Lain-lain

Artikel-artikel lain seputar dunia kekristenan atau orang Kristen yang di luar kategori yang ada

"THREE MAGIC" Nilai Luhur yang terancam punah

Oleh: Pdt. David Sudarko, STh.

Pintu masuk
Ada banyak hal yang patut kita syukuri berkaitan dengan segala hal perkembangan tehknologi dan informasi. Berbagai fasilitas yang memberikan kemudahan untuk mendapat info-info baru dalam hitungan detik melalui internet, dan juga perpindahan tempat dalam waktu yang kilat. Inilah bagian dari peradaban dunia modern. Perubahan datang begitu cepat, bahkan seringkali kita ketinggalan. Generasi muda sebagai generasi baru telah begitu jauh meninggalkan generasi tua. Konsumsi dua generasi ini sudah tidak sama lagi.

Generasi muda melaju begitu cepat bak roket yang meluncur ke angkasa. Saking begitu cepatnya dan semua dapat diperoleh secara instan, tidak sedikit nilai-nilai luhur generasi tua yang ditinggalkan. Mereka berpikir sudah bukan jamannya lagi katanya.

Pada artikel ini, saya hendak mengangkat sebuah nilai luhur warisan generasi tua yang telah ditinggalkan oleh generasi muda masa kini. Jika ini tidak segera ditanggulangi maka saya kuatir, pada dekade ke depan nilai luhur ini bernasib seperti Dinosaurus. Telah punah! Sangat disayangkan.

Nilai luhur “Tree Magic”
Apa nilai luhur itu? Yaitu apa yang disebut sebagai “Tree Magic”. Apa itu Tree Magic? Akan kita temukan di bawah nanti, dan akan saya hadirkan dalam sebuah cerita “true story” dari “orang biasa”. Tree Magic ini berkaitan dengan karakter seseorang. Karakter itu memiliki keampuhan yang mampu mengubah “wajah buruk” seseorang menjadi wajah nan rupawan. Karena karakter itu memiliki kekuatan maha dahsyat yang menciptakan ‘inner beauty’ kecantikan batiniah seseorang, yang kemudian dapat memancarkan terang bagaikan sinar mentari keluar dari wajahnya. Karakter seseorang itu tidak hanya sekedar bawaan lahir, dan bukan datang secara tiba-tiba. Melainkan perlu adanya tempaan-tempaan yang keras, dan itu perlu diasah sesering mungkin dengan berbagai peristiwa yang berkaitan guna membentuk dan menajamkan karakternya.

Mengapa karakter perlu ditempa dan diasah? Sebab karakter itu bagaikan lempengan besi baja. Jika dia dibiarkan begitu saja dia tetap sebuah lempengan, dan mungkin tidak pernah memberi manfaat yang berarti. Tetapi sebaliknya, jika dia sering dipanaskan dengan bara dan sering dipukul dengan martil, maka kemungkinan besar dia akan menjadi sebuah ‘samurai yang tajam’. Kalaupun tidak bisa menjadi samurai ya, minimal pisau dapur lah ... Meskipun piasau dapur, itu akan sangat membantu seseorang dalam mengerjakan sesuatu.

Apakah cukup sampai disitu? Tidak!!! Meski dia sudah menjadi samurai atau pisau dapur, dia tetap perlu diasah berulangkali dan dipergunakan untuk memotong. Kenapa? Supaya tetap tajam. Demikian juga karakter kita. Karakter kita harus senantiasa tajam di tengah-tengah tantangan perkembangan peradaban jaman modern ini. Saya terlalu percaya bahwa setiap kita memiliki karakter masing-masing, dan itulah yang membedakan Anda dengan saya. Bahkan karakter itulah yang menjadikan seseorang sukses sesuai dengan skillnya masing-masing.

Namun jujur kita akui bahwa apa yang sedang terjadi di sekitar kita saat ini ternyata dapat ‘menumpulkan’ karakter kita. Di puncak kesuksesan seseorang sekalipun, karakternya juga bisa menurun mengalami penumpulan. Apakah Anda merasakan bahwa karakter Anda sekarang mulai menumpul, sehingga orang yang dekat dengan Anda menjadi heran dengan menurunnnya kualitas karakter Anda? Atau Anda belum mengenali karakter Anda sendiri itu seperti apa? Itu alasannya mengapa artikel ini saya tulis. Sekedar untuk membantu Anda dan saya sendiri agar semakin mengenal sekaligus mempertajam karakter kita masing-masing.

Belajar dari sebuah kisah

Seperti yang saya sebutkan di atas tadi bahwa kita akan menemukan nilai luhur “tree magic” ini melalui sebuah cerita. Kisah orang biasa tetapi membawa dampak yang besar. Kisah ini terjadi sekitar 1,5 tahun yang lalu. Kisah ini terjadi pada seorang Bapak sederhana, sebut saja “Kang Agus”. Yang pada saat itu menjadi seorang pimpinan di salah satu mini market yang cukup lumayan di kota tahu, Kediri Jawa Timur. Di perjalanan “kariernya”, dia sedang mengalami peristiwa yang ‘tidak wajar’ bagi orang pada umumnya. Bagaimana tidak? Dia tidak melakukan sesuatu yang semestinya bisa dia lakukan.

Jadi ceritanya begini. Waktu itu Kang Agus sedang bertanya kepada bawahannya yang berjenis kelamin perempuan; “maaf mbak.... saya minta dibantu. Tolong jelaskan bagian yang diberi stabilo warna kuning dalam buku laporan ini, saya kurang jelas. Terimakasih.”

Namun saat itu tiba-tiba Kang Agus macam dihantam tinju aperkatnya Mike Tyson, karena jawaban yang diterima tidak sebanding dengan sikap dan bahasanya Kang Agus saat bertanya. Perempuan itu menjawab dengan nada suara yang tinggi bahkan membentak-bentak sambil mengeluarkan rentetan peluru khas wanita yaitu ‘cerewet’ di hadapan muka Kang Agus.

Mbak itu menjawab seperti ini; “Buapak ini kayak anak SD aja... kayak gitu aja enggak mudeng. Kan sudah diwarnai dan dikelompokkan masing-masing, dulu kan sudah disepakati format laporannya seperti itu, kok masih nanya-nanya lagi. Bapak ini ganggu pekerjaan saya. Tahu gak kalo saya sedang sibuk.... “

Setelah mendengar jawaban dan menerima perlakuan seperti itu, maka Kang Agus mengucapkan “terimakasih” pada bawahan itu lalu meninggalkan tempat dan masuk ke ruangan pribadinya. Di ruangan itu Kang Agus duduk-duduk di kursi sambil senyum-senyum heran. Sambil menatap ke langit-langit, hati kecilnya berbicara; “kok dia marah-marah ya... saya kan cuma bertanya. Sekarang saya mustinya bisa lebih marah-marah lagi sama dia...tapi sudahlah.”

Satu jam kemudian Kang Agus menelpon dia, dan meminta dia masuk ke ruangan pribadinya. Sekali lagi Kang Agus menerima jawaban dan perlakuan yang ketus. Mbak itu menjawab; “tahu enggak Pak, kalau saya ini lagi sibuk. Jangan ganggu-ganggu saya dulu. Sudah!” Sambil menaruh gagang telpon dengan kasar. Lagi-lagi Kang Agus duduk keheranan sambil meletakkan telapak tangan kanannya di kening dan mengelus-elusnya.

Kurang dari satu jam Kang Agus kembali menelpon. Namun kali ini yang mengangkat telponnya malah pegawai yang lain. Kang Agus meminta dicarikan Mbak itu, namun dia tidak mau menerima telpon Kang Agus. Maka Kang Agus meninggalkan pesan agar dia segera datang ke ruangannya. Setengah jam menanti, tidak muncul-muncul juga orang yang ditunggu. Kang Agus mulai resah dan gelisah. Di dalam dadanya sedang berdetak kencang jantungnya dan berkecamuk hatinya. Keringat sebesar biji jagungpun mulai berjatuhan dari kepala dan tubuhnya. Sepertinya Kang Agus sedang jengkel besar. Mau marah tapi tidak ada sasaran. Maka Kang Agus pun hanya bisa berjalan kesana-kemari seperti orang kebakaran jenggot.

Tak lama kemudian terdengarlah bunyi ketukan pintu; “tok... tok... tok... permisi Pak...” sambil kepala tertunduk, Mbak itupun masuk.
“mari silahkan duduk mbak...” sambut Kang Agus dengan suara teduh. Beberapa menit terlewati tanpa suara, tidak ada yang mengawali pembicaraan.
Maka Kang Agus pun berdiri dan mengangkat suara; “mohon maaf sebelumnya ya mbak... mungkin tadi saya membuat mbak tersinggung dan marah-marah. Saya tadi cuma bermaksud minta tolong sama mbak untuk menjelaskan saja. Tapi sekali lagi saya mengucapkan terimakasih atas budi baik mbak. Dari jawaban mbak tadi, saya menjadi sadar atas kelemahan saya, ternyata saya masih terkesan seperti anak SD... mbak benar-benar menyadarkan saya. Sekali lagi terimakasih ya mbak.... “ sambil menyodorkan tangan kanannya untuk berjabatan.
Tiba-tiba terdengar suara sesenggukan yang agak tertahan keluar dari mulut mbak tadi yang juga disertai dengan tetesan airmata yang jatuh ke pipinya. Kepalanya terasa berat untuk terangkat, namun perlahan Mbak itu memberikan tangan kanannya untuk menyambut jabatan tangan Kang Agus. Kang Agus kaget, karena genggaman tangan mbak itu sangat kuat, berkeringat dingin dan cukup lama mengenggam tangan Kang Agus. Kang Agus pun membalas dengan genggaman yang kuat. Lalu terdengarlah suara agak berat keluar dari mulut si Mbak;
“saya berterimakasih atas perlakuan bapak pada saya. Saya berpikir saya akan kena marah atau diberhentikan dari sini, tapi bapak tidak melakukannya. Saya minta maaf yang sebesar-besarnya atas sikap saya pada Bapak tadi. Saya sadar kalau saya ini bawahan bapak, dan tidak dibenarkan kalau saya bersikap seperti itu. Sekali lagi tolong maafkan saya Pak. Dan terimakasih atas kebaikan Bapak.”
Kang Agus tersenyum manis dan menjawab; “Sama-sama terimakasih Mbak ... embak telah membantu saya untuk belajar menjalani kehidupan ini. Selamat bekerja kembali. Terimakasih.”
Kemudian si Mbak beranjak meninggalkan ruangan Kang Agus sambil mengusap airmatanya dengan tisu. Setelah si embak tadi keluar, Kang Agus lalu terduduk di kursinya sambil menarik nafas panjang seraya memejamkan kedua matanya sambil tersenyum simpul. Sepertinya terasa lega sekali hati Kang Agus.

Menemukan nilai luhur “tree magic” itu
Dari kisah di atas, saya menemukan 3 kekuatan yang luar biasa!! Yaitu nilai luhur “TREE MAGIC”, apa saja itu??! MAAF, TOLONG dan TERIMAKASIH. Ketiga hal ini berulangkali diucapkan oleh Kang Agus pada bawahannya tadi.
Kang Agus mengawali pembicaraannya dengan terlebih dahulu mengucapkan kata ‘maaf’. Coba dipikir apa kesalahan Kang Agus, kan belum didapati ada kesalahannya. Tapi dia terlebih dahulu meminta maaf. Hal ini sangat langka terjadi di abad masa kini. Jangankan minta maaf sebelum terjadi kesalahan, sudah terlihat jelas-jelas salah saja tidak mau minta maaf. Tapi Kang Agus mau melakukannya kepada seorang bawahan sekalipun. Sifat ini memang bagaikan emas diantara lumpur. Begitu berharganya sifat ini.
Selain kata ‘maaf’, Kang Agus juga mengucapkan kata ‘tolong’. Sebelum orang lain melakukan apa yang Kang Agus minta, dia terlebih dahulu mengawali dengan sebuah permohonan ‘tolong’. Permohonan ‘tolong’ telah menjauhkan dari kesan memerintah, dan lebih menghargai kemampuan orang lain. Itu sebabnya siapapun kita - yang membutuhkan bantuan orang lain, ada lebih baiknya untuk mendahului dengan sebuah permohonan kata ‘tolong’, (sebelum memerintah sekalipun).
Yang terakhir, tidak lupa Kang Agus juga mengucapkan kata ‘terimakasih’. Kata ‘terimakasih’ adalah sebagai bentuk balasan yang wajar, namun jika diucapkan dengan ketulusan hati maka dia dapat melebihi besarnya harta benda sang konglomerat. Sekali lagi sifat Kang Agus menjadi emas di antara lumpur yang sulit dijumpai di abad ini.

Pintu keluar
Kata; MAAF, TOLONG dan TERIMAKASIH mengandung unsur MAGIS yang MAHA DAHSYAT – sebuah kekuatan untuk mempengaruhi kepribadian setiap orang, meneduhkan suasana hati dan mengubah karakter seseorang untuk menjadi pribadi yang ‘sempurna’.
Nilai luhur “Tree Magic” ini tidak boleh ditinggalkan, dan jangan sampai menjadi barang yang “punah”. Kita musti melestarikannya. Ajarkan dan dedikasikan nilai luhur ini mulai di rumahtangga, bertetangga, bergereja, berbisnis, bekerja dan dalam melayani Tuhan, sebagai gaya hidup. Bangun karakter yang kuat melalui nilai luhur ini. Sebab itulah yang dikehendaki oleh Sang Ilahi, Tuhan yang sempurna, Tuhan yang menyayangi ciptaanNya, dan Tuhan yang menghendaki manusia dipermuliakan segambar dan serupa denganNya.
Soli Deo Gloria.

Adakah Makna Paskah Telah Kehilangan Arah?

Oleh: Yon Maryono

Perayaan Paskah telah berlalu bersama waktu. Sederetan acara dalam liturgi dan perayaan Paskah, dimulai dari Penderitaan, Kematian dan Kebangkitan Yesus Kristus, kelihatan sedemikian pentingnya. Liturgy didasarkan bacaan Alkitab yang bersumber dari leksionary telah dipersiapkan 5 pekan berturut-turut. Rangkaian proses liturgi disertai drama tentang jalan salib, dan kotbah tentang pengalaman Maria telah melihat Tuhan, adalah bagian dari prosesi yang diharapkan mampu menggugah jemaat terhadap peristiwa kurang lebih 2000 tahun yang lalu. Demikian pula kotbah dan perayaan di bebeapa denominasi Gereja tidak kalah meriahnya. Kotbah Paskah selalu mengingatkan anak-anak Allah tentang penderitaan, kematian dan kebangkitan Kristus serta menerima tubuh dan darah-Nya, sehingga mereka kembali pada cara hidup yang kudus dan selalu siap diutus berbagi hidup bagi dunia.

Paskah baru berlalu. Pesan tinggallah pesan. Komitmen maju selangkah untuk hidup dalam kebenaran Tuhan seolah-olah hanya dalam ucapan. Pesan dalam peringatan itu menjadi tidak bermakna, seperti acara musiman, yang hilang bersama berakhirnya masa perayaan. Kita kembali hidup dalam kesibukan, pergumulan dan rutinitas hidup yang sering kita kehilangan arah sedang menuju kemana. Tidaklah heran, kemerosotan moral, kriminalitas, korupsi dan kejahatan lainnya tetap terjadi, bahkan semakin meningkat. Bila kita perhatikan, justru sebagian dilakukan oleh mereka yang dididik dan dibesarkan dilingkungan Kristen. Bandingkan bila seseorang mencibir, dalam suatu dialog, ada peserta mempertanyakan mengapa semakin banyak orang menunaikan ibadah haji di tempat suci, tetapi korupsi terus meningkat! Jangan-jangan inti persoalannya sama, aktivitas keagamaan semua itu hanya rutinitas atau kewajiban yang tidak menuntut komitmen perubahan hidup dalam kebenaran Tuhan.

Segala bentuk kejahatan yang terjadi membuktikan bahwa pengalaman Maria 2000 tahun yang lalu, melihat kebangkitan Tuhan Yesus (Yoh. 20:18) adalah pengalaman iman pribadi Maria. Karena, iman percaya yang dipancarkan dalam perubahan hidup Maria telah memampukan ia melihat Tuhan. Maria memahami dan menemukan kebenaran bahwa perubahan hidup baru dalam Yesus mempunyai pengharapan yang tidak akan pernah sia-sia. Di sinilah, saya sendiri merenung bahwa merayakan Paskah tanpa perubahan hidup, itulah yang menyebabkan Paskah hanya sekedar serimonial belaka, atau perayaan rutin dari tahun ke tahun diperingati tanpa makna. Saya dapat buta atau kehilangan arah sehingga walaupun mengaku Kristen, kemungkinan melihat Tuhan seperti pengalaman iman Maria patut dipertanyakan.

Kiranya Tuhan memampukan kita semua untuk tidak kehilangan arah.

Adat Istiadat

Herlianto

Menarik mengenang pelayanan kemarin memenuhi undangan dalam rangka bulan keluarga di gereja GKI di bilangan Jakarta Pusat untuk memimpin seminar tentang Iman Kristen dan Adat-istiadat yang cukup merangsang diskusi yang hangat. Pertemuan seminar itu diakhiri dengan kesimpulan yang meneguhkan diskusi oleh pendeta senior gereja itu yang ramah yang notabena adalah ketua sinode saat ini.

Perlu disadari bahwa manusia tidak hidup sendiri di dunia dimana ia terbebas dari segala nilai dan adat-istiadat dan bisa berbuat apapun sesukanya, sebab sebagai mahluk yang tinggal di dunia ini, manusia selalu berinteraksi dengan keluarga, orang-orang di lingkungan hidup sekelilingnya, lingkungan pekerjaan, suku dan bangsa dengan kebiasaan dan tradisinya dimana ia dilahirkan, dan budaya religi turun-temurun dimana suku dan bangsa itu memiliki tradisi nenek-moyang yang kuat. Karena itu manusia tidak terbebas dari adat-istiadat.

Lalu bagaimana manusia bersikap menghadapi tradisi itu? Setidaknya ada 3 kecenderungan yang dijadikan panutan sikap manusia menghadapi adat-istiadat disekelilingnya.

Pertama, sikap antagonistis/penolakan akan segala bentuk adat-istiadat yang tidak diingininya, gejala ini kita lihat dalam bentuk fundamentalisme yang ektrim. Di Indonesia ada Islam pentungan yang suka melabrak kelab-kelab malam dan tempat bilyar kalau mendekati Lebaran, juga ada kalangan kristen yang melarang merokok, minum-minuman keras, dan nonton secara keras. Sikap ini jelas tidak realistis karena sekalipun yang ditolaknya itu barang haram tapi pengubah mental orang tidak tepat bila menggunakan cara larangan dan paksaan yang bersifat lahir demikian;

Kedua, sikap terbuka yang kompromistis yang menerima segala bentuk adat-istiadat lingkungannya. Sikap demikian sering terlihat dalam kecenderungan liberalisme ekstrim yang sering menganut faham kebebasan. Misalnya di Belanda yang dikenal sebagai negara Eropah yang paling liberal, pecandu narkoba bisa menjadi anggota dewan kota dan euthanasia dihalalkan. Kebebasan yang kebablasan demikian juga kurang tepat, karena bagaimanapun manusia hidup didunia berhubungan dengan orang lain, maka kebebasan yang keterlaluan dari sekelompok yang satu bisa berdampak merugikan kelompok lain;

Ketiga, sikap dualisme. Sikap ini tidak mempertentangkan dan tidak mencampurkan faham-faham adat itu, tetapi membiarkan semua adat-istiadat itu berjalan sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing. Ada contoh menarik mengenai perilaku mendua demikian. Ketika di tahun 1970-an mengerjakan proyek hotel di Bali, seorang pengusaha di hari minggu pagi-pagi benar mendahului yang lain menghilang dari hotel untuk pergi beribadat di depan pastornya untuk menerima komuni. Namun, tanpa rasa bersalah apa-apa, kalau malam minggu ia melupakan isterinya yang ditinggal di Surabaya dan berleha-leha di kelab-kelab malam sampai larut malam. Seorang rekannya menggelitik perilaku menduanya dengan mengatakan: Kalau minggu pagi lari ke gereja mencari hosti, tapi kalau malam minggu lari ke kelab malam mencari hostess. Ia dengan isterinya kemudian bercerai.

Pada umumnya orang-orang akan menjauhi pusat lingkaran dan karena dorongan sentrifugal akan mendekati kecenderungan-kecenderungan di lingkaran itu, lalu bagaimana sikap seorang kalau ia menjadi orang Kristen? Apakah ia juga berperilaku selayaknya orang dunia dimana ia hidup sebelumnya?

Memang ada praktek di kalangan orang Kristen yang fundamentalis ekstrim yang menolak segala sesuatu yang dianggapnya dosa, ada juga yang begitu liberal bebas yang menerima begitu saja dan berkompromi dengan semua yang bisa dinikmati orang dunia pada umumnya. Ada juga yang mendua dan berstandar ganda, yaitu dilingkungan kristen ia berusaha hidup suci sesuai standar lingkungan jemaatnya tetapi berada diluar ia bisa tidak ada bedanya dengan orang tidak beriman.

Rasanya ketiga kecenderungan sikap demikian kurang tepat bagi seorang Kristen. Verkuyl dalam salah satu buku etikanya mengatakan bahwa umat Kristen terjerat diantara daya tarik antara libertinisme dan farisiisme. Disatu segi ia ditarik oleh kecenderungan keterbukaan dengan moralitas bebasnya, disegi lain ia ditarik oleh kecenderungan ketertutupan dengan moralitas kakunya. Kenyataan yang disebutkan Verkuyl itu memang benar, dan sikap di antara itu juga tergoda sikap mendua yang ada di antara kedua kecenderungan itu.

Di kalangan kekristenan ada juga yang mencari jalan baru dengan mempromosikan moralitas baru yang menekankan situasi, kondisi dan waktu yang tepat sebagai jendela menerima keputusan etis menghadapi adat-istiadat. Sikap keempat ini mirip sikap mendua dan liberal. Sikap yang dikenal sebagai etika situasi ini (Joseph Fletcher, 1966) itu menolak sikap yang disebutkannya sebagai sikap legalistik, ia juga menolak sikap yang disebutnya sebagai sikap antinomian, karena itu ia menawarkan sikap perantara yang berdasarkan pertimbangan situasi, kondisi, dan waktu.

Lalu bagaimana selayaknya umat kristen bersikap? Bagi mereka yang takut akan Allah, rasanya semua tindakan kita dalam menerima adat-istiadat perlu berorientasi pada Allah dan kehendak-Nya, ini menghasilkan empat pertimbangan berikut, yaitu sikap menghadapi adat-istiadat yang: (1) Memuji dan memuliakan Allah; (2) Tidak menyembah berhala; (3) Mencerminkan kekudusan Allah; dan (4) Mengasihi manusia dan kemanusiaan. Keempatnya berurutan dari atas ke bawah dimana memuji dan memuliakan Allah adalah tugas utama umat Kristen (Mazmur 150) dan ketiga lainnya diukur dari apakah itu meneguhkan kepujian dan kemuliaan Allah atau tidak.

Lalu adakah tingkat-tingkat pertumbuhan yang menentukan umat kristen bersikap? Kedewasaan umat kristen dalam bersikap perlu mengarah pada kecenderungan kelima yaitu transformatif, yaitu ia hidup dengan mentransformasikan setiap adat-istiadat agar sesuai dengan kepujian, kemuliaan dan kehendak Allah. Ia semula hidup berkajang dalam dosa dan melakukan adat-istiadat dimana kuasa dosa banyak berpengaruh. Pengenalannya akan Tuhan Yesus Kristus membawanya kepada pertobatan (metanoea) dimana ia mulai merasakan perubahan arah dalam hidupnya dari dosa menuju kebenaran, dan seperti apa yang dikatakan oleh rasul Paulus: Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang (2Kor.5:17).

Dari perubahan yang transformatif inilah ia terus menerus melakukan trasformasi dari dosa menuju kebenaran sehingga kehidupannya makin hari makin baik. Rasul Paulus mengatakan bahwa: Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah menjadi sempurna, melainkan aku mengejarnya (Flp.3:12). Namun, harus disadari bahwa transformasi itu bukanlah hasil usaha manusia dengan kekuatannya sendiri tetapi sebagai hasil interaksi iman kita yang mendatangkan rahmat Allah: Dan semuanya itu dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan perdamaian itu kepada kami (2Kor.5:18).

Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasehatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurnya (Rm.12:1-2).

Semoga pembahasan di atas menjadi bekal bagi kita untuk bersikap dalam menghadapi adat-istiadat di sekeliling kita.

(Artikel ini disarikan dari makalah seminar)

Agama dan Mati Hidup Manusia

SAYA berada di Tokyo untuk mengikuti 19th World Congress of the International Association for the History of Religions, yang diikuti 1.700 pakar ilmu perbandingan agama dari seluruh dunia. Tema kongres adalah "Agama; Konflik dan Perdamaian".

Panitia mengundang enam pembicara dari Indonesia, di antaranya Prof Alef Theria Wasim dari Yogyakarta yang menjadi salah satu anggota Komisi Program. Dari Aceh, Prof Zulkarnaini Abdullah menyampaikan makalah Religion amidst the Catastrophe; Rescue and Activities in Banda Aceh.

Simposium pertama hari Kamis bertema "Religious and Dialogue among Civilizations".

Prof Dr Hans JA van Ginkel dari United Nations University Tokyo, Prof Maria Luchetti Bingemer dari Brasil, Prof Yoshiko Oda dari Kansai University, dan Prof Tu Wei-ming, Confucianis dari Harvard University, tampil selaku panelis.

Sidang pleno kedua pada Jumat pagi, 25 Maret, bertopik "Religious Dimension of War and Peace". Penulis buku Terror in the Mind of God, Prof Mark Juergensmeyer dari UCLA Santa Barbara, tampil sebagai pemakalah dengan dua pembahas, Prof Gerrie ter Haar dari Institute of Social Studies di The Hague Netherland dan Profesor Manabu Watanabe dari Nanzai University Nagoya, Jepang. Moderatornya, Prof Rosalind Hackett dari University of Tennessee, yang juga akan menjadi moderator dari simposium tentang "Proselytization".

Sidang pleno ketiga, Sabtu pagi, menampilkan Prof Ibrahim Moosa yang berasal dari Afrika Selatan dan sekarang berkarya di Duke University di North Carolina AS. Prof William Lafleur dari Pennsylvania University dan Prof Haruko Okano menjadi pembahas makalah berjudul Technology, Life and Death.

Kongres masih akan berlangsung hingga Rabu petang, tetapi saya hari Senin sudah akan menuju Nagoya untuk meninjau Aichi Expo 2005. Kongres ke-19 IAHR itu tentu tidak bisa melepaskan diri dari kondisi politik aktual seperti demokrasi dan juga pro dan kontra euthanasia yang menimpa Terri Schiavo di AS tidak luput dari pembahasan.

Ketika membahas Moosa, Lafleur menyatakan, sudah tiba waktunya manusia mengakui dan menyerah kepada fakta bahwa kematian tidak terhindarkan. Menurut Lafleur, arogansi manusia untuk menciptakan manusia sempurna dengan teori eugenic sudah menghasilkan monster fasisme dan holocaust Nazi Jerman. Karena itu, kalau sekarang ini manusia takut mati dan tidak mau mati dengan berusaha menciptakan segala macam peralatan teknologi, atau membuat manusia seperti robot, itu adalah bertentangan dengan kodrat yang lebih baik dilupakan.

Memang jika manusia mengalami dilema seperti kasus Schiavo, maka pilihan antara euthanasia dengan tetap pasif membiarkan manusia hidup dalam kondisi vegetatif, memang sangat berat. Mantan Menlu Singapore S Rajaratnam sudah lama menyatakan sebagai surat wasiat, bahwa jika sudah tiba waktunya ia harus meninggal dan melalui kondisi koma, ia tidak mau dirawat menjadi vegetatif, lebih baik memakai cara euthanasia saja.

Masalah Terri Schiavo menjadi sulit karena pasien itu memang dari awal sudah tidak normal, tidak sadar, dan kondisi mental terbelakang. Sedang orang intelektual seperti Rajaratnam masih mempunyai kesadaran untuk memilih euthanasia jika kondisi fisik biologisnya memang darurat. Jadi, masalah surat wasiat yang dipilih oleh pasien secara langsung barangkali tidak ada masalah.

Kisah Schiavo menjadi heboh karena suaminya menginginkan proses euthanasia, sedang orangtuanya ingin tetap mempertahankan kondisi vegetatif yang sebetulnya juga memilukan.

Barangkali dilema euthanasia itu harus diterapkan juga dalam perang melawan terorisme. Apakah dunia akan membiarkan teroris merajalela dan mempunyai peluang mempergunakan nuklir menghancurkan dunia? Atau dilakukan upaya preventif dan preemptive untuk memukul lebih dulu calon teroris yang bisa melakukan bunuh diri massal secara global? Kalau manusia normal menunggu dan memberi kesempatan teroris model Mohamad Atta mempergunakan nuklir, maka pencegahan akan terlambat bila nuklir itu sudah diledakkan.

Dari diskusi terungkap, tuntutan politik Atta dan Osama bin Laden adalah religiusasi politik atau politik yang diagamakan, sehingga mencari pembenaran untuk pembantaian lawan politik, termasuk rakyat yang tidak berdosa.

Politisasi agama dan pembajakan Tuhan dalam gerakan terorisme mengakibatkan agama menjadi alat politik dan alat teroris yang malah melenyapkan sama sekali faktor perdamaian dari konotasi agama. Ada juga peserta dari Malaysia yang menuntut agar kongres mengeluarkan resolusi mengecam serangan AS ke Irak. Tentu saja agitasi itu kurang bergema dan tidak ditanggapi, sebab para pakar agama itu justru sedang tergugah untuk memikirkan betapa dunia dan agama menjadi tidak ramah setelah 911 (Peristiwa Teror 11 September, Red).

Seorang biku (biksu) mempertanyakan kenapa Taliban menghancurkan patung Buddha di Bamian dan sama sekali tidak toleran kepada agama lain. Ada juga yang menanyakan kenapa di Teheran ada orang berjualan gambar atau foto Nabi Muhammad, tapi tidak ditangkap dan dilarang. Kalau rezim diktator di Timur Tengah membantai ribuan rakyatnya sendiri, kenapa tidak ada perlawanan dan pengutukan?

Tampak ada "kerelaan" untuk membiarkan pembantaian oleh sesama bangsa penguasa. Yang dipersoalkan adalah siapa yang membantai. Kalau diktator bangsa sendiri, ya sudah, itu dianggap nasib dan kehendak takdir Allah. Kalau bangsa lain yang membasmi diktator, ya harus menimbulkan perlawanan hanya atas dasar perbedaan kebangsaan. Tetapi, solidaritas umat dalam soal Taliban dan Irak memang masih begitu dominan untuk menciptakan kejernihan berpikir, apakah perang agama model Osama harus terus dipuja dan dipopulerkan.

Itulah pertanyaan yang muncul di balik para peserta yang mewakili seluruh agama yang ada di dunia. Kalau Perang Salib abad ke-10 dibawa ke abad ke-20 dengan senjata nuklir, maka akan terjadi risiko bunuh diri global.

Sebetulnya, secara paralel ancaman nuklir tidak hanya datang dari dunia Timur Tengah, tetapi bisa juga datang dari Kim Jong-il. Jepang sangat cemas dengan nuklir Korea Utara. Jadi, dari segi itu, pengelompokan Korea Utara ke dalam axis of evil oleh George Bush memang secara nyata mengungkap bahwa hawa nafsu terorisme bukan hanya monopoli Osama bin Laden, tetapi juga despot model Kim Jong- il.

Menghadapi teroris model Osama dan Kim Jong-il, kalau dunia masih memakai paradigma lama, menunggu bukti dulu baru ditindak, maka pada saat itu sudah terlambat. Sebab, manusia dan dunia sudah hancur oleh nuklir yang diledakkan tanpa kalkulasi kemanusiaan, melainkan sudah nekat model kiamat akhir zaman. Namun, tampaknya dunia lebih cenderung untuk bersimpati kepada kekuatan yang seolah mewakili rakyat tertindas dan miskin, dan dengan dalih hak asasi dan kedaulatan nasional, menolak intervensi dan aksi preventif model George Bush.

Menurut saya, yang kurang diperhitungkan oleh para pendukung kiamat terorisme, ialah kebesaran Tuhan yang pasti tidak akan rela dunia yang secara geofisika sudah berumur miliaran tahun dan masih punya prospek survive miliaran tahun lagi. Tuhan yang sejati pasti akan mempunyai metodologi tersendiri untuk memunahkan dan memusnahkan manusia yang berlagak mewakili Tuhan, ingin menghukum manusia lain melalui 911 nuklir dan euthanasia massal global. Kiamat menurut saya adalah terlalu serius untuk dipasrahkan hanya pada Osama bin Laden dan pendukungnya.

Sumber: Suara Pembaruan

Ajakan untuk Mendoakan Gereja Di Italia

Sehubungan dengan semakin dekatnya jadwal pemilihan untuk referendum mengenai reproduksi buatan di Italia pada tanggal 12-13 Juni, berikut penulis melaporkan beberapa perkembangan yang terjadi di Italia, bahwa meskipun dilanda kritik di sana-sini, Gereja Katolik Italia senantiasa menganjurkan kepada umat beriman untuk tidak datang memilih demi membela kehidupan manusia.

Kita pun umat Kristiani di Indonesia, atau di manapun, dapat terus mendukung tindakan Gereja dengan lebih banyak lagi mendoakan kepada Tuhan melalui Bunda Maria agar umat Kristiani (Katolik) Italia sungguh-sungguh melaksanakan tanggung jawab iman mereka dengan mematuhi ajakan Gereja. Berita ini telah diupdate ke dalam website PondokRenungan (www.pondokrenungan.com) EROPA/ITALIA Gereja berspekulasi dalam ajakan untuk memboikot referendum reproduksi buatan Italia.

Gereja di Italia sedang mengambil satu dari spekulasi politiknya yang terbesar dalam dekade-dekade. Kardinal Camillo Ruini, Kepala Konferensi Waligereja Italia, telah mengajak para umat Katolik di negara itu untuk memboikot referendum tanggal 12-13 Juni yang akan mencabut larangan-larangan tertentu mengenai reproduksi buatan dan penelitian embrio.

Namun terakhir kali Gereja mengatakan kepada masyarakat bagaimana untuk memilih, hasilnya terbagi dalam dua kekalahan yang menyesakkan. Gereja dengan keras mendukung dua referendum, satu pada tahun 1974 membuat perceraian tidak sah dan satu pada tahun 1981 membuat aborsi sebuah kejahatan. Warga Italia, yang mayoritas adalah umat Katolik, membanjiri tempat-tempat pemberian suara, tetapi bukan untuk mematuhi Gereja. Mereka meloloskan kedua referendum untuk menguatkan keabsahan perceraian dan aborsi.

Kali ini, Kardinal Ruini yang berusia 74 tahun yakin akan kemenangan Gereja. Surat kabar Vatikan, "L"Osservatore Romano", melemparkan dukungannya dibalik kampanye para uskup tanggal 25 Mei untuk "tidak memilih" ketika menerbitkan sebuah artikel di halaman depan yang mengatakan bahwa tidak mengunjungi tempat pemberian suara mencerminkan suatu tindakan yang membela kehidupan manusia.

"Tanggung jawab umat beriman tidak dapat berakhir dengan keberatan pribadi" terhadap "penurunan nilai dari kehidupan embrio manusia," yang tertulis dalam artikel, yang ditulis oleh Kardinal Dionigi Tettamanzi dari Milan, seorang teologi di bidang moral. Umat beriman memiliki "sebuah tanggung jawab yang dinamakan (melaksanakan dalam) sebuah cara yang efektif ... yaitu abstain (tidak memberi suara)," tulisnya. Sebelumnya tahun ini, Kardinal Ruini mengatakan memboikot pemberian suara "adalah bukan berarti sebuah ketidakterikatan" dari tugas-tugas seorang warga negara. "Adalah sebuah cara lebih kuat dan lebih efektif untuk melawan referendum" dengan meyakinkan bahwa pemilihan suara adalah secara keseluruhan tidak valid, katanya pada sebuah pidato tanggal 7 Maret kepada para anggota lembaga tetap Waligereja Italia.

Sementara beberapa umat Katolik mempertanyakan langkah itu, banyak pemimpin Gereja Italia berbaris dibelakang Kardinal Ruini dan mendukung ajakannya untuk abstain dari pemilihan suara. Kardinal Angelo Scola dari Venice mengatakan bahwa adalah sesuatu yang sah untuk "memutuskan untuk tidak mempertimbangkan" sebuah pengajuan referendum yang bermaksud untuk mencabut sebuah hukum. Demokrasi tidak akan dijalankan dengan baik oleh "jutaan orang yang menyatakan (pendapatnya) tentang masalah-masalah yang begitu kompleks dengan sebuah tanda �check� (check mark) sederhana di atas sebuah kartu suara," katanya kepada harian �La Repubblica� tanggal 23 Mei.

Sekeretaris Jenderal Waligereja Italia, Uskup Guiseppe Betori, mengatakan bahwa umat Katolik memiliki sebuah tugas dalam pemilihan-pemilihan umum yang "dipanggil oleh negara", referendum adalah pemilihan suara yang dibutuhkan oleh "sebuah kelompok, meskipun besar, dari warga negara." Karena sebuah quorum, atau 50 persen ditambah satu dari para pemilih yang memenuhi syarat, harus dicapai bagi sebuah hasil referendum untuk menjadi sah, tidak berpartisipasi dalam sebuah referendum dianggap sebagai sebuah cara yang sah dan alternatif untuk menunjukkan pertentangan terhadap pengajuan referendum, kata uskup kepada harian Katolik Italia, Avvenire, tanggal 16 Maret.

Namun seperti yang tidak disetujui dengan sengit oleh Parlemen Italia tentang bagian dari larangan-larangan tahun lalu mengenai reproduksi buatan, warga Katolik negara itu mengalami sebuah perpecahan yang serupa. Kardinal Fiorenzo Angelini, pensiunan kepala Lembaga Kepausan untuk para Pekerja Perawatan Kesehatan, mengatakan bahwa "umat Katolik yang sesungguhnya melakukan apa yang dikatakan oleh Waligereja Italia," seperti yang dilaporkan oleh harian "Corriere della Sera", tanggal 11 Mei.

Perbincangan seperti "orang baik/orang buruk" itu memicu kemarahan dalam beberapa lingkaran-lingkaran keagamaan; banyak yang memprotes seruan para uskup yang mereka gambarkan sebagai suatu perburuan penyihir. Ernesto Preziosi, wakil kepala "Catholic Action" di Italia, mengatakan bahwa kelompoknya tidak ingin memberikan seruan kardinal "sebuah ikatan dogma" atau pukulan "dari Perang Salib". "Kami ingin berdialog dengan kesadaran masyarakat, menghormati ide-ide dan situasi masyarakat," katanya kepada "La Repubblica" tanggal 17 Mei.

Enrica Belli, kepala dari Federasi Universitas Katolik Italia, mengatakan dalam laporan surat kabar yang sama bahwa asosiasi itu mendukung ajakan Kardinal Ruini, "namun anggota-anggota kami bebas untuk memilih apa yang harus dilakukan." Perselisihan diantara umat Katolik itu bukan difokuskan kepada membebaskan hukum; melainkan dipusatkan kepada Gereja yang mengajak masyarakat untuk tidak memilih. "Tugas uskup adalah menekankan nilai-nilai, bukan memaksakan kepada umat yang percaya pilihan-pilihan yang berkompetisi dengan kesadaran diri dan iman mereka," kata sebuah seruan yang ditandatangani oleh lebih dari 700 orang, termasuk lusinan laki-laki dan wanita beriman. Seruan itu diterbitkan dalam web site dari agen berita Italia, "Adista". Pesan itu berkata, "Jika setiap orang memiliki hukum Tuhan yang tertulis dalam hati dan pikiran mereka, mengapa tidak mempercayakan laki-laki dan wanita" untuk memperkecil jarak antara "hukum manusi yang tidak sempurna dan hukum Tuhan yang sempurna" melalui "partisipasi demokrasi"?

Namun dalam meyakinkan umat Katolik untuk menjauhi tempat pemberian suara, kebanyakan pemimpin Gereja berusaha untuk menyerukan pertimbangan masyarakat dan mengingatkan mereka bahwa semua kehidupan manusia adalah suci, lebih daripada mengancam mereka dengan sensor atau pengucilan. Uskup Agung Serafino Sprovieri dari Benevento mengajak "semua orang untuk menjadi konsisten dengan iman mereka dan dengan pertimbangan yang jelas."

Kardinal Tettamanzi, yang juga adalah seorang ahli dalam bidang bioetik, mengatakan bahwa memboikot referendum adalah cara terbaik untuk menjaga hukum yang telah ada. Ia mengatakan kepada "La Repubblica" tanggal 17 Mei bahwa umat Katolik harus "mencegah segala bentuk ... dari sensor" terhadap mereka yang memilih. Umat Katolik yang mencerca umat Katolik lainnya akan menjadi sebuah "percobaan setan" yang akan membawa "perpecahan yang berbahaya dan tak berdasar" kepada Gereja, katanya.

Dalam 20 tahun terakhir, hampir semua proposal referendum di Italia telah gagal menarik sebuah quorum pemberian suara, sehingga para pendukung referendum telah memfokuskan semua tenaga mereka untuk menganjurkan masyarakat untuk memilih. Kampanye "pergilah memilih" mereka telah difokuskan bukan hanya mengenai pencabutan hukum yang berlaku, melainkan juga sebagai jalan untuk menegaskan pemisahan antara Gereja dan negara. Jika sejumlah pemilih yang mencukupi tidak datang memilih, pembelaan Gereja akan larangan-larangan di dalam hukum yang berlaku akan dikuatkan, namun para uskup sedang berspekulasi bahwa tindakan abstain yang luas akan lebih terlihat sebagai dukungan untuk posisi mereka daripada sebagai contoh lain dari berkembangnya kelesuan pemilih.

Sumber: Konferensi Waligereja Italia, L´Osservatore Romano, Corriere della Sera, La Repubblica, Avvenire, Az

Antara Materialisme dan Spiritualisme

Oleh: Yosi Rorimpandei

Arus deras globalisasi yang melipat dunia menjadi global village (kampung global) hampir tak bisa dielakkan lagi memengaruhi setiap lini kehidupan manusia abad ini. Kepungan pengaruhnya menjulur dari ruang paling privat kita di kamar mandi hingga cara pandang dan cara berpikir kita terhadap realitas.

Dalam wilayah pemenuhan kebutuhannya, manusia yang sebelumnya mengonsumsi dengan niat memenuhi kebutuhan primer mereka-sandang, pangan, papan-sekarang tidak lagi tercukupi, bahkan dengan tambahan kebutuhan sekunder maupun tersiernya an sich.

Lebih dari itu, manusia modern mengonsumsi demi kepentingan "hasrat" (pleasure) libidonial" terdalamnya yang nyata-nyata tak pernah terbatas. Manusia mengonsumsi "materi" lebih sebagai gengsi sosial, kepuasan, kenikmatan, prestis, dan mengejar pengakuan diri sebagai manusia modern! Pada titik inilah gaung globalisasi lebih mononjol pada sisi buruk/negatifnya berbentuk lahan subur konsumerisme...! (tanpa menafikan sisi positif globalisasi yang telah membantu kemajuan peradaban manusia)

Pengaruh materialisme juga merambah pada ranah agama. Aroma orientasi bisnisisasi agama telah menjadi tren umum, untuk tidak mengatakan membiasa, tidak hanya melalui tayangan di layar kaca, tetapi juga melalui kegiatan religius dan "pesta rohani" yang marak belakangan ini, yang justru membuktikan bahwa agama sering ditampilkan melalui pertimbangan kepentingan konsumen/pasar daripada pada sisi esensi dan nilai profetik (pembebasan, pencerahan) kesadaran umat. Tak heran sinetron dan tayangan religius yang bernuansa "menakut-nakuti" lebih digemari dan dominan daripada tampilan dan kegiatan agama yang memberi pencerahan dan penyadaran umat.

Jika terus berlanjut, bukan tidak mungkin agama akan terseret pada wilayah kemasan pragmatis bisnis media, yang tak beda sebagaimana berita dan infotainment lainnya. Prinsipnya, selama pasar menghendaki program akan tetap jalan, esensi pesan dan nilai, edukasi, hanyalah sebagai lipstik yang setiap waktu gampang untuk dikompromikan, bahkan mungkin bisa diabaikan, demi kepentingan konsumen!

Padahal di tengah semakin tingginya kebutuhan manusia mencari sandaran kepastian dan ketenangan jiwa menghadapi perubahan tantangan hidup, agama akhir-akhir ini justru menampakkan wajahnya yang keras dan jahat . Sehingga jurang kesenjangan semakin dalam antara pesan esensial-universal agama sebagai penyampai kabar damai, kasih dan rahmat bagi semesta alam, dengan praktek nyata manusia beragama yang menyenangi kekerasan dan intoleransi pada sesamanya.

Hasil pemahaman pribadi, kelompok, organisasi menjumpai teks suci dipaksakan menjadi milik publik, bukan sebaliknya, nilai-nilai universal agama (kedamaian, kerukunan, kasih, toleran, inklusif, dst) dalam teks suci yang mestinya menjadi norma publik dan menjiwai pengalaman atau pengalaman pribadi. Keterbalikan ini mengakibatkan relasi antar-agama yang terbangun hanya sampai pada "kami" dengan "mereka" belum beranjak menjadi "tentang kita".

Pengaruh terjauh dari materialisme ini adalah semakin tersingkirnya ruang nilai-nilai yang bersifat transenden (non-materi) yang sebenarnya juga menjadi kebutuhan dasar batin dan jiwa manusia. Sebab, tanpanya keseimbangan hidup manusia akan timpang-untuk tidak mengatakan kekeringan-kebutuhan itu adalah spiritualitas.

Spiritualitas yang memperkaya keimanan dapat dicapai melalui kesediaan diri melihat realitas keduniawian secara relatif, hanya sebagai jembatan untuk jalan yang lebih panjang dan abadi setelah mati. Bukan sekedar ingin "membangunkan mummi", mengultuskan konsep keberagamaan masa lampau yang diklaim rigid, yang asli , yang awal , tak tersentuh perubahan, padahal perubahan itu sendiri adalah keniscayaan sejarah yang terus terjadi.

Dalam hitungan sejarah agama yang bersandar pada wahyu secara tradisional telah mengalami masa pencerahan berkali-kali agar lebih menyapa pada tuntutan manusia modern. Namun di sisi lain, perkembangan modernisme semakin hari justru menggerus pesan dasar dan nilai terdalam dari agama yang ingin memberi arah kepastian keselamatan, membekali jiwa manusia menghadapi hidup dan setelah hidup secara harmoni.

Maka, jika spiritualitas agama hari ini hendak dimunculkan kembali, maka ia mesti diposisikan sebagai solusi, sekali lagi bukan untuk "membangkitkan mummi". Ia harus bisa menerima kesadaran aktualnya tanpa hendak terseret untuk mengabaikan esensi pesan universalnya.

Sangat mungkin, menguatnya budaya materialisme akan serentak diimbangi dengan kuatnya kerinduan manusia akan spiritualisme. Sebab, pada hakikatnya manusia selalu ingin hidup seimbang dan harmoni. Sekarang tinggal kita, mau memakai spiritualisme pada makna yang mana: yang penuh pencerahan akal budi atau yang mudah menina-bobokan kesadaran rasional?

Apa yang Terjadi Jika Allah Membuat Lines Telephone?

Bayangkan bila kita pada saat berdoa kita mendengar jawaban ini:
"Terima kasih Anda telah menghubungi Rumah Bapa.
Pilihlah salah satu:..
..tekan 1 untuk meminta;
..tekan 2 untuk mengucap syukur;
..tekan 3 untuk mengeluh;
..tekan 4 untuk permintaan lainnya."

Atau, bagaimana jika Allah memohon maaf seperti ini: "Saat ini semua malaikat sedang membantu yang lain.Tetaplah menunggu. Panggilan Anda akan dijawab sesuai urutannya."

Atau bisa juga Anda mendengar ini: "Komputer kami menunjukkan bahwa Anda telah satu kali menelepon hari ini, silahkan mencoba kembali esok hari." "Kantor ini ditutup pada hari Minggu, silahkan menelpon lagi pada hari Senin setelah pukul 9 pagi."

Namun, puji Tuhan, Allah mengasihi kita, Anda dapat menelponnya setiap saat! Anda hanya perlu memanggil sekali dan Dia mendengar Anda, karena Yesus, Anda tak akan pernah mendengar nada sibuk. Tuhan menerima panggilan dan tahu siapa pemanggilnya secara pribadi.

Ketika Anda memanggil, Tuhan menjawab; Anda menangis minta tolong dan Dia akan berkata: "Ini Aku" (Yesaya 58:9)

Ketika Anda memanggil, gunakan "Nomor Telepon Darurat" di bawah ini:

Nomor-nomor tersebut dapat langsung dihubungi. Operator tidak diperlukan. Seluruh saluran ke Surga terbuka 24 jam sehari! Dan, yang penting, bagikan daftar telepon ini kepada orang-orang disekeliling kita.

Siapa tahu mungkin mereka sedang membutuhkannya.

GBU ALL....

Artinya Warna Telor Paskah

Oleh: Mang Ucup

Apakah Anda mengetahui artinya lambang dari warna-warna telor paskah?

  1. Warna Merah: melambangkan Darah-Nya Yesus 1 Petrus 1:18-19 Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat

  • Warna Biru: melambangkan awan biru - sorga: Kisah 1:11 mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga
  • Warna Hijau: melambangkan warna Daun Yohanes 12:13 mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru-seru: "Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!"
  • Warna Perak/silver : melambangkan uang perak Yudas Matius 26:15 Ia berkata: "Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?" Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya.
  • Warna Cokelat: melambangkan warna kayu salib 1 Petrus 2:24 Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di Kayu Salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.
  • Warna Hitam: melambangkan warna Paku Yohanes 20:25 Tetapi Tomas berkata kepada mereka: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya."
  • Warna Ungu: melambangkan warna Jubah-Nya Yesus: Yohanes 19:23 Sesudah prajurit-prajurit itu menyalibkan Yesus, mereka mengambil pakaian-Nya lalu membaginya menjadi empat bagian untuk tiap-tiap prajurit satu bagian--dan jubah-Nya juga mereka ambil. Jubah itu tidak berjahit,dari atas ke bawah hanya satu tenunan saja.
  • Warna Merah tua: melambangkan warna Angggur Markus 15:36 Seorang dari mereka cepat-cepat pergi mengambil bunga karang, lalu mencelupkannya ke dalam anggur asam. Kemudian bunga karang itu dicucukkannya pada ujung sebatang kayu, lalu diulurkannya ke bibir Yesus, sambil berkata, "Tunggu, mari kita lihat apakah Elia datang menurunkan Dia dari salib itu."
  • Warna Abu-abu: melambangkan warna Batu penutup kuburan Markus 16:3 Di tengah jalan mereka berkata satu sama lain, "Siapakah yang dapat menolong kita menggeserkan batu penutup pada lubang kubur?" Sebab batu itu besar sekali. Tetapi setibanya di situ mereka melihat batu itu sudah terguling.
  • Warna Putih: melambangkan warna kain kafan Yohanes 4:13-14 Kedua orang itu mengambil jenazah Yesus lalu membungkusnya dengan kain kafan bersama-sama dengan ramuan wangi itu menurut adat penguburan orang Yahudi.
  • Bangga Beragama?

    Penulis : Andar Ismail

    "BERBANGGAKAH kita bahwa kita beragama? Memang mulia bila kita menganut sebuah agama. Namun, bagaimanakah cara keberagamaan itu kita ungkap dan wujudkan? Ada banyak cara mengekspresikan keberagamaan. "Pertama, agama diwujudkan secara verbal. Dalam percakapan sehari- hari sebentar-sebentar kita menyebut nama Allah atau Tuhan. Entah berapa puluh kali nama Allah disebut dalam satu hari sekadar sebagai pemanis percakapan.

    "Kedua, agama diwujudkan secara ornamental. Kemana-mana kita memakai ornamen religius seperti topi agama, baju agama, kalung agama atau lainnya. Di mobil kita pasang stiker agama. Pokoknya, dari jauh langsung sudah kelihatan bahwa kita ini beragama.

    "Ketiga, agama diwujudkan secara seremonial. Berbagai kegiatan kita awali dengan sebuah seremoni atau upacara agama, baik yang singkat terdiri dari satu dua kalimat atau lebih panjang dari itu.

    "Keempat, agama diwujudkan secara ritual. Hidup dijadwal dengan ritus- ritus agama. Ada ritus harian, ada ritus mingguan dan ada ritus tahunan.

    "Kelirukah cara mewujudkan agama secara itu? Tidak! Samasekali tidak keliru. Namun, cobalah kita rendah itukah agama hadir dalam hidup manusia?

    "Yesus adalah pemeluk sebuah agama. Lalu Ia melihat kenyataan bahwa banyak teman-teman seagama mewujudkan keberagamaan hanya sebatas cara- cara verbal, ornamental, seremonial dan ritual tadi. Kemudian Ia mengecam cara keberagaman itu.

    Misalnya, terhadap orang yang sebentar-sebentar menyebut nama Tuhan, Ia mengecam, "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! Akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku..." (Matius 7:21). Tentang orang yang suka memakai ornamen religius, Yesus berkata, "...supaya dilihat orang, mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang" (Matius 23:5)

    "Kecaman Yesus itu sejajar dengan apa yang dibaca oleh Dia dalam buku- buku para nabi yang juga mengecam keberagamaan yang cuma verbal, ornamental, seremonial dan ritual. Dalam salah satu buku itu tertulis, "Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi ... itukah yang kausebut berpuasa ...? Bukan!

    Berpuasa yang kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu- belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya ... supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar ... (Yesaya 58:4-7).

    "Kalau begitu halnya, keberagamaan macam apakah yang dijalani oleh Yesus? Perhatikan kata melakukan dalam ucapan Yesus tadi, "... melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku". Jadi, menurut Yesus keberagamaan terungkap dalam wujud melakukan kehendak Allah.

    Apakah kehendak Allah itu? Yesus berucap, "... supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu" (Yohanes 15:12).

    "Jadi, Yesus mewujudkan keberagamaan-Nya bukan dengan cara pertama sampai dengan keempat tadi. Ia mempunyai cara kelima, yaitu mewujudkan agama secara operasional universal. Artinya, mengasihi dengan melampaui segala batas ras, etnik, agama, ideologi atau lainnya.

    Patutkah kita bangga jadi orang beragama? Silakan! Namun, sungguh sayang jika keberagamaan kita cuma terungkap dangkal sebatas verbal, ornamental, seremonial dan ritual.

    Seyogyanya keberagamaan terwujud secara operasional universal dalam bentuk perilaku yang luhur yang mendatangkan faedah untuk kepentingan semua orang.

    "Filsuf Francois Duc de Levis (1764-1830) menulis, "Noblesse oblige". Artinya, sebutan yang luhur mengandung tanggung jawab yang luhur pula. Beragama mewujud dalam perilaku yang mulia. Sungguh bagus jika kita mengaku sebagai bangsa yang beragama, tetapi apakah kita juga berperilaku mulia?

    Sumber: Suara Pembaruan Daily

    Belajar Menjadi Miskin

    Oscar Lewis, seorang antropolog, mengungkapkan bahwa masalah kemiskinan bukanlah masalah ekonomi, bukan pula masalah ketergantungan antar negara atau masalah pertentangan kelas. Memang hal-hal tadi dapat dan merupakan penyebab kemiskinan itu sendiri tetapi menurut Lewis, kemiskinan itu sendiri adalah budaya atau sebuah cara hidup. Dengan demikian karena kebudayaan adalah sesuatu yang diperoleh dengan belajar dan sifatnya selalu diturunkan kepada generasi selanjutnya maka kemiskinan menjadi lestari di dalam masyarakat yang berkebudayaan kemiskinan karena pola-pola sosialisasi, yang sebagian besar berlaku dalam kehidupan keluarga. (Kisah Lima Keluarga, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta 1988).

    Kebudayaan kemiskinan bukanlah monopoli mereka yang secara ekonomi tidak memiliki sumber-sumber produksi, distribusi benda-benda, dan jasa ekonomi. Kebudayaan kemiskinan juga dimiliki mereka yang oleh kita dianggap kaya atau bermodal. Dalam cakupan budaya kemiskinan beberapa hal dapat menunjukkan keberadaannya seperti meliputi tingkah laku kasar dalam keluarga yang selalu menjadi masalah mereka yang miskin, perasaan tidak puas atau tidak enak yang berkelanjutan, kurangnya cinta kasih, retaknya nilai-nilai moral dan etika, serta ketiadaan akses kepada kapital alias modal. Hal-hal ini dapat terjadi dalam kelaurga kaya sekalipun. Pada intinya walaupun sebuah keluarga atau masyarakat dianggap kaya tetapi jika gaya hidup dan cara hidupnya menunjukkan ciri-ciri kemiskinan maka mereka "mengidap" apa yang disebut kebudayaan kemiskinan.

    Jadi walaupun sudah kaya raya tetapi ternyata seorang teman masih saja tidak bisa melepaskan berbagai cara kekerasan yang dilakukan bapaknya dulu ketika mendidik dia dan saudara-sudaranya. Dia bilang "Wah seperti refleks mas Wiji, saya itu tidak ingin dan tahu berkata kasar serta mencambuk anak itu tidak baik tapi saya lakukan juga, sepertinya tidak ada pilihan lain untuk mendisiplinkan anak saya itu." Atau beberapa tingkah orang kaya baru yang kadang norak dan aneh-aneh nampaknya juga menunjukkan perasaan tidak enak, tidak nyaman, dan tidak puas yang berkelanjutan.

    Kata para ahli, apa yang disebut cara hidup miskin ini merupakan "penyakit" hampir di semua belahan bumi yang menurut ukuran negeri kapitalis (maju) adalah negeri yang sedang berkembang atau miskin?padahal bisa jadi kalau diukur kekayaan alamnya bisa lebih kaya. Negara-negara yang biasanya pernah dijajah dan mengalami benturan budaya karena terkejut dan tidak bisa menerima kemajuan teknologi. Di satu sisi beberapa negara ini masih memiliki kebudayaan petani yang kental tetapi tiba-tiba juga harus menghadapi kebudayaan material yang diusung oleh negara kapitalis tersebut dan menguasai hampir semua lini kehidupan. Jadi kemiskinan di sini dilanggengkan karena secara langsung ataupun tidak langsung dipelajari dan dipraktekkan cara hidupnya oleh masyarakat pendukungnya. Sekolah di mana saya bekerja rupanya menjadi bagian dari lembaga yang melanggengkan hal tersebut. Pada masa sekitar tahun 60-80-an sekolah ini merupakan sekolah yang cukup berjaya. Gaji gurunya melebihi gaji pegawai negeri pada masa itu. Ditawari menjadi pegawai negeri guru-guru tersebut tidak mau. Bahkan dengan bangga mereka bisa memamerkan sepeda pemberian dari Yayasan Pusat yang belum tentu dapat diperoleh pegawai negeri saat itu. Sekilas sepertinya sekolah ini maju pesat. Tetapi ternyata semua itu terjadi karena ada dukungan dana dari Belanda untuk operasionalisasi semua kegiatan disekolah ini.

    Sekolah hampir tidak mengadakan pembaharuan ataupun rencana-rencana untuk masa depan. Yang kemudian terjadi adalah rebutan rejeki sehingga sebisa mungkin saudara ataupun teman menjadi bagian dari Pengurus Yayasan ataupun Guru di sekolah-sekolah yang berada di bawah naungan Yayasan Pengelola. Dapat ditebak situasinya adalah situasi aman karena mendapat sokongan. Tidak ada budaya berusaha, tetapi seperti sebuah involusi, dana bantuan yang harusnya dikembangkan itu malah dibuat supaya dapat menghidupi banyak sekali para kolega maupun saudara. Seperti sepetak sawah yang kemudian dikerjakan oleh banyak orang hanya supaya semua orang kebagian rejeki. Sebuah cara hidup miskin karena ketiadaan sumber produksi dan ketiadaan pengetahuan mengelola sumber produksi maka apa yang ada dimaksimalkan dengan cara di buat "padat karya". Jelas hal ini akan menjauhkan kita dari kemajuan. Ketika traktor berperan habislah model pertanian ini.

    Kembali ke sekolah tadi. Dalam situasi seperti ini jelas anak-anak sadar atau tidak sadar diajak untuk belajar menjadi miskin. Mereka selalu melihat bahwa saudara-saudara Guru mereka yang lebih berperan dan Guru-guru juga selalu menekankan bahwa kekayaan sepertinya adalah sebuah wahyu bukan karena usaha. Sisa-sisa pengajaran mereka itu masih dapat dilihat sampai sekarang. Seorang Guru berkata "Nasib Mas Wiji, dulu kita jaya sekarang terpuruk." Kepada murid-murid dia berkata, "Kamu belajar yang rajin, dan nanti kalau nasibmu baik jangan lupa kepada sekolah ini". Jadi nasib baik saja yang menentukan. Nasib baik siapa tahu mendapat donatur lagi atau menjadi kaya. Arogansi ketika mereka merasa lebih baik dari pegawai negeri juga membuat keinginan maju tidak ada. Maka gaya mengajar dan juga situasinya minimalis sekali. Miskin kreatifitas. Yang ada rutinitas.

    Datanglah badai itu. Bantuan dari Belanda karena permasalahan politik dihentikan sama sekali. Guru-guru dan pengurus yang tadinya bergelimang korupsi menjadi kalang kabut karena mereka harus menghidupi diri sendiri sementara saingan menjamur di mana-mana. Hampir tidak mungkin mereka menaikkan uang sekolah untuk menyokong pendidikan di sekolah itu karena sekolah negeri dengan mutu sama bisa lebih murah. Sentimen SARA makin menghambat laju sekolah ini. Akhirnya sang Kepala Sekolah berujar "Nasib kita memang sedang tidak baik, Tuhan sedang menguji kita." Ujian ini ternyata berjalan lama. Satu persatu aset sekolah tidak dapat digunakan dan satu-persatu sekolah-sekolah dari Yayasan ini ditutup sampai akhirnya tinggal satu sekolah?yang saat ini bekerja sama dengan tempat kerja saya. Keadaan ini makin diperburuk dengan saling menjatuhkan antar pengurus dan juga antar guru. Berebut aset yang sebenarnya tidak seberapa.

    Lalu mengapa satu sekolah itu bisa bertahan? Jawabnya juga karena mereka melakukan strategi kemiskinan. Kalau melihat keseharian Guru yang sudah lama dan tetap bertahan, saat ini mereka sebenarnya sudah mencapai taraf kemakmuran secara individu. Bisa dilihat dari rumah mereka yang pasti berbata dan anak-anak mereka yang bisa berkuliah?kebanyakan di Universitas swasta pula. Satu hal yang dulu sulit dilakukan Guru-guru negeri. Memang Guru-guru itu juga memiliki usaha lain dalam bidang pertanian?sebagai dampak "pembagian" dana donasi dulu sehingga mereka bisa memiliki akses sumber-sumber produksi.

    Tetapi untuk memajukan sekolah sekali lagi yang dipakai adalah strategi kemiskinan. Rupanya sekolah itu di buat menjadi kelihatan semiskin mungkin. Kalau Anda pertama kali ke sana anda akan menjumpai sekolah yang tak terawat sama sekali dengan alsan tidak ada dana untuk perawatan. Buku hampir tidak ada. Penjaga sekolah tidak melakukan tugasnya sama sekali. Atap bocor, alat peraga tidak ada, dapur jadi satu dengan kantor, dan wc tidak ada airnya. Alasannya sekali lagi tidak ada uang. Lambat laun saya tahu kalau setiap tahun ada dana dari pemerintah untuk operasional sekolah. Bantuan alat peraga juga ada. Dan berbagai donatur silih berganti membantu sekolah ini. Lalu ke mana dana-dana bantuan tersebut? Usut punya usut dana-dana tersebut selalu dibagi rata untuk Guru-guru yang telah terbiasa mendapatkan dana lebih baik dari pegawai negeri. Ketika bantuan tidak ada dan krisis moneter menghantam mereka menjadi pihak yang secara ekonomi miskin dan tidak punya akses produksi serta kapital lagi.

    Lambat laun, berbagai alat peraga bantuan pemerintah saya temukan. Ada yang disimpan di rumah penduduk dan ada pula yang disimpan di rumah penjaga sekolah. Saya hanya geleng-geleng kepala melihat hal ini. Beberapa dokumen dipalsukan hanya agar beberapa Guru memperoleh insentif dari pemerintah. Maka ketika beberpa perubahan kami lakukan kata yang pertama keluar dari Kepala sekolah "Lebih baik tidak dibantu Mas, dibantu kita tidak dapat apa-apa." Dengan kondisi pemiskinan tadi sudah barang tentu budaya kemiskinan tertanam baik dalam benak dan pikiran anak-anak. Semuanya serba minimalis dan bahkan dibuat tidak ada sama sekali. Sampai-sampai dana beasiswa tidak sepenuhnya digunakan untuk anak-anak. Sempurna kan? Miskinnya maksdunya.

    Dengan memiskinkan diri itulah maka sekolah selalu terlihat membutuhkan bantuan dan berbagai bantuan dari orang yang kasihan mengalir ke sekolah. Padahal kalau dipikir hanya sedikit yang akan didapat dari metode miskin ini. Sama sekali tidak terpikir oleh Guru-guru itu untuk membuat terobosan dengan memajukan sekolah dan mengolah sumber yanga ada disekolah untuk kemajuan sekolah. Budaya kemiskinan telah mengajar207 kepada mereka dengan hanya mengulurkan tangan seperti pengemis maka dana akan mengalir. Alasannya selalu saja ini: tidak ada yang memikirkan, Yayasan tidak melakukan apa-apa?ya mereka bertengkar terus, dan tidak ada uang. Tapi ketika mendapat uang terus digunakan untuk hal yang tidak benar bahkan untuk rebutan.

    Budaya kemiskinan jelas telah menggerogoti banyak segi dalam kehidupan bangsa ini. Bahkan terlembagakan dengan jeniusnya disekolah. Di beberapa sekolah negeri saya melihat praktek-praktek pemiskinan tersebut juga berlangsung. Dana insentif untuk Guru honorer masih saja dipotong dan dibagi rata kepada Guru yang seharusnya tidak menerima. Pemerataan katanya. Membentak dan menjewer adalah hal biasa juga dalam keseharian di sekolah. Dalam kehidupan sehari-hari kemiskinan adalah bagian dari kita dan berbagai cara korupsi serta kekerasan di negara ini adalah merupakan bukti nyata adanya kebudayaan kemiskinan tersebut. Bukti juga kalau bangsa kita?paling tidak dilingkungan saya bekerja?masih terjajah. Beberapa waktu lalu saya membaca di sebuah harian Nasional?saya lupa tanggalnya?negara kita ini mungkin memang hanya akan bisa maju kalau terjajah karena mentalnya memang mental miskin dan terjajah. Bagaimana, masih mau terjajah atau mau maju? Lalu saya teringat kepada perumpamaan tentang talenta dari Tuhan Yesus. Kalau kasusnya memiskinkan diri seperti tadi termasuk mengembangkan talenta tidak ya? Kasusnya memang rumit tapi mudah-mudahan kalau kita nanti di tanya Tuhan apa yang dilakukan di dunia ini kita akan mendengarkan Tuhan berkata "Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu." (Matius 25:23).

    Belajar dari Semut

    Penulis : Kristian.N

    Suatu hari Raja Daud mengajak Salomo anaknya menemaninya berjalan-jalan di taman istana. Setelah letih berkeliling duduklah dia di bawah sebuah pohon rindang. Dilihatnya Salomo sedang asik memandangi sesuatu. Rasa penasaran Daud mendorongnya untuk menghampiri Salomo. "Anak ku apa yang sedang engkau lihat?" tanya sang ayah.

    Suatu hari Raja Daud mengajak Salomo anaknya menemaninya berjalan-jalan di taman istana. Setelah letih berkeliling duduklah dia di bawah sebuah pohon rindang. Dilihatnya Salomo sedang asik memandangi sesuatu. Rasa penasaran Daud mendorongnya untuk menghampiri Salomo. "Anak ku apa yang sedang engkau lihat?" tanya sang ayah.

    "Oh lihatlah ayah sekawanan semut itu, mereka begitu sibuk mengangkat daun menuju sarang. Untuk apa sebenarnya daun-daun itu?" tanya Salomo kepada ayahnya.

    "Daun itu adalah makannya, anakku. Ini adalah musim dimana mereka biasa mengumpulkan makanan, untuk bekal ketika salju mulai turun menutupi bumi." Jawab Daud.

    "Lihatlah mereka begitu kecil tapi sanggup mengangkat daun yang begitu besar, bahkan jauh lebih besar dari tubuh mereka sendiri. Ternyata semut tidak selemah yang aku kira selama ini." Sambung Salomo. Dia tampak begitu heran dan kagum dengan pemandangan yang sedang dilihatnya.

    "Yah itulah Kuasa Tuhan, bahkan binatang yang paling lemah diberikan Tuhan kekuatan melebihi yang lain. Tuhan itu adil. tahukah kamu anakku, semut yang kecil ini sanggup mengangkat beban yang bahkan 10 kali lebih berat dari tubuhnya. Seekor gajah yang paling besarpun tidk akan sanggup menandingi kekuatan seekor semut. Anakku, jangan pernah sekalipun engkau meremehkan mereka yang tampak lemah. Belajarlah dari semut! Jika engkau nanti menjadi seorang raja". Jawab Raja Daud.

    "Engkau tahu berapa lama mereka akan mengangkat makanan-makanan itu?" tanya Raja.

    "Entah ayah, mungkin sampai nanti sore". Jawab Salomo.

    "Tidak nak, tidak seperti itu. Mereka akan terus bekerja mengumpulkan makanan hingga musim dingin tiba. Lihatlah bagaimana mereka bekerja! Mereka seakan tidak pernah lelah. Tidak ada yang diam, tidak ada yang tampak sedang asik bersantai bukan?" sambung Raja Daud.

    "Ya, ayah benar. Mereka semua bekerja! Tapi Ayah, mungkinkah karena mereka takut akan dihukum jika tidak bekerja? mungkin ada yang sedang mengawasi mereka bekerja." Salomo mencoba mengajukan argumennya.

    "Tidak, tidak ada yang mengawasi, semut bukan budak dari siapapun. Semut hanya memiliki seorang ratu yang bertugas melahirkan para semut, sedangkan sebagian besar semut adalah jenis pekerja dan sisannya adalah semut prajurit yang bertugas menjaga koloni dan ratu mereka. Tapi tidak untuk mengontrol para pekerja." Jawab Raja Daud.

    "Anak ku, jika engkau mau merenungkannya, engkau bisa belajar banyak dari kehidupan para semut." Sambung Raja Daud.

    "Apakah itu ayah, katakanlah supaya aku ini mengert." Pinta Salomo.

    "Baiklah, supaya engkau tahu, semut adalah binatang yang bijaksana, yang menyadari bahwa untuk segala sesuatu ada masannya. Mereka menyadari ada waktu untuk mengumpulkan dan bekerja serta ada waktu untuk beristirahat. Ketika masa untuk bekerja datang, mereka akan menggunakannya untuk mengumpulkan bekal makanan. tak satupun dari mereka yang berusaha mencuri waktu untuk bersantai dan bersenang-senang. Karena mereka sadar ketika musim dingin tiba, mereka akan dapat beristirahat di dalam sarangnya yang hangat, semua beristirahat, tidak ada yang bekerja. Mereka makan dan minum, berpesta sambil menanti datangnya musim semi."

    "Yang kedua, sebagai semut, mereka tahu bagaimana hidup dalam bersama dalam komunitasnya. Setiap semut paham akan tugas dan perannya masing masing. Mereka menjalankan tugasnya dengan setia. Mereka tidak perlu dipaksa dan tidak perlu didikte. Mereka tetap bekerja tanpa perlu diawasi. Tiap-tiap semut akan melakukan tugasnya dengan sukarela dan sungguh-sungguh. Yang satu tidak iri dengan yang lain. Selain rajin, semut adalah binatang yang memiliki integritas tinggi."

    "Anakku jika engkau nanti menjadi seorang raja yang akan memimpin bangsamu, ajaklah rakyatmu belajar dari para semut." Sambung Sang Daud.

    Tak terasa hari semakin siang. Matahari sudah berada tepat di atas kepala. Digandengnya tangan Salomo. "anak ku sudah saatnya untuk pulang. Masih cukup waktu untuk kamu bisa merenungkannya nanti."

    Ya masih banyak waktu bagi kita untuk merenungkan, betapa tidak sempurnanya kita sebagai manusia, hingga masih harus belajar dari para semut.

    Sumber: Nama Saya Kristian
    share with us

    Belajar dari Yohanes Pembaptis!

    Oleh: Hwian Christianto

    Namanya mungkin muncul hanya beberapa adegan dalam cerita Injil. Nama "Yohanes" pun saat itu demikian populernya sehingga setiap orang tua yang memiliki anak rindu untuk memberi nama Yohanes pada anaknya. Namun Yohanes yang satu ini sangat istimewa. Rasul Petrus dalam injil Markus-nya mensaksikan permulaan Injil itu dari pelayanan seseorang yang dinubuatkan oleh Nabi Yesaya, dia-lah utusan Raja yang bertugas untuk mempersiapkan jalan untuk Tuhan! Senada dengan Petrus, Lukas mencatatkan dalam Injil-nya suatu karya agung dari Allah yang membentuk sebuah panitia penyambutan bagi Anak-Nya sebelum datang ke dunia. Bermula dari mujizat kelahiran Yohanes dari sepasang suami-istri yang di vonis mandul karena faktor usia menjadi bukti awal, Allah menepati janjiNya. Dengan kacamata berbeda Matius pun menggaris bawahi peran Yohanes sebelum Yesus datang dan melayani. Yohanes, bekas muridnya pun menuliskan sosok sang guru sebagai orang yang tegas dalam mengabarkan berita pertobatan.

    Siapakah Yohanes pembaptis ini, sehingga Yesus memujinya sebagai "seorang yang lebih besar di antara semua orang yang dilahirkan perempuan". Jaman Yohanes Pembaptis Ketika kelahirannya: Kelahirannya menjadi satu tanda awal bahwa Tuhan kembali berkenan pada umat-Nya. Setelah hampir 400 tahun sejak jaman Maleakhi, Allah berhenti berbicara melalui nabi-nabi-Nya sehingga membuat bangsa Israel sangat sedih dan hilang pengharapan. Di tambah lagi sebuah kenyataan pahit, Israel harus jatuh ke tangan Kekaisaran Romawi yang sangat membenci penyembahan dewa selain dewa-dewi Olympus. Sebuah tindakan Allah yang luar biasa ketika Zakharia (ayahnya) dan Elisabeth yang sudah tua dan mandul itu kehilangan harapan, Allah menujukkan kasih setia dengan mengirimkan seorang putra. Seakan tidak percaya, Zakharia berlutut dan memuji Allah-nya atas perbuatan-Nya itu (Lukas 1:67-80). Namanya, Yohanes sudah menjadi tanda ajaib bagi orang-orang di sekitarnya sehingga mulai mempercayai inilah saatnya Allah menerbitkan pengharapan yang telah lama hilang (Luk 1:65-66).

    Belajar: Memang kelahiran setiap kita tidaklah sedahsyat dan seajaib Yohanes Pembaptis, namun inilah kelahiran yang sesungguhnya yaitu ketika Terang itu telah datang kepada kegelapan! Kelahiran Yesus-lah yang menjadi bukti dan tanda ajaib di dalam hidup kita bahwa kita jauh lebih berharga daripada apapun. Ketika orang yang berdosa seperti kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat di dalam hati (Luk 2:11) maka Pengharapan itu sangat dekat pada orang-orang di sekitar kita yang masih buta di dalam kegelapan. Mari kita yang sudah menerima keindahan kasih karunia Tuhan, mewartakan berita sukacita ini kepada mereka yang keras hatinya, gelap matanya dan busuk perbuatannya. Mungkin kita akan di caci maki, dihina, dikucilkan atau bahkan di aniaya tetapi ingat firman Tuhan mengatakan "Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu di cela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat, bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga,.." (Mat 5:11-12a)

    Pertumbuhannya: Alkitab tidak memberikan cukup banyak keterangan tentang seperti apa dan bagaimana kehidupan masa remaja Yohanes, namun satu keterangan yang cukup bagi kita untuk memahami kehidupan Yohanes di paparkan dalam Lukas 1:80. "Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Dan ia tinggal di padang gurun sampai kepada hari ia harus menampakkan diri kepada Israel". Pertumbuhan seorang anak yang benar-benar di pakai Tuhan sangatlah penting untuk diperhatikan. Jika kita melihat bapa dan ibunya yang berkedudukan sebagai imam keturunan Lewi maka hukum Taurat yang menjadi perintah Allah pastilah menjadi dasar pengajaran bagi Yohanes muda untuk bertumbuh. Mengapa Yohanes di padang gurun, seolah-olah bersembunyi dari masyarakat Israel? Sebab itulah yang menjadi panggilannya sejak semula. "Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya," (Luk 1:15). Seorang yang akan di kuduskan oleh Allah dari tengah-tengah dunia yang rusak ini untuk dapat di pimpin oleh Allah sendiri di dalam kehidupannya. Begitulah ia mendapatkan pengajaran ini dari bapa-nya sehingga Yohanes muda pun tetap taat dan menjaga kekudusannya hingga Tuhan menyatakan waktunya untuk melayani.

    Belajar: Adalah sesuatu yang sangat indah ketika kita mengetahui bahwa kita diberikan hak untuk menjalani hidup bersama dengan Tuhan. Ada orang yang bertanya, "Kak, kenapa ya kita orang Kristen kok susah?" lalu saya bertanya, "Lho, emangnya kenapa kok susah?", ia menimpali "lha iyalah, coba bayangkan kita masih hidup untuk berjuang dalam iman bukankah lebih enak di panggil Tuhan langsung aja!". Dengan tersenyum saya menjawab "wah, ndak seru dong!" Sontak dia kaget keheranan, "Seru gimana, kak?!". "Begini, pernah ndak kamu baca novel tapi 2 halaman terakhirnya saja yang lainnnya ndak usah, kira-kira gimana hayo?". Dengan tersenyum dia jawab "lha ya, aneh dan ndak seru to, kak!" begitulah saudaraku saat kita masih diijinkan Tuhan untuk hidup bersamaNya itu berarti Dia ingin menunjukkan kuasa dan kemuliaanNya pada setiap detik kehidupan kita tentang kehebatanNya yang luar biasa. So amazed our Lord! Hidup ini menjadi tungku bagi hati kita untuk di godok semakin hari, tahun berganti semakin berkenan di hadapanNya, itulah kekudusan!

    Pelayanannya: Lukas 3:1-2 mencatat suatu keadaan yang benar-benar rinci tentang dimana dan seperti apa Yohanes Pembaptis itu memulai pelayanannya. Saat itu wilayah Israel berada dalam tangan Tiberius yang sangat kejam dan tidak membiarkan seorang pengkhianat pun hidup lebih dari 1 detik. Nyawa manusia bagi Tiberius benar-benar seperti nyawa seekor semut yang tidak ada harganya, apalagi nyawa seorang Yohanes Pembaptis yang tidak memiliki kedudukan apa-apa. Bagi orang Israel jaman itu benar-benar jaman "tutup-mulut" sebab mereka takut di hukum pancung pada saat itu juga sebagai akibat salah bicara. Hal sebaliknya yang dilakukan Yohanes, dia berseru dengan suara nyaring; "Bertobatlah dan berilah dirimu di baptis maka Allah akan mengampuni dosamu". Untuk mengawasi daerahnya dari usaha-usaha pemberontakan, Tiberius mengangkat seorang wali negeri (gubernur) Pontius Pilatus di Yudea.

    Suasana serupa sebenarnya pernah bangsa Indonesia alami saat di jajah Belanda, Ratu Belanda mengangkat seorang Gubernur Jenderal di Hindhia Belanda (sebutan Indonesia saat itu) untuk mengawasi dan mengatur wilayah ini termasuk jangan sampai terjadi pemberontakan. Di tangan gubernur inilah, otoritas kaisar untuk mencabut nyawa seseorang berada. Namun Yohanes tidak gentar dia tetap merespons panggilan Tuhan atas dirinya, dengan menuju wilayah Yordan. Perkembangan politik saat itu di warnai perebutan kekuasaan oleh anggota keluarga raja (anak-anak Herodes Agung) atas wilayah-wilayah Galilea. Untuk mengakomodasi hal ini Tiberius mengangkat Raja-raja kecil atas beberapa wilayah; Herodes Antipas untuk wilayah Galilea, Filipus untuk wilayah Iturea dan Trakhonitis dan Lisanias untuk wilayah Abilene. Dari ketiga raja ini, Herodes Antipaslah yang sangat bersinggungan erat dengan kehidupan pelayanan Yohanes Pembaptis. Sebab di wilayah Herodes Antipas-lah yaitu di sungai Yordan dan daerah sekitarnya, Yohanes melakukan pembaptisan.

    Herodes Antipas seorang raja yang tidak berbeda jauh dari ayahnya, haus kekuasaan, serakah, dan lalim. Saking serakahnya, Herodes berani merebut Herodias istri saudara sepupunya untuk dijadikan istrinya (padahal Herodias masih terbilang saudara tiri dari Herodes). Dalam hal inilah Yohanes Pembatis berurusan dengan Herodes Antipas dengan menegor tindakannya itu sebagai dosa. Belajar: Mari sekali lagi kita perhatikan hidup kita, mulai dari kita bayi hingga sekarang! Adakah engkau pernah bertanya kenapa ya kok Tuhan ciptakan aku seperti ini? Kenapa ya aku, si kecil yang dulu sangat nakal diijinkan masuk sekolah SD, SMP, SMA dan bahkan masuk Kampus yang luar biasa ini? Pertanyaan berikutnya, mari renungkan kenapa Tuhan memilihmu dari bermiliar-miliar manusia di dunia ini? Kenapa Dia menuliskan namamu di dalam hatiNya, sehingga Ia rela mati untukmu? Jawabannya, TUHAN punya rencana padamu untuk mengerjakan pelayananNya! Saudaraku, Tuhan tidak pernah menempatkan seseorang pada suasana dan kondisi yang mudah untuk melayani dengan satu tujuan agar engkau melihat kemuliaan dan kedahsayatan kuasaNya! Banyak orang yang saat ini ingin melayani menurut keinginannya sendiri, begitu dapat tekanan dia langsung lari, sakit hati dan menghilang entah kemana. Itu sih namanya bukan pelayanan tetapi pekerjaan.

    Mari kita memahami bahwa Tuhan membentuk setiap kita dengan tanganNya dan menghembuskan nafas kehidupan langsung dari nafasNya karena setiap kita dicipta untuk satu rencana agung Tuhan. Untuk setiap masa Tuhan tempatkan satu dua hambaNya. Untuk menegakkan satu umat perjanjian, Allah memakai Abraham. Pada masa penjajahan Mesir yang begitu kejam, Allah tidak memakai Firaun Musa tetapi seorang gembala pelarian bernama Musa. Yosua di pilih Allah untuk memasuki tanah perjanjian dan membaginya, begitu pula dengan jaman pembuangan Tuhan tempatkan hambaNya, Daniel, Sadrakh, Mesakh, Abednego, Yehezkiel, Yesaya , dll. Lalu bagaimana dengan jaman ini, hei! Tuhan tetap berkerja, lihatlah Dia menegakkan kebenaranNYa dengan memanggil seorang rahib bernama Martin Luther untuk menegakkan prinsip sola fide (hanya oleh iman)! Untuk menancapkan doktrin dasar, Ia memanggil John Calvin sehingga kita mengenal sola Deo Gloria, dan sola Kristo.

    Di jaman NAZI, ketika bangsa Yahudi ditindas dan dibantai habis-habisan, disaat gereja menutup mulutnya, Dietrich Boenhoefer menyatakan keberatannya sebagai orang Kristen Jerman. Inggris, ketika jaman perbudakan melanda, Tuhan bangkitkan nama-nama John Newton dan di Amerika seorang Martin Luther King, Jr. bagaimana sekarang, mari jangan melihat orang lain lagi, Tuhan bisa pakai engkau menjadi alatNya yang luar biasa! Sebab bukan karena hebat dan canggihnya suatu alat sehingga dia bekerja luar biasa, semuanya bergantung pada Sang Pahlawan, Dia Allah, Tuhan yang memakai kita sebagai alatNya!

    Pelayanan Yohanes Pembaptis

    Memahami pelayanan Yohanes Pembaptis tidak dapat di lepaskan dari rencana Allah dalam dirinya dari sejak semula. "ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka, dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya" (Luk 1:16-17). Kata-kata Gabriel, malaikat Tuhan ini benar-benar membuat Zakharia terkejut karena terlalu besar baginya untuk dipahami.

    Setidaknya hanya ada 1 visi Yohanes yaitu "menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya" visi ini akan digenapi dengan satu misi utama yaitu "Pertobatan umat Allah"! Yohanes benar-benar menjadi satu pasukan khusus pengawal Presiden (Paspanpres) yang akan memastikan kesiapan umat Allah saat Sang Presiden Sorga itu datang. Begitu memahami panggilan ini Yohanes langsung tampil dengan satu strategi yang matang untuk mempersiapkan umat Tuhan. Dia memilih wilayah sungai Yordan! Mengapa sungai Yordan? Sungguh bukan karena di situ banyak air sehingga memungkinkan untuk mengadakan pembaptisan, atau biar nanti ndak susah-susah bila ia membutuhkan air karena terlalu banyak berkhotbah. Ia memilih Yordan karena wilayahnya Strategis! Betapa tidak, jika kita perhatikan Peta alkitab kita di bawah judul Peta Palestina pada Jaman Yesus maka akan nampak letak sungai Yordan yang sangat startegis membelah wilayah Israel. Lagi pula di daerah itu juga terdapat kota-kota penting yang nantinya Yesus akan singgah; mulai dari Nain, Kana, Nasareth, Gadara, Sikhar, Yerikho, Yerusalem, dll. Selain itu wilayah sungai Yordan ini memang sering dikunjungi hanya oleh umat Israel pada hari Sabat karena mereka harus membersihkan pakaiannya sebelum merayakan hari Sabat Tuhan.

    Akan ada begitu banyak orang Israel yang berkumpul di sekitar sungai Yordan untuk mempersiapkan dirinya sebelum menuju ke Yerusalem. Jelas sekali, Yohanes memakai perhitungan yang tepat dan efektif dalam melaksanakan panggilannya. Tepat seperti nubuatan sejak kelahirannya, seruan pertobatan Yohanes Pembaptis benar-benar di responi oleh orang Israel dengan banyaknya jumlah orang yang member diri dibaptis.

    Mengapa Membaptis?

    Sejalan dengan panggilan awalnya di Lukas 1:16-17, pertobatan umat Allah menjadi satu-satunya cara untuk membuat banyak orang dimampukan merespons kasih karunia Allah dalam Kristus, Sang Mesias. Pertanyaan ini juga pernah di ajukan oleh para professor taurat yaitu para Imam dari suku Lewi kepada Yohanes, namun ia menjawab "Aku bukan Elia, bukan Mesias tetapi Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku." Yohanes bersaksi bahwa ia hanya mengerjakan satu tanda komitmen pertobatan menjelang kedatangan Seorang Raja yang lebih berotoritas untuk melakukan hal itu. seolah-olah Yohanes mengatakan satu hal yang ingin dia perbuat yaitu melakukan sesuatu yang membuat hati Tuan-nya senang dan membuat hidup orang lain berbalik dari dosanya menuju pada Tuan-nya. Inilah yang dia ingin sampaikan. Dia tidak melakukan semuanya itu untuk mencari sensasi agar semua orang tahu bahwa dia itu nabi. Dia juga tidak berkoar-koar bahwa dia datang dengan keajaiban dan panggilan dari malaikat Tuhan sehingga orang-orang dapat kagum dan hormat kepadanya. Dia hanya berkata "aku, Yohanes, membaptis karena Allah menginginkan aku melakukannya dengan tujuan membuat orang-orang menyesali dosanya dan memuliakan Allah".

    Sikap kerendah hatian inilah yang patut kita teladani dari Yohanes, pada saat kita hidup. Sebab hidup di dalam Tuhan berarti melayani Dia dengan sepenuh hati kita. Akan ada banyak tantangan dan pencobaan yang membuat diri menjadi bangga, puas diri dan pada akhirnya kesombongan itu lahir. Namun sikap rendah hati dengan mata tertuju pada anugerah Allah itulah kunci keberhasilan pelayanan Yohanes Pembaptis. Yohanes si Pembaptis begitulah seringkali orang memandangnya, namun pandangan ini belumlah lengkap dengan melihat apa yang Allah pandang terhadapnya. "Dia-lah, hambaKu, Yohanes namanya, dia yang membuat hati bapa kepada anaknya dan hati orang durhaka kepada pikiran orang benar. Sehingga layaklah ia Ku sebut orang yang besar (sukses/hebat) di antara semua manusia".

    Belajar:

    Apakah definisi kesuksesan menurut anda? Lulus tepat waktu dengan nilai cum laude, IPK : 4,00 atau mendapatkan pekerjaan yang di impi-impikan dengan gaji yang besar di antara teman-teman anda atau mendapatkan istri/suami yang cuakepnya gak ketulungan sampai orang lain iri atau membanggakan orang tua kita atau berguna bagi bangsa dan Negara atau". Atau". Dll. Sejak awal kita di cipta untuk menggenapi satu tujuan Allah, Pencipta kita, yaitu memuliakan Dia dan menikmati persekutuan denganNya. Bagaimana caranya? Yohanes bersaksi pada kita, LAYANILAH ALLAH! Melayani Tuhan akan membuat hidup kita berorientasi pada apa yang menjadi kehendak Tuan kita, bukan kehendak kita semata. Melayani berarti memberi apa yang Allah sudah berikan pada kita. Disinilah hidup kita benar-benar sukses, ketika kita sebagai ciptaan mengerti dan memenuhi harapan Pencipta kita!

    Buat apalah ketenaran dan kekayaan, buat apa kemasyuran dan kegemilangan harta yang hanya diingat manusia paling lama 10 tahun tetapi engkau di benci Tuhan selamanya! Mari kita bertanggung jawab atas kepercayaan yang Tuhan berikan pada kita. Jika kita menyebut Tuhan itu baik maka sesungguhnya kita percaya bahwa setiap kita di berikan satu, dua atau tiga talenta yang berbeda satu dengan lainnya. Tuhan tahu seberapa talenta yang ada pada kita tetapi Ia menuntut pertanggung jawaban kita untuk mengerjakannya bukan pada berapa besar dan kecilnya pengaruh dari pelayanan kita. Tidak kompromi dengan dosa.

    Menarik sekali memperhatikan sikap Yohanes Pembaptis terhadap budaya dosa yang saat itu sedang melanda kehidupan Israel. Pertama, dosa kemunafikan; dan kedua, dosa perzinahan. Pertama, dosa kemunafikan Ketika dilihatnya begitu banyak orang Israel datang berduyun-duyun memberi diri untuk di baptis Yohanes, dengan hati yang penuh keraguan mereka melangkahkan kakinya memasuki air sungai Yordan yang begitu dingin. Namun betapa kagetnya mereka ketika sebuah suara yang tidak asing menggelegar di telinga mereka "Hai, kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarian diri dari murka yang akan datang?" Deg! Terkejut bin malu menyelimuti perasaan mereka selama beberapa detik. Betapa tidak mereka adalah kelompok orang yang sangat alim saat itu bahkan di anggap sebagai kelompok yang memiliki kekudusan lebih dari pada yang lain. Mereka-lah orang Farisi dan orang Saduki, kelompok orang yang mendedikasikan hidupnya untuk belajar hukum Taurat Musa dan mempraktekkannya secara utuh.

    Namun mengapa Yohanes menegor mereka dengan keras? Bukankah mereka orang yang baik dan kudus? Begitu pula lah pandangan orang-orang pada jaman itu terhadap dua kelompok ini, orang-orang yang tidak mungkin bersalah bahkan sangat jauh dari dosa. Hanya saja, Tuhan tidak melihat apa yang di lihat manusia, Ia melihat hati manusia. Kemunafikan merupakan satu dosa yang benar-benar menjijikan di mata Tuhan. Orang-orang munafik ini pernah di umpamakan Yesus seperti ragi yang bisa merusak seluruh adonan (Luk 12:1) dan oleh karena itu Dia mengecam orang-orang Farisi yang menutupi kebusukannya dengan keindahan seperti kuburan yang di labur putih tetapi di dalamnya penuh tulang-belulang dan kotoran (Mat 23:27-28).

    Kepada merekalah baik Yohanes maupun Yesus menyebut " keturunan ular beludak" karena mereka bersikap benar-benar seperti si Iblis, bapa penipu! Ular beludak (ibr. Shephiphon) sering mengacu pada ular gurun bertanduk dari Arabia dan Mesir. Ular berbisa ini memiliki strategi yang licik untuk mematikan mangsanya, yaitu dengan bergelung dan menunggu-mungkin dalam jejak kaki unta di pasir-sampai seekor binatang kecil lewat di tempat itu. Jika sudah ular itu akan menyambar, memagut, meracuninya dan membunuhnya untuk di makan. Sering pula ular ini melakukan bunyi-bunyian yang menarik mangsanya, sehingga mangsanya mengira bunyi itu sebagai santapannya tetapi justru dia-lah yang terpagut dan mati lemas dalam perut ular beludak ini. Culas dan licik! Begitulah gambaran orang yang munafik di hadapan Tuhan, mengapa demikian? Orang yang berpura-pura baik sebenarnya sangat berbahaya karena orang-orang yang tidak mengetahui akan tersesat karenanya. Orang lain akan ikut terjerumus dan mati bersama dengan dia. Hal inilah yang Tuhan sangat benci dan kecam dengan sangat.

    Seruan Yohanes kembali pada arti pertobatan itu sendiri yaitu suatu pemahaman kehendak, pikiran dan emosi atas segala dosa yang dilakukannya begitu menjijikan di mata Tuhan sehingga berkomitmen untuk tidak memikirkannya lagi, menginginkannya lagi dan bahkan melakukannya. Pertobatan harus menghasilkan buah-buah yang sesuai. Jangan sampai hari ini bertobat untuk tidak nonton video porno tetapi 1 jam setelahnya begitu melihat cewek cantik segera membayangkan adegan tidak senonoh atau sekarang bertobat untuk tidak iri dengan orang lain eh belum ada 1 jam sudah mulai mengajak teman-teman membicarakan gossip terbaru hari ini.

    Mari bertobat dan bukan berobat. Akhir-akhir ini orang Kristen seringkali mendapatkan kesempatan melalui kebaktian kebangunan rohani (KKR), Acara Rekomitmen, atau acara Kebaktian Raya yang semuanya bertajuk pertobatan. Namun acapkali banyak juga orang Kristen yang menyalah gunakan momen ini hanya untuk berobat pada Tuhan tetapi tidak sungguh-sungguh melepaskan dosa. Seolah-olah acara itu merupakan "dokter" bagi mereka untuk mendapatkan resep dan obat yang bisa di makan dengan harapan itu bisa sembuh pada saat itu. sembuh memang tetapi mereka tidak pernah menyangka jika sakit yang serupa pun bisa kambuh lagi.

    Ketika saya masih duduk di semester awal kuliah Fakultas Hukum Unair, masa-masa itu benar-benar masa yang sulit bagi saya untuk beradaptasi terhadap makanan Surabaya padahal saya harus makan mengingat banyaknya tugas yang harus dikerjakan. Seperti yang di duga, suatu malam perut saya terasa perih sekaligus puannas luar biasa sudah begitu diikuti gejala mual lagi sehingga terjadilah muntah-muntah. Setelah didiagnosa dokter, ternyata saya menderita sakit maag akut karena telat makan. Dokter memberikan beberapa resep obat dan menasehati saya, bahwa sangat percuma jika saya tetap minum obat tetapi tidak makan, maka maag saya akan bertambah akut. Saya meminum obat itu dan memang rasa sakit pun berhenti tetapi tidak berarti pulih seperti semula. Begitu pula dengan hati kita yang berdosa, yang tidak membutuhkan "obat-obatan" rasa penghiburan berupa janji yang indah tetapi "makanan" Firman Allah yang mungkin tidak kita suka namun menghidupkan kita. Mari bertobat!

    Kedua, Dosa Perzinahan Membicarakan kekudusan pada jaman ini benar-benar riskan mengingat budaya materialisme dan humanistik sudah menghipnotis masyarakat kita. Manusia benar-benar menilai dirinya hanya berdasar pada apa yang dia miliki, apa yang melekat pada tubuhnya dan bukan pada apa yang ada di hatinya. Masyarakat cenderung konsumtif terhadap barang-barang yang sebenarnya tidak penting tetapi karena tidak ingin di cap ketinggalan jaman, belilah dia.

    Ego menjadi satu kunci di masayarakat modern dan post modern ini, manusia menjadi pusat dari tata kehidupan dan kebutuhan yang ada disekitarnya. Bangga diri dan pemujaan pada diri sendiri (narsisme) menjadi wabah yang mulai menyerang masyarakat, mulai dari anak hingga lansia, laki-laki hingga perempuan, kaya maupun miskin semua terinfeksi virus ini. Mereka mulai hidup mereka dengan paradigma baru "Hidup untuk diri dan diri ada untuk menikmati hidup".

    Oleh karena itu tidak heran jika pada jaman ini, perzinahan benar-benar menjadi suatu barang konsumsi yang menarik untuk dibicarakan, diinginkan, dibayangkan bahkan dilakukan tanpa merasa berdosa pada Allah. Dosa perzinahan ini benar-benar bersimbiosis mutualisme dengan pohon inangnya materialism. Mulai dari gaya hidup, gaya rambut, gaya berpakaian yang serba minim bin transparan, pergaulan bebas dan didukung oleh film-film yang erotis dan vulgar dan lagu-lagu yang mendengungkan perselingkuhan menambah kokohnya menara dosa ini.

    Di jaman itu sebenarnya tidak jauh berbeda, orang Israel pun sudah mulai terpengaruh dengan berbagai budaya materialis-humanis Romawi yang saat itu bersembunyi di balik agama Yunani. Dewa-dewi Olympus, seperti Approdhite, dewi cinta menawarkan keindahan cinta yang benar-benar menjijikan karena mengijinkan hubungan inses, homoseksual, pornografi, dll. Pengaruh ini pun melanda nafsu Herodes Antipas yang saat itu dengan terang-terangan mengambil Herodias, istri Filipus saudaranya (Mat 13:3). Yohanes Pembaptis dengan tegas menegor Herodes, "tidak halal engkau mengambil Herodias!". Mari perhatikan, sikap tegas dan tidak kompromi Yohanes Pembaptis memandang perzinahan sebagai satu dosa yang menjijikan. Untuk melakukan hal ini, Yohanes berani menanggung resikonya dengan di penjara atau bahkan kehilangan kepalanya. Sikap Herodes mengambil Herodias menjadi istrinya merupakan sikap haram menurut hukum Yahudi yang saat itu berlaku di wilayah Yudea, tepat dimana Herodes berkuasa.

    Haram berarti sesuatu yang menajiskan orang Israel sehingga mereka dibenci Allah. Begitu mendengar kata-kata Yohanes ini, Herodes tahu bahwa kedudukan dan pamoritasnya sudah turun di mata orang Yudea oleh karena itu ia memenjarakan Yohanes dan berakhir pada pemenggalan kepalanya. Dari peristiwa ini ternyata dapat diketahui bahwa ketika dosa itu dinyatakan respons dari orang yang berdosa itu tidak selalu langsung bertobat. Ada hati yang ditegor semakin lunak dan hancur namun ada juga hati yang ditegor langsung mengeras. Manakah hati kita dihadapanNYa? Seksualitas merupakan karunia yang Tuhan rancang menurut kemuliaanNya jadi seharusnya kita pun harus menempatkannya seperti yang Allah mau. Seksualitas itu kudus di mata Tuhan, tetapi dosa merusaknya dengan meninggikan nafsu dan keindahan semu yang sangat menyilaukan sehingga sangat menyesatkan bagi orang yang memandangnya. Begitulah Yesus berfirman: "Setiap orang yang memandang perempuan dan menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya" (mat 5:28). Saudaraku mari evaluasi diri kita, apakah yang aku lihat?

    Suatu ketika Yohanes Pembaptis di tanya oleh orang Farisi dan Saduki; "Hai,Yohanes untuk apa engkau hidup?!" Dengan suara nyaring dia bersaksi: "Aku hidup untuk mempersiapkan jalan untuk Sang Raja dengan memberitakan kabar pengharapan pada orang yang berada dalam lembah kesusahan, meratakan gunung kesombongan dan bukit keangkuhan. Aku mau menyatakan terang Tuhan sehingga dapat membimbing orang pada jalan yang lurus dan meratakan setiap kompromi dosa. Dengan demikian setiap orang yang ada dalam kehidupanku dapat melihat dengan jelas terang Tuhan!"

    Tuhan, ampuni kami atas kedunguan dan kebebalan hati kami

    Kami yang Tuhan kasihi, diangkat dari lumpur dosa

    Tuhan, trima kasih Engkau layakan

    Engkau menyebut kami, begitu penting dan berharga!

    Demikianlah kami mau hidup, Tuhan

    Memancarkan sinarMu kepada dunia yang gelap

    Mempersiapkan jalan untuk Tuhan

    Ini aku, Tuhan layakkan kami

    Amin!

    Benediktus, Tidak Sekadar Sebuah Nama

    Ketika Kardinal Joseph Ratzinger (78) terpilih menjadi Paus ke-265, ia kemudian memilih nama Benediktus XVI. Mengapa ia tidak memilih nama Yohanes Paulus III? Bukankah Ratzinger sangat menghormati Yohanes Paulus II yang wafat 2 April lalu? Atau mengapa ia tidak menggunakan nama Paulus VII sebagai kelanjutan dari pemerintahan konservatif Paus Paulus VI (1963-1978)? Tentu Kardinal Ratzinger memilih nama Benediktus-artinya "yang diberkati"-bukan karena ia membaca Ramalan St Malachi (sekitar 1139). Ramalan itu menyebutkan bahwa Paus pengganti Yohanes Paulus II adalah seseorang yang hidup dan kerjanya memiliki ciri sebagai Gloria Olivae (Kemuliaan Zaitun). Tafsiran mengenai nama simbolik tersebut memang mengaitkannya dengan seorang tokoh bernama Benediktus dari Nursia, Italia (480-543).

    Sebagai orang yang taat pada tradisi Gereja Katolik, pasti Kardinal Ratzinger tak memercayai Ramalan St Malachi. Ambisi dan ramalan itu tabu dalam kepemimpinan Gereja (Kompas, 18/4).

    "Ada yang memilih sebuah nama karena nama tersebut mencerminkan sebuah keutamaan," tulis Hergemoeller. "Nama Innosensius, misalnya, mencerminkan sebuah kesucian. Sementara Clemensius menggambarkan sebuah watak penyayang," lanjutnya.

    Hergemoeller juga menemukan bahwa ada Paus yang memilih sebuah nama karena Paus yang digantikannya telah mengangkatnya sebagai kardinal. Itu dilakukan, misalnya, oleh Paus Benediktus XIV (menjabat Paus: 1740-1758), Pius VIII (1829-1830), atau Pius XII (1939-1958).

    Alasan duniawi dan keluarga juga ada. Misalnya, Kardinal Antonio Pignatelli (1615-1700) memakai nama Innosensius XII karena ia sangat kagum dengan cara hidup yang mewah dari Paus Innosensius XI (1676- 1689). Selain ingin hidup segemerlap Innosensius XI, Pignatelli memilih nama tersebut karena idolanya itu juga telah membantu kehidupan keluarganya.

    Lepas dari alasan-alasan duniawi atau keluarga, pada umumnya pemilihan nama itu memang banyak didasarkan pada rasa terima kasih dan-ini yang lebih penting-keinginan untuk melanjutkan warisan spiritual atau sebaliknya untuk memulai sesuatu yang baru. Hergemoeller menyebutkan bahwa Kardinal Angelo Guiseppe Roncalli (1881-1963) memilih nama Yohanes XXIII karena "ia ingin mengakhiri era kepausan para Pius". Dua pendahulunya memang memakai nama Pius XI (1922-1939) dan Pius XII (1939-1958).

    Sumber: Kompas

    Berburu Harta Karun

    Baca: Amsal 2:1-9

    Pada tanggal 1 Januari 2008, Keith Severin dan Adrien, putranya yang berusia 7 tahun, bersepakat untuk meluangkan waktu sedikitnya 15 menit setiap hari selama setahun untuk bersama-sama berburu harta karun. Sebuah artikel Carlos Alcala di media "Sacramento Bee" menggambarkan bagaimana Keith dan Adrien setiap hari pergi bersama dalam kondisi cuaca apa pun untuk mencari benda-benda yang dapat mereka temukan. Setahun kemudian, semua koleksi mereka yang meliputi uang logam, bola golf, botol dan kaleng yang dapat didaur ulang, serta barang-barang lainnya telah menghasilkan uang lebih dari 10 juta rupiah. Selama proses pencarian itu, mereka menikmati banyak waktu kebersamaan dan kesenangan.

    Jika kita menyediakan waktu 15 menit setiap hari untuk mencari harta karun di dalam Alkitab, apa yang akan kita temukan? Salomo menuliskan: "Jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam; maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah..... Maka engkau akan mengerti tentang kebenaran, keadilan, dan kejujuran, bahkan setiap jalan yang baik." (Ams. 2:4-5,9)

    Pertumbuhan rohani tidak akan terjadi seketika, namun setahap demi setahap, hari demi hari, kita akan diubahkan. Melalui pembacaan firman Allah dan kesediaan untuk menaati Allah, Ia akan mengubah kita. Pikirkan tentang keistimewaan dan kepuasan yang kita peroleh ketika kita menyediakan waktu bersama dengan Bapa surgawi kita.Semua dimulai dari komitmen sepenuh hati, dilanjutkan dengan penemuan-penemuan yang menyenangkan, dan menuntun kita untuk memperoleh harta karun hikmat dan kehidupan. -- DCM

    Carilah harta berharganya Alkitab -- Seperti penambang menggali bijih logam; Cari, dan pastilah engkau akan menemukan Harta karun untuk memperkaya pikiran. -- NN

    Diambil dari:

    Judul buku : Santapan Rohani Desember, Januari, Februari 2009 -- 2010
    Penulis : DMC
    Penerbit : RBC Ministries, Indonesia 2009

    Bikin Diri Israel Padahal Halmahera

    Oleh: Sefnat Hontong

    Bacaan: Efesus 2:11-22

    Saya rasa kita pasti bangga kalau disebut sebagai Umat Allah! Sebab dengan berstatus sebagai umat Allah, maka segala hak istimewa sebagai umat Allah (sebagaimana yang disaksikan dalam kitab Suci) akan kita peroleh dan nikmati dalam hidup kita, baik sekarang maupun di akhirat. Namun sampai kini saya masih punya sebuah pertanyaan yang belum terjawab, yakni: siapakah dia yang layak disebut atau bergelar sebagai umat Allah? Apakah seluruh umat manusia adalah sekaligus umat Allah? Ataukah hanya sebagian dari umat manusia adalah umat Allah (50% umat Allah, 50% bukan)? Kalau hanya sebagian saja (50%) yang akan disebut atau menjadi umat Allah, maka umat manusia yang mana? Apakah yang berkulit putih? hitam? kuning? sawo matang? Ataukah yang beragama Kristen dan Islam? Atau jangan-jangan hanya yang beragama Hindu, Budha, dan Konfuchu?

    Pada jaman purba, penggolongan siapa umat Allah dan siapa yang bukan umat Allah sangat ditentukan oleh apakah ia telah menjadi bagian dari bangsa Israel atau tidak/belum. Siapa saja entah yang berkulit putih, hitam, kuning, sawo matang tetapi kalau bersedia menjadi bagian dari bangsa Israel, otomatis akan disebut dan bergelar sebagai umat Allah. Di luar itu adalah bukan umat Allah. Kalau sudah di cap sebagai bukan umat Allah, maka konsekuensinya adalah dibinasakan atau ditaklukkan oleh Israel. Jadi siap menunggu gempuran Israel.

    Realitas seperti itu banyak kita baca dalam kesaksian Alkitab Perjanjian Lama. Misalnya kisah penumpasan kota Yerikho dan kota Ai yang dipimpin oleh Yosua (dalam Yosua pasal 6:1-27 dan 8:1-29). Di mana kita tahu dalam kedua kisah itu tidak seorangpun yang selamat, selain Rahab dan orang-orangnya serta raja Ai. Juga kisah Nabi Yunus ketika diutus ke kota Niniwe (Yunus 1) untuk menyampaikan berita pertobatan. Yunus tidak mau dan malah melarikan diri ke Tarsis, sebab pikirnya apa gunanya pergi ke Niniwe yang adalah bukan umat Allah?

    Bagaimana kondisinya pada jaman Yesus dan Paulus? Saya kira tolok ukur yang dikenal sejak jaman Perjanjian Lama itu masih berlaku. Dalam ke-empat kitab Injil, kita banyak membaca kisah dimana Yesus bertentangan dengan para pemimpin Israel disebabkan oleh masalah sah atau tidaknya ajaran Yesus; yang dalam banyak hal bertentangan dengan undang-undang bangsa Israel (Hukum Taurat). Misalnya kisah penyembuhan orang sakit dan kisah memetik gandum pada hari Sabat, dll. Lalu apa komentar Yesus? Memang Yesus dalam pelayananNya pernah berpikir tertutup dan hanya mengutamakan identitas Israel, seperti yang Ia katakan kepada seorang perempuan dari Siro Fenesia/Kanaan dalam Matius 15:24 “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel”. Tetapi sesudah kisah dengan perempuan Siro Fenesia/Kanaan ini, orientasi pelayanan dan pikiran Yesus-pun berubah dan terbuka kepada siapa saja, tanpa pandang buluh. Sehingga Ia pernah berkata dalam Matius 7:21 “Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan! Tuhan! (yang) akan masuk ke dalam kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di Sorga (yang akan masuk ke dalam kerajaan Sorga)”.

    Yang bisa melakukan kehendak Bapa di Sorga itu pasti tidak ada batasnya, alias siapa saja bisa. Jadi kalau seseorang entah dari suku, agama, bahasa, ras, apapun bisa melakukan kehendak Bapa, otomatis dialah yang berhak masuk dalam kerajaan Sorga atau menjadi umat Allah. Bahkan dalam Matius 3:9-10 Yesus berkata: “Dan jangalah mengira, bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini! Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.” Artinya menurut Yesus ukuran untuk menjadi umat Allah, bukan ditentukan karena hanya dengan menjadi keturunan Abraham atau bukan, tetapi siapa saja yang dapat melakukan kehendak Bapa atau yang telah menghasilkan buah yang baik dalam hidupnya, layak menjadi umat Allah.

    Saya kira, rasul Paulus dalam beberapa tulisannya juga mengembangkan dan menegaskan apa yang diajarkan oleh Yesus tentang siapa umat Allah itu. Hal mana jelas dalam teks Efesus 2:11-22. Memang harus kita katakan bahwa pandangan Paulus dalam teks ini sangat Kristosentris, artinya sangat berpusat kepada Kristus. Hal seperti ini bukanlah sesuatu yang salah. Bahwa Kristus adalah pusat dari seluruh karya Allah untuk menyelamatkan dunia ini adalah sesuatu yang Alkitabia. Asal saja kita tidak bersikap Kristensentris (bahwa seluruh karya Allah hanya berpusat kepada yang Kristen) dan menutup karya Kristus hanya kepada orang Kristen. Sambil menganggap orang lain yang bukan Kristen sebagai orang yang tidak termasuk dalam karya Kristus. Menurut Paulus, semua orang tanpa pandang identitasnya, alias tidak ada lagi pendatang dan orang asing, melainkan (semua) telah menjadi kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Yesus Kristus sebagai batu penjuru (ayat 19-20). Entah yang sunat atau tidak, entah yang Yahudi atau bukan, entah yang merasa diri ‘dekat’ atau yang dianggap ‘jauh’, semuanya telah dipersatukan dan diperdamaikan oleh Allah di dalam karya Kristus di kayu Salib (ayat 11-14). Bahkan sama-sama telah memperoleh jalan masuk kepada Bapa (ayat 18). Tidak ada yang kelas satu, kelas dua, atau kelas tiga, tetapi semua telah menjadi satu dalam manusia baru atas nama Kristus (ayat 15).

    Tetapi dalam realitas beriman orang Kristen, tolok ukur yang ada sejak jaman purba tadi masih saja mendominasi pikiran dan pelayanan gereja, bahkan dalam tulisan serta khotbah-khotbah gereja. Kita lupa bahwa karya Allah dalam diri Kristus adalah karya untuk semua dan karya untuk seisi dunia ini. Kita sering membuat karya Allah menjadi sempit seolah-olah berlaku hanya untuk orang yang beragama Kristen, sambil menganggap orang yang bukan Kristen adalah orang-orang yang layak dibinasakan atau ditaklukkan oleh Allah atau oleh kita. Contoh paling jelas adalah ketika terjadi bencana alam di beberapa daerah yang mayoritas penduduknya beragama Islam di Indonesia, seperti di Aceh, Padang Pariaman, Situ Bondo dan beberapa daerah lain. Atas dasar karena populasi kependudukan mereka yang ditimpa bencana itu adalah orang-orang yang beragama Islam, kita (sebagai orang Kristen) lalu berkesimpulan bahwa bencana alam itu terjadi sebagai sebuah hukuman Tuhan kepada orang-orang yang bukan umat Allah.

    Sikap seperti itulah yang saya sebut dengan ‘bikin diri Israel, padahal cuma orang Halmahera’. Artinya kita terlalu sering bersikap seperti orang Israel yang menganggap diri sebagai umat Allah dan menganggap orang lain yang bukan Kristen adalah bukan umat Allah. Menurut kita, mereka yang bukan Kristen adalah orang-orang yang wajar ditimpa kesulitan dan kebinasaan, seperti bencana alam dan hal-hal yang serupa dengan itu. Pertanyaan saya ialah: bagaimana jika hal yang serupa itu tiba-tiba menimpa hidup kita, seperti: peristiwa konflik kekerasan yang terjadi pada tahun 1999 dan 2000 yang lalu? Maka orang lain akan mengatakan kepada kita pernyataan yang sama ‘itu adalah hukuman Tuhan kepada orang-orang yang bukan umat Allah’. Apakah kita setuju? Pasti kita marah besar, karena memang kita selalu ‘bikin diri seperti Israel’.

    Situs penulis: http://sefnathontong.blogspot.com/

    Bileam

    Oleh: Imelda Seloadji

    Kegelapan malam turun ke rumah-rumah orang Moab. Kegelapan juga turun menyelimuti hati Balak, raja dari bangsa keturunan Lot, kemenakan Abraham. Para pengawal dan penasihat di dekatnya dapat mendengar gemeletuk gigi sang raja, bukan karena hawa dingin yang memang seperti menusuk tulang, tetapi getar kemarahan dan ketakutan akan sesuatu yang sedang datang mendekat. Kabar telah sampai kepada telinganya, bahwa bangsa yang datang ini telah mengalahkan bangsa Amori.

    Dari jauh, tampak cahaya dari perkemahan orang Israel. Balak melihat sendiri api aneh menyerupai bentuk tiang besar yang ada di tengah-tengah perkemahan tersebut, menyala-nyala seperti membelah langit yang gelap namun tidak menyambar kemah-kemah tersebut. Cahaya itu begitu terang sehingga kemah-kemah Israel terlihat jelas malam itu. Balak tak bisa menyembunyikan keresahannya. Bangsa ini bukan seperti bangsa-bangsa barbar lain yang telah berhasil ditaklukkannya. "Lihatlah mereka begitu banyak seperti menutup bumi! Mereka akan membabat habis kita, seperti kawanan lembu yang memakan habis seluruh padang rumput!" seru Balak. Para penasehatnya diam tak bereaksi.

    "Apa yang harus kulakukan? Kurasa bantuan dari Midian pun tak cukup untuk menghadapi mereka." Salah seorang penasihat memberikan jawaban, "Bukankah ada seorang Pelihat, Bileam, anak Beor yang tinggal di Petor, di tanah orang Midian, di tepi sungai Efrat? Ia mampu melihat hal-hal yang tidak dapat dilihat oleh orang biasa. Dia bisa berbicara kepada yang dibalik langit."

    "Mungkin saja, dia juga bisa berbicara kepada Allah Israel. Betul, aku ingat tentang Bileam anak Beor ini. Ya, kita minta dia mengutuki Israel, karena apa yang dia kutuki menjadi terkutuk dan apa yang dia berkati menjadi terberkati. "

    Sang Penasihat memberi isyarat kepada dua orang utusan. Mereka tahu apa yang harus dilakukan. Saat itu juga, mereka bergegas, memulai perjalanan menuju rumah Bileam anak Beor.

    Suatu malam pintu rumah Bileam Sang Pelihat digedor. Bileam terjaga. Ia baru saja bermimpi aneh. Dalam mimpinya, ia berdiri di puncak gunung, ketika siang sedang beralih menuju gelap, dari puncak gunung itu ia melihat suatu hamparan dengan kemah-kemah berwarna coklat kemerahan. Ada orang-orang berwajah asing keluar masuk kemah-kemah tersebut, dan seorang pria berjubah merah bergaris putih dan hitam, wajahnya bercahaya. Lalu di gunung itu, ia berjumpa dua sosok, yang entah kenapa, dari pandangan mata yang fana, sama indahnya, namun dari mata hati, sungguh berbeda, yaitu Malaikat Tuhan dan Setan. Malaikat itu berjubah putih bersih, bercahaya terang hampir seterang sinar matahari. Ada kedamaian yang lembut ketika memandangnya. Sorot matanya memancarkan keteduhan. Setan berdiri tak jauh dari situ, mengenakan jubah warna-warni dengan kilau keemasan. Oh, dia tampan, tak bertaring dan bertanduk seperti lukisan tentang dirinya di dinding-dinding gua.

    Namun ketika Setan tersenyum, seperti ada hawa dingin yang sangat kuat, membekukan apa saja di sekeliling dan di dalam dirinya, dan sesaat kemudian berganti menjadi panas yang luar biasa, seperti membakar apa saja. Malaikat itu sepertinya mengatakan sesuatu, dan Setan itu juga berusaha membisikkan sesuatu. Namun entah apa, Bileam sudah terjaga oleh suara pintu yang digedor.

    "Siapa?" tanya Bileam. "Wahai Pelihat, Kami utusan Raja Balak, anak Zippor. Biarkan kami masuk," terdengar suara dari luar. Bileam membukakan pintu. "Hal penting apa yang membuat tuan-tuan datang menembus terik matahari, juga kegelapan dan hawa dingin malam, datang kepada hamba?" "Ada permintaan khusus dari sang raja. Sudah sampaikah berita kedatangan sebuah bangsa, jumlahnya besar, seperti menutup bumi? Mereka keluar dari Mesir, dan kini mereka sangat dekat dengan negeri kami. Raja kami ingin engkau mengutuki mereka baginya, supaya jika kita berperang dengan mereka, kita akan menang."

    Bileam tercenung. Sejenak ia ingat pada mimpinya, sesuatu sedang terjadi."Kiranya tuan-tuan bersedia bermalam di sini, besok akan kuberi jawaban. Aku perlu mencari tahu kehendak Tuhan. "Kedua utusan Moab itu bermalam di rumah Bileam. Mereka tertidur lelap ketika malam sudah sangat larut, namun Sang Pelihat masih terjaga di sotoh rumahnya. Keheningan membalut dirinya, matanya menatap langit malam yang cerah. Ia sedang menelusuri lorong hatinya, berupaya menemukan jawaban akan perintah yang ia tahu tak mungkin dilaksanakan sekehendak dirinya. Jiwanya seperti mengembara, meraba dinding-dinding gua yang gelap, hingga suatu Suara datang kepadanya.

    "Wahai Bileam, siapakah yang datang kepadamu tadi?" Suara itu begitu nyata, memecah keheningan. Bileam terkejut. Kebijaksanaannya memberi tahu kepadanya, ia sedang berbicara kepada Allah Israel. "Mereka adalah utusan Balak anak Zippor, raja orang Moab. Mereka memintaku mengutuki Israel." "Jangan pergi dengan mereka. Jangan engkau kutuki bangsa itu, sebab mereka telah diberkati," suara itu berkata dengan tegas.

    Pagi harinya, Bileam mendesak agar para utusan Moab tersebut pulang, karena Tuhan tidak mengijinkan ia pergi bersama mereka. Lalu pulanglah para utusan Moab itu dan mengatakan kepada Balak bahwa Bileam telah menolak pergi. Balak belum putus asa, diutusnya para pemuka yang lebih tinggi jabatannya. Mereka pun pergi menemui Bileam Sang Pelihat.

    Sesampai di rumah Bileam, para pemuka Moab menyampaikan pesan raja mereka, "Wahai Bileam, Raja Balak anak Zippor mengatakan begini:"Jangan biarkan dirimu merasa dihalangi untuk datang padaku, sebab aku akan memberimu banyak upah, dan apapun yang kauminta padaku, akan aku kabulkan. Datanglah, dan serapahlah bangsa itu bagiku."

    "Sekalipun Balak memberikan kepadaku emas dan perak seistana penuh, aku tidak akan sanggup berbuat apapun, yang kecil atau yang besar, yang melanggar titah Tuhan," jawab Bileam. Mereka terus mendesaknya. Hati Bileam mulai goyah dengan janji upah yang tak pernah diterimanya dari siapapun sebelumnya. Balak adalah seorang raja, kata-katanya bukan omong kosong belaka. Tawaran yang sungguh mempesona. Ia tak menyadari, Dia Yang Maha Tahu telah menilik hatinya yang mulai tergoda dengan kemilau tawaran Balak. Hatinya tak cukup mengasihi-Nya untuk tahu apa yang menjadi keinginan-Nya. "Baiklah, tinggallah di sini malam ini, supaya aku tahu, apa yang akan difirmankan Tuhan kepadaku," lanjut Bileam.

    Tuhan pun menguji Bileam. Malam itu, Ia berfirman kepada Bileam," Jikalau orang-orang itu memang sudah datang untuk memanggil engkau, bangunlah, pergilah bersama-sama dengan mereka tetapi hanya apa yang Kufirmankan kepadamu harus kaulakukan." Matahari menjelang terbit. Langit berwarna ungu kemerahan dan angin pagi berhembus menebar semerbak wangi galbanum. Bileam mengenakan jubahnya dan bersiap pergi. Para pemuka Moab telah dimintanya berangkat lebih dulu selagi ia menyiapkan bekalnya dan memasang pelana pada keledai betina miliknya. Bileam berangkat bersama dua orang pesuruhnya. Ada kegembiraan di hatinya bahwa Allah mengijinkannya pergi. Setan yang muncul dalam mimpinya mulai mempengaruhi pikirannya. Ia berpikir, mungkin Allah juga akan mengijinkan dia mengutuki Israel untuk Balak. Sebagai orang Midian, tak ada sedikitpun simpati dirinya kepada bangsa Israel, meskipun pemimpin besar mereka adalah menantu Yithro alias Rehuel, guru yang sangat dihormatinya. Bukankah umat itu, sepanjang ia tahu, telah cukup menyusahkan Tuhan? Cukup masuk akal jika Allah mengijinkannya mengutuki umat yang keras kepala itu, ya, itu masuk akal.

    Tuhan tahu segala hal yang tersembunyi, termasuk lubuk hati Bileam yang paling dalam. Seorang Malaikat berdiri menghadang Bileam di jalan dengan menghunuskan pedang. Anehnya, Bileam yang malam-malam sebelumnya bisa mendengar suara Tuhan, tak bisa melihat kehadiran malaikat tersebut. Mata rohaninya telah digelapkan oleh dahaga pada harta. Keledainya yang tanpa dosa, justru mampu memandang Malaikat Maut dengan pedang terhunus itu. Berniat menyelamatkan tuannya, keledai itu keluar dari jalan dan masuk ke ladang. Bileam memukul keledai itu agar kembali ke jalurnya.

    Ketika mereka memasuki jalan sempit yang memisahkan kebun-kebun anggur dengan tembok di kiri dan kanan, malaikat Tuhan kembali menghadang di situ, dan keledai itu melihat malaikat tersebut. Ia berjalan merapat ke dinding untuk menyelamatkan tuannya dari pedang Malaikat Maut itu. Kaki Bileam terjepit. Bileam marah, dipukulnya keledai itu. Mereka berjalan lagi, dan malaikat itu terus mengikuti mereka. Kali ini di jalan yang sangat sempit, malaikat itu menghadang di depan. Sadar tak mungkin merepat ke kanan maupun ke kiri, keledai itu hanya dapat bertiarap untuk menyelamatkan nyawa tuannya. Kali ini Bileam sangat kesal. Dipukulnya keledai itu dengan tongkatnya.

    Kali ini Tuhan membuka mulut keledai itu. Hewan itu kini dapat berbicara kepada sang tuan, "Apakah yang telah kulakukan padamu, hingga engkau memukul aku tiga kali?" Bileam pun menjawab,"Karena engkau mempermainkan aku. Jika saat ini ada pedang di tanganku, engkau pasti sudah kubunuh."

    "Bukankah aku telah mengabdi kepada Tuan sepanjang hayatku? Pernahkah aku mempermainkan Tuan?" jawab keledai itu. Lalu terbukalah mata Bileam, dilihatnya Sang Malaikat dengan pedang terhunus. Bileam terkejut, ia segera bersujud.

    "Mengapa engkau memukul keledaimu sampai tiga kali? Lihat, aku keluar sebagai lawanmu, sebab jalan ini pada pemandanganku menuju kepada kebinasaan. Ketika keledai ini melihat aku, telah tiga kali ia menyimpang dari hadapanku, jika ia tidak menghindar, tentu engkau telah kubunuh pada waktu itu dan ia yang kubiarkan hidup."

    Mendengar perkataan Malaikat itu, Bileam gemetar ketakutan. Bileam berkata,"Aku telah berdosa, karena aku tidak mengetahui bahwa engkau berdiri di jalan menentang aku. Maka sekarang, jika hal itu jahat di matamu, aku mau pulang." Tetapi malaikat itu berkata lagi," Pergilah bersama-sama dengan orang-orang itu, hanya perkataan yang kukatakan kepadamu, itulah yang harus kaukatakan."

    Bileam meneruskan perjalanan bersama dua pesuruhnya yang bertanya-tanya apa sebenarnya yang telah terjadi. Malaikat Maut tak lagi terlihat, namun dua sosok terus beradu dalam pikiran anak Beor, dua sosok yang pernah muncul dalam mimpinya.

    Balak sangat gembira mendengar Bileam akhirnya mau datang. "Akan kujemput sendiri sang pelihat," tutur Balak kepada penasihatnya. Ia mengenakan jubah kebesarannya yang berwarna merah gelap, menunggangi kudanya yang berwarna putih, pergi bersama beberapa prajurit dan pelayan yang diperintahkan untuk membawa hadiah-hadiah untuk menyongsong Bileam. Mereka menuju perbatasan Moab di tepian sungai Arnon, menanti Bileam di situ. Tak lama setelah Balak tiba, tibalah Bileam di tepi sungai Arnon.

    "Mengapa engkau tak datang pada undangan pertama? Kau pikir aku tak sanggup memberi upah bagimu?" tanya Balak. Bileam pun menjawab, "Ini aku datang Tuan, namun sungguh, sekalipun aku datang, aku tak akan dapat melawan Tuhan. Apa yang dia akan katakan, itu yang aku katakan."

    Keesokan harinya Balak membawa Bileam ke bukit Bamoth-baal di mana dari situ perkemahan Israel dapat terlihat. Bileam meminta Balak untuk mendirikan tujuh mezbah dan menyiapkan tujuh ekor lembu jantan dan tujuh ekor domba jantan. Balak menuruti perkataan Bileam, dan mereka berdua membakar semua lembu jantan dan domba jantan tersebut sebagai korban.

    Ada kegelisahan di dalam hati Bileam. Tuhan tidak hadir di situ. Bukit itu digunakan oleh orang Moab untuk memuja berhala mereka, dan di bukit itu, Balak raja Moab akan melakukan apa saja asal keinginan hatinya terlaksana. Semak belukar di sekitar mereka tampak suram, seolah-olah setan sedang berkeliaran di situ, memperhatikan mereka.

    Kemudian Bileam berkata kepada Balak,"Berdirilah di samping korban bakaranmu, aku hendak pergi ke tempat sunyi, mungkin Tuhan akan datang menemui aku, dan apapun yang dinyatakan-Nya kepadaku, akan kuberitahukan kepadamu. Lalu Bileam mencari tempat yang agak jauh, ke sebuah bukit kecil yang gersang.

    Di bukit gersang yang hening itu, hati kecil Bileam menjerit kepada Allah. Hati itu masih berusaha menaklukkan keserakahan, ketakutan, dan kebencian yang mengepung dirinya dengan erat. Bileam tersungkur, tak lama kemudian ia merasakan kehadiran Tuhan di tempat itu. Ia merasakan bibirnya disentuh, dan seperti ada sesuatu masuk ke dalam mulutnya. Sebuah Suara berbicara kepadanya, memerintahkan ia kembali kepada Balak untuk mengatakan apa yang telah diletakkan ke dalam mulutnya.

    Bileam kembali ke tempat di mana Balak masih menanti. Para pemuka Moab juga ada di situ, menatap wajahnya dengan tegang. Bileam berjalan membelakangi mereka, menghadapkan wajahnya ke perkemahan orang Israel. Perlahan ia membuka mulutnya, dan puisi yang mengejutkan mengalun dari bibirnya.

    "Balak membawaku dari Aram,
    Raja Moab dari bukit-bukit Kedem,
    "Datang dan kutukilah Yakub bagiku;
    Datang dan kutukilah Israel."
    Bagaimana mungkin aku mengutuk jika Tuhan tidak mengutuk?
    Bagaimana aku dapat menyerapah jika Tuhan tidak menyerapah?
    Ya, dari puncak gunung-gunung batu kulihat mereka,
    Dari bukit-bukit aku memandang mereka.
    Lihatlah, suatu bangsa yang diam tersendiri,
    tak terhitung di antara bangsa-bangsa.
    Siapa yang dapat menghitung debu Yakub?
    Siapa yang dapat menghitung awan Israel?
    Biarkan aku mati seperti orang benar!
    Sekiranya ajalku seperti mereka!

    Terbelalak mata raja Moab mendengar lantunan puisi Bileam. Wajahnya memerah. "Apa yang telah kaulakukan kepadaku wahai anak Beor! Engkau kujemput untuk menyumpahi musuhku, tetapi engkau malah memberkati mereka!"

    "Bukankah aku wajib mengatakan apa yang diletakkan Yahweh ke dalam mulutku?" jawab Bileam.

    Balak terpana dengan jawaban itu. Ada sesuatu yang salah, namun ketakutan dan kebenciannya mendorong jiwanya untuk tidak menyerah. "Baik. Ikut aku, kita cari sisi di mana mereka bisa terlihat dengan lebih baik, di sini kau hanya melihat sebagian dari perkemahan mereka" kata Balak. Lalu dibawanya Bileam ke tempat yang disebut Padang Pengintai. Para pemuka Moab mengikuti dari belakang.

    Balak menyiapkan kembali tujuh mezbah, tujuh lembu jantan dan tujuh domba jantan. Ia mendesak Bileam untuk mengutuki bangsa itu, ia menjanjikan apa saja yang menjadi impian manusia fana. Apa saja yang dapat didamba hati manusia. Bileam resah. Setan sedang merayunya. Kembali ia meminta Balak menunggu di dekat mezbah-mezbah, dan ia kembali mencari tempat yang sunyi.

    Deru angin menerpa ranting-ranting semak kering seperti suara bisikan, ketika hati Bileam tengah bergolak, seperti ada yang sedang bergulat di dalam dirinya. Seperti ada banyak suara. Aneh, apa istimewanya bangsa itu? Mereka sepertinya tak ada bedanya dengan bangsa-bangsa lain. Bahkan mungkin, lebih buruk. Mereka bekas budak, mereka tak punya keluhuran yang lebih tinggi, mereka tak lebih arif dibanding orang Midian dan Moab, mengapa mereka begitu berharga di mata Tuhan? Mengapa Tuhan mencintai bangsa ini? Tak ada "karena" yang layak dan tepat untuk diberikan sebagai sebuah alasan. Tak ada "karena" yang memberi mereka hak untuk menyandang sebutan "umat pilihan" Yahweh yang begitu agung dan mulia. Bangsa ini sebenarnya bisa dikutuk. Ya, bisa dikutuk dan ia akan mendapatkan apa saja yang selama ini bahkan tak berani diimpikan olehnya. Namun, Allah telah sekali memberkati bangsa itu, itu menggentarkan dirinya. Apa alasan-Nya? Apa tujuan-Nya? Ah mungkin saja hati-Nya sedang gembira, itu saja?

    Bagaimanapun juga, Bileam tahu bahwa ia tak bisa bermain dengan Allah Israel. Bileam tak mampu membuat keputusan, tak mampu menarik sebuah pilihan, kembali ia tersungkur dan berteriak. Kembali Tuhan datang, dan menaruh lagi Firman-Nya ke mulut Bileam. Tidak ada nada kemarahan pada diri-Nya. Ia masih sabar dengan Bileam.

    Balak tampak penuh kegusaran ketika Bileam muncul kembali.

    "Apa yang telah difirmankan Tuhan?" tanya Balak. Bibir Bileam bergetar, namun tidak berkata apapun. Perlahan ia maju beberapa langkah, dan kembali mengucapkan puisinya. Kalimat demi kalimat. Pujian kepada Allah Israel yang tak pernah berdusta, yang tak ingkar pada janji-Nya.

    Balak mendengar dengan geram. Kebencian bagai api yang menyala-nyala membakar hangus nuraninya. Kedua tangannya mengepal dengan sangat kuat hingga urat-uratnya timbul dan bergetar karena amarah. "Jika kau tidak mau mengutuki mereka, jangan sekali-kali memberkati mereka."

    Bileam menjawab,"Bukankah telah kukatakan kepadamu bahwa segala yang akan difirmankan Tuhan itulah yang akan kulakukan?"

    Balak mendesak Bileam untuk mau ikut dengannya ke sisi lain bukit itu. Di tempat itu Balak kembali membakar persembahannya. Kali, ini Bileam tidak beranjak dari tempat ia berdiri, dipandanginya dengan nanar api yang berkobar membakar daging korban, bergerak seperti jemari tangan manusia.

    Bileam membalikkan tubuhnya, kembali memandang kemah-kemah Israel. Hatinya tahu, keinginan Tuhan adalah memberkati Israel. Tak perlu lagi mencari tanda. Ia terdiam, mendengar hembusan angin. Hati kecilnya masih berbisik, memohon pada dirinya untuk segera meninggalkan Balak. Namun kakinya terasa berat menempel di atas batu. Roh Tuhan pun turun ke atas dirinya, dan Balak kembali melantunkan puisinya.

    "Tutur kata Bileam anak Beor,
    Tutur kata orang yang matanya terbuka,
    Tutur kata dia yang mendengar Suara Tuhan,
    Ia melihat apa yang disingkapkan oleh Shaddai,
    Menerima jawaban ilahi, dengan mata terbuka.
    Alangkah indahnya kemah-kemahmu, wahai Yakub,
    Alangkah indah tempat tinggalmu, Israel!
    Seperti lembah-lembah yang terbentang jauh,
    Seperti taman di tepian sungai,
    Seperti gaharu yang ditanam oleh Yahweh,
    Seperti pohon aras di tepi air!
    Seorang pahlawan akan bangkit dari mereka,
    Ia memerintah atas jumlah yang tak terbilang.
    Raja mereka lebih besar dari Agag,
    Kerajaannya akan dimuliakan.
    Tuhan membawa mereka keluar dari Mesir,
    Ia seperti tanduk kekuatan lembu hutan bagi mereka,
    Bangsa-bangsa yang menjadi lawan mereka akan ditelan habis,
    Mereka meniarap dan merebahkan diri seperti singa jantan, seperti singa betina,Siapa yang berani membangunkan mereka?
    Diberkatilah mereka yang memberkati engkau,
    Dan terkutuklah mereka yang mengutuk engkau!"

    Kali ini Balak tak mampu lagi menahan kemarahannya. Dengan meremas jarinya ia berkata kepada Bileam,"Untuk menyerapah musuhku aku memanggil engkau, tetapi sebaliknya sampai tiga kali engkau memberkati mereka. Sekarang, enyahlah ke tempatmu! Aku bermaksud memberimu banyak upah, tetapi rupanya Yahweh sendiri yang menjauhkan dirimu dari semua itu." Balak menunjukkan kepadanya emas dan batu berharga yang dibawa oleh para pelayannya.

    Bileam mengambil sebuah cincin dengan batu zamrud berwarna hijau tua. Batu itu berkilau sangat indah oleh garis cahaya matahari. Dipandanginya sesaat cincin itu, lalu diletakkannya kembali ke kotak yang dipegang oleh pelayan Balak. Ia menjawab,"Sekalipun satu istana penuh emas dan perak kau berikan padaku, aku tidak sanggup melanggar titah Yahweh dengan berbuat baik atau jahat atas kemauanku sendiri, apa yang difirmankan Yahweh itulah yang kukatakan. Baiklah, aku mau pulang, tetapi dengar dulu, kuberitahukan kepadamu apa yang akan dilakukan bangsa itu kepada bangsamu nanti."

    Kembali Bileam melantunkan puisinya.

    "Tutur kata Bileam anak Beor,
    Tutur kata orang yang matanya terbuka,
    Tutur kata orang yang mendengar firman Tuhan,
    Yang beroleh pengetahuan dari Yang Maha Tinggi,
    Ia melihat apa yang dibukakan oleh Shaddai,
    Menerima jawaban ilahi, sambil matanya terbuka.
    Aku melihat Dia, bukan di masa ini,
    Aku memandangnya, tapi bukan dari dekat;
    Sebuah bintang terbit dari Yakub untuk memimpin,
    Tongkat kerajaan muncul dari Israel,
    Meremukkan pelipis Moab,
    Menghancurkan para putra Sheth.
    Edom menjadi tanah yang ditaklukkan,
    Seir tanah yang diduduki,
    Israel melakukan perbuatan yang gagah perkasa,
    Yakub mengalahkan musuhnya,
    Dan menghancurkan para pelarian di Ar.

    Bileam terus berbicara. Ia bertutur tentang orang Amalek, orang Keni, orang Assiria. Setelah selesai, ia kembali ke tempat kediamannya. Balak pun meninggalkan tempat itu dengan geram.

    Sore itu, Balak anak Zippor benar-benar gelisah, bahkan sang ratu pun tak diijinkan untuk menemuinya. Nubuatan Bileam terus menghantuinya. Ketika matahari terbenam, datang beberapa bangsawan Midian. Balak pun menjamu mereka. Para pemimpin Midian menyampaikan tawaran kerja sama untuk menghancurkan Israel.

    Di tempat lain, Bileam Sang Pelihat juga tak bisa tidur. Ketika ia memejamkan mata, dalam bayangan Batu zamrud berwarna hijau itu seperti masih berkilau di depan dirinya, bergerak, berputar, memantulkan cahaya melalui banyak faset dengan sangat indah dan...terlihat tangan Iblis bermain dengan batu itu. Jari-jarinya lentik seperti jemari seorang putri.

    "Kau bodoh, Bileam. Jika saja kaukutuki bangsa itu, semua harta itu adalah milikmu," Iblis berbicara kepada jiwa Bileam. Hati kecil Bileam mendesaknya untuk mengusir saja setan itu, dan jangan sekali-kali menanggapi bujukannya. Namun Bileam bereaksi, ia ingin mendapat jawaban atas sesuatu.

    "Apa yang membuat Tuhan begitu memberkati bangsa itu? Apa yang istimewa?" tanya Bileam.

    "Oh itu seperti kau jatuh cinta pada seorang wanita. Tak perlu semua pria mencintai wanita itu, ia mungkin istimewa hanya bagimu, tak perlu bagi yang lain. Ia sekedar suka pada bangsa itu, tak perlu ada alasan." Iblis berbisik. Bileam merasakan dingin menusuk sampai ke dalam hatinya.

    "Tahu apa kau tentang cinta?" kata Bileam. "Dan mengapa aku harus tahu tentang cinta?" Iblis tertawa, " Manusia bahkan tak mampu membedakannya dengan emosi dan kehendak diri. Wahai anak Beor, yang kutahu kau bodoh telah meninggalkan begitu banyak harta dan kekuasaan yang bisa jadi milikmu. Dengan segala cara orang lain bersusah payah memburunya dan kini itu semua hadir di depan matamu. Dan cinta, terserah seperti apa kau mau memaknainya, mungkin saja kau bisa membelinya dengan semua itu? Lagipula jika Israel hancur, bisa kau bayangkan berapa banyak bangsa akan berterima kasih padamu? Kau adalah pahlawan yang telah berjasa besar bagi mereka."

    "Lalu bagaimana aku bisa mengutuki bangsa itu?"

    "Oh itu mudah. Seperti kataku tadi, seorang pria bisa mencintai wanita tanpa sebuah alasan yang dipahami semua orang. Namun ada banyak alasan seorang pria bisa meninggalkan kekasihnya itu."

    "Oh ya?"

    "Kau mengerti maksudku? Kurasa kau cukup pandai, Bileam," kata Iblis sambil melempar batu berkilau itu dan menangkapnya lagi dengan jari-jarinya.

    Bileam tersenyum, hati dan pikirannya telah mengembara jauh, masuk ke jalan yang begitu lapang dan luas namun sungguh gelap. Iblis telah menguasainya. Keledai betina yang ditambatkan di luar merasakan bayangan aneh yang melewati dirinya seperti tiupan angin dan menembus masuk melalui celah pintu. Bayangan itu tidak pernah keluar lagi dari rumah Bileam. Bileam sudah tidak bisa memisahkan hatinya dengan suara setan yang begitu halus dan masuk akal. Keledai itu meringkik dalam kecemasan.

    Malam itu juga Bileam mengirim seorang pelayan untuk mengirim pesan kepada Balak Raja Moab. Pesan itu berbunyi," Aku tahu bagaimana menghancurkan Israel. Buat mereka menyembah Baal. Yahweh akan murka dan mengutuk mereka."

    Balak merasakan kekuatan kembali masuk ke dalam tulang-tulangnya ketika ia membaca pesan Bileam. Dikumpulkannya semua penasihatnya. Para utusan Midian juga masih ada di situ.

    "Bangsa ini selalu menang dalam peperangan, karena Allah mereka bersama mereka. Tapi masih ingatkah kalian peristiwa Lembu Emas? Allah mereka sangat pencemburu. Ia tidak mengijinkan mereka menyembah yang lain selain diri-Nya. Jika kita bisa memisahkan mereka dari Allah mereka, mereka dapat kita hancurkan," kata Balak kepada para penasihat dan bangsawan Midian," Tapi bagaimana caranya?"

    "Itu mudah," tiba-tiba terdengar suara menjawab. Seorang pria berjalan mendekati Balak. Dari jubahnya tampak ia bukan orang sembarangan. "Yang Mulia, itu Zur, pangeran Midian," bisik seorang penasihat di samping Balak. Pangeran Zur berdiri di hadapan Balak dan berkata, "Aku tahu bagaimana membuat bangsa itu menjauh dari Allah mereka."

    Ia memberi isyarat dengan tangannya. Seseorang berdiri dan melangkah keluar dari deretan orang-orang Midian. Langkahnya sungguh anggun. Orang itu memberi hormat kepada Balak, lalu menanggalkan jubah luarnya yang tebal berwarna hitam kelam dan membuka tudung kepalanya yang juga hitam kelam. Seorang wanita dengan gaun indah dari sutera putih dengan hiasan bunga-bunga yang disulam dengan benang emas. Ia lalu membuka cadarnya untuk memperlihatkan wajahnya. Sangat cantik, kulitnya bersih dan bercahaya. Rambutnya panjang hingga ke siku tangan dan warnanya hitam bagai burung gagak, bergelombang seperti ombak laut. Matanya bagai batu safir. Semua orang tertegun menatapnya.

    "Ini Kozbi. Dia adalah putriku. Bunga yang wangi ini, akan menjadi duri yang tajam bagi Israel, akan membuat berdarah tangan Musa" kata pangeran Midian itu, "Biarkan dia mendekati orang yang berpengaruh di Israel, dan kita tak perlu bersusah payah."

    Balak pun tertawa. Ia mengangkat cawan anggurnya, "Oh ya, aku mengerti. Tidak hanya dia, putri-putri Moab juga akan sungguh menjadi pedang bagi kita. Kita akan mengalahkan Israel."

    Bulan demi bulan telah berlalu. Perjalanan belum juga dilanjutkan. Sekarang musim panen anggur, biasanya waktu yang tepat untuk pesta pernikahan. Namun di kediaman Israel telah terjadi bencana besar. Saat yang dinanti Balak anak Zippor pun tiba. Yoshua dan Eleazar baru saja mendengar laporan, orang Israel yang ke duapuluh tiga ribu telah meninggal. Bangsa itu menerima tulah. Mereka diserang demam aneh dan mereka yang terjangkit wabah aneh itu tewas dalam waktu sangat singkat. Tangis dan ratap terdengar di mana-mana. Yoshua dan Eleazar bergegas ke Kemah Suci. Mereka mendapati Musa rebah di situ, di depan tirai suci yang tertutup, dengan wajah menghadap ke tanah. Keringat dan air mata membasahi tubuhnya. Tubuhnya gemetar, ia menangis, sangat pilu seperti seorang yang meratapi kematian.Tak lama kemudian, Pinchas, anak Eleazar menyusul masuk.

    "Bapaku..." belum selesai anak muda itu bicara, ayahnya memberi isyarat untuk diam. Yoshua dan Eleazar, dengan wajah tertunduk, satu persatu berlutut di belakang Musa. Hati mereka ikut hancur. Pinchas pun merasa kedua lututnya begitu lemas, hingga terjatuh ke tanah. Untuk beberapa saat mereka hening, dan Musa terus larut dalam dukanya.

    "Dia sangat murka, kita telah melukai hati-Nya. Dia begitu murka..." Musa berkata dalam isak tangisnya, "Mengapa harus terjadi lagi? Sekiranya aku boleh mati saja..."

    Yoshua berkata lirih," Tuanku, mereka telah menyembah Baal-Peor. Aku tidak tahu mengapa begini. Tapi kita harus menghukum para penyembah Baal supaya tulah ini berhenti. Harus segera dilakukan, atau kita semua mati."

    Yoshua memberanikan dirinya mendekati Musa. Eleazar melihat Yoshua bangkit, ia pun ikut bangkit. Mereka berdua memegang kedua lengan Musa dan membantunya berdiri. Musa tampak lelah dan putus asa.

    Di luar kemah, para tua-tua Israel berkumpul. Mereka meratap, menangis, menjerit, "Tuanku...tuanku, banyak keluarga telah mati....".

    Musa sedang mengumpulkan kekuatan untuk berbicara, ketika ia mendengar suara yang tak lazim di tengah umat yang sedang meratapi kematian banyak anggota keluarga mereka itu.

    "Apa itu?" kata Musa.

    Suara itu datang dari tempat perkemahan suku Simeon. Dua orang muncul ke tengah-tengah pertemuan, seperti tak tahu apa yang sedang terjadi. Zimri, putra Shalu, pemimpin Simeon, sedang bersama seorang gadis yang hendak ia pertemukan pada keluarganya. Ia berniat melamar gadis yang dikenalnya setahun yang lalu. Gadis yang sangat cantik dan mempesona. Shalu melangkah keluar dari kerumunan para tua-tua dan pemimpin Israel untuk menjumpai putranya. Semua orang melihat bahwa gadis itu bukan orang Israel.

    "Bapa, aku ingin menikah," tutur Zimri. Wajahnya berseri-seri.

    "Mengapa bukan gadis Israel, anakku?" terdengar sang ayah yang terkejut bertanya kepada putranya.

    "Aku mencintainya" jawab si anak. "Apakah ia mau mengikuti semua cara kita? Apakah ia mengenal Allah kita anakku?"

    Hening beberapa saat, Zimri hanya memandangi gadis pujaannya. Tiba-tiba gadis itu bicara, "Tidak. Aku ingin ritual pernikahan sesuai cara orang Midian, jika tidak lupakan saja."

    "Tapi..." Shalu terkejut.

    "Tidak, aku tidak memaksa. Kita bisa membatalkan pernikahan ini dan aku kembali ke kediaman Midian," kata si gadis.

    "Tunggu, bapa, apa salahnya sebuah ritual pernikahan menurut cara orang Midian?" Zimri memohon kepada ayahnya.

    "Tapi itu pemujaan kepada Baal-Peor, anakku."

    "Lalu mengapa bapa? Tidakkah Allah yang baik dapat memakluminya? Tidakkah kalian memahami perasaanku? Aku mencintai dia!"

    Dari jauh terdengar ratap tangis wanita yang kehilangan anaknya. Jumlah orang yang mati telah bertambah lagi. Pinchas putra Eleazar tak tahan lagi. Ia menghunus pedangnya. Zimri terkejut, ia lari bersama Kozbi, kekasihnya itu. Pinchas mengejar, pemuda itu berhasil mendapatkan Zimri.

    "Bodoh, kau sungguh bodoh!" teriak Pinchas, dihujamkannya pedang itu ke lambung Zimri. Hingga pedang itu menembus lambungnya, Zimri masih tak memahami, mengapa mencintai seorang wanita adalah sebuah kesalahan, sehingga ia harus mati. Begitu kejamkah Allah Israel dan Musa hamba-Nya? Pria itu rebah bersimbah darah dengan mata terbuka. Pinchas mencabut pedang itu dari tubuh Zimri.

    Kozbi melihat Zimri rebah ke tanah. Tak ada waktu untuk berpura-pura meratapi pria itu. Tak ada waktu untuk drama percintaan. Ia harus lari secepatnya, keluar dari kediaman Israel, atau ia akan mati di tangan Pinchas. Pinchas mengejar. Gadis yang terlatih itu berlari lebih cepat dari Zimri, pria yang telah ditipunya dengan sesuatu yang manis, yang dikenal oleh pria lugu itu sebagai cinta. Ia telah berhasil melaksanakan misinya, membelokkan hati bangsa itu dari Allah mereka, lewat Zimri. Namun kini ia harus lari, mereka telah mengetahui tujuannya, sayang anak Eleazar berhasil mendapatkannya. Tanpa kata-kata, pedang yang masih berlumurah darah Zimri itu dihujamkan ke tubuh putri Midian itu. Wanita cantik itu rebah ke tanah.

    Pinchas terengah-engah. Seperti terkejut dengan apa yang dilakukannya sendiri, ia membanting pedang yang menjadi merah itu ke tanah. Anak muda itu tak cukup mengerti mengapa ini semua harus terjadi. Air matanya mengalir. Beberapa saat kemudian, Yoshua dan Eleazar tiba di tempat ia berdiri tak jauh dari tubuh Kozbi yang sudah tak bernyawa. Ayahnya menghampiri dan memeluknya, "Cukup Nak."

    Shalu memandang dari kejauhan apa yang terjadi. Ia tak lagi menangis, karena air matanya sudah habis. Musa mendekatinya, "Shalu, Pinchas harus melakukan ini, jika tidak tulah ini tidak berhenti." Pemimpin suku Simeon itu tidak menjawab, hanya tercenung. Dengan langkah terseret ia menghampiri jenazah putranya, menggendong tubuh tak bernyawa itu dengan hati hancur.

    Semua orang terdiam terpaku. Tak ada yang berani mengatakan sesuatu. Musa pun berbicara," Sudah, sudahlah. Sudah terlalu banyak kematian. Terlalu banyak air mata. Kita semua terluka, Tuhan pun terluka."

    Tiang awan terlihat bercahaya di atas Kemah Suci, Musa pun masuk ke dalam Kemah Suci untuk berbicara dengan Tuhan.

    Yoshua berjalan mendekati Pinchas yang masih terpekur dengan kepala tertunduk. Wajah anak muda itu pucat pasi. Yoshua menepuk pundak anak itu. "Tuanku, Zimri itu bisa saja diriku," anak muda itu bicara dengan sendu," Kalau bukan karena begitu banyak orang sudah mati..."

    "Kau telah mengingatkan orang-orang ini untuk menghormati kekudusan Tuhan," Yoshua menjawab," Tuhan itu baik, namun hormatilah Dia. Kesalahan Zimri bukanlah karena ia mencintai seorang wanita asing. Ia tidak menghormati Tuhan. Wanita itu telah membuat banyak orang Israel menyembah Baal-Peor dan berbuat dosa."

    "Aku tidak mengerti. Yang tadi kulakukan hanyalah demi menghentikan korban jatuh lebih banyak. Lebih baik dua orang mati daripada ribuan orang Israel mati. Itu saja," kata Pinchas lagi," dan aku sekarang berpikir, bisa saja aku yang jatuh cinta pada wanita Midian itu. Bagaimana kita bisa mengendalikan apa yang ada di jiwa kita? Bukankan Tuanku Musa juga menikah dengan seorang wanita dari Midian?"

    "Yang aku tahu, sungguh rendah Zimri menukarkan Tuhannya hanya demi seorang perempuan. Jika kau berpikir itu adalah cinta, kau salah besar. Jika kau tak pernah mencintai Tuhan, kau sebenarnya tak pernah tahu apa itu cinta. Cinta itu lebih luhur dari sekedar luapan emosi yang bagai air mendidih di dalam dadamu ketika kau menjumpai seseorang," kata Yoshua. "Kau mencintai Tuhan dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu?" Eleazar berbicara.

    "Ya."

    "Maka jika kau mencintai seorang wanita yang bisa menjadi jurang antara hatimu dan Allah Israel, pilihan hatimu bukanlah antara wanita Midian atau wanita Israel, tetapi wanita itu atau Tuhan. Zimri dan wanita itu, juga ribuan orang yang terkena penyakit tidak perlu mati, jika saja Zimri mampu sekedar berkata tidak kepada wanita itu," jawab Eleazar, "Karena Tuhan adalah Pribadi, Dia bukan sesuatu. Dia memiliki hati, anakku. Kau melukai hati-Nya jika meninggalkan-Nya dan memuja yang lain. Masalahnya bukan dari mana wanita itu berasal tapi apakah ia mengenal Allah kita. Tidak ada gunanya juga jika demi dirimu, wanita itu mau mengikuti semua hukum Israel tetapi hatinya tidak pernah mencintai Allah Israel."

    "Maksud bapa?" tanya Pinchas. "Zipporah memang orang Midian, tetapi ia mengenal Tuhan, terlepas dari berjumpa dengan Musa atau tidak, ia mengasihi Tuhan. Ayahnya yang dulu penyembah berhala, meninggalkan semua kebiasaan lamanya karena sebuah perjumpaan pribadi dari hati ke hati dengan Allah Abraham. Tak seorang pun memaksanya atau mempengaruhi pikirannya. Ia berjumpa sendiri dengan Sang Aku, seperti halnya Musa. Itu sebabnya ia mengganti namanya dari Yithro menjadi Rehuel, ia menjadi sahabat Allah. Maka Allah memberinya tugas untuk mempersiapkan Musa menjadi pemimpin besar, dengan melatihnya bertahun-tahun sebagai seorang penggembala domba, untuk sebuah tujuan yang tersembunyi dalam hati-Nya."

    "Bapa, sebenarnya apa tujuan-Nya membawa kita ke Tanah Perjanjian, melewati begitu banyak kesukaran ini? Aku tahu Dia tidak sekedar membebaskan bangsa kita dari perbudakan. Tidak sesederhana itu," tanya anak muda itu.

    Eleazar yang hendak menyusul Musa masuk ke Kemah menghentikan langkahnya, lalu menoleh kepada putranya. Dengan sorot mata lembut ia menjawab,"Aku tidak tahu, Nak, carilah jawaban dari semua pertanyaan yang mengganggumu, karena kita ini merdeka dan bukan lagi budak, hanya jangan batasi Tuhan dengan pengertianmu. Sebagaimana hatimu ingin merdeka, biarkan Tuhan juga menjadi Diri-Nya sendiri."

    Beberapa bulan telah berlalu. Masa perkabungan telah usai. Semua korban telah dimakamkan. Pagi itu, ketika bangsa itu selesai mengumpulkan Manna, Musa yang baru saja meninggalkan Kemah Suci memanggil para pemuka Israel untuk berkumpul. Mereka diperintahkan untuk menghitung jumlah semua orang yang sanggup berperang.

    "Kita akan berperang melawan Midian. Ini adalah tugasku yang terakhir, pertempuranku yang terakhir. Setelah ini, Tuhan telah menunjuk Yoshua putra Nun untuk menggantikan diriku. Aku tidak akan masuk ke Tanah Perjanjian bersama kalian karena kesalahan yang telah kulakukan. Yoshua yang akan membawa kalian mengakhiri perjalanan panjang ini," kata Musa, "Sekarang siapkanlah seribu orang dari tiap suku dan persenjatai dirimu."

    Keesokan harinya dua belas ribu orang telah berbaris siap untuk bertempur. Yoshua berdiri di depan. Orang-orang Lewi termasuk Pinchas putra Eleazar membawa perkakas Kemah Suci dan nafiri-nafiri pemberi semboyan. Mereka telah siap, strategi telah diatur. Musa pun keluar dari Kemah Suci. Ia berdiri tegap, wajahnya bercahaya. Orang Israel memandangnya dengan rasa haru. Inilah pertempuran terakhir bagi Musa. Tak lama lagi, mereka akan berpisah dengan pemimpin besar itu.

    Musa mengangkat kedua tangannya sebagai isyarat, tangan kanannya memegang tongkat. Orang Lewi pun meniup nafiri. Yoshua berteriak memberi tanda. Bangsa itu berteriak untuk menyemangati jiwa mereka. Suara gemuruh pun terdengar. Dua belas ribu orang maju menyerang kota-kota Midian.

    Israel mengalahkan Midian. Lima pemimpin Midian tewas dalam pertempuran itu, termasuk Zur, ayah Kozbi. Seorang pria mendobrak rumah Bileam putra Beor. Pedang pun dihujamkan ke tubuh Bileam Sang Pelihat. Dalam nafas terakhirnya pria itu teringat kepada almarhum gurunya, Yithro dan kepada Allah Israel, namun sudah terlambat. Ia telah menjual dirinya kepada Setan demi mimpi manusia yang ujungnya adalah kehampaan. Kehampaan dan kekosongan yang telah menyelimuti dirinya, meski sekiranya ia tidak mati hari itu. Setan telah memiliki Bileam.

    Dari pintu yang telah dirusak, keledai betina yang sudah tua memandang sang tuan yang selama ini selalu menungganginya rebah ke tanah. Dengan sedih keledai itu meringkik. Tak ada yang menghiraukan ringkikan seekor keledai tua di tengah segala hingar bingar suara pertempuran. Namun, ringkikan keledai itu adalah lantunan puisi ratapan yang didengar Bileam di saat terakhir hidupnya:

    "Demikianlah kisah Bileam anak Beor,
    Orang yang dahulu matanya terbuka,
    Orang yang dahulu mendengar firman Tuhan,
    Yang beroleh pengetahuan dari Yang Maha Tinggi,
    Namun hatinya berada di tengah harta Balak,
    Orang yang penuh pengetahuan tentang Tuhan,
    Namun bukan cinta kepada Shaddai.
    Maka jalan yang salah telah dipilihnya,
    Jalan yang lebar terbentang dan dilalui banyak orang,
    Ujungnya gelap dan kehampaan."

    Cari Apa di Dalam Dunia

    Penulis : Imelda Seloadji

    Cari apa di dalam dunia?
    Cari DUNIA nanti binasa...
    Cari YESUS yang penuh cinta.

    Lagu sekolah minggu, singkat tapi pesannya luar biasa. Saya sering menyanyikannya di masa kecil tanpa memahami betul makna lagu ini. Tapi dua puluh tahun lebih telah berlalu dari hari-hari menyanyi di sekolah minggu, saya sempat menjadi pribadi yang penuh ambisi untuk menjadi seorang profesional yang sukses dan berakhir dengan kekecewaan ketika mata saya melihat kenyataan di dunia kerja.

    Cari apa di dalam dunia? Seorang hamba Tuhan pernah menulis bahwa hidup adalah sebuah perjalanan bertujuan, seperti perjalanan Frodo Baggins untuk mencapai kawah Mordor dalam Lord of the Rings karya Tolkien. Bayangkan kalau Frodo memiliki motivasi yang salah, kabur dengan cincin yang penuh kharisma yang mampu membuatnya menjadi penguasa. Apa yang terjadi? Mungkin Dark Lord Sauron akan membinasakan nya dan merebut cincin itu kembali karena Sauron adalah tuan sebenar-benarnya dari cincin itu.

    Kisah Lord of the Rings adalah alegori yang sangat indah dan meninggalkan kebebasan interpretasi makna bagi masing-masing penontonnya. Dalam interpretasi saya, Cincin itu adalah dunia dan segala iming-imingnya, harta, kekuasaan, ketenaran. Cincin itu memiliki tuan, Sauron, yang merupakan simbol daripada iblis. Perjalanan Frodo untuk membawa cincin itu ke kawah Mordor dan menghancurkannya adalah perjalanan hidup manusia bergumul mengalahkan yang jahat. Dalam perjalanan itu terdapat banyak rintangan dan pertempuran. Hari-hari kita sering dihadapkan pada peperangan rohani, peperangan melawan keinginan duniawi kita. Kita punya pilihan, mengalahkannya, atau menjadi hamba dari Mamon atau "si cincin" dalam cerita itu.

    Mengapa bukan seorang pahlawan gagah tetapi seorang hobbit yang dilukiskan pendek dan naif dalam roman Tolkien menjadi sentral cerita? mengapa bukan Aragorn saja yang pergi memusnahkan cincin itu? Karena hobbit adalah gambaran yang lebih tepat untuk melukiskan manusia, lemah, tak berdaya dan menghadapi banyak cobaan hidup.

    Para penonton film Lord of The Rings bersyukur Frodo tak jadi memiliki cincin itu untuk dirinya. Makhluk buruk Smeagol merebut cincin itu dan setelah bergulat akhirnya Smeagol yang serakah jatuh ke kawah beserta cincin itu. Kalau kita menghadapi persaingan tidak sehat di kantor, orang-orang yang berusaha menjegal kita, orang-orang yang cari muka ke boss, maka kita perlu bersyukur, barangkali Allah sedang mengingatkan kita akan tujuan hidup yang dikehendakiNya. Ia sedang meluruskan fokus kita, menarik kita kembali ke jalan yang menuju pada DiriNya.

    Lumatnya cincin itu di kawah Mordor menghancurkan juga kerajaan dan kekuasaan Sauron. Kalau kita membuang jauh-jauh keinginan dan ambisi kita memiliki dunia, maka iblis tak punya celah untuk menguasai kehidupan kita. Kemenangan besar itu ditutup dengan pelantikan Aragorn sebagai raja dan hari pernikahannya dengan sang putri Elf. Kemenangan besar adalah kita menjadikan Kristus sebagai raja dalam hidup kita, dan kita siap menjadi mempelai Kristus di akhir jaman nanti, saat di mana semua perjuangan dan pergumulan kita selesai, Yesus menjadi Raja atas segalanya dan kita akan bersama Dia.

    Cari apa di dalam dunia? Motivasi yang salah membuat manusia sering merasa kosong dalam dirinya.

    "Apakah gunanya manusia berusaha dengan jerih payah di bawah matahari? ...Segala sesuatu menjemukan, sehingga tak terkatakan oleh manusia; mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar." (Pengkotbah 1:3,8).

    Tentu saja bekerja dengan rajin itu penting, karena hidup kita harus memuliakan Tuhan tapi pernahkah kita renungkan sebenarnya apa sih yang kita cari dalam kehidupan ini? Hal-hal di dunia ini ternyata tak pernah cukup untuk memberi kepuasan. Apapun itu, ketenaran, kekayaan, keluarga, dan sebagainya.

    Seorang ibu di kantor terpekur dengan tatapan kosong memandang laptop miliknya. Dia begitu mencari pengakuan sehingga memaksakan diri untuk kuliah doktor padahal secara intelektual kurang mampu. Ya, dia secara finansial mampu maka diambilnyalah program doktor sangat mahal yang dibuka untuk orang-orang kaya di sebuah PTN. Meski program itu sudah cukup mengejutkan bagi orang-orang lain yang menempuh pendidikan doktor yang wajar, bahkan juga saya yang belum kuliah doktor, ternyata masih saja terlalu berat baginya. Ia merasa waktunya untuk keluarga tersita untuk kuliah tersebut. Lalu ia gamang, gelisah tentang apa yang sebenarnya ia cari. Mata hatinya mulai terbuka akan kesia-siaan. Meski sebelumnya ibu itu begitu menyebalkan bagi rekan-rekan kantornya, saya mulai merasa kasihan padanya. Saya mengasihi dia dan sedapat mungkin menyampaikan kebenaran padanya.

    Elvis Presley, di tahun-tahun akhir hidupnya, begitu gelisah mencari makna hidupnya. Ia membaca begitu banyak buku keagamaan dan menghadiri beraneka ragam pertemuan keagamaan dari segala macam agama, dan tetap merasakan kegelisahan akan apa yang ia cari dalam hidupnya.

    Cari dunia nanti binasa. Ya, itu benar. Saat hidup kita di dunia sudah mencapai "titik", maka semua hal-hal duniawi tak bisa lagi kita cari, tak bisa pula dibawa ke surga. Nah, kehidupan yang setelah kematian di dunia itu bukan lagi titik, tetapi kekekalan. Ada dua kekekalan, keselamatan kekal atau kebinasaan kekal.

    Apapun yang kita banggakan di dunia ini, gelar, kekayaan, kecantikan, popularitas, bahkan juga karunia-karunia rohani seperti berbahasa roh, mengusir setan, karunia menyembuhkan, tak bisa menjadi jaminan untuk masuk surga.

    "Namun demikianlah janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga." (Lukas 10:20).

    "Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi namaMu, dan mengusir setan demi namaMu, dan mengadakan banyak mujizat demi namaMu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah daripadaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan!"

    Mengerikan bukan? Ternyata memiliki karunia-karunia pun bukan jaminan. Jadi bagaimana masuk surga?

    Akankah kita membukakan pintu rumah kita bagi orang yang tidak kita kenal? Surga adalah tempat di mana Allah berdiam. Kita hanya akan masuk jika nama kita terdaftar di kitab kehidupan, atau dengan kata lain, dikenal oleh Allah. Paulus mengatakan: "Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya dan persekutuan dalam penderitaanNya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematianNya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati. " (Filipi 3:10,11)

    Nah, mengenal Allah harus menjadi tujuan hidup kita. Kalau kita sibuk mencari apa yang disediakan oleh dunia, kita sudah mati selagi hidup. Dan percayalah, ujungnya adalah kehampaan. Seorang hamba Tuhan pernah bercerita tentang seorang pengusaha yang ia layani yang jatuh ke dalam obat-obat terlarang justru di puncak kesuksesannya. Di saat kekayaannya begitu melimpah pengusaha itu bingung, tak tahu lagi tentang apa yang dia cari. Banyak selebritis kawin cerai, dan beberapa bunuh diri atau mati karena overdosis. Mereka tak tahu apa yang mereka cari dalam hidup.

    Cari Yesus yang penuh cinta. Yesus berkata bahwa Ia adalah jalan dan kebenaran dan hidup. Ia bukan seorang tiran yang otoriter. Ia mati di kayu salib menggantikan kita. Ia tak memaksa kita, kita sendiri yang menentukan pilihan tentang apa yang kita cari dalam hidup. Yesus berkata dalam rumahNya ada banyak tempat. Jalan ke surga memang sempit tapi surga sendiri tak sempit. Selalu ada ruang di hati Yesus untuk anda dan saya. Adakah kita menjadikan Yesus tujuan hidup kita? jalan yang lain, ujungnya adalah kecewa. Karena cinta Yesus maka hari ini anda dan saya masih punya kesempatan menentukan pilihan yang tepat. Yesus mengasihi kita.

    Tuhan memberkati.

    Christmas

    Penulis : Jonathan Goeij

    Kata Christmas mempunyai arti Mass of Christ yang kemudian disingkat menjadi Christ-Mass. Versi yang lebih pendek lagi Xmas pertama kali dipakai di Eropa pada tahun 1500-an, berasal dari abjad Yunani, X adalah huruf pertama dari Xristos (Kristus) juga X merepresentasikan salib, jadilah "X-Mass".Christmas dirayakan orang-orang diberbagai belahan bumi pada tanggal 25 Desember, tetapi sebenarnya Yesus tidaklah lahir pada 25 Desember.

    Pada masa awal kekristenan, bangsa Romawi yang masih menganut kepercayaan pagan merayakan Saturnalia untuk menyembah dewa Saturnus (dewa panen) dan Mithras (dewa terang/sinar), suatu bentuk dari penyembahan matahari yang berasal dari Syria seabad sebelumnya. Perayaan Saturnalia ini diadakan tepat setelah winter solstice, hari pertama musim dingin (winter), juga merupakan siang hari terpendek dan malam hari terpanjang sepanjang tahun. Solstice berarti "sun standing still", matahari tetap berdiri, untuk menyatakan bahwa musim dingin tidaklah selamanya, hidup terus berlangsung, suatu undangan untuk tetap dalam semangat yang baik.

    Orang-orang Kristen pada masa itu menyamarkan perayaan winter solstice. Pada saat orang-orang Romawi dengan meriah merayakan Saturnalia, maka orang-orang Kristen berkumpul bersama di dalam sebuah rumah bersekutu dan mengadakan kebaktian untuk merayakan kelahiran Yesus.

    Pada tahun 274M solstice jatuh pada tanggal 25 Desember. Kaisar Romawi pada waktu itu, Aurelian, memproklamirkan tanggal itu sebagai "Natalis Solis Invicti", perayaan kelahiran matahari yang perkasa. Pada tahun 320M Paus Julius I menyatakan tanggal 25 Desember sebagai tanggal resmi kelahiran Yesus. Pada tahun 325M Kaisar Constantine the Great, kaisar Romawi pertama yang beragama Kristen, yang menginginkan seluruh kekaisaran menjadi Kristen, merubah perayaan solstice menjadi Christmas. Secara resmi dirayakan sebagai kelahiran Yesus Kristus.

    Lebih dari 1000 tahun kemudian, perayaan Christmas mengikuti ekspansi kekristenan ke seluruh Eropa dan Mesir. Sepanjang waktu itu perayaan Christmas tercampur dengan pesta pora kepercayaan pagan, tukar menukar kado yang sebelumnya marak pada perayaan Saturnalia juga menjadi tradisi Christmas, berbagai macam ritual menyambut musim dingin menjadi suatu tradisi yang panjang dalam merayakan Christmas.

    Sebenarnya banyak penolakan terhadap Christmas, pada tanggalnya yang mengambil tanggal perayaan Saturnalia, ataupun juga pada toleransi terhadap tradisi pagan yang ikut serta dalam perayaan Christmas. Pada masa Reformasi Gereja di abad ke 16 orang-orang Protestan menentang otoritas Gereja Katolik, termasuk Christmas yang sarat dengan tradisi pagan. Pada abad ke 17 kaum Puritan melarang Christmas di Inggris dan beberapa koloni Inggris di Amerika Utara karena mereka merasa Christmas berisi berbagai kegiatan yang tidak berguna seperti judi, pesta pora dan makan minum sepuasnya, bersaing dalam kemewahan.

    Pada masa kini orang-orang bahkan banyak yang tidak mengetahui asal mula penentuan tanggal 25 Desember, yang diketahui pada waktu ini adalah merayakan kelahiran Yesus Kristus. Atau bahkan mungkin juga sudah bukan lagi merayakan kelahiran Yesus Kristus tetapi merayakan kedatangan Santa Claus dari mall dan plaza, eh.. maksudnya cerobong asap membagi hadiah J.

    Berbagai kebaktian diadakan di gereja gereja pada malam menyambut Christmas, biasanya disertai renungan makna kelahiran Yesus bagi kita. Tetapi itu di dalam gereja, di luar itu, apakah kita masih merenungkan makna Natal atau lebih sibuk berbelanja dalam musim diskon yang luar biasa ini dan berlibur keluar kota dalam libur panjang?

    Sumber: http://www.glorianet.org

    Dalam Kesendirianlah Tampak Kekuatan Kita

    Oleh: M. Agustinus Purba

    Untuk hidup yang baik, haruslah bekerja. Bahkan bekerja keras adalah keharusan dalam kehidupan. Tanpa kerja keras tidak akan ada keberhasilan. "Saya sangat percaya akan keberuntungan", kata Thomas Jefferson, "tapi saya menemukan bahwa semakin keras saya bekerja, semakin banyak yang saya peroleh dari padanya".

    Tetapi tidak jarang orang terjebak dalam kesibukan demi kesibukan tanpa henti, sampai kemudian terhenyak, kecapean, dan bertanya pada diri sendiri, "Saya ini sibuk untuk apa, untuk siapa, dan mengejar apa?"

    Dalam kesibukan yang sering terasa tidak habis-habisnya dan membuat waktu terlalu cepat berjalan, kau perlu mengambil waktu untuk berhenti sejenak. Menyendiri. Mendengarkan diri kita sendiri.

    Sering tidak disadari, kita (telah) tenggelam atau menenggelamkan diri dalam kesibukan dan hiruk-pikuk sekitar kita, karena alasan yang salah: ingin melupakan hiruk pikuk perbantahan dalam diri kita, di mana kita sendiri berdiri sebagai tersangka, dan hakim, tapi tanpa ada keputusan yang final. Sering juga, karena terlalu banyak bicara, kita tidak pernah mengenal kesendirian dan keheningan jiwa sendiri, yang sangat berharga bagi diri kita.

    Kita harus menjaga agar kesendirian dan keheningan diri itu tidak menjadi asing bagi kita. Menjadi orang yang selalu rame memang menyenangkan. Tapi sesungguhnya tidak ada yang orang lebih irikan pada diri kita daripada keteduhan diri kita. Bukankah diam-diam kita begitu iri melihat orang lain yang tetap tenang dan memancarkan kedamaian pada saat begitu keadaan yang sukar atau duka?

    Masalahnya memang, penyakit orang kini tidak lagi tahan sendirian. Bagi banyak orang kesepian adalah menyakitkan. Padahal dalam kesendirianlah akan tampak kekuatan kita. Seperti dikatakan oleh Henrik Ibsen dalam An Enemy of the People, "The strongest man in the world is he who stands most alone (Orang yang paling kuat adalah ia yang dapat diam sendiri). Tetapi, dalam kesendirian jugalah akan tampak kelemahan dan kerapuhan kita. Kebiasaan apa yang kita lakukan, apa yang kita baca, apa yang kita tonton, bahkan apa yang kita pikirkan, semuanya itu akan berlomba- lomba datang menawarkan diri pada saat anda sendiri dan kesepian. Tinggal pilihan ada pada kita. Namun, tragisnya, tidak banyak yang mempunyai cukup kekuatan untuk memilih yang dikehendaki, tetapi yang disukai.

    Hanya dengan hening menyendiri, kita dapat menyentuh jiwa kita dan... disentuh Tuhan.

    Rahasia itulah yang dilukiskan gadis remaja Anne Frank, dalam catatan hariannya dengan mengatakan, "Obat yang paling baik bagi mereka yang takut, kesepian atau tidak bahagia adalah pergi alam terbuka di mana mereka dapat berdiam diri, sendiri dengan langit, alam dan Tuhan. Sebab hanya dengan demikian seseorang merasakan bahwa semua adalah sebagaimana seharusnya -- that all is as it should be (dan mengetahui), bahwa Tuhan ingin melihat manusia berbahagia, ditengah-tengah keindahan alam yang sederhana".

    Sangat paradoksal dengan kenyataan yang sedang dialaminya gadis remaja Anne pada saat itu: ia dalam persembunyian bersama adik dan ayah ibunya dari pembersihan ras Yahudi oleh Nazi, yang akhirnya, setelah dua tahun dalam persembunyian (1942-1944), tertangkap, dimasukkan ke Camp Konsentrasi dan meninggal karena sakit pada usia 16 tahun tanpa pernah tahu bahwa akhirnya Hitler jatuh pada tahun 1945 setelah berkuasa selama 12 tahun.

    Catatan harian Anne yang ditemukan dibekas rumah gudang persembunyian mereka kemudian diterbitkan dan diterjemahkan dalam 60 lebih bahasa yang dikenal dengan The Diary of Anne Frank yang diangkat ke layar perak tahun 1959. Inspirasi yang terus hidup yang dibangkitkan oleh perjuangan hidup Anne Frank dan tulisannya telah membuat Anne Frank diberikan kehormatan sebagai salah satu figure Icon/Hero modern versi Majalah Time, sejajar dengan deretan nama lainnya, diantaranya Muhammad Ali, Diana -- Princess of Wales, Billy Graham, Che Guevara, Kennedy, Marilyn Monroe, Mother Teresa, dll.

    Ketika Ibu Theresa merasakan betapa ia setiap kali perlu menemukan Tuhan, sumber kekuatannya, ia mengatakan, "Dia (Tuhan) tidak dapat ditemukan dalam kebisingan dan keresahan. Tuhan adalah sahabat dari keheningan. Lihatlah bagaimana alam -- pohon, bunga-bunga, rumput yang tumbuh dalam hening; lihatlah bintang-bintang, bulan, dan matahari, bagaimana mereka bergerak dengan hening... Kita membutuhkan kesenyapan dan keheningan... untuk dapat menyentuh jiwa- jiwa".

    Memang begitulah seharusnya kita. Hanya dalam keheningan itu jugalah kita dapat mengenal dan menemukan makna hakiki bahwa kerja, kegiatan serta kesibukan kita hanya berarti dalam Tuhan. Karena, (akhirnya) benarlah kata bijak yang mengatakan "Apart from God every activity is merely a passing whiff of insignificance" -- Lepas dari Tuhan setiap kegiatan kita hanyalah ketidakberartian yang berlalu begitu saja! Meninggalkan bukan saja kelesuan, kecapean, tetapi kekosongan. Karena seperti dikatakan C.S. Lewis, yang sebelumnya adalah atheis: "Allah tidak memberi kita kebahagiaan dan damai sejahtera terlepas dari diri-Nya, karena hal itu tidak ada dan tidak pernah ada!"

    Davinci Code Review (Sebuah Usaha Menelanjangi Kebohongan)

    Buku ini lebih laris dari alkitab pada tahun 2003. Sudah diterjemahkan kedalam 8 bahasa utama dan terlaris di Amerika dan Australia. Bisa dikatakan buku ini adalah sebuah world-wide cultural phenomena. Apakah kita perlu menanggapi buku ini? Saya kira perlu sebab ini mengindikasikan situasi dunia dimana kita sedang berada.

    Halaman pertama buku ini berjudul fact dengan maksud ingin menindikasikan bahwa fakta yang ada didalam buku ini baik mengenai arsitektur, sejarah dan document alkitab adalah fakta sejarah. Masalahnya, seperti diungkap oleh Ben Witherington III dalam Gospel Code setidaknya terdapat 150 historical errors dalam novel tersebut. Meski buku ini ingin tampil sebagai novel sejarah yang memiliki akurasi data, namun justru ini menjadi blunder bagi buku ini. Namun dalam budaya postmodern sekarang, keakuratan kadang menjadi nomor dua. Daya hipnotis retorika sering lebih berpengaruh dari keakuratan data seseorang. Penampilan lebih menarik dari isi, dan dalam konteks seperti inilah novel ini bisa populer bagi kebanyakan orang. Disamping itu novel ini menawarkan sebuah penjelasan yang bersifat konspirasi yang cocok dengan masyarakat kita yang menyimpan curiga terhadap segala sesuatu yang establish (warisan intelektual Nietzsche). Jadi ketika di tawarkan bahwa Gereja Katolik mungkin menyembunyikan fakta bahwa Yesus sebenarnya menikah dengan Maria Magdalena dan bahwa mereka punya anak yang lagi kuliah di NUS, maka orang-orang bilang, siapa tahu?!

    Salah satu dari karakter utama novel ini adalah Robert Landon, Profesor of Religius Symbology dari Harvard. Klaim historical accuracy buku cukup menggelitik mengingat di Harvard tidak ada profesorship seperti itu. Langdon mengatakan bahwa setiap kepercayaan di dunia ini didasarkan kepada fabrication. Artinya Allah dinyatakan lewat metaphor, allegory dan exaggeration, masalah muncul ketika orang mulai percaya secara literal terhadap metaphor ini. Tapi orang-orang yang mengerti dengan baik kepercayaan itu tahu bahwa itu semua hanyalah metaphorical. Namun dibalik pendekatan ini adalah maksud tersembunyi untuk merendahkan pendekatan tradisional dalam memahami injil. Esensi dari presentasi Brown sebenarnya adalah bahwa selama ini kebenaran tentang Yesus telah sekian lama disembunyikan dari kita. Dan sekarang apa yang dulu tersembunyi, akan dinyatakan (lewat buku tersebut).

    Sebagai kritik terhadap buku ini, marilah kita mencatat 7 kesalahan sejarah yang fatal yang terdapat dalam buku ini.

    Pertama, salah paham mengenai ajaran Gnostik, suatu sekte yang populer di abad kedua masehi. Menurut novel ini, Gospel of Gnostic mencatat tentang Yesus menikah dengan Maria. Tetapi masalahnya, Gnosticism adalah ajaran yang bersifat asketism. Berasal dari kata gnosis yang artinya pengetahuan, sekte ini percaya akan adanya pengetahuan rahasia yang diturunkan melalui secret line kepada mereka. Pengetahuan itu adalah bahwa daging itu jahat dan roh itu baik. Dalam hal ini keinginan-keinginan tubuh, termasuk seks, adalah jahat dan hal-hal rohani itu baik. Masalahnya, kalau sekte ini tahu bahwa Yesus menikah, maka mustahil mereka akan mengikut Yesus. Perkawinan Yesus dan Maria akan dianggap tidak suci. Sekte ini tidak mungkin akan mengusulkan Yesus dan Maria dalam bentuk apapun memiliki relasi yang berhubungan dengan keinginan tubuh dan sex. Karena itu baik di dalam Injil Alkitab dan Injil Gnostik tidak ada bukti bahwa Yesus menikah dengan Maria. Dan jika Yesus tidak menikah dengan Maria maka keseluruhan rekonstruksi dari novel ini menjadi omong kosong belaka.

    Kesalahan kedua, adalah masalah dokumen Kekristenan yang original. Dalam novel ini dikatakan bahwa dokumen kekristenan yang awal adalah Dead Sea scrolls dan Nag Hamadi scrolls. Apa yang salah dengan pernyataan ini? Saya kira bukan hanya salah tetapi menggelikan, karena Dead Sea Scrolls bukanlah dokumen kekristenan. Dokumen tersebut penting bagi orang kristen, tetapi merupakan gulungan milik orang jahudi. Gulungan ini milik Sekte Essene dan tidak ada dokumen tentang kekristenan dalam gulungan tersebut. Sementara Dokumen Nag Hamadi adalah adalah gulungan milik sekte gnostik yang ditemukan di Gurun Mesir pada tahun 1947. Yang paling penting untuk dicatat adalah, bahwa semua gulungan Nag Hamadi ditulis dalam bahasa Koptik. Bahasa ini adalah bahasa Mesir, dan sudah menjadi pengetahuan umum bahwa dokumen keristenan berasal dari bahasa Greek, Ibrani dan Aramaik. Karena itu dokumen ini tidak mungkin merupakan document terawal dan sudah pasti merupakan terjemahan. Karena itu seperti klaim lainnya dalam novel ini bahwa Injil Gnostik, Injil Philip dan Injil Maria adalah dokumen terawal, kita bisa katakana bahwa klaim seperti ini bersifat esoteric. Tidak ada seorangpun pakar di dunia yang akan berani memberikan klaim bahwa Injil Gnostik adalah yang terawal. Ini jelas klaim yang menggelikan.

    Kesalahan ketiga, adalah klaim bahwa Yesus adalah Tuhan berawal dari keputusan politik Konstantine yang memaksa semua gereja untuk menerima Konsili Nicea bahwa Yesus bukanlah sekedar Orang Bijak ataupun nabi Besar, tetapi Tuhan itu sendiri. Namun kalau kita melihat dokumen sekarah yang ada, Dokumen tertua dari Perjanjian Baru, yang berasal dari tahun 40-an AD adalah surat-surat Paulus. Menarik untuk dicatat karena dalam dokumen ini Yesus telah dipanggil sebagai LORD (Kurios, kl. 140 kali). Disamping itu Yesus disebut juga sebaga God Theos kl. 7 kali dalam seluruh Perjanjian Baru). Kepercayaan bahwa Yesus adalah Tuhan tidak muncul pada Konsili Nicea 325, tetapi sudah beredar sejak permulaan kekristenan. Meragukan hal ini bukanlah tanda kekritisan, tetapi masalah tidak memahami dokumen dari kekristenan abad pertama.

    Kesalahan keempat, perkawinan Yesus dan Maria, dan adanya anak kecil keturunan Yesus didasarkan dari argument from silent. Masalahnya argumen seperti ini tidak punya dasar sama sekali, sebab silence hanya berarti bahwa tidak ada yang terjadi sama sekali. Dalam sebuah cuplikan dari Gospel of Mary ada catatan yang menjadi sumber spekulasi ini. Kutipan dari manuskrip tersebut berbunyi sebagai berikut,

    "and the companion of the
    Mary Magdalene
    her more thanthe disciples
    kiss her
    on her..."

    Banyaknya gap kosong dalam dokumen ini adalah karena dokumen ini ditemukan dalam keadaan yang rusak sehingga pakar harus mengisi kekosongan tersebut dengan hipotesa dan dugaan. Kalaupun dugaan akademis ingin dilakukan, dokumen ini hanya menggambarkan bahwa ada seseorang mencium Maria Magdalena. Hal ini tidaklah aneh, sebab dalam ajaran Gnostik, seseorang menyingkapkan secret knowledge dengan melakukan ciuman. Ini adalah salah satu ajaran penting Gnostik dimana orang diselamatkan dengan memahami secret knowledge yang secara mistis ditularkan melalui ekstasi, dan salah satu medianya adalah melalui ciuman. Jadi cuplikan diatas adalah mengenai ciuman untuk menularkan secret knowledge bukan soal kawin atau hubungan sex.

    Kesalahan kelima, pandangan bahwa Yesus pastilah menikah karena semua orang jahudi abad pertama menikah. Masalahnya hal ini tidak akurat. Yohanes Pembabtis tidak menikah dan di Matius 19 Yesus mengajarkan bahwa adalah baik untuk tidak menikah demi kerajaan Allah. Banyak pakar berpandangan bahwa bagian pasal tersebut mengindikasikan Yesus tidak menikah dengan alasan yang sama yaitu demi kerajaan Allah. Sekte Essene bertahan kurang lebih 120-150 tahun dan sekte ini jelas menganut paham selibat. Jadi bukanlah hal yang asing di Judaism zaman Yesus untuk hidup dalam selibat.

    Kesalahan keenam, didalam alkitab Yesus hanya digambarkan sebagai Orang Bijak ataupuan Nabi yang besar, bukan sebagai Tuhan. Kita lihat satu contoh, di bagian akhir 1Korintus 16, Paulus mengutip doa yang lazim digunakan oleh orang jahudi berbahasa Aramaik, "marana tha!" yang artinya datanglah Oh Tuhan! Kalau kita bisa bayangkan seorang Jahudi yang sangat kental Monotheismenya berdoa kepada Yesus mengatakan "datanglah oh Tuhan!" apa yang diindikasikan disini? Ini menunjukkan bahwa pengikut mula-mula dari Yesus telah percaya bahwa Yesus tidak mati, bahwa Dia berada di Surga dan bahwa Dia adalah Tuhan. Marana Tha adalah doa dari pengikut Yesus pertama yang berbahasa Aramaik, dan disini mereka telah meyembahNya sebagai Tuhan. Jadi sejak tahun 30-an Yesus telah dikenal sebagai Tuhan, ini bukanlah karangan gereja yang berasal dari tahun 300-an.

    Kesalahan ketujuh, novel ini tidak mengklaim dirinya sebagai murni fiksi, tetapi justru berpretensi sebagai Historikal Novel. Karena itu novel ini bertanggungjawab dengan apa yang ditampilkannya sebagai sejarah. Jika dalam gambar DaVinci, orang yang bersandar di bahu Yesus bukanlah Yohanes tetapi Maria Magdalena, maka ini perlu di verifikasi melalui sejarah. Masalahnya adalah adanya tradisi sejarah bahwa murid yang dikasihi (Yohanes) selalu digambarkan sebagai seorang yang berkulit lembut, berwajah feminism dan berambut merah panjang. Ini bukanlah penggambaran seorang wanita, tetapi symbol dari identitas dirinya sebagai Rasul Kasih. Yang menarik bahwa teori Brown begitu mudah dipercaya oleh banyak orang, bahwa di gambar itu konon bukanlah Yohanes tetapi maria Magdalena (DaVincis Code), yang menggambarkan mentalitas modern yang demikian genit berideologi. Orang begitu mudah di goyang dengan slogan open-minded sehingga sulit membedakan mana fakta dan mana yang merupakan ilusi.

    Akhirnya sebagai penutup, nasihat bijak dari seorang tua, "good to be open minded, but be careful, dont be too open-minded that all your brain will be poured out"

    Dua Belas Hari Natal di Asia

    Natal dirayakan secara besar-besaran di Amerika. Orang-orang ateis pun merayakannya dengan bersemangat. Meskipun banyak orang Amerika memandang Natal sebagai saat untuk memusatkan perhatian pada kelahiran Yesus Kristus, hampir setiap orang menganggapnya sebagai musim untuk berbelanja. Tidak mengherankan kalau Natal juga merupakan peristiwa besar di Asia. Saya pernah di Asia selama tujuh perayaan Natal, yaitu di Singapura, Thailand, dan Sri Lanka, sekali di Korea, dan selebihnya di Amerika. Setiap pengalaman perayaan Natal mempunyai keistimewaan sendiri. Setiap pengalaman itu berbeda dari pengalaman perayaan Natal di Amerika, dan masing-masing saling berbeda pula. Demikian tulis Leon Howell sebagaimana dimuat Sinar Harapan.

    Selain kegembiraan ketika melihat salju tiruan di etalase-etalase berbagai toserba di Bangkok, perayaan Natal yang saya alami di Asia sangat berbeda dengan di Amerika. Pertama, cuaca tropis di Asia selalu panas, sangat panas. Berenang di udara terbuka saat Natal menyenangkan, tetapi agak kurang tepat. Belum lagi yang terjadi di Singapura, saat saya membagi-bagikan hadiah Natal di luar sebuah Taman Kanak-Kanak, saya kepanasan mengenakan pakaian Santa Claus.

    Di Amerika, pada hari Natal mestinya dingin, sangat dingin, dan salju turun di mana-mana, seperti di Korea. Sebenarnya, saya jarang melihat salju pada musim Natal di Amerika. Namun, gagasan mengenai salju melebihi kenyataan, dan karena itu lagu yang dinyanyikan Bing Crosby I´m Dreaming of a White Christmas merupakan salah satu rekaman lagu terlaris di Amerika.

    Kedua, meskipun Perayaan Natal itu merupakan peristiwa keagamaan di Amerika, namun tidak demikian halnya di Asia. Di negara-negara Asia, hanya sekitar seperdua-belas penduduk di sana yang beragama Nasrani. Karena Natal demikian penting bagi pemeluk agama Nasrani untuk menguatkan kepercayaan mereka, merayakannya sebagai golongan minoritas memberikan arti khusus pada peristiwa itu.

    Keluarga Cina tetangga saya di Singapura menghadiri misa tengah malam menjelang Natal, kemudian menyanyikan lagu-lagu Natal dalam Bahasa Mandarin kira-kira pada pukul tiga pagi setiap tahun.

    Ketiga, perayaan Natal di Amerika tidak mencerminkan kebiasaan zaman kolonial seperti di banyak daerah Asia. Menurut tradisi Inggris, banyak warga masyarakat Kristen Singapura dan Sri Lanka saling memberikan hadiah Natal, pada tanggal 26 Desember, yang dikenal sebagai "Boxing Day". Dengan demikian memberikan banyak waktu bagi gereja dan keluarga untuk merayakan Natal.

    Apa persamaannya? Jelas, di sebagian besar negara Asia Natal telah menjadi bagian dari kegiatan pada akhir tahun, demikian pula di Amerika. Di Jepang, banyak orang memasang pohon Natal, toko-toko serba-ada memainkan lagu-lagu Natal, dan banyak orang saling memberikan hadiah Natal. "Masyarakat Jepang cenderung mengubah berbagai hal dari luar negeri menjadi sesuatu yang khas Jepang," demikian tulis seorang wartawan Jepang.

    Thailand juga merayakan Natal secara terbuka, meskipun 95 persen penduduknya beragama Budha. "Kami merayakan Natal," kata seorang Thailand, "karena rakyat Thailand ingin bergembira dan masyarakat kami terbuka, dan bertoleransi terhadap agama lain."

    Cina mengakui Natal "dengan semangat yang semakin besar," kata seorang pengamat. Masyarakat kristiani telah bertambah jutaan dalam 20 tahun ini. Cina juga beruntung menjadi negara produsen terbesar di dunia dengan paling banyak memproduksi mainan anak-anak untuk Natal. Ekspor produk Cina untuk perayaan Natal dalam tahun 2003 bernilai 1,5 miliar dolar.

    Satu sebab mengapa Natal demikian besar dampaknya di seluruh dunia adalah karena lambangnya tetap sama, meskipun masing-masing budaya di dunia mempunyai cara-cara sendiri yang unik untuk menyatakan perasaan mereka pada hari Natal.

    Sumber: www.glorianet.org

    Fenomena Ziarah ke Israel

    Oleh: Samuel T. Gunawan, M.Th

    Beberapa tahun terakhir ini istilah "holyland tour" telah dikenal secara luas di kalangan orang Kristen. Di Indonesia "holyland tour" atau wisata ke “tanah suci” Israel, Yerusalem dan sekitarnya telah menjadi trend di kalangan Kristen. Menyikapi fenomena holyland tour ini ada dua sikap ekstrim yang perlu kita hindari. Pertama, sikap ekstrim yang mewajibkan orang Kristen ziarah ke Israel yaitu ke Yerusalem dan kota/tempat tertentu disekitarnya lalu melakukan ibadat atau ritual-ritual. Kedua, sikap ektrim yang melarang orang Kristen untuk berziarah ke Israel dengan alasan hal ini tidak diperintahkan dalam kitab Suci.

    Memperhatikan fenomena tersebut di atas, setidaknya ada empat keprihatinan berkenaan dengan fenomena tersebut. Pertama, dari sudut pandang pastoral, yaitu dari hukum pertumbuhan rohani hal ini akan menyebabkan pertumbuhan yang “tidak sehat” apabila ketaatan kepada Kristus ditentukan atau di ukur dari pengalaman-pengalaman perjalanan ke “tanah suci” (Yerusalem) tersebut. Kedua, dari sudut pandang dokrinal-teologikal maka fenomena ini menjadikan orang Kristen berpusat pada diri sendiri, manusia, dan pengalaman lebih dari pada pernyataan kitab suci (Alkitab) serta tidak berpusat pada Kristus. Ketiga, dari sudut pandang sosial-ekonomikal, apabila holyland tour diwajibkan bagi orang Kristen maka tidak semua orang Kristen bisa melakukannya. Hal ini disebabkan strata atau tingkat ekonomi yang berbeda, dan kenyataan bahwa tidak semua orang Kristen itu kaya secara materi. Pengalaman menujukan bahwa beberapa orang Kristen “rela” berhutang hanya karena ikut-ikutan holyland tour, sementara yang lainnya mengadopsi pola MLM (multi level marketing) dengan dalih membantu dan memberi kemudahan bagi orang Kristen yang kurang mampu agar bisa pergi ke Israel. Pengalaman menujukkan bahwa dalam pola MLM akan ada yang diuntungkan dan akan ada yang “dikorbankan”. Pengamat yang jeli akan segera mengetahui bahwa yang paling diuntungkan secara financial adalah penyedia jasa, guide tour, dan biro perjalanan. Keempat, dari sudut pandang psikologikal, maka secara emosional ada semacam “sensasi” atau semacam perasaan sebagai orang Kristen yang “lebih baik” bagi mereka yang dapat melakukan holyland tour tersebut lebih daripada mereka yang tidak dapat melakukannya. Hal ini menyebabkan kesombongan dalam taraf tertentu.

    Bagaimana seharusnya sikap orang Kristen yang tulus menanggapi fenomena “holyland tour” ini? Lalu, apakah perspektif Kitab Suci mengenai hal ini? Berikut ini beberapa pertimbangan dalam menentukan sikap kita terhadap fenomena ziarah ke “Tanah Suci” tersebut

    1. Bahwa dalam Kitab Suci tidak ada perintah yang secara eksplisit mewajibkan atau pun melarang orang Kristen untuk melakukan holyland tour atau berziarah ke Israel (Yerusalem dan sekitarnya). Implikasi dari pernyataan ini jelas yaitu bahwa sikap ekstrim yang mewajibkan atau pun melarang holyland tour perlu dihindari.

    2. Perlu bagi orang Kristen untuk bisa membedakan antara Israel dan Gereja (kumpulan orang percaya). Kitab Suci menunjukkan bahwa Israel dan Gereja adalah dua entitas yang berbeda. Teolog seperti Charles C. Ryrie dalam Basic Theology, Paul Enns dalam Approaching God membedakan dengan jelas antara Israel dan Gereja. Israel bukanlah Gereja, sebaliknya Gereja bukanlah Israel basik secara fisik maupun rohani. Pertama, Israel dalam pengertian teknis merupakan sebuah bangsa, sedangkan gereja pengertian teknis bukanlah sebuah bangsa. Ada beberapa fakta yang mennjukkan perbedaan ini, yaitu: Israel memiliki bahasa nasional, sedangkan Gereja adalah kumpulan bermacam-macam manusia dari suku bangsa yang berbeda dan memiliki banyak bahasa yang berbeda; Israel memiliki negara, ibu kota, pemerintahan dan para pemimpin politis di bumi ini, namun gereja tidak memiliki negara, pemerintahan, dan para pemimpin politis; Israel memiliki tradisi dan sejarah nasional, sedangkan gereja merupakan campuran manusia dari berbagai tradisi dan sejarah yang berbeda; Israel memiliki tentara untuk menghadapi serangan dan menyerang bangsa lain, sedangkan gereja tidak memiliki tentara seperti itu. Kedua, pada kenyataannya Israel oleh karena iri hati menolak Kristus, Mesias yang dijanjikan kepada mereka walaupun sebelumnya Allah sudah berulangkali memperingatkan mereka bahwa mereka akan menolak Dia (Yes. 53; Yoh. 1:11; 12:37-41), sedangkan kontras dengan Gereja sebagai kumpulan orang percaya menerima Kristus yang telah ditolak oleh Israel. Ketiga, dalam Roma 11, Rasul Paulus menjelaskan bahwa Israel adalah umat pilihan Allah yang mana mereka berada di bawah berkat Allah. Namun oleh karena Israel menolak Kristus, maka untuk sementara berkat itu diambil dari Israel dan dialihkan kepada Gereja (kumpulan orang percaya). Implikasi dari perbedaan ini membawa pada pengertian bahwa tanah perjanjian adalah bagi orang Israel dengan demikian tidak mewajibkan orang Kristen untuk berziarah ke sana.

    3. Kitab Suci menegaskan bahwa keselamatan adalah anugerah bukan usaha manusia. Setidaknya ada dua pandangan keliru tentang mengenai hal ini. Pertama, ada pandangan yang menganggap bahwa kita diselamatkan karena perbuatan-perbuatan baik dan bukan hanya karena anugerah. Sebaliknya, Kitab Suci mengajarkan bahwa kita diselamatkan karena percaya (respon) pada Injil yang menyelamatkan bukan karena perbuatan baik apapun dari kita (Galatia 3:1-8; Roma 3:16-23; Efesus 2:8-9). Setelah diselamatkan adalah keharusan bagi setiap orang Kristen untuk berbuat baik (Efesus 2:10-11). Kedua, ada juga yang menganggap bahwa baptisan air adalah Injil yang menyelamatkan dan dapat menghapus dosa, apalagi bila dibaptis di Sungai Yordan. Kitab Suci mengajarkan bahwa baptisan air bukanlah syarat keselamatan (1 Korintus 1:17). Baptisan air itu penting tetapi bukan syarat keselamatan. Baptisan air adalah tanda pertobatan (Matius 3:11); Tanda ketataan kepada perintah Tuhan bahwa seseorang sudah diselamatkan (Matius 28:18,19); orang percaya secara simbolik mengalami persatuan dengan Kristus melalui baptisan air (Roma 6). Perlu diingat, Kitab suci menunjukan adanya orang yang memberitakan injil lain yang berbeda dari Injil yang menyelamatkan. Injil ini disebut “injil sungsang” atau pemutar balikan Injil (Galatia 1:6-9). Kutuk (anathema) ditimpakan kepada pengajar injil sungsang ini (Galatia 1:8,9). Kata Yunani “anathema” berarti murka Allah, hukuman Allah yang membinasakan.

    4. Dalam Yohanes 4:24 Kristus juga menegaskan bahwa, “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran” . Ibadah sejati adalah ibadah yang dipimpin oleh Roh Kudus dan sesuai dengan firman Tuhan (kebenaran). Dengan demikian, dalam hal ibadah kepada Allah, orang Kristen tidak dibatasi pada satu tempat tertentu, termasuk tempat yang dianggap ”suci” atau ”sakral”. Justru, hidup setiap orang Kristen harus menjadi ibadah, yakni menjadi persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah (Roma 12:1). Itu berarti bahwa orang Kristen perlu menyadari bahwa tubuhnya adalah Bait Roh Kudus sehingga ia dapat melayani Allah baik dengan pikirannya, rohnya, maupun dengan tubuhnya. Ibadah yang sejati adalah mempersembahkan tubuh kepada Allah dan semua yang dikerjakannya setiap hari. Dan hal itu dapat terjadi apabila hidup orang-orang percaya berubah oleh pembaharuan budi (Roma 12:2), yakni dengan kehidupan yang berpusat pada Kristus. Implikasi dari penyataan ini menegaskan kembali kepada kita bahwa pendapat yang menganggap ibadah/berdoa dan meminta berkat Tuhan di ritus-ritus atau tempat-tempat sakral di “tanah suci” (Israel) seolah-olah Tuhan hanya ada di sana, atau menganggap bahwa dengan mengunjungi tempat-tempat tersebut iman seseorang akan menjadi hidup dan tidak hanya sekedar teori adalah tidak sesuai dengan pernyataan Kitab Suci.

    5. Akhirnya, orang Kristen dinasihati untuk hidup bijaksanaan dan menuruti kehendak Tuhan (Efesus 5:15-17), menjadi dewasa dan tidak mudah digoyahkan oleh berbagai ajaran dan pendapat manusia yang membingungkan (Efesus 4:14-15), tetap teguh dalam iman, pengharapan dan Injil yang menyelamatkan (Kolose 1:23; Yudas 1:20-21).

    Akhirnya, sebagaimana telah saya sampaikan di atas, merupakan hal yang baik bagi orang Kristen jika dapat melakukan wisata ke Israel dan mengunjungi kota-kota atau tempat-tempat tertentu yang bersejarah; tetapi merupakan sebuah kekeliruan bila holyland tour dijadikan hal yang wajib dilakukan oleh orang Kristen dengan alasan-alasan yang sebenarnya tidak Alkitabiah. Karena itu, motivasi dari holyland tour perlu berdasarkan pertimbangan yang bijak, pemahaman dan tujuan yang benar serta sesuai dengan Kitab Suci.

    Salam sejahtera!

    Globalisasi

    Penulis : RP Borrong

    Istilah Globalisasi, pertama kali digunakan oleh Theodore Levitt tahun 1985 yang menunjuk pada politik-ekonomi, khususnya politik perdagangan bebas dan transaksi keuangan. Menurut sejarahnya, akar munculnya globalisasi adalah revolusi elektronik dan disintegrasi negara-negara komunis. Revolusi elektronik melipatgandakan akselerasi komunikasi, transportasi, produksi, dan informasi. Disintegrasi negara-negara komunis yang mengakhiri Perang Dingin memungkinkan kapitalisme Barat menjadi satu-satunya kekuatan yang memangku hegemoni global. Itu sebabnya di bidang ideologi perdagangan dan ekonomi, globalisasi sering disebut sebagai Dekolonisasi (Oommen), Rekolonisasi ( Oliver, Balasuriya, Chandran), Neo-Kapitalisme (Menon), Neo-Liberalisme (Ramakrishnan). Malahan Sada menyebut globalisasi sebagai eksistensi Kapitalisme Euro-Amerika di Dunia Ketiga.

    Secara sangat sederhana bisa dikatakan bahwa globalisasi terlihat ketika semua orang di dunia sudah memakai celana Levis dan sepatu Reebok, makan McDonald, minum Coca-Cola. Secara lebih esensial, globalisasi nampak dalam bentuk Kapitalisme Global berimplementasi melalui program IMF, Bank Dunia, dan WTO; lembaga-lembaga dunia yang baru-baru ini mendapat kritik sangat tajam dari Dennis Kucinich, calon Presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat, karena lembaga-lembaga itu mencerminkan ketidakadilan global.

    Program-program dari lembaga-lembaga itu telah menjadi alat yang ampuh dari kapitalisme Barat yang mengguncangkan, merontokkan dan meluluh-lantakkan bukan hanya ekonomi, tetapi kehidupan negara-negara miskin dalam suatu bentuk pertandingan tak seimbang antara pemodal raksasa dengan buruh gurem. Rakyat kecil tak berdaya di negara-negara miskin, menjadi semakin terpuruk dan merana.

    Jadi walaupun ada dampak positif globalisasi seperti misalnya hadirnya jaringan komunikasi dan informasi yang mempermudah kehidupan umat manusia, ditinjau dari sudut kepentingan masyarakat miskin, globalisasi lebih banyak dampak negatifnya. Kita melihat aspek negatif itu dalam ketidak-adilan perdagangan antar-bangsa, akumulasi kekayaan dan kekuasaan di tangan para kapitalis negara-negara maju yang mengakibatkan kemelaratan yang tak terbayangkan di negara-negara miskin, termasuk di Indonesia. Menurut Kucinich, Negara-negara miskin telah diperas lewat pembayaran beban utang ke lembaga global . Dicontohkan, setiap tahun 2,5 miliar dolar AS dana mengalir dari sub-Sahara Afrika ke kreditor internasional, sementara 40 juta warga mereka kurang gizi.

    Respons

    Saya tidak bermaksud membicarakan artiglobalisasi yang sangat luas ini. Saya hanya ingin menekankan bahwa sebenarnya kita tidak bisa begitu saja latah berbicara tentang globalisasi kalau kita tidak mengetahui secara persis apa yang kita maksudkan dengan istilah itu. Kini istilah globalisasi telah mencakup pengertian yang menggambarkan sutau proses atau gerakan multi-dimensi yang bersifat simultan, terutama dalam bidang ekonomi, politik dan budaya. Walaupun demikian globalisasi terutama nampak dalam gerakan ekonomi-moneter yang membuat dunia semakin menyatu dan membawa dampak positif maupun negatif bagi kemanusiaan. Karena itu, saya ingin menekankan pada saat ini bagaimana respons iman kristiani terhadap dampak globalisasi baik yang positif maupun yang negatif.

    Dari sudut positif, kita harus mampu memberdayakan diri kita sebagai masyarakat untuk memanfaatkan peluang dari arus globalisasi, misalnya dalam hal kemampuan bersaing dalam perdagangan bebas, tentu saja sesuai dengan nilai-nilai luhur, seperti kejujuran dan akuntibilitas di atas dasar keadilan dan kebenaran. Dua kata ini dalam konsep agama, misalnya dalam Alkitab selalu mempunyai makna yang sama: keadilan dan kebenaran Allah adalah Allah sendiri. Dua nilai ini penting dalam menyikapi dan menyiasati arus globalisasi, sebab gejala persaingan dunia bisnis di arena globalisasi ini semakin dilanda oleh ketidakjujuran sebagai akibat persaingan yang semakin ketat.

    Globalisasi tidak hanya terkait dengan masalah ketidak-adilan ekonomi, tetapi ibarat kanker, telah menjalar dan menyusupi semua aspek kehidupan umat manusia. Bukan saja masalahnya adalah persoalan ketidak-adilan dalam bidang ekonomi moneter, tetapi globalisasi telah menimbulkan begitu banyak masalah, dengan kemajuan yang luarbiasa di bidang informasi dan interaksi manusia. Stackhouse menyebutkan adanya tiga dewa globalisasi yaitu dewa Mammon (materialisme), Mars (perang/kekerasan) dan Eros (pornografi). Tiga dewa ini seringkali berkolaborasi dalam kehidupan etika dan nilai-nilai kemanusiaan, sehingga etika dan kemanusiaan pada umunya tidak bermakna lagi sebagai norma kehidupan.

    Materialisme misalnya, telah menciptakan "malaekat" pembangunan yang mendorong orang ingin terus berproduksi dan mengonsumsi supaya materi semakin menguasai kehidupan kita. Dewa Mammon mungkin dapat dianggap sebagai dewa tertinggi dari dewa-dewi ini karena dialah yang paling berjasa melahirkan dua dewa lainnya, bahkan masih banyak lagi dewa-dewi globalisasi yang sedang lahir dan bermunculan, misalnya dewa Hedonisme dan dewa Konsumerisme.

    Mammonisme telah menjadi dewa yang paling menguasai umat manusia. Sekarang ini materi seolah telah menjadi ukuran segala sesuatu. Apa saja harus dibeli dan bisa di beli. Mereka yang tidak bisa dibeli dan membeli adalah ateis yang tak bertuhan. Dalam masyarakat mammonistik, agama resmi tinggal menjadi formalistik dan seremonistik. Nilai agama itu telah diganti menjadi nilai Mammon, nilai uang. Tanpa uang Anda tidak bisa menikmati sesuatu dan tanpa nikmat hidup menjadi seolah hampa. Itulah hedonisme, suatu bentuk kehidupan yang mengagungkan kesenangan dan kenikmatan belaka. Membeli dan dibeli, menikmati dan dinikmati, itulah tujuan hidup mammonisme yang telah menyingkirkan semua tujuan hidup lainnya. Akibatnya, hubungan kemanusiaan tidak lain dari hubungan materi. Tanpa materi, hubungan dengan sesama manusia seolah tidak bernilai. Hubungan kemanusiaan seolah hanya ditandai dengan "transaksi".

    Baru-baru ini, seorang teman di Belanda menulis kepada mitra kerjanya di Indonesia dengan kata-kata yang sangat dalam menggambarkan situasi ini. "Janganlah hubungan kemitraan kita dilihat seperti sebuah transaksi perbankan sehingga seluruh relasi diukur hanya dengan sejumlah cash". Pernyataan itu sungguh menggugah rasa kemanusiaan kita di arus kuat globalisasi dengan dewa Mammon-nya. Kiranya seluruh relasi kemanusiaan kita perlu dievaluasi dan direnungkan kembali sesuai dengan nilai-nilai luhur agama.

    Keserakahan

    Dewa Mars adalah dewa yang kedua, yang merajalela. Perang hanyalah salah satu wujud dari simbol Mars yang sesungguhnya. Mars adalah dewa kekerasan dalam mitologi Yunani. Keperkasaannya selalu menjadi momok baik bagi dewa lain maupun bagi manusia, karena kebengisan yang tercermin dari wajahnya. Bukankah teror yang sekarang ini menjadi kata terpopuler di dunia menjadi wujud paling nyata dari dewa Mars globalisasi? Kekerasan di mana-mana, teror di mana-mana, bukan hanya dalam bentuk bom yang meledak di mana-mana, tetapi dalam bentuk lain seperti perampokan, pembunuhan, penculikan dan semua bentuk kekerasan yang seolah sah dan wajar dalam kehidupan manusia masa kini.

    Kekerasan bukan hanya terhadap sesame manusia tetapi juga terhadap lingkungan hidup kita. Kalau kita misalnya merenungkan peristiwa banjir bandang dan longsor yang menelan ratusan korban di Sumatera Utrara, maka nyatalah bahwa itu terjadi sebagai akibat kekerasan manusia terhadap alam. Perambahan hutan sebagai salah satu bentuk kekerasan manusia terhadap lingkungan telah membawa akibat yang sangat fatal.

    Dewi Eros sesungguhnyalah pembawa cinta dan damai dalam hidup manusia. Tetapi kini, erotisme seluruh dunia merupakan anak kandung dari mammonisme yang menghalalkan segala cara mendapatkan uang. Cyber-porno merupakan salah satu bisnis mengeksploitasi umat manusia demi uang. Kalau ia hanya menjadi bisnis, mungkin tidak terlalu menjadi persoalan. Tetapi pornografi telah merusak moral banyak manusia di dunia dengan penggambaran-penggambaran yang tidak sehat dan tidak mendidik. Apa yang ditonjolkannya hanyalah hedonisme dan kekerasan. Inilah dampak globalisasi yang menyusup melalui komunikasi dan informasi di dunia maya yang melahirkan dewa baru bernama Eros. Pemujuaan terhadap seks di dunia maya ini membawa nilai baru dalam hubungan rumah tangga, hubungan laki-laki dan perempuan dan hubungan antar- manusia seolah tanpa penghormatan terhadap gender.

    Pada suatu siang, dua remaja yang sedang cekikikan di depan monitor komputer memanggil semua saudara mereka sejumlah 6 orang, laki-laki dan perempuan remaja dan anak-anak berusia 8 tahun. Apa yang mereka tertawakan dengan nikmat? Gambar hati tertembus (maaf) penis, yang baru saja diterima dari seorang rekannya. Tidak ada dunia yang tidak dilanda pornografi, mulai dari internet sampai kepada tampilan handphone yang mini bisa menjadi ajang menikmati pornografi. Dewi Eros (erotica) tak pelak lagi menjadi dewi yang397aling berkuasa di era globalisasi saat ini.

    Rupanya memang telah terjadi pergeseran paradigma dalam soal agama. Agama lama yang masih formal diakui umat manusia dan Allah atau Tuhan yang benar, sedang dimarginalisasi oleh dewa-dewi baru, yang ternyata lebih menarik dan lebih meyakinkan banyak manusia di dunia. Materi, kenikmatan, kekerasan dan erotisme sedang menguasai sanubari kita dan ternyata semua itu tidak membuat kita menjadi manusia bebas melainkan menjadi manusia yang semakin terpenjara dan terbelenggu. Karena itu, globalisasi dalam bentuk dewa-dewi baru itu tidak lebih dari dewa-dewi palsu (pseudo-lords) yang menyesatkan; yang karenanya seharusnya diwaspadai dan disiasati.supaya tidak memerangkap kehidupan kita. Kita harus kembali memberi tempat pada Tuhan yang asli dalam kehidupan kita, dalam relasi-relasi kita, baik relasi dengan sesama manusia maupun dengan lingkungan hidup kita. Dengan memberi tempat pada Tuhan yang asli dalam sanubari kita, maka relasi-relasi kemanusiaan kita yang asli dan hakiki akan pulih dan akan memberikan kebebasan dan kemerdekaan yang sejati kepada kita.

    Dengan mengembalikan Tuhan bertahta dalam hidup kita, maka dewa-dewi globalisasi yang destruktif akan menyingkir dari kehidupan kita. Kita harus mensyukuri keberadaan kita sebagai orang beragama dan ber-Tuhan, karena selalu tersedia kesempatan untuk mengelakkan diri dari pengaruh buruk globalisasi dengan pendampingan dari agama asli yang kita yakini.

    Kita sedang merayakan nikmat ibadah Puasa yang sedang dijalani oleh umat Islam di seluruh dunia. Kita menghargai nikmat Allah ini sebagai salah satu wadah yang diberikan Tuhan untuk mengevaluasi pengaruh materi, emosi dan seks dalam hidup kita, sehingga mampu mengendalikan diri dan tidak dikuasai. Itulah hakikat keberagamaan yang dapat menjadi salah satu wadah mengalahkan godaan globalisasi.

    Sumber: Suara Pembaruan Daily

    Globalisasi; Kolonialisme Tahap Ketiga

    Penulis : Markus Rani

    ALLAH hadir dalam globalisasi. Paling sedikit, dari perspektif Allah, globalisasi mempunyai arah, sasaran, dan tujuan tertentu. Dengan demikian, globalisasi mempunyai dimensi teologis, bukan suatu proses yang sekuler belaka. Karena itu, tugas gereja bukan bagaimana meniadakan globalisasi, melainkan bagaimana mengisi. Hal itu perlu dilakukan karena Mamon juga tidak kurang hadir dalam (arus) globalisasi.

    Rumusan di atas merupakan petikan pemikiran Eka Darmaputera, PhD, dan Dr JB Banawiratma dalam Seminar Agama-Agama XXI di Cipayung, Bogor, Jawa Barat, 13-17 September. Seminar bertema "Globalisasi, Kebangsaan, dan Agama-agama di Indonesia" itu, diselenggarakan Departemen Penelitian dan Pengembangan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (Litbang-PGI).

    Eka mengawali paparannya dengan mengutip Roma 11:36 "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dia-lah kemuliaan sampai selama-lamanya."

    Di depan sekitar 70 peserta seminar, Eka menjelaskan, tiga hal mendasar yang dikatakan Alkitab mengenai Allah, yakni (a) bahwa Ia Maha-Kuasa (omnipotent); (b) bahwa Ia Maha-Mengetahui (omniscient); dan (c) bahwa Ia Maha-Hadir (omnipresent).

    Menurut Eka, "Maha-Kuasa" artinya, tak ada satupun yang terjadi bisa terjadi tanpa perkenan dan pengendalian-Nya. "Maha-Mengetahui" artinya, tak ada satu pun yang terjadi bisa terjadi tanpa pengetahuan dan keterlibatan-Nya. Sedangkan "Maha-Hadir" artinya, tak ada satu pun yang terjadi bisa terjadi tanpa Ia ada di sana. Implikasi pemahaman seperti itu adalah: segala sesuatu yang ada, itu ada bukan sekadar kebetulan atau by chance belaka, melainkan karena ada penciptanya, ada maksudnya, dan ada tujuannya.

    Dengan demikian, kata Eka, globalisasi-paling sedikit dari perspektif Allah-mempunyai arah, sasaran, dan tujuan tertentu. Dengan perkataan lain, globalisasi mempunyai dimensi teologis, bukan suatu proses yang sekuler belaka. Karena itu, dapat dikatakan bahwa tugas utama kita sekarang bukan bagaimana meniadakan globalisasi, tetapi bagaimana mengisinya.

    Pernyataan Eka itu, secara tidak langsung menjawab makalah dan diskusi yang cukup "panas" dalam seminar itu. Salah seorang peserta dari GKE, Kalimantan, mengatakan, ketika terjadi kerusuhan antarsuku di Kalimantan, umat Kristen minta tolong kepada Tuhan, tetapi tidak ada jawaban. Pertolongan tidak diberikan. Ketika masyarakat berbalik minta tolong kepada (roh) nenek moyang, maka pertolongan segera datang.

    Kekerasan Ganda

    Dalam makalah berjudul "Globalisasi dari Bawah", Dr JB Banawiratma mengutip dokumen teologis Thou Shall Not Worship Other Gods: Towards a De-colonizing Theology yang dikeluarkan Asian Theological Conference V yang diselenggarakan oleh Ecumenical Association of Third World Theologians (EATWOT) di Kandy, Sri Lanka 9-15 Januari 2000. Dalam dokumen itu disebut bahwa globalisasi sebagai kolonialisme tahap ketiga setelah kolonialisme merkantil dan kapitalisme pasca-Revolusi Industri di Eropa.

    Menurut Banawiratma, apa yang digambarkan Boff dan Pixley (1989:12) sebagai integrasi trans-nasional dapat dipakai untuk menerangkan kolonialisme tahap ketiga itu. Dikatakan, dalam integrasi trans-nasional tidak pertama-tama digambarkan hubungan antarbangsa dan antarnegara, melainkan antarkelas dari berbagai negara.

    Kaum miskin dan tertindas mengalami kekerasan ganda, oleh vested interest perusahaan trans- nasional dan oleh dominating classes negara miskin sendiri.

    Dikatakan pula, kolonialisme tahap ketiga dapat juga digambarkan dengan apa yang dikemukakan David Korten (1999:59-60) sebagai pergeseran kekuatan dari rakyat ke sistem keuangan global. Kekuasaan uang terpisah dari kepekaan manusiawi, dan rakyat menjadi tidak berdaya. Terjadi pergeseran kekuasaan dari rakyat ke keuangan global.

    Korten, dan juga Francois Houtart dan kawan-kawan, mengusulkan agenda untuk memulihkan hak-hak untuk hidup, yakni mewujudkan demokrasi politis; akhiri korporasi sebagai badan hukum; hapuskan kesejahteraan korporasi; kembalikan peran uang sebagai sarana tukar-menukar; dan majukan demokrasi ekonomis. Menurut Banawiratma, agenda semacam itu tidak disukai oleh mereka yang mempromosikan proyek-proyek neoliberalistis, namun resistensi terhadap proyek semacam itu semakin meluas.

    Disebutkan, dua forum berhadapan frontal, diselenggarakan pada saat yang bersamaan. Pada 23-28 Januari 2003 diadakan pertemuan World Economic Forum di Davos, Swiss. Sementara di Porto Alegre, Brasil, berlangsung World Social Forum. Forum pertama menggulirkan globalisasi yang membawa marginalisasi, sementara forum yang kedua menggerakkan globalisasi dari bawah yang liberatif. Forum Porto Alegre bertujuan menciptakan ruang alternatif bagi pemikiran-pemikiran teoretis, sosial kultural, ekonomis, dan politis.

    Model Lain

    Di Porto Alegre dicanangkan model globalisasi lain yang tidak membawa marginalisasi melainkan menuju kesejahteraan bersama. Diharapkan juga agar semakin kuat jaringan berbagai organisasi yang menggerakkan resistensi terhadap proyek neoliberalisme. Pertemuan Porto Alegre menunjukkan bahwa gerakan dari bawah bukanlah sekadar cita-cita hampa, melainkan sedang digulirkan.

    Menurut Banawiratma, agama tidak netral, agama dapat melegitimasikan globalisasi kolonial atau menggulirkan globalisasi dari bawah, membela kaum marginal. Dijelaskan, pada 1993 Parlemen Agama-agama Sedunia mencanangkan "Declaration toward a Global Ethic" (Kueng 1996:9-26). Tanpa etika global tidak akan ada tatanan global yang baru. Tuntutan yang mendasar adalah perlakuan manusiawi terhadap semua orang.

    Deklarasi yang baru disebut mengungkapkan empat arahan, yakni, tekad untuk mewujudkan budaya tanpa kekerasan dan hormat terhadap kehidupan; budaya solidaritas dan tata ekonomi yang adil; budaya toleransi dan kehidupan yang setia pada kebenaran; dan budaya dengan hak-hak sederajat beserta kemitraan laki-laki dan perempuan.

    Dijelaskan, menjadi orang Kristen berarti mengikut Yesus Kristus sebagai Jalan, berada bersama Dia di mana Dia berada dan menjalankan apa yang sedang Dia kehendaki. Bagi gereja yang hidup di tengah-tengah kenyataan globalisasi yang memojokkan kaum miskin, di tengah- tengah akumulasi kekayaan tanpa berbagi perlu kiranya mengingat Lukas 16:13 yang menegaskan: "Kami tidak dapat melayani Allah dan melayani Mamon."

    Dikatakan, Mamon dalam bahasa Yunani mamonas berasal dari bahasa Aramea mamon. Kata benda itu dibentuk dari kata kerja ´mn, yang berarti percaya, mempercayakan diri. Dalam teks rabbinis dan Perjanjian Baru arti kata mamon berkembang menjadi "milik, kekayaan" dengan nada negatif, yang diusahakan secara tidak jujur.

    Bagi mereka yang miskin, korban dari Mamon, Allah mengadakan pakta perjanjian untuk melawan musuh bersama, yakni Mamon itu sendiri. Menurut Banawiratma, gereja menjadi gereja kalau bersatu dengan kaum miskin dan tertindas, kalau bersatu dengan kaum marginal, dengan mereka yang menjadi korban Mamon, dengan orang-orang yang menderita.

    Dijelaskan, dalam masyarakat Indonesia sekarang, gereja dipanggil guna menemukan cara baru untuk hidup yang terbuka sebagai murid-murid Yesus. Dalam hal itu, perlu kiranya dikembangkan komunitas basis yang kontekstual, dalam aras persekutuan Kristiani, dan komunitas basis manusiawi dalam aras antar-iman sebagai komunitas dialog dan transformasi.

    Menjadi Satu

    Dengan demikian, orientasi pemberdayaan komunitas basis merupakan cara baru hidup bergereja. Yang menentukan dalam cara baru hidup menggereja ini adalah kaum miskin, para korban. Itu sebabnya, Yesus (dan murid-murid) dalam pelayanan kepada mereka yang tertindas, menempatkan diri (satu) di antara yang dila-yani. Jadi bukan sebagai orang asing, orang yang datang dari luar komunitas si miskin.

    Kita memahami sikap Yesus kepada orang miskin, orang menderita, orang yang lemah sering bertentangan status-quo yang ada. Marcel Gervais lewat tulisannya berjudul God and the Poor dalam buku Middle Classes the Poor God, Donum Dei Nomor 25 (1979) halaman 86, mengatakan, jemaat di Qumran, memandang orang lumpuh dan yang cacat lainnya terkucil dari keselamatan eskatologis. Tetapi Yesus mengatakan, mereka itu berbahagia, karena bagi merekalah Kerajaan Allah (Lukas 6:20).

    Tindakan Yesus melanggar status-quo, juga dapat dibaca dalam Lukas 5:12-16 tentang penyembuhan seorang yang sakit kusta. Orang Yahudi memandang orang sakit kusta itu najis, sehingga harus dikucilkan dari masyarakat, dari persekutuan umat Allah.

    Orang kusta dicap sebagai orang yang terkutuk. Penyakit tersebut dianggap penyakit yang sukar disembuhkan. Nyata dari ucapan-ucapan pengajar kesusilaan Yahudi yang menganggap orang sakit kusta sebagai mayat bergerak, sehingga menyembuhkan orang dari penyakit ini sama sukarnya dengan menghidupkan kembali orang yang sudah mati. (J Sutopo, SJ dalam Mysterium Christy, Penjelasan Injil Markus, bagian I, Kanisius, 1970, hal. 79).

    Dalam kisah itu, Yesus tidak hanya melanggar hukum agama 329g ketat, melanggar status-quo sehingga membiarkan diri-Nya didekati orang kusta. Yesus bahkan bersedia menyembuhkan penyakit kusta yang oleh orang Yahudi dianggap paling sulit disembuhkan.

    Tujuan pelayanan Yesus dan murid-murid-Nya, dengan demikian tujuan pelayanan gereja sekarang ini, adalah satu atau sama dengan maksud Allah, yaitu kebahagiaan bagi umat manusia. Allah mau supaya umat-Nya secara bertanggung jawab mewujudkan hubungan yang harmonis antara sesamanya manusia, antara manusia dengan ciptaan lainnya.

    Dalam kerangka itulah, globalisasi hendaknya disambut dan diisi agar sifat-sifat Mamon yang terkandung di dalamnya diminimalkan, bahkan ditiadakan. Globalisasi harus ditumbuhkan dari bawah sehingga tidak ada yang tercecer.

    Sumber: Suara Pembaruan Daily

    Iman Kristen dan Tanggung Jawab Ekologi

    Melakukan penginjilan kepada setiap manusia yang berkomunikasi dengan setiap orang yang percaya kepada Kristus merupakan bukti kesadaran kita bahwa manusia akan binasa tanpa Kristus. Berkembangnya pemahaman sekelompok Kristen bahwa keselamatan ada di luar Kristus nampaknya mengurangi semangat kelompok ini akan pentingnya penginjilan. Mereka menuduh kelompok Kristen yang rajin melakukan penginjilan sebagai kelompok fundamentalis. Benarkah kelompok yang rajin melakukan penginjilan kelompok fundamentalis?. Menurut kenyataan yang saya lihat, tidak sepenuhnya benar. Jika mau jujur, kelompok yang melakukan penginjilan Beberapakali melakukan kesalahan.

    Saya sebagai orang yang menerima anugerah keselamat dari Kristus, tentunya memberitahu kepada setiap orang yang berkomunikasi dengan saya bahwa Kristus adalah jalan keselamatan dengan cara kontekstual. Kontekstual yang saya maksud adalah menyampaikan iman melalui pembicaraan dan perbuatan. Cara penyampaian kontekstual juga harus melihat situasi dan kondisi. Saya kira, tidak bermasalah apa yang saya sampaikan tentang imanku di negeri Pancasila ini. Penyampaian iman saya merupakan bahan diskusi bagi mereka yang tidak satu iman kepada saya. Saya juga tidak pernah segan menanyakan kepada setiap orang bagimana mereka beriman. Bagimana mereka bergumul memilih iman mereka. Dengan demikian diskusi perbedaan iman tidak menjadi sesuatu diskusi yang sensitif. Jika diskusi pergumulan iman tidak menjadi sesuatu yang sensitif, maka kebebasan memilih iman percaya seseorang menjadi mutlak. Bukankah memilih seseorang menjadi percaya kepada Tuhan pekerjaan Tuhan itu sendiri?. Jika hal itu menjadi pekerjaan Tuhan, mengapa seringkali dipersoalkan manusia?.

    Cukupkah sebagai orang beriman kepada Kristus hanya melakukan penginjilan?. Mungkinkah penginjilan bisa dilakukan tatkala lingkungan hidup sudah rusak?. Jika ozon sudah bocor kelak, es abadi meleleh akibat pemanasan global yang mengakibatkan pulau-pulau tenggelam. Mungkinkah di masa itu, kita masih punya waktu melakukan penginjilan?. Saya kira, hal itu bisa saja waktu yang paling efektif melakukan penginjilan, seperti melakukan penginjilan kepada orang-orang yang ditimpa bencana. Tetapi harap diingat, bahwa penginjilan haruslah murni karena iman percaya kita. Saya kira, sebuah kekeliruan besar yang dilakukan orang kristen jika dia menolong orang lain, agar orang lain yang ditolongnya menjadi Kristen. Melakukan segala sesuatu bagi orang percaya adalah karena iman. Jika seseorang mau mengikuti iman kita, bukan karena kita, tetapi karena pekerjaan Roh Kudus.

    Kembali ke tanggungjawab orang Kristen kepada alam disekitarnya. Memang harus diakui, terlalu banyak persoalan yang kita hadapi di bumi ini. Di mulai semangat penginjilan, cara penginjilan, sampai persoalan internal gereja yang runyam akibat tidak bertumbuhnya iman jemaat. Kapan kita berbicara dan melakukan tanggung jawab sosial, khususnya masalah lingkungan hidup yang semakin kritis?.

    Dalam tulisan ini, saya berasumsi persolan internal Gereja sebentar lagi akan selesai. Di waktu pembenahan internal Gereja ini, saya mau mengajak orang Kristen mulai memikirkan sikap iman kita kepada lingkungan hidup yang makin kritis ini. Tentunya dimulai dari diri kita sendiri. Berbicara diri sendiri tentu tidak lepas dari perilaku kita sethari-hari.

    Jikalau ada pertanyaan kepada anda. Apakah anda orang Kristen yang mengeksploitasi sumberdaya alam atau orang Kristen yang memelihara sumberdaya alam. Kedua pertanyaan ini agak sulit dijawab, karena membutuhkan jawaban komprehensif. Akan tetapi, anda boleh merenungkan sikap anda sehari-hari. Dimulai dari cara anda memakai air, membeli mobil yang ramah lingkungan, atau anda tidak perlu naik mobil bila angkutan umum tersedia karena pertimbangan mobil anda menambah macet, penggunaan bensin akan tinggi bila naik mobil pribadi. Apakah anda pengguna bahan-bahan kimia yang berbahaya?, apakah anda membela perusahaan tempat anda bekerja, padahal perusahaan tempat anda bekerja telah memperkosa hak-hak rakyat?, atau jika anda pengusaha Kristen, sudahkah perusahaanih bahan baku yang menghasilkan limbah yang tidak berbahaya, atau jika anda pengusaha Kristen apakah perusahaan anda memilih bahan baku yang tidak menghasilkan limbah yang berbahaya?, apakah perusahaan anda sudah mengelola limbah dengan baik?. Sudahkah perusahaan anda menggunakan air dengan hemat mengingat jumlah air yang semakin kritis?. Atau anda menjadi orang Kristen penyumbang uang ke Gereja terbesar, padahal uang anda bersumber dari judi, korupsi atau perpuluhan profit perusahaan anda yang merusak lingkungan dan mencabik-cabik martabat masyarakat luas itu?. Lalu, dengan sumbangan anda yang besar tempat duduk anda seolah-olah orang terhormat di Gereja?. Atau mungkin juga, karena anda merasa uang anda banyak digunakan membangun Gereja, lalu dengan sembarangan anda mengangkat pistol?. Sebenarnya, apa yang anda cari?. Bukankah menjadi Kristen tugasnya memuliakan Tuhan?.

    Salah satu kesalahan Gereja yang paling besar adalah tidak secara sengaja mengajarkan hubungan manusia dengan alam?. Bukankah alam memiliki hak untuk lestari?. Masihkah kita menilai alam sebagai alat bagi kepentingan kita?. Apakah kita masih menilai alam sebagai alat pemuas bagi keinginan kita?. Masihkah kita memperlakukan alam semaunya kita dengan alasan keindahan?. Apakah kepedulian kita terhadap alam hanya semata-mata untuk menjamin kebutuhan hidup kita?, bukankah alam mempunyai nilai pada diri sendiri sehingga pantas dilindungi?. Satu hal yang harus direnungkan buat sahabatku para konsevasionist, tolong jawab pertanyaanku ini. Apa tujuan sahabatku untuk mengkonservasi?. Apakah anda melakukan konservasi hanya karena terbukti mempunyai dampak menguntungkan bagi kepentingan manusia?, khususnya kepentingan ekonomis?. Jikalau itu tujuannya, apakah kita tidak egoistis, karena hanya mengutamakan kepentingan manusia?.

    Gurgur Manurung adalah jemaat HKBP yang memberikan perhatianya kepada masalah sosial dan lingkungan hidup.

    Iman, Kristen dan Politik

    Pdt. Dr. Andreas A Yewangoe-DKI Jakarta, Adakah Hubungan Antara Iman dan Politik? Inilah pertanyaan yang tidak selalu mudah dijawab. Kalau dijawab bahwa hubungan itu ada, pertanyaan lanjutannya adalah bagaimana hal itu diungkapkan. Agaknya pertanyaan ini makin mendesak untuk diajukan, khususnya di Indonesia, setelah sekian banyak partai politik Kristen dibentuk, di samping sekian banyak orang-orang Kristen yang aktif di dalam partai-partrai non-Kristen, tentu saja dengan alasannya masing-masing. Adakah Hubungan Antara Iman dan Politik?

    Inilah pertanyaan yang tidak selalu mudah dijawab. Kalau dijawab bahwa hubungan itu ada, pertanyaan lanjutannya adalah bagaimana hal itu diungkapkan. Agaknya pertanyaan ini makin mendesak untuk diajukan, khususnya di Indonesia, setelah sekian banyak partai politik Kristen dibentuk, di samping sekian banyak orang-orang Kristen yang aktif di dalam partai-partrai non-Kristen, tentu saja dengan alasannya masing-masing. Yang tidak setuju berpendapat, adanya partai-partrai Kristen tidak relevan dengan perkembangan masyarakat kita yang justru makin lama makin memperlihatkan kecenderungan ke luar dari batas-batas primordial, seperti agama, suku, dan ras misalnya. Membentuk partai Krtisten di Indonesia, apalagi dengan jumlah pemilih yang terbatas, akan merugikan kita semua, karena tidak akan ada satu pun kursi bakal diperoleh nanti. Yang setuju menilai bahwa justru sekaranglah partai-partai Kristen dibutuhkan, sebab selama ini partai-partai (yang bercorak nasionalis) di mana di dalamnya orang-orang Kristen menjadi anggotanya tidak memperjuangkan kepentingan Kristen. Bukankah ketika gereja-gereja dibakar dan berbagai hal lain yang merugikan kepentingan-kepentingan Kristen dilancarkan, partai-partai itu diam saja? Demikian antara lain alasan yang dilontarkan.

    Terlepas dari alasan yang cenderung praktis-pragmatis itu, mungkin baik kalau dipertanyakan secara mendalam, apakah ada perbedaan (boleh dibaca: adakah dampaknya dalam masyarakat) apabila seorang Kristen terlibat dan atau tidak terlibat dalam politik? Sumbangan apakah yang diberikan bagi kebaikan bersama apabila mereka terlibat dan sungguh-sungguhkah masyarakat merasa kehilangan apabila mereka tidak terlibat? Kalau mereka terlibat, sungguhkah mereka dimotivasi oleh imannya, atau hanya sekedar "mengalir" bersama trend di dalam masyarakat?

    Iman

    Mengenai iman, rasanya kita semua sudah memahaminya. Memang iman bukan sekedar persoalan pemahaman, tetapi penghayatan. Sebagai umat Kristen, kita beriman kepada Allah sebagaimana diungkapkan di dalam Yesus Kristus dan secara terus-menerus diaktualisasikan melalui perbuatan kita oleh bantuan Roh Kudus. Ini berarti bahwa perbuatan politik kita pun mestinya merupakan aktualisasi iman tersebut. Bagaimana? Karl Barth, dalam bukunya yang berjudul Rechtfertigung und Recht mengindikasikan bahwa kekristenan hanya mempunyai pengaruh tidak langsung terhadap politik. Ia kurang lebih mengatakan; "Bukan dengan melakukan politik, tetapi dengan menjadi gereja pun, maka gereja telah melakukan politik." Bagaimana memahami ungkapan ini? Ini berarti gereja mestilah sungguh-sungguh gereja, committed terhadap panggilannya, sehingga ia terpercaya dan credible di tengah-tengah dunia di mana ia berada melalui pelayanan dan kesaksiannya. Apabila ia terpercaya , tidak dicurigai oleh lingkungannya, maka gereja telah ikut berpolitik, artinya telah ikut serta membangun polis di mana gereja berada.

    Persoalannya adalah bahwa keadaan yang kita hadapi tidak selalu demikian. Ini bias ditinjau dari dua sudut pandang. Sudut pandang pertama, dari sudut pandang gereja, di mana gereja tidak selalu menduduki kedudukan ideal. Sebaliknya gereja juga dikondisikan secara historis. Jadi apa yang dianggap ideal hari ini sebagai ukuran dalam berpolitik, belum tentu besok akan tetap demikian, seperti juga halnya dengan keadaan yang dihadapi dahulu oleh jemaat pertama terhadap lingkungannya. Sudut pandang kedua, dari masyarakat, belum tentu gereja selalu dianggap sebagai partisipan penuh dalam membangun kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Ada saatnya ketika gereja, ketimbang mitra dianggap sebagai ´gangguan´ dalam kehidupan bersama.

    Politik

    Saya sering mengartikan politik dalam dua pengertian. Pertama, sebagai kemampuan untuk hidup bersama dalam dan membangun polis (kota) di mana kita hidup di dalamnya dengan siapa pun. Dalam pengertian kedua, politik adalah perjuangan untuk memperoleh kekuatan politik (Belanda; politieke machtstrijd) Setiap partai politik tentu merumuskan tujuannya berpolitik, yaitu sebagai upaya mewujudkan kesejahteraan bersama (dan kesejahteraan anggota-anggotanya) Guna mencapai tujuan ini, maka program politik dirumuskan di mana kekuasaan dipakai untuk mencapainya. Diharapkan partisipasi masyarakat dalam pencapaian tujuan itu yang diindikasikan melalui persetujuan di dalam pemilihan umum.

    Bagaimana gereja (baca; orang-orang Kristen) menginterpretasikan program politik yang ditawarkan oleh partai-partai politik? Andaikata program politik itu ditafsirkan sebagai ungkapan kasih terhadap sesama, di mana keadilan dan kesejahteraan bersama diperlihatkan, maka gereja bisa memahaminya sebagai juga ungkapan dari imannya. Maka terhadap program politik seperti ini, pantaslah gereja (dan anggotanya) ikut serta. Program politik itu sekaligus merupakan ukuran untuk menilai apakah suatu pemegang kekuasaan masih bertindak atas dasar itu, atau sudah menyimpang. Kalau menyimpang, maka gereja mesti memberikan teguran.

    Apa yang dikatakan ini kedengarannya sederhana, tetapi di dalam prakteknya tidak sesederhana itu. Mengapa? Karena berpolitik membutuhkan ´seni´ yang tidak jarang bisa ke luar dari koridor moral dan etika (Kristen dan Politik) Kita teringat kepada ungkapan: "Tidak ada kawan dan atau seteru abadi dalam (ber)politik. Kawan hari ini, besok bisa menjadi lawan." Dan seterusnya. Memberikan bantuan kepada orang yang dilanda banjir, bisa merupakan tindakan kasih terhadap yang bermalapetaka. Ini bisa merupakan tindakan iman dari si pemberi bantuan. Tetapi apabila sebuah partai politik melakukan hal itu, apalagi dengan membawa bendera partai (dengan publikasi luas) maka hal itu bisa merupakan tindakan politik sebagai salah satu upaya memperoleh dukungan politik. Interesnya belum tentu merupakan pengungkapan iman, tetapi sungguh-sungguh bertujuan politik.

    Di dalam berpolitik, paling tidak dibutuhkan hal-hal;
    a. Prinsip-prinsip berpolitik,
    b. Analisis terhadap situasi di mana prinsip ini dioperasionalisasikan,
    c. Dugaan (prediksi) mengenai akibat dari operasionalisasi prinsip tersebut.

    Tidak jarang pada prinsip-prinsip itu dikompromikan dengan ´pihak lain´ yang belum tentu selalu sejalan dengan apa yang dipikirkan semula. Bukan tidak mungkin pula apa yang dijanjikan dalam pemilu tidak bisa dilaksanakan sepenuhnya karena berbagai alasan. Maka dalam keadaan seperti ini gereja (dan umat Kristen) mesti sungguh-sungguh jeli menyiasati, apakah yang sedang berjalan itu sesuai dengan imannya atu tidak. Panggilan seorang politisi Kristen, dengan demikian tidaklah mudah dalam hal ini.

    Sumber: www.pgi.or.id

    Indonesia Kasian Deh Lu

    Oleh Sion Antonius

    Mengawali tulisan ini saya ingin mengutip sebuah artikel dari Majalah Standard vol. v No.7 (November 2009) halaman 39, judulnya NERAKA INDONESIA, dengan isi sebagai berikut:

    Seorang warga Indonesia meninggal lalu di kirim ke neraka. Di sana ia mendapati bahwa ternyata neraka itu berbeda-beda bagi tiap warganegara.

    Pertama orang itu ke neraka bagi orang-orang Inggris dan bertanya kepada orang-orang di sana, "Kalian diapain di sini?", Orang Inggris menjawab, "Pertama-tama, kami didudukan di atas kursi listrik selama satu jam. Lalu didudukan lagi di atas kursi paku selama satu jam lagi, kemudian disiram dengan bensin baru disulut dengan api. Setelah itu setan Inggris muncul dan memecut kami sepanjang sisa hari yang ada."

    Karena kedengarannya tidak menyenangkan, si orang Indonesia menuju ke neraka yang lain. Ia coba melihat-lihat bagaimana keadaan di neraka bagi warga Amerika Serikat, Israel, Rusia dan banyak lagi. Ia mendapatkan bahwa semua neraka-neraka itu kurang lebih mirip dengan neraka bagi orang Inggris.

    Akhirnya ia tiba di neraka bagi orang Indonesia, dan melihat antrian sangat-sangat panjang yang terdiri dari orang berbagai Negara yang menunggu giliran untuk masuk neraka Indonesia. Dengan tercengang ia bertanya kepada yang antri, Apa yang akan dilakukan di sini? Ia memperoleh jawaban, Pertama-tama, kita didudukan di atas kursi listrik selama satu jam, lalu didudukan di atas kursi paku selama satu jam lagi, lalu disiram dengan bensin dan disulut api, lalu setan Indonesia muncul kemudian memecut penghuni neraka sepanjang hari.

    Tapi itu kan persis sama dengan neraka-neraka yang lain, mengapa begitu banyak orang antri untuk masuk ke sini?

    Di sini servicenya sangat buruk, kursi listriknya tidak menyala, karena harga listrik naik terlalu tinggi dan sering mati, kursi pakunya tidak ada, hanya tinggal pakunya, itupun ukurannya kecil-kecil karena kursinya sering diperebutkan. Bensinnya juga tidak ada, karena harganya melambung tinggi, dan setannya adalah mantan pegawai negeri, jadi ia cuma datang, tanda tangan absensi, lalu pulang.

    Pada saat selesai membaca artikel tersebut mungkin kita tertawa terbahak-bahak, sangat lucu melihat betapa konyolnya bangsa indonesia (sengaja pakai huruf non kapital) dalam cerita tersebut. Apalagi sindiran itu memang ada benarnya, kondisinya memang seperti itu. Namun saya melalui tulisan ini mengajak kita untuk tidak berhenti hanya sampai titik tertawa untuk bangsa indonesia, namun lakukan sesuatu untuk Bangsa Indonesia.

    Sebagai warganegara Indonesia kita tetap harus mempunyai pengharapan yang positif untuk Negara yang besar ini. Kritik tetap harus dilakukan, koreksi harus tetap berjalan, dan di sisi yang lain kita memberikan kontribusi yang positif untuk terjadinya perbaikan, minimal di lingkungan tempat kita bisa berperan.

    Apa yang bisa kita lakukan untuk bangsa ini? Beberapa usulan sederhana ini bisa kita lakukan:

    1. BERDOA, kita harus banyak berdoa kepada Tuhan, supaya Yang Maha Kuasa turun tangan menolong bangsa Indonesia. Kerusakan yang terjadi sangat menyeluruh dan luar biasa parah, perbaikan tidak mungkin dilakukan oleh manusia harus oleh Sang Khalik. Jadikan doa untuk bangsa dan Negara bukan sekedar seremonial dan kebiasaan saja namun betul-betul sebagai kebutuhan akan pertolongan supranatural kepada manusia yang lemah. Kita harus percaya bahwa Tuhan memang ada dan Dia adalah Tuhan yang berkuasa menjadikan alam semesta ini, sehingga Diapun adalah Tuhan yang berkuasa untuk mengatur negara Indonesia.

    2. JANGAN JADI BAGIAN YANG MERUSAK, pada saat kita menertawakan bangsa ini, jangan-jangan kita adalah si perusak itu sendiri, kadang kala kita tidak sadar bahwa kerusakan yang ada juga adalah karena peran kita. Kita tidak mau ada korupsi, tapi ketika berhadapan dengan aparat justru kita yang terlebih dahulu menawarkan sogokan. Jadikan diri kita sebagai bagian yang memperbaiki keadaan bukan termasuk yang ikut merusak kehidupan berbangsa dan bernegara.

    3. TUMBUHKAN RASA PEDULI KEPADA LINGKUNGAN, kepedulian kita adalah langkah awal untuk memperbaiki keadaan, ketika PLN tidak sanggup menyediakan listrik, cobalah menghemat listrik, karena dengan menghemat listrik kita bukan hanya peduli kepada pemerintah tapi kita juga sedang berbagi dengan masyarakat yang lainnya. Jangan merasa sombong, karena kita mampu bayar listrik lalu mulai komplain terhadap ketidaknyamanan, tanpa ada usaha sedikitpun untuk mengurangi pemakaian listrik yang tidak perlu. Masih banyak lagi contoh lainnya dimana kita bisa berbagi dan peduli. Ketika keadaaan buruk, maka yang lebih baik harus peduli terhadap yang kurang baik, jangan serahkan semua urusan pada Negara, ambillah sedikit tanggung jawab sosial menjadi bagian kita.

    4. KENDALIKAN SIKAP SERAKAH, seringkali kita tidak sadar sudah menjadi orang yang serakah. Makan cukup 1 porsi malahan minta tambah berporsi-porsi sampai orang lain kehabisan makanan. Biarkan hidup kita dikendalikan oleh rasa cukup, sebab dengan rasa cukup maka kita bisa mengendalikan keinginan. Jika kita tidak mengendalikan keinginan maka hidup tidak akan pernah merasa dipuaskan, dan saat keinginan itu tidak bisa dipuaskan maka jiwa serakah akan mengandalikan kehidupan kita. Pada saat serakah itu muncul jangan harap akan timbul rasa tentram, yang terjadi adalah kekacauan. Inilah sumber kekacauan di Negara kita karena terlalu banyak orang serakah menjadi pengusaha, pegawai negeri, pejabat, anggota DPR, bahkan pemimpin agama dan lain sebagainya. Mari kita menjadi warganegara yang tidak serakah dalam hal apapun kecuali serakah dalam berbuat kebaikan.

    5. BERTOBAT, bukankah kata tersebut hanya berlaku untuk orang jahat? Kejahatan orang lain seringkali memang terlihat dengan sangat jelas oleh kita. Tapi kejahatan kita seringkali kita anggap sebuah kebaikan. Celakalah kita apabila tidak tahu atau tidak mau tahu bahwa sebenarnya diri kita sendiri penuh dengan hal-hal yang perlu dibereskan. Sebelum membereskan masalah orang lain maka terlebih dahulu kita harus membereskan kejahatan yang ada pada diri kita. Hanya dengan hati yang bersihlah maka kita boleh dan bisa memperbaiki keadaan. Mintalah Tuhan yang menolong kita ketika berbuat kebaikan dan memperbaiki keadaan sehingga motivasinya menjadi benar dan tulus.

    Dengan 5 usulan sederhana ini saya berharap bahwa judul tulisan di atas bisa kita ubah bukan "Indonesia Kasian deh Lu", tapi bisa menjadi "INDONESIA, NEGARA KEBANGGAANKU".

    Julius Caesar

    Oleh: Herlianto

    Menarik menyaksikan dua film DVD panjang dalam seminggu ini, yang pertama berjudul Julius Caesar yang terdiri dari dua keping dan yang kedua berjudul Rome produksi HBOfilms yang terdiri dari empat keping yang mencakup masa tayang 12 jam secara keseluruhan. Mengumpulkan koleksi film-film berkenaan dengan sejarah para raja dan kerajaan sekitar masa kehidupan Yesus menarik untuk menjadi bahan pelajaran sejarah, sebab film-film semacam a.l. Alexander, Cleopatra, Spartacus, Attila, Caligula dan Nero memberikan kita gambaran mengenai carut- marut dunia politik yang menyangkut raja-raja dan kerajaan Romawi pada masa sekitar kelahiran kekristenan, carut-marut yang akhirnya menjadi boomerang yang menenggelamkan raja/kerajaan itu sendiri (bandingkan dengan buku SuveiPerjanjian Baru karya Merril C. Tenney yang mengupas latar belakang sejarah sekitar kelahiran kekristenan).

    Julius Caesar adalah tokoh paling populer dalam rangkaian cerita itu, apalagi perkawinannya dengan Cleopatra banyak dikenal. Julius Caesar mati karena dibunuh (44 sM) oleh anggota Senat termasuk temannya sendiri dengan ucapannya yang terkenal sebelum ia menghembuskan nafas terakhir: "Kau juga Brutus?" Kematiannya karena konspirasi menyebabkan Roma sempat mengalami chaos namun kemudian pada tahun 43 sM setelah para pembunuhnya satu-persatu dibinasakan oleh pendukung Caesar, posisinya digantikan oleh triumvirat Markus Antonius, Lepidus, dan Octavianus yang masih berumur 18 tahun. Pelan dan pasti kemudian Lepidus lepas dari trio ini dan setelah Markus Antonius yang kemudian mengawini Cleopatra bunuh diri maka Octavianus naik tahta tunggal dengan gelar Augustus (27sM - 14M). Agustus yang adalah kemenakan-cucu dari Julius Caesar kita kenal sebagai penyelenggara sensus yang mendorong Yusuf dan Maria pergi dari Nazaret ke Betlehem sebelum melahirkan Yesus (Lukas 2:1).

    Banyak tokoh pemimpin memulai programnya dengan kerinduan untuk mendatangkan perubahan dan demokrasi, tapi sama halnya dengan Julius Caesar, banyak pemimpin ketika makin berkuasa dan kerajaannya menjadi besar, kemudian terikat jerat ambisi kekuasaan yang tak terbendung dan berakhir pada otorianisme dan tiranisme. Kekuasaan atau tahta adalah jerat kepemimpinan yang sulit dihindari manusia yang penuh ambisi seingga segala usaha dan intrik-intrik politik digunakan untuk merebutnya. Harta adalah tujuan sampingan yang melekat dalam kekuasaan dan menjadi tujuan para pemimpin karena tanpa harta kekuasaan sulit digapai dan dengan kekuasaan harta bisa direbut.

    Menarik menyaksikan sejarah kekristenan awal, betapa firman Tuhan menanamkan konsep berbeda mengenai sikap kita menghadapi kekuasaan dan harta. Pelayanan para rasul yang tanpa pamrih pelan tapi pasti kemudian mulai mempengaruhi dunia perpolitikan sehingga kondisi para kaisar dan tatanan pemerintahan Romawi menjadi semakin manusiawi dimata rakyat. Kondisi ini memuncak dengan "bertobatnya" kaisar Konstantin menjadi Kristen sehingga pusat pemerintahan dipengaruhi dengan moralitas yang diajarkan oleh Yesus dan para Rasulnya.

    Masuknya Konstantin menjadi Kristen sekaligus menjadi berkat tetapi juga menjadi petaka bagi kekristenan. Menjadi berkat karena kalau sebelumnya kekristenan dibungkam kemudian kekristenan dijadikan agama resmi bahkan direstui oleh kaisar, tetapi kondisi demikian sekaligus menjadi petaka bagi kekristenan, sebab masa itu dikenal sebagai masa "gereja disekularisasikan." Gereja diangkat sebagai agama resmi pemerintahan dan para pemimpinnya diberi pakaian kebesaran bak pejabat negara, demikian juga gereja dihadiahi gedung-gedung Basilika yang besar sebagai tempat ibadat. Pengaruh visual ini disusul pengaruh virtual dimana kemudian kalau sebelumnya moralitas Kristen menggarami kerajaan Romawi, sekarang kepemimpinan kristen dipengaruhi oleh moralitas dunia politik riel dengan intrik dan perebutan kekuasaan dan asset. Ketika dunia dikristenkan, ketika itu juga terjadi gereja di duniawikan.

    Perjalanan gereja selanjutnya sampai sekitar satu melenium menghasilkan masa kegelapan (abad-5-15) dalam sejarah Eropah, dimana kekuasaan gereja menjadi-jadi dan menjadi penguasa lahir batin atas rakyatnya. Sejarah Eropah diisi oleh sejarah gereja yang penuh lika- liku perpolitikan. Perang salib (abad-11-13) lebih merupakan perang politik daripada perang keyakinan, demikian juga Inquisisi pada abad pertengahan dan perang Hugenot pada masa Reformasi lebih menggambarkan pergesekan politik negara-negara daripada urusan kegerejaan. Sejarah gereja abad kegelapan mengungkapkan kepada kita bahwa gereja tidak rentan terhadap pengaruh dunia politik yang penuh dengan intrik-intrik dan interes berebut kekuasaan dan asset (lihat VCD "History of Christianity" dan DVD "Christianity, The First Thousand Years" dan "Christianity, The Second Thousand Years."

    Riak-riak "politik masuk gereja" masih ada sampai sekarang. Kita bukan saja telah melihat perebutan kekuasaan antar keuskupan di Eropah pada masa kegelapan (seperti kasus The Templar yang disinggung dalam The Da Vinci Code), tetapi masakini pun perebutan mencapai kedudukan ketua sinoda juga masih sering diisi ambisi-ambisi akan kursi dan uang yang menyedihkan Tuhan. Kedudukan pendeta jemaat pun masakini banyak diisi dengan ambisi yang lebih mempermalukan Tuhan daripada memuliakann-Nya!

    Memang banyak pendeta melayani dengan tulus sehingga ketika pensiun (emiritat) banyak jemaat masih merindukannya dan tetap bernostalgia akan pelayanan tanpa pamrih pendetanya itu. Tetapi perlu banyak didoakan karena di gereja-gereja tertentu persaingan antar pendeta tidak jarang terjadi. Kalau ada dua pendeta maka timbullah fraksi- fraksi yang mendukung masing-masing pendeta. Belum lagi kalau harus menyerahkan estafet kepemimpinan, tidak jarang timbul hal-hal yang tidak kasih, sehingga timbullah "demam Julius" mengenai "pewaris kekuasaan" yang sering dicapai dengan tidak kasih atau bahkan nepotisme dengan diangkatnya putra mahkota yaitu anak sendiri sebagai penerus kerajaan pelayanan.

    Dalam gereja-gereja yang berpola "presbyterian" (jemaat dipimpin para penatua), sekalipun kemungkinan pergeseran pelayanan kearah kekuasaan lebih kecil tapi "demam Julius" juga acap kali terjadi, apalgi di jemaat-jemaat yang berpola "konggregasional" (jemaat setempat) sering kali terjadi bahkan majelis jemaatpun kalau ada, bisa tidak bergigi dan keuangan gereja dikuasai pendetanya dan bahkan ada yang majelis dan jemaatnya tidak mempunyai akses sama sekali untuk mengontrolnya.

    Di tengah dunia yang makin sekuler dimana "demam Julius" dimana kekuasaan dan keuangan menjadi prioritas yang dikejar, dunia gereja berada dalam bahaya demam yang sama. Sudah saatnya gereja-gereja dan khususnya para jemaat mendoakan dengan benar perilaku para pemimpin gereja, agar mereka kembali bermental "melayani" dan bukannya "memerintah." Rasul Petrus yang begitu ambisius dan temperamental, ketika makin dewasa imannya menulis surat:

    "Aku menasehatkan para penatua diantara kamu, aku sebagai teman penatua dan saksi penderitaan Kristus, yang juga akan mendapat bagian dalam kemuliaan yang akan dinyatakan kelak. Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. Janganlah kami berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah menjadi teladan bagi kawanan domba itu." (1Petrus 5:1-3).

    Kalau Yesus Ada di Tengah-tengah Kita

    Oleh: Kuncoro Adi

    Bacaan: Yohanes 20:19-22

    Salah satu keunikan kekristenan dibandingkan agama lain adalah: Allahnya orang Kristen bersedia hadir dan tinggal di tengah-tengah umat-Nya! Allah melakukan itu dalam wujud Tuhan Yesus Kristus!

    Ini adalah tema sentral alkitab. Ini adalah salah satu fondasi kekristenan –- yaitu bahwa Allah pernah berinkarnasi (menjelma) menjadi manusia dan diam di tengah-tengah kita dalam diri Tuhan Yesus Kristus!

    Inilah arti sebenarnya dari kata Imanuel= Allah berdiam di tengah-tengah kita

    Yesus nampaknya senang tinggal (berada) di tengah-tengah umat-Nya – lih. Mat. 18:20;Yoh.20:26.

    Seorang teolog memandang hal ini (Yesus mau tinggal di tengah-tengah kita) sebagai kunci kehidupan kristen, karena 3 alasan :

    (a) Hal ini adalah kunci dari hidup yang luar biasa

    Hidup di luar kristus adalah hidup yang biasa-biasa saja, tetapi hidup bersama Kristus pasti akan menjadi hidup yang luar biasa. Ada banyak hal luar biasa akan kita alami kalau kita hidup bersama Kristus!

    (b) Hal ini adalah kunci untuk persekutuan kristen

    Menjadi orang kristen berarti: berkumpul di sekitar Kristus. Kalau dua atau tiga orang berkumpul (bersekutu), maka Yesus ada!

    (c) Hal ini adalah kunci dari kesaksian kita

    Bersaksi (menginjil) itu secara sederhana berarti: menyaksikan apa yang kita alami ketika kita hidup bersama Yesus, kepada orang lain!

    Ketika Yesus Ada di Tengah Kita

    Apa yang akan terjadi ketika Yesus ada (hadir) di tengah-tengah kita ? Saya mencatat ada 4 hal penting yang akan terjadi:

    1. Peacefull (kedamaian) - ayat 19b

    Ketika Yesus hadir di tengah-tengah para murid yang sedang patah semangat dan ketakutan, Ia menyeru: "damai sejahtera bagimu!" Ini menarik sekali. Seringkali hidup kita diwarnai dengan frustasi dan ketakutan, sehingga yang paling kita butuhkan adalah damai sejahtera yang sejati.

    Damai sejahtera yang melampaui segala akal, hanya bisa diberikan oleh Yesus – Fil.4:7. Kedamaian adalah hal yang paling dibutuhkan dunia saat ini. Tanpa kedamaian tidak akan ada pembangunan. Tanpa kedamaian tidak akan ada pertumbuhan!

    Sejarah mencatat:

    (a) Hanya 8% dari seluruh sejarah hidup manusia yang bisa dicatat, di mana damai terjadi (tidak ada perang).

    (b) Itu artinya sepanjang 3.530 tahun, hanya ada 286 tahun di mana tidak terjadi perang.

    (c) Sepanjang 3.530 tahun itu tercatat ada 8.000 perjanjian damai yang dilanggar!

    Data statistik di atas tentu membuat kita merinding dan semakin yakin bahwa damai sejahtera Allah amat kita butuhkan dalam hidup ini. Dan damai sejahtera itu akan terjadi kalau Yesus ada di tengah-tengah kita!

    2. Joyful (Sukacita) – ayat 20

    Dalam konteks ayat diatas, ada 3 alasan mengapa murid-murid bersukacita setelah melihat Yesus yang bangkit dari kubur:

    (a) Karena dengan kematian-Nya Dia telah menghapus dosa masa lalu kita.

    Salah satu misi besar Yesus datang ke dunia adalah untuk mati bagi penebusan dosa-dosa kita! Dan, Ia benar-benar telah mati, tapi bangit kembali. Hal ini membuat para murid bersukacita, karena penebusan dosa sungguh-sungguh telah terjadi!

    (b) Karena dengan kehadiran-Nya di tengah para murid, Ia menunjukkan persahabatan/persekutuan (companionship) dengan para murid.

    Ketika Yesus hadir (menampakkan diri) di tengah-tengah para murid setelah Ia mati, hal itu menunjukkan bahwa Ia sangat perduli dengan para murid. Ia hadir untuk membesarkan hati para murid, bahwa Ia tidak pernah meninggalkan mereka. Dan itu membawa sukacita dalam diri para murid!

    (c) Karena dengan kebangkitan-Nya, Ia menyatakan kemenangan atas masa depan kita!

    Masa depan ada di tangan orang percaya karena Tuhannya telah mengalahkan musuh utama kehidupan, yaitu: kematian! Dengan Tuhan yang bangkit, orang percaya menjalani masa depan tidak sendiri, tetapi dengan penyertaan dan kuasa dari Yesus yang bangkit!

    3. Usefull (berguna) – ayat 21

    Ini penting sekali. Hidup yang tidak berguna adalah hidup yang menunggu mati! Fakta menunjukkan banyak orang setelah pensiun cepat mati. Ini karena setelah pensiun orang merasa hidupnya tidak berguna lagi. Contohnya:

    (a) Pak Harto – setelah lengser cepat mati

    (b) Bung Karno setelah tidak lagi jadi presiden langsung sakit-sakitan dan tak lama kemudian mati.

    Kalau Yesus ada di tengah-tengah hidup kita, maka hidup kita akan berarti/berguna! Ia mengutus kita untuk menjadi saksi-Nya. Seluruh hidup kita memiliki arti:

    (a) Mulut – untuk memuji nama Tuhan dan untuk bersaksi

    (b) Kaki – untuk berjalan menyampaikan kabar sukacita tentang Yesus Kristus

    (c) Tangan – untuk bekerja bagi Yesus dan mencari nafkah

    (d) Hati – untuk mencintai Yesus dan sesama!

    Pokoknya, kalau Yesus ada di tengah-tengah kita, maka hidup kita menjadi hidup yang berguna bagi Dia dan bagi banyak orang

    4. Powerfull (memiliki kekuatan/berkuasa) – ayat 22

    Ketika Tuhan mengutus kita, Dia memberi kita Roh kudus. Nah, Roh Kudus adalah Roh Allah yang penuh kuasa! Kuasa Roh kudus menyebabkan para murid membuat banyak tanda-tanda ajaib:

    (a) Petrus berkotbah – lalu 3.000 orang bertobat – Kis. 2:14 dst

    (b) Petrus dan Yohanes menyembuhkan orang lumpuh di gerbang indah – Kis. 3:2-8

    Jadi, kalau Yesus ada di hati kita itu berarti Roh Kudus juga ada di hati kita. Karena kita diberi kuasa , maka kita akan dijauhkan dari :

    (1) Sakit penyakit
    (2) Bangkrut
    (3) Pisau operasi
    (4) Segala macam bahaya.dsb.

    Dan Roh Kudus memberi kita kuasa untuk melakukan perkara-perkara yang besar serta ajaib!

    Kesimpulannya: Kalau Yesus ada di tengah-tengah kita ternyata banyak perkara indah akan kita alami. Kita akan merasakan Damai (Peacefull), Sukacita (Joyfull), lalu hidup kita akan berguna (Usefull) dan terakhir kita akan memiliki kuasa (Powerfull).

    Karunia Allah

    Abraham Bapak orang percaya adalah orang yang sangat disayang Tuhan karena begitu tulusnya kepercayaannya kepada Tuhan, hampir sulit dipercaya bagaimana dia menuruti semua kemauan dan permintaan Tuhan dijaman itu dimana orang disekitarnya tidak percaya Tuhan, melainkan mempercayai para dewa. Anaknya Isak dan Cucunya Yakub juga adalah orang-orang yang beriman kepada Allah.

    Sebagaimana janji Tuhan kepada Abraham maka dari cucunya Yakub lahirlah suatu bangsa yang besar yaitu bangsa Israel atau orang biasa menyebut orang Yahudi, sekalipun bangsa ini dikenal sebagai bangsa yang tegar tengkuk suka memberontak kepada Allah. Namun demikian berkat/karunia Allah yang pernah diberikan kepada nenek moyang mereka yaitu Abraham, Isak dan Yakub tidak meninggalkan bangsa ini, berkat tersebut tetap melekat hingga kini. Suka atau tidak suka harus diakui hampir semua pakar ilmu pengetahuan yang pernah ada didunia ini berasal dari bangsa yahudi, para konglomerat terkaya didunia berasal dari bangsa Yahudi, bahkan ada informasi yang mengatakan bahwa 90% uang yang ada didunia ini dimiliki oleh orang yahudi.

    Daud sejak kecil sangat beriman kepada Allah, bahkan iman tersebut bukan hanya dimulut tetapi didalam praktek hidup sehari-hari, dia berani bertarung dengan binatang buas karena yakin Tuhan pasti menolongnya. Tuhan sangat menyukai Daud, itu diperlihatkan Tuhan dengan memberikan kedudukan raja israel sampai hari tuanya, bahkan kepada anaknya Salomo diberikan bukan hanya tahta kerajaan tetapi juga diberikan hikmat yang melebihi semua orang yang pernah ada dibumi. sayang salomo tidak setia seperti Ayahnya Daud. Salomo sibuk dengan para istrinya yang berjumlah 1000 orang sehingga melupakan Tuhan Allahnya. Walaupun anak dan keturunan Daud tidak setia kepada Tuhan seperti Daud namun karunia Allah kepada Daud tidak terlepas, Juruselamat dunia berasal dari keturunan daud yang disebut tunas Daud.

    Negara-negara Eropah dan Amerika dan Australia dibangun oleh orang-orang Kristen. Diantara orang tersebut tentunya banyak orang-orang berdoa yang takut dan setia kepada Tuhan. Hal itu dapat kita lihat dari jejak-jejak nenek moyang mereka dengan mudah kita temui dimana-mana. Sekarang kita dapat melihat berkat dari Tuhan kepada bangsa-bangsa tersebut akibat dari doa-doa dan ketaatan para nenek moyang mereka dijawab Tuhan. sekalipun mungkin sebagian besar orang orang yang berdiam disana sekarang sudah tidak perduli kepada Allah, tetapi berkat/karunia Allah tidak begitu saja dicabut dari mereka, kemakmuran tetap mereka nikmati hingga sekarang.

    Pertanyaan yang perlu direnungkan :

    Ketika seorang hamba Tuhan yang sangat tekun dan setia mencari kehendak Allah dan kemudian Allah menyukai dan berkenan kepada orang tersebut, sehingga Allah mengaruniakan berbagai macam karunia diantaranya karunia untuk menyembuhkan orang sakit, menghilangkan kelemahan dan mengusir setan.

    Namun dikemudian hari hamba Tuhan tersebut lupa diri sehingga berkat-berkat yang dimilikinya dinikmati sendiri bahkan mungkin sampai memiliki pesawat jet pribadi? mungkin ingin selalu menginap dikamar hotel yang terbaik? dan lain sebagainya yang kelihatannya tidak mencerminkan hidup yang kristiani. Untuk hal seperti itu apakah Allah akan mencabut berkat-berkat tersebut daripadanya seketika itu juga, atau Allah akan mengijinkan berkat tersebut melekat padanya sambil menunggu barangkali dia akan berbalik dari kesalahannya, dan kembali melayani Tuhan dengan baik. Salam

    Kayu yang Kasar

    Oleh: Ev. Sudiana

    Bernoda darah langkah kaki-Nya
    Berjalan mengarah ke salib
    Menanggung derita
    Korbankan nyawa-Nya...

    Karena penolakan manusia
    Bapa berpaling dari-Nya
    Dinobatkan sebagai Raja
    Ditinggalkannya sendirian

    Terputus dari Bapa
    Terluka oleh manusia
    Tubuh-Nya terbujur kaku
    Tergantung di kayu yang kasar

    Tubuh kaku terbungkus kain linen
    Dibungkus dengan penuh kasih;
    Bergerak selama tiga hari,
    Terbaring dimakamkan di sana.

    Dia BANGKIT dari kuburan-Nya
    Yang dijaga dengan ketat
    Sekarang ditaklukkan selamanya
    Kematian tidak berkuasa mencengkeramnya ...

    Kemuliaan mengalir dari Surga,
    Menerangi dunia yang gelap
    KAYU KASAR membuktikan Yesus hidup!
    Paskah dimulai!

    Efesus 2:4

    Kebebasan Beragama

    Penulis : Jonathan Goeij

    "Kebebasan beragama bukanlah diberikan oleh pemerintah, melainkan merupakan anugerah Tuhan untuk semua umat manusia."

    Demikianlah pernyataan Pdt. DR(HC) Stephen Tong dalam menjawab pertanyaan salah seorang pengunjung yang menanyakan tentang kebebasan beragama di Indonesia dalam sesi tanya jawab pada hari ketiga Kebaktian Kebangunan Rohani di Los Angeles yang diadakan dikota Artesia tanggal 25-27 Oktober barusan. Dengan jawabannya ini, Pdt. Tong mengartikan bahwa kebebasan beragama merupakan hak asasi setiap manusia yang sudah melekat pada dirinya sejak lahir, bukannya diberikan oleh pemerintah yang merupakan kemauan politik.

    Hari itu adalah hari terakhir KKR pak Tong di Los Angeles. Sebenarnya sejak hari pertama aku sudah ingin menghadiri KKR itu, apalagi Christianto Wibisono pada hari Senin malam mengatakan bahwa dirinya datang ke LA adalah khusus untuk melihat KKR pak Tong ini, bertemu dengan dua orang tokoh pluralis yang terpisah dari satu ujung bumi ke ujung bumi lainnya tentu merupakan kesempatan langka. Sayang sekali kegiatan dikampus benar-benar menhalangiku untuk datang, untung pada hari ketiga aku bisa mendapat kesempatan untuk hadir.

    Bersama dengan Tante Twan, Ibu Mathilda, Iing, dan istriku Fanny, kami datang sekitar jam 7 malam. Sebenarnya setengah jam lebih awal dari jadwal KKR, tetapi ternyata pada hari terakhir itu diadakan satu jam ekstra untuk sesi tanya jawab sehingga pada hari itu pertemuan dimulai jam 6:30 malam. Sambil setengah bergurau aku berkata pada Fanny: "Cepat kekamar kecil dulu, nanti kalau sudah didalam tidak bisa keluar lagi, pendetanya kereng (galak)." Salah seorang panitia yang berada disitu tertawa mendengar perkataanku "Benar, pendetanya galak." Kulihat pak Tong dengan gagah dan enerjik berdiri diatas mimbar menjawab satu demi satu pertanyaan yang diajukan, padahal beliau sudah berusia cukup lanjut, 65 tahun, dan menderita sakit jantung sehingga harus dipasang 8 buah cincin. Benar-benar sebuah mujijat yang diberikan Tuhan kepada hambaNya yang satu ini.

    "Bila ada orang Kristen ingin masuk Islam, silahkan keluar! Bila orang Islam mau masuk Kristen, masuk saja! Itu baru kebebasan beragama," lanjut pak Tong. Pernyataan pak Tong ini tepat sekali, kebebasan beragama berarti kebebasan orang untuk memilih dan masuk kedalam agama yang ingin dianutnya, juga berarti kebebasan orang untuk keluar dari agama yang saat ini sedang dianutnya untuk pindah keagama lain yang menurut pilihan hatinya adalah tepat bagi dirinya. Hak Asasi Manusia untuk berpindah agama ini dengan jelas tertuang dalam Deklarasi HAM Universal PBB yang mengatakan "Setiap orang berhak atas kebebasan pikiran, hati nurani dan agama; dalam hal ini termasuk kebebasan berganti agama atau kepercayaan, dan kebebasan untuk menyatakan agama atau kepercayaan dengan cara mengajarkannya, mempraktekkannya, melaksanakan ibadahnya dan mentaatinya, baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain, di muka umum maupun sendiri." Sedang di Indonesia kebebasan beragama tertuang didalam konstitusi UUD 45.

    Aku teringat pada tiga orang ibu yang berada didalam penjara Indramayu. Ketiga ibu itu: dr. Rebeka Laonita Zakaria, Eti Pangesti, dan Ratna Bangun mendapat vonis 3 tahun penjara dan denda sebesar 3 juta rupiah. Ketiga ibu pengasuh "Minggu Ceria" itu mendapat hukuman karena "kejahatan"nya mengajak anak-anak asuhannya pergi berjalan- jalan ke Taman Mini dalam rangka Paskah, beberapa anak beragama Islam ikut serta dalam darmawisata itu. Sebenarnya, keikut sertaan anak-anak beragama Islam itu pergi berdarma wisata ke Taman Mini adalah atas ijin orang tua atau wali mereka, bahkan ada juga wali anak-anak itu yang ikut serta. Dan pada waktu di pengadilan, ketiga ibu itu tidak bisa memberikan bukti tertulis ijin dari orang tua atau wali anak-anak itu, karena memang ijin itu diberikan secara lisan sehingga tidak ada buktinya, dan juga sebenarnya tidak ada ketentuan apapun bahwa ijin orang tua harus diberikan secara tertulis. Karena "kejahatan" luar biasa itu, ketiga ibu mendapat tuduhan melanggar Pasal 86 UU no. 23 tahun 2002 yang berbunyi "Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan tipu muslihat, rangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk memilih agama lain bukan atas kemauannya sendiri, padahal diketahui atau patut diduga bahwa anak tersebut belum berakal dan belum bertanggung jawab sesuai dengan agama yang dianutnya dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah)." Padahal hingga saat pengadilan digelar tidak ada seorangpun anak yang ditemukan telah berpindah agama. Menurut keterangan yang kudapat, pada saat pengadilan itu digelar, telah didatangkan 8 truk penuh berisi masa yang berteriak yel yel meminta dan menekan pengadilan agar ketiga ibu itu dinyatakan bersalah dan dihukum. Dari sumber yang dapat dipercaya, didapat keterangan betapa setiap orang yang datang itu mendapat bayaran sebesar Rp. 20.000,-.

    "Lebih dari 700 gereja dirusak dan dibakar, tetapi tidak ada seorangpun yang diadili karena membakar gereja," demikian lanjut pak Tong tetap dalam menjawab pertanyaan yang sama. Sebenarnya perkataan pak Tong ini kurang tepat, karena jumlah gereja/rumah ibadah yang ditutup, dirusak, maupun dibakar sudah bukan lagi 700an tetapi sudah ribuan jumlahnya kalau tidak mau dikatakan puluhan ribu. Dan boleh dibilang tidak ada seorangpun penutup, perusak, ataupun pembakar rumah ibadah yang ditangkap dan diadili. Baru saja bulan lalu gereja Kristen di Jatimulya, Bekasi Timur, ditutup yang mengakibatkan para jemaat beribadah dijalan, itupun juga segera diusir karena adanya kelompok radikal yang juga ikutan menggelar sembahyang dijalan. Tidak mau mencari masalah, jemaat Kristen mengalah dan mencari tempat lain yang kosong untuk beribadah, tetapi justru membuat kelompok radikal naik pitam dan menyerang secara brutal yang mengakibatkan Pdt. Ana terjerembab kedalam selokan. Yang luar biasa adalah polisi/aparat keamanan yang berada disana hanya berdiri menonton saja tanpa berbuat apapun sesuai dengan tugasnya.

    Setelah sesi tanya jawab barulah KKR hari terakhir itu dimulai, tema kotbah pada kesempatan itu adalah "Who Christ Is?" yang merupakan kotbah apologetika yang menjelaskan siapa Yesus itu. Pak Tong mengungkapkan pandangan dari berbagai sudut pandang agama- agama lain untuk kemudian menutupnya dengan pandangan dari sudut pandang kekristenan dengan mengutip kitab Yohanes 14:6 "I am the way and the truth and the life"

    Pak Tong terlihat sekali mempunyai iman yang eksklusif, terlihat sekali pada dirinya hanya Yesus lah satu-satunya jalan, tidak ada yang lain lagi. Tetapi memang begitulah agama, setiap agama tentu akan menganggap dirinya sendiri paling benar dan untuk mencapai keselamatan/surga/nirwana hanyalah bisa melalui dirinya satu-satunya. Terutama sekali agama-agama Abrahamaic (Yahudi, Kristen, Islam) yang boleh dibilang tidak ada kompromi terhadap "jalan" yang lain. Dan begitulah, setiap orang mempunyai hak untuk memilih agama yang menurut dirinya adalah kebenaran sejati, dan hal itu merupakan hak asasi. Tetapi tentu dalam menjalankan hak asasi keagamaannya, seseorang tidak boleh dengan semena-mena melanggar hak asasi orang lain seperti menutup, merusak, membakar tempat beribadah orang lain.

    Kingdom of Heaven

    "Aku Saladin, bukan mereka. Pergilah ke negeri-negeri Kristen ...." Yerusalem, 1187. Di luar gerbang kota suci itu, Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi (Saladin) berdiri tegap berhadapan dengan Balian of Ibelin, panglima Tentara Salib. Di pinggang kanan kedua perwira itu terhunus pedang tajam. Keduanya bersiaga untuk saling bunuh.

    Ratusan ribu tentara Islam berbaris di belakang Saladin. Dari balik gerbang, warga Kristen menanti dengan cemas pertemuan itu. Sebagian Yerusalem sudah hancur. Mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana. Di belakang Balian, ribuan Tentara Salib bersiap menyerang. "Ketika Tentara Salib merebut Yerusalem seratus tahun lalu, seluruh Muslim dibantai," Balian mulai pembicaraan.

    Saladin tersenyum. Matanya menatap tajam lawan bicaranya. "Aku Saladin, bukan mereka. Pergilah ke negeri-negeri Kristen, bawa pasukan dan rakyatmu yang memang ingin pergi. Tak ada pembunuhan," kata Saladin.

    "Jika begitu, aku serahkan Yerusalem kepada Anda," balas Balian. Saladin menyalami Balian. Keduanya kembali ke pasukan masing-masing. Warga Kristen dan Tentara Salib menyambut suka cita hasil perundingan dua pemimpin besar itu. Mereka pun memuji-muji dengan meneriakkan nama Balian dan Saladin. Yerusalem pun dikuasai kaum Muslim yang disebut juga Saracen. Tak lama setelah itu, rombongan pengungsian beriring-iringan meninggalkan Yerusalem, termasuk adik raja Baldwin, Sibyll.

    Kutipan di atas adalah cuplikan dari film Hollywood berjudul "Kingdom of Heaven" garapan Ridley Scott. Film yang naskahnya ditulis William Monahan itu bercerita Perang Salib terakhir tentang kejatuhan Yerusalem --Kota Kerajaan Surga, tempat pengampunan-- ke tangan Saladin (Ghassan Massoud) dan pasukannya.

    Scott mengatakan bahwa dirinya tidak sedang menggelorakan perang suci lain dengan membuat film ini. Ia hanya ingin memberikan fakta bahwa tidak semua orang Barat (Kristen) itu baik, dan tidak semua kaum Muslim itu buruk. "Pemahaman kita atas sejarah masa lalu seperti Perang Salib masih terlalu sedikit," kata pria asal Inggris kelahiran 68 tahun lalu itu. Scott dikenal sebagai sutradara yang mencoba memahami Islam secara utuh. Ia mengaku mengagumi Saladin, sosok yang tidak hanya pandai berperang, tetapi juga mampu berdiplomasi dengan hebat. Ini terlihat dari cara Saladin yang tidak jadi menyerang Yerusalem setelah sekelompok kafilah Muslim dibunuh tentara Kristen.

    Pemeran Saladin, Ghassan, aktor asal Suriah, sependapat dengan Scott. Sejak serangan 11 September 2001, kata Ghassan, citra umat Islam tercoreng. Misi film ini untuk membuka pandangan Barat bahwa Islam itu agama damai dan tidak menyukai peperangan. "Saya senang dengan film ini," kata Ghassan. Apalagi, paparnya, film ini disutradarai oleh seorang Ridley Scott yang sukses meraih Piala Oscar untuk film "The Gladiator" (2000).

    Kalangan pengritik film di Amerika dan Eropa memberikan penilaian beragam atas kehadiran "Kingdom of Heaven". Ada yang menilai film ini lebih menampilkan Islam sebagai "pemenang" dan positif. Ada juga yang berpendapat Kristen sebagai pihak yang lebih baik dengan penonjolan karakter Balian. Tapi, ada yang mengecam, film ini tidak sesuai sejarah yang sebenarnya.

    Hingga pekan kedua ditayangkan di Amerika, film ini masuk nomor satu box office (film laris). Ia mengalahkan "The Interpreter" yang diperankan Nicole Kidman dan Sean Pean. Dalam hitungan hari, "Kingdom of Heaven" telah meraup pendapatan sekitar 20 juta dolar AS.

    Film yang diproduksi Twentieth Century Fox itu mencoba mengkritik sepak terjang Presiden George W Bush terhadap perang Irak. Sebagai negara adikuasa yang tak ada tandingannya, kata Ghassan, Bush sebetulnya bisa menggunakan di luar cara perang untuk menyelesaikan persoalan Irak. Semua bisa dilakukan dengan diplomasi seperti yang dilakukan Saladin --yang pada saat itu memiliki kekuasaan hebat.

    Selama ini, film-film Hollywood tentang Islam lebih banyak dibumbui cerita-cerita jahat dan licik. Lihat saja di film "Delta Force", "True Lies", dan lainnya. Ada juga yang positif seperti "Lion of The Desert" yang diperankan Anthony Quinn. Kemudian muncul "Kingdom of Heaven".

    Cerita "Kingdom of Heaven" diawali dari perjalanan Satria Tentara Salib, Godfrey of Ibelin (Liam Neeson), dari Prancis menuju Kota Suci (Yerusalem) sambil mencari putranya, Balian (Orlando Bloom). Godfrey akhirnya bertemu dengan Balian dan mengajaknya bertemu Raja Baldwin di Yerusalem.

    Godfrey dikenal sebagai seorang satria yang menginginkan perdamaian antara Kristen dan Muslim. Ia sangat mendukung kebijakan Raja Baldwin yang kooperatif dengan Saladin. Raja dan Saladin membuat perjanjian bertoleransi.

    Saladin berkomitmen untuk tidak menyerang Yerusalem asalkan umat Muslim tidak diganggu. Padahal, seperti dikatakan Tiberias (Jeremy Irons), tangan kanan Raja Baldwin, Saladin akan dengan mudah menundukkan Yerusalem. "Dia memiliki 200 ribu prajurit siap tempur," kata Tiberias. Tapi, perjanjian dilanggar segelintir satria Kristen. Adalah Guy de Lusignan (Marton Csokas) yang memerintahkan pembunuhan terhadap sekelompok kafilah Muslim. Guy juga menangkap saudara perempuan Saladin dan membunuhnya.

    Ketika utusan Saladin meminta jenazahnya, Guy --yang telah terpilih sebagai raja menggantikan Baldwin karena meninggal-- malah memenggal leher utusan itu. Saladin marah dan memerintahkan pasukannya siaga. Pada sisi lain, Guy menyiapkan para tentaranya untuk menyerang Saladin. Pasukan Muslim, dengan berbagai atribut dan senjata, akhirnya menyerbu Yerusalem dan menang.

    Saladin lahir di Tikrit, Irak, pada 532 Hijriah (1138 Masehi). Ia bukan Arab, tapi keturunan Kurdi. Ia menguasai ilmu kalam, fikih, Alquran, dan hadis. Sebagian hidupnya habis untuk berperang, dari mulai memadamkan pemberontakan dalam negeri, hingga melawan Tentara Salib.

    Saladin memiliki sikap toleransi yang tinggi terhadap umat Kristen. Ketika menguasai Iskandariyah, ia mengunjungi orang-orang Kristen dan mengizinkan mereka berziarah ke Baitulmakdis. Saladin wafat di usia ke-57 tahun tanpa meninggalkan harta benda yang banyak, kecuali beberapa dirham dan dinar.

    Film ini juga dibumbui dengan pergolakan batin Balian, Tiberias, dan Godfrey, tentang alasan perang suci. "Kini aku sadar, perang suci bukan karena atas nama Tuhan. Tapi, karena alasan kekayaan dan tanah," kata Tiberias kepada Balian. Film berakhir dengan perginya Balian yang kemudian bertemu Raja Richard yang berjuluk "Hati Singa". Kepada Balian, Richard mengatakan akan kembali merebut Yerusalem.

    Kisah Batu Jalanan

    Penulis : Kristian. N

    Seorang musafir sedang berjalan menyusuri jalan setapak menuju sebuah kuil. Tinggal sekitar 200 meter lagi, ketikadi dijumpainnya sebuah pohon asam yang begitu rindang. "akhirnya aku sampai juga. Ah alangkah nyamannya jika aku beristirahat di bawah pohon ini", pikir musafir. Kemudian dia pergi menepi, dan duduk di bawah pohon itu. Diambilnya bekal makanan dan minuman, lalu bersantaplah ia.

    "Hari yang panas ya". tiba-tiba saja terdengar suara menyeletuk. Musafir pun menoleh, mencari siapa yang tadi berbicara.

    "Siapa yang berbicara?" tanya musafir. "mari duduk di sini, bergabung dengan saya. Saya punya sekantung minuman dan sedikit makanan yang bisa dibagikan". Undang musafir.

    "saya ada di sini, disamping Anda". Jawab suara itu, yang ternyata sebongkah batu yang berada di samping musafir.

    "Dari bentukmu yang teratur, bukankah kamu batu jalanan? kenapa kamu ada di sini, bukankah seharusnya kamu berada di jalan bersama dengan yang lain?" tanya musafir heran.

    "Ya, aku dulu juga berdiri di sana, menjadi batu jalanan. Tapi coba kau lihat! bukankah tubuhku sedikit lebih besar dibandingkan dengan teman-temanku? ini membuat aku lebih menyembul, menonjol dari yang lain". Jawab batu jalanan.

    "Lalu apa masalahnya?" Tanya musafir.

    "Begini, banyak orang-orang yang pergi ke kuil tersandung karena terantuk tubuhku yang menyembul ini. Itu membuatku sedih dan merasa bersalah. Jika aku tetap di sana, maka aku hanya akan terus menjadi batu sandungan bagi orang-orang yang mau datang ke kuil. Aku tidak mau menjadi batu sandungan. Makanya aku kemudian aku meminta seseorang untuk membawaku menepi di tempat ini, dan menggantikanku dengan batu yang lebih sesuai". jawab batu jalananan, mencoba menjelaskan masalahnya kepada musafir.

    "Oh, jadi begitu persoalannya. Kamu memang batu yang baik. Tidak banyak yang bisa menyadari jika dirinya menjadi batu sandungan seperti kamu. Memang sudah seharusnya selama kita hidup di dunia ini, kita harus berusaha agar tidak menjadi batu sandungan bagi yang lain. Alangkah benar keputusanmu ini." Sambut musafir.

    "Lalu kenapa kamu tampak tidak bahagia? bukankah kamu sudah tidak lagi menjadi batu sandungan? Sambung musafir.

    "Ya, mulannya aku sangat bahagia, karena aku tidak lagi membuat orang tersandung. Tapi entahlah, mungkin karena aku sudah terlalu lama di sini, aku jadi kesepian. Atau mungkin karena sekarang tidak ada lagi yang bisa aku kerjakan selain diam di sini. lalu apa gunanya aku?" Keluh batu jalanan.

    "Yah ... mungkin juga seperti itu. Hei ... coba lihat! tembok yang di sana itu, kelihatannya sengaja di jebol. benarkah?" Tanya musafir.

    "Oh, itu. Tembok itu memang sengaja di jebol, supaya bisa menjadi jalan pintas bagi warga desa yang ingin pergi ke kuil. Sekarang tembok jebol itu menjadi semacam pintu, warga desa biasa menyebutnya pintu gapit." Terang batu jalanan.

    "Ide yang cemerlang, penduduk desa bisa lebih cepat sampai ke kuil melalui pintu gapit itu. Tapi aku lihat pintu gapit itu masih terlalu tinggi untuk dilalui anak kecil, atau nenek-nenek. Bukankah mereka masih harus melompat?" tanya musafir.

    "Memang, itu karena tanah yang ada di sebelah luar lebih tinggi dari yang ada di sebelah sini. makanya tidak bisa di jebol lebih ke bawah. Tapi biasanya yang lain akan membantu, mengangkat tubuh mereka agar bisa melewati pintu itu dengan mudah." Sambung batu jalanan.

    "Hem... aku jadi punya ide untukmu. Kenapa kamu tidak berdiri saja di dekat pintu gapit itu. Bukankah di sana kamu bisa jadi batu pijakan supaya anak-anak dan orang tua bisa melewati pintu tanpa harus diangkat atau melompat?" terang musafir.

    "Ah benar juga katamu. kenapa tidak pernah terpikir olehku. Bukankah di sana aku bisa menjadi batu pijakan. Aku bisa berguna kembali. Terimakasih tuan kamu mengembalikan semangat hidupku." Pekik batu jalanan dengan girang. Musafir kemudian membantu, mengangkat batu jalanan dan meletakkannya didekat pintu gapit.

    "Sekarang setiap orang bisa melewati pintu ini dengan mudah. baiklah teman aku akan meninggalkanmu di sini. Aku harus melanjutkan perjalanan. baik-baiklah menjalankan peranmu, menjadi batu pijakan di sini." Pamit musafir.

    Musafir pun pergi meninggalkan batu jalanan yang tampak begitu bahagia. Ah ... memang baik jika kita tidak menjadi batu sandungan, tapi alangkah lebih berbahagiannya jika bisa menjadi batu pijakan bagi yang lainnya.

    Sumber: Nama Saya Kristian
    Share with us

    Kisah-Kisah Anak Sekolah Minggu

    SORGA 1

    Seorang guru Sekolah Minggu bertanya pada anak-anak, "Bila saya menjual rumah dan mobil saya, dan menjual semua barang milik saya, lalu memberikannya ke gereja, apakah saya akan masuk sorga?" "TIDAK!", jawab anak-anak itu.

    "Bila saya membersihkan gereja setiap hari, memangkas rumput di halamannya, dan membersihkan serta merapikan semuanya, apakah saya akan masuk sorga?" Lagi, jawabnya adalah, "TIDAK!"

    "Baik. Bila saya menyayangi semua binatang dan memberikan permen pada semua anak dan mengasihi isteri saya, apakah saya akan masuk sorga?"
    Lagi, mereka semua menjawab, "TIDAK!"

    "Jadi, bagaimana saya bisa masuk sorga?" Seorang anak lima tahun berteriak, "ANDA HARUS MATI!"

    SORGA 2
    Guru Sekolah Minggu bertanya pada murid-muridnya, "Siapa yang ingin pergi ke sorga, coba angkat tangan!" Semua murid-murid di kelas itu mengangkat tangannya, kecuali seorang anak. Guru bertanya, "Kamu tidak ingin pergi ke sorga?" Murid itu menjawab, "Tidak, Bu Guru. Ibu saya menyuruh saya segera pulang ke rumah, tidak boleh pergi ke mana-mana."

    TIDAK BOLEH BERISIK DI GEREJA
    Sebelum mengakhiri kelasnya, guru Sekolah Minggu bertanya kepada
    murid-muridnya.
    Guru : Kenapa kalo di gereja kita tidak boleh berisik?
    Murid : Karena di gereja ada yang lagi tidur.

    FIRMAN TUHAN
    Seorang guru Sekolah Minggu bertanya kepada murid-muridnya, "Apakah firman Tuhan yang saya ajarkan selama ini sudah dimengerti semua?"
    Murid-murid menjawab, "Sudah, Bu guru!" Lalu Ibu Guru melanjutkan, "Kalau begitu, minggu depan kalian akan dites oleh Kepala Pendeta. Apakah sudah siaaaap?" Murid-murid menjawab, "Siaaap Bu Guru!"

    Maka minggu berikutnya Kepala Pendeta datang ke kelas dan berkata kepada si Ibu Guru, "Bu, hari ini merupakan evaluasi pelajaran firman Tuhan yang selama ini Ibu ajarkan. Saya akan mengajukan beberapa pertanyaan kepada murid-murid".

    Si Ibu Guru menjawab (dengan berharap si Kepala Pendeta memujinya),
    "Bapak bisa lihat sendiri kalau murid-murid saya pandai-pandai
    semuanya". Kemudian Kepala Pendeta bertanya kepada murid-murid, "Apakah kita boleh mencuri?" Murid-murid menjawab, "Tidak boleh, Pak, sebab dilarang di dalam Hukum Taurat!" Si Ibu Guru senyum-senyum senang.

    Lalu si Kepala Pendeta melanjutkan, "Apakah kita boleh membunuh?"
    Murid-murid menjawab, "Tidak boleh Pak, sebab itu juga dilarang di dalam Hukum Taurat!" Si Ibu Guru semakin bersemangat tersenyum.

    Kepala Pendeta semakin penasaran dan bertanya lagi, "Nah, sekarang kalau kalian punya kucing di rumah lalu buntutnya kalian potong, berdosa nggak kalian?"
    Mendapat pertanyaan seperti itu, murid-muridnya berpikir keras karena buntut kucing yang dipotong bukan berarti mencuri dan kucingnya tidak mati berarti tidak membunuh. Kelas menjadi hening ...

    Tiba-tiba salah satu murid berdiri dan menjawab dengan suara nyaring,
    "Berdosa, Pak!" Si Kepala Pendeta bertanya, "Kenapa menurut kamu berdosa?"
    Si murid menjawab, "Sebab di dalam Matius 19:6 tertulis, "Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Sebab apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia"!"

    Kubur Kosong

    (1 Korintus 15)

    Saya rasa pasal ini merupakan pasal yang paling penting dalam tulisan Paulus, terutama bagi orang-orang yang telah kehilangan seseorang dalam hidup ini. Tidak lama setelah orang-orang yang kita kasihi pergi, maka akan timbul pertanyaan, "Akankah kita bertemu dengan mereka lagi?" Paulus menjawab pertanyaan ini, dan memberikan suatu penghiburan yang dapat kita temukan dengan sangat jelas yang tidak dinyatakan dalam ayat lain. Ketika kita membaringkan orang-orang yang kita kasihi yang telah pergi, adalah suatu penghiburan ketika kita mengetahui bahwa kita akan bertemu dengan mereka lagi dalam waktu yang tidak lama.

    Apabila saya pergi ke suatu pemakaman, saya suka memikirkan masa ketika orang yang meninggal akan bangkit dari kubur mereka. Kita membaca bagian dari pasal ini dalam apa yang kita sebut "kebaktian penguburan." Saya rasa itu merupakan suatu ungkapan yang kurang tepat. Paulus tidak pernah berbicara mengenai "penguburan." Ia berkata tubuh ditaburkan dalam kebinasaan, ditaburkan dalam kelemahan, ditaburkan dalam kehinaan, ditaburkan dalam tubuh jasmani. Jika saya mengubur satu keranjang gandum, saya tidak pernah berharap untuk melihatnya lagi, tetapi jika saya menaburkannya, saya mengharapkan hasil. Berterimakasihlah kepada Allah, teman-teman kita tidak dikuburkan, mereka hanya ditaburkan! Saya menyukai nama Saxon untuk pemakaman -- yaitu "tanah Allah".

    Injil yang diberitakan oleh para rasul bersandar pada empat penyangga. Yang pertama adalah kematian Kristus yang menebus dosa, yang kedua adalah pemakaman dan kebangkitan-Nya, yang ketiga adalah kenaikan-Nya, dan yang keempat adalah kedatangan-Nya kembali. Keempat doktrin ini diberitakan oleh semua rasul, dan oleh keempat doktrin tersebut, Injil harus bertahan atau gugur.

    Dalam ayat pembukaan bab ini, kita memperoleh pernyataan yang jelas dari Paulus, bahwa doktrin kebangkitan adalah bagian dari Injil. Ia menyatakan arti Injil bahwa Kristus mati untuk dosa-dosa kita, tetapi bukan hanya itu -- Ia dimakamkan dan bangkit lagi pada hari ketiga. Kemudian ia mengumpulkan saksi-saksi untuk membuktikan kebangkitan-Nya: "Ia menampakkan diri kepada Kefas (yaitu, Simon Petrus), dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal. Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul. Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya."

    Itulah kesaksian yang cukup jelas dan cukup kuat untuk memuaskan seorang penyelidik yang tulus. Tetapi orang Yunani tidak memiliki kepercayaan pada kemungkinan kebangkitan, dan para petobat di Korintus telah didewasakan dalam ketidakpercayaan itu. Oleh karena itu, Paulus mengajukan pertanyaan berikut: "Jadi, bilamana kami beritakan, bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan orang mati?" Itu adalah salah satu pengajaran yang salah yang telah menjalar ke dalam jemaat di Korintus, karena tidak ada orang Yahudi ortodoks yang pernah berpikir untuk mempertanyakannya.

    Menyangkali kebangkitan sama dengan mengatakan bahwa kita tidak akan pernah melihat lagi orang-orang yang kita kasihi yang tubuhnya telah kembali menjadi tanah. Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka kita sama seperti hewan. Betapa kejamnya memiliki orang yang mengasihi Anda jika ini benar! Betapa menakutkannya, mereka harus membiarkan sulur hati Anda berpilin, jika, ketika mereka dipisahkan oleh kematian, itu adalah akhir segalanya. Saya lebih memilih membenci daripada mengasihi jika saya memikirkan tidak akan ada kebangkitan, karena dengan demikian saya tidak merasakan benturan ketika kehilangan hal yang dibenci. Oh, jahatnya ketidakpercayaan! Ketidakpercayaan merampas semua harapan kita yang paling besar. "Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia."

    Kekekalan

    Umat manusia secara alamiah "merindukan yang tidak terbatas". Di antara orang-orang yang paling primitif, para filsuf telah mengamati apa yang disebut "minat terhadap hal yang tidak terbatas", yang mengelabui pengajaran bahwa kematian mengakhiri segalanya. Kematian merupakan salah satu perbedaan antara manusia dan hewan. Burung di udara, hewan di padang, pada masa sekarang sama seperti ketika mereka di Taman Eden. Mereka makan dan tidur dan melewati hidup mereka hari demi hari dengan rutinitas yang tidak berubah. Keinginan mereka sama, kebutuhan mereka sama. Namun manusia selalu berubah. Keinginannya selalu bertambah. Pikirannya selalu merencanakan ke depan. Tidak lama setelah ia mencapai satu tujuan, ia akan menuju tujuan berikutnya, dan bahkan kematian sendiri tidak dapat menariknya. Seorang kafir yang terkenal pernah berkata, "Musuh terakhir yang harus dihancurkan bukan kematian, melainkan kepercayaan manusia pada kekekalannya."

    Antisipasi atas kehidupan masa depan dapat digambarkan seperti perasaan yang tumbuh pada burung menjelang musim dingin, suatu perasaan yang mendorongnya untuk pergi ke daerah selatan -- "suatu dorongan misterius dan tidak diketahui, tetapi tidak dapat ditahan dan tidak salah": atau bagai kerinduan tanaman di daerah selatan, yang diambil ke daerah beriklim utara dan ditanam di tanah daerah utara. Mereka tumbuh di sana, tetapi selalu gagal berbunga. Semak yang malang itu memimpikan bunga yang indah yang tidak pernah dilihatnya, tetapi yang dengan samar-samar disadarinya bahwa bagaimanapun ia harus menghasilkan. Tanaman itu merasakan bunga tetapi ia tidak memiliki kekuatan untuk menghasilkannya dalam iklim yang setengah beku dibanding iklim sebelah selatan. Begitulah pikiran masa depan telah menghantui kita semua.

    Para filsuf memiliki banyak fakta untuk membuktikan jangkauan ke depan yang umum ini menuju kehidupan setelah kematian. Diduga bahwa banyak ritual dan acara pemakaman, misalnya, disebabkan karena itu. Jika tubuh sekali lagi akan ditempati oleh rohnya, maka disarankan agar tubuh dilindungi terhadap bahaya. Akibatnya, kita melihat kubur tertutup supaya musuh tidak menggali sisa yang ada dan tidak menghormatinya. Livingstone menceritakan bagaimana seorang pemimpin Bechuana dimakamkan dalam kandang ternak. Kemudian ternak dibawa selama beberapa jam sampai semua jejak kubur lenyap. Tetapi tubuh harus dilindungi bukan hanya dari penggunaan yang merusak, melainkan juga, sedapat mungkin, dari pembusukan; dan proses pembalseman merupakan suatu usaha keras untuk tujuan ini. Kadang-kadang, kebangkitan memang tidak diinginkan, dan karena itu kita menemukan mayat dibuang ke dalam air untuk menenggelamkan rohnya. Dikisahkan bahwa orang Mesir modern membawa tubuh berputar-putar supaya roh menjadi pusing dan karena itu tidak dapat menyusuri kembali langkahnya; sedangkan suku Aborigin tertentu di Australia mengambil kuku dari tangan kalau-kalau mayat yang hidup kembali akan menggaruk jalan keluar dari selnya yang sempit.

    Ketika konsep kehidupan yang kedua sebagai kelanjutan dari kehidupan yang sekarang dianut, kita menemukan kebiasaan menguburkan benda-benda mati, seperti senjata dan peralatan. Orang yang mati akan memerlukan segala sesuatu di seberang -- seperti yang ia lakukan ketika masih hidup -- kematian. Bukan saja benda mati, melainkan hewan dibunuh supaya arwahnya mengikuti arwah orang yang sudah meninggal. Orang-orang Bedouin menyembelih untanya di dekat kubur teman seperjuangannya yang sudah meninggal: yang sangat dibutuhkan dalam dunia ini, itu juga akan sama dalam kehidupan berikutnya. Dari sini, satu langkah memimpin pada persembahan korban manusia. Para isteri mengikuti suami mereka; para budak dibunuh supaya mereka tetap melayani tuan mereka. Dalam kata-kata yang diungkapkan Tennyson:

    "Dalam penguburan orang barbar mereka membunuh para budak dan membunuh isteri; terasa dalam diri mereka nafsu yang tidak boleh diingkari dalam kehidupan kedua."

    Ajaran Kebangkitan Dalam Perjanjian Lama

    Kita hanya menangkap sekilas ajaran kebangkitan dalam Perjanjian Lama, tetapi orang-orang kudus pada zaman itu jelas memercayainya. Hampir dua ribu tahun sebelum Kristus, Abraham berlatih pengorbanan-Nya di gunung Muria ketika ia menaati perintah Allah untuk mengorbankan Ishak. Merujuk hal ini, Paulus menulis, "... karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali." Lima ratus tahun kemudian kita mendapatkan Allah berkata kepada hamba-Nya, Musa: "Akulah yang mematikan dan yang menghidupkan." Yesaya menulis -- "Ia akan meniadakan maut untuk seterusnya; dan Tuhan ALLAH akan menghapus air mata dari pada segala muka", dan sekali lagi -- "Orang-orang mati akan hidup, bersama dengan tubuhku yang mati mereka akan bangkit. Bangun dan bernyanyilah, engkau yang berdiam dalam debu: karena embunmu sama seperti embun daun-daunan, dan bumi akan membuang orang mati." Uraian Yehezkiel yang jelas mengenai kebangkitan Israel dari tulang-tulang yang kering, yang memberitahukan nubuatan pemulihan Israel, merupakan bukti lain. Ketika Daud kehilangan anaknya, ia berkata ia tidak dapat memanggilnya kembali, tetapi ia akan pergi dan bersama anak itu. Di lain kesempatan ia menuliskan, "Tetapi aku, dalam kebenaran akan kupandang wajah-Mu, dan pada waktu bangun aku akan menjadi puas dengan rupa-Mu."; dan -- "Tetapi Allah akan membebaskan nyawaku dari cengkeraman dunia orang mati, sebab Ia akan menarik aku."

    Ayub bapa leluhur menghibur dirinya sendiri dengan harapan mulia yang sama ketika ia berada dalam kesedihan yang mendalam. Ia yang telah bertanya -- "Apakah kekuatanku, sehingga aku sanggup bertahan? Dan apakah masa depanku, sehingga aku harus bersabar?" -- berkata, "Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu. Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingku pun aku akan melihat Allah, yang aku sendiri akan melihat Ia memihak kepadaku, mataku sendiri menyaksikan-Nya dan bukan orang lain." Ayub pasti memiliki keyakinan yang teguh bahwa tubuhnya akan dibangkitkan kembali, nanti tetapi bukan di bumi, karena "bagi pohon masih ada harapan," ia berkata lagi, "apabila ditebang, pohon itu akan bertunas kembali, dan tunasnya tidak berhenti tumbuh. Apabila akarnya menjadi tua di dalam tanah, dan tunggulnya mati di dalam debu, maka bersemilah ia, setelah diciumnya air, dan dikeluarkannyalah ranting seperti semai. Tetapi bila manusia mati, maka tidak berdayalah ia, bila orang binasa, di manakah ia? Seperti air menguap dari dalam tasik, dan sungai surut dan menjadi kering, demikian juga manusia berbaring dan tidak bangkit lagi, sampai langit hilang lenyap, mereka tidak terjaga, dan tidak bangun dari tidurnya."

    Dalam Kitab Hosea Tuhan menyatakan, "Akan Kubebaskankah mereka dari kuasa dunia orang mati, akan Kutebuskah mereka dari pada maut? Di manakah penyakit samparmu, hai maut, di manakah tenaga pembinasaanmu, hai dunia orang mati?"

    Dalam Kitab Daniel pasal yang terakhir kita sekilas melihat lagi kebenaran yang sama, "Dan orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya." Dan kitabnya ditutup dengan kata-kata berikut, "Tetapi engkau, pergilah sampai tiba akhir zaman, dan engkau akan beristirahat, dan akan bangkit untuk mendapat bagianmu pada kesudahan zaman."

    Sebagai lambang, kebangkitan ditetapkan sebelumnya dalam Perjanjian Lama. Melalui buah sulung yang diberikan sehari setelah Perjamuan Paskah sebagai suatu permohonan dari seluruh panen, anak-anak Israel diajarkan ciri-ciri Mesias yang harus menjadi "yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal." Beberapa orang telah mengatakan bahwa tugas utama bangsa Israel di Kanaan adalah mempersiapkan ciri-ciri kebangkitan Juru Selamat, dan tindakan religius pertama mereka adalah berpegang pada ciri-ciri Juru Selamat yang dibangkitkan itu.

    Dalam Perjanjian Baru

    Tetapi apa yang dirujuk sebagai interval yang panjang dalam Perjanjian Lama menjadi masalah kenyataan dan pengajaran yang jelas dalam Perjanjian Baru. Kata "kebangkitan" tertulis empat puluh dua kali dalam Perjanjian Baru. Selama pelayanan-Nya, Tuhan kita sering merujuk pada kebangkitan umum dari orang-orang yang meninggal. Orang Saduki pernah menemui-Nya dengan sebuah pertanyaan yang sulit mengenai hubungan pernikahan dalam kehidupan nanti, dan Yesus berkata: "Tetapi tentang kebangkitan orng-orang mati tidakkah kamu baca apa yang difirmankan Allah, ketika Ia bersabda, Akulah Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup." Pada kesempatan lain, Kristus mengatakan, "Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya. Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan,4 undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh, dan orang-orang buta. Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak memunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar." Ketika Lazarus meninggal, Yesus mengucapkan kata-kata penghiburan kepada saudara-saudara perempuannya, "Saudaramu akan bangkit." Marta menjawab, "Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada akhir zaman." Yesus berkata kepadanya, "Akulah kebangkitan dan hidup."

    Perkataan Yang Sangat Baik

    Kita akan melihat bahwa keyakinan pada kehidupan di masa depan tidak didasarkan pada Kristus, dan tidak satu pun yang memercayai bahwa kekekalan merupakan karunia-Nya. Kita mendapatkannya dari Allah Sang Pencipta.

    Meskipun gagasan tersebut sudah ada sebelum kekristenan, gagasan itu hanya sebatas "perkiraan yang sangat baik". Manusia secara alamiah tidak dapat melihat melampaui kubur yang paling sempit dan melihat apa yang ada di seberang sana. Sekeras apa pun usahanya untuk menggunakan matanya, ia tidak dapat mengintip tabir kematian. Kematian selamanya berada di hadapannya, menghancurkan harapannya, memeriksa rencananya, menggagalkan tujuannya, suatu penghalang yang tidak dapat dipatahkan oleh apa pun. Sejak dosa memasuki dunia, kematian telah memerintah, membuat bumi menjadi satu kubur yang besar. Kematian tidak pernah beristirahat. Di setiap umur dan setiap negeri, "Engkau berasal dari debu dan kembali kepada debu" merupakan kalimat yang menyingkirkan manusia. Semua generasi manusia ketika mereka melewati dunia harus mengikuti kematian mereka.

    Banyak hal yang tidak terduga terjadi pada kita dalam kehidupan ini, tetapi kematian bukan salah satu di antaranya. Kita tidak mengetahui bagaimana atau kapan kematian akan datang, tetapi seandainya Tuhan menundanya, kematian suatu saat pasti datang. Kita telah mendengar dokter yang melakukan penyembuhan yang mengagumkan, tetapi kemampuan dan pengetahuan mereka tidak mampu menghalangi kematian. Sepanjang enam ribu tahun sejak kematian memasuki bumi yang dikutuk dosa ini, peralatan manusia telah gagal memenangkan kembali suatu tanda kemenangan dari kematian. Peradaban yang semakin berkembang, pendidikan yang semakin meningkat, kemajuan dalam perdagangan dan kesenian -- tidak ada satu hal di antaranya yang membuat kita lebih unggul dari orang yang paling primitif dalam hal kematian. Kematian selalu menang pada akhirnya. Aliran selalu dalam satu arah, ke depan, dan tidak pernah ke belakang.

    Dibawa Kepada Terang Oleh Kristus

    Yang tidak diketahui oleh orang yang paling bijaksana di bumi disingkapkan oleh Kristus. Ia tidak menciptakan kekekalan, tetapi Ia "menghapus kematian, membawa kehidupan dan kekekalan ke dalam terang melalui Injil." "Negeri yang tidak dijelajahi tersebut," yang dibicarakan oleh penulis puisi, "yang dari negeri itu orang-orang yang bepergian dan tidak pernah kembali," bukan negeri yang tidak terjelajahi bagi orang percaya. Tuhan kita menjelajahinya. Ia memasuki daftar menentang kematian dalam wilayah-Nya sendiri dan muncul lebih dari sekadar Penakluk. Tongkat lambang kekuasaan kematian memang masih umum, tetapi sudah dipatahkan, dan suatu hari akan dihancurkan menjadi debu. Orang-orang Kristen tidak lagi berspekulasi mengenai masa depan: kepastian diraih di sisi kubur kosong Kristus. "Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal." Kita dapat melihat bekas peninggalan kembali-Nya.

    Kemenangan

    Oleh karena itu, kita dapat ikut dalam tujuan berkemenangan, "Kematian ditenggelamkan oleh kemenangan." Sengat kematian adalah dosa, dan Allah telah memberikan kita kemenangan melalui Tuhan kita Yesus Kristus. Mereka yang telah tertidur di dalam Kristus tidak binasa, tetapi suatu hari kita akan melihat mereka muka dengan muka.

    Betapa Injil yang kita miliki adalah Injil mengenai sukacita dan harapan, dibandingkan dengan yang dimiliki orang-orang yang tidak percaya! "Orang kafir merasa sedih tanpa harapan," tulis Dr. Bonar; "Bagi mereka kematian dengan sendirinya berkaitan dengan tidak ada harapan, tidak ada kecemerlangan, tidak ada kemenangan. Kematian bukan matahari terbenam bagi mereka, karena matahari yang terbenam mengundang kita untuk menantikan matahari yang lain, yang sama terangnya dengan yang sudah terbenam. Kematian bukan musim gugur atau musim dingin, karena musim gugur dan musim dingin berbicara tentang kembalinya musim semi dan musim panas. Kematian bukan benih yang dibuang ke dalam tanah yang keras, karena melepaskan benih meramalkan pohon atau bunga di masa depan, yang lebih indah daripada benih itu. Kematian merupakan kegelapan yang sederhana dan murni, semua awan, bayangan, kesunyian. Pilar hancur berserakan, sebuah kapal hancur berkeping-keping, kalah dalam pertandingan, sebuah harpa yang terletak di tanah dengan dawai yang dipatahkan dan kehilangan alunan musiknya, suatu kuncup bunga yang diremukkan -- semua ini adalah ekspresi kesedihan atas dukacita mereka yang tiada harapan. Pikiran bahwa kematian adalah gerbang kehidupan datang bukan untuk menggembirakan orang yang ditinggalkan dan mempercerah kubur. Kebenaran bahwa kubur adalah tanah dan mayat adalah benih yang ditaburkan oleh tangan Allah sendiri untuk memanggil kehidupan yang tersembunyi; bahwa pertandingan tidak dikalahkan, tetapi hanya kemenangan yang sedikit dipercepat; bahwa pilar tidak dihancurkan tetapi diubah menjadi bangunan lain dan kota lain untuk menjadi "sebuah pilar dalam rumah Allah; bahwa kuncup bunga tidak diremukkan, tetapi ditransplantasikan untuk perluasan pada sebidang tanah dan udara yang lebih menyenangkan; bahwa harpa tidak dipatahkan, tetapi diserahkan kepada penyanyi yang lebih andal yang akan menghasilkan semua jangkauan kaya dari musiknya yang tersembunyi: hal-hal ini yang tidak memiliki tempat dalam teologia mereka, apalagi dalam impian mereka."

    Suatu Doktrin Yang Penting

    Beberapa orang mengaku bahwa persoalan mengenai Juru Selamat yang telah bangkit tidak penting. Dengarlah apa yang Paulus katakan, "Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu. Lebih daripada itu, kami berdusta terhadap Allah, karena tentang Dia kami katakan, bahwa Ia telah membangkitkan Kristus -- padahal Ia tidak membangkitkan-Nya, kalau andaikata benar, bahwa orang mati tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu." Saya memberitahukan kepada Anda doktrin ini sangat penting. Doktrin ini bukan hanya persoalan spekulatif yang kita hadapi: doktrin ini merupakan kepentingan praktis yang paling besar. Kebangkitan adalah unsur pokok dari busur di mana iman kita ditopang.

    Jika Kristus tidak dibangkitkan, kita harus mencurigai semua kesaksian tersebut adalah dusta.

    Jika Kristus tidak dibangkitkan, kita tidak memunyai bukti bahwa penyaliban Kristus berbeda dari dua orang pencuri yang menderita bersama Dia.

    Jika Kristus tidak dibangkitkan, tidak mungkin mengagumi dan menerima bahwa kematian-Nya menebus dosa. Beberapa orang mengatakan bahwa kuasa kematian Kristus untuk menghapus dosa selalu dikaitkan dalam Perjanjian Baru dengan kenyataan atas kebangkitan-Nya.

    Jika Kristus tidak dibangkitkan, tidak mungkin mengagumi perkataan dan karakter-Nya. Ia membuat kebangkitan sebagai suatu pengujian kebenaran atas ke-Allahan-Nya. Orang Yahudi pernah meminta suatu tanda, dan Ia menjawab, "Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali" -- yang dimaksud Bait Allah adalah tubuh-Nya. Pada kesempatan lain, Ia memberi tanda Nabi Yunus, "Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam." Paulus mengatakan, "... oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa ...." "Seandainya Ia bukan Allah," kata seseorang, "dosa-dosa kita masing-masing akan merupakan batu kubur yang terlalu berat bagi Dia untuk dikeluarkan; klaim atas keadilan Allah akan merupakan tali pengikat kematian yang terlalu kuat bagi Dia untuk dipatahkan."

    Bagaimana jadinya kekristenan tanpa kebangkitan? Kekristenan akan turun sampai pada tingkat seperti sistem religius lainnya di dunia. Jika Kristus tidak pernah bangkit dari antara orang-orang mati, bagaimana perkataan-Nya berbeda dari perkataan Plato? Orang-orang selain Kristus telah menjalani kehidupan yang indah dan telah meninggalkan di belakang mereka semboyan yang indah untuk memimpin para pengikut mereka. Jika Kristus tidak pernah bangkit, kita harus mengelompokkan Kristus bersama orang-orang ini.

    Bacaan diambil dari:

    Judul buku : Karya-karya Klasik Terbaik D.L. Moody
    Judul artikel : Kubur Kosong
    Penyunting dan : James S. Bell, Jr.
    Penyusun    
    Penerbit : Yayasan ANDI, Yogyakarta
    Halaman : 227-238

    Kupang

    Seorang teman mengajakku untuk makan jagung bakar. Aku pikir ada baiknya sambil melihat-lihat kota Kupang pada malam hari. Setelah berputar sebentar ke kota maka kami duduk-duduk di trotoar makan jagung bakar. Penjual jagung adalah seorang ibu. Dia begitu bersemangat ketika melihat kami datang. Memang di sepanjang jalan ini banyak sekali orang berjualan jagung bakar. Aku pikir mereka berjualan tidak ditempat yang strategis. Jalan ini memang lebar tapi cukup sepi. Jarang sekali kendaraan yang berlalu lalang. Apalagi orang berjalan kaki. Bagaimana akan laku bila jalan begitu sepi?

    Sambil makan kami ngobrol dengan ibu penjual jagung. Salah satu topik adalah soal busung lapar yang saat ini ramai diberitakan oleh media. Ibu itu cerita bahwa di desanya banyak anak yang terjangkit busung lapar. Itu sudah menjadi pemandangan biasa. Dia menyebutkan nama sebuah desa yang aku lupa. Konon kalau mau ke desanya dia harus naik kapal selama 10 jam. Kapal biasanya berangkat sekitar pk 16.00 dari pelabuhan Kupang dan sampai di pulau tempat tinggalnya sekitar pk 6.00. Setelah itu perjalanan dilanjutkan dengan naik truk sekitar 3 jam lagi. Ongkos naik truk sekitar Rp 50.000 tapi kalau ada banyak penumpang bisa turun sampai Rp 35.000. Sopir truk akan menunggu sampai truk penuh. Bila tidak penuh maka akan menunggu, sehingga dia akan sampai desanya baru esok hari lagi. Betapa sulitnya untuk pulang.

    Menurut ibu itu di desanya saat ini banyak yang busung lapar. Penduduk mengalami gagal panen, sebab hidup mereka tergantung pada ladang. Panen mereka gagal, sebab sudah sejak Februari hujan sudah tidak turun. Tanaman mereka kekurangan air, sehingga mat2i. Aku tanya lalu mereka makan apa? Ibu itu menjelaskan bahwa banyak orang yang hanya minum air dari pohon kelapa atau siwalan. Mereka tidak makan sama sekali kecuali hanya minum air itu. Aku mengerutkan kening. Apakah mungkin orang hanya hidup dari minum air hasil menderes? Tapi wajah ibu itu tidak menyiratkan kebohongan. Dia bercerita dengan jujur dan polos. Dia terus bercerita tentang kemiskinan di desanya, maka dia terpaksa pergi ke kota untuk berjualan jagung.

    Mendengar cerita itu hatiku jadi bingung. Gelisah. Akhirnya temanku membayar jagung dengan lebih. Tampak sekali betapa bahagianya wajah ibu itu. Dia sangat bersyukur pada temanku dan memanggilnya bapa raja. Malam hari di pembaringan hatiku gelisah. Betapa ngeri cerita ibu itu. Sudah sekian puluh tahun negara ini merdeka ternyata masih ada saja orang yang tidak bisa makan sesuatupun kecuali minum air dari pohon kelapa. Bila cerita ini pada saat penjajahan Belanda atau Jepang aku masih bisa maklum. Tapi ini cerita pada saat negara ini sudah merdeka bertahun-tahun. Negara ini sudah mengatakan swadaya pangan. Sudah masuk dalam negara industri. Tapi ternyata masih ada penduduk yang hanya minum air kelapa.

    Sepintas aku melihat Kupang bukanlah daerah yang subur. Tanahnya terdiri dari bebatuan dan padas. Rumput kering tumbuh dimana-mana. Hanya ada sedikit persawahan. Siang tadi sopir yang menjemputku dari bandara menceritakan bahwa banyak sawah sekarang sudah dijadikan rumah dan supermarket. Dia menunjukkan beberapa petak sawah yang mengering. Menurut dia sebentar lagi pasti semua ini akan berubah menjadi rumah. Aku pikir betapa cerobohnya mereka. Mengapa mereka tidak membuat rumah di perbukitan yang tandus dan membiarkan sawah ini tetap sebagai sawah? Mengapa lahan subur yang hanya sedikit dijadikan rumah?

    Memang sering kali orang bertindak sesuka hatinya. Dia tidak berpikir tentang orang lain dan masa depan banyak orang. Sebuah koran daerah menceritakan bahwa saat ini sedang diributkan soal korupsi beberapa pejabat di kota Kupang. Wali kota Kupang dituduh telah korupsi sebesar 1,4 milyard sedangkan bupati Kupang dituduh telang korupsi sebesar 800 juta. Semula aku tidak peduli dengan kasus korupsi mereka, sebab dimana-mana pejabat tersangkut korupsi. Tapi ketika mendengar cerita ibu itu hatiku jadi jengkel, gemas, gregetan dan sebagainya yang bercampur aduk. Mengapa mereka masih tega korupsi uang rakyat sedang di depan mata mereka banyak rakyat yang busung lapar?

    Menurut data di koran lokal di kota Kupang terdapat 8 kasus anak busung lapar, 200 anak yang kekurangan gizi yang parah. Sedangkan di kabupaten Kupang ada 7 kasus busung lapar, 1396 bayi kekurangan gizi yang sangat parah dan 5357 kekurangan protein yang parah dari total 32.296 bayi. Dengan demikian ada 4,5% anak yang menderita kurang gizi dan protein. Bila anaknya kurang gizi dan protein yang parah pasti orang tuanya juga terkena yang sama. Aku rasa tidak mungkin orang tuanya dapat makan kenyang sedang anaknya tidak diberi makan.

    Membayangkan semua itu aku semakin gelisah. Berapa ton beras yang dapat dibeli oleh uang 1,4 milyard? Bila harga beras Rp 4000 per kilogram maka uang itu dapat dibelikan 350.000 kg atau 350 ton. Total jumlah bayi yang kekurangan pangan di kabupaten Kupang sebanyak 6760 anak. Bila beras itu diberikan kepada semua bayi yang kurang gizi maka setiap bayi akan mendapatkan 51,7 kg. Bila satu hari seorang bayi butuh 1 ons, maka beras itu dapat dimakan selama 517 hari atau hampir dua tahun. Mereka dapat bertahan selama 2 tahun. Ada 6760 masa depan bangsa terselamatkan. Namun karena wali kota lebih mementingkan diri sendiri, maka 6760 anak itu terancam masa depannya.

    Betapa mengerikannya hati nurani bangsa ini. Hati nurani bukan saja tumpul tapi sudah mati. Bahkan mungkin sudah tidak ada lagi hati nurani. Hampir setiap hari rakyat disuguhi kasus korupsi dalam angka milyar bahkan trilyun. Banyak pejabat, orang yang dipercaya oleh rakyat untuk membawa mereka ke dalam kesejahteraan, ternyata tidak ubahnya seperti lintah. Menghisap rakyat sampai kering. Mereka membiarkan rakyat mati kelaparan asal mereka dapat menikmati kekayaan yang berlimpah. Padahal semua mengaku beragama. Apakah agama tidak mengajarkan akan hati nurani? Apakah beragama cukup dengan berdoa, berziarah ke tanah suci, mengundang pengkotbah ulung, pendoa yang hebat dan kondang, tapi menutup mata terhadap kenyataan disekitarnya? Negara ini membutuhkan hati nurani. Dimanakah dapat ditemukan hati nurani bangsa?

    Aku bukan pejabat. Aku tidak korupsi sampai milyard. Apakah aku tidak terlibat dalam dosa mereka? Aku teribat. Disini aku sering memboroskan makanan. Aku dengan tenang membiarkan makanan membusuk. Membuang makanan. Memboroskan air bersih. Tapi disini ada ribuan anak yang hanya minum air kelapa. Ribuan anak yang tergangu perkembangannya akibat kekuranga protein dan karbohidrat yang cukup parah. Anak yang mungkin tidak akan mempunyai masa depan seperti yang mereka impikan.

    Aku tidak bisa hanya menuding orang yang korupsi. Aku juga bersalah bila membiarkan hidupku terseret pada pola jaman ini yang rakus. Pola jaman yang hedonis dan konsumtif. Aku pun bersalah bila kejahatan dibiarkan berkembang. Sikap diam dan tidak peduli membuat kejahatan merajalela. Akibatnya banyak orang yang menderita akibat kejahatan itu. Bila aku tidak mampu menembus benteng kekuasaan yang melindungi para koruptor, maka aku harus mulai mati raga untuk diriku sendiri. Menangis dengan orang yang menangis. Tertawa dengan orang yang tertawa. Bila ada ribuan anak busung lapar, masih tegakah aku memboroskan makanan? Memang itu uangku dan anak itu jauh di NTT dan NTB, tapi bukankah mereka masih sebangsa dan setanah air denganku? Mereka adalah saudaraku sendiri. Aku juga seharusnya turut prihatin bersama mereka.

    Anjing di luar kamar melolong panjang. Dia menangisi dunia yang tidak adil. Dia menangis bersama ribuan anak yang kelaparan. Menangis pada Tuhan. Dimanakan Tuhan ketika anak-anak itu lahir dalam kemiskinannya? Dimanakah Tuhan ketika sebagian orang menyimpan ratusan juta uang rakyat dalam rekening pribadi? Dimanakah Tuhan ketika mereka menghamburkan uang rakyat di dunia gemerlap? Apakah Tuhan mendengarkan doa-doa mereka agar selamat dari pemeriksaan KPK? Apakah Tuhan tersenyum bila melihatku duduk membuat sebuah tata liturgi yang indah? Apakah Tuhan akan lebih mulia bila aku mengikuti tata aturan liturgi yang baru? Bukankah Tuhan itu Maha yang tidak akan lebih mulia meski aku berdoa dengan bahasa Inggris atau Jawa? Bukankah Tuhan itu Mahakuasa yang tidak perlu aku bela dengan membawa pedang dan bom? Apakah Tuhan akan turun derajatNya bila aku menuliskan lambang Tuhan di bukuku secara sembarangan?

    Tuhan telah mati dalam diri banyak orang. Tuhan hanya ada di surga yang jauh. Dia sudah tua dan lemah sekali, sehingga orang hanya ribut untuk membelaNya. Orang sangat bersemangat mengangkat pedang bahkan bom bila ada yang berani mengejek Tuhan. Orang berdiskusi panjang lebar dan penuh keributan hanya persoalan cover kaset. Orang ribut soal duduk atau berdiri dalam berdoa, tapi menutup mata akan penderitaan sesama. Apakah masuk surga ditentukan oleh duduk atau berdiri dalam doa? Atau berbahasa ini atau itu? Atau mempersoalkan lambang-lambang? Tapi semua diam ketika ada ribuan anak mati kelaparan. Inikah perwujudan iman? Aku semakin gelisah. Anjing di luar kamar terus melolong ngeri. Angin malam semakin dingin. Mataku tetap terbuka. Sebatang roko225unyalakan. Kucoba hilangkan resah hati. semakin kutekan semakin menusuk. Sampai kapan bangsa ini terbuka akan penderitaan sesama? Pertanyaan keluar bersama asap rokokku melalui celah jendela menuju kegelapan malam

    Lagu Rohani

    Sosialisasi Lagu Rohani Daerah Sudah Dilakukan Tapi Hasilnya Minim Hingga saat ini, keberadaan lagu-lagu rohani daerah kurang mendapat perhatian dari kalangan masyarakat Kristiani di Indonesia. Lagu-lagu rohani daerah kalah bersaing bahkan seolah-olah tenggelam ditengah maraknya kehadiran lagu-lagu rohani berbahasa Indonesia maupun luar negeri.

    Bagi kalangan masyarakat Kristiani Indonesia yang berasal dari berbagai macam suku bangsa, tentunya harus bisa melestarikan budaya daerah lewat mencintai lagu-lagu rohani daerah karena bagaimanapun juga kehadiran lagu-lagu rohani daerah akan menambah semangat kekristenan di Indonesia.

    Menurut Produser Maranatha Record, Peter Rahardja menjelaskan bahwa selama ini pihaknya sudah berusaha mempopulerkan lagu-lagu rohani daerah. Namun karena minat dan daya beli terhadap kaset lagu-lagu rohani kurang disukai masyarakat, penjualan tidak dilakukan secara berkelanjutan lagi. Demikian yang diberitakan oleh Reformata.

    Peter menambahkan, Maranatha pernah membuat album rohani berbahasa Manado dan Sangir, pihaknya juga telah mengalokasikan dana sebesar 20 juta untuk mempromosikan lagu-lagu daerah ini ke berbagai media massa dan melakukan tur ke seluruh Sulawesi tapi angka penjualan tidak memenuhi target pasar.

    Pendapat senada juga disampaikan perusahaan rekaman Hosana Record, Eddy Soesanto yang pernah bekerjasama dengan PGI untuk memproduksi album rohani berbahasa Dayak. Namun penjualan album tersebut hanya laku di kalangan PGI saja, sedangkan penjualan diluar tidak mengalami peningkatan yang berarti.

    Bagaimanapun juga, usaha yang dilakukan perusahaan-perusahaan rekaman lagu-lagu rohani Kristen di Indonesia bukanlah suatu kegagalan karena usaha mensosialisasikan lagu-lagu rohani kelak akan mendatangkan hasil yang lebih baik yang dapat membuat kekristenan sungguh-sungguh menyatu dengan budaya Indonesia.

    Let's Talk About Music !

    Penulis : Mang Ucup

    Berdasarkan Alkitab, manusia sudah mengenal alat musik pada generasi ke-lima setelah manusia pertama (Adam). Yubal anak Lamekh "dialah yang menjadi bapak semua orang yang memainkan kecapi dan suling" (Kejadian 4:21), dialah penemu musik. Di kemudian hari musik digunakan dalam ibadah Bait Suci, sebelumnya terbatas penggunaannya dalam kehidupan sekular mereka. Berdasarkan para ahli purbakala, mereka telah menemukan disebuah goa di Blaubeuren Jerman, alat musik tertua, berupa suling yang dibuat dari tulang angsa, berdasarkan penelitian mereka usia suling ini sudah encapai 350.000 th usianya. Dan telah terbuktikan juga, bahwa 3.000 th sebelum Masehi di Mesopotamien maupun di Mesir mereka telah memainkan berbagai macam alat musik seperti harfa, gendrang maupun suling.

    Kata "Musik" sebenarnya diserap dari bahasa Yunani "musik (t"chne)" dan dalam bahasa Latin = (ars) musica. Musik bukan saja hanya bisa jadi penghubung antar sesama manusia, tetapi bisa juga di gunakan sebagai penghubung dengan makhluk luar angkasa (alien). Hal ini terbuktikan dengan dikirimnya kepingan CD emas "Sound of Earth" melalui pesawat antariksa Voyager 1 dan Voyager 2. "Sound of Earth" itu adalah kepingan CD emas dengan rekamanan video, data maupun audio, dimana antara lain telah direkam musik Gamelan maupun musik dari Johann Sebastian Bach, Wolfgang Amadeus M2ozart, Chuck Berry. Bisa dilihat di links

    Musik bisa di definisikan dengan berbagai macam cara antara lain sebagai bunyi-bunyian yang dianggap enak oleh pendengarnya atau juga sebagai segala bentuk bunyi-bunyian yang dihasilkan secara sengaja untuk disajikan sebagai hiburan. Bukan hanya manusia saja yang mampu menciptakan musik, ternyata hewan pun bisa menciptakan melodi musik yang indah oleh sebab itulah juga ada Zoomusicology yang khusus mempelajari musik bunyi-bunyian dari hewan.

    Manusia bisa menikmati musik bukan hanya melalui alat pendengarnya saja, tetapi juga berdasarkan perasaan maupun sentuhan, sebab telinga manusia normal hanya mampu menerima frekuensi bunyi paling tinggi 20 000 Hz dan paling rendah 20 Hz. Suara yang lebih rendah dari 20 Hz hanya bisa di rasakan melalui perasaan atau sentuhan saja.

    Aristoteles berpendapat bahwa musik itu mempunyai kemampuan mendamaikan hati yang gundah dan juga mempunyai terapi rekreatif dan menumbuhkan jiwa patriotisme.

    Musik itu kaitannya erat sekali dengan matematika oleh sebab itulah Pythagoras 560 480 SM adalah orang yang pertama yang menemukan tangga nada Oktave seperti yang kita kenal sekarang ini. Dan di th 1.026 sM Guideo d’Arezzo yang pertama kalinya memperkenalkan notasi musik "do re me fa sol la" kepada kita.

    Antonio Stradivari kemungkinan dilahirkan pada th 1644 in Cremona Italy, ia adalah murid dari seorang pembuat biola jenius Maestro Nicola Amati. Dan pada saat ini mungkin hanya biola dari Giuseppe Guarneri saja bisa memiliki suara biola seindah dari biola Stradivari.

    Selama masa hidupnya Stradivari hanya membuat sekitar 1.100 biola, dan pada saat ini masih tersisa sekitar 200 yang diakui keasliannya sebagai original dari Stradivari. Rahasia membuat biola Stradivari itu tidak diturunkan kepada siapapun juga, sehingga meski sudah dicari dengan alat yang paling canggih sekalipun pun juga, formula lem untuk melapis kayu yang sudah diproses khusus untuk membuat biola ajaib Antonio Stradivari s/d detik masih juga belum juga tersingkap.

    Piano & kibor
    Instrumen kibor ini sudah ada sejak zaman kuno. Tidak jelas awalnya yang tepat. Dalam tangga nada Barat yang disebut diatonis, tonal terbagi dalam 12 nada. Ada nada penuh dan ada nada semi-tone. Pada instrumen kibor kedua kelompok nada ini biasa dibedakan dengan kunci berwarna terang dan untuk semi-tone. Susunan deret kunci yang chromatic (mencakup 12 nada) muncul di Eropa pada abad ke-14.

    Pada abad 15 diciptakan instrumen musik berdawai dengan dibunyikan melalui petikan, munculah harpsichord. Harpsichord ini terus berkembang pada abad ke-17 dan ke-18. Suatu teknik membunyikan dawai kembali dikembangkan dengan alat pukul kecil yang bekerja. Akibatnya pukulan pada bilah kunci bisa dilakukan pelan dan keras.

    Pelan dalam bahasa Italia adalah "Piano" dan keras adalah "Forte". Instrumen inovasi baru itu sangat populer karena volume nada bisa diatur dengan keras lemahnya memanipulasi papan kunci. Nama alat itu pun menjadi Pianoforte. Lama kelamaan diringkas menjadi "Piano". Piano pertama diciptakan oleh Batolomeo Christofori.

    Instrumen kibor ini yang memungkinkan berkembangnya musik barat dengan spektrum harmoni yang bisa dikatakan tidak tertandingi oleh aliran musik lain di bumi ini. Komposisi orkes simponi berasal dari kemampuan piano menghasilkan nada-nada harmonik.

    Kibor elektronik baru muncul pada abad ke-20. Dipasarkan pertama kali oleh Laurens Hammond di Amerika Serikat 1935. Sejak itu mulai berkembang instrumen yang sekarang ini menjadi rajanya alat musik. Suara orkes simponi pun dengan puluhan instrumen bisa dihasilkan oleh satu kibor saja.

    Sedangkan rekaman musik pertama dilakukan oleh Thomas Alva Edison di th 1877, lagu pertama yang direkam olehnya adalah "Marry had a little Lamb"

    Makna Pengharapan dalam Ilmu Pengetahuan dan Teologi

    Oleh : Yon Maryono

    Dalam ilmu pengetahuan, teori adalah serangkaian bagian atau variabel, definisi, dan dalil yang saling berhubungan yang menghadirkan sebuah pandangan sistematis mengenai fenomena dengan menentukan hubungan antar variabel, dengan maksud menjelaskan fenomena alamiah. Labovitz dan Hagedorn mendefinisikan teori sebagai ide pemikiran yang “menentukan” bagaimana dan mengapa variable-variabel dan pernyataan hubungan dapat saling berhubungan ( Wikipedia, ensiklopedia bebas).

    Victor H. Vroom, dalam bukunya yang berjudul “Work And Motivation” mengetengahkan suatu teori yang disebutnya sebagai “ Teori Harapan”. Dijelaskan secara sederhana, teori harapan menyatakan bahwa jika seseorang menginginkan sesuatu dan harapan untuk memperoleh sesuatu itu cukup besar, yang bersangkutan akan sangat terdorong untuk memperoleh hal yang diinginkannya itu. Sebaliknya, jika harapan memperoleh hal yang diinginkannya itu tipis, motivasinya untuk berupaya akan menjadi rendah. Oleh karena itu, apabila seseorang mempunyai suatu pengharapan tanpa ada upaya atau usaha meraihnya, namanya angan-angan atau khayalan yang tanpa pasti tanpa hasil.

    Dalil dan ide pemikiran teori harapan itu sebenarnya tidak original karena Alkitab menuliskan Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan (Ibrani 11.1). Teori tersebut ternyata sebuah kebenaran Teologis yang dikemas dalam Teori Harapan, yaitu bagian ilmu manajemen untuk kepentingan siapa saja, apapun suku bangsa dan agamanya. Jangan heran bila kita menyaksikan seorang motivator dalam gaya dan tutur katanya sesuai dengan ajaran Alkitab, walaupun pembicaranya bukan orang Kristen. Teori harapan adalah bentuk kesaksian kebenaran Alkitab yang menunjukan bahwa Firman itu bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik orang dalam kebenaran (2Tim 3: 16). Teori harapan adalah refleksi Iman sebagai dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan pembuktian bahwa iman tanpa perbuatan adalah sia-sia.

    Pada saat Rasul Yohanes menulis : inilah janji yang telah dijanjikan-Nya sendiri kepada kita, yaitu hidup yang kekal (1 Yoh 2:25), bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya (bdk Yoh 3:15) . Secara teologis janji Tuhan adalah pengharapan yang pasti. Dan secara teoritis janji pengharapan hidup kekal itu adalah nilai (Valence), yang merupakan kekuatan yang mendorong sesorang untuk mencapainya. Caranya ? Kita tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh (bdk Rom 8: 9). Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus. Artinya, bila manusia tidak berusaha menjalankan ajaran Kristus dan manusia masih hidup dalam kedagingan (hawa nafsunya), maka pemahaman hidup kekal hanya berupa pengetahuan dalam pikiran yang belum diwujudkan dalam tindakan untuk mencapainya, atau hanya berupa angan-angan bahkan khayalan.

    Secara pribadi, setiap individu dapat merasakan tebal tipisnya keinginan untuk mencapai harapan meraih janji Tuhan. Hal ini tergantung perwujudan sikap hidupnya apakah sejalan dengan firman-Nya. Memang rencana Allah tidak selalu dapat dipahami oleh teori apapun, tetapi manusia dikaruniahi hikmat untuk memahami-Nya. Tuhan memberkati kita semua.

    Media dan Dusta

    Penulis : Imelda Seloadji

    Sebuah media massa di Amerika Serikat pernah memuat foto seorang tentara Israel dengan wajah marah, pentung di tangan dan di depannya ada seorang pemuda terluka parah dan darah mengalir dari kepalanya. Di bawah gambar itu ditulis teks: Tentara Israel dan Demonstran Palestina. Gambar itu cukup mengundang emosi. Sungguh kejam seorang tentara menganiaya seorang sipil tak bersenjata seperti itu. Namun, apa yang ditulis sebagai teks di bahwa foto dan persepsi yang muncul di benak pembaca bukanlah fakta. Faktanya adalah, pemuda itu adalah seorang Yahudi warga Amerika Serikat yang menjadi mahasiswa Yeshiva (sebuah sekolah agama Yahudi) di Israel. Hari itu adalah hari sialnya di mana ketika ia melewati jalan, ada arak-arakan demonstran Palestina yang ketika melihatnya langsung menghajarnya habis-habisan hingga ia terluka parah. Datanglah tentara Israel untuk menyelamatkannya dan mengusir para demonstran itu.

    Momen itulah foto itu diambil. Setelah gambar dan teks yang bias itu muncul di media massa, paman mahasiswa itu bereaksi dengan mengirim surat ke media tersebut, menceritakan kejadian sebenarnya. Sungguh memalukan bagi media yang cukup punya nama itu. Mereka telah membalik korban menjadi pelaku dan pelaku menjadi korban. Dusta lebih kejam daripada adegan penganiayaan itu sendiri.

    Kebohongan politik di atas hanyalah salah satu dari berbagai dusta yang muncul di media yang ada dalam keseharian kita. Ada banyak jenis dusta lainnya, dan ngerinya dusta-dusta itu mengontrol cara pandang dan perilaku kita. Mengapa media berdusta? karena mengabdi kepada kepentingan lebih menguntungkan daripada mengabdi kepada kebenaran. Coba kita tengok televisi kita, penuh dengan acara-acara yang menawarkan ilusi, kesemuan, tapi bukan kebenaran. Sinetron-sinetron tanpa bobot, cerita hantu, gosip artis kawin cerai dan pindah agama lebih sering daripada pindah rumah, juga kontes-kontes sarat mimpi. Seperti kata Adorno, seni dikomoditisasi, dan komoditas dianggap seni.

    Seni atau komoditi itu sendiri memang tak untuk dihakimi. Seperti halnya media berita tidaklah etis kalau membentuk opini. Fox News dengan elegan mengatakan slogannya "We report, You decide." Kami hanya melaporkan. Anda memutuskan.

    Ya, publik memiliki kehendak bebas untuk memutuskan. Tapi kebohongan jelas membelenggu kebebasan berkehendak, dan yang paling utama, adalah kehendak IKUT SIAPA dan PERCAYA PADA SIAPA. Banyak tayangan dan beragam video klip di sebuah saluran musik anak muda, menawarkan keliaran, pemberontakan, tapi bukan kebebasan. Ada "individu" yang siap menangkap generasi muda yang mau ikut arus kenyamanannya dan akhirnya terbelenggu selamanya dalam gelap.

    Saya bukan orang yang anti koran maupun televisi. Saya bahkan cukup suka nonton film di rumah sepupu saya. Jujur lho, lebih asyik kalau kita pulang kantor, lelah, terus nonton Jacky Chan yang lucu daripada debat mengenai teologi kemakmuran misalnya. Seni itu untuk dinikmati. Sulit bagi kita di jaman sekarang untuk hidup tanpa media, berita maupun hiburan. Hanya saja, media bukan tempat mencari kebenaran sejati.

    "Carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya," (Matius 6:33). Lalu ke mana mencari kebenaran?

    "Jikalau kamu tetap dalam FirmanKu, kamu benar-benar adalah muridKu, dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." (Yohanes 8:31,32). Firman Tuhan adalah kebenaran. Hidup dalam Firman membuat kita merdeka. Berapa banyak waktu kita sediakan untuk merenungkan Firman Tuhan? Air hidup yang menyejukkan, bukan kebisingan teologis yang membuat kita tambah pusing. Merenungkan dengan cinta kata-kata yang lahir dari sosok Bapa, bukan pak profesor yang super killer. Keintiman yang lebih indah daripada film-film romantis. Dan kita akan menemukan kemerdekaan kita yang seutuhnya. GBU.

    Media untuk Mejeng!

    Oleh: Mang Ucup

    Pada th 1927 Bertold Brecht masih merasa bingung hal apa saja yang sekiranya bisa dimanfaatkan melalui penemuan radio ini. Pada saat tsb beberapa perusahaan koran mulai khawatir, jangan2 dengan adanya siaran radio ini koran mereka tidak akan dibutuhkan lagi. Kejadian dan perasaan yang sama terulang kembali dengan adanya internet. Mereka khawatir; CD, film, buku maupun koran tidak akan laku lagi. Era internet sekarang ini masih dalam tahapan awal, karena masih begitu banyak kemungkinan dan fasilitas yang belum dapat dimanfaatkan secara maksimal. Menurut eyang buyutnya dunia cyber Tim O´Reilly kita sudah melangkah satu langkah lebih jauh daripada era sebelumnya maka dari itulah era sekarang ini disebut sebagai era Web 2.0.

    Di era sebelumnya Web 1.0 para pemakai internet masih pasif dimana kebanyakan dari mereka hanya ngerom saja alias komunikasi searah, tetapi sekarang mereka ingin aktif untuk turut terlibat secara langsung. Dari pembaca situs sekarang sudah menjadi Blog Owner (many-to-many-communication). Internet sekarang sudah menjadi panggung dunia untuk mejeng bagi siapa saja tanpa perkecualian dengan menggunakan motto dari Coca Cola: bagi siapa saja, kapan saja dan dimana saja.

    Apabila Anda pada saat ini belum memiliki Blog pribadi berarti Anda sudah ketinggalan jaman. Blog ini merupakan CV anda di dunia maya dan juga tempat dimana Anda bisa mejeng dengan prinsip: Blog till you drop! Dalam waktu beberapa menit saja setiap orang dengan mudah bisa membuat blog sendiri dan ini semuanya gratisan. Mang Ucup saja memiliki delapan blog. Saya cantumkan disini beberapa alamat dimana Anda bisa membuat blog sendiri.: www.blogger.com, www.blogdrive.com, www.blogsome.com, www.multiply.com, www.myspace.com www.xanga.com dan bagi mereka yang hobby ngeblog bisa bergabung di www.blogfam.com

    Ciri lainnya dari Web 2.0 ialah Communities dimana Anda bisa chatting maupun bertelpon ria secara gratisan. Milis adalah salah satu tempat lainnya untuk mejeng. Panggung dimana banyak pengunjungn maupun pemainnya. Sama seperti juga bioskop Anda bisa milih dimana Anda merasa betah mulai dari milis sastra, agama, politik, budaya, bodor, porno, HAM apa saja pasti ada yang sesuai dengan selera Anda. Disitu Anda bisa cuap-cuap atau ´Njeplak apa saja. Mang Ucup pribadi bergabung di 46 macam milis. Milis bhs Indonesia yang terbesar adalah mediacare@yahoogroups.com dengan jumlah membernya yang hampir mencapai 6.500 orang. Sedangkan bagi mereka yang ingin bergabung dengan milisnya mang Ucup kirim saja email kosong ke mang-ucup-subscribe@yahoogroups.com

    Disamping Blog dan Communities ciri dari Web 2.0 ialah Podcast. Kata ini diserap dari iPod ­ MP3-player darn Cast (siaran). Bagi mereka yang hobby motret sudah merupakan keharusan untuk bergabung di www.flickr.com mereka memiliki sekitar empat juta members dan disitu ada 180 juta koleksi foto.

    Mulai dari foto Tsunami sampai fotonya Mel Gibson ketika mabok semuanya ada disitu tinggal pilih saja. Bahkan banyak wartawan yang mencari foto gratisan disitu, jadi tidak perlu melalui kantor berita Reuters, AP maupun Getty lagi. Disitu Anda bisa mejeng dengan foto koleksi Anda. Disamping itu ini juga bisa dijadikan tempat menyimpan arsip foto yang paling save, tidak perlu khawatir lagi kompienya kena virus dan juga bisa di dilihat maupun didownload dimana saja. Murah, mudah dan cepat juga bagi mereka yang ingin melihatnya tanpa kita harus mengirim file yang gede-gede begitu.

    Sedang bagi mereka yang hobbi nonton film maupun membuat film sendiri ataupun juga ingin jadi bintang film secara cepat dan gratisan harus bergabung di www.YouTube.com. Mereka menerima setiap hari sekitar 60 ribu video clip maklum membernya saja terdiri dari enam juta orang. Anda bisa mencari dan melihat film apa saja disitu. Kebalikannya Anda juga bisa mengirimkan videoclip Anda untuk mejeng disana, siapa tahu bisa dapatkan tawaran untuk jadi bintang film di Hollywood maupun di TV, tanpa harus menggunakan koneksi maupun duit.

    YouTube ini bukan hanya untuk video saja melainkan juga untuk rekaman suara, jadi mereka yang ingin mejeng dengan suara nyanyiannya, khotbah, pidato, dongeng apa saja bisa dikirim dan disiarkan disitu jadi mirip studio radio untuk rekaman dan siaran pribadi tetapi pendengarnya ribuan. Hal yang serupa ditawarkan oleh www.podshow.com setiap bulannya sekitar 10 juta download.

    Bagi mereka yang ingin mencari pasangan hidup ataupun hanya sekedar sahabat bukan hanya kelas lokal saja melainkan Go Global dan international harus bergabung di www.ICQ.com murah dan gratisan. Mang Ucup juga terdaftar disini dengan ID nr: 240818411. Tempat mejeng lainnya dengan jumlah members hampir 100 juta orang adalah www.myspace.com ini lebih banyak digandrungi oleh anak-anak ABG.

    Perusahaan provider tsb diatas dimulai dengan modal dengkul yang mereka miliki pada awalnya hanya sekedar ide saja. Disamping itu perusahaan tsb semuanya adalah perusahaan yang barusan saja didirikan. Usianya belum juga tiga tahun, tetapi sudah bisa laku dijual dengan nilai puluhan juta AS$. Cobalah renungkan oleh Anda apa susahnya sih membuat situs dan berapa banyak modal yang dibutuhan untuk membuat situs jadi benar-benar sangat minim sekali. Disamping itu untuk ini tidak dibutuhkan karyawan yang berjibun. Myspace.com yang didirikan oleh dua orang pada bln Juli 2003 sudah laku terjual dengan nilai 580 juta AS$ dibeli oleh Rupert Murdoch. Begitu juga dengan flickr.com yang didirikan oleh pasangan Butterfield Fake pada bln Feb 2004 dalam jangka waktu SATU tahun saja sudah bisa dijual dengan nilai puluhan juta AS$ kepada Yahoo.

    Membumikan Wawasan Multikultural di Indonesia

    Agama, Pluralisme, dan Pancasila sebagai Habitus Baru

    Penulis : Benny Susetyo

    Pluralitas di Indonesia adalah berkah tak ternilai harganya dari Tuhan Yang Maha Kuasa. sayangnya, manusia sering salah menerjemahkan rahmat tersebut sehingga kerap menjadi bencana. Bukanlah Tuhan yang menganugerahkan bencana, melainkan manusia yang memiliki cara pandang sempit (miopik) yang sering menyelewengkan rahmat tersebut menjadi bencana. Agama dan keberagamaan merupakan tolok ukur dan pintu gerbang (avant garde) menilai bagaimana pandangan pluralitas ditegakkan. Bagaimana individu dan kelompok tertentu memandang individu dan kelompok lainnya. Semangat keberagamaan yang cenderung memuja fundamentalisme menjadi akar masalah serius seringnya pluralitas berpeluang menjadi bencana daripada rahmat.

    Keberagamaan yang demikian akan menjebak sense u-mat hanya kepada saudara-saudara seagama (in group feeling) dan menomorduakan saudara dari agama lain. Lahir sikap tidak objektif dalam memandang apa yang ada di luar agamanya. Lahirlah primordialisme sempit yang akan mengakibatkan berbagai konflik sosial politik dengan implikasi perang dan kekerasan antaragama yang mengatasnamakan agama. Tentu perlu disadari bahwa agama yang bersifat primordial akan selalu menegasikan aspek pluralitas. Selanjutnya, ini menghilangkan moralitas manusia yang paling asasi. Tentu perlu kita sadari fungsi agama adalah menolak segala macam sikap kebencian, balas dendam, kepicikan, pembunuhan, pemaksaan, perampokan, dan kerusuhan. Fungsi agama adalah mengembangkan sikap kebaikan, belas kasihan, solidaritas, persaudaraan universal tanpa membedakan asal-usul suku dan budaya, ras maupun gender. Agama tanpa fungsi semacam itu hanya akan melahirkan suatu pemujaan (cult) belaka.

    Agama dan Ancaman Konflik Sosial

    Agama diturunkan ke bumi ini untuk menciptakan kedamaian dan ketenteraman. Tidak pernah ada cita-cita agama manapun yang ingin membuat onar, membuat ketakutan, suasana mencekam, pembunuhan, sadisme dan perusakan. Sebelum adanya agama, masyaraka dibayangkan sebagai kelompok tak beraturan, suka berkonflik, saling membunuh, saling menjelekkan dan seterusnya. Kemudian agama datang untuk membawa cahaya kedamaian bagi manusia di bumi ini. Agama, dengan demikian harus kita sepakati terlebih dahulu, hadir untuk menciptakan ketenteraman, untuk saling menghormati dan memahami satu sama lain. Ada banyak agama dan kepercayaan di bumi ini. Logisnya, antaragama dan kepercayaan semestinya tumbuh sikap saling menghormati itu.

    Namun sayangnya, dari masa lalu hingga kini, suatu agama kerap memandang dirinya sebagai satu kebenaran tunggal dalam memotret agama lain, demikian pula dengan agama yang lain. Antaragama jarang menemukan titik temu atas realitas perbedaan yang sudah semestinya niscaya ini. Lalu terjadilah konflik yang berdarah-darah, pembunuhan korban tak bersalah atas nama agama. Sebagai pemeluk agama yang benar-benar memanifestasikan imannya untuk kedamaian di dunia, kita benar-benar dibuat sedih. Jika konflik atas nama agama dibenarkan, hilanglah nurani dan hakikat agama itu sendiri. Agama tak lagi menjadi payung perdamaian karena sudah mengalami politisasi dan fanatisme.

    Dialog antaragama dan komunikasi antariman dengan demikian, akan menjadi sesuatu yang amat berharga dalam rangka menyelesaikan konflik. Ia adalah suatu konsep di mana penghargaan pada masing- masing keyakinan menjadi poin utama. Logisnya, menganggap keyakinan sendiri paling benar adalah ketidakdewasaan menghadapi dan memahami hakikat atau substansi agama. Untuk membangun pergaulan agama-agama yang lebih manusiawi dan untuk meredam potensi-potensi kekerasan umat beragama yang bisa muncul dari klaim-klaim kebenaran sepihak itu, tampaknya jalan untuk mengatasinya adalah dengan memperluas pandangan inklusif (terbuka) dari visi religiusitas kaum beragama.

    Humanisme, Agama dan Politisasi

    Tidak bisa tidak, agar agama-agama mampu menghadapi tantangan masa depan yang berupa globalisasi, ia harus benar-benar bersifat humanistik serta terbuka. Artinya, ketika melakukan dialog perlu ditanamkan sebuah keyakinan bahwa kebenaran suatu agama adalah milik masing-masing pemeluknya.

    Sementara itu, penghargaan dan penghormatan atas agama lain adalah prioritas mutlak dalam mewujudkan kebersamaan dan perbedaan. Tanpa adanya sikap saling mengormati, tampaknya kita semakin terperosok pada keyakinan yang membabi-buta atas agama tertentu di alam yang plural ini. Dan, kita akan terjebak pada potensi-potensi kekerasan yang jelas-jelas menodai rasa kemanusiaan kita. Tugas penting agama- agama adalah bersama mencari makna kemanusiaan. Yang terjadi pada masyarakat kita selama ini adalah ketakutan mental, minimnya sikap saling menghormati dalam beragama. Ini bertentangan dengan nilai kemanusiaan dalam agama.

    Sikap agama terhadap masalah kemanusiaan, akan menjadi tolok ukur profetis agama di tengah masyarakat. Kehilangan fungsi profetis ini otomatis menghilangkan fungsi agama di tengah masyarakat. Bahkan, TH Sumartana almarhum (1996) mengatakan bahwa dalam diskursus kita tentang pertemuan antaragama, kita terpanggil bukan hanya untuk membuat agenda sosial politik dan lainnya. Tetapi setaraf dengan itu, kita harus mengedepankan sebuah agenda teologi sebagai kesatuan integral.

    Dengan demikian, tugas teologi dalam agama mestinya diarahkan untuk mengusir rasa takut terhadap agama lain. Sehingga agenda yang sangat mendesak adalah mengalahkan ketakutan bersama antar agama itu dan memunculkan kebersamaan agama-agama dalam menjaga dan mempertahankan martabat manusia dari ancaman terutama yang datang dari diri sendiri. Di masa Orba, kita sering merasa sedih karena agama selalu mengalami reduksi dan politisasi. Doktrin agama tentang kedamaian direduksi menjadi sebentuk fundamentalisme, yaitu hasil dari proses politisasi dan fanatisasi agama. Di masa itu pula kita memahami bahwa pereduksian agama akan melahirkan situasi di mana agama tertentu terjebak dalam konfrontasi dengan kelompok agama lain. Keberagamaan kita terjebak kepada bentuk formalisme beragama. Akibat yang memilukan adalah agama justru terasing dari persoalan kehidupan manusia. Mengapa demikian? Hal ini tak lain karena fungsi agama kabur. Agama yang seharusnya menjadi pembebas, malah terjebak pada aspek romantisme formal.

    Oleh karena itu, di sini penting mengutip pendapat JB Banawiratma (1996) bahwa dalam memandang agama kita perlu melihatnya dalam dua aspek, yakni dengan huruf kecil dan besar. Dalam "agama" (`a´ kecil) ajaran diberikan pada manusia untuk beriman kepada Tuhan yang memberi hidup, dan dalam "Agama" (`A´ besar) para pengikutnya cenderung membakukan ajaran-ajaran yang normatif, membangun institusi dan memperlakukannya secara ekstrim. Ini artinya agama yang ia yakini benar adalah benar untuk semua, dan agama yang lain salah.

    Beragama secara ekstrem sebagaimana di atas akan menutup peluang sikap saling menghormati dan membantu pihak lain. Jika kita runut ke belakang, ini terjadi akibat tafsir-tafsir atas teks agama yang masih didominasi tafsir tekstual, bukan kontekstual. Ayat suci agama tidak diorientasikan mengikuti perkembangan kemanusiaan, melainkan perkembangan kemanusiaan yang harus mengikuti aturan ayat suci. Akibatnya, pikiran kaum beragama menjadi beku dan rigid. Segala sesuatu yang konstruktif dan membawa perdamaian, tapi jika ditafsir secara berbalikan dengan teks ayat suci agama itu akan menjadi dekonstruktif.

    Sumber: Sinar Harapan, Sabtu 21 Januari 2006

    Menanggapi Temuan Ilmiah Modern

    Ilmu pengetahuan alam modern telah menghasilkan berbagai kesimpulan yang membuat kita lebih memahami alam semesta kita dan segala isinya ini. Namun banyak temuan itu tidak sejalan dengan narasi di Kitab Kejadian, misalnya: * Asal mula evolusioner mahluk-mahluk hidup.

    Semua ini bukan hanya keluar dari kepala begitu saja tetapi merupakan hasil kerja puluhan ribu orang yang menempuh jenjang-jenjang pendidikan yang berat, dalam jangka waktu puluhan bahkan lebih dari seratus tahun, melibatkan teknologi yang paling canggih, dengan biaya yang sangat besar. Sebagai contoh Hubble Space Telescope bernilai empat milyar dolar atau 40 triliun rupiah.

    Jika kita harus memahami semua temuan ini, maka pemahaman Alkitab, khususnya Kitab Kejadian, secara sepenuhnya literal (harfiah) tidak dapat dipertahankan lagi. Sikap dan pandangan GKI tentang ajaran Alkitab sebagaimana tertulis dalam buku Tata Gereja, Gereja Kristen Indonesia, 2003, hal.274, sungguh bijak dan tepat.

    Alkitab mempergunakan bentuk-bentuk dan unsur-unsur kemanusiaan dan kebudayaan pada lingkup sejarah tertentu, sehingga menampakkan adanya keterbatasan-keterbatasan tertentu. Alkitab ditulis oleh manusia dan dalam bahasa manusia. Di dalam penulisan itu manusia yang terbatas dibatasi oleh keterlibatannya pada budaya dan sejarah tertentu. Kita tahu budaya dan sejarah manusia berbeda-beda bukan saja coraknya, tetapi juga tingkat kemajuannya. Namun keterbatasan itu tidak mengurangi peranan Alkitab dalam kehidupan orang percaya.

    "Penulis-penulis Alkitab tetap tinggal manusia, yang hidup pada suatu masa dan dalam lingkungan tertentu. Mereka terikat pada pelbagai pandangan dan anggapan dari zaman dan lingkungannya. Mengenai "masalah-masalah ilmiah", mereka sudah berpikir sesuai dengan pendapat-pendapat di zaman dan lingkungannya, dan bergantung pada bahan-bahan yang tersedia bagi mereka (misalnya mengenai fakta-fakta sejarah)" (Niftrik dan Boland, Dogmatika Masa Kini, h. 298).

    Ilmu pengetahuan telah menunjukkan pada kita bahwa Allah jauh lebih besar dan dahsyat daripada yang kita pahami dari Kitab Kejadian.

    Mencari Pengetahuan

    Oleh: Nomi Br Sinulingga

    Amsal 1:7. "Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan."

    Perkembangan pengetahuan telah mengubah peradaban manusia. Pengetahuan mendorong manusia untuk mencari dan menemukan banyak hal-hal besar dalam sejarah. Mulai dengan James Watt menemukan mesin uap sampai saat ini, penemuan terus berlanjut. Sampai saat ini pengembangan nano chip untuk computer, mungkin setiap hari ada penemuan baru di Silicon Valley sana.

    Perkembangan pengetahuan memberikan dampak yang positif dalam hal memudahkan serta memberi kualitas dalam kehidupan manusia. Tetapi kita juga tidak boleh tutup mata bagaimana pengetahuan ini juga sering mengarah ke hal-hal yang negative dan bukan untuk kebaikan manusia tetapi mengeksploitasi manusia bahkan membawa kematian bagi manusia.

    Allah kita adalah Allah yang kreatif, ketika Dia menjadikan manusia dia membuatnya segambar dan serupa denganNya. Menjadi manusia yang kreatif dan berpengetahuan adalah juga termasuk dalam tujuan Allah ketika menjadikan manusia. Kemana arah pengetahuan manusia itu adalah menjadi hal yang sangat penting. Firman Tuhan mengatakan bahwa pengetahuan yang benar itu adalah ketika berpangkal pada takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan tertanam dalam hati manusia dengan baik.

    Sebagai orang Karo, kita memiliki semangat yang cukup tinggi untuk sekolah. Bahkan sejak dulu orang tua kita juga merasa kekayaan yang paling berharga adalah anak-anak yang berpendidikan. Orang tua ketika berkumpul tidak pernah membahas seluas apa tanah mereka, sebanyak apa harta benda yang telah dikumpulkan, tetapi sering sekali menanyakan anaknya sekolah dimana atau bekerja dimana. Ini adalah salah satu contoh dimana orang tua orang Karo pada umumnya sangat gigih dalam menyekolahkan anak-anaknya.

    Bagaimana dengan kita permata yang masih sekolah saat ini. Apakah kita mensyukuri kasih orang tua kita dalam menyekolahkan kita dengan belajar sungguh-sungguh? Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk mengecap pendidikan di bangku sekolah. Karena itu belajarlah sungguh-sungguh dan gunakan waktu yang ada dengan benar dalam pembelajaran. Belajar sungguh-sungguh berarti kita telah memenuhi keinginan Tuhan supaya anak-anakNya menjadi orang yang berpengetahuan. Belajar sungguh-sungguh berarti kita memenuhi harapan orang tua kita dan merupakan wujud terima kasih karena dukungan mereka dalam hidup kita. Belajar sungguh-sungguh berarti kita sedang menyiapkan masa depan kita sendiri dan yang pastinya akan memperbaiki sebagian kehidupan di masa mendatang.

    Di atas semua kebaikan yang diakibatkan oleh pembelajaran adalah kita harus menempatkan sebagai dasarnya “Takut Akan Tuhan”. Karena inilah yang akan memberi arah kemana pengetahuan yang kita miliki bisa kita kembangkan. Dan pengetahuan yang kita punya bisa mempengaruhi banyak orang juga supaya hidup takut akan Tuhan.

    Mencari Perdamaian

    Oleh : Yon Maryono

    Cara hidup yang teratur dalam sekelompok masyarakat beradab kuncinya adalah damai. Damai dalam konteks ini dimaknai sebagai keutuhan dan keselarasan dalam hubungan antar manusia maupun dengan lingkungan. Perdamaian yang tercipta antara lain ditandai dengan kesepakatan akan berlakunya aturan perundangan atau aturan hukum yang harus ditaati bersama. Pengabaian terhadap aturan yang disepakati akan menggeser nilai, perilaku atau tata krama kearah hidup masyarakat yang tidak teratur. Banyak kita lihat konflik antar kelompok, suku, ras dan agama di belahan dunia mengarah kekerasan, keganasan bahkan dikuatirkan menuju kehidupan masyarakat yang biadab. Aturan ditafsirkan menurut keinginan kelompok sehingga kebenaran dan keadilan tidak ada tempat bagi kelompok kecil yang dianggap lemah. Pemerintah yang seharusnya menjalankan peraturan perundangan untuk mengatur, menjaga dan melindungi rakyatnya dari pelanggaran hak azazi manusia terkesan membiarkan atau belum mampu mengendalikan. Hal ini bermakna Pemerintah berperan aktif terhadap suburnya intoleransi

    Sebagai umat percaya, yang mewarisi nilai damai sejahtera dalam Kristus, Pencarian suasana damai dalam menghadapi konflik, teraniaya bahkan sampai menyerahkan nyawa oleh karena kesaksian iman dalam Kristus adalah perintah Allah, Bapa di Sorga. Para martir Kristen mula-mula, seperti Stefanus, Yakobus, Philipus, Matius, Paulus, Petrus dsb. kematian mereka telah menjadi symbol ketabahan, kesucian, kesederhanaan, kesetiaan dan kasih abadi untuk wujudkan suasana damai dengan Allah dan sesama. Tidak berarti suasana penganiayaan itu tidak terjadi zaman sekarang. Menurut Open Doors, negara dengan tingkat penganiayaan terhadap orang Kristen tertinggi adalah Korea Utara. Semua kegiatan keagamaan dilihat sebagai pemberontakan terhadap prinsip-prinsip sosialis Korea Utara (Wikipedia)

    Satu contoh, keteladanan dalam mencari perdamaian ketika menghadapi penganiayaan telah ditunjukan oleh para rasul seperti Rasul Petrus. Ia disalibkan saat Kekaisaran Roma diperintah Kaisar Nero Claudius Caesar Augustus Germanicus (54-68M) yang kekuasaannya sering berhubungan dengan tirani dan kekejaman terhadap orang Kristen. Justru, pada suasana tertekan dan dianiaya itu, Rasul Petrus menunjukan sikap kasih untuk mencari damai. Ia menulis suratnya kepada jemaat pengikut Yesus: hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati, dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat ... mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya. ( 1 Pet 3: 8-9, 11). Inilah ajaran kasih yang sejati, kasih yang lemah lembut yang mengajarkan bagaimana umat percaya bersikap mencegah dan menghadapi konflik untuk mendapatkan kedamaian. Kedamaian harus dicari dan diusahakan. Maknanya, Suasana damai tidak harus menunggu konflik datang baru berusaha mencari perdamaian, tetapi pengikut Kristus harus mencegah supaya tidak terjadi konflik melalui tindakan kasih dan damai.

    Tetapi orang sering mengidentikkan sikap lembut dianggap sebagai sikap lemah dalam mencari perdamaian karena gampang diinjak-injak. Ajaran Yesus menegaskan untuk bersikap lemah lembut, karena pembalasan atau penghakiman adalah hak Tuhan. Orang yang lemah lembut adalah tegas tetapi bijaksana. Ia sanggup untuk berurusan dengan sesama, lingkungan masyarakat tanpa perlu menyakiti atau menyinggung perasaan orang lain. Orang bijaksana adalah orang yang dapat mengendalikan dirinya.

    Semoga, kita sebagai pengikut Kristus dimampukan untuk melaksanakan amanat mencari perdamaian yang bersumber dari Kristus sehingga mampu menjadi anggota masyarakat yang selalu memelihara perilaku yang beradab, sopan santun berbudaya tinggi, baik dalam menghadapi sesama manusia, atau alam lainnya di tengah bangsa Indonesia yang multi dimensi. Tuhan memberkati.

    Mengalami Transformasi Hidup

    Oleh: Samuel T. Gunawan

    “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna“ (Roma 12:2)

    PROLOG

    Beberapa tahun terakhir ini kata “transformasi” menjadi trend dan sedang “naik daun”, dibicarakan di kalangan orang Kristen. Di Indonesia transformasi merupakan suatu hal yang sangat diharapkan terjadi. Saat ini, kita mengharapkan suatu perubahan (transformasi) ke arah yang lebih baik terjadi atas keluarga, lingkungan, kota dan bangsa kita. Gereja adalah alat atau agen transformasinya Allah, dan Allah sendirilah “Sang Transformator” itu. Kita dapat mengharapkan bahwa gereja akan menjadi suatu eksponen masyarakat yang berpengaruh bagi kota dan bangsanya. Gereja benar-benar akan menjadi garam dunia, terang dunia, dan sebuah kota di atas bukit (Matius 5:13,14).

    Orang Kristen perlu menyadari bahwa melalui diri mereka Allah inginkan terjadi perubahan atau transformasi. Roma 12:2 merupakan kunci dari transformasi sejati yang harus dialami oleh orang Kristen untuk dapat menjangkau dan mempengaruhi komunitas lingkungan dimana mereka berada. Paulus mengatakan agar orang percaya “jangan serupa dengan dunia” (Roma 12:2), tetapi sebaliknya “menjadi serupa dengan Kristus” (2 Korintus 3:18). Supaya tidak serupa dengan dunia, tetapi serupa dengan Kristus, menjadi garam dan terang dunia, maka kita perlu mengalami transformasi hidup.

    APAKAH “TRANSFORMASI HIDUP” ITU?

    Yang dimaksud dengan transformasi hidup adalah perubahan, baik yang bersifat radikal (seketika) maupun progresif (bertahap) , yang diperlukan untuk memampukan manusia yang telah jatuh ke dalam dosa untuk dapat kembali melakukan hal yang benar menurut pandangan Tuhan. Kata “transformasi” berasal dari dua kata dasar yaitu “trans” dan “form”. Trans berarti dari sisi satu kesisi lainnya (across) atau melampaui (beyond). Form disini berarti bentuk. Transformasi berarti perubahan bentuk yang lebih dari atau melampaui perubahan bungkus luar saja. Jadi, pada dasarnya transformasi berarti perubahan bentuk. Dalam Roma 12:2, kata ‘berubahlah’ yang dipakai oleh Paulus adalah kata Yunani ‘metamorphoo’ yang berarti perubahan rupa atau bentuk. 2 Kata Yunani untuk “hidup” adalah “bios” dan “zoe”. Kata bios digunakan untuk menunjukkan bentuk kehidupan yang dimiliki setiap orang, yaitu kehidupan biologi yang dipertahankan dengan makanan, udara, dan air, tetapi pda akhirnya berkahir dengan kematian. Sedangkan kata zoe digunakan untuk menunjukkan kehidupan rohani, yaitu jenis kehidupan yang diberikan Allah dan bersifat kekal ketika seseorang dilahirkan kembali (lahir baru). Kedua jenis hidup ini berbeda satu dengan lainnya. Bios bersifat sementara dan fana, sedangkan zoe bersifat permanen dan kekal. Bios bersifat berpusat pada diri sendiri, sedangkan zoe berpusat pada Allah dan pada orang lain. 3

    TIGA TINGKAT DARI PENGALAMAN TRANSFORMASI HIDUP

    Intitesis saya tentang transformasi bertitiktolak dari Roma 12:2. Sesungguhnya ayat ini merupakan kunci dari transformasi dan menunjuk 3 (tiga) tingkat transformasi yang perlu dialami umat Tuhan, yaitu position transformation, behavior transformation, dan community transformation. Pertama dan kedua bersifat internal yaitu berada dalam setiap percaya, sedang yang ketiga bersifat eksternal yaitu sebagai akibat dari transformasi internal.

    1. Transformasi Posisi (Position Transformation)
    Inilah transformasi tingkat pertama, yang terjadi ketika seseorang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus.4 Transformasi ini terjadi secara seketika yang dalam Soteriologi disebut kata Yunani “palingenesia” yang artinya “pembaharuan, kelahiran kembali, lahir baru, atau regenerasi”. 5 Paulus menyebutnya dengan istilah “ciptaan baru” (2 Korintus 5:17). Pada tingkat ini secara judikal seseorang mengalami perubahan status atau posisi dari orang berdosa menjadi orang benar, dari musuh Allah menjadi anak Allah, dari orang yang mengalami kematian kekal menjadi mendapat hidup yang kekal, dari orang yang terkutuk menjadi orang yang diberkati, dari penyembah berhala menjadi penyembah Allah yang hidup dan benar. Sehingga sekalipun “masih berada dalam dunia tetapi bukan berasal dari dunia” karena telah menjadi warga kerajaan Allah.

    2. Transformasi Perilaku (Behavior Transformation)
    Transformasi perilaku ini diawali oleh transformasi pikiran, yang Paulus sebut sebagai “pembaharuan budi”. Yang dimaksud dengan perilaku (behavior) ialah karakter, sikap, perbuatan atau tindakan seseorang yang dapat dilihat (visible), diamati (observable), dan dapat diukur (measurable). Berbeda dengan transformasi posisi yang terjadi secara seketika, maka transformasi perilaku terjadi secara bertahap sebagai suatu proses. Alkitab menyebutnya dengan istilah “pengudusan” yang dinamis.6 Paulus mengatakan “..karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya” (Kolose 3:9-10). Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa setelah lahir baru kita harus terus menerus mengalami proses pengudusan mencakup pengudusan pikiran, kehendak, emosi, dan hati nurani; pengudusan sifat-sifat maupun perilaku kita.7 Selanjutnya, Paulus menasehati “berubahlah oleh pembaharuan budimu’. Kata Yunani “nous” yang digunakan disini berarti “akal budi atau pikiran”. Pembaharuan nous adalah syarat untuk bisa mengenal dan melakukan kehendak Allah. Apa yang diyakini oleh pikiran (nous) akan mempengaruhi perilaku (behavior) seseorang (Roma 14:1-8). Pembaharuan akal budi (nous) akan menghasilkan hidup kudus. Dengan demikian pengalaman transformasi perilaku atau tindakan adalah hasil dari pembaharuan akal budi.8 Paulus dalam Efesus 4:17-32, berbicara tentang transformasi perilaku setelah sebelumnya mengalami transformasi posisi. Disini terlihat, terjadi perubahan dari yang tidak baik menjadi baik, dari perilaku negatif ke perilaku positif. 9

    Transformasi pada tingkat ini juga sangat berkaitan dengan pertumbuhan rohani seseorang sejak pengalaman regenerasi hingga dewasa rohani. Orang percaya perlu bertumbuh secara rohani. Agar kerohanian bertumbuh secara normal seseorang harus melakukan tiga hal yaitu: makan, minum dan latihan. Ketiganya merupakan sesuatu yang harus ada sejak pengalaman regenerasi hingga dewasa. Tuhan tidak ingin anak-anakNya mengalami stagnansi atau berhenti pertumbuhannya. Hal-hal yang dapat membantu pertumbuhan rohani kita antara lain : Firman Tuhan, adalah makanan dan minuman rohani bagi orang percaya yang memberi pertumbuhan dan pengertian (Mazmur 119:105,130). Ibadah dan doa kepada Tuhan harus menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidup kita, untuk itu diperlukan latihan dan disiplin diri. Bahkan, masalah-masalah yang kita hadapi sehari-hari dapat dipakai Allah sebagai sarana untuk melatih kita menjadi orang Kristen yang dewasa dan kuat.10

    Dibutuhkan suatu usaha, tekad dan kemauan yang kuat untuk menunjukkan karakter yang sudah dikuduskan dan buah-buah yang baik dalam hidup kita sehari-hari. Roh Kudus yang membaharui akan memberi kemampuan kepada orang Kristen yang bersungguh-sungguh. Karena itu setiap orang Kristen dituntut untuk penuh dengan Roh Kudus (Efesus 5:18).11 Kepenuhan Roh Kudus merupakan suatu pengalaman yang harus terus menerus diulang selama hidup orang percaya, dan dipertahankan agar jangan sampai hilang atau padam. Namun jika hilang masih dapat ditemukan kembali, jika padam masih dapat dinyalakan lagi (Efesus 5:18; 1 Tesalonika 5:19). Untuk hidup dalam Roh maka orang percaya harus taat sepenuhnya kepada pimpinan Roh Kudus dalam hidup mereka (Galatia 5:25). Kehidupan dalam Roh adalah bagaimana cara kita mengikuti dan respon pada pimpinan Roh dan taat kepada apa yang dikehendakiNya. Untuk taat kepada Roh Kudus dibutuhkan iman dan penyerahan diri sepenuhnya.

    3. Transformasi komunitas (Community Transformation)
    Transformasi komunitas ini terjadi karena kehadiran orang percaya. Komunitas ialah lingkungan hidup tempat dimana seseorang berinteraksi dengan orang lain. Dalam berinteraksi akan ada “saling mempengaruhi” yang bersifat negatif ataupun positif. Kehadiran orang Kristen dikomunitasnya seharusnya memberi nilai yang positif dan menjadi berkat, karena untuk itulah kita dipanggil dan dipilih. Orang Kristen dapat menjadi agen perubahan di komunitas mereka. Tuhan menghendaki anak-anakNya menjadi orang yang berpengaruh di komunitas mereka karena “mereka semakin serupa dengan Kristus dan bukannya menjadi serupa dengan dunia” (2 Korintus 3:18; Roma 12:2). Urutannya harus benar, bukan lingkungan dulu yang berubah, melainkan diri kita dan perilaku kita, kemudian terjadi perubahan lingkungan kita. Dengan cara demikian kita telah memenuhi fungsi kita sebagai “garam” dan “terang dunia” dan lingkungan akan merasakan pengaruh dari fungsi kedua metofora tersebut (Matius 5:13,14).12 Pengaruh garam yang mencegah pembusukan pada daging dan memberi rasa pada masakan; serta terang memberi pengaruh terhadap gelap sehingga gelap menjadi sirna karena kehadiran terang, demikianlah kehadiran orang percaya memberi pengaruh yang baik bagi lingkungannya.

    Kita perlu menjadi orang Kristen dengan paradigma yang baru, dan meninggalkan paradigma lama. Orang Kristen dengan paradigma lama memisahkan kehidupan gereja dari kehidupan di dunia sekuler. Yang sakral dan yang sekuler dipisahkan. Paling jauh, gereja mempengaruhi ”dunia sekuler” dalam beberapa bidang pelayanan, contohnya membuka kebaktian atau pelayanan untuk kaum pengusaha dan profesional. Tetapi orang Kristen dengan paradigma baru adalah orang Kristen yang mewarnai bumi dan memberikan pengaruh kuat. Allah memberikan sebuah tujuan kepada gerejaNya yaitu menghadirkan kerajaan Allah dalam setiap aspek kehidupan di dunia. Allah ingin setiap orang percaya bergabung ke dalam misi-Nya untuk memperlebar kuasa kerajaan-Nya di negara atau kota dimana ia berada.

    Setiap bangsa memiliki pilar-pilar yang menopang masyarakatnya dan yang sangat mempengaruhi kehidupan rakyatnya untuk menjadi lebih baik atau lebih buruk. Berikut ini pilar-pilar yang yang didalam orang Kristen harus menjadi garam dan terang: Pemerintahan. Eksekutif, legislatif, yudikatif; Hukum dan Politik. Politik nasional dan lokal, administrasi, perundang-undangan, sidang pengadilan, dan penjara, dan lain-lain; Keluarga. Pernikahan, rumah tangga, family; Media. Wartawan, radio, majalah, aktris, aktor, Televisi; Seni dan budaya. Musik, penulis lagu, lukisan, karya tulis, puisi, ukir, patung dan dekorasi, dan lain-lain; Hiburan. Kaset, CD, video, teater, bioskop, tempat-tempat berlibur; Olah raga. Bulu tangkis, sepak bola, renang, volly ball, dan lain-lain; Spiritualitas. Keyakinan, gereja, mesjid, kuil, patung dan takhyul, agama-agama suku dan lainnya; Pendidikan. Play group, PAUD, taman kanak-kanak dan SD sampai Sekolah Menengah dan Universitas serta Lembaga-lembaga Kursus lainnya; Bisnis dan ekonomi. Sarana perdagangan, bank, pasar modal dan tempat usaha; Ilmu dan Teknologi. Komputer, internet, dan lain-lain; Sosial. pengobatan, rumah sakit, kepeduliaan kepada orang miskin, tuna wisma, dan yatim piatu, lembaga swadaya masyarakat.13

    PERTOBATAN: KUNCI KEPADA TRANSFORMASI KOMUNITAS

    Satu pertanyaan logis muncul: “Mengapa transformasi belum terjadi, terhambat atau tertunda?” Salah satu kuncinya terletak pada sikap di dalam diri orang-orang Kristen itu sendiri. Orang-orang Kristen yang sudah satu dalam Kristus harus bersekutu (Efesus 4:2). Secara de jure Gereja telah bersatu dalam Roh, tetapi secara de facto gereja harus mengusahakan/memelihara persatuan dengan ikatan damai sejahtera”. Persatuan perlu dipelihara melalui persekutuan. Untuk memelihara persatuan itu maka orang-orang percaya dari aspek positif harus memiliki sikap sabar, ramah, lemah lembut, penuh kasih dan dari aspek negatif harus membuang segala perkataan dusta dan kotor, kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertengkaran dan fitnah (termasuk gosip) dari hidup mereka (Efesus 4:17-32). Maka sejak awal sudah ditekankan pada transformasi posisi dan transformasi perilaku untuk mewujudkan transformasi dikomunitas kita. Kini, tiba waktunya bagi kita dengan berjiwa besar untuk mengeluarkan ”balok di mata sendiri” sehingga kemudian dapat menolong mengeluarkan “selumbar dimata orang lain” (Matius 7:1-5).

    Dalam Yohanes 17:22,23, Tuhan Yesus telah berkata : “Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepadaKu, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu : Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempuna menjadi satu, agar dunia tahu bahwa Engkau yang telah mengutus Aku ...”. Menginterpretasikan ayat tersebut maka jelas bahwa Yesus telah memberikan kemuliaanNya kepada para muridNya dan juga kepada orang-orang percaya, karena sebelumnya Yesus telah berkata : “Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang yang percaya kepadaKu oleh pemberitaan mereka” (Yohanes 17:20). Akibat dari kemuliaan yang diberikan tersebut orang percaya menjadi satu. Kemuliaan Tuhan Yesus yang diberikan kepada tubuhNya inilah yang dilihat oleh dunia sehingga mereka percaya (Yohanes 17:21,23). 14

    Alasan eklesiologis mengapa dunia belum percaya kepada Yesus adalah karena mereka belum melihat kemuliaan Kristus di dalam orang-orang Kristen. Padahal kemuliaan tersebut sudah diberikan oleh Kristus dan ada pada gereja, tetapi kemuliaan tersebut “terselubung” oleh sikap atau cara hidup yang tidak memuliakan Kristus. Supaya dunia dapat melihat kemuliaan Kristus di dalam atau melalui orang Kristen maka “selubung itu harus diangkat dan dibuang” dengan cara bertobat dari sikap atau cara-cara hidup yang keliru.15 Paulus dalam 2 Korintus 3:16,18 berkata : “ Tetapi apabila hati seseorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya. … Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak terselubung ...”. Bertobat disini berarti berbalik dari cara-cara hidup atau sikap hati dan tindakan yang salah atau keliru bahkan dari pola pikir yang keliru, kepada yang benar seperti yang dikehendaki oleh Tuhan, yaitu yang baik, kudus dan yang berkenan kepadaNya (Roma 12:2). Dengan demikian kemuliaan Tuhan dalam hidup kita dapat dilihat terlihat dan kita benar-benar menjadi “kota di atas bukit” yang tidak mungkin tersembunyi (Matius 5:14b).

    Pertobatan adalah langkah awal dari transformasi dalam hidup kita. Masih ada hal-hal selanjutnya yang perlu kita kerjakan, yaitu: mengenal dan melakukan kehendak Tuhan (Roma 12:2); Bertumbuh di dalam pengetahuan dan pengertian firman Tuhan (Mazmur 1, 119); Hidup meneladani ajaran dan kehidupan Kristus (Ibrani 12:2; 1 Yohanes 2:6); Memiliki kerendahan hati, pikiran dan keinginan dalam mempelajari apa yang telah diajarkan oleh Roh kepada orang lain di sepanjang sejarah (Ibrani 13:17); Hiduplah penuh Roh Kudus dan dipimpin oleh Roh Kudus. (Yohanes 14:26; Galatia 5:16,25).

    TUJUAN TRANSFORMASI HIDUP ADALAH KEMULIAAN TUHAN

    Segala sesuatu adalah bagi kemuliaanTuhan (Roma 11:36; Kolose 1:16). Tujuan utama alam semesta adalah menunjukkan kemuliaan Tuhan. Itulah alasan bagi segala sesuatu yang ada termasuk manusia. Tuhan menjadikan segala sesuatu bagi kemuliaanNya. Tanpa kemuliaan Tuhan tidak akan ada apapun. Penciptaan dari dunia ini dirancang untuk menyatakan kemuliaan Tuhan (Mazmur 19:2); Tindakan Tuhan yang berdaulat dimana Ia menetapkan orang percaya untuk diselamatkan adalah untuk memuji kemuliaan anugerahNya (Efesus 1:4-6,11-12). Tuhan dimuliakan dalam pernyataan dari anugerah yang tidak bersyarat (unconditional grace) seperti yang tertulis dalam Roma 9:23; Wahyu 4:11. Itulah sebabnya tidak keliru untuk beranggapan bahwa kesatuan tema dari Kitab suci adalah kemuliaan Allah. Paulus berkata “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya” (Roma 11:36).

    1. Apakah kemuliaan Allah itu?
    Kemuliaan Allah adalah keberadaan Allah yaitu hakikat dari sifat, luas pengaruhNya, pancaran kemegahanNya, demonstrasi kuasaNya dan suasana kehadiranNya. Kemuliaan Allah adalah ekspresi dari kebaikanNya dan dari semua sifat kekal hakikiNya yang lain. Kemuliaan yang bersifat melekat pada Allah ialah apa yang Dia miliki karena Dia Allah. Itulah sifatNya. Kita tidak bisa menambah apapun pada kemuliaanNya, sama seperti mustahil bagi kita untuk membuat matahari bersinar lebih terang. Tetapi kita diperintahkan untuk mengenali, menghormati, menyatakan, memuji, mencerminkan kemuliaanNya dan hidup bagi kemuliaanNya (1 Tawarikh 16:24; Mazmur 29:1; 66:2; 96:7; 2 Korintus 3:18; Wahyu 4:11).

    2. Bagaimanakah kita memuliakan Allah?
    Ada banyak cara untuk mendatangkan kemuliaan bagi Tuhan : Pertama, kita memuliakan Tuhan dengan menjadi seperti Kristus. Begitu kita dilahirkan dalam keluarga Allah (regenerasi), Dia ingin kita bertumbuh menuju kedewasaan rohani. Kedewasaan rohani adalah menjadi serupa dengan Kristus dalam cara kita berpikir, merasa, dan bertindak (2 Korintus 3:18). Kedua, kita memuliakan Tuhan dengan menjadi anggota gereja lokal yang aktif. Ketika kita dilahirkan kembali, kita menjadi bagian dari keluaga Allah bukan hanya gereja universal tetapi juga gereja lokal. Mengikut Kristus bukan sekedar masalah percaya, tetapi juga menjadi anggota dan belajar untuk mengasihi anggota keluarga Allah di gereja lokal (Roma 15:7; 1 Yohanes 3:14). Ketiga, kita memuliakan Tuhan dengan cara melayani orang lain dengan karunia-karunia kita. Setiap kita dirancang secara unik dengan bakat, talenta, karunia, keahlian dan kemampuan. Semuanya itu diberikan Allah. Keempat, kita memuliakan Tuhan dengan memberitakan kepada orang lain tentang Kristus. Merupakan hak istimewa bagi kita untuk membawa orang lain kepada Kristus dan membantu mereka menemukan tujuan mereka, serta mempersiapkan mereka untuk menghadapi kehidupan kekal ( 2 Korintus 4:19). Kelima, kita memuliakan Tuhan dengan menjadi penyembah Tuhan dan melayani Dia. Menyembah dan melayani Tuhan adalah tanggungjawab pertama dan terutama kita kepada Tuhan. Ia ingin agar penyembahan dan pelayanan kita kepadNya dimotivasi oleh kasih, ucapan syukur dan sukacita bukan sekedar kewajiban atau rutinitas belaka. Menyembah dan melayani Tuhan adalah gaya hidup yang menikmati Tuhan, mengasihiNya, dan memberi diri kita untuk dipakai bagi tujuan-tujuanNya (Roma 6:13).

    EPILOG

    Kisah bangsa Israel dalam Perjanjian Lama, memberi gambaran menarik tentang hal ini. Saat bangsa Israel baik-baik mendengarkan suara Tuhan Allah dan melakukan dengan setia segala perintahNya, maka mereka akan mengalami hidup yang diberkati sesuai dengan janji Tuhan (Ulangan 28:1-14).16 Tetapi, saat mereka menolak untuk mendengarkan suara Tuhan Allah, tidak melakukan dengan setia segala ketetapan dan perintahNya maka mereka akan mengalami hidup yang terkutuk (Ulangan 28:15-45). Sikap hati dan cara hidup mereka sehari-hari yang sesuai dengan kehendak Tuhan, berpengaruh positif atas kehidupan mereka. Bila hidup mereka berkenan kepada Tuhan, maka tidak hanya diri mereka yang diberkati tetapi keturunan mereka, kota dimana mereka berada, hasil pertanian, perkebunan, ternak, dan sebagainya mengalami berkat juga. Inilah azas dan prinsip transformasi dimana Tuhan menyatakan kemuliaanNya melalui umatNya. Azas dan prinsip tersebut masih berlaku juga bagi kehidupan Kristen dan gereja masa kini yang mengharapkan terjadinya transformasi atas keluarga, lingkungan, kota bahkan negara dan bangsanya. Saat ini, belum terlambat, kita masih dapat mengharapkan hal-hal seperti ini terjadi dalam hidup kita dan lingkungan kita. Gereja mula-mula telah mencerminkan kemuliaan kristus dalam hidup mereka sehari-hari, dalam hal kasih dan berbagi apa yang dipunyai. Alkitab mengatakan : “Mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambahkan jumlah mereka dengan orang-orang yang diselamatkan” (Kisah 2:47).

    Saat saya berusia 10 tahun, saya pernah mendengar seorang pengkhotbah menceritakan sebuah ilustrasi dalam khotbahnya. Seingat saya kisahnya kira-kira begini: Ada seorang pendeta yang sedang ”sibuk” mempersiapkan khotbah untuk disampaikan kepada jemaat pada Minggu pagi. Pendeta tersebut mempunyai seorang anak yang berumur kira-kira 6 tahun, berada di dekatnya dan “mengganggu” pendeta tersebut sehingga tidak dapat berkonsentrasi dalam mempersiapkan khotbah. Ia mulai berpikir bagaimana supaya anaknya tidak ribut dan sibuk di dekatnya. Akhirnya ia mendapat ide ketika melihat selembar kertas bergambar peta dunia. Pendeta tersebut memanggil anaknya dan berkata: “Anakku, lihatlah gambar ini, ayah akan merobeknya menjadi beberapa bagian, kemudian engkau boleh menyusunnya kembali. Apabila selesai bawalah kemari maka ayah akan memberi hadiah kepadamu.” Mendengar akan diberi hadiah anak tersebut dengan asyik segera menyusun ‘permainan puzzle’ tersebut.

    Sementara itu, dalam hatinya pendeta ini berpikir tentunya sulit bagi anak yang berumur 6 tahun untuk menyusun kembali robekan-robekan kertas yang bergambar peta dunia, sehingga ada cukup waktu baginya untuk mempersiapkan khotbahnya tanpa merasa terganggu. Tetapi beberapa menit kemudian terdengar anaknya memanggil: “Ayah sudah selesai, cobalah lihat kemari!”. Alangkah herannya pendeta tersebut ketika melihat potongan-potongan kertas yang bergambar peta dunia tersebut telah tersusun seperti semula. Dalam keheranannya ia bertanya: “Bagaimanakah engkau dapat mengerjakan secepat itu ?” Dengan polos anaknya berkata: “aku melihat ada gambar manusia pada potongan-potongan kertas itu lalu menyusunnya dan jadilah seperti ini.” Ternyata di bagian belakang gambar peta dunia tersebut ada gambar seorang manusia. Jadi, gambar manusia itulah yang disusun oleh anak tersebut sehingga peta dunia yang berada di belakangnya ikut tersusun juga. Pada saat itu pendeta itu berpikir dan Roh Tuhan mengajarkan sesuatu kepadanya tentang apa yang harus dikhotbahkannya besok pagi yaitu: Apabila ingin melihat dunia yang telah tercabik-cabik terbentuk kembali, maka bentuklah manusianya lebih dahulu.” Amin!
     
    CATATAN TAMBAHAN:

    Penulis adalah teolog Protestan-Kharismatik, Pendeta di GBAP Jemaat El Shaddai; Pengajar di STT IKAT dan STT Lainnya. Mendapatkan gelar S.E dari UNPAR; S.Th M.Th dari STT-ITC Trinity. Setelah mempelajari Alkitab lebih dari 15 tahun menyimpulkan tiga keyakinannya terhadap Alkitab yaitu : 1) Alkitab berasal dari Allah. Ini mengkonfirmasikan kembali bahwa Alkitab adalah wahyu Allah yang tanpa kesalahan dan Alkitab diinspirasikan Allah; 2) Alkitab dapat dimengerti dan dapat dipahami oleh pikiran manusia dengan cara yang rasional melalui iluminasi Roh Kudus; dan 3) Alkitab dapat dijelaskan dengan cara yang teratur dan sistematis.
    2 Kata metamorphoo ini dipakai juga untuk menunjukkan proses perubahan yang terjadi pada kupu-kupu. Proses itu adalah demikian : dari telur menjadi ulat, dari ulat menjadi kepompong, dari kepompong menjadi seekor kupu-kupu. Kupu-kupu ini disebut jenis hewan metamorfosis karena mengalami proses perubahan bentuk.
    3 “Bios, pasti memiliki kemiripan tertentu yang merupakan bayang-bayang atau simbol dari zoe; tetapi hanya jenis kemiripan yang ada antara sebuah foto dengan sebuah tempat sebenaranya, atau antara sebuah patung dengan seorang manusia. Seorang manusia yang berubah dari memiliki bios menjadi memiliki zoe pasti akan mengamai perubahan besar seperti sebuah patung yang berubah dari sebuah batu yang dipahat menjadi manusia yang riil” (Lewis, C.S., 2006. Mere Christianity. Terjemahan, Penerbit Pionir Jaya, hal. 223).
    4 Akibat dari dosa pertama Adam dan Hawa, citra Allah dalam diri manusia telah tercorereng dan mengakibatkan dosa masuk dan menjalar kepada setiap manusia (Roma 3:10-12, 23; 5:12). Adam dan Hawa telah membuat dosa menjadi aktual pada saat pertama kalinya di Taman Eden, sejak saat itu natur dosa telah diwariskan kepada semua manusia (Roma 5:12; 1 Korintus 15:22). Manusia telah rusak total (total depravity). Yang dimaksud dengan kerusakan total bukanlah berarti (1) bahwa setiap orang telah menunjukkan kerusakannya secara keseluruhan dalam perbuatan, (2) bahwa orang berdosa tidak lagi memiliki hati nurani dan dorongan alamiah untuk berhubungan dengan Allah, (3) bahwa orang berdosa akan selalu menuruti setiap bentuk dosa, dan (4) bahwa orang berdosa tidak lagi mampu melakukan hal-hal yang baik dalam pandangan Allah maupun manusia. Yang dimaksud dengan kerusakan total adalah (1) kerusakan akibat dosa asal menjangkau setiap aspek natur dan kemampuan manusia: termasuk rasio, hati nurani, kehendak, hati, emosinya dan keberadaannya secara menyeluruh (2 Korintus 4:4, 1Timotius 4:2; Roma 1:28; Efesus 4:18; Titus 1:15), dan (2) secara natur, tidak ada sesuatu dalam diri manusia yang membuatnya layak untuk berhadapan dengan Allah yang benar (Roma 3:10-12).
    5 Pengalaman keselamatan, dari sisi karya Allah Roh Kudus adalah pengalaman kelahiran baru (regenerasi). Dari sisi manusia disebut konversi (perpalingan) yang terdiri dari pertobatan dan percaya. Peristiwa ini terjadi saat Roh Kudus membaptiskan orang percaya ke dalam Tubuh Kristus (1 Korintus 12:13).
    6 Alkitab menunjukkan tiga aspek pengudusan yang dihubungkan dengan waktu pengudusan, yaitu: (1) Pengudusan Awal, disebut juga pengudusan posisi atau judikal yang terjadi secara seketika pada saat kelahiran kembali oleh Roh Kudus (1 Korintus 1:2; 6:11; Ibrani 2:11). Dalam hal ini kekudusan Kristus diperhitungkan kepada seseorang pada saat ia percaya. (2) Pengudusan Pengalaman, yang disebut juga pengudusan progresif atau pengudusan yang dinamis, merupakan suatu proses yang terjadi terus menerus. Jadi pengudusan dapat dilihat sebagai seketika dan juga sebagai proses. Itulah sebabnya orang percaya, setelah dikuduskan harus hidup dalam kehidupan yang kudus setiap hari (1 Tesalonika 5:23; Ibrani 10:14; 2 Petrus 3:18). (3) Pengudusan akhir atau lengkap, merupakan pengudusan penyempurnaan yang terjadi pada saat Yesus Kristus datang kembali untuk menjemput GerejaNya. Pada saat itu segala ketidaksempurnaan kita dan akar dosa dihapuskan dari tubuh orang percaya (1 Tesalonika 3:13; 5:23,24; Ibrani 6:1,2).
    7Tujuan akhir dari proses pengudusan yang dinamis ini yang melibatkan kuasa Roh Kudus dan firman Allah adalah agar diri kira diubah menjadi serupa dengan gambar Kristus, Khalik atau Pencipta kita. Hal ini karena pada mulanya manusia diciptakan menurut rupa dan gambar Allah. Kita diubah terus menerus sampai pikiran dan perasaan kita menjadi sama dengan pikiran dan perasaan Kristus (Filipi 2:5).
    8 Contoh nyata dari perubahan perilaku ini misalnya: Dahulu mencuri sekarang tidak lagi, dahulu pemarah sekarang penyabar, dahulu pembuat pertengkaran sekarang menjadi pembawa damai, dahulu penipu sekarang jujur, dahulu suka gosip dan fitnah sekarang tidak lagi.
    9 Standar moral dan ukuran kelakuan manusia seharusnya ditetapkan oleh Tuhan Penciptanya. Standar ini adalah "gambar Allah". Segala sesuatu yang "kehilangan kemuliaan Allah" adalah "dosa" (Roma 3:23). Sebagai orang Kristen, kita diperintahkan: "Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah" (1 Korintus 10:31). Maka standar moral yang benar adalah kelakuan yang sesuai dengan kehendak Tuhan dan memuliakan kemuliaan-Nya.
    10 Sangat perlu bagi seorang percaya menjadi anggota suatu gereja lokal dan berkomitmen di sana karena : 1. Dengan terikat dalam suatu gereja lokal menunjukkan kesungguhan sebagai orang percaya; 2. Dalam kebersamaan sebagai keluarga di gereja lokal akan mengeluarkan seorang percaya dari keterasingan atau keterpisahan; 3. Membantu bertumbuh dengan sehat menuju kedewasaan rohani dan mengembangkan karunia yang dimiliki; 4. Dalam gereja lokal para gembala atau pemimpin rohani dapat membantu mencegah orang percaya dari kemunduran yang diakibatkan kesulitan atau pencobaan dengan memberikan perlindungan dan pengayoman secara rohani.
    11 Orang Kristen diperintahkan “hendaklah kamu penuh dengan Roh Kudus” (Efesus 5:18). Frase Yunani “plérousthe en pneumati” adalah bentuk present imperatif pasif, bukan bentuk aorist (masa lampau). Dalam pengertian ini, dipenuhi dengan Roh Kudus adalah suatu kegiatan yang harus terus-menerus dituntut atau dicari oleh orang-orang percaya. Disini Paulus tidak pernah memerintahkan orang-orang percaya untuk menuntut atau mencari baptisan Roh Kudus, melainkan Ia memerintahkan orang-orang percaya agar senantiasa menuntut dipenuhi dengan Roh Kudus. Baptisan Roh Kudus adalah suatu peristiwa yang lampau yang terjadi hanya satu kali dan bersifat permanen; diterima pada saat seseorang percaya kepada Yesus Kristus dan mengalami kelahiran baru yang memampukannya untuk berpaling kepada Allah (bertobat dan percaya). Sedangkan dipenuhi dengan Roh Kudus adalah sesuatu yang harus dialami secara terus-menerus. Hal ini dapat terjadi berulang-ulang bergantung pada tuntutan kehidupan yang suci dan benar dalam diri orang percaya itu, yang memungkinkan mereka untuk terus mengalami kepenuhan Roh Kudus.
    12 Identitas orang Kristen dikenal lewat dua kualitas transformatifnya yang secara metaforis dinyatakan sebagai garam dan terang dunia (Matius 5:13,14). Kedua metafora ini mengacu kepada “perbedaan” dan “pengaruh” yang harus dimanifestasikan murid-murid Yesus kepada dunia ini. Leon Morris mengartikan metafora ini sebagai penetrating power of the Gospel yang harus dinyatakan oleh murid-murid Yesus yang sudah lebih dahulu mengalami transformasi. Implikasi dari penegasan ini cukup serius, yaitu bahwa gereja secara universal harus memikul beban moril dari metafora-metafora ini secara konsisten dan konsekuen. Lebih jauh, implikasi ini bukan sekedar penegasan, tetapi merupakan sebuah panggilan bagi gereja untuk melibatkan diri dan memberi solusi dalam masalah-masalah dunia ini tanpa harus menjadi duniawi.
    13 Sebagai agen transformasi yang menjadi garam dan terang dunia, orang Kristen perlu membangun relasi dengan masyarakat dan lingkungannya. Barna Reasearch Group menyatakan hasil penelitiannya bahwa penginjilan yang efektif (penjangkauan) adalah melalui membangun hubungan (frienship evangelisme). Perbandingannya adalah sebagai berikut : PI dengan metode KKR hasilnya 5%, dengan metode kesembuhan Ilahi hasilnya 5%, melalui acara-acara kebaktian hasilnya 13%, melalui kematian saudara/keluarga hasilnya 4%, lewat acara retreat hasilnya 4% dan yang lain-lain hasilnya 16%, tetapi yang sangat mengejutkan PI dengan metode membangun hubungan hasilnya 44%. Hal ini menunjukkan bahwa orang lebih terjamah dengan perbuatan nyata dalam kehidupan dari pada mendengar khotbah.
    14 Kata “kemuliaan” dalam bahasa Yunani adalah “doxa”, merupakan terjemahan dari kata Ibrani “kavod” yang mengacu pada bobot atau nilai, berkaitan dengan kekayaan, kemegahan dan reputasi. Kata “kavod” ini kemudian diterjemahkan dengan arti mulia atau kehormatan.
    15 Asumsi kebanyak orang mengenai pertobatan adalah berhenti berbuat jahat atau tidak melakukan kejahatan lagi, tetapi ini bukan merupakan pengertian yang sepenuhnya. Ajaran Alkitab mengenai pertobatan adalah meninggalkan dosa dan berbalik kepada Allah. Kata Ibrani “syuv” berarti berputar, berbalik kembali. Mengacu kepada tindakan berbalik dari dosa kepada Allah. Kata ini dipakai sekitar 600 kali dalam Perjanjian Lama. Dalam Yeremia 3:14 kata ini diterjemahkan dengan kata kembalilah, dalam Mzm 78:34 dengan kata berbaliklah, dalam Yeremia 18:8 dengan kata bertobatlah. Kata Yunani “metanoia” dan “metanoo” muncul dalam Perjanjian Baru kurang lebih 58 kali dan diterjemahkan dengan kata bertobat. Arti dari kedua kata diatas ialah perubahan hati, yakni pertobatan nyata dalam pikiran, sikap pandangan dengan arah yang sama sekali berubah, putar balik kepada Allah dan pengabdian kepadaNya. Pertobatan yang sejati akan ditunjukkan dengan perubahan tingkah laku dan sikap yang nampak dalam perbuatan. Roh Kudus yang melahirbarukan seseorang, memberikan sifat-sifat baru kepada orang tersebut (2 Korintus 5:15; 7:9,19; Ibrani 12:17).
    16 Pada waktu mendaftarkan berkat-berkat yang diperoleh dari ketaatan dalam ulangan 28 disana ditemukan bahwa Tuhan juga memberkati lumbung atau gudang penyimpanan. Istilah moderen lainnya untuk lumbung adalah bank tempat penabungan. Perlu diingat, bahwa berkat yang dijanjikan dalam ulangan 28 adalah “bless of conditional covenant” atau “berkat perjajian bersyarat”. Ciri dari perjanjian bersyarat terlihat dari formula “jika – maka” dalam ayat 1. Artinya, Tuhan akan melakukan apa yang dijanjikanNya apabila umatNya taat melakukan syarat-syarat yang dituntutNya dalam perjanjian itu.

     DAFTAR REFERENSI

    Daftar referensi ini mencantumkan tahun percetakan buku dalam edisi terjemahan Indonesia, bukan tahun penerbitannya.
    Chamblin, J. Knox., 2006. Paul and The Self: Apostolic Teaching For Personal Wholeness. Terjemahan, Penerbit Momentum : Jakarta.
    Conner, Kevin J., 2004. The Fondation of Christian Doctrine. Terjemahan, Pernerbit Gandum Mas: Malang.
    Enns, Paul., 2004.The Moody Handbook of Theology, jilid 2. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT : Malang
    Erickson J. Millard., 2003. Christian theology. Jilid 2 & 3. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas : Malang.
    Ferguson, B. Sinclair, David F. Wright, J.I. Packer., 2009. New Dictionary Of Theology. jilid 2, terjemahkan, Penerbit Literatur SAAT : Malang.
    Grudem, Wayne., 1994. Systematic Theology: A Introduction to a Biblical Doctrine. Zodervan Publising House : Grand Rapids, Michigan.
    Gutrie, Donald., 1991 New Testamant Theology, Jilid 1, diterjemahkan, Penerbit BPK Gunung Mulia: Jakarta.
    Hoekema, Anthony A., 2010. Created in God’s Image. Terjemahan, Penerbit Momentum : Jakarta.
    Hoekema, Anthony A., 2010. Saved By Grace. Terjemahan, Penerbit Momentum : Jakarta.
    Ladd, George Eldon., 1999. A Theology of the New Tastament, Jilid 1 & 2, Terjemahkan, Penerbit Kalam Hidup: Bandung.
    Lewis, C.S., 2006. Mere Christianity. Terjemahan, Penerbit Pionir Jaya : Bandung.
    Milne, Bruce., 1993. Knowing The Truth : A Handbook of Christian Belief. Terjemahan (1993). Penerbit BPK : Jakarta.
    Morris, Leon., 2006. New Testamant Theology. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas : Malang.
    Ryrie, Charles C., 1991. Basic Theology. 2 Jilid, Terjemahan, Penerbit Andi Offset : Yoyakarta.
    Sproul, R.C., 1997. Essential Truths of the Christian Faith. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT : Malang.
    Ridderbos, Herman., 2004. Paul: An Outline of His Theology. Terjemahan, Penerbit Momentum : Jakarta.
    Thiessen, Henry C., 1992. Lectures in Systematic Theology, direvisi Vernon D. Doerksen. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas : Malang.

    Mengucap Syukur

    Oleh: Agung

    “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:18)

    Apakah saudara pernah belajar matematika? Jawabannya pasti pernah. Tetapi, bagaimana dengan matematika ”spiritual”? Pasti belum pernah! Nah, sebelum masuk lebih jauh tentang hal tersebut, mari kita berandai-andai dahulu. Apa yang saudara lakukan bila menerima undian uang sebesar satu miliar. Apakah saudara akan menghabiskannya seketika itu juga, atau menyimpan, atau malah menginvestasikannya? Jawaban-jawaban itu tidak ada yang salah. Namun, apa yang terjadi jika ternyata seorang tukang becak yang dapat undian itu... pernah dengarkah saudara? Waktu dia mengambil uang itu dan melihatnya, malahan dia pingsan dan meninggal seketika itu juga. Itu suatu kejadian lucu dan tidak masuk akal! Setelah membaca ilustrasi diatas kita tahu bahwa ternyata kita tidak dapat memperkirakan apa yang akan terjadi terhadap orang yang mendapat hadiah, karena responnya yang berbeda-beda.

    Ya... itulah respon. Respon orang-orang acap kali berbeda-beda karena segala sesuatunya tergantung pada apa yang menjadi latar belakang orang tersebut. Jika orang kaya mendapat hadiah uang seratus ribu mungkin tidak seberapa senang bila dibandingkan orang miskin yang mendapat hadiah tersebut. Tapi, bisa jadi jika orang kaya mendapatkan cokelat dari pacarnya, itu malah jauh lebih menyenangkan dibandingkan mendapatkan uang seratus ribu. Kenapa bisa terjadi seperti itu? Padahal nilai nominal coklat tidak sebesar uang seratus ribu, bukan? Jadi banyak sedikitnya hadiah bisa dikatakan menyenangkan, bukan karena pemberian nominalnya yang banyak. Tetapi tergantung siapa yang memberi dan untuk apa pemberian itu. Hal inilah yang saya maksud matematik “spiritual”. Apa sebutan yang paling cocok untuk menggambarkan hal tersebut saya tidak tahu pasti. Namun, yang penting saudara tahu maksudnya. Dari gambaran tersebut diatas kita bisa mengambil suatu perenungan tentang kehidupan ini, baik hubungan kita dengan sesama maupun dengan Tuhan.

    Pemberian manusia walaupun sedikit nominalnya tapi jika diberikan dengan hati yang tulus dan ikhlas tanpa menuntut balasan pastilah akan menjadi bermakna. Biarpun dalam proses pemberian itu kadang kita disalahartikan. Tuhan sudah memberi contoh untuk memberi tanpa menuntut balasan, mengasihi tanpa meminta imbalan, dan masih banyak teladan Tuhan yang lain yang bisa kita. Kita sebagai ciptaanya tidak semestinya menuntut sang pencipta ini dan itu, (sebaiknya Tuhan memberi ini, sebaiknya Tuhan memberi itu, dst.)

    Nikmatilah pemberian Tuhan yang ada dengan ucapan syukur, karena Tuhan lebih tahu apa yang menjadi kebutuhan kita saat ini. Mari minta kepada Tuhan supaya kita dapat memberi dengan hati yang tulus, dan mengucap syukur untuk apa yang diberikan Tuhan kepada kita hari lepas hari, karena itulah yang dikehendaki Tuhan. Amin.

    Situs penulis: www.wihardoanakpati.blogspot.com

    Menulis adalah Salah Satu Terapi

    Oleh: John Jonathan Nap

    "Menulis itu salah satu terapi", demikian salah satu ungkapan yang disampaikan oleh Pdt. Julianto Simanjuntak dalam kuliah perdana kami dalam Program M.Th. Konseling di STT Jaffray Makassar. Sebagai pemula dalam bidang konseling, pernyataan tersebut kedengaran tidak terlalu masuk akal.

    Dibesarkan dalam sistem pendidikan yang pas-pasan, sejak mulai mengenal dunia belajar, salah satu mata pelajaran yang sering saya hindari adalah pelajaran "mengarang". Dengan pemahaman bahasa Indonesia yang setengah jadi kala itu, sering kali saya kebingungan untuk merangkai kata demi kata secara tepat. Belum lagi guru yang mengajar bahkan juga tidak tahu bagaimana mengarang. Pendek kata pernyataan Pdt. Julianto Simanjuntak sangat bertolak belakang dengan pengalaman hidup saya di masa lalu.

    Namun saya harus mencoba untuk mulai menulis, bukan karena pernyataan tersebut, melainkan karena ini salah satu tugas wajib. Kami diwajibkan untuk menulis pengalaman hidup pribadi pada 15 hingga 20 halaman kertas ukuran A4, font Times New Roman dengan spasi 12. Mengingat harus mencicil sejumlah besar tugas wajib dalam program kami, maka saya mulai mencobanya.

    Ketika sampai pada halaman yang ke delapan, air mata saya mulai menetes. Padahal belum seperempat dari suka dan duka kehidupan saya terurai dalam halama-halaman tersebut. Berbagai pergumulan yang selama ini terpendam dan tidak pernah saya ceritakan kepada orang lain dapat secara leluasa saya ungkapkan dalam tulisan tersebut. Saya akhirnya tidak ingin berhenti menulis. Apalagi di era tehnologi IT sekarang ini di mana type-ex tidak lagi diperlukan. Menulis memang sesuatu yang jauh lebih mudah dibandingkan satu dekade yang lalu.

    Kembali kepada pernyataan bahwa "menulis itu salah satu terapi", memang benar. Rasanya sekarang perasaan saya lebih lega dibanding ketika pergumulan saya saya pendam dalam hati. Sekarang sebagian kecil dari masalah-masalah tersebut sudah saya ungkapkan kepada "kertas". Tidak peduli apakah "Pak Kertas" mengerti atau tidak. Aspek terpenting dalam kasus ini adalah, segala uneg-uneg wajib untuk dikeluarkan.

    Mengapa pekerjaan "mengarang" belakangan ini menjadi jauh lebih gampang dari puluhan tahun silam bagi saya?

    Pertama, yang saya tulis adalah apa yang ada dalam hati saya. Kedua, bahasanya adalah seperti bagaimana saya berbicara kepada orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, harus ada komitmen yang kuat untuk mengeluarkan ganjalan di hati tanpa takut bahwa tulisan saya akan dibaca oleh orang lain.

    Terima kasih pak Julianto, menulis memang salah satu terapi.

    Minoritas; Bagaimana Seharusnya?

    Penulis : Kristian.N

    Sebagai kaum minoritas Kristen, sering kita dihadapkan pada situasi yang serba sulit. Dalam hal pekerjaan misalnya sering kita mendapatkan diskriminasi. Beberapa dari kita menanggapi kondisi tersebut dengan cara yang berbeda-beda. Tuhan pernah berfirman bahwa kita tidak berasal dari dunia oleh karena itu dunia akan membenci kita. Ironisnya banyak orang Kristen yang kemudian menggunakan firman tersebut untuk membenarkan diri.

    Maksud saya di sini adalah ketika orang Kristen melakukan tindakan yang tampaknya rohani namun menjadi batu sandungan. Sebagai contoh, ketika seseorang sudah mulai sibuk dengan pelayanannya di gereja hingga mulai melupakan fungsi dan perannya di masyarakat atau lingkungan tempat tinggalnya. Menjadi terlihat ekslusif dan cenderung menarik diri. Sebenarnya wajar jika kemudian masyarakat mulai mengucilkannya. Namun daripada berusaha mengoreksi diri orang itu justru menganggap pengucilan terhadap dirinya buakan karena kesalahannya, namun suatu yang wajar, dengan alasan karena dia tidak berasal dari dunia maka dunia membencinya. Saya kenal seorang guru agama Kristen yang karena kesibukan pelayanannya kemudian mulai melupakan perannya sebagai guru, sering ijin bahkan mangkir mengajar hanya untuk memenuhi panggilan khotbah dan menjadi pembicara diberbagai acara gereja. Lebih sering terlihat tampil dengan setelan jas daripada baju safari meskipun dia sedang dalam jam dinas. Tapi yah begitulah semua gunjingan, semua kritikan dan teguran ia tanggapi dengan telinga yang tebal dan menganggapnya sebagai batu sandungan pelayanan tanpa dia sadari tanpa merasa dirinya sendiri telah menjadi batu sandungan.

    Saya rasa bukan begitu maksud dari firman Tuhan di atas. Sebab jika itu benar, mengapa Tuhan tidak memisahkan saja umatnya dari mereka yang tidak percaya, mengumpulkannya di suatu tempat dan memeliharanya sampai hari Tuhan digenapi? Kenapa Tuhan justru membiarkan umatnya tetap tinggal di tengah-tengah dunia yang Dia tahu akan membenci mereka?

    Alkitab sebenarnya telah menunjukan bagaimana orang-orang justru biasa berbuat banyak dibalik status minoritas yang mereka sandang, dan bahkan mampu memberikan pengaruh besar bagi dunia sekitarnya. Dan dunia menghormatinya. Sebut saja Daniel, seorang buangan di negeri Babel, juga Jusuf seorang budak dan napi penjara. Mereka telah membuktikan bahwa meskipun dunia membenci mereka namun pada akhirnya dunia mengakui mereka, dan belajar menghormati dan mengakui kebesaran Allah mereka, maka kitapun pasti bisa. Tapi dengan kondisi zaman yang sudah begitu berubah, apakah kisah-kisah itu masih relevan? Jika iya, apa buktinya?

    Belajar dari sejarah, kita mungkin masih ingat jika pada jaman Orde Lama hingga awal Orde Baru sempat muncul pendapat dikalangan masyarakat yang mengatakan bahwa "Kalau ingin dapat pegawai yang jujur carilah orang Kristen". Banyak instansi/perusahaan yang sengaja menempatkan orang Kristen untuk menduduki tanggung jawab sebagai bendahara atau staf keuangan diperusahaan mereka. Bagaimana itu bisa terjadi? semua itu bisa terjadi karena orang-orang Kristen saat itu memang memiliki jati diri, karakter dan standar integritas yang tinggi. Sikap takut akan Tuhan yang mereka nyatakan dalam kualitas hidup sehari-hari terbukti mampu memberikan pengaruh dan membuahkan respon positif di tengah-tengah masyarakat saat itu.

    Bagaimana dengan kondisi sekarang? Apakah pendapat itu masih ada? Sepertinya tidak, dan justru sebaliknya, sebagai orang Kristen kita selalu dicurigai dan diwaspadai. Ada baiknya kembali menengok diri kita, serta melihat kondisi kekristenan dan kualitas hidup dari orang-orang yang mengaku dirinya sebagai orang Kristen yang ada sekarang. Bukankah semakin banyak nama-nama Kristen yang ikut memperpanjang deretan daftar koruptor, terlibat kasus penipuan dan perkosaan. Bahkan nama seperti Yohanes terang-terangan muncul sebagai terdakwa kasus pembunuhan. Sengketa antar gereja, perpecahan jemaat hingga gerakan penginjilan yang dilakukan tanpa perhitungan bukankah itu semua sama saja seperti mencoreng arang di muka sendiri, bahkan lebih parah lagi karena itu juga berarti mencoreng muka Kristus. Jika didalam sendiri saja kita tidak bisa akur sebaliknya malah menunjukan sikap saling pukul, saling memangsa, lalu apa bedanya kita dengan orang lain? Jadi apakah kita masih berhak untuk menyalahkan mereka jika kemudian mereka tidak lagimempercayai kita? memunsuhi kita dan cenderung curiga dengan sikap kita?

    Apa yang menyebabkan mutu, kualitas hidup dan moralitas Kristen semakin merosot? Gereja memiliki tanggung jawab terbesar dalam hal ini. Semakin jarang kita temui suara-suara keras didikan dan pengajaran yang tegas akan standar moral dan karakter Kristen dibawakan dimimbar-mimbar. Orang Kristen semakin dibuai dengan berbagai janji-janji Tuhan, jaminan kemakmuran, jaminan pemulihan, dan jaminankesembuhan. Jika saya boleh menulis ulang ayat dari Matius 28 : 19-20, supaya sesuai dengan kondisi sekarang, maka ayat itu akan berbunyi:

    "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, Dan aku berjanji akan mencurahkan berkat kepada mereka sampai berkelimpahan".

    Gereja lupa bahwa penggembalaan dan pendewasaan rohani adalah sesuatu yang sangat penting, Gereja lebih senang untuk membuai para Kristen baru dengan janji-janji Allah. Gereja lupa bahwa untuk menerima setiap janji Tuhan seseorang harus terlebih dahulu memiliki pondasi yang kokoh. janji Tuhan bukanlah sesuatu yang instant. Salah satu penekanan perintah Tuhan seperti yang tertulis dalam matius 28 adalah pada ayat 20 yang berbunyi:

    "dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman"

    Gerja tidak boleh hanya berhenti pada ayat 19. Selamatkan jiwa tidak hanya berhenti saat seorang dibaptis dan mengaku percaya. Namun lebih dari itu adalah bagaimana orang itu bisa terus bertumbuh semakin sempurna dalam iman dan karakter yang semakin dewasa didalam Kristus.

    Kehidupan bergereja justru semakin menggiring orang Kristen terpisah dengan dunia luar. Kita cenderung membangun dunia kita sendiri Sebenarnya tanpa kita sadari cara hidup yang demikianlah yang justr semakin membuat kita menjadi asing dimata masyarakat sekitar. dan meskipun banyak kegiatan-kegiatan spektakuler di gelar gereja sebagai wujud kepedulian terhadap dunia. Sayangnya kebanyakan acara dan kegiatan yang digelar tersebut hanya bisa dipahami oleh kalangan gereja sendiri. Dan hanya menjadi tontonan masyarakat, yang sebenarnya membutuhkan sesuatu yang lebih kangrit, sesuatu yang lebih nyata bisa dirasakan dan tersentuh.

    Kehidupan bergereja kemudian menjadi sempit, dibatasi oleh pagar dan tembok, tersembunyi aman di gedung-gedung yang mewah. Kondisi-kondisi inilah yang telah menggiring kita mejadi kaum minoritas yang mengasingkan diri. Kita tidak disisihkan tapi kita sendri yang menyisihkan diri/menarik diri. Seharusnya tidak demikian, sebab diri kita inilah yang disebut gereja. Bagaimana kita bisa membawa diri kita yang adalah gereja ketengah-tengah masyarakat. Dengan ketulusan dan kerendahan hati, berbaur dan mencoba menyelami dan memahami beban mereka, penderitaan mereka untuk mununtun jiwa-jiwa yang terhilang kepada Terang Yang Sejati.

    Ditengah-tengah kesibukan gereja dengan berbagai fenomena pengajaran dan sensasi rohani, gerakan transformasi, jaringan doa dan lain sebagainya. Jika ada pertanyaan, apa paling penting menjadi perhatian gereja saat ini? saya rasa menegakkan kembali jati diri, integritas dan kualitas hidup kita sebagai orang Kristen yang betul- betul Kristen adalah hal yang paling penting dan paling mendesak untuk mulai benahi oleh gereja. Tanpa tranformasi diri maka semua Gerakan transformasi, jaringan doa, pemulihan bagi kota dan negara semuannya hanya akan menjadi suatu usaha yang sia-sia. Doa memang baik dan diperlukan, sedangkan mengenai curahan Roh, dan berbagai fenomena iman memang diberikan Tuhan dengan tujuan untuk menguatkan iman. Adalah salah jika kita menjadikannya sebagai fokus kita. Namun bagaimana kita bisa menjadi terang dan garam melalui sikap hidup kita, melalui karakter kita, itulah yang terpenting. Jika ada pendapat yang mengatakan bahwa lidah dan pena itu lebih tajam dari pedang, maka sebenarnya ada yang jauh lebih tajam dari sekedar perkataan atau tulisan, yang bahkan tak terbantahkan, yaitu keteladanan dan karakter. Sebagus apapun pendapat kita, semulia apapun perkataan kita, sebijak apapun nasihat kita atau serajin apapun doa dan puasa kita, akan menjadi mentah dan berubah menjadi cibiran hanya karena sedikit sikap hidup kita yang tercela, yang menyimpang dari ucapkan kita. Sebaliknya sikap hidup yang bisa dijadikan teladan dan tak bercela justru akan lebih banyak berbicara dan memberikan pengaruh serta perubahan bagi lingkungan kita.

    Dengan kualitas yang terbukti bukan NATO (no action talk only) Saya yakin kita akan bisa menjadi Daniel-Daniel dan Yusuf-Yusuf masa kini. Yang meskipun hanya berstatus sebagai kaum minoritas (kaum terjajah, bangsa buangan) namun kehidupannya bisa menjadi berkat dan membawa pengaruh besar bagi bangsanya dan bangsa dimana dia tinggal. Jangan kita menjadi kaum minoritas yang menyisihkan diri, yang hanya berkumpul dan berusaha membangun dunia kita sendiri. Namun jadilah kaum minoritas yang mampu membuktikan diri memiliki kualitas pilihan. Yang tidak hanya terus berkerumun dan memandang ke langit menanti kalau-kalau Tuhan datang. tapi berani untuk melangkahkan kaki kembali ke Yerusalem kita, ke tengah-tengah dunia yang sangat membutuhkan kehadiran kita.

    Jadi, Akankah pendapat "jika ingin dapat pegawai yang jujur, carilah orang Kristen" akan dapat kita dengar lagi? semua bergantung pada gereja dan diri kita masing-masing.

    Moral Kristen

    Oleh: S.M.T Gultom
     
    Di berbagai belahan dunia yang fana ini, manakala kelompok Kristennya tergolong minoritas dalam suatu masyarakat, tidak mengherankan bila selalu ditekan untuk menyesuaikan diri dengan ukuran-ukuran yang berlaku dari masyarakat tersebut. Sedangkan tekanan yang terus menerus pada setiap orang dapat mengikis standar moral mereka. Sementara itu, penyesuaian dengan standar moral dunia berarti melawan kekudusan. Bagaimana sesungguhnya mereka harus bersikap?
     
    Orang Kristen diperintahkan untuk menjadi lain dengan dunia. Perintah ini dapat dipahami melalui nasehat Paulus dalam Roma 12:1-2, demikian:”Karena itu saudara-saudara, demi kemurahan Tuhan aku menasehatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Tuhan; itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Tuhan: apa yang baik yang berkenan kepada Tuhan dan yang sempurna”. Inti dari nasehat ini adalah menjaga kekudusan.
     
    Di satu sisi, orang Kristen harus hidup dalam ketaatan kepada Tuhan dan tidak boleh dikuasai oleh hawa nafsu. Pada sisi yang lain, orang Kristen juga harus mempunyai standar moral ilahi yaitu hidup kudus dan menjadi serupa dengan Kristus. (Filipi 2:5 dan 8) demikian bunyinya: “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampat mati, bahkan sampai mati di kayu salib”.
     
    Kita menyadari bahwa tidak mudah mencegah setiap pikiran yang tidak murni merasuk ke dalam pikiran kita. Namun kita memang mengendalikan pikiran-pikiran kita yang tinggal di dalam benak kita dan berkembang. Tuhan memberi kita jalan-jalan melalui mana kita dapat mengembangkan pemikiran yang murni dan kehidupan pikiran kita pada umumnya, karena kita memiliki Kristus “berubahlah oleh pembaharuan budimu”. Pembaharuan adalah suatu proses yang berlanjut dan berulang-ulang secara terus menerus. Kemenangan yang dicapai hari ini tidak menjamin bahwa kita dapat memenangkan pertempuran hari esok. Untuk mengendalikan pikiran-pikiran kita, maka kita harus mengisi pikiran kita dengan hal-hal yang benar. “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu”.

    Sarana yang paling efektif untuk mengisi dan mengendalikan pikiran adalah menghafalkan ayat-ayat Alkitab (firman Tuhan). Sementara kita menghafal berbagai bagian dari Alkitab, pikiran kita akan kembali kepada-Nya bila kita mengalami pencobaan. Oleh karena itu, sebagai insan kristiani yang mumpuni dituntut untuk hidup dalam ketaatan kepada Tuhan dan tidak boleh dikuasai oleh hawa nafsu serta memiliki standar moral ilahi yaitu hidup kudus dan menjadi serupa dengan Kristus.
     
    Tuhan Yesus memberkati umat-Nya.

    Musik sebagai Terapi

    Penulis : Mang Ucup

    Musik sebagai terapi telah dikenal sejak 550 tahun sebelum Masehi, dan ini dikembangkan oleh Pythagoras dari Yunani. Bahkan di dalam Alkitab pun tercantum bahwa ketika penyakit gilanya Raja Saul kumat, ia bisa dibuat menjadi tenang oleh alunan musiknya Daud (1 Samuel 16:14-23).

    Masalahnya telah terbuktikan bahwa manusia itu jauh lebih peka terhadap apa yang ia dengar daripada apa yang ia lihat. Mang Ucup tidak akan ngambek apabila hanya sekedar di pelototin ataupun melihat cemberutnya wajah sang istri, tetapi kebalikannya saya akan emosi, bahkan sewot apabila mendengar sang istri mulai berkicau uring-uringan. Begitu juga kita akan lebih tersentuh mendengar suara tangisan bayi daripada melihat gambar bayi yang sedang menangis.

    Berdasarkan penelitian EKG (elektrokardiogram), grafik jatung seseorang tidak akan melompat-lompat apabila ia berada dalam keadaan tenang oleh sebab itulah para medis merasa perlu menenangkan pasiennya yang sedang dilanda ketakutan maupun stress dengan memperdengarkan musik dan ini ternyata berhasil. Orang akan lebih mudah melakukan meditasi apabila ia di bantu dengan alunan musik.

    Ilmu Kedokteran mengakui bahwa manusia itu terdiri dari "Tubuh & Jiwa", tubuh atau jasmani yang bisa terlihat nyata, sedangkan yang termasuk dalam jiwa ialah yang tidak nampak, umpamanya sifat, pikiran, tabiat, perasaan. Ketiga hal ini bisa diekspresikan oleh tubuh sebagai luapan emosi yang bersifat sementara, dalam ilmu kejiwaan disebut sebagai "Affek". Sedangkan dari segi spiritual kita mengakui adanya unsur ketiga di dalam manusia itu ialah "Roh", tetapi komponen ini tidak diakui sebagai unsur nyata dalam ilmu pengetahuan modern, walaupun demikian telah terbuktikan secara medis dan spritual, bahwa musik itu dapat mempengaruhi ketiga elemen tersebut diatas ini, dan telah terbuktikan pula bahwa musik itu memiliki keampuhan untuk menyembuhkan.

    Cobalah renungkan oleh Anda, semua sistem dalam tubuh manusia itu sesungguhnya dijalankan oleh suatu irama tubuh yang sangat teratur dan mengikuti pola tertentu. Sebagai contoh : Irama denyut jantung dan nadi, aliran nafas, langkah kaki, kedipan mata, cara bicara, bahasa dll semua ini merupakan irama musik alamiah yang diciptakan oleh Allah. Sehingga setiap bunyi-bunyian atau atau irama musik yang didengar oleh telinga jasmani manusia dapat mempengaruhi fungsi anantomi dari tubuh itu sendiri. Sebagai contoh: bunyi bunyian suara alam (bunyi suara angin, hujan, aliran air, ombak, jangkrik dll ) dan lagu - lagu klasik dapat membuat perasaan menjadi lebih tenang.

    Bagi seorang ibu yang akan menjalani operasi caesar dengan adanya alunan musik, proses melahirkannya dapat menjadi lebih alami dan dapat mengurangi trauma, sehingga sang ibu dapat lebih ceria dan tenang, bahkan dapat mengurangi rasa nyeri nya mereka.

    Terbuktikan bahwa musik mampu meringankan penderitaan pasien dari rasa sakitnya karena saraf untuk mendengarkan musik dan saraf perasa sakit itu sama. Sehingga pada saat pasien menjalani pembedahan rasa sakitnya dapat dialihkan dengan cara mendengarkan musik. Hal inilah yang menyebabkan para Dr Gigi terutama di Eropa maupun di Amerika untuk selalu mengalunkan lagu-lagu lembut diruang prakteknya.

    Dr Raymond Bahr, seorang dokter ahli jantung USA dan kepala bagian dari Intensive Care Unit ( ICCU), selalu mempergunakan musik didalam ruang perawatan pada Critical Care Unit. Ia telah dapat membuktikan, bahwa pada kasus2 serangan jantung, dimana pasiennya membutuhkan perawatan yang intensive, satu setengah jam mendengar musik lembut memiliki efek terapi yang sama seperti dengan menggunakan obat penenang Valium 10 miligram.

    Berdasarkan penelitian di State University of New York di Buffalo, sejak mereka menggunakan terapi musik kebutuhan akan obat penenang pun turun drastis hingga 50%. Disamping itu, karena pada saat di operasi kebanyakan dari pasiennya lebih rileks, maka jarang terjadi komplikasi hal ini dapat mempersingkat masa rawat inap mereka.

    Dr John Diamond dan Dr David Nobel, telah melakukan riset mengenai efek dari musik terhadap tubuh manusia dimana mereka menyimpulkan bahwa:

    Oleh sebab itu apabila kedua jenis irama yang anatgonis ini bertemu maka akibatnya seluruh sel sel otot pada tubuh manusia (khusunya sel Jantung ) akan melemah dan lama kelamaan sel-sel otot Jantung ini akan rusak (Nekrosis). Jadi jelas bagi para penggemar lagu Disco maupun Rock & Roll akan lebih cepat mati, karena serangan penyakit jantung

    Dan juga telah terbuktikan apabila kita mendengarkan musik lembut secara teratur, ini dapat menurunkan tekanan darah, merangsang peningkanan hormon Endorhins ( Natural Pain relieves ) dan S-IgA (Immunoglobulin kelenjar ludah tipe A, zat kekebalan tubuh yang berfungsi untuk mempercepat proses penyembuhan dan menurunkan denyut nadi jantung manusia).

    Jadi bagi mereka yang punya penyakit darah tinggi atau penyakit jantung, dianjurkan sebaiknya sering-seringlah mendengar musik lembut dan juga berdoa, daripada mahal-mahal buang uang untuk bayar rumah sakit maupun dokter.

    Negeri Secupak Gandum Sedinar?

    Penulis : Stevanus Subagijo

    IBARAT kapal bocor yang terombang-ambing gelombang samudera, demikianlah negeri ini. Diazab-sengsarai oleh beranak-pinaknya persoalan demi persoalan. Seperti ada kutuk krisis-musibah -entah berapa keturunan--, yang meminta tumbal demi tumbal politik, ekonomi, sosial, alam. Makin tidak ada yang bisa meramalkan akan kemana, dan akan seperti apa negeri ini lima-sepuluh tahun mendatang?

    Dulu, tatkala rezim Soeharto jatuh, muncul optimisme pada pemerintahan baru dan partai-partai politik yang menjanjikan membawa perubahan. Nyatanya, pemerintah demi pemerintah silih berganti, partai demi partai berlaga dalam pemilu, kabinet demi kabinet diumumkan dengan decak kagum, namun belum juga mampu menyelesaikan masalah kompleks bangsa ini. Masalah-masalah lama makin akut, masalah-masalah baru berebut muncul.

    Dalam lakon ketoprak di Jawa, sering diselorohkan sebuah negeri yang mbuh ora weruh, negeri yang entah dan tak tahulah. Begitulah, tak ada yang tahu negeri ini akan kemana dan menjadi seperti apa?

    Katanya Indonesia adalah negeri agraris, pemimpi swasembada pangan, tapi impor beras. Pekerjaan petani yang pernah diteliti di Amerika Serikat sebagai profesi yang paling jujur itu banyak kita miliki. Sayang, di sini kurang dihargai. Petani dimarjinalkan dan miskin. Harga jual panenan rendah, sebaliknya ongkos produksi mencekik.

    Katanya negeri ini negeri pengekspor hasil laut karena wilayah airnya sangat luas. Sehingga tidak tahu kalau tetangga sering mencurinya. Sedang untuk melautkan nelayan sendiri, masih terbentur harga solar yang mahal dan langka. Padahal kurang apa negeri ini dengan "orang pandai".

    Mungkin MURI atau Guinness Book of Records akan mencatat sebagai negeri yang rakyatnya paling banyak memperoleh gelar master, doktor atau profesor honoris causa, meski dengan cara membeli. Mereka akan menjadi orang super yang ditakuti, hororis causa saat memakainya.

    Dulu negeri ini ramah dan damai, gemah ripah loh jinawi tata tentrem karta raharja. Dijajah tiga ratus lima puluh tahun masih bisa nrimo. Sekarang hanya untuk menyampaikan perbedaan, say it with the bomb. Koes Plus bilang, "tongkat kayu pun jadi tanaman". Bahkan, menurut seloroh teman Amerika, stik golf pun di Indonesia bisa jadi tanaman singkong, saking suburnya.

    Tapi, kenapa masih ada buruh galian kabel makan sepiring tiga ribu rupiah tanpa telur. Anak-anak sekolah hanya hapal "empat sehat lima sempurna" di buku pelajaran. Praktiknya sudah tidak kenal lagi, apa rasa "lima sempurna" susu itu, lha yang "empat sehat" juga sudah digerogoti kenaikan harga BBM.

    Tinggal "satu tak sehat" lagi alias nasi ala kadarnya, sekadar penyambung busung lapar. ´Negeri katanya´ adalah negeri ketidakpastian akut, herannya kita masih percaya saja perihal kata orang bukan kata kenyataan.

    "Yudhoyonomics"

    Ketika Ronald Reagan memimpin Amerikat Serikat, kebijakan-kebijakan ekonominya diistilahkan Reaganomics. Begitu pula Bill Clinton, diistilahkan Clintonomics. Ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memimpin negeri ini, kebijakan-kebijakan ekonominya bolehlah kita sebut sebagai Yudhoyonomics.

    Kebijakan kenaikan harga BBM, hanya sebagian kecil dari Yudhoyonomics ini. Masih ada empat tahun ke depan kita menanti kebijakan-kebijakan ekonomi lainnya. Namun, sebagai faktor Yudhoyonomics, kenaikan BBM adalah kontributor paling hot. Kenaikan harga BBM memang menjadi simalakama ekonomi. Dan, tak ada yang bisa menjamin negeri ini bakal steril dari simalakama ekonomi.

    Simalakama ekonomi (´dimakan ibu mati, tidak dimakan bapak mati´) berarti akan ada sebagian rakyat yang harus di pihak tumbal, entah ibu atau bapak dalam setiap kebijakan yang diambil. Dana kompensasi ditujukan untuk mengurangi tumbal itu.

    Namun, meski Yudhoyonomics lewat kebijakan kenaikan harga BBM banyak ditentang dan sangat memukul kehidupan rakyat, ada yang patut disyukuri. Bahwa kebijakan itu membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang selama ini dikenal sangat populer menjadi tidak populer.

    Menjadi pemimpin yang populer dan berusaha mempertahankan popularitasnya, salah-salah hanya mau memenuhi keinginan fans-nya. Pemimpin seperti ini bisa kehilangan karakter dan panutan, karena hanya mengiyakan apa maunya rakyat dan bukan melakukan tugasnya untuk memimpin.

    Dengan menjadi tidak populer, pemimpin justru bisa all out membebaskan dirinya dari psikologi pencitraan. Ia tidak terpenjara oleh popularitas (pun fans-nya), yang dimaknai sebatas penyanjungan tanpa melihat prestasi.

    Sebaliknya, terlepas populer tidaknya pemimpin, tanggung jawabnya ialah membuktikan bahwa keputusan-keputusannya bukan mengejar pencitraan diri, like dislike, tetapi berorientasi obyektif pemecahan masalah untuk pemulihan.

    Sebaliknya, jika Yudhoyonomics mengikuti tuntutan rakyat agar harga BBM tidak naik atau dikembalikan seperti harga sebelumnya, harus disadari bahwa itu bisa juga dimaknai "seolah-olah" memihak atau menyejahterakan rakyat. Alias bisa saja kelak kalau harga BBM tidak dinaikan akan ada dampak lain yang juga membuat rakyat menderita.

    Rakyat belum tahu saja apa akibat dari defisit anggaran, bias subsidi, terhentinya pembangunan dan lain-lain kalau tak dinaikan. Untuk itu terkait kenaikan harga BBM, harus dikawal proses dan bukti- buktinya ke depan bahwa kehidupan rakyat bersakit-sakit dahulu, tapi ada kepastian bersenang-senang kemudian.

    Langkah berani Yudhoyonomics dengan demikian harus membuahkan hasil kemajuan dan pemulihan ekonomi rakyat. Anak cucu ke depan harus bisa menerima bukti bahwa kenaikan harga BBM menjadi kebijakan strategis yang akan dinikmati hasilnya kelak, dua kali lipat dibanding jika tidak dinaikan 1 Oktober lalu.

    Jika tidak, Yudhoyonomics akan menghadapi ketidakpopuleran atas kebijakannya menaikan harga BBM dus ketidakberhasilan dalam pemulihan ekonomi. Semua ini berujung pada antiklimak sosok kepemimpinan nasionalnya, yang bisa dituduh sebagai tidak populer sekaligus tidak berhasil.

    "Teror Harga"

    ´Negeri katanya´, ketidakpastian akut, simalakama ekonomi bertumbal pada gilirannya meminta ongkos hidup lebih besar. Kenaikan harga- harga sudah mulai mencekik leher rakyat. Repotnya, kenaikan harga justru dimulai dari harga BBM yang merupakan barang strategis yang berefek domino mempengaruhi kenaikan harga sembilan bahan kebutuhan pokok.

    Bayangkan, kalau yang pokok-pokok saja terus dihantam dengan cekikan kenaikan harga, yang tidak pokok pasti akan diabaikan karena orang akan menyelamatkan kebutuhan pokoknya terlebih dahulu.

    Teror kenaikan harga-harga kebutuhan pokok menjadi peringatan akan datangnya masa a measure of wheat for a penny and three measures of barley for a penny (Revelation 6:6). Dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai masa "secupak gandum sedinar dan tiga cupak jelai sedinar" (Wahyu 6:6). Secupak adalah sama dengan setengah gantang. Satu gantang kira-kira 3,125 kg. Secupak gandum kurang lebih 1,562 kg. Menurut John Gill (An Exposition of the Old and New Testament), secupak (choenix) adalah kebutuhan makan minimal untuk hidup seorang sehari. Dan sedinar adalah upah sehari yang didapatkan seorang pekerja pada masa itu.

    Ihwal ini, Tom Stewart dalam What is a Famine mengatakan, a man´s daily wages would be but just enough to buy himself bread, without any thing to eat with it, and when he would have nothing left for clothes, and other things, nor anything for his wife and children. Upah kerja sehari hanya bisa untuk membeli makanan secara minimal untuk dirinya sendiri pada hari itu juga!

    Bagaimana dengan jelai? Sedinar jelai memang mendapat tiga cupak, tapi jelai lebih rendah kualitasnya. Barley (jelai), however being much less nutritious, would take three measures (cupak) to supply the same amount of nutrition (wheat/gandum), ujar Ron Cusano, dalam The Coming World Economic Collapse.

    Apa jadinya jika kenaikan harga-harga makin tak terkendali dan pada satu titik upah pekerja sehari hanya bisa untuk membeli makanan pokok (baca: nasi) secara minimal untuk dirinya sendiri, hari itu juga?

    Jika upah pekerja sehari, taruhlah Rp 20.000 dan itu hanya bisa untuk membeli nasi dengan kualitas paling jelek untuk dirinya hari itu juga, tanpa bisa membeli apa-apa lagi. Apakah pemerintah masih sanggup memberikan dana kompensasi? Bagaimana nasib anak dan isterinya?

    Teror kenaikan harga akan dibalas dengan teror kenaikan harga lainnya. Dipikir daya beli rakyat tidak ada batasnya, padahal sampai batas maksimal kemampuannya, rakyat akan menurunkan konsumsi atau berhenti mengonsumsi sama sekali. Negeri "secupak gandum sedinar" adalah primitivisasi ekonomi, dus mundurnya kualitas kehidupan kita. Waspadalah.

    Sumber: Suara Pembaruan Daily

    Pasifis

    Penulis : R.P Borrong

    Terminologi pasifis (Inggris pacifist) berarti cinta damai. Tidak ada manusia berpikiran normal yang tidak cinta damai. Terutama di saat begitu banyak kekerasan dan permusuhan ditampilkan dan dikedepankan. Tetapi justru pada saat terjadi kekerasan dan permusuhan ada orang tertentu cenderung menolak bersikap pasifis. Sebut saja sebagai contoh adalah sikap yang ditempuh Dietrich Bonhoeffer terhadap kekerasan dan kebrutalan massal yang dilakonkan Nazi. Walaupun tidak terang-terangan, Bonhoeffer bergabung dengan komplotan Klandestin, yang berikhtiar mengakhiri kekerasan dan kebrutalan Nazi dengan jalan membunuh pemimpinnya sang Fuhrer, Adolf Hitler. Sayangnya, sebelum ikhtiar itu berhasil, komplotan tersebut keburu terbongkar. Bonhoeffer sendiri dihukum gantung oleh anggota Nazi hanya beberapa saat sebelum Hitler sendiri "tewas" dan mengakhiri kekerasan dan kebrutalan Nazi.

    Apa yang mendorong seseorang menghalalkan kekerasan melawan kekerasan bukanlah semata-mata karena adanya dendam kesumat dan kedengkian, tetapi juga karena keyakinan bahwa kekerasan tidak pernah dapat diakhiri dengan jalan damai atau kompromi sekalipun. Pandangan yang terakhir itulah yang menjadi keyakinan Bonhoeffer. Baginya kebrutalan dan kekerasan yang diperankan Nazi tidak mungkin dapat dihentikan dengan usaha damai atau kompromi. Sebabnya adalah adanya angkara murka dan mabuk kuasa tak terbendung dalam diri pemimpin seperti Hitler.

    Dalam surat-surat rahasia Bonhoeffer yang ditulisnya dari penjara, ia mengungkapkan keprihatinannya akan sikap lunak bahkan memihak dari banyak pemimpin gereja. Sikap lunak dan memihak tersebut justru mengobarkan semangat dan nafsu membunuh dari sang Fuhrer. Kasus ini mungkin terjadi sekali saja dalam sejarah.Tiap peristiwa ada konteksnya. Tetapi peritiwa-peritiwa serupa akan terus ada.

    Kekerasan sebagai perlawanan yang marak akhir-akhir ini terutama dari kelompok yang disebut sebagai teroris umumnya menghalalkan kekerasan sebagai jalan satu-satunya membendung kuasa yang menindas. Sikap ini terutama diyakini oleh mereka yang selalu merasa berada di pihak yang kalah dan tak berdaya. Ajaran agama sering kali dipakai sebagai alat pembenaran terhadap sikap nonpasifis tersebut. Seolah-olah agama mengajarkan bahwa kekerasan dapat dipergunakan untuk melawan kekerasan untuk mengakhiri kekerasan.

    Benarkah demikian? Kalau kita melihat sepintas saja kepada situasi antara Israel dan Palestina, maka menjadi jelas bahwa kekerasan tidak mungkin dapat dipakai sebagai alat atau cara mengakhiri kekerasan. Sebaliknya kekerasan akan melahirkan kekerasan baru yang tak akan pernah berakhir. Itu sebabnya agama menjadikan cinta damai (pasifis) sebagai salah satu nilai tertinggi dalam relasi antar-manusia. Dalam Alkitab misalnya diajarkan bahwa "berbahagialah mereka yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah" (Matius 5:9).

    Pasifis adalah sikap yang diidealkan bahkan diagungkan oleh ajaran agama terhadap relasi antar-manusia bahkan dalam relasi manusia dengan makhluk lain (Yesaya 11). Kedamaian atau shalom selalu menjadi visi keagamaan mesianistik. Karena itu, ajaran agama tidak mungkin membenarkan kekerasan sebagai alat atau cara untuk mengakhiri sebuah kekerasan. Maka ajaran agama dapat disebut sebagai sikap yang pro-pasifis.

    Kemanusiaan

    Kekerasan, khususnya perang tidak mendapat tempat dalam agama, walaupun dalam Kitab Suci, misalnya Alkitab, perang dipakai sebagai salah satu cara untuk mencegah pengaruh buruk kejahatan. Dalam konteks masyarakat purba di mana kemanusiaan dipahami secara sempit sebatas sesama suku atau sesama agama, pembenaran perang sebagai cara mengatasi kejahatan atau perilaku tidak adil dari kelompok yang menjadi musuh, ataupun pemimpin yang berbuat lalim, dapat dipahami dan diterima dan dibenarkan oleh moral pada saat itu.

    Juga dalam konteks kekerasan sebagai alat �putih hama� (karantina) untuk mencegah berjangkitnya kejahatan, kekerasan dalam arti perang dan pemusnahan, dapat dibenarkan secara moral oleh suku tersebut. Israel sebagai suatu suku dibenarkan memerangi suku lain yang dapat menjadi ancaman keberadaan dan kesucian agama mereka. Dalam pemahaman seperti itu, TUHAN dipahami membenarkan kekerasan sebagai alat mencegah pengaruh buruk kejahatan atau dosa.

    Contoh penghukuman terhadap dosa manusia yang diceritakan dalam Alkitab (Kejadian 6-9) dan penghukuman terhadap Sodom dan Gomora (Kejadian 19) dapat dibenarkan sesuai konteks pencegahan menularnya kejahatan dalam konteks suku yang menganut paham keagamaan homogen.

    Dalam kekristenan dikenal apa yang disebut sebagai perang untuk keadilan (just war). Paham itu diwarisi dari Yudaisme. Hukum Yahudi membolehkan dua bentuk perang untuk keadilan (just war) yaitu agama (religious war) dan perang biasa (optional war) untuk kepentingan sosial-politik. Perang agama dipahami sebagai perang untuk membela kebenaran keyakinan agama. Sedangkan perang yang opsional dapat dilakukan kalau dianggap perlu untuk membela kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Perang semacam itu harus mendapatkan penetapan dari para pemimpin agama atau Sanhedrin. Yudaisme modern menjadikan kedua bentuk perang tersebut untuk melegitimasi kekerasan yang ditampilkan terutama dalam konteks politik dan yang ditafsirkan sebagai kebajikan yang terkait dengan agama.

    Pencampuradukan ini menyebabkan seolah-olah agama mendukung penggunaan kekerasan dalam pencapaian tujuan agama maupun politik. Dalam faksi Islam tertentu paham mengenai perang suci (holy war) atau jihad kurang lebih dipahami seperti perang agama sebagai kewajiban dalam Yudaisme, yaitu perang sebagai panggilan demi mempertahankan dan membela aqidah atau agama. Konsep jihad (perang suci) dibenarkan oleh faksi tertentu, misalnya oleh Hamas di Palestina, baik untuk tujuan agama maupun untuk tujuan politik.

    Pada hakikatnya Yudaisme, Islam dan Kristen adalah agama yang pro-pasifis. Kekerasan dan perang hanya diizinkan untuk hal-hal yang sangat khusus dan yang terkait dengan ancaman terhadap keyakinan agama. Tetapi dalam kehidupan modern, pengecualian-pengecualian itu kadang-kadang dipakai sebagai pembenaran umum penggunaan kekerasan dalam mengatasi konflik antar bangsa, khususnya yang bernuansa agama.

    Mudah dipahami, ketika terjadi sentimen bernuansa agama dalam masyarakat, gampang sekali ia menjelma menjadi permusuhan yang menghalalkan kekerasan sebagai alat penyelesaian sentimen tersebut. Hal seperti ini bisa dipahami secara psikhologis dan sosiologis karena bidang paling sensitif dari kehidupan manusia adalah bidang agama. Ketika kepentingan politik dicampurkan atau memperalat sentimen agama, maka sangat mudah meledakkan kekerasan.

    Reinterpretasi

    Contoh-contoh dilakukannya kekerasan dalam Kitab Suci, misalnya dalam Alkitab, seperti yang disebutkan di atas mestinya direinterpretasi dan tidak begitu saja dijadikan sebagai acuan untuk menganggap bahwa agama membenarkan kekerasan atau anti-pasifis. Dalam paham Kristen, Yesus diyakini sebagai seorang pasifis. Dalam khotbah-khotbah-Nya, Tuhan Yesus sangat mene- kankan prinsip pasifis, bukan saja terhadap sesama suku atau sesama agama melainkan terhadap musuh. "Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu" (Matius 5:44). Pandangan Yesus ini merupakan koreksi terhadap hukum balas dendam "gigi ganti gigi, mata ganti mata" (lex talionis) dalam tafsiran Torah Yahudi pada saat itu.

    Tidak membalas, merupakan sikap sejati yang diajarkan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus adalah seorang pasifis sejati, bukan hanya dalam ajaran-ajaran-Nya tetapi terutama melalui sikap hidup-Nya sendiri. Kepada orang-orang yang menfitnah dan menganiayanya Ia berdoa supaya TUHAN mengampuni mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat (Lukas 23:34).

    Ajaran dan teladan Yesus ini diikuti oleh gereja sepanjang abad, walaupun dalam teologi Kristen kekerasan atau perang dibenarkan sebagai alat untuk menegakkan keadilan. Perang seperti itu harus benar-benar dapat menjamin bahwa hanya sedikit orang akan terbunuh untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa yang terancam oleh musuh atau oleh regim represif-otoriter dan sewenang-wenang.

    Agustinus, seorang bapa gereja dan teolog klasik berpendirian bahwa perang untuk keadilan haruslah memenuhi dua syarat yaitu proporsionalitas yaitu bahwa lebih banyak nyawa terselamatkan dari pada nyawa yang hilang dan legitim yaitu bahwa penggunaan kekerasan itu harus didukung oleh otoritas yang resmi.

    Para teolog modern di Amerika Serikat, terutama Yoder dan Niebuhr membela bahwa iman Kristen mengajarkan dan menganjurkan sikap hidup pasifis. Mengenai penggunaan kekerasan untuk tujuan mengusahakan keadilan dan mencegah ketidak-adilan, keduanya berpendirian bahwa hal itu harus digunakan secara sangat cermat. Mengutip Luther, perang atau kekerasan haruslah dipandang sebagai pisau bedah untuk menyembuhkan dan karena itu penggunaan perang untuk keadilan haruslah setangkas pisau ahli bedah. Adanya contoh kekerasan dalam sejarah kehidupan Kristen haruslah dipahami sebagai penyimpangan dan interpretasi yang salah terhadap anjuran Kitab Suci. Para agamawan diharapkan menjadi para pemimpin yang menganjurkan dan meneladankan sikap pro-pasifis sebagai sikap beragama yang sejati sebagaimana diajarkan oleh Kitab Suci.

    Dalam konteks dunia modern bahkan post-modern, ketika umat manusia semakin menyatu tanpa sekat suku, bangsa maupun agama; kekerasan atau perang tidak mungkin lagi dapat diterima oleh akal sehat dan tidak mungkin lagi dapat dibenarkan secara moral. Manusia modern dan post-modern adalah manusia yang sungguh-sungguh telah dewasa dan menerima kemanusiaannya secara universal dan global. Itu sebabnya nilai-nilai kemanusiaan universal haruslah mencegah kita menggunakan kekerasan untuk mengatasi perbedaan.

    Segala sesuatu mestinya bisa dibicarakan dan diatasi secara damai dan dengan akal sehat. Dalam konteks agama, manusia modern harus kembali kepada pesan orisinal agama yaitu bahwa agama tidak mendukung kekerasan dalam mengatasi perbedaan paham antar manusia karena agama pada hakekatnya memuliakan TUHAN yang memberi damai dan yang mengajarkan kedamaian kepada umat manusia. Pesan orisinal agama inilah yang seharusnya terus dikedepankan dan ditonjolkan dalam membangun rlasi antar-manusia dan antar-bangsa, sihingga dunia kita ini benar-benar menjadi dunia pasifis, dunia cinta damai.

    Sumber: Suara Pembaruan Daily

    Paskah dan Bencana Alam

    Penulis : Dr. Eben Nuban Timo (Pendeta GMIT)

    Paskah menurut PL dan PB:
    PASKAH berasal dari kata Ibrani, Pasach. Artinya berlalu. Kata ini menggambarkan berlalunya masa hidup sebagai budak di Mesir selama 450 tahun dan dimulainya masa sebagai orang merdeka untuk berjalan menuju tanah perjanjian. Sepuluh bencana yang dahsyat berada di belakang mereka. Di depan mereka menanti sepuluh firman yang memberi kehidupan dan sukacita (Maz. 19:8 dst). Tetapi yang masuk ke dalam janji kehidupan sukacita itu Israel sebagai satu bangsa harus menjalani satu disiplin hidup yang ketat. Mereka perlu belajar menanggalkan kebiasaan-kebiasaan dan praktek hidup yang lama sekaligus melatih diri dengan pola dan perilaku hidup yang baru. Pasach di Israel berhubungan dengan peristiwa keluaran (rexodus) dari tanah Mesir, negeri perbudakan (Kel. 20:2).

    Kata Pasach punya hubungan dengan kata Pesach, artinya bergegas. Kata ini menunjuk pada suasana perayaan Pasach. Pada perayaan itu segala sesuatu harus dilakukan secara cepat, buru-buru. Makanan yang disiapkan tidak perlu dipersiapkan secara lambat. Daging pada pesta itu tidak boleh dipotong kecil-kecil. Waktu makan pun harus dilakukan sambil berdiri. Waktu tangan yang satu menyantap makanan, tangan yang lain memegang tongkat atau memikul ransel. Sepatu sudah harus dipasang di kaki. Pesta itu diadakan dalam suasana bersiap-siap untuk pergi (Kel. 12:110).

    Masa baru itu sangat menarik sehingga Israel harus bergegas untuk meninggalkan suasana hidup lama dan menerima hidup dan status baru yang ada. Jauh hari setelah peristiwa exodus Pesach tetap dirayakan, juga masih dalam keadaan siaga. Ini sengaja dibuat supaya generasi muda (anak-anak) dalam keluarga mengajukan pertanyaan: "Apakah artinya perayaan ini?" (Kel. 12:26). Pertanyaan ini menjadi pintu masuk bagi tiap orang tua untuk mengisahkan kembali peristiwa exodus kepada anak-anak, supaya mereka mengenang peristiwa itu dan hidup sesuai dengan tuntutan yang berlaku dalam zaman baru tersebut. Ada hubungan antara Pasach dan perilaku hidup orang Israel. Bahkan kita bisa katakan bahwa semua aturan dan tata tertib hidup umat Israel sebagai bangsa, maupun sebagai pribadi, baik di bidang kultis maupun etis, dengan bidang politik, ekonomi, sosial maupun budaya bersumber dari perenungan mereka akan peristiwa exodus.

    Oleh gereja paskah dihubungkan dengan peristiwa Kebangkitan Yesus Kristus. Keadaan tergesa-gesa dan bergegas juga dialami murid-murid pada peristiwa paskah yang pertama. Mereka yang berada di Golgota sore itu harus tergesa-gesa mengemas tubuh Yesus yang sudah meninggal di atas salib. Perempuan-perempuan pulang dari kubur Yesus dengan berlari-lari untuk memberitahukan kepada Petrus, dkk apa yang mereka lihat dan dengar (Mat. 8). Petrus yang mendengar berita dari para perempuan, cepat-c8epat pergi ke kubur. Sulit bagi dia untuk mengerti rentetan peristiwa yang berlangsung begitu cepat (Luk. 24:120). Perjanjian Baru, terutama sura-surat Paulus mengklaim bahwa kebangkitan Yesus Kristus mengawali datangnya zaman baru di dunia yang lama. Menurut JJ Buskes, kebangkitan Yesus merupakan sepotong dunia baru yang sedang menerobos masuk dalam dunia lama dan menciptakan sejarah. Penerobosan ini menuntut pembaharuan hidup manusia. Etos hidup dan kerja manusia setelah peristiwa kebangkitan harus berbeda dengan sebelumnya. Perubahan itu harus segera, sekarang juga, sebab yang lama sudah berlalu, sedangkan yang baru sedang datang.

    Paskah dalam kitab-kitab Injil
    Ada cukup banyak perbedaan mencolok antara kesaksian kitab-kitab injil mengenai kehidupan dan karya Yesus Kristus. Tetapi laporan kitab-kitab Injil mengenai kisah kebangkitan Yesus secara umum memiliki kemiripan. Mereka sepakat bahwa paskah bukan sebuah ilusi, refleksi, teori atau mitos. Paskah adalah fakta atau kejadian historis. Para imam kepala dan ahli Tauratlah yang menyebarkan teori atau ilusi bahwa Yesus tidak bangkit melainkan mayatNya dicuri oleh murid-muridNya (Mat. 28:12-15). Kitab-kitab Injil mengajukan sebuah bukti tak terbantahkan, yaitu "Kubur Yang Kosong". Kepada para perempuan yang datang ke kubur Yesus, malaikat berkata: "Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada disini. Lihat! Inilah tempat mereka membaringkan Dia" (Mrk. 16;6 dan yang sejajar).

    Fakta sejarah ini memiliki kuasa atau pengaruh luar baisa terhadap perilaku hidup para rasul. Dari orang-orang penakut (Yoh. 20:19), murid-murid berubah menjadi saksi-saksi yang berani. Mereka rela menanggung risiko bahkan rela mati demi mempertahankan kebenaran kesaksian mereka. Kita lihat itu dalam cerita dua murid dalam perjalanan ke Emaus (Luk. 24:13-35) dan sikap Petrus di hadapan Mahkamah Agama (Kis. 4:19-20). Hidup murid-murid berubah dalam tenggang waktu yang singkat. Pengalaman mengatakan bahwa perubahan hidup dalam waktu yang singkat hanya mungkin terjadi jika bersumber pada sebuah kejadian yang nyata. Tetapi perubahan itu biasanya berlangsung lambat, secara bertahap dan membutuhkan waktu yang relatif lama.

    Paskah: antara perfectum dan futurum
    Dalam gereja ada kidung paskah. Kebangkitan Kristus dilukiskan sebagai akhir dari penderitaan. Kita sudah diselamatkan. Dunia sudah ditebus. Kematian tidak ada lagi. Ratapan dan airmata sudah berlalu. Dengan sangat indah ayat tiga dari Kidung Jemaat 188 melukiskan hal ini dalam syair berikut: Kuasa kubur menyerah, haleluyah/ Dan neraka takluklah, haleluyah Kristus Jaya atas maut, haleluyah/ Dan terbukalah Firdaus, haleluyah. Benarkah maut dan kematian tidak ada lagi? Kita bernyanyi pada hari Minggu: "Kuasa kubur menyerah dan neraka takluklah". Tetapi pada hari Senin kita memanggul jenazah salah seorang teman kita menuju ke tempat pemakaman. Dan, pada hari Rabu jenazah kita sendiri diusung ke liang lahat. Kematian masih mengancam kita. Dunia sudah ditebus! Bisakah kita mengatakan hal itu, kalau kita mendengar tentang anak-anak yang diperkosa dan tentang kakak adik di kampung yang saling membunuh? Apakah iblis sudah kalah kalau kita mendengar kisah tentang bencana gempa bumi di Nias yang terjadi justru satu hari setelah umat Kristen merayakan Paskah (28 Maret 2005).

    Paulus, sang rasul yang berkhotbah dengan sangat tegas tentang Paskah, berbicara dalam Roma 8 tentang penderitaan zaman sekarang. Dia katakan bahwa seluruh makhluk mengeluh, Gereja juga mengeluh dan ditaklukkan oleh kesia-siaan. Penebusan ternyata belum terjadi (Rom. 8:19 dst). Pembenaran manusia memang sudah tuntas dikerjakan Allah di atas salib, tetapi pengudusan manusia belum selesai. Manusia yang te8lah direbut kembali oleh Allah dari kematian mengalami kehancuran yang parah. Hidupnya diporak-porandakan oleh maut. Ia belum bisa langsung dipermuliakan. Terlebih dahulu ia perlu dipulihkan. Pemulihan itu butuh waktu. Kita sudah diselamatkan tetapi penebusan kita belum selesai. Paskah adalah akhir dari salib. Tapi ia bukan akhirat. Kebangkitan Yesus adalah akhir, tapi sekaligus permulaan baru, awal dari sejarah keselamatan. Alkitab melihat kebangkitan Yesus dalam hubungan dengan salib, yakni kematian Yesus tetapi juga dengan kemenangan yang final, yakni kedatangan-Nya sebagai hakim. Pendamaian adalah sebuah perfectum. Yesus sudah membayar hutang dosa kita sekali untuk selamanya. Ungkapan "sekali untuk selamanya" menunjuk pada dimensi perfectum sekaligus futurum dari peristiwa Paskah.

    Sebagai gereja kita belum bisa dan tidak boleh membanggakan diri sebagai yang suci dan tanpa dosa. Gereja memang datang dari kebangkitan. Tetapi kebangkitan itu bukan akhirat. Ia adalah permulaan masa baru yang masih akan datang. Dalam perjuangan itu kita masih mengalami banyak pencobaan, bahkan ada pengkhianatan. Bencana masih muncul dan menggerogoti hidup dunia yang sudah selamatkan Kristus. Itu terjadi karena beberapa alasan. Salah satunya, seperti yang sudah kita sebut tadi, dunia yang sudah dibenarkan Allah masih terus dibentuk untuk menjadi dunia yang layak bagi kedatangan kerajaan Allah. (Bdg, Wah. 21:1-2). Tepatlah apa yang dikatakan S Kierkegaard: "Kita belum gereja. Kita seadng menjadi gereja". Mengapa bencana tetap ada? Drs. H Sianturi, M.Si, pakar Fisika di FMIP Undana-Kupang dalam orasi ilmiah mengenai gempa bumi dan tsunami menegaskan sebagai berikut: "Sesungguhnya bumi yang kita diami ini tidaklah diam, akan tetapi lempengan-lempengan bumi ini selalu bergerak kelajuan sekitar 2-11 cm per tahun". Bumi tidaklah diam. Dia terus bergerak. Ada alasan-alasan ilmiah dan rasional yang diajukan. Dari sudut pandang teologis kenyataan bahwa bumi terus bergerak juga ditandaskan berulang-ulang oleh para teolog besar dalam gereja. Karl Barth umpamanya mengatakan hal yang sangat mengejutkan tentang ciptaan Allah: "Penciptaan sudah terjadi tetapi belum selesai". Artinya ciptaan yang keluar dari tangan Allah masih terus berada dalam proses menjadi. Apa yang kita lihat dan alami saat ini, termasuk hidup kita adalah satu keberadaan yang sementara. Akan tiba masanya, di mana keadaan yang sementara ini akan diganti dengan keadaan yang sempurna (Church Dogmatics II/1, 15).

    Penciptaan belum berakhir.
    Yesus berkata: Bapa-Ku bekerja sampai sekarang (Yoh. 5:17). Allah terus bekerja untuk membenahi ciptaan-Nya s243217ai dengan rencana-Nya yang kekal: menjadikan mereka sebagai umat-Nya Pekerjaan Allah pasca penciptaan itulah yang dikenal dalam ilmu teologi dengan nama Providentia Dei. Ciptaan Allah dipelihara. Pemeliharaan itu tidak dilakukan seorang diri oleh Allah. Dalam melakukan pekerjaan penciptaan Allah lakukan itu sendiri, tanpa manusia, tetapi dalam karya pemeliharaan ciptaan Allah mau lakukan bersama-sama manusia.

    Ciptaan Allah perlu dipelihara.
    Salah satu alasan teologis yang diberikan adalah demikian. Dalam dunia ciptaan Allah ada kuasa jahat. Kuasa-kuasa itu tidak disangkali Alkitab. Apa yang Allah buat pada waktu menciptakan langit dan bumi adalah menaruh batas kepada kuasa-kuasa itu. Kuasa-kuasa itu dimetaforakan dengan khosek, kegelapan dan tehom, samudera raya. Kita bisa lihat itu dalam kisah penciptaan yang dilakukan Allah pada tiga hari pertama: Pada hari pertama Allah menciptakan terang (ha or) untuk menghalau kegelapan (ha khosek). Tetapi karena terang yang adalah ciptaan itu tidak sepenuhnya dapat menghalau kegelapan itu, maka Allah memisahkan saja terang itu dari gelap. Ya, Allah menaruh batas. Ini berlaku juga pada hari kedua dan ketiga. Di mana Allah memisahkan air yang di atas dan air yang di bawah. Kemudian menaruh batas bagi air yang ada di bumi. Mereka disuruh berkumpul di laut.

    Batas yang ditetapkan Allah itu kadang-kadang dilanggar.
    Tsunami adalah bukti bahwa batas itu seringkali dilangkahi. Penyakit yang kita derita juga adalah bentuk-bentuk dari pelanggaran batas itu oleh kegelapan. Dalam penciptaan Allah belum menghancurkan musuh dari ciptaan Allah secara total. Allah hanya menaruh batas kepadanya. Daya rusak dari si jahat itu dibatasi dan dikendalikan oleh Allah. Akan ada waktu di mana Allah secara total dan definitif menonaktifkan daya rusak dan menghalau si jahat dari muka bumi. Itu baru akan terjadi nanti, belum sekarang (Wh. 21:1, 22:5).

    Dari sudut pandang ini, bencana terjadi karena dunia masih terus ada dalam proses terjadi. Ia terus dibentuk ke arah wujudnya yang sempurna dan final. Di sini bencana serta penderitaan perlu agar manusia yang menjadi partner Allah dalam pekerjaan providentia Dei menyadari tanggung jawab dan tugasnya. Penutup

    Paskah artinya berlalu.
    Masa yang penuh bencana dan penderitaan sudah lewat. Masa yang penuh sukacita dan damai sedang datang. Kedatangan masa baru itu adalah sudah terjadi tetapi belum selesai. Tugas untuk menghadirkan sukacita dan damai yang sempurna dan final itu adalah karya bersama antara Allah dan manusia. Jadi pasca Paskah adalah masa di mana manusia dalam ketaatan kepada Allah harus mewujudkan damai dan sukacita dari Allah itu dalam tiga dimensi relasi, dengan Allah, dengan alam dan dengan sesama.

    Paskah dan Lingkungan Hidup

    Oleh: Pdt. Midian KH Sirait, M.Th.

    Lingkungan hidup dan permasalahannya sudah menjadi pusat perhatian dan keprihatinan dunia, termasuk di Indonesia. Akar dari krisis lingkungn hidup -- termasuk masalah pemanasan global -- dewasa kini, terletak pada kekeliruan perspektif manusia modern mengenai alam. Pemanasan global adalah buah dari tindakan manusia akibat keserakahan dan ketakbertanggungjawabannya terhadap alam. Berbagai bencana alam yang terjadi beberapa tahun belakangan ini, seperti gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsong, angin topan, dsb, membuat masyarakat memberikan perhatian kepada lingkungan hidup.

    Dalam kondisi dunia dan lingkungan hidup dengan berbagai permasalahannya, orang Kristen atau gereja hadir dan menjalankan tugas panggilannya. Apa dan bagaimana seharusnya gereja memandang dan menyikapi alam atau lingkungan hidupnya? Dalam menjalankan tugas penguasaan alam yang bertanggungjawab, manusia dituntut untuk menjaga dan memelihara alam agar terjamin kelestariannya dan sekaligus menjadi sumber nafkah yang tak akan habis.

    Di dalam tugas pemeliharaan ini, Allah mempercayakan pula kepada manusia. Manusia diciptakan sebagai bagian dari seluruh ciptaan diberi tugas untuk menguasai bumi. Sehingga sudah sepatutnya manusia secara proaktif memelihara lingkungan. Dasar pemahaman Alkitabiah mengenai alam semesta adalah cerita penciptaan yang tertulis dalam kitab Kejadian (pasal 1 dan 2). Keberadaan manusia di tengah-tengah ciptaan lain memiliki peran dan tugas khusus. Kita harus tetap bekerja untuk menghadirkan kebaikan bersama bagi kita.

    Alam semesta yang diciptakan Tuhan terdiri dari berbagai unsur, seperti bumi atau tanah, air, udara/angin, tumbuhan, hewan dan manusia. Alam semesta diciptakan Allah untuk tujuan yang luhur, yaitu untuk dimanfaatkan oleh manusia. Dalam pencemaran lingkungan, faktor penghambatnya adalah egoisme manusia yang mengabaikan kepentingan sesama makhluk, baik yang hidup saat ini maupun generasi mendatang. Pencemaran berarti proses mengotori lingkungan yang dilakukan oleh manusia. Hal ini nyata ketika banyak orang mengejar hal-hal yang serba menguntungkan dirinya sendiri saja. Sikap berkorban makin buyar, padahal pengorbanan merupakan sikap yang mutlak harus ada dalam kehidupan bersama. Bahkan dalam mengalami akibat-akibat bencana alam pun, sikap kebersamaan pun makin pudar pula.

    Alam memang marah pada tindak-tanduk manusia yang tidak memperhatikan kelangsungan ciptaan Tuhan. Kapasitas daya cipta manusia digunakan untuk merusak karya Tuhan tersebut. Pem¬bangunan tanpa mematuhi ketentuan yang bersahabat dengan lingkungan, seperti pembabatan hutan yang meluas, pengelolaan daerah aliran sungai yang tidak tepat, ketiadaan angkutan kota yang handal dan murah serta terpercaya, perencanaan kota yang amburadul, sistem ekonomi dan finansiil dalam globalisasi yang tanpa penyesuaian lokal, adalah sebagian dari faktor yang tidak kondusif terhadap pembangunan lingkungan hidup yang tepat.

    Sejatinya, Paskah atau hari Kebangkitan Kristus Tahun 2012 ini, mencoba mengaliri kembali saluran nilai-nilai kemanusiaan, membahas persoalan lingkungan hidup. Pada tingkat individu dan keluarga banyak yang dapat dilakukan. Ungkapan menjalin sadar lingkungan sebagai bagian dari iman sungguh tepat, yang berarti manusia memelihara ciptaan Tuhan. Menanam pohon, gerakan ini tidak akan berhenti setelah Paskah.Karena itu, setiap daerah berusaha terus menerus meningkatkan kualitas lingkungan hidup daerahnya masing-masing. Masyarakat agar meningkatkan kepedulian terhadap pelestarian lingkungan diawali dengan kegiatan penamanan pohon dalam setiap kegiatan.

    Kita berharap dalam merayakan Paskah dalam tahun ini wujud lingkungan hidup yang semakin sehat untuk dihuni banyak orang. Yesus yang bangkit telah mendorong para penginjil memberitakan "kabar baik" ke seluruh dunia. Caranya terus membangun persaudaraan semesta dan mau menyentuh nilai-nilai kemanusiaan ditengah kompleksitas persoalan lokal, nasional dan global. Sebab, Paskah dalam semangat persaudaraan yang berpengharapan mengajak umat Kristen dan gereja untuk melakukan tindakan-tindakan praktis sosial kemanusiaan yang bersandar pada nilai-nilai solidaritas yang diajarkan Yesus Kristus 2000 tahun lalu.

    Hal ini dimaksudkan demi kebaikan lingkungan sehingga anak anak cucu kelak dapat menikmati hasil-hasilnya, sehingga Paskah tahun ini adalah merupakan momentum baru untuk memaknai hidup dan kehidupan ini. Kita percaya dalam suasana kasih dan semakin baiknya lingkungan hidup, kebaikan Tuhan semakin dialami oleh banyak orang. Mari kita mensyukuri belaskasihan Tuhan dengan berusaha untuk membagikannya kepada sesama kita, terutama mereka yang sangat membutuhkan.

    Mengingat makin rusaknya kondisi lingkungan hidup, di mana kualitas lingkungan hidup di Indonesia masih rendah, maka dalam merayakan Paskah berarti menyambut Sang Fajar baru yang datang membawa terang dunia, menerangi kegelapan yang diakibatkan perilaku buruk manusia. Melalui Nabi Yesaya Tuhan bersabda, “Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh … Umat yang telah Kubentuk bagi-Ku akan memberitakan kemasyhuran-Ku” (Yes. 43:19-20).

    Merayakan Paskah adalah untuk merebut momentum hati dan jiwa yang bersih. Paskah berarti awal bagi kelahiran kembali manusia dari situasi yang penuh dengan keculasan, keserakahan, dan penindasan. Kebangkitan Yesus membuktikan bahwa sebagai manusia Yesus mengalahkan dosa dan mengatasi maut. Dengan Paskah kita merayakan perdamaian dan kesucian akan bergema dalam nurani manusia. Bagi mereka yang dalam perilaku kehidupannya penuh dengan tipu daya dan sering menggunakan cara-cara kotor untuk menindas kaum kecil, mereka sulit merayakannya. Sebab, nurani mereka telah tumpul dan jiwanya kotor.

    Yesus yang bangkit memang menjadi sandungan bagi mereka yang menolak Dia. Untuk meredam fakta historis para saksi mata yang bersaksi tentang kebangkitan-Nya itu, Mahkamah Agama Yahudi menebarkan berita dusta yang menyebut, bahwa mayat Yesus dicuri oleh para murid-Nya (Matius 28:11-15).

    Dengan begitu, tentu Tuhan dimuliakan. Di sini ada tanggung jawab moral-spiritual ekstra bagi gereja sebagai umat atau anak-anak Tuhan yang telah ditebus dari dosa dan telah diselamatkan melalui Salib kebangkitan Yesus (Yohanes 20:1-10). Ini adalah tugas kesaksian; dan di sini mengandung ucapan syukur dan pujian kepada Tuhan.

    Pengakuan dan kepercayaan Tuhan ini atas kebangkitan atau Paskah tersebut tentunya adalah hal yang membanggakan gereja; bahwa gereja dihargai Tuhan dan dapat berbuat sesuatu yang berguna bagi alam ciptaan Tuhan. Gereja yang punya kepedulian yang luar biasa pada mereka yang sedang menderita Allah kita selain kasih, Dia juga adil; jadi Dia berkompeten untuk memberikan pengajaran bagi manusia. Paskah, kebangkitan Kristus memberi pengharapan akan perubahan hidup. Dari kegelapan yang menyelimuti bangsa inilah, kita diajak untuk merayakan Paskah yang berarti lahir kembali. Apa yang harus dilahirkan kembali oleh bangsa ini? Firman Tuhan berkata: Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kolose 3:23).

    Gema pesan firman Tuhan tersebut bergaung hingga masa kini. Kita yang hidup pada masa kini diminta untuk melakukan segala sesuatu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia, kendati berkaitan dengan kehidupan manusia. Untuk maksud tersebut, hendaknya kita memanfaatkan segala potensi yang ada di dalam diri kita, karena jika potensi itu tidak kita kembangkan, lambat laun akan mati.

    Peringatan Paskah bukan sekadar ritual agama, tetapi merupakan momentum bagi umat manusia untuk menyadari, betapa hidup ini harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak. Bagi mereka yang bersedia menerima-Nya sebagai Juru selamat dengan terlebih dahulu menyesali dosa-dosanya, maka kebangkitan Tuhan Yesus menjadi jaminan bagi mereka.

    Akhirnya, Paskah dan lingkungan hidup, maka umat Kristen dan gereja harus mampu mengabarkan rahasia Allah bahwa Yesus Kristus menjadi Juruselamat dunia. Bukan waktunya lagi kita hanyut dalam pemikiran tentang siapa yang berdosa. Sebaliknya, tataplah masa depan dan tetap bekerja. Terlebih jika kita semua dalam kesatuan bangsa Indonesia bersedia ikut menanggung beban bersama demi pemulihan semua wilayah yang terkena bencana alam. Paskah mengajak kita untuk melahirkan kembali peradaban yang sehat untuk menuju kelahiran yang sejati. Kelahiran sejati adalah kelahiran menjadi manusia baru. Amin. (Penulis Pendeta HKBP Resort Kalimantan Timur, Pelaksana Praeses HKBP Persiapan Distrik Borneo).

    Paus - Santo Subito

    Penulis : Mang Ucup

    Bagi mereka yg menyaksikan upacara pemakamannya Bapa Paus Yohannes Paulus II di TV, mereka bisa melihat ketika para pelayat di Vatikan mereriakkan ber-kali2 secara bersama: "Santo, subito" yg berarti "Santo segera" sebab banyak sekali umat Katolik diseluruh dunia ini mendukung bahkan mengharapkan agar Bapa Paus Yohannes Paulus II, segera diangkat menjadi Santo. Sebenarnya sudah merupakan satu keajaiban tersendiri dimana empat juta orang bersedia untuk pergi datang melayat hanya untuk pemakaman seorang manusia, belum lagi ratusan juta orang di seluruh bumi ini yg turut menyaksikan pemakamannya melalui TV.

    Ini bukan karena ketenarannya Bapa Paus Yohannes Paulus II saja, melainkan telah berbuktikan juga, bahwa selama Bapa Paus Yohannes Paulus II memegang jabatan sebagai Paus, Bapa Paus Yohannes Paulus II telah melakukan berbagai macam mukjizat. Antara lain berdasarkan berita dari koran harian "La Repubblica", seorang wanita yg sejak lahir buta, setelah ia mencium tangan kanannya Paus, mendadak dapat melihat dgn seketika itu juga.

    Begitu juga seorang yg sejak lahir lumpuh sehingga kemanapun ia pergi harus menggunakan kursi roda, ternyata setelah bertemu dgn Bapa Paus Yohannes Paulus II menjadi sembuh dan bisa berjalan seperti layaknya seorang sehat. Begitu juga dgn seorang pemuda yg berasal dari Afrika, dimana ia disembuhkan dari penyakit kanker, sehingga dgn mana penyakit tumornya hilang dgn seketika, ini terjadi setelah ia bedoa dgn rosario pemberian dari Bapa Paus Yohannes Paulus II.

    Penyembuhan mukjizat ini bukan terjadi pada orang awam saja, bahkan 5 th yg lampau Kardinal Francesco Marchisano telah disembukan melalui doa yg dilakukan oleh Bapa Paus Yohannes Paulus II.

    Harian La Stampa menyatakan Vatikan sudah menerima sejumlah catatan soal keajaiban yang muncul yang terkait dengan Paus Yohanes Paulus II. Antara lain pekan lalu seorang remaja Meksiko juga dikabarkan sembuh dari leukemia, demikian pula seorang suster di Kolombia juga sembuh dari penyakit, yang dikatakan semuanya terkait dengan Paus Yohanes Paulus II.

    Namun, Gereja Katolik sangat konservatif dan tak mudah menjadikan seseorang umatnya menjadi santo. Semua laporan menyangkut keajaiban membutuhkan waktu untuk diverifikasi. Untuk menjadi beato/beata (orang yang berbahagia) dan santo, seorang umat Katolik harus mampu memberikan keajaiban dari surga, berdasarkan iman Katolik. Itu adalah sebuah syarat utama dan sangat mendasar di Gereja Katolik. Juru bicara Vatikan Joaquin Navarro-Valls mengatakan, pemberian gelar santo terletak di tangan Paus selanjutnya. Juga dikatakan, harus ada bukti-bukti kuat soal keajaiban itu, serta setidaknya dibutuhkan dua mukjizat.

    Kata Santa dan Santo berasal dari bahasa Latin "sanctus", yang artinya "suci, kudus". Dalam bahasa Inggris, kata "sanctus" diterjemahkan menjadi "saint". Kamus American Heritage mempunyai beberapa definisi kata "saint". Salah satu diantaranya mendefinisikan kata "saint" sebagai "seorang yang amat kudus" Kudus berarti "berbudi luhur". Belas kasihan serta iman adalah contoh budi yang luhur. Jadi, seorang santa/santo adalah seorang yang sangat baik, penuh belas kasihan dan iman. Seorang santa/santo sejati adalah seorang yang mempunyai kebiasaan berbuat baik bagi sesama. Kamus tersebut juga mengatakan bahwa definisi kata "saint" berarti "seseorang yang telah berada di surga." Kedua definisi di atas adalah bagian dari definisi kata "saint" oleh Gereja Katolik. Seorang santa/santo bagi kita adalah seorang yang amat kudus yang telah berada di surga.

    Bagaimana gereja mengangkat seorang Santa/Santo? Gereja mengakui orang-orang tertentu sebagai Santa dan Santo melalui suatu cara yang khusus, yaitu melalui suatu proses yang disebut "Kanonisasi". Kanon (Latin = Hukum atau Daftar) adalah sesuatu atau seseorang yang dijadikan contoh tetap bagi yang lain.

    Kanonisasi adalah proses Gereja meresmikan seseorang yang telah meninggal diangkat menjadi seorang Santa/Santo. Jika seseorang dikanonisasi oleh Gereja artinya ia dijadikan contoh atau teladan bagi umat yang lain. Seorang Santa/Santo adalah seorang Pahlawan Gereja. Kanonisasi bersifat mutlak dan tidak dapat dibatalkan. Namun demikian, proses kanonisasi memerlukan waktu yang amat lama dan usaha keras.

    Kanonisasi baru dimulai pada abad kesepuluh. Selama beratus-ratus tahun sebelumnya, mulai dari martir pertama Gereja Perdana, santa dan santo dipilih berdasarkan pendapat banyak orang. Meskipun cara demikian lebih demokrasi, namun beberapa kisah hidup santa/santo telah dikacaukan dengan cerita legenda, sebagian lain bahkan tidak pernah ada. Oleh karena itu Uskup dan pada akhirnya Vatikan mengambil alih wewenang untuk mengangkat santa dan santo.

    Pada tahun 1983 Paus Yohanes Paulus II melakukan perubahan besar dalam proses kanonisasi. Proses kanonisasi dimulai setelah kematian seorang Katolik yang dianggap banyak orang sebagai kudus. Seringkali proses kanonisasi baru dimulai bertahun-tahun setelah kematian seorang kudus untuk memberikan gambaran yang sebenarnya mengenai calon santa/santo tersebut. Uskup setempat mengadakan penyelidikan tentang kehidupan calon santa/santo, tulisan-tulisan mengenai teladan kepahlawanannya (atau kemartirannya) serta kebenaran ajarannya. Kemudian sejumlah teolog di Vatican menilai calon santa/santo tersebut. Setelah persetujuan para teolog dan para Kardinal dari Konggregasi Masalah Santa/Santo, Paus mengumumkan calon santa/santo tersebut sebagai "Venerabilis" (Yang Pantas Dihormati).

    Langkah selanjutnya adalah "Beatifikasi". Beatifikasi memerlukan bukti berupa mukjizat (kecuali dalam kasus martir). Sebab mukjizat dianggap sebagai bukti bahwa orang yang dianggap kudus itu telah berada di surga dan dapat mendoakan kita. Mukjizat itu harus terjadi sesudah kematian calon santa/santo dan merupakan jawaban atas permohonan khusus yang disampaikan kepada calon santa/santo tersebut. Jika Paus telah menyatakan bahwa calon santa/santo tersebut telah dibeatifikasi menjadi BEATA/ BEATO (Latin artinya Yang Berbahagia), maka orang kudus tersebut boleh dihormati oleh daerah atau kelompok umat tertentu yang berkepentingan.

    Hanya jika dapat dibuktikan adanya satu mukjizat lagi, maka Paus akan melakukan kanonisasi calon santa/santo (termasuk martir juga). Gelar SANTA atau SANTO menunjukkan kepada kita bahwa orang yang menyandang gelar tersebut adalah orang yang hidup kudus, telah berada di surga, dan pantas dihormati oleh seluruh Gereja Katolik. Kanonisasi tidak "membuat" seseorang menjadi santa/santo, tetapi merupakan pengakuan kita akan karya besar yang telah dilakukan Tuhan.

    Peka Budaya

    Penulis : Lesminingtyas

    Sekitar satu jam sehari, hampir bisa dipastikan saya berada dalam sebuah komunitas yang beranggotakan orang-orang Kristen, Katolik dan Islam. Sebagian besar dari kami telah berkeluarga dan beberapa yang lainnya masih single alias jomblo. Kami sangat akrab satu sama lain. Bila salah satu atau beberapa anggota memiliki makanan, semua ikut makan. Kalau salah satu anggota sedang sakit, kami selalu bersama-sama menjenguknya.

    Teman laki-laki yang sering mendominasi pembicaraan paling suka menggunakan nama pengganti untuk kami yang perempuan. Si ibu yang gendut, mereka namai Praty, si ibu yang sexy dinamai Inul, sedangkan si nona jelita dinamai Tessa Kaunang. Saya sendiri mereka namai Angel Banget (dibaca : Enjel Benjet), bukan Angel Ibrahim atau Angel yang lain. Semula saya heran, mengapa mereka memberikan lebel kepada saya seperti itu. Selidik punya selidik, ternyata sebutan tersebut diberikan karena kaum lelaki itu menganggap saya sebagai orang "angel" (sulit).

    Mengapa mereka memandang saya sebagai orang "angel"? Memang saya akui, dalam banyak hal saya kuat dalam berprinsip dan kadang-kadang tidak mau kompromi lagi. Seperti misalnya, sebagian besar teman membiasakan diri untuk bersalaman dan "cipika-cipiki" (cium pipi kanan, cium pipi kiri). Saya memang menolak "cipika-cipiki" dan menggantinya dengan memberi salam gaya sunda. Kira-kira masih dalam jarak 3-2 meter, saya sudah memberikan salam dengan merapatkan kedua telapak tangan saya tepat di depan dada saya. Hal ini saya lakukan terlebih dahulu, supaya teman laki-laki tidak menarik tangan saya sambil "cipika-cipiki"

    Sebagian teman mengatakan bahwa saya terlalu kuno dan tidak mengikuti perkembangan jaman. Saya pu hanya menjawab "Semoderen apapun dunia ini, saya tidak akan melakukan hal-hal yang tidak membuat hati saya nyaman dan damai". Ada juga teman yang mengkritik bahwa saya terlalu dingin dan tidak menyayangi teman. Tetapi saya bisa meyakinkan bahwa saya pun bisa bergaul hangat dan menunjukkan kasih sayang tanpa harus "cipika-cipiki"

    Yang lebih mengherankan, seorang teman Kristen yang sesuku dengan saya pun ikut mengkritik dan menasehati demikian "Sebagai orang Jawa sekaligus orang Kristen, seharusnya kita bisa "manjing ajur ajer", menyesuaikan diri dengan lingkungan kita. Kalau kita bertemu dengan orang kaya, kita jangan sampai kelihatan miskin. Kalau ketemu dengan orang pintar, kita jangan sampai kelihatan bodoh. Kalu ketemu sama orang gedean, jangan sampai kita kelihatan seperti rakyat jelata. Dan..."

    "Dan.kalau ketemu orang gila, kita jangan sampai kelihatan waras.kalau ketemu sama orang biadab, jangan sampai kita kelihatan beradab. Begitu khan maksudmu?" saya memotong pembicaraan teman sambil tertawa. "Kita memang harus menempatkan diri, tetapi tidak untuk menyesuaikan diri. Menempatkan diri, berarti tidak membuat jurang perbedaan, tetapi tetap berpegang pada prinsip kita sendiri" lanjut saya.

    Teman saya pun mulai menyalahtafsirkan perintah Tuhan kepada kita untuk menjadi garam. "Kalau kita menjadi garam, berarti kita harus melebur dengan yang digarami, supaya yang kita garami menjadi asin. Tetapi supaya bisa mengasinkan, garam tidak lagi berbentuk garam, tetapi sudah menjadi sama-sama cair" kata teman saya.

    Dengan kalem saya pun menjawab "Kalau kita meleburkan diri dan menjadi sama dengan lingkungan, itu namanya bukan menggarami dunia, tetapi digarami dunia. Kalau sudah menjadi sama dengan lingkungan, berarti tidak special lagi dan sebagai garam kita tidak asin lagi. Kalau garam sudah menjadi tawar, maka sudah tidak ada gunanya lagi dan hanya akan diinjak-injak dan dibuang" kata saya

    "Sebagai ilustrasi, ada seorang pendeta yang hendak menginjili kaum Nudis yang masih telanjang. Karena ingin menyesuaikan diri dengan lingkungan yang dilayani, si pendeta itu pun datang dengan telanjang bulat. Di luar perkiraan pendeta, ternyata hari itu kaum Nudis justru berpakaian untuk menyambut kedatangan pendeta. Nah, pendeta bisa seperti itu karena ia sedang menyesuaikan diri, bukan menempatkan diri. Jadi, seharusnya kita tetap memegang nilai-nilai yang kita yakini, tanpa harus membuat perbedaan yang menyolok dengan lingkungan kita" lanjut saya.

    Teman saya pun masih belum mau kalah "Lho, dengan cara kamu menolak cium pipi, itu sama saja sudah membuat perbedaan yang menyolok!" "Begitu kita memutuskan untuk mengikut Kristus, berarti kita harus siap berbeda dengan dunia. Hanya saja, kita tidak perlu menggembar-gemborkan perbedaan itu, supaya kehadiran kita tidak meresahkan dan ditolak orang-orang yang belum percaya" jawab saya "Tapi, cium pipi khan tidak dilarang oleh Tuhan" teman saya membela diri. "Tapi juga bukan keharusan khan?" bantah saya. "Ya, tapi cium pipi khan untuk menunjukkan kasih" teman saya masih ngotot. "Coba tolong tunjukkan ayat yang mana yang mengatakan begitu" bisik saya lirih "Kalau kamu memang mau mengungkapkan rasa kasih dengan cium pipi, silakan saja..saya nggak melarang kok. Tapi jangan paksa saya untuk melakukan hal yang sama. Biarkan saya mengasihi teman-teman dengan cara saya sendiri. Saya lebih suka mendengarkan keluh kesah, memberi saran, meminjami buku atau yang lain sebagai perwujudan kasih sayang, dari pada sekedar "cipika-cipiki" yang tidak jelas maksud dan tujuannya" kata saya.

    Ketika teman saya kembali mengkritik bahwa saya terpengaruh budaya Islam, saya pun berusaha meyakinkan bahwa "cipika-cipiki" juga bukan budaya Kristen, tetapi budaya global. Ketika teman saya menuduh bahwa saya anti globalisasi karena menolak "cipika-cipiki", saya pun dengan santai menjawab "Apakah semua budaya global harus kita ikuti? Saya hanya akan melakukan cipika-cipiki kalau jelas maksud dan tujuannya. Kalau memang dengan cipika-cipiki itu nama Tuhan semakin dipermuliakan, ya tentu saja saya akan melakukannya. Kalau tidak ada manfaatnya sedikitpun untuk kehidupan iman saya, ngapain saya harus mengorbankan pipi saya?!"

    Teman saya yang hampir kehabisan kata-kata itupun hanya berkata "Dasar, Enjel Benjet.sok jual mahal! Apa sih istimewanya pipi kamu? Sok lu, pipi nggak ada istimewanya saja kok sampai dibela-belain. Kalau kamu bisa sedikit santai, nggak ada masalah kok dengan cium pipi. Toh sama-sama kulit!"

    Supaya teman saya tidak tegang, saya pasang muka cengengesan sambil bertanya "Mas, kamu mau nggak cium kulit duren, kayak cium pipi cewek?" "Yo.moh! Ngapin cium-cium kulit duren?" jawabnya ketus "Santai lah Mas..tadi kamu bilang, kalau sama-sama kulit khan nggak masalah!" "Emang yang namanya Enjel Bejet, ya mau diapain tetap saja Enjel Benjet..." kata teman saya sambil tersenyum kecut.

    Ketika teman saya yang muslim ikut-ikutan mengolok-olok saya sebagai orang aneh, saya pun menjawab "Ini tanah pasundan..bukan Amrik, Mang!". Saya masih terus meyakinkan bahwa dengan mengganti "cipika-cipiki" dengan salam gaya Sunda, saya sedang menempatkan diri dalam masyarakat dan budaya setempat. Memang tidak semua budaya Sunda merasuki kehidupan saya. Hanya saja, saya sedang belajar supaya bisa memiliki kepekaan terhadap budaya setempat (local culture sensitive).

    Dengan kepekaan terhadap budaya setempat, saya berharap kehadiran saya bisa diterima, bukan hanya sebagai "tamu" tetapi sebagai "keluarga". Kalau masyarakat telah menerima saya sebagai bagian mereka, maka kesaksian dan pelayanan saya tidak lagi mereka curigai atau dianggap sebagai upaya Kristenisasi. Jadi, walaupun "cipika-cipiki" tidak dilarang oleh agama, tetapi kalau dilakukan di tengah-tengah masyarakat yang belum bisa menerimanya, hal tersebut bisa menghambat tugas kesaksian dan pelayanan. Sadarkah, bahwa banyak orang di sekeliling kita menolak ajaran Kristen, bukan karena mereka tidak menyukai Kristus? Sadarkan bahwa banyak orang tidak menyukai ajaran Kristus, karena kita telah gagal menghadirkan kebaikan-kebaikan Kristus kepada mereka?

    Pentakosta Pada Masa Kini?

    Oleh:Sinclair B. Fergusson

    Sinclair B. Fergusson adalah asisten profesor Teologia Sistematika di Westminster Theological Seminary, Philadelphia, USA. Artikel ini disadur dari tulisannya berjudul "Countours of Christian Theology." Pernyataan Paulus bersifat mencakup semua orang. Sebagaimana Paulus menulis kepada jemaat Korintus, hal ini juga berlaku bagi kita dan setiap orang percaya (melalui baptisan Roh, kita masuk ke dalam satu tubuh di mana semua orang percaya termasuk di dalamnya) dan semua jenis orang percaya (Yahudi, Yunani, budak, orang merdeka).

    Beberapa pertanyaan penting muncul di sini -- untuk membangun sebuah teologi tentang pengalaman gereja masa kini bersama Roh Kudus:

    1. Apakah hubungan antara Pentakosta dan pengalaman terdahulu dari pada murid Yesus dan Roh Kudus?
    2. Apakah hubungan antara Pentakosta dan pengalaman bersama Roh Kudus yang dicatat dalam Kisah Para Rasul, di Samaria (Kis. 8:4-25), di rumah Kornelius (Kis. 10:1), dan di Efesus (Kis.19:1-7) -- dalam ketiga-tiganya, nampaknya turunnya Roh Kudus menyusul setelah terjadi pertobatan. Apakah ini berarti adanya berkat kedua setelah pertobatan?
    3. Apakah hubungan antara Pentakosta dan baptisan Roh Kudus yang Paulus tuliskan dalam 1Kor. 12:13?
    4. Unsur-unsur manakah dari Pentakosta yang tidak dapat terulangi, hanya satu kali terjadi? Manakah unsur-unsur yang dapat terulang, bahkan menjadi norma atau ketetapan bagi gereja masa kini?

    Pentakosta dan Para Murid

    Murid-murid yang berkumpul bersama setelah Yesus bangkit, adalah orang-orang yang sungguh percaya (Mat. 16:15-20); mereka sudah dibersihkan dan dipersekutukan dengan Kristus (Yoh. 15:1-11). Dengan demikian, ini adalah buah pekerjaan Roh Kudus dalam hidup mereka. Tetapi jelas bahwa mereka belum menerima baptisan Roh yang dijanjikan (Kis. 1:5). Pengalaman mereka bersama Roh Kudus bersifat progresif. Dari hal ini, tidak mungkin kita menyimpulkan bahwa pengalaman para murid harus menjadi pengalaman kita juga pada masa kini. Pengalaman mereka bersifat unik karena mereka hidup dalam masa transisi dari Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru. Pengalaman mereka hanya terjadi satu kali dan tidak menjadi pola bagi kita untuk masa kini. Sebab masuknya mereka ke dalam kepenuhan Roh Kudus terjadi dalam dua tahap yang berbeda: mencerminkan sebuah pola kesinambungan dengan kita (Roh yang sama), dan pola ketidaksambungan dengan kita (hanya dalam Pentakosta, Roh Kudus dating dalam tugas dan pelayanan-Nya sebagai Roh Kristus yang dimuliakan). Pola demikian didasarkan atas munculnya zaman baru dari zaman lama. Jadi terdapat keistimewaan dalam pengalaman murid-murid, sama seperti pengalaman mereka bersama Yesus.

    Kaisarea, Samaria, Efesus

    Bagaimana dengan turunnya Roh Kudus di Samaria (Kis. 8:9-25), di rumah Kornelius (Kis. 10:44-48), dan di Efesus (Kis. 19:1-7)? Yang paling mencolok adalah yang terjadi di rumah Kornelius karena istilah-istilah yang digunakan di dalamnya juga digunakan dalam Pentakosta. Misalnya: pencurahan (Kis. 2:17-18, 33; 10:45); baptisan (Kis. 1:5; 11:16); dan karunia (Kis. 2:38; 11:17). Fenomena berbahasa roh juga terjadi lagi di sini (Kis. 2:4; 10:6). Lebih lanjut, Petrus melihat kesamaan antara kedua peristiwa: "Roh Kudus telah datang kepada mereka seperti kepada kita dahulu. Maka teringatlah aku akan perkataan Tuhan: "Yohanes membaptis...kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus...;...Allah memberikan karunia kepada mereka sama seperti Ia telah berikan kepada kita..." (Kis. 11:15-17).

    Pengertian Petrus terhadap kejadian ini, sejalan dengan rencana dalam Kis. 1:8. Turunnya Roh Kudus kepada seisi rumah Kornelius menandai tersebarnya Injil ke daerah orang non-Yahudi. Ini ditegaskan oleh Gereja Yerusalem: "Ketika mereka mendengar ini, mereka tidak lagi berkeberatan dan memuji Tuhan, katanya: "Jadi, Allah juga mengaruniakan pertobatan kepada orang non-Yahudi" (Kis.11:18). Kejadian ini dilihat sebagai kejadian yang hanya terjadi satu kali dan memang direncanakan secara khusus dan unik. Jadi ia lebih bersifat programatik daripada paradigmatik.

    Namun demikian, dalam kasus Samaria dan Efesus, nampak adanya tahap kedua dalam pengalaman mereka dengan Roh Kudus. Orang-orang Samaria percaya ketika Filipus memberitakan dan Yohanes datang, barulah mereka didoakan agar mereka menerima Roh Kudus karena sampai saat itu Roh Kudus belum datang atas mereka; mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Maka Petrus dan Yohanes menumpangkan tangan atas mereka, dan mereka menerima Roh Kudus (Kis. 8:12, 1517). Kemudian, Paulus bertanya kepada orang Efesus, "Apakah kamu menerima Roh Kudus ketika kamu percaya?"Jawabannya mengherankan: "Kami bahkan belum pernah mendengar bahwa ada Roh Kudus." Setelah memberitakan Kristus kepada mereka, "Paulus menumpangkan tangannya atas mereka, Roh Kudus turun atas mereka dan mereka berbahasa roh dan bernubuat" (Kis. 19:1-7). Sering dikatakan, berdasarkan pengalaman para rasul di hari Pentakosta dan juga pengalaman di Samaria dan Efesus, maka Lukas dan Kisah Para Rasul mengajarkan dua tahap untuk masuk ke dalam kepenuhan Roh. Kira-kira pemikirannya seperti ini:

    1. Kelahiran kembali oleh Roh Kudus (pertobatan)
    2. Baptisan Roh

    Dalam Lukas dan Kisah Rasul, Pentakosta digambarkan sebagai kisah sejarah penebusan. Penafsirannya tidak boleh secara eksistensial dan pneumatologis, tetapi harus secara eskatologis dan kristologis. Secara mendasar, peristiwa Pentakosta bersifat terjadi satu kali saja sebagaimana seluruh kejadian dalam hidup Yesus (kematian, kebangkitan, dan kenaikan-Nya ke surga). Dalam konteks ini, Kisah Para Rasul, bukanlah kisah Roh Kudus, tetapi kisah Yesus Kristus melalui Roh Kudus (implikasi dari Kis. 1:1-4 adalah bahwa kejadian yang dijanjikan dalam Kis. 1:5 menandai sebuah era baru di mana Yesus sendiri sebagai Tuhan yang mulia, akan bekerja dan mengajar). Dipahami dalam kerangka pikir demikian, kejadian-kejadian di Samaria dan Kaisarea menandai dimulainya tahap kedua dan tahap ketiga dari penyebaran kerajaan Kristus seperti tertera dalam Kis. 1:8:

    1. Injil tiba di Yerusalem pada hari Pentakosta
    2. Injil tiba di Samaria. Kis. 8 menggambarkan terjadinya kebangunan iman melalui pelayanan Filipus, diikuti oleh kunjungan Petrus dan Yohanes sebagai utusan rasuli (Kis. 8:14), dan pencurahan Roh Kudus setelahnya. Peristiwa-peristiwa ini dapat dipahami jika dimengerti dalam konteks tahap penyebaran Injil seperti dijanjikan oleh Yesus. Karena itulah, kita tidak perlu berpikir bahwa orang-orang Samaria belum bertobat, sekalipun ada kemungkinan demikian.
    3. 3. Injil sampai ke Kaisarea sebagai wakil dari dunia non-Yahudi ("ujung bumi", Kis. 1:8; khususnya Kis. 11:18). Banyaknya ayat yang membahas hal ini dalam Kisah Para Rasul (66 ayat) menunjukkan pentingnya peristiwa ini bagi Lukas. Hal ini lebih dari sekadar "kisah pertobatan mendadak", sebuah paradigma yang berlaku bagi setiap zaman. Sebaliknya, peristiwa ini merupakan sebuah perkembangan yang spesifik dan strategis dari rencana misi dalam Kis. 8.
    Kejadian-kejadian di Efesus berbeda dengan Samaria dan Kaisarea. Kelompok yang bertemu dengan Paulus, yang disebut sebagai "beberapa murid" (Kis. 19:1), merupakan sesuatu yang unik. Lukas memberikan kesan kepada kita bahwa ia tidak melihat orang-orang ini sebagai "orang Kristen" sesuai konsep Perjanjian Baru:
    1. Peristiwa tersebut terjadi dalam konteks pemahaman yang kurang utuh terhadap Injil, di mana hal ini juga terjadi dalam permulaan pelayanan Apolos; Lukas membeberkan fakta di mana "ia hanya mengetahui baptisan Yohanes" (Kis. 18:25).
    2. Mereka yang hanya mengenal baptisan Yohanes merupakan kelompok yang khusus di Efesus. Mereka disebut sebagai "beberapa murid" dengan asumsi bahwa banyak orang Kristen lainnya di Efesus. Lukas menyatakan dengan jelas bahwa hanya ada 12 orang dalam kelompok itu. Dengan demikian, kita tidak mungkin mengatakan bahwa semua orang Kristen harus seperti mereka. Dalam kenyataannya, mereka adalah para murid dari Yohanes Pembaptis.
    3. Mereka belum menerima baptisan Kristen. Hanya melalui baptisan Kristen dan penumpangan tangan, barulah Roh Kudus turun atas mereka dan mereka "berbahasa roh dan bernubuat" (Kis.19:6). Ini merupakan tanda tibanya Perjanjian Baru. Sebagaimana murid-murid pertama pada hari Pentakosta, banyak yang hanya menerima baptisan Yohanes. Jadi ke-12 orang ini berada dalam tahap transisi dari tahap penantian kepada tahap penggenapan.

    Kadang-kadang untuk melawan doktrin dua tahap, kita perlu kembali kepada prinsip dasar hermeneutik, yaitu: kita tidak boleh menyusun doktrin dari Kisah Para Rasul sebagaimana juga dari kitab Raja-raja. Kita harus menyusun doktrin dari bagian Alkitab lainnya, sementara Kisah Para Rasul (sebagai salah satu contoh kisah sejarah) menjadi ilustrasi bagi doktrin tersebut. Ini merupakan prinsip yang penting. Struktur teologi Kristen harus didasarkan dalam pemaparan teologis dan norma-norma dalam Alkitab, bukan diambil dari kejadian tertentu dalam sejarah (yang memang terjadi, tetapi tidak mutlak, dan harus ditafsirkan lebih lanjut secara teologis). Tetapi prinsip ini tidak terlalu relevan bagi pembelaan kita. Sebab Kisah Para Rasul sendiri menegaskan bahwa kejadian-kejadian yang ada tidak boleh dianggap sebagai paradigma, tetapi sebagai kejadian yang unik dan terulang (sui generis).

    Kisah Rasul tidak pernah mewajibkan kita mengalami pengalaman dua tahap seperti yang dialami para rasul. Pembelaan Petrus terhadap kejadian di Kaisarea bisa memberikan solusi. Ia menyamakan pengalaman seisi rumah Kornelius dengan pengalaman murid-murid pada hari Pentakosta (Kis. 11:15: "Roh Kudus turun atas mereka seperti Ia telah turun atas kita pada mulanya") dan memahami kejadian ini dalam pengertian berikut ini: "Tuhan memberikan kepada mereka karunia yang sama seperti yang telah diberikan-Nya kepada kita yang percaya dalam Tuhan Yesus Kristus" (Kis. 11:17). Memang para murid sudah percaya kepada Yesus sebelum hari Pentakosta, tetapi yang baru dan berbeda dalam iman mereka adalah obyek iman; sebelumnya mereka tertuju kepada Kristus yang sedang mengosongkan diri- Nya, kini iman mereka tertuju kepada Kristus sebagai Tuhan yang mulia sesuai janji Mesias (Mzm.110:1).

    Karena sejarah penebusan terus bergulir, maka dahulu rasul-rasul harus mengalami pengalaman dua tahap. Iman percaya tertuju kepada Kristus sebagai Tuhan, dan percaya kepada-Nya berani menerima karunia yang sama seperti yang diterima murid-murid pertama pada hari Pentakosta, yaitu: Roh Kudus. Bahasa roh dan nubuat yang digambarkan dalam Kis. 10:46; 19:6 dan mungkin 8:17, bukanlah bukti bagi pengalaman kedua, tetapi merupakan tanda-tanda bergulirnya sejarah penebusan kepada zaman perjanjian baru lebih lanjut. Perjanjian Baru tidak mengatakan bahwa Pentakosta memberikan kepada kita paradigma dua tahap untuk pengalaman pribadi kita dengan Roh Kudus. Sebaliknya, pada titik iman itu, kita menerima berkat turunnya Roh Kudus pada hari Pentakosta. Abraham Kuyper memberikan sebuah analogi untuk menggambarkan perbandingan antara pengalaman bersama Roh Kudus sebelum dan sesudah Pentakosta, dan menjelaskan turunnya Roh Kudus kemudian. Karena keterbatasannya, analogi tersebut menegaskan bahwa Pentakosta dan kejadian-kejadian berikutnya membutuhkan sebuah metode penafsiran yang benar: Ada sebuah kota di mana penduduknya minum dari pompanya masing-masing. Kini mereka hendak membuat sebuah PAM untuk menyediakan kebutuhan air bagi setiap rumah. Ketika pekerjaan itu selesai, air mengalir melalui sistem pusat dan pipa kepada setiap rumah...Dalam kota itu terdapat dataran rendah dan dataran tinggi, keduanya harus disuplai oleh PAM yang sama. Pada saat acara pembukaan, penyaluran air di kota yang lebih tinggi, meskipun luar biasa, tetapi merupakan akibat dari peristiwa pembukaan sebelumnya... Pada hari Pentakosta, Ia (Roh Kudus) dicurahkan kepada semua orang percaya, tetapi hanya untuk menghilangkan dahaga satu bagian, yaitu: orang Yahudi. Inilah pencurahan original di Yerusalem pada hari Pentakosta, dan pencurahan tambahan di Kaisarea, bagi orang-orang non-Yahudi; kedua-keduanya sama, tetapi masing-masing memiliki karakternya. Di samping itu, ada pencurahan Roh Kudus yang khusus, terjadi melalui penumpangan tangan oleh para rasul. Dari waktu ke waktu, saluran baru dibuat antara rumah-rumah penduduk dan PAM, sehingga bagian-bagian baru dalam tubuh Kristus ditambahkan dari luar ke dalam gereja. Ke dalam inilah, Roh Kudus dicurahkan dari tubuh kepada anggota-anggota baru. Apa yang terjadi di Samaria, di rumah Kornelius, dan di Efesus harus dimengerti dalam konteks keunikan sejarah dan latar belakang gereja mula-mula. Peristiwa Pentakosta tidak terulang, sama seperti kebangkitan Kristus. Namun kita memasukinya dengan cara demikian, sehingga Roh Kudus dicurahkan ke dalam hati kita melalui iman dalam Kristus (Rm. 5:5). Masing-masing minum dari Roh untuk dirinya (1Kor. 12:13). Hal ini semakin jelas ketika kita melihat Pentakosta sebagai salah satu aspek karya Kristus, bukan sebuah peristiwa yang terpisah dari-Nya, atau sekadar tambahan. Ini adalah bukti nyata sebuah kemenangan. Peristiwa-peristiwa pada hari Pentakosta adalah pernyataan secara umum dari realita yang terselubung, yaitu: Kristus telah ditinggikan sebagai Tuhan yang mulia. Kini sebagai Pengantara bagi kita, permohonan-Nya agar turunnya Roh Kudus, telah dikabulkan. Seperti kita tahu, ungkapan Petrus dalam Kis. 2:33 menunjuk kepada penggenapan dari janji Mesias dalam Mzm. 2:6-8: "Aku telah melantik raja-Ku di Zion, gunung-Ku yang kudus...Mintalah kepada-Ku, dan Aku akan memberikan bangsa-bangsa sebagai bagian-Mu, seluruh bumi sebagai milik- Mu"). Kristus yang telah naik ke surga, memohon agar Roh Kudus turun sebagai penggenapan janji yang sudah diberikan (Gal. 3:13-14; Yer. 31:31; Yoh. 14:16). Permohonan Kristus dikabulkan. Pentakosta, seperti peristiwa lainnya, pada diri-Nya bersifat unik. Pentakosta tidak bisa diulangi, seperti juga kematian, kebangkitan, atau kenaikan Yesus juga tidak bisa diulangi. Ia merupakan sebuah peristiwa (event) dalam sejarah penebusan (historia salutis), dan tidak boleh dipaksa menjadi peristiwa keselamatan pribadi (ordo salutis). Turunnya Roh Kudus adalah bukti dari pelantikan Kristus, sama seperti kebangkitan-Nya adalah bukti kemenangan dalam kematian Kristus sebagai kurban tebusan (Rm. 4:24). Ini tidak berarti Pentakosta tidak memiliki dimensi ekstensial atau relevansi. Tetapi ini berarti kita tidak mungkin mengharapkan Pentakosta bagi diri kita secara pribadi, sama seperti kita tidak mungkin mengharapkan terjadi lagi baptisan di sungai Yordan, pencobaan di Padang Gurun, pergumulan di Getsemani, atau penyaliban di Golgota dalam hidup kita. Jika kita berusaha mengulangi apa yang tidak bisa terulang, sama saja kita menyangkali kuasa dan signifikasi dari peristiwa tersebut. Baptisan Roh yang Berbeda-beda? percaya masuk ke dalam manfaat dari Pentakosta, sama seperti mereka masuk ke dalam manfaat dari kematian, kebangkitan, dan kenaikan Kristus: "Kita semua telah dibaptisan oleh satu Roh ke dalam satu tubuh" (1Kor. 12:13).

    Ada yang berpendapat bahwa di sini Paulus berbicara mengenai baptisan Roh yang berbeda dengan baptisan Roh yang dijanjikan oleh Yohanes dan Yesus pada hari Pentakosta. Dalam baptisan Roh yang dimasudkan oleh Yohanes dan Yesus, Kristuslah Sang Pembaptis, dan Roh adalah elemen baptisan; sedangkan dalam baptisan Roh dalam 1Kor. 12:13, Rohlah Sang Pembaptis, dan kita dibaptis ke dalam tubuh Kristus. Tetapi James Dunn mengatakan: Dalam Perjanjian Baru kata "en" dengan "baptizein" tidak pernah menunjuk kepada orang yang membaptis; sebaliknya, ia selalu menunjuk elemen yang melaluinya baptisan itu dilakukan, kecuali jika ia merupakan bagian dari frase yang lebih panjang... Sangat bertentangan dengan penafsiran umum jika kita membaca bahwa Yesus membaptis dengan Roh Kudus pada hari Pentakosta (Mat. 3:11; Mrk. 1:8; Luk. 3:16; Yoh. 1:33; Kis. 1:5, 11:16) seolaholah menunjukkan perbedaan kronologis dan perbedaan jenis baptisan. Dalam 1Kor. 12:13, Paulus menunjukkan bahwa semua orang percaya dibaptis dengan Roh dan minum dari air Roh. Elemen dari peristiwa Pentakosta diulang kembali dalam hidup orang percaya pada setiap zaman. Tetapi bagaimana kita bisa membedakan aspek sejarah penebusan (yang tidak terulang) dengan aspek eksistensial (yang bisa terulang)? Beberapa elemen dari Pentakosta jelas merupakan aspek dari peristiwa yang tidak terulang (oncefor- all event). Contohnya penantian para murid. Sama seperti munculnya bunyi angin dan lidah-lidah api. Ini bahkan tidak diulangi dalam Kisah Para Rasul. Sedangkan berbahasa roh diulangi dalam seisi rumah Kornelius (Kis. 10:46), dan di Efesus (Kis. 19:6). Banyak penafsir meyakini melalui penampakan Roh Kudus di Samaria (Kis. 8:7-18), bahasa roh juga terjadi di situ. Bahasa roh pada hari Pentakosta diulangi. Tetapi seperti kita tahu, tiga kejadian ini harus dilihat sebagai unik dan tiada bandingnya (idiosyncratic) dalam kitab Kisah Para Rasul. Fenomena ini tidak tercatat dalam kasus-kasus lainnya (mis. sida-sida dari Etiopia, Saulus dari Tarsus, Lydia, kepala penjara Filipi). Pengulangan ini adalah aspek-aspek dari signifikasi yang khusus dari apa yang terjadi. Samaria dan Kaisarea adalah poskoposko yang termasuk dalam program Kis. 1:8; Efesus menandai transisi dari dunia Perjanjian Lama dan dunia baptisan Yohanes, kepada dunia Perjanjian Baru dan baptisan Roh yang datang dari Kristus. Di dalam Kisah Para Rasul (sama seperti dalam seluruh Perjanjian Baru), bahasa roh pada hari Pentakosta tidak pernah dilihat sebagai "dapat terulang" dalam pengalaman orang-orang percaya pada waktu-waktu selanjutnya. overemphasis). Ia menulis: Kita menemukan dua fenomena dalam Kisah Para Rasul. Kita mendapatkan "kasus khusus" dalam karya Roh Kudus melalui kelahiran kembali dan pertobatan. Tetapi melalui kuasa Roh Kudus (pertama kali dalam Pentakosta) terjadilah peristiwa monumental dalam Kerajaan Kristus. Pencurahan Roh Kudus menciptakan gelombang di seluruh dunia ketika Roh Kudus terus bekerja dengan kuasa. Pentakosta adalah pusat, tetapi gempa bumi memberikan guncangan lanjutan. Suara-suara tersebut terus berlanjut pada setiap zaman. Pentakosta sendiri tidak terulang; tetapi teologi Roh yang tidak memasukkan doa untuk kebangunan rohani, bukanlah teologi Roh Kudus yang benar. Tujuan Kita telah melihat bahwa ada dua dimensi dari Pentakosta: sejarah penebusan dan pengalaman pribadi. Yang pertama hanya satu kali dan tidak terulangi; sedangkan yang kedua adalah pelayanan Roh Kudus yang terus-menerus sampai sekarang. Sebagai tambahan, tugas Roh Kudus adalah mengembalikan kemuliaan kepada ciptaan yang sudah jatuh dalam dosa. Seperti Calvin katakan, dunia ini diciptakan sebagai sebuah teater untuk kemuliaan Allah. Sepanjang sejarah, dunia ini selalu menampilkan kesempurnaan Allah yang tidak nampak. Khususnya di dalam pria dan wanita, gambar dan rupa Allah, kemuliaan ini harus dipancarkan. Tetapi mereka menolak memuliakan Allah (Rm. 1:21); mereka menajiskan diri sendiri (Rm. 1:28), dan kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23). Tetapi kini, di dalam Kristus yang adalah cahaya kemuliaan Allah (Ibr. 1:3) kemuliaan itu dipulihkan. Ia telah berinkarnasi bagi kita, dan kini Ia dimuliakan di dalam tubuh kemuliaan. Ciptaan ini sedang menuju kepada eskatologi, dan semua ini sudah dimulai dengan diri Kristus sebagai buah sulung. Kini Ia mengutus Roh Kudus, rekan kerja yang akrab dalam seluruh hidup-Nya di dunia ini, untuk mengembalikan kemuliaan dalam kita. Sehingga kita, yang dengan wajah yang tak terselubung memancarkan kemuliaan Allah, diperbarui serupa dengan gambar-Nya dengan kemuliaan yang semakin bertambah, yang datang dari Tuhan, yang adalah Roh (2Kor. 3:18). Tujuan diberikannya Roh Kudus tidak lain adalah untuk pemulihan gambar Allah kembali, yaitu: transformasi menuju keserupaan dengan Kristus yang adalah Gambar Allah. Menerima Roh Kudus berarti dibangkitkan ke dalam kuasa pelayanan-Nya senantiasa. Menerima Roh Kudus Perjanjian Baru menggambarkan persekutuan dengan Roh Kudus dari dua sudut pandang: karunia Allah dan penerimaan manusia. Roh Kudus diberikan oleh Bapa (Luk. 11:13). Tetapi Roh Kudus juga diterima oleh individu (Yoh. 7:39, Kis. 19:2; Rm. 8:15; Gal. 3:2). Dalam satu konteks di mana ia merenungkan mengenai keadaan jiwa kita, Paulus menegaskan bahwa ini terjadi "melalui apa yang kamu dengar." Ini dikontraskan dengan "memelihara Taurat" (Gal. 3:2, 5). Roh Kudus diterima dalam konteks seseorang beriman kepada Kristus sebagai Tuhan. Bagi Paulus, dalam pengalaman normal di dunia non- Yahudi, Roh Kudus diterima tidak terpisah dari iman kepada Kristus. Hanya dengan percaya kepada Kristus, Roh Kristus diterima. Karena percaya kepada Kristus berarti menerima Dia dan kediaman-Nya dalam kita. Ini adalah realita yang satu dan sama dengan penerimaan Roh Kudus dan kediaman-Nya, karena di dalam dan melalui-Nya, Kristus datang untuk tinggal di dalam kita. Interaksi antara kediaman Kristus dan kediaman Roh Kudus dalam kita, Rm. 8:8-9 menjelaskan bahwa kedua realita tersebut adalah satu dan dialami oleh satu individu. Tidak ada cara lain untuk menerima Roh Kudus kecuali melalui iman kepada Kristus. Memiliki Kristus adalah memiliki Roh Kudus. Bagaimana ini terjadi, dan apa implikasinya, merupakan topik pembahasan yang berbeda.

    Sumber: Majalah MOMENTUM No. 40 - Juli 1999

    Perdukunan

    Di jaman yang sudah canggih dan modern ini, ternyata dunia perdukunan atau paranormal makin marak saja. Ini sebetulnya hal yang aneh, harusnya dengan teknologi canggih semua hal yang berhubungan alam gaib dan okultisme makin pudar, tapi yang terjadi sekarang ini justru sebaliknya, dunia paranormal sangat populer.

    Banyak stasiun TV yang menyiarkan program yang berhubungan erat dengan hal-hal yang gaib, sihir dan ramalan-ramalan. Ada dunia gaib, dunia lain, gentayangan, pemburu hantu dan lain sebagainya. Majalah-majalah atau tabloid pasti punya kolom khusus untuk hal-hal yang bersifat ramalan.

    Bagaimana dengan kita sebagai pengikut Yesus ? Tidak sedikit orang-orang kristen bahkan yang memiliki jabatan kerohanian dalam sebuah gereja terjebak dengan hal-hal yang gaib dan magis ini. Awalnya sih, kita bisa bilang "Ah hanya iseng kok" Tapi lama kelamaan kita jadi percaya dengan apa yang dikatakan paranormal itu, bahkan yang bikin sedih, beberapa orang kristen justru bilang amin!

    Saat kita hubung-hubungkan hasil ramalan itu dengan apa yang terjadi pada diri kita, ternyata ada beberapa yang pas, jadi kita tambah percaya saja. Padahal kalo kita mau berlogika, semua itu bisa terjadi karena secara kebetulan saja, atau karena kitanya yang memaksakan sejumlah peristiwa untuk dihubungkan dengan ramalan yang kita terima (baca buku Andre Kole & Jerry MacGregor dengan judul Mind Games : Menyingkap kekuatan gaib , penipuan dan Fenomena Spiritual Palsu Masa Kini). Yang jelas semua ramalan dan apa yang dikatakan dukun/paranormal itu bohong, kalau kita percaya, sama saja kita sedang dibodohin oleh mereka.

    Selain itu, kita juga harus tahu, kalau Tuhan benci dengan hal-hal yang berbau okultisme atau perdukunan. Bahkan Firman Tuhan berkata, jika kita melakukan hal-hal itu, sama saja kita berbuat kekejian di mata Tuhan. Kalau sudah begini, jangan harap berkat Tuhan akan mengalir dalam hidup kita, justru kutuk dan hukuman Tuhan yang akan kita terima. Daripada percaya sama omongan-omongan dukun atau manusia, lebih tepat kita percaya dengan apa yang Tuhan katakan kepada kita lewat Alkitab. Kalau mau direnungkan lagi, paranormal dan dukun itu tidak mengerti akan nasibnya sendiri, bisa-bisanya mereka meramal nasib orang lain. Contoh lainnya : kalo kita sakit yang tidak bisa disembuhkan, pasti ada yang lari ke dukun, tapi kebalikannya dukun sakit malah lari ke dokter ! Kan aneh, jadi siapa yang
    sebenarnya bodoh kita atau dukun ....??? RENUNGKANLAH !!!

    "Dengan memberi kepada seseorang kemampuan supranatural maka akan menyebabkan manusia lebih mendengarkan orang itu daripada Alkitab"

    GOD bless you...

    Pesan Damai Dari Kingdom Of Heaven

    "Aku Saladin, bukan mereka. Pergilah ke negeri-negeri Kristen ...." Yerusalem, 1187. Di luar gerbang kota suci itu, Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi (Saladin) berdiri tegap berhadapan dengan Balian of Ibelin, panglima Tentara Salib. Di pinggang kanan kedua perwira itu terhunus pedang tajam. Keduanya bersiaga untuk saling bunuh. Ratusan ribu tentara Islam berbaris di belakang Saladin. Dari balik gerbang, warga Kristen menanti dengan cemas pertemuan itu. Sebagian Yerusalem sudah hancur. Mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana. Di belakang Balian, ribuan Tentara Salib bersiap menyerang. "Ketika Tentara Salib merebut Yerusalem seratus tahun lalu, seluruh Muslim dibantai," Balian mulai pembicaraan.

    Saladin tersenyum. Matanya menatap tajam lawan bicaranya. "Aku Saladin, bukan mereka. Pergilah ke negeri-negeri Kristen, bawa pasukan dan rakyatmu yang memang ingin pergi. Tak ada pembunuhan," kata Saladin.

    "Jika begitu, aku serahkan Yerusalem kepada Anda," balas Balian. Saladin menyalami Balian. Keduanya kembali ke pasukan masing-masing. Warga Kristen dan Tentara Salib menyambut suka cita hasil perundingan dua pemimpin besar itu. Mereka pun memuji-muji dengan meneriakkan nama Balian dan Saladin. Yerusalem pun dikuasai kaum Muslim yang disebut juga Saracen. Tak lama setelah itu, rombongan pengungsian beriring-iringan meninggalkan Yerusalem, termasuk adik raja Baldwin, Sibyll.

    Kutipan di atas adalah cuplikan dari film Hollywood berjudul "Kingdom of Heaven" garapan Ridley Scott. Film yang naskahnya ditulis William Monahan itu bercerita Perang Salib terakhir tentang kejatuhan Yerusalem --Kota Kerajaan Surga, tempat pengampunan-- ke tangan Saladin (Ghassan Massoud) dan pasukannya.

    Scott mengatakan bahwa dirinya tidak sedang menggelorakan perang suci lain dengan membuat film ini. Ia hanya ingin memberikan fakta bahwa tidak semua orang Barat (Kristen) itu baik, dan tidak semua kaum Muslim itu buruk. "Pemahaman kita atas sejarah masa lalu seperti Perang Salib masih terlalu sedikit," kata pria asal Inggris kelahiran 68 tahun lalu itu. Scott dikenal sebagai sutradara yang mencoba memahami Islam secara utuh. Ia mengaku mengagumi Saladin, sosok yang tidak hanya pandai berperang, tetapi juga mampu berdiplomasi dengan hebat. Ini terlihat dari cara Saladin yang tidak jadi menyerang Yerusalem setelah sekelompok kafilah Muslim dibunuh tentara Kristen.

    Pemeran Saladin, Ghassan, aktor asal Suriah, sependapat dengan Scott. Sejak serangan 11 September 2001, kata Ghassan, citra umat Islam tercoreng. Misi film ini untuk membuka pandangan Barat bahwa Islam itu agama damai dan tidak menyukai peperangan. "Saya senang dengan film ini," kata Ghassan. Apalagi, paparnya, film ini disutradarai oleh seorang Ridley Scott yang sukses meraih Piala Oscar untuk film "The Gladiator" (2000).

    Kalangan pengritik film di Amerika dan Eropa memberikan penilaian beragam atas kehadiran "Kingdom of Heaven". Ada yang menilai film ini lebih menampilkan Islam sebagai "pemenang" dan positif. Ada juga yang berpendapat Kristen sebagai pihak yang lebih baik dengan penonjolan karakter Balian. Tapi, ada yang mengecam, film ini tidak sesuai sejarah yang sebenarnya.

    Hingga pekan kedua ditayangkan di Amerika, film ini masuk nomor satu box office (film laris). Ia mengalahkan "The Interpreter" yang diperankan Nicole Kidman dan Sean Pean. Dalam hitungan hari, "Kingdom of Heaven" telah meraup pendapatan sekitar 20 juta dolar AS.

    Film yang diproduksi Twentieth Century Fox itu mencoba mengkritik sepak terjang Presiden George W Bush terhadap perang Irak. Sebagai negara adikuasa yang tak ada tandingannya, kata Ghassan, Bush sebetulnya bisa menggunakan di luar cara perang untuk menyelesaikan persoalan Irak. Semua bisa dilakukan dengan diplomasi seperti yang dilakukan Saladin --yang pada saat itu memiliki kekuasaan hebat.

    Selama ini, film-film Hollywood tentang Islam lebih banyak dibumbui cerita-cerita jahat dan licik. Lihat saja di film "Delta Force", "True Lies", dan lainnya. Ada juga yang positif seperti "Lion of The Desert" yang diperankan Anthony Quinn. Kemudian muncul "Kingdom of Heaven".

    Cerita "Kingdom of Heaven" diawali dari perjalanan Satria Tentara Salib, Godfrey of Ibelin (Liam Neeson), dari Prancis menuju Kota Suci (Yerusalem) sambil mencari putranya, Balian (Orlando Bloom). Godfrey akhirnya bertemu dengan Balian dan mengajaknya bertemu Raja Baldwin di Yerusalem.

    Godfrey dikenal sebagai seorang satria yang menginginkan perdamaian antara Kristen dan Muslim. Ia sangat mendukung kebijakan Raja Baldwin yang kooperatif dengan Saladin. Raja dan Saladin membuat perjanjian bertoleransi.

    Saladin berkomitmen untuk tidak menyerang Yerusalem asalkan umat Muslim tidak diganggu. Padahal, seperti dikatakan Tiberias (Jeremy Irons), tangan kanan Raja Baldwin, Saladin akan dengan mudah menundukkan Yerusalem. "Dia memiliki 200 ribu prajurit siap tempur," kata Tiberias. Tapi, perjanjian dilanggar segelintir satria Kristen. Adalah Guy de Lusignan (Marton Csokas) yang memerintahkan pembunuhan terhadap sekelompok kafilah Muslim. Guy juga menangkap saudara perempuan Saladin dan membunuhnya.

    Ketika utusan Saladin meminta jenazahnya, Guy --yang telah terpilih sebagai raja menggantikan Baldwin karena meninggal-- malah memenggal leher utusan itu. Saladin marah dan memerintahkan pasukannya siaga. Pada sisi lain, Guy menyiapkan para tentaranya untuk menyerang Saladin. Pasukan Muslim, dengan berbagai atribut dan senjata, akhirnya menyerbu Yerusalem dan menang.

    Saladin lahir di Tikrit, Irak, pada 532 Hijriah (1138 Masehi). Ia bukan Arab, tapi keturunan Kurdi. Ia menguasai ilmu kalam, fikih, Alquran, dan hadis. Sebagian hidupnya habis untuk berperang, dari mulai memadamkan pemberontakan dalam negeri, hingga melawan Tentara Salib.

    Saladin memiliki sikap toleransi yang tinggi terhadap umat Kristen. Ketika menguasai Iskandariyah, ia mengunjungi orang-orang Kristen dan mengizinkan mereka berziarah ke Baitulmakdis. Saladin wafat di usia ke-57 tahun tanpa meninggalkan harta benda yang banyak, kecuali beberapa dirham dan dinar.

    Film ini juga dibumbui dengan pergolakan batin Balian, Tiberias, dan Godfrey, tentang alasan perang suci. "Kini aku sadar, perang suci bukan karena atas nama Tuhan. Tapi, karena alasan kekayaan dan tanah," kata Tiberias kepada Balian. Film berakhir dengan perginya Balian yang kemudian bertemu Raja Richard yang berjuluk "Hati Singa". Kepada Balian, Richard mengatakan akan kembali merebut Yerusalem.

    Rahasia Hidup Berkelimpahan

    Oleh: Yenny Indra

    Pada awalnya Tuhan menciptakan manusia di Taman Eden dengan fasilitas lengkap dan dipenuhi kebahagiaan. Manusia bekerja dengan perasaan senang, hidup bebas dari stress, tenang, damai dan penuh sukacita. Itulah tujuan awal Allah menciptakan manusia.

    Namun pada kenyataannya, hidup manusia sekarang lebih banyak "biasa-biasa" saja, atau justru lebih banyak stressnya dan hanya kadang-kadang merasa berbahagia. Bahkan ada orang-orang yang memilih bunuh diri karena tidak tahan dengan beratnya beban kehidupan.

    Di mana letak kesalahannya? Apakah mungkin kita hidup seperti yang dikehendaki Allah: merasakan surga di dunia -– hidup penuh kebahagiaan, berkelimpahan, dan bebas depresi?

    Coba kita lihat rahasia apa yang diberikan Tuhan:

    Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah. (Yeremia 17:7-8).

    Jika hidup kita bagaikan pohon yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, daunnya terus menerus menghijau berarti kita tumbuh subur, segar, antusias, sehat dan bahagia. Lalu dikatakan juga bagaikan pohon yang tidak berhenti menghasilkan buah berarti hidup kita berkelimpahan dan tidak pernah kekurangan apa pun yang kita perlukan. Buah menggambarkan berkat bagi keluarga dan sesama. Artinya hidup kita bahagia tetapi juga membawa kebaikan dan kebahagiaan bagi orang lain.

    Selain itu dituliskan pula bahwa tidak mengalami datangnya panas terik dan tidak kuatir dalam tahun-tahun kering. Meski pun dunia dilanda krisis, bencana, kekurangan dan malapetaka, namun kita diluputkan dari semua itu. Hidup kita steril dari masalah.

    Woww… Sungguh luar biasa kehidupan seperti itu. Inilah surga di dalam dunia.

    Apa syaratnya untuk memperoleh kehidupan seindah itu? Mengandalkan Tuhan dan menaruh harapan kepada Tuhan. Kelihatannya mudah bukan memenuhi syaratnya? Kita merasa: ah, pasti bisa... tetapi pada kenyataannya tidaklah mudah. Perlu ketekunan, kedisiplinan dan kesadaran terus menerus untuk menjaga pikiran kita senantiasa tertuju kepada Tuhan, berharap dan mengandalkan Dia.

    Ketika merencanakan sesuatu dan ternyata rancangan gagal. Seringkali kita mengomel dan kecewa. Mengapa Tuhan ijinkan ini terjadi? Bukankah saya sudah berdoa? Ternyata kita tidak sungguh-sungguh mengandalkan Tuhan. Orang yang sungguh-sungguh mengandalkan Tuhan reaksinya berbeda. Ketika rancangannya gagal, dia akan bersyukur. Dia tetap percaya bahwa Tuhan selalu baik. Tuhan mengijinkan rancangan kita gagal, karena Tuhan melindungi dari hal yang kurang baik. Orang yang mengandalkan Tuhan akan memberi ruang kepada Tuhan untuk menunjukkan rancanganNYA yang jauh lebih baik. Dia akan tetap berdoa. Dia melakukan yang terbaik selama dalam penantian. Dia bersikap waspada, agar saat Tuhan menunjukkan jalan yang lebih baik, maka dia cepat tanggap dan memanfaatkan kesempatan itu dengan bijak. Tentu saja kesuksesan dan kebahagiaan diraihnya.

    Bagaimana karakter orang yang menaruh harapannya kepada Tuhan? Dia tentu orang yang baik hati, suka menolong, bebas dari iri hati, jujur dan bisa dipercaya karena dia tahu sumber berkatnya datang dari Tuhan. Dia tidak menjadi kecewa ketika ada yang berbuat curang kepadanya. Dia tahu bahwa tidak ada seorang pun yang dapat merebut berkatnya. Kalau pun ada orang lain yang berhasil merebutnya, itu akan menjadi kutuk bagi orang itu. Tuhan akan memulihkan berkat yang menjadi bagiannya dan Tuhan tetap akan membawanya ke tempat di mana seharusnya dia berada. Sehingga dia senantiasa merasa aman. Dia sungguh-sungguh mengasihi Tuhan maka kasih Tuhan melimpah melalui hidupnya. Dia menjaga pikirannya agar hanya hal-hal yang baik, mulia, adil, suci, manis, menyenangkan dan patut dipuji, itulah yang dipikirkannya. Hatinya senantiasa merasa tenang dan damai. Tentunya dengan memiliki karakter seperti ini, semua orang suka, menghargai dan menghormati dia. Melalui hidupnya, orang-orang di sekelilingnