Leadership

Artikel-artikel tentang dunia kepemimpinan Kristen, tantangan, masalah, pembinaan pemimpin Kristen dll

(Artikel lain tentang kepemimpinan Kristen dapat dibaca di situs IndoLead)

Busuk

Penulis : Timur Citra Sari

BUKAN main! Rasanya belum pernah sesuatu yang berlabel ´´busuk´´ mendapat liputan dan pembahasan yang sangat luas, seperti yang tengah terjadi di negeri kita belakangan ini. Mungkin karena label busuk kali ini tidak disandang oleh telur, atau pepaya, atau daging, melainkan oleh manusia. Mungkin juga karena mengenali kebusukan manusia tidak semudah mengenali kebusukan telur, pepaya, atau daging.

Jika telur busuk mengambang dalam air, dan pepaya busuk mempunyai penampilan yang mudah dikenali, juga daging busuk berbau khas, maka mengenali "manusia busuk" tidak semudah itu. "Manusia busuk" tidak mengambang dalam kehidupan bermasyarakat, sebaliknya mereka sering kali mempunyai pijakan yang sangat kukuh di tengah masyarakat. "Manusia busuk" tidak berpenampilan aneh, mereka sama saja dengan manusia lainnya. "Manusia busuk" juga tidak berbau, bahkan mereka seringkali beraroma sangat wangi dan menyegarkan.

Mengingat demikian piawainya para "manusia busuk" menyamarkan dirinya, tidak jarang kita dibuat tercengang saat kebusukan mereka akhirnya diketahui. Namun terbongkarnya kebusukan tersebut menunjukkan betapa tepat peringatan yang disampaikan oleh penulis Injil Lukas: "Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan." (Lukas 8:17) Jadi, apabila saat ini Anda - karena satu dan lain hal - tengah mempertimbangkan untuk terlibat dalam "gerombolan si busuk", saran saya, segera batalkan rencana keterlibatan ini. Bukankah tidak seorang pun dari kita ingin dipermalukan karena kebusukan kita terbongkar kelak?

Namun seringkali tidak mudah bagi mereka yang sudah lama berkubang dalam kebusukan untuk meninggalkan pola dan kebiasaan hidup seperti ini. Pertama, bisa jadi mereka sendiri tidak sadar bahwa mereka tengah berkubang dalam kebusukan. Kedua, sebagaimana seringkali terjadi, berkubang dalam kebusukan terasa menyenangkan bagi mereka, sehingga mereka betah dan tidak ingin meninggalkannya. Jika kondisi itu yang terjadi, maka mereka memerlukan pertolongan dan bantuan kita.

Apa yang dapat kita lakukan untuk menolong dan membantu mereka? Khususnya dalam rangka menghadapi Pemilu, kita dapat menolong "gerombolan si busuk" dengan tidak memilih mereka untuk menjadi bagian dari para pemimpin negeri ini di masa mendatang. Jangan keliru, dengan melakukan itu kita sama sekali tidak bermaksud jahat pada mereka. Sebaliknya, kita bermaksud menolong dengan memberi kesempatan pada mereka agar dapat segera meninggalkan kubangan kebusukan tempat hidup mereka selama ini.

Bukankah jauh lebih baik jika mereka tidak mendapat kesempatan menjadi "pemimpin busuk", daripada mereka berkesempatan melakukannya tetapi kemudian berhadapan dengan "... wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan kepada mereka dari muka bumi." (Mazmur 34:17).

Selain menolong mereka, dengan tidak memilih "gerombolan si busuk" sesungguhnya kita juga telah menolong negeri kita. Walau memang tidak mudah dan pasti membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk bangkit dari begitu banyak dan beraneka keterpurukan kita, Nabi Yesaya mengingatkan. "Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran adalah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya." (Yesaya 32:17)

Jadi, jika yang kita dambakan adalah damai sejahtera, ketenangan dan ketenteraman, maka yang perlu kita upayakan seoptimal mungkin adalah menghadirkan kebenaran di negeri ini. Dan, salah satu upaya yang dapat kita lakukan adalah tidak memberi kesempatan "gerombolan si busuk" menjadi pemimpin negeri ini.

Lalu, bagaimana caranya kita dapat memilih para pemimpin yang mendukung kehadiran kebenaran di negeri ini? Perlengkapan apa saja yang kita butuhkan sehingga kita tidak kebobolan? Saya ingatkan, memperlengkapi diri agar kita tidak terlalu innocent saat Pemilu nanti bukanlah persoalan yang amat-sangat mudah. Namun, jika kita tidak keberatan memilih-milih telur, pepaya dan daging sebelum membelinya karena ingin mendapatkan hasil yang terbaik, saya yakin tentu kita juga tidak akan keberatan untuk memperlengkapi diri sebaik-baiknya sebelum menetapkan siapa saja calon pemimpin negeri ini yang akan kita pilih.

Di antara begitu banyaknya kriteria yang dimunculkan, kejujuran kelihatannya menjadi sorotan utama banyak orang di negeri ini. Hal itu tidak aneh, mengingat begitu lama kita berhadapan dengan begitu banyak ketidakjujuran di tengah dan di antara kita. Kita pun tahu betapa ketidakjujuran telah memakan korban banyak orang yang tidak bersalah. Sungguh menyakitkan! Ini berarti, salah satu perlengkapan yang kita butuhkan adalah "koleksi" calon-calon pemimpin yang jujur.

Dari mana kita mendapatkan informasi itu? Tentu dari berbagai sumber pemberitaan. Tidak mudah mencarinya? Bisa jadi, tetapi bukan berarti tidak mungkin. Bukankah kita ingin hasil yang terbaik? Karena itu jangan enggan mencari informasi. Firman Tuhan berikut ini menguatkan kita: "Siapa yang jujur jalannya, keselamatan yang dari Allah akan Kuperlihatkan kepadanya." (Mazmur 50:23). Jika pemimpin kita jujur jalannya, tentu keselamatan dari Allah akan diperlihatkan kepadanya.

Hal lain yang juga mendapat perhatian besar adalah penghargaan terhadap hukum, misalnya berbagai kasus korupsi. Tampilnya tuntutan itu juga tidak mengherankan, karena di depan mata kita melihat berlimpahnya berbagai pelanggaran yang membuat kita mempertanyakan keberadaan hukum di negeri ini. Benar-benar menyebalkan! Bagi kita, dalam urusan memperlengkapi diri dengan sebaik-baiknya, ini berarti kita perlu memiliki - sekali lagi - "koleksi" calon-calon pemimpin yang menghargai hukum. "Koleksi" ini juga kemungkinan besar tidak mudah dicari.

Tetapi - juga sekali lagi - bukan berarti tidak mungkin ditemukan. Betapa melegakannya jika pemimpin kita kelak memperhatikan Firman Tuhan ini: "Taatilah hukum dan tegakkanlah keadilan, sebab sebentar lagi akan datang keselamatan yang dari pada-Ku, dan keadilan-Ku akan dinyatakan." (Yesaya 56:1)

Tentu saja masih banyak lagi kriteria yang ingin kita tetapkan pada para pemimpin kita. Namun kali ini cukup dua hal di atas dulu. Terakhir, mari kita berdoa agar para pemimpin kita kelak berdoa seperti Raja Salomo: "... Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat...." (1 Raja-raja 3:9) Kiranya Tuhan menolong kita!

Sumber: Suara Pembaruan Daily

Indonesia Minim Jiwa Kepemimpinan

Kurangnya jiwa kepemimpinan menyebabkan krisis ekonomi masih terasa di Indonesia. Selama enam tahun ini, Indonesia masih tertinggal dibandingkan Malaysia, Singapura, Thailand, Korea Selatan, dan negara lain di kawasan Asia. Negara-negara tersebut sudah mampu keluar dari krisis dan menata ekonominya untuk menyambut permainan globalisasi dan ASEAN Free Trade Area (AFTA). Penyebab kemajuan mereka, menurut Charlo Mamora, Managing Partner Transforma, karena adanya dukungan dari perusahaan-perusahaan yang dapat menyikapi krisis tersebut dengan arif. Demikian dilaporkan harian Media Indonesia.

"Mereka melakukan penyelarasan pola pikir individu dan pembenahan kepemimpinan top team untuk organisasi. Kedua hal ini adalah yang paling menentukan dan membedakan suatu organisasi akan menjadi pemenang, biasa-biasa saja, atau bahkan punah," katanya di seminar Top Team Leadership di Jakarta baru-baru ini.

Lebih lanjut Charlo mengungkapkan, Jepang berhasil mengejar ketertinggalannya dengan Barat melalui gerakan kualitas, dan Korea mampu bersaing di pasaran internasional dengan program survival atau kuantum.

"Indonesia sebenarnya dapat mengikuti jejak kedua bangsa itu, mengejar ketertinggalan melalui gerakan penyelarasan mindset (mindset alignment movement). Tetapi, selama pejabat pemerintah melihat dirinya sebagai penguasa bukan pelayan masyarakat, selama itu pula perubahan berarti tidak akan terjadi. Selama mentalitas guru melihat dirinya sebagai pengajar, bukan sebagai pendidik, selama itu pula kualitas sumber daya manusia kita tidak akan mengalami perubahan besar," ucapnya.

Begitu juga dalam dunia bisnis. Menurut Charlo, perusahaan sebagai pelaku utama harus meninjau pola pikir yang dianut. Perusahaan harus berani mengubah pola pikir yang merugikan. Untuk itu, ada lima hal yang harus diperhatikan. Pertama, adanya visi yang menantang secara bisnis dan memiliki daya pikat bagi karyawan melalui transformasi komunikasi dari pimpinan. Visi perusahaan tersebut harus melekat di semua jajaran karyawan. Kedua, adanya program kuantum, atau lompatan dari perusahaan untuk mencapai nilai ekonomis yang tinggi.

Ketiga, adanya budaya dan praktik pengembangan talenta. Itu berarti, semua orang diberi kesempatan untuk mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuannya. Keempat, adanya proses plan-do-check-action (PDCA) yang berjalan pada setiap organ perusahaan dan terintegrasi secara keseluruhan. Kelima, adanya bahasa persatuan kerja dan interaksi dengan pelanggan atau pihak luar organisasi yang dijalani oleh keseluruhan orang dalam organisasi.

Kelima hal itu menurut Charlo membutuhkan tenaga yang luar biasa, tidak cukup lagi hanya dengan seorang CEO yang kuat seperti masa lalu.

Sumber: Gloria Cyber Ministry

Kepemimpinan Rohani dan Kepemimpinan Sekuler

Penulis : Irnawan Silitonga

I. Pendahuluan
Hitler, Karl Marx, Paulus dan Watchman Nee adalah pemimpin-pemimpin. Mereka semua mempunyai pengikut. Perbedaan diantara mereka adalah sebagian disebut pemimpin rohani, sebagian lagi pemimpin sekuler. Apa sebenarnya perbedaan pemimpin rohani dan pemimpin sekuler. Prinsip-prinsip apa yang membedakan keduanya. Banyak buku-buku mengenai kepemimpinan nampaknya tidak membedakan prinsip-prinsip rohani dan sekuler. Dalam tulisan yang singkat ini akan diuraikan prinsip-prinsip yang menjadikan seseorang disebut pemimpin rohani atau pemimpin sekuler.

Secara khusus tulisan ini juga akan menyoroti sebuah buku sekuler dimana prinsip-prinsipnya sering ditulis oleh penulis-penulis kristen dalam menguraikan kepemimpinan rohani. Sebenarnya buku ini tidak secara khusus berbicara soal kepemimpinan, te8tapi soal pembaharuan pribadi. Buku ini ditulis oleh Stephen R. Covey dengan judul Tujuh kebiasaan manusia yang sangat efektif (The Seven Habits of Highly Effective People).

Dalam membuat tulisan ini, penulis tidak bermaksud mengkritik hasil pekerjaan orang lain. Tetapi sekedar memberikan pandangan mengenai perbedaan pemimpin rohani dan pemimpin sekuler. Dengan segala keterbatasan yang ada, penulis mencoba menguraikan hal-hal dasar yang menjadikan seseorang pemimpin rohani atau sekuler.

II.Pembaharuan Pribadi (Self Development) Dan Penyangkalan Diri (Self Denial).
Prinsip pertama 8yang membedakan apakah seseorang itu pemimpin rohani atau pemimpin sekuler adalah yang satu menyangkal dirinya dan membiarkan Kristus memanifestasikan diriNya sedang yang lainnya mengembangkan dirinya dengan berbagai metode kejiwaan. Sebelum kita menguraikan hal ini lebih jauh, mari kita melihat kisah mengenai kejatuhan manusia kedalam Kitab Kejadian.

Kitab kejadian menguraikan permulaan dari segala sesuatu, termasuk manusia. Dua pasal pertama Kitab Kejadian menguraikan permulaan dari segala sesuatu dan tentu saja makna segala sesuatu didalam rancangan Tuhan. Pada pasal ini diceritakan mengenai sebuah Taman dengan dua pohon ditengah-tengahnya yaitu pohon kehidupan dan pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat. Berbicara mengenai apakah atau siapakah Taman ini. Secara pikiran jasmani mungkin kita menganggap Taman ini hanya merupakan suatu tempat disekitar timur tengah dimana ada empat sungai mengalir melaluinya. Tetapi kita ingin memahami makna rohani tentang Taman ini. Menggambarkan apakah Taman ini sebenarnya.

Kita percaya ada hubungan antara Taman di Kitab Kejadian dan Kota (Yerusalem Baru) di kitab Wahyu, karena Alkitab bersifat progressive dalam pewahyuannya. Itu sebabnya ada perbedaan antara Taman dan Kota. Didalam Kota hanya ada pohon kehidupan saja (wahyu 22:2), dan juga tidak ada dusta (ular) didalamnya (wahyu 21 : 27) Didalam Taman Tuhan hadir sesekali saja, sedangkan dalam kota Tuhan hadir senantiasa. Sekarang, melambangkan apakah Kota di Kitab Wahyu ini. Kalau kita dapat menemukan realita yang dilambangkan oleh kota ini, maka kita juga dapat memahami realita yang dilambangkan oleh Taman. Didalam Wahyu 21 : 9-10 jelas terlihat bahwa Kota Yerusalem Baru adalah mempelai Anak Domba. Kitalah sebagai realita yang dilambangkan oleh Kota Yerusalem Baru. Kalau demikian Taman di Kitab Kejadian adalah juga kita. Tidaklah mengherankan kalau Alkitab berkata “jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan”, demikian juga Tuhan berfirman kepada Adam untuk “mengusahakan dan memelihara taman itu”. Karena Taman itu adalah hati kita, dari kita sendiri. Taman adalah kondisi kita sebelum pengujian, sedangkan kota adalah kondisi kita setelah melalui ujian dan pembentukan Tuhan.

Ditengah-tengah Taman ini, kita tahu, ada dua pohon yaitu pohon kehidupan dan pohon pengetahun yang baik dan yang jahat. Kedua pohon dalam taman ini juga menggambarkan suatu realita. Pohon kehidupan melambangkan Kristus yang adalah hidup kita. Kristus berkata Akulah Hidup itu, barang siapa makan dagingKu dan minum darahKu, ia mempunyai hidup dalam dirinya. Sementara itu, melambangkan apakah pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat. Mari kita lihat Kejadian 2 : 17, “Tetapi Pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati”. Jadi pohon pengetahuan yang baik dan jahat melambangkan kematian atau maut, sebab dalam Roma 6 : 23 juga tertulis, “Upah dosa adalah maut”.

