pakaian” lebih indah daripada raja Salomo. Dan semuanya itu, karena Allah yang menghiasinya; karena bunga itu tidak bekerja dan tidak memintal untuk memperoleh “pakaian” tersebut. Jadi, jikalau Tuhan sedemikian rupa memelihara bunga yang dianggap sebagai tidak berharga, maka pastilah Bapa di Sorga akan memberi pakaian kepada anak-anak-Nya yang percaya akan Dia dan yang mau taat kepada-Nya.

Sebagai anak-anakNya, kita perlu mengetahui bahwa merupakan kesenangan bagi Bapa memenuhi semua kebutuhan kita. Yesus sendiri menegaskan “Akan tetapi Bapamu yang disurga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu” (matius 6:32b).

Kedua, kekuatiran tidak pernah menyelesaikan masalah-masalah kita (Matius 6:27). Pada ayat 27 ini, Tuhan Yesus ingin menegaskan bahwa kekuatiran itu tidak berguna. Walau makanan itu penting bagi pertumbuhan seseorang, tetapi pertumbuhan itu sendiri Allahlah yang mengendalikan. Waktu seorang anak bertumbuh menjadi dewasa. Allah menambahkan jauh lebih daripada sehasta (46 cm). Para ahli Alkitab memberi arti istilah Yunani “tên hêlikian” atau “tinggi badan” tersebut dengan pengertian “umur”. Sedangkan dan kata Yunani “Pêkhun hena” atau “satu hasta” diartikan sebagai ukuran waktu (bukan ukuran tinggi badan). Naskah asli Yunani di sini sebenarnya diterjemahkan menjadi "dengan kekuatiran, kamu tidak dapat menambahkan satu hasta pada ketinggian badanmu". Tetapi karena jarang ada orang yang ingin supaya tingginya bertambah dengan satu hasta, maka kebanyakan Ahli kitab menganggap “hasta” sebagai waktu tambahan kepada umur. Dengan demikian jelaslah bahwa dengan kekuatiran, kehidupan manusia tidak dapat diperpanjang.

Ringkasnya, kekuatiran tidak membantu kesulitan esok hari, tetapi benar-benar merusak kebahagiaan hari ini. Semakin kita kuatir semakin sulit dan berat kehidupan yang kita jalani karena itu jangan pernah membiarkan kekuatiran mengarahkan hidup kita. Sehari penuh kekuatiran lebih melelahkan ketimbang sehari penuh bekerja. Kekuatiran akan hidup dan masa depan adalah pemborosan masa sekarang. Jika kita tidak dapat menghindar dari rasa kuatir, ingatlah kuatir juga tidak akan pernah membantu kita.

Ketiga, pilihan untuk tidak kuatir adalah sikap percaya dan ketaatan pada perintah Tuhan Yesus Kristus. Tuhan memberikan perintah kepada kita untuk tidak kuatir. Berulang-ulang Ia mengingatkan kita akan perintah tersebut yang mengatakan “janganlah kamu megkuatirkan hidupmu! (Yunani: mê merimnate tê psukhê humôn)” (Matius 6:25). Tuhan mengajarkan agar kita menyerahkan segala keinginan kita kepadaNya dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur (Filipi 4:6).

Bagaimana mengatasi kekuatiran kita?

Pertama, percaya dan berserah kepada Tuhan. Perhatikan frasa "hai orang yang kurang percaya" dalam ayat 30 ini adalah kata Yunani “oligopistoi” yang berari “hai yang beriman kecil”. Ungkapan ini dipergunakan 4 kali dalam Injil Matius, satu kali dalam Injil Lukas, sebagai dorongan pertumbuhan maupun tegoran yaitu “jangan menjadi orang yang kurang percaya!” atau “jangan menjadi kuatir dan gelisah!” Sementara, bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah hidup dalam kekuatiran karena mereka tidak mengenal Bapa di Sorga; tidaklah demikian dengan orang-orang percaya yang mengenal Allah, Bapa yang mengetahui kebutuhan anak-anak-Nya dan dengan murah hati memberi kepada kita.

Kata Yunani “dicari” dalam ayat 32 adalah “epizêtei” yang berarti “berusaha keras mencari” yang bermakna “pencarian sekuat tenaga dengan kerja keras dan beban berat”. Orang-orang yang tidak mengenal Allah mengejar meteri karena kekuatiran mereka dengan cara “epizêtei” ini. Tuhan tidak menginginkan kita mengejar materi dengan cara seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah ini. Tuhan mau supaya kita mendahulukan mencari kerajaanNya dan kebenaranNya. Saat kita melakukannya, semuanya itu akan ditambahkan kepada kita. Karena itu tetaplah percaya dan setia pada Tuhan. Pemazmur mengatakan “Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak” (Mazmur 37:5). Ketika kita tidak memiliki apapun, selain Tuhan, itu cukup bagi kita, karena memang hanya Dia yang kita perlukan! Kita akan selalu mengalami kesulitan jika berusaha mengatasi masalah hidup tanpa Tuhan. Carilah Dia dengan segenap hati. Selanjutnya Pemazmur mengatakan lagi “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya. Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti; tiap hari ia menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman, dan anak cucunya menjadi berkat” (Mazmur 37:23-26).

Kedua, mencari kerajaan Allah dan Kebenarannya. Ayat 33 : Adalah ucapan yang monumental, kalau Tuhan Yesus mengatakan: “Carilah (lebih) dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran Allah”. Frase Yunaninya adalah “zêteite prôton tên basileian tou theou kai tên dikaiosunên autou”. Kata “carilah” dalam ayat ini adalah “zeteite” berasal dari kata “zeteo” yang yang berarti “mencari” adalah bentuk kata kerja aktif yang bermakna “menunjuk terjadinya keasyikan terus-menerus ketika mencari sesuatu; berusaha dengan sungguh-sungguh dan tekun untuk memperoleh sesuatu”. Sedangkan kata Yunani untuk kata “dahulu” dalam ayat 33 ini adalah “proton” yang berarti “pertama dalam urutan atau kepentingan; menempati tempat yang tertinggi dari semua kesenangan kita”. Ini artinya, kita diminta untuk mendahulukan Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya diatas segala hal. Jadi prioritas pertama dan utama kita setiap hari adalah mencari kerajaan Allah dan kebenaranNya. Dan saat kita melakukannya, maka kita akan mengalami “panta prostethêsetai humin”, yaitu “semua akan diberikan dan ditambahkan kepadamu”. Kata Yunani “prostithêmi” dapat diterjemahkan dengan “diberikan” atau “ditambahkan”. Kedua arti tersebut, baik “diberikan” maupun “ditambahkan” dapat kita pergunakan secara bersama-sama. Hal ini dapat dipahami karena Allah yang mengetahui kebutuhan kita, Ia juga akan menyediakan, memberikan, dan menambahkan yang kita perlukan baik jasmani maupun rohani (Bandingkan 2 Korintus 9:8).

Lalu, apakah yang dimaksud dengan “mencari kerajaan Allah dan KebenaranNya?” Yang dimaksud dengan frasa “tên basileian tou theou” atau “kerajaan Allah” adalah otoritas dan pemerintahan Allah. Kita harus menempatkan sungguh-sungguh kepemimpinan, otoritas dan supremasi Allah dinyatakan melalui kehidupan kita. Dengan mencari kerajaan Allah berarti bahwa kita hendak melakukan dan memberlakukan kehendak dan otoritas Allah dalam setiap aspek kehidupan kita. Sedangkan kata “tên dikaiosunên autou”, atau “kebenaran-Nya” disini berkaitan dengan sifat atau karakter yang ada pada Allah. Mencari kebenaran disini berarti kita berkata, bertindak dan bertingkah laku yang sesuai dengan karakter Allah. Pertama-tama kebenaran yang kita cari adalah kedudukan kita yang benar dihadapan Allah melalui anugerah yang kita terima dalam Kristus (Roma 5:17). Kedua, dengan augerahNya kita tetap berpegang pada kebenaran melalui kasih dan ketaatan kepada Allah (Efesus 4:16). Dengan demikian, mencari dahulu kerajaan Allah dan kebenaranNya berarti kita mengutamakan dan memberlakukan terus menerus supremasi dan perintah Allah dalam hidup kita. Menempatkan Allah sebagai yang pertama dan terutama, berarti kita merelakan Dia memerintah atas hidup kita.

Penutup

Tuhan kita, Yesus Kristus mengakhiri ajaranNya tentang kekuatiran ini dengan berkata, “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari” (Matius 6:34). Frase Yunani untuk ayat ini adalah “mê oun merimnêsête eis tên aurion hê gar aurion merimnêsei ta eautês arketon tê hêmera hê kakia autês”, dapat diterjemahkan menjadi “Janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok akan mengurus persoalan-persoalannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari”. Terjemahan yang lebih ringkas tetapi tepat adalah sebagai berikut: "Biarkanlah besok mengurus persoalan-persoalannya sendiri". Dalam bahasa Yunani, kata “merimnêsei” berarti “akan mengkuatirkan” (kata kerja dalam bentuk future active indicative (future tense)) kadang-kadang dipakai dengan arti "biarkanlah" (imperatif). Sedangkan yang dimaksud dengan frase “Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari", mengandung makna bahwa kesusahan yang dimaksud jelas jasmaniah maupun batiniah, mengacu kepada persoalan-persoalan yang mungkin timbul. Dengan demikian maknanya jelas, bahwa kita tidak perlu menambahkan masalah esok kepada masalah hari ini.

Tuhan mengetahui bahwa di dalam kehidupan kita masing-masing setiap hari ada persoalan, entah kecil atau besar, yang harus kita hadapi dengan pertolongan Tuhan. Jika kita mengkuatirkan hari esok, maka beban kita justru akan bertambah. Disini, kita mendapat pelajaran yang berharga dari Yesus Kristus, Tuhan kita, agar kita “Janganlah kuatir tentang apapun juga”. Hal yang sama juga dikatakan Paulus “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur” (Filipi 4:6). Demikian juga dengan Petrus yang menasihati supaya “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu” (1 Petrus 5:7). Amin.

REFERENSI

Douglas, J.D., ed, 1988. The New Bible Dictionary. Universities and Colleges Christian Fellowship, Leicester, England. Edisi Indonesia dengan judul Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, 2 Jilid, diterjemahkan (1993), Yayasan Komunikasi Bina Kasih : Jakarta.
Drewes, B.F, Wilfrid Haubech & Heinrich Vin Siebenthal., 2008. Kunci Bahasa Yunani Perjanjian Baru. Jilid 1 & 2. Penerbit BPK Gunung Mulia : Jakarta.
Ferguson, B. Sinclair, David F. Wright, J.I. Packer., 1988. New Dictionary Of Theology. Inter-Varsity Press, Leicester. Edisi Indonesia, jilid 1, diterjemahkan (2008), Penerbit Literatur SAAT : Malang.
Gutrie, Donald., ed, 1976. The New Bible Commentary. Intervarsity Press, Leicester, England. Edisi Indonesia dengan judul Tafsiran Alkitab Masa Kini, Jilid 3, diterjemahkan (1981), Yayasan Komunikasi Bina Kasih : Jakarta.
Gutrie, Donald., 1981 New Tastament Theology, . Intervarsity Press, Leicester, England. Edisi Indonesia dengan judul Teologi Perjanjian Baru, 3 Jilid, diterjemahkan (1991), BPK Gunung Mulia : Jakarta.
Gutrie, Donald., 1990 New Tastament Introduction. Intervarsity Press, Leicester, United Kingdom. Edisi Indonesia dengan judul Pengantar Perjanjian Baru, Jilid 2, diterjemahkan (2009), Penerbit Momentum: Jakarta.
Ladd, George Eldon., 1974. A Theology of the New Tastament, Grand Rapids. Edisi Indonesia dengan Judul Teologi Perjanjian Baru. 2 Jilid, diterjemahkan (1999), Penerbit Kalam Hidup : Bandung.
Morris, Leon., 2006. New Testamant Theology. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas : Malang.
Mounce, William D., 2011. Basics of Biblical Greek, edisi 3. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT : Malang.
Newman, Barclay M., 1993. Kamus Yunani – Indonesia Untuk Perjanjian Baru, terjemahkan, BPK Gunung Mulia : Jakarta.
Pfeiffer, Charles F & Eferett F. Herrison., ed, 1962. The Wycliffe Bible Commentary. Moody Bible Institute of Chicago, USA. Edisi Indonesia dengan judul Tafsiran Alkitab Wycliffe Perjanjian Baru, volume 3, diterjemahkan (2004), Penerbit Gandum Mas : Malang.
Schafer, Ruth., 2004. Belajar Bahasa Yunani Koine: Panduan Memahami dan Menerjemahkan Teks Perjanjian Baru. Penerbit BPK Gunung Mulia : Jakarta.
Sproul, R.C., 1997. Essential Truths of the Christian Faith. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT : Malang.
Ridderbos, Herman., 2004. Paul: An Outline of His Theology. Terjemahan, Penerbit Momentum : Jakarta.
Stamps, Donald C., ed, 1995. Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan. Terj, Penerbit Gandum Mas : Malang.
Susanto, Hasan., 2003.Perjanjian Baru Interlinier Yunani-Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru, jilid 1 dan 2. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT : Malang.

Mengenakan Manusia Baru

Oleh:Sunanto

Ef 4:22-24 “yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya”.

Menurut C.S. Lewis, jika kita mau mengijinkan Allah untuk bekerja dalam hidup kita maka Ia akan membuat orang-orang yang paling lemah dan paling kotor di antara kita untuk menjadi seorang pria atau wanita yang mulia, makhluk abadi yang menyenangkan, berseri-seri yang senantiasa memancarkan energi, sukacita, hikmat dan kasih yang begitu rupa.

Proses untuk berubah menjadi manusia baru ini memang tidak mudah dan membutuhkan waktu yang lama serta kadang bisa sangat menyakitkan. Tetapi bila kita telah berhasil mencapainya maka kita akan menjadi orang yang paling berbahagia di dunia ini. Inilah jenis kehidupan yang dijalani oleh Yesus Kristus ketika Dia menjalani hidup sebagai manusia di dunia ini. Dan tujuan utama Yesus datang ke dunia ini adalah untuk menularkan kehidupan baru ini kepada setiap orang yang bersedia untuk menjadi muridNya.

Kata Kristen sendiri berarti Kristus kecil sehingga seharusnya setiap orang Kristen memiliki tujuan untuk berubah menjadi serupa dengan Kristus.

Untuk dapat mengenakan manusia baru ini terlebih dahulu kita harus mengalami proses kematian terhadap manusia lama kita.Proses kematian terhadap manusia lama inilah yang membutuhkan waktu dan melibatkan rasa sakit. Kita mungkin tidak dapat mempercepat waktu dari proses tersebut tetapi kita bisa memperlamanya. Oleh karena itu kita harus memiliki respon yang benar dalam menghadapi setiap ujian dan pencobaan yang Tuhan ijinkan untuk mentransformasi hidup kita menjadi manusia baru yang berkarakter. Kita harus memiliki hati yang taat dan mau berubah sehingga tidak mempersulit pekerjaan Roh Kudus untuk menyempurnakan diri kita.

Lewis mengatakan jika anda ingin hangat maka anda harus dekat dengan api, jika anda ingin basah maka anda harus masuk ke dalam air. Jika anda menginginkan sukacita, kedamaian dan kuasa maka anda harus mendekat atau bahkan masuk ke dalam sesuatu yang memilikiNya. Salah satu tujuan Tuhan mengijinkan krisis terjadi dalam hidup kita adalah supaya kita mendekat kepadaNya. Tuhan bukannya senang melihat anak-anakNya menderita tetapi seringkali sebagai manusia kita cenderung menjauh dariNya saat semuanya terasa nyaman. Kenyamanan hidup biasanya akan mendorong kita menjauh dari Allah tetapi krisis hampir pasti membuat kita mencari Allah. Oleh sebab itu Yesus mengatakan sangat sukar bagi orang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah sebab orang yang memiliki kekayaan materi cenderung untuk mengandalkan kekayaannya sehingga mereka sulit untuk belajar bergantung kepada Tuhan.

Mungkin ada diantara anda yang membaca tulisan ini sedang mengalami kebosanan dalam menjalani hidup anda sebagai orang Kristen. Saya juga pernah mengalami perasaan jenuh tersebut dimana doa dan pembacaan Firman rasanya menjadi hambar. Saya berdoa agar melalui tulisan ini Tuhan memberikan kerinduan di hati anda untuk berubah menjadi manusia baru sehingga hidup Kekristenan anda tidak akan sama lagi. Sekali lagi, untuk memperoleh kehidupan baru yang dipenuhi sukacita dan damai sejahtera itu tidaklah mudah dan instan. Hanya orang-orang yang bersedia membayar harga dan bertekad untuk tidak mundur sesulit apapun rintangan yang harus dihadapi dalam perjalananlah yang akan berhasil masuk ke dalam tanah perjanjian. Kita tidak dipanggil untuk mati di padang gurun melainkan untuk masuk ke tanah perjanjian dan menikm ati hidup yang berkelimpahan !

Menghakimi

Oleh: Frank Malingkas

Matius 7:1 "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. 2 Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.

Ayat diatas mungkin sudah lengket diotak kita, tapi sangat sukar bagi kita untuk menerapkannya. Ternyata ada kelompok-kelompok dilingkungan anak-anak Tuhan pengikut Yesus saling menghakimi satu sama lain contohnya :

  1. Kelompok Adventis pemuja hari sabtu (sabat) merasa lebih benar dan merasa lebih layak masuk sorga karena mereka menguduskan hari sabtu dan tidak makan daging babi atau makanan haram lainnya sementara kelompok anak-anak Tuhan lainnya akan masuk neraka karena tidak menguduskan hari sabtu dan segala makanan (haram/halal) disikat.
  2. Kelompok Pemuja nama Tuhan adalah Yahwe dan kelompok pemuja nama Tuhan adalah Yesus mengecam kelompok lain sebagai sesat karena menyebut nama Tuhan tidak seperti mereka, ada yang menyebut nama Tuhan adalah Allah ada yang menyebut Debata (orang batak) dll, padahal katanya nama Allah dan Debata itu nama dewa yaitu sesembahannya orang kafir dan katanya lagi bagi Tuhan nama itu sangat menjijikkan.
  3. Kelompok baptis selam merasa lebih berhak masuk sorga karena batisannya diselam dibandingkan kelompok lain yang dibabtis hanya dengan percikan.

Mungkin masih banyak lagi kelompok-kelompok seperti diatas yang merasa diri lebih benar dibanding orang lain yang belum di sebutkan disini (kalau ada tolong tambahkan). Kelompok tersebut merasa lebih taat Firman Tuhan dengan menujukkan referensi ayat-ayat dari alkitab yang ditafsirkan sendiri agar sesuai dengan keinginannya agar lebih yakin dalam menyalahkan bahwa kelompok lain itu salah dan mereka yang benar.

Betulkah perbuatan manusia dapat membuat perjalanan kita kesorga lebih layak? Mari kita simak dan artikan sendiri ayat alkitab berikut ini (Efesus 2 : 8 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, 9 itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.)

Kelompok Adventis dan kelompok sejenisnya, umumnya terbentuk dan didirikan pada kira-kira tahun seribu delapan ratusan, dan sepertinya mereka ingin membawa missi untuk meluruskan ajaran Kristen yang katanya sudah tersesat/disesatkan. Tersesat karena hari pengudusan sabtu sudah menjadi hari minggu ditambah penyimpangan-penyimpangan lainnya.

Benarkah orang-orang Kristen yang menyebut dirinya anak-anak Tuhan Yesus yang ada didunia ini sudah tersesat dan tidak sesuai lagi dengan alkitab sebagaimana yang diklaim oleh kelompok-kelompok tersebut. Alkitab berkata dalam Mazmur 14:2 (TUHAN memandang ke bawah dari sorga kepada anak-anak manusia untuk melihat, apakah ada yang berakal budi dan yang mencari Allah.) Kalau benar Tuhan memandang anak-anak manusia termasuk anak-anak yang tekun mencari Tuhan dan beribadah kepada Tuhan, tentunya tak akan dibiarkanNya anak-anakNya tersebut tersesat dan berbuat sesuatu yang salah sampai 1800 tahun baru mengutus kelompok adventis dan kelompok lainnya untuk meluruskan.

Sebagai ilustrasi : Saya mempunyai anak-anak saya sendiri dan sangat mengasihi mereka demikian pula mereka mengasihi saya, mereka tau nama saya karena saya memberitahukannya. Tetapi apabila mereka setiap hari memanggil saya dengan panggilan Anjing atau babi apakah saya akan berdiam diri dan membiarkannya terus demikian, tentu tidak. Saya mengajarkan mereka memanggil saya Papah dan itu enak buat saya. Demikian pula dalam tingkah laku sehari-hari apabila mereka selalu melakukan hal-hal yang tidak berkenan dihati apakah saya akan membiarkan, tentu saya akan mengajarkan hal-hal yang baik yang bermanfaat untuk mereka. Tentang nama Tuhan, bahasa adalah ciptaan Allah untuk digunakan oleh manusia jadi kalau kita memanggilnya dengan nama Allah atau Debata atau yang lainnya asal yang kita maksud adalah Tuhan Yesus Kristus tidak masalah buat Dia. Demikian pula Pengudusan hari sabtu atau minggu atau jumat atau hari apapun kalau kita maksudkan untuk memuliakan Allah tidak masalah.

Hari sabat dimata orang Yahudi sangat dikultuskan demikian juga bagi orang adventis, tetapi banyak kali Tuhan Yesus dan muridnya sengaja melanggar hari sabat : murid melanggar hari sabat (Mat 12:1-17); sabat dibuat untuk manusia dan tdk sebaliknya (Mark 2:27,28); Yesus menyembuhkan pada sabat (Mark 3:2) Perempuan Bungkuk disembuhkan pada sabat (Luk 13:11,12); orang lumpuh disembuhkan dikolam Betesda pada sabat (Yoh 5:8); orang buta disembuhkan dikolam siloam pada sabat (Yoh 9:14). Disini Yesus sengaja mengajarkan kepada kita untuk tidak mengkultuskan hari sabat, tapi agar kita muliakanlah Tuhan setiap hari.

Didalam hal usaha meluruskan. Hati-hati dengan tipu muslihat Iblis musuh kita yang sebenarnya, jangan sampai kita dengan tidak sadar diperalat karena dia selalu mempunyai maksud tersembunyi didalam setiap pekerjaan kita. Maksud kita memang baik, tetapi maksud siiblis selalu jahat siiblis ingin mengambil setiap kesempatan didalam usaha kita untuk meluruskan tersebut untuk memperlihatkan bahwa Allah tidak berdaya untuk mengajar, memelihara dan menyelamatkan anak-anakNya. Sampai-sampai dibiarkannya sekian generasi anak-anak tersebut yang dengan setia dan tekun berdoa kepada Tuhan terhilang dan tersesat selama 1800 tahun. Inilah missi iblis dibalik usaha manusia untuk meluruskan ajaran yang salah tersebut, Iblis ingin memperlihatkan bahwa selama 1800 tahun Allah telah tertidur artinya Allah tidak maha kuasa karena tidak kuasa menahan kantuknya artinya Allah itu lemah, dan tidak mampu melindungi anak-anakNya.

Marilah kita saling mengasihi dan saling mendoakan, jangan menghakimi satu sama lain. Bagi yang menguduskan hari sabtu/sabat jalankanlah untuk kemuliaan Tuhan tidak perlu menghakimi orang lain tersesat dan akan masuk neraka. Bagi yang tidak makan babi dan makanan haram lainnya lakukanlah bahwa itu baik untuk diri sendiri jangan beranggapan bahwa yang memakan babi dan makanan yang haram menurut mereka akan masuk neraka. Bagi yang menyembah Tuhan dengan nama Yahwe atau Yesus lakukanlah itu tetapi jangan beranggaapan orang yang memanggil Allah atau Debata atau yang lainnya masuk neraka. Bagi yang dibabtis selam lakukan lah itu tetapi jangan merasa lebih benar dibandingkan orang yang dibabtis percik.

Menjadi Kokoh dalam Tuhan

Oleh: Jafar Thamrin

Bacaan: Yeremia 17:7-8

Ada banyak orang membaca Yeremia 17:7-8, mereka langsung pada ayat 8, di mana orang tersebut langsung membahas akibatnya, bukan mencari sebabnya. Kenapa saya katakan begitu, karena mereka langsung menggambarkan atau beralegoris bahwa orang percaya harus menjadi pohon yang kokoh yang mampu bertahan pada musim kemarau dan merabatkan akar-akar ke ujung-ujung batang air serta menghasilkan buah pada musimnya. Benarkan demikian? Bagi saya, itu tidak salah hanya kurang pas saja. Saya memberikan contoh sebuah kalimat “Saya makan, maka saya kenyang” Kenapa saya kenyang, karena saya makan. Dari kalimat ini kita bisa melihat ada kata sebab dan ada kata akibat. Di mananya? Sebab ada di kata "makan" sedangkan akibat ada di kata "kenyang". Mungkin Anda akan bertanya, apa hubungannya dengan ayat di atas? Bagi saya ada hubungannya.

Yeremia 17:7-8 berbicara juga sebab–akibat. Ayat 8 berbicara akibat, sedangkan ayat 7 adalah sebabnya. Jadi untuk menjadi orang percaya yang kokoh bagaikan pohon setidaknya orang tersebut memiliki 2 hal yang terdapat pada ayat 7 yang merupakan sebab:

1. Mengandalkan Tuhan.

Mengandalkan kata dasarnya adalah Andal. Jadi semacam tempat untuk bergantung apapun bentuknya. Jadi orang tersebut tidak bisa apa-apa tanpa hal itu. Dari sini bisa ditarik kesimpulan bahwa orang percaya harus menggandalkan Tuhan, tanpa Tuhan atau di luar Tuhan ia tidak bisa apa-apa.

2. Menaruh Pengharapan kepada Tuhan.

Menaruh mempunyai pengertian adalah melepas atau memberi pada sesuatu yang kita percayai, dengan kata lain kalau kita Taruh sesuatu di situ kita percaya tidak akan hilang. Jadi orang percaya setidaknya sangat percaya atau amat percaya akan sesuatu yang akan datang. Pengharapan mampir sama dengan iman, bahwa percaya sekalipun belum melihat sesuatu. Karena bukan pengharapan kalau sesuatu itu sudah dapat atau sudah dilihat.

Kalau orang percaya sudah memiliki 2 hal tersebut di atas barulah akibatnya, ia diibaratkan pohon yang ditanam di tepi aliran air. Sehingga ia menjadi orang yang kokoh di dalam Tuhan serta menjadi kuat dalam menghadapi tantangan hidup.

Menjaga Kekudusan

Oleh: Daniel

1 Tesalonika 4:1-8

Nasihat supaya hidup kudus

4:1 Akhirnya, saudara-saudara, kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi. 4:2 Kamu tahu juga petunjuk-petunjuk mana yang telah kami berikan kepadamu atas nama Tuhan Yesus. 4:3 Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan, 4:4 supaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan menjadi isterimu sendiri dan hidup di dalam pengudusan dan penghormatan, 4:5 bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah, 4:6 dan supaya dalam hal-hal ini orang jangan memperlakukan saudaranya dengan tidak baik atau memperdayakannya. Karena Tuhan adalah pembalas dari semuanya ini, seperti yang telah kami katakan dan tegaskan dahulu kepadamu. 4:7 Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus. 4:8 Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu.

Ada 3 alasan penting mengapa kita harus hidup dalam kekudusan.

  1. Hidup dalam kekudusan menyenangkan Tuhan (ayat 1-2)

  2. Hidup dalam kekudusan adalah kehendak Tuhan (ayat 3-6)

  3. Hidup dalam kekudusan adalah panggilan Tuhan (ayat 7-8)

Matius 5:16 "Demikianlah hendaknya Terang-MU bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."

GBU ALL..

Menyalahkan

Penulis : Diana Sihotang

1 Yohanes 1:9

Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Di tahun terakhirku di Sekolah Menengah Atas, aku mengendarai mobil abangku. Suatu hari aku menabrak sebuah kotak pos. Aku tahu bahwa aku harus mengakuinya. Namun, aku justru menyalahkan ayahku karena tidak memperbaiki mobilku. Ketika aku sudah kuliah, aku menabrak mobil baru temanku saat mundur sehingga bagian bemper mobilnya penyok. Lagi-lagi aku bukannya mengaku, melainkan justru mempersalahkannya. Dan beberapa tahun lalu, aku berbohong demi kebanggaanku.

Aku bertekad untuk memperbaiki karakterku sesuai dengan gambar Kristus. Roh Kudus membantuku melihat bahwa ketidak-jujuranku adalah penghalang bagi pertumbuhan rohaniku, dan akhirnya aku mengakuinya. Menerima tanggung jawab atas perbuatanku memang sangat memelukan, merendahkan dan menakutkan. Dan itu benar.

Allah lebih mementingkan jiwa kekekalan kita dari pada kesenangan atau kebanggaan sementara. Aku melihat bahwa kesediaanku untuk bertanggung jawab adalah tanda pendewasaan iman. Kita selalu bisa menemukan dalih untuk membenarkan kekeliruan; tetapi bila kita menyalahkan orang lain karena tingkah laku kita sendiri, kita telah memindahkan damai Allah dari dalam hati kita.

Pengakuan membuka hati kita bagi damai Allah.

Menyerah di Sungai Yabok

Penulis : Sunanto Choa

Kej 32:28 Lalu kata orang itu: "Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang."

Kisah pergumulan Yakub melawan Allah di sungai Yabok merupakan salah satu kisah seru yang terdapat di Alkitab. Namun kisah ini juga mengandung sebuah pelajaran penting yang dapat diaplikasikan dalam hidup kekristenan kita. Sama seperti Yakub, kita semua satu waktu akan dibawa pada "Sungai Yabok" yang berarti tempat pengosongan/pelepasan.

Yabok juga melambangkan kematian terhadap diri sendiri dimana kita berhenti berusaha mengandalkan kekuatan diri kita. Allah ingin membawa kita ke sebuah tempat dimana kita akan mati terhadap diri sendiri dan mati terhadap cara lama kita yang mengandalkan kekuatan diri sendiri.

Beberapa tahun belakangan ini saya menemukan adanya sebuah trend pekerjaan baru dalam dunia bisnis yaitu pekerjaan motivator.

Hal ini juga ditandai dengan banyaknya terbit buku-buku motivasional yang kemudian menjadi best seller. Juga banyak bermunculan perusahaan-perusahaan baru yang bergerak di bidang pengembangan sumber daya manusia.

Saya tidak bermaksud mengatakan semua yang berkaitan dengan hal itu salah dan tidak berkenan kepada Tuhan tetapi kita harus waspada sebab bila tidak, kita bisa terjebak ke dalam pengajaran new age yang inti pengajarannya adalah meng-allahkan manusia.

Salah satu motivator terkenal di Indonesia mengajarkan sebuah prinsip tentang perlunya kerja keras dan ketekunan dengan memakai perumpamaan sebuah besi batangan bila diasah terus bisa menjadi sebuah jarum

Saya sangat setuju perlunya kerja keras dan ketekunan dalam hidup ini tetapi hal itu harus dilakukan dalam roh penyerahan kepada Allah bukan dengan memakai kekuatan sendiri.

Perbedaannya memang sangat tipis sehingga banyak anak Tuhan yang tidak menyadari bahwa bila tidak hati-hati memakai prinsip itu kita bisa keluar dari jalur yang berkenan kepada Allah.

Sekali lagi saya tidak ingin menghakimi mereka yang terlibat dalam dunia permotivatoran tetapi saya hanya ingin mengajak kita waspada untuk tidak menerima sebuah pengajaran tanpa mengujinya dengan kebenaran Alkitab.

Alkitab mengajarkan kita untuk tidak mengandalkan kekuatan diri kita sendiri melainkan harus mengandalkan Tuhan sepenuhnya.

Hidup kerohanian saya berubah 180 derajat di tahun 1998 saat Tuhan melawat saya lewat buku berjudul ´Roh Kudus´ karangan Billy Graham.

Salah satu prinsip yang mengubah hidup saya dari buku itu adalah prinsip penyerahan hidup kepada Tuhan. Oswald Chambers mengatakan salah satu hal yang paling sulit dilakukan orang Kristen adalah menyerah.

Natur dosa yang kita miliki membuat kita cenderung untuk memakai kekuatan sendiri daripada menyerah untuk mengandalkan Allah.

Oh mungkin di mulut kita bisa saja berkata "aku mengandalkan Tuhan" namun pada kenyataannya kita tetap saja berusaha memakai kekuatan sendiri sehingga Tuhan akan mengijinkan kita mengalami kegagalan demi kegagalan supaya dengan itu kita belajar untuk mengandalkanNya. Dibutuhkan waktu dan penderitaan untuk membuat kita benar-benar menyerah kepada Tuhan sepenuhnya.

Saya dengan yakin berani mengatakan pernyataan ini sebab saya sendiri mengalaminya secara nyata. Oleh karena itu sama seperti Yakub yang diijinkan mengalami krisis dan situasi terjepit baru bisa menyerah kepada Allah maka seringkali Tuhan juga memakai metoda yang sama.

Kadang tampaknya Tuhan seperti menjebak kita dalam situasi yang begitu terjepit sehingga kita tidak punya pilihan lain kecuali menyerah.

Pernahkah anda mengalami hal yang seperti itu ? Saya sering mengalaminya.

Penulis kitab Ibrani mengatakan karena iman maka Yakub, ketika hampir waktunya akan mati, memberkati kedua anak Yusuf, lalu menyembah sambil bersandar pada kepala tongkatnya (Ibr 11:21).

Di akhir hidupnya Yakub memberkati keturunannya dan menyembah kepada Allah sebab orang ini yang dahulunya dikenal sebagai penipu telah diproses dan diremukkan sedemikian rupa oleh Allah. Inilah tujuan Tuhan memproses dan meremukkan hidup kita yaitu agar hidup kita dapat menjadi berkat dan memuliakan Tuhan.

Proses pengisian dalam diri kita selalu diawali terlebih dahulu dengan proses pengosongan.

Hanya melalui penyerahan hidup maka kita dapat memperoleh kehidupan yang sejati.

Prinsip ini mungkin berbeda dengan banyak prinsip yang pernah anda terima sebelumnya namun inilah prinsip yang Alkitabiah.

Berhenti mengandalkan kekuatan sendiri dan menyerah untuk mengandalkan Tuhan sepenuhnya itulah kunci untuk memperoleh kehidupan yang sejati !

Menyerah?? No!!

Oleh: Sujud Prasetio

Baca: Matius 8:1-4

Kita tahu bahwa semua orang mempunyai persoalan, terlepas dari persoalannya yang berbeda. Hal itu wajar dan tentunya kita semua setuju. Tetapi jika hal itu wajar, mengapa ending dari setiap persoalan yang dialami setiap orang berbeda? Ada orang merasakan sukacita karena telah menyelesaikan persoalan dengan baik. Tetapi ada juga orang yang mungkin sampai mati tidak dapat menyelesaikan persoalan, bahkan meninggalkan persoalan bagi anak cucunya.

Perikop yang kita baca menceritakan ada seorang yang sakit kusta, tetapi pada akhirnya ia disembuhkan dan terhindar dari ancaman kematian. Tetapi Alkitab menceritakan hanya satu orang saja yang sembuh. Saya percaya ada banyak orang kusta pada waktu itu. Tetapi kenapa hanya satu saja yang sembuh? Malam hari ini kita belajar dari si kusta yang mengalami kemenangan atas sakit penyakitnya. Apa yang dapat kita pelajari dari orang kusta ini.

  1. Punya pengharapan

Sakit kusta pada waktu itu merupakan sakit yang mengerikan. Umat Israel percaya sakit itu adalah sakit kutuk akibat dosa. Sakit yang tidak ada obatnya. Seperti mayat hidup. Tinggal tunggu waktu mati saja. Pada waktu saya percaya orang yang sakit kusta, bukan hanya rasa sakit fisik yang dirasakan. Secara fisik ya memang sakit. Mental pun juga sakit. Seorang yang sakit kusta harus dipisahkan, harus dijauhkan dari komunitas masyarakat yang ada, termasuk dijauhkan dari keluarganya. Saudara dapat bayangkan jika menemui orang-orang yang disisihkan, dianggap beban bagi keluarganya sendiri. Tetapi yang luar biasa orang ini tidak putus asa. Pada waktu itu Tuhan Yesus sudah ngetop sebagai seorang penyembuh. Saya percaya pengharapannya timbul oleh karena ia mendengar tentang Yesus. Sebuah ilustrasi yang saya kutip dari sebuah web, mungkin kita sering dengar. Dua ekor katak tak sengaja terjatuh ke dalam sebuah tong yang penuh dengan krim. Mereka berenang ke sana ke mari dengan panik dan berusaha melompat keluar dari tong itu. Akhirnya, ada seekor katak yang kelelahan dan menyerah. Dia mengeluh, "Tidak ada gunanya berenang ke sana ke mari!" Dia mengayunkan kakinya untuk terakhir kalinya, lalu tenggelam dalam keputusasaan. Dia gagal. Tinggal sang katak yang lainnya. Dia benar-benar berbeda. Dia tidak mau menyerah. Selalu ada jalan keluar, pikirnya. Dia terus berenang, mempertahankan hidupnya. Dan suatu kejutan baginya. Krim itu perlahan tapi pasti mulai berubah. Ya, berubah mengeras dan menjadi mentega. Akhirnya, dia mendapat pijakan yang kuat dan melompat keluar dari tong itu. Ah, jika saja Anda tidak menyerah dan terus berusaha, Anda pasti bisa menendang masalah itu keluar dari kehidupan Anda.

Pengharapan itu penting. Baik buruk perjalanan hidup seseorang ditentukan oleh keyakinan akan sebuah pengharapan. Pengharapan adalah keyakinan tentang apa yang belum ia lihat, tetapi yakin akan mendapatkannya. Ada pepatah berkata seperti ini: "di dalam kehidupan ini tidak ada yang pasti, tetapi kita harus bisa memastikan apa yang kita ingin raih atau kita rindukan." Pengharapan bicara tentang optimisme. Orang yang optimis menciptakan helikopter, tetapi orang yang pesimis menciptakan parasut. Bagaimana agar kita menjadi orang yang berpengharapan?

Tetap fokus, tetap yakin Tuhan tolong, tetap percaya bahwa ada sesuatu yang indah Tuhan sediakan bagi orang-orang yang mempunyai pengharapan. Ibrani 9:19a berkata: "Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita ..."

  • Mau bayar harga
  • Orang ini berani bayar harga. Ada tantangan bagi orang kusta ini untuk mendekati Yesus (Baca Im. 13:45-46). Resiko yang harus dia terima. 1) Penolakan. 2) Dilempari batu. Dan itu sah-sah saja. Hukum Taurat mengajarkannya. Tetapi orang ini tidak mempedulikan apa yang dialaminya. Yang ia pikirkan "jika aku bertemu Yesus aku pasti sembuh." Saya percaya banyak orang kusta pada waktu itu penuh pertimbangan yang besar, jika harus datang ke kerumunan orang, dan akhirnya ia memilih untuk tetap berdiri di tempatnya. Dan hasilnya dia tidak mengalami perubahan. Dan menyerah dengan sakit kusta yang sedang mengancam hidupnya. Orang yang disembuhkan Yesus adalah orang yang mau bayar harga, agar hidunya mengalami perubahan yang lebih baik lagi. Grace Murray Hopper berkata: "Kapal akan aman bila berada di pelabuhan, tetapi kapal tidak diciptakan untuk itu."

    Banyak orang ingin mengalami perubahan hidup yang lebih baik lagi, tetapi takut bayar harga, tetap berdiri di tempat, tidak mau berubah, tidak mau mencoba, tidak mau bergerak. Jangan harap saudara akan diberkati lebih lagi. Saudara malas berdoa, malas baca firman, malas beribadah, gereja membutuhkan dana saudara pelitnya setengah mati, jangan harap Anda diberkati Tuhan. Tidak ada perubahan, kecuali Anda sendiri yang mengawali gerakan. Tuhan menghargai orang-orang yang berusaha.

  • Tidak menyia-nyiakan kesempatan berjumpa dengan Yesus
  • Ketika mendengar ada Yesus langsung datang menghampiri. Bagi dia itu adalah kesempatan untuk merubah nasib hidupnya. Ada berapa banyak di antara kita orang-orang percaya yang menyia-nyiakan saat-saat bersama dengan Tuhan. Waktu ibadah minggu jalan-jalan bersama keluarga hanya untuk refreshing. Hal yang prinsip dan penting bagi hidup ditinggalkan. Sementara ia ngotot berdoa meminta sesuatu kepada Tuhan. Bukankah Tuhan akan memberkati orang-orang yang memprioritaskan Allah? Ada kesempatan berdoa tetapi tidak mau berdoa? Dapatkah saudara bayangkan ada berapa banyak orang percaya di dunia yang tidak dapat bebas memuji Tuhan, beribadah?

  • Berserah total
  • "Jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan Aku." Kata tahir. Benar-benar sembuh. Kalau luka kita obati sembuh tetapi ada bekasnya. Tetapi tahir yang disebut di dalam perikop ini adalah tahir yang sembuh total tanpa ada bekasnya, dibuat baru kembali. Begitu sempurna. Ada sikap hati yang luar biasa yang dipunyai orang ini. Dan Alkitab mencatat satu-satunya orang yang demikian. Saya akan tunjukkan buat kita semua. Kalau saudara perhatikan perjalanan Yesus di dunia yang dicatat dalam Injil, saudara akan menemukan begitu banyak orang yang sakit maupun kerasukan datang kepada Yesus meminta pertolonganNya. Semua mereka meminta dengan cara yang sama. Memuji Yesus Mesias, Yesus Anak Allah, Yesus Anak Daud, endingnya berkata sembuhkan aku, tolong aku, bahkan ada yang memaksa (Perempuan Siro-Fenisia). Saya tidak berkata itu salah. Saya hanya mau sampaikan sikap hatinya yang berbeda. Dia menyerah. Perhatikan kata-katanya yang disampaikan kepada Yesus. (di Taman Getsemani, Yesus pun berkata kepada Bapa-Nya, "kalau Bapa mau"). Tidak semua apa yang kita doakan Tuhan jawab. Tetapi itu adalah saat-saat Tuhan ingin kehendak-Nya yang jadi. Mari kita belajar berserah, karena hanya Tuhan yang tahu yang terbaik bagi kita. Tuhan memberkati.

    Mereka Perlu Kasihmu!

    Penulis : Andrias Hans

    Seekor gajah jantan yang dikenal jinak dan popular di Thailand yang bernama Ngathongthae, pada hari kasih sayang 14 Pebruari 2002 lalu, kawin berkali-kali. Gajah ini dikawinkan dengan gajah betina di kamp yang terletak 80 Km utara Bangkok. Pada hari yang sama, gajah ini dibawa ke kebun binatang untuk dikawinkan dengan tiga gajah betina. Kebetulan pada hari kasih sayang ini persis masa kawin gajah di Thailand.

    Saudaraku yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, ada serbaneka cara orang merayakan valentines day. Peristiwa gajah di atas menunjukkan bahwa kasih sayang digambarkan dengan cara kawin mawin. Apakah kasih sayang identik dengan perkawinan semacam itu? Atau kasih sayang harus dinyatakan dengan ciuman massal yang baru-baru ini berlangsung di sebuah kota di luar negeri? Tentu pertanyaan hakiki yang perlu ditanyakan dalam merayakan hari Valentine tahun 2004 ini adalah bagaimanakah kasih sayang yang sejati kepada sesama manusia? Mari kita menelusurinya lebih jauh.

    Asal-usul hari kasih sayang

    Dalam buku Selamat Umur panjang, Pdt. Andar Ismail menjelaskan tentang asal-usul hari kasih sayang. Ia menjadi Uskup di Terni, Italia yang menyayangi dan disayangi banyak orang. Khotbah-khotbahnya sering berpokok tentang kasih sayang Tuhan Yesus kepada semua orang tanpa membedakan kedudukan atau asal-usulnya.

    Ketika kaisar Claudius menghambat umat Kristen, Pastor Valentine ditangkap, namun dari dalam penjara di mana ia dianiaya, Pastor Valentine mengingat semua orang yang dicintainya. Dalam sel penjara tiap hari ia membuat kartu bergambar hati dengan ucapan aku cinta padamu. Kartu-kartu itu dikirim satu persatu kepada tiap orang yang dicintainya.

    Semua orang di dalam penjara itu juga merasakan kasih sayang Valentine. Mereka menempelkan kartu bergambar hati di sel mereka masing-masing. Setelah valentine dihukum mati, orang-orang di penjara itu melanjutkan kebiasaan membuat dan mengirimkan kartu bergambar hati.

    Kemudian hari gereja menyatakan Valentine sebagai seorang santo. Dan pada tanggal 14 Pebruari dirayakan sebagai hari Santo Valentine, sebab menurut tradisi yang dapat dipercaya, ia lahir pada tanggal 14 Pebruari tahun 270.

    Makna sejati kasih sayang

    Pertanyaan penting yang harus dijawab adalah bagaimanakah kasih sayang sejati terhadap sesama manusia itu? Manifestasinya seperti apa?

    Bila seseorang telah memberikan pinjaman uang kepada sesamanya yang sedang terlilit hutang, apakah dapat dikatakan ia telah mengasihi dengan kasih yang sejati? Bila ia memberikan tumpangan kepada seorang pengemis tua, apakah ia telah memberikan kasih yang sejati kepada orang itu? Dan apakah boleh dikatakan seseorang telah berbuat kasih yang sejati ketika ia menyerahkan sebagian atau seluruh hartanya bahkan nyawanya kepada temannya?

    Tentu naif ketika kita menafikan begitu saja perbuatan-perbuatan di atas sebagai bukan tindakan kasih. Harus diakui, itu adalah perbuatan kasih yang layak dipuji dan diteladani. Namun demikian karya kasih tadi tak cukup disebut itu adalah kasih sejati. Karya kasih sejati terhadap sesama manusia tidaklah sekadar memberikan kepada seseorang materi atau mencukupkan kebutuhan-kebutuhan lahiriah belaka, sandang, pangan, dan papan, dan lain sebagainya bahkan termasuk pengorbanan nyawa sekalipun yang tidak jelas motivasi pengorbanan itu. Karena tak sedikit orang mengorbankan dirinya untuk orang lain dengan alasan yang sangat naif.

    Demikian kata firman Tuhan : Sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku (I Korintus 13:3).

    Kasih semacam apakah yang dimaksud oleh rasul Paulus dalam ayat ini? Tentu kita akan mengacu pada definisi kasih yang Paulus utarakan pada ayat 4 bahwa kasih itu sabar kasih itu murah hati dst

    Tetapi jika kita cermati lebih dalam maka kita menemukan makna kasih yang sesungguhnya. Kata kasih di sini dipakai kata Yunani Agape, sebuah kata yang Paulus gunakan dalam ayat 3 tadi. Agape berarti kasih yang paling tinggi dan paling mulia , yang melihat suatu nilai tak terbalas pada obyek kasihnya. Atau kasih Allah yang diberikan kepada manusia tanpa melihat apapun latar belakang orang yang menerima kasih itu. Agape berarti Allah menerima manusia yang penuh dosa itu menurut apa adanya dia.

    Benar sekali bahwa kasih Allah kepada manusia tidak pernah berkesudahan

    (I Korintus 13:8) bahkan sampai orang ke neraka sekalipun, Allah tetap kasih adanya.

    Kita dapat memahami bagaimana kasih Allah kepada manusia berdosa yang sengaja melanggar dan melawan DIA.

    Kejadian 3:6-9,21

    Apakah tindakan Allah terhadap manusia pertama yang telah jatuh ke dalam dosa?

    Setelah manusia berbuat dosa, mereka menjadi malu dan tertuduh karena mereka telanjang. Mereka berusaha sendiri untuk menutupi ketelanjangan mereka dengan membuat cawat dari daun pohon ara. Ini merupakan suatu usaha yang sama sekali tidak dapat mencukupi kebutuhan mereka. Oleh karena itu, Tuhan Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk mereka, lalu mengenakannya kepada mereka.

    Jelas bahwa Allah memberikan pakaian kepada manusia pertama, itu menyatakan anugerah dan kasih sayang Tuhan kepada manusia yang terjatuh dalam dosa.

    Perhatikanlah bahwa upaya untuk menutupi rasa malu mereka akibat dosa, ada binatang yang harus disembelih, ada penumpahan darah, dan ada korban. Firman Tuhan berkata : Tanpa penumpahan darah ,tidak akan pernah ada keselamatan. Tindakan penyembelihan binatang menunjukkan pada korban yang akan digenapi kemudian oleh Yesus Kristus Anak Domba Allah yang disembelih di atas kayu salib demi menebus manusia dari pasar budak dosa sehingga mereka beroleh kebebasan dan keselamatan jiwa yang kekal.

    Yohanes 3:16 dan Roma 5:6,8,10

    Ayat-ayat ini menunjukkan kepada kita betapa besar kasih Allah terhadap manusia berdosa. Tidak ada kasih yang terlebih besar dari kasih Allah di dalam Yesus Kristus ini. Syair pujian yang sangat indah berkata : Sekalipun langit adalah kertas, samudera sebagai tinta, dan setiap pohon adalah batang pena, dan setiap orang adalah penulisnya, maka itu tidak mampu melukiskan betapa besar dan dalamnya kasih Allah kepada dunia ini

    Sesungguhnya saudara dan saya tidak pantas menerima kasih Allah sebab kondisi kita sangat tidak layak untuk dikasihi, kita penuh dosa dan berseteru dengan Allah. Namun itulah Allah yang penuh kasih. DIA mengasihi pada saat kita sebenarnya tidak layak untuk dikasihi. Dan kasih Allah kepada kita adalah kasih yang sejati sebab menyentuh hal yang paling hakiki dalam hidup manusia yaitu kasih yang menyelamatkan jiwa kita secara kekal.

    Dari sinilah saya memberanikan diri untuk menyimpulkan bahwa kasih yang sejati adalah kasih yang menyelamatkan jiwa manusia dari dapur api neraka yang mematikan.

    Suatu omong kosong belaka jikalau seseorang mengatakan, ia mengasihi sesamanya sementara ia sama sekali tidak menyentuh substansi hidup orang itu yakni keselamatan jiwanya.

    Karena itu apa yang dikemukakan oleh Rasul Paulus sangatlah tepat dan indah: Sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, (yaitu kasih yang menyelamatkan jiwa seseorang di dalam Yesus Kritus) sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku (I Korintus 13:3).

    Tuhan bersabda pula: Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya? (Markus 8:36). Tindakan memberikan materi kepada sesama kita yang membutuhkan adalah tindakan terpuji dan harus diapresiasikan. Seharusnyalah itu merupakan gaya hidup anak-anak. Namun jikalau pemberian itu hanya berhenti sebatas pemberian materi tanpa memberikan yang terbaik, memberikan kasih yang sejati yaitu Injil itu, maka sesungguhnya kita tidak mengasihi mereka dengan kasih yang sejati.

    Kenapa Injil itu harus diberikan kepada sesama , saudara, tetangga, keluarga, dan sahabat-sahabat kita? Karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman (Roma 1:16-17).

    Kini telah jelas kepada kita bahwa harta yang paling berharga dalam hidup manusia adalah nyawanya. Orang yang paling berbahagia dan paling berharga dalam hidupnya adalah orang yang nyawanya telah diselamatkan dari kebinasaan kekal oleh Tuhan Yesus Kristus. Sekali lagi kita diingatkan Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya? (Markus 8:36).

    Tindakan kita selanjutnya?

    Kasih kita yang sejati kepada sesama kita, orang tua kita, saudara kandung kita, keluarga kita, rekan-rekan kita, dan tetangga kita, dan orang-orang lain yang berjumpa dengan kita setiap hari adalah dengan membagikan Injil keselamatan dalam Yesus Kristus sembari melayani kebutuhan mereka secara jasmani (Matius 9:35-38). Supaya mereka yang merasakan kasih Allah dalam hidup kita akan mendengar dan menerima-NYA serta mengalami keselamatan kekal.

    Banyak pendapat yang beredar saat ini yang mengatakan bahwa amanat agung Tuhan Yesus bukan yang tercatat dalam Matius 28: 18-20 melainkan Matius 22:37-39 yang menurut mereka ini adalah amanat cinta kasih yang lebih utama dari pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-KU dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu

    Pemikiran ini timbul karena mereka mengidap obesitas toleransi terhadap Saudara-Saudari yang berbeda keyakinan, kalau tidak mau disebut ketakutan memikul salib. Perlu diingat bahwa memberitakan Injil adalah amanat Tuhan yang harus dijalankan dan pemberitaan Injil itu bukan dilakukan atas dasar paksaan atau dengan manuver-manuver yang arogan. Pewartaan kabar baik selalu didorong oleh kasih kepada Kristus yang telah berkorban bagi kita dan kasih terhadap sesama yang sedang menuju ke jurang kebinasaan abadi. Motivasi penginjilan seperti inilah yang membuat Tuhan Yesus tersenyum manis pada kita.

    Perbedaan pandangan di atas, mana yang merupakan amanat agung kiranya tidak dijadikan sumber polemik yang berkepanjangan, tanpa manfaat apa-apa. Kedua ayat Alkitab tadi tak pantas dipertentangkan, karena mereka saling melengkapi dan memiliki keutuhan yang sangat kokoh. Karena manifestasi kasih yang sejati kepada sesama manusia harus tercermin melalui tindakan pekabaran Injil yang membawa sesama kita kepada pengalaman keselamatan kekal di dalam Tuhan Yesus Kristus.

    Tugas kita sekarang adalah terus dan teruslah membagi kasih melalui pemberitaan Injil. Karena ada berita buruk bagi orang Kristen sejati bahwa setiap hari ada 48.000 jiwa yang meninggal dunia dalam suku-suku bangsa yang belum mengenal Yesus Kristus. Dan kita tahu bagaimana nasib orang yang mati di luar Kristus ; sangat mengerikan !

    Refleksi hidup kita kekinian!

    Pertanyaan yang sangat perlu kita renungkan saat ini adalah: Seandainya Bapa sorgawi segera akan menutup buku kehidupan Saudara dan saya satu jam ke depan dari saat ini, dan lonceng kematian akan didentangkan, sudah siapkah kita mempertanggungjawabkan hidup kita kepada-NYA? Apakah hidup kita sungguh berarti bagi-Nya?

    Sekali waktu kelak, pasti DIA akan meminta pertanggungjawaban Saudara dan saya berkaitan dengan amanat agung-NYA. Apakah yang telah kita lakukan terhadap sesama kita yang sedang menuju ke jurang kebinasaan kekal? Bermasabodohkah atau berpedulikah kita?

    Sebelum saya mengakhiri renungan ini, permisi tanya; masih adakah di antara Saudara yang masih gemar bernikmat ria dengan kasih yang murahan? Sudahkah Saudara menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadimu? Ingatlah, engkau tak boleh berlama-lama dalam kondisi mengerikan itu. Segeralah berdamai dengan Allah dengan mengakui segala dosa-dosamu. Lalu undanglah Yesus bertahkta di dalam hidupmu. Jadikanlah Dia Tuhan dan Juruselamatmu, maka kasih dan damai sejahtera yang sejati memenuhi hidupmu selamanya.

    Bagikanlah berita kasih di hari valentine ini karena itulah manifestasi kasihmu yang sejati kepada sesamamu. Mereka sangat memerlukan kasih Kristus yang kini ada padamu. Maukah engkau membagikannya?

    Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut (I Yohanes 3:14b).

    Selamat merayakan hari valentine dengan membagikan kasih sejati dari Kristus, amin!

    Meresponi Penderitaan

    Oleh: Sujud Prasetio

    Baca: 2 Timotius 2:1-13

    "Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus." 2 Timotius 2:3

    Seorang dramawan Inggris berkata: "Hidup ini memang tidak berjalan seperti yang kita ingini, tetapi inilah satu-satunya hidup yang kita miliki." Dengan kata lain betapa pun hidup ini tidak menyenangkan, inilah kenyataan hidup yang manusia miliki. Bahkan Alkitab berkata bagi orang-orang percaya, kita bukan saja dikaruniakan untuk percaya, tetapi juga untuk menderita di dalam Dia (Filipi 1:29). Oleh karena itu Paulus berkata: "Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit," (2 Timotius 2:3a). Ayat ini merupakan kata kunci dari bacaan kita hari ini.

    Paulus memberikan tiga profesi dan menghubungkannya dengan penderitaan. Jika di selidiki kita akan menemukan tiga bentuk sikap yang berbeda dari ketiga profesi tersebut. Yang pertama Paulus memberikan gambaran seperti seorang prajurit. Seorang prajurit dipersiapkan untuk menjaga keamanan negara. Harus siap siaga mempertahankan negara jika sedang terancam. Tidak ada jalan lain, kecuali menghadapinya. Dan yang terpenting adalah, seorang prajurit tidak akan bertindak sebelum mendapat aba-aba dari komandannya. Ketika penderitaan datang yang harus kita lakukan adalah menghadapinya. Bagaimana menghadapinya? Sebagai prajurit Kristus kita harus senantiasa patuh kepada Sang Komandan, yang tidak lain adalah Kristus.

    Pada prinsipnya Paulus menasihatkan ketika kita mengalami penderitaan hadapilah dengan bergantung kepada Tuhan. Tidak sedikit orang menjadi sakit jiwa karena penderitaan. Kenapa bisa sampai demikian? Persoalannya, orang-orang tersebut tidak siap terhadap penderitaan. Atau mungkin siap, tetapi tidak mampu menyelesaikannya, karena mencoba dengan kekuatannya sendiri. Oleh karena itu kita harus tetap fokus kepada Tuhan. Agar dalam keadaan apa pun, bersama dengan Tuhan kita siap menghadapinya. Benarkah Anda seorang prajurit Kristus?

    Meresponi Penderitaan (2)

    Oleh: Sujud Prasetio

    Baca: 2 Timotius 2:1-13

    "Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga." 2 Timotius 2:5

    Penderitaan merupakan bagian hidup manusia. Semua kita pernah mengalami penderitaan. Atau mungkin sementara Anda membaca renungan ini Anda sedang dalam penderitaan. Jika kedua-duanya tidak, pasti Anda akan mengalaminya. Kita sering kali mendengar jemaat Tuhan mengeluh ketika datang penderitaan. Atau mungkin kita pun mengalami hal yang sama. Apalagi merasa telah hidup benar di hadapan Tuhan. Pertanyaan yang hampir sama yang sering kita dengar adalah "mengapa?" dan "kenapa?" "Mengapa hal ini terjadi padaku? Kenapa bukan mereka yang jahat?" Barangkali kita tidak pernah mendapatkan jawabannya. Tetapi ada hal yang lebih penting untuk kita kerjakan, daripada sibuk dengan pertanyaan "mengapa?" maupun "kenapa?" Yaitu: menghadapinya, mengalahkannya dan mengatasinya.

    Tepatlah jika Paulus menggambarkan seorang olahragawan dan menghubungkannya dengan penderitaan. Seorang olahragawan bukan saja seorang yang hobi olah raga. Tetapi seorang olahragawan adalah seorang yang dipersiapkan sedemikian rupa untuk menjadi seorang atlet. Seorang atlet harus siap terjun di dalam perlombaan. Dan bukan sekedar ikut perlombaan, tetapi harus dapat memenangkannya. Agar tidak didiskualifikasi sebelum pertandingan selesai, seorang atlet harus mengikuti peraturan yang berlaku di dalam perlombaan tersebut. Oleh karena, itu Paulus berkata:". . . memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga." (2 Timotius 2:5).

    Pada prinsipnya Paulus sedang menasihatkan, ketika mengalami penderitaan, kita tidak cukup untuk menghadapinya seperti seorang prajurit. Tetapi harus terjun di dalam penderitaan tersebut dan kemudian mengalahkannya. Bagaimana caranya? Kita bergumul di dalamnya, tetapi tetap berpegang kepada kebenaran Firman Tuhan. Kenapa demikian? Penderitaan memberikan potensi untuk berbuat dosa. Bahkan penderitaan memberikan potensi untuk kemurtadan. Ada berapa banyak orang percaya meninggalkan imannya, ketika datang penderitaan. Penderitaan memberikan dua pilihan. Kita di kalahkannya atau kita mengalahkannya dan tampil sebagai pemenang. Bersama dengan Tuhan kita hadapi penderitaan. Kalahkan dengan berpegang teguh kepada Firman Tuhan. Maukah Anda menjadi seorang pemenang? Ikuti cara-Nya!

    Meresponi Perkataan Tuhan Yesus

    Oleh: Ev. Sudiana
     
    Di kayu salib, Tuhan Yesus tidak mengomel atau memaki orang-orang yang telah bersekongkol untuk menyalibkan Dia. Dia juga tidak menyalahkan murid-murid yang meninggalkan diri-Nya. Di kayu salib, Tuhan Yesus justru memohon pengampunan bagi mereka yang telah menyalibkan Dia.

    Di kayu salib, Tuhan Yesus tidak membalas dengan mengancam, mencerca, atau mengutuki orang-orang yang memusuhi diri-Nya, melainkan Ia mendemonstrasikan pengampunan terhadap mereka yang tidak pantas untuk diampuni.

    Dia berdoa, "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." Luk 23:34.

    Di kayu salib, kebangunan rohani terjadi. Ada dua orang penjahat yang disalibkan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Salah seorang penjahat menghujat Dia dengan berkata, "Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!" Luk23:39. Perkataan tersebut menggemakan perkataan orang-orang yang lewat di sana sambil menghujat Tuhan Yesus (Mat 27:40). Akan tetapi, penjahat yang satu lagi menegor penjahat itu dan berkata, "Kita memang selayaknya dihukum, ... tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah" Luk 23:41.

    Sikap Tuhan Yesus n ucapan pengampunan Tuhan Yesus yg tulus -- yang juga ditanggapi dgn sikap meresponi perkataan Tuhan Yesus 'sanggup mengubah pribadi seorang penjahat', sehingga ia berkata "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja." Luk 23:42

    JESUS VERY LOVES U

    Metamorfosis

    Oleh: Agung

    "Berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah: Apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan sempurna." (Roma 12:2)

    Bacaan: Roma 12:1-8

    Proses metamorfosa yang mengubah ulat menjadi kepompong, kemudian menjadi kupu-kupu, sungguh suatu perubahan yang mengagumkan. Dari arti katanya, metamorfosa berarti bentuk yang berubah. Namun, yang terjadi pada kupu-kupu bukan hanya perubahan bentuk, tetapi juga gaya hidup. Ulat merangkak, kupu terbang. Ulat makan daun, kupu mengisap madu. Ulat tampak rakus, kupu tampak anggun. Ulat bergerak lambat, kupu terbang cepat. Sungguh berubah total!

    Kata "metamorfosa" itu pulalah yang dipakai Paulus ketika menulis: "Berubahlah oleh pembaruan budimu ...". Paulus ingin jemaat di Roma benar-benar berubah, seperti perubahan yang dialami ulat hingga menjadi kupu-kupu. Gaya hidup, cara pAndang, dan cara jemaat menjalani hidup mesti berubah, sehingga mereka "dapat membedakan mana kehendak Allah: Apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan yang sempurna". Ya, reformasi sejati tidak hanya mengubah forma (bentuk), tetapi juga mengubah apa yang ada di dalam hidup seseorang.

    Hidup kita perlu terus mengalami reformasi. Harus terus bergerak dari ulat ke kepompong. Jadi tidak hanya diam, tetapi seperti pesan Paulus, kita perlu terus mempersembahkan diri sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah (ayat 1). Artinya, kita selalu menyadari—dan kemudian membuktikannya pada dunia—bahwa atas kemurahan Allah dan kasih karunia-Nya, hidup kita ini adalah milik Allah.

    Mari terus berubah agar semakin matang di dalam Tuhan. Hingga pada saatnya kelak, kita sungguh berubah menjadi indah dan memberkati setiap orang yang melihatnya.

    Minggu Advent: Menanti dan Introspeksi

    Penulis : Weinata Sairin

    Keunikan dan kekayaan dari sebuah negara Indonesia adalah bahwa berbagai agama hidup dan tumbuh kembang dengan leluasa di dalamnya. Indonesia bukan negara agama yang mengakomodasi ketunggalan agama, tetapi sebuah negara Pancasila yang mengakomodasi kemajemukan agama. Bahkan negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya. Dari pengalaman empirik, relasi antarumat beragama berlangsung dengan baik. Sikap saling menolong, saling respek, saling mengunjungi dan saling mengucapkan selamat pada hari-hari raya keagamaan terwujud dalam keseharian untuk melakukan hal-hal itu, mereka tidak diatur oleh ketentuan perundangan apapun juga; sebab realitas itu merupakan aktualisasi dari nilai-nilai luhur ajaran setiap agama. Bukan hanya lima agama yang hidup di Indonesia seperti yang acap diklaim pemerintah: Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Buddha.

    Dalam Penetapan Presiden No 1 Tahun 1965 yang berdasarkan Undang-Undang No 3 Tahun 1969 telah ditetapkan berkekuatan hukum sebagai undang-undang, disebutkan bahwa di Indonesia terdapat enam agama yaitu: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Khong Hu Cu. Penjelasan Penetapan Presiden itu menyatakan "Ini tidak berarti bahwa agama-agama lain seperti: Yahudi, Zararustrian, Shinto, Taoism dilarang di Indonesia, mereka mendapat jaminan penuh seperti yang diberikan oleh pasal 29 ayat (2) dan mereka dibiarkan adanya, asal tidak melanggar ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam peraturan ini atau perundangan lain."

    Batas Kewenangan
    Sayang sekali pemikiran bahwa Negara Republik Indonesia hanya mengakui secara resmi lima agama yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Buddha, masih tetap terjadi hingga era reformasi sekarang. Banyak rancangan perundangan yang mencantumkan bahwa hanya lima agama itu yang resmi diakui pemerintah. Pandangan ini bukan saja melampaui batas-batas kewenangan negara, tetapi mengarah kepada pelecehan terhadap agama sebagai institusi yang memiliki dimensi transenden.

    Keabsahan dan eksistensi sebuah agama tidak menjadi bagian dari wilayah kewenangan pemerintah/negara tetapi merupakan otoritas dari agama itu sendiri. Dalam konteks ini adalah amat bijaksana jika pemerintah tidak mengeluarkan ketentuan perundangan yang mengatur hari-hari raya keagamaan, mana yang ritual dan mana yang seremonial. Agama-agama itu sendiri melalui lembaga-lembaga yang mereka miliki yang mempunyai kewenangan dan otoritas tunggal untuk menetapkan hari-hari raya keagamaan mereka dan untuk mengembangkan sikap hidup rukun di antara umat beragama.

    Pancasila, UUD Negara RI 1945 dan ajaran agama telah cukup menjadi referensi utama. Agama telah cukup menjadi referensi utama. Pada waktu-waktu tiga bulan terakhir umat Islam dan Kristen menapaki hari-hari yang amat penting dalam kehidupan keberagamaan mereka. Umat Islam menjalani ibadah Puasa di bulan Ramadhan yang kemudian berpuncak pada Hari Raya Idul Fitri. Ibadah Puasa - seperti yang acap ditekankan Aa Gym tidak hanya menahan lapar dan haus tetapi juga menahan nafsu dari segala perbuatan munkar. Titik kulminasi dari ibadah Puasa adalah Hari Raya Idul Fitri, hari-hari tatkala manusia memenangkan perjuangan melawan nafsu, hari-hari tatkala manusia kembali ke fitrahnya yang suci, sebagai makhluk Allah.

    Umat Kristiani memasuki minggu-minggu Advent (Latin: Adventus= kedatangan), sejak 30 November hingga 21 Desember 2003 yang mencapai klimaks pada Hari Raya Natal 25 Desember 2003. Gereja-gereja di seluruh dunia menetapkan empat minggu sebelum hari Raya Natal sebagai minggu-minggu Advent untuk lebih mempersiapkan umat yang menyambut kedatangan Yesus Kristus. Hadirnya beberapa hari Raya keagamaan secara berangkai amat signifikan maknanya bagi pemantapan spritualitas umat sekaligus bagi penguatan kerukunan antar umat beragama di Indonesia.

    Suasana khusus memang acap mewarnai minggu-minggu Advent ini: suasana hening- reflektif yang dapat bangun karena gereja-gereja menyiapkan liturgi khusus dengan bacaan Alkitab yang secara spesifik mengacu pada pemaknaan Advent bagi pemantapan spritualitas umat.

    Istilah kedatangan pada kata Advent, tidak hanya berarti kedatangan Yesus Kristus pada hari Natal, tetapi sekaligus juga menunjuk pada kedatangan Yesus yang kedua kali (parousia) yang diyakini umat Kristen sebagai akhir dari sejarah. Itulah sebabnya hal mendasar yang tak bisa diabaikan dalam pemberitaan firman di minggu-minggu Advent adalah aspek ganda dari kedatangan Yesus Kristus: kedatangan dalam konteks Natal, dan kedatangan dalam konteks parousia. Ada perbedaan substansial dan diametral antara kedatangan Yesus yang pertama (Natal) dan kedatangan Yesus kedua (Parousia).

    Benang Merah
    Kesederhanaan, kehidupan, ketidakberdayaan, ketidakmampuan menjadi benang merah yang amat mewarnai kedatangan-Nya yang pertama. Minggu-minggu Advent yang diperingati selama empat minggu harus mampu menguak serta mendalami kedua aspek tersebut, sehingga warga gereja benar-benar dipersiapkan untuk memasuki hari Raya Natal dengan sebaik-baiknya.

    Yesus Kristus mendatangi ruang hidup manusia dengan segala kesederhanaan-Nya dan kehinaan-Nya, agar manusia yang arogan, tinggi hati, berlumur dosa menjadi luluh dan luruh dalam pelukan Yesus. Ia memanggil setiap manusia yang berbeban berat untuk bersimpuh di hadapan-Nya dan menerima pembebasan serta penyelamatan.

    Dalam parousia, Yesus datang dalam kemuliaan untuk menjadi Hakim yang Adil bagi seluruh umat manusia. Nada dasar dalam Minggu-minggu Advent sebab itu, adalah menanti dan introspeksi. Suara Yohanes Pembaptis yang lantang dalam mempersiapkan kedatangan Yesus patut didengar kembali: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Allah sudah dekat" (Matius 3:2). Bahkan Yohanes tanpa ragu berkata keras kepada publik sat itu: "Jangan menagih lebih banyak daripada yang telah ditentukan ba-gimu! Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu." (Lukas 3: 13,14b)

    Sebenarnyalah Minggu-minggu Advent menjamah ramah relung-relung kehidupan kita, kita tidak sekadar menanti dan menanti. Tetapi juga introspeksi.dalam bahasa Yohanes Pembaptis: bertobat, jangan menagih lebih banyak dari yang seharusnya, jangan merampas dan memeras, cukupkanlah dengan gajimu!

    Selamat merengkuh minggu Advent !

    Sumber: Suara Pembaruan Daily

    Mumpung Sempat

    Oleh: Lukas Tjipto Hudianto

    Bacaan: Galatia 6:10

    Kehidupan di zaman modern ini membuat kita sukar menemukan orang yang punya kepedulian dengan orang lain. Semua orang punya "gaya bebek" (orang di kampung berkata: cuek bebek). Sifat bebek memang cuek. Salah satu, kalau lewat nyelonong aja, tidak memikirkan apa yang dilewatinya.

    Galatia 6:10 mengingatkan kita bahwa hidup ini singkat, dan dalam singkatnya hidup kita itu, gunakanlah untuk berbuat baik. Orang percaya harus menjadi Garam dan Terang bagi dunia. Jangan sampai kita sebagai orang Kristen, yang sudah percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi, malah kalah dengan orang yang tidak percaya. Bacaan dari Lukas 10:30-35 tentang Imam dan orang Lewi yang kalah telak dengan seorang Samaria akan menjelaskannya.

    Lukas 10:30-35
    [30] Jawab Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. [31] Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. [32] Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. [33] Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. [34] Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. [35] Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.

    Mumpung sempat, mari kita berubah supaya seimbang. Selain itu, marilah kita berbuat baik bukan karena menginginkan pujian bagi diri sendiri saja, namun terlebih itu, memuliakan Bapa kita yang di Surga. Supaya nama Yesus semakin ditinggikan. Gbu.

    Musuh Kita Adalah Pikiran Kita

    Oleh: Sefnat A. Hontong

    Dalam Efesus 6:10-20, Paulus berbicara tentang perjuangan Iman. Sangat menarik di sini adalah gambaran yang gunakan Paulus untuk menunjukkan apa itu 'senjata' yang bisa dimanfaatkan dalam perjuangan seperti ini. Yaitu dengan cara memanfaatkan senjata seorang tentara Romawi, seperti: ikat pinggang, baju zirah/baju besi, kasut/sepatu lars, perisai/salawaku, panah, ketopong/topi baja, dan pedang (bandk. ayat 14-17). Semua alat dan perlengkapan tentara Romawi ini, kemudian diberi makna baru: ikat pinggang berarti Kebenaran, baju besi berarti Keadilan, sepatu lars berarti Kerelaan memberitakan Injil, salawaku berarti Iman, topi baja berarti Keselamatan, dan pedang berarti Firman Allah, dan yang paling mendasar dari semua itu adalah: harus dilakukan dalam segala Doa dan Permohonan (lih. ayat 18).

    Kalau memang jemaat Efesus harus berjuang menggunakan senjata seperti yang dijelaskan itu, maka pertanyaannya adalah siapa musuh yang harus ditumpas? Menurut ayat 12 “….perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, dan melawan roh-roh jahat di udara. Apa maksudnya? Dalam terjemahan BIS ayat ini ditulis Sebab kita berjuang bukannya melawan manusia, melainkan melawan kekuatan segala setan-setan yang menguasai jaman yang jahat ini. Kita melawan roh-roh jahat yang menguasai ruang angkasa. Jadi, yang dimaksud dengan kata pemerintah, penguasa, dan penghulu dalam ayat ini adalah kekuatan segala setan-setan dan roh-roh jahat yang mengusai ruang angkasa atau yang menguasai udara, bukan pemerintah atau penguasa secara politik. Dalam bahasa Yunani, kata-kata ini ditulis dengan arkhe untuk pemerintah, eksousia untuk penguasa, dan kosmokrator untuk penghulu. Semua kata tersebut dapat berarti kuasa supernatural atau kekuatan-kekuatan gaib (bahasa Galela: koloko o toka de o gurumi datotorou). Jadi semacam kuasa gaib yang berada di angkasa atau di udara yang selalu mengganggu dan merongrong kehidupan manusia.

    Oleh karena itu, kita tidak perlu sibuk mencari tahu di mana tempatnya roh-roh itu berada, karena kuasa dan pengaruh roh-roh itu tidak bekerja di luar diri kita, melainkan bekerja di dalam diri kita, yaitu dalam pikiran dan hati kita masing-masing. Dengan pikiran kita, kita bisa membenci sesama, memfitnah, mencuri, memprovokasi, menganggap remeh, menjatuhkan, bahkan membunuh dan menindas. Ingat perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, (bukanlah melawan sesama kita), tetapi melawan pengaruh roh-roh di udara yang bekerja di dalam pikiran dan hati kita. Perjuangan seperti ini tidak dapat dilakukan dengan menggunakan senjata buatan tangan manusia, melainkan hanya dengan senjata Allah, yaitu: Ikat pinggang Kebenaran, baju besi Keadilan, sepatu lars Kerelaan memberitakan Injil, salawaku Iman, topi baja Keselamatan, dan pedang Firman Allah, dan yang paling mendasar dari semua itu adalah: harus dilakukan dalam segala Doa dan Permohonan yang tiada hentinya.

    Situs penulis: http://sefnathontong.blogspot.com/

    Nafsu

    Penulis : Otto

    Keutamaan manusia terletak dalam pengendalian nafsunya. Raja Solaiman berkata:"Mereka yang dapat mengendalikan nafsunya, lebih besar dari seorang pahlawan". Seorang pahlawan atau orang yang terkenal karena melakukan hal hal yang besar belum tentu dapat mengendalikan nafsunya. Nafsu merupakan bagian dari keinginan manusia. Keinginan yang berlebihan biasanya disebut nafsu. Pembunuhan, zinah, penyakit, korupsi, merupakan akibat nafsu. Nafsu amarah merupakan awal dari dendam dan pembunuhan, nafsu sex, merupakan awal dari perzinahan, nafsu makan, merupakan sumber penyakit, dan nafsu akan uang merupakan akar korupsi.

    Pada dasarnya nafsu yang ada dalam diri manusia merupakan bagian untuk memenuhi kehidupan. Nafsu makan baik untuk pertumbuhan anak-anak dan orang yang sakit, nafsu sex baik bagi kehidupan rumah tangga yang harmonis, nafsu amarah penting untuk memerangi hal yang tidak adil bagi masyarakat, nafsu akan uang baik supaya giat mencari napkah keluarga.

    Nafsu perlu dikuasai oleh manusia, seperti mulut kuda yang dikekang oleh besi. Nafsu yang tidak dapat dikuasai akan menghasilkan akibat-akibat yang negatip. Nafsu amarah yang bergejolak bebas, menghasilkan dendam kesumat dan berakhir pada pembunuhan. Nafsu makan yang gelojoh, menumpuk timbunan lemak dalam darah yang mengakibatkan peredaran darah tidak lancar, dan timbulah berbagai penyakit, jantung, strock, diabetes, dll. Nafsu sex yang tidak terkekang merusak kehidupan seseorang, merusak kehidupan keluarga, dan masyarakat, karena akan ada wanita/pria yang ditinggalkan, anak-anak yang terlantar, dan penyebaran AIDS dimasyarakat. Nafsu akan uang yang serakah, merupakan akar kejahatan. Orang menjadi gila harta dan kedudukan tanpa memikirkan cara mendapatkannya, dengan uang yang berlebih orang dapat membeli wanita, dan bahkan membunuh orang.

    Nafsu menguasai manusia sejak manusia jatuh dalam dosa, sampai saat ini jika kita melihat kehidupan sehari-hari dimana banyak terjadi tindakan kriminal, berbagai jenis penyakit, kehidupan kawin-cerai, dan korupsi merajarela, merupakan tanda bahwa manusia telah diperhamba oleh nafsunya. Nafsu yang berlebih merupakan perangkap iblis terhadap manusia, sejak semula iblis menginginkan kerusakan dan kejatuhan manusia. Hawa dibangkitkan keinginannya oleh iblis agar menjadi seperti Tuhan dengan memakan buah larangan. Daud dibangkitkan nafsu sexnya oleh iblis ketika melihat wanita telanjang yang bukan istrinya. Nafsu yang berlebihan merupakan jerat iblis yang harus diwaspadai.

    Karena keberadaan manusia yang berdosa dan lemah, manusia tidak dapat mengalahkan nafsunya, ia tidak dapat mengendalikan nafsunya, yang ada adalah pemanjaan nafsu. Sudah berharta cukup, manusia ingin memliki harta yang lebih, nafsunya membangkitkan sifat serakah. Sudah memiliki istri, ingin wanita yang lain, nafsunya mengumbar sex yang taktertahan. Sudah tahu makanan yang sehat untuk tubuh, masih saja memakan makanan yang lezat dan berlemak tinggi karena merasa mampu melakukannya. Nafsunya memanjakan kelezatan makanan sepanjang tenggorokannya yang akan menimbun penyakit dihari tua.

    Keutamaan manusia terletak dalam pengendalian nafsunya.Raja Solaiman berkata:"Mereka yang dapat mengendalikan nafsunya, lebih besar dari seorang pahlawan". Seorang pahlawan atau orang yang terkenal karena melakukan hal hal yang besar belum tentu dapat mengendalikan nafsunya. Penyakit Aids menandakan pelepasan nafsu sex yang tak tertahan, Peperangan memanjakan nafsu kekuasaan dengan membunuh banyak orang. Korupsi dimana-mana, menandakan nafsu uang yang tidak terkendali. Dan bila kita pergi ke rumah sakit, banyak yang masuk rumah sakit karena tidak dapat menahan selera makannya mengakibatkan diabetes, jantung, stroke, kanker.

    Dapatkah manusia menguasai nafsunya ? jawabanya terletak dalam hubungan manusia dengan Tuhannya. Sepanjang manusia menyerahkan keinginanya kepada Tuhan, maka manusia akan melahirkan perbuatan-perbuatan Roh, bukan perbuatan-perbuatanya sendiri. Roh senantiasa melahirkan perbuatan-perbuatan yang baik, sabar, mengasihi, damai, sejahtera, yang merupakan sifat-sifat Roh, dan bukan sifat-sifat manusia. Roh akan mengendalikan nafsu kita, bukan iblis, Roh yang akan menunjukkan keinginan yang baik untuk kita lakukan, bukan keinginan yang tak terkendali. Keinginan-keinginan manusia senantiasa melahirkan nafsu-nafsu yang tidak terkendali yang akhirnya merusak. Keinginan-keinginan Roh melahirkan nafsu-nafsu yang membahagiakan manusia.

    Natal dan Gembala

     Oleh: Philip Kuncoro

    Bacaan: Lukas 2:8-20

    Berita natal pertama secara mengejutkan justru diberitakan kepada para gembala, Yunani= Poinmen, bukannya kepada para bangsawan. Siapa mereka itu?

    (a) Gembala domba di Palestina adalah kelompok masyarakat sederhana yang hidup terpencil (saat bertugas mereka tinggal di alam terbuka, terpisah dari komunitas), tetapi mereka dikenal sebagai orang-orang yang setia menjalankan tugasnya (perhatikan kalimat: ”...menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam”) -- Lukas 2:8b

    (b) Tugas utama mereka antara lain:
    - Menjaga domba dari serangan pencuri dan binatang predator (pemangsa).
    - Selain itu juga merawat domba yang terluka.
    - Mencari domba kalau ada yang hilang atau tersesat.
    - Mencarikan padang rumput dan sumber air untuk makan-minum dombanya.

    Pertanyaan yang menarik untuk diajukan adalah kenapa berita natal diberitakan kepada mereka?

    (a) Ini menunjukkan bahwa kedatangan Kristus pertama-tama ditujukan pada mereka yang terpinggirkan dan terlupakan.
    (b) Natal adalah penghiburan. Jadi, mereka yang pekerjaannya: menghibur, merawat, mengasihi mahkluk lain sekarang diganjari Tuhan juga dengan penghiburan dan lawatan kasih.
    (c) Karena tuntutan tugas, gembala harus selalu berjaga-jaga. Natal adalah untuk mereka yang ”berjaga-jaga” dan bukan untuk yang berleha-leha.

    Berita yang Disampaikan Kepada Para Gembala

    Berita natal kepada para gembala begitu indah, apa saja itu:

    1. Kesukaan besar bagi semua bangsa -–ayat 10.

    Sukacita bahasa Yunaninya Chara= kegembiraan, sukacita karena mendapat sesuatu. Dan sukacita itu bukan sembarang sukacita, tetapi sukacita yang besar, Yunaninya Megas= agung, besar, luas. Natal selalu berbicara tentang sukacita, karena natal adalah bukti nyata kepedulian Allah kepada umat-Nya – band. Yohanes 3:16. Kalau anak atau istri kita mempedulikan kita saja pasti kita bersukacita. Apalagi ini Allah yang perduli kepada kita! Pasti sukacitanya besar sekali.

    2. Telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus (Mesias) -- ayat 11

    Bagi orang Israel, ini berita besar. Kedatangan Mesias adalah hal yang paling dinanti-nantikan oleh orang Yahudi. Ribuan tahun mereka menunggu sejak janji Tuhan yang pertama tentang Mesias dalam – kej.3:15 (ayat ini sering disebut injil yang pertama= proto evangelium)

    Sosok Mesias ini diyakini mereka akan memberikan 2 hal :

    (a) Pembebasan dari penjajahan.
    (b) Mengembalikan kejayaan Kerajaan Israel raya seperti zaman Daud.

    Kedua harapan di atas ternyata salah, karena Yesus bukan mesias politis tetapi Mesias rohani. Tapi Kristus memberi kita 2 hal juga:

    (a) Pembebasan dari semua dosa dan penyakit -- 1 Petrus 2:24
    (b) Menghadirkan kerajaan Allah (kuasa dan karya Allah) di dunia ini yang menghancurkan kuasa kerajaan iblis -- Matius 12:28; Lukas 11:20

    3. Damai sejahtera di bumi -- ayat 14

    Natal selalu menghadirkan damai sejahtera bagi yang mendengar dan menantikannya. Kata damai, Yunaninya Eirene= damai, tenang/teduh, keutuhan. Eirene meliputi berbagai bidang kehidupan:

    (a) Keadaan di mana tidak ada perang dan malapetaka.
    (b) Keadaan damai dan selaras antar individu.
    (c) Keadaan yang aman, selamat, makmur dan sejahtera.
    (d) Suatu keadaan ”nyaman”/damai yang akan dialami oleh orang benar dan tulus yang telah meninggal.

    Semua keadaan di atas disediakan Kristus dengan kedatangan-Nya di dunia ini.

    Tanggapan Para Gembala

    Tanggapan kita menentukan berarti atau tidaknya natal bagi kita. Apa tanggapan para gembala dengan berita natal itu?

    1. Mereka percaya -- ayat 15

    Natal hanya bermanfaat bagi mereka yang percaya pada pentingnya peristiwa itu bagi hidup mereka. Bagi yang tidak percaya, peristiwa itu ya seperti peristiwa biasa, ada seorang anak lahir ke dunia. Tidak kurang tidak lebih.

    Pertanyaannya: ”Apakah Anda percaya bahwa berita dan peristiwa natal mampu mengubah hidup Anda?”

    2. Mereka mencari ”bayi natal” -- ayat 16

    Percaya mereka diwujudkan dengan tindakan mencari di mana bayi itu berada!

    Ingat: iman tanpa perbuatan itu mati -- Yakobus 2:26

    Para gembala mencari dengan penuh semangat. Kalimat, ”lalu mereka cepat-cepat...” menunjukkan betapa semangatnya mereka itu. Orang yang tidak semangat tidak mungkin cepat-cepat, tetapi letoy-letoy.

    Winston Churchill (Mantan Perdana Mentri Inggris berkata: ”Succes is ability to go from failure to failure without loosing Your enthusiasm.” Artinya: sukses adalah kemampuan untuk melewati kegagalan demi kegagalan tanpa kehilangan antusiasme (semangat) Anda.

    Kesimpulannya: Natal adalah berita sukacita dan damai sejahtera bagi semua orang (terutama mereka yang terlupakan dan terpinggirkan). Namun tidak semua orang bisa menikmati natal. Tangapan kita terhadap berita dan peristiwa natal menentukan apakah natal itu berarti bagi kita atau tidak. Kalau ingin berarti, pelajarilah respon para gembala.

    Negative Thinking

    Oleh: Ev.Sudiana

    Negative Thinking atau berpikiran negatif adalah cara seseorang memberikan penilaian atau kesimpulan secara bertolak belakang dari kenyataannya.

    Dalam bertindak orang-orang yang berpikiran negatif umumnya akan mendasarinya pada kecurigaan dan dugaan-dugaan - atau asumsi-asumsi yg belum tentu benar.

    Akan tetapi orang tersebut masih terus memaksakan penilaiannya itu dengan segala argumentasinya dan ingin sekali agar orang lain membenarkan penilaiannnya itu.

    Kita dapat belajar, betapa orang-orang yang memiliki pikiran negatif cenderung mempersulit keadaan, sulit untuk menerima kebenaran dan akhirnya bagi dirinya sendiri tidak akan pernah menjadi berkat bagi orang lain.

    Persoalan negative thinking atau berpikiran negatif ini memang sudah ada sejak manusia jatuh dalam dosa.


    Semasa Tuhan Yesus masih tinggal bersama-sama manusia, Tuhan Yesus pernah mendapati murid-murid-Nya pernah berpikiran negatif terhadap seorang perempuan yang mengurapi-Nya dengan minyak wangi yang mahal, dan Tuhan Yesus memberikan teguran kepada mereka. (Mat 26:6-10)

    Orang-orang yang berpikiran negatif juga sangat sulit menerima nasehat, apalagi kritik. Bagi orang yang berpikiran negatif, nasehat seringkali dianggap sebagai merendahkan dirinya, sedangkan kritik seringkali dianggap sebagai tuduhan yang mempersalahkannya. Mereka sulit menerima bahwa nasehat itu sesungguhnya adalah sesuatu yang menguntungkan bagi dirinya dan kritik adalah sesuatu yang dapat menjadikan dirinya semakin maju dan berkualitas.

    Akibatnya orang-orang yang memiliki pikiran negatif ini tidak bisa produktif dan membangun orang lain, bahkan tidak jarang mereka menjadi pendengki dan iri hati.

    Menjadi pengikut Kristus justru harus didasari dengan positive thinking atau berpikiran positif. Kita harus belajar untuk mendahulukan penilaian baik terhadap sesuatu dan berusaha untuk beranggapan baik terhadap seseorang.

    Karena akan sia-sialah hidup kekristenan kita kalau pikiran kita masih selalu negatif dalam menilai segala sesuatunya, karena pikiran yang selalu negatif tidak akan pernah dapat menerima dengan sungguh-sungguh kebenaran yang diajarkan Tuhan Yesus Kristus, apalagi untuk melakukannya.

    Pengajaran Kristus adalah pengajaran yang melihat segala sesuatunya dari sisi positif;
    # menguatkan orang yang lemah
    # mengampuni orang yang memusuhi diri kita
    # mengasihi orang lain atau mengasihi orang yang bersalah "diampuni"
    # tidak menghakimi orang lain
    # dan mau mempercaya orang lain
    # dan seterusnya.

    Anda bisa bayangkan apabila Tuhan Yesus memiliki pikiran negatif, maka sudah pasti Yesus tidak akan pernah memberkati hidup kita karena Dia akan curiga jangan2 pemberian-Nya akan disalahgunakan.

    Tuhan Yesus tidak akan pernah mau menderita dan mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia, karena curiga jangan-jangan anugerah pengampunan-Nya hanya akan sia-sia.

    Dan sesungguhnya berpikiran negatif itu sangat merugikan diri kita sendiri dan orang lain.

    “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” Maz 139:23-24

    Situs penulis: www.menatarohani.blogspot.com

    Nikolaus dan Bileam

    Oleh: Andre Widodo

    Shalom,

    Dalam Wahyu 2:6 dan Wahyu 2:15, disebutkan tentang ajaran-ajaran Nikolaus. Wahyu 2:6. "Tetapi ini yang ada padamu, yaitu engkau membenci segala perbuatan pengikut-pengikut Nikolaus, yang juga Kubenci."

    Wahyu 2:15. "Demikian juga ada padamu orang-orang yang berpegang kepada ajaran pengikut Nikolaus."

    Wahyu 2:16. "Sebab itu bertobatlah! Jika tidak demikian, Aku akan segera datang kepadamu dan Aku akan memerangi mereka dengan pedang yang di mulut-Ku ini."

    Apakah ajaran Nikolaus itu? Mari kita bahas bersama.

    NIKOLAUS Berdasarkan Study Bible New American Standard Bible dijelaskan bahwa Nikolaus adalah salah seorang jemaat Tuhan pada gereja mula-mula. Alkitab menjelaskan di Kisah 6:5 bahwa Nikolaus adalah seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia, dan ia menjadi jemaat Kristus. Artinya Nikolaus adalah seorang pemeluk agama Yahudi yang telah menerima Kristus sebagai Tuhan.

    AJARAN NIKOLAUS Sebagai salah satu jemaat yang ditugaskan untuk melayani, Nikolaus mengajarkan juga Firman Tuhan. Tetapi terbukti bahwa ajaran Nikolaus sangat dibenci oleh Tuhan Yesus.

    Wahyu 2:6. "Tetapi ini yang ada padamu, yaitu engkau membenci segala perbuatan pengikut-pengikut Nikolaus, yang juga Kubenci."

    Nikolaus ternyata adalah seorang penyesat! Ajaran Nikolaus adalah ajaran yang mentolerir budaya/tradisi/kebiasaan paganisme. Nikolaus mengajarkan tidak apa-apa beribadah kepada Yesus tetapi juga melakukan tradisi/praktek/budaya paganisme.

    Perlu diketahui bahwa salah satu budaya paganisme saat itu adalah seperti "makan persembahan berhala", "perzinahan","penyembahan kepada patung", dan hal-hal lainnya.

    Ajaran-ajaran Nikolaus ini, tanpa disadari oleh anak-anak Tuhan telah meracuni anak-anak Tuhan pada saat itu, bahkan praktek-praktek tersebut masih sering terlihat hingga saat sekarang ini.

    Contoh : Masih ada para pengikut Kristus yang pergi ke dukun, terlibat dalam perzinahan, percaya feng shui, percaya ramalan, terlibat dalam okultisme, terlibat dalam penyembahan kepada patung, penyembahan kepada manusia dan lain-lain.

    Kompromi-kompromi dengan budaya paganisme di dalam diri anak-anak Tuhan ini dimulai melalui Nikolaus. Anak-anak Tuhan menjadi penuh toleransi, bahkan yang lain tidak mau mendisiplinkan mereka yang berkompromi ini.

    Jemaat Efesus menolak mentah-mentah para pengikut Nikolaus ini. Hal ini ditulis di Wahyu 2:6. Tetapi pada jemaat Pergamus, jemaat ada yang bertoleransi dan menjadi pengikut-pengikut Nikolaus ini, Wahyu 2:15.

    AJARAN BILEAM Berdasarkan Study Bible New American Standard Bible dijelaskan bahwa Bileam adalah tukang tenung dari Mesopotamia yang diperintahkan oleh Balak, raja Moab, agar ia mengutuki bangsa Israel. Kisah tentang Bielam ini dapat dibaca di Bilangan 22 - 24, dan Ulangan 23:4.

    Ajaran Bileam adalah ajaran yang mengajarkan toleransi juga terhadap paganisme. Adalah hal yang biasa saja apabila anak-anak Tuhan melakukan perzinahan, karena bisa bertobat dan meminta pengampunan kembali.

    Bileam saat itu menyerukan kepada bangsa Israel adalah tidak apa-apa bagi mereka untuk memakan makanan persembahan berhala dan berzinah dengan bangsa-bangsa di Kanaan. Bileam adalah contoh dari seorang guru yang mempengaruhi orang untuk meninggalkan Tuhan dan menyembah berhala.

    Berikut ini adalah ilustrasi Bileam ketika ia mengajarkan kesesatannya.

    RENUNGAN Arti kata Kristen adalah pengikut Kristus. Jika kita menyebut diri kita pengikut Kristus, maka sudah selayaknya kita meneladani apa yang Kristus ajarkan.

    1 Petrus 1:14-16. "Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus."

    Tuhan Yesus sendiri melalui wahyu yang diberikanNya kepada Yohanes di pulau Patmos mengatakan agar kita yang masih mempraktekkan ajaran Nikolaus dan ajaran Bileam ini utuk bertobat. Jika tidak Tuhan sendiri yang akan memerangi mereka.

    Wahyu 2:16. "Sebab itu bertobatlah! Jika tidak demikian, Aku akan segera datang kepadamu dan Aku akan memerangi mereka dengan pedang yang di mulut-Ku ini."

    Tuhan Yesus memberkati.

    Obrolan Dua Butir Telur

    Dua butir telur sedang berdiskusi mau jadi apa mereka kelak. Telur pertama berkata dia ingin menjadi tiram...dia hanya diam dalam air dan makanan akan datang dengan sendirinya seiring dengan arus laut. Dia tidak perlu bersusah payah mengambil keputusan dan inisiatif juga tidak perlu bertanggung jawab terhadap siapapun.

    Telur kedua tidak sependapat...dia ingin menjadi seekor elang dia bebas kemanapun dia ingin pergi dan bebas mengambil keputusan serta menentukan jalan hidupnya sendiri. Seekor elang tidak mengikuti arus lautan tapi bisa mengatur dan kadang kala melawan arus angin.

    Dari cerita dua butir telur tadi...kira2 mau jadi yang mana??? Tiram yang cuma pasrah dan merasa puas dengan keadaan sekarang...atau seekor elang yang bebas menentukan hidupnya dan pergi kemana saja dia suka.

    Seorang pemenang akan berkata "Memang tidak mudah...tapi BISA!!!" Tapi seorang pecundang akan berkata " Memang bisa...tapi tidak mudah"

    Ombak

    Oleh: Maghdalena

    Suatu hari saya ke sebuah pantai, di sana saya duduk di tepi karang. Saat itu saya sedang mengalami masalah dan mengalami pergumulan, di sanalah saya ingin menyendiri.

    Sewaktu saya duduk, datanglah deburan ombak, lalu memecahkan karang di hadapan saya.

    Karang itu mengalami pecahan sedikit demi sedikit. Lalu saya merenung, ombak itu hanyalah berupa kumpulan air laut yang bergerak, namun dia dapat menerjang apa pun di hadapannya, walaupun itu karang sekalipun, seolah dia mempunyai energi yang besar.

    Namun jika dia tidak ada angin, dia hanya aliran air laut biasa yang tidak mampu menerjang apa pun; dia dapat menerjang semuanya itu hanya jika angin membantunya.

    Lalu saya mendapati kesamaan kehidupan manusia dengan ombak tersebut.

    Setiap manusia dapat mengatasi masalah apa pun, namun itu hanya terjadi jika Tuhan mendukungnya.

    Sama seperti ombak yang dapat menerjang apapun jika angin membantu membuat gelombang yang besar dan kuat.

    Di situlah saya menyadari kekuatan saya sebagai manusia tidaklah ada apa-apanya jika tanpa dukungan Tuhan dalam membantu saya menghadapi masalah saya.

    Dalam kehidupan ini, kita tidak dapat mengatasi masalah jika kita tidak mengandalkan-Nya. Andalkan Tuhan, dan semuanya akan mengikuti dengan sendirinya.

    Orang Benar Akan Hidup Oleh Iman

    Penulis : Ev. Solomon Yo

    Pendahuluan
    Kita akan merenungkan tentang iman dalam kehidupan Kristen. Tetapi sebelumnya kita perlu diingatkan tentang dua ekstrem yang harus dihindari dalam kehidupan beriman, yaitu:

    Dalam perenungan ini, kita akan membatasi pembahasan pada kehidupan iman orang Kristen yang telah percaya dan mengenal Allah dalam diri Yesus Kristus. Kita akan merenungkan implikasi dari iman seseorang terhadap kehidupannya. Kita akan merenungkan apa artinya ketika seorang Kristen mengaku bahwa ia beriman kepada Allah. Beriman kepada Allah berarti:

    I. Mengakui Allah sebagai Realitas yang paling riil

    Bagi orang Kristen realitas yang seutuhnya bukan hanya yang kelihatan namun juga hal yang tidak kelihatan. Bagi orang atheis hanya yang kelihatan itulah yang riil, seperti uang, kekuasaan, dsb. Tetapi orang Kristen melihat penyangkalan terhadap realitas yang tidak kelihatan merupakan kepicikan dan kebodohan. Siapakah yang dapat melihat kasih? Tetapi kita tidak dapat menyangkal keberadaan kasih, dan melihat perwujudannya yang membuat hidup manusia menjadi lebih indah.

    Walaupun Allah tidak kelihatan, tetapi Ia adalah realitas yang riil. Ini bukan hanya keyakinan orang percaya, tetapi sekaligus merupakan pengalaman mereka. Mereka adalah orang yang sedang berjalan bergandeng tangan bersama Tuhan menuju surga mulia dan kekal. Allah yang tidak kelihatan itulah yang memberikan kepada mereka makna, kekuatan, penghiburan dan pengharapan dalam menjalani kehidupan mereka. Bagi orang beriman realitas yang tidak kelihatan itu lebih berharga daripada yang kelihatan, "karena yang tidak kelihatan itu kekal dan yang kelihatan itu sementara" (2Kor. 4:18). Bahkan lebih dari itu, bagi orang Kristen, Allah adalah Realitas yang paling riil dari semuanya. Dunia dengan segala isinya akan berlalu; kekasih, orangtua atau anak, suami atau istri, saudara atau sahabat, dan semua yang kita banggakan akan berlalu dari kehidupan kita, tetapi Tuhan akan tetap selama-lamanya dan Dia tidak akan pernah berlalu. Camkanlah orang yang paling bodoh justru adalah mereka yang menolak Tuhan karena mereka tidak akan dapat merasakan pengalaman indah bersama Tuhan.

    Sungguh ironis, manusia cenderung merasa Tuhan dan pertolongan-Nya kurang riil karena Ia tidak kelihatan, sebaliknya menganggap manusia itu lebih riil. Manusia cenderung untuk menyembah sesuatu yang kelihatan dan mengabaikan Allah yang tidak kelihatan, seperti bangsa Israel yang ingin melihat Allah secara riil dalam rupa lembu emas. Dan masih banyak hal lain yang mereka lakukan demi membuat Allah riil. Manusia rohani atau orang beriman akan memandang Allah lebih besar daripada semua yang lain; ia akan lebih takut pada Allah daripada kepada manusia dan hal lain. Dengan demikian ia akan memiliki keteguhan dan tidak akan mudah digoyahkan; ia akan dapat melihat pelangi di balik awan yang kelabu, seperti Elisa yang melihat penyertaan Tuhan di tengah kepungan ribuan tentara Aram.

    II. Mengakui Allah sebagai Pribadi yang paling berdaulat dalam kehidupan kita

    Ketika kita berkata percaya kepada Allah [Trinitas], kita mempercayai Dia sebagai Pencipta alam semesta yang memiliki kedaulatan tertinggi atas segala sesuatu dan atas kehidupan kita. Dia satu-satunya Pribadi yang paling besar dalam kehidupan kita, tidak ada yang dapat disejajarkan dengan Dia, karena itu, kita memberikan penghormatan tertinggi hanya kepada-Nya, dan tidak memberikan penghormatan seperti itu kepada yang lain. Zwingli mengatakan bahwa dosa terbesar manusia adalah memberikan tempat yang hanya diperuntukkan bagi Allah kepada sesuatu yang bukan Allah. Kebenaran ini terus bergema di dalam seluruh Kitab Suci, bahwa Allah harus menjadi yang terutama dalam hidup kita, lebih daripada orangtua, anak, kekasih, harta dan bahkan diri kita sendiri. Dan ingatlah, semua itu Tuhan maksudkan demi untuk kebaikan kita.

    Abraham lebih mengutamakan Tuhan daripada Ishak, anak yang perjanjian yang telah ia nantikan berpuluh-puluh tahun. Ketaatan iman Abraham ini sangat diperkenan oleh Allah, sehing2ga ia diberkati oleh Allah. Menjawab permasalahan rohani pemimpin muda kaya yang menanyakan apa yang harus ia lakukan untuk dapat masuk ke dalam sorga, Tuhan Yesus menantang dia untuk menyerahkan seluruh hartanya, yang telah menguasai hatinya. Setiap kita memiliki berhala yang berbeda, permasalahannya sudahkah kita mengutamakan Tuhan di atas semua yang lain? Ujian yang lain, yaitu apakah Tuhan sudah menjadi yang terutama atau tidak akan kelihatan waktu kita mengalami kesulitan. Jika kita menggerutu kepada Tuhan saat mengalami kesulitan dan penderitaan, berarti kenyamanan kita lebih penting dari pada Tuhan, dan kita belum menjadikan Dia lebih utama daripada apa pun. Ingat, setiap hajaran yang Dia berikan demi untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya (Ibr. 12:10).

    III. Mengakui Allah sebagai satu-satunya sumber berkat dan anugerah yang sejati

    Percaya kepada Allah berarti mempercayai Dia sebagai sumber berkat sejati, bahwa "setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna" datang dari Tuhan (Yak. 1:17). Setan bukan sumber kebaikan, ia hanya memanfaatkan ciptaan Allah yang baik bagi tujuannya yang jahat. Allah adalah satu-satunya sumber berkat sejati. Karena itu, memiliki Tuhan berarti ia memiliki berkat terbesar. Orang demikian akan memiliki kelegaan terbesar karena Allah yang mengasihinya pasti akan mencukupi setiap kebutuhannya. Tuhan mengasihi setiap anak-Nya, setiap orang dikasihi-Nya secara khusus, walaupun setiap orang memiliki situasi hidup yang berbeda, tetapi setiap menerima kasih yang tidak kurang. Karena itu, kita tidak perlu iri hati pada orang lain yang memiliki situasi hidup yang berbeda darinya. Biarlah kita merespons setiap anugerah Tuhan bagi kita dengan sikap yang positif dan beriman.

    Karena Tuhan satu-satunya sumber berkat sejati, maka kita hanya bersandar kepada-Nya dan tidak bersandar pada yang lain. Manusia tidak pernah dapat menjadi tempat pesandaran kita, karena manusia itu rentan dan lemah, karena itu, kita hanya bersandar kepada Tuhan yang mahakuasa dan yang tidak berubah. Manusia dan apa saja dapat dipakai oleh Tuhan untuk memberkati kita. Ketika Allah mau memberkati kita Ia dapat mengutus malaikat untuk memberkati kita, mengirim orang baik untuk menolong kita, atau mengubah niat buruk orang jahat untuk mendatangkan kebaikan bagi kita, dan ketika semua itu terjadi, kita tetap mengakui tangan Allah yang memberkati kita, dan tidak memberikan kemuliaan kepada yang lain atau memperhamba diri kepada yang lain. Itulah sebabnya firman Tuhan menegaskan, "terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan" (Yer. 17:5). Orang yang memiliki Allah sebagai Tuhannya adalah orang sangat kaya. Tuhan adalah gembalaku yang baik, itu cukup!

    Namun demikian, memiliki semua berkat Tuhan tanpa memiliki Tuhan sang Sumber berkat bagaikan menerima hadiah dari sang kekasih tanpa pernah mengalami persekutuan yang indah dengannya. Jangan merasa puas hanya karena berkat-berkat Tuhan yang telah kita terima, biarlah kita bersukacita hanya jika kita telah memiliki Tuhan sebagai berkat kita yang sejati. Orang yang telah menemukan kesukaan di dalam Tuhan akan mempunyai kerohanian yang stabil, dan tidak mudah diombang-ambingkan lagi oleh perubahan dalam hidupnya. Manusia baru menyadari sukacita memiliki Tuhan ketika segala sesuatu yang menjadi kesukaannya Dia hancurkan terlebih dahulu. Pelajaran ini sering kali terjadi bukan dari inisiatif kita, tetapi inisiatif Tuhan yang memaksa kita untuk mempelajarinya.

    IV. Mengakui Allah sebagai pemberi makna dan penentu arah hidup kita

    Ketika seorang berkata ia beriman kepada Allah berarti ia mempercayai kebenaran Allah dan menjalankan hidupnya sesuai dengan kebenaran yang ia yakini itu atau sesuai de300n imannya itu. Jadi iman bukan sekadar pengakuan di mulut, tetapi penerimaan akan kebenaran Allah yang dihidupi. Banyak orang mengaku percaya bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan baginya (Rm. 8:28) tapi saat penderitaan dan kesulitan datang mereka berpaling dan melupakan Tuhan dan mulai berkompromi dengan dosa.

    Sikap nabi Habakuk patutlah kita teladani. Ia membuktikan imannya justru di tengah penderitaan dan kesulitan yang diungkapkan dalam kitab Habakuk 3. Habakuk bagaikan orangtua yang bersusah hati melihat kebobrokan dan kedegilan hati anaknya yang akan akan membawa mereka kepada kehancuran. Dan semua itu begitu m2enyusahkan hatinya. Tetapi realitas kesusahan yang ia lihat itu tidak menghempaskannya dalam keputusasaan, sebaliknya menantikan kasih setia Tuhan dan pemulihan- Nya setelah penghukuman-Nya, ia dikuatkan untuk menantikan kesulitan dengan sikap berkemenangan, sehingga muncullah ungkapan iman dalam puisi yang begitu indah dalam Habakuk 3., "Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah,… namun aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan…. Allah Tuhanku itu kekuatanku" (Hab. 3:17-19).

    Di tengah dunia berdosa dan kacau ini orang beriman bukan hanya melihat kekacauan yang ada di mana-mana, sebaliknya ia juga melihat Allah yang bertakhta di sorga dan rencana Allah yang pasti berlaku dalam hidup anak-anak-Nya Orang beriman percaya pada providensia Allah, bahwa sejarah berada di dalam tangan Tuhan, dan bahwa Tuhan bekerja untuk mengubahkan air mata kita menjadi mutiara indah, kita dapat melihat di balik setiap kesulitan dalam kehidupan kita ada anugerah Tuhan yang baru setiap hari, kesulitan bukanlah batu sandungan tetapi batu loncatan yang memberi manfaat besar bagi kita.

    V. Orang beriman dikuatkan untuk menjadi alat transformasi di tangan Allah

    Orang yang beriman adalah orang yang mengarahkan pandangannya pada kekekalan, dan mereka bukanlah orang melarikan diri dunia (eskapis) seperti yang dituduhkan oleh Karl Max. Orang yang beriman kepada Tuhan adalah orang yang mendapatkan kekuatan yang besar dalam hidupnya, sehingga hidup mereka dipakai untuk menjadi berkat terbesar bagi umat manusia. Siapakah yang telah memberikan sumbangsih terbaik dan terbesar bagi umat manusia, kecuali mereka yang hidupnya telah diubah dan diberkati oleh Tuhan, sehingga dapat menjadi berkat bagi umat manusia pada umumnya, dan gereja pada khususnya? Orang beriman ialah orang yang menerima kehendak Allah di dalam hidupnya, dan di dalam ketaatan mereka kepada kehendak Allah, mereka mengalami transformasi yang luar biasa untuk mempersiapkan mereka dipakai oleh Allah untuk merubah dunia ini.

    Orang yang mampu untuk merubah dunia menjadi lebih baik adalah orang- orang yang beriman, salah satunya adalah William Wilberforce. Melalui pergumulan rohani yang penuh dengan kepahitan selama 52 tahun akhirnya ia telah berhasil menghapuskan perbudakan di Inggris dengan indah. Apakah kita telah merubah dunia di sekitar kita menjadi lebih baik? Sudahkah diri kita dipakai menjadi alat bagi Dia? Orang yang beriman bukanlah orang yang mudah berputus asa dan mudah menyerah saat melihat realita dunia yang hancur ini tapi mereka justru melihat ada rencana dan kehendak Tuhan yang akan tergenapi di dunia. Anak- anak Tuhan pasti dapat merubah dunia menjadi lebih baik oleh karena itu janganlah kita menjadi takut dan mudah berputus asa sebab Tuhan pasti akan memberikan kekuatan dan kemampuan pada kita. Amin..!!

    Pada Mulanya adalah Kegelisahan

    Yohanes 1:1-9

    (1Kor 13:4-7).
    "Kegelisahan itu bukan penyabar; Kegelisahan itu tidak bermurah hati; ia pencemburu. Ia memegahkan diri dan cenderung sombong. Ia melakukan yang tidak sopan dan mencari keuntungan diri sendiri. Ia pemarah dan menyimpan kesalahan orang lain. Ia bersukacita karena ketidak-adilan, dan ketidakkebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu sampai kegelisahan tersebut terpuaskan".

    Yohanes 1:14
    Kegelisahan itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat perbuatannya, yaitu kemuliaan yang kita berikan kepadanya sebagai wakil tuhan di bumi, penuh kebaikan dan kebenaran menurut jalan kita.

    Pengkotbah 1:14
    Aku telah melihat segala perbuatan orang di dunia ini. Percayalah, semuanya itu sia-sia, seperti usaha mengejar angin.

    Paskah Melawan Harmoni Palsu

    Oleh: Sefnat A. Hontong

    Ke-harmoni-an adalah ide tertinggi dalam hidup bersama, bahkan sejak dalam agama asli dulu. Di Halmahera, orang melakukan itu dalam tradisi dan ritual ‘gomatere/gomahate’ saat terjadi gangguan dalam hidup mereka. Tujuan mereka adalah terciptanya sikon hidup yang harmoni, alias tidak ada pertentangan-pertentangan. Hal ini mau memberi petunjuk kepada kita bahwa ‘pertentangan’ adalah sesuatu yang negatif/tidak baik. Pertentangan adalah penghambat, bahkan penghancur yang harus diwaspai. Pertentangan adalah ‘musuh’ terbesar dari manusia yang menginginkan ke-harmoni-an/san dalam membangun hubungan-hubungan sosial. Pertentangan harus diantisipasi dan dijauhkan, jika bisa, ia tidak bisa muncul dalam hidup bersama.

    Tetapi, bagaimana jika konsep ke-harmoni-an/san seperti itu kita terapkan dalam sikon hidup masyarakat yang penuh dengan bermacam praktek ketidak-adilan dan ketidak-benaran, seperti: koruptor yang dihukum ringan, orang yang bersalah dibenarkan karena suap, orang yang berkualitas tidak lulus karena duitnya sedikit, biaya hidup yang mahal karena spekulasi orang bermodal, fasilitas pendidikan dan kesehatan tidak memadai di tengah anggaran infrastuktur yang tinggi, banyak tempat ibadah yang ditutup dan dibongkar, kesenjangan antara orang kaya dan orang miskin semakin lebar, para bawahan dituntut disiplin sementara para atasan menyelewengkan kekuasaan, dll. Apakah panggilan untuk hidup harmoni/s masih cocok dikumandangkan? Apakah hidup seia-sekata masih relevan menjadi wacana kita? Apakah keselarasan masih perlu dituntut?

    Saya rasa, dalam sikon hidup seperti itu, jika kita bicara tentang ke-harmoni-an/san adalah bohong. Diskusi tentang sikap hidup yang seia-sekata adalah kepalsuan. Perbincangan di sekitar keselarasan adalah mustahil. Kata seorang peneliti tindak korupsi: jika ada orang yang tahu tentang perbuatan korupsi seseorang, lalu ia diam dan tidak melapor karena takut terjadi konflik (pertentangan) dengan orang itu, maka orang yang diam itu adalah pendukukung tindak korupsi. Artinya apa? artinya adalah dalam sikon hidup masyarakat yang penuh dengan praktek ketidak-adian dan ketidak-benaran, kita memerlukan apa yang disebut dengan ‘pertentangan’.

    Dalam rangka merayakan Paskah 2013 ini, saya ajak mari kita lihat pendapat Jack Dean Kingsbury, (seorang teolog bidang PB, asal Virginia, AS) ketika mempelajari isi kitab Injil Matius dalam bukunya yang berjudul: Mattew as Story. Di dalam bukunya ini ia mengatakan: seluruh narasi kitab Injil Matius hanya berisikan satu (1) hal penting, yakni ‘pertentangan’. Dan ‘pertentangan’ yang sangat dasyat di dalam kitab ini adalah ‘pertentangan’ antara Yesus dan para pemimpin agama Yahudi yang korup. Ia malah menegaskan bahwa: pertentangan yang berkolaborasi dengan budaya yang korup itu (ingat cerita Yudas yang ‘disuap’?) justru berhasil membuat para murid dan orang banyak yang waktu itu suka mengikut Yesus-pun, akhirnya membelok dan menjadi kawan para pemimpin agama Yahudi, lalu bersama-sama memusuhi, melawan, dan menyalibkan Yesus. Sebuah bukti dari kompromi harmonisasi yang palsu.

    Dalam teori tindakan korupsi, ada rumus yang mengatakan: M + D – A = C. M = Monopoly (monopoli), D = Discresionary (kewenangan), A = Accountabilty (pertanggung jawaban), C = Corrupt (korupsi). Apabila rumus ini diterapkan ke dalam narasi Injil Matius, sebagaimana yang dikatakan oleh Jack Dean Kingsbury di atas, maka maknanya adalah sebagai berikut: para pemimpin agama Yahudi, dalam cerita Injil Matius tersebut, mempunyai ‘kuasa’ penuh atas kehidupan keagamaan Yahudi, baik yang jasmani maupun yang rohani. Jadi mereka memonopoli (M) sungguh-sungguh seluk-beluk kehidupan beragama. Oleh karena itu, jangan heran apabila mereka punya kewenangan (+ D) yang besar. Merekalah yang berhak mengatakan sesuatu itu ‘boleh’ atau ‘tidak’. Lalu ditambah dengan gaya kepemimpinan mereka yang tidak transparan dan tidak tertanggung jawab (- A), maka di situlah korupsi (= C) tumbuh subur. Buktinya dalam cerita kitab Injil ini, para pemimpin agama Yahudi bahkan bisa melakukan dua (2) kali perbuatan ‘suap’ dalam rangka membinasakan Yesus dan cerita kebangkitannya (Paskah). Pertama, kepada para prajurit untuk berbohong kepada publik bahwa Yesus tidak bangkit, melainkan dicuri oleh para muridNya. Kedua, kepada wali negeri supaya ketika ia mendengar cerita tentang kelalaian para prajurit itu, ia tidak menghukum mereka, karena kabar itu sesungguhnya adalah bohong (Matius 28:11-15).

    Jika hal semacam itu dilakukan oleh para pemimpin kita (pemimpin agama dan masyarakat), masih mungkinkah kita berdiskusi tentang ‘ke-harmoni-an?’. Saya rasa so tara wajar lagi! Artinya yang kita butuh bukan lagi duduk berdiskusi atau menulis saja, namun yang lebih penting adalah karya nyata kita dalam melakukan ‘perlawanan’ terhadap praktek-praktek yang diselubungi oleh ke-harmoni-an/san yang paslu. Tentu hal ‘melawan’ ini harus dilakukan dengan cara yang layak dan bukan dengan cara kekerasan. Sebagai umat beragama, tugas kita adalah melawan praktek-praktek ketidak-adilan dan ketidak-benaran dengan cara memberdayakan umat untuk sadar terhadap praktek dan wujud ke-harmoni-an/san yang palsu, yang diinginkan oleh para pelaku dan penyeleweng kekuasaan. Semoga kita tidak puas dengan ke-harmoni-an/san yang palsu. Selamat merayakan Paskah!

    Pasrah vs Berserah kepada Tuhan

    Oleh: Ev. Margareth Linandi

    Ada 2 macam kasus yang terjadi sebagai perbandingan:

    1. Seorang ibu yang mengalami pergumulan berat di mana waktu itu sang ibu menderita kanker payudara, sementara suaminya sakit paru-paru basah dan berhenti dari pekerjaannya, juga sang anak menderita leukimia. Sang ibu dalam keadaan berduka, dia berdoa dan meminta pertolongan Tuhan, lalu Tuhan perlahan-lahan memulihkan keluarga ibu itu. Suaminya perlahan-lahan mulai sembuh dan bekerja kembali, dan juga ada sepasang suami istri Kristen yang mengasihi dan membantu pengobatan anaknya sampai sembuh.
    2. Seorang remaja yang menderita penyakit parah, lalu ia segera mengambil gunting dari kamarnya dan menusukkan ke badannya sehingga ia meninggal.
     
    Manakah dari ke-2 kasus ini yang pasrah? Jawabannya adalah kasus yang ke-2 di mana sang anak kehilangan pengharapan, dia merasa sudah letih dengan hidup dan akhirnya bunuh diri; sedangkan kasus pertama sang ibu berserah kepada Tuhan, bersandar kepada Tuhan; bukan pasrah.

    A.I. Apa itu pasrah? Apa itu berserah?

    Dari kedua akar kata itu seolah-olah mempunyai arti yang sama, tapi maknanya berbeda. Pasrah artinya:
    - menyerah.
    - tidak berbuat apa-apa.
    - berpikiran negatif/ pesimis.
    - kehilangan pengharapan sehingga muncul niat bunuh diri, dan lain-lain.

    Berserah kepada Tuhan artinya:
    - turut dan mengikuti kehendak Tuhan dalam hidupnya.
    - percaya dan menyerahkan diri pada rencana dan pimpinan Tuhan.
    - berpikiran positif/optimis.
    - mempunyai semangat hidup yang tinggi, dan yakin akan pemeliharaan Tuhan atas hidupnya.

    A.II. Tokoh Alkitab yang hidupnya berserah kepada Tuhan:

    Dalam PL:

    1. Hana
    -  Dia adalah seorang wanita yang dimadu oleh suaminya dan madunya selalu menyakiti hatinya (I Sam 1:6).
    -  Seorang yang mandul (ayat 5).
    -  Dalam kesedihannya, dia tidak menyerah tetapi dia bersandar dan mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan.

    2. Abraham
    - Bapak yang taat pada perintah Tuhan; buktinya adalah walau Abram belum kenal Tuhan tapi ia mengikuti perintah Tuhan untuk keluar dari negerinya ke satu tempat yang dituju Tuhan.
    - Bapak yang tidak mempunyai seorang anak pun, tapi ia percaya dan berserah pada Tuhan dan menunggu janji Tuhan akan keturunannya selama 25 tahun.
    - Seorang bapak yang berserah kepada Tuhan dan mengikuti kehendak Tuhan, di mana dia mempersembahkan anaknya menjadi korban persembahan bagi Tuhan, dan memang pada akhirnya ada seekor domba jantan yang tersangkut di pohon yang menjadi korban persembahan Abraham.

    Dalam PB ada tokoh-tokoh Alkitab yang hidupnya berserah kepada Tuhan:

    1. Perempuan Kanaan (Mat 15:21-28)
    - Seorang wanita yang tangguh, mendatangi Yesus (ayat 22).
    - dia tidak menyerah dan gampang tersinggung (ayat 27).
    - dia tetap memohon dan merendahkan diri untuk meminta Yesus menyembuhkan anaknya.
    - dia berserah, mendekat dan menyembah Yesus (ayat 25).

    2. Dua orang buta
    - mereka mendengar Yesus lewat dan berseru untuk mengasihani mereka.
    - mereka meminta Yesus supaya mata mereka dapat melihat.
    - mereka berserah pada kehendak Tuhan akhirnya bisa melihat dan mengikut Yesus.

    A.III. Tokoh Alkitab yang pasrah/pesimis.

    Dalam PL:

    Nabi Elia
    - Seorang nabi Tuhan yang takut dengan ancaman ratu Izebel karna membunuh nabi palsu dengan pedang.
    - pesimis dan ingin mati; tidak mau makan dan minum (I Raja raja 17 ayt 4).

    Dalam PB:

    Yudas Iskariot
    - Dia adalah seorang yang pesimis.
    - Orang yang pernah menjual Yesus dengan 30 keping perak.
    - Menjauh dari Tuhan dan menggantung diri (Mat 27:5).

    B. Pasrah vs Berserah kepada Tuhan.

    Tips-tips supaya berserah kepada Tuhan dalam Mat 11:28-30 adalah PBSTO.

    1. Pray.
    Dekat kepada Tuhan dan mengetahui kehendakNya.

    2. Believe Him (Give your problem to Him)
    - Marilah kepadaKu--> ini adalah ajakan dari Tuhan Yesus.
    - Semua yang letih lesu dan berbeban berat; ini dimaksudkan siapa saja, besar kecil, tua muda, yang mempunyai masalah dan beban berat. JanjiNya: Aku akan memberi kelegaan kepadamu.

    3. Belajarlah pada Yesus (Study)
    Belajar berserah dan mengenal kehendakNya dalam Alkitab, maka jiwa kita akan mendapat ketenangan.

    4. Pikul kuk yang dipasang Tuhan (Trust and Obey)
    - Percayakan masalah kita pada Tuhan.
    - Serahkan diri sepenuhnya pada kehendak Tuhan tapi bukan menyerah.
    - Taat pada rencana dan kehendak Tuhan.

    Jadi kesimpulannya adalah:
    1. Masalah boleh datang tetapi jangan jadikan diri kita sebagai orang yang pasrah.
    2. Jangan menyerah kepada masalah tapi hendaklah kita serahkan pergumulan pada Tuhan.
    3. Berserah kepada Tuhan tidak berarti pasrah karna Tuhan tidak suka orang yang pasrah.

    Pawang Ternalem: Kisah Orang Terbuang

    Penulis : Martin L. Peranginangin

    Banyak jalan menuju Roma. Itu ungkapan diketahui oleh banyak orang. Tapi tidak banyak yang tahu siapa yang mula-mula membangun kota Roma. Kisahnya, kira-kira tahun 753 SM, Romulus dan saudaranya Remus membangun permukiman Palatine di Italia. Dan itulah cikal bakal kota Romawi. Bila saja mereka hidup sekarang, pastilah mereka takjub melihat kemegahan kota Roma. Salah satu kota pusat peradaban dunia, pusat pemerintahan, dan belakangan menjadi pusat perhatian dunia berhubungan dengan Vatikan. Menurut sejarah Romulus dan saudaranya adalah orang buangan. Mereka dibuang ke hutan oleh ibunya, dan konon mereka disusui oleh serigala sehingga akhirnya ditemukan dan diasuh oleh Faustulus seorang penggembala sampai akhirnya mereka dewasa.

    Kisah ini hampir sama dengan Pawang Ternalem, kisah anak buangan yang kemudian menjadi pawang (orang hebat) versi drama Karo yang dikarang seniman besar Karo tahun 1980-an, Hendri Bangun. Cerita ini ternyata diangkat dari kisah nyata kehidupan masyarakat Karo tempo doeloe. Cerita itu mengisahkan seorang bayi yang dibuang karena ibunya meninggal ketika melahirkannya. Paradigma orang Karo kala itu, bayi itu harus dibuang, karena bila diasuh maka akan membawa sial bagi keluarganya. Seperti kisahnya Pawang Ternalem, kematian ibunya kemudian disusul oleh ayahnya. Yang akhirnya ia dibuang di bawah kolong rumah (teruh karang). Ia kemudian hidup dan menyusui pada anjing dan babi.

    Cerita rakyat Karo menunjukkan bahwa kelahiran bayi yang membawa kematian ibunya adalah bayi sial. Bayi ini dianggap pembawa malapetaka atau disebut `tendi nunda". Kebiasaan jaman dahulu, bayi- bayi seperti Pawang Ternalem ditaruh disisi mayat ibu nya seolah-olah menyusui pada ibunya kemudian ditelungkupkan sehingga mayat ibu menindih si bayi sehingga ia pun mati. Biasanya hal ini dilakukan secara diam-diam. Atau biasa juga di taruh di pintu gerbang kampung sehingga meninggal terinjak rubia-rubia. Bila pihak keluarga tidak tega melakukan hal yang tergolong `pelanggaran HAM" berat itu, paling- paling si bayi di taruh di teruh karang.

    Tragedi itu sudah berlalu ratusan tahun yang lalu, sebelum terjadi pencerahan yang dimotori oleh para Missionaris yang datang ke Tanah Karo. Suatu ketika, peristiwa ini dialami sendiri oleh Pendeta J.K. Wijngaarden di daerah pelayanannya sekitar tahun 1920-an. Selain sebagai seorang pendeta, ia juga seorang mantri yang sering mengobati orang. Keahlian di bidang kesehatan adalah entry point baginya untuk menarik minat masyarakat belajar tentang agama. Sebab dataran tinggi Karo waktu itu sering sekali diserang wabah kolera dan kusta yang tidak man jur diobati oleh Guru Mbelin. Dalam peristiwa itu, ia melihat bagaimana pihak keluarga tidak mengharapkan kehadiran bayi `sial" itu. Lantas, atas persetujuan semua pihak, Wijngaarden kemudian mengadopsi anak itu lalu ia beri nama Sangap. Akhirnya beberapa waktu kemudian Sangap pun dibabtis, dan terakhir ia kemudian menjadi guru agama. Untuk menanggulangi kasus seperti Sangap, tahun 1925 Rumah Sakit Zending mendirikan panti penitipan bayi. Pada tahun 1926 terdapat lebih 100 orang bayi dirawat ditempat ini. Artinya, banyak sekali terjadi kasus ibu yang meninggal di saat melahirkan.

    Ketika Sangap sang pawang ternalem menjadi guru agama, ia tidak menjadi berita besar seumpama Romulus dan adiknya. Tetapi ia telah menjadi icon perubahan besar bagi orang Karo. Perubahan paradigma! Bahwa ibu yang meninggal tidak ada hubungannya dengan takdir seseorang melainkan faktor kesehatan. Pergolakan itu sangatlah besar. Missionaris b erperang dengan roh-roh para dukun, dan gunjingan orang yang belum memahami tentang itu.

    Suatu kali dalam kehidupan kita, mungkin bertemu dengan situasi yang dialami Romulus atau Sangap dalam versi yang berbeda. Kita merasa terbuang. Diabaikan. Merasa ditentang dari semua penjuru. Seperti lagu Karo, layam-layam si tangke ndoli: "Naktak pe la lit si ngulihisa, mombak pe la lit si nangkapsa". Hidup sepertinya tanpa makna. Namun sebagai orang yang percaya, Tuhan tidak pernah meninggalkan perbuatan tangannya. Kita ada di dunia karena Tuhan punya rencana yang besar. Bila kita memiliki iman, rancangan Tuhan tidak pernah meleset. Kini kita tidak mengerti, kelak kita disadarkan oleh kenyataan.

    Pembasuhan Kaki, Benarkah Mempunyai Makna?

    Oleh: Yon Maryono

    Hari Kamis pagi, saya diingatkan istri untuk membersihkan kaki. Menggosok kaki yang cenderung kulitnya tebal kasar dengan batu gosok dan memotong kuku kaki supaya rapi. Mengapa, karena sore hari kami mengikuti Ibadah Kamis Putih yang dalam rangkaian liturginya terdapat acara pembasuhan kaki. Saya bisa mengerti pikiran seorang wanita yang ingin selalu merawat tubuhnya. Tetapi bila dia harus ke salon, manicure dan pedicure, dikutek lagi dengan biaya ratusan ribu dan menyemprotkan parfumnya tidak di bagian yang biasa ditubuhnya tapi di kaki dan sepatunya, wah…………….?. Tampaknya tampilan lahiriah : kaki mulus, indah atau tebal, kasar berotot bagian yang lebih utama, bukan dimaknai hakekat atau arti rohaninya. Seperti memikul salib tidak berarti membuat salib kemudian dibebankan dan dipikul dipundaknya tetapi sanggup diolok, di nista, di sengsarakan, dianiaya karena kita sebagai pengikut Kristus.

    Saya kemudian membayangkan murid-murid Yesus jaman itu, yang selalu jalan kaki kemana saja mereka pergi, bahkan mungkin tanpa alas kaki. Pastilah kaki mereka penuh dengan otot menonjol, dan kulitnya tebal. Apalagi kondisi jalan saat itu pasti tidak semulus sekarang, penuh debu dan batu karena wilayah Israel umumnya daerah padang gurun. Kaki kotor itulah yang dibasuh Yesus. Ia melepas jubahNya, pakaian kehormatan sebagai symbol orang yang dikasihi dan dihormati. Ia hanya mengenakan kain yang dililitkan pada pinggang-Nya, layaknya hamba atau budak yang siap membasuh kaki tuannya. Sikap merendahkan diri inilah makna pertama ajaran pembasuhan kaki. Ajaran keteladanan untuk merendahkan diri dalam melayani Tuhan dan sesama. Sikap ini tidak mudah dilakukan ketika manusia terbelenggu sikap egois, angkuh, sombong, merasa diri benar, merasa diri berkuasa dan mudah meremehkan yang lain. Dan sangat ironis walaupun acara pembasuhan kaki selalu dilakukan setiap Ibadah Kamis Putih, sikap inipun masih tampak pula dalam pelayanan dalam Gereja.

    Pembelajaran Ritual Pembasuhan kaki kedua, ketika Petrus menyebut Yesus adalah Tuhan, ia mempertanyakan bila Engkau Tuhan mengapa Dia mau membasuh kakinya. Yesus justru memberikan ilustrasi yang belum dimengerti oleh murid-muridnya : "Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua. " (Yoh 13:10) Menurut tafsiran Alkitab Dave Hagelberg, pengampunan dan keselamatan kekal dikiaskan dengan istilah mandi, Jika mandi sekali, mereka bersih atau ditafsirkan jika percaya kepada Tuhan Yesus, mereka selamat untuk selama-lamanya. Jika selanjutnya kaki menjadi kotor (lambang dosa) karena aktivitas sehari-hari, mereka, yang percayapun, perlu membasuh kaki sebelum bersekutu dengan Yesus. Ada yang menyatakan bagaimana bicara tentang penyelamatan bila salib belum terjadi?. Memang perkataan Yesus itu dinyatakan sebelum penyaliban, tetapi Yoh 13:19 menyatakan : “Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya, bahwa Akulah Dia “ Jadi murid yang percaya Kristus saat itu akan memperoleh bagian di dalam Dia. Pada waktu kita mendengar penjelasan ini, mungkin kita bertanya pada diri sendiri apakah kita sudah bersih ?. Inilah makna pelajaran keduanya, mungkin juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua, seperti Yudas Iskariot saat itu, dia tidak bersih.

    Pada saat Yesus menyatakan “Sesungguh-sungguhnya Aku berkata kepadamu ….” Kata-kata ini harus diperhatikan dengan cermat oleh para murid. Yesus menegaskan kepada murid-muridNya bahwa mereka wajib melakukan hal itu kepada sesama murid seperti teladan yang sudah diberikan Yesus kepada mereka. Mereka diajar untuk mewujudkan kesetiaan mereka kepada Yesus dengan jalan mengikuti teladan-Nya, saling mengasihi dan melayani di dalam kerendahan hati. Ini adalah pengajaran yang ketiga, para murid didorong untuk saling melayani dan mengasihi.

    Ritual pembasuhan kaki adalah ritual dalam Perjanjian Baru. Bukan ibadah lahiriah yang dilakukan dengan symbol-symbol, bukan pula sekedar ritual atau kewajiban agama seperti dalam Perjanjian Lama. Atau sekedar pamer kaki indah, mulus dan bersih saat dibasuh Pastor atau Pendeta atau Majelisnya. Tetapi ritual pembasuhan kaki hakekatnya bermakna semua pengikut atau murid-murid Yesus harus berlomba untuk merendahkan diri dalam melayani Tuhan dan sesama, mengakui dosa dan mohon pengampunan kepada Tuhan, saling mengasihi satu dengan yang lain yang kesemuanya itu untuk membangun persekutuan pribadi dengan Allah. Itulah gaya hidup pengikut Kristus yang sejati.

    Tuhan memberkati kita semua.

    Penderitaan

    Penulis : Dr. Eben Nuban Timo

    KITA semua tahu apa itu penderitaan. Kita bahkan mengalaminya. Orang biasa bilang bahwa penderitaan itu seperti bayangan yang selalu ada sepanjang badan. Kadang-kadang bayangan itu di belakang kita sehingga kita tidak menyadari keberadaannya. Tetapi sering juga bayangan itu membentang di depan. Penderitaan menjadi sangat jelas dan mencekam.

    Penyebab penderitaan juga macam-macam. Ia datang kepada kita dalam bentuk sakit, gagal dalam usaha, diperlakukan secara tidak adil, mengalami duka cita karena kematian orang yang kita kasihi, musibah seperti bencana alam. Singkatnya ada banyak penyebab penderitaan. Apa pun penyebabnya, penderitaan selalu ada. Ia seperti bayang-bayang yang selalu menyertai hidup. Hanya orang yang sudah meninggal saja yang tidak mengenal dan mengalami penderitaan. Atau mungkin juga orang mati menderita. Kita belum tahu itu, karena kita belum mengalami sendiri.

    Minggu-minggu ini umat kristen sedunia memasuki saat-saat perenungan akan penderitaan Kristus dan maknanya bagi mereka. Penderitaan selalu ada. Manusia tidak bisa berbuat lain kecuali menghadapinya. Itu sebabnya adalah penting untuk kita merenungkan makna penderitaan itu. Mungkin kita tidak suka melakukannya. Tetapi karena penderitaan itu merupakan fakta yang tidak terhindarkan, kita harus menerimanya dan menemukan maknanya. Inilah salah satu maksud penetapan perayaan minggu-minggu sengsara alam kalender gerejawi.

    Penderitaan perlu dihadapi dan direnungkan. Ini mengandaikan bahwa ada makna positif yang bisa kita petik dari pengalaman penderitaan. Ya, setidak-tidaknya itulah yang dikatakan oleh Henry Ward Becher. Menurut Becher "menangis itu adalah rahmat". Waktu anak kami lahir di negeri Belanda, seorang dokter datang membawa jarum suntik. Dia mengambil darah dari telapak kaki anak kami. Tentu saja si bayi kesakitan. Ia menangis dengan suara keras. Dokter yang merawat dia berkata: "Gooed..... Goed... doe maar" (Baik-baik. Menangislah). Sambil memandang kepada saya dia berkata: "Bayi yang menangis waktu disakiti adalah tanda bahwa bayi itu sehat. Menangis juga perlu agar paru-parunya berkembang".

    "Menangis adalah berkat." kata Henry Becher. Ini juga berlaku bagi orang dewasa. "Karena dengan air mata Allah membasuh mata kita agar melihat negeri yang tidak kelihatan, negeri yang tanpa air mata." Saya rasa pendapat ini ada benarnya. "Yesus ada bersama dua orang murid waktu mereka di dalam perjalanan ke Emaus. "Tetapi ada sesuatu yang menghalang mata mereka sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia" (Yoh. 24:16). Mereka sangat terpaku pada cara hidup yang lama, pendapat dan pengajaran yang lama tentang hidup, Allah dan kebenaran. Penghayatan mereka tentang hidup bersifat statis dan monoton.

    Sesuatu yang menutupi mata mereka itu terangkat, waktu Yesus berbicara kepada mereka begitu rupa sehingga hati mereka berkobar-kobar, mereka sangat tersentuh dan terharu dengan apa yang mereka dengar itu (Yoh. 24:32). Sangat biasa jadi perasaan berkobar-kobar itu membuat mata mereka basah karena air mata. Akibatnya mereka memperoleh pemahaman yang baru mengenai hidup, Allah dan kebenaran. Mereka memperoleh perspektif baru dalam memahami kitab suci. Mata mereka dapat melihat sesuatu yang baru pada apa yang selama ini sudah mereka lihat. Saya kira Becher benar saat ia berkata : "Menangis adalah berkat karena dengan air mata Allah membasuh mata kita agar melihat negeri yang tidak kelihatan, negeri yang tanpa air mata". Artinya dengan memahami penderitaan, pengharapan akan satu perubahan ke arah yang lebih baik makin dilihat sebagai sebuah kebutuhan. Pengharapan akan hidup yang lain dari keadaan sekarang (status quo) bertumbuh di dalam pengalaman penderitaan.

    Waktu pemerintah sekarang mengumumkan kenaikan harga BBM, reaksi muncul di mana-mana. Banyak orang yang meminta agar harta para koruptor besar disita oleh pemerintah untuk menanggulangi subsidi BBM, proses pengadilan yang adil kepada para koruptor harus menjadi prioritas pemerintah. Penderitaan ternyata mengajar orang untuk memperbaiki keadaan hidup.

    Penderitaan ada manfaatnya. Ia mendekatkan kita kepada Allah, kata seorang pemikir yang lain bernama Harlod A Bisley. "Penderitaan adalah kesempatan yang baik untuk berdoa. "Waktu hujan tidak turun dan tanaman di kebun mulai layu dan ada ancaman kegagalan panen, banyak orang berdoa. Kita cepat-cepat datang kepada Tuhan waktu pencobaan datang."

    Para awak kapal berseru masing-masing kepada Allahnya waktu badai dan angin sakal menghantam kapal mereka. Itu cerita yang kita baca dalam Kitab Yunus. Murid-murid Yesus juga berseru kepada sang guru waktu mereka diserang badai secara tiba-tiba saat mereka sedang berlayar. Bahkan Yesus sendiri juga mengambil waktu khusus untuk berdoa, waktu Dia berada pada situasi yang kritis menjelang kematiannya.

    Akh, bisa saja ada yang tidak setuju. Penderitaan tidak membawa manfaat apa pun bagi manusia. Ia malah membuat umur hidup seseorang menjadi lebih pendek. Lihat saja, gara-gara penderitaan ada banyak orang yang stres, lalu mengalami strok dan kemudian stop. Karena alasan-alasan ini ada ahli yang menolak untuk kita memuliakan penderitaan. Penderitaan harus dilawan sekuat tenaga. Manusia harus berjuang untuk menolak penderitaan yang ia alami.

    Fakta-fakta yang kita catat di atas membuat kita menjadi bijak. Penderitaan itu ada plusnya tetapi juga ada minusnya. Ini memang fakta yang tidak mungkin dipungkiri. Teori macam apa pun tidak akan mampu berkat yang kita peroleh dalam penderitaan menghilangkan sisi negatifnya. Ini kalau kita bicara tentang plus-minus dari penderitaan. Daripada terjerat dalam soal plus minus dan kita tidak pernah akan memperoleh kata sepakat penderitaan dapat juga dilihat dari sisi lain. Sisi lain adalah sebagai berikut.

    Fakta mengatakan bahwa manusia tidak pernah sendirian dalam menghadapi penderitaan. Dalam derita manusia kembali menjadi satu. Penderitaan membuat perbedaan-perbedaan pendapat, konflik, dan perpecahan mencair dengan sendirinya. Orang-orang yang hidup dalam permusuhan dan konflik bisa dengan mudah melupakan konflik dan perbedaan pendapat yang ada di antara mereka.

    Coba kita lihat pengalaman penderitaan yang kita alami sebagai satu bangsa karena bencana alam di Aceh. Belakangan ini Indonesia dikenal sebagai bangsa yang bersekutu dan persaudaraannya tercabik-cabik. Bangsa Indonesia yang satu mengelompok dalam sentimen agama dan suku yang sangat tinggi. Orang Islam menganggap orang Kristen sebagai ancaman. Mereka saling memandang dengan penuh curiga, yang satu menganggap yang lain sebagai kafir atau melakukan syirik.

    Pengelompokan manusia Indonesia menurut agama : Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, orang kafir dan orang bertaqwa hilang dengan begitu saja. Mereka yang berbeda-beda ini justru bergandengan tangan menanggulangi dan menghadapi penderitaan. Ini sungguh satu mujizat. Ya, kalau dalam keadaan suka cita kita cenderung terbelah-belah, maka dalam derita dan duka kita kembali menjadi satu.

    Pengalaman tidak sendiri dalam penderitaan tidak merupakan satu yang bersifat horizontal belaka. Yang tidak kalah penting untuk kita ketahui, juga di dalam minggu-minggu pra paskah ini, adalah kenyataan berikut. Allah juga ada bersama kita. Ia menjadi satu dengan kita yang menderita. Allah ternyata ikut ambil bagian dalam penderitaan manusia. Ia yang kudus dan agung berkenan menyatukan nasibNya dengan nasib manusia.

    Fakta ini kita alami di dalam Kristus. Paulus menulis: "Yesus Kristus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahan sampai mati di kayu salib" (Fil 2:5-9)

    Penderitaan memang menyakitkan dan menimbulkan luka. Tetapi manusia tidak pernah sendiri menghadapinya. Selalu saja ada teman dan sahabat yang ikut berbela rasa dengan kita memikul duka cita itu. Bahkan Tuhan juga menjadi sahabat kita. Yesus kawan yang sejati, bagi kita yang lemah, tiap hal boleh dibawa dalam doa padaNya. Inilah penghiburan sejati bagi manusia. Ini sumber kekuatan kita menghadapi penderitaan dengan percaya bahwa penderitaan itu bersifat sementara saja. Habis gelap akan terbit terang. Penderitaan ternyata membangkitkan pengharapan.

    Pengampunan yang Sempurna

    Oleh: Fidiakris

    Matius 18:22 Yesus berkata padanya :"Bukan! Aku berkata kepadamu: bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali."

    Demikianlah Tuhan Yesus memberikan perintah kepada setiap umatNya. Karena Tuhan Yesus sudah memberikan teladan-Nya saat diatas kayu salib (Lukas 23: 34 Yesus berkata :"Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat."). Namun ada 2 hal yang harus kita lakukan dulu sebelum Bapa mengampuni dosa kita :

    1. 1 Yohanes 1:9 Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.

    2. Matius 6: 14-15

    Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu. Kadang kita mengalami suatu hal yang membuat kita sulit mengampuni, misalnya orang yang selalu mencari masalah dengan diri kita, orang yang selalu menyakiti hati kita, dan lain-lain, atau orang yang memang sulit karakternya. Saat inilah kita harus mampu bersikap bijak dan meminta pada Roh Kudus untuk memberikan hikmat pada kita.

    Di tengah kesulitan dalam hubungan dengan orang lain, kita tetap harus memiliki integritas yang benar, yaitu tidak menyakiti hati orang tersebut dengan membalasnya oleh sikap/perbuatan/ucapan kita. Karena kalo kita melakukan balasan yang jahat padanya, apakah yang membedakan kita dengan dirinya? Tidak ada.

    Matius 5: 46 Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Matius 5: 48 Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.

    Pengantara

    Oleh: Jafar Thamrin

    Bacaan: Ibrani 7:25

    Kalau ditanya apakah Anda sudah diselamatkan, apa jawaban saudara? Apakah saudara menjawab dengan lantang “Ya saya sudah diselamatkan!”? Namun timbul pertanyaan selanjutnya, Kalau Anda meninggal dan berdiri di hadapan Allah dan Allah bertanya, “Dengan alasan apakah Aku mengizinkan engkau masuk ke Sorga-Ku?" Apakah jawaban saudara? Saya yakin saudara akan menjawab, “Saya sudah berbuat baik, sudah ke gereja, sudah memberi perpuluhan, dll." Tapi Anda pasti bingung kalau saya tanya lagi dengan pertanyaan “Sebaik apa?” Bukankah yang baik itu hanya Allah? Sekuat-kuatnya manusia berbuat baik, di hadapan Allah perbuatan baik kita seperti kain kotor!(Yesaya 64:6-8) Manusia tak dapat menyelamatkan dirinya sendiri selain dari pada Allah sendiri yang memilih-Nya. Tidak heran ada firman Tuhan yang berkata: “Bukan kamu yang memilih Aku, tapi Akulah yang memilih kamu.

    Jadi dalam hal ini, Allahlah yang berinisiatif untuk menolong dan menyelamatkan manusia. Dengan cara mengutus Anak-Nya yang tunggal supaya mereka percaya. Kalau orang itu sudah percaya kepada Yesus, maka orang tersebut memiliki yang namanya pembela atau pengantara antara Allah dan manusia. Tanpa Yesus manusia tidak bisa diselamatkan. Yesus sebagai pengantara telah menjadi korban untuk manusia sehingga manusia berlayak di hadapan Allah. Yesus berdiri di antara Allah dan manusia. Nah kalau saudara bertanya kepada saya, "Apakah saudara yakin diselamatkan”? Jawaban saya, ya! Karena saya percaya kepada Yesus yang menjadi pengantara antara saya dengan Allah. Jadi percayalah pada pengataramu yaitu Yesus Kristus.

    Pengharapan di Tengah-Tengah Pergumulan Hidup

    Oleh: Musa Karisoh

    Di jaman akhir saat ini, kebutuhan hidup manusia semakin meningkat. Banyak cara yang dilakukan manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Salah satunya adalah merampok. Hal ini tidak bisa dibendung lagi, karena manusia melakukannya mengatasnamakan kebutuhan. Sebagai orang percaya,pergumulan yang dihadapi tentu tidaklah mudah, karena pergumulan orang percaya, bukan hanya soal kebutuhan hidup saja, melainkan bagaimana orang percaya menjadi bagian dari bangsa Indonesia.

    Dalam Yohanes 3:16, dikatakan karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, maka Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal agar setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup kekal. Kalau Allah saja, bisa mengorbankan AnakNya bagi setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus, maka Allah pun sanggup menolong setiap anak-Nya yang dalam kesulitan. Caranya adalah dengan Allah menaruh pengharapan di dalam diri setiap anak-anak-Nya. Mengapa Allah melakukan hal ini? Karena Allah mengasihi umat-Nya, terlebih lagi manusia yang Ia ciptakan.

    Allah rela dari kaya menjadi miskin, agar supaya setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus, yang tadinya miskin menjadi kaya dalam "ANUGERAH ALLAH. "

    Pengharapan adalah salah satu anugerah Allah. Dalam pergumulan hidup umat percaya ada anugerah pengharapan. Jangan mengeluh, bersungut-sungut ataupun mulai tidak percaya kepada Allah, disaat Allah belum lagi menjawab Doa kita, melainkan tetap berharap, bahwa Allah punya rencana yang terbaik dalam hidup umat percaya di tengah-tengah pergumulan hidup. Rencana Allah tidak dapat terselami, maka itu sebagai umat percaya, tetap berharap dan percaya kepada Allah, bahwa setiap orang yang berharap kepada Allah tidak akan dikecewakan-Nya. Di dalam pengharapan umat percaya terdapat makna yang luas. Makna pengharapan itu adalah:

    1. Allah tidak pernah berubah.

    2. Allah yang menciptakan umat Tuhan, dan yang menolong umat Tuhan adalah Allah yang tidak berubah, baik pertolongan maupun kasih-Nya, yang tidak dapat memisahkan umat Tuhan dengan Tuhan.

    3. Janji Allah tidak pernah berubah.

    4. Allah adalah Allah yang berjanji dan melaksanakan janji-Nya. Contoh:Abraham, akan mendapat anak janji Allah kepada Abraham. Usia tua Araham akan mendapat anak? tidak mungkin. Kalau diterima dengan akal tidak mungkin itu terjadi, tetapi kenyataannya adalah di usia tua pun Allah menggenapi janji-Nya, yaitu Abraham dan Sara mendapat seorang anak,yang bernama Ishak. Jadi, Allah tidak mungkin mengingkari janji-Nya. Bila Ia yang membuka pintu maka tidak ada yang dapat menutupnya. Janji Allah melalui Firman-Nya adalah kekal bagi umat-Nya.

    Tetap berharap dan percayalah kepada Tuhan setiap saat, jangan bimbang, ragu, ataupun tidak percaya kepada-Nya.

    Pensil

    Pembuat pensil itu menaruh pensil yang baru seleai dibuatnya ke samping sebentar, sebelum ia memasukkannya ke dalam kotak. Ada 5 hal yang perlu kau ketahui, katanya kepada pensil, sebelum kau kukirim ke seluruh dunia. Hendaknya kau ingat selalu pesanku berikut ini, dan jangan sampai lupa. Yakinlah kau bakal berhasil menjadi pensil yang terhebat.

    Pensil itu angguk mengerti dan berjanji akan mengingat nasihat tersebut. Dan memasuki kotak yang akan dieksport itu dengan suatu tekad kuat dalam hatinya.

    Bertukar tempatlah dengan pensil itu; ingatlah nasihat yang sama tadi dan yakinlah, kitapun pasti akan berhasil menjadi orang terbaik.

    Good days give you HAPPINESS, bad days give you EXPERIENCE, but both are essential for life. All are God�s BLESSINGS. Enjoy your life & have a Happy EASTER day!!!

    Perasaan vs Firman Allah

    Oleh: Marolop Simatupang

    Naaman, panglima raja Aram, pada zaman Elisa, merupakan contoh orang yang tidak cerdas karena lebih memercayai perasaannya ketimbang firman Allah. Dalam Kitab Raja-raja 2, kita diperkenalkan dengan seorang pahlawan tentara. Ia seorang yang gagah perkasa, orang terpandang, sangat disayangi rajanya. Namun orang yang gagah perkasa ini menderita penyakit kusta.

    Dalam suatu pertempuran antara pasukan Aram dengan pasukan Israel, orang Aram menawan seorang perempuan dari negeri Israel dan menjadi pelayan pada isteri Naaman. Alkitab tidak menyebutkan nama perempuan itu.

    Suatu hari perempuan itu mengungkapkan rasa simpatinya terhadap tuannya yang sakit kusta itu. Ia mengatakan ada seorang nabi Allah di Israel yang dapat menyembuhkan tuannya. Perasaan Naaman pun tergerak. Lalu pergilah Naaman menemui nabi itu minta agar disembuhkan.

    Naaman sampai di tempat kediaman nabi itu. Alkitab mencatat, "Kemudian datanglah Naaman dengan kudanya dan keretanya, lalu berhenti di depan pintu rumah Elisa. Elisa menyuruh seorang suruhan kepadanya mengatakan: Pergilah mandi tujuh kali dalam sungai Yordan, maka tubuhmu akan pulih kembali, sehingga engkau menjadi tahir. Tetapi pergilah Naaman dengan gusar sambil berkata: Aku sangka bahwa setidak-tidaknya ia datang ke luar dan berdiri memanggil nama TUHAN, Allahnya, lalu menggerak-gerakkan tangannya di atas tempat penyakit itu dan dengan demikian menyembuhkan penyakit kustaku! Bukankah Abana dan Parpar, sungai-sungai Damsyik, lebih baik dari segala sungai di Israel? Bukankah aku dapat mandi di sana dan menjadi tahir? Kemudian berpalinglah ia dan pergi dengan panas hati." (2 Raja-raja 5:9-12)

    Namun kemudian pegawai-pegawainya datang mendekat serta berkata kepada Naaman, "Bapak, seandainya nabi itu menyuruh perkara yang sukar kepadamu, bukankah bapak akan melakukannya? Apalagi sekarang, ia hanya berkata kepadamu: Mandilah dan engkau akan menjadi tahir. Maka turunlah ia membenamkan dirinya tujuh kali dalam sungai Yordan, sesuai dengan perkataan abdi Allah itu. Lalu pulihlah tubuhnya kembali seperti tubuh seorang anak dan ia menjadi tahir." (2 Raja-raja 5:13-14).

    Kalau saja Naaman mengabaikan nasihat pegawai-pegawainya, barangkali Naaman sudah pulang ke rumahnya tanpa hasil –- penyakitnya belum sembuh total -– itu karena ia lebih mengandalkan perasaan semata. Tetapi berkat dorongan dari para pegawainya, Naaman akhirnya mematuhi perintah nabi itu dan ia pun sembuh total dari penyakit kustanya. Pilihan yang sangat cerdas; ketaatan memberikan hasil –- sembuh, bukan perasaan-prasangka yang menyembuhkannya!

    Awalnya Naaman lebih memercayai perasaannya sendiri ketimbang perintah nabi itu –- perintah firman Allah. Perasaannya yang mengatakan air di sungai-sungai di Damsyik lebih baik, bahkan jauh lebih baik daripada air sungai Yordan itu tidak lantas membuat air sungai-sungai di Damsyik lebih baik daripada air sungai Yordan. Perasaan-prasangkanya itu harus dibuang. Perasaannya tidak dapat dipercaya. Hanya bila perasaannya berasal dari atau digerakkan oleh kebenaran ilahi maka perasaan tersebut dapat dipercaya.

    Mengandalkan perasaan semata ketimbang firman Allah saat ini tidak akan menyembuhkan seseorang dari "penyakit kusta rohani!" Perasaan yang dapat dipercaya, terjamin, dan benar harus lahir dari kebenaran. Dan Perjanjian Baru mengatakan bahwa kebenaran itu adalah firman Allah. "Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran." (Yohanes 17:17).

    Sumber: GospelAdvocate Magazine

    Percaya Diri Vs Penyerahan Diri

    Oleh: Sunanto

    Seorang teman lama saya yang dulunya pemalu dan minder, tiba-tiba berubah menjadi seorang pribadi yang sangat percaya diri dan berani bicara di depan orang banyak. Rupanya pelatihan kepemimpinan yang diikutinya telah mengubahnya dari seseorang yang memiliki kepribadian minder menjadi pribadi yang berani memimpin dan berbicara di depan orang banyak. Dia memang berubah menjadi seorang yang percaya diri tetapi saya menemukan dia juga telah berubah menjadi seorang yang angkuh. Perubahan seperti ini bukanlah perubahan karakter yang dihasilkan oleh pekerjaan Roh Kudus. Perubahan sejati yang dihasilkan oleh karya Roh pasti akan membuat karakter kita semakin serupa Kristus.

    Cara manusia dan cara Tuhan dalam mentransformasi hidup seseorang sangatlah berbeda. Cara manusia mengubah kepribadian seseorang adalah dengan berusaha membangkitkan kepercayaan dirinya tetapi cara Tuhan justru dengan membuat kepercayaan kepada diri itu mati sehingga kita belajar bergantung kepadaNya. Dunia berkata “Kamu pasti bisa, berpikir positiflah” tetapi Tuhan berkata “Kamu tidak bisa mengandalkan kekuatanmu, menyerahlah dan bergantunglah kepadaKu.“ Bukti nyata dari karya Roh Kudus yang sejati dalam diri seseorang adalah perubahan karakter yang semakin rendah hati dan mengandalkan Tuhan.

    Kebanyakan orang Kristen saat ini hanya ingin hidup enak, diberkati dalam hal materi dan kesehatan, sambil menunggu ajal untuk masuk ke surga.

    Saya percaya saat ini merupakan waktunya bagi gereja Tuhan untuk berubah menjadi gereja yang memuridkan umat-Nya agar mereka berubah menjadi serupa karakter Kristus. Saya percaya saat ini Roh Kudus sedang bekerja untuk membawa kita kembali kepada kebenaran yang sejati. Gerejalah harapan satu-satunya agar bangsa ini bisa dipulihkan dari segala keterpurukan nya. Doa saya semoga sebuah kebangunan rohani yang sejati akan datang melawat kita semua sehingga kita berubah menjadi orang-orang Kristen yang sepenuhnya menyerah dan bergantung kepada Tuhan !

    Perempuan Itu

    Senja telah tiba, seorang perempuan tua tiba di halaman rumahku untuk "ngangsu" (mengambil) air seperti biasanya. Tubuhnya kurus kering, sekering tanah yang dipijaknya. Kulitnya hitam legam, sehitam perjuangan hidupnya yang seakan melulu gelap dan seakan tiada bertepikan temaram. Aku yang sedang asyik dengan kesibukan "ndangir" (menyiangi/membersihkan) rumput-rumput liar diseputar pepohonan, dibuatnya tertegun oleh suaranya yang serak, memanggil-manggil seseorang. Aku nggak mengerti apa yang telah diucapkannya, mungkin kurang lebih demikian, "Eeh" nak kemarilah, tolong aku dibantu!" Ia nampaknya memanggilku, tapi keraguan menyelimuti hatiku, "Ahk" masak ia memanggilku!" Sejenak kemudian ia memanggil-manggil lagi. Setelah kusadari bahwa tidak ada orang lain disekitarku, yakinlah aku bahwa ia memanggilku.

    Segera kudekati perempuan itu. Dengan bahasa tubuh, akhirnya kuketahui maksudnya. Ia bermaksud meminta tolong, supaya aku mengangkatkan "kuali" (ember) penuh air di atas kepalanya. Aku terperanjat!! Rupanya ibu kurus kering ini mau mengangkat air dua "kuali" sekaligus. Selain berat, rumahnya juga jauh. Aku tahu pasti bahwa bebannya cukup berat, karena ketika aku membantu mengangkatkan satu "kuali" saja, aku merasa keberatan.

    Setelah kubantu, ia segera berjalan merambat pelan sekali. Pastilah karena berat. Setapak demi setapak, langkah demi langkah, ia lalui dengan pelan dan pasti. Uhk" rasanya aku nggak tega. Kurang lebih 30 meter ia berjalan, aku berinisiatif mau membantunya, tapi ia menolaknya dengan alasan yang tidak kuketahui. Barangkali, ia mengatakan bahwa ia sudah biasa melakukan semuanya itu. Setiap hari ia mengerjakannya.

    Setiap hari ia melakukan semuanya itu. Itulah tugas kesehariannya, untuk menghidupi diri dan keluarganya. Inilah yang nyangkut dibenakku. Akankah aku menekuni keseharianku dengan kesetiaan, sebagaimana kisah hidup sang perempuan itu"!

    Pesta Paskah

    Oleh: Rizky Purukan

    Setelah Tuhan Yesus bangkit dari kematian-Nya, Ia menampakan diri kepada murid-murid-Nya. Tetapi kebangkitan-Nya itu belum membuat murid-murid Tuhan Yesus berpesta. Mereka tetap seperti biasa, bahkan kembali kepekerjaan mereka sehari-hari. Seakan-akan mereka tidak tahu apa yang harus di perbuat. Tetapi ketika Tuhan Yesus yang bangkit itu hadir ditengah-tengah pekerjaan mereka dan ikut campur dalam usaha mereka menagkap ikan sehingga setelah jala dilemparkan akhirnya mereka mendapatkan ikan sebanyak seratus lima puluh tiga ekor. Dan murid yang pertama menyadari bahwa itu Yesus adalah Yohanes. Yohanes menyadari bahwa yang telah memimpin mereka adalah Tuhan Yesus. Campur tangan Tuhan Yesus dalam pekerjaan mereka telah merubah keisengan mereka yang sia-sia menjadi suatu "Pesta".

    Kita semua sama seperti murid-murid Tuhan Yesus di atas perahu. Tuhan Yesus memperhatikan dan menolong kita dalam pekerjaan dan dalam pelayanan kita, tetapi tidak semua kita yang menyadari hal itu. Sering kali kita melihat keberhasilan dan kesuksesan kita itu hanya kebetulan semata. Kita lupa bahwa Tuhan Yesus telah bangkit dan hidup bersama kita. Itu sebabnya kita tidak dapat menghayati bahwa pelayanan ini sebagai suatu pesta yang tak bekeputusan.

    Kita sering mengasosiasikan kata Pesta sebagai suasana makan dan minum. Gereja yang merayakan Paskah sering kali mengisi hari itu dengan acara yang gembira disertai makan dan minum. Jadi gerejalah yang mau menjadikan Paskah suatu sukacita. Padahal seharusnya Paskahlah yang menjadikan Gereja suatu pesta. Tuhan Yesus yang bangkit itulah yang merubah suasana muram dan lesu menjadi suatu pesta makan ikan bakar dan roti. Memang sih sederhana sekali. Namun jangan kita bandingkan sukacita yang ada di dalam hati murid-murid pada waktu itu, dengan pesta yang kita adakan dengan angaran yang cukup banyak itu. Sukacita murid-murid pada waktu itu tidak terletak pada makanannya tetapi pada ikatan persekutuan dan kasih dengan Tuhan Yesus yang telah bangkit. Ikatan kerja sebagai teman sekerja Allah bersama dengan Tuhan Yesus menjadikan hidup mereka selanjutnya penuh dengan sukacita. Walaupun tantangan murid-murid pada waktu itu tetap ada dan banyak tetapi secara keseluruhan hidup mereka disebut berbahagia. Oleh karena itu marilah kita perhatikan karya Tuhan Yesus di tengah-tengah kehidupan kita dan sadarilah akan pernyataan-Nya itu maka kita akan menjadi orang yang berbahagia.

    Selamat Merayakan Hari Raya Paskah Yesus Kristus.

    Piano

    Penulis : Suzianty Herawati

    Kisah ini terjadi di Rusia. Seorang ayah yang memiliki putra yang berusia kurang lebih 5 tahun, memasukan putranya tersebut kesekolah musik untuk belajar piano. Ia rindu melihat anaknya kelak menjadi seorang pianis yang terkenal. Selang beberapa waktu kemudian,di kota tersebut datang seorang pianis yang sangat terkenal. Karena ketenarannya, dalam waktu yang sangat singkat tiket konser telah terjual habis. Sang ayah membeli 2 buah tiket pertunjukan, untuk dirinya dan anaknya. Pada hari pertunjukan, satu jam sebelum konser mulai, kursi telah terisi penuh, sang ayah duduk dan putranya tepat berada disampingnya. Seperti layaknya seorang anak kecil, anak inipun tidak bisa betah duduk diam terlalu lama, tanpa pengetahuan ayahnya, ia menyelinap pergi.

    Ketika lampu gedung mulai di redupkan, sang ayah terkejut menyadari bahwa putranya tidak ada disampingnya. Ia lebih terkejut lagi ketika melihat anaknya berada dekat panggung pertunjukan dan sedang berjalan menghampiri piano yang akan dimainkan pianis tersebut. Didorong oleh rasa ingin tahu, tanpa rasa takut anak tersebut duduk di depan piano dan mulai memainkan sebuah lagu, lagu yang sederhana, Twinkle2 Little Star.

    Operator lampu sorot, yang terkejut mendengar adanya suara piano mengira bahwa konser telah dimulai tanpa aba2 lebih dahulu, dan ia langsung menyorotkan lampunya ke arah panggung. Seluruh penonton terkejut, melihat yang berada di panggung bukan seorang pianis, tapi hanyalah seorang anak kecil. Sang pianis juga terkejut, bergegas naik keatas panggung. Melihat anak tersebut, sang pianis tidak menjadi marah, ia tersenyum dan berkata "Teruslah bermain", dan sang anak yang mendapat ijin, meneruskan permainannya.

    Sang pianis lalu duduk, disamping anak itu, dan mulai bermain mengimbangi permainan anak itu, ia mengisi semua kelemahan permainan anak itu, dan akhirnya tercipta suatu komposisi permainan yang sangat indah. Bahkan mereka seakan menyatu dalam permainan piano tersebut.

    Ketika mereka berdua selesai, seluruh penonton menyambut dengan meriah, karangan bunga dilemparkan ketengah panggung. Sang anak jadi GR, pikirnya "Gila, baru belajar sebulan saja sudah hebat!". Ia lupa bahwa yang disoraki oleh penonton adalah sang pianis yang duduk di sebelahnya, mengisi semua kekurangannya dan menjadikan permainannya sempurna.

    Teman2, apa implikasinya dalam hidup kita??? Kadang kita bangga akan segala rencana hebat yang kita buat, perbuatan2 besar yang telah kita lakukan, tapi kita lupa...bahwa semua itu terjadi karena TUHAN ada disamping kita. Kita adalah anak kecil tadi, tanpa ada TUHAN disamping kita,KITA ADALAH SIA-SIA. tapi apabila TUHAN ada disamping kita....sesederhana apapun yang kita lakukan hal itu akan menjadi hebat dan baik, bukan saja buat diri kita sendiri tapi juga baik bagi orang di sekitar kita.

    Kiranya kita tidak pernah lupa bahwa ada TUHAN disamping kita. Amin.

    "If GOD fixes a fix to fix you, and you fix a fix before you are fixed, then HE will fix another fix to fix you."

    Ragi Orang Farisi

    Oleh: Sunanto

    Luk.12:1 Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun,sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama- tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi.”

    Salah satu kepercayaan salah yang dimiliki banyak orang Kristen adalah mengukur tingkat kerohanian seseorang dari banyaknya aktifitas pelayanan orang tersebut. Semakin sibuk seseorang melayani di gereja atau persekutuan maka mereka dianggap semakin rohani. Saya sendiri pernah mengalami hal ini sehingga saya berani mengatakan bahwa banyak orang Kristen yang tanpa sadar juga melakukan hal itu.

    Saya tidak mengatakan melayani itu tidak perlu atau tidak penting tetapi perubahan karakter harus menjadi fokus utama kita. Kepercayaan salah yang lain adalah mengukur tingkat kerohanian seseorang dari banyaknya pengetahuan teologianya.Memahami teologia atau doktrin Kekristenan itu penting tetapi apa gunanya jika seseorang memiliki gelar teologia yang tinggi bila hidupnya tidak mencerminkan karakter Kristus. Orang-orang Kristen yang hanya memiliki pengetahuan teologia tanpa memiliki karakter akan lebih suka berdebat dibanding mencari kebenaran yang sejati. Mereka menggunakan pengetahuan itu untuk menunjukkan bahwa diri mereka lebih baik dibanding orang lain. Rasul Paulus mengatakan mereka seperti gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.

    Beberapa waktu yang lalu saya mendengar lewat radio seorang hamba Tuhan yang sedang berbicara dengan seorang pengusaha setengah baya yang belum lama bertobat. Lalu hamba Tuhan yang juga pengurus sebuah badan misi ini mengatakan kepada sang petobat baru ini bahwa hanya ada satu hal yang perlu dilakukannya setelah bertobat yaitu melayani. Apa yang dikatakan oleh hamba Tuhan ini kelihatannya sangat rohani tetapi sebenarnya menyesatkan. Sebuah hal yang tragis jika seseorang giat melayani pekerjaan Tuhan tetapi hidupnya tidak mengalami sebuah perubahan (transformasi) karakter. Tujuan Tuhan menyelamatkan hidup kita bukanlah untuk melayani melainkan supaya kita berubah menjadi serupa dengan karakter Kristus. Alkitab berkata kita dipanggil, dipilih dan ditentukan dari semula untuk menjadi serupa gambaran anakNya.

    Seringkali kita memandang rendah orang-orang Farisi, padahal tanpa sadar banyak diantara kita juga melakukan hal yang sama seperti mereka. Yesus mengecam orang-orang Farisi sebab mereka lebih mengutamakan penampilan yang diluar (aktifitas dan pengetahuan rohani) daripada yang di dalam. Dari luar kelihatannya sangat rohani tetapi di dalamnya penuh dengan kebusukan. Orang-orang Farisi bukanlah orang-orang yang jahat tetapi mereka hanyalah orang-orang munafik yang tidak memahami bahwa kemurnian karakter yang di dalam lebih penting daripada kebersihan penampilan luar. Bukankah saat ini banyak sekali orang-orang Farisi modern yang setiap hari minggunya rajin ke gereja ? Mereka aktif melayani, setia membayar perpuluhan bahkan berpuasa seperti yang dilakukan orang-orang Farisi. Dari luar kelihatannya sangat rohani tetapi di dalam hatinya penuh dengan kecemaran dan hawa nafsu keduniawian.

    Saya percaya bila kebangunan rohani yang sejati datang melanda negeri ini maka hal pertama yang akan terjadi adalah sebuah gerakan kekudusan (holiness movement). Setelah itu baru kita akan melihat sebuah penuaian jiwa besar-besaran yang belum pernah terjadi selama ini. Saya merasakan saat ini api penyucian itu sedang bekerja di tengah-tengah kita. Roh Kudus sedang bekerja untuk menyucikan gereja-Nya dari semua kecemaran dunia ini. Datanglah Roh Kudus, sucikanlah kami dengan api kekudusan-Mu!

    Refleksi Natal

    Penulis : EV. Robin A. Simanjuntak

    Saat ini natal/kekristenan telah menjadi industri yang menguntungkan bagi banyak orang. Banyak orang Kristen yang merayakan natal dan menyambut natal bukanlah menyambut bayi Yesus, menunggu-nunggu kedatangan Yesus, mempersiapkan kelahiran Yesus, melainkan orang hanya menyambut hari natalnya. Natal di sambut dengan gegap gempita dan komersialisasi natal di lakukan oleh banyak pengusaha (orang Kristen juga mungkin) dengan menjual banyak produk yang berkaitan dengan natal ini. Ada yang menjual mainan, pernik-pernik natal, lagu-lagu natal, kartu nalal dll. Itulah industri natal, itulah globalisasi natal. Apakah yang kita persiapkan menjelang natal tiba? Yah, kita cenderung mempersiapkan atribut-atribut natal, simbol-simbol natal, fenomena natal agar kelihatan fenomenal. Padahal, ada banyak orang Kristen merayakan natal tidak lagi menyanyikan lagu-lagu natal. Ada persekutuan atau gereja yang hanya menyanyikan lagu malam kudus sebagai lagu natal, namun sisanya lagu-lagu umum biasa. Ada gereja/persekutuan yang tidak lagi memberitakan Kristus dalam kotbah natal. Itukah natal?

    Natal 2000 tahun yang lalu dipersiapkan dengan sangat rapi, baik dan jauh-jauh hari. Ribuan tahun sebelum Yesus lahir para nabi telah bersiap-siap menyambut hari "H" itu tiba. Setahun sebelum natal malaikat Tuhan sudah di utus untuk mempersiapkan natal kepada Maria, Yusus, Elisabeth dll. Sebelum natal malaikat Tuhan datang kepada para gembala dan orang majus, mereka memyanyikan pujian natal.

    Natal 2000 tahun lalu bukanlah industri yang canggih dengan pameran lampu-lampu bagus, baju-baju indah, kembang api dan terompet yang semarak. Natal 2000 tahun lalu merupakan "pameran" kilauan sinar wajah para malaikat, dengan baju jelek dan bau para gembala, dan dengan sinar bintang yang bercahaya di langit.

    Natal berarti yang tidak terbatas rela menjadi terbatas, yang maha tinggi rela turun ke dunia, yang tidak berdosa rela dijadikan manusia yang menanggung dosa umatNya. Itulah Kristus. Natal berarti Kristus. Biarlah kita merayakan kehadiran Kristus ke dalam dunia, bukan sekedar merayakan hari natalnya. Natal bukanlah industri malainkan Kristology.

    Rencana Tuhan Dibalik Penderitaan

    Oleh : Maria Ks

    Zaman sekarang berjagalah , lihat dunia bergelora kedengaran sana – sini banyak kabar yang menyatakan begitu banyak bencana yang terjadi .Tak ada satupun yang luput dari bencana . Setiap hari disaat kita duduk didepan televise ataupun disaat kita mendengarkan radio,berita – berita yang disampaikan tak lepas dari kesusahan- kesusahan yang dialami oleh dunia . Berita – berita tentang banjir , tanah longsor, gempa bumi , kelaparan , bahkan sampai pada tindak – tindak kriminal yang semakin hari semakin meningkat dikarenakan krisis ekonomi yang berkepanjangan mewarnai kehidupan umat manusia di muka bumi ini , seolah – olah tiada lagi harapan bagi manusia untuk bisa hidup dalam damai sejahtera .Dunia resah dan gelisah , banyak orang menjadi putus asa karena tidak tahu bagaimana dan apa yang harus dilakukan . Banyak orang jadi linglung karena mereka tidak punya pegangan sehingga membuat mata hati mereka buta dan gelap . Itulah yang terjadi bila hidup tanpa Tuhan Yesus , pengharapan mereka hanya sebatas pada hal – hal didunia ini saja sehingga begitu dunia goncang merekapun ikut goncang , sebaliknya kita orang – orang percaya tentu kita tidak akan sama dengan mereka karena pengharapan kita tidak hanya pada dunia ini saja tapi pada satu kehidupan yang akan datang didalam kekekalan .
    Kalau kita melihat didalam Alkitab dari kitab Kejadian sampai Wahyu begitu banyak tokoh – tokoh alkitab yang bisa kita contoh imannya dalam menghadapi penderitaan . Berbicara soal penderitaan sering kali pikiran kita langsung terarah kepada Yusuf dan Ayub . Karena kita melihat bagaimana iman mereka dalam menghadapi penderitaan, sehingga melalui penderitaan inilah nama mereka dikenal dunia. Kita disini akan belajar iman dari dua tokoh ini dalam menghadapi penderitaan .

    @ YUSUF
    Kalau kita melihat bagaimana sejarah kehidupan Yusuf dari awal sampai akhir , kita bisa melihat bagaimana indahnya rencana Tuhan bagi Yusuf dan rencana itu baru Tuhan nyatakan setelah Yusuf mengalami suatu penderitaan.
    Di dalam Kitab Kejadian 37- 50 mencatat perjalanan kehidupan Yusuf.
    Dia anak bungsu yang sangat dikasihi oleh ayahnya, sehingga menimbulkan perasaan iri dihati saudara- saudaranya . Dia tukang mimpi , dia yakini mimpinya itu sebagai suatu tanda dari Allah , sehingga menambah kebencian dihati saudara- saudaranya . Karena kebencian yang membuat saudara – saudara Yusuf merancangkan sesuatu yang jahat bagi dia , rencana ini tergenapi ketika saudara – saudaranya menjual dia kepada orang Ismail dan dari disinilah Yusuf menjadi budak ditanah Mesir .
    Bisakah kita membayangkan bagaimana seandainya kita jadi Yusuf ? Kalau hal ini saudara tanyakan pada saya , saya hanya bisa jawab “tidak “ . Saya tidak dapat membayangkan betapa menderitanya Yusuf waktu itu . Dia yang masih muda belia harus berpisah dengan keluarga yang dia kasihi dikarenakan kebencian di hati saudara – saudaranya , dia yang tidak biasa kerja keras dia pun harus kerja keras di Mesir sebagai budak . Bukan hanya itu ditempat majikanya dimana dia bekerja Yusuf difitnah oleh istri majikannya sendiri karena Yusuf tidak mau meladeni keinginan sang boss perempuan untuk melakukan perbuatan yang sangat jahat bukan hanya jahat dimata Tuhan tapi juga jahat di mata manusia . Karena keberanian Yusuf untuk melawan ini dia akhirnya dimasukkan kedalam penjara. Dan justru dari penjara inilah kehidupan Yusuf terangkat. Selama didalam penderitaannya alkitab mencatat bahwa Yusuf tidak pernah mengeluh . Dia tetap menjaga imannya dengan hidup takut akan Tuhan dan Tuhan tetap menyertai Yusuf sampai akhirnya Tuhan menggenapi rencanaNYA dalam kehidupan Yusuf dengan menjadikan Yusuf sebagai orang yang berkuasa di Mesir .

    @ AYUB
    Kita tahu Ayub adalah seorang yang sangat saleh . Dia menjalani kehidupannya dengan takut akan Tuhan , taat dalam beribadah kepada Tuhan . Tapi Tuhan masih ijinkan Ayub untuk masuk dalam penderitaan . Sebagaimana Ayub yang kaya raya dalam waktu yang sangat singkat dia kehilangan semua harta benda kekayaannya . Belum hilang kesedihan akan harta bendanya , dia harus menghadapi kenyataan pahit lagi dengan meninggalnya semua anak yang dia kasihi . Tentu bagi Ayub saat itu merupakan saat yang sangat gelap , belum lagi istri yang dia kasihi dalam masa-masa sulit begitu bukannya mendukung dan menguatkan iman Ayub tapi justru menyuruh Ayub untuk mengutuki Tuhan Allah yang di sembah oleh Ayub. Tubuh Ayub pun tak luput dari serangan , dia terkena satu penyakit kulit/ bisul dari ujung kaki sampai kepala.Betul-betul Ayub habis segala-galanya, tak ada satu pun yang dapat dia banggakan. Ayub betul- betul dalam situasi ”NOL”. Dalam keadaan yang demikian malangnya teman-teman Ayub pun ikut ambil bagian dalam menambah penderitaan Ayub dengan menghakimi dia. Namun dalam penderitaannya yang demikian hebat Ayub tak pernah mengutuki Tuhan Allahnya.Dia tetap mempertahankan imannya kepada Tuhan Allahnya.Sampai akhirnya Tuhan genapi rencanaNYA dalam kehidupan Ayub dengan memulihkan keadaan Ayub. Ayub mendapatkan kembali apa yang telah hilang dari padanya bahkan Alkitab mencatat dia mendapatkan dua kali lipat dari apa yang di miliki dulu.

    Dua tokoh kita diatas telah melewati masa-masa sulit dalam kehidupan mereka dengan tetap hidup takut akan Tuhan.Menjadi suatu teladan bagi iman kita dalam menjalani kehidupan yang Tuhan anugerahkan bagi kita.
    Saat ini banyak orang yang mengalami ketakutan. Takut akan masa depan yang tidak pasti , tidak seorang pun tahu apa yang terjadi di hari esok.
    Tidak bisa kita pungkiri , memang saat ini kita hidup dan tumbuh dalam masa-masa yang sangat sulit. Dimana- mana terjadi krisis ekonomi..krisis moral, yang membuat semua orang hidup dalam ketakutan. Dalam situasi yang demikian sikap kita sebagai orang percaya sangat mempengaruhi lingkungan sekitar kita.
    Jangan sampai kitapun ikut-ikutan heboh sebagaimana orang dunia lakukan.Paling tidak kita sudah memiliki pegangan dalam menghadapi masa-masa sulit ini.
    Sebagai mana seorang atlit harus rajin berlatih supaya otot-otot dalam tubuhnya menjadi semakin kuat , demikian juga dengan penderitaan-penderitaan yang ada itu juga menjadi latihan bagi kita untuk menguatkan otot-otot iman kita .
    Nyakini terus janji TUHAN bahwa ada pelangi sehabis hujan , ada berkat yang indah di balik semua penderitaan yang Tuhan ijinkan terjadi atas hidup kita.
    Jangan putus asa tetaplah berharap kepada Tuhan dan nyatakan pengharapan itu melalui sikap hidup yang taat dan takut kepadaNYA.



    Sumber: Pribadi

    Rendah Hati

    Oleh: Eullhenya Nabroza

    Kalau saya lihat, Mother Theresa adalah orang yang tidak memiliki apa-apa. Hampir semua kekayaan yang dia miliki dia pergunakan untuk membantu orang lain. Tetapi di mata saya, Mother Theresa adalah orang yang sangat kaya. Bagaimana tidak, ketika dia ingin berangkat ke satu negara atau satu tempat, tanpa pusing-pusing pesawat jet pribadi sudah ada yang menyiapkan. Sampai di satu negara, berebut orang yang ingin menjemputnya dengan mobil terbaiknya. Ketika dia berkata bahwa dia ingin membantu orang di tempat mana yang sedang kesulitan, seketika itu juga terkumpul dana dalam jumlah yang sangat besar.

    Mother Theresa tidak perlu memiliki mobil dan rumah mewah, tetapi hampir semua pemimpin negara mendengarkan apa yang dia ucapkan. Bahkan, tidak segan Mother Theresa menegur pemimpin negara yang menurut beliau sudah tidak mengindahkan etika dan moral. Theresa merasa tidak perlu untuk memiliki harta yang justru akan membuatnya tidak bebas.

    Alangkah senangnya memiliki hidup seperti itu. Mother Theresa memiliki kekayaan yang belum tentu dimiliki oleh orang lain, yang belum tentu dimiliki seorang oleh orang-orang kaya, yaitu memiliki kekayaan hati yang luar biasa. Rendah hati, peduli dengan sesama, tidak memandang rendah orang lain, adalah harta tak ternilai bagi seorang Mother Theresa. Mother Theresa tahu, bahwa pada saat Tuhan memanggilnya nanti, kekayaan tidak akan ikut dibawa mati. (http://love-tazmania.blog)

    Tuhan yesus menginginkan kita sebagai manusia untuk memiliki sikap rendah hati meneladani diri-Nya lihat firman Allah dalam Filipi 2:8 : " Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati bahkan sampai mati dikayu salib dan kita lihat apa yang dikerjakan Allah pada manusia (Yesus) dalam ayat 9 dikatakan itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya Nama diatas segala nama supaya dalam Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada diatas bumi dan yang ada dibawah bumi" dan segala lidah mengaku: "Yesus kristus adalah Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa! "

    Bayangkan dengan hanya merendahkan diri saja dan bukan karena kehebatan-Nya sebagai Allah/Tuhan, Ia amat sangat ditinggikan karena Allah amat sangat membenci manusia-manusia yang meninggikan diri/congkak dalam Yakobus 4:6b: "kerena itu Ia katakan "Allah menentang orang yang congkak tetapi mengasihani orang yang rendah hati. Rendahkanlah dirimu dihadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu. Jadi jelas disini dapat kita lihat bahwa bukan orang yang merasa dirinya hebat karena memang ia melakukan hal-hal yang hebat yang ditinggikan Allah tapi justru orang yang merendahkan dirilah yang berkenan dihadapan Allah. "

    Jadi intinya bila kita hidup merendahkan diri Allah bukannya diam saja tapi justru peninggian itu didapat dari Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang umat-Nya. Betapa bahagianya bagi kita umat-umat Allah, Ia memberi kemudahan pada kita dengan merendahkan diri saja kita mendapat penghormatan yang mulia dari pada-Nya. Amin.

    Renungan Awal Tahun: Pilihlah

    Penulis : Donny A. Wiguna

    Ayub 5:6-7 Karena bukan dari debu terbit bencana dan bukan dari tanah tumbuh kesusahan; melainkan manusia menimbulkan kesusahan bagi dirinya, seperti bunga api berjolak tinggi.

    JANGAN cepat-cepat mengatakan bahwa Allah menghukum manusia dengan bencana. Seperti kita ketahui, dalam waktu dua bulan terakhir ada bencana yang hebat menimpa Indonesia. Alor digoyang gempa, Nabire digoyang lebih keras, dan Aceh luluh lantak dalam tsunami. Lalu masih ada banjir dan tanah longsor di sana sini, yang sedemikian seringnya sehingga tidak lagi menarik perhatian kita.

    Tetapi, jangan cepat-cepat mengatakan bahwa semua ini adalah hukuman Allah. Sebaliknya sadarilah, bahwa inilah bumi di mana manusia tinggal.

    Dengan akal budinya, manusia menyelidiki bumi tempat tinggalnya ini dan menemukan bahwa yang disebut daratan adalah lempengan-lempengan yang bergerak di atas batuan cair panas jauh di dalam. Gerakannya perlahan, namun mengandung kekuatan yang amat besar, yang bila terlepas menjadi bencana gempa yang hebat. Tak ada yang aneh dengan gempa, bahkan dengan penelitian yang seksama kadang-kadang suatu peristiwa telah dapat diduga beberapa waktu sebelumnya. Bagi planet bumi, gempa adalah hal yang wajar. Akankah kita mengatakan bahwa gempa adalah hukuman Allah?

    Juga jangan cepat-cepat mengatakan bencana banjir dan tanah longsor adalah hukuman Allah. Manusia telah membabat banyak hutan, merusakkan struktur tanah, dan mengikis bagian yang seharusnya dipelihara. Akibatnya, saat hujan datang datanglah juga banjir dan tanah longsor sebagai konsekuensi dari kerusakan yang mereka buat sendiri. Juga ketika manusia menciptakan polusi yang merusakkan atmosfir sehingga terjadi pemanasan global dan perubahan iklim, jangan cepat-cepat bilang ini hukuman Allah bila terjadi angin topan dan badai yang menghancurkan.

    Sebaliknya sadarilah, bahwa manusia yang rapuh telah merusakkan tempat tinggalnya sendiri, mendatangkan bencana bagi dirinya sendiri.

    Bila kita melihat alam semesta yang luas ini, meneropong jauh ke kedalaman antariksa, mengintip bintang-bintang dan galaksi-galaksi, hingga hari ini belum pernah ada kehidupan yang dapat dijumpai. Dengan seluruh keindahannya, rupanya alam semesta bukanlah tempat yang baik untuk menopang kehidupan yang mampu mengapresiasi keindahan alam. Bintang-bintang menjadi sumber energi yang besar, yang pancarannya mematikan. Planet-planet bukanlah tempat yang mendukung kehidupan, karena atmosfirnya yang penuh badai dan komposisi gas amonia dan metan yang asam. Dan di antara benda-benda langit, ada amat sangat banyak batu-batuan yang melaju dengan kecepatan tinggi, yang kadang menumbuk planet dan menimbulkan goncangan hebat.

    Dengan semua keadaan itu, tidakkah kita heran bahwa ada kehidupan di atas planet bumi?

    Planet ini ukurannya tidak terlalu besar, sehingga gravitasinya tidak memberatkan. Tapi juga tidak terlalu kecil, sehingga gravitasinya masih tetap dapat menahan segala hal diatasnya. Bumi mengorbit pada matahari yang sedang, bukan matahari putih yang amat panas atau matahari merah yang tua dan besar, melainkan matahari kuning yang stabil. Jarak orbitnya sedemikian tepat, sehingga tidak terlalu panas seperti planet Venus atau terlalu dingin seperti planet Mars. Pada bumi juga ada atmosfir dengan komposisi nitrogen-oksigen-karbondioksida yang tidak korosif serta menjadi penyaring sinar matahari sehingga suhu di permukaan bumi tidak terlalu panas atau dingin. Keadaan ini juga mendukung keberadaan air serta siklus air yang menghidupkan. Daratannya juga mengandung komposisi yang kaya, yang menjadi sumber bagi segala kehidupan. Dan gempa serta gerakan bumi pun tidak terlalu sering, sehingga kehidupan dapat berlangsung.

    Pernahkah terpikir, bahwa ada begitu banyak hal yang tersedia di bumi sehingga ada kehidupan di atasnya? Dari antariksa hingga susunan sel, manusia dapat melihat pekerjaan Allah yang luar biasa untuk memberikan kehidupan. Tangan Allah yang memelihara hingga kehidupan bisa berlangsung sejahtera. Sadarkah bahwa semua ini adalah kebaikan Allah? Bahkan bagi mereka yang jahat pun, Allah memberikan kebaikan-Nya seperti dikatakan oleh Tuhan Yesus, "Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar." (Mat 5:45) Jadi, Allah sendiri telah mengasihi dan memelihara dunia, sehingga manusia masih bisa hidup di atasnya.

    Tetapi, manusia telah berdosa kepada Allah. Sudah mati di hadapan Allah. Adakah manusia dapat menuntut bahwa Allah harus terus memelihara ciptaan yang telah memberontak, yang telah merusakkan sendiri gambaran kudus yang dimilikinya? Dapatkah manusia beranggapan, bahwa Allah tidak boleh murka atas kesalahan manusia dan harus terus menjaga kehidupan yang penuh cacat cela?

    Manusia justru hidup semakin menjauh dari Allah. Kehidupan manusia tidak lagi memikirkan Allah, menganggap-Nya telah mati dari segala urusan dunia. Kejahatan manusia semakin bebas dan terbuka, semakin tidak tahu malu sampai-sampai tidak lagi mempunyai kemaluan (yang tersisa hanyalah alat kelamin untuk berkelamin seperti kelinci). Juga kebuasannya menjadi semakin hebat, sehingga dengan sadar membinasakan anaknya sendiri dalam berjuta-juta tindakan aborsi yang dilakukan tiap tahun. Dan keberadaan Tuhan tidak lagi bermakna, karena para ahli (yang mengaku) teologia yang menyatakan bahwa Allah hanyalah hasil imajinasi dan kebijaksanaan manusia. Juga tak ada lagi Kitab (yang) Suci alias Alkitab adalah Firman Allah, karena yang tertulis di dalamnya dikatakan sama sekali bukan Firman Allah melainkan tulisan orang yang beriman dan berdongeng tentang imannya.

    Jika sedemikian rupa manusia hendak mengenyahkan Allah dari kehidupannya, salahkah bila Allah membiarkan mereka ada dalam kegelapannya? Jika mereka tidak bersedia percaya, tidakkah Tuhan Yesus sendiri telah menyatakan hukumannya? Seperti yang Yesus katakan, "Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat." (Yoh 3:18-19). Inilah hukuman itu: manusia lebih menyukai kegelapan.

    Itu berarti, Allah tidak lagi memelihara. Allah berpangku tangan, membiarkan manusia berdosa merusakkan alam. Allah berdiam diri, tidak menahan-nahan alam bergerak sesuai dengan kewajarannya, memenuhi kutuk atas bumi karena dosa manusia, seperti yang telah dinyatakan-Nya kepada Adam, "Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu:semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu." (Kej 3:17-19).

    Apa yang masih ada di atas bumi ini, yang padanya manusia dapat berharap? Semua orang di atas bumi yang tua ini akan kembali menjadi debu, entah dengan cara yang mengenaskan seperti di dalam bencana hebat atau dengan cara tidur tenteram di atas ranjang di tengah keluarga. Lalu apa yang dapat dibawa oleh manusia?

    Tuhan sudah menyediakan diri-Nya sebagai jalan kehidupan, satu-satunya jalan untuk sampai kepada Bapa di Surga. Kehidupan di bumi ini pasti terhenti, tetapi Ia menyediakan kehidupan lain bersama-Nya, hidup kekal yang mulia dalam Tuhan. Jangan cepat-cepat mengatakan bahwa Allah menghukum dunia, karena saat ini Ia masih bersabar agar semua orang berkesempatan untuk bertobat dan mengaku percaya serta memperoleh hidup kekal yang disediakan-Nya. Allah tidak menghukum; yang Ia lakukan hanyalah tidak lagi menjaga dan memelihara karena manusia sendiri sudah menolak-Nya, menolak Anak-Nya yang Tunggal sebagai Tuhan dan Raja. Mereka yang tidak percaya berada dalam kegelapan; dan bencana itu adalah wujud kegelapan, dalam bentuk yang paling gelap menakutkan. Tetapi itu belum menjadi hukuman Allah.

    Pada hari-Nya, Allah menghentikan kesempatan yang diberikan. Pada saat itu, Allah menyatakan murka-Nya atas dosa. Dan saat itu mengerikan, sungguh menakutkan, karena yang dihadapi bukan lagi bencana alam yang sewajarnya, melainkan tangan Allah yang teracung melawan manusia. Pada hari hukuman itu tiba, bukan bencana tsunami yang menghantam dan memusnahkan, melainkan kuasa ilahi yang tiada tara. Jika baru bencana tsunami saja sudah begitu mengerikan, kengerian hukuman dari Allah sungguh tidak terbayangkan.

    Dan ini menjadi renungan di awal tahun: seperti apa kita hendak menjalani tahun ini? Kita telah memiliki Firman Allah, yang menubuatkan kengerian akhir jaman. Kita pun dapat melihat berbagai-bagai tanda-tanda jaman, tanda dekatnya kedatangan Tuhan Memang kita tidak mengetahui kapan persisnya Tuhan hadir kembali, tetapi kita tahu bahwa Ia pasti datang dan dapat membaca bahwa waktu-Nya sudah dekat. Sudah sepantasnya di awal tahun ini kita memikirkan kembali apa yang menjadi keyakinan dan keputusan kita. Sama seperti Yosua di hadapan Israel, di hari-hari awal mereka hidup di Tanah Perjanjian itu saat ia menyatakan segala karya Allah, berkat dan kutuk-Nya, bagi kita pun di awal tahun ini tantangan Yosua seperti terulang kembali:

    Yos 24:14-15 Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN. Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!

    Apa jawab kita?

    Renungan di Hari-hari Pentakosta

    Penulis : Eddy TG

    Tidaklah cukup kita mengatakan : "Aku mencintai Allah." Aku juga harus mencintai sesamaku, dalam Kitab Suci, Santo Yohanes mengatakan, bahwa engkau adalah "PENIPU!", jika engkau mengatakan bahwa engkau mencintai Allah namun tidak mencintai sesamamu.

    Bagaimana engkau dapat mencintai Allah yang tidak terlihat, jika engkau tidak mencintai sesamamu yang dapat kau lihat, dapat kau sentuh dan tinggal diantara kamu?

    Dan dia menggunakan sebuah kata yang keras, : Engkau adalah "PENIPU!!!".

    Itu adalah satu kata dari begitu banyak kata yang menakutkan untuk dibaca dan itu sungguh-sungguh benar!

    Oleh karena itu sudah saatnya kita berkarya untuk membuat Yesus dikenal, dicintai, dilayani, diberi makan, diberi pakaian dan diberi naungan.

    Karya kita harus dimulai hari ini, kemarin telah berlalu dan esok belum datang juga. Esok tidak akan menjadi milik mereka, jika hari ini kita tidak memberi mereka makan.

    Janganlah kita berpikir bahwa kita telah bertindak begitu banyak bagi kaum papa, tetapi sesungguhnya merekalah yang membuat kita kaya. Kita berhutang kepada mereka. Akankah engkau melakukan sesuatu yang begitu indah bagi Allah? Disana ada seseorang yang sangat membutuhkanmu. Itulah kesempatanmu.

    Sakit-Penyakit

    Oleh: Ev. Sudiana

    Mari kita pelajari dan renungkan baik-baik...

    2 Taw 14-16 Raja Asa adalah Raja Yehuda, Pada Mulanya Ia Memerintah dengan Komitmen yang Tinggi...

    - Melakukan apa yang baik dan yang benar di mata Tuhan
    - Menjauhkan/memecahkan/menghancurkan berhala-berhala
    - Memerintah orang-orang Yehuda mencari Allah, mematuhi hukum, dan perintah.

    Akibat dari semua itu:
    - Ada kebangunan rohani
    - Kerajaan Yehuda menjadi kuat
    - Dan Tuhan mengaruniakan keamanan selama 10 tahun (pemerintahan tahap I)

    Pada tahap ke-II, pada saat berperang melawan Etiopia, Raja Asa:
    - Berseru - berdoa kepada Tuhan
    - Dan bersandar sepenuhnya kepada Tuhan

    Akibatnya; hingga Tuhan mengaruniakan kemenangan

    Pasal 15; Seorang nabi bernama Azarya Bin Oded penuh Roh Kudus menubuatkan Raja Asa harus:
    - Tekun mencari Allah
    - Kuatkan hati/iman yang teguh
    - Semangat

    Karena semua itu ada upahnya... maka Asa memperbarui komitmennya dengan tegas;
    - Menghukum setiap orang yang tidak menyembah Tuhan - termasuk ibu suri 'Maakha'
    - Dan Asa melakukan dengan tulus ikhlas sepanjang umur

    Artinya ia berusaha keras, benar-benar memperjuangkan sehingga ia menyukakan/berkenan di hati Tuhan sehingga Tuhan mengaruniakan 35 tahun keamanan negerinya, kerajaan Yehuda.

    Tetapi sayang, pada tahun ke-36 Raja Asa berubah menjadi bodoh:
    - Ia mengambil emas, perak dari perbendaharaan bait allah dan kerajaan bersengkongkol dan menyogok raja benhadad untuk menyerang israel.
    - Ia tidak lagi bertekun/memperkuat iman.
    - Ia tidak lagi bersandar kepada Tuhan, tetapi kepada orang.

    Hal ini terjadi karena; 
    - Takut kalah
    - Terlalu lama di zona nyaman...tidak lagi melekat pada Tuhan/tidak butuh Tuhan
    - Jadi sombong.. ditegor nabi bukan bertobat menyadari kesalahan -- malah marah dan menganiaya

    Pada waktu itu datanglah Nabi Allah Hanani; mengatakan penglihatannya kepada Raja Asa;
    - Jika ia bersandar kepada Allah, ia akan mengalahkan Aram seperti Etiopia..tapi kenapa ia bodoh...
    - Kenapa asa tidak mengingat-ingat kebaikan/pertolongan tuhan ...

    Karena kebodohannya ....
    - Ia sakit hati
    - Marah
    - Menganiaya, memasukkan Hanani di penjara
    - Jadi sakit kaki dan parah, tawar hati-kecewa-malu akhirnya tidak mau minta pertolongan tuhan, malah mencari tabib-tabib... lalu mati.

    PELAJARAN INI ... PERENUNGAN FIRMAN TUHAN INI SANGAT BERMANFAAT, BUAT KITA MAU INGAT TERNYATA "KALAU ADA MASALAH-MASALAH - JANGAN TAKUT, ZONA NYAMAN AKAN MEMBUAT KITA LUPA DIRI-

    DAN KITA LIHAT SAKIT HATI, MARAH, APALAGI MEMBENCI HAMBA TUHAN, GAWAT AKIBATNYA - TUHAN YANG JADI LAWAN KITA...

    SAKIT...DATANG DARI KESALAHAN SENDIRI, BUKAN TUHAN GAK MAU SEMBUHKAN ATAU GAK SANGGUP MENYEMBUHKAN...

    KESOMBONGAN, KETAKUTAN, GAK TEKUN...MASIH MANUSIA DUNIAWI TUH..

    BERTOBAT, CARI DIA , TUHAN AKAN MEMULIHKAN MU...

    JESUS LOVE U, MET TAHUN BARU 2013

    Salam Bagimu Mat. 28:9, Aku Bangkit -- Aku Hidup Bagimu yang Mengasihi-Ku

    Oleh: Ev. Sudiana

    Pernahkah Anda menerima salam dari seseorang yang sangat Anda rindukan? Bagaimana rasanya? Tentu sangat menyenangkan bukan?

    Jika orang yang sangat kita rindukan tersebut ternyata adalah juga orang yang sangat mengasihi kita, memperhatikan kita, dan juga sangat merindukan kita "WOW-BAHAGIANYA"

    Hal seperti itulah yang terjadi terhadap Maria setelah malaikat memberitahukan tentang kebangkitan Yesus. Dirinya dipenuhi harapan yang besar untuk bertemu dengan Kristus kembali. Perasaan takut terkalahkan oleh kerinduan bertemu dengan sang Juruselamat.

    Rupanya kerinduan Maria tidak keliru. Kristus memberikannya salam saat mereka bertemu, ”Salam bagimu!”, hanya 2 kata pendek namun sangat berarti bagi Maria. Cepat-cepat ia mendekati Yesus, memeluk kakiNya serta menyembahNya. Hatinya dipenuhi perasaan bahagia yang tak dapat digambarkan dengan kata-kata.

    Sikap Maria ini didasari oleh hubungan kedekatan dengan Kristus. Untuk itu marilah kita sungguh-sungguh datang menghampiri -- menyembah Tuhan Yesus, rindukan DIA, setia dan tekun, kita akan mengalami Dia -- dan kita akan tahu Tuhan Yesus juga sangat merindukan kita.

    Jangan ada waktu yang terlewati tanpa kehadiran Tuhan Yesus.

    JESUS LOVES U - Met Paskah

    Salib dan Si Aku

    Oleh: L.E Maxwell

    Gereja di dunia ini penuh dengan profesor-profesor Kristen, para pendeta, guru-guru Sekolah Minggu, pekerja-pekerja Tuhan, para penginjil dan Misionari. Mereka memiliki karunia-karunia Roh secara nyata dan membawa berkat bagi banyak orang. Tetapi apabila “dilihat lebih dekat” maka banyak di antara mereka yang penuh dengan si aku. Mungkin mereka telah rela “meninggalkan semuanya” demi Kristus, bersedia mengorbankan nyawa mereka seperti murid-murid pertama, tetapi di dalam lubuk hati mereka yang tersembunyi kuasa kegelapan si aku bercokol.

    Mungkin mereka heran, mengapa selama ini mereka tidak dapat meraih kemenangan atas sifat-sifat mereka yang terlalu sering dikuasai perasaan seperti “telah dilukai kehormatannya,” “mudah tersinggung” dan hal yang hanya mementingkan diri sendiri seperti “ketamakan” dan “tidak berbelas kasihan” - sehingga mereka terus gagal untuk mengalami apa yang Tuhan janjikan, “kamu akan menjadi seperti sungai air kehidupan.” Ah, apa yang menyebabkannya tidak perlu dicari jauh-jauh. Mereka biasa melakukan “pemujaan berhala” secara rahasia, yaitu memuja dirinya sendiri di “kuil si aku”. Kepadanyalah mereka bertekuk lutut dan bersujud setiap hari. Pada dasarnya, mereka memuliakan Salib Kristus secara lahiriah, tetapi dalam hati ada allah lain yang mereka sembah.

    Mereka menjunjung tinggi si aku yang mereka kasihi, manjakan, serta menimang-nimangnya. Secara lahiriah mereka tahu Salib sebagai pengganti hukuman dosa karena kematian Sang Penebus, dan bahwa hal itu merupakan “pekerjaan Kristus yang telah genap.” Tetapi mengenai rahasia Salib dan maknanya yang sedalam-dalamnya, mereka tidak mengerti apalagi dalam hal menerapkannya dalam kehidupan rohani mereka sendiri. “Jika Kristus belum mengerjakan suatu penyaliban dalam diri Saudara yang akan memisahkan Saudara dari pemujaan si aku dan mempersatukan Saudara dengan Allah di dalam persekutuan kasih-Nya; maka seribu suasana surga sekalipun tidak dapat memberi damai bagi Saudara” (F.J. Huegel dalam bukunya Salib Kristus).

    Dia pemburu senang, santai dan riang
    Si aku, pengkhianat utama terhadap diriku,
    Temanku yang paling tidak setia -
    Mengangkat beban beratku -
    Mematahkan belengguku,
    Syukur, lepas dan bebaslah aku

    Pada saat si aku ini hampir menjadi yang maha kuasa, dan berhasil menunrunkan El Shaddai dari takhta hati manusia serta melucuti-Nya, bagaimanakah tindakan Allah? Memang, Ia sama sekali tidak merasa heran. Tetapi bagaimana cara mengatasi peristiwa yang paling menyedihkan ini? Bagaimana cara melepaskan manusia dari kegila-gilaan si aku yang kotor dan palsu ini? Allah tidak pernah memaksakan kehendak-Nya kepada manusia. Puncak kemuliaan-Nya terletak pada kesetiaan manusia untuk memyembah-Nya tanpa paksaan. Tidak mungkin Ia membiarkan kehendak-Nya sendiri gagal, karena di situlah terletak kemuliaan dan hikmat-Nya. Bahwa sesungguhnya, “Salib itu adalah kuasa dan hikmat Allah.” Golgota adalah kapak Allah yang tersedia di akar pohon yang pertama. Adam pertama ditumbangkan dan Adam kedua dinaikkan di atas takhta.

    Yesus datang sebagai kepala yang baru dari keluarga yang baru pula. Ia datang dengan kerelaan-Nya, di dalam rupa manusia yang penuh dosa (namun Dia tidak berdosa). Dengan tali kasih-Nya Ia mengikat kita dengan diri-Nya sendiri, lalu membawa kita ke jurang maut yang paling dalam, dengan tujuan untuk membebaskan kita dari hukuman dosa serta mengarahkan kita agar memilih kehendak Allah dan bukan kehendak si aku. Supaya Ia dapat melepaskan kita dari si aku yang penuh dosa itu, Yesus Kristus telah rela memilih untuk mati, mati karena dosa kita, mati sebagai pengganti kita, bahkan Ia telah menjalankan kematian kita sendiri - agar kita dapat dibebaskan dari si aku yang penuh dosa itu.

    Wahai Saudara-Saudara seiman, Anak Manusia telah dijadikan dosa dan kutuk karena kita. Ia telah ditinggikan di atas kayu salib seperti ular (Yoh.4:14). Karena itu berdirilah pada kaki Salib bersama dengan ibu Maria, yang pada saat itu mengalami kegenapan nubuat berikut : “dan suatu pedang yang menembus jiwamu sendiri, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang” (hati saya dan hati Saudara, Luk.2:35). Tetapi mungkin ada orang yang bertanya, “mengapa seekor ular dan bukan sekuntum bunga bakung atau bunga mawar? Mengapa tidak lambang lain saja yang cocok dengan jabatan seorang Raja dan pekerjaan sebagai Penebus?” Tetapi Allah tidak salah jika melambangkan si aku yang terkutuk dan penuh dosa itu dengan seekor ular. Karena hanya ularlah yang patut dijadikan lambangnya. Lambang itu memancarkan sinar terang yang langsung menembus ke dalam hati kita. Kita terpotret olehnya dan gambar kita tepat sekali; bukan hanya dosa kita yang kelihatan tetapi diri kita sendiri juga dapat terlihat dengan nyata. Segala tingkah laku itu timbul dari dalam hati, bukan? Suatu kenyataan yang berterus terang dan tidak dibuat-buat. Itulah lambang Saudara, dan saya sendiri. Mengapa kenyataan itu harus ditutup-tutupi, mengapa harus disembunyikan? Marilah kita memandang kepada Salib dengan sejujur-jujurnya. Marilah kita dengan rela menerima kenyataan yang mengerikan itu, tentang keadaan diri kita sendiri yang dilambangkan oleh Salib.

    Kunampak khalayak di depan Pilatus,
    Wajah merah, penuh marah,
    “Salibkanlah!” berang tercetus,
    Cerca dan hujat bertambah-tambah.
    Di tengah-tengah khalayak berteriak gaduh,
    “Kuhadir di antaranya,
    Sekitar Salib kulihat jelas,
    Orang mengolok, seru dan serak,
    Suaraku juga yang terkeras,
    Menyerang galak, membentak-bentak.

    (Horatius Bonar)

    Tidakkah Saudara merasa ngeri melihat kebenaran ini? Tidak inginkah Saudara menerimanya? Beranikah Saudara menolaknya? Memang kita harus menerima kebenaran ini. Dari atas takhta Salib yang terangkat tinggi, terlebih dahulu kita perlu untuk mengakui kejelekan si aku, kemudian kita harus menyangkalnya. Kita tidak akan mengatakan, “Sebagian diriku terdiri dari si aku dan sebagian dari Kristus.” Kita telah terkutuk, si aku kita telah dibekuk, dikerat seutuhnya, dan bukan sebagian saja. Ikatan kita dengan segala perkara masa lalu telah sama sekali diputuskan. Aku seluruhnya diserahkan kepada kutuk, lalu harus menjalani hukuman mati yang sah di dalam Pribadi Penebus, suatu kesudahan yang tercela, dengan akibat yang kekal.

    Keputusan pengadilan ini menuntut persetujuan kita sepenuhnya. Marilah kita menerimanya dan menjadi rela untuk menandatangani surat keputusan hukuman mati itu. Kita tidak disuruh untuk menyalibkan diri kita, karena tugas itu terlalu besar bagi kita; tugas itu adalah tugas Ilahi. Kita telah diserahkan kepada maut, yang berarti “Disalibkan bersama Kristus.” Hal itu sudah digenapi. Tetapi kita harus menandatangani keputusan hukuman mati itu. Kita harus menyetujui Penyerahan diri kita yang dilakukan oleh Allah. Kita harus memilih untuk menurunkan si aku dari takhtanya, dan menyangkal diri sendiri, di dalam kuasa kematian Kristus. Salib memang merupakan senjata Allah yang paling ampuh, tetapi kuasa pelepasan kematian Kristus hanya akan berlaku bagi kita apabila kita menjadi satu dengan kematian-Nya oleh iman. Kita harus memandang kematian ini sebagai kematian bagi kita sendiri.

    Menyangkal si aku bukanlah sekadar menjauhi kesenangan ini dan itu saja, tetapi kapak Salib harus diletakkan tepat pada akar pohon si aku. Allah berfirman, tebanglah pohon itu, jangan hanya dipangkas saja. Semua sifat yang membenarkan diri sendiri, memegahkan diri sendiri, membela diri sendiri, menyayangi diri sendiri dan seribu satu macam sifat yang terwujud dalam bentuk-bentuk yang lain, hanyalah merupakan ranting-ranting dan daun-daun yang berasal dari pohon diri sendiri yang akarnya dalam sekali. Apabila hanya dipangkas saja, yang terjadi adalah kehidupan si aku masih akan menyatu dengan akar-akarnya yang akan terus bertumbuh menjadi semakin besar dan kuat, sehingga menumbuhkan “pohon orang Farisi” yang jauh lebih besar pula. Di depan layar ia nampak indah sehingga menimbulkan pujian dari banyak orang, tetapi di belakang layar, orang-prang yang mengenal dia dari dekat dapat menyaksikan sambil mencucurkan air mata, kesengsaraan yang mereka alami yang diakibatkan dari buah kepahitan yang bertambah lebat di pohon si aku tadi.

    Tetapi syukurlah, masih ada banyak harapan. Kita sudah dicangkokkan pada Kristus yang tersalib, sudah mengambil bagian dalam sifat Ilahi. Hidup yang diberikan kepada kita adalah hidup yang tersalib terhadap si aku dengan seribu satu macam bentuknya. Diriku tidak akan pernah mengalahkan si aku. Tetapi puji Tuhan, karena kita telah menjadi milik Kristus. Dan jika kita menyerahkan segala-segalanya kepada Dia yang telah tersalib, maka kuasa kematian-Nya akan bekerja di dalam kita dan akan menyalibkan diri kita. Semakin penuh Kristus menguasai kita, semakin penuh pula kematian kita terhadap si aku.

    Seorang pernah bertanya kepada George Muller tentang rahasia pelayanannya, ia menjawab, “Pada suatu hari tertentu, aku mati,” dan sambil berkata ia membungkukkan badannya sampai kepalanya hampir menyentuh lantai. Kemudian ia melanjutkan, “mati terhadap George Muller, mati terhadap pendapat dan kegemarannya, mati terhadap perasaan dan kemauannya; mati terhadap dunia, terhadap sanjungan dan kecamannya; mati terhadap pujian dan celaan dari saudara-saudara dan sahabat-sahabatku; dan sejak saat itu aku hanya belajar untuk menjalani kehidupan yang berkenan kepada Allah.”

    Meskipun aku tanpa arti, "ku bersuka.
    Tinggal di dalam sempurna-Mu,
    Karena memperoleh segalanya dalam-Mu,
    Bukan aku, tetapi Kristus, selama-lamanya,
    Amin! Biarlah terjadi demikian!

    Sang Waktu Terus Berlalu

    Oleh : Yon Maryono

    Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. (Yakobus 4:14b)

    Walaupun Anda merasa muda dan membayangkan akan hidup berpuluh-puluh tahun lagi, pada kenyataannya “hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap” (Yakobus 4:14). Cobalah berpaling kebelakang, ketika reuni ketemu teman Sekolah Dasar setelah 15 tahun tak berjumpa. Seolah baru kemarin anda tidak jumpa. Yah, waktu itu terbukti singkat, waktu tidak bisa dihambat dan tetap terus berlalu dan berjalan dengan cepat. Kita tidak dapat mengetahui tinggal berapa lama waktu yang tersisa ini. Ingat Firman Tuhan “janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu (bdk Amsal 27:1). Demikian pula, bila anda kehilangan uang, harta dapat dicari penggantinya tetapi kehilangan waktu maka anda tidak akan memperoleh kembali selamanya.

    Rasul Paulus dalam surat-surat penggembalaannya juga selalu mengingatkan waktu itu demikian singkatnya. Jemaat di Roma diingatkan dalam suasana waktu yang singkat jangan dalam pesta pora, kemabukan, percabulan,hawa nafsu, perselisihan dan iri hati (Rm 13 :13). Rasul Pulus mendengar, mereka “tidur” rohaninya, tidak bertumbuh dewasa. Mungkin demikian kehidupan umat percaya sekarang, ditinjau dari sudut waktu, setiap minggu bergereja. Aktif dalam kegiatan gereja, sehingga dalam bayangan sudah seharusnya menjadi pengajar, tetapi masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari pernyataan Allah. Mereka masih memerlukan susu seperti anak-anak, bukan makanan keras!” ( bdk Ibrani 5:12). Mereka rajin mengejar berkat kekayaan, padahal seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu (bdk Mark 12:15b)

    Jelas para Rasul mengingatkan umat percaya tentang waktu sisa dalam kehidupannya. Supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah (1 Petrus 4:2). Karena, setiap orang percaya akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah (bdk Rom 14:12). Dan mereka yang tidak menggunakan waktunya untuk mengerjakan keselamatannya tidak memperoleh bagian Kerajaan Allah (bdk Gal 5:21)

    Bila dalam Injil Matius 12:36 kita harus bertanggungjawab kepada Tuhan atas setiap kata yang kita ucapkan, tentu kita harus bertanggungjawab atas setiap waktu yang kita gunakan secara sia-sia.. Jangan seperti Pemalas yang ditulis dalam Amsal 24:33-34: “tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi.” Mudah sekali untuk menyia-nyiakan waktu dan kesempatan. Mereka tidak berusaha memanfaatkan sisa waktu untuk mengerjakan keselamatan dan bekerja menurut kehendak Allah sehingga memberi buah (bdk Fil 1:21-22b)

    Kita yang masih hidup belum terlambat, waktu yang berlalu biarlah berlalu “…aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang dihadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus”(Filipi 3):13-14). Oleh karena itu, umat percaya diminta senantiasa taat; serta tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar (Fil 2 :12). Tuhan memberkati kita semua.

    Sangat Mudah

    Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut.

    * Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik.

    Ada seorang anak menjadi murid di toko sepeda. Suatu saat ada seseorang yang mengantarkan sepeda rusak untuk diperbaiki di toko tsb. Selain memperbaiki sepeda tsb, si anak ini juga membersihkan sepeda hingga bersih mengkilap.Murid-murid lain menertawakan perbuatannya. Keesokan hari setelah sang empunya sepeda mengambil sepedanya, si adik kecil ditarik/diambil kerja di tempatnya.

    * Ternyata untuk menjadi orang yang berhasil sangat mudah, cukup punya inisiatif sedikit saja.

    Seorang anak berkata kepada ibunya: "Ibu hari ini sangat cantik." Ibu menjawab: "Mengapa?" Anak menjawab: "Karena hari ini ibu sama sekali tidak marah-marah."

    * Ternyata untuk memiliki kecantikan sangatlah mudah, hanya perlu tidak marah-marah.

    Seorang petani menyuruh anaknya setiap hari bekerja giat di sawah.Temannya berkata: "Tidak perlu menyuruh anakmu bekerja keras, tanamanmu tetap akan tumbuh dengan subur." Petani menjawab: "Aku bukan sedang memupuk tanamanku, tapi aku sedang membina anakku."

    * Ternyata membina seorang anak sangat mudah, cukup membiarkan dia rajin bekerja.

    Seorang pelatih bola berkata kepada muridnya: "Jika sebuah bola jatuh kedalam rerumputan, bagaimana cara mencarinya?" Ada yang menjawab: "Cari mulai dari bagian tengah."Ada pula yang menjawab: "Cari di rerumputan yang cekung ke dalam."Dan ada yang menjawab: "Cari di rumput yang paling tinggi."Pelatih memberikan jawaban yang paling tepat: "Setapak demi setapak cari dari ujung rumput sebelah sini hingga ke rumput sebelah sana."

    * Ternyata jalan menuju keberhasilan sangat gampang, cukup melakukan segala sesuatunya setahap demi setahap secara berurutan, jangan meloncat-loncat.

    Katak yang tinggal di sawah berkata kepada katak yang tinggal di pinggir jalan: "Tempatmu terlalu berbahaya, tinggallah denganku."Katak di pinggir jalan menjawab: "Aku sudah terbiasa, malas untuk pindah."Beberapa hari kemudian katak "sawah" menjenguk katak "pinggir jalan" dan menemukan bahwa si katak sudah mati dilindas mobil yang lewat.

    * Ternyata sangat mudah menggenggam nasib kita sendiri, cukup hindari kemalasan saja.

    Ada segerombolan orang yang berjalan di padang pasir, semua berjalan dengan berat, sangat menderita, hanya satu orang yang berjalan dengan gembira.

    Ada yang bertanya: "Mengapa engkau begitu santai?"Dia menjawab sambil tertawa: "Karena barang bawaan saya sedikit."

    * Ternyata sangat mudah untuk memperoleh kegembiraan, cukup tidak serakah atau memiliki secukupnya saja

    Saya Melihat Harapan

    Tiba-tiba pintu ruang bersalin terbuka. Seorang dokter dengan pakaian khusus keluar. "Istri Anda dalam keadaan baik. Namun sayang keadaan bayinya membahayakan jiwa istri Anda. Ada satu hal yang harus Anda putuskan, keselamatan istri Anda atau bayinya. Saya tahu hal ini sulit, namun kami telah berusaha sekuat mungkin. Akhirnya kami harus menemui Anda, sebab keputusan Anda amat menentukan. Jika Anda sudah siap, silahkan kami dihubungi dan menandatangani formulir ini", setelah berkata demikian dokter tersebut memeluk bahu pria yang diajak bicara. Sorot matanya di balik kaca mata yang tebal memberi semangat pada pria yang tubuhnya gemetar.

    Pria yang sedari tadi gelisah, sekarang bertambah gemetar setelah menerima berita yang meluncur dari mulut dokter yang memeluknya. Wajahnya jadi pucat seperti mayat. Butiran keringat dingin sebesar kacang kedelai bermunculan di dahinya. Mulutnya menganga, lidahnya kelu. Matanya nanar. Setelah berusaha menelan ludahnya, ia berusaha mengeluarkan kata-kata.

    "Dokkkkter, .....mmm. bbberi kesempatan saaaya untuk berdoa".

    Kepala dokter tersebut menggangguk, tanda setuju. Ruangan tunggu kelahiran bayi malam itu sepi menggigit, sinar lampunya nampak pudar. Suasana saat itu bisu dingin menutupi tembok sekeliling ruangan itu. Pria itu kemudian tertunduk. Wajahnya ditenggelamkan atas kedua telapak tangannya yang menopangnya. Suara tangis tertahan bercampur kepedihan dan rasa takut menimbulkan suara yang keluar dari mulutnya seperti suara berguman, tidak jelas. Suasa kembali sunyi . Kemudian ia perlahan bangkit, berjalan menuju perawat yang berdiri menunggunya.

    "Suster, katakan kepada dokter, istri saya perlu diselamatkan, sedapat-dapatnya selamatkan juga anak saya. Saya telah melihat harapan."
    Suster itu hanya menggangguk, kemudian menyodorkan sehelai lembaran formulir. Setelah ditandatangani. Ia kembali menunggu.

    Persalinan berlangsung sulit. Dokter berupaya mengeluarkan bayi dari dalam rahim wanita yang sudah mulai kehabisan tenaga. Dengan alat khusus, dokter tersebut mengupayakan kepala sang bayi dapat keluar terlebih dahulu. Namun tiba-tiba, crot.., darah segar muncrat disertai bola mata yang masih terikat ototnya keluar mengelantung, baru kemudian kepala bayi. Merasa berpacu dengan waktu, dokter makin berusaha keras untuk mengeluarkan seluruh tubuh bayi itu. Bunyi gemeretak tulang rawan bayi yang patah karena proses tersebut. Akhirnya, tubuh bayi yang mirip seonggok daging tersebut utuh keluar dari dalam rahim. Persalinanpun berjalan sampai tuntas.

    Dokter segera memerintahkan seorang perawat agar membersihkan tubuh bayi tersebut dan segera dimasukkan kantong mayat. Namun Tuhan yang mendengar doa bertindak lain. Tubuh bayi yang masih berlumuran darah dibersihkan terlebih dahulu oleh perawat. Saat tangan sang perawat membersihkan tubuh bayi di bagian dada sebelah kiri, nampak denyut jantung yang lemah. Tanda kehidupan. Rupanya denyut yang lemah terlihat oleh sang perawat tersebut. Segera bayi tersebut di kirim ke ruang khusus.

    Empat tahun kemudian, bayi itu tumbuh menjadi seorang anak mirip monster hidup. Ia di beri nama William Cutts. Jika bayi normal, diusia sebelas tahun telah belajar berjalan, tidak demikian dengan William Cutts. Ia baru belajar merangkak seperti anjing. Kepala bagian kanan agak besar, matanya yang kanan rusak berat, tidak mungkin bisa melihat. Bahunya miring. Menjelang remaja, jalannya miring seperti tiang hampir roboh. Dan kata dokter, otaknya tak akan sanggup berkembang alias tidak mungkin bisa belajar seperti manusia normal.

    Sudut pandang dokter rupanya beda dengan kedua orang tuanya, mereka melihat harapan. Orangtuanya terus membesarkannya dengan penuh kasih sayang. "Kelak anakku akan dipakai Tuhan secara luar biasa, sebab aku yakin harapan itu ada", demikian doa kedua orangtuanya, setiap kali melihat William Cutts yang selalu kesulitan dengan menyelaraskan jalannya dengan bahunya. Tuhanpun mewujudkan harapan anak-anakNya.

    Tepat pada waktuNya, William Cutts bersimpuh di kaki- Nya, satu ayat yang dipegangnya yang menjadi dasar panggilannya, "Justru di dalam kelemahan kuasa-Ku menjadi sempurna", II Korintus 12: 9. Inilah sumber pengharapan baginya.
    Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan orang yang berharap kepada-Nya. Tuhan pun membuktikan janjiNya. Apa yang tidak dipandang oleh dunia, dipakai Allah secara luar biasa. Dengan segala keterbatasannya, William Cutts maju untuk taat. Harapan demi harapan terkuak setelah ia taat melangkah.

    Setelah menyelesaikan sarjananya di sekolah theologia, ia menjadi utusan misi ke Irian Jaya, Indonesia. Tuhan meneguhkan janjiNya, dalam kelemahan kuasa-Nyata nyata. Tiap langkah pelayanan William Cutts, Tuhan meneguhkan dengan mujizat-Nya. Semua ini diawali dengan orang yang melihat harapan dan mempercayai harapan di dalam Yesus itu pasti ada dan tidak pernah sia-sia.

    William Cutts telah menyaksikan apa makna hidup di dalam pengharapan yang berlimpah di dalam Kristus!

    Sesungguhnya harapan di dalam Kristus itu, adalah;

    - Harapan selalu memperlihatkan pada orang percaya bahwa di ujung jalan yang gelap ada terang.
    - Harapan selalu dapat menopang kehidupan orang percaya yang telah patah semangat dan tak berdaya.
    - Harapan selalu memberikan peluang, kemungkinan dan kepastian ada pemulihan kembali saat kehidupan dirasa seperti buluh yang patah atau sumbu hanya tinggal asap.

    Jadi harapan itu selalu memberikan kehidupan, semangat, gairah dan kesegaran baru. Dan ..

    Orang yang berharap kepada Tuhan tak pernah dibiarkan malu tersipu-sipu!
    Harapan yang Tuhan Yesus berikan bukan harapan seperti yang Anda dipikirkan atau dunia tawarkan. Harapan di dalam Kristus bukan harapan yang terbatas, tidak pasti dan bersifat temporer. Harapan di dalam Kristus adalah harapan yang melimpah, pasti, dan berlimpah bak sungai. Harapan yang demikian selalu ada di dalam diri orang percaya.

    Dan harapan itu amat nyata secara khusus bagi orang-orang percaya yang mengalami berbagai-bagai dukacita karena pencobaan (ay. 6).
    Jika demikian mengapa Anda berkata , "tidak ada harapan bagiku?" Ambillah selangkah lagi, lihat tangan-Nya terbuka siap memeluk Anda.

    Sumber: Gloria Ministry - YS

    Sebelum Hari Ini

    Hari ini sebelum kamu mengatakan kata-kata yang tidak baik,

    Pikirkan tentang seseorang yang tidak dapat berbicara sama sekali

    Sebelum kamu mengeluh tentang rasa dari makananmu,

    Pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apa pun untuk dimakan

    Sebelum Anda mengeluh tidak punya apa-apa

    Pikirkan tentang seseorang yang meminta-minta di jalanan

    Sebelum kamu mengeluh bahwa kamu buruk,

    Pikirkan tentang seseorang yang berada pada tingkat yang terburuk di dalam hidupnya

    Sebelum kamu mengeluh tentang suami atau istri Anda,

    Pikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Tuhan untuk diberikan teman hidup

    Hari ini sebelum kamu mengeluh tentang hidupmu,

    Pikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat

    Sebelum kamu mengeluh tentang anak-anakmu,

    Pikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tetapi dirinya tidak punya anak

    Sebelum kamu mengeluh tentang rumahmu yang kotor karena pembantumu tidak mengerjakan tugasnya,

    Pikirkan tentang orang-orang yang tinggal di jalanan

    Sebelum kamu mengeluh tentang jauhnya kamu telah menyetir,

    Pikirkan tentang seseorang yang menempuh jarak yang sama dengan berjalan

    Dan disaat kamu lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu,

    Pikirkan tentang pengangguran,orang-orang cacat yang berharap mereka mempunyai pekerjaan seperti Anda

    Sebelum kamu menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain,

    ingatlah bahwa tidak ada seorang pun yang tidak berdosa

    Kita semua menjawab kepada Sang Pencipta

    Dan ketika kamu sedang bersedih dan hidupmu dalam kesusahan,

    Tersenyum dan berterima kasihlah kepada Tuhan bahwa kamu masih hidup!

    Life is a gift ...

    Live it ...

    Enjoy it ...

    Celebrate it ...

    And fulfill it ...

    Cintai orang lain dengan perkataan dan perbuatanmu

    Cinta diciptakan tidak untuk disimpan atau disembunyikan

    Anda tidak mencintai seseorang karena dia cantik atau tampan,

    Mereka cantik/tampan karena Anda mencintainya,

    It"s true you don"t know what you"ve got until it"s gone, but it"s also true You don"t know what you"ve been missing until it arrives!!!

    Seberapa dalam Kita Mengasihi-Nya?

    Oleh: Denny Teguh Su