Misi

Artikel-artikel tentang dunia misi, penginjilan, berita-berita misi dll

(Artikel lain tentang dunia misi dalam dibaca di situs e-Misi)

400 Tahun Protestantisme Di Indonesia

TEPATKAH berbicara mengenai 400 tahun Protestantisme di Indonesia? Tidakkah, dengan demikian kita mempersempit rentang-waktu dan ruang-lingkup kehadiran kekristenan di Nusantara yang mestinya jauh lebih lama dari waktu 400 tahun itu? Lagi pula dengan menambahkan akhiran "isme", ada kecenderungan melihat kekristenan hanya sebagai sebuah ideologi di samping ideologi-ideologi lainnya, yang secara hakiki memang bersifat kaku dan memaksa? Inilah, antara lain rentetan pertanyaan-pertanyaan kritis, yang mengemuka dalam seminar dua hari di Ambon, 25 dan 26 Februari lalu. Seminar itu diadakan dalam rangka merayakan 400 tahun masuknya agama Kristen dalam versi protestannya di Maluku, yang sekaligus juga dipandang sebagai gerbang masuknya Injil di seluruh Nusantara.

Alkisah, hari Selasa, 27 Februari 1605, untuk kali pertama awak kapal Belanda (VOC) mengadakan ibadah di darat, di benteng Portugis yang baru saja diserahkan kepada mereka, dan diberi nama baru, Victoria. Sebagaimana diketahui, pada 1605 itu, Laksamana Belanda Van der Haghen, bersama orang Hitu mengusir garnisun Portugis dari Ambon. Orang Hitu mendapat status sekutu. Dalam laporannya Van der Haghen, menulis: "Pada tanggal 27 bulan ini untuk pertama kalinya Laksamana turun ke darat dan pergi ke benteng. Di sana Firman Allah diberitakan disertai pengucapan syukur kepada Allah Yang Maha Kuasa berkenan menganugerahkan kepadanya kemenangan besar bagi Tuan-tuannya di negeri Belanda." (Th van den End, 2005). Th van den End mencatat, itulah ibadah Protestan yang pertama diadakan di Maluku, bahkan di seluruh Asia, sehingga dapat dipandang sebagai permulaan sejarah Protestantisme di kawasan ini.

Khawatir

Kendati pada permulaannya, sesuai dengan asas toleransi yang berlaku di Negeri Belanda pada waktu itu, Van der Haghen membiarkan orang Katolik Ambon menjalankan ibadah Katolik, namun belakangan gubernur penggantinya tidak lagi konsekuen menaatinya.

Ia mengusir semua orang Katolik Eropa dari Ambon, sedangkan pelayanan bagi orang "bumiputera" diselenggarakan oleh seorang guru agama, yang hanya berwenang mengadakan ibadah sederhana.

Gubernur pengganti itu khawatir kalau-kalau jemaat Katolik di bawah pimpinan seorang Yesuit itu dapat menjadi kolone kelima, begitu orang Spanyol (yang Katolik) mengirim lagi armada dari Manila. Singkat kata, orang Katolik Ambon lama-kelamaan menjadi orang Protestan Ambon. Dengan demikian, berlakulah prinsip lama, "cuius regio eius religio" (siapa yang memiliki negara, menentukan agama yang dianut). Sebagai demikian, daerah-daerah yang ditaklukkan menganut agama penguasa, yaitu Kristen Protestan. Itu tentu saja tidak berarti, bahwa segala sesuatunya berjalan mulus.

Concern utama VOC bukanlah pada pekabaran Injil tetapi perdagangan. Maka selama pekabaran Injil tidak mengganggu usaha-usaha perdagangan mereka, dibiarkan, bahkan didukung. Tetapi, kalau pekabaran Injil menjadi kendala, tidak segan- segan dilarang. Itulah sekelumit catatan sejarah masa lampau. Apa yang Diperingati?

Ketika pada 27 Februari 2005 itu, segenap umat Gereja Protestan di Indonesia (GPI) menyelenggarakan perayaan besar-besaran, maka pertanyaannya adalah apakah yang dirayakan? Ketika semua peserta dengan khusyuk melakukan napak-tilas ke Benteng Victoria pada tanggal bersejarah itu, apakah yang menyeruak dalam pikiran kita? Ketika obor dinyalakan di Benteng Victoria dan kemudian diarak ke dalam kota, apakah yang disimbolkannya? Adakah sungguh-sungguh kita sedang memperingati masuknya Protestantisme, atau justru kita sedang merayakan permulaan kekuasaan kolonialisme dan imperialisme Barat di Indonesia? Pertanyaan-pertanyaan kritis dan menggugat itu mengindikasikan bahwa sejarah memang bersifat multiwajah, dan karena itu juga multiinterpretasi.

Gereja Protestan di Indonesia, beserta 12 gereja mandirinya menginterpretasikan peristiwa bersejarah itu justru sebagai permulaan diberitakannya Kabar Baik (Injil) di negeri ini. Benar, tanggal itu merupakan permulaan cikal-bakal De Protestantische Kerk in Nederlands-Indie yang terbentuk belakangan. Tetapi, sangatlah naif untuk berpikir, bahwa adanya gereja itu identik, sama dan sebangun, bertindih-tepat dengan permulaan kehadiran kekuasaan represif di Indonesia. Jalan-jalan Allah memang tidak terduga.

Pikiran-pikiran Allah tidak terselidiki. Bahkan dari sampah-sampah kolonialisme dan imperialisme, Allah dapat menyampaikan Kabar-Baik (Injil) kepada suatu bangsa. Sama tidak terduganya dengan terbentuknya negara Indonesia yang merasa satu bangsa, setelah "dipersatukan" di bawah pemerintahan kolonialisme dan imperialisme Belanda. Kalau tidak, kita hanya akan menjumpai sekian negara- negara kerajaan di negeri ini. Maka adalah tugas generasi masa kini untuk terus- menerus menafsirkan sejarah secara baru dan jujur.

Long Conversation

Dalam diskusi dua hari itu, disampaikan pandangan, sebetulnya tidak terlalu tepat untuk berbicara tentang "pertobatan" (conversion) orang-orang Maluku (dan orang Indonesia) kepada kekristenan. Berbagai sumber sejarah memperlihatkan, ada perlawanan terhadap upaya-upaya untuk pertobatan itu. Orang tidak dengan serta- merta saja masuk ke dalam agama Kristen. Itu disebabkan oleh adanya faktor kekuasaan (power) dalam "pertemuan" dua kebudayaan, yaitu kebudayaan penduduk asli dan kebudayaan para misionaris.

Orang tidak rela menundukkan begitu saja kekuasaannya terhadap kekuasaan yang baru datang itu. Kenyataan itu dibuktikan dengan begitu banyaknya pengeluhan para penginjil, yang melihat upaya-upaya penginjilannya tidak berhasil. Bahkan tidak kurang dari mereka yang putus asa. Maka, ketimbang conversion, orang lebih suka berbicara mengenai long conversation, percakapan panjang, bahkan maha panjang antara pemberita Injil dan penduduk, antara Injil dan kebudayaan setempat.

Percakapan panjang itu mengalami pasang-surut dan jatuh-bangun. Ada optimisme, tetapi tidak kurang pula pesimisme. Dalam percakapan maha panjang itu telah terjadi take and give, saling pengaruh-memengaruhi antara pemberita Injil dan "sasaran", antara Injil dan kebudayaan. Percakapan itu, dimuarakan antara lain dalam pendidikan. Maka peranan guru-guru sekolah (schoolmeesters) yang adalah orang-orang pribumi yang sangat menonjol dalam pekabaran Injil patut dicatat sebagai faktor menentukan.

Alhasil, pilihan untuk menganut kekristenan adalah hasil proses percakapan maha panjang itu. Dapat dikatakan, bahwa kekristenan mengambil bentuknya sendiri dalam suatu kebudayaan, yang di Maluku secara populer disebut "Agama Ambon". Tetapi, mungkin lebih tepat untuk mengatakan, orang-orang Ambon (Maluku) menghayati kekristenan dengan mempertimbangkan berbagai warisan budaya yang dimilikinya, kendati cukup mencolok juga bahwa bahasa-bahasa daerah agak menghilang dari desa-desa yang mayoritas penduduknya beragama Kristen.

400 Tahun Kemudian

Tentu saja merupakan tantangan generasi masa kini, bagaimana menghayati dan mengamalkan kekristenan itu di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. Protestantisme tidak mungkin lagi dikurung dalam tembok-tembok ( ghetto). Sebaliknya, kekristenan mesti lebih terbuka. Gereja, bahkan mesti menjadi gereja bagi orang lain. Secara kasat-mata hal itu juga telah terlihat dalam perayaan itu.

Prof Magnis-Suseno SJ, yang adalah seorang Yesuit, dulu merupakan musuh bebuyutan kaum Protestan, justru memberikan ceramah dan terlibat dalam diskusi yang intens dalam seminar dua hari itu. Uskup Amboina, Mgr Mandagie menaikkan Doa Syafaat dalam perayaan akbar yang dihadiri ribuan orang itu.

Peristiwa seperti itu tidak terbayangkan 400 tahun lalu. Bahkan juga saudara- saudara Muslim terlibat aktif. Di sinilah kita melihat, Injil adalah sungguh- sungguh Kabar Baik yang membawa orang kepada persaudaraan sejati.

Injil sejati adalah Kabar Baik yang mempertautkan dan merekat, bukan merenggangkan dan memecah antarsaudara. Kita semua diberi waktu untuk merenungkan secara mendalam, apa sesungguhnya makna Kabar Baik itu sesudah 400 tahun bagi persaudaraan di Maluku dan di Indonesia pada umumnya. Maluku, yang dalam beberapa tahun terakhir ini dilanda konflik-konflik horizontal, ditantang untuk memperlihatkan pemulihan dan rekonsiliasi tulen di antara sesama anak bangsa. Yohanes Calvin, salah seorang Reformator abad ke-16 pernah menegaskan, alam-semesta adalah Theatrum Gloriae Dei (Pentas Kemuliaan Allah). Itu berarti tanah-tanah yang subur dan laut-laut yang kaya di Maluku adalah pentas kemuliaan Allah. Tetapi, Allah ini telah menganugerahkan tanah dan laut itu kepada orang Maluku, tanpa memandang agama yang dianutnya. Maka, karena itu, baik kepada komunitas Kristen maupun komunitas Islam, diserukan untuk menerima anugerah Allah itu secara bertanggung jawab.

Mereka ditantang untuk mengolah dan mengusahakan pemberian Allah itu sebaik- baiknya agar layak menjadi tempat kediaman manusia dan pantas menjadi pentas kemuliaan Allah. Karena akan ada waktunya, Allah akan meminta pertanggungjawaban, baik kepada umat Kristiani maupun kepada umat Islam, "Apakah kamu sungguh-sungguh telah mempergunakan ta530 dan laut yang Aku berikan untuk kebaikan kamu semua, atau kamu hanya menghabiskan waktu dengan berbalah-balah, sehingga tidak ada waktu lagi mengolah pemberian-Ku dengan bertanggungjawab."

Peringatan 400 tahun telah berlalu. Gereja-gereja di Indonesia telah mengalami berkat Allah melalui "Gerbang Maluku", kendati tidak semuanya. Kita teringat misalnya, akan Nommensen di Tanah Batak, Otto-Geissler di Tanah Papua, Kruyt di Tanah Poso, dan sebagainya. Apa pun saluran yang dilewati, satu hal sangat pasti, bahwa berkat Allah itu tidak boleh dikangkangi sendiri, tetapi mesti diteruskan kepada sesama demi persaudaraan dan kehidupan perdamaian sejati dalam polis (boleh dibaca: masyarakat) Indonesia ini. Penulis adalah Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia

Becak

Sudah lama aku ingin mengumpulkan para pengemudi becak yang mangkal di depan gereja. Mereka selama ini setiap minggu mendapat makan murah. Dengan hanya membayar Rp 500 mereka dapat makan sepuasnya dengan menu yang sederhana meski bukan ala kadarnya. Aktifitas nasi murah sudah berlangsung sekitar 12 tahunan, tapi hanya itu saja. Mereka membeli makanan setelah itu selesai. Kadang kala ada pembagian hadiah kecil disaat masa Paskah atau Natal. Aku melihat hal ini kurang membantu para pengemudi becak. Beberapa pengemudi becak sudah bertahun-tahun mangkal di depan gereja. Seorang pegemudi sudah mangkal selama 24 tahun yang lain sudah 10 tahun dan sebagainya. Bertahun-tahun mereka mangkal di depan gedung gereja, namun tidak pernah mereka masuk atau bersentuhan dengan para penghuni gedung itu. Beberapa kali memang aku pernah mengajak makan bersama dalam acara pesta rakyat. Atau menyapa beberapa orang ketika aku keluar dan masuk halaman gereja. Selain itu tidak ada lagi. Bahkan nama mereka pun aku tidak tahu.

Mengingat ini aku jadi malu sendiri. Aku katakan pada beberapa teman bahwa aku pasti akan masuk neraka, sebab tidak bedanya dengan orang kaya dalam kisah orang kaya dan Lazarus dalam Injil Lukas. Aku diam saja dan tidak peduli pada orang miskin yang ada di depanku. Mereka hanya makan remah-remah yang tercecer. Bukan makan dari pemberianku. Aku tidak pernah mempersilahkan mereka duduk makan bersamaku. Mengenal secara pribadipun tidak kulakukan. Padahal aku membantu anak-anak yang jauh dari gedung gereja. Mengapa aku peduli pada kemiskinan yang jauh di depan mata daripada yang ada di depan mata? Bagiku ini sebuah bentuk kesombongan pribadi.

Menyadari akan hal itu dan ketakutan masuk neraka, maka aku mengumpulkan para pengemudi becak. Ada 20 orang lebih yang kumpul. Kami minum kopi bersama di satu meja. Kami saling berkenalan. Betapa lamanya menunggu moment seperti ini. Duduk mengelilingi meja yang sama. Minum kopi yang sama. Merokok yang sama. Makan kue yang sama. Tidak ada beda antara aku dengan mereka. Kami bergurau seperti orang yang sudah mengenal lama. Saling mengolok tanpa menimbulkan sakit hati. Kami membicarakan masalah bersama.

Pembicaraan kami mengarah pada pembentukan koperasi. Apa yang disebut koperasi oleh mereka hanya sebuah tempat untuk menyimpan uang. Tidak ada aturan yang ribet seperti koperasi pada umumnya. Tidak ada iuran pokok atau wajib. Semua kami bicarakan bersama dan keputusan bersama. Aku lebih banyak mendengarkan apa keinginan mereka. Semula aku ingin komunitas ini berbentuk paguyuban saja, namun mereka menolak dengan alasan yang tidak masuk akal bagiku. Menurut mereka paguyuban bisa dianggap sebagai milik pemerintah padahal mereka tidak dibawah pemerintah. Semula aku tidak tahu bagaimana kaitan antara kata paguyuban dengan pemerintahan. Setelah berusaha bertanya-tanya akhirnya aku memahami hal itu. Beberapa dari mereka tergabung dalam paguyuban pengemudi becak dari sebuah partai. Maka bagi mereka kata paguyuban terkait erat dengan partai politik dan pemerintahan. Sebuah pemikiran sederhana yang harus aku ikuti.

Kami membicarakan soal pinjaman. Apakah mereka berhak meminjam? Ternyata semua menolak, sebab pinjaman bisa memecah mereka. Ada kekuatiran bahwa ada orang yang pinjam lalu tidak mau membayar dan pergi begitu saja. Maka keputusannya adalah mereka boleh meminjam dibawah uang tabungan. Semula aku sudah merencanakan bahwa mereka boleh meminjam dua kali dari tabungan, ternyata ideku ditolak. Ketika kutanya bagaimana bila ada keluarga yang sakit dan membutuhkan uang yang cukup banyak? Apakah mereka tidak boleh pinjam melebihi tabungan? Ternyata mereka tetap tidak setuju. Jalan keluar yang dipilih oleh mereka adalah bila ada keluarga yang sakit dan membutuhkan biaya banyak, maka mereka wajib urunan ala kadarnya untuk membantu. Mendengar ini aku jadi terharu. Betapa besar solidaritas diantara mereka.

Pengemudi becak ini rata-rata umurnya sudah lanjut. Memang jarang sekali anak muda yang menjadi pengemudi becak. Mereka semuanya miskin. Mereka tidak berpikir bahwa mereka sudah tua dan harus menyimpan sebanyak mungkin untuk persiapan masa depannya. Ternyata hal itu tidak ada dalam benaknya. Bagi mereka cukuplah apa yang mereka peroleh saat ini. Soal nanti tua itu terserah pada Tuhan. Sebuah keyakinan yang sangat menganggumkan. Semua orang Kristen pasti pernah membaca tentang janji Tuhan bahwa Dia tidak akan meninggalkan hambaNya. Burung pipit yang tidak menanam saja dapat makan mengapa kita kuatir? Masih ada beberapa ayat lain yang menyatakan agar kita tidak kuatir akan hari esok. Tapi sungguhkah kita tidak kuatir? Ternyata para pengemudi becak ini, yang tidak tahu akan ayat itu, dapat menjalaninya.

Aku juga kagum akan rasa solidaritas yang ada dalam diri mereka. Dalam kemiskinan mereka masih berani untuk berbagi dengan sesamanya. Aku sering juga datang ke komunitas yang kaya maupun menengah. Beberapa kali aku datang dalam pembentukan koperasi atau apapun namanya. Namun baru kali ini ada solidaritas yang sungguh. Dalam koperasi yang mendasarkan tata aturannya pada solidaritas, ternyata tidak sampai berpikir seperti ini. Begitu pula ada perkumpulan kaum yang lebih mapan, tidak pernah ada keputusan bahwa kalau ada anggota yang sakit maka semua anggota urunan untuk membantu. Solidaritas yang sesungguhnya baru kutemukan disini. Pada orang sederhana yang sering dianggap tidak berpendidikan dan cap buruk yang lain.

Gereja awali dalam Kisah Para Rasul digambarkan sebagai komunitas yang solider. Mereka bahkan menghapuskan milik pribadi. Tidak lagi ada milikku, sebab semua sudah menjadi milik bersama. Akibat perkembangan dan kekayaan akhirnya semangat itu hilang. Bukan memudar, sebab sudah tidak ada sisanya. Anggota Gereja saling memupuk kekayaan dan tidak ada lagi semangat untuk berbagi penuh dengan sesamanya. Bahkan lembaga-lembaga Gereja pun sama saja. Tidak pernah terdengar bahwa sebuah paroki yang kaya mau berbagi penuh dengan paroki yang miskin. Bahwa kekayaan mereka adalah kekayaan bersama. Sebaliknya ada kecenderungan untuk saling menyembunyikan kekayaannya masing-masing. Mereka lebih senang menumpuk kekayaan daripada menghidupkan semangat Gereja awali. Ternyata semangat Gereja awali aku temukan di tengah pengemudi becak yang miskin. Apakah Gereja harus miskin dulu baru mampu solider seperti Gereja awali?

Dalam pertemuan dengan pengemudi becak itu aku dapat belajar banyak sekali. Semula aku datang untuk menawarkan ide-ideku, ternyata disini aku harus belajar kembali dari mereka. Memperbaharui diri dan meniru semangat mereka yang sederhana dan rela berbagi. Terkadang banyak orang cerdik pandai dan mapan datang ke kelompok orang sederhana dengan membawa ide-ide mereka. Mereka menawarkan bahkan tidak jarang menjejalkan ide mereka. Seolah-olah ide merekalah yang benar dan dapat dijalankan. Dari pengalaman dengan para pengemudi becak ternyata ada ide dan budaya yang baik dalam orang yang dianggap miskin dan tidak berdaya.

Kemiskinan belum tentu membuat orang semakin mementingkan diri sendiri. Aku melihat bahwa sering kali semakin kaya seseorang semakin dia tidak peduli pada sesamanya. Semakin berat untuk berbagi. Dulu aku pernah bersama beberapa orang ingin membuat sebuah perusahaan lilin untuk anak jalanan. Kami berhitung segala dana yang harus dikeluarkan dan prediksi keuntungan yang dapat kami peroleh. Dari gambaran keuntungan itu kami mulai membagi-bagi. Porsi terbesar untuk anak-anak miskin. Setelah berhitung dengan cermat, seorang teman mengatakan bahwa apa yang tertulis ini memungkinkan sebab masih di atas kertas. Tapi apakah jika sudah berujud uang kita tidak berpikir ulang? Pertanyaan itu seolah membangunkan kami dari impian. Seorang teman lain yang juga seorang pengusaha mengatakan bahwa memang ketika mengawali sebuah usaha biasanya ada ide yang kuat untuk saling berbagi. Tapi setelah usaha ini berjalan dengan baik, maka mulai timbul pertengkaran disebabkan pembagian hasil yang tidak merata atau dianggap kurang oleh pihak lain. Di atas kertas lain dengan ketika uang itu sudah tampak di depan mata. Apakah para pengemudi becak itu tidak mempunyai uang yang cukup sehingga mereka masih rela berbagi? Apakah ketika mereka mempunyai uang yang cukup banyak juga masih berani berbagi?

Hal lain yang aku pelajari selama duduk bersama dengan para pengemudi becak adalah rasa keakraban yang kuat. Mereka berbicara spontan. Gurauan mereka begitu bebas. Tidak ada basa basi atau sopan santun yang semu. Aku dapat menikmati bergurau dengan mereka. Mereka tampak suka cita meski situasi hidup mereka sangat memprihatinkan. Adanya kegembiraan dalam situasi pahit membuat orang tetap bersemangat. Banyak orang sudah kehilangan kegembiraannya. Mereka tenggelam dalam aneka masalah yang dihadapinya. Aku yakin para pengemudi becak mempunyai aneka masalah yang rumit. Namun sikap gembira inilah yang membuat mereka mampu bertahan dalam situasi hidup yang sangat tidak berpihak.

Dengan demikian sebetulnya para pengemudi becak ini tanpa sadar sudah berusaha membangun komunitas mirip Gereja awali. Komunitas yang berani berbagi, solider, dan pen534suka cita. Pertengkaran dan perbedaan pendapat pasti ada dalam. Tidak mungkin mereka bisa terus menerus rukun dan damai. Dalam Gereja awali pun ada pertengkaran. Paulus beberapa kali mengecam Petrus dan teman-temannya. Tapi mereka tetap berusaha dengan penuh semangat untuk membangun komunitas yang rukun, solider dan suka cita. Para pengemudi becak pun berusaha membangun komunitas seperti itu. Dari sini aku banyak bercermin. Komunitas-komunitas dalam Gereja tidak jarang saling sodok dan tegang. Dalam pertemuan lingkungan sering terasa kering dan kaku. Tidak ada suka cita. Sebaliknya timbul gosip dan kritik yang tidak membangun. Mengapa para pengemudi becak ini lebih mampu melaksanakan semangat Gereja awali daripada Gereja sendiri? Inilah yang perlu dijawab dan dicari penyebabnya.

Butiran Hikmat Amanat Agung

Sumber: Bagus Pramono

William Carey :
"Usahakan perkara-perkara besar bagi Allah, harapkan perkara-perkara besar dari Allah"

William Fuller :
"Seseorang bisa mati meninggalkan harta lebih dari satu juta doillar, tanpa membawa satu dollarpun dari yang lebih itu"

Jerry Goff :
"Selama mata bocor, kepala tidak akan baik"

David Livingstone :
"Dimanapun, asalkan itu menjadi maju"

F.B. Meyer :
"Anda tidak akan pernah menguji sumber-sumber Allah sebelum anda mengusahakan sesuatu yang mustahil".

Wayne Meyers :
"Anda memberi karena anda tidak bisa menolongnya, anda menerima karena anda tidak bisa menghentikannya"

"Ia yang hidupnya memberi tidak akan pernah kekurangan perkara yang baik"

"Beberapa orang menginginkan apa yang tidak mereka butuhkan dan membutuhkan apa yang tidak mereka inginkan".

"Anda bisa memberi tanpa mengasihi, tetapi anda tidak bisa mengasihi tanpa memberi"

Oswald J Smith :
"Anda harus pergi atau mengirimkan seorang pengganti"

"Jika kehendak Alla adalah penginjilan dunia, dan anda menolak untuk mendukung misi, maka anda adalah orang yang menentang kehendak Allah"

"Mengapa seseorang harus mendengar Injil dua kalu di hadapan orang yang hanya mendengarnya sekali?"

CT Studd :
"Jika Yesus menjadi Allah dan mati untuk saya, maka ada tidak korban yang bisa menjadi lebih besar bagi saya yang bisa dibuat untuk Dia"

Anonim :
"hanya generasi ini yang bisa menjangkau generasi ini"

"Misi gereja adalah misi-misi"

"Gereja yang tidak melakukan penginjilan akan menjadi fosil"

"Hanya sebagai gereja yang menggenapi kewajiban misionarinya yang selalu memperhatikan keberadaannya"

"Cahaya yang bersinar paling jauh bersinar laping terang di dekat rumahnya"

"Allah hanya bisa mempercayai anda dengan materi asalkan materi itu menjadi immateri (tidak penting) bagi anda"

"Ketika kita peduli, maka hal itu akan selalu terlihat; ketika kita tidak peduli, maka hal itu akan lebih terlihat".

"Allah tidak memanggil yang sudah memadai; Ia memadai orang yang Ia panggil"

"Ia yang berkata bawa ia tidak bisa dan ia mengatakan ia bisa, kedua-duanya benar"

Care for Our Nation

Penulis : Andrias Hans

Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu AKU buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN , sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu (Yeremia 29:7)

Pendahuluan

Kita paham akan latar belakang ayat di atas di mana Nabi Yeremia mengirimkan surat kepada tua-tua di antara orang buangan, kepada para imam, para nabi, dan kepada seluruh rakyat yang telah diangkut ke dalam pembuangan oleh Nebukadnezar raja Babel dari Yerusalem ke Babel (29:1).

Gamblang sekali firman Tuhan memberikan petunjuk kepada umat pilihan saat itu supaya di negeri asing sekali pun mereka harus mengerjakan dua tugas panggilan yang mulia yakni: Menyejahterakan dan berdoa bagi kota atau tempat di mana mereka eksis dan mereka tidak diperkenankan untuk bersungut-sungut.

Dua tugas ini sangat relevan dengan eksistensi umat percaya Indonesia walaupun kita bukan orang buangan di negeri asing. Indonesia adalah tanah kelahiran kita sendiri karena itu kita diminta oleh Tuhan untuk peduli terhadap berbagai situasi dan kondisi yang terjadi di tengah-tengah bangsa kita. Dan kepedulian terhadap bangsa kita merupakan perjuangan yang tak pernah usai karena terus menerus diperjuangkan oleh generasi demi generasi kristiani yang lahir di persada nusantara tercinta ini. Jelas sekali bahwa kita tidak bisa bermasa bodoh, kita harus harus peduli terhadap kekinian dan keakanan Indonesia.

Pengantar : Peta umum situasi terkini

Saat ini kita memasuki bukan saja era berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat yang baru (Era reformasi dan demokratisasi di mana semua elemen, eksekutif, legislatif, yudikatif, pers, dan masyarakat menjadi kelinci percobaan yang kalau salah mencobanya semua akan bermuara pada disintegrasi bangsa) namun juga kita sedang melintasi padang gurun yang sangat mengeringkan tenggorokan kita bahkan menghabiskan cairan dalam tubuh (baca: bangsa) kita, karena sekujur tubuh bangsa ini sedang mengalami penyakit multidimensional yang sangat berat dan payah. Sulit diobati karena hampir semua dokter yang mau mengobati juga sakit parah. Juga berpenyakit KKN kronis.

Ekonomi

Sejak tahun 1997 awal sampai detik ini krisis multidimensional yang kita alami tidak ada tanda-tanda akan berakhir , jangankan berakhir, berkurang saja tidak malahan semakin parah saja. Seluruh komponen bangsa ini , kecuali para elite , merasakan betapa pahitnya situasi dan kondisi ini. Para petani di perdesaan dan para buruh di perkotaan sekarang tercekik lehernya, susah bernafas karena beban yang sangat berat untuk hidup dari hari ke sehari. Mencari sesuap nasi bukan hal yang mudah lagi bagi mereka. Anak-anak mereka sakit dan mati karena tidak sanggup membawanya ke Puskesmas atau rumah sakit, karena tidak ada uang sepeserpun di tangan.

Bapak-bapak dan ibu-ibu tani di perdesaan sebagai tiang penopang bangsa ini (Merekalah yang menyediakan makanan kepada seluruh masyarakat bangsa indonesia) semakin sulit untuk hidup (Trubus 386-Januari 2002/XXXIII halaman 41 memberikan catatan bahwa penghasilan seorang petani hanya sebesar Rp. 55.000 - 62.500 per bulan. Ini sebuah potret menyedihkan dari kehidupan petani dan keluarganya yang justru berada jauh di bawah garis kemiskinan). Sementara pemerintah juga tidak berdaya bagaimana mengangkat kesejahteraan ekonomi mereka. Fakta menunjukkan bahwa kebijakan-kebijakan pemerintah nampak mandul bagi peningkatan kesejahteraan rumah tangga petani. Hasil tanaman mereka yang telah menelan biaya produksi tinggi tidak sebanding dengan harga yang diterima (Salah seorang misionaris yang melayani di wilayah Sumsel menyampaikan kepada saya bahwa jemaat yang ia layani saat ini sangat susah sebab harga sayur anjlok sampai ratusan rupiah per kilogram. Padahal biaya produksi yang mereka keluarkan amat begitu tinggi).

Pendidikan

Jangan tanya mengenai pendidikan anak-anak mereka. Menurut data dari Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda (PLSP) tahun 2002, ada satu juta anak yang putus sekolah dasar setiap tahun dan ada 600.000. anak yang belum tertampung di sekolah dasar (Salah seorang misionaris yang melayani di wilayah Sumsel menyampaikan kepada saya bahwa jemaat yang ia layani saat ini sangat susah sebab harga sayur anjlok sampai ratusan rupiah per kilogram. Padahal biaya produksi begitu tinggi). Jangan lupa anak-anak kristiani baik di kota maupun desa berada dalam kategori ini.

Keadaan yang paling menyedihkan dari semua pergumulan bangsa ini adalah

Otak sebagian besar pemimpin, pejabat, konglomerat bangsa ini menurut Kwik Kian Gie (Kwik Kian Gie dalam Pemberantasan korupsi untuk meraih kemandirian, kemakmuran, kesejahteraan, dan keadilan ) sudah tidak waras lagi. Menurutnya pencuatan KKN di Indonesia sudah luar biasa dahsyatnya, dan sudah lama Jelas bahwa KKN yang berawal dari keserakahan materi berkembang menjadi kelainan-kelainan yang sifatnya bukan kebendaan. Pikiran menjadi jungkir balik walaupun pendidikannya tinggi. Itulah sebabnya ada istilah corrupted mind. KKN yang sudah merasuk ke dalam jiwa, mental, moral, akhlak menjelma kebijakan itu, terkadang perumusnya tidak menikmati uang, tetapi kebijakan yang tidak waras itu disebabkan karena keseluruhan jiwanya, cita rasanya, pikirannya sudah sakit. Kesemuanya ini sudah terlepas dari tingkat pendidikannya. Maka orang-orang yang masih waras, yang jiwa dan mindset-nya merumuskan kebijakan yang sangat merugikan orang banyak dan sangat tidak adil. Dalam membela kebijakannya, ilmu pengetahuan dipakai untuk berargumentasi seperti pokrol tanpa alur pikir yang jernih dan tanpa argumentasi, tetapi mengemukakan dalil-dalil yang digebrak-gebrakkan di atas meja diskusi. Gambaran yang terdistorsi ini dimuat di media massa, sehingga mayoritas masyarakat ikut bengkok persepsi dan pengetahuannya tentang hal ikhwal masyarakat, negara dan bangsa yang begitu besar pengaruhnya terhadap

Moralitas

Kondisi yang amat berbahaya yang mungkin tidak disadari oleh setiap anak bangsa Indonesia adalah pengrusakkan moralitas dan etika manusia Indonesia melalui narkoba, perjudian, seks bebas, dan pornografi dalam segala bentuk dan cara penyajiannya. Media massa , cetak, dan elektronik dengan gencar menyuarakan keadilan dan kebenaran tetapi pada saat yang sama mereka juga sedang mempromosikan tayangan-tayangan yang amoralistik yang memuakkan. Tayangan-tayangan hiburan ,lagu-lagu, acara, quis, film, sinetron kental dengan nuansa perselingkuhan, perceraian, hedonisme, erotik, semi telanjang, dan tidak merangsang nilai-nilai kepatutan dan kebenaran hidup sebagai manusia mulia. Berbau mistis, sadis, pembalasan dendam, perampokan, dan pembunuhan. Inilah yang ditampilkan hampir setiap hari di depan mata kita. Tidak heran kini lahir banyak pemerkosa pemula cilik sebagai akibat menyaksikan tontonan-tontonan gratis ini.

Tetapi ironisnya pemerintah tidak sepenuh hati menghalau semua ini bahkan terkesan kuat cenderung membiarkan bahkan mengizinkannya. Sementara di lain pihak upaya-upaya pembangunan sarana-sarana pembentukan karakter mental, moral, etika, dan spiritual yang sangat dibutuhkan anak bangsa ini dirasakan sangat dipersulit (Misalnya izin pembangunan rumah ibadah kristiani terlalu banyak lingkaran proseduralnya dibanding dengan meminta izin mendirikan usaha-usaha yang bernuansa demoralisasi (night club, tempat perjudian , dls). Banyak tempat di Indonesia di mana judi sudah dilegalkan dengan alasan sulit untuk mencegahnya). Pendek kata dalam bidang moral bangsa kita sang jawara. Lihat saja kita termasuk rangking dua dunia dalam cyber crime di dunia ini.

Kini bangsa Indonesia menoreh satu prestasi besar karena telah memiliki universitas terbuka gratis yang tersebar di seluruh propinsi sampai ke desa-desa terpencil yakni sekolah demoralisasi anak bangsa Indonesia. Tayangan-tayangan TV kini sebagaian besar memberikan kurikulum yang mendukung secara langsung atau tidak langsung terhadap pemikiran dan sikap hidup yang anti etika, amoral, dan anti hal-hal rohani. Ini telah terbula lebar kepada semua masyarakat tanpa ada filter lagi. Tidak mengherankan saat ini pelaku free sex adalah anak SD dan SMP. Jangan ditanya anak SMU dan mahasiwa. Betapa mengerikan kondisi moral bangsa kita saat ini.

Politik

Di sisi lain kita dapat menyoroti situasi sosial dan politik terkini di mana sebentar lagi kita berhadapan muka dengan dinamika Pemilu dengan sistim yang baru. Kini terasa sekali para elite partai politik dengan segala upaya (lebih banyak menggunakan cara-cara haram) mau memenangkan pemilu. Serangan fajar (Membagi-bagikan uang kepada rakyat pada saat mereka menuju ke lokasi tempat pemungutan suara, besok Senin 5 April 2004) salah satu cara yang masih pas untuk dilakukan. Bahkan besar kemungkinannya mereka akan menyuap petugas-petugas di TPS-TPS dengan apa saja yang diperlukan. Para elite politik yang berkuasa saat ini terus mencari peluang-peluang mendapatkan dana di mana saja yang bisa dimasuki, apakah itu di lembaga-lembaga swasta atau pun di lembaga pemerintahan (BUMN terutama). Di sini nafsu korupsi, kolusi, dan nepotisme meningkat dengan tajam, dan sulit dibendung.

Krisis multidimensional yang sangat dirasakan sebagian rakyat Indonesia saat ini menjadi lahan subur bagi money politic. Para elite partai saat ini sudah bergerak ke sasaran untuk mengurung rakyat miskin yang merupakan bagian terbesar rakyat Indonesia. Rakyat pun dengan lapang dada menyambut kedatangan kaki tangan partai.

Sistim pemilihan Presiden dan wakilnya secara langsung bukan jaminan mutu kita memiliki pemilu yang demokratis. Tindak kekerasan dan anarkisme akan sulit dihindari dalam pemilu kali ini sebab merupakan pengalaman baru bagi bangsa Indonesia. Ini harus kita cermati dan waspadai dengan cara memberikan pendidikan politik yang benar mulai saat ini.

Bagaimana posisi tawar umat Kristen dalam bidang politik? Kata yang paling tepat dipakai adalah parah! Kenapa demikian? Pengalaman menyatakannya bahwa beberapa waktu lalu ada belasan partai bernuansa Kristen dan masing-masing ketua umum partai, ingin menjadi RI 1. Masing-masing sudah punya kavling suara berdasarkan kandangnya masing-masing. Pertanyaannya, berapakah jumlah suara umat kristen (tambah Katolik) di seluruh Indonesia ? sepuluh jutakah, dua puluh jutakah? Kalau dibagi belasan partai, berapakah jumlah kursi yang akan diperoleh masing-masing partai Kristen? Nonsense! Kecuali terjadi mujizat, seluruh partai kristen yang ada boleh memenuhi doa Tuhan Yesus dalam Yohanes 17:21 yaitu : Ut Omnes Unum Sint ! partai-partai Kristen itu babak belur sebelum maupun sesudah diverifikasi KPU. Dan hanya satu yang muncul. Puji Tuhan. Namun saya cukup beralasan untuk pesimis terhadap keberhasilan partai Kristen dalam pemilu 2004? Meskipun saya tidak menentang adanya partai Kristen. Karena di dalam tubuh partai ini tidak sedikit juga yang memiliki motivasi, cara, dan tujuan berpolitik yang tidak jauh berbeda bahkan sama dengan para politisi duniawi yang sempit. Saya menduga kuat, alhasil dalam pemilu besok, Senin 5 April 2004 kita KO, dan mungkin babak belur (mudah-mudahan tidak jadi abu). Doa saya agar umat Kristen mau belajar dari ketidakbersamaan dan ketidakkebersatuan kita selama ini. Tuhan Yesus sedih melihat keterceraiberaian kita di dunia ini dalam hampir semua lini kehidupan kita. Ingat! doa Tuhan Yesus supaya kita bersatu, itu pertanda bahwa memang kelemahan utama kita adalah tidak bersatu dalam segala hal.

Saudara, inilah potret wajah bangsa kita kekinian yang sangat amat mengenaskan sekali. Tentu situasi dan kondisi ini memberikan pengaruh bagi kehidupan anak-anak Tuhan di tanah air tercinta ini.

Pengaruh bagi kekristenan Indonesia. Mengantisipasinya?

Sejarah mengajarkan kepada kita bahwa kekristenan tidak pernah hidup dalam ruang hampa yang steril dari bobroknya dunia ini. Dari semula kekristenan lahir dalam dunia yang begitu jahat dan untuk itulah kekristenan eksis.

Dorothy Sayers pernah berkata bahwa Allah telah mengambil resiko ilahi ketika memutuskan untuk menetapkan gereja untuk menjadinilai-nilai humanisme (manusia adalah fokus dari segalanya), pragmatisme (menghalalkan segala cara), relativisme (sirnanya standar kebenaran Tuhan yang mutlak), dan hedonisme (tujuan akhir hidup manusia yaitu makan, minum, bersenang-senang tanpa tanggung jawab moral apa pun). Gereja Tuhan seakan-akan lumpuh, tidak lagi berfungsi sesuai naturnya sebagai garam dunia. Sebagai representasi Allah, gereja malah semakin terisolasi dari dunia riil, dan memilih untuk hidup nyaman dalam tempurung rohani kita masing-masing.

Ini merupakan pengaruh buruk bagi kekristenan yang setiap saat siap menerkam kita.

Pengaruh yang signifikan bagi kekristenan di Indonesia sehubungan dengan kondisi global dan kondisi spesifik Indonesia kekinian mencakup masalahinner circlenya bahkan rakyat kecil menjadi sapi perah yang terus menerus dieksploitasi sampai kering kerontang payudaranya), akrobat hukum dan keadilan, moralitas manusia yang kacau balau. sangat mempengaruhi kehidupan siapa saja tanpa mengenal wilayah agama, suku, profesi, dan latar belakang apa pun. Pengaruh terhadap kekristenan adalah semakin banyaknya anak-anak Tuhan yang jatuh miskin. Kemiskinan yang saya maksudkan adalah kemiskinan dalam arti luas (miskin ekonomi [Menurut laporan , rakyat miskin di Indonesia sekitar 40 juta orang , saya yakin angka ini akan terus naik seiring lamanya krisis multidimensional yang terjadi], pendidikan, kesehatan, informasi dan komunikasi, dan miskin partisipasi baik di tengah masyarakat maupun dalam pemerintahan, dan yang parah miskin moralitas dan etika).

Pengaruh yang sangat berbahaya bagi kekristenan saat ini jika tidak diantisipasi dengan hati-hati dan cerdas adalah semakin banyak orang kristen yang akan terbawa arus dalam gaya hidup korup di segala bidang kehidupan. Kita hidup dalam budaya yang sangat korup , bukan mustahil kita akan berperilaku sama dengan mayoritas yang korup itu.

Mari kita cermati apa yang dikatakan Kwik Kian Gie terhadap orang Kristen. Dalam kondisi dan timing yang dianggapnya cocok, mereka menggunakan agama sebagai tameng. Mereka mendadak dan memberikan kesaksian. Demikian meyakinkannya, sehingga sulit dibayangkan bahwa mereka sedang berbohong kepada Tuhan. Pada tahapan yang sudah seperti emosinya, sehingga dia sudah menderita penyakit jiwa yang dinamakan make believe. Mereka berfantasi, dan lambat laun percaya bahwa fantasinya adalah asalkan tetap ke gereja dan semakin fanatik, semakin boleh melakukan apa saja. Kita menyaksikan demikian banyaknya konglomerat jahat yang mendadak menjadi pemeluk agama yang demikian fanatiknya. Maka kita juga mendengar komentar yang sama. Mereka mengatakan bahwa para konglomerat jahat yang begitu religius dan setiap hari Minggu memberikan kesaksian berbohong tujuh kali seminggu. Hari Senin sampai Sabtu berbohong kepada sesama manusia dalam melakukan KKN-nya. Pada hari Minggu di gereja, ketika memberikan kesaksian mereka juga berbohong, tetapi kali ini kepada Tuhan dan dilakukan di rumah Tuhan.

Masih banyak tanggapan buruk dari non kristen terhadap kekristenan di Indonesia. Misalnya apa yang dikatakan oleh Namo Buddhaya : Saudara-saudaraku yang terkasih di dalam Kebenaran sejati, ternyata di dalam Agama Kristen yang satu-satunya jalan keselamatan, juga terdapat penyelewengan, terutama pada kalangan pendeta dan hamba-hamba Tuhannya, jadi tidak berbeda dengan agama-agama lainnya. (Namo Buddhaya mengutip majalah kristen sebagai berikut :Buletin Tiberias, 9 Juli 2000 Ikut merusak perekonomian Indonesia dengan aksi memborong dollar AS. Apakah akar dari segala kejahatan ??! NARWASTU (Oktober 1995) No. 07/Th. 2 Hal : 37 apalagi panitia tsb dari dulu sampai sekarang tidak pernah membayar kembali biaya perjalanannya. Hal ini sering menjadi perbincangan dikalangan hamba-hamba Tuhan yang sering diundang ke sana. dia memempromosikan pengorbanannya yaitu pernah menjual mobilnya dalam menjadi panitia event KKR besar yang menghabiskan biaya 600 juta rupiah...WOW !!!).

Masalahnya sekarang adalah bagaimana kita dapat hidup aneh di tengah bangsa yang korup ini? Janganlah kamu sesat ; pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik (I Korintus 15:33). Sederhana namun memiliki kebenaran yang mendasar. Meskipun kecil, orang kristen harus memulai dan mendorong serta mempromosikan paradigma dan budaya baru yang menjauh dari tindakan-tindakan korup. Misalnya, mari kita mulai berurusan sesuai aturan yang berlaku tanpa memberikan uang kopi alias sogok. Kalau saja ada sepuluh juta orang kristen bertekad melakukan hal ini maka Indonesia niscaya bersih .

Orang Kristen bukan cuma menghindari pergaulan buruk , lebih jauh dari itu sebagaimana yang dikatakan Oswald Chambers (Pengabdianku Untuk Kemuliaannya , Penerbit : Yayasan Pekabaran Injil Immanuel, Jakarta, 2001, 10 April) bahwa dosa harus dimatikan sepenuhnya dalam diri anda, bukan sekedar dikekang, ditekan atau dilawan, melainkan disalibkan (manusia lama kita telah turut disalibkan , supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa , Roma 6:6).

Di sisi lain kita berada di persimpangan jalan menghadapi tahun-tahun yang semakin sulit ke depan. Ini disebabkan umat kristen umumnya masih terlalu Lugu dan polos melihat kekinian situasi bangsa. Kita enggan belajar membaca tanda-tanda zaman yang kita hidupi ini seperti yang dikatakan Tuhan Yesus dalam Injil (Tariklah pelajaran dari perumpamaan tentang pohon ara. Apabila ranting-rantingnya melembut dan mulai bertunas, kamu tahu, bahwa musim panas sudah dekat (Markus 13:28). Juga Tuhan Yesus berkata :&.. rupa langit kamu tahu membedakannya tetapi tanda-tanda zaman tidak (Matius 16:3b) sehingga kita sering kalah langkah dan terkebelakang. Kita bukan menerangi dan menggarami malah sebaliknya diterangi dan digarami oleh situasi (Salah satu contoh, dalam masalah UU Sisdiknas, Sistim Pendidikan Nasional) Melalui kemampuan membaca tanda-tanda zaman ini maka diperlukan komitmen yang kuat untuk memberikan kontribusi kongkrit buat bangsa kita.

Komitmen dan kontribusi kekristenan Indonesia ?

Sebagai anak-anak Tuhan bagaimana kita harus mengambil komitmen dan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap bangsa kita? Tidak ada jalan lain kecuali kembali mendengar dan menjalankan apa kata firman Tuhan. . Supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah &.. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah : Apa yang baik, yang berkenan kepada Allah , dan yang sempurna (Roma 12:1-2). Sebagai anak-anak Tuhan yang hidup di tengah-tengah bangsa yang bobrok ini, kita harus bergantung total kepada pencipta kita dengan cara berpegang teguh pada kebenaran-NYA. Inilah langkah utama dan syarat mutlak yang harus kita kerjakan, tidak bisa ditawar lagi.

Lalu kita mengejawantahkan secara kongkrit kebenaran Firman Tuhan yang berkata : .dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia. Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara dan kasih akan semua orang (II Petrus 1:4-7).

Firman Tuhan ini berkuasa secara negatif menghindarkan kita dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan (Ayat 4) dan secara positif mendorong terciptanya tatanan bangsa yang lebih optimis, produktif , dan kondusif ke depan. Urutannya sangat jelas yaitu : Iman Kebajikan Pengetahuan Penguasaan diri Ketekunan Kesalehan Kasih terhadap saudara seiman dan semua orang.

Formula ini harus kita pakai untuk menghadapi seluruh pengaruh buruk yang terjadi pada bangsa kita. Tanpa formula ini niscaya kita terjerembab dan mandul fungsi sebagai garam dan terang.

Jadi , perlu sekali komitmen dan kontribusi kita yang sungguh kongkrit terhadap kondisi bangsa yang semrawut ini yaitu :

Pertama, iman kita kepada Tuhan Yesus Kristus harus teguh tak tergoyahkan sebab DIA adalah Allah yang berkuasa atas seluruh teritori yang fenomena dan noumena. Ini dasar utama kita. Tanpa Tuhan Yesus kita tidak dapat berbuat apa-apa (Yohanes 15).

Kedua, orang kristen harus terus menerus melakukan kebajikan (perbuatan yang berkualitas bagi kaum mayoritas) di dalam seluruh aspek bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Tidak kompromi dengan dosa apa pun. Dengan demikian orang-orang di sekitar kita dapat merasakan manfaat yang besar atas kehadiran kita. Sebagai contoh mungkin telah tiba saatnya orang kristen Indonesia harus proaktif mendirikan lembaga-lembaga pemberi penghormatan dan penghargaan moral dan etika (Bandingkan paradigma dan sikap Tuhan Yesus dalam Kisah 10:34-36 , Yohanes 10:16, Markus 9:38-41) kepada siapa saja (buruh, petani, guru, karyawan, siswa, mahasiswa, pengusaha, aparat hukum, wartawan, pejabat, wakil rakyat dls) yang melakukan kebajikan untuk kemajuan bangsa ini tanpa melihat latar belakang apa pun orang itu. Hal ini perlahan-lahan namun pasti akan mentransformasi budaya korup dan budaya hitam lainnya kepada budaya kristiani di sekujur tubuh bangsa ini.

Juga sangat mendesak untuk dilakukan bagaimana umat kristen menggarami dunia seni budaya , dan pers Indonesia. Film-film , sinetron , dan dunia hiburan lainnya harus dirancang dan dicipta dengan nilai-nilai dan kultur kristiani yang dapat dikonsumsi oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia (Harus dengan strategi jitu dengan melepaskan simbol-simbol kristiani tetapi kental dengan nilai-nilai alkitabiah). Saya sedih melihat tidak sedikit artis Indonesia yang bertobat dan dipaksakan menjadi pendeta atau penginjil, padahal mungkin mereka Tuhan tidak panggil menjadi seperti itu. Mereka ini sangat produktif dan efektif kalau tetap pada profesinya sebagai artis dunia entertainment yang berbaju Kristus. Kisah-kisah alkitab tidak kalah menariknya dengan sinetron-sinetron sekarang bahkan lebih tinggi kualitasnya kalau digarap dengan baik dan cerdas oleh artis-artis kristiani indonesia.

Para jurnalis dan perusahaan pers kristiani bukan waktunya lagi malu-malu kucing untuk mengorek dan mengomunikasikan berita serta memberikan pendidikan yang benar kepada masyarakat bangsa ini. Suara kenabian pers kristiani Indonesia harus lebih berani dan unggul di atas rata-rata para jurnalis dan perusahaan pers lainnya tanpa peduli resiko apa pun yang akan diterima. Para jurnalis dan perusahaan pers kristiani Indonesia harus siap sedia menderita aniaya karena kebenaran hakiki (Matius 5:10-12). Dan masih banyak hal dari segala lini kehidupan kristiani yang dapat kita persembahkan bagi bangsa kita Indonesia.

Ketiga, Pengetahuan kita harus terus menerus dipertajam. Gereja dan lembaga-lembaga kristiani dan para pemimpinnya harus mendorong dirinya dan umatnya berpacu dalam meningkatkan keunggulan iptek dan informasi. Karena hanya dengan kualitas pengetahuan dan skill SDI kristiani yang tangguh maka kita dapat berperan dan mengatur jalannya roda bangsa ini. Orang krsiten harus masuk dan menggelar pengaruhnya di segala bidang kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat (politik, sosial, ekonomi, hukum, lingkungan hidup, seni, birokrasi, pendidikan, pers dan lain-lain). Pendek kata segala tempat harus ada orang krsiten di sana.

Keempat, penguasaan diri (self control) kita menyangkut tidak mudah terpancing dengan provokasi apa pun dan menahan hasrat meninggikan bendera keKristenan (Jangan memamerkan kemegahan dalam bentuk apa pun (membangun gedung gereja yang mewah dan megah di mana-mana, ke gereja dengan mobil sehingga menjadi penyebab kemacetan. Kalau bisa satu mobil dengan dua keluarga , hal ini baik untuk menjalin keeratan persekutuan antara keluarga Kristen dalam satu denominasi, juga mengurangi polusi), ini hanya akan semakin menstimulir kecemburuan sosial masyarakat sekitarnya yang berkeyakinan lain.

Kelima, orang-orang Kristen Indonesia harus tekun (tahan banting) menghadapi segala situasi yang terjadi dan tekun dalam kesalehan hidup sehingga dengan konsistensi kita mengikut Kristus dunia akan melihat bahwa kita benar-benar memiliki Tuhan yang hidup, dengan demikian mereka akan memuliakan Allah kita , Yesus Kristus (Bandingkan Daniel 6:26-28: Kemudian raja Darius mengirim surat kepada orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa, dan bahasa yang mendiami seluruh bumi, bunyinya : Bertambah-tambahlah kiranya kesejahteraanmu! Bersama ini kuberikan perintah bahwa di seluruh kerajaan yang kukuasai orang harus takut dan gentar kepada Allahnya Daniel, sebab DIAlah Allah yang hidup, yang kekal untuk selama-lamanya ; pemerintahan-NYA tidak akan binasa dan kekuasaan-NYA tidak akan berakhir. DIA melepaskan dan menolong, dan mengadakan tanda dan mujizat di langit dan di bumi, DIA yang telah melepaskan Daniel dari cengkeraman singa-singa ).

Selanjutnya orang-orang Kristen Indonesia harus selalu tekun dalam mewujudnyatakan kasih terhadap sesama saudara seiman (Galatia 6:10) dan kepada semua orang sesama anak bangsa ini. Kasih terhadap saudara seiman (kota dan desa bahkan pedalaman) akan memperkokoh basis keKristenan di Indonesia. Sedang kasih kepada sesama anak bangsa akan menjadi magnet dahsyat yang sangat kuat menarik mereka masuk ke dalam kerajaan-NYA. Kekuatan kasih yang ada di dalam diri setiap orang Kristen merupakan senjata penakluk yang sangat ampuh terhadap apa saja di depan kita.

Kesimpulannya adalah bahwa komitmen dan kontribusi umat Kristen Indonesia baik secara pribadi maupun secara persekutuan (kolektif sinergis dan jejaring) harus berjalan di bawah koridor tujuh ketangguhan yakni : Tangguh Iman, Tangguh Kebajikan, Tangguh Pengetahuan, Tangguh Penguasaan diri, Tangguh Ketekunan, Tangguh Kesalehan, Tangguh Kasih terhadap saudara seiman dan semua orang. Dengan demikian akan menjadikan umat Kristen Indonesia bukan saja tetap eksis di tanah kelahirannya tetapi juga menjadi kapal yang dipercaya dan diandalkan oleh ratusan juta penumpang menuju pelabuhan akhir yang diidam-idamkan.

Penutup

Sebagai catatan akhir , saya mengajak kita semua terutama kita sebagai generasi penerus gereja-NYA dan bangsa Indonesia, marilah kita berupaya sekuat tenaga, pikiran, daya ,dana, dan apa saja yang ada pada kita untuk menjalankan DWI MANDAT yang dipercayakan Tuhan kepada kita yakni : Mandat Injil dan Mandat Budaya (Matius 28:18-20 dan Kejadian 1:26-28) dalam bingkai tujuh ketangguhan di atas. Dengan demikian kehadiran umat Kristen Indonesia di negerinya sendiri dan dunia sekitarnya akan menjadi suatu kekuatan yang mentransformasi tatanan bangsa dan dunia ini ke dalam kebenaran dan kesejahteraan yang utuh dan pada muaranya membawa hormat dan kemuliaan bagi nama Tuhan kita Yesus Kristus

Hati Nurani Dan Moral

Oleh: Dr. R.C. Sproul

Ketika kita harus memilih di dalam bidang moral maka nyatalah fungsi hati nurani sangat rumit. Hukum Allah memang tidak berubah untuk selamanya. Namun disamping taat kepada hukum-hukum ini kita juga perlu mengusahakan agar hukum-hukum ini mencapai keharmonisan dalam hati kita. Standar dari organ intern ini disebut "hati nurani". Ada orang melukiskan suar a intern yang samar-samar ini sebagai suara Allah di dalam diri manusia. Di dalam hati nurani manusia, yaitu tempat yang sangat tersembunyi terdapat keberadaan pribadi, karena ini bersifat tersembunyi sehingga kita sangat sulit mengenal fungsinya. Freud telah memasukkan psikologi ke dalam istana ilmiah sehingga manusia mulai menyelidiki alam bawah sadar, menggali lubang-lubang yang paling dalam di dalam pribadi manusia.

Sehingga manusia takut dan kagum waktu menghadapi hati nurani. Apa yang dinyatakan oleh suara intern ini mungkin seperti komentar seorang psikolog sebagai "menemukan neraka." Namun kita harus memandang hati nurani sebagai sesuatu yang bersifat surgawi, sesuatu yang berhubungan dengan Allah dan bukanlah organ yang berasal dari neraka. Mari kita membayangkan tokoh di dalam film karton, p ada waktu ia diperhadapkan untuk memilih dalam bidang moral maka ada malaikat dan setan, yang masing-masing hinggap di kiri kanan bahunya. Keduanya berusaha manarik dia seperti menarik gergaji untuk memperoleh otak manusia yang malang ini. Hati nurani dapat merupakan suara dari surga dan juga dapat berasal dari neraka. Dia mungkin berbohong, juga mungkin mendorong kita mencapai kebenaran. Dua macam hal yang dapat keluar dari satu mulut. Jika bukan melakukan tuduhan maka ia melakukan pengampunan. Slogan Walt Disney yang terkenal: "Biarlah hati nuranimu memimpin engkau" sangat populer.

Namun ini paling banyak hanya bisa dipandang sebagai teologi untuk anak kecil. Sedangkan terhadap orang Kristen hati nurani bukanlah pengadilan tertinggi untuk memutuskan kelakukan yang benar. Hati nurani sangat pent ing tetapi tidak cukup sebagai standar, dia selalu berkemungkinan untuk menjadi bengkok dan salah memimpin. Di dalam Perjanjian Baru 31 kali menyebut tentang hati nurani sepenuhnya menyatakan kemungkinan terjadi perubahan hati nurani. Hati nurani juga mungkin telah digerogoti menjadi keropos atau karena kerap kali berdosa sehingga kebal. Yeremia melukiskan orang Israel dengan istilah "bermuka pelacur." Ini disebabkan orang Israel terus menerus berdosa sehingga kehilangan perasaan malu di dalam hatinya. Mereka menegarkan tengkuk, membekukan hati, sehingga hati nurani mereka tidak berfungsi lagi. Demikian juga orang-orang yang anti masyarakat mungkin setelah membunuh manusia tetap tidak merasa menyesal dan hilanglah fungsi teguran hati nurani yang normal.

Meskipun hati nurani bukan hakim tertinggi di dalam prinsip moral, namun melakukan sesuatu yang melanggar hati nurani tetap suatu hal yang berbahaya. Ingatlah pada waktu Martin Luther di dalam sidang Worms menghadapi tekanan moral yang luar biasa besarnya dan gentar di tengah kepahitan yang optimal itu. Ada orang menganjurkan untuk menyerahkan iman, maka di antara jawabannya terdapat, "Hati nuraniku telah ditawan oleh Firman Allah." Melakukan sesuatu yang melanggar hati nurani adalah tidak benar dan merupakan hal yang tidak aman dan berbahaya sekali. Begitu hidup Luther melukiskan dinamika emosi semacam ini pada waktu ia mempergunakan istilah "ditawan." Hati nurani dapat bekerja secara penuh di dalam diri manusia. Pada saat manusia dipegang oleh suara hati nurani sehingga menghasilkan kekuatan maka dengan sendirinya timbul keberanian yang luarbiasa. Hati nurani yang ditawan oleh Firman Allah adalah hati nurani yang anggun dan berdinamika. "Bertindak melanggar hati nurani adalah tidak benar dan bahaya." Benarkah kalimat Luther ini? Kita harus berhati-hati menjelajahinya sehingga dapat mencegah langkah-langkah yang dapat melukai jari kaki kita yang berjalan di tepi pisau cukur kriteria moral ini. Jikalau hati nurani mungkin disalahtafsirkan atau salah arah mengapa kita harus tidak berani bertindak melanggarnya? Apakah kita harus masuk ke dalam dosa karena mengikuti hati nurani? Kita berada di tengah-tengah kedua bahaya ini sehingga bergerak, maju maupun mundur. Jikalau kita dikatakan berdosa menurut hati nurani, perlu diingat meskipun sudah bertobat hati nurani tetap memerlukan Firman Tuhan untuk memberikan pimpinan yang benar. Namun jikalau kita bertindak melanggar hati nurani kita tetap telah melakukan dosa. Dosa ini mungkin tidak tergantung apa yang sudah kita perbuat tetapi tergantung fakta bahwa kita yang sudah mengetahui dengan jelas sesuatu yang jahat tetap terjun ke dalamnya, ini menyangkut prinsip Alkitab yang menyatakann "segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman adalah dosa." Misalnya (sekal i lagi misalnya) ada orang diajar dan percaya bahwa memakai lipstick adalah berdosa tetapi ia tetap memakainya maka orang ini sudah berbuat dosa. Sebenarnya dosa bukan tergantung pada lipstick itu tetapi tergantung pada usahanya untuk melanggar perintah Allah.

Penguasaan terhadap hati nurani merupakan semacam kekuatan dengan daya pemusnahan di dalam gereja. Orang legalis selalu menitikberatkan penguasaan dosa, sedangkan orang antilegalis selalu secara diam-diam menyangkal dosa. Hati nurani adalah semacam alat yang rumit yang harus kita hargai. Jikalau seseorang mau mempengaruhi hati nurani orang lain maka ia menghadapi tugas berat, ia harus memelihara kepribadian orang lain menjadi sempurna seperti pada saat diciptakan Allah. J ikalau kita mempersalahkan orang lain dengan penghakiman yang bersifat memaksa dan tidak benar maka kita mengakibatkan tetangga kita terikat kaki tangannya berarti kita memberikan rantai kepada mereka yang sudah dibebaskan Allah. Tetapi jikalau kita secara paksa mengakibatkan orang berdosa, menganggap diri tidak bersalah maka kita akan mendorong mereka lebih terjerumus ke dalam dosa. Dan akan menerima hukum Allah yang seharusnya dapat dihindarkan.

Children of Light - Serving with LOVE through FAITH Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia Kol 3:23 Karena bagiku hidup adalah Kristus & mati adalah keuntungan Fil 1:21

Internet, Indonesia, Injil

Penulis : Jonathan K. Tunggal dan Surance Tunggal

Beberapa waktu yang lalu penulis dan istri singgah di sebuah kedai dan mulai membaca sebuah majalah yang disediakan oleh kedai tersebut. Di dalamnya ada sebuah artikel sekuler yang membahas tentang pertumbuhan internet di Indonesia; melaluinya kami sedikit belajar mengenai berbagai problema, tantangan dan prospek dari sesuatu yang masih tergolong dalam pertumbuhan awal ini. Tanpa disadari kami mulai berdiskusi, bahkan berdebat mengenai potensi dan dampak internet bagi kemuliaan-Nya. Percakapan ini membawa kami kepada sesuatu pemikiran yang hendak kami bagikan bagi sesama umat percaya.

Diperkirakan oleh APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia)1 bahwa di akhir 2004, jumlah pengguna internet (internet users) di Indonesia akan berkisar di sekitar 12 juta orang. Bilamana 10% dari jumlah ini adalah umat Kristen (Christian Internet Users), maka ada 1,2 juta pengguna internet kristiani. Dan, bilamana hanya ada 10% dari jumlah ini yang gemar mengunjungi situs-situs kristiani, maka akan ada sekitar 120,000 orang di Indonesia yang mengunjungi situs-situs kristiani secara aktif (cat.: Perhitungan ini adalah prakiraan kasar).

Salah satu pertanyaan yang timbul adalah sampai berapa jauh dampak sarana internet di dalam membantu pertumbuhan rohani umat Kristen di Indonesia? Jawaban pertanyaan ini dapat ditarik dari renungan berikut :

Prakiraan kasar memperkirakan ada hanya sekitar 120,000 orang yang sudah terjangkau melalui sarana-sarana kristiani. Jadi, dampak dari sarana internet adalah masih sungguh amat kecil secara kwantitas. Tetapi, bukankah ini juga berarti bahwa lahan pelayanan bagi umat Kristen Indonesia melalui sarana internet masih sungguh teramat luas? Malah, boleh dibayangkan ini adalah sesuatu yang maha besar. 12 juta pengguna internet di Indonesia (2004) adalah lebih besar daripada penduduk Jakarta. Ini bukan hanya sesuatu komunitas kecil. Tetapi, apakah target kita hanya untuk mencapai 12 juta ini? Bukankah 220 juta, bahkan 6.5 milyar orang adalah sesuatu sasaran yang lebih tepat?

Dapat disimpulkan tidak diperlukan “persaingan” (competition) di antara situs-situs Kristen, malah dibutuhkan bahu-membahu antara kita sekalian.

Kita harus siap untuk penuaian yang besar. Internet dan sarana-sarana media yang lain (lisan, cetak, tv, radio, sms, telephony, audio/video streaming dll.) masih dan akan terus berkembang dengan pesat di Indonesia. Pengguna internet di Indonesia berjumlah 4,5 juta di tahun 2002, 8 juta di 2003 dan diperkirakan 12 juta di 2004. Media tumbuh; apakah umat Kristen siap menuai berkat yang akan diberikan Tuhan melalui ini?

Adalah sesuatu yang tidak mungkin untuk mencapai 220 juta orang dengan hanya melalui sarana internet. Akan dibutuhkan kerja sama dengan cetak, tv, radio dll. Internet hanya salah satu wadah yang akan dipakai. Diperlukan kerendahan hati dan penandasan bahwa sarana-sarana media inipun bukanlah segala-galanya; Roh Kudus sendiri dapat menjangkau setiap jiwa yang haus pada-Nya. Tetapi, kita perlu menyadari akan potensi dari media untuk mengisi setiap hati yang mencari dan rindu kepada-Nya.

Perlu disadari bahwa penggunaan sarana internet atau sarana media apapun bukan sekedar menciptakan suatu situs/fitur dengan tekhnologi yang paling mutakhir. Tujuan kita bukan hiburan (Entertainment). Kita di sini hanyalah untuk melakukan kehendak-Nya dan menyenangkan hati-Nya. Jadi, semua fitur, baik mutakhir atau tidak, hanyalah untuk kepentingan Tuhan.

Ada begitu banyak yang perlu dilakukan. Kita semua membutuhkan hikmat dari-Nya sebagai Kepala dari Tubuh Kristus. Organisasi, asosiasi, group dan perkumpulan internet dalam bentuk apapun akan menjadi sia-sia bilamana setiap webmaster atau pengawas tidak mendapatkan inspirasi langsung dari Roh Kudus dan tidak taat akan perintahNya dalam arah, visi dan misi dari sebuah situs/portal.

Peringatan: Tidak perlu "menyontek" misi dari situs lain. Setiap dari situs/portal mempunyai fungsi masing-masing. Tentunya, sering kali ada hal-hal yang kelihatannya sama. Ini sangat normal; ada 2 tangan di setiap tubuh. Tetapi, sungguh amat penting untuk berdoa, berdoa dan berdoalah supaya Hikmat-Nya yang tak terhingga akan memberi arahan, inspirasi bahkan urapan untuk mencipta ("guidance, inspiration and anointing to create") kepada kita masing-masing.

Sasaran dari pelayanan internet bukanlah sebagai pengganti waktu dari renungan atau waktu teduh. Hubungan pribadi kita dengan Yesus Kristus adalah yang terpenting

Internet adalah suatu bejana untuk membantu setiap umat Kristen Indonesia untuk melakukan kehendak Bapa dan menyenangkan hati Yesus. Kami percaya bahwa ini adalah tujuan dari Kasih Kekal www.kasihkekal.org dan juga, setiap situs-situs Kristiani lain.

Tuhan menyertai dan memberkati. SOLI DEO GLORIA.

Sumber: Statistik Internet: APJII

Janganlah Takut, Kabarkanlah Injil!

Oleh: Eullhenya Nabroza

Tuhan Yesus sudah berfirman bahwa seseorang dapat datang kepada Yesus jika Bapa menarik orang tersebut ( Yoh 6 :44-45 " Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-KU, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku dan Ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman. Ada tertulis dalam kitab nabi-nabi. Dan mereka semua akan diajar oleh Allah. Dan setiap orang, yang telah mendengar dan menerima pengajaran dari Bapa, datang kepadaku").

Karena itu tugas kita sebagai pengikut Kristus, perkenalkanlah Yesus kristus kepada siapa saja yang kita temui, karena Bapa menyertai kita selamanya (Mat 28:19-20 " Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh kudus. Dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu, yang telah Kuperintahkan kepadamu, Dan ketahuilah Aku menyertai kamu senantiasa sampaikepada akhir zaman").

Bahkan Tuhan Yesus sudah berjanji kepada kita akan mengirimkan Roh kudusnya untuk menjadi penolong bagi kita ( Yoh 7:8 "Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu; Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi.

Sebab jika aku tidak pergi penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu. Dan kalau Ia datang. Ia akan menginsafkan dunia akan dosa,kebenaran, dan penghakiman") Oleh karena itu kita tidak perlu takut untuk memberitakan keselamatan itu karena kita tidak bekerja berdasarkan kemampuan kita sendiri. Allah sudah berjanji dalam Yohanes 60:61 "Roh Tuhan Allah ada padaku, oleh karna Tuhan telah mengurapi aku ; ia telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik untuk orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitahukan pembebasan bagi orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara". Jadi marilah kita maju untuk kebenaran, karena kita tidak sendiri melainkan Allah beserta kita. Amin! GBU

Kasih Tuhan untuk Dunia

Penulis : Bagus Pramono

Yohanes 3:16
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Agama Yahudi adalah akar dari Kekristenan, tetapi kita semua tahu bahwa Agama Yahudi eksklusif bagi bangsa Yahudi demikian juga bangsa Yahudi adalah bangsa yang bersikap eksklusif karena mereka adalah The Chosen People. Tuhan adalah yang mempunyai alam semesta sehingga bangsa-bangsa lainpun kemudian diizinkan mempeloleh keselamatan dariNya melalui Yesus Kristus. Kita telah melihat karya agungNya bahwa penyembahan dan ibadah kita di bumi sekarang seperti penyembahan di surga dimana orang-orang dari banyak bangsa, suku dan bahasa menyanyi kepada Yesus dihadapan Tahta Allah.

Wahyu 7, 9-10 :
Kemudian dari pada itu aku melihat: sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka. Dan dengan suara nyaring mereka berseru: "Keselamatan bagi Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!"

INJIL DAN SEJARAH:

Tokoh sejarah Iskandar Agung (356-323 SM) dari Makedonia, atau Alexander the Great, atau di kalangan muslim dan melayu sebagian menyebutnya dengan nama Iskandar Zulkarnain. Adalah salah satu tokoh terhebat yang pernah hidup, tetapi mati muda, telah menaklukkan tiga benua, Eropa, Afrika dan Asia. Di Afrika, Alexander menaklukkan Mesir sehingga menubuhkan kota Alexandria atau dalam bahasa Arabnya, Iskandariah. Di benua Asia, dia menaklukkan Iran sampai ke India. Pada tahun 332SM Alexander datang ke Yerusalem. Terhadap semua daerah jajahannya Alexander mempersatukannya dengan membuat Koine Dialek, (Istilah koine itu berarti umum); jadi Koine Yunani berarti bahasa Yunani yang berlaku untuk umum untuk masyarakat luas. Sebelum Alexander berkuasa, bahasa Yunani merupakan campuran dari sejumlah dialek atau bahasa daerah. Ketika Alexander berkuasa, ia berupaya agar bahasa Yunani itu menjadi bahasa yang digunakan untuk umum atau masyarakat luas. Pada masa penjajahannya Alexander juga membangun infrastruktur dengan pembangunan jalan-jalan yang menghubungkan daerah satu dengan yang lain pada wilayah jajahannya, dan kemudian ratusan tahun kemudian memberikan kemudahan bagi para Rasul untuk memulai mengabarkan Injil, tentu saja kita boleh memandang hal ini sebagai kemudahan karena Para Rasul tidak perlu "babat alas", dan dengan mudah melalui jalan-jalan yang sebelumnya telah dirintis mulai dari masa pemerintahan Alexander Agung itu.

Mengapa Alexander begitu hebat, perlu diingat bahwa dia adalah anak didik dari seorang Filsuf dan Ilmuwan terkemuka Yunani yaitu Aristoteles (384-322 SM). Bisa diartikan pikiran yang ada di otak Alexander adalah buah pikir dari Aristoteles. Tuhan memberi hikmah kepada mereka untuk menciptakan, mengeksplorasi dan menyebarkan Ilmu-ilmu, Budaya, Seni, Olah raga, Tata Bahasa, Kesusastraan, dan lain-lain. Dari situ kita bisa menangkap sebuah maksud, mengapa Allah mengizinkan bangsa-bangsa kafir menjajah umat pilihan Allah itu, atau dalam pemikiran yang lebih sederhana, kita bisa melihat bahwa hal tersebut mungkin diijinkan Allah untuk mempersiapkan kedatangan Kristus ke dunia, hingga demikianlah jalannya. Taurat yang sifatnya eksklusif itu akan sulit untuk ditransferkan ke bangsa lain selain Yahudi. Perlu sebuah bahasa diluar bahasa orang Yahudi untuk mengabarkan Injil Yesus.

Pemahaman diatas memberikan kita satu jawaban mengapa Perjanjian Baru dalam Alkitab kita yang asli adalah ditulis dalam bahasa Yunani. Banyak kalangan non-Kristen mempertanyakan hal ini, mengapa Injil tidak ditulis dalam bahasa Ibrani atau bahasa Aram, bahasa sehari-harinya Yesus?. Pada waktu itu bahasa Yunani adalah bahasa pergaulan, terutama di kalangan kaum terpelajar, sering digunakan oleh orang Yahudi pendatang sebagai bahasa pergaulan di Timur Dekat; pada umumnya Yahudi pendatang berbahasa Yunani ini mengunjungi Yerusalem untuk perdagangan dan berziarah ke Bait Allah. Pada masa itu pula naskah-naskah Perjanjian Lama berbahasa Ibrani (Tanakh Ibrani) diterjemahkan kedalam bahasa Yunani yang dikenal dengan Septuagi2nta. Selanjutnya dengan datangnya Bangsa Romawi pada tahun 63SM tambah lagi satu bahasa di wilayah itu yaitu bahasa Latin.

Pada masa Perjanjian Baru ditulis, koine Yunani sudah menjadi bahasa yang digunakan secara luas oleh bangsa Israel. Perjanjian Baru yang tertulis dalam Koine Yunani menandakan bahwa Yesus bukan milik bangsa Yahudi saja. Seiring bertambahnya waktu dan berkembangnya jaman, karya dari para-rasul yang mengemban secara teguh Amanat Agung Yesus Kristus agar berita Injil dapat dinikmati semua bangsa. Bahasa Yunani adalah bahasa yang sangat representatif untuk menyampaikan Firman Allah, salah satu contohnya : ada kata agape, filia, eros dan storge, yang semuanya diterjemahkan dengan kata "love" (Inggris) dan "kasih" (Indonesia). Hanya kata Yunani yang bisa menggambarkan Kasih Allah secara tepat yaitu AGAPE.

Alkitab kemudian diterjemahkan kedalam berbagai macam bahasa termasuk bahasa Indonesia, bahkan bahasa daerah-daerah. Mengapa Alkitab diterjemahkan ke berbagai bahasa?. Karena berita keselamatan itu lebih effektif disampaikan lewat bahasa yang bersangkutan, daripada mereka harus mempelajari bahasa aslinya dulu untuk mengenal Yesus. Tentu, bagi yang ingin mempunyai dan mempelajari Bahasa Asli Alkitab, baik Ibrani maupun Yunani, kesempatan tersebut dapat diperoleh bagi semua orang yang mau. Tetapi INJIL menekankan cakupan universal - bahwa Yesus datang untuk membawa keselamatan bagi semua orang, baik orang Yahudi maupun orang bukan Yahudi (semua bangsa).

YESUS BUKAN HANYA UNTUK DOMBA-DOMBA ISRAEL:

Kekristenan kita ini seringkali mendapat serangan-serangan dengan mencuplik ayat Alkitab sendiri :

Matius 15:24 :
"Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel" Benarkah demikian?, Karena ayat tsb tidak berdiri sendirian, dan untuk memahaminya harus kita baca dan dipelajari pada keseluruhan ayat-ayat dalam satu perikopnya sbb :

Perempuan Kanaan yang percaya (Matius 15:21-28 )

Matius 15:21
Lalu Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon.

Matius 15:22
Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: "Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita."

Matius 15:23
Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: "Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak."

Matius 15:24
Jawab Yesus: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel"

Matius 15:25
Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: "Tuhan, tolonglah aku."

Matius 15:26
Tetapi Yesus menjawab: "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing."

Matius 15:27
Kata perempuan itu: "Benar T2uhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya."

Matius 15:28
Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai Ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh.

Ayat 24 Seringkali diklaim oleh orang-orang di luar Kristus sebagai suatu pernyataan yang rasialis. Padahal justru sebaliknya ada pengajaran yang sangat berharga bisa dipetik dari kisah itu. Yesus kala itu berada didalam lingkungan masyarakat yang memiliki pola pikir bahwa orang-orang Yahudi adalah umat pilihan Allah; sedangkan bangsa lain tidak berhak menerima berkat Allah. Bangsa lain lebih rendah dan sebagainya. Yesus menjawab "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel". Hal ini adalah untuk menguji iman perempuan tersebut dan bahkan lebih jauh lagi Yesus mengucapkan kata-kata yang kedengarannya "kasar" sekali yaitu "anjing". Mengapa Yesus menggunakan kata "anjing" dalam kasus tersebut? Karena memang orang-orang Yahudi menganggap orang-orang Kanaan rendah dan menyebut orang-orang Kanaan "anjing". Dan Yesus "sengaja" mengangkat topik ini.

Satu hal yang kita harus perhatikan dalam kisah ini adalah bahwa Yesus telah menyembuhkan begitu banyak orang tetapi tidak semuanya memiliki IMAN seperti perempuan Kanaan ini, yang justru dari kalangan yang terhina dengan sebutan "anjing". Bukan itu saja perempuan Kanaan tidak merasa tersinggung dan bahkan mempunyai keberanian untuk tetap memohon; ayat 27 Kata perempuan itu: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya."

Perempuan Kanaan itu tetap dengan berani memohon agar anak perempuannya disembuhkan oleh Yesus, luar biasa. Ia mengatakan bahwa ia tidak meminta apa yang diperuntukkan bagi orang Israel tetapi ia hanya meminta yang layak ia dapatkan, yakni remah-remahnya. Di sini kita meliha108agaimana besar imannya, karena ia tidak memaksakan kehendaknya tetapi ia benar-benar memfokuskan permohonnya kepada belas-kasihan dari Yesus. Ia tetap menganggap suatu anugerah walaupun dia hanya mendapatkan remah-remah, sesuatu yang tidak lagi dihargai orang lain.

Pelajaran besar yang diambil dari iman perempuan Kanaan itu bahwa dia tidak goyah ketika Yesus menjawab "tidak patutlah mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.", dia balik menjawab dengan keberanian yang luar biasa "bahwa anjing yang berada di bawah meja itu makan remah-remah roti yang jatuh". Seorang perempuan dari kalangan kafir dan seorang dari warga kelas dua, keprihatinannya terhadap anak perempuannya telah membuat dia berani menembus batas-batas budaya, tradisi dan gender dengan ketabahan dan keberanian. Inilah yang kemudian membuat Tuhan Yesus menjadi kagum.

Dalam kejadian itu, terbukti bahwa pelayanan Yesuspun menembus batas-batas kebiasan eksklusifitas Yahudi, Perempuan Kanaan itupun mendapat belas-kasihan dari Yesus. Perempuan ini telah datang pada alamat yang tepat, dia memiliki sikap yang benar, dan mendapatkan anugerah-Nya yang telah terbukti mendobrak pola pikir rasialis bangsa Yahudi masa itu. Yesus berkata "Hai Ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh. Yesus telah dibuat kagum oleh iman dan kesederhanaan pola pikir dari perempuan Kanaan itu. Pujian semacam ini sangat jarang diucapkan oleh Yesus!

INJIL UNTUK SEMUA BANGSA :

Matius 10:5-6
Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: "Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria2, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.

Ayat juga tersebut sering diklaim oleh kalangan non-Kristen, bahwa Injil hanya diperuntukkan bagi orang-orang Israel saja. Tetapi harus dipahami bahwa hal tersebut adalah merupakan perintah yang sifatnya temporary yang diperuntukkan ketika murid-murid Yesus melaksanakan awal-awal penginjilan. Bahwa Pengabaran Injil mempunyai tahapan-tahapan, mulai dari lingkungannya (orang-orang Yahudi), kemudian orang-orang di Yudea, Samaria, kemudian terus berjalan keluar, menyebar ke bangsa-bangsa lain (Kitab Kisah Para Rasul menuliskan perjalanan mereka mengabarkan Injil Yesus kepada bangsa-bangsa), Hal tersebut sesuai Amanat Agung Yesus Kristus :

Matius 28:19-20
Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

Terlebih jauh lagi pada Kitab Kisah Para Rasul lebih jelas lagi tahapan-tahapannya bahwa pelayanan dimulai dari Yudea kemudian Samaria bahkan sampai ke ujung bumi.

Kisah Para Rasul 1:7-8
menuliskan, JawabNya: "Engkau 2tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasaNya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."

Yudea dan Samaria adalah langkah yang harus dilewati untuk kemudian sampai ke ujung-ujung bumi. Waktu murid-murid Yesus melangkah ke bangsa-bangsa, tentunya Yudea dan Samaria itu menjadi tanggung-jawab terlebih dahulu. Bagaimana mengukur keberhasilan mereka menjadi berkat bagi bangsa-bangsa adalah sangat tergantung kepada keberhasilan mereka melayani di wilayah Yudea dan Samaria. Kemudian dengan jelas pula kita baca dalam ayat dibawah ini :

Kisah Para Rasul 16:10
Setelah Paulus melihat penglihatan itu, segeralah kami mencari kesempatan untuk berangkat ke Makedonia, karena dari penglihatan itu kami menarik kesimpulan, bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana.

Yesus memerintahkan murid-muridnya untuk keluar dari lingkup Israel dan mengabarkan Injil kepada bangsa-bangsa lain. Rasul Paulus dikenal sebagai Rasul yang banyak melakukan terobosan-terobosan sehingga Injil bisa diterima oleh segala macam lapisan, orang Yahudi, non Yahudi dan bangsa-bangsa lain.

Yesus yang universal, artinya Karya Agung Keselamatan dan berkat Kehidupan Kekal dari Tuhan Yesus Kristus diperuntukkan kepada semua orang dan tidak dapat dibatasi oleh dinding-dinding suatu negara, suku bangsa, ras dan budaya. Untuk itulah Dia datang. Dan semua orang dapat menikmati kasihNya.

Kekristenan Adalah Relasi

Oleh:Bagus Pramono

Kekristenan adalah relasi (hubungan) dan relasi adalah segalanya. Tidak banyak teman-teman dari non-kristiani yang paham bahwa Kristianitas (Christianity) menempatkan RELASI dan bukan ATURAN-ATURAN AGAMA sebagaimana bagian dari ibadah yang paling utama.

Kristianitas meyakini hubungan pribadi melebihi filosofi dan aktifitas keagamaan. Relasi kita dengan Allah yang menciptakan kita adalah segala-galanya. Yesus berkata bahwa "hukum" yang paling utama adalah mengasihi Allah, lalu diikuti mengasihi sesama kita. Tiada lain, Hukumnya adalah relasi! Dan ibadahnya bukanlah ritus-ritus aturan, melainkan relasi kasih diantara makhluk dan Khaliknya. Itulah system dan "aturan"nya yang terutama.

Bukankah aspek kehidupan kita yang paling pokok adalah relasi kita dengan orang-tua kita, teman-teman, calon pasangan kita, suami, istri, anak-anak dst.? Tanpa relasi, kita hanya menemukan kehidupan dan dunia yang hampa. Anggur pesta boleh berlimpah, music boleh menggelegar, bahkan narkoba dan sex bisa berpora-ria. Namun, tanpa relasi, Anda akan ditinggalkan dalam ketandusan dan kehampaan jiwa. Bahkan relasi sesame manusia-pun tidak akan memadai tanpa disertai dengan relasi dengan Pencipta dirinya, Mengapa begitu?

Ya, Alkitab menerangkan kepada kita bahwa akar dari kehampaan adalah karena manusia memalingkan mukanya dari Allah, yang merupakan SUMBER HIDUP YANG SEJATI.

Didalam Allah ada hidup : Amos 5:4b :Carilah Aku, maka kamu akan hidup!

Mazmur Daud berkata, Allah adalah sumber hayat (hidup) :

* Mazmur 36:10 Sebab pada-Mu ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami melihat terang.

Injil berkata didalam Yesus ada hidup:

* Yohanes 1:4 Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.

Yesus berkata :

* Yohanes 6:35 Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.

* Yohanes 11:25 Jawab Yesus: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati,

Yesus mengumpamakan diriNya :

* Yohanes 15:5-6 15:5 Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. 15:6 Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.

Kehidupan (yang sejati dan kekal) hanya berfungsi ketika kita ber-relasi intim dengan sumber-hidup, yaitu Yesus! yang menyatu dalam Bapa dan RohNya (Yohanes 8:42; 10:30; 15:26; 14:10, dll). Sebaliknya roh-jahat amat takut bila terjadinya pengenalan Allah oleh manusia, dan relasi antara manusia dengan penciptanya. Sebab itu akan berarti pertobatan manusia kepada Khaliknya yangberakibatkan kebangkrutan kerajaan-iblis. Itulah sebabnya roh-jahat memakai tangan-tangan manusia untuk menolak keseluruhan konsep-relasi ini. Ia menolah "Bapa" dan "Anak" dan "Roh Kudus". Keberadaan Anak Allah dianggap sebagai pencemaran kekudusan Allah yang tak mungkin beranak karena Ia tidak munkin ber-istri (padahal sama tidak ada orang Kristiani yang mengimani Allah yang beristri dan beranak). Kemudian keilahian Roh Kudus digeser menjadi hakekatnya seorang makhluk malaikat saja. Dan hubungan langsung dari anak manusia dengan Allahnya dimustahilkan, karena Allah bukan Bapanya siapa-siapa melainkan Dia-lah Dia yang tak terjangkau oleh makhlukNya. Bahkan terhadap Yesuspun didongengkan dalam berbagai versi tentang putusnya hubungan Yesus dengan murid-muridNya, mulai dari menghilangkan Yesus yang tersalib, atau jenazahnya yang dicuri, atau akhirnya pengutusan kenabianNya dialihkan ke negeri Timur entah kemana, dan dialihkan oleh Allah yang mana (lihat Artikel Tanggapan atas kritik terhadap penyaliban Yesus (2). Padalah dimana-mana Yesus selalu menjanjikan penyertaanNya kepada para pengikutNya sampai pada akhir zaman!

* Matius 28:20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

* Matius 18:20 Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka." Roh-jahat tidak ingin adanya hubungan-kasih dan relasi rohaniah ini. Namun sejak kejatuhan Adam, Allah justru merancang pemulihan hubungan istimewa ini dengan meng-inkarnasikan FirmanNya kedalam dunia menjadi manusia yang digenapi dalam (Yohanes1:1,14). InkarnasiNya ini dimaksudkan agar bisa be-relasi dan berfirman langsung dengan mansuia. Sejak itu, tidak diperlukan lagi peran antara berupa nabi-nabi, atau agen penyampai-wahyu yang lain :

* Ibrani 1:1-3 1:1 Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, 1:2 maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. 1:3 Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi,

Dengan membaca secara seksama ayat-ayat diatas, kita bisa mengerti bahwa Yesuslah yang menjalankan misi dan janji keselamatan Allah, langsung kepada murid-muridNya, dan kini kepada setiap manusia.

Ia berulang-ulang menyerukan relasi langsung : "Ikutlah Aku" (Reff. Matius 4:19 ; 8:22; 9:9; 19:21; Markus 1:17; 2:14; 10:21; Lukas 5:27; 9:59; 18:22; Yohanes 1:43; 21:19; 21:22)

Ia tidak berkata : "Ikutlah Agama Musa" atau "Ikutlah Agama Abraham", atau bahkan "Ikutlah Agama-Ku". Yesus tidak memanggil orang-orang untuk mengikuti sebuah agama, atau sekumpulan kaidah, ibadah atau upacarawi keagamaan yang jelas bukan merupakan sumber dan pusat penyelamatan.

Ia mengundang Anda dan saya untuk datang langsung kepada DiriNya, berelasi dengan PribadiNya yang merupakan sumber-daya dan pelaku penyelamatan secara kepastian!.

* Kepada masing-masing Matius dan Filipus, Yesus berkata : "Ikutlah Aku" (Matius 9:9)

* Kepada Petrus dan Andreas, Ia berkata : "Mari ikutlah Aku" (Matius 4:19)

* Kepada salah satu pengikutNya, Ia berkata : "Ikutlah Aku dan biarlah orang mati menguburkan orang-orang mati mereka" (Matius 8:22)

* Kepada seorang muda yang kaya, Ia berkata : "Datanglah kemari dan ikutlah Aku" (Matius 19:21)

* Kepada Petrus menjelang kenaikanNya ke Surga, Yesus berkata "Tetapi engkau, ikutlah Aku" (Yohanes 21:22).

"Ikutlah Aku" versus "Ikutlah agamaku"

Mengikut Yesus sama sekali bukanlah ikut melangkahkan kaki secara lahiriah. Ketika Yesus mengingatkan Petrus untuk mengikutiNya menjelang kepergianNya ke Surga, itu bukan dimaksudkan agar Petrus mengikuti Dia sekalian ke Surga. Orang-orang yang dipanggil untuk ikut Yesus dimaksudkan agar menyerahkan hidupnya bagi DIRI YESUS yang merupakan pusat keselamatan yang sejati, yaitu "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup" (Yohanes 14:6). Keselamatan dan berkat-berkat Abraham adalah tertanam dalam diriNya, bukan dalam filosofi tentang diriNya. Karena itu ada perbedaan besar antara "Ikutlah Aku" (baca: Ikutlah Yesus, disingkat IA) dan "ikutlah agamaku" (baca: ikut sebuah agama, disingkat IAK). Di dunia ini kita berhadapan dengan 2 mazhab pengikut seperti itu, satu dan lainnya mencari keselamatan dengan cara yang sangat berbeda secara mendasar. Beberapa kesenjangan yang pokok kita ringkaskan disini :

  1. Kesenjangan kedekatan dengan sumber Firman Konsep (IA) memfokuskan Yesus sebagai Pribadi Firman ("Pemilik-firman") yang berfirman dan berelasi langsung denga pengikut firmanNya, yang sekaligus menjadi saksi mata atas firmanNya. Sebaliknya konsep (IAK) memfokuskan wahyu dari "Pemilik Firman" yang dipercaya telah didikte-kan kepada manusia, lewat perantara makhluk tertentu (baca: malaikat) untuk diteruskan kedalam ingatan manusia tertentu (baca: nabi) sebelum diucapkan kepada manusia. Disini jelas bahwa relasi antara Pemilik-firman dan pengikutNya adalahs edemikian jauhnya, sehingga praktis tak dapat di-substansikan. Bahkan pengikut firmanNya sendiri tidak menjadi saksi mata atas firman Allah yang diwahyukan lewat 2 tahapan makhluk perantara. Akibatnya, para pengikut (IA), kini dan sampai kapanpun dapat selalu berkomunikasi langsung dengan "Pemilik-firman", karena peranNya sebagai Imanuel selalu aktif dan langsung. Sebaliknya menajdi pertanyaan terbuka, bagaimanakah penganut (IAK) kini dapat berdoa, bersembahyang, atau berkomunikasi langsung dengan "Pemilik-firman", mengingat dulu-dulu-pun Firman dan komunikasi Allah-nya tidak pernah diwahyukan secara langsung, kenapa Allah dulu-dulunya tidak berwahyu langsung pula, melainkan lewat 2 tahapan makhluk perantara?

  • Kesenjangan akan jaminan keselamatan Konsep "Ikutlah Aku" mengakui Yesus Kristus sebagai pemilik dari pengikutNya. Mereka adalah doma-domba milikNya dan Dia adalah Gembala yang baik, Penyelamat (penebus) dan yang empunya Surga : * Yohanes 14:3 Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada. Karena Yesus Kristus adalah sosok gembala, penyelamat dan pemilik Surga, maka para pengikutNya tidak akan tersesat tidak sampai ke tujuannya. Mereka ikut Yesus, dan itu sudah langsung masuk dalam gerbong kereta yang jalur-keretanya sudah benar sampai ke tujuannya, yaitu lurus ke Surga, dan tidak kebingungan dalam persimpangan memohon untuk ditunjuki lagi mana jalan yang lurus!. Keselamatan adalah anugerah langsung dan pasti dari Sang Gembala kepada domba-domba yang berelasi dengan diriNya. Maka keselamatan-kekal bukanlah hasil-usaha manusia, karena manusia yang tidak kekal (yaitu domba yang lemah, rapuh dan rawan, yang amat tak berdaya dihadapan Tuhan) sungguh tak mampu mengusahakan sebuah keselamatan kekal bagi dirinya. Menyelamatkan diri kita sendiri saja kita tidak sanggup; maka bagaimana dapat kita menyelamatkan diri kita dari neraka, suatu [u[kematian kekal[/u] akibat dosa-dosa kita? Alkitab berkata, bahwa kselamatan itu anugerah Allah, bukan sebuah usaha manusia : * Efesus 2:8-9 2:8 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, 2:9 itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Namun salah paham Anda jikalau menyangka bahwa dengan anugerah yang cuma-cuma ini lalu anak-anak Tuhan akan ber-ongkang-onkang kaki tidak usah berbuat apa-apa lagi, karena merasa sudah selamat, itu bukan namanya anak-Tuhan, melainkan anak durhaka, yang tidak tahu berterima-kasih!. Membalas budi, bukan membeli budi Justu karena kebaikan Tuhan itulah, kini kita rindu melakukan perintah dan kehendakNya. Perbuatan-perbuatan baik kita lakukan sebagai ungkapan syukur dan kasih kita atas keselamatan yang telah Dia berikan dengan Cuma-Cuma kepada kita, bukan untuk "membeli" keselamatan, lewat setoran pahala. Dengan kata sehari-hari, kita "membalas budi" bukan membeli budi! Sebaliknya konsep (IAK) tidak memberikan jaminan-pasti keselamatan. Para pengikut sebuah agama mengandalkan usaha dan perjuangan mereka untuk memahami dan mentaati pernik hukum, rukun, ibadah dan aturan upacarawi keagamaan yang ditetapkan oleh Allah, agar dapat mengusahakan amal-pahala yang mudah-mudahan cukup melayakkan keselamatannya kelak. Disini Allah bersuara lewat nabiNya, agar manusia ber-action dalam tindak-penyelamatan. Sebaliknya Yesus Kristus telah bersuara dan ber-action! Yesus sendiri turun tangan turun ke dunia untuk menyelamatkan anak-anakNya yang tak berdaya keluar dari pembelengguan dosa yang mematikan. Dia yang mematahkan kematian, dan bangkit dan memberi hidup bagi mereka yang menjawab undanganNya yang unik : "Ikutlah Aku"!.
  • Kesenjangan peluang keselamatan karena beda ilmu agamanya Konsep (IAK) mutlak menuntut pemahaman ilmu agama bagi setiap pengikut yang benar, yaitu penguasaan pasal-pasal hukum, akidah, ritual ibadah, aturan-aturan upacarawi keagamaan, jenis pahala dan bobotnya dll. agar dapat mengoperasikannya secara benar dan maksimal apa-apa yang diharuskan dan yang seyogyanya dalam aturan agamanya. Juga apa-apa yang harus diharamkan, dan apa yang masih boleh ditoleransikan. Dengan demikian, tentu banyak aturan-aturan yang masih "tersembunyi" bagi para pengikutnya, baik yang tersurat, yang tersirat, perbedaan tafsir dan mazhab, dan bagaimanapun memang ada saja yang tidak mampu tahu semuanya! Secara natural tuntutan demikian akan membagi para pengikut menjadi pihak yang lebih ber-ilmu dan pihak yang kurang berilmu dalam pemahaman agamawi yang menghasilkan pahala, yang pada gilirannya dapat menciptakan peluang keselamatan yang berbeda diantara keduanya. Khususnya bagi orang yang miskin ilmu-agama karena termasuk yang buta-huruf, kurang akal, cacat fisik tertentu, atau setidaknya bagi pengikut pemula atau petobat kasep (sesaat menjelang kematiannya). Sebaliknya konsep (IA) berpusat pada relasi kasih. "Ikutlah Aku" adalah seruan kasih Yesus yang amat sederhana dan mendasar untuk menyelamatkan siapa saja yang merespon undanganNya untuk be-relasi. "Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat", demikian panggilan kasih Yesus kepada manusia (Matius 11:28 ). Panggilan keselamatan yang tidak ada urusannya dengan apakah dia si buta-tuli-bisu, ataukah dia "ahli Taurat". Tak peduli ia laki-laki atau perempuan, kriminal atau pemungut cukai, tahu cara dan ritual beribadah atau tidak. Ikut Yesus tidak memerlukan ilmu, melainkan Iman!
  • Untuk itu, marilah kita renungkan sejenak kisah seorang criminal yang tersalib disamping Yesus :

    * Lukas 23:33-43 23:33 Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak, mereka menyalibkan Yesus di situ dan juga kedua orang penjahat itu, yang seorang di sebelah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiri-Nya. 23:34 Yesus berkata: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya. 23:35 Orang banyak berdiri di situ dan melihat semuanya. Pemimpin-pemimpin mengejek Dia, katanya: "Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah." 23:36 Juga prajurit-prajurit mengolok-olokkan Dia; mereka mengunjukkan anggur asam kepada-Nya 23:37 dan berkata: "Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu!" 23:38 Ada juga tulisan di atas kepala-Nya: "Inilah raja orang Yahudi". 23:39 Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: "Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!" 23:40 Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: "Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? 23:41 Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah." 23:42 Lalu ia berkata: "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja." 23:43 Kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus."

    Pada detik-detik terakhir, si penjahat ini meminta Yesus menerima dia sebagai pengikutNya "Yesus, ingatlah akan aku". Maka Yesus serentak menganugerahkan penyelamatan penuh baginya : "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan bersama-sama dengan Aku didalam Firdaus" (Lukas 23:43). Disini tampak betapa Sang Firman seolah-olah kembali menghunjukkan Kalimat-kuasaNya : "Jadilah!". Sama seperti ketika Yesus menyembuhkan orang-orang sakit dalam sekejab, begitu pula Dia memulihkan keberdosaan si penjahat serta menganugerahkan keselamatan yang pasti, penuh dan seketika!. Tidak ada istilah "moga-moga". Tidak juga dengan masa percobaan! Atau ditimbang-timbang besaran "pahalanya".

    Sebaliknya, pada konsep "ikutlah agamaku" (IAK), Anda selalu akan bertanya : Apakah ada kemungkinan "keselamatan instant" (yang dapat dipertanggung-jawabkan) pada saat-saat yang teramat kritis ketika seseorang dieksekusi seperti pada contoh si-penjahat diatas?. Apa yang harus dilakukan oleh si penjahat tersalib itu, yang "kasep tapi belum kasep", agar sedikit-sedikitnya dia mendapat kesempatan dan kemungkinan untuk selamat? mendatangkan pertanyaan pada konsep (IAK) apakah "keselamatan-instant" seperti contih si penjahat diatas dimungkinkan? Apa yang harus dilakukan oleh si penjahat tersalib itu agar dia dapat selamat?

    Relasi yang tak memerlukan ilmu-agama ini juga ditampakkan ketika Yesus terlihat memarahi murid-muridNya yang mencegah anak-anak kecil untuk menghampiri dan menjamahNya : * Markus 10:14-16 10:14 Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. 10:15 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya." 10:16 Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia memberkati mereka.

    Anak-anak kecil tidak mempunyai ilmu, atau mungkin belum cukup ilmu, tetapi mereka mempunyai hati. Mereka belum mandiri "miskin", tak bisa berusaha, tak berdaya, tetapi tergantung sepenuhnya pada Bapak (dependent). Anak-anak kecil adalah kaum yang rendah hati, sederhana, polos, pemaaf, membawa damai, dan hati yang terbuka. Tapi lebih dari semua, mereka percaya total, beriman penuh kepada bapaknya. Mereka adalah pengikut yang paling banyak bagi seruan Sang Bapa "Ikutlah Aku!". Mental dan Alam jiwa demikianlah yang dinyatakan Yesus sebagai Yang Empunya Surga. Mereka tidak mengusahakan keselamatan, namun mereka diselamatkan dan mendapatkan berkatNya! Dan dalam kepolosan kanak-kanaknya mereka bersyukur, melompat-lompat, dan bersorak-sorai memuji Sang Bapa Betapa indahnya!.

    "Bapa" adalah total relasi

    Di keseluruhan Injil, Tuhan Yesus mengajarkan murid-muridNya untuk memanggil Allah sebagai BAPA dan tidak ada nama panggilan yang lain. Dalam doa kepada Allah, Yesus juga meminta mereka memanggil "Bapa kami" (Matius 6:9-13). Dalam bahasa Aram, Bapa disebut ABBA, suatu sebutan yang amat pribadi, intim, dan penuh dengan kasih dan pengampunan :

    * Roma 8:15 Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!"

    * Galatia 4:6 Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: "ya Abba, ya Bapa!" bandingkan dengan Markus 14:36

    Itulah panggilan/sebutan yang menunjukkan relasi-pribadi dan langsung yang luar biasa dekatnya antara Allah Sang Pencipta dengan manusia ciptaanNya, suatu hal yang asing ada dalam kepercayaan/agama lainnya. Orang-orang lain tidak dapat mengakui Tuhan sebagai Bapanya, karena manusia hanya sebagai hambanya (budak) dari Tu(h)an yang Maha Besar, yaitu Allah.

    Namun dalam Injil, terdapat sebutan BAPA sebanyak 186 kali (!) yang ditujukan kepada Allah. Apakah istilah ini dipalsukan sehingga tetap diingkari? Tuduhan itu sangat naïf sekali. Fakta ini sendiri telah menunjukkan betapa pentingnya sosok "Bapa" sebagai total relasi bagi manusia. Sebab dengan sebutan ini kita sekaligus ditempatkan sebagai anak-anak Allah yang dikasihinya, dan bukan budakNya yang tidak berhak atas belas kasihanNya dan warisan Kerajaan Surga, seorang budak hanya menunaikan tugas dan beban.

    Ketika Yesus disalib, Ia juga memanggil nama Bapa :

    * Lukas 23:34, 46 23:34 Yesus berkata: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya. 23:46 Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku." Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya.

    Panggilan "Bapa" dalam peristiwa penyaliban itu sekaligus membuktikan bahwa Yesus sendirilah yang tersalib (dan bukan orang lain) yang sedang memanggil BapaNya. Panggilan yang begitu intim dan mulia itu dapatkah diserukan oleh "sosok imitasi" (entah siapa), yang "katanya" dimirip-mirpkan Allah diatas kayu salib demi mengelabuhi semua orang-orang Yahudi?!

    Apakah Allah yang Mahabenar dan Kuasa itu kehabisan cara sehingga perlu mengelabuhi umatNya?! Termasuk murid-murid dan pengikutNya dan Maria ibuNya? Yang ikut menjadi saksi mata sampai kedekat salib Anaknya (reff. Yohanes 19:25-27). Jikalau begitu, Allah yang mengelabuhi itu tentu bukan Bapa yang diserukan Yesus!

    Kembali ke hal "relasi dengan Allah" yang tidak menuntut penguasaan ilmu-ilmu agama untuk bisa diselamatkan. Harap jangan salah, Kristianitas bukan melecehkan ilmu, atau tidak bertanggung-jawab dalam pendewasaan rohani. Ikut Yesus adalah masuk dalam relasi dengan Yesus, dan mulai belajar mengasihi Dia, karena Dia telah mengasihi kita lebih dulu :

    * 1 Yohanes 4:19 Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.

    Secara natural kita akan bersyukur kepadaNya senang mendengar "suaraNya", dan belajar tentang firmanNya, yaitu Injil Kabar Baik. Kita menjadikan itu makanan rohani kita, yang ternyata memberikan berkat yang nyata dalam kehidupan baru kita bersama dia. Kita bertumbuh dalam iman, dan selalu ingin menyenangkan hati Tuhan, dengan melakukan apa-apa yang dipesankanNya dalam InjilNya. Bukan usaha keselamatan, melainkan buah-buah keselamatan

    Melakukan perintah-perintah Allah bukanlah usaha mencari keselamatan, melainkan buah-buah keselamatan! Dan alasan yang terbaik untuk itu hanyalah tiga kata sederhana, yaitu karena "Allah itu baik!" Kita mengasihi, karena Allah lebih dulu mengasihi kita (1 Yohanes 4:19).

    Kenya

    Setiap bulan, ada ribuan orang di Afrika yang mengenal dan mau datang kepada Kristus. Setelah mereka menjadi petobat baru, mereka mulai terlibat dalam sebuah gereja lokal.

    Kebanyakan dari gereja-gereja lokal tersebut dijalankan oleh orang-orang Kristen yang belum mempunyai pendidikan formal Teologi. Perwakilan dari Christian World Outreach (CWO) memberikan perhatian terhadap hal tersebut. "Ada kekosongan dan kebutuhan yang besar akan pendeta dan pemimpin-pemimpin gereja yang berkualitas. Kami mengirim pasangan misionaris pertama ke Machakos, Kenya untuk belajar di sebuah universitas kecil yang bernama Scot Theological College."

    Saat ini ada sekitar 25 siswa dari seluruh Afrika. CWO mengatakan jika para pemimpin baru tidak mendapatkan pemahaman Alkitab yang benar, maka pemujaan-pemujaan kepada kepercayaan semula dapat muncul kembali. "Orang akan meninggalkan kepercayaannya yang semula dan menjadi pengikut Kristus. Namun, jika tidak ada pelayanan follow-up, mereka tidak bisa bertumbuh secara rohani. Pendidikan yang diberikan di Scot Theological College akan membantu pelayanan penginjilan yang dilakukan CWO. Dengan demikian, kami bisa mengarahkan para petobat baru ke suatu gereja yang telah memiliki pemimpin terlatih.

    Sumber: Mission Network News, April 8th, 2005

    Melaksanakan Amanat Agung Kristus

    Oleh: Pdt. Samuel T. Gunawan, M.Th

    Khotbah Ibadah Raya GBAP El Shaddai Palangka Raya
    Minggu, 06 Januari 2013


    “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Matius 28:19-20)

    PENDAHULUAN

    Amanat Agung itu demikian pentingnya, bukan saja karena merupakan misi utama semua gereja, tetapi juga karena gereja-gereja baru akan terbentuk apabila ada orang-orang yang taat melaksanakan Amanat Agung tersebut. Tanpa Amanat Agung tidak akan ada gereja-gereja lokal. Pelaksanaan Amanat Agung menghasilkan gereja-gereja lokal.

    Gereja adalah wakil dari Kerajaan Allah di dunia ini dan diperintahkan untuk membawa berita Injil ke semua manusia di bumi. Jika kita melihat prioritas dari program-program, berbagai aktivitas sebuah gereja sekarang ini, kita mungkin bertanya-tanya apakah kita telah lupa atau bingung akan misi kita sebagai orang-orang percaya. Kita sibuk, tetapi sibuk mengerjakan apa? Berapa banyak program, pertemuan, dan aktivitas kita yang benar-benar menghasilkan jiwa-jiwa baru? Jika kita tergugah untuk memenuhi Amanat Agung Kristus, maka kita harus menjadi gereja yang misioner.

    Sebuah gereja yang misioner adalah gereja yang melaksanakan misi. Kata “misi” atau “mission (Inggris)” berasal dari kata Latin “missio” yang diangkat dari kata “mittere”, merupakan terjemahan dari kata Yunani “apostello”, yang artinya “mengirim” atau “mengutus”. Secara umum kata misi bisa merujuk pada pengutusan seseorang dengan tujuan khusus, misalnya misi kesenian, misi budaya, dan lain-lain. Dalam konteks kekristenan, misi dipahami dalam arti pengiriman atau pengutusan gereja ke dalam dunia, khususnya melalui sekelompok pekerja yang disebut misionaris untuk menjangkau orang-orang kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Dalam perkembangannya, pengertian misi pada saat ini mencakup makna yang cukup luas, yaitu: (1) Pengiriman atau pengutusan misionari ke daerah tertentu; (2) Aktivitas yang dijalankan para misionari; (3) Wilayah geografis di mana para misonaris bekerja; (4) Lembaga yang mengutus para misionaris; (5) ladang misi atau lapangan misi yaitu dunia non Kristen; (6) Pusat pengutusan misionaris; dan (7) Rangkaian pelayanan yang secara khusus dimaksudkan untuk menyebarkan agama Kristen dan pendirin jemaat baru.

    Istilah “mission” dan “missions” tidaklah sama. Para ahli misiologi membedakan kedua istilah tersebut. “Mission” merupakan suatu keseluruhan yang Allah tugaskan kepada gereja, baik itu bersifat pelayanan kepada Allah, anggota gereja, maupun orang yang belum percaya kepada Kristus. Sedangkan “missions” merupakan partisipasi gereja dalam tugas peberitaan Injil yang Allah percayakan pada gereja-Nya.

    DASAR-DASAR KITAB SUCI

    Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus adalah misi gereja. Memenuhi Amanat Agung adalah tujuan utama gereja. Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus adalah misi kita yang merupakan kesinambungan dari misi Yesus Kristus. Dalam Matius 28:19,20 dan ayat-ayat pararlel lainnya, Yesus memberikan perintah kepada murid-muridnya. Inilah Amanat atau Perintah Agung bukan sekedar ayat agung, yang terus berlaku (kontinuitas) “Sampai akhir zaman (e?? t?? s??te?e?a? t?? a????? - heôs tês sunteleias tou aiônos) ”. Jadi gereja yang misioner adalah gereja yang mengemban Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus dan menekankan pentingnya “menjadikan semua bangsa murid Kristus”. Perhatikan Amanat Kristus dalam ayat-ayat berikut ini:

    1. Matius 28:18-20, “Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

    2. Markus 16:15-20, “Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh." Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. 16:20 Mereka pun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya”.

    3. Lukas 24:47-51, “dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semuanya ini. Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi." Lalu Yesus membawa mereka ke luar kota sampai dekat Betania. Di situ Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga”.

    4. Kisah Para Rasul 1:4-9, “Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang -- demikian kata-Nya -- "telah kamu dengar dari pada-Ku. Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus." Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: "Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?" Jawab-Nya: "Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka”.

    PRINSIP-PRINSIP DASAR PELAKASANAAN AMANAT AGUNG

    Karena itu, ada tujuh hal yang perlu menjadi perhatian gereja dalam melaksanakan Amanat Agung Kristus berdasarkan empat bagian ayat-ayat Alktab diatas (Matius 28;18-20; Markus 16:15-20; Lukas 24:47-51; Kisah Para Rasul 1:6-11), yaitu:

    1. Penginjilan Sebagai Ujung Tombak (Markus 16:15)

    Penginjilan adalah ujung tombak pelaksanaan Amanat Agung, atau dengan kata lain, pemberitaan Injil merupakan tahap pertama dala pekerjaan misi. Penginjilan merupakan suatu proklamasi Injil Yesus Kristus yang berkuasa, dalam kuasa Roh Kudus dengan cara yang dapat dimengerti agar manusia bertobat kepada Tuhan Yesus Kristus. Karena itu, gereja harus meletakkan tugas menyampaikan Injil kepada semua orang di dunia dalam tempat yang pertama. Khotbah, pengajaran, doa, program, rencana, pelatihan dan lainnya, semuanya harus dipusatkan disekitar tujuan ini. Para pemimpin gereja seharusnya menjadi pemobilisir dari anggota tubuh Kristus, memberi inspirasi dan latihan bagi orang-orang percaya untuk bersaksi dan memenangkan jiwa-jiwa bagi Kristus.

    Tetapi, kesalahpahaman lain tentang Amanat Agung yang kadangkala muncul adalah konsep bahwa pekerjaan misi merupakan tugas khusus untuk murid-murid Tuhan Yesus (kaum rohaniwan seperti pendeta atau penginjil, dan bukan untuk jemaat awam). Beberapa bahkan berpendapat bahwa penginjilan merupakan karunia khusus yang tidak harus dilakukan oleh setiap orang percaya. Pandangan ini tentu saja tidak sesuai dengan esensi Amanat Agung. Amanat Agung ditujukan bagi “semua bangsa” dan disertai janji “sampai akhir zaman”. Kedua fakta ini tidak mungkin hanya dimaksudkan untuk 11 murid Tuhan saja. Karena itu, semua aktivitas gereja dikaitkan dengan mobilisasi anggota-anggota gereja untuk menjadi pemenang jiwa. Jika kita ingin memenuhi Amanat Agung Kristus, kita harus melakukannya menurut pola Perjanjian Baru. Dalam kitab Kisah Para Rasul kita menemukan pola Perjanjian Baru yaitu : setiap orang, di mana saja, setiap ada kesempatan, setiap hari menyampaikan kesaksian dan memenangkan jiwa. Jadi penginjilan menjadi bagian alami dari kehidupan setiap hari. Dengan demikian gereja lokal : pemimpin-pemimpin dan para anggotanya harus dimobilisir untuk tugas ini.

    2. Injil adalah Kabar Baik untuk Semua Bangsa (Matius 28:19: Markus 16:15)

    Injil adalah kabar baik untuk semua orang. Kata “Injil” merupakan Arabisasi untuk kata Yunani "e?a??e???? - euaggelion" yang artinya adalah kabar baik (good news). Kekristenan menggunakan kata “eunggelion” dengan arti “berita sukacita atau kabar baik dari Allah tentang Yesus Kristus dan karya penebusanNya bagi dunia” (Roma 1:16; 1 Korintus:15:1-4).

    Dosa itu bersifat universal karena itu Injil yang adalh kabar baik bersifat universal. Tidak ada seorangpun manusia yang pernah hidup di bumi ini bebas dari dosa. Dosa telah menyebabkan manusia mengalami kerusakan total (total depravity) dan ketidakmampuan total ((total inability). Kerusakan total berarti: (1) dosa telah menjangkau setiap aspek natur dan kemampuan manusia: termasuk rasio, hati nurani, kehendak, hati, emosinya dan keberadaannya secara menyeluruh (2 Korintus 4:4, 1Timotius 4:2; Roma 1:28; Efesus 4:18; Titus 1:15); dan (2) secara natur, tidak ada sesuatu dalam diri manusia yang membuatnya layak untuk berhadapan dengan Allah yang benar (Roma 3:10-12). Sedangkan ketidakmampuan total berarti: (1) Orang yang belum lahir baru tidak mampu melakukan, mengatakan, atau memikirkan hal yang sungguh-sungguh diperkenan Allah, yang sungguh-sungguh menggenapi hukum Allah; (2) tanpa karya khusus dari Roh Kudus, orang yang belum lahir baru tidak mampu mengubah arah hidupnya yang mendasar, dari dosa mengasihi diri sendiri menjadi kasih kepada Allah. Perlu ditegaskan bahwa ketidakmampuan total bukanlah berarti orang yang belum lahir baru sesuai naturnya tidak mampu melakukan apa yang baik dalam pengertian apapun. Ini berarti, orang yang belum lahir baru masih mampu melakukan bentuk-bentuk kebaikan dan kebajikan tertentu. Tetapi perbuatan baik ini tidak digerakan oleh kasih kepada Allah dan tidak pula dilakukan dengan ketaatan yang sukarela pada kehendak Allah.

    Karena itulah, jangkauan penebusan kalau dilihat dari sifatnya mulai dari perorangan, satu bangsa, seluruh dunia, bahkan alam semesta. Keselamatan adalah untuk dunia ini dengan demikian keselamatan itu bersifat universal (Yohanaes 3:16; 1 Yohanes 2:2) atau dengan kata lain, jangkauan penebusan bersifat tidak terbatas (unlimited atonement). Karena itu, perintah untuk memberitakan Injil dalam amanat Kristus adalah “pergi ke seluruh dunia” dan “menjadi semua bangsa muridNya”. Ajaran tentang penebusan tak terbatas (unlimited atonemant) memberikan kepada para pemberita Injil jaminan dan kebebasan dalam menyampaikan berita, sehingga ia dapat dengan tulus percaya bahwa ia memiliki berita yang dirancang dan tepat menjawab kebutuhan manusia yang datang mendengarkan perkataannya. (Matius 28:19; Markus 16:15-16).

    Tuhan telah menyediakan keselamatan untuk semua orang dan Roh Kudus meyakinkan manusia agar menerima keselamatan. Walaupun demikian, Alkitab juga mengajarkan bahwa tidak semua orang akan diselamatkan. Hal ini merupakan misteri Allah dalam pemilihan, dan terjadi karena penolakan dan ketidakpercayaan kepada Kristus (Yohanes 5:10; 2 Korintus 5:18-20; Titus 2:11). Charles C. Ryrie menjelasan menjelaskan antara hubungan pemilihan dengan percaya sebagai berikut. “memang, pemilihan tentu saja menegaskan bahwa orang-orang yang dipilih akan diselamatkan, tetapi pemilihan itu sendiri tidak menyelamatkan mereka. Orang diselamatkan karena anugerah oleh iman pada kematian pengganti yang dialami Kristus. Dan tentu saja, mereka harus belajar tentang kematian Kristus untuk mengisi iman mereka. Dengan demikian, pemilihan kematian Kristus, kesaksian tentang kematianNa, dan iman orang itu sendiri, semuanya perlu agar orang itu dapat diselamatkan”. Jelaslah bahwa keputusan untuk menerima atau menolak Kristus adalah tanggung jawab manusia. Menolak Kristus berarti tidak diselamatkan. Jadi apabila seseorang tidak menerima keselamatan, dalam hal ini Allah tidak dapat dipersalahkan. Persediaan keselamatan cukup untuk semua manusia.

    3. Tanda Awal yang Kelihatan dari Penerimaan Injil dan Pertobatan adalah Baptisan Air dalam Nama Allah Tritunggal (Matius 28:19)
    Baptisan air oleh sebagian orang telah dianggap sebagai anugerah yang menyelamatkan atau syarat keselamatan. Alkitab tidak mengajarkan demikian, sebaliknya Alkitab menunjukkan bahwa baptisan air bukanlah anugerah yang menyelamatkan atau pun syarat keselamatan (1 Korintus 1:17). Baptisan air itu penting tetapi bukanlah syarat keselamatan. Makna Baptisan air adalah: (1) Baptisan air adalah tanda (kepada) pertobatan (Matius 3:11); (2) Tanda ketataan kepada perintah Tuhan, bahwa seseorang telah lahir baru atau telah diselamatkan (Matius 28:18,19); (3) orang percaya yang telah lahir baru (atau dibaptis Roh Kudus), telah bersatu dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitanNya, dan secara simbolik persatuan tersebut ditunjukkan melalui peristiwa baptisan air (Roma 6). (4) Baptisan air merupakan upacara (inisiasi) masuk kedalam keanggotaan tubuh Kristus yang kelihatan, disebut keanggotaan gereja lokal. (5) Baptisan air adalah kesaksian bahwa orang tersebut telah dimeteraikan dan menerima hidup baru dan mengambil bagian dalam kematian dan kebangkitan Kristus (Roma 6:3-6). (6) Baptisan juga menandakan bahwa seseorang menjadi pengikut atau murid Kristus yang sah (Matius 28:19,20).

    Baptisan air dilakukan melibatkan keputusan dan pilihan manusia. Karena itu, berdasarkan pengertian ini, maka baptisan air dilakukan setelah lahir baru (diselamatkan) yaitu setelah percaya dan bertobat (Markus 16:15; Kisah Para Rasul 2:4,33,37-41). Untuk dibaptis air seseorang harus menerima Injil (Matius 28:19), bertobat (Kisah Para Rasul 2:38), dan memiliki iman (Kisah Para Rasul 2:41; 8:12; 18:12; Galatia 3:26,27);

    Jadi, dasar atau fondasi dari legal (sah) atau tidaknya suatu baptisan air adalah kedua hal berikut ini, dan jika kedua syarat ini telah dipenuhi, maka tidak perlu ada pengulangan baptisan, yaitu: (1) Yang akan menerima baptisan air itu adalah orang yang sudah percaya Yesus Kristus sebagai Tuhan dan penebus, yaitu mereka yang sudah dilahirbarukan oleh Roh Kudus, dan masuk dalam “kovenan” anugerah. (2) Baptisan air, harus dilakukan dalam nama Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus, yang menjadikan upacara itu kudus.

    Menarik untuk memperhatikan secara khusus, frase Yunani yang tertulis di Matius 28:19 yaitu “ßapt????te? a?t??? e?? t? ???µa t?? pat??? ?a? t?? ???? ?a? t?? a???? p?e?µat?? - baptizontes autous eis to onoma tou patros kai tou uiou kai tou agiou pneumatos” yang diterjemahkan menjadi “baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus”, di mana dalam frase itu disebutkan tiga buah nama yaitu Bapa, Anak, dan Roh Kudus, tetapi kata kata Yunani “eis to onomo” yang diterjemahkan “dalam nama” adalah nominatif singular (bentuk tunggal, bukan bentuk jamak)! Kata “nama” dalam Alkitab bahasa Yunani ditulis dengan “???µa - onoma” (bentuk tunggal), bukan dengan “???µata – onomata” (bentuk jamak). Demikian juga dalam Alkitab bahasa Inggrisnya, diterjemahkan name (bentuk tunggal), bukan names (bentuk jamak). Karena itu ayat ini mengajarkan tentang Trinitas, di mana bukan hanya menunjukkan bahwa ketiga Pribadi itu setara, tetapi juga menunjukkan bahwa ketiga Pribadi itu adalah satu atau esa. Keesaan Allah ini jelas dinyatakan dalam Alkitab terutama dalam Ulangan 6:4. Disini, kata Ibrani “esa” adalah adalah “Ekhad” yang menunjuk kepada “satu kesatuan yang mengandung makna kejamakan; dan bukan satu yang mutlak”. Jika yang dimaksud “satu-satunya; atau satu yang mutlak” maka dalam bahasa Ibrani yang digunakan adalah “yakhid”. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Amanat Agung adalah misi Allah yang Esa, yaitu Allah Tritunitas karena misi ini melibatkan ketiga Pribadi dari Allah Trinitas.

    4. Fokus pada pemuridan: Sasaran Amanat Agung adalah menjadikan murid-murid Kristus (Matius 28:19-20)

    Banyak yang memahami inti Amanat Agung terletak hanya pada penginjilan (Matius 28:19-20). Pemahaman tersebut didasarkan pada penekanan kata “pergilah” yang diletakkan di awal kalimat yang diikuti langkah selanjutnya yaitu pemuridan, baptisan dan pengajaran. Tetapi jika diperhatikan menurut struktur tata bahasa Yunani ayat 19-20, maka inti Amanat Agung justru terletak pada pemuridan. Hal hal ini didasarkan pada kata imperatif untuk kata kerja “jadikanlah murid” yang diikuti oleh tiga partisipel (anak kalimat), yaitu “pergilah”, “bapiskanlah” dan “ajarkanlah”.

    Penjelasan lebih lanjut, mari kita memperhatikan bahwa dalam bahasa Yunani ayat tersebut menyebutkan empat kata kerja, yaitu : “pergilah (p??e??e?te? poreuthentes), jadikanlah murid (µa??te?sate mathêteusate), baptiskanlah (ßapt????te? baptizontes), dan ajarkanlah (d?das???te? didaskontes)”. Kata “pergilah, baptiskanlah, ajarkanlah” adalah kata kerja partisip atau bentuk kata kerja bantu. Kata “jadikanlah semua bangsa muridKu {µa??te?sate pa?ta ta e???; mathêteusate panta ta ethnê; jadikanlah murid(-Ku) semua bangsa-bangsa}” adalah kata kerja imperatif atau kata kerja bentuk perintah. Jadi fokus Amanat Agung adalah “menjadikan semua orang/bangsa murid Kristus. kata Yunani untuk murid adalah Mathetes yang menunjuk kepada para pengikut Yesus atau orang-orang percaya kepada Kristus, yaitu orang-orang yang mengaku bahwa Yesus adalah Kristus dan Tuhan. Kata murid dalam Alkitab Perjanjian Baru tercatat 269 kali, sedangkan kata Kristen dicatat hanya 3 kali, dan kata orang percaya hanya 2 kali. Fakta ini memberitahukan kita bahwa betapa pentingnya panggilan Tuhan Yesus bagi orang yang sudah percaya kepadaNya, supaya menjadi murid-Nya yang sejati. Dengan demikian tugas pengabaran Injil tidak boleh lepas dari tugas pemuridan. Perhatikan skema berikut :

    PROSES SKEMATIK PELAKSANAAN AMANAT AGUNG
     --------------------------------------------------- MISI -------------------------------------------------
       
    Gambar skematik di atas didasarkan pada Amanat Agung Kristus dalam Matius 28:19-20. Di dalamnya terdapat siklus empat langkah untuk menjangkau dunia bagi Kristus, yaitu: (1) Dunia hanya dapat dijangkau jika orang percaya (gereja) pergi memberitakan Injil dan bersaksi; (2) Orang-orang yang telah mengambil keputusan (komitmen) untuk mengikut Kristus harus menyatakan pengakuan imannya dimuka umum melalui baptisan air. Baptisan adalah kesaksian awal yang dapat dilihat dari luar tentang pengalaman seseorang dengan Kristus; (3) Orang-orang yang baru menjadi pengikut Kristus harus diajarkan perintah-perintah (doktrin) Tuhan kita dan dibimbing untuk melakukan (praktek) perintah-perintah itu dalam ketaatan, sukacita dan kasih kepada Kristus; (4) Menjadikan orang-orang murid Kristus melalui ketiga langkah sebelumnya. Dan setelah menjadi murid, orang-orang percaya tersebut diperintahkan untuk “pergi dan menjadikan semua bangsa murid Kristus”. Jadi, siklus ini kembali ke titik awal dan jika dilaksanakan akan menghasilkan lingkaran kesaksian yang terus menerus semakin besar “sampai akhir zaman”.

    5. Metode Pemuridan adalah Pengajaran (Doktrinal) dan Tindakan Melakukan (Praktikal)
    Rasul Paulus menasihati Titus demikian “Tetapi engkau, beritakanlah apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat” (Titus 2:1). Selanjutnya Rasul Paulus menghubungkannya ajarah sehat dengan praktek kehidupan sehari-hari (Titus 2:1-14). Ajaran sehat adalah doktrin atau didaskalia. Kata ini berkaitan dengan apa yang diajarkan. Ajaran sehat akan memelihara orang percaya agar tetap sehat dan terhindar dari kekeliruan. Doktrin yang sehat menghasilkan pertumbuhan dan paktek kehidupan kudus dan berkenan kepada Allah.

    Kata doktrin berarti sesuatu yang diajarkan, pengajaran, instruksi; prinsip-prinsip agama yang diajarkan; atau lebih harfiah doktrin berarti mengajarkan yang dasar. Kata Yunani “doktrin” adalah “d?das?a??a (didaskalia); d?da?? (didakhê)” dari akar kata “d?das?? (didaskô)” yang berarti "mengajar". Sehingga "doktrin" secara konseptual adalah hal-hal yang diajarkan. Kata doktrin ini digunakan sebanyak 56 kali di dalam Authorised Version (Alkitab bahasa Inggris). Salah satunya terdapat di dalam Kisah Para Rasul 2:42, di mana dikatakan bahwa para petobat gereja yang mula-mula bertekun dalam pengajaran (doktrin) para rasul. Dari tersebut, maka doktrin dapat didefinisikan sebagai pengajaran-pengajaran dasar yang diajarkan. Dalam pengertian yang luas doktrin mencakup semua kebenaran firman Tuhan yang diajarkan. Doktin itu sendiri bersumber dari Alkitab yang adalah Firman Allah. Sehingga untuk pemakaian Kristen, doktrin dapat di definisikan sebagai pengajaran-pengajaran dasar Kristen yang diajarkan yang bersumber dari Alkitab.

    Jadi, orang-orang yang baru menjadi pengikut Kristus harus diajarkan perintah-perintah (doktrin) Tuhan kita dan dibimbing untuk melakukan (praktek) perintah-perintah itu dalam ketaatan, sukacita dan kasih kepada Kristus. Kristus memerintahkan para muridNya “ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Matius 20:20); dan dalam Yohanes 13:17 Yesus berkata “Jikalau kamu tahu semua ini (doktrin), maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya (praktek)”.

    Saat ini, ada serangan yang hebat terhadap doktrin yang sehat. Ada upayan pembelotan terhadap masalah-masalah doktrin dan ajakan berpaling pada filsafat-filsafat manusia dan ajaran-ajaran setan. Banyak gereja tidak memiliki waktu mengkhotbahkan atau mengajarkan doktrin. Mereka telah berpaling kepada pidato, politik, etika, khotbah dari buku atau injil sosial yang mengatakan bahwa doktrin tidak berguna lagi dan ketinggalan zaman. Rasul Paulus Menubuatkan “Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya” (2 Timotius 4:3).

    Mengingat bahwa pada akhir zaman kapasitas doktrin-doktrin iblis yang menyesatkan dan menghancurkan kehidupan manusia akan semakin meningkat, maka kita perlu mengetahui doktrin yang benar. Doktrin iblis bisa berupa: berupa filsafat, tahyul dan tradisi-tradisi manusia (Matius 22:9; 24:3-13; Galatia 1:6-9). Untuk mengenal doktrin-doktrin yang palsu kita tidak harus mempelajari doktrin palsu tersebut. Hal yang terpenting adalah mengenal dan memahami doktrin yang benar. Dengan mengetahui yang benar kita dapat membedakannya dari yang palsu.

    Berikut ini adalah ciri-ciri dari doktrin yang benar, yaitu; (1) Doktrin yang Benar Harus Sehat dan menghasilkan karakter yang kudus (1 Timotius 1:10; 2 Timotius 4:2-4; Titus 1:9; 2:1). Doktrin yang benar adalah doktrin yang sehat. Doktrin yang sehat akan memelihara orang percaya agar tetap sehat dan terhindar dari kekeliruan. Doktrin yang sehat menghasilkan pertumbuhan dan perkembangan rohani yang sehat bagi orang percaya. Doktrin sehat menghasilkan paktek kehidupan yang kudus dan berkenan kepada Allah. Merupakan fakta yang terbukti bahwa doktrin mempengaruhi karakter. Apa yang dipercayai seseorang sangat besar mempengaruhi perbuatannya. Jika seseorang menerima dan mengikuti doktrin yang sehat maka doktrin itu akan menghasilkan karakter ilahi dan karakter Kristus. Paulus memberikan nasihat kepada Timotius agar “awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu” (1 Timotius 4:6,13,16). Selanjutnya Paulus berbicara tentang “ajaran yang sesuai dengan ibadah kita” (1 Timotius 6:1-3), yakni serupa dengan Allah; karakter dan kehidupan yang kudus. (2) Doktrin yang Benar Harus Alkitabiah (2 Timotius 3:14-17). Doktrin yang alkitabiah adalah doktrin yangbersumber pada seluruh Firman Allah. Doktrin seperti ini tidak hanya bermanfaat untuk pengajaran tetapi juga untuk menyatakan kesalahan, mendidik dan memperbaiki agar orang percaya memiliki hidup yang berkenan kepada Allah. Untuk menghasilkan doktrin yang alkitabiah diperlukan interpretasi yang tepat berdasarkan prinsip-prinsip hermeneutika yang wajar, sederhana, benar dan dapat dipertanggunjawabkan sehingga menghasilkan doktrin yang sehat.
     
    6. Dilengkapi dengan Kuasa Roh Kudus (Kisah Para Rasul 1:5-8)
    Pentakosta menandai dimulainya gereja sebagai suatu tubuh yang berfungsi melalui pencurahan Roh Kudus. Sebelum naik ke surga, Kristus berjanji tidak lama lagi murid-muridNya akan dibaptis dengan Roh Kudus (Kisah Para Rasul 1:5). Peristiwa “pencurahan Roh Kudus” pada hari Pentakosta tersebut indentik dengan “baptisan Roh Kudus” yang dijanjikan oleh Kristus kepada murid-muridNya. Petrus menyebutnya sebagai penggenapan nubuat Nabi Yoel (Kisah Para Rasul 2:16). Peristiwa pentakosta ini menandai ditempatkannya orang percaya di dalam Tubuh Kristus (1 Korintus 12:13; Efesus 1:22,23).

    Baptisan Roh Kudus pada hari Pentakosta yang terjadi hanya satu kali dan tidak terulang lagi. Untuk memahami arti baptisan Roh Kudus, kita dapat memperhatikan kata-kata Paulus dalam 1 Korintus 12:13, “Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh”. Kalimat dalam 1 Korintus 12:13 ini menggunakan bentuk aorist tense (past principle tense), yaitu menunjuk kepada suatu peristiwa yang sudah lewat, yang terjadi hanya satu kali dan tidak akan pernah terulang lagi. Ini berarti bahwa baptisan Roh Kudus itu hanya terjadi satu kali, yaitu pada hari Pentakosta di Yerusalem. Setiap orang percaya secara status telah dibaptiskan ke dalam tubuh Kristus bersama-sama dengan orang-orang pilihan atau yang telah bertobat dan percaya kepada Kristus di segala zaman, sejak hari Pentakosta itu. Roh Kudus telah mempersatukan orang percaya kepada kematian dan kebangkitan Kristus. Tetapi secara pribadi, baptisan Roh Kudus itu kita terima pada saat kita percaya kepada Kritus dan menerima Roh Kudus, pada saat regenerasi (kelahiran baru).

    Baptisan Roh Kudus memperlengkapi orang percaya dengan karunia-karuniaNya dan kuasa sehingga dapat bersaksi dan melayani Tuhan (Roma 12:3-9; 1 Korintus 12:4-31). Kata Yunani untuk “karunia-karunia” adalah “charismata” bentuk tunggalnya “charis”. Karunia-karunia yang diberikan oleh Roh kudus kepada setiap orang percaya berbeda satu sama lain tetapi sama pentingnya. Tujuan dari karunia-karunia Roh adalah memampukan orang-orang percaya untuk melakukan berbagai bentuk pelayanan guna pembangunan tubuh Kristus. Dengan demikian tidak satupun dari orang percaya yang tidak diberi karunia Roh. Berdasarkan pengertian ini dapat dikatakan bahwa “seluruh gereja Yesus Kristus adalah karismatik”. Tanpa pertolongan Roh Kudus, kita tidak mungkin memiliki kuasa untuk bersaksi dan melayani. Itulah sebabnya sebelum murid-murid-Nya pergi untuk bersaksi dan melayani, mereka diperintahkan untuk menunggu di Yerusalem, sampai mereka menerima baptisan Roh Kudus dan diperlengkapi dengan kuasa Roh Kudus (Lukas 24:47-49; Kisah Para Rasul 1:4-5,8).

    Penginjilan dalam Perjanjian Baru bukanlah sebuah aktivitas yang lemah, tumpul atau netral. Penginjilan adalah pertemuan (konfrontasi) antara kuasa Roh Kudus dan kekuatan roh jahat. Roh kudus dengan semua buah, karunia, dan kuasaNya harus menjadi nyata dalam hidup kita. Firman harus diberitakan dan diajarkan dengan kuasa yang nyata. Injil harus diberitakan bukan untuk disembunyikan. Roh Kudus memberi kita kuasa untuk menjadi saksi Kristus yang efektif. Paulus mengakui bahwa ia mengadakan tanda-tanda mujizat yang berhubungan dengan pemberitaan Injil seperti yang ditertulis dalam Roma 15:18-19 “Sebab aku tidak akan berani berkata-kata tentang sesuatu yang lain, kecuali tentang apa yang telah dikerjakan Kristus olehku, yaitu untuk memimpin bangsa-bangsa lain kepada ketaatan, oleh perkataan dan perbuatan, oleh kuasa tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan oleh kuasa Roh. Demikianlah dalam perjalanan keliling dari Yerusalem sampai ke Ilirikum aku telah memberitakan sepenuhnya Injil Kristus”.

    7. Mencakup pekabaran Injil dan pelayanan sosial
    Ada tiga pandangan umum tentang misi. Pandangan tradisional, melihat misi identik (dan terbatas pada) penginjilan. Pandangan liberal, melihat misi sebagai pelayanan sosial dan menganggap memberitakan Injil tidak lebih penting daripada pelayanan sosial. Pangangan Injili, yang dipelopori oleh John Stott. Ia berpendapat bahwa misi Alkitabiah mencakup penginjilan dan pelayanan, tetapi penginjilan tetap menjadi inti misi. Murid-murid diutus untuk melakukan misi sama seperti yang telah dilakukan Yesus, sedangkan dalam pelayanan Yesus, Ia tidak hanya memberitakan Injil tetapi juga memperhatikan masalah sosial (Lukas 4:18-19).

    Allah, dalam Perjanjian Lama dengan berbagai cara telah mengungkapkan perhatian besar terhadap orang miskin, yang kekurangan, dan tertindas (Mazmur 14:6; Yesaya 25:4). Secara khusus dalam Perjanjian Baru, sebagian besar pelayanan Yesus adalah kepada orang-orang miskin, yang kekurangan, dan menderita. (Matius 8:2-4; Lukas 7:11-15; 17:11-19). Yesus sebagai Kepala Gereja memberikan teladan saat Ia melayani di muka bumi ini (Lukas 4:18-19). Yesus memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang, dinyatakan dengan Firman. Yesus melakukan pembebasan kepada orang-orang tawanan dan penglihatan bagi orang-orang buta, dinyatakan dengan mujizat/tanda-tanda heran. Yesus membebaskan orang-orang tertindas, dinyatakan dengan perbuatan. Jemaat mula-mula juga menunjukkan kepedulian yang mendalam kepada mereka yang memerlukan bantuan, karena diangkatlah para diakon agar pekerjaan memperhatikan orang-orang yang membutuhkan tidak terabaikan (Kisah Para Rasul 6:1-7). Rasul Paulus juga sangat memperhatikan pelayanan sosial kepada yang membutuhkan, seperti yang kita lihat dalam Kisah Para Rasul 11:28-30, dan hal ini sungguh-sungguh diupayakannya untuk dilakukan (Galatia 2:10).

    Karena itu, untuk melaksanakan misi sepenuhnya dari Amanat Kristus, maka Gereja harus berubah dari paradigma lama kepada paradigma yang baru. Mengapa? Karena Gereja dengan pola pikir lama memisahkan antara gereja dan dunia atau kehidupan di dunia sekuler. Yang sakral (gereja) dan yang sekuler (dunia) dipisahkan. Atau paling jauh gereja mempengaruhi ”dunia sekuler” dalam beberapa bidang pelayanan, contohnya membuka kebaktian atau pelayanan untuk kaum pengusaha dan profesional. Sedangkan Gereja dengan pola pikir baru adalah sebuah gereja yang mewarnai bumi dan memberikan pengaruh kuat. Allah memberikan sebuah tujuan kepada gerejaNya yaitu menghadirkan kerajaan Allah dalam setiap aspek kehidupan di dunia.

    Jadi, Gereja dengan pola pikir yang baru perlu mendemontrasikan kerajaan Allah di muka bumi ini. Gereja dipanggil untuk mengabarkan Injil keselamatan dan memenangkan jiwa bagi kerajaan Allah yang disertai dengan kuasa, mujizat dan tanda-tanda heran (Markus 16:15-18). Tetapi gereja juga mendapat tugas untuk menolong mereka yang miskin, menegakkan keadilan bagi mereka yang tertindas, memberdayakan manusia yang secitra dan segambar dengan Allah. Tujuan gereja adalah menghadirkan kerajaan Allah di bumi ini. Menghadirkan kerajaan Allah dalam setiap aspek kehidupan kita (termasuk dalam bidang pelayan sosial) merupakan proses mutlak agar mencapai misi Tuhan kita. Tuhan menginginkan setiap orang percaya bergabung ke dalam misi-Nya, “menjadikan semua bangsa muridNya”.

    DAFTAR BUKU REFERENSI DALAM BAHASA INDONESIA

    Charles C. Ryrie., 1991. Teology Dasar. Jilid 1 & 2, Terjemahan, Penerbit Andi Offset : Yoyakarta.
    Colin Shaw., 2007. A House For His Glory. Terj, Diterbitkan oleh TCC and Translinc: Jakarta.
    C. Peter Wagner., 1993. Strategi Perkembangan Gereja. Terj, Penerbit Gandum Mas: Malang.
    D.W. Ellis,. 1999. Metode Penginjilan. Diterbitkan Yayasan Komunikasi Bina Kasih: Jakarta.
    Darrel W. Robinson., 2004. Total Church Life. Terj, diterbitkan oleh Lembaga Literatur Baptis: Bandung.
    Dick Iverson., 1994. Kebenaran Masa Kini, diktat. Harvest International Theological Seminary/Harvest Publication House: Jakarta.
    -----------------., 1993. Penginjilan, diktat. Harvest International Theological Seminary/Harvest Publication House: Jakarta.
    Echhard J. Scahnabal., 2010. Rasul Paulus Sang Misionaris: Perjalanan, Stategi dan Metode Misi Rasul Paulus. Terj, Penerbit ANDI: Yogyakarta.
    George W. Peters., 2006. A Biblical Theology Of Missions. Terj, Penerbit Gandum Mas: Malang.
    Hasan Susanto., 2003.Perjanjian Baru Interlinier Yunani-Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru, jilid 1 dan 2. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT : Malang.
    Harianto GP., 2012. Pengantar Misiologi: Misiologi Sebagai Jalan Menuju Pertumbuhan. Penerbit ANDI: Yogyakarta.
    Henry C. Thiessen., 1992. Teologi Sistematika, direvisi Vernon D. Doerksen. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas : Malang
    Jimmy B. Oentoro., 2004. Gereja Impian: Membangun Gereja Di Lanskap Yang Baru. Diterbitkan oleh PT. Harvest Citra Sejahtera: Jakarta.
    M. David Sills., 2011. Panggilan Misi: Menemukan Tempat Anda Dalam Rancangan Allah Bagi Dunia Ini. Terj, Penerbit Momentum: Jakarta.
    Norman & Davin Geisler., 2010. Conversational Evangelism.Terj, Penerbit Yayasan Gloria: Yogyakarta.
    Millard J. Erickson ., 2003. Teologi Kristen. Jilid 1,2 & 3. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas : Malang.
    Peter Wongso,. 1981. Tugas Gereja dan Missi Masa Kini. Penerbit Seminari Alkitab Asia Tenggara: Malang.
    Rick Warren., 2004. Kehidupan Yang Digerakkan oleh Tujuan. Terj, Penerbit Gandum Mas: Malang.
    Sularso Supater, dkk., 1994. Sebuah Bunga Rampai Pertumbuhan Gereja. Penerbit ANDI: Yogyakarta.
    Widi Artanto., 1997. Menjadi Gereja Misioner. Penerbit Kanasius: Yokyakarta & BPK Gunung Mulia: Jakarta.

    Mempersiapkan Diri Menjadi Penginjil Pribadi

    Penulis : W. Stanley Heath, Ph.D., M.Div.

    Telah banyak digunakan dalam usaha mengajak orang percaya untuk terjun ke dalam pekerjaan penginjilan pribadi seperti:

    Bagaimana pendapat saudara? Tepatkah semua pendorong yang diajukan di atas? ... Tidak! Hanya satu saja yang sesuai dengan Firman Tuhan, yaitu dorongan Kasih. 2Korintus 5 (TL) berbunyi: "Karena kasih Kristus itu menggerakkan hati kami, ... dan sudah menanggungkan ke atas kami kabar perdamaian itu. Sebab itu kami menjadi utusan bagi pihak Kristus, ...." (Lihat ayat 2Korintus 5:14,19,20 TL)

    Kalau saudara pergi mencari jiwa-jiwa yang sesat dengan dorongan yang lain dari Kasih Kristus, maka sikap saudara terhadap orang yang dilayani tidak akan sesuai. Tetapi, kalau saudara memberikan cukup waktu dan dengan tenang merenungkan sengsara Yesus pada salib, dan merenungkan keadaan manusia yang belum percaya kepadaNya, pasti dengan segera saudara akan tergerak oleh kasih itu untuk pergi. Siapakah, yang walaupun hanya memiliki sedikit kasih akan dengan sadar membiarkan teman-temannya menuju ke kebinasaan? Tentu, semua akan diajak untuk melarikan diri ke tempat yang aman, bukan?

    Apa sebabnya peristiwa penyaliban Yesus harus direnungkan sedalam-dalamnya sebagai penggerak kasih? Apakah hal ini suatu disiplin psikologis untuk membangkitkan perasaan ...? Tidak! Perasaan hanya akan bertahan sesaat saja, lalu menghilang. Pengetahuanlah yang akan bertahan lama sebagai pembangkit Kasih. Sebabnya dapat kita lihat dalam ayat yang berikut ini. "Karena kasih Kristus itu menggerakkan kami ... sebab kami yakin Seorang telah mati karena orang sekalian, ..." (2Korintus 5:14 TL)

    Demikianlah hubungan antara pengetahuan ("yakin") dan penggerak kasih. Dan pengetahuan itu tidak akan datang melalui khayal, melainkan telah disediakan bagi saudara di dalam Alkitab. Selidikilah nats-nats dasar dalam pelajaran ini, yakni 2Korintus 5:11-20. Nats itu merupakan dasar pengetahuan saudara mengenai rencana Allah dan peranan saudara dalam pemberitaan Injil Yesus. Kiranya dengan merenungkannya, saudara akan tergerak untuk memenangkan jiwa-jiwa bagi Tuhan Yesus, Juruselamat saudara.

    Tetapi Tuhan Allah tidak akan memberikan tugas tersebut tanpa adanya kerelaan dari saudara sendiri. Panggilan terhadap nabi Yesaya merupakan contoh baik dari sikap terhadap panggilan Allah itu. Allah bertanya: "... siapakah akan menjadi utusan-Ku? Maka jawabku: Bahwa aku ini hamba-Mu, suruhkanlah aku!" (Yesaya 6:8 TL)

    A. KEINSYAFAN AKAN RENCANA ALLAH BAGI SAUDARA

    B. PERSIAPAN ROHANI UNTUK MENJADI PEMBERITA INJIL

    C. DISIPLIN ROHANI SEHARI-HARI

    Hanya sejauh mana saudara menyediakan diri untuk diperlengkapi, sejauh itu pula Roh Kudus dapat bekerja di dalam diri saudara. Anak- anak Allah yang biasa menginjili telah mengalami bahwa hal-hal yang berikut perlu dilakukan sebagai langkah-langkah penyerahan rohani.

    Sumber: Penginjilan dan Pelayanan Pribadi

    Mengikuti Misi Kristus

    Ketika Tuhan Yesus terangkat ke surga, para murid memandang ke atas melihat keagungan yang telah Tuhan nyatakan. Namun, pandangan mereka harus kembali ke bawah, karena ada tugas yang telah menanti, yaitu melanjutkan misi penyelamatan-Nya bagi semua orang di bumi. Bukan hanya para murid, saat ini kita juga diundang untuk ambil bagian melanjutkan misi penyelamatan Tuhan Yesus Kristus sesuai dengan panggilan kita masing-masing. Kiranya renungan berikut ini semakin menguatkan kita untuk ambil bagian dalam misi Tuhan melalui pekerjaan yang Tuhan telah tetapkan bagi kita masing-masing.

    MENGIKUTI MISI KRISTUS

    Bagian ketiga dari hidup yang harus disesuaikan dengan pola hidup Kristus adalah misi atau pengutusan-Nya. Hal ini secara terbuka dinyatakan dalam ucapan Kristus kepada para murid-Nya setelah kebangkitan-Nya. "Sama seperi Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu" (Yoh. 20:21). Sepanjang hidup-Nya di dunia, Kristus memandang diri-Nya sebagai Utusan yang dikirim oleh Allah Bapa (Yoh. 17:3). Ia datang untuk bersaksi tentang Bapa Surgawi-Nya, untuk mewakili Bapa-Nya di depan manusia. Ia datang untuk menyampaikan secara terus-menerus arus kebenaran dari Bapa-Nya kepada manusia. Kasih yang ditunjukkan-Nya adalah kasih Bapa yang disingkapkan dalam bentuk manusia. Kristus yang menyatakan Bapa-Nya (Yoh. 1:18).

    Dalam pengertian yang sama, tetapi pada lingkup yang lebih kecil, kita harus memberi kesaksian tentang Yesus Kristus. Fungsi hidup kita adalah menyampaikan Kabar Baik mengenai Dia, menyatakan kepribadian-Nya di dalam diri kita, serta berbagi kematian dan kebangkitan-Nya dengan orang lain agar mereka juga dapat berbagi keselamatan yang tersedia bagi mereka. Namun, kita tidak dapat melakukannya dengan kekuatan sendiri, kehendak kita sendiri, atau pun berdasarkan talenta dan kemampuan kita sendiri. Kita harus diberi wewenang dan kuasa oleh Yang Lain, sama seperti Kristus diberi wewenang dan kuasa oleh Bapa-Nya.

    Yohanes 17 adalah pasal "serah terima" yang luar biasa. Dalam pasal ini, Yesus akan kembali kepada Bapa, dan Ia menyerahkan tugas-Nya kepada para murid-Nya (dan kepada kita). Kita tidak dapat membaca ayat 11 -- 19 tanpa merasakan adanya getaran kesinambungan; Aku merupakan sebagian dari suatu misi yang sedang berlangsung terus. Yesus Kristus telah memulai letupan gerakan pengutusan ini, dan semua murid-Nya ditugaskan untuk terus melanjutkannya. Segala wibawa dan kuasa surga ada pada kita ketika kita pergi untuk menjalankan misi atau pengutusan ini kepada orang lain, entah di lingkungan sekitar tempat tinggal kita atau satu daerah yang jauh (Mat. 28:18-20). Seperti Kristus, Tuhanku, kita juga seseorang yang diutus!

    "Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia,
    demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia."
    (Yoh.17:18)

    Diambil dan disunting seperlunya dari:

    Judul buku : Setiap Hari Bersama Tuhan Rajaku
    Judul asli buku : Daily With The King
    Penulis : W. Glyn Evans
    Penerjemah : Redaksi PT BPK Gunung Mulia
    Penerbit : BPK Gunung Mulia, Jakarta 2001
    Halaman : 307 -- 308

    Menjadi Saksi Kristus

    Penulis : Donny Wiguna

    Kis 1:6-11 Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: "Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?" Jawab-Nya: "Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka, dan berkata kepada mereka: "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga."

    Bahan bacaan di atas menjadi acuan ketika saya diminta berbicara di antara teman-teman dalam persekutuan kami. Karena saat ini adalah waktu-waktu menjelang peringatan kenaikan Tuhan Yesus Kristus, rasanya memang sudah seharusnya kami membicarakan topik ini. Mulanya biasa saja, bagian bahan yang rasanya tidak terlalu istimewa. Tapi, itu sebelum saya benar-benar memperhatikannya.

    Ternyata, setiap bagian dari Firman Tuhan sesungguhnya istimewa. Kita saja yang belum tahu relevansinya.

    Kami mulai membahasnya dengan mendiskusikan bagaimana kehidupan di jaman sekarang ini. Seperti apa kualitas kehidupan? Apakah menjadi semakin baik atau semakin buruk? Dan kami harus melihat bahwa ternyata dunia tidaklah sebaik yang diinginkan. Memang benar, ada kemajuan di sana sini tetapi kemerosotan nampaknya lebih cepat terjadi. Sementara sebagian kecil orang menjadi semakin makmur, sebagian besar manusia di muka bumi mengalami kesusahan yang besar. Masalah muncul dalam berbagai bentuk: pertikaian politik, kemunduran ekonomi, masalah kesehatan, masalah kemanusiaan, sampai datangnya bencana alam yang luar biasa.

    Kehidupan naik turun seperti roller-coaster: mula-mula terasa naik perlahan-lahan, lalu tiba-tiba meluncur dengan cepat ke bawah. Bedanya, jika dalam permainan roller-coaster orang menjerit ngeri sambil merasa senang, dalam peristiwa yang mengerikan seperti bencana gempa di Nias, orang menjerit ngeri sambil memandang kematian. Kehancuran. Baru saja rasanya aman, selamat dari bencana tsunami sehingga bisa mulai menata hidup, tiba-tiba semuanya runtuh dalam guncangan yang amat keras di malam hari.

    Kehidupan orang Kristen tidak terluput dari kesukaran. Adakah yang mendengar berita, pada tanggal 1 April yang lalu di desa Kerala, India? Sekelompok muslim dan hindu baru saja membakar habis sebuah rumah doa dan menyerang tiga anggota gerejanya. Dua hari kemudian, ketika pendetanya -- Paul Ciniraj Mohammed, yang berlatar belakang muslim -- berbicara kepada orang desa tentang penyerangan tersebut, ia dan asistennya turut mengalami penganiayaan.

    Apa yang dilakukan oleh pendeta Paul? Ketika asistennya sedang dipukuli, ia berlutut dan berdoa, memohon agar Tuhan menyelamatkan mereka dan juga mengampuni para penyerang mereka itu. Seorang wanita desa menyaksikan bagaimana pendeta Paul berdoa dan tersentuh oleh kerendah-hatiannya, serta merta meminta kepada para penyerang untuk berhenti. Bukan saja berhenti, tetapi juga meminta maaf kepada pendeta itu! Paul Ciniraj Mohammed tidak mengadukan penyerangan ini kepada polisi karena mereka telah meminta maaf. Rumah Doa itu sendiri habis oleh api, tidak terselamatkan, tetapi orang-orang Kristen di desa itu tetap bertekad untuk bersekutu dalam doa dan pemahaman Alkitab di rumah-rumah mereka.

    Berita-berita semacam ini muncul dari segala penjuru dunia, termasuk dari Indonesia di mana penganiayaan seakan-akan dilakukan bergilir di seluruh tempat di negeri ini. Sementara itu, gerakan-gerakan fundamentalis Islam bersuara semakin keras, menunjukkan kekuatannya. Belum lama berselang, mereka menekan kalangan Islam Liberal dan mengacungkan �vonis� pemurtadan, sambil menyerukan sikap yang keras. Sedemikian rupa kerasnya, sehingga tokoh-tokoh muslim sendiri merasa khawatir. Nampaknya, semakin tepat kaum muslim mengikuti kebenaran kitab sucinya, semakin keras sikap mereka terhadap orang-orang yang tidak seiman.

    Di luar urusan religius, kita juga dikejutkan dengan masalah moralitas. Rupanya pornografi sudah begitu kuat mencengkram alam pikir anak-anak kita, sehingga dua orang remaja bisa memperkosa seorang bocah berumur 6 tahun, membunuhnya, lalu membakarnya tanpa merasa bersalah. Setelah melakukan kebejatan, mereka masih sempat main bola. Ketika kedua remaja itu ditangkap, mereka sedang bersantai-santai, sama sekali tidak nampak ketakutan atas perbuatan keji yang baru mereka lakukan. Kelihatannya, kombinasi antara kecabulan dan kejahatan sudah membuat manusia lebih jahat dari binatang buas, melampiaskan nafsu hanya demi nafsu.

    Ada orang Kristen yang tidak peduli -- dan itulah masalah besarnya. Bagaimana mungkin, seorang Kristen tidak peduli atas dunianya yang semakin lama semakin memburuk? Tetapi dia hanya mengangkat bahu sambil berkata, "biarlah terjadi apa yang akan terjadi, toh Tuhan pasti menolong." Ya, Tuhan pasti menolong, tetapi orang Kristen ini sama sekali tidak mau ikut campur. Ada orang Kristen yang ketakutan, lantas berseru-seru dalam doa dan doa dan doa memohon pemulihan. Tetapi selain berdoa, mereka juga tidak melakukan banyak hal lain, kecuali mencari-cari jawaban atas masa dan waktu. Kita sudah menemukan kelompok jemaat Pondok Nabi yang meyakini hari kedatangan Kristus, yang terbukti keliru. Namun orang tidak berhenti mencari tahu kapan waktu kedatangan-Nya, kapan waktu pemulihan itu.

    Dan dipikir-pikir, mungkin beginilah kira-kira keadaan murid-murid Kristus pada masa hidup mereka. Ada keresahan yang besar, penganiayaan yang luar biasa. Penindasan oleh penjajah Romawi yang kejam, yang sedemikian kejam sehingga memberi hukuman salib. Tidak sedikit orang yang dihukum salib seperti Tuhan Yesus, bahkan jumlahnya menurut sejarawan telah mencapai ribuan orang. Tangan Romawi adalah tangan besi, yang menghancurkan Yerusalem di tahun 70 M karena mereka memberontak. Nampaknya, orang Romawi bahkan lebih jahat daripada orang Babilonia yang dahulu juga menyerbu Yerusalem dan menghancurkan Bait Allah.

    Wajar saja, ketika murid-murid itu menyuarakan pertanyaan "Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?" Mereka telah tahu bahwa Yesus adalah Tuhan, yang tidak diragukan lagi sanggup memulihkan kerajaan bagi Israel. Itulah yang menjadi impian tiap orang Israel: mendapatkan kerajaan mereka kembali, dalam pemulihan yang ilahi. Mereka menginginkan kehidupan berjalan seperti semula, mendefinisikan "PULIH" sebagaimana yang manusia pikirkan.

    Tetapi apa jawab Tuhan? "Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."

    ENGKAU TIDAK PERLU TAHU. Bukan urusan murid untuk mengetahui tentang masa dan waktu. Bukan urusan kita untuk meributkan dan memusingkan kapan pemulihan akan terjadi. Sebagai ganti dari jawaban atas masa dan waktu pemulihan, Tuhan Yesus memberi suatu kepastian: KAMU AKAN MENERIMA KUASA. Kuasa apa? Kuasa untuk menjadi saksi Tuhan di seluruh dunia.

    Tuhan bukannya menghibur murid-murid-Nya dengan memberi penjelasan tentang nubuat-nubuat dan peristiwa-peristiwa yang akan datang, melainkan Ia menegaskan tentang pokok yang harus dilakukan, untuk menjadi saksi-Nya mengabarkan Injil. Dalam kata-kata Matius, "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

    Inilah urusan kita, tugas kita. Keadaan mungkin nampak buruk, situasi kelihatan buruk sehingga tak ada harapan lagi, tetapi urusan kita adalah menjadi saksi Kristus, memberitakan Injil, dan menjadikan semua bangsa murid Kristus. Bagian kita bukan hanya berdoa -- jangan salah, berdoa adalah yang paling penting untuk dilakukan, tetapi bukan satu-satunya yang bisa dikerjakan.

    Dahulu ada seorang rekan segereja yang berkomentar, betapa konyolnya membawa alkitab untuk menolong orang yang sedang susah. Sekarang keadaan sedang terjepit, yang dibutuhkan adalah jalan keluar, solusi instan. Cepat! Mana ada waktu untuk bicara tentang hal-hal seperti keselamatan dalam Kristus? Lagipula, betapa tidak pantasnya. Beberapa teman di mailing list mencela sikap orang-orang Kristen yang berusaha memberitakan Injil kepada orang-orang Aceh yang baru terkena bencana Tsunami. Kalau memberikan bantuan kemanusiaan, berikanlah tanpa embel-embel Injil!

    Tetapi, sebenarnya Injil adalah faktor utama yang dibawa untuk menyelamatkan orang. Kebenaran Kristus yang datang menyelamatkan dunia menjadi dasar bagi usaha untuk menolong siapa pun yang membutuhkan, 106kan ketika keadaan menjadi sangat sukar dan tidak masuk akal untuk memberikan pertolongan apa pun. Jika orang melakukan usaha kemanusiaan, upaya itu dibatasi oleh sifat manusia. Jika terlalu sukar, atau terlalu berbahaya, orang akan berhenti sambil mengangkat bahunya, "Tidak bisa." Sebaliknya, upaya memberitakan Injil adalah komitmen untuk memenuhi panggilan Tuhan, melakukan pekerjaan yang Allah berikan.

    Amat keliru jika memikirkan pemberitaan Injil adalah kotbah atau memaksa orang mendengar dan mengaku percaya demi mendapatkan sekotak makanan. Berita Injil disampaikan terlebih dahulu melalui perbuatan, bukan kata-kata. Tuhan Yesus melakukannya dengan menyembuhkan dan memulihkan kehidupan orang-orang, bukan hanya bicara dan bicara.

    Saya sangat tersentuh ketika membaca bukunya Franklin Graham, "Living Beyond The Limits" (terjemahan Indonesia: Hidup Melampaui Batas-batas, penerbit Nafiri Gabriel, Jakarta). Dia memberi kesaksian tentang bagaimana dirinya serta orang-orang yang setia kepada Tuhan bekerja dalam keadaan yang rusak di Angola, Bosnia, Libanon, dan juga kepada narapidana di penjara. Kehidupan yang rusak dipulihkan oleh Firman Allah, dan bantuan kemanusiaan adalah perangkat-perangkat-Nya. Ibaratnya seperti peralatan medis, semua yang dibutuhkan untuk menolong seorang pasien yang sakit. Peralatan-peralatan itu berguna sekali di tangan seorang dokter, tetapi hanya menimbulkan kesulitan di tangan awam (walau bukan berarti tidak bisa dipakai sama sekali). Yang menyembuhkan adalah dokter, bukan peralatannya. Ia yang tahu apa kegunaan setiap alat, bagaimana memakainya dengan efektif.

    Untuk semua kesusahan, Graham membawa Firman Allah dengan perangkat-perangkat yang disiapkan oleh Samaritan�s Purse, organisasi pelayanannya. Ia mendirikan atap-atap bagi orang di Bosnia, memberikan seekor sapi yang menolong Panglima Mohammed melalui musim dingin yang sukar. Tetapi semua itu menjadi bagian dari pemberitaan Injil: tindakan pertolongan itulah yang menjadi Injil yang diberitakan. Pertolongan yang dibutuhkan manusia bukan sekedar cara untuk makan hari ini saja, melainkan pemulihan kehidupan secara utuh, secara menyeluruh. Orang harus ditolong untuk melalui masa-masa yang sukar dan menjalani hidup yang baru, yang kekal di dalam Tuhan.

    Pemberitaan Injil menjadi usaha pertolongan yang dibutuhkan itu; isinya bukan hanya sekedar membicarakan Firman, melainkan melakukannya. Orang terlebih dahulu melihat apa yang dilakukan, bukan apa yang diucapkan. Memang sangat penting untuk menjaga agar perilaku senantiasa sesuai dengan ucapan, tetapi jika kita tidak bisa menjaga ucapan kita dari kata-kata yang jahat dan kotor, sebaiknya kita tidak berkata apa-apa.

    Apakah semua ini hanya perlu dilakukan tanpa suatu arah, tanpa suatu tujuan akhir? Tidak begitu. Perhatikanlah kembali apa yang terjadi setelah Tuhan Yesus naik ke Surga. Ia telah memberikan amanat-Nya untuk memberitakan Injil. Murid-murid diharapkan untuk segera menyebar dan mempersiapkan diri menerima kuasa seperti dijanjikan-Nya. Jadi, begitu Kristus naik, sudah selesai, bukan? Tugas sudah diberikan. Briefing sudah selesai. Sekarang, bubar!

    Tetapi, Tuhan tidak berhenti di kenaikan. Ketika murid-murid masih memandang ke langit, ada dua orang berpakaian putih memberi penjelasan penting ini: "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga."

    Setelah kenaikan-Nya, ada berita lain yang tak kalah pentingnya: Tuhan akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kenaikan-Nya ke Sorga. TUHAN AKAN DATANG KEMBALI. Ini perlu ditulis dengan huruf besar-besar, agar kita semua ingat. Pemberitaan Injil bukan hanya suatu proses satu arah, seperti yang dilakukan oleh banyak tokoh agama. Mereka semua menuju ke satu titik puncak, setelah itu masuk ke alam surgawi dan tidak pernah kembali lagi. Tetapi, Tuhan Yesus akan datang kembali. Memang kita tidak tahu tentang waktu dan masa, tetapi kita tahu pasti akan kedatangan-Nya.

    Pemberitaan Injil mengarahkan orang untuk menghadapi masa itu, saat-saat kedatangan-Nya. Entah kita masih hidup, atau kita sudah mati, kita semua akan bangkit untuk menyongsong-Nya. Pemberitaan Injil bukan sekedar mengajar orang untuk berbalik dari jalan hidup mereka yang menuju kebinasaan, melainkan mempersiapkan orang bertemu dengan Tuhan dalam kemuliaan-Nya. Orang belajar untuk mengenal Tuhan, merasakan kasih karunia Tuhan, agar selanjutnya bisa membagikan kasih itu kepada orang lain. Ini adalah proses yang bertumbuh, sehingga setiap orang dapat menggunakan segala daya dan upayanya untuk menjangkau orang lain, dan akhirnya kelak bersama-sama akan bertemu muka dengan Tuhan.

    Karena sifatnya yang menyongsong ini, waktunya terbatas. Pilihannya pun terbatas. Jika seseorang mau menerima Injil Yesus Kristus, dia akan diselamatkan. Jika ia tidak mau menerima, orang ini tidak akan selamat di hadapan Tuhan yang datang kelak. Dan waktunya tidak panjang: mungkin kematian akan lebih dahulu mengambil kesempatan bertobat. Mungkin pula, besok Tuhan datang dan tidak ada lagi kesempatan. Di tengah-tengah bencana dan kesusahan, siapa yang tahu berapa lama lagi waktunya akan habis?

    Ketika saat-Nya tiba, bukankah mereka yang masih belum mengenal Dia akan celaka? Karena itu, betapa pentingnya memberitakan Injil. Beritakanlah dengan perbuatan kita pada dunia, beritakanlah dengan kesaksian kita tentang Kristus dalam hidup kita, dan beritakanlah dengan ucapan kita yang menjelaskan kasih karunia-Nya.

    Satu hal, sebagai penutup: untuk memberitakan Injil, kita terlebih dahulu harus mengetahui Injil. Kita harus belajar Firman, belajar dengan tekun dan setia. Kalau tidak belajar, apa yang dapat kita sampaikan? Jangan dengarkan orang-orang yang masih sibuk meributkan tentang otoritas Alkitab, atau tentang kritik-kritik Alkitab. Mereka yang meributkan itu tentu tidak akan menerima Alkitab sebagai Firman Allah yang berotoritas yang harus segera diberitakan kepada banyak orang. Kemanusiaan menjadi hal yang terpisah dari Firman, dan ketika kemanusiaan dilaksanakan tanpa Tuhan, keadaannya seperti alat bedah di tangan seorang awam. Bukannya menyembuhkan, sebaliknya bisa mematikan!

    Belajar Firman hanya dapat dimulai dengan merendahkan diri di bawah otoritas Allah, tunduk kepada Firman-Nya. Dibutuhkan dedikasi dan komitmen untuk merenungkan Firman, menemukan kebenaran-kebenaran mutlak yang dibutuhkan untuk kehidupan. Kita tidak bisa begitu saja membaca Alkitab lalu mendapatkan semuanya, seperti memungut batu di pinggir jalan. Dan dibutuhkan lebih banyak lagi upaya untuk menjadikan kebenaran-Nya menjadi prinsip yang menghidupi kita, yang terwujud dalam segala perkataan, perbuatan, bahkan pikiran kita. Semua ini adalah proses yang terus menerus, pembaharuan budi yang terus menerus menjadi manusia yang Allah inginkan, serta memberi kehidupan pada dunia.

    Kiranya, kita mengerti bahwa kenaikan Tuhan Yesus Kristus adalah awal dari pemberitaan Injil, yang mengajak kita sekalian untuk mengambil bagian di dalamnya.

    Terpujilah TUHAN!

    Menuding

    Oleh: Bagus Pramono

    Manusia itu menjawab: "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan." Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: "Apakah yang telah kauperbuat ini?" Jawab perempuan itu: "Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan." (Kejadian 3:12-13)

    Setiap orang mempunyai tendensi "menuding", bandingkan dengan ayat diatas, ternyata sikap itu adalah reaksi dosa Adam. Ia seharusnya bisa langsung mengakui kesalahannya, dan tidak melemparkan kepada Hawa yang melemparkannya lagi kepada ular. Agaknya sulit bagi seseorang mengakui bahwa dia turut bersalah dalam suatu kasus, dan sebaliknya selalu ingin melemparkan kesalahan kepada pihak lain.

    Tuding-menuding juga wujud dari sikap kesombongan. Seorang yang saleh beribadah tak jarang menuding orang lain dengan stardard dirinya yang dirasa lebih saleh. Dengan demikian, kesalehan seseorang bisa menyeretnya berbuat dosa. Karena didalam setiap tindak-kebaikan dan kesalehan kita, masih akan terselip kejahatan dan kesalahan. Misalnya, ketika memberi/ sedekah kita bisa diam-diam mengharapi pujian; ketika kita berdoa, kita bisa ngelantur (riya); ketika kita berkotbah, kita belum tentu berperilaku seperti yang dikotbahkan, ketika menolong, kita sering mengharapkan (bahkan menuntut) pamrih, dll. Singkatnya, ketika kita berbuat jahat maka betul kita berbuat jahat, namun tatkala kita berbuat baik-pun masih terselip perbuatan-perbuatan jahat. Yesus mengecam orang-orang yang hanya pandai menuding kesalahan orang luar, dan itu disebutNya sebagai munafik : "Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu (orang lain)." (Matius 7:5)

    Yesus telah mencanangkan revolusi moral-etika, Ia memurnikan moral sampai kepada sumbernya. Yesus mengajar bahwa tendensi dosa bukan dari perbuatannya secara kasat mata. Dengan jelas Yesus mengungkapkan potensi dosa dari sumbernya, yaitu hati dan pikiran dari manusia. Salah satu contoh, tentang hukum zinah, tidak sebatas seseorang itu "ketahuan berbuat zinah". Yesus meluruskannya dengan stardard baru yaitu menyatakan bahwa "membayangkan zinah sudah termasuk zinah!" (Matius 5:27-30). Dari contoh pengajaran ini, baiklah kita menimbang. Perlukah menuding sepihak, bahwa suatu tendensi zinah dilimpahkan saja kepada seorang wanita cantik dengan tubuh aduhai, kemudian kita menyalahkan si wanita itu seharusnya menutup rapat tubuhnya, padahal mata dan hati si laki-lakilah yang bermasalah.

    Dalam kehidupan rumah-tangga, tak jarang terjadi, entah istri atau suami atau anak-anak melakukan kesalahan. Terhadap pihak yang bersalah itu, seringkali kita selalu menuding kesalahannyasecara terus menerus tanpa memperhatikan pihak yang bersalah itu sudah meminta maaf. Susah sekali bagi seseorang mengampuni dan melupakan perbuatan salah dari keluarganya itu. Misalnya, seorang suami pernah berbuat salah, katakanlah, ia berselingkuh, kemudian ia kembali kepada istrinya, dan istrinya menerimanya kembali dan memaafkannya. Tapi ternyata pemberian maaf itu tidak sepenuhnya, sepanjang hidup si-suami ini terus-menerus "dituding" oleh si istri, suami senantiasa diingatkan, bahkan teror sehari-hari bahwa dia pernah berbuat ini dan itu. Akibatnya, meskipun suami-istri ini tetap hidup bersama, namun si istri lebih rela kehilangan kebahagiaan dan ketenangan rumah tangganya, gara-gara si-istri kecanduan "menuding" suaminya.

    Tuding-menuding ada dalam kehidupan beragama, Kristianitas seringkali mendapat banyak tudingan : Tuhanmu tiga, mengapa menyembah manusia, Roh Kudus itu bukan Tuhan tapi malaikat, mengapa memakan makanan haram, ibadah cara kafir dan seterusnya dilontarlah oleh kalangan "agama lain". Ternyata bukan dari kalangan luar saja Kekristenan mendapat tudingan. Diantara orang-orang Kristiani sendiri juga sarat "tuding-menuding", diantara kita juga terjangkit penyakit kecanduan menuding ibadah saudara kita dari aliran lain. Golongan dari gereja baru menuding saudara tuanya yang Gerejanya dipimpin oleh seorang raja, tanpa menyadari kalau dia sendiri juga bergereja di gereja yang dipimpin oleh seorang pendeta/gembala yang merangkap owner, direktur dan bendahara dan itu bagaikan "kerajaan kecil"nya. Seorang Kristen yang lain menuding golongan lainnya sebagai golongan "sesat". Aliran baru menuding gereja lama tak memiliki Roh, sebaliknya aliran lama balik menuding ibadah cara baru itu adalah bentuk pengawuran. Aliran baru yang merasa dirinya paling Alkitabiah menuding-nuding kelompok lainnya tidak Alkitabiah. Akhirnya rasa "paling Alkitabiah" ini menyeret pada dosa lain yaitu kesombongan. Aliran satu menuduh aliran lain mengkultuskan manusia dan tak menyadari dirinya sendiri toh juga mengkultuskan pendetanya. Kelompok "anti Arab" menuding kelompok Kristen lain yang menggunakan istilah serapan dari bahasa Arab untuk memanggil Tuhan. Belum lagi soal doktrin dan tradisi gereja, terjadi pula tuding-menuding, menyerang, melecehkan dan lain-lain. Yang lebih parah, kita sering lebih suka mengingat-ingat yang jelek-jelek saja. Seperti sikap si-istri tadi, gereja yang satu kecanduan merincikan kesalahan-kesalahan suatu gereja lainnya tanpa menghiraukan bahwa gereja yang ditudingnya itu telah melakukan reformasi dan pembenahan-pembenahan.

    Ketika kita bersikap seperti itu, kita ini justru menempatkan diri kita seperti preman-preman agama di Jakarta yang suka mengedor-gedor pintu café dan tempat-tempat hiburan yang dituding "maksiat", dan menempatkan dirinya sendiri sebagai polisi moral-kesucian. Pihak atheis bisa tertawa ngakak melihat kelucuan sikap orang-orang yang bertuhan dan beragama, dan ini tentulah bukan kesaksian yang baik.

    Seperti Adam, kita susah menuding diri sendiri, Adam seharusnya bisa langsung mengaku dia berdosa melanggar perintah Tuhan, tetapi ia lebih merasa nyaman menuding Hawa, dan Hawa-pun menuding pihak lainnya. Dari sini dapat kita mengerti bahwa "menuding" adalah justru sebuah reaksi dosa. Adalah perbuatan baik mengingatkan saudara kita akan dosa/ kesalahan yang diperbuatnya, namun ternyata kita sering tidak memberikan peringatan dengan kasih, dan tanpa perlu mendakwa. Tetapi kita lebih asyik menuding dengan pandangan picik bahwa kita sendiri saja yang benar. Patut disayangkan, seorang yang mempunyai tendensi menuduh-nuduh, mendakwa dan menelanjangi kesalahan pihak lain seringkali lupa bahwa matanya sendiri masih kelilipan batu besar.

    "Jika engkau secara demikian berdosa terhadap saudara-saudaramu dan melukai hati nurani mereka yang lemah, engkau pada hakekatnya berdosa terhadap Kristus." (1 Korintus 8:12)

    Merebut Apa yang Hilang

    Oleh: Pdt. Robinson Y. Tulenan

    Bacaan: 1 Samuel 30:1-6

    Ketika pulang dari Filistin, Daud mendapati Ziklag telah diserang. Sebagai pemimpin Daud bertanggung jawab penuh dengan apa yang melanda Negeri Ziklag:

    - Ziklag telah dikalahkan/dibakar habis. (ayat 1)

    - Seluruh harta dijarah

    - Seluruh wanita, dan anak-anak serta orang tua ditawan (ayat 2)

    Dan yang lebih tragis lagi dia mendapat ancaman dari rakyatnya sendiri akibat dari peristiwa-peristiwa tersebut.

    "Dan Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Seluruh rakyat itu telah pedih hati, masing-masing karena anaknya laki-laki dan perempuan." 1 Samuel 30:6

    Dalam situasi ini Daud menghadapi 2 serangan: Serangan dari luar dan dari dalam. Yang dari dari luar sudah terjadi, dan yang dari dalam apabila Daud tidak bisa menyelesaikan masalah-masalah tersebut maka itu akan terjadi.

    Tidak hanya sedih melihat seisi kota dibakar habis, tidak hanya sedih melihat wanita dan anak-anak ditawan, tidak hanya sedih mengetahui bahwa istrinya sendiri pun turut diangkut oleh orang Amalek, tetapi ia juga harus menghadapi rakyat yang siap membunuhnya dengan lemparan batu karena marah anak dan istri mereka lenyap dirampas musuh. Daud harus menghadapi ini semua, dan situasinya benar-benar mencekam dan berbahaya. Kita mungkin akan segera putus asa jika berhadapan dengan kondisi seperti itu. Tetapi lihatlah dan teladanilah apa yang dilakukan Daud. Dia tidak putus asa sedikit pun. Dia tidak kecewa terhadap Tuhan meski yang ia hadapi sangatlah berat bahkan dia tidak lari dari masalah. Tetapi Alkitab dengan jelas mengatakan bagaimana Daud tetap menghadapi semua masalah tersebut, dengan beberapa tindakan. Apa tindakan Daud ketika menghadapi situasi yang berat:

    1. Tindakan Memperkuat Kepercayaan. (ay 6c).

    Ini adalah tindakan rohani Daud di tengah tekanan-tekanan dunia yang berat. Daud sangat terjepit tetapi baginya itu bukan berarti sudah tidak ada jawaban, justru bagi dunia sudah tidak ada jawaban dan pengharapan tetapi bagi Tuhan tidak ada yang tidak bisa dijawab dan tidak ada yang tidak mungkin. Dengan memperkuat kepercayaan. Daud mengandalkan Tuhan sepenuhnya, dia tahu betul bagaimana menghadapi situasi, tekanan dan ancaman, jawabannya dengan berharap dan mengandalkan Tuhan sepenuhnya, bagaimana dengan hidup kita hari-hari ini, adakah sesuatu yang sulit dan berat yang kita hadapi? Mari andalkan Tuhan sepenuhnya dalam hidup kita.

    2. Tindakan untuk Merebut Apa yang hilang. (ayat 8-9,17)

    Ternyata setelah mengambil tindakan untuk memperkuat kepercayaan dengan mengandalkan Tuhan, Daud harus mengambil suatu tindakan untuk mengejar dan merebut kembali apa yang hilang, yang telah dirampas oleh Amalek. Dalam tindakan yang pertama Daud sangat benar, karena mengandalkan Tuhan dengan memperkuat kepercayaan, tetapi dalam situasi ini Daud juga harus mengambil suatu tindakan untuk merebut apa yang telah hilang dirampas oleh musuh. Dalam situasi-situasi tertentu Tuhan bisa langsung menjawab masalah atau pergumulan tanpa seseorang mengambil suatu tindakan (hanya berdiam diri). Tetapi dalam peristiwa ini, Daud tidak bisa hanya berdiam diri, walaupun Tuhan sudah katakan dia akan berhasil merebut dan melepaskan tawanan tetapi kalau dia hanya berdiam diri tidak ada tindakan untuk merebut apa yang telah hilang maka itu tidak akan berhasil. Begitu juga dengan kehidupan orang percaya walaupun kita katakan saya sudah berdoa, saya sudah rajin beribadah dan lain sebagainya tetapi kalau tidak ada tindakan nyata dari kita untuk mau berubah/bertobat dengan merebut hal-hal/karakter yang Tuhan inginkan, maka sulit untuk kita melihat jawaban Tuhan. Alkitab menjelaskan dengan tindakan yang kedua ini Daud beserta pasukannya berhasil merebut kembali apa yang telah dirampas oleh Amalek semua yang hilang bisa direbut kembali mulai dari keluarga mereka, harta bahkan Daud dan pasukannya mendapat jarahan yang sangat banyak (I Sam 30:17-19). Apa yang menyebabkan sehingga ini bisa terjadi, karena Daud bertindak dengan memperkuat kepercayaannya kepada Tuhan dan merebut kembali apa yang telah hilang.

    Mungkin ada yang terhilang dari keluarga kita, ditarik oleh dunia sehingga mereka telah meninggalkan Tuhan, mereka menjadi orang yang terhilang mereka hidup dalam tawanan dunia ini... mari kita rebut mereka kembali.

    Mungkin juga ada sesuatu yang terhilang dalam hidup kita: cinta mula-mula kita kepada Tuhan yang dulunya begitu menggebu-gebu tetapi sekarang itu tidak ada lagi. Dulu kita adalah orang penyabar, lemah lembut, penuh kasih, rendah hati tetapi sekarang itu semua sudah hilang justru sebaliknya.

    Ataupun dengan krisis ekonomi yang terjadi, kita kehilangan pekerjaan, kesempatan, dll. Marilah kita menjadi Daud-Daud di akhir zaman ini yang mau mengandalkan Tuhan sepenuhnya dan ada tindakan dari kehidupan kita untuk merebut kembali apa yang telah hilang. Praise the Lord.

    Misi

    Penulis : Andrias Hans

    " Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; Jika satu anggota dihormati , semua anggota turut bersukacita. Kamu semua Adalah tubuh kristus dan kamu masing2 adalah anggotanya. * kita , yang kuat, Wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari Kesenangan kita sendiri. * dan janganlah tiap2 orang hanya memperhatikan Kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. Setiap orang di Antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk Membangunnya. Karena kristus juga tidak mencari kesenangan-nya sendiri. * Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang2 lain mendapat keringanan, tetapi Supaya ada keseimbangan. Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu Mencukupkan kekurangan mereka , agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan Kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan. Seperti ada tertulis : orang Yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan Sedikit, tidak kekurangan " (I Korintus 12:26-27 ; Roma 15:1-3a ; Filipi 2 ; 4 ; II Korintus 8:13-15)

    Prinsip Berperikehidupan Kristiani.

    Firman Tuhan di atas diinspirasikan oleh Tuhan Yesus Kristus kepada rasul Paulus dan selanjutnya diteruskan melalui surat kepada jemaat di Korintus dan Roma serta Filipi. Kondisi jemaat2 ini tentu memiliki perbedaan dan keunikannya, dan sudah barang tentu surat2 ini ditujukan dengan maksud dan tujuan yang berbeda dari jemaat yang satu kepada jemaat yang lain dikarenakan konteks yang berbeda pula. Namun pada hakekatnya jikalau kita mencermati firman Tuhan yang dipaparkan kepada rasul Paulus ini yang selanjutnya dia ajarkan kepada orang2 kristen, maka kita akan menemukan sebuah prinsip berperikehidupan yang sejati yang seharusnya mewarnai konteks hidup dan kehidupan orang2 percaya di sepanjang zaman ini.

    Apakah prinsip berperikehidupan itu ? Prinsip yang satu ini memiliki gap pemisah yang amat lebar dan dalam dengan prinsip hidup kekinian yang telah dirasuki roh individualistik dan egoistik yang melahirkan bayi2 asosial, dan mau enaknya sendiri. Prinsip hidup yang dimaksud adalah prinsip hidup orang Kristen yang kental sifat altruistik kristianinya yaitu memiliki sifat belarasa, empatik , rasa memiliki yang dalam, serta penuh kasih terhadap sesama saudara seiman yang lain.

    Teramat jelas Tuhan berbicara bahwa orang2 kristen itu tidak terpisahkan satu dengan yang lainnya, di manapun mereka berada dan apapun statusnya; kaya atau miskin, pandai atau tak pandai, berpangkat atau tak berpangkat, popular atau tak popular, pejabat atau rakyat , mereka semuanya terikat pada satu tubuh Tuhan Yesus Kristus dan mereka itu merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dari Tubuh itu. Dengan singkat orang Kristen dari suku, warna kulit, jenis rambut dan bentuk mata apa pun dia, mereka merupakan satu kewarganegaraan kerajaan Allah.. Kita adalah WNA ; warga negara Allah bukan WNI : warga negara iblis . Inilah konsep yang harus kita pegang bersama.

    Apa implikasi dari kekentalan dan keeratan hubungan anggota tubuh itu ?

    Pertama, firman Tuhan dengan tegas mengatakan: "KARENA ITU JIKA SATU ANGGOTA MENDERITA, SEMUA ANGGOTA TURUT MENDERITA; JIKA SATU ANGGOTA DIHORMATI , SEMUA ANGGOTA TURUT BERSUKACITA". Ini merupakan suatu rahasia hidup kristiani yang begitu agung, begitu mulia, dan begitu uniknya, tiada tertandingkan dan terbandingkan dengan ajaran apapun yang telah ada dan yang akan lahir dari rahim bumi ini. Banyak orang dari berbagai kalangan agama baik secara terang2an maupun malu2 kucing dan diam2 mengakui solidaritas kristiani yang dipancarluaskan dalam komunita kristiani di berbagai tempat. Paling tidak dalam komunita keluarga Kristen yang sejati.

    Jikalau orang Kristen yang satu mati rasa dengan penderitaan orang Kristen lainnya maka solidaritas dan keselarasaannya sebagai satu tubuh Kristus sangat perlu dipertanyakan bahkan perlu diverifikasi keabsahannya sebagai warga kerajaan Allah di mana Yesus sebagai Rajanya. Bilamana penderitaan gereja desa dan gereja terisolir jauh di pedalaman (gereja sebagai organisasi & organisma) yang begitu hebat tidak menyentuh dan tidak menggentarkan hati gereja kota sedikit pun maka sudah saatnya kesolidaritasan sesama anggota tubuh Kristus perlu ditinjau ulang, apakah benar mereka adalah anggota dari tubuh yang satu itu ? dan apakah betul mereka adalah W N A serta masih pantaskah mereka berseru-seru : Tuhan, Tuhan ? Bukankah Tuhan Yesus berkata : "Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku (Matius 25:40). Bila hati kita tersentuh kepedihan yang dialami sesama saudara seiman di desa dan tergerak melakukan sesuatu, itu jelas kita telah melakukan untuk Yesus. Tolok ukur kita mengasihi Yesus adalah sejauhmana solidaritas kristiani kita terejawantah di dalam pergumulan bersama saudara kita di desa. Di luar itu kita tidak sedang melakukan sesuatu untuk Tuhan malah hanya membesarkan jargon kosong : kita adalah umat pilihan. Umat pilihan siapa ?

    Mengapa cenderung saya menekankan solidaritas itu dimulai dari gereja kota ? Jawabnya sederhana saja; bukankah gereja kota telah banyak mengecap karunia2 rohani dan jasmani yang begitu melimpah ruah? Mungkin gereja desa baru satu, dua kali bahkan mungkin belum pernah mendengar berita kedatangan Yesus yang pertama sedangkan gereja kota sudah ribuan kali mendengar kedatangan Yesus yang kedua kali. Adilkah ini ? Dan bukankah gereja kota memiliki lebih banyak akses dan kairos dalam pertumbuhan rohani, pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial, budaya, hukum, iptek, komunikasi dan informasi ? Tetapi bagaimanakah dengan gereja desa ? Sebagai contoh kecil saja, dari 70.000 desa di Indonesia hanya 3 % yang telah menerima akses telepon. Dari 3 % desa2 itu, ada berapa (desa yang ada orang Kristennya atau desa Kristen) yang sudah menikmati fasilitas telepon ? Belum lagi bila kita mau melihat bagaimana miskinnya desa2 kristen di bagian timur Indonesia.

    Dalam perjalanan pelayanan ke desa2 di mana ada jemaat Tuhan, hati ini terharu nian, sulit untuk mengungkapkan secara detail bagaimana pergumulan dan perjuangan saudara(i) seiman menghadapi ganasnya hidup di dunia ini. Tidak sedikit anak2 jemaat bahkan jemaat dewasa yang tidak bisa bersekolah, buta huruf, dan berpenyakit. Banyak di antara mereka yang telanjang tanpa pakaian, tidak punya makanan pokok, beras, jagung, umbi2an, mereka hanya pasrah kepada alam. Saya bertemu dengan satu keluarga dengan tiga orang anak yang masih kecil2 dan seorang bayi di salah satu suku di Sumatera, hidup mereka amat memprihatinkan. Kalau ada singkong, ya makan singkong, kalau ada babi hutan, ya hanya makan babi hutan sampai babi itu habis. Sewaktu saya di sana keluarga ini hanya makan pisang mentah yang dibakar. Saudara bisa bayangkan kalau bayi saudara harus makan pisang mentah bakar tokh dan keras , apakah hatimu tidak terenyuh ?

    Ini baru satu aspek saja, belum lagi dari segi kesehatan, pendidikan, perumahan , air bersih, lingkungan dan lain sebagainya. Dan ini terjadi di desa2 di seluruh tanah air, di Irian Jaya, N T T, Maluku, Kalimantan, Sulawesi, Jawa dan di 18.160 pulau dan ratusan suku di Indonesia.

    Kembali pada solidaritas kristiani, adakah hati nurani gereja kota bergetar terhadap luka parah yang melekat di sekujur tubuh gereja desa ? Adakah air mata gereja kota menetes ketika melihat air mata gereja desa tertumpah karena kemiskinannya sebagaimana Tuhan Yesus meneteskan air mata-Nya melihat kesusahan yang di alami Maria dan Martha yang kehilangan Lazarus, kakak mereka yang merupakan tulung punggung ekonomi keluarga ? (Yohanes 11 : 35). Dan Tuhan Yesus begitu sedihnya tatkala melihat orang2 yang sakit dan penuh kelemahan , mereka dilihat-nya sebagai orang yang lelah dan terlantar ibarat domba yang tak bergembala! (Matius 9:36).

    Hati seperti inilah yang HARUS gereja kota minta kepada Tuhan supaya jiwa solidaritas , altruis , dan empatik gereja kota terhadap saudaranya gereja desa semakin tajam

    Kedua, KITA ,YANG KUAT, WAJIB MENANGGUNG KELEMAHAN ORANG YANG TIDAK KUAT. Memang ayat ini menekankan pengertian orang kuat secara iman atau rohani, namun ayat ini tidak bermaksud melarang bila diinterpretasikan sebagai orang Kristen yang kuat dalam pengertian seutuhnya (rohani dan jasmani). Jika kita melihat kepada maksud Tuhan yang lebih luas sejak penciptaan-Nya, maka DIA memberikan sebuah mandat budaya kepada manusia dalam rangka mengelola bumi materi ini dalam koridor kemuliaan nama-Nya sendiri, bukan ? Bahkan ketika kita melihat gaya hidup pelayanan Tuhan Yesus selama ia bermukim di planet bumi ini, Ia pun melakukan pelayanan seutuhnya. Ia memproklamasikan Injil kerajaan Allah sekaligus memberi makan secara jasmani kepada yang lapar dan menyembuhkan orang yang sakit. Bahkan yang menarik untuk diteladani sekaligus menjadi pecut bagi para hamba Tuhan yang suka meng"kavling2kan" dan yang doyan meng"spesialisasi2"kan teritorial pelayanannya, yaitu pelayanan holistik yang dikembangkan Tuhan Yesus. Matius 9 : 35-38 menjabarkan dengan jelas tentang motivasi, strategi, dan model pelayanan Tuhan Yesus yang up to date , relevan, kontekstual untuk dikembangkan di tengah2 multi krisis masyarakat, bangsa , dan negara kita yaitu model pelayanan holistik dalam aspek ruang (kota - desa) dan aspek bentuk (rohani - jasmani).

    Tidak sedikit alumni sekolah2 teologia yang terperangkap dalam dikotomi pelayanan. Sebagai contoh; sering terdengar, jemaat suka memberi label kepada hamba Tuhannya; oh si dia itu spesialisasi khotbah, kalau besuk wah parah ! Dia itu raja mimbar lho ?! Oh si Anu spesialisasi besuk, kalau khotbah cocok sekali untuk jemaat yang insomnia ! Saya pernah mendengar seorang hamba Tuhan berkata : "Almamater saya khusus mencetak hamba Tuhan perkotaan karena itu yang berbau desa bukan ladang saya". Secara sadar atau tidak sadar hamba Tuhan yang mendapat cap2 itu turut mengamininya, ada yang merasa benar2 superior mimbar lalu melupakan sama sekali visitasi dan tugas2 lainnya dipandang rendah, sekaligus melecehkan rekan2 sekerjanya yang khotbahnya "memble". Dan ada pula yang menjadi inferior mimbar dan memperkuat visitasi dan seringkali dicampur tugas tambahan , gossip kiri-kanan sembari mobilisasi massa karena sakit hati dicap seperti itu. Mungkin ini salah satu faktor penyebab lahirnya serbaneka masalah di dalam gereja kota , tumpulnya pisau pelayanan dan mandulnya peran gereja di tengah2 konteksnya. Dan parahnya acapkali justru para majelis gereja menyuburkan diskriminasi di antara para hamba Tuhan. Kalau hamba Tuhan itu jago mimbar, maka ia dilayani baik2 dan honor khotbahnya melambung tinggi. Pernah terjadi di sebuah gereja di mana terjadi pertukaran mimbar pelayanan, pendeta dari kota kecil akan berkhotbah di gereja besar di kota yang besar pula. Apa yang terjadi ? Pendeta ini subuh hari sudah tiba di gereja bersangkutan namun tak satu pun majelis yang menjemputnya sehingga ia harus tertidur di depan gereja di mana sesaat lagi ia harus berkhotbah. Tapi coba lihat kalau pendeta yang jago mimbar akan berkhotbah, jauh2 hari acara penjemputan telah mantap dipersiapkan bahkan hotel pun disiapkan, jangan tanya soal makannya dan honornya. Lalu saya bertanya pada diri sendiri bagaimana dengan guru2 injil yang melayani di desa ? Adakah orang mau mempedulikannya ? Saya bertemu banyak guru2 injil di desa dan saya mengamati ternyata sebagian besar anak2 mereka putus sekolah dan menjadi penganggguran bahkan ada yang masuk penjara karena mencuri. Adakah gereja kota menangisi kondisi ini ?

    Saya juga pernah berdiskusi dengan seorang pendeta mengenai kondisi desa2 kristen yang telah dilanda proyek "reboisasi" , "penghijauan", saya katakan sekarang semakin banyak orang2 kristen perdesaan yang beralih agama karena urusan "kampung tengah", perut dan modal usaha. Pendeta ini dengan tenang dan senyum berkata pada saya : " nggak apa2 itu pak, justru itu baik karena ketahuan mereka bukan umat pilihan". Saya tersentak, astaga ! Acapkali kita suka menyederhanakan masalah, tentang siapa yang menjadi umat pilihan, itu bukan urusan kita, urusan kita adalah menjalankan mandat injil dan mandat budaya. Acapkali kita suka mencampuri urusan Tuhan tetapi melalaikan tanggung jawab kita dan ironisnya tugas kita , kita serahkan semuanya kepada Tuhan lalu kita ongkang2 kaki kayak bos saja. Ini namanya egois.

    Jadi jelas sekali, pesan firman Tuhan, bahwa orang yang kuat wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dalam seluruh aspek kehidupan. Gereja kota yang kuat aspek administrasi organisasi nya wajib membantu gereja desa yang kurang baik administrasi organisasinya. Gereja kota yang kuat aspek doktrin teologianya wajib membantu gereja desa yang lemah pengajarannya. Gereja kota yang berlimpah2 pelayan Tuhan yang berkualitas wajib mengutus para misionaris nasional ke gereja2 desa yang tidak punya pelayan Tuhan. Menurut data dan informasi yang kami terima, ada ratusan (mungkin ribuan) gereja perdesaan di Indonesia yang tidak memiliki pelayan Tuhan karena tidak sanggup memberi tunjangan hidup pada pelayan Tuhan. Tidak terbayangkah kita bahwa saudara(i) seiman kita di desa kering kerontang secara rohani ? Gereja kota yang memiliki buku2 rohani yang baik dan Alkitab serta kidung pujian yang berlimpah wajib mengirimkan kepada gereja desa yang sama sekali tidak punya semua itu. Gereja kota yang melimpah air bersih wajib membantu gereja desa membangun fasilitas air bersihnya. Gereja kota yang memiliki jemaat yang kaya raya secara finansial wajib meminjamkan modal usaha dengan bunga kecil bahkan sama sekali tanpa bunga bahkan memberikan secara cuma2 kepada gereja desa yang memiliki jemaat yang dicengkeram tengkulak. Untuk cari makan saja begitu susah. Gereja kota yang jemaatnya sehat2 tanpa penyakit wajib menolong gereja desa dengan jemaat yang penuh sakit penyakit melalui pengiriman obat2an dan secara teratur mengadakan pengobatan cuma2. Gereja kota yang berlimpah2 dengan pakaian wajib memberikan kepada gereja desa dengan jemaatnya yang tanpa pakaian. Gereja kota yang anak2 jemaatnya bersekolah dengan fasilitas pendidikan yang baik wajib menolong gereja desa yang anak2 para hamba Tuhan dan anak2 jemaatnya yang tidak mampu bersekolah bahkan yang putus sekolah. Menurut data, di Indonesia ada sejuta anak yang putus sekolah dasar setiap tahun dan ada 600.000 anak yang belum tertampung di sekolah dasar. Gereja kota yang kaya dengan kerlap-kerlipnya lampu wajib membantu generator pembangkit listrik untuk gereja desa. Gereja kota yang gedungnya berdiri kokoh dan megah wajib membantu gedung gereja desa yang telah lapuk dan hampir ambruk. Gereja kota yang selalu tersedia makanan hewani dan nabati wajib menyediakan benih2 dan alat2 pertanian kepada gereja desa yang jemaatnya membanting tulang memproduksi makanan untuk kehidupan orang di kota. Gereja kota yang sarat tenaga2 ahli di berbagai bidang wajib memberdayakan gereja desa agar mereka memiliki SDM yang handal, dalam jangka pendek sekali2 diberikan ikan dan dalam jangka menengah dan panjang berilah kail dan ajarlah mereka membuat kailnya sendiri. Dalam rangka otonomi daerah, sudah siapkah SDM gereja desa berkiprah , atau justru siap untuk dilindas ? Tanggung jawab siapa ini ?

    Masih banyak kewajiban2 gereja kota kepada gereja desa yang harus terus menjadi pergumulan di dalam perjalanan pelayanannya di bumi ini.

    Ketiga, DAN JANGANLAH TIAP2 ORANG HANYA MEMPERHATIKAN KEPENTINGANNYA SENDIRI, TETAPI KEPENTINGAN ORANG LAIN JUGA. SETIAP ORANG DI ANTARA KITA HARUS MENCARI KESENANGAN SESAMA KITA DEMI KEBAIKANNYA UNTUK MEMBANGUNNYA DAN SUPAYA TERJADI KESEIMBANGAN. Tidak akan pernah dijumpai filosofi hidup yang sedemikian baik dan indahnya di tempat lain, kecuali hal yang diajarkan firman Tuhan ini. Di sini kita menemukan filsafat hidup yang amat agung yaitu penghancuran sikap egocentrisme dan individualisme yang telah merasuki pikiran dan jiwa manusia sejak kejatuhan manusia pertama dan yang menghebat di era ini. Termasuk di negeri tercinta kita ini.

    Firman Tuhan ini mengajarkan bagaimana orang Kristen seharusnya menjalani hidup dan kehidupannya di dunia, dengan sebuah pola hidup bijaksana yaitu hidup bukan hanya untuk diri sendiri (egocentris) tapi juga demi orang lain (altruis) , seiman dan tak seiman (Galatia 6 :10). Dalam hal ini Paulus tak hanya mengajarkan firman yang ia dapat dari Yesus namun ia buktikan di setiap lapisan hidupnya dalam memelihara jemaat dengan makanan rohani dan jasmani , ia melayani secara holistik dan rela menderita demi keselamatan jiwa orang lain (II Korintus 11:7-33). Dan puncak karya teragung dan termulia dalam hal pengorbanan diri demi kesenangan, kebahagiaan dan demi harta termulia yaitu keselamatan kekal orang lain bahkan seantero bumi ini telah dilakukan oleh satu pribadi yang tak akan pernah lagi bisa dijumpai baik di dunia yang kasat mata maupun dunia yang tak nampak mata ini, DIAlah Tuhan Yesus Kristus. Yesus rela tubuh dan jiwa-Nya tercabik2 tanpa bentuk bahkan mati demi manusia hina dina berlumuran dosa demi mendapatkan pengampunan dan penyucian dosa untuk masuk ke dalam kerajaan Sorga yang maha mulia tak terlukiskan betapa indahnya.

    Yesus teladan hidup sebuah solidaritas sejati bagi umat manusia sejagad Yesus rela menjadi miskin demi memperkaya orang lain (II Korintus 8:9). Bahkan Yesus rela mati pada saat kita masih lemah, pada saat kita masih berdosa, pada saat kita masih seteru dengan DIA (Roma 5 : 6-9). Adakah manusia di bumi seperti Yesus ?

    Indonesia tidak akan memiliki potret wajah seperti saat ini yang penuh dengan carut marut dan kebobrokan di semua aras, apabila filosofi kristiani yang telah diajarkan dan dilakukan Yesus "mencari kesenangan, kebaikan, dan membangun serta keseimbangan bagi orang lain" menjadi gaya hidup dan budaya orang Indonesia khususnya para pejabat negeri ini. Namun sayang sejuta sayang hal ini tidak terjadi dan mungkin tidak akan pernah terjadi sampai Indonesia ini benar2 kolaps mengenaskan. Indonesia semakin parah sebab sifat korup dan ketamakan telah menjadi darah daging sebaliknya sifat untuk membuat orang lain senang, baik, bahagia, berhasil tidak dimiliki oleh sebagian besar para pejabat dan para pengusaha dan konglomerat tertentu. Sekali mereka menciptakan preseden buruk maka cepat atau lambat seluruh masyarakat yang rentan itu akan meniru gaya hidup mereka. Gaya hidup mereka adalah bagaimana mengumpulkan sebanyak2nya apa saja yang bisa dikumpulkan dengan cara korup pun tak masalah, orang lain ditindas pun bukan soal. Tanah2 petani dirampas paksa pun bukan sebuah dosa. Hutan dibabat demi kekayaan diri sendiri, bukan masalah.

    Hal2 ini semakin memperlebar gap antara si kaya dan si miskin. Dengan kata lain hubungan itu telah kehilangan keseimbangannya. Jika keseimbangan sosial itu hilang maka cepat atau lambat tindakan anarkis , tindakan amoral, dan tindakan setan dari si tertindas, si miskin, si tercecer pasti muncul sebagai reaksi mencari keseimbangan baru itu. Namun jangan salah sangka upaya ke arah keseimbangan baru itu tidak serta merta terjadi, ia butuh waktu bukan saja satu dua bulan, tetapi bisa terjadi puluhan tahun bahkan pergantian beberapa generasi bangsa ini. Pergerakan ke arah titik keseimbangan baru itu membutuhkan waktu ratusan tahun dan pengurasan energi besar2an yang amat melelahkan. Ini yang mengerikan.

    Indonesia niscaya hancur berkeping2 dalam tempo yang tidak terlalu lama bila filosofi Kristus di atas terus menerus sengaja dilawan dan dicampakkan dalam arena bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kita tunggu saja apakah 10 atau 20 tahun ke depan kita masih bisa bernyanyi "Dari sabang sampai merauke berjajar pulau2, sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia."

    Bagaimana dengan gereja di kota ? Tidak tertutup kemungkinan ia pun telah melakukan kebobrokan yang sama. Saya pernah mendengar seorang majelis gereja berkata bahwa uang gereja tak boleh dikorupsi, kalau uang pemerintah tak masalah. Dan masih banyak kebobrokan gereja dan orang2 kristen yang bisa kita inventarisir lebih jauh lagi, mulai dari pencurian uang kolekte, peminjaman uang kas gereja untuk bisnis , pembalikkan nama sertifikat gereja kepada nama gembala sidang, penjualan aset2 gereja demi segelintir elite sinode, pembungaan uang kas gereja di Bank2 besar tanpa memakainya untuk pelayanan sampai pada korupsi dana bantuan gereja2 luar negeri dan lain-lainnya. Kita tahu semua itu !

    Tuhan Yesus berkata ; "Sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka" (Lukas 6 :31). Adalah sikap abnormal bila kita menghendaki yang buruk terjadi pada kita. Orang normal pasti menghendaki sesuatu yang baik terjadi pada dirinya, demikianlah gereja kota yang menghendaki kebaikan bahkan yang sudah menerimanya seharusnya berjuang agar gereja desa dapat merasakan "cicipan sorgawi" itu.

    Seorang gembala sidang senior berkata kepada saya : "Gereja kami dapat membantu gereja desa asalkan ada hasilnya" dan ada juga gembala sidang pernah berkomentar : "Di gereja saya saja masalah begitu banyak untuk apa susah2 urus urusan gereja lain, memangnya gue pikirin ?" Sampai kapan masalah di dalam gereja bisa selesai ? Sampai Tuhan Yesus datang, masalah tidak akan selesai. Yang perlu dikoreksi adalah masalah apa yang terjadi di gereja kita ? Apa penyebabnya ? Apakah yang terjadi adalah masalah sikut menyikut, iri hati, dendam, di antara sesama hamba Tuhan , apakah masalah tunjangan hidup dan berbagai fasilitas para hamba Tuhan yang dipersoalkan? Kalau hal2 itu yang terjadi, maka itu berarti kita yang bikin masalah lalu kambing hitamnya tidak perlu memikirkan gereja2 desa.

    Gereja kota jangan terlalu sibuk demi kepentingan dan kesenangannya sendiri. Dan gereja kota jangan lupa mempersempit bahkan menghilangkan gap yang lebar supaya ada keseimbangan di antara gereja kota dan gereja desa. Ini bukan alternatif tapi keharusan dari Tuhan. Gereja kota perlu membuka kuping selebar2nya bagi jeritan gereja desa dan ia harus proaktif membuang diri ke gereja desa, buka mata, lihatlah dan lakukanlah yang bisa dilakukan.

    Maksud persembahan ataupun bantuan gereja kota kepada gereja desa bukan untuk merugikan atau membebani pihak gereja kota dengan menguntungkan gereja desa, tetapi supaya terjadi keseimbangan di antara mereka. Gereja kota harus belajar dari pengalaman bangsa Israel sewaktu ke luar dari Mesir (Keluaran 16 : 1-36). Allah menyediakan segala sesuatu dengan persis sesuai dengan kebutuhan kita masing2. Kalau Tuhan berkenan memberi kelebihan kepada kita, maka sebetulnya Tuhan mau supaya kita membagi hal itu kepada orang lain yang berkekurangan. Jikalau kita menyimpan kelebihan2 itu untuk diri sendiri maka itu tak akan berguna sama sekali. Mahatma Gandhi berkata bahwa jikalau kita menyimpan barang2 yang tidak kita butuhkan maka itu sama dengan kita mencuri milik orang lain. Seorang Mahatma bisa memiliki pandangan yang indah seperti itu, bagaimanakah dengan kita anak2 Tuhan ? Keluaran 16 : 19 menunjukkan kepada kita bahwa janganlah kita terlalu egois menyimpan kekayaan kita untuk masa depan diri dan keluarga kita sendiri , itu hanya membuat harta yang kita simpan akan menjadi busuk tanpa makna apa2. Musa berkata kepada mereka : "Seorang pun tidak boleh meninggalkan dari padanya (manna) sampai pagi. Tetapi ada yang tidak mendengarkan Musa dan meninggalkan daripadanya sampai pagi, lalu berulat dan berbau busuk. Maka Musa menjadi marah kepada mereka".

    Tentu kita tidak inginkan ini terjadi pada perbendaharaan2 kita, bukan ? Kita berpacu dengan kronos untuk meraih kairos, sesal kemudian tiada berguna, itu kata pepatah bijak. Firman Tuhan pun mengingatkan : "Kita harus mengerjakan pekerjaan DIA yang mengutus Aku, selama masih siang ; akan datang malam, di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja" (Yohanes 9:4). Maukah kita menjadi orang yang selalu dan selalu terlambat ?

    Penutup Kini yang menjadi soal dalam solidaritas kristiani gereja kota terhadap gereja desa yang multi krisis saat ini, bukanlah soal kemampuan daya dan dana dan bukan pula bagaimana mengatur implementasi manajemen lapangannya tetapi yang menjadi soal utama adalah adakah gereja kota memiliki kemauan yang keras dan punya rasa memiliki (sense of belonging) dan punya rasa krisis (sense of crisis) yang tinggi yang sedang terjadi di gereja desa atau tidak. Juga apakah gereja kota punya sensitifitas rasa sebagai satu tubuh Kristus dan satu anggota kerajaan Allah atau tidak sama sekali terhadap gereja desa.

    Jikalau semua itu tidak pernah ada maka jangan bermimpi mandat budaya dan mandat Injil akan menjadi kenyataan di dalam hidup anak2-NYA dan jangan pernah bermimpi akan ada kemajuan kekristenan di Indonesia dan pula jangan berkhayal kekristenan Indonesia dapat menjadi saluran berkat bagi bangsa ini. Malah kita akan menjadi warga asing di negeri sendiri , menjadi sasaran tembak yang empuk dan akan menjadi serupa anjing kurap yang dikejar2 dan ditendang ke sana ke mari.

    Mari kita minta hati yang memiliki rasa-rasa itu kepada Kristus, karena DIAlah satu2nya pribadi yang punya hati yang berbelarasa dan berbelas kasihan, amin !

    Nubuatan C.S Lewis

    Penulis : Chuck Colson

    C. S. Lewis dilahirkan pada tanggal ini di tahun 1898, dan empat puluh satu tahun setelah kematiannya, ada satu hal yang tampak mulai jelas: Lulusan Oxford ini tidak hanya menjadi pendukung fanatik, tetapi juga menjadi penubuat sejati dari jaman postmodern kita.

    Contohnya, buku Lewis yang ke-1947 berjudul "Mujizat", ditulis sebelum sebagian besar orang Kristen menyadari bersatunya paham naturalisme. Ini adalah kepercayaan yang menyatakan bahwa ada penjelasan alami untuk segala sesuatunya dalam alam semesta.

    Naturalisme memotong segala moralitas objektif, membuka celah untuk tirani. Dalam bukunya "Punahnya Manusia", Lewis memperingatkan bahwa naturalisme mengubah manusia menjadi objek yang harus dikendalikan. Itu juga mengubah "nilai" menjadi "fenomena alami" yang dapat dipilih dan dikelompokkan dalam golongan pasif oleh penguasa. Lewis menubuatkan sebuah jaman ketika mereka yang ingin membentuk ulang manusia alami "akan diperlengkapi dengan kekuatan maha kuasa dan teknik ilmu pengetahuan yang tidak ada bandingnya." Mirip seperti debat bioteknologi jaman ini, bukan?

    Mengapa Lewis bernubuat? Pada pandangan pertama beliau tampaknya tidak seperti calon yang cocok. Beliau bukanlah seorang ahli teologi; beliau professor Bahasa Inggris. Apakah yang membuatnya menjadi pengamat budaya dan tren intelektual?

    Jawabannya mungkin memalukan penginjilan modern: Salah satu alasan yang membuat Lewis tidak menjadi seorang penginjil. Beliau adalah seorang professor di akademi, dengan keahlian di bidang literatur, yang membingkai mentalitasnya dengan sejarah intelektual dan pemikiran Kristen. Hasilnya, beliau berusaha bebas dari batasan sempit pandangan religius saat itu, yang artinya beliau berhasil menganalisa dan mengkritiknya.

    Lewis pernah menuliskan bahwa setiap buku baru "perlu diuji terhadap pemikiran tubuh Kristus secara turun-temurun." Karena beliau sendiri melangkah masuk dalam pemikiran tubuh Kristus, beliau dengan segera peka terhadap tren yang melawan pemikiran ini.

    Tetapi berapa banyak di antara kita yang mengenal pandangan pemikiran Kristen yang sama secara turun temurun? Berapa banyak di antara kita yang mengetahui karya dari beberapa penulis kontemporer? Lalu bagaimana kita dapat bertahan menghadapi tren intelektual yang berkembang pesat di jaman kita?

    Masalahnya bukanlah penginjilan modern kurang berkualitas daripada Lewis. Seperti yang dijelaskan oleh Mark Noll dalam bukunya "Skandal Pemikiran Injil", permasalahannya adalah sisi intelek kita yang paling tajam telah dihubungkan dengan beasiswa sekolah alkitab, eksegesis dan hermenetik. Sementara itu semua adalah permasalahan vital, kita jarang memperhatikan sejarah, literature, politik, filosofi, ekonomi atau seni. Hasilnya, kita menjadi tidak mewaspadai budaya sebagaimana mestinya, kurang dipersenjatai untuk mempertahankan prinsip alkitabiah, dan kurang mampu menjadi kekuatan peredam untuk kesadaran antisocial postmodern dan terhadap ancaman yang menghalangi kita meraih tingkat terbaik dalam budaya.

    Kita perlu mengikuti teladan Lewis. Kita harus membebaskan diri kita dari belenggu sudut pandangan kita yang sempit dan menyatukan diri kita dalam pola pikir Kristen yang sudah ada secara turun menurun. Hanya saat itulah kita dapat mengkritik budaya kita dan membuat tren.

    Cara terbaik untuk merayakan ulang tahun Lewis adalah berdiri teguh di posisi kita, seperti kata-katanya, dengan roh yang sudah diperbaharui dan dengan pikiran baru yang kritis.

    Pengorbanan yang Tersembunyi

    Oleh: Gideon

    Syalom. Puji Tuhan!! Saya akan menyaksikan keberadaan hidup saya bersama dengan Tuhan Yesus Kristus. Ketika saya datang ke Bali, saya bingung apa yang harus saya kerjakan. Sementara saya juga berapi-api untuk menjadi Misionaris di Bali. Ketika tiba di sana, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Kemudian saya bekerja di sebuah radio swasta, tapi hanya mampu 1 bulan karena memang saya tidak ada niat untuk bekerja.

    Saya mendapat peneguhan dari panggilan Tuhan untuk terus giat memberitakan Injil. Akhirnya saya berkeputusan untuk mengajar anak-anak yang kurang mampu (miskin) di desa-desa tanpa pungutan biaya dan sampai hari ini biaya operasional dari kantong sendiri sementara penghasilan tidak ada dan tidak ada support dari pihak mana pun untuk pergi melayani di desa-desa. Saya masih berpikir, karena untuk membeli bensin saja tidak ada uang. Sementara saya juga baru menikah dengan istri saya, Dewi. Tapi Puji Tuhan, hingga saat ini kami hidup dengan iman. Sebelumnya juga saya pinjam motor untuk melayani di desa. Pernah suatu saat tiba-tiba ban sepeda motor saya pecah, dan waktu itu saya tidak membawa uang sama sekali. Akhirnya saya menitipkan SIM saya. Baru beberapa hari kemudian saya bisa menebus SIM itu.

    Sampai hari ini kami bisa hidup dari pelayanan kami di desa. Ketika kami pulang dari sana untuk kembali ke Denpasar, kami selalu membawa buah-buahan maupun sayur. Puji Tuhan saat ini kami juga tetap melayani anak-anak di sana. Kami bercerita tentang nilai-nilai kebenaran Tuhan Yesus dan sebagian dari orang tua mereka mau didoakan dan terima Tuhan Yesus. Saat ini saya sedang membuka kursus anak-anak di tempat yang baru.

    Terima kasih untuk saudara yang mau membaca kesaksian pelayanan saya dan doakan agar pelayanan di desa ini makin berkembang dan orang tua mereka mau mendegar Kabar Baik. Juga doakan biaya kebutuhan operasional saat ini yang menjadi pergumulan kami ke depan.

    Tuhan Yesus Memberkati.

    Resiko Seorang Hamba Tuhan

    Oleh: A.W.Tozer

    Beberapa pekerjaan seperti penambang, penyelam atau prajurit perang merupakan pekerjaan yang beresiko tinggi. Semua orang tahu bahwa orang yang mempunyai pekerjaan seperti ini sedang meresikokan nyawa mereka.

    Dibandingkan dengan pekerjaan yang di atas, pekerjaan melayani Tuhan kelihatannya sama sekali tidak mengundang resiko. Seorang aktuaris atau penaksir yang bekerja untuk syarikat asuransi akan menempatkan pekerjaan hamba Tuhan sebagai pekerjaan yang paling rendah tingkat bahayanya.

    Namun pelayanan adalah pekerjaan yang paling berbahaya. Si Iblis sangat membenci pelayan yang dipenuhi Roh. Kebenciannya terhadap seorang hamba Tuhan tidak kalah dari kebenciannya terhadap Kristus sendiri. Sumber kebencian itu tidak sulit ditemukan. Seorang pelayan yang efektif, yang menyerupai Kristus adalah hal yang memalukan si Iblis, satu ancaman kepada kekuasaannya, satu tangkisan kuat bagi argumentasinya dan satu peringatan yang terus menerus akan kejatuhannya yang akan datang. Tidak heranlah ia sangat membenci mereka.

    Iblis tahu bahwa kejatuhan seorang nabi Allah adalah kemenangan strategis bagi dia, jadi ia sama sekali tidak akan berhenti dari merencanakan jerat dan perangkap bagi para pelayan Tuhan. Iblis tidak terlalu berminat untuk langsung membunuh pelayan Tuhan, ia lebih memilih untuk menembakkan anak panah beracun yang hanya melumpuhkan sasarannya. Seorang pelayan yang tidak efektif dan loyo adalah iklan yang lebih baik bagi neraka ketimbang seorang baik yang telah mati. Jadi, bahaya seorang hamba Tuhan lebih bersifat rohani ketimbang jasmani, walaupun ada kalanya si musuh bekerja melalui kelemahan jasmaniah untuk menghancurkan jiwanya.

    Memang terdapat beberapa bahaya besar yang harus diwaspadai oleh para hamba Tuhan, yaitu bahaya cinta pada uang dan perempuan; tetapi bahaya yang paling mematikan jauh lebih halus dari kedua hal ini. Jadi marilah kita memusatkan perhatian pada hal-hal itu.

    Salah satu bahaya adalah seorang hamba Tuhan memikirkan dirinya sebagai anggota suatu kelas masyarakat yang memiliki hak-hak istimewa. Masyarakat "Kristen" condong meningkatkan bahaya ini dengan memberikan diskon dan perlakuan khusus kepada para hamba Tuhan. Gereja turut mempeparah situasi dengan memberikan berbagai macam sebutan kehormatan kepada para hamba Tuhan.

    Sebagai orang yang menyandang nama Kristus sangatlah tidak pantas bagi seorang pelayan Kristus untuk secara tidak sadar menjadi anggota suatu kelas masyarakat yang diperlakukan dengan istimewa. Kristus datang untuk memberi, melayani, memberikan nyawa-Nya, dan Ia berkata kepada para murid-Nya, "Sebagaimana Bapa telah mengutus aku, aku mengutus engkau." Seorang hamba Tuhan adalah pelayan Tuhan dan pelayan umat-Nya. Ia berada dalam bahaya moral yang besar saat ia melupakan hal ini.

    Satu lagi bahaya adalah saat melakukan pelayanan ia melakukannya dengan sikap acuh tidak acuh. Kebiasaan bisa saja membuat seseorang melakukan pelayanannya dengan tidak bersungguh-sungguh, sekalipun ia sedang melayani di altar Tuhan. Betapa mengerikan bagi seorang hamba Tuhan jika ia menjadi terbiasa dengan tugasnya, dan kehilangan rasa takjubnya. Saat ia terbiasa dengan hal-hal yang luar biasa, saat ia kehilangan rasa takut dan hormat waktu berada di hadirat Yang Maha Kudus. Dengan kata lain, sangatlah mengerikan saat ia menjadi sedikit bosan dengan Allah dan hal-hal surgawi.

    Jika ada yang meragukan bahwa hal ini bisa saja terjadi, biarlah ia membaca di Perjanjian Lama dan melihat bagaimana imam-imam Yahweh ada kalanya kehilangan rasa takjub akan misteri ilahi dan menjadi najis bahkan di saat mereka sedang menjalankan tugas-tugas kudusnya. Dan sejarah gereja menyingkapkan bagi kita bahwa kecenderungan untuk melakukan pelayanan dengan sikap yang acuh tidak acuh tidak hanya terjadi di Perjanjian Lama. Imam-imam dan pendeta-pendeta sekuler yang bekerja di rumah Allah demi "roti" masih dapat ditemukan di antara kita. Iblis akan terus memastikan bahwa orang-orang seperti ini akan terus ada karena mereka akan mendatangkan lebih banyak kerusakan ketimbang satu pasukan besar kaum ateis.

    Terdapat juga bahaya di mana seorang hamba Tuhan secara tanpa sadar mengasingkan diri dari orang umum. Hal ini timbul akibat terbentuknya institusi Kekristenan. Hamba Tuhan secara eksklusif hanya bertemu dengan orang-orang religius. Orang-orang yang di saat bersama hamba Tuhan selalunya menampilkan sisi terbaik mereka. Di hadapan hamba Tuhan mereka menampilkan diri sebagai orang yang saleh dan bukan siapa mereka sebenarnya. Ini menciptakan satu dunia yang tidak riil di mana setiap orang di dalam dunia ini tidak menunjukkan siapa diri mereka yang sebenarnya, akan tetapi para pelayan Tuhan sudah begitu lama hidup di dunia palsu ini sehingga mereka tidak lagi tahu bagaimana membedakannya.

    Akibat dari hidup di dunia yang palsu ini sangat mematikan. Tidak ada lagi percakapan yang spontan dan terbuka, yang ada hanyalah "konsultasi", "rapat" atau "konferensi"; yang ada hanyalah "kasus" atau orang yang "bermasalah" yang harus ditangani. Relasi sederhana yang spontan dan rill hilang saat gereja diubah menjadi satu klinik religius. Roh Kudus tidak dapat bekerja di dalam lingkungan seperti itu, dan ini akan membawa kepada pengakhiran yang sangat berbahaya, karena tanpa Roh Kudus pekerjaan itu hanyalah bersifat kayu, jerami dan rumput.

    Selalu eksis bahaya di mana hamba Tuhan tidak lagi mempunyai simpati dan sikapnya menjadi abstrak dan akademis, ia mengasihi umat manusia tanpa mengasihi manusia. Kristus adalah kebalikan dari ini. Ia mengasihi bayi, pemungut cukai, pelacur dan orang sakit, Ia mengasihi mereka secara spontan dan secara pribadi. Kita yang mengakui sebagai pengikut-Nya harus melakukan hal yang sama.

    Satu lagi resiko yang dihadapi para pelayan Tuhan adalah ia secara tidak sadar mengasihi ide-ide religius dan filsafat dan bukan orang-orang kudus dan pendosa-pendosa. Adalah sangat mungkin bagi seorang hamba Tuhan untuk memiliki perasaan bagi manusia yang terhilang sama seperti dengan perasaan yang dimiliki oleh seorang penyelidik alam terhadap serangga maupun hewan lain yang sedang dipelajarinya. Obyek-obyek itu adalah sesuatu untuk dipelajari, mungkin juga dibantu, tetapi bukan untuk ditangisi maupun sesuatu yang akan membuat kita menyerahkan nyawa kita.

    Saat hal ini terjadi maka khotbah yang disampaikan juga sulit dipahami dan lebih bersifat menonjolkan pengetahuan. Pengkhotbah itu akan berasumsi bahwa para pendengarnya sama seperti dia, sudah begitu akrab dengan sejarah, filsafat dan teologi. Ia akan berbicara mengenai buku-buku maupun penulis-penulis yang sama sekali tidak dikenal oleh para Jemaat. Dan saat Jemaat memperlihatkan wajah yang bingung ia mengira itu adalah wajah kekaguman mereka akan kecemerlangan pemikirannya.

    Saya tidak mengerti mengapa orang-orang religius terus menerima, mendukung dan membayar orang-orang seperti ini. Hal ini hanya dapat saya masukkan ke dalam daftar panjang hal-hal yang tidak akan pernah saya pahami.

    Satu lagi jerat yang bahaya bagi para hamba Tuhan adalah ia dengan begitu santai menjalani kehidupannya. Saya tahu dengan menyatakan hal ini tidak akan membuat saya populer tetapi saya harap dengan menuliskannya, setidaknya dapat mempengaruhi mereka ke arah yang benar. Sangatlah mudah bagi seorang hamba Tuhan untuk menjadi seorang pemalas yang berwibawa, seorang parasit sosial dengan tanga terbuka dan wajah yang mengharapkan sesuatu. Bosnya tidak kelihatan, ia seringkali tidak perlu masuk kantor dan pulang pada jam tertentu, jadi ia dapat menjalani satu pola hidup yang nyaman yang memberinya banyak waktu untuk bermalas-malasan, bersenang-senang, tidur-tiduran dan menikmati hidupnya.

    Untuk menghindari hal ini, seorang hamba Tuhan harus secara sukarela memastikan ia bekerja keras sama seperti seorang petani, seorang mahasiswa atau seorang ilmuwan. Tidak ada hamba Tuhan yang mempunyai hak untuk hidup lebih santai dari pekerja-pekerja yang mendukung pelayanannya.

    Sekali lagi, kegunaan seorang hamba Tuhan dapat dengan serius dihambat oleh dua dosa yang sifatnya saling berlawanan - terlalu fleksibel atau terlalu kaku. Di antara dua batu karang yang besar ini terdapat satu terusan yang dalam dan jernih, dan berbahagialah orang yang menemukannya.

    Para murid kembali kepada Yesus dengan semangat yang berapi-api dan berkata, "Bahkan roh-roh jahat tunduk kepada kami demi nama-Mu," dan Dia dengan cepat memperingatkan mereka tentang makhluk yang telah mengijinkan keberhasilan untuk membuatnya sombong, "Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit." "Tapi bersukacitalah bukan karena roh-roh tunduk kepada kamu; tetapi bersukacitalah karena nama kamu tertulis di surga."

    Bahaya yang satu lagi tidak perlu dibicarakan secara panjang lebar. Setiap pelayan Tuhan tahu betapa sulitnya untuk tetap rohani saat pekerjaannya sepertinya tidak berhasil. Namun ia disyaratkan untuk bersukacita di dalam Tuhan apakah ia menilai sudah gagal atau meraih keberhasilan yang besar pada tahun itu.

    Bukanlah tujuan saya untuk menuduh atau menyepelekan siapapun tetapi hanya menunjukkan bahaya-bahaya yang ada. Semua dari kita merupakan obyek kebencian si Iblis, dan kita hanya akan selamat jika kita rela merendahkan diri dan menerima bantuan dari sesama, bahkan dari seorang yang lemah dan yang setiap hari berdiri di tengah ancaman bahaya yang besar seperti penulis ini.

    Saksi Hidup untuk Bersaksi

    Oleh : Hwian Christianto

    Bagi sebagian besar orang Kristen istilah saksi dan bersaksi tentu saja bukan merupakan hal yang baru lagi. Saksi merupakan identitas kita sebagai orang yang sudah ditebus oleh Kristus. Identitas ini membawa kita kepada satu panggilan untuk memberitakan Kristus di dalam hidup kita. Namun, semudah itukah kita menjadi saksi Kristus? Apakah hanya dengan mengaku percaya, seseorang dapat secara otomatis beridentitaskan saksi Kristus? Bersaksi merupakan satu tugas untuk memberitakan sesuatu yang telah dialami. Jika kita saksi Kristus berarti kita harus menyaksikan Kristus dalam hidup kita, tapi apa dan bagaimana syaratnya? Mengapa selama ini banyak orang Kristen belum bersaksi secara efektif?

    Orang Kristen adalah saksi hidup

    Di pengadilan ada 3 syarat wajib untuk seseorang dapat diakui sebagai saksi : dia harus melihat sendiri peristiwa itu, dia harus mendengar sendiri peristiwa itu, dan dia harus mengalami peristiwa itu. Nah, kredibilitas seorang kristen juga diukur dari ketiga syarat itu, yaitu : melihat, mendengar, dan mengalami Injil Kristus.

    1. Aku harus melihat sendiri peristiwa (Injil) itu.

    Memang kita tidak mungkin bisa melihat kejadian 2008 tahun lalu secara fisik, saat Tuhan Yesus berinkarnasi, melayani, menderita, disalibkan, dan bangkit dari kematian. Lalu bagaimana kita dapat "melihat" Injil itu? Melalui Firman Allah, kita bisa dengan iman melihat Injil Tuhan, ikut merasakan pergumulan Yesus pada saat itu, dan saat-saat Kristus mati di atas kayu salib. Dasar inilah yang mengesahkan kita menjadi saksi-Nya dari syarat (1) melihat Injil itu. Sama seperti Maria dan murid-murid Tuhan telah mensaksikan kebangkitan Tuhan secara pribadi lepas pribadi (Yoh 20:18;25).

    2. Aku harus mendengar sendiri Injil itu

    Prinsip dasar iman Kristen mengakui bahwa berita Injil mewartakan Allah yang berinisiatif mencari manusia yang berdosa melalui Kristus saja. Ini berarti iman seseorang tidaklah tergantung dari hubungan keluarga, persaudaraan, atau iman kelompok tetapi merupakan pertanggungjawaban iman tiap pribadi (swarga nunut, neraka katut). Allah menuntut pertanggungjawaban iman kita secara pribadi. Iman ini berasal dari mendengar Firman Allah yaitu Injil itu sendiri. Mendengarkan Firman secara kontinyu dan memahaminya adalah wujud ketertundukan kita di hadapan Allah untuk diajar. Banyak orang yang merasa sudah tahu, menjadi sombong dan berkata tidak perlu lagi mendengar khotbah. Dalam hal ini perlu adanya sikap mendengar dengan hati yang terbuka dan rendah hati untuk diajar dan belajar Injil itu sendiri sehingga kita bisa menjadi saksi.

    3. Aku harus mengalami Injil itu

    Satu bagian ini begitu penting karena inilah wujud respons dan tanggung jawab kita setelah menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi. Inilah yang disebut sebagai mengalami Injil secara pribadi. Kita harus menempatkan Yesus sebagai Tuhan atas hidup kita dan menjalankan apa yang Yesus mau. Jika kita selama ini hanya mendengar Injil tetapi belum taat kepada Tuan kita, maka kita tidak layak jadi saksiNya. Itulah jawaban mengapa saat ini banyak orang Kristen malas bersaksi, mungkin mereka belum benar-benar menyerahkan hidup kepada Kristus.

    Hidup untuk bersaksi

    Setelah kita menerima Kristus apakah ada yang berbeda dari hidup kita? Ya, bahkan berubah 180 derajat. Paulus berkata hidup yang dahulu adalah sampah tetapi satu yang dia ketahui sekarang adalah Kristus. Setelah manusia diperdamaikan dengan Allah dan menjadi umat pilihanNya, inilah identitas kita: Saksi Hidup Yang Bersaksi Bagi Injil Allah! Segala orientasi hidup kita harus menyenangkan Allah bukan menyenangkan diri kita. Sebagai hamba Allah kita harus mewartakan Injil dimana dan apapun posisi kita. Keindahan berita sukacita ini harus tampak dalam kehidupan sehari-hari lewat cara berbicara yang penuh kehangatan, sikap yang penuh sopan, penghargaan pada orang lain, dan sikap kasih kepada semua orang. Pengabaran Injil sangatlah perlu didukung dengan sikap dan perilaku yang mencerminkan itu sendiri. Jika Yesus sudah menebus kita, masihkah kita menahan diri untuk bersaksi bagi namaNya? Saudaraku kita adalah saksi Kristus yang menghidupi anugerahNya dan hidup untuk membawa jiwa yang terhilang kepada Kristus lewat kehidupan kita (Mat 28:19-20). Soli deo glori

    Saksi Jehova

    Aliran ini berpusat di Bethel,Brooklyn-Newyork dengan tenaga full time sekitar 2000 personil melalui jaringan Watch Tower Bible and Tract Society. Mereka sangat giat menyebarkan ajarannya keseluruh dunia.Organisasi ini mempunyai 4,7 juta anggota aktif,tersebar di 231 negara termasuk Indonesia.

    Yang terbanyak pengikutnya bermukim di AS,negeri asalnya yakni hampir satu juta. Jadi masih relevan dan penting membicarakan aliran ini,tanpa buru-buru membubuhkan cap ajaran sesat atasnya.Siapa tahu ada juga berguna yang bisa dipelajari dari aliran ini. Kemunculan aliran ini sedikit banyaknya bermula dari aliran Adventis,sekalipun kalangan Adventis menolak ajaran Saksi Jehowa. Sejarah aliran ini berkait erat dengan kiprah para tokoh sentralnya yang kemudian menjadi president organisasi Watch Tower seperti C.T Russel.

    Menurut tokohnya Russel Kedatangan Kristus dan awal millenium baru terjadi pada thn 1914,setelah masa panen selama 40 tahun(1874-1914).Berdasarkan Wahyu 7:4-9) pandangan Russel selanjutnya bhw diantara masa panen dan kedatangan Kristus itu akan terjadi perang Armagedon yang akan dipanen atau orang yang selamat melintasi perang itu dan memasuki kerajaan 1000 tahun itu hanya 144.000 orang.

    Selanjutnya dikembangkan ajaran yang menyatakan tidak adanya neraka sebagai tempat penghukuman kekal bagi orang2 jahat,sebab setiap orang jahat segera ditiadakan pada saat ia mati.Lalu ajaran yg berhubungan dengan penebusan.Adam mengalami kematian sebagai hukuman yang adil atasnya,tetapi keturunannya mengalaminya sebagai warisan.Tindakan pengorbanan dari Yesus meniadakan hukuman maut.Karena Adam,kita semua lahir tanpa hak untuk hidup.Karena Yesus,semua dosa yang kita warisi dibatalkan.Jadi semua orang dijamin memperoleh peluang kedua,sekaligus diuji apakah ia memilih Allah atau menjadi pemberontak yang memang layak mati.Peluang kedua ini akan ditawarkan pada millenium yang dimulai ketika Kristus kembali dalam wujud yang nyata,memerintah dibumi bersama orang2 kudusnya selama seribu tahun.

    Disamping ketiga pokok pandangan(yang kemudian menjadi ajaran lembaga Menara Pengawal atau persekutuan Saksi Jehova) masih ada beberapa pokok ajaran yg dikemukakan seperti penolakan terhadap pokok-pokok ajaran gereja baku/resmi,misalnya ajarannya untuk menolak Trinitas(ke-Tritunggal-an Allah),kekekalan jiwa,kebangkitan Kristus secara jasmani dan kepribadian tersendiri dari Roh Kudus.Inilah ciri ajaran Saksi Jehova.

    Sampai sekarangpun Saksi Jehova selalu berkata bahwa organisasi mereka bukan gereja,mereka juga bukan anggota gereja tertentu,melainkan anggota sebuah lembaga atau Persekutuan Alkitab.

    Mengenai sikap Saksi-saksi Jehova :


    Catatan dan peringatan teolog emeritus ini,demikian juga berbagai catatan lain yang memperlihatkan kekuatan dan daya tarik aliran ini, masih layak diperoleh gereja-gereja di Indonesia pada penghujung abad ke -20 ini,ketimbang secara gampangan menuding aliran ini sebagai penyebar ajaran sesat.

    Disini saya foward sekilas riwayat tokoh-tokoh Saksi Jehova yang berpengaruh hingga sekarang sbb:


    Tanggal 6 April 1917 AS secara resmi melibatkan diri dalam perang dunia I.Rutherford bersama tujuh pemimpin Menara Pengawal lainnya menentang keterlibatan itu dan menolak ikut wajib militer.Mereka juga menolak memberi hormat pada bendera,karena hal itu dianggap kekafiran dan kekejian thd Tuhan.(Sampai sekarang hal itu merupakan salahsatu ajaran mereka).Mereka berdelapan disalahkan dan dituduh sebagai mata-mata Jerman. Pada tahun 1920 Rutherford menerbitkan tulisannya,"Million Now Living Never Die.dalam tulisannya ia menyatakan bhw perang Armagedon akan terjadi thn 1925,dan mereka yg setia kepada Jehova dan termasuk pada bilangan 144.000 orang tidak akan mati dan langsung ikut bersama Kristus memerintah dalam kerajaan seribu tahun.Tulisan dan pernyataan ini sempat menarik minat banyak orang,dan dalam waktu singkat pengikutnya bertambah 44%

    Bagi pengikutnya mengartikan bahwa nama Babylon adalah nama julukan untuk Gereja Roma Katolik dan Protestan.

    Sebuah Kisah Dari Afrika

    Pada tahun 1921, dua pasang suami istri dari Stockholm (Swedia), menjawab panggilan Allah untuk melayani misi penginjilan diAfrika. Kedua pasang suami istri ini menyerahkan hidupnya untuk mengabarkan Injil dalam suatu kebaktian pengutusan Injil. Mereka terbeban untuk melayani negara Belgian Kongo, yang sekarang bernama Zaire. Mereka adalah David dan Svea Flood, serta Joel dan Bertha Erickson.

    Setelah tiba di Zaire, mereka melapor ke kantor Misi setempat. Lalu dengan menggunakan parang, mereka membuka jalan melalui hutan pedalaman yang dipenuhi nyamuk malaria. David dan Svea membawa anaknya David Jr. yang masih berumur 2 tahun. Dalam perjalanan, David Jr. terkena penyakit malaria.

    Namun mereka pantang menyerah dan rela mati untuk Pekerjaan Injil. Tiba di tengah hutan, mereka menemukan sebuah desa di pedalaman. Namun penduduk desa ini tidak mengijinkan mereka memasuki desanya. "Tak boleh ada orang kulit putih yang boleh masuk ke desa. Dewa-dewa kami akan marah,"demikian kata penduduk desa itu.

    Karena tidak menemukan desa lain, mereka akhirnya terpaksa tinggal di hutan dekat desa tersebut. Setelah beberapa bulan tinggal di tempat itu, Mereka menderita kesepian dan kekurangan gizi. Selain itu, mereka juga jarang mendapat kesempatan untuk berhubungan dengan penduduk desa.

    Setelah enam bulan berlalu, keluarga Erickson memutuskan untuk kembali ke kantor misi. Namun keluarga Flood memilih untuk tetap tinggal, apalagi karena saat Itu Svea baru hamil dan sedang menderita malaria yang cukup buruk. Di Samping itu David juga menginginkan agar anaknya lahir di Afrika dan ia sudah bertekad untuk memberikan hidupnya untuk melayani di tempat tersebut.

    Selama beberapa bulan Svea mencoba bertahan melawan demamnya yang Semakin memburuk. Namun di tengah keadaan seperti itu ia masih menyediakan waktunya untuk melakukan bimbingan rohani kepada seorang anak kecil penduduk asli dari desa tersebut.

    Dapat dikatakan anak kecil itu adalah satu-satunya hasil pelayanan Injil melalui keluarga Flood ini. Saat Svea melayaninya, anak kecil ini Hanya tersenyum kepadanya. Penyakit malaria yang diderita Svea semakin Memburuk sampai ia hanya bisa berbaring saja. Tapi bersyukur bayi perempuannya berhasil lahir dengan selamat tidak kurang suatu apa.

    Namun Svea tidak mampu bertahan. Seminggu kemudian keadaannya sangat buruk dan menjelang kepergiannya, ia berbisik kepada David, "Berikan nama Aina pada anak kita," lalu ia meninggal.

    David amat sangat terpukul dengan kematian istrinya. Ia membuat peti Mati buat Svea, lalu menguburkannya. Saat dia berdiri di samping kuburan, ia memandang pada anak laki-lakinya sambil mendengar tangis bayi Perempuannya dari dalam gubuk yang terbuat dari lumpur.Timbul kekecewaan yang sangat dalam di hatinya. Dengan emosi yang tidak terkontrol David berseru, "Tuhan, mengapa Kau ijinkan hal ini terjadi? Bukankah kami datang kemari untuk memberikan hidup kami dan melayani Engkau?! Istriku yang cantik dan pandai, sekarang telah tiada. Anak sulungku kini baru berumur 3 tahun dan Nyaris tidak terurus, apalagi si kecil yang baru lahir. Setahun lebih kami Ada di hutan ini dan kami hanya memenangkan seorang anak kecil yang bahkan mungkin belum cukup memahami berita Injil yang kami ceritakan. Kau telah mengecewakan aku, Tuhan. Betapa sia-sianya hidupku!"

    Kemudian David kembali ke kantor misi Afrika. Saat itu David bertemu Lagi dengan keluarga Erickson. David berteriak dengan penuh kejengkelan:

    "Saya akan kembali ke Swedia! Saya tidak mampu lagi mengurus anak ini. Saya ingin titipkan bayi perempuanku kepadamu." Kemudian David memberikan Aina kepada keluarga Erickson untuk dibesarkan. Sepanjang perjalanan ke Stockholm, David Flood berdiri di atas dek kapal. Ia merasa sangat kesal kepada Allah. Ia menceritakan kepada semua orang tentang pengalaman pahitnya, bahwa ia telah mengorbankan segalanya tetapi berakhir dengan kekecewaan. Ia yakin bahwa ia sudah berlaku setia tetapi Tuhan membalas hal itu dengan cara tidak mempedulikannya.

    Setelah tiba di Stockholm, David Flood memutuskan untuk memulai usaha di bidang import. Ia mengingatkan semua orang untuk tidak menyebut nama Tuhan didepannya. Jika mereka melakukan itu, segera ia naik pitam dan marah. David akhirnya terjatuh pada kebiasaan minum-minuman keras.

    Tidak lama setelah David Flood meninggalkan Afrika, pasangan suami-istri Erikson yang merawat Aina meninggal karena diracun oleh kepala suku dari daerah dimana mereka layani. Selanjutnya si kecil Aina diasuh oleh Arthur dan Anna Berg. Keluarga ini membawa Aina ke sebuah desa yang bernama Masisi, Utara Kongo. Di sana Aina dipanggil "Aggie". Si kecil Aggie segera belajar bahasa Swahili dan bermain dengan anak-anak Kongo. Pada saat-saat sendirian si Aggie sering bermain dengan khayalan.

    Ia sering membayangkan bahwa ia memiliki empat saudara laki-laki dan satu saudara perempuan, dan ia memberi nama kepada masing-masing saudara khayalannya.

    Kadang-kadang ia menyediakan meja untuk bercakap-cakap dengan saudara khayalannya. Dalam khayalannya ia melihat bahwa saudara perempuannya selalu memandang dirinya. Keluarga Berg akhirnya kembali ke Amerika dan menetap di Minneapolis. Setelah dewasa, Aggie berusaha mencari ayahnya tapi sia-sia.

    Aggie menikah dengan Dewey Hurst, yang kemudian menjadi presiden dari sekolah Alkitab Northwest Bible College. Sampai saat itu Aggie tidak mengetahui bahwa ayahnya telah menikah lagi dengan adik Svea, yang tidak mengasihi Allah dan telah mempunyai anak lima, empat putra dan satu putri (tepat seperti khayalan Aggie). Suatu ketika Sekolah Alkitab memberikan tiket pada Aggie dan suaminya untuk pergi ke Swedia. Ini merupakan kesempatan bagi Aggie untuk mencari ayahnya. Saat tiba di London, Aggie dan suaminya berjalan kaki di dekat Royal Albert Hall.

    Ditengah jalan mereka melihat ada suatu pertemuan penginjilan. Lalu mereka masuk dan mendengarkan seorang pengkotbah kulit hitam yang sedang bersaksi bahwa Tuhan sedang melakukan perkara besar di Zaire. Hati Aggie terperanjat.

    Setelah selesai acara ia mendekati pengkotbah itu dan bertanya, "Pernahkah anda mengetahui pasangan penginjil yang bernama David dan Svea Flood?"

    Pengkotbah kulit hitam ini menjawab, "Ya, Svea adalah orang yang membimbing saya kepada Tuhan waktu saya masih anak-anak.

    Mereka memiliki bayi perempuan tetapi saya tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang." Aggie segera berseru: "Sayalah bayi perempuan itu! Saya adalah Aggie - Aina!" Mendengar seruan itu si Pengkotbah segera menggenggam tangan Aggie dan memeluk sambil menangis dengan sukacita.

    Aggie tidak percaya bahwa orang ini adalah bocah yang dilayani ibunya. Ia bertumbuh menjadi seorang penginjil yang melayani bangsanya dan pekerjaan Tuhan berkembang pesat dengan 110.000 orang Kristen, 32 Pos penginjilan, beberapa sekolah Alkitab dan sebuah rumah sakit dengan 120 tempat tidur.

    Esok harinya Aggie meneruskan perjalanan ke Stockholm dan berita telah tersebar luas bahwa mereka akan datang. Setibanya di hotel ketiga saudaranya telah menunggu mereka di sana dan akhirnya Aggie mengetahui bahwa ia benar-benar memiliki saudara lima orang. Ia bertanya kepada mereka: "Dimana David kakakku ?" Mereka menunjuk seorang laki-laki yang duduk sendirian di lobi. David Jr. adalah pria yang nampak kering lesu dan berambut putih. Seperti ayahnya, iapun dipenuhi oleh kekecewaan, kepahitan dan hidup yang berantakan karena alkohol. Ketika Aggie bertanya tentang kabar ayahnya, David Jr. menjadi marah.

    Ternyata semua saudaranya membenci ayahnya dan sudah bertahun-tahun tidak membicarakan ayahnya. Lalu Aggie bertanya: "Bagaimana dengan saudaraku perempuan?" Tak lama kemudian saudara perempuannya datang ke hotel itu dan memeluk Aggie dan berkata: "Sepanjang hidupku aku telah merindukanmu. Biasanya aku membuka peta dunia dan menaruh sebuah mobil mainan yang berjalan di atasnya, seolah-olah aku sedang mengendarai mobil itu untuk mencarimu kemana-mana." Saudara perempuannya itu juga telah menjauhi ayahnya,tetapi ia berjanji untuk membantu Aggie mencari ayahnya. Lalu mereka memasuki sebuah bangunan tidak terawat. Setelah mengetuk pintu datanglah seorang wanita dan mempersilahkan mereka masuk. Di dalam ruangan itu penuh dengan botol minuman, tapi di sudut ruangan nampak seorang terbaring di ranjang kecil, yaitu ayahnya yang dulunya seorang penginjil.

    Ia berumur 73 tahun dan menderita diabetes, stroke dan katarak yang menutupi kedua matanya. Aggie jatuh disisinya dan menangis, "Ayah, aku adalah si kecil yang kau tinggalkan di Afrika." Sesaat orang tua itu menoleh dan memandangnya. Air mata membasahi matanya, lalu ia menjawab, "Aku tak pernah bermaksud membuangmu, aku hanya tidak mampu untuk mengasuhnya lagi."

    Aggie menjawab, "Tidak apa-apa, Ayah. Tuhan telah memelihara aku". Tiba-tiba, wajah ayahnya menjadi gelap, "Tuhan tidak memeliharamu!" Ia mengamuk. "Ia telah menghancurkan seluruh keluarga kita! Ia membawa kita ke Afrika lalu meninggalkan kita. Tidak ada satupun hasil di sana. Semuanya sia-sia belaka!"

    Aggie kemudian menceritakan pertemuannya dengan seorang pengkotbah kulit hitam dan bagaimana perkembangan penginjilan di Zaire. Penginjil itulah si anak kecil yang dahulu pernah dilayani oleh ayah dan ibunya. "Sekarang semua orang mengenal anak kecil, si pengkotbah itu. Dan kisahnya telah dimuat di semua surat kabar."

    Saat itu Roh Kudus turun ke atas David Flood. Ia sadar dan tidak sanggup menahan air mata lalu bertobat.

    Tak lama setelah pertemuan itu David Flood meninggal, tetapi Allah telah memulihkan semuanya, kepahitan hatinya dan kekecewaannya.

    Zambia

    Para misionaris Southern Baptist melaporkan, "Presiden Zambia baru-baru ini telah di baptis di depan umum sebagai simbol keyakinannya di dalam Yesus Kristus." Ratusan tamu, termasuk pegawai pemerintah dan pemimpin nasional dan pendeta-pendeta dari luar negeri, bertepuk tangan dan bersorak sorai begitu melihat Presiden Levy Mwanawasa keluar dari kolam baptis yang berada di luar kapel gereja Baptist di Lusaka, ibukota negara.

    Dalam acara ibadah, Mwanawasa menceritakan tentang perjalanan rohaninya. Ia menceritakan tentang "pengalaman Damaskus" yang dialaminya (karena mirip dengan pengalaman yang dialami Rasul Paulus dalam perjalanan menuju Damaskus). Mwanawasa adalah seorang pengacara yang sukses dan sebelumnya ia adalah seorang wakil presiden. Dia terpilih sebagai presiden pada tahun 2002. Reputasinya sebagai pribadi yang sangat jujur membuat ia mendapat nama panggilan "Mr. Integrity".

    Sewaktu remaja, Mwanawasa belajar di sekolah Baptis, namun hubungannya dengan Yesus mulai diubahkan secara keseluruhan ketika ia mengikuti ibadah di Twin Palm Baptist Churchdi Lusaka pada tahun 2003. Banyak misionaris percaya bahwa pembaptisan Presiden Mwanawasa merupakan suatu tanda tentang apa yang akan Allah kerjakan bagi negara ini. Gereja-gereja Baptis sedang bertumbuh dengan cepat. Berdasarkan laporan, tahun yang lalu ada 116 gereja-gereja Baptis dan 124 pos misi yang baru didirikan.