Banyak orang menyangka maut adalah kematian fisik. Kalau demikian seharusnya ketika Adam memakan buah pohon pengetahuan, ia langsung mati secara fisik atau rohnya pergi meninggalkan tubuhnya, sesuai dengan definisi mati jasmani menurut Yakobus 2:26. Kalau demikian apa makna mati/maut dalam kejadian2;17. Kata “mati” dalam kejadian 2:17 adalah suatu kata Ibrani yang diterjemahkan “dying thou dost die” menurut Young’s Literal Translation of the Bible. Artinya suatu kondisi mati yang berproses kepada kematian fisik. Jadi ketika Adam memakan buah pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat, saat itu juga ia mengalami suatu kondisi mati (maut) yang pada gilirannya menghasilkan kematian fisik. Maut adalah suatu kondisi atau suatu keberadaan. Adam tetap “hidup” setelah ia berbuat dosa; ia tetap dapat berpikir, berperasaan, berkemauan menurut dirinya sendiri. Adam tetap dapat mengembangkan dirinya sendiri, tetapi terlepas dari hidup Allah yang dilambangkan pohon kehidupan.

Jadi kejatuhan berarti manusia hidup dan mengembangkan dirinya sendiri diluar Tuhan. Dapat juga kita katakan bahwa akibat kejatuhan, muncullah keakuan (the Self) manusia yang terpisah dari hidup Tuhan. Keakuan manusia (the Self) bervariasi mulai dari yang baik sampai yang jahat, karena manusia memakan buah pengetahuan yang baik dan jahat. Tetapi kebaikan diri manusia maupun kejahatan diri manusia, tetap tidak berkenan dihadapan Tuhan. Menurut kitab Yesaya, kesalehan kita seperti kain kotor dihadapan Tuhan. Mengapa ? Karena baik kesalehan maupun kejahatan diri manusia berasal dari satu pohon yaitu pohon pengetahuan yang baik dan jahat. Tuhan hanya berkenan kalau manusia makan buah pohon kehidupan. Hanya kebaikan-kebaikan manusia yang lahir akibat makan buah pohon kehidupan yang berkenan kepadaNya. Kalau manusia mengembangkan dirinya dengan memakan buah pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat, maka Tuhan tidak berkenan. Sebaliknya Tuhan berkenan apabila manusia mengembangkan dirinya dengan memakan buah pohon kehidupan, bahkan yang sangat menyenangkan hatiNya adalah kalau manusia dengan memakan buah pohon kehidupan mengembangkan dirinya sampai menjadi serupa dengan Kristus.

Kita kembali kepada prinsip pertama yang membedakan apakah seseorang itu Pemimpin Rohani atau Pemimpin Sekuler. Pemimpin rohani adalah seorang yang menyangkal pengembangan diri dengan metode kejiwaan apapun juga, sedangkan pemimpin sekuler adalah seorang yang mengembangkan diri oleh kemampuan dirinya sendiri. Pemimpin rohani menyangkal diri dalam arti menolak usaha-usaha manusia dalam mengembangkan kepemimpinannya, sedangkan pemimpin sekuler mengandalkan kekuatan diri sendiri. Pemimpin rohani mengizinkan Kristus bermanifestasi melalui dan didalam dirinya, sedangkan pemimpin sekuler mengizinkan aku (Self) berkembang didalam dirinya. Perbedaan ini sangat menyolok. Yang satu meninggikan Kristus, yang lain meninggikan aku (Self). Yang satu membiarkan Kristus yang memimpin, yang lain membiarkan si aku memimpin. Karena perbedaan yang sangat menyolok ini, maka hasil kepemimpinan keduanya juga sangat berbeda. Hasil kepemimpinan rohani membuat orang lain semakin dekat dengan Tuhan, hasil kepemimpinan sekuler membuat orang lain semakin dengan egonya. Kepemimpinan yang tidak membuat orang lain semakin cinta Tuhan, mengandalkan Tuhan, merindukan Tuhan saja adalah kepemimpinan sekuler. Hasil kepemimpinan sekuler tidak harus selalu jahat, kadangkala juga baik. Tetapi tetap hasil dari satu pohon yaitu pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat.

Sekarang kita akan mempertimbangkan prinsip/kebiasaan kedua untuk memperoleh kemenangan pribadi dalam buku Tujuh Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif. Kita memilih kebiasaan kedua ini karena prinsip ini sering dikutip dalam buku-buku kepemimpinan atau buku-buku rohani. Prinsip ini disebut Mulai dengan Akhir dalam Pikiran.

Mulai dengan Akhir dalam Pikiran
Mulai dengan Akhir dalam Pikiran didasarkan pada prinsip bahwa segalanya diciptakan dua kali. Pertama, ciptaan mental dan kedua, ciptaan fisik sebagai realisasi ciptaan pertama. Ciptaan mental yang dimaksud adalah suatu usaha untuk menggambarkan dalam imajinasi (visualisasi) hal-hal atau perkara-perkara yang kita inginkan terjadi di alam nyata. Ciptaan mental adalah suatu tujuan yang kita tetapkan berdasarkan nilai-nilai yang kita anut. Ciptaan mental ini juga dapat kita sebut visi pribadi dalam arti suatu gambaran masa depan yang kita harap dan percaya akan terjadi pada diri kita.

Menurut Stephen R. Covey, membuat ciptaan pertama didalam diri kita sama dengan menulis ulang naskah yang dulu pernah ditulis melalui pengalaman-pengalaman kita, lingkungan kita, nilai-nilai kita yang lama dimana seringkali naskah lama ini tidak efektif. Apabila seseorang bersikap reaktif, maka responnya terhadap suatu stimulus akan dipengaruhi oleh naskah-naskah yang lama tersebut. Karena naskah-naskah yang lama sering tidak efektif, maka perilaku kita juga sering negatif. Perilaku kita menjadi fungsi dari naskah kita yang lama. Sementara melalui suatu kebiasaan membuat ciptaan pertama, kita melatih diri menjadi seorang yang proaktif, yaitu seorang yang mengambil inisiatif dan secara sadar memilih respon kita berdasarkan nilai-nilai yang kita tetapkan sendiri.

Cara yang paling baik untuk membuat ciptaan pertama atau Mulai dengan Akhir dalam Pikiran, menurut Covey adalah mengembangkan pernyataan misi pribadi. Karena setiap pribadi itu unik, maka alasan ia ada didunia ini juga unik maka pernyataan misi pribadinyapun juga unik. Ada baiknya kita mengutip suatu pernyataan misi pribadi dari sahabat Stephen Covey sebagai berikut :

Berdasarkan uraian diatas mengenai kebiasaan Mulai dengan Akhir dalam Pikiran dalam buku Stephen Covey, kita dapat menarik beberapa kesimpulan. Pertama, inisiatif untuk melakukan visualisasi berasal dari diri sendiri. Kitalah yang menentukan dan membayangkan akan menjadi apa kita nantinya. Kedua, energi yang diperoleh untuk merealisasikan apa yang kita bayangkan (visualisasikan) juga berasal dari diri sendiri. Inilah yang disebut pengembangan diri (Self development) diluar Tuhan.

Walaupun demikian, menurut penelitian DR. Charles Garfield, hampir semua atlet kelas dunia dan orang berprestasi puncak dibidang lainnya adalah orang yang suka melakukan visualisasi. Jadi ada suatu energi atau kuasa diluar Tuhan yang dihasilkan akibat melakukan visualisasi. Apakah pemimpin rohani boleh menggunakan taktik visualisasi seperti ini untuk mengembangkan kepemimpinannya ? Apakah seseorang masih dapat disebut pemimpin rohani kalau ia mengembangkan dirinya dengan teknik visualisasi seperti diuraikan oleh Stephen Covey ?

Berdasarkan uraian kita sebelumnya mengenai makna Kejatuhan, jelas bahwa mengembangkan diri dengan bersandarkan kekuatan diri sendiri sama sekali tidak berkenan dihadapan Tuhan. Pengembangan diri harus dilakukan dengan cara penyangkalan diri (kekuatan dan inisiatif diri sendiri) dan membiarkan Kristus bermanifestasi melalui jiwa kita. Jadi prinsip Mulai dengan Akhir dalam Pikiran dan teknik visualisasi yang diusulkan Covey, tidak dapat diterapkan pada pemimpin rohani. Hal ini bukan berarti pemimpin rohani tidak mempunyai visi atau gambaran masa depan yang dipercayainya akan Tuhan realisasikan bagi dirinya dan umatNya. Melainkan segala sesuatu harus dimulai oleh Tuhan dan direalisasikan oleh kekuatan Tuhan, sesuai dengan yang ada tertulis “sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya”.

III.Otoritas Rohani dan Otoritas Sekuler
Prinsip kedua yang membedakan apakah seseorang itu pemimpin rohani atau pemimpin sekuler adalah jenis otoritas yang dimiliki pemimpin. Tidak dapat disangkal bahwa seorang pemimpin dipercayakan otoritas rohani atas para pengikutnya. Tetapi mengatakan seseorang itu pemimpin rohani karena ia memiliki otoritas atas sekelompok umat Tuhan, tanpa mempertanyakan jenis otoritas yang dimilikinya, adalah kesimpulan yang terlalu cepat. Kalau demikian bagaimana menentukan jenis otoritas yang dimiliki seorang pemimpin ? Apa artinya otoritas rohani yang menjadikan seseorang pemimpin rohani dan apa itu otoritas sekuler yang membuat seseorang menjadi pemimpin sekuler ?

Sebelum kita menjelaskan otoritas rohani, mari kita melihat Kejadian 10 : 9 untuk menjelaskan otoritas sekuler. Didalam ayat ini tertulis. “Seperti Nimrod, seorang pemburu yang gagah perkasa dihadapan Tuhan”. Nimrod adalah orang yang mula-mula sekali berkuasa (memiliki otoritas) di bumi. Otoritas Nimrod cukup besar karena kerajaannya cukup luas. Kerajaannya dimulai dari Babel, Erekh, Akad di tanah Sinear dan selanjutnya ditambah dengan kota-kota besar di negeri Asyur.

Tetapi kita perlu melihat jenis otoritas yang dimiliki Nimrod. Perkataan “dihadapan Tuhan” dalam ayat diatas seperti mengungkapkan bahwa Nimrod seorang hamba Tuhan yang hidup dihadapanNya, namun Ray Prinzing dalam buku Whispers of the Mysteries, hal 14, menemukan bahwa Strong’s Concordance mengungkapkan fakta mengenai kata Ibrani untuk “dihadapan” mempunyai arti yang sangat bervariasi. Dalam Kejadian 10 : 9, seperti juga misalnya dalam Bilangan 16 : 2, kata Ibrani untuk “dihadapan” secara literal berarti memberontak. Dan didalam Jewish Encyclopedia, nama Nimrod berarti “ia yang membuat semua orang memberontak melawan Tuhan”. Jadi otoritas yang dimiliki Nimrod bukan berasal dari Tuhan karena ia sendiri adalah seorang yang memberontak dan melawan Tuhan. Dengan penjelasan ini kita dapat simpulkan bahwa jenis otoritas yang dimiliki Nimrod adalah otoritas sekuler, yaitu otoritas yang ia peroleh semata-mata karena ia seorang pemburu yang gagah perkasa. Otoritasnya diperoleh dari kemampuan dirinya sendiri.

Sebaliknya apakah maksudnya otoritas rohani ? Contoh Musa sangat baik untuk menjelaskan ini. Musa adalah pemimpin Israel yang memiliki otoritas rohani atas umatNya. Sebelum pengalamannya di Padang Gurun, Musa mencoba menjadi pemimpin atas Israel dengan membunuh seorang Mesir yang pada waktu itu bertengkar dengan seorang Israel. Tetapi ketika otoritasnya ditantang, Musa melarikan diri ke Padang Gurun (Kej 2: 14-15). Musa mencoba memperoleh otoritas oleh usaha tangannya sendiri dengan membunuh seorang Mesir. Otoritas yang diperoleh dengan cara ini bukanlah otoritas rohani. Tetapi setelah Musa melewati pengalaman padang gurun dan mendapatkan pewahyuan Tuhan melalui nyala api yang keluar dari semak duri, maka ia kembali dari Mesir dengan tongkat Allah (melambangkan otoritas rohani) ditangannya. Jadi otoritas rohani didapatkan oleh seorang pemimpin melalui pengalaman disiplin Tuhan (padang gurun) dan juga pewahyuan Tuhan (pengalaman semak duri).

Melalui uraian diatas, kita dapat membedakan apakah seseorang itu pemimpin rohani atau pemimpin sekuler. Pemimpin rohani adalah ia yang memiliki “otoritas Musa”, sedangkan pemimpin sekuler adalah dia yang memiliki “otoritas Nimrod”. Namun ada hal yang menarik diungkapkan Firman Tuhan dalam Wahyu 17 : 3-5, dimana perempuan (melambangkan gereja) disebut Babel besar (kota dimana “otoritas Nimrod” berlaku). Yohanes melihat bahwa ada saat dimana didalam gereja terdapat “otoritas nimrod”. Itu sebabnya, walaupun didalam gereja, kadang-kadang kita sulit membedakan apakah seseorang itu pemimpin rohani atau pemimpin sekuler. Semoga Tuhan membersihkan gereja dari “otoritas Nimrod” dan menegakkan “otoritas Musa” demi kemuliaanNya.

IV.Kesimpulan
Banyak orang percaya bahwa jatuh bangunnya suatu usaha atau gerakan dalam bidang apapun juga, tergantung dari pemimpinnya. Hanya saja untuk bidang rohani, kita perlu berhati-hati dalam menerapkan prinsip-prinsip kepemimpinan. Untuk bidang rohani dibutuhkan kepemimpinan rohani dan kepemimpinan rohani hanya dapat terjadi kalau diberlakukan prinsip-prinsip rohani. Jangan sampai kita terjebak dan mencampur-adukkan prinsip-prinsip rohani dan prinsip-prinsip sekuler.

Didalam tulisan ini telah diuraikan dua prinsip yang menjadikan seseorang disebut pemimpin rohani yaitu prinsip penyangkalan diri (Self Denial) dan prinsip “otoritas Musa”. Kedua prinsip inilah yang akan membedakan pemimpin rohani dari pemimpin sekuler.

Sumber: Gema Sion Ministry

Komunitas Kerajaan dan Jejaring Kepemimpinan Organisme

Penulis : Irnawan Silitonga

1. Pendahuluan.
1.1 Latar Belakang dan Motivasi Penulisan.

Pada petang hari karena langit merah, kamu berkata : Hari akan cerah, dan pada pagi hari, karena langit merah dan redup, kamu berkata : Hari buruk. Rupa langit kamu tahu membedakannya tetapi tanda-tanda zaman tidak[ Matius 16:2-3 ]. Dalam setiap zaman, Tuhan memberikan tanda-tanda yang hanya dapat dilihat oleh mata yang tercelik. Dalam ayat-ayat di atas kita lihat bahwa para pemimpin agama di zaman Yesus, gagal melihat tanda-tanda di zamannya. Kegagalan inilah yang merupakan salah satu sebab mereka menolak Yesus sebagai Mesias.

Pada waktu Yesus masuk kota Yerusalem dengan mengendarai keledai, Ia menangisi kota itu dan berkata, Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu ! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu[ Lukas 19:42 ]. Seandainya para pemimpin agama pada zaman Yesus dapat melihat tanda-tanda di zamannya, tentulah damai sejahtera akan datang atas kota Yerusalem. Tetapi karena mereka tidak melihat, maka Tuhan berkata bahwa, akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dengan kubu[ ayat 43 ]. Kita tahu bahwa perkataan Tuhan ini digenapi, ketika pada tahun 70 jenderal Titus memimpin pengepungan dan penyerbuan terhadap kota Yerusalem, serta menghancurkannya.

Pada zaman sekarang, di abad ke 21, kita juga perlu melihat tanda-tanda di zaman ini. Penglihatan ini akan membuat kita masuk dalam rencana Bapa untuk zaman-zaman yang akan datang, serta tentu saja akan mendatangkan damai sejahtera untuk saat ini. Tampilnya anak-anak Allah yang dewasa, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi[ Wahyu 12:5 ], sudah dekat. Kita yang menantikan dan mempercepat kedatangan hari Allah, perlu mengambil langkah-langkah tertentu sesuai pimpinan Tuhan, agar kita kedapatan siap sedia. Dalam pemahaman yang seperti ini, kita perlu menguji segala sesuatu yang kita lakukan, dan yang umumnya dilakukan para pemimpin agama zaman ini, berkaitan dengan pembangunan Tubuh Kristus. Karena, baik kehendak Tuhan maupun rencanaNya akan terjadi di dalam dan melalui gerejaNya, kita perlu waspada agar tidak mengikuti segala sesuatunya tanpa melalui pengujian.

Sementara itu, kalau kita melihat kondisi kekristenan saat ini, timbul pertanyaan apakah kerajaan sorga dapat ditegakkan di muka bumi ini ? Dengan latar belakang pemahaman-pemahaman yang sedemikian, kami mengajukan usulan untuk dipertimbangkan oleh para pemimpin saat ini. Motivasi kami adalah agar kehendaknya jadi di bumi seperti di sorga, agar kerajaanNya datang di muka bumi ini.

1.2 Sistematika Pembahasan.

Tulisan ini dimulai dengan mengungkapkan latar belakang pemahaman-pemahaman serta motivasi yang ada. Selanjutnya, dijelaskan apa itu komunitas kerajaan atau gereja rumah. Setelah menguraikan dengan ringkas apa kata Alkitab mengenai gereja serta penyebab kejatuhannya, bagian ini menekankan perlunya melihat takdir gereja agar kita tetap berada di jalur kehendakNya.

Bagian selanjutnya menjelaskan konsep organism leadership network, dengan mengacu pada simbol bintangdi kitab Wahyu pasal 12. Juga dijelaskan bentuk kerja sama awal, yang mungkin dilakukan para pemimpin saat ini. Sebelum kesimpulan, tulisan ini mengungkapkan rencana 10 tahun kedepan untuk pengembangan komunitas kerajaan.

2.Komunitas kerajaan [ gereja rumah ]
2.1 Apa Kata Alkitab Mengenai Gereja.

Sekalipun Alkitab ditulis oleh kurang lebih 40 orang, dalam rentang waktu sekitar 1700 tahun, tetapi Alkitab mempunyai satu tema pokok yang merupakan benang merahnya, yaitu Kristus dan Gereja. Dalam setiap kitab, mulai dari Kejadian sampai Wahyu, kita dapat melihat bagaimana Kristus dan Gereja diungkapkan dan diwahyukan, baik berupa lambang maupun realitanya. Secara umum, dapat dikatakan Perjanjian Lama mengungkapkan Kristus dan Gereja secara lambang, sedangkan Perjanjian Baru mewahyukan realitanya. Oleh karena itu, didalam Perjanjian Lama, gereja dinyatakan dalam lambang-lambang dan dalam Perjanjian Baru, gereja dinyatakan realitanya.

Didalam Perjanjian Lama, setidaknya gereja dilambangkan oleh 10 lambang, dimana 7 diantaranya merupakan lambang perempuan, 2 lambang tempat kediaman, dan 1 merupakan lambang bangsa. Secara ringkas, lambang-lambang tersebut adalah :

- Hawa, mewahyukan terjadinya gereja [ Kejadian 2:18-24 ].
- Ribka, mewahyukan gereja yang terpilih dan terpanggil dari dunia [ Kejadian 24 ].
- Asnat, mewahyukan gereja yang diperoleh Kristus dari dunia [ Kejadian 41:45 ].
- Zipora, mewahyukan gereja dalam keberadaannya di padang gurun.
- Ruth, mewahyukan gereja yang tertebus.
- Abigail, mewahyukan gereja yang militan [ 1 Samuel 25 ].
- Sulamit, mewahyukan gereja yang bangkit serta memperoleh kemuliaan.
- Kemah Suci.
- Bait Suci.
- Bangsa Israel.

Didalam Perjanjian Baru, realitas gereja diwahyukan. Secara ringkas, akan dijelaskan disini realitas gereja, yaitu:

- Gereja adalah Rumah Allah [ 1 Timotius 3:15 ].
- Gereja adalah tempat kediaman Allah di dalam Roh [ Efesus 2:21-22 ].
- Gereja adalah kerajaan Allah saat ini [ Kol. 1:13; Ef. 2:19; 1 Pet. 2:9; Wah. 1:5-6 ].
- Gereja adalah Tubuh Kristus [ Ef. 1:23 ].
- Gereja adalah satu manusia baru.
- Gereja adalah mempelai Kristus [ Ef. 5:25-27 ].
- Gereja adalah laskar rohani [ Ef. 6:10-20 ].
- Gereja adalah penopang dan dasar kebenaran [ 1 Tim. 3:15-16 ].
- Gereja adalah Allah yang menyatakan diri dalam rupa manusia [ 1 Tim. 3:16 ].
- Gereja adalah kaki dian emas [ Wah. 1:11-20 ].

Dalam uraian singkat diatas, gereja dijelaskan secara universal. Bagaimana gereja tampil di muka bumi ini secara lokal ? Didalam Alkitab, nama gereja hanya digabung dengan nama kota di suatu lokal tertentu, misalnya gereja di Yerusalem, gereja di Korintus, gereja di Efesus dan seterusnya. Jadi nama gereja di Alkitab tidak pernah di gabung dengan nama pemimpinnya, nama aliran, nama kebenaran tertentu, ataupun nama organisasi. Realita gereja seperti diwahyukan Alkitab sebenarnya tidaklah rumit, walau bukan berarti dangkal. Gereja yang tampil di setiap kota dijelaskan dengan gamblang di kitab Kisah Para Rasul. Didalam kitab ini, diuraikan bagaimana kehidupan orang-orang yang dipimpin Roh Kristus dalam setiap lokal. Bagaimana mereka bertemu dalam rumah-rumah secara spontan serta saling membangun. Para pemimpinnya, kita lihat, bukanlah orang-orang yang suka menarik murid-murid kepada diri mereka sendiri serta senang mencari pengikut, apalagi memperkaya diri dengan memanfaatkan umat Tuhan. Melainkan mereka menjadi hamba yang melayani serta berlaku sebagai sesama saudara terhadap umat Tuhan. Otoritas yang dimiliki para pemimpinnya benar-benar rohani, dan bukan otoritas yang tercipta karena adanya hierarki dalam organisasi. Tidak satupun pemimpin yang memberi nama pada gereja atau membangun organisasinya sendiri.

Sekarang begitu banyaknya nama gereja atau organisasi gereja di muka bumi ini. Bahkan pada umumnya, umat Tuhan dan juga para pemimpinnya, tidak merasa canggung lagi memberi nama pada gereja ataupun memperlakukan gereja sedemikian sehingga menjadi semacam organisasi keagamaan saja. Di beberapa Negara tertentu, memang pemerintahnya mencampuri soal-soal yang bersangkut paut dengan urusan kepercayaan rakyatnya. Dalam kondisi sedemikian, sah-sah saja membuat nama organisasi gereja sebagai pertanggung-jawaban kita kepada pemerintah, untuk menggenapi firman Tuhan, berikanlah pada kaisar, apa yang harus kamu berikan pada kaisar, serta pada Allah, apa yang harus kamu berikan pada Allah. Tetapi apabila para pemimpin membangun organisasi gereja, sehingga memperoleh otoritas [ serta tentu saja keuntungan-keuntungan lainnya juga ] atas umat Tuhan karena posisinya didalam organisasi, maka persoalannya menjadi lain.

Saat ini gereja telah hancur berkeping-keping, bahkan menjadi ribuan keping. Sebagian anak-anak Tuhan berada di dalam naungan organisasi tertentu, sebagian lagi berada di organisasi yang lain. Dalam satu kota saja, misalnya Jakarta, mungkin ada puluhan atau bahkan ratusan organisasi dimana didalamnya terdapat anak-anak Tuhan [ maksudnya orang Kristen yang telah lahir baru ]. Dalam kondisi sedemikian, tidak ada lagi gereja di Jakarta, sebab para anggotanya telah tercerai-berai kedalam berbagai organisasi yang ada. Tetapi Tuhan tetap mempunyai anak-anakNya yang merindukan pulihnya gereja di Jakarta, serta kembali kepada kesederhanaan kehidupan gereja mula-mula. Anak-anak Tuhan yang mempunyai kerinduan seperti ini, kita istilahkan komunitas kerajaan atau gereja rumah. Ini sekedar istilah yang kita gunakan untuk mengenali anak-anak Tuhan yang mempunyai kerinduan pulihnya gereja di kota mereka, serta telah melihat pecahnya gereja kedalam berbagai organisasi.

2.2. Penyebab Kejatuhan Gereja.

Banyak orang telah menulis tentang kejatuhan gereja dan ulasan mengenai penyebabnya. Ada yang menulis bahwa, penyebab utama kemerosotan yang dialami gereja waktu itu adalah mulai dicampur-adukkannya kehidupan gereja dengan kebiasaan-kebiasaan agama kafir dan budaya duniawi. Penulis lain mungkin mengungkapkan penyebab yang lain lagi. Tetapi saat ini kita perlu melihat apa kata Alkitab tentang penyebab kejatuhan gereja.

Sesungguhnya Paulus telah bernubuat tentang kejatuhan gereja kepada para penatua gereja di Efesus, ketika ia berada di Miletus dalam perjalanannya ke Yerusalem. Nubuat ini begitu pentingnya bagi para pemimpin gereja untuk diperhatikan, karena kalau tidak, maka tanpa sadar pemimpin ini akan berbuat tepat seperti yang telahAku tahu[ ayat 29]. Jadi Paulus telah mengetahui dengan pasti bahwa akan ada para pemimpin gereja yang akan menyimpangkan murid-murid dengan maksud supaya mengikuti pemimpin, dan bukan Tuhan Yesus.

Bagaimanakah nubuat ini tergenapi ? Sederhana saja sdrku, nubuat ini digenapi dengan tampilnya pemimpin-pemimpin yang meninggikan diri serta menyebar ajaran palsu dengan maksud menarik murid-murid kepada diri mereka sendiri. Ada banyak cara yang dilakukan dan alat yang digunakan para pemimpin untuk menarik murid-murid. Salah satu cara dan alat ampuh yang digunakan para pemimpin adalah memasukkan murid-murid kedalam organisasi, serta memberi pengajaran-pengajaran yang membuat murid-murid sulit keluar dari cengkeraman organisasi tersebut. Kesulitan untuk keluar dari organisasi ini, bisa disebabkan oleh kebanggaan, ketakutan atau kebutaan murid-murid, karena pengajaran palsu tersebut. Memang ada banyak pemimpin yang melakukan ini tanpa sadar, walaupun ada banyak juga yang melakukannya dengan sadar. Tetapi, sadar atau tidak sadar, akibatnya jelas, yaitu gereja tercabik-cabik menjadi kumpulan-kumpulan anak Tuhan yang tersebar di dalam berbagai organisasi yang ada, sehingga kekuatan gereja jauh merosot dibanding gereja mula-mula.

Perlu kita ingat bahwa organisasi itu sendiri hanyalah alat yang digunakan para pemimpin untuk mencapai maksud-maksudnya. Dalam pengertian tertentu, Alkitab tidak menentang organisasi. Bahkan Alkitab mengajarkan agar kita tunduk pada pemerintah, yang sebenarnya dapat di kategorikan sebagai organisasi politik. Pendidikan juga telah diorganisasikan menjadi lembaga-lembaga, dimana Alkitab menganjurkan agar murid-murid patuh pada guru mereka, dan para orang tua tunduk pada peraturan lembaga. Perdagangan juga telah diorganisasikan menjadi perusahaan-perusahaan, dimana Alkitab menganjurkan agar para karyawan patuh pada atasan mereka. Yang ditentang Alkitab adalah perbuatan para pemimpin gereja, yang menarik murid-murid dengan menggunakan organisasi sebagai alatnya.

2.3 Melihat Gereja Masa Depan

Melihat gereja masa depan, merupakan hal yang sangat penting saat ini. Setelah kita menyadari apa kata Alkitab mengenai gereja dan melihat kejatuhannya, selanjutnya akan kemanakah gereja ? Dengan melihat arah pergerakan gereja di masa yang akan datang, bukan saja kita memiliki visi, namun seluruh hidup dan ministri kita juga akan bergerak sesuai kehendak Tuhan.

Sebenarnya masalah tentang melihat ini, sudah disinggung Yesus dalam Matius 6:22-23, Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik teranglah seluruh tubuhmuDisini Yesus menegaskan peranan mata yang mana mempengaruhi keseluruhan tubuh. Kalau penglihatan seseorang baik, maka keseluruhannya juga akan baik. Kalau penglihatan seseorang akan gereja di masa yang akan datang itu baik dan tepat, maka keseluruhan ministri dan hidupnya juga baik. Jadi, khotbah seseorang, aktivitasnya, tujuannya, penggunaan waktu, dana dan sumber-sumber daya lainnya, rencananya, kepemimpinannya, bahkan perkembangan karakternya juga, mutlak ditentukan oleh apa yang dilihatnya tentang akan menjadi apa gereja di masa yang akan datang.

Sebelum Musa membangun kemah yang merupakan lambang gereja, ia diberi penglihatan diatas gunung serta peringatan agar,engkau membuat semuanya itu menurut contoh yang telah ditunjukkan kepadamu diatas gunung itu.Penglihatannya ini membuat Musa dikenal sebagai seorang yang, setia dalam segenap rumah Allah sebagai pelayanIbrani 3:5. Nampaknya saat ini banyak orang Kristen yang begitu kabur penglihatannya akan gereja di masa yang akan datang. Bahkan banyak orang Kristen tidak memahami apa itu gereja. Mereka menyebut sesuatu itu gereja, namun ternyata hanya organisasi keagamaan atau mungkin hanya denominasi tertentu saja. Dalam kondisi penglihatan yang begitu kabur, tidak mungkin seseorang dapat melihat gereja di masa yang akan datang.

Disini akan dijelaskan kondisi gereja di-masa depan seperti yang diuraikan dalam kitab Wahyu. Karena kitab Wahyu adalah kitab yang memakai bahasa simbol, maka gereja juga mendapat simbol, yaitu perempuan [Wahyu ps. 12 dan 17-18 ], dan juga kota [ Wahyu 17-18 dan 21 ]. Nampaknya disini, kondisi gereja masa depan akan dapat dikategorikan menjadi dua, dimana didalamnya masing-masing terdapat anak-anak Tuhan. Didalam perempuan Wahyu 12, tentunya ada anak-anak Tuhan, namun didalam perempuan Wahyu 17-18, juga ada anak-anak Tuhan [ Wahyu 18:4 ].

Dalam tulisan ini, akan dibandingkan dua kategori ini. Didalam Wahyu 17-18, simbol perempuan mendapat sebutan pelacur, dan didalam Wahyu 12, tidak disebutkan secara jelas apa sifat dasar perempuan ini. Barangkali dengan mengingat sejarah bahwa Yesus sebagai Anak laki-laki Allah yang dilahirkan oleh perawan Maria, kita dapat menafsirkan bahwa perempuan Wahyu 12 ini adalah perawan yang melahirkan anak-anak Allah yang dewasa. Kalau benar demikian, betapa berbedanya sifat dasar kedua perempuan ini ! Kita tahu bahwa pelacur menerima benihdari banyak pria, sedangkan perawan [ yang hamil secara mujizat seperti Maria ], menerima benihdari Satu Pribadi yaitu Roh Kudus. Dan perlu kita ingat, bahwa didalam kedua perempuan ini terdapat anak-anak Tuhan yang sejati.

Selanjutnya, kedua kategori gereja masa depan menurut Kitab Wahyu yang mendapat simbol kota, juga memiliki sifat dasar yang sangat berbeda. Di pasal 17-18, sifat dasar kota adalah besar, sedangkan di pasal 21, sifat dasar kota adalah kudus. Nampaknya dimasa yang akan datang, pikiran anak-anak Tuhan akan terbagi menjadi dua. Yang satu memikirkan dan mementingkan yang kudus, sementara yang lain memikirkan dan mementingkan yang besar.

Telah disinggung bahwa di dalam kedua perempuan ini, terdapat anak-anak Tuhan yang sejati, artinya orang-orang Kristen yang telah lahir baru. Tetapi perlu kita ingat bahwa takdir akhir ke dua perempuan ini sangat berbeda. Perempuan Wahyu 12, melahirkan anak-anak Allah yang dewasa, sedangkan perempuan Wahyu 17-18, mengalami penghakiman Allah sehingga, ia tidak akan ditemukan lagi[ Wah. 18:21 ]. Apabila anak-anak Tuhan dapat memahami hal ini, maka mereka tentu akan mengambil keputusan-keputusan yang akan menentukan seluruh hidup dan ministrinya.

Di akhir zaman ini, Allah menggerakkan beberapa anakNya untuk kembali kepada esensi hidup gereja mula-mula. Kegerakkan ini merupakan tanda bahwa penglihatan rasul Yohanes di kitab Wahyu pasal 12, mulai digenapi. Mereka yang kembali kedalam esensi hidup gereja mula-mula, sering dikenali dengan istilah komunitas kerajaan atau gereja rumah atau mungkin istilah lainnya. Kami percaya bahwa komunitas kerajaan [ gereja rumah ] seperti ini, akan menjadi tempat pembentukkan dan pemrosesan agar anak-anak Tuhan dapat bertumbuh pada waktunya, menjadi gereja seperti yang dilambangkan oleh perempuan Wahyu 12.

3. Organism Leadership Network [ Jejaring Kepemimpinan Organisme ].
3.1 Penjelasan Istilah.

Didalam kamus, organism berarti makhluk hidup dengan anggota-anggota yang bekerja secara bersama-sama. Yang dimaksud makhluk hidup disini berarti suatu keberadaan yang mempunyai kehidupan. Jadi, baik manusia, binatang serta tumbuh-tumbuhan, termasuk dalam kategori makhluk hidup. Kita menggunakan istilah organism, karena gereja adalah sesuatu yang hidup. Tetapi perlu diingat bahwa hidup gereja, bukanlah jenis kehidupan yang dijalani oleh manusia alamiah [ natural man ]. Dalam bahasa Yunani, ada 3 kata yang dipakai untuk menjelaskan hidup. Pertama, bios, yang berarti suatu jenis kehidupan dengan makna yang umum. Tuhan Yesus menggunakan kata ini ketika memberi komentar mengenai persembahan seorang janda. Kedua, psuche, yang berarti jenis hidup jiwa manusia. Ketiga, zoe, yang berarti jenis hidup Allah. Gereja adalah orang-orang yang sedang belajar menjalani hidup zoe, dan bertumbuh menjadi manusia Allah oleh kekuatan transformasi hidup zoe. Jadi, organism yang kita maksud adalah manusia dengan hidup zoe.

Kita menggunakan istilah organism, untuk mengingatkan orang-orang bahwa gereja bukanlah organisasi. Sebab organisasi itu menempatkan orang-orang dalam suatu kotaksesuai fungsi dan tugas, serta membuat garis komando supaya suatu kotaktertentu mengetahui kepada siapa ia harus bertanggung jawab, dan juga mengetahui siapa saja yang akan bertanggung jawab padanya. Otoritas atau wewenang suatu kotaktertentu semata-mata tergantung posisinya didalam struktur organisasi. Pelayanan seseorang juga tergantung posisinya didalam struktur organisasi. Bukan saja otoritas dan tugas pelayanan, tetapi kemuliaan serta berkat-berkat yang lainnya juga sangat tergantung posisinya didalam struktur. Dalam kondisi sedemikian, sudah tidak relevan lagi kalau orang-orang didalam suatu kotaktertentu bertanya tentang kehendak Tuhan, hidup dipimpin Roh, atau mengikut Anak Domba kemana saja Ia pergi. Keadaan ini bukanlah gereja seperti yang dijelaskan didalam kitab Kisah Para Rasul, dimana orang-orang mengikut Tuhan dan dipimpin Roh Kudus. Jadi, gereja adalah organisme, dan bukan organisasi.

Penggunaan istilah organism juga dimaksud untuk menjelaskan jenis hubungan yang ada diantara anggota gereja, dan lebih khusus lagi diantara para pemimpin. Hubungan yang ada diantara sesama anggota gereja bukanlah jenis hubungan antara sesama anggota organisasi, melainkan jenis hubungan kaki - tangan. Hubungan kaki - tanganterjadi karena keduanya merupakan anggota dari satu organisme, dan juga karena keduanya mutlak berada dibawah kendali kepala. Hubungan ini demikian harmonisnya, sehingga tidak ada konflik sama sekali diantara keduanya. Pergerakan tangan maupun kaki, mutlak diatur oleh kepala. Kaki tidak mengatur tangan, ataupun sebaliknya. Semua pengaturan berasal dari kepala, namun antara kaki dan tangan terjadi hubungan saling membangun, saling melengkapi, saling menundukkan diri, saling mengasihi. Hubungan salingyang seperti inilah yang seharusnya ada diantara anggota gereja. Dalam pemahaman yang seperti inilah kita dapat mengerti mengapa Yesus berkata, Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias[Matius 23:10]. Dengan perkataan ini, Yesus bukan mengajarkan bahwa gereja tidak memerlukan pemimpin di muka bumi ini selain Mesias. Tetapi Ia sedang menekankan bahwa, kamu semua adalah saudara[ayat 8]. Hubungan saling, hubungan kaki tangan, dan hubungan semua adalah saudara, hanya dimungkinkan apabila hakikat gereja yang adalah organisme, tidak diganggu gugat, dalam arti tidak di-organisasikan. Ketika gereja di organisasikan, maka yang dihancurkan adalah hakikat gereja, dan juga hubungan diantara sesama anggotanya.

Hubungan anggota gerejayang telah di-organisasikan, adalah hubungan clergy-laity, dan bukan hubungan organisme. Inilah perkara yang dibenci Tuhan Yesus, dimana dalam Wahyu 2:6 diungkapkan dengan istilah nikolaus. Istilah nikolaus berasal dari kata niko, yang berarti menaklukkan, dan kata laos, yang berarti kaum awam. Jadi nikolaus artinya menaklukkan kaum awam. Mereka yang memahami organisasi, akan tahu bahwa didalam organisasi terjadi pembagian kekuasaan [otoritas] sedemikian sehingga terciptalah hubungan manajer-bawahan, atau apa yang telah kita sebut sebelumnya, yaitu hubungan clergy-laity. Jadi mengorganisasikan gereja bukanlah perkara yang ringan. Kita perlu melihat apa yang ada dibalik perbuatan itu. Sesungguhnya, disadari atau tidak, mengorganisasikan gereja adalah tindakan para pemimpin untuk menaklukkan dan menguasai jemaat.

Sementara itu, istilah leadership yang dimaksud adalah kemampuan memimpin. Karena pemimpin gereja adalah Tuhan Yesus Kristus, maka apa yang kita maksud pemimpin-pemimpingereja itu tidak lain adalah hamba-hamba Tuhan Yesus, yang dianugerahi kemampuan untuk memimpin. Dan karena gereja adalah organisme, maka kemampuan memimpin yang dianugerahi oleh Tuhan Yesus adalah kemampuan memimpin gereja SEBAGAI ORGANISME. Pemimpin organisme ini sangat berbeda dengan pemimpin organisasi, karena jenis otoritas dan fokusnya berbeda. Otoritas pemimpin organisme berasal dari hidup zoe, sedangkan otoritas pemimpin organisasi berasal dari posisinya didalam struktur. Kepemimpinan organisasi sangat mengutamakan atau berfokus pada kemampuan untuk melakukan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan, sementara itu kepemimpinan organisme berfokus pada membangun hubungan dalam konteks hidup zoe, sedemikian sehingga gereja bertumbuh dalam hidup zoe. Artinya gereja menjadi semakin dekat serta mengenal hidup zoe yang adalah Kristus itu sendiri. Kepemimpinan organisasi adalah goal oriented atau people oriented atau kombinasinya, sementara itu kepemimpinan organisme adalah Christ oriented.

Para pemimpin gereja mula-mula adalah pemimpin organisme. Petrus, Paulus dan Yohanes adalah pemimpin yang sangat Christ oriented, dan berfokus pada pertumbuhan hidup zoe. Mereka semua tidak membangun organisasi, serta tidak hidup dan melayani dalam konteks organisasi. Ada yang mengatakan bahwa Yesus itu pemimpin organisasi, karena Ia mempunyai seorang bendahara bernama Yudas. Kalau benar demikian, berarti Yesus adalah pemimpin organisasi yang sangat buruk, karena Ia membiarkan uang organisasiNya dicuri terus menerus oleh bendahara Yudas yang tidak jujur. Sungguh menggelikan ! Sebagian lagi mengatakan bahwa Kis. 6:1-6, adalah peneguhan dan persetujuan pemimpin gereja mula-mula akan perlunya organisasi, untuk mengatasi masalah pembagian persembahan kepada janda-janda. Tetapi kalau diperhatikan dengan sungguh-sungguh, Kis 6:1-6, sama sekali tidak berbicara mengenai organisasi, melainkan hanya pembagian tugas dalam suatu organisme. Sama seperti tangan dan kaki mempunyai tugas dan fungsinya masing-masing, demikian juga anggota komunitas ini [ gereja di Yerusalem ] mempunyai fungsinya masing-masing. Dalam Kis 6:1-6, fungsi masing-masing anggota komunitas diperjelas dan dibagi-bagi, agar dapat mengatasi masalah yang ada. Sebagian anggota organisme berfungsi sebagai pelayan meja, sebagian lagi berfungsi sebagai pelayan firman. Jadi Kis 6:1-6, samasekali tidak berbicara organisasi melainkan fungsi. Bahkan sebenarnya kata organisasi tidak ada didalam Alkitab. Istilah ini berasal dari sistem pemerintahan manusia, bukan pemerintahan Allah. Jadi semua pemimpin gereja mula-mula adalah pemimpin organisme. Mereka semua menjalankan prinsip-prinsip kepemimpinan organisme.

Sejauh ini telah dijelaskan makna istilah organism dan leadership. Sekarang akan dijelaskan makna istilah network dalam kaitannya dengan kepemimpinan organisme. Network yang dimaksud adalah connected system [ sistem terkait ]. Kepemimpinan organisme [ organism leadership ] adalah suatu sistem. Artinya semua yang dijalankan oleh tim kepemimpinan organisme, baik itu bidang literatur, pengajaran, perkunjungan, retreat, seminar, training, ataupun menjalankan proyek-proyek membuat tenda[ seperti Paul the Tent Maker] saling berhubungan dan merupakan suatu kesatuan, menjadi suatu sistem kepemimpinan, dengan tujuan mengimpartasi visi, misi serta roh hidup zoe bagi gereja demi pertumbuhannya. Tetapi perlu diingat bahwa sistem kepemimpinan organisme ini adalah sistem terkait, dalam arti, antara satu tim kepemimpinan organisme dengan tim kepemimpinan organisme lainnya, memiliki hubungan organis dan saling terkait menjadi suatu organism leadership connected system [ sistem terkait kepemimpinan organisme ]. Sebagai contoh di dalam Alkitab adalah adanya hubungan organis [ fellowship ] di antara tim kepemimpinan Paulus[ di Antiokhia ], dengan tim kepemimpinan Petrus[ di Yerusalem ], yang mereka nyatakan dengan berjabat tangan [ Galatia 2:9 ]. Tentu masih ada tim kepemimpinan organisme lainnya, seperti tim kepemimpinan Apolosdan yang lainnya, namun mereka semua mempunyai hubungan organis satu dengan yang lain.

Jadi istilah Organism Leadership Network atau diterjemahkan menjadi Jejaring Kepemimpinan Organisme [JKO], adalah suatu hubungan yang bersifat organis, antara satu tim kepemimpinan organisme dengan tim kepemimpinan organisme lainnya. Hubungan ini demikian pentingnya bagi pertumbuhan Tubuh Kristus, karena ini adalah hubungan urat-urat dan sendi-sendiseperti yang dimaksud dalam Kolose 2:19, yaitu hubungan yang menunjang dan mengikat menjadi satu.

3.2 Bintang-bintangPerempuan (Wahyu 12.)

Telah dinyatakan sebelumnya bahwa takdir akhir gereja, seperti dilambangkan oleh perempuan Wahyu 12, adalah melahirkan anak-anak Allah yang dewasa. Gereja yang bagaimana, atau mungkin lebih tepat, komunitas yang seperti apa, yang pada akhirnya dapat melahirkan anak-anak Allah yang dewasa.

Seperti kita ketahui bahwa kitab Wahyu mengungkapkan sesuatu dengan bahasa simbol, demikian juga perempuan Wahyu 12 ini, penuh dengan simbol-simbol yang mengungkapkan seperti apa identitas komunitas yang dimaksudkannya. Dalam Wahyu 12:1 tertulis, Maka tampaklah suatu tanda besar di langit : Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan dibawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. Realitas apa yang diungkapkan oleh matahari, bulan, dan secara khusus ke-12 bintang ini ?

Bila kita lihat kembali kitab Maleakhi 4:2, ada tertulis, Tetapi kamu yang takut akan namaKu, bagimu akan terbit surya kebenaranKarena komunitas yang dilambangkan oleh perempuan Wahyu 12, dapat disebut komunitas yang takut akan Nama Tuhan, serta surya [ matahari ] kebenaran sejati kita adalah Kristus, maka dapat disimpulkan bahwa matahari di Wahyu pasal 12, adalah Kristus, sebagai terang bagi komunitas yang takut akan NamaNya.

Sementara itu, terang yang memancar dari bulan, adalah terang pantulan. Artinya, terang yang dipancarkan bulan, hanyalah merupakan bayang-bayangdari terang matahari yang sesungguhnya. Kristus sebagai terang kita yang sejati, juga memiliki bayang-bayangnya, seperti yang telah dinyatakan melalui Hukum Taurat dengan segala peraturannya. Sebab dalam Kolose 2:16-17 tertulis, mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus. Jadi, bulan di Wahyu 12, dapat dipahami sebagai Hukum Taurat, lengkap dengan segala peraturan mengenai makanan, minuman, hari raya, dst.

Simbol perempuan di Wahyu 12:1, diselubungi matahari, dimana bulan berada di bawah kakinya. Artinya bahwa komunitas yang di lambangkan oleh perempuan ini, sedemikian dipenuhi Roh Kristus, sehingga ia tidak hidup di alam bayang-bayanghukum Taurat dengan segala peraturannya. Ketika gereja mulai jatuh dan realitas Kristus semakin memudar, maka pola-pola ibadah di dalam Perjanjian Lama-pun mulai masuk. Gereja mulai sibuk dengan rutinitas ibadahbergaya Perjanjian Lama, sementara pengalaman bersama Kristus semakin menghilang. Bahkan pengalaman yang sangat mendasar, seperti lahir baru-pun mulai meninggalkan gereja.

Selanjutnya, perempuan ini mengenakan mahkota dari 12 bintang diatas kepalanya. Makna dari simbol bintang ini, dijelaskan dalam Wahyu 1:20, dimana bintang berarti malaikat jemaat. Malaikat disini tidak harus berarti makhluk sorgawi, karena makna sesungguhnya dari malaikat disini adalah seorang utusan. Karena ketujuh surat di dalam Wahyu pasal 2 dan 3, terutama ditujukan kepada bintang-bintangini, maka dapatlah disimpulkan bahwa bintangyang dimaksud disini adalah para pemimpin jemaat.

Sementara itu, angka 12 di dalam Alkitab mengacu pada pemerintahan ilahi. Dengan adanya 12 suku Israel, 12 Rasul Anak Domba, serta 12 pintu gerbang Yerusalem Baru dan 12 malaikat di atasnya, semua ini menjelaskan bahwa angka 12 berbicara tentang pemerintahan ilahi. Jadi kita lihat bahwa komunitas yang dilambangkan oleh perempuan Wahyu 12 ini, berada dibawah suatu kepemimpinan ilahi. Sekalipun komunitas ini adalah suatu organisme ilahi yang semua anggotanya berada dibawah perintah langsung sang Kepala, namun bukan berarti tanpa kepemimpinan manusia. Hanya perlu di ingat bahwa manusia bintangini, bukanlah pemimpin organisasi, dan sama sekali tidak menjalankan otoritas atas jemaat karena jabatannya didalam organisasi. Komunitas yang dilambangkan oleh perempuan Wahyu 12 ini, sama sekali tidak bergerak dan hidup di alam organisasi, karena ia adalah organisme ilahi. Jadi manusia bintangini menjalankan kepemimpinannya atas komunitas perempuan Wahyu 12, dengan otoritas ilahi, dan bukan otoritas organisasi.

Bagaimana manusia bintangini mendapatkan otoritas ilahinya ? Dengan cara bintang-bintangini bersatu sedemikian sehingga membentuk sebuah mahkota, artinya kesatuan bintang-bintangini menghasilkan otoritas ilahi. Para pemimpin organisme, bergerak dan menjalankan kepemimpinannya secara tim, dimana masing-masing anggotanya memiliki hubungan organis satu dengan yang lain. Hubungan organis diantara para pemimpin organisme inilah, yang menghasilkan otoritas untuk melayani gereja. Apabila hubungan organis diantara para pemimpin ini diubah menjadi hubungan organisasi, maka otoritas ilahi yang ada di tengah-tengah mereka menjadi hilang.

Kepemimpinan organisme ini adalah kepemimpinan tim dalam arti egaliter, yaitu semua anggotanya sederajat. Tidak ada istilah senior, the first among equals, ketua tim, koordinator tim, atau yang lainnya. Istilah-istilah ini hanya berlaku dan ada dalam konteks organisasi, tidak dalam konteks organisme. Ini bukan berarti tidak ada pemimpin organisme yang lebih berkarunia, lebih dewasa dalam pertumbuhan hidup zoe, lebih berpengalaman, lebih berpengetahuan dari yang lainnya. Tetapi ini berarti semua adalah sesama saudara dalam arti yang sesungguhnya, serta menjadi hamba satu dengan yang lain, dan saling melengkapi, serta tidak ada satu orangpun yang menguasai, mengontrol, apalagi memanfaatkan yang lain demi keuntungan sendiri.

Dampak dari kepemimpinan organisme ini sangat luar biasa yaitu, lahirnya anak-anak Allah yang dewasa, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi[ Wahyu 12:5 ]. Kepemimpinan organisme inilah yang akan menghadirkan kerajaan Allah di muka bumi.

3.3 Bentuk Kerja Sama.

Kerja sama yang dimaksud disini, perlu dipahami dalam bentuk idealnya, dan juga dalam bentuknya yang sedang dalam proses menuju bentuk idealnya [ masih bentuk awal-nya ]. Memang bentuk kerja sama yang sempurna itu akan terjadi secara alamiah, apabila jenis hubungan organis, egaliter, serta kesatuan di antara para pemimpin organisme ini telah mencapai tingkat idealnya, seperti digambarkan oleh bintang-bintangdi Wahyu 12. Apabila tingkat idealnya tercapai, maka bentuk kerja sama diantara para pemimpin organisme, telah menjadi seperti bentuk kerja sama tangan kakidi dalam satu tubuh. Bentuk kerja sama tangan kakiini begitu harmonis, mengalir, dan secara sempurna saling melengkapi. Tetapi kita perlu ingat bahwa bentuk kerja sama ideal seperti tangan kakiini, tidak mungkin dicapai tanpa suatu proses. Jadi, perlu dipahami bentuk idealnya, dan juga bentuknya yang sedang dalam proses.

Yang akan di uraikan disini adalah kerja sama para pemimpin organisme, dalam bentuk awal-nya. Kenyataannya para pemimpin rohani saat ini, telah memiliki ministri sendiri yang telah dirintisnya. Atau kalau komunitas ini kita sebut gereja rumah, maka setiap pemimpin sudah memiliki rumahnyasendiri. Bagaimana seharusnya bentuk awal kerja sama diantara para pemimpin yang sudah memiliki rumahnya, agar masing-masing pemimpin tidak ada yang merasa diganggurumahnya atau merasa dirugikan. Karena kita yakin bahwa kerja sama dalam Tuhan haruslah menimbulkan keuntungan tambahan, sesuai dengan yang tertulis, satu orang dapat mengejar seribu orang, dan dua orang dapat membuat lari sepuluh ribu orang[ Ulangan 32:30 ]. Jadi, keuntungan tambahan akibat dua orang bekerja sama, menurut ayat ini, adalah delapan ribu. Maka kerja sama dalam Tuhan, pastilah membuat masing-masing pihak menikmati keuntungan tambahan, serta tidak ada yang dirugikan.

Disini akan diusulkan bentuk awal kerja sama para pemimpin agar selalu menghasilkan keuntungan tambahan. Yang pertama diperlukan adalah adanya suatu pertemuan round table, yaitu suatu pertemuan dimana masing-masing pemimpin dapat berbagi firman dan pengalaman, tanpa ada satu orangpun yang menguasai. Pertemuan round table ini dijalankan sesuai kesepakatan bersama, baik waktu, tempat maupun hal-hal lainnya. Selain pertemuan round table ini, para pemimpin sebaiknya sesering mungkin berkomunikasi, baik melalui telp, sms, email, atau mungkin group email. Melalui proses saling berbagi ini, para pemimpin diharapkan bertumbuh dalam kesatuan, ke-egaliter-an, dan dalam membangun hubungan organis satu dengan lainnya. Mungkin juga, dua atau beberapa pemimpin menjalankan proyek membuat tendaseperti yang dilakukan Paulus dan Akwila di Korintus [ Kis. 18:3 ]. Semua hal ini dapat menjadi sarana untuk mencapai bentuk ideal kerja sama diantara para pemimpin organisme.

Kalau kita meminjam istilah IGMN [ Integrated Global Mission Network ], sebenarnya kita sedang membangun bentuk kerja sama jaring ikan[ tanpa pusat ] dan bukan jaring laba-laba[ ada pusatnya ]. Artinya setiap pemimpin dapat bekerja sama, tanpa ada pemimpin pusat yang mengatur. Tetapi bentuk kerja sama para pemimpin organisme [ Organism Leadership Network atau Jejaring Kepemimpinan Organisme - JKO ], tetap berbeda dengan model IGMN. Keberbedaan ini disebabkan model IGMN berada dalam konteks organisasi, sedangkan model JKO berada dalam konteks organisme atau tubuh.

Akhirnya, kita perlu selalu ingat agar tidak berada terus-menerus dalam bentuk awalnya dan mengalami stagnasi. Karena tujuan kita adalah mencapai bentuk idealnya, agar gereja di-akhir zaman ini dapat melahirkan anak-anak Allah yang dewasa, serta dapat memerintah bersama Tuhan Yesus di muka bumi, demi kemuliaan Bapa.

4. Pengembangan Komunitas Kerajaan.
4.1 Tujuan, Misi, dan Visi.

Komunitas kerajaan ini mempunyai tujuan, misi dan visinya sendiri. Tujuan yang dipahami disini adalah sasaran akhir yang mungkin dimengerti oleh kita sesuai pewahyuan Allah sendiri. Didalam 1 Korintus 15:28, ada ungkapan Allah menjadi semua didalam semua. Berdasarkan yang dinyatakan Alkitab, inilah kondisi akhir yang akan terjadi setelah Kristus menaklukkan musuh yang terakhir yaitu maut [ ayat 26 ]. Seperti kita ketahui bersama bahwa maut adalah upah dosa [ Roma 6:23 ], maka ungkapan Allah menjadi semua didalam semua mempunyai makna SUATU KONDISI DIMANA SEGALA SESUATU YANG MERUPAKAN AKIBAT DOSA, DITIADAKAN. Inilah tujuan atau sasaran akhir komunitas kerajaan.

Adapun pemahaman misi yang dimaksud adalah segala sesuatu yang menjadi alasan komunitas kerajaan ini ada sekarang. Sesuai dengan tujuan diatas, tentunya komunitas ini ada agar kita bisa saling melengkapi, membangun, menasihati dan mengasihi sampai kita semua mencapai tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, dan sampai komunitas ini melahirkan anak-anak Allah yang dewasa. Inilah alasan mengapa komunitas kerajaan ada di muka bumi. Jadi misi kita adalah saling melengkapi, membangun, menasihati, dan mengasihi.

Visi yang kita maksud adalah sesuatu yang kita lihat didepan, dan juga kita yakini menjadi keadaan kita kelak. Rasul Yohanes melihat,perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan dibawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya.[ Wahyu 12:1 ]. Dan penglihatan ini adalah sesuatu yang akan terjadi segera di muka bumi ini, sesuai dengan Wahyu 1:1,apa yang harus segera terjadi. . Jadi akan ada gereja yang penuh realita kemuliaan Kristus matahari, dan telah menaklukkan terang pantulan bulan Hukum Taurat dengan segala peraturannya, serta dipimpin oleh kepemimpinan organisme 12 bintang, yang merupakan kepemimpinan tim sejati. Dan gereja yang sedemikian, akan segera tampil dimuka bumi ini! Visi Rasul Yohanes ini telah menjadi visi kita juga.

4.2 Kondisi Komunitas Kerajaan Saat Ini.

Komunitas kerajaan adalah komunitas di zaman ini yang menjalankan esensi gereja rumah, dan belajar mempraktekkan prinsip-prinsip kehidupan gereja mula-mula. Karena komunitas ini tidak mempunyai struktur organisasi, maka ia tidak mudah terlihat oleh mata jasmani. Tetapi, bukan berarti komunitas ini tidak ada, atau tidak berkembang. Hanya Tuhan Yesus sebagai gembala sidang komunitas ini, yang mengetahui dengan pasti kondisi domba-dombaNya sekarang.

Di dalam I Raja-Raja 19, nabi Elia pernah berseru bahwa, hanya aku seorang dirilah[ ayat 14 ]. Tetapi Tuhan menjawab bahwa, Aku akan meninggalkan [ have reserved ] tujuh ribu orang[ ayat 18 ]. Dalam pergumulannya, nabi Allah ini merasa hanya ia seorang diri yang mengikut Tuhan, namun kenyataannya ada tujuh ribu orang lainnya lagi yang mengikut Tuhan, sama seperti dia. Di zaman sekarang ini, ada tujuh ribu orangyang telah Tuhan sisihkan untuk maksud-maksudNya sendiri, sesuai kehendak Bapa. Mungkin didalam perjalanan kita, seruan nabi Allah ini menggema di hati. Tetapi kita harus ingat firmanNya, Aku telah menyediakan tujuh ribu orangDalam pemahaman yang seperti inilah, kita harus bekerja mengembangkan komunitas kerajaan agar rencanaNya genap di muka bumi ini.

4.3 Rencana 10 Tahun.

Kerinduan, doa, dan pengharapan kita adalah, dalam 10 tahun kedepan, Jejaring Kepemimpinan Organisme telah menyebar pada 26 propinsi di Indonesia, dan Jakarta Organism Leadership Team telah memiliki kerja sama dengan beberapa lokal di lima benua yang ada. Secara kuantitas, Rencana 10 tahun ini memang tidak terlalu dapat diukur dengan pasti. Tetapi di dalam Kristus, kita perlu terfokus pada kualitas, walaupun juga tidak mengabaikan kuantitas.

4.4 Sumber Keuangan.

Di dalam Perjanjian Baru, khususnya Kisah para rasul, kita melihat bahwa para pelayan Tuhan tidak terlalu mengalami masalah dengan keuangan. Dalam waktu sekitar 200 tahun saja, dunia yang dikenal pada waktu itu telah di injili. Dari manakah sumber keuangan para hamba Tuhan ini ? Kita yakin bahwa Tuhan mempunyai banyak cara untuk memenuhi keuangan hamba-hambaNya. Salah satu caraNya adalah dengan memberkati pekerjaan tangan hamba-hambaNya, sebagai contoh kita lihat Paulus. Dengan membuat tenda, ia dapat memenuhi kebutuhannya dan juga kebutuhan teman-teman seperjalanannya. Memang ia juga sesekali menerima persembahan dari jemaat-jemaat yang ia layani, namun ia tidak menerima gaji tetap setiap bulannya. Oleh sebab itu, organism leadership team dapat juga sesekali mengerjakan proyek membuat tenda, untuk memenuhi kebutuhan keuangan yang ada.

5. Kesimpulan.

Gereja adalah organisme ilahi, dalam arti sekumpulan orang yang sedang belajar dan bertumbuh dalam menjalani hidup zoe. Gereja hidup oleh Roh Kristus. Sekalipun gereja memiliki pemimpin-pemimpin di muka bumi ini, hakikat gereja adalah Tubuh Kristus, yang berarti pemimpin dan kepala gereja adalah Tuhan Yesus, dalam arti yang sebenarnya. Gereja adalah Tubuh Kristus, maka tidak ada satu orang pemimpin-pun yang mempunyai otoritas mengatur gereja, karena gereja hidup dan diatur oleh kepalanya, yaitu Kristus Yesus, dan semua yang lain adalah sesama anggota Tubuh. Sama seperti tangan tidak mempunyai otoritas atas kaki, demikian juga para pemimpin gereja tidak mempunyai otoritas atas anggota Tubuh lainnya. Kalau-pun ada otoritas yang dimiliki oleh pemimpin gereja, itu adalah otoritas yang timbul karena hidup zoe, yaitu otoritas untuk melayani dan menjadi hamba bagi anggota Tubuh yang lainnya. Otoritas yang lahir karena satu anggota lebih dewasa dan mengenal hidup zoe, dibanding yang lainnya.

Oleh sebab itu, tindakan pemimpin mengorganisasikan gereja, akan menghancurkan hakikat gereja yang adalah Tubuh Kristus. Gereja akan memiliki otoritas campuran, yaitu otoritas karena hidup zoe, yang dicampur dengan otoritas yang lahir karena adanya hierarki. Gereja akan memiliki pemimpin campuran, yaitu pemimpin organisasi, yang tercampur dengan pemimpin rohani. Gereja akan memiliki kuasa campuran, yaitu kuasa Allah, yang dicampur dengan kuasa manusia. Kondisi campuran inilah yang dimaksud Alkitab dengan istilah Babel. Makna istilah Babel adalah kekacauan atau campuran [ confusion atau mixed up ].

Tetapi bagaimana apabila terjadi keadaan dimana pemerintah suatu negara, mencampuri dan mengatur hal-hal mengenai kepercayaan rakyatnya. Dalam kondisi sedemikian, untuk menggenapi ketetapan Allah di dalam surat Roma pasal 13, tidak ada salahnya membuat nama organisasi sebagai payunggereja, untuk mewujudkan tanggung jawab kita pada pemerintah. Tetapi payungini hanya dibuat untuk pemerintah, dan dalam kehidupan gereja sehari-hari, payungini tidak diperlukan.

Kepemimpinan gereja haruslah kepemimpinan organisme. Pemimpin organisme tidak menarik murid-murid kepada diri mereka sendiri, apalagi mengambil keuntungan dan menjadikan gereja sebagai commodity. Para pemimpin agama di zaman Yesus, telah membuat Bait Allah menjadi tempat perdagangan, dan karena itu Yesus mengusir semua orang yang berjual beli di dalamnya [ Matius 21:12-13 ]. Salah satu ciri khas babel adalah perdagangan [ Wahyu 18:11-13 ]. Jika para pemimpin menarik murid-murid kepada diri mereka sendiri, maka mereka akan membuat gereja menjadi suatu commodity demi keuntungan mereka.

Para pemimpin organisme, harus membangun hubungan saling diantara mereka. Pemimpin organisme harus menjadi teladan kepada anggota gereja, dalam hal saling membangun, saling menundukkan diri, saling mengasihi dan saling menasihati. Karena para pemimpin organisme memimpin gereja melalui keteladanan. Amin.

Pemimpin dan Kepemimpinan

Penulis : Nomi Br Sinulingga

Kepemimpinan dimulai dengan hati bukan dengan kepala.

Pilkada, sebuah kata yang dekat sekali dengan bangsa ini pada hari-hari ini. Semua media massa memberikan infomasi terbaru tentang pilkada dari semua daerah untuk pelaksaan pemilihan kepala daerah. Tanah Karo, juga sedang mempersiapkan segala sesuatunya agar pelaksanaan pilkada bisa berlangsung dengan sukses. Milis tercinta Takasima ini juga sangat seru dan panas-panasnya dalam pembahasan pilkada dan terlebih membahas calon bupati yang akan dipilih pada pilkada nanti.

Saya sangat tertarik dengan pembahasan pilkada di milis ini. Saya hanya sekedar mengamati dan bingung dengan beberapa posting email yang mengajak saya berfikir pemimpin seperti apakah yang terbaik untuk masyarakat Karo, yang segelintir ada dimilis ini dan menggambarkan siapa dirinya. Apakah anggota milis ini, mewakili gambaran masyarakat Karo, atau kebanyakan mewakili golongan elite intelektual dari masyarakat Karo itu sendiri, menjadi pertanyaan bagi saya. Pemimpin seperti apakah yang tepat untuk memimpin Karo, yang sebagian karakter masyarakatnya nyata di milis ini? Pemimpin seperti apakah yang akan mengubah wajah Tanah Karo, sehingga Tanah Karo yang sudah mulai panas bisa menjadi Tanah Karo Simalem lagi?

Jeffry Wofford mengatakan, “banyak pemimpin yang duduk diposisi pemimpin tapi tidak tahu bagaimana harus memimpin.“

“Ada pemimpin tapi tidak ada kepemimpinan” demikian kata Eka Darmaputra

Berada dipuncak pimpinan, mungkin terlihat suatu yang membanggakan dan sangat menggiurkan untuk menjadi orang nomor satu. Tapi apakah sesuatu yang membanggakan seperti itu harus dikejar dengan semua usaha yang menggunakan “otak“ untuk membangun “proses“ dan menciptakan “kesempatan“ untuk membawa diri kepuncak pimpinan? Kepemimpinan yang dimulai dengan kepala menurut saya hanyalah seorang pemimpin gadungan. Ketika kekuasaan dan kekuatan uang memasuki pikiran, kedua hal itulah yang diandalkan untuk membawa diri menjadi seorang pemimpin. Dan akhirnya memimpin karena posisinya bukan karena kemampuan dirinya untuk memimpin.

Kepemimpinan sangat erat dengan pengaruh. Pengaruh yang positif sehingga anak buah (masyarakat) mengikuti dan mau dipimpin. Tapi seorang pemimpin gadungan akan mengandalkan uang dan membayar orang supaya mengikutinya. Pemimpin gadungan menggunakan kekuasaannya untuk menekan orang lain supaya mengikutinya. Semua orang yang berada dibawah pemimpin seperti ini akan tertekan dan hilang kreatifitasnya

Pemimpin harus memiliki integritas. Integritas adalah suatu prinsip yang didasarkan atas karakter, etika, agama, moral yang baik yang menyatakan siapa dia. Karena dia akan menyelaraskan itu melalui cara berpikir, berbicara, bersikap, bertindak dan mengambil keputusan (konsisten). Seseorang yang punya integritas memiliki kehidupan yang terintegrasi.

Seorang pemimpin perlu diperhatikan kehidupannya. Apakah dia mampu memimpin keluarganya, karena itu akan menunjukkan kemampuannya memimpin komunitas yang lebih besar. Kita sudah memiliki pemimpin sebelumnya untuk dievaluasi, bagaimana dia memimpin keluarga. Pertanyaan yang bisa kita pikirkan berhasilkah kepemimpinannya akan tanah Karo?

Selain mampu memimpin keluarga, pemimpin juga harus mampu memimpin diri sendiri. Mampu memimpin diri sendiri dalam memberi pendapat dengan sopan dan menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Kalau diri sendiri tidak bisa dikendalikan, bagaimanakah orang tersebut bisa memimpin satu daerah? Kaisar Nero membakar kota Roma adalah contoh yang diakibatkan pemimpin yang tidak mampu menguasai diri. Hutan di Tanah Karo semakin gundul dan tanah pertanian semakin gersang akan terjadi apabila kita memiliki pemimpin yang tidak mampu memimpin diri sendiri.

Pemimpin yang berintegritas sangat diperlukan karena dia merupakan pribadi yang bisa dipercaya. Sehingga Visinya untuk tanah Karo bukan sesuatu mimpi saja, tetapi menjadi visi semua masyarakat Karo dan bersama-sama kita akan meraih visi itu dibawah kepemimpinannya. Kualitas penting yang perlu diperhatikan pada setiap calon pemimpin adalah, pengaruh, karakter, keahliannya tentang manusia khususnya orang Karo, semangatnya untuk tanah karo, dan kecerdasan. Kecerdasan yang dimaksud adalah kecerdasan mental yang diperlukan untuk memproses banyak informasi, menyaringnya, mempertimbangkan semua pilihan, dan membuat keputusan yang benar.

Kalau seorang pemimpin hanya menggunakan otaknya untuk menjadi pemimpin di tanah Karo, maka masih banyak yang perlu dibenahi dan di proses untuk membentuk pribadi yang mampu menjadi pemimpin di tanah Karo.

Sebagai manusia, seharusnya kita tidak boleh cuek dengan situasi yang mempengaruhi kehidupan masyarakat. Kita harus mengambil sikap dan sekalipun seakan kita tidak memiliki pengaruh dalam pemilihan kepala daerah. Kita memiliki keluarga, mama, mami, bibi, bengkila di tanah Karo, yang mungkin tidak mengerti dengan semua pemilihan kepala daerah. Mereka hanya tahu bahwa akan dipilih kepala daerah, dan mengharapkan sesuatu yang lebih baik akan terjadi. Keluarga kita yang di kampung, mungkin tidak bisa memahami dan mengkaji calon pemimpin yang ada yang bisa mereka pilih. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk kebaikan tanah Karo. Kita perlu mengenali calon pemimpin dan memberi penilaian apakah dia mampu memimpin tanah Karo atau tidak. Kalau kemampuan calon pemimpin dalam memimpin tanah Karo perlu dipertanyakan, sebagai masyaraka t Karo kita perlu mengambil sikap supaya hal yang lebih buruk dari sebelumnya tidak terjadi lagi atas tanah Karo.

Saya tidak tahu apa yang bisa dilakukan mencegah semua hal-hal yang akan semakin memperburuk keadaan tanah Karo selain munculnya seorang pemimpin yang memiliki kualitas kepemimpinan. Kita masih memiliki waktu untuk mencegah semua yang buruk yang bisa dihasilkan karena pemimpin gadungan yang akan menuju puncak pimpinan. Seseorang yang memimpin karena posisinya, bukan karena kepribadian dan kemampuannya untuk memimpin.

Saya pikir dipuncak itu tidak menyenangkan, karena sendirian.

Kepemimpinan yang dimulai dengan hati untuk kebaikan dan kemajuan tanah Karo akan lebih berpengaruh. Karena segala sesuatu yang dilakukan dengan hati yang tulus akan menyentuh hati.

Saya Pemimpin? Apa Iya Sih?

Penulis : Eka Darmaputera

Bila untuk memenuhi kriteria sebagai pemimpin, seseorang harus kapabel sekaligus fleksibel; pemberani sekaligus hati-hati; tegas sekaligus bijak; berpandangan jauh ke depan sekaligus teguh berpijak di kekinian; dan "sekaligus-sekaligus" yang lainnya lagi; maka, wah, di mana kita dapat menemukan manusia sesempurna itu?

Wajar, bukan, bila kemudian orang berkesimpulan, bahwa pemimpin itu tergolong "makhluk langka"? Cuma bisa dilahirkan, tak mungkin dibentuk. Kemunculannya hanya bisa ditunggu, tak mungkin direncanakan atau diusahakan. Anda ingat bagaimana orang Tibet "mencari" bayi titisan, bakal pengganti Dalai Lama mereka?

Memang tak dapat disangkal, kepemimpinan yang baik tentu saja menuntut persyaratan istimewa. Pemimpin bukan "orang biasa". Lebih sekadar "biasa-biasa". Namun perkenankanlah saya mengingatkan, bahwa terlampau melebih-lebihkannya pun, saya harap jangan Anda lakukan. Sebab akibatnya, bisa panjang dan serius.

APA misalnya? Misalnya orang lalu jadi terlampau cepat menerima begitu saja ketika dipimpin oleh "pemimpin-pemimpin gadungan". Terlalu cepat memaafkan para "pejabat" yang sebenarnya tak lebih dari "penjahat".

Alasan mereka: sebab pemimpin yang memenuhi syarat itu, amat sulit didapat. Jadi, apa boleh buat, tiada rotan akar pun berguna.

Tak mengherankanlah, bila di tengah krisis kepemimpinan yang parah di tanah-air kita sekarang ini, orang tidak merasakan urgensi untuk mempersiapkan kader-kader atau calon-calon pemimpin secara serius dan terencana.

Banyak yang malah memilih untuk pasif menunggu munculnya seorang "satrio piningit" yang entah kapan tibanya. Disebut "piningit", karena sekarang ia masih dalam keadaan "dipingit" atau "disembunyikan", menunggu saat yang ditentukan para dewa untuk tampil.

Jadi kalau sekarang kita dipimpin oleh pemimpin-pemimpin "busuk", ya maklumlah. Boleh saja Anda tidak suka ini pun wajar-wajar saja --, tapi "ojo nggege mongso". Jangan memaksakan keadaan! Jangan memaksakan sesuatu sebelum waktunya! Nrimo saja, ini yang paling bijaksana!

Sikap apatis, fatalis, dan pasif seperti ini amat berbahaya. Sebab secara tak langsung ia membiarkan pemimpin-pemimpin "busuk" bebas merajalela ke mana-mana dengan leluasa.

Dan bila ketidakpuasan cuma bisa ditekan, kita mesti lebih khawatir lagi. Sebab sampai kapan ia bisa bertahan, sebelum meledak?

PAHAMLAH kita sekarang, mengapa begitu amburadulnya keadaan kita. Sebab sang satrio piningit, kepada siapa semua harapan bertumpu, siapa dia sebenarnya tak ada orang tahu. Bahkan orang tak pernah pasti, benar-benarkah ia akan muncul? Dan andaikata pun ia muncul juga, bagaimana orang tahu, bahwa ia-lah dia?

Demikianlah sementara orang sibuk berandai-andai, para "tikus" dan para "kecoa" pemimpin-pemimpin gadungan itu berkembang biak dengan cepatnya. Seraya dengan giatnya menggerogoti bangunan rumah kita, yang bernama Indonesia.

Tapi bukan cuma dugaan yang berbau mistis seperti di atas saja, yang beranggapan bahwa pemimpin sejati itu "antik" dan "langka". Seorang pakar kepemimpinan yang amat terkenal nota bene, seorang penulis yang rasional, intelektual, dan juga religius, juga punya kesimpulan yang sama.

Dengan perspektif yang pasti berbeda, ia tiba pada kesimpulan, bahwa, "Sangat sedikitlah orang yang diahirkan atau ditakdirkan sebagai pemimpin. Jumlahnya dapat dihitung dengan jari tangan. Namun sebaliknya, semua orang
tanpa kecuali -- dilahirkan dan dipanggil untuk menjadi pelayan".

Inti yang ingin ia sampaikan adalah, bahwa bila "kepemimpinan" itu hanya ditakdirkan hanya bagi sangat sedikit "orang pilihan"; "kepelayanan" sebaliknya. Kepelayanan ditakdirkan untuk semua orang. Dan "takdir" ini terus melekat, tak pernah tanggal dari bahu manusia.

Ya sekali pun, katakanlah, yang bersangkutan kini sudah menjadi seorang pemimpin. Si pemimpin ini toh tetap seorang pelayan.

Seorang hamba. Ia harus menjalankan kepemimpinannya itu sebagai seorang pelayan. Itu sebabnya, ia menamakan teorinya itu "Kepemimpinan yang Menghamba". Servant leadership.

PANDANGAN seperti itu tentu banyak benarnya. Tak kurang dari Yesus sendiri yang pasti akan mendukungnya. "Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu," begitu Yesus pernah berkata, "hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barang siapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya" (Markus 10:43- 44)

Seorang "pemimpin" yang baik harus mau menjadi "pengikut" yang baik. Tidak hanya pintar bekoar, tapi juga mesti peka mendengar.

Tidak sekadar mahir dan gemar mendamprat, tapi harus pula bersedia taat dan hormat. Dengan itulah ia memperlihatkan kualitas karakter dan kepribadiannya. Seorang "pemimpin" yang bajik harus terlebih dahulu lulus sebagai "hamba" yang baik.

Sebab dengan merendahkan diri itulah, yang bersangkutan membuktikan kesungguhan dan ketangguhannya dalam menundukkan diri sendiri. Dan ini, saudaraku, betapa krusialnya! Sebab bayangkanlah, apa yang bisa lebih mengerikan dan lebih destruktif dari pada seorang pemimpin, yang tak mampu mengendalikan dirinya, mengekang nafsunya, dan mengontrol ambisinya?

Jadi, sekali lagi, apa yang dikatakan oleh pakar itu penting dan benar. Hanya saja, menurut penilaian saya, ada sisi lain dari amanat alkitab yang entah mengapa -- tidak ia sebut-sebut.

Sisi yang mana itu? Yaitu bahwa, alkitab juga mengatakan, orang itu tidak cuma ditakdirkan sebagai "pelayan", tetapi juga sebagai "pemimpin"! Setiap orang. Anda. Saya. Dia. Mereka. Semua.

BENARKAH yang saya katakan itu? O, benar sekali! Kebenaran ini malah sudah berlaku sebelum dosa datang. Bahkan sebelum manusia diciptakan.

Ia merupakan bagian dari rancangan atau desain ciptaan Allah dari awalnya.

Setelah selesai menciptakan segala sesuatu, termasuk yang terakhir yaitu menciptakan segala jenis binatang darat, Allah bersabda lagi, "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut, dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi" (Kejadian 1:26)

Bagaikan nomor terakhir dalam pagelaran sebuah orkes simfoni, yang biasanya merupakan karya puncak, Allah hendak menutup seluruh karya penciptaan-Nya dengan menciptakan semacam "mahluk unggul"; -- "mahkota" seluruh ciptaan. "Manusia".

Dalam desain tersebut, "manusia" dijadikan "menurut gambar dan rupa Allah". Artinya, pada satu pihak, ia bukan Allah. Ia tetap mahluk. Ciptaan. Tak lebih dari mahluk-mahluk lain. Namun demikian, di lain pihak, ia lebih. Lebih, karena mahluk yang satu ini "manusia" adalah "citra Allah".

DALAM hal apa saja manusia merefleksikan Allah? Dalam banyak hal. Seluruh kedirian manusia -- kecuali dalam hal kefanaan dan keterbatasannya -- diciptakan untuk mencerminkan (bukan menyamai!) kedirian Allah.

Bila tidak dalam "hakikat" atau dalam "zat", ya paling sedikit ada kesejajaran dalam "sifat". Misalnya, dalam kehendak bebas dan kreativitas, dalam kecerahan akal-budi dan kesadaran hati nurani.

Dalam Kejadian 1:26 yang saya kutipkan di atas, ke"ilahi"an manusia secara khusus dinampakkan melalui "kekuasaan" yang dianugerahkan Allah kepadanya. Dengan perkataan lain, keilahian dalam diri manusia nampak melalui KEPEMIMPINANNYA!

Itu artinya, sejak awal mula penciptaan, manusia telah ditakdirkan sebagai "pemimpin". Semua yang menyandang sebutan sebagai "manusia"! Jadi, apakah saya juga "pemimpin"? Jawabnya adalah, "Ya". Paling sedikit, Anda ditentukan dan dipanggil Tuhan untuk menjadi "pemimpin"!

Kepemimpinan manusia itu, menurut Kejadian 1:26, adalah sekaligus merupakan hakikat, mandat, dan berkat Allah. Pertama, kepemimpinan adalah sesuatu yang melekat pada "hakikat" manusia. Karenanya, hakikat kemanusiaan seseorang tercermin melalui kepemimpinannya. Kepemimpinan yang brengsek mencerminkan kualitas kemanusiaannya yang brengsek pula.

Kedua, kepemimpinan adalah "mandat". Artinya, kelayakan seseorang menjadi pemimpin, bukanlah terutama merupakan hasil kelihaian sebuah tim sukses, atau hasil kepandaian yang bersangkutan mengobral janji dan menebar uang gizi.

Kepemimpinan adalah penugasan Allah, karena itu mesti dilaksanakan sesuai dengan kehendak-Nya. Memimpin bukanlah beroleh lisensi untuk berbuat semau-maunya atau mengeruk untung sebanyak-banyaknya -- mumpung!

Dan akhirnya, ketiga, kepemimpinan adalah "berkat". Menjadi pemimpin adalah karunia ilahi yang sangat unik. Sesuatu yang tidak dimiliki oleh mahluk-mahluk lain. Sebab itu luhur dan mulia.

Konsekuensinya, orang harus menjalankan kepempimpinannya dengan syukur, hormat dan khidmat. Jangan menodainya dengan tindakan- tindakan yang serampangan dan tidak ilahi! Sebab bila itu yang dilakukan, maka yang dihadapi tak kurang adalah Allah sendiri!

Sumber: http://www.glorianet.org/ekadarmaputera/ekadsaya.html

Spiritual Leadership

Penulis: Donny

Salam dalam kasih Kristus,
Di ibadah hari Minggu yang cerah ini, saya mendapatkan sesuatu yang mengesankan. Ya, kotbah hari ini dipimpin oleh Pdt. Caleb Tong, dan seperti biasanya beliau penuh ketajaman dalam menyampaikan pesan. Kotbahnya sendiri memang mengesankan, berbicara tentang kemurahan hati dan bagaimana Gereja yang Injili juga dapat memberi sumbangan besar bagi korban bencana, bagaimana hati yang digerakkan Injil bukan hanya berbicara tentang doktrin tetapi lebih dari itu: melakukannya. Tapi, selain pemberitaan Firman yang menggugah ini, ada hal lain yang mengesankan.

Hal yang terasa berkesan itu adalah: bahwa sebenarnya, tadi pagi darah masih mengucur dari hidung Pak Caleb. Beliau mengalami musibah beberapa hari lalu, dan kalau mengikuti saran dokter seharusnya Pak Caleb tidak berkotbah. Matanya masih belum fokus, bicaranya pun masih terganggu. Tetapi hatinya lebih mengutamakan pemberitaan Firman, kepentingannya lebih condong pada melayani Tuhan, maka pagi-pagi ia sudah mempersiapkan diri. Dan Pak Caleb tidak setengah-setengah dalam menyampaikan kotbah; ia menyampaikannya dengan penuh, lengkap, tanpa dikurangi. Waktunya bahkan lebih lama daripada pengkotbah lain, yang lebih muda dan sehat, untuk suatu bahasan yang menyeluruh.

Saya menemukan kesiapan semacam ini merupakan hal yang mengesankan, satu pelajaran sendiri yang saya terima pagi ini. Dan sikap seperti ini bukan pertama kali saya jumpai dalam diri para pemimpin Gereja. Saya sebelum ini menemukannya pada diri Ibu Dorothy I. Marx, pada diri Pak Joseph Tong, dan juga --walau tidak secara langsung-- pada diri Pak Stephen Tong. Sikap untuk memberikan diri secara total, dan menunjukkan diri sebagai teladan. Dan sikap ini bukan baru sekarang, karena Alkitab sudah menunjukkan sikap ini sejak lama, dalam diri Rasul Paulus. Coba simak suratnya kepada jemaat di Korintus:

1 Kor 4:9:16 Sebab, menurut pendapatku, Allah memberikan kepada kami, para rasul, tempat yang paling rendah, sama seperti orang-orang yang telah dijatuhi hukuman mati, sebab kami telah menjadi tontonan bagi dunia, bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia. Kami bodoh oleh karena Kristus, tetapi kamu arif dalam Kristus. Kami lemah, tetapi kamu kuat. Kamu mulia, tetapi kami hina.

Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara, kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat ini. Hal ini kutuliskan bukan untuk memalukan kamu, tetapi untuk menegor kamu sebagai anak-anakku yang kukasihi.

Sebab sekalipun kamu mempunyai beribu-ribu pendidik dalam Kristus, kamu tidak mempunyai banyak bapa. Karena akulah yang dalam Kristus Yesus telah menjadi bapamu oleh Injil yang kuberitakan kepadamu. Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku!

Jemaat di Korintus mungkin membanggakan diri dengan kemegahan dan kemakmuran mereka, segala kemuliaan yang dapat dibayangkan orang. Tetapi jika kesejahteraan menjadi ukuran, maka para rasul tidak mempunyai tempat! Bagi para rasul, keberadaan mereka bahkan "telah menjadi sama dengan sampah dunia," yang sama sekali tidak berarti bagi dunia. Tetapi oleh para rasul, kekristenan disemai dan bertumbuh, bahkan hingga menjadi besar saat ini.

Tentu saja, keadaan Pak Caleb Tong tidaklah separah para rasul. Kita tidak dapat mensejajarkannya dengan para rasul. Ia tidak perlu lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara, dan seterusnya. Ia masih bisa menikmati keberadaannya sebagai pemimpin gereja yang besar, masih menikmati pelayanan dari banyak orang. Namun kita tidak perlu memikirkan perbandingan-perbandingan kesusahan atau 'kebesaran' mereka, tetapi lihatlah pokok utama yang mereka tunjukkan: "Turutilah teladanku!"

Ini adalah kepemimpinan spiritual, sebuah kepemimpinan yang menggerakkan orang lain secara spiritual. Pokoknya bukanlah perilaku apa yang harus diikuti, tidak seperti keteladanan moral dan sikap yang pada umumnya dibahas orang. Di dalam kepemimpinan spiritual ini, ada ajakan, dorongan, himbauan, bagi orang lain untuk mencapai tingkat spiritual yang serupa. Dengan tingkat spiritual itu, orang dapat melakukan hal-hal yang secara esensial serupa dengan teladan yang diberikan oleh sang pemimpin, walau dalam konteks yang berbeda.

Maka, pada pagi hari ini saya tergerak untuk mengikuti teladan spiritual dari Pak Caleb, dalam konteks yang saya hadapi. Saya tergerak untuk menyisihkan kesusahan sendiri, agar bisa membagikan kemurahan pada orang lain. Saya tergerak untuk menyangkali kemalasan sendiri, agar bisa menuliskan hal-hal ini dan menggerakkan orang lain juga. Tentu saya tidak mempunyai konteks kehidupan Pak Caleb, tetapi saya bisa melakukan hal-hal yang secara esensial serupa dalam konteks saya, misalnya melalui internet dan milis, seperti yang Anda baca ini. Karena, saya sebenarnya tidak dalam keadaan cukup baik. Saya masih harus mengusahakan agar beban-beban finansial keluarga kami terpenuhi. Saya masih harus memikirkan bagaimana bisnis kami, agar besok kami masih bisa makan. Dan saya masih harus mengerjakan beberapa hal yang cukup mendesak di pertengahan bulan Juni 2006 ini.

Spiritual leadership yang saya alami selama ini telah mendorong saya untuk mengambil sikap. Bukan hal yang mudah, karena di mata sebagian orang, apa yang saya lakukan bukanlah hal yang tepat untuk dilakukan. Begini, saya telah berhenti bekerja di akhir tahun lalu, dan sejak itu saya berusaha sendiri. Tetapi keadaan ekonomi memang tidak begitu baik, jadi usaha baru yang dirintis juga tidak selancar yang dibutuhkan. Akibatnya, kami mengalami tekanan finansial yang cukup besar belakangan ini. Kalau saya bilang "no problem" maka tentu saya berdusta, karena hal itu menjadi masalah nyata sekarang.

Dalam keadaan bermasalah di keuangan ini, saya dan istri menemukan peran baru, sebagai konsultan keuangan. Heran? Sebenarnya, itu adalah istilah bagi agen asuransi -- disebut "Financial Consultant" karena kami dibekali sejumlah produk yang mampu membantu orang lain untuk menyelesaikan masalah finansial mereka di masa depan. Produk itu adalah kombinasi antara asuransi dan investasi, dengan tingkat pengembalian yang tinggi dan menguntungkan nasabah.

Masalahnya dengan produk asuransi: komisi yang diterima oleh agen dihitung dari besarnya premi dasar asuransi yang diterima, bukan dari besaran investasinya. Jadi, kalau kami menginginkan komisi lebih besar, kami harus mengatur agar premi dasar asuransi diperoleh sebesar-besarnya. Tapi hal ini berarti memperkecil investasi, dan ujung-ujungnya merugikan nasabah. Sekarang bagaimana? Masalah finansial seharusnya telah mendorong kami untuk mengusahakan sebesar-besarnya premi dasar asuransi, dengan demikian kami memperoleh komisi lebih besar dan selamat dari tekanan finansial ini. Namun bukan itu yang kami lakukan. Pada akhirnya kami tetap menghitung sebesar-besarnya investasi, agar memberikan keuntungan maksimum kepada nasabah. Itulah yang terjadi dengan polis-polis yang kami hasilkan.

Di ujungnya, kami memenuhi apa yang sesungguhnya ditawarkan oleh asuransi: keuntungan nasabah. Bodohkah, kalau lantas kami sendiri masih tertekan secara finansial?

Saya tidak merasa bodoh, karena inilah kepemimpinan spiritual yang saya ikuti. Nah, sampai sini mohon jangan keliru memahami; saya tidak sedang menawarkan apa pun kepada teman-teman sekalian. Saya hanya ingin menunjukkan, seperti itulah yang ada dalam konteks kehidupan saya sekarang. Tentu, tiap orang dapat memiliki konteks yang berbeda, tetapi secara esensial melakukan hal serupa. Membagikan kebaikan secara total. Hidup dalam kebenaran dan keadilan. Menunjukkan kerendahan hati, belas kasihan, dan kelemah-lembutan.

Bagaimana dengan gereja kita? Apakah ada Spiritual Leadership di sana? Ada gereja yang berdiri dengan fondasi yang terpancang di atas batu karang legalisme. Philip Yancey dalam bukunya "Gereja: Mengapa Dirisaukan?" (terjemahan dari "Church Why Bother?"), menuliskan tentang gereja masa kecilnya: "Mereka berbicara tentang anugerah tetapi sesungguhnya mereka hidup dengan hukum, mereka berbicara tentang kasih tetapi sesungguhnya mereka memperlihatkan tanda-tanda kebencian." Namun, bukankah deskripsi ini dapat diterapkan juga dalam lingkungan-lingkungan kita? Bukankah kita pun menemukan bagaimana orang-orang berseteru dalam gereja, bahkan sampai membawanya ke pengadilan negeri?

Mengapa harus seperti itu? Coba hitung, berapa banyak orang Kristen yang tidak lagi pergi ke gereja? Mereka di masa mudanya mendapatkan lingkungan yang penuh disiplin dan aturan, mula-mula terasa baik dan melindungi, tetapi kemudian menjadi hambar. Menyebalkan. Tidak ada kepemimpinan spiritual di sana; yang ada hanyalah aturan dan hukuman bagi pelanggarnya. Kalau tidak dihukum sekarang (dengan misalnya, 'siasat gerejawi'), kelak akan dihukum masuk neraka. Dengan semua ancaman, tidak ada motivasi lain untuk melakukan hal ini atau itu selain menghindari hukuman. Apa maknanya bersikap baik, jika pendorong utamanya adalah agar tidak dicela orang lain?

Betul, orang bisa digerakkan oleh ancaman, tetapi tidak dalam waktu panjang. Pada akhirnya ancaman itu akan kehilangan taringnya dan orang mulai bersikap apatis. "Peduli amat!" "Emangnya gua pikirin?" Serta merta melanggar semua aturan dan kekangan, apalagi jika ternyata "melanggar itu enak euy!" Dibutuhkan motivasi lain untuk menggerakkan jemaat, untuk membuat orang dapat melepaskan bajunya dan berkeringat membangun bersama-sama. Itulah spiritual leadership yang ditunjukkan, yang diikuti dengan seruan "turutilah teladanku!"

Sekarang, mengapa pula orang harus mengikuti suatu kepemimpinan dalam bergereja? Pada kenyataannya, ada saja orang yang menyetarakan gereja dengan hiburan. Apa bedanya pergi ke gereja dengan nonton di bioskop? Orang merasa perlu terlayani di sana, menjadi penonton dari berbagai acara atau liturgi gereja. Di gereja protestan, aktor utamanya adalah pendeta di atas mimbar. Jemaat menjadi penonton dan pendengar; dan kalau pendetanya tidak menarik, ada saja orang yang mendengkur. Bagi mereka yang hadir sebagai penonton, tentu saja kepemimpinan tidak terlalu berarti. Toh orang hanya datang, duduk, memberi duit, lalu pergi lagi.

Coba pikirkan lagi: dalam setiap ibadah, siapa yang sesungguhnya menjadi pelaku, dan siapa penontonnya? Tuhan tidak menciptakan dunia ini agar Ia menjadi Aktor sementara manusia-manusia bodoh menjadi penonton. Sebaliknya! Tuhan mengawasi kita sekalian, dan kitalah yang menjadi pelaku-pelaku kehidupan. Bisa dikatakan, urusan terpenting yang dihadapi manusia adalah bagaimana tampil dengan baik di hadapan Sang Penonton, dan untuk itu kita membutuhkan kepemimpinan. Di Gereja kita hadir untuk menyembah Dia yang mengawasi kita, dengan sorot mata seperti seorang Bapa memandang anak-anak-Nya.

Karena itu, urusan kita adalah mendengar Rasul Paulus berkata "Turutilah teladanku!" maka kita memberkati ketika dimaki, sabar ketika dianiaya, dan menjawab dengan ramah ketika difitnah. Dan Rasul Paulus sendiri malah meneladani Tuhan Yesus, yang juga memberikan teladan-Nya bagi kita. Bukankah tujuan hidup kita di dunia ini adalah untuk menjadi serupa seperti Kristus? Baiklah kita hidup di dalam Dia yang menghidupkan.

Terpujilah TUHAN!

Team Work Empowerment

Penulis : Bagus Pramono

Sang Legenda juara dunia mobil Formula Satu asal Jerman Michael Schumacher mendapatkan prestasi yang luar biasa dengan meraih Juara Dunia 6 kali tidaklah lepas dari tangan dingin direktur teknik Ferrari Ross Brawn dan si Boss Jean Todd. Ketika Tahun 1996 keluar dari Benetton dan bergabung di Ferrari; Schumacher mempunyai satu syarat dengan memboyong Ross Brawn bersama-sama masuk kedalam timnya. Schumacher begitu yakin dia tidak bisa bekerja sendirian, dia perlu pendukung dalam kesuksesan karirnya. Demikian juga semua elemen yang paling kecil sekalipun dalam Ferrari Team memberikan andil dalam World Championships yang sepertinya cuma milik Schumacher saat ini. Kita melihat disini bahwa prestasi didapat dari sebuah kelompok kerja (team work).

TEAM-WORK LEADERSHIP
Zaman sekarang dimanapun sepertinya tidak berlaku lagi sebuah kepemimpinan dengan model dictatorship. Rakyat dimana-mana sepertinya sudah pintar-pintar tidak mau dipimpin dengan model kekuasaan yang absolute. Sistem Demokrasi menjadi primadona negara-negara di dunia masa sekarang.

Gaya "one man show leadership" sangat tidak populer lagi; Indonesia sudah kenyang akan hal ini walaupun dulu dikemas dengan bungkus "demokrasi terpimpin" tetapi ini hanya sebuah istilah saja; yang sebenarnya saat itu kita dipimpin oleh seorang "raja". Betapa seorang presiden mempunyai kuasa yang absolute. Hasilnya memang tidak selalu jelek; rakyat bisa aman, ada pembangunan, dan lain-lain. Tetapi jika ini kelamaan ada ekses-ekses yang buruk diantaranya korupsi pada kelompok-kelompok yang dekat dengan penguasa, penyalahgunaan kekuasaan dan berbagai akibat lain.

Di Indonesia setelah gerakan Reformasi, terjadi macam-macam kekacauan; sehingga ada banyak orang yang kembali merindukan Bapak kita yang lama untuk memimpin. Namun apakah ini hal yang relevan ?. Kita sedang masuk kedalam Era Baru Indonesia, marilah kita masing-masing menjadi bagian dalam Indonesia Baru.

Pemimpin yang kita butuhkan adalah sebuah Team Pemimpin ; bukan "one man show leadership". Kita harus cermat memilih team kepemimpinan mana yang paling menjanjikan dalam arah menuju Indonesia baru. Kita sedang ke arah itu dan sedang dalam proses, mungkin Indonesia bisa digambarkan sebagai seorang ibu yang sedang sakit beranak, maka jangan suka mengecam jika masih terjadi hal yang tidak cocok. Menyembuhkan bangsa yang sedang sakit parah memerlukan waktu. Kita tidak boleh menuntut sebuah perubahan yang "revolusioner". Kita harus mengerti betapa susahnya menghapus sebuah sistem yang sudah solid dalam 32 tahun itu. Tetapi mari kita bersama-sama memberikan andil dalam mewujudkan negara dan bangsa yang bersatu untuk maju. Kita mulai dari lingkungan kita yang terkecil, di keluarga, di masyarakat, berdisiplin, berbudaya dan ini akan memberikan andil pada skala yang lebih luas. Saya yakin ada masa depan yang cerah bagi Indonesia.

WARNA KEPEMIMPINAN
Amatilah kira-kira warna apa yang akan dipakai oleh pemimpin baru kita nanti. Apakah Demokrasi Nasionalis, Pluralis, Teokrasi atau yang lain? Sistem Pemerintahan yang represif masa sekarang akan selalu mendapatkan sorotan yang tajam dalam diskursus (wacana) yang bernama HAM. Demikianpun sistem pemerintahan yang teokrasi akan juga bersifat represif dan pasti akan melanggar ham-nya orang yang punya kepercayaan lain. Fundamentalisme dapat menjadi sesuatu yang mengerikan, entah dari agama mana pun. Agama-agama yang hampir seluruhnya mempunyai tujuan luhur yaitu perdamaian; tetapi atas nama agama pula telah terjadi begitu banyak kerusuhan.

Kriteria yang bagaimana yang harus dimiliki pemimpin? Berpenampilan berwibawa?, enak dilihat? haruskan dia (kelihatan) pandai? Haruskan dia pintar dalam berbahasa? Mengenai ini saya ingin berceritera tantang sosok perempuan dengan kepribadian luar biasa Shirin Ebadi, pemenang Nobel Perdamaian 2003. Bahasa Prancis atau Inggrisnya lemah. Satu-satunya bahasa yang dikuasai hanya Parsi, bahasa ibu. Tapi itu ternyata tidak penting. Kiprah Ebadi di negaranya memberikan andil yang penting dalam pemerintahan Presiden Kathami. Pada masa kepemimpinan Kathami, Iran menjadi negara yang lebih demokratis dan toleran setelah sedemikian lama dikuasai oleh sistem teokrasi yang represif tersebut. Kita melihat disini bahwa keberhasilah pemimpin juga karena andil dari orang-orang dibelakangnya.

Kadang kita terlalu under-estimate terhadap figur pemimpin; mampukah dia? layakkah dia? pintarkah dia?. Tetapi itu semua bukan hal yang paling menentukan. Pemerintahan adalah sebuah team yang terdiri dari berbagai elemen, ada presiden, wakil presiden, para menteri, team-team penasehat, dan lain sebagainya. Elemen-elemen itulah yang menentukan keberhasilan sebuah team-work leadership. Perlukah seorang pemimpin yang multi-talents? Hal tersebut tidak tentu dilarang tapi yang terlebih penting adalah kebijaksanaan yang dimiliki pemimpin itu. Kemampuan untuk bisa memberdayakan potensi masing-masing anggota team-work, dan keharmonisan dalam bekerja-sama. Seorang pemimpin yang dominan, lama-kelamaan akan mengarah ke dictactorship; Kita sudah melihat contoh-contoh nya, bukan?!. Kebijaksanaan-kebijaksanaan yang diproduksi oleh pemerintah tidak boleh ditentukan oleh "satu orang saja", melainkan harus melalui kesepakatan sebuah dewan yang ada dalam pemerintahan (consensus building).

WOMAN EMPOWERMENT
Haruskah seorang pemimpin itu laki-laki? Walaupun Tuhan menetapkan laki-laki adalah kepala dan istri adalah penolong yang setia. Namun ada beberapa keadaan dimana Allahpun memakai seorang perempuan. Contohnya Deborah seorang nabiah di Efraim yang tinggal diantara Rama dan Betel menjadi hakim orang Israel ketika itu. Dibawah pimpinan Tuhan, dia menyuruh memanggil Barak dan memerintahkannya supaya mambawa sepuluh ribu orang bani Naftali dan bani Zebulon untuk membebaskan Israel (Hakim-Hakim 4). Saya mengangap disini Deborah yang memimpin pembebasan bangsa Israel ini menempatkan dirinya juga sebagai seorang penolong. Deborah mempunyai team-work, sebagai seorang perempuan mungkin dia kurang mampu berjuang sendirian dan mempimpin pasukan, tetapi dia mampu mendelegasikannya kepada Barak untuk melakukan visi mulianya itu dan mereka merupakan sebuah team-work yang solid.

Walaupun tidak sepenuhnya setuju dengan "faham feminisme"; tetapi saya percaya bahwa s2eorang perempuan juga diperlengkapi oleh Tuhan untuk bisa memimpin pada saat diperlukan. Apabila negara kita pernah dipimpin oleh seorang perempuan; maka berbahagialah kaum feminis, bahwa Indonesia telah mencapai titik "kesetaraan gender" yang istimewa. Sebaliknya ketika sebuah kelompok mempersoalkan "gender" dalam kepemimpinan, dan ditambah lagi dengan keluarnya Fatwa Haram terhadap pemimpin perempuan, maka hal demikian adalah sebuah "penganiayaan" dengan menggunakan dalih agama.

Kita telah melihat sejarah banyak sekali perempuan-perempuan Asia yang cukup berprestasi dalam kepemimpinannya contohnya adalah Indira Gandhi, Gloria Macapagal-Arroyo, Benazir Bhutto, Chandrika Bandaranaike Kumaratungga, dan Megawati Soekarnoputri. Sesuatu hal sepertinya seragam bahwa mereka mempunyai ayah yang juga pernah menjadi pemegang kekuasaan yaitu sebagai perdana m2enteri atau presiden di negaranya. Deretan nama ini akan semakin panjang bila menyebut Corry Aquino dan Sirimavo Bandaranaike (3 kali terpilih sebagai PM Srilanka yang juga merupakan the world´s first woman Prime Minister pada tahun 1961.) Sirimavo menjadi Perdana Menteri, setelah suaminya terbunuh bersama dengan menantu lelakinya oleh lawan politiknya. Kiprahnya ini diteruskan oleh anak perempuannya Chandrika menjadi presiden Srilanka sejak tahun 1994 sampai sekarang. Kemudian Makiko Tanaka menjabat sebagai Menteri Luar Negeri perempuan yang pertama di Jepang, juga mempunyai ayah yang pernah malang melintang dan memberi warna pada dunia perpolitikan di Jepang selama kurun waktu 29 tahun. Yang saat ini masih ditunggu kiprahnya lebih lanjut adalah Park Geun Hye putri dari Presiden Korea Selatan Park Chung Hee. Itu semua adalah contoh-contoh perempuan-perempuan yang berprestasi dalam memimpin.

Ketika seorang perempuan diizinkan Allah untuk memimpin, itu bukanlah berarti dia akan hanya menjadi seorang pemimpin saja tetapi dia juga ditempatkan sebagai seorang penolong yang setia dalam keadaan yang diperlukan dan ini bukan berarti mengeleminasi peran laki-laki, seperti halnya Nabiah Deborah dan figur-figur lain dalam Alkitab. Ratu Esther memerankan peran penting bagi keselamatan bangsanya dan juga mempunyai team-work yang bernama Mordekhai. Posisi Mordekhai di luar lingkungan istana sedangkan Esther di dalam lingkungan istana. Figur Mordekhai sebagai rekan-sekerja sungguh istimewa; Mordekhai beriman bahwa Tuhan pasti tidak akan diam, melihat umat-Nya hancur. Hal ini karena Mordekhai melihat di sepanjang sejarah bangsa Israel; Tuhan memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan, menuntun ketika dalam kesulitan. Mordekhai beriman pada masa yang lalu, jadi Tuhan pasti juga akan memimpin pada masa sekarang. Mordekhai bahkan mampu menggugah Esther, ketika Esther mulai terlena menikmati kedudukannya sebagai ratu dan lupa p400sinya sebagai umat Tuhan (Ester 4:13-14). Jadi bolehlah kita menimbang, apakah ada Mordekhai-Mordekhai masa sekarang di sekitar calon-calon presiden itu.

TEAM KEPEMIMPINAN YANG BERWIBAWA
Kita semua tentu menginginkan seorang pemimpin yang "presents him/herself presidentially" atau figur yang benar-benar menjadi icon bangsa kita yang membuat negara bangga dan hormat terhadapnya. Tetapi terlebih penting adalah hasil kerja dari "team-work leadership" itu.

Bilamana sebuah Team Kepemimpinan itu meraih wibawa didepan mata rakyat?. Adalah ketika mereka membuktikan bahwa mereka adalah team yang mempunyai Integritas!. Bukan hanya obral janji melainkan membuktikan apa yang dijanjikannya itu. Satu hal yang membuat sebagian besar orang enggan mendengar omongan politikus-politikus adalah karena mereka tidak sepenuhnya merasa yakin bahwa figur itu akan membawa mereka menuju ke tujuan yang mereka janjikan. Apakah pemimpin itu sudah dikenal sebagai seseorang yang mempunyai integritas? Bila ya, maka dia layak menjadi seorang pemimpin bagi bangsa ini. Team Kepemimpinan harus membuktikan bahwa mereka adalah terdiri dari orang-orang yang berdedikasi/ komit terhadap pemulihan negara ini. Yang berani menghadapi resiko, pantang menyerah, mau melakukan perubahan bagi Indonesia ke arah yang lebih baik.

Kepemimpinan yang efektif memerlukan pembinaan kesepakatan umum (consensus building) dan penggalangan dukungan seluas mungkin terhadap kebijakannya. Inilah kehebatan hasil kerja team-work. Gaya-gaya "oneman show leadership" atau "pemimpin yang berjalan semau sendiri" bertentangan dengan prinsip bekerja dalam kelompok (team work), prinsip pembagian kerja dan pendelegasian wewenang, adalah mutlak diperlukan dalam usaha mengatasi krisis sosial-ekonomi yang terpuruk.