Artikel-artikel tentang dunia misi, penginjilan, berita-berita misi dll
TEPATKAH berbicara mengenai 400 tahun Protestantisme di Indonesia? Tidakkah, dengan demikian kita mempersempit rentang-waktu dan ruang-lingkup kehadiran kekristenan di Nusantara yang mestinya jauh lebih lama dari waktu 400 tahun itu? Lagi pula dengan menambahkan akhiran "isme", ada kecenderungan melihat kekristenan hanya sebagai sebuah ideologi di samping ideologi-ideologi lainnya, yang secara hakiki memang bersifat kaku dan memaksa? Inilah, antara lain rentetan pertanyaan-pertanyaan kritis, yang mengemuka dalam seminar dua hari di Ambon, 25 dan 26 Februari lalu. Seminar itu diadakan dalam rangka merayakan 400 tahun masuknya agama Kristen dalam versi protestannya di Maluku, yang sekaligus juga dipandang sebagai gerbang masuknya Injil di seluruh Nusantara.
Alkisah, hari Selasa, 27 Februari 1605, untuk kali pertama awak kapal Belanda (VOC) mengadakan ibadah di darat, di benteng Portugis yang baru saja diserahkan kepada mereka, dan diberi nama baru, Victoria. Sebagaimana diketahui, pada 1605 itu, Laksamana Belanda Van der Haghen, bersama orang Hitu mengusir garnisun Portugis dari Ambon. Orang Hitu mendapat status sekutu. Dalam laporannya Van der Haghen, menulis: "Pada tanggal 27 bulan ini untuk pertama kalinya Laksamana turun ke darat dan pergi ke benteng. Di sana Firman Allah diberitakan disertai pengucapan syukur kepada Allah Yang Maha Kuasa berkenan menganugerahkan kepadanya kemenangan besar bagi Tuan-tuannya di negeri Belanda." (Th van den End, 2005). Th van den End mencatat, itulah ibadah Protestan yang pertama diadakan di Maluku, bahkan di seluruh Asia, sehingga dapat dipandang sebagai permulaan sejarah Protestantisme di kawasan ini.
Khawatir
Kendati pada permulaannya, sesuai dengan asas toleransi yang berlaku di Negeri Belanda pada waktu itu, Van der Haghen membiarkan orang Katolik Ambon menjalankan ibadah Katolik, namun belakangan gubernur penggantinya tidak lagi konsekuen menaatinya.
Ia mengusir semua orang Katolik Eropa dari Ambon, sedangkan pelayanan bagi orang "bumiputera" diselenggarakan oleh seorang guru agama, yang hanya berwenang mengadakan ibadah sederhana.
Gubernur pengganti itu khawatir kalau-kalau jemaat Katolik di bawah pimpinan seorang Yesuit itu dapat menjadi kolone kelima, begitu orang Spanyol (yang Katolik) mengirim lagi armada dari Manila. Singkat kata, orang Katolik Ambon lama-kelamaan menjadi orang Protestan Ambon. Dengan demikian, berlakulah prinsip lama, "cuius regio eius religio" (siapa yang memiliki negara, menentukan agama yang dianut). Sebagai demikian, daerah-daerah yang ditaklukkan menganut agama penguasa, yaitu Kristen Protestan. Itu tentu saja tidak berarti, bahwa segala sesuatunya berjalan mulus.
Concern utama VOC bukanlah pada pekabaran Injil tetapi perdagangan. Maka selama pekabaran Injil tidak mengganggu usaha-usaha perdagangan mereka, dibiarkan, bahkan didukung. Tetapi, kalau pekabaran Injil menjadi kendala, tidak segan- segan dilarang. Itulah sekelumit catatan sejarah masa lampau. Apa yang Diperingati?
Ketika pada 27 Februari 2005 itu, segenap umat Gereja Protestan di Indonesia (GPI) menyelenggarakan perayaan besar-besaran, maka pertanyaannya adalah apakah yang dirayakan? Ketika semua peserta dengan khusyuk melakukan napak-tilas ke Benteng Victoria pada tanggal bersejarah itu, apakah yang menyeruak dalam pikiran kita? Ketika obor dinyalakan di Benteng Victoria dan kemudian diarak ke dalam kota, apakah yang disimbolkannya? Adakah sungguh-sungguh kita sedang memperingati masuknya Protestantisme, atau justru kita sedang merayakan permulaan kekuasaan kolonialisme dan imperialisme Barat di Indonesia? Pertanyaan-pertanyaan kritis dan menggugat itu mengindikasikan bahwa sejarah memang bersifat multiwajah, dan karena itu juga multiinterpretasi.
Gereja Protestan di Indonesia, beserta 12 gereja mandirinya menginterpretasikan peristiwa bersejarah itu justru sebagai permulaan diberitakannya Kabar Baik (Injil) di negeri ini. Benar, tanggal itu merupakan permulaan cikal-bakal De Protestantische Kerk in Nederlands-Indie yang terbentuk belakangan. Tetapi, sangatlah naif untuk berpikir, bahwa adanya gereja itu identik, sama dan sebangun, bertindih-tepat dengan permulaan kehadiran kekuasaan represif di Indonesia. Jalan-jalan Allah memang tidak terduga.
Pikiran-pikiran Allah tidak terselidiki. Bahkan dari sampah-sampah kolonialisme dan imperialisme, Allah dapat menyampaikan Kabar-Baik (Injil) kepada suatu bangsa. Sama tidak terduganya dengan terbentuknya negara Indonesia yang merasa satu bangsa, setelah "dipersatukan" di bawah pemerintahan kolonialisme dan imperialisme Belanda. Kalau tidak, kita hanya akan menjumpai sekian negara- negara kerajaan di negeri ini. Maka adalah tugas generasi masa kini untuk terus- menerus menafsirkan sejarah secara baru dan jujur.
Long Conversation
Dalam diskusi dua hari itu, disampaikan pandangan, sebetulnya tidak terlalu tepat untuk berbicara tentang "pertobatan" (conversion) orang-orang Maluku (dan orang Indonesia) kepada kekristenan. Berbagai sumber sejarah memperlihatkan, ada perlawanan terhadap upaya-upaya untuk pertobatan itu. Orang tidak dengan serta- merta saja masuk ke dalam agama Kristen. Itu disebabkan oleh adanya faktor kekuasaan (power) dalam "pertemuan" dua kebudayaan, yaitu kebudayaan penduduk asli dan kebudayaan para misionaris.
Orang tidak rela menundukkan begitu saja kekuasaannya terhadap kekuasaan yang baru datang itu. Kenyataan itu dibuktikan dengan begitu banyaknya pengeluhan para penginjil, yang melihat upaya-upaya penginjilannya tidak berhasil. Bahkan tidak kurang dari mereka yang putus asa. Maka, ketimbang conversion, orang lebih suka berbicara mengenai long conversation, percakapan panjang, bahkan maha panjang antara pemberita Injil dan penduduk, antara Injil dan kebudayaan setempat.
Percakapan panjang itu mengalami pasang-surut dan jatuh-bangun. Ada optimisme, tetapi tidak kurang pula pesimisme. Dalam percakapan maha panjang itu telah terjadi take and give, saling pengaruh-memengaruhi antara pemberita Injil dan "sasaran", antara Injil dan kebudayaan. Percakapan itu, dimuarakan antara lain dalam pendidikan. Maka peranan guru-guru sekolah (schoolmeesters) yang adalah orang-orang pribumi yang sangat menonjol dalam pekabaran Injil patut dicatat sebagai faktor menentukan.
Alhasil, pilihan untuk menganut kekristenan adalah hasil proses percakapan maha panjang itu. Dapat dikatakan, bahwa kekristenan mengambil bentuknya sendiri dalam suatu kebudayaan, yang di Maluku secara populer disebut "Agama Ambon". Tetapi, mungkin lebih tepat untuk mengatakan, orang-orang Ambon (Maluku) menghayati kekristenan dengan mempertimbangkan berbagai warisan budaya yang dimilikinya, kendati cukup mencolok juga bahwa bahasa-bahasa daerah agak menghilang dari desa-desa yang mayoritas penduduknya beragama Kristen.
400 Tahun Kemudian
Tentu saja merupakan tantangan generasi masa kini, bagaimana menghayati dan mengamalkan kekristenan itu di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. Protestantisme tidak mungkin lagi dikurung dalam tembok-tembok ( ghetto). Sebaliknya, kekristenan mesti lebih terbuka. Gereja, bahkan mesti menjadi gereja bagi orang lain. Secara kasat-mata hal itu juga telah terlihat dalam perayaan itu.
Prof Magnis-Suseno SJ, yang adalah seorang Yesuit, dulu merupakan musuh bebuyutan kaum Protestan, justru memberikan ceramah dan terlibat dalam diskusi yang intens dalam seminar dua hari itu. Uskup Amboina, Mgr Mandagie menaikkan Doa Syafaat dalam perayaan akbar yang dihadiri ribuan orang itu.
Peristiwa seperti itu tidak terbayangkan 400 tahun lalu. Bahkan juga saudara- saudara Muslim terlibat aktif. Di sinilah kita melihat, Injil adalah sungguh- sungguh Kabar Baik yang membawa orang kepada persaudaraan sejati.
Injil sejati adalah Kabar Baik yang mempertautkan dan merekat, bukan merenggangkan dan memecah antarsaudara. Kita semua diberi waktu untuk merenungkan secara mendalam, apa sesungguhnya makna Kabar Baik itu sesudah 400 tahun bagi persaudaraan di Maluku dan di Indonesia pada umumnya. Maluku, yang dalam beberapa tahun terakhir ini dilanda konflik-konflik horizontal, ditantang untuk memperlihatkan pemulihan dan rekonsiliasi tulen di antara sesama anak bangsa. Yohanes Calvin, salah seorang Reformator abad ke-16 pernah menegaskan, alam-semesta adalah Theatrum Gloriae Dei (Pentas Kemuliaan Allah). Itu berarti tanah-tanah yang subur dan laut-laut yang kaya di Maluku adalah pentas kemuliaan Allah. Tetapi, Allah ini telah menganugerahkan tanah dan laut itu kepada orang Maluku, tanpa memandang agama yang dianutnya. Maka, karena itu, baik kepada komunitas Kristen maupun komunitas Islam, diserukan untuk menerima anugerah Allah itu secara bertanggung jawab.
Mereka ditantang untuk mengolah dan mengusahakan pemberian Allah itu sebaik- baiknya agar layak menjadi tempat kediaman manusia dan pantas menjadi pentas kemuliaan Allah. Karena akan ada waktunya, Allah akan meminta pertanggungjawaban, baik kepada umat Kristiani maupun kepada umat Islam, "Apakah kamu sungguh-sungguh telah mempergunakan ta530 dan laut yang Aku berikan untuk kebaikan kamu semua, atau kamu hanya menghabiskan waktu dengan berbalah-balah, sehingga tidak ada waktu lagi mengolah pemberian-Ku dengan bertanggungjawab."
Peringatan 400 tahun telah berlalu. Gereja-gereja di Indonesia telah mengalami berkat Allah melalui "Gerbang Maluku", kendati tidak semuanya. Kita teringat misalnya, akan Nommensen di Tanah Batak, Otto-Geissler di Tanah Papua, Kruyt di Tanah Poso, dan sebagainya. Apa pun saluran yang dilewati, satu hal sangat pasti, bahwa berkat Allah itu tidak boleh dikangkangi sendiri, tetapi mesti diteruskan kepada sesama demi persaudaraan dan kehidupan perdamaian sejati dalam polis (boleh dibaca: masyarakat) Indonesia ini. Penulis adalah Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia
Sudah lama aku ingin mengumpulkan para pengemudi becak yang mangkal di depan gereja. Mereka selama ini setiap minggu mendapat makan murah. Dengan hanya membayar Rp 500 mereka dapat makan sepuasnya dengan menu yang sederhana meski bukan ala kadarnya. Aktifitas nasi murah sudah berlangsung sekitar 12 tahunan, tapi hanya itu saja. Mereka membeli makanan setelah itu selesai. Kadang kala ada pembagian hadiah kecil disaat masa Paskah atau Natal. Aku melihat hal ini kurang membantu para pengemudi becak. Beberapa pengemudi becak sudah bertahun-tahun mangkal di depan gereja. Seorang pegemudi sudah mangkal selama 24 tahun yang lain sudah 10 tahun dan sebagainya. Bertahun-tahun mereka mangkal di depan gedung gereja, namun tidak pernah mereka masuk atau bersentuhan dengan para penghuni gedung itu. Beberapa kali memang aku pernah mengajak makan bersama dalam acara pesta rakyat. Atau menyapa beberapa orang ketika aku keluar dan masuk halaman gereja. Selain itu tidak ada lagi. Bahkan nama mereka pun aku tidak tahu.
Mengingat ini aku jadi malu sendiri. Aku katakan pada beberapa teman bahwa aku pasti akan masuk neraka, sebab tidak bedanya dengan orang kaya dalam kisah orang kaya dan Lazarus dalam Injil Lukas. Aku diam saja dan tidak peduli pada orang miskin yang ada di depanku. Mereka hanya makan remah-remah yang tercecer. Bukan makan dari pemberianku. Aku tidak pernah mempersilahkan mereka duduk makan bersamaku. Mengenal secara pribadipun tidak kulakukan. Padahal aku membantu anak-anak yang jauh dari gedung gereja. Mengapa aku peduli pada kemiskinan yang jauh di depan mata daripada yang ada di depan mata? Bagiku ini sebuah bentuk kesombongan pribadi.
Menyadari akan hal itu dan ketakutan masuk neraka, maka aku mengumpulkan para pengemudi becak. Ada 20 orang lebih yang kumpul. Kami minum kopi bersama di satu meja. Kami saling berkenalan. Betapa lamanya menunggu moment seperti ini. Duduk mengelilingi meja yang sama. Minum kopi yang sama. Merokok yang sama. Makan kue yang sama. Tidak ada beda antara aku dengan mereka. Kami bergurau seperti orang yang sudah mengenal lama. Saling mengolok tanpa menimbulkan sakit hati. Kami membicarakan masalah bersama.
Pembicaraan kami mengarah pada pembentukan koperasi. Apa yang disebut koperasi oleh mereka hanya sebuah tempat untuk menyimpan uang. Tidak ada aturan yang ribet seperti koperasi pada umumnya. Tidak ada iuran pokok atau wajib. Semua kami bicarakan bersama dan keputusan bersama. Aku lebih banyak mendengarkan apa keinginan mereka. Semula aku ingin komunitas ini berbentuk paguyuban saja, namun mereka menolak dengan alasan yang tidak masuk akal bagiku. Menurut mereka paguyuban bisa dianggap sebagai milik pemerintah padahal mereka tidak dibawah pemerintah. Semula aku tidak tahu bagaimana kaitan antara kata paguyuban dengan pemerintahan. Setelah berusaha bertanya-tanya akhirnya aku memahami hal itu. Beberapa dari mereka tergabung dalam paguyuban pengemudi becak dari sebuah partai. Maka bagi mereka kata paguyuban terkait erat dengan partai politik dan pemerintahan. Sebuah pemikiran sederhana yang harus aku ikuti.
Kami membicarakan soal pinjaman. Apakah mereka berhak meminjam? Ternyata semua menolak, sebab pinjaman bisa memecah mereka. Ada kekuatiran bahwa ada orang yang pinjam lalu tidak mau membayar dan pergi begitu saja. Maka keputusannya adalah mereka boleh meminjam dibawah uang tabungan. Semula aku sudah merencanakan bahwa mereka boleh meminjam dua kali dari tabungan, ternyata ideku ditolak. Ketika kutanya bagaimana bila ada keluarga yang sakit dan membutuhkan uang yang cukup banyak? Apakah mereka tidak boleh pinjam melebihi tabungan? Ternyata mereka tetap tidak setuju. Jalan keluar yang dipilih oleh mereka adalah bila ada keluarga yang sakit dan membutuhkan biaya banyak, maka mereka wajib urunan ala kadarnya untuk membantu. Mendengar ini aku jadi terharu. Betapa besar solidaritas diantara mereka.
Pengemudi becak ini rata-rata umurnya sudah lanjut. Memang jarang sekali anak muda yang menjadi pengemudi becak. Mereka semuanya miskin. Mereka tidak berpikir bahwa mereka sudah tua dan harus menyimpan sebanyak mungkin untuk persiapan masa depannya. Ternyata hal itu tidak ada dalam benaknya. Bagi mereka cukuplah apa yang mereka peroleh saat ini. Soal nanti tua itu terserah pada Tuhan. Sebuah keyakinan yang sangat menganggumkan. Semua orang Kristen pasti pernah membaca tentang janji Tuhan bahwa Dia tidak akan meninggalkan hambaNya. Burung pipit yang tidak menanam saja dapat makan mengapa kita kuatir? Masih ada beberapa ayat lain yang menyatakan agar kita tidak kuatir akan hari esok. Tapi sungguhkah kita tidak kuatir? Ternyata para pengemudi becak ini, yang tidak tahu akan ayat itu, dapat menjalaninya.
Aku juga kagum akan rasa solidaritas yang ada dalam diri mereka. Dalam kemiskinan mereka masih berani untuk berbagi dengan sesamanya. Aku sering juga datang ke komunitas yang kaya maupun menengah. Beberapa kali aku datang dalam pembentukan koperasi atau apapun namanya. Namun baru kali ini ada solidaritas yang sungguh. Dalam koperasi yang mendasarkan tata aturannya pada solidaritas, ternyata tidak sampai berpikir seperti ini. Begitu pula ada perkumpulan kaum yang lebih mapan, tidak pernah ada keputusan bahwa kalau ada anggota yang sakit maka semua anggota urunan untuk membantu. Solidaritas yang sesungguhnya baru kutemukan disini. Pada orang sederhana yang sering dianggap tidak berpendidikan dan cap buruk yang lain.
Gereja awali dalam Kisah Para Rasul digambarkan sebagai komunitas yang solider. Mereka bahkan menghapuskan milik pribadi. Tidak lagi ada milikku, sebab semua sudah menjadi milik bersama. Akibat perkembangan dan kekayaan akhirnya semangat itu hilang. Bukan memudar, sebab sudah tidak ada sisanya. Anggota Gereja saling memupuk kekayaan dan tidak ada lagi semangat untuk berbagi penuh dengan sesamanya. Bahkan lembaga-lembaga Gereja pun sama saja. Tidak pernah terdengar bahwa sebuah paroki yang kaya mau berbagi penuh dengan paroki yang miskin. Bahwa kekayaan mereka adalah kekayaan bersama. Sebaliknya ada kecenderungan untuk saling menyembunyikan kekayaannya masing-masing. Mereka lebih senang menumpuk kekayaan daripada menghidupkan semangat Gereja awali. Ternyata semangat Gereja awali aku temukan di tengah pengemudi becak yang miskin. Apakah Gereja harus miskin dulu baru mampu solider seperti Gereja awali?
Dalam pertemuan dengan pengemudi becak itu aku dapat belajar banyak sekali. Semula aku datang untuk menawarkan ide-ideku, ternyata disini aku harus belajar kembali dari mereka. Memperbaharui diri dan meniru semangat mereka yang sederhana dan rela berbagi. Terkadang banyak orang cerdik pandai dan mapan datang ke kelompok orang sederhana dengan membawa ide-ide mereka. Mereka menawarkan bahkan tidak jarang menjejalkan ide mereka. Seolah-olah ide merekalah yang benar dan dapat dijalankan. Dari pengalaman dengan para pengemudi becak ternyata ada ide dan budaya yang baik dalam orang yang dianggap miskin dan tidak berdaya.
Kemiskinan belum tentu membuat orang semakin mementingkan diri sendiri. Aku melihat bahwa sering kali semakin kaya seseorang semakin dia tidak peduli pada sesamanya. Semakin berat untuk berbagi. Dulu aku pernah bersama beberapa orang ingin membuat sebuah perusahaan lilin untuk anak jalanan. Kami berhitung segala dana yang harus dikeluarkan dan prediksi keuntungan yang dapat kami peroleh. Dari gambaran keuntungan itu kami mulai membagi-bagi. Porsi terbesar untuk anak-anak miskin. Setelah berhitung dengan cermat, seorang teman mengatakan bahwa apa yang tertulis ini memungkinkan sebab masih di atas kertas. Tapi apakah jika sudah berujud uang kita tidak berpikir ulang? Pertanyaan itu seolah membangunkan kami dari impian. Seorang teman lain yang juga seorang pengusaha mengatakan bahwa memang ketika mengawali sebuah usaha biasanya ada ide yang kuat untuk saling berbagi. Tapi setelah usaha ini berjalan dengan baik, maka mulai timbul pertengkaran disebabkan pembagian hasil yang tidak merata atau dianggap kurang oleh pihak lain. Di atas kertas lain dengan ketika uang itu sudah tampak di depan mata. Apakah para pengemudi becak itu tidak mempunyai uang yang cukup sehingga mereka masih rela berbagi? Apakah ketika mereka mempunyai uang yang cukup banyak juga masih berani berbagi?
Hal lain yang aku pelajari selama duduk bersama dengan para pengemudi becak adalah rasa keakraban yang kuat. Mereka berbicara spontan. Gurauan mereka begitu bebas. Tidak ada basa basi atau sopan santun yang semu. Aku dapat menikmati bergurau dengan mereka. Mereka tampak suka cita meski situasi hidup mereka sangat memprihatinkan. Adanya kegembiraan dalam situasi pahit membuat orang tetap bersemangat. Banyak orang sudah kehilangan kegembiraannya. Mereka tenggelam dalam aneka masalah yang dihadapinya. Aku yakin para pengemudi becak mempunyai aneka masalah yang rumit. Namun sikap gembira inilah yang membuat mereka mampu bertahan dalam situasi hidup yang sangat tidak berpihak.
Dengan demikian sebetulnya para pengemudi becak ini tanpa sadar sudah berusaha membangun komunitas mirip Gereja awali. Komunitas yang berani berbagi, solider, dan pen534suka cita. Pertengkaran dan perbedaan pendapat pasti ada dalam. Tidak mungkin mereka bisa terus menerus rukun dan damai. Dalam Gereja awali pun ada pertengkaran. Paulus beberapa kali mengecam Petrus dan teman-temannya. Tapi mereka tetap berusaha dengan penuh semangat untuk membangun komunitas yang rukun, solider dan suka cita. Para pengemudi becak pun berusaha membangun komunitas seperti itu. Dari sini aku banyak bercermin. Komunitas-komunitas dalam Gereja tidak jarang saling sodok dan tegang. Dalam pertemuan lingkungan sering terasa kering dan kaku. Tidak ada suka cita. Sebaliknya timbul gosip dan kritik yang tidak membangun. Mengapa para pengemudi becak ini lebih mampu melaksanakan semangat Gereja awali daripada Gereja sendiri? Inilah yang perlu dijawab dan dicari penyebabnya.
Sumber: Bagus Pramono
William Carey :
"Usahakan perkara-perkara besar bagi Allah, harapkan perkara-perkara besar dari Allah"
William Fuller :
"Seseorang bisa mati meninggalkan harta lebih dari satu juta doillar, tanpa membawa satu dollarpun dari yang lebih itu"
Jerry Goff :
"Selama mata bocor, kepala tidak akan baik"
David Livingstone :
"Dimanapun, asalkan itu menjadi maju"
F.B. Meyer :
"Anda tidak akan pernah menguji sumber-sumber Allah sebelum anda mengusahakan sesuatu yang mustahil".
Wayne Meyers :
"Anda memberi karena anda tidak bisa menolongnya, anda menerima karena anda tidak bisa menghentikannya"
"Ia yang hidupnya memberi tidak akan pernah kekurangan perkara yang baik"
"Beberapa orang menginginkan apa yang tidak mereka butuhkan dan membutuhkan apa yang tidak mereka inginkan".
"Anda bisa memberi tanpa mengasihi, tetapi anda tidak bisa mengasihi tanpa memberi"
Oswald J Smith :
"Anda harus pergi atau mengirimkan seorang pengganti"
"Jika kehendak Alla adalah penginjilan dunia, dan anda menolak untuk mendukung misi, maka anda adalah orang yang menentang kehendak Allah"
"Mengapa seseorang harus mendengar Injil dua kalu di hadapan orang yang hanya mendengarnya sekali?"
CT Studd :
"Jika Yesus menjadi Allah dan mati untuk saya, maka ada tidak korban yang bisa menjadi lebih besar bagi saya yang bisa dibuat untuk Dia"
Anonim :
"hanya generasi ini yang bisa menjangkau generasi ini"
"Misi gereja adalah misi-misi"
"Gereja yang tidak melakukan penginjilan akan menjadi fosil"
"Hanya sebagai gereja yang menggenapi kewajiban misionarinya yang selalu memperhatikan keberadaannya"
"Cahaya yang bersinar paling jauh bersinar laping terang di dekat rumahnya"
"Allah hanya bisa mempercayai anda dengan materi asalkan materi itu menjadi immateri (tidak penting) bagi anda"
"Ketika kita peduli, maka hal itu akan selalu terlihat; ketika kita tidak peduli, maka hal itu akan lebih terlihat".
"Allah tidak memanggil yang sudah memadai; Ia memadai orang yang Ia panggil"
"Ia yang berkata bawa ia tidak bisa dan ia mengatakan ia bisa, kedua-duanya benar"
Penulis : Andrias Hans
Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu AKU buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN , sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu (Yeremia 29:7)
Pendahuluan
Kita paham akan latar belakang ayat di atas di mana Nabi Yeremia mengirimkan surat kepada tua-tua di antara orang buangan, kepada para imam, para nabi, dan kepada seluruh rakyat yang telah diangkut ke dalam pembuangan oleh Nebukadnezar raja Babel dari Yerusalem ke Babel (29:1).
Gamblang sekali firman Tuhan memberikan petunjuk kepada umat pilihan saat itu supaya di negeri asing sekali pun mereka harus mengerjakan dua tugas panggilan yang mulia yakni: Menyejahterakan dan berdoa bagi kota atau tempat di mana mereka eksis dan mereka tidak diperkenankan untuk bersungut-sungut.
Dua tugas ini sangat relevan dengan eksistensi umat percaya Indonesia walaupun kita bukan orang buangan di negeri asing. Indonesia adalah tanah kelahiran kita sendiri karena itu kita diminta oleh Tuhan untuk peduli terhadap berbagai situasi dan kondisi yang terjadi di tengah-tengah bangsa kita. Dan kepedulian terhadap bangsa kita merupakan perjuangan yang tak pernah usai karena terus menerus diperjuangkan oleh generasi demi generasi kristiani yang lahir di persada nusantara tercinta ini. Jelas sekali bahwa kita tidak bisa bermasa bodoh, kita harus harus peduli terhadap kekinian dan keakanan Indonesia.
Pengantar : Peta umum situasi terkini
Saat ini kita memasuki bukan saja era berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat yang baru (Era reformasi dan demokratisasi di mana semua elemen, eksekutif, legislatif, yudikatif, pers, dan masyarakat menjadi kelinci percobaan yang kalau salah mencobanya semua akan bermuara pada disintegrasi bangsa) namun juga kita sedang melintasi padang gurun yang sangat mengeringkan tenggorokan kita bahkan menghabiskan cairan dalam tubuh (baca: bangsa) kita, karena sekujur tubuh bangsa ini sedang mengalami penyakit multidimensional yang sangat berat dan payah. Sulit diobati karena hampir semua dokter yang mau mengobati juga sakit parah. Juga berpenyakit KKN kronis.
Ekonomi
Sejak tahun 1997 awal sampai detik ini krisis multidimensional yang kita alami tidak ada tanda-tanda akan berakhir , jangankan berakhir, berkurang saja tidak malahan semakin parah saja. Seluruh komponen bangsa ini , kecuali para elite , merasakan betapa pahitnya situasi dan kondisi ini. Para petani di perdesaan dan para buruh di perkotaan sekarang tercekik lehernya, susah bernafas karena beban yang sangat berat untuk hidup dari hari ke sehari. Mencari sesuap nasi bukan hal yang mudah lagi bagi mereka. Anak-anak mereka sakit dan mati karena tidak sanggup membawanya ke Puskesmas atau rumah sakit, karena tidak ada uang sepeserpun di tangan.
Bapak-bapak dan ibu-ibu tani di perdesaan sebagai tiang penopang bangsa ini (Merekalah yang menyediakan makanan kepada seluruh masyarakat bangsa indonesia) semakin sulit untuk hidup (Trubus 386-Januari 2002/XXXIII halaman 41 memberikan catatan bahwa penghasilan seorang petani hanya sebesar Rp. 55.000 - 62.500 per bulan. Ini sebuah potret menyedihkan dari kehidupan petani dan keluarganya yang justru berada jauh di bawah garis kemiskinan). Sementara pemerintah juga tidak berdaya bagaimana mengangkat kesejahteraan ekonomi mereka. Fakta menunjukkan bahwa kebijakan-kebijakan pemerintah nampak mandul bagi peningkatan kesejahteraan rumah tangga petani. Hasil tanaman mereka yang telah menelan biaya produksi tinggi tidak sebanding dengan harga yang diterima (Salah seorang misionaris yang melayani di wilayah Sumsel menyampaikan kepada saya bahwa jemaat yang ia layani saat ini sangat susah sebab harga sayur anjlok sampai ratusan rupiah per kilogram. Padahal biaya produksi yang mereka keluarkan amat begitu tinggi).
Pendidikan
Jangan tanya mengenai pendidikan anak-anak mereka. Menurut data dari Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda (PLSP) tahun 2002, ada satu juta anak yang putus sekolah dasar setiap tahun dan ada 600.000. anak yang belum tertampung di sekolah dasar (Salah seorang misionaris yang melayani di wilayah Sumsel menyampaikan kepada saya bahwa jemaat yang ia layani saat ini sangat susah sebab harga sayur anjlok sampai ratusan rupiah per kilogram. Padahal biaya produksi begitu tinggi). Jangan lupa anak-anak kristiani baik di kota maupun desa berada dalam kategori ini.
Keadaan yang paling menyedihkan dari semua pergumulan bangsa ini adalah
Otak sebagian besar pemimpin, pejabat, konglomerat bangsa ini menurut Kwik Kian Gie (Kwik Kian Gie dalam Pemberantasan korupsi untuk meraih kemandirian, kemakmuran, kesejahteraan, dan keadilan ) sudah tidak waras lagi. Menurutnya pencuatan KKN di Indonesia sudah luar biasa dahsyatnya, dan sudah lama Jelas bahwa KKN yang berawal dari keserakahan materi berkembang menjadi kelainan-kelainan yang sifatnya bukan kebendaan. Pikiran menjadi jungkir balik walaupun pendidikannya tinggi. Itulah sebabnya ada istilah corrupted mind. KKN yang sudah merasuk ke dalam jiwa, mental, moral, akhlak menjelma kebijakan itu, terkadang perumusnya tidak menikmati uang, tetapi kebijakan yang tidak waras itu disebabkan karena keseluruhan jiwanya, cita rasanya, pikirannya sudah sakit. Kesemuanya ini sudah terlepas dari tingkat pendidikannya. Maka orang-orang yang masih waras, yang jiwa dan mindset-nya merumuskan kebijakan yang sangat merugikan orang banyak dan sangat tidak adil. Dalam membela kebijakannya, ilmu pengetahuan dipakai untuk berargumentasi seperti pokrol tanpa alur pikir yang jernih dan tanpa argumentasi, tetapi mengemukakan dalil-dalil yang digebrak-gebrakkan di atas meja diskusi. Gambaran yang terdistorsi ini dimuat di media massa, sehingga mayoritas masyarakat ikut bengkok persepsi dan pengetahuannya tentang hal ikhwal masyarakat, negara dan bangsa yang begitu besar pengaruhnya terhadap
Moralitas
Kondisi yang amat berbahaya yang mungkin tidak disadari oleh setiap anak bangsa Indonesia adalah pengrusakkan moralitas dan etika manusia Indonesia melalui narkoba, perjudian, seks bebas, dan pornografi dalam segala bentuk dan cara penyajiannya. Media massa , cetak, dan elektronik dengan gencar menyuarakan keadilan dan kebenaran tetapi pada saat yang sama mereka juga sedang mempromosikan tayangan-tayangan yang amoralistik yang memuakkan. Tayangan-tayangan hiburan ,lagu-lagu, acara, quis, film, sinetron kental dengan nuansa perselingkuhan, perceraian, hedonisme, erotik, semi telanjang, dan tidak merangsang nilai-nilai kepatutan dan kebenaran hidup sebagai manusia mulia. Berbau mistis, sadis, pembalasan dendam, perampokan, dan pembunuhan. Inilah yang ditampilkan hampir setiap hari di depan mata kita. Tidak heran kini lahir banyak pemerkosa pemula cilik sebagai akibat menyaksikan tontonan-tontonan gratis ini.
Tetapi ironisnya pemerintah tidak sepenuh hati menghalau semua ini bahkan terkesan kuat cenderung membiarkan bahkan mengizinkannya. Sementara di lain pihak upaya-upaya pembangunan sarana-sarana pembentukan karakter mental, moral, etika, dan spiritual yang sangat dibutuhkan anak bangsa ini dirasakan sangat dipersulit (Misalnya izin pembangunan rumah ibadah kristiani terlalu banyak lingkaran proseduralnya dibanding dengan meminta izin mendirikan usaha-usaha yang bernuansa demoralisasi (night club, tempat perjudian , dls). Banyak tempat di Indonesia di mana judi sudah dilegalkan dengan alasan sulit untuk mencegahnya). Pendek kata dalam bidang moral bangsa kita sang jawara. Lihat saja kita termasuk rangking dua dunia dalam cyber crime di dunia ini.
Kini bangsa Indonesia menoreh satu prestasi besar karena telah memiliki universitas terbuka gratis yang tersebar di seluruh propinsi sampai ke desa-desa terpencil yakni sekolah demoralisasi anak bangsa Indonesia. Tayangan-tayangan TV kini sebagaian besar memberikan kurikulum yang mendukung secara langsung atau tidak langsung terhadap pemikiran dan sikap hidup yang anti etika, amoral, dan anti hal-hal rohani. Ini telah terbula lebar kepada semua masyarakat tanpa ada filter lagi. Tidak mengherankan saat ini pelaku free sex adalah anak SD dan SMP. Jangan ditanya anak SMU dan mahasiwa. Betapa mengerikan kondisi moral bangsa kita saat ini.
Politik
Di sisi lain kita dapat menyoroti situasi sosial dan politik terkini di mana sebentar lagi kita berhadapan muka dengan dinamika Pemilu dengan sistim yang baru. Kini terasa sekali para elite partai politik dengan segala upaya (lebih banyak menggunakan cara-cara haram) mau memenangkan pemilu. Serangan fajar (Membagi-bagikan uang kepada rakyat pada saat mereka menuju ke lokasi tempat pemungutan suara, besok Senin 5 April 2004) salah satu cara yang masih pas untuk dilakukan. Bahkan besar kemungkinannya mereka akan menyuap petugas-petugas di TPS-TPS dengan apa saja yang diperlukan. Para elite politik yang berkuasa saat ini terus mencari peluang-peluang mendapatkan dana di mana saja yang bisa dimasuki, apakah itu di lembaga-lembaga swasta atau pun di lembaga pemerintahan (BUMN terutama). Di sini nafsu korupsi, kolusi, dan nepotisme meningkat dengan tajam, dan sulit dibendung.
Krisis multidimensional yang sangat dirasakan sebagian rakyat Indonesia saat ini menjadi lahan subur bagi money politic. Para elite partai saat ini sudah bergerak ke sasaran untuk mengurung rakyat miskin yang merupakan bagian terbesar rakyat Indonesia. Rakyat pun dengan lapang dada menyambut kedatangan kaki tangan partai.
Sistim pemilihan Presiden dan wakilnya secara langsung bukan jaminan mutu kita memiliki pemilu yang demokratis. Tindak kekerasan dan anarkisme akan sulit dihindari dalam pemilu kali ini sebab merupakan pengalaman baru bagi bangsa Indonesia. Ini harus kita cermati dan waspadai dengan cara memberikan pendidikan politik yang benar mulai saat ini.
Bagaimana posisi tawar umat Kristen dalam bidang politik? Kata yang paling tepat dipakai adalah parah! Kenapa demikian? Pengalaman menyatakannya bahwa beberapa waktu lalu ada belasan partai bernuansa Kristen dan masing-masing ketua umum partai, ingin menjadi RI 1. Masing-masing sudah punya kavling suara berdasarkan kandangnya masing-masing. Pertanyaannya, berapakah jumlah suara umat kristen (tambah Katolik) di seluruh Indonesia ? sepuluh jutakah, dua puluh jutakah? Kalau dibagi belasan partai, berapakah jumlah kursi yang akan diperoleh masing-masing partai Kristen? Nonsense! Kecuali terjadi mujizat, seluruh partai kristen yang ada boleh memenuhi doa Tuhan Yesus dalam Yohanes 17:21 yaitu : Ut Omnes Unum Sint ! partai-partai Kristen itu babak belur sebelum maupun sesudah diverifikasi KPU. Dan hanya satu yang muncul. Puji Tuhan. Namun saya cukup beralasan untuk pesimis terhadap keberhasilan partai Kristen dalam pemilu 2004? Meskipun saya tidak menentang adanya partai Kristen. Karena di dalam tubuh partai ini tidak sedikit juga yang memiliki motivasi, cara, dan tujuan berpolitik yang tidak jauh berbeda bahkan sama dengan para politisi duniawi yang sempit. Saya menduga kuat, alhasil dalam pemilu besok, Senin 5 April 2004 kita KO, dan mungkin babak belur (mudah-mudahan tidak jadi abu). Doa saya agar umat Kristen mau belajar dari ketidakbersamaan dan ketidakkebersatuan kita selama ini. Tuhan Yesus sedih melihat keterceraiberaian kita di dunia ini dalam hampir semua lini kehidupan kita. Ingat! doa Tuhan Yesus supaya kita bersatu, itu pertanda bahwa memang kelemahan utama kita adalah tidak bersatu dalam segala hal.
Saudara, inilah potret wajah bangsa kita kekinian yang sangat amat mengenaskan sekali. Tentu situasi dan kondisi ini memberikan pengaruh bagi kehidupan anak-anak Tuhan di tanah air tercinta ini.
Pengaruh bagi kekristenan Indonesia. Mengantisipasinya?
Sejarah mengajarkan kepada kita bahwa kekristenan tidak pernah hidup dalam ruang hampa yang steril dari bobroknya dunia ini. Dari semula kekristenan lahir dalam dunia yang begitu jahat dan untuk itulah kekristenan eksis.
Dorothy Sayers pernah berkata bahwa Allah telah mengambil resiko ilahi ketika memutuskan untuk menetapkan gereja untuk menjadinilai-nilai humanisme (manusia adalah fokus dari segalanya), pragmatisme (menghalalkan segala cara), relativisme (sirnanya standar kebenaran Tuhan yang mutlak), dan hedonisme (tujuan akhir hidup manusia yaitu makan, minum, bersenang-senang tanpa tanggung jawab moral apa pun). Gereja Tuhan seakan-akan lumpuh, tidak lagi berfungsi sesuai naturnya sebagai garam dunia. Sebagai representasi Allah, gereja malah semakin terisolasi dari dunia riil, dan memilih untuk hidup nyaman dalam tempurung rohani kita masing-masing.
Ini merupakan pengaruh buruk bagi kekristenan yang setiap saat siap menerkam kita.
Pengaruh yang signifikan bagi kekristenan di Indonesia sehubungan dengan kondisi global dan kondisi spesifik Indonesia kekinian mencakup masalahinner circlenya bahkan rakyat kecil menjadi sapi perah yang terus menerus dieksploitasi sampai kering kerontang payudaranya), akrobat hukum dan keadilan, moralitas manusia yang kacau balau. sangat mempengaruhi kehidupan siapa saja tanpa mengenal wilayah agama, suku, profesi, dan latar belakang apa pun. Pengaruh terhadap kekristenan adalah semakin banyaknya anak-anak Tuhan yang jatuh miskin. Kemiskinan yang saya maksudkan adalah kemiskinan dalam arti luas (miskin ekonomi [Menurut laporan , rakyat miskin di Indonesia sekitar 40 juta orang , saya yakin angka ini akan terus naik seiring lamanya krisis multidimensional yang terjadi], pendidikan, kesehatan, informasi dan komunikasi, dan miskin partisipasi baik di tengah masyarakat maupun dalam pemerintahan, dan yang parah miskin moralitas dan etika).
Pengaruh yang sangat berbahaya bagi kekristenan saat ini jika tidak diantisipasi dengan hati-hati dan cerdas adalah semakin banyak orang kristen yang akan terbawa arus dalam gaya hidup korup di segala bidang kehidupan. Kita hidup dalam budaya yang sangat korup , bukan mustahil kita akan berperilaku sama dengan mayoritas yang korup itu.
Mari kita cermati apa yang dikatakan Kwik Kian Gie terhadap orang Kristen. Dalam kondisi dan timing yang dianggapnya cocok, mereka menggunakan agama sebagai tameng. Mereka mendadak dan memberikan kesaksian. Demikian meyakinkannya, sehingga sulit dibayangkan bahwa mereka sedang berbohong kepada Tuhan. Pada tahapan yang sudah seperti emosinya, sehingga dia sudah menderita penyakit jiwa yang dinamakan make believe. Mereka berfantasi, dan lambat laun percaya bahwa fantasinya adalah asalkan tetap ke gereja dan semakin fanatik, semakin boleh melakukan apa saja. Kita menyaksikan demikian banyaknya konglomerat jahat yang mendadak menjadi pemeluk agama yang demikian fanatiknya. Maka kita juga mendengar komentar yang sama. Mereka mengatakan bahwa para konglomerat jahat yang begitu religius dan setiap hari Minggu memberikan kesaksian berbohong tujuh kali seminggu. Hari Senin sampai Sabtu berbohong kepada sesama manusia dalam melakukan KKN-nya. Pada hari Minggu di gereja, ketika memberikan kesaksian mereka juga berbohong, tetapi kali ini kepada Tuhan dan dilakukan di rumah Tuhan.
Masih banyak tanggapan buruk dari non kristen terhadap kekristenan di Indonesia. Misalnya apa yang dikatakan oleh Namo Buddhaya : Saudara-saudaraku yang terkasih di dalam Kebenaran sejati, ternyata di dalam Agama Kristen yang satu-satunya jalan keselamatan, juga terdapat penyelewengan, terutama pada kalangan pendeta dan hamba-hamba Tuhannya, jadi tidak berbeda dengan agama-agama lainnya. (Namo Buddhaya mengutip majalah kristen sebagai berikut :Buletin Tiberias, 9 Juli 2000 àIkut merusak perekonomian Indonesia dengan aksi memborong dollar AS. Apakah akar dari segala kejahatan ??! NARWASTU (Oktober 1995) No. 07/Th. 2 Hal : 37 àapalagi panitia tsb dari dulu sampai sekarang tidak pernah membayar kembali biaya perjalanannya. Hal ini sering menjadi perbincangan dikalangan hamba-hamba Tuhan yang sering diundang ke sana. dia memempromosikan pengorbanannya yaitu pernah menjual mobilnya dalam menjadi panitia event KKR besar yang menghabiskan biaya 600 juta rupiah...WOW !!!).
Masalahnya sekarang adalah bagaimana kita dapat hidup aneh di tengah bangsa yang korup ini? Janganlah kamu sesat ; pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik (I Korintus 15:33). Sederhana namun memiliki kebenaran yang mendasar. Meskipun kecil, orang kristen harus memulai dan mendorong serta mempromosikan paradigma dan budaya baru yang menjauh dari tindakan-tindakan korup. Misalnya, mari kita mulai berurusan sesuai aturan yang berlaku tanpa memberikan uang kopi alias sogok. Kalau saja ada sepuluh juta orang kristen bertekad melakukan hal ini maka Indonesia niscaya bersih .
Orang Kristen bukan cuma menghindari pergaulan buruk , lebih jauh dari itu sebagaimana yang dikatakan Oswald Chambers (Pengabdianku Untuk Kemuliaannya , Penerbit : Yayasan Pekabaran Injil Immanuel, Jakarta, 2001, 10 April) bahwa dosa harus dimatikan sepenuhnya dalam diri anda, bukan sekedar dikekang, ditekan atau dilawan, melainkan disalibkan (manusia lama kita telah turut disalibkan , supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa , Roma 6:6).
Di sisi lain kita berada di persimpangan jalan menghadapi tahun-tahun yang semakin sulit ke depan. Ini disebabkan umat kristen umumnya masih terlalu Lugu dan polos melihat kekinian situasi bangsa. Kita enggan belajar membaca tanda-tanda zaman yang kita hidupi ini seperti yang dikatakan Tuhan Yesus dalam Injil (Tariklah pelajaran dari perumpamaan tentang pohon ara. Apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu, bahwa musim panas sudah dekat (Markus 13:28). Juga Tuhan Yesus berkata :&.. rupa langit kamu tahu membedakannya tetapi tanda-tanda zaman tidak (Matius 16:3b) sehingga kita sering kalah langkah dan terkebelakang. Kita bukan menerangi dan menggarami malah sebaliknya diterangi dan digarami oleh situasi (Salah satu contoh, dalam masalah UU Sisdiknas, Sistim Pendidikan Nasional) Melalui kemampuan membaca tanda-tanda zaman ini maka diperlukan komitmen yang kuat untuk memberikan kontribusi kongkrit buat bangsa kita.
Komitmen dan kontribusi kekristenan Indonesia ?
Sebagai anak-anak Tuhan bagaimana kita harus mengambil komitmen dan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap bangsa kita? Tidak ada jalan lain kecuali kembali mendengar dan menjalankan apa kata firman Tuhan. . Supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah &.. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah : Apa yang baik, yang berkenan kepada Allah , dan yang sempurna (Roma 12:1-2). Sebagai anak-anak Tuhan yang hidup di tengah-tengah bangsa yang bobrok ini, kita harus bergantung total kepada pencipta kita dengan cara berpegang teguh pada kebenaran-NYA. Inilah langkah utama dan syarat mutlak yang harus kita kerjakan, tidak bisa ditawar lagi.
Lalu kita mengejawantahkan secara kongkrit kebenaran Firman Tuhan yang berkata : .dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia. Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara dan kasih akan semua orang (II Petrus 1:4-7).
Firman Tuhan ini berkuasa secara negatif menghindarkan kita dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan (Ayat 4) dan secara positif mendorong terciptanya tatanan bangsa yang lebih optimis, produktif , dan kondusif ke depan. Urutannya sangat jelas yaitu : ImanàKebajikanàPengetahuanàPenguasaan diriàKetekunanàKesalehanàKasih terhadap saudara seiman dan semua orang.
Formula ini harus kita pakai untuk menghadapi seluruh pengaruh buruk yang terjadi pada bangsa kita. Tanpa formula ini niscaya kita terjerembab dan mandul fungsi sebagai garam dan terang.
Jadi , perlu sekali komitmen dan kontribusi kita yang sungguh kongkrit terhadap kondisi bangsa yang semrawut ini yaitu :
Pertama, iman kita kepada Tuhan Yesus Kristus harus teguh tak tergoyahkan sebab DIA adalah Allah yang berkuasa atas seluruh teritori yang fenomena dan noumena. Ini dasar utama kita. Tanpa Tuhan Yesus kita tidak dapat berbuat apa-apa (Yohanes 15).
Kedua, orang kristen harus terus menerus melakukan kebajikan (perbuatan yang berkualitas bagi kaum mayoritas) di dalam seluruh aspek bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Tidak kompromi dengan dosa apa pun. Dengan demikian orang-orang di sekitar kita dapat merasakan manfaat yang besar atas kehadiran kita. Sebagai contoh mungkin telah tiba saatnya orang kristen Indonesia harus proaktif mendirikan lembaga-lembaga pemberi penghormatan dan penghargaan moral dan etika (Bandingkan paradigma dan sikap Tuhan Yesus dalam Kisah 10:34-36 , Yohanes 10:16, Markus 9:38-41) kepada siapa saja (buruh, petani, guru, karyawan, siswa, mahasiswa, pengusaha, aparat hukum, wartawan, pejabat, wakil rakyat dls) yang melakukan kebajikan untuk kemajuan bangsa ini tanpa melihat latar belakang apa pun orang itu. Hal ini perlahan-lahan namun pasti akan mentransformasi budaya korup dan budaya hitam lainnya kepada budaya kristiani di sekujur tubuh bangsa ini.
Juga sangat mendesak untuk dilakukan bagaimana umat kristen menggarami dunia seni budaya , dan pers Indonesia. Film-film , sinetron , dan dunia hiburan lainnya harus dirancang dan dicipta dengan nilai-nilai dan kultur kristiani yang dapat dikonsumsi oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia (Harus dengan strategi jitu dengan melepaskan simbol-simbol kristiani tetapi kental dengan nilai-nilai alkitabiah). Saya sedih melihat tidak sedikit artis Indonesia yang bertobat dan dipaksakan menjadi pendeta atau penginjil, padahal mungkin mereka Tuhan tidak panggil menjadi seperti itu. Mereka ini sangat produktif dan efektif kalau tetap pada profesinya sebagai artis dunia entertainment yang berbaju Kristus. Kisah-kisah alkitab tidak kalah menariknya dengan sinetron-sinetron sekarang bahkan lebih tinggi kualitasnya kalau digarap dengan baik dan cerdas oleh artis-artis kristiani indonesia.
Para jurnalis dan perusahaan pers kristiani bukan waktunya lagi malu-malu kucing untuk mengorek dan mengomunikasikan berita serta memberikan pendidikan yang benar kepada masyarakat bangsa ini. Suara kenabian pers kristiani Indonesia harus lebih berani dan unggul di atas rata-rata para jurnalis dan perusahaan pers lainnya tanpa peduli resiko apa pun yang akan diterima. Para jurnalis dan perusahaan pers kristiani Indonesia harus siap sedia menderita aniaya karena kebenaran hakiki (Matius 5:10-12). Dan masih banyak hal dari segala lini kehidupan kristiani yang dapat kita persembahkan bagi bangsa kita Indonesia.
Ketiga, Pengetahuan kita harus terus menerus dipertajam. Gereja dan lembaga-lembaga kristiani dan para pemimpinnya harus mendorong dirinya dan umatnya berpacu dalam meningkatkan keunggulan iptek dan informasi. Karena hanya dengan kualitas pengetahuan dan skill SDI kristiani yang tangguh maka kita dapat berperan dan mengatur jalannya roda bangsa ini. Orang krsiten harus masuk dan menggelar pengaruhnya di segala bidang kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat (politik, sosial, ekonomi, hukum, lingkungan hidup, seni, birokrasi, pendidikan, pers dan lain-lain). Pendek kata segala tempat harus ada orang krsiten di sana.
Keempat, penguasaan diri (self control) kita menyangkut tidak mudah terpancing dengan provokasi apa pun dan menahan hasrat meninggikan bendera keKristenan (Jangan memamerkan kemegahan dalam bentuk apa pun (membangun gedung gereja yang mewah dan megah di mana-mana, ke gereja dengan mobil sehingga menjadi penyebab kemacetan. Kalau bisa satu mobil dengan dua keluarga , hal ini baik untuk menjalin keeratan persekutuan antara keluarga Kristen dalam satu denominasi, juga mengurangi polusi), ini hanya akan semakin menstimulir kecemburuan sosial masyarakat sekitarnya yang berkeyakinan lain.
Kelima, orang-orang Kristen Indonesia harus tekun (tahan banting) menghadapi segala situasi yang terjadi dan tekun dalam kesalehan hidup sehingga dengan konsistensi kita mengikut Kristus dunia akan melihat bahwa kita benar-benar memiliki Tuhan yang hidup, dengan demikian mereka akan memuliakan Allah kita , Yesus Kristus (Bandingkan Daniel 6:26-28: Kemudian raja Darius mengirim surat kepada orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa, dan bahasa yang mendiami seluruh bumi, bunyinya : Bertambah-tambahlah kiranya kesejahteraanmu! Bersama ini kuberikan perintah bahwa di seluruh kerajaan yang kukuasai orang harus takut dan gentar kepada Allahnya Daniel, sebab DIAlah Allah yang hidup, yang kekal untuk selama-lamanya ; pemerintahan-NYA tidak akan binasa dan kekuasaan-NYA tidak akan berakhir. DIA melepaskan dan menolong, dan mengadakan tanda dan mujizat di langit dan di bumi, DIA yang telah melepaskan Daniel dari cengkeraman singa-singa ).
Selanjutnya orang-orang Kristen Indonesia harus selalu tekun dalam mewujudnyatakan kasih terhadap sesama saudara seiman (Galatia 6:10) dan kepada semua orang sesama anak bangsa ini. Kasih terhadap saudara seiman (kota dan desa bahkan pedalaman) akan memperkokoh basis keKristenan di Indonesia. Sedang kasih kepada sesama anak bangsa akan menjadi magnet dahsyat yang sangat kuat menarik mereka masuk ke dalam kerajaan-NYA. Kekuatan kasih yang ada di dalam diri setiap orang Kristen merupakan senjata penakluk yang sangat ampuh terhadap apa saja di depan kita.
Kesimpulannya adalah bahwa komitmen dan kontribusi umat Kristen Indonesia baik secara pribadi maupun secara persekutuan (kolektif sinergis dan jejaring) harus berjalan di bawah koridor tujuh ketangguhan yakni : Tangguh Iman, Tangguh Kebajikan, Tangguh Pengetahuan, Tangguh Penguasaan diri, Tangguh Ketekunan, Tangguh Kesalehan, Tangguh Kasih terhadap saudara seiman dan semua orang. Dengan demikian akan menjadikan umat Kristen Indonesia bukan saja tetap eksis di tanah kelahirannya tetapi juga menjadi kapal yang dipercaya dan diandalkan oleh ratusan juta penumpang menuju pelabuhan akhir yang diidam-idamkan.
Penutup
Sebagai catatan akhir , saya mengajak kita semua terutama kita sebagai generasi penerus gereja-NYA dan bangsa Indonesia, marilah kita berupaya sekuat tenaga, pikiran, daya ,dana, dan apa saja yang ada pada kita untuk menjalankan DWI MANDAT yang dipercayakan Tuhan kepada kita yakni : Mandat Injil dan Mandat Budaya (Matius 28:18-20 dan Kejadian 1:26-28) dalam bingkai tujuh ketangguhan di atas. Dengan demikian kehadiran umat Kristen Indonesia di negerinya sendiri dan dunia sekitarnya akan menjadi suatu kekuatan yang mentransformasi tatanan bangsa dan dunia ini ke dalam kebenaran dan kesejahteraan yang utuh dan pada muaranya membawa hormat dan kemuliaan bagi nama Tuhan kita Yesus Kristus
Oleh: Dr. R.C. Sproul
Ketika kita harus memilih di dalam bidang moral maka nyatalah fungsi hati nurani sangat rumit. Hukum Allah memang tidak berubah untuk selamanya. Namun disamping taat kepada hukum-hukum ini kita juga perlu mengusahakan agar hukum-hukum ini mencapai keharmonisan dalam hati kita. Standar dari organ intern ini disebut "hati nurani". Ada orang melukiskan suar a intern yang samar-samar ini sebagai suara Allah di dalam diri manusia. Di dalam hati nurani manusia, yaitu tempat yang sangat tersembunyi terdapat keberadaan pribadi, karena ini bersifat tersembunyi sehingga kita sangat sulit mengenal fungsinya. Freud telah memasukkan psikologi ke dalam istana ilmiah sehingga manusia mulai menyelidiki alam bawah sadar, menggali lubang-lubang yang paling dalam di dalam pribadi manusia.
Sehingga manusia takut dan kagum waktu menghadapi hati nurani. Apa yang dinyatakan oleh suara intern ini mungkin seperti komentar seorang psikolog sebagai "menemukan neraka." Namun kita harus memandang hati nurani sebagai sesuatu yang bersifat surgawi, sesuatu yang berhubungan dengan Allah dan bukanlah organ yang berasal dari neraka. Mari kita membayangkan tokoh di dalam film karton, p ada waktu ia diperhadapkan untuk memilih dalam bidang moral maka ada malaikat dan setan, yang masing-masing hinggap di kiri kanan bahunya. Keduanya berusaha manarik dia seperti menarik gergaji untuk memperoleh otak manusia yang malang ini. Hati nurani dapat merupakan suara dari surga dan juga dapat berasal dari neraka. Dia mungkin berbohong, juga mungkin mendorong kita mencapai kebenaran. Dua macam hal yang dapat keluar dari satu mulut. Jika bukan melakukan tuduhan maka ia melakukan pengampunan. Slogan Walt Disney yang terkenal: "Biarlah hati nuranimu memimpin engkau" sangat populer.
Namun ini paling banyak hanya bisa dipandang sebagai teologi untuk anak kecil. Sedangkan terhadap orang Kristen hati nurani bukanlah pengadilan tertinggi untuk memutuskan kelakukan yang benar. Hati nurani sangat pent ing tetapi tidak cukup sebagai standar, dia selalu berkemungkinan untuk menjadi bengkok dan salah memimpin. Di dalam Perjanjian Baru 31 kali menyebut tentang hati nurani sepenuhnya menyatakan kemungkinan terjadi perubahan hati nurani. Hati nurani juga mungkin telah digerogoti menjadi keropos atau karena kerap kali berdosa sehingga kebal. Yeremia melukiskan orang Israel dengan istilah "bermuka pelacur." Ini disebabkan orang Israel terus menerus berdosa sehingga kehilangan perasaan malu di dalam hatinya. Mereka menegarkan tengkuk, membekukan hati, sehingga hati nurani mereka tidak berfungsi lagi. Demikian juga orang-orang yang anti masyarakat mungkin setelah membunuh manusia tetap tidak merasa menyesal dan hilanglah fungsi teguran hati nurani yang normal.
Meskipun hati nurani bukan hakim tertinggi di dalam prinsip moral, namun melakukan sesuatu yang melanggar hati nurani tetap suatu hal yang berbahaya. Ingatlah pada waktu Martin Luther di dalam sidang Worms menghadapi tekanan moral yang luar biasa besarnya dan gentar di tengah kepahitan yang optimal itu. Ada orang menganjurkan untuk menyerahkan iman, maka di antara jawabannya terdapat, "Hati nuraniku telah ditawan oleh Firman Allah." Melakukan sesuatu yang melanggar hati nurani adalah tidak benar dan merupakan hal yang tidak aman dan berbahaya sekali. Begitu hidup Luther melukiskan dinamika emosi semacam ini pada waktu ia mempergunakan istilah "ditawan." Hati nurani dapat bekerja secara penuh di dalam diri manusia. Pada saat manusia dipegang oleh suara hati nurani sehingga menghasilkan kekuatan maka dengan sendirinya timbul keberanian yang luarbiasa. Hati nurani yang ditawan oleh Firman Allah adalah hati nurani yang anggun dan berdinamika. "Bertindak melanggar hati nurani adalah tidak benar dan bahaya." Benarkah kalimat Luther ini? Kita harus berhati-hati menjelajahinya sehingga dapat mencegah langkah-langkah yang dapat melukai jari kaki kita yang berjalan di tepi pisau cukur kriteria moral ini. Jikalau hati nurani mungkin disalahtafsirkan atau salah arah mengapa kita harus tidak berani bertindak melanggarnya? Apakah kita harus masuk ke dalam dosa karena mengikuti hati nurani? Kita berada di tengah-tengah kedua bahaya ini sehingga bergerak, maju maupun mundur. Jikalau kita dikatakan berdosa menurut hati nurani, perlu diingat meskipun sudah bertobat hati nurani tetap memerlukan Firman Tuhan untuk memberikan pimpinan yang benar. Namun jikalau kita bertindak melanggar hati nurani kita tetap telah melakukan dosa. Dosa ini mungkin tidak tergantung apa yang sudah kita perbuat tetapi tergantung fakta bahwa kita yang sudah mengetahui dengan jelas sesuatu yang jahat tetap terjun ke dalamnya, ini menyangkut prinsip Alkitab yang menyatakann "segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman adalah dosa." Misalnya (sekal i lagi misalnya) ada orang diajar dan percaya bahwa memakai lipstick adalah berdosa tetapi ia tetap memakainya maka orang ini sudah berbuat dosa. Sebenarnya dosa bukan tergantung pada lipstick itu tetapi tergantung pada usahanya untuk melanggar perintah Allah.
Penguasaan terhadap hati nurani merupakan semacam kekuatan dengan daya pemusnahan di dalam gereja. Orang legalis selalu menitikberatkan penguasaan dosa, sedangkan orang antilegalis selalu secara diam-diam menyangkal dosa. Hati nurani adalah semacam alat yang rumit yang harus kita hargai. Jikalau seseorang mau mempengaruhi hati nurani orang lain maka ia menghadapi tugas berat, ia harus memelihara kepribadian orang lain menjadi sempurna seperti pada saat diciptakan Allah. J ikalau kita mempersalahkan orang lain dengan penghakiman yang bersifat memaksa dan tidak benar maka kita mengakibatkan tetangga kita terikat kaki tangannya berarti kita memberikan rantai kepada mereka yang sudah dibebaskan Allah. Tetapi jikalau kita secara paksa mengakibatkan orang berdosa, menganggap diri tidak bersalah maka kita akan mendorong mereka lebih terjerumus ke dalam dosa. Dan akan menerima hukum Allah yang seharusnya dapat dihindarkan.
Children of Light - Serving with LOVE through FAITH Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia Kol 3:23 Karena bagiku hidup adalah Kristus & mati adalah keuntungan Fil 1:21
Penulis : Jonathan K. Tunggal dan Surance Tunggal
Beberapa waktu yang lalu penulis dan istri singgah di sebuah kedai dan mulai membaca sebuah majalah yang disediakan oleh kedai tersebut. Di dalamnya ada sebuah artikel sekuler yang membahas tentang pertumbuhan internet di Indonesia; melaluinya kami sedikit belajar mengenai berbagai problema, tantangan dan prospek dari sesuatu yang masih tergolong dalam pertumbuhan awal ini. Tanpa disadari kami mulai berdiskusi, bahkan berdebat mengenai potensi dan dampak internet bagi kemuliaan-Nya. Percakapan ini membawa kami kepada sesuatu pemikiran yang hendak kami bagikan bagi sesama umat percaya.
Diperkirakan oleh APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia)1 bahwa di akhir 2004, jumlah pengguna internet (internet users) di Indonesia akan berkisar di sekitar 12 juta orang. Bilamana 10% dari jumlah ini adalah umat Kristen (Christian Internet Users), maka ada 1,2 juta pengguna internet kristiani. Dan, bilamana hanya ada 10% dari jumlah ini yang gemar mengunjungi situs-situs kristiani, maka akan ada sekitar 120,000 orang di Indonesia yang mengunjungi situs-situs kristiani secara aktif (cat.: Perhitungan ini adalah prakiraan kasar).
Salah satu pertanyaan yang timbul adalah sampai berapa jauh dampak sarana internet di dalam membantu pertumbuhan rohani umat Kristen di Indonesia? Jawaban pertanyaan ini dapat ditarik dari renungan berikut :
Prakiraan kasar memperkirakan ada hanya sekitar 120,000 orang yang sudah terjangkau melalui sarana-sarana kristiani. Jadi, dampak dari sarana internet adalah masih sungguh amat kecil secara kwantitas. Tetapi, bukankah ini juga berarti bahwa lahan pelayanan bagi umat Kristen Indonesia melalui sarana internet masih sungguh teramat luas? Malah, boleh dibayangkan ini adalah sesuatu yang maha besar. 12 juta pengguna internet di Indonesia (2004) adalah lebih besar daripada penduduk Jakarta. Ini bukan hanya sesuatu komunitas kecil. Tetapi, apakah target kita hanya untuk mencapai 12 juta ini? Bukankah 220 juta, bahkan 6.5 milyar orang adalah sesuatu sasaran yang lebih tepat?
Dapat disimpulkan tidak diperlukan “persaingan” (competition) di antara situs-situs Kristen, malah dibutuhkan bahu-membahu antara kita sekalian.
Kita harus siap untuk penuaian yang besar. Internet dan sarana-sarana media yang lain (lisan, cetak, tv, radio, sms, telephony, audio/video streaming dll.) masih dan akan terus berkembang dengan pesat di Indonesia. Pengguna internet di Indonesia berjumlah 4,5 juta di tahun 2002, 8 juta di 2003 dan diperkirakan 12 juta di 2004. Media tumbuh; apakah umat Kristen siap menuai berkat yang akan diberikan Tuhan melalui ini?
Adalah sesuatu yang tidak mungkin untuk mencapai 220 juta orang dengan hanya melalui sarana internet. Akan dibutuhkan kerja sama dengan cetak, tv, radio dll. Internet hanya salah satu wadah yang akan dipakai. Diperlukan kerendahan hati dan penandasan bahwa sarana-sarana media inipun bukanlah segala-galanya; Roh Kudus sendiri dapat menjangkau setiap jiwa yang haus pada-Nya. Tetapi, kita perlu menyadari akan potensi dari media untuk mengisi setiap hati yang mencari dan rindu kepada-Nya.
Perlu disadari bahwa penggunaan sarana internet atau sarana media apapun bukan sekedar menciptakan suatu situs/fitur dengan tekhnologi yang paling mutakhir. Tujuan kita bukan hiburan (Entertainment). Kita di sini hanyalah untuk melakukan kehendak-Nya dan menyenangkan hati-Nya. Jadi, semua fitur, baik mutakhir atau tidak, hanyalah untuk kepentingan Tuhan.
Ada begitu banyak yang perlu dilakukan. Kita semua membutuhkan hikmat dari-Nya sebagai Kepala dari Tubuh Kristus. Organisasi, asosiasi, group dan perkumpulan internet dalam bentuk apapun akan menjadi sia-sia bilamana setiap webmaster atau pengawas tidak mendapatkan inspirasi langsung dari Roh Kudus dan tidak taat akan perintahNya dalam arah, visi dan misi dari sebuah situs/portal.
Peringatan: Tidak perlu 'menyontek' misi dari situs lain. Setiap dari situs/portal mempunyai fungsi masing-masing. Tentunya, sering kali ada hal-hal yang kelihatannya sama. Ini sangat normal; ada 2 tangan di setiap tubuh. Tetapi, sungguh amat penting untuk berdoa, berdoa dan berdoalah supaya Hikmat-Nya yang tak terhingga akan memberi arahan, inspirasi bahkan urapan untuk mencipta ('guidance, inspiration and anointing to create') kepada kita masing-masing.
Sasaran dari pelayanan internet bukanlah sebagai pengganti waktu dari renungan atau waktu teduh. Hubungan pribadi kita dengan Yesus Kristus adalah yang terpenting
Internet adalah suatu bejana untuk membantu setiap umat Kristen Indonesia untuk melakukan kehendak Bapa dan menyenangkan hati Yesus. Kami percaya bahwa ini adalah tujuan dari Kasih Kekal www.kasihkekal.org dan juga, setiap situs-situs Kristiani lain.
Tuhan menyertai dan memberkati. SOLI DEO GLORIA.
Sumber: Statistik Internet: APJII
Penulis : Bagus Pramono
Yohanes 3:16
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
Agama Yahudi adalah akar dari Kekristenan, tetapi kita semua tahu bahwa Agama Yahudi eksklusif bagi bangsa Yahudi demikian juga bangsa Yahudi adalah bangsa yang bersikap eksklusif karena mereka adalah The Chosen People. Tuhan adalah yang mempunyai alam semesta sehingga bangsa-bangsa lainpun kemudian diizinkan mempeloleh keselamatan dariNya melalui Yesus Kristus. Kita telah melihat karya agungNya bahwa penyembahan dan ibadah kita di bumi sekarang seperti penyembahan di surga dimana orang-orang dari banyak bangsa, suku dan bahasa menyanyi kepada Yesus dihadapan Tahta Allah.
Wahyu 7, 9-10 :
Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka. Dan dengan suara nyaring mereka berseru: "Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!"
INJIL DAN SEJARAH:
Tokoh sejarah Iskandar Agung (356-323 SM) dari Makedonia, atau Alexander the Great, atau di kalangan muslim dan melayu sebagian menyebutnya dengan nama Iskandar Zulkarnain. Adalah salah satu tokoh terhebat yang pernah hidup, tetapi mati muda, telah menaklukkan tiga benua, Eropa, Afrika dan Asia. Di Afrika, Alexander menaklukkan Mesir sehingga menubuhkan kota Alexandria atau dalam bahasa Arabnya, Iskandariah. Di benua Asia, dia menaklukkan Iran sampai ke India. Pada tahun 332SM Alexander datang ke Yerusalem. Terhadap semua daerah jajahannya Alexander mempersatukannya dengan membuat Koine Dialek, (Istilah koine itu berarti umum); jadi Koine Yunani berarti bahasa Yunani yang berlaku untuk umum untuk masyarakat luas. Sebelum Alexander berkuasa, bahasa Yunani merupakan campuran dari sejumlah dialek atau bahasa daerah. Ketika Alexander berkuasa, ia berupaya agar bahasa Yunani itu menjadi bahasa yang digunakan untuk umum atau masyarakat luas. Pada masa penjajahannya Alexander juga membangun infrastruktur dengan pembangunan jalan-jalan yang menghubungkan daerah satu dengan yang lain pada wilayah jajahannya, dan kemudian ratusan tahun kemudian memberikan kemudahan bagi para Rasul untuk memulai mengabarkan Injil, tentu saja kita boleh memandang hal ini sebagai kemudahan karena Para Rasul tidak perlu "babat alas", dan dengan mudah melalui jalan-jalan yang sebelumnya telah dirintis mulai dari masa pemerintahan Alexander Agung itu.
Mengapa Alexander begitu hebat, perlu diingat bahwa dia adalah anak didik dari seorang Filsuf dan Ilmuwan terkemuka Yunani yaitu Aristoteles (384-322 SM). Bisa diartikan pikiran yang ada di otak Alexander adalah buah pikir dari Aristoteles. Tuhan memberi hikmah kepada mereka untuk menciptakan, mengeksplorasi dan menyebarkan Ilmu-ilmu, Budaya, Seni, Olah raga, Tata Bahasa, Kesusastraan, dan lain-lain. Dari situ kita bisa menangkap sebuah maksud, mengapa Allah mengizinkan bangsa-bangsa kafir menjajah umat pilihan Allah itu, atau dalam pemikiran yang lebih sederhana, kita bisa melihat bahwa hal tersebut mungkin diijinkan Allah untuk mempersiapkan kedatangan Kristus ke dunia, hingga demikianlah jalannya. Taurat yang sifatnya eksklusif itu akan sulit untuk ditransferkan ke bangsa lain selain Yahudi. Perlu sebuah bahasa diluar bahasa orang Yahudi untuk mengabarkan Injil Yesus.
Pemahaman diatas memberikan kita satu jawaban mengapa Perjanjian Baru dalam Alkitab kita yang asli adalah ditulis dalam bahasa Yunani. Banyak kalangan non-Kristen mempertanyakan hal ini, mengapa Injil tidak ditulis dalam bahasa Ibrani atau bahasa Aram, bahasa sehari-harinya Yesus?. Pada waktu itu bahasa Yunani adalah bahasa pergaulan, terutama di kalangan kaum terpelajar, sering digunakan oleh orang Yahudi pendatang sebagai bahasa pergaulan di Timur Dekat; pada umumnya Yahudi pendatang berbahasa Yunani ini mengunjungi Yerusalem untuk perdagangan dan berziarah ke Bait Allah. Pada masa itu pula naskah-naskah Perjanjian Lama berbahasa Ibrani (Tanakh Ibrani) diterjemahkan kedalam bahasa Yunani yang dikenal dengan Septuagi2nta. Selanjutnya dengan datangnya Bangsa Romawi pada tahun 63SM tambah lagi satu bahasa di wilayah itu yaitu bahasa Latin.
Pada masa Perjanjian Baru ditulis, koine Yunani sudah menjadi bahasa yang digunakan secara luas oleh bangsa Israel. Perjanjian Baru yang tertulis dalam Koine Yunani menandakan bahwa Yesus bukan milik bangsa Yahudi saja. Seiring bertambahnya waktu dan berkembangnya jaman, karya dari para-rasul yang mengemban secara teguh Amanat Agung Yesus Kristus agar berita Injil dapat dinikmati semua bangsa. Bahasa Yunani adalah bahasa yang sangat representatif untuk menyampaikan Firman Allah, salah satu contohnya : ada kata agape, filia, eros dan storge, yang semuanya diterjemahkan dengan kata "love" (Inggris) dan "kasih" (Indonesia). Hanya kata Yunani yang bisa menggambarkan Kasih Allah secara tepat yaitu AGAPE.
Alkitab kemudian diterjemahkan kedalam berbagai macam bahasa termasuk bahasa Indonesia, bahkan bahasa daerah-daerah. Mengapa Alkitab diterjemahkan ke berbagai bahasa?. Karena berita keselamatan itu lebih effektif disampaikan lewat bahasa yang bersangkutan, daripada mereka harus mempelajari bahasa aslinya dulu untuk mengenal Yesus. Tentu, bagi yang ingin mempunyai dan mempelajari Bahasa Asli Alkitab, baik Ibrani maupun Yunani, kesempatan tersebut dapat diperoleh bagi semua orang yang mau. Tetapi INJIL menekankan cakupan universal - bahwa Yesus datang untuk membawa keselamatan bagi semua orang, baik orang Yahudi maupun orang bukan Yahudi (semua bangsa).
YESUS BUKAN HANYA UNTUK DOMBA-DOMBA ISRAEL:
Kekristenan kita ini seringkali mendapat serangan-serangan dengan mencuplik ayat Alkitab sendiri :
Matius 15:24 :
"Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel" Benarkah demikian?, Karena ayat tsb tidak berdiri sendirian, dan untuk memahaminya harus kita baca dan dipelajari pada keseluruhan ayat-ayat dalam satu perikopnya sbb :
Perempuan Kanaan yang percaya (Matius 15:21-28 )
Matius 15:21
Lalu Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon.
Matius 15:22
Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: "Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita."
Matius 15:23
Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: "Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak."
Matius 15:24
Jawab Yesus: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel"
Matius 15:25
Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: "Tuhan, tolonglah aku."
Matius 15:26
Tetapi Yesus menjawab: "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing."
Matius 15:27
Kata perempuan itu: "Benar T2uhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya."
Matius 15:28
Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai Ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh.
Ayat 24 Seringkali diklaim oleh orang-orang di luar Kristus sebagai suatu pernyataan yang rasialis. Padahal justru sebaliknya ada pengajaran yang sangat berharga bisa dipetik dari kisah itu. Yesus kala itu berada didalam lingkungan masyarakat yang memiliki pola pikir bahwa orang-orang Yahudi adalah umat pilihan Allah; sedangkan bangsa lain tidak berhak menerima berkat Allah. Bangsa lain lebih rendah dan sebagainya. Yesus menjawab "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel". Hal ini adalah untuk menguji iman perempuan tersebut dan bahkan lebih jauh lagi Yesus mengucapkan kata-kata yang kedengarannya "kasar" sekali yaitu "anjing". Mengapa Yesus menggunakan kata "anjing" dalam kasus tersebut? Karena memang orang-orang Yahudi menganggap orang-orang Kanaan rendah dan menyebut orang-orang Kanaan "anjing". Dan Yesus "sengaja" mengangkat topik ini.
Satu hal yang kita harus perhatikan dalam kisah ini adalah bahwa Yesus telah menyembuhkan begitu banyak orang tetapi tidak semuanya memiliki IMAN seperti perempuan Kanaan ini, yang justru dari kalangan yang terhina dengan sebutan "anjing". Bukan itu saja perempuan Kanaan tidak merasa tersinggung dan bahkan mempunyai keberanian untuk tetap memohon; ayat 27 Kata perempuan itu: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya."
Perempuan Kanaan itu tetap dengan berani memohon agar anak perempuannya disembuhkan oleh Yesus, luar biasa. Ia mengatakan bahwa ia tidak meminta apa yang diperuntukkan bagi orang Israel tetapi ia hanya meminta yang layak ia dapatkan, yakni remah-remahnya. Di sini kita meliha108agaimana besar imannya, karena ia tidak memaksakan kehendaknya tetapi ia benar-benar memfokuskan permohonnya kepada belas-kasihan dari Yesus. Ia tetap menganggap suatu anugerah walaupun dia hanya mendapatkan remah-remah, sesuatu yang tidak lagi dihargai orang lain.
Pelajaran besar yang diambil dari iman perempuan Kanaan itu bahwa dia tidak goyah ketika Yesus menjawab "tidak patutlah mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.", dia balik menjawab dengan keberanian yang luar biasa "bahwa anjing yang berada di bawah meja itu makan remah-remah roti yang jatuh". Seorang perempuan dari kalangan kafir dan seorang dari warga kelas dua, keprihatinannya terhadap anak perempuannya telah membuat dia berani menembus batas-batas budaya, tradisi dan gender dengan ketabahan dan keberanian. Inilah yang kemudian membuat Tuhan Yesus menjadi kagum.
Dalam kejadian itu, terbukti bahwa pelayanan Yesuspun menembus batas-batas kebiasan eksklusifitas Yahudi, Perempuan Kanaan itupun mendapat belas-kasihan dari Yesus. Perempuan ini telah datang pada alamat yang tepat, dia memiliki sikap yang benar, dan mendapatkan anugerah-Nya yang telah terbukti mendobrak pola pikir rasialis bangsa Yahudi masa itu. Yesus berkata "Hai Ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh. Yesus telah dibuat kagum oleh iman dan kesederhanaan pola pikir dari perempuan Kanaan itu. Pujian semacam ini sangat jarang diucapkan oleh Yesus!
INJIL UNTUK SEMUA BANGSA :
Matius 10:5-6
Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: "Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria2, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.
Ayat juga tersebut sering diklaim oleh kalangan non-Kristen, bahwa Injil hanya diperuntukkan bagi orang-orang Israel saja. Tetapi harus dipahami bahwa hal tersebut adalah merupakan perintah yang sifatnya temporary yang diperuntukkan ketika murid-murid Yesus melaksanakan awal-awal penginjilan. Bahwa Pengabaran Injil mempunyai tahapan-tahapan, mulai dari lingkungannya (orang-orang Yahudi), kemudian orang-orang di Yudea, Samaria, kemudian terus berjalan keluar, menyebar ke bangsa-bangsa lain (Kitab Kisah Para Rasul menuliskan perjalanan mereka mengabarkan Injil Yesus kepada bangsa-bangsa), Hal tersebut sesuai Amanat Agung Yesus Kristus :
Matius 28:19-20
Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."
Terlebih jauh lagi pada Kitab Kisah Para Rasul lebih jelas lagi tahapan-tahapannya bahwa pelayanan dimulai dari Yudea kemudian Samaria bahkan sampai ke ujung bumi.
Kisah Para Rasul 1:7-8
menuliskan, JawabNya: "Engkau 2tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasaNya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."
Yudea dan Samaria adalah langkah yang harus dilewati untuk kemudian sampai ke ujung-ujung bumi. Waktu murid-murid Yesus melangkah ke bangsa-bangsa, tentunya Yudea dan Samaria itu menjadi tanggung-jawab terlebih dahulu. Bagaimana mengukur keberhasilan mereka menjadi berkat bagi bangsa-bangsa adalah sangat tergantung kepada keberhasilan mereka melayani di wilayah Yudea dan Samaria. Kemudian dengan jelas pula kita baca dalam ayat dibawah ini :
Kisah Para Rasul 16:10
Setelah Paulus melihat penglihatan itu, segeralah kami mencari kesempatan untuk berangkat ke Makedonia, karena dari penglihatan itu kami menarik kesimpulan, bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana.
Yesus memerintahkan murid-muridnya untuk keluar dari lingkup Israel dan mengabarkan Injil kepada bangsa-bangsa lain. Rasul Paulus dikenal sebagai Rasul yang banyak melakukan terobosan-terobosan sehingga Injil bisa diterima oleh segala macam lapisan, orang Yahudi, non Yahudi dan bangsa-bangsa lain.
Yesus yang universal, artinya Karya Agung Keselamatan dan berkat Kehidupan Kekal dari Tuhan Yesus Kristus diperuntukkan kepada semua orang dan tidak dapat dibatasi oleh dinding-dinding suatu negara, suku bangsa, ras dan budaya. Untuk itulah Dia datang. Dan semua orang dapat menikmati kasihNya.
Oleh:Bagus Pramono
Kekristenan adalah relasi (hubungan) dan relasi adalah segalanya. Tidak banyak teman-teman dari non-kristiani yang paham bahwa Kristianitas (Christianity) menempatkan RELASI dan bukan ATURAN-ATURAN AGAMA sebagaimana bagian dari ibadah yang paling utama.
Kristianitas meyakini hubungan pribadi melebihi filosofi dan aktifitas keagamaan. Relasi kita dengan Allah yang menciptakan kita adalah segala-galanya. Yesus berkata bahwa "hukum" yang paling utama adalah mengasihi Allah, lalu diikuti mengasihi sesama kita. Tiada lain, Hukumnya adalah relasi! Dan ibadahnya bukanlah ritus-ritus aturan, melainkan relasi kasih diantara makhluk dan Khaliknya. Itulah system dan "aturan"nya yang terutama.
Bukankah aspek kehidupan kita yang paling pokok adalah relasi kita dengan orang-tua kita, teman-teman, calon pasangan kita, suami, istri, anak-anak dst.? Tanpa relasi, kita hanya menemukan kehidupan dan dunia yang hampa. Anggur pesta boleh berlimpah, music boleh menggelegar, bahkan narkoba dan sex bisa berpora-ria. Namun, tanpa relasi, Anda akan ditinggalkan dalam ketandusan dan kehampaan jiwa. Bahkan relasi sesame manusia-pun tidak akan memadai tanpa disertai dengan relasi dengan Pencipta dirinya, Mengapa begitu?
Ya, Alkitab menerangkan kepada kita bahwa akar dari kehampaan adalah karena manusia memalingkan mukanya dari Allah, yang merupakan SUMBER HIDUP YANG SEJATI.
Didalam Allah ada hidup : Amos 5:4b :Carilah Aku, maka kamu akan hidup!
Mazmur Daud berkata, Allah adalah sumber hayat (hidup) :
* Mazmur 36:10 Sebab pada-Mu ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami melihat terang.
Injil berkata didalam Yesus ada hidup:
* Yohanes 1:4 Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.
Yesus berkata :
* Yohanes 6:35 Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.
* Yohanes 11:25 Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati,
Yesus mengumpamakan diriNya :
* Yohanes 15:5-6 15:5 Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. 15:6 Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.
Kehidupan (yang sejati dan kekal) hanya berfungsi ketika kita ber-relasi intim dengan sumber-hidup, yaitu Yesus! yang menyatu dalam Bapa dan RohNya (Yohanes 8:42; 10:30; 15:26; 14:10, dll). Sebaliknya roh-jahat amat takut bila terjadinya pengenalan Allah oleh manusia, dan relasi antara manusia dengan penciptanya. Sebab itu akan berarti pertobatan manusia kepada Khaliknya yangberakibatkan kebangkrutan kerajaan-iblis. Itulah sebabnya roh-jahat memakai tangan-tangan manusia untuk menolak keseluruhan konsep-relasi ini. Ia menolah "Bapa" dan "Anak" dan "Roh Kudus". Keberadaan Anak Allah dianggap sebagai pencemaran kekudusan Allah yang tak mungkin beranak karena Ia tidak munkin ber-istri (padahal sama tidak ada orang Kristiani yang mengimani Allah yang beristri dan beranak). Kemudian keilahian Roh Kudus digeser menjadi hakekatnya seorang makhluk malaikat saja. Dan hubungan langsung dari anak manusia dengan Allahnya dimustahilkan, karena Allah bukan Bapanya siapa-siapa melainkan Dia-lah Dia yang tak terjangkau oleh makhlukNya. Bahkan terhadap Yesuspun didongengkan dalam berbagai versi tentang putusnya hubungan Yesus dengan murid-muridNya, mulai dari menghilangkan Yesus yang tersalib, atau jenazahnya yang dicuri, atau akhirnya pengutusan kenabianNya dialihkan ke negeri Timur entah kemana, dan dialihkan oleh Allah yang mana (lihat Artikel Tanggapan atas kritik terhadap penyaliban Yesus (2). Padalah dimana-mana Yesus selalu menjanjikan penyertaanNya kepada para pengikutNya sampai pada akhir zaman!
* Matius 28:20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."
* Matius 18:20 Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka." Roh-jahat tidak ingin adanya hubungan-kasih dan relasi rohaniah ini. Namun sejak kejatuhan Adam, Allah justru merancang pemulihan hubungan istimewa ini dengan meng-inkarnasikan FirmanNya kedalam dunia menjadi manusia yang digenapi dalam (Yohanes1:1,14). InkarnasiNya ini dimaksudkan agar bisa be-relasi dan berfirman langsung dengan mansuia. Sejak itu, tidak diperlukan lagi peran antara berupa nabi-nabi, atau agen penyampai-wahyu yang lain :
* Ibrani 1:1-3 1:1 Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, 1:2 maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. 1:3 Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi,
Dengan membaca secara seksama ayat-ayat diatas, kita bisa mengerti bahwa Yesuslah yang menjalankan misi dan janji keselamatan Allah, langsung kepada murid-muridNya, dan kini kepada setiap manusia.
Ia berulang-ulang menyerukan relasi langsung : "Ikutlah Aku" (Reff. Matius 4:19 ; 8:22; 9:9; 19:21; Markus 1:17; 2:14; 10:21; Lukas 5:27; 9:59; 18:22; Yohanes 1:43; 21:19; 21:22)
Ia tidak berkata : "Ikutlah Agama Musa" atau "Ikutlah Agama Abraham", atau bahkan "Ikutlah Agama-Ku". Yesus tidak memanggil orang-orang untuk mengikuti sebuah agama, atau sekumpulan kaidah, ibadah atau upacarawi keagamaan yang jelas bukan merupakan sumber dan pusat penyelamatan.
Ia mengundang Anda dan saya untuk datang langsung kepada DiriNya, berelasi dengan PribadiNya yang merupakan sumber-daya dan pelaku penyelamatan secara kepastian!.
* Kepada masing-masing Matius dan Filipus, Yesus berkata : "Ikutlah Aku" (Matius 9:9)
* Kepada Petrus dan Andreas, Ia berkata : "Mari ikutlah Aku" (Matius 4:19)
* Kepada salah satu pengikutNya, Ia berkata : "Ikutlah Aku dan biarlah orang mati menguburkan orang-orang mati mereka" (Matius 8:22)
* Kepada seorang muda yang kaya, Ia berkata : "Datanglah kemari dan ikutlah Aku" (Matius 19:21)
* Kepada Petrus menjelang kenaikanNya ke Surga, Yesus berkata "Tetapi engkau, ikutlah Aku" (Yohanes 21:22).
"Ikutlah Aku" versus "Ikutlah agamaku"
Mengikut Yesus sama sekali bukanlah ikut melangkahkan kaki secara lahiriah. Ketika Yesus mengingatkan Petrus untuk mengikutiNya menjelang kepergianNya ke Surga, itu bukan dimaksudkan agar Petrus mengikuti Dia sekalian ke Surga. Orang-orang yang dipanggil untuk ikut Yesus dimaksudkan agar menyerahkan hidupnya bagi DIRI YESUS yang merupakan pusat keselamatan yang sejati, yaitu 'Akulah jalan dan kebenaran dan hidup' (Yohanes 14:6). Keselamatan dan berkat-berkat Abraham adalah tertanam dalam diriNya, bukan dalam filosofi tentang diriNya. Karena itu ada perbedaan besar antara "Ikutlah Aku" (baca: Ikutlah Yesus, disingkat IA) dan "ikutlah agamaku" (baca: ikut sebuah agama, disingkat IAK). Di dunia ini kita berhadapan dengan 2 mazhab pengikut seperti itu, satu dan lainnya mencari keselamatan dengan cara yang sangat berbeda secara mendasar. Beberapa kesenjangan yang pokok kita ringkaskan disini :
Untuk itu, marilah kita renungkan sejenak kisah seorang criminal yang tersalib disamping Yesus :
* Lukas 23:33-43 23:33 Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak, mereka menyalibkan Yesus di situ dan juga kedua orang penjahat itu, yang seorang di sebelah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiri-Nya. 23:34 Yesus berkata: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya. 23:35 Orang banyak berdiri di situ dan melihat semuanya. Pemimpin-pemimpin mengejek Dia, katanya: "Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah." 23:36 Juga prajurit-prajurit mengolok-olokkan Dia; mereka mengunjukkan anggur asam kepada-Nya 23:37 dan berkata: "Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu!" 23:38 Ada juga tulisan di atas kepala-Nya: "Inilah raja orang Yahudi". 23:39 Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: "Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!" 23:40 Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: "Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? 23:41 Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah." 23:42 Lalu ia berkata: "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja." 23:43 Kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus."
Pada detik-detik terakhir, si penjahat ini meminta Yesus menerima dia sebagai pengikutNya "Yesus, ingatlah akan aku". Maka Yesus serentak menganugerahkan penyelamatan penuh baginya : "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan bersama-sama dengan Aku didalam Firdaus" (Lukas 23:43). Disini tampak betapa Sang Firman seolah-olah kembali menghunjukkan Kalimat-kuasaNya : "Jadilah!". Sama seperti ketika Yesus menyembuhkan orang-orang sakit dalam sekejab, begitu pula Dia memulihkan keberdosaan si penjahat serta menganugerahkan keselamatan yang pasti, penuh dan seketika!. Tidak ada istilah "moga-moga". Tidak juga dengan masa percobaan! Atau ditimbang-timbang besaran "pahalanya".
Sebaliknya, pada konsep "ikutlah agamaku" (IAK), Anda selalu akan bertanya : Apakah ada kemungkinan "keselamatan instant" (yang dapat dipertanggung-jawabkan) pada saat-saat yang teramat kritis ketika seseorang dieksekusi seperti pada contoh si-penjahat diatas?. Apa yang harus dilakukan oleh si penjahat tersalib itu, yang "kasep tapi belum kasep", agar sedikit-sedikitnya dia mendapat kesempatan dan kemungkinan untuk selamat? mendatangkan pertanyaan pada konsep (IAK) apakah "keselamatan-instant" seperti contih si penjahat diatas dimungkinkan? Apa yang harus dilakukan oleh si penjahat tersalib itu agar dia dapat selamat?
Relasi yang tak memerlukan ilmu-agama ini juga ditampakkan ketika Yesus terlihat memarahi murid-muridNya yang mencegah anak-anak kecil untuk menghampiri dan menjamahNya : * Markus 10:14-16 10:14 Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. 10:15 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya." 10:16 Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia memberkati mereka.
Anak-anak kecil tidak mempunyai ilmu, atau mungkin belum cukup ilmu, tetapi mereka mempunyai hati. Mereka belum mandiri "miskin", tak bisa berusaha, tak berdaya, tetapi tergantung sepenuhnya pada Bapak (dependent). Anak-anak kecil adalah kaum yang rendah hati, sederhana, polos, pemaaf, membawa damai, dan hati yang terbuka. Tapi lebih dari semua, mereka percaya total, beriman penuh kepada bapaknya. Mereka adalah pengikut yang paling banyak bagi seruan Sang Bapa "Ikutlah Aku!". Mental dan Alam jiwa demikianlah yang dinyatakan Yesus sebagai Yang Empunya Surga. Mereka tidak mengusahakan keselamatan, namun mereka diselamatkan dan mendapatkan berkatNya! Dan dalam kepolosan kanak-kanaknya mereka bersyukur, melompat-lompat, dan bersorak-sorai memuji Sang Bapa Betapa indahnya!.
"Bapa" adalah total relasi
Di keseluruhan Injil, Tuhan Yesus mengajarkan murid-muridNya untuk memanggil Allah sebagai BAPA dan tidak ada nama panggilan yang lain. Dalam doa kepada Allah, Yesus juga meminta mereka memanggil "Bapa kami" (Matius 6:9-13). Dalam bahasa Aram, Bapa disebut ABBA, suatu sebutan yang amat pribadi, intim, dan penuh dengan kasih dan pengampunan :
* Roma 8:15 Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!"
* Galatia 4:6 Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: "ya Abba, ya Bapa!" bandingkan dengan Markus 14:36
Itulah panggilan/sebutan yang menunjukkan relasi-pribadi dan langsung yang luar biasa dekatnya antara Allah Sang Pencipta dengan manusia ciptaanNya, suatu hal yang asing ada dalam kepercayaan/agama lainnya. Orang-orang lain tidak dapat mengakui Tuhan sebagai Bapanya, karena manusia hanya sebagai hambanya (budak) dari Tu(h)an yang Maha Besar, yaitu Allah.
Namun dalam Injil, terdapat sebutan BAPA sebanyak 186 kali (!) yang ditujukan kepada Allah. Apakah istilah ini dipalsukan sehingga tetap diingkari? Tuduhan itu sangat naïf sekali. Fakta ini sendiri telah menunjukkan betapa pentingnya sosok "Bapa" sebagai total relasi bagi manusia. Sebab dengan sebutan ini kita sekaligus ditempatkan sebagai anak-anak Allah yang dikasihinya, dan bukan budakNya yang tidak berhak atas belas kasihanNya dan warisan Kerajaan Surga, seorang budak hanya menunaikan tugas dan beban.
Ketika Yesus disalib, Ia juga memanggil nama Bapa :
* Lukas 23:34, 46 23:34 Yesus berkata: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya. 23:46 Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku." Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya.
Panggilan "Bapa" dalam peristiwa penyaliban itu sekaligus membuktikan bahwa Yesus sendirilah yang tersalib (dan bukan orang lain) yang sedang memanggil BapaNya. Panggilan yang begitu intim dan mulia itu dapatkah diserukan oleh "sosok imitasi" (entah siapa), yang 'katanya' dimirip-mirpkan Allah diatas kayu salib demi mengelabuhi semua orang-orang Yahudi?!
Apakah Allah yang Mahabenar dan Kuasa itu kehabisan cara sehingga perlu mengelabuhi umatNya?! Termasuk murid-murid dan pengikutNya dan Maria ibuNya? Yang ikut menjadi saksi mata sampai kedekat salib Anaknya (reff. Yohanes 19:25-27). Jikalau begitu, Allah yang mengelabuhi itu tentu bukan Bapa yang diserukan Yesus!
Kembali ke hal "relasi dengan Allah" yang tidak menuntut penguasaan ilmu-ilmu agama untuk bisa diselamatkan. Harap jangan salah, Kristianitas bukan melecehkan ilmu, atau tidak bertanggung-jawab dalam pendewasaan rohani. Ikut Yesus adalah masuk dalam relasi dengan Yesus, dan mulai belajar mengasihi Dia, karena Dia telah mengasihi kita lebih dulu :
* 1 Yohanes 4:19 Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.
Secara natural kita akan bersyukur kepadaNya senang mendengar "suaraNya", dan belajar tentang firmanNya, yaitu Injil Kabar Baik. Kita menjadikan itu makanan rohani kita, yang ternyata memberikan berkat yang nyata dalam kehidupan baru kita bersama dia. Kita bertumbuh dalam iman, dan selalu ingin menyenangkan hati Tuhan, dengan melakukan apa-apa yang dipesankanNya dalam InjilNya. Bukan usaha keselamatan, melainkan buah-buah keselamatan
Melakukan perintah-perintah Allah bukanlah usaha mencari keselamatan, melainkan buah-buah keselamatan! Dan alasan yang terbaik untuk itu hanyalah tiga kata sederhana, yaitu karena "Allah itu baik!" Kita mengasihi, karena Allah lebih dulu mengasihi kita (1 Yohanes 4:19).
Setiap bulan, ada ribuan orang di Afrika yang mengenal dan mau datang kepada Kristus. Setelah mereka menjadi petobat baru, mereka mulai terlibat dalam sebuah gereja lokal.
Kebanyakan dari gereja-gereja lokal tersebut dijalankan oleh orang-orang Kristen yang belum mempunyai pendidikan formal Teologi. Perwakilan dari Christian World Outreach (CWO) memberikan perhatian terhadap hal tersebut. "Ada kekosongan dan kebutuhan yang besar akan pendeta dan pemimpin-pemimpin gereja yang berkualitas. Kami mengirim pasangan misionaris pertama ke Machakos, Kenya untuk belajar di sebuah universitas kecil yang bernama Scot Theological College."
Saat ini ada sekitar 25 siswa dari seluruh Afrika. CWO mengatakan jika para pemimpin baru tidak mendapatkan pemahaman Alkitab yang benar, maka pemujaan-pemujaan kepada kepercayaan semula dapat muncul kembali. "Orang akan meninggalkan kepercayaannya yang semula dan menjadi pengikut Kristus. Namun, jika tidak ada pelayanan follow-up, mereka tidak bisa bertumbuh secara rohani. Pendidikan yang diberikan di Scot Theological College akan membantu pelayanan penginjilan yang dilakukan CWO. Dengan demikian, kami bisa mengarahkan para petobat baru ke suatu gereja yang telah memiliki pemimpin terlatih.
Sumber: Mission Network News, April 8th, 2005
Penulis : W. Stanley Heath, Ph.D., M.Div.
Telah banyak digunakan dalam usaha mengajak orang percaya untuk terjun ke dalam pekerjaan penginjilan pribadi seperti:
Bagaimana pendapat saudara? Tepatkah semua pendorong yang diajukan di atas? ... Tidak! Hanya satu saja yang sesuai dengan Firman Tuhan, yaitu dorongan Kasih. 2Korintus 5 (TL) berbunyi: "Karena kasih Kristus itu menggerakkan hati kami, ... dan sudah menanggungkan ke atas kami kabar perdamaian itu. Sebab itu kami menjadi utusan bagi pihak Kristus, ...." (Lihat ayat 2Korintus 5:14,19,20 TL)
Kalau saudara pergi mencari jiwa-jiwa yang sesat dengan dorongan yang lain dari Kasih Kristus, maka sikap saudara terhadap orang yang dilayani tidak akan sesuai. Tetapi, kalau saudara memberikan cukup waktu dan dengan tenang merenungkan sengsara Yesus pada salib, dan merenungkan keadaan manusia yang belum percaya kepadaNya, pasti dengan segera saudara akan tergerak oleh kasih itu untuk pergi. Siapakah, yang walaupun hanya memiliki sedikit kasih akan dengan sadar membiarkan teman-temannya menuju ke kebinasaan? Tentu, semua akan diajak untuk melarikan diri ke tempat yang aman, bukan?
Apa sebabnya peristiwa penyaliban Yesus harus direnungkan sedalam-dalamnya sebagai penggerak kasih? Apakah hal ini suatu disiplin psikologis untuk membangkitkan perasaan ...? Tidak! Perasaan hanya akan bertahan sesaat saja, lalu menghilang. Pengetahuanlah yang akan bertahan lama sebagai pembangkit Kasih. Sebabnya dapat kita lihat dalam ayat yang berikut ini. "Karena kasih Kristus itu menggerakkan kami ... sebab kami yakin Seorang telah mati karena orang sekalian, ..." (2Korintus 5:14 TL)
Demikianlah hubungan antara pengetahuan ("yakin") dan penggerak kasih. Dan pengetahuan itu tidak akan datang melalui khayal, melainkan telah disediakan bagi saudara di dalam Alkitab. Selidikilah nats-nats dasar dalam pelajaran ini, yakni 2Korintus 5:11-20. Nats itu merupakan dasar pengetahuan saudara mengenai rencana Allah dan peranan saudara dalam pemberitaan Injil Yesus. Kiranya dengan merenungkannya, saudara akan tergerak untuk memenangkan jiwa-jiwa bagi Tuhan Yesus, Juruselamat saudara.
Tetapi Tuhan Allah tidak akan memberikan tugas tersebut tanpa adanya kerelaan dari saudara sendiri. Panggilan terhadap nabi Yesaya merupakan contoh baik dari sikap terhadap panggilan Allah itu. Allah bertanya: "... siapakah akan menjadi utusan-Ku? Maka jawabku: Bahwa aku ini hamba-Mu, suruhkanlah aku!" (Yesaya 6:8 TL)
A. KEINSYAFAN AKAN RENCANA ALLAH BAGI SAUDARA
Manusia berkeadaan "mati dalam dosa" (Efesus 2:1). Arti dari ucapan itu dapat saudara lihat dalam Yesaya 59:2, yaitu bahwa dosa telah menceraikan manusia dari pada Allah. Dengan kata lain, manusia dalam keadaan TERPISAH DARI ALLAH yang adalah sumber kehidupan satu- satunya.
Yesus melukiskan keadaan itu dalam Injil Yohanes pasal 15. Dalam perumpamaan "Pokok Anggur yang Benar" itu terlihat bilamana seseorang mempunyai hubungan dengan Yesus, barulah ia memiliki hidup. Kalau hubungan tersebut putus, ia menjadi kering serta tidak berguna bagi pemilik kebun (bandingkan 1Yohanes 5:11,12).
a. Beberapa sifat dan sikap manusia Tentu saja manusia yang berada di luar persekutuan dengan Allah memiliki sifat-sifat dan kelakuan-kelakuan yang najis; dan tentu juga bahwa Tuhan Allah akan menentukan beberapa batas kesanggupan bagi mereka. Sebagai perincian dari sifat-sifat tersebut perhatikanlah pernyataan-pernyataan Tuhan yang berikut. Dan bila saudara belum melihat persesuaian antara penjelasan ini dengan pengalaman saudara dalam pergaulan sehari-hari periksalah diri saudara. Mungkin saudara masih mempunyai cita-cita dan sentimen-sentimen yang mengelabuhi pengertian saudara yang seharusnya.
1) Orang berdosa gemar melakukan yang jahat.
Mereka memberontak, melanggar setiap pernyataan dan kehendak Allah; malah mereka demikian bermusuhan dengan Allah, sehingga sering membenci orang-orang yang memihak Yesus (Efesus 2:1-3; Matius 10:16-24; Yohanes 15:18-21).
2) Mereka belum mempunyai panca indra rohani.
Mereka tidak dapat melihat ataupun mengerti perkara-perkara rohani (Yohanes 3:3, 1Korintus 2:14) sehingga Injil Yesus merupakan suatu kebodohan kepadanya (1Korintus 1:23). Si Iblis telah turut terlibat dalam hal ini membuat pemikiran mereka lebih kacau lagi (2Korintus 4:4), tetapi manusia tetap menganggap dirinya cerdas (Roma 1:22). Karena mereka memiliki hati yang bejat dan kehendak yang telah menyeleweng, orang-orang berdosa lebih menyukai kegelapan tersebut; bahkan menikmatinya sehingga mereka sering menolak sumber terang yang satu-satunya itu, yakni Yesus Kristus (Yohanes 1:4-5, 1:9-11; 3:19-21).
3) Sia-sialah segala usaha, amal dan kebenaran dirinya.
Semua jalan keagamaan yang ditempuhnya ternyata buntu (Efesus 2:8,9, Roma 3:20). Sama seperti nenek moyang kita telah menukarkan Allah yang benar dengan patung-patung berhala buatan tangannya (Roma 1:23), orang-orang berdosa sibuk menciptakan agama yang sesuai dengan keinginannya sendiri. Hai saudara, semua keterangan ini agak berat untuk diterimanya, bukan? Berdoalah sejenak, ucapkanlah terima kasih kepada Yesus yang telah memindahkan saudara keluar dari lumpur kecemaran yang sama dengan orang-orang berdosa yang lain itu. Sungguh hidup baru dalam Yesus itu ringan, tetapi tidak ringan bagi Yesus -- Ia harus disiksa untuk melepaskan saudara dari siksaan yang seharusnya ditanggung oleh saudara.
b. Kasih Allah dinyatakan kepada seluruh manusia Meskipun setiap bagian dari hidup manusia itu merosot serta segala perbuatannya najis, Tuhan tetap menganugerahkan dua pernyataan kasih untuk mendorong manusia kepada kesadaran dan kepercayaan. Selama hubungan dengan Yesus ini belum tercapai, seseorang tidak akan pernah puas bahkan akan tetap gelisah.
Yang pertama, bahwa setiap orang yang belum memperoleh keselamatan dalam Yesus akan merasakan suatu kekosongan dalam dirinya. Kekosongan yang seharusnya menjadi tempat kediaman Roh Yesus. Kekosongan itulah yang telah menggerakkan manusia untuk mencari-cari melalui macam-macam agama, tetapi keagamaan ternyata tidak memberi kepuasan.
Yang kedua, adalah "hati kecil." Fungsi hati kecil menjadi jelas bagi kita dalam Yohanes 16:8. Roh Kudus selalu memakai hati kecil untuk membangunkan kesadaran seseorang bahwa ia telah berbuat dosa. Selain menempelak, suara hati inilah yang akan memeteraikan kebenaran Firman Allah kepadanya supaya ia boleh memperoleh keselamatan. Akan tetapi jikalau tidak ada seorangpun memberitakan Firman itu kepadanya, maka tidak ada bahan yang bersifat kekal untuk disetujui oleh hati kecil itu.
Kita yang percaya mengetahui bahwa segala sesuatu yang mustahil bagi orang berdosa telah dilaksanakan oleh Yesus. Orang yang najis sekalipun dapat dilepaskan dari hukuman maut melalui iman kepada Yesus Kristus. Yesus telah menggenapkan semua syarat yang dari Tuhan Allah kita. Di dalam Yesus setiap orang dapat memperoleh penebusan dan keselamatan.
Bacalah surat Roma 10:13-15. Jelas bahwa semua usaha dan pekerjaan Yesus pada salib menjadi sia-sia kalau orang berdosa tidak mengetahui tentang jalan kelepasan itu. Jikalau mereka dibiarkan saja meraba-raba dalam dunia yang gelap ini, pastilah mereka akan sesat sampai mati, lalu binasa. Mereka membutuhkan orang lain, yang dapat memegang tangan mereka dan mengantarnya kepada Yesus.
Tetapi siapakah orang itu yang akan memperkenalkan mereka kepada Kristus? Apakah setiap orang layak memangku jabatan yang luhur itu? Bukankah tugas itu sedemikian mulia, sehingga Tuhan hanya memilih petugas-petugas tertentu saja untuk melaksanakannya? ... Tidak demikian, Saudara! Kalau Tuhan harus menunggu orang yang cukup layak dan suci, Injil tidak akan sampai terberitakan. Hanya Yesuslah orang yang layak dan suci. Yesuslah Penebus! Kita hanya alat pemberita saja.
Saudara boleh memberitahukan jalan keselamatan itu. Sebab Tuhan Allah tidak melarang seorangpun dari anak-anak-Nya untuk menikmati sukacita sebagai pemberita Injil. Kita mempunyai contoh yang baik dalam Alkitab. Perhatikan Kisah Para Rasul 8:1-4 (TL). Siapakah orang-orang yang melarikan diri dari kota Yerusalem? Mereka adalah anggota-anggota biasa dari jemaat pertama itu. Perhatikan ayat 1: "kecuali rasul-rasul saja." Siapakah yang memberitakan kabar kesukaan itu? "sekalian orang yang terpecah-belah itu" (ayat 4). yang memberitakan Injil Kabar Kesukaan di Yudea dan Samaria adalah semua orang percaya, kecuali petugas-petugas istimewa. Mungkin orang-orang ini sama seperti saudara sendiri. Mereka agak takut juga karena sedang melarikan diri. Tetapi ketakutan tersebut tidak dapat memadamkan berita sukacita yang mengalir dari hati yang penuh semangat.
Roh Kudus merupakan kunci pengertian, apakah sebabnya orang-orang biasa juga dapat memberitakan Injil. Kalau pemberita Injil itu tergantung pada kesanggupan dan tenaga si pemberita Injil sendiri, maka hanya sedikit saja yang dapat menjalankannya. Kebanyakan orang merasa tidak mampu untuk belajar dan melatih diri dalam penginjilan sampai merasa cukup lancar.
Tetapi saudara boleh bersyukur kepada Tuhan bahwa tidaklah demikian halnya. Roh Kudus yang mempunyai peranan utama, dan Saudara yang mempunyai peranan pelengkap. Saudara yang pergi, Roh yang melaksanakannya. Yang perlu bagi Saudara hanyalah memberitahukan tentang jalan keselamatan kepada orang yang sesat dan Roh Kudus yang akan bekerja untuk meyakinkan dia. Dan kalau orang itu mau menerima Kristus, Roh Kuduslah yang akan mengerjakan mujizat pembaruan didalam batinnya. Dalam penginjilan hanya perlu supaya Injil diberitakan dengan sangat sederhana, serta mengajak orang itu untuk percaya.
B. PERSIAPAN ROHANI UNTUK MENJADI PEMBERITA INJIL
Dalam mencari jiwa-jiwa, saudara akan menemukan bermacam-macam penyakit rohani. Di kemudian hari, setiap jiwa yang saudara telah perkenalkan kepada Yesus Kristus akan menghadapi bermacam-macam pencobaan dan rintangan yang lain lagi. Orang buta tidak dapat menolong orang buta (Lukas 6:39). Jadi saudara sendirilah yang harus memanfaatkan segala janji Allah dalam hidup saudara. Saudara harus berkemenangan supaya saudara dapat dengan tegas menawarkan pertolongan Yesus kepada orang lain.
Beberapa pemberian rahmat Yesus yang saudara perlu alami adalah:
a. Kelahiran baru
Kalau saudara sendiri belum diselamatkan menjadi Anak Allah, saudara perlu dilayani, bukan melayani. Kalau kelahiran baru belum saudara alami, betapa baiknya untuk menerima Yesus sekarang karena tak mungkin saudara selamat tanpa pembaharuan itu (Yohanes 3:3,5; 1:12).
b. Kepastian selamat
Apakah saudara telah mendapatkan kepastian bahwa dosa-dosa saudara telah diampuni dan bahwa saudara telah memiliki tempat di sorga? Kepastian yang mutlak hanya diperoleh melalui Firman Allah. Kalau Tuhan mengatakan bahwa saudara telah selamat tentu saudara telah selamat (1Yohanes 5:13; Yohanes 5:24; Yohanes 1:12; 1Petrus 2:24). Si iblis akan menertawakan segala dasar kepastian yang lain karena dasar-dasar yang lain itu hanyalah khayalan belaka.
c. Kemenangan terhadap godaan
Saudara telah disuruh supaya hidup dengan suci serta sempurna (Matius 5:8; 5:48; Roma 6:6). Iblis akan mengusahakan kelakuan yang bukan-bukan dengan maksud menodai dan meniadakan kesaksian saudara. Tetapi Iblis itu ompong, ia hanya dapat mengaum saja. Ia tidak berdaya lagi, karena giginya telah tercabut pada salib (1Yohanes 3:8b; Roma 6:14). Melalui iman terimalah segala rahmat kemenangan yang telah disediakan Yesus (1Korintus 15:57; 10:13; Filipi 4:13).
d. Persekutuan dan persaudaraan dalam kasih
Yesus tidak bermaksud supaya saudara hidup dan bertahan seorang diri. Ia telah merencanakan suatu lingkungan khusus demi pertumbuhan iman saudara. Persekutuan itu menggantikan segala kerugian di dunia luar (Markus 10:29,30). Persekutuan dengan Yesus sendiri melalui doa dan Alkitab, dan persekutuan kasih dengan saudara-saudara seiman menjadi sumber penyegaran dan penghiburan bagi saudara dalam dunia yang kering ini.
Bersediakah saudara dilengkapi untuk pekerjaan penginjilan pribadi? Roh Kudus menunggu untuk memberikan pertolongan-Nya atas dasar kerelaan dan ketaatan saudara. Fungsi utama Roh ialah untuk memasyhurkan nama Yesus. Jadi Roh itu hanya memberikan kuasa kepada seseorang yang "rela" dan "taat" memberitakan Injil.
a. Kuasa sebagai saksi
Apakah saudara merasa tidak sanggup meyakinkan orang-orang lain? Sebenarnya hal "meyakinkan" bukanlah urusan saudara melainkan peranan Roh Allah. Menurut janji-janji dalam Firman Tuhan (Kisah Para Rasul 1:8; 2;38-39), saudara dapat diurapi dengan kuasa. Kuasa itu bukanlah sesuatu yang harus saudara tunggu-tunggu seperti rasul Petrus dan rasul Thomas. Mereka disuruh menunggu sampai pada waktunya Roh itu datang, yaitu sampai hari Pentakosta. Pada hari Pentakosta Roh Kudus yang bukan dari dunia, datang menetap di dunia. Sekarang Roh itu ada beserta kita setiap saat. Apalagi Ia telah mendiami anak-anak Allah, dan menunggu kesempatan untuk menyempurnakan mereka.
Kuasa ilahi adalah sesuatu yang dialami "sementara berjalan." Kuasa itu bukanlah milik saudara yang dapat dipegang-pegang dan dirasa terlebih dahulu, melainkan mempunyai maksud tertentu: "kuasa dalam bersaksi" yang tidak terlihat jelas terpisah dari aktivitas pemberitaan Injil. Kuasa itu bukan bagi saudara melainkan bagi kemuliaan Kristus.
b. Pedang Roh
Hanya satu senjata yang diberikan kepada orang-orang percaya untuk menyerang, yaitu Alkitab. Tidak perlu saudara menunggu untuk diperlengkapi dengan Firman Tuhan. Ambil saja dan pakailah!
c. Perlengkapan rohani
Paulus pernah melukiskan perlengkapan rohani yang diperuntukkan bagi kita sebagai persenjataan (Efesus 6:10-20). Perlengkapan ini boleh juga dilukiskan sebagai buah-buah Roh (Galatia 5:22,23; Yohanes 15:1-7). Tujuan Roh Kudus adalah untuk menimbulkan dalam kehidupan seseorang buah-buah rohani yang sesuai dengan pemberitaannya. Kalau orang luar melihat Injil yang saudara beritakan itu terwujud dan diperlihatkan dalam kelakuan saudara sehari-hari, pastilah keyakinannya akan bertambah mengenai kebenaran Injil itu. Roh Kudus menginginkan dua jalan bagi pemberitaan Yesus, yaitu: melalui bibir dan melalui kesucian hidup -- dalam sifat, sikap dan kehidupan saudara yang melawan segala anak panah iblis itu.
C. DISIPLIN ROHANI SEHARI-HARI
Hanya sejauh mana saudara menyediakan diri untuk diperlengkapi, sejauh itu pula Roh Kudus dapat bekerja di dalam diri saudara. Anak- anak Allah yang biasa menginjili telah mengalami bahwa hal-hal yang berikut perlu dilakukan sebagai langkah-langkah penyerahan rohani.
Sumber: Penginjilan dan Pelayanan Pribadi
Penulis : Donny Wiguna
Kis 1:6-11 Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: "Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?" Jawab-Nya: "Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka, dan berkata kepada mereka: "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga."
Bahan bacaan di atas menjadi acuan ketika saya diminta berbicara di antara teman-teman dalam persekutuan kami. Karena saat ini adalah waktu-waktu menjelang peringatan kenaikan Tuhan Yesus Kristus, rasanya memang sudah seharusnya kami membicarakan topik ini. Mulanya biasa saja, bagian bahan yang rasanya tidak terlalu istimewa. Tapi, itu sebelum saya benar-benar memperhatikannya.
Ternyata, setiap bagian dari Firman Tuhan sesungguhnya istimewa. Kita saja yang belum tahu relevansinya.
Kami mulai membahasnya dengan mendiskusikan bagaimana kehidupan di jaman sekarang ini. Seperti apa kualitas kehidupan? Apakah menjadi semakin baik atau semakin buruk? Dan kami harus melihat bahwa ternyata dunia tidaklah sebaik yang diinginkan. Memang benar, ada kemajuan di sana sini tetapi kemerosotan nampaknya lebih cepat terjadi. Sementara sebagian kecil orang menjadi semakin makmur, sebagian besar manusia di muka bumi mengalami kesusahan yang besar. Masalah muncul dalam berbagai bentuk: pertikaian politik, kemunduran ekonomi, masalah kesehatan, masalah kemanusiaan, sampai datangnya bencana alam yang luar biasa.
Kehidupan naik turun seperti roller-coaster: mula-mula terasa naik perlahan-lahan, lalu tiba-tiba meluncur dengan cepat ke bawah. Bedanya, jika dalam permainan roller-coaster orang menjerit ngeri sambil merasa senang, dalam peristiwa yang mengerikan seperti bencana gempa di Nias, orang menjerit ngeri sambil memandang kematian. Kehancuran. Baru saja rasanya aman, selamat dari bencana tsunami sehingga bisa mulai menata hidup, tiba-tiba semuanya runtuh dalam guncangan yang amat keras di malam hari.
Kehidupan orang Kristen tidak terluput dari kesukaran. Adakah yang mendengar berita, pada tanggal 1 April yang lalu di desa Kerala, India? Sekelompok muslim dan hindu baru saja membakar habis sebuah rumah doa dan menyerang tiga anggota gerejanya. Dua hari kemudian, ketika pendetanya -- Paul Ciniraj Mohammed, yang berlatar belakang muslim -- berbicara kepada orang desa tentang penyerangan tersebut, ia dan asistennya turut mengalami penganiayaan.
Apa yang dilakukan oleh pendeta Paul? Ketika asistennya sedang dipukuli, ia berlutut dan berdoa, memohon agar Tuhan menyelamatkan mereka dan juga mengampuni para penyerang mereka itu. Seorang wanita desa menyaksikan bagaimana pendeta Paul berdoa dan tersentuh oleh kerendah-hatiannya, serta merta meminta kepada para penyerang untuk berhenti. Bukan saja berhenti, tetapi juga meminta maaf kepada pendeta itu! Paul Ciniraj Mohammed tidak mengadukan penyerangan ini kepada polisi karena mereka telah meminta maaf. Rumah Doa itu sendiri habis oleh api, tidak terselamatkan, tetapi orang-orang Kristen di desa itu tetap bertekad untuk bersekutu dalam doa dan pemahaman Alkitab di rumah-rumah mereka.
Berita-berita semacam ini muncul dari segala penjuru dunia, termasuk dari Indonesia di mana penganiayaan seakan-akan dilakukan bergilir di seluruh tempat di negeri ini. Sementara itu, gerakan-gerakan fundamentalis Islam bersuara semakin keras, menunjukkan kekuatannya. Belum lama berselang, mereka menekan kalangan Islam Liberal dan mengacungkan �vonis� pemurtadan, sambil menyerukan sikap yang keras. Sedemikian rupa kerasnya, sehingga tokoh-tokoh muslim sendiri merasa khawatir. Nampaknya, semakin tepat kaum muslim mengikuti kebenaran kitab sucinya, semakin keras sikap mereka terhadap orang-orang yang tidak seiman.
Di luar urusan religius, kita juga dikejutkan dengan masalah moralitas. Rupanya pornografi sudah begitu kuat mencengkram alam pikir anak-anak kita, sehingga dua orang remaja bisa memperkosa seorang bocah berumur 6 tahun, membunuhnya, lalu membakarnya tanpa merasa bersalah. Setelah melakukan kebejatan, mereka masih sempat main bola. Ketika kedua remaja itu ditangkap, mereka sedang bersantai-santai, sama sekali tidak nampak ketakutan atas perbuatan keji yang baru mereka lakukan. Kelihatannya, kombinasi antara kecabulan dan kejahatan sudah membuat manusia lebih jahat dari binatang buas, melampiaskan nafsu hanya demi nafsu.
Ada orang Kristen yang tidak peduli -- dan itulah masalah besarnya. Bagaimana mungkin, seorang Kristen tidak peduli atas dunianya yang semakin lama semakin memburuk? Tetapi dia hanya mengangkat bahu sambil berkata, "biarlah terjadi apa yang akan terjadi, toh Tuhan pasti menolong." Ya, Tuhan pasti menolong, tetapi orang Kristen ini sama sekali tidak mau ikut campur. Ada orang Kristen yang ketakutan, lantas berseru-seru dalam doa dan doa dan doa memohon pemulihan. Tetapi selain berdoa, mereka juga tidak melakukan banyak hal lain, kecuali mencari-cari jawaban atas masa dan waktu. Kita sudah menemukan kelompok jemaat Pondok Nabi yang meyakini hari kedatangan Kristus, yang terbukti keliru. Namun orang tidak berhenti mencari tahu kapan waktu kedatangan-Nya, kapan waktu pemulihan itu.
Dan dipikir-pikir, mungkin beginilah kira-kira keadaan murid-murid Kristus pada masa hidup mereka. Ada keresahan yang besar, penganiayaan yang luar biasa. Penindasan oleh penjajah Romawi yang kejam, yang sedemikian kejam sehingga memberi hukuman salib. Tidak sedikit orang yang dihukum salib seperti Tuhan Yesus, bahkan jumlahnya menurut sejarawan telah mencapai ribuan orang. Tangan Romawi adalah tangan besi, yang menghancurkan Yerusalem di tahun 70 M karena mereka memberontak. Nampaknya, orang Romawi bahkan lebih jahat daripada orang Babilonia yang dahulu juga menyerbu Yerusalem dan menghancurkan Bait Allah.
Wajar saja, ketika murid-murid itu menyuarakan pertanyaan "Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?" Mereka telah tahu bahwa Yesus adalah Tuhan, yang tidak diragukan lagi sanggup memulihkan kerajaan bagi Israel. Itulah yang menjadi impian tiap orang Israel: mendapatkan kerajaan mereka kembali, dalam pemulihan yang ilahi. Mereka menginginkan kehidupan berjalan seperti semula, mendefinisikan "PULIH" sebagaimana yang manusia pikirkan.
Tetapi apa jawab Tuhan? "Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."
ENGKAU TIDAK PERLU TAHU. Bukan urusan murid untuk mengetahui tentang masa dan waktu. Bukan urusan kita untuk meributkan dan memusingkan kapan pemulihan akan terjadi. Sebagai ganti dari jawaban atas masa dan waktu pemulihan, Tuhan Yesus memberi suatu kepastian: KAMU AKAN MENERIMA KUASA. Kuasa apa? Kuasa untuk menjadi saksi Tuhan di seluruh dunia.
Tuhan bukannya menghibur murid-murid-Nya dengan memberi penjelasan tentang nubuat-nubuat dan peristiwa-peristiwa yang akan datang, melainkan Ia menegaskan tentang pokok yang harus dilakukan, untuk menjadi saksi-Nya mengabarkan Injil. Dalam kata-kata Matius, "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."
Inilah urusan kita, tugas kita. Keadaan mungkin nampak buruk, situasi kelihatan buruk sehingga tak ada harapan lagi, tetapi urusan kita adalah menjadi saksi Kristus, memberitakan Injil, dan menjadikan semua bangsa murid Kristus. Bagian kita bukan hanya berdoa -- jangan salah, berdoa adalah yang paling penting untuk dilakukan, tetapi bukan satu-satunya yang bisa dikerjakan.
Dahulu ada seorang rekan segereja yang berkomentar, betapa konyolnya membawa alkitab untuk menolong orang yang sedang susah. Sekarang keadaan sedang terjepit, yang dibutuhkan adalah jalan keluar, solusi instan. Cepat! Mana ada waktu untuk bicara tentang hal-hal seperti keselamatan dalam Kristus? Lagipula, betapa tidak pantasnya. Beberapa teman di mailing list mencela sikap orang-orang Kristen yang berusaha memberitakan Injil kepada orang-orang Aceh yang baru terkena bencana Tsunami. Kalau memberikan bantuan kemanusiaan, berikanlah tanpa embel-embel Injil!
Tetapi, sebenarnya Injil adalah faktor utama yang dibawa untuk menyelamatkan orang. Kebenaran Kristus yang datang menyelamatkan dunia menjadi dasar bagi usaha untuk menolong siapa pun yang membutuhkan, 106kan ketika keadaan menjadi sangat sukar dan tidak masuk akal untuk memberikan pertolongan apa pun. Jika orang melakukan usaha kemanusiaan, upaya itu dibatasi oleh sifat manusia. Jika terlalu sukar, atau terlalu berbahaya, orang akan berhenti sambil mengangkat bahunya, "Tidak bisa." Sebaliknya, upaya memberitakan Injil adalah komitmen untuk memenuhi panggilan Tuhan, melakukan pekerjaan yang Allah berikan.
Amat keliru jika memikirkan pemberitaan Injil adalah kotbah atau memaksa orang mendengar dan mengaku percaya demi mendapatkan sekotak makanan. Berita Injil disampaikan terlebih dahulu melalui perbuatan, bukan kata-kata. Tuhan Yesus melakukannya dengan menyembuhkan dan memulihkan kehidupan orang-orang, bukan hanya bicara dan bicara.
Saya sangat tersentuh ketika membaca bukunya Franklin Graham, "Living Beyond The Limits" (terjemahan Indonesia: Hidup Melampaui Batas-batas, penerbit Nafiri Gabriel, Jakarta). Dia memberi kesaksian tentang bagaimana dirinya serta orang-orang yang setia kepada Tuhan bekerja dalam keadaan yang rusak di Angola, Bosnia, Libanon, dan juga kepada narapidana di penjara. Kehidupan yang rusak dipulihkan oleh Firman Allah, dan bantuan kemanusiaan adalah perangkat-perangkat-Nya. Ibaratnya seperti peralatan medis, semua yang dibutuhkan untuk menolong seorang pasien yang sakit. Peralatan-peralatan itu berguna sekali di tangan seorang dokter, tetapi hanya menimbulkan kesulitan di tangan awam (walau bukan berarti tidak bisa dipakai sama sekali). Yang menyembuhkan adalah dokter, bukan peralatannya. Ia yang tahu apa kegunaan setiap alat, bagaimana memakainya dengan efektif.
Untuk semua kesusahan, Graham membawa Firman Allah dengan perangkat-perangkat yang disiapkan oleh Samaritan�s Purse, organisasi pelayanannya. Ia mendirikan atap-atap bagi orang di Bosnia, memberikan seekor sapi yang menolong Panglima Mohammed melalui musim dingin yang sukar. Tetapi semua itu menjadi bagian dari pemberitaan Injil: tindakan pertolongan itulah yang menjadi Injil yang diberitakan. Pertolongan yang dibutuhkan manusia bukan sekedar cara untuk makan hari ini saja, melainkan pemulihan kehidupan secara utuh, secara menyeluruh. Orang harus ditolong untuk melalui masa-masa yang sukar dan menjalani hidup yang baru, yang kekal di dalam Tuhan.
Pemberitaan Injil menjadi usaha pertolongan yang dibutuhkan itu; isinya bukan hanya sekedar membicarakan Firman, melainkan melakukannya. Orang terlebih dahulu melihat apa yang dilakukan, bukan apa yang diucapkan. Memang sangat penting untuk menjaga agar perilaku senantiasa sesuai dengan ucapan, tetapi jika kita tidak bisa menjaga ucapan kita dari kata-kata yang jahat dan kotor, sebaiknya kita tidak berkata apa-apa.
Apakah semua ini hanya perlu dilakukan tanpa suatu arah, tanpa suatu tujuan akhir? Tidak begitu. Perhatikanlah kembali apa yang terjadi setelah Tuhan Yesus naik ke Surga. Ia telah memberikan amanat-Nya untuk memberitakan Injil. Murid-murid diharapkan untuk segera menyebar dan mempersiapkan diri menerima kuasa seperti dijanjikan-Nya. Jadi, begitu Kristus naik, sudah selesai, bukan? Tugas sudah diberikan. Briefing sudah selesai. Sekarang, bubar!
Tetapi, Tuhan tidak berhenti di kenaikan. Ketika murid-murid masih memandang ke langit, ada dua orang berpakaian putih memberi penjelasan penting ini: "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga."
Setelah kenaikan-Nya, ada berita lain yang tak kalah pentingnya: Tuhan akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kenaikan-Nya ke Sorga. TUHAN AKAN DATANG KEMBALI. Ini perlu ditulis dengan huruf besar-besar, agar kita semua ingat. Pemberitaan Injil bukan hanya suatu proses satu arah, seperti yang dilakukan oleh banyak tokoh agama. Mereka semua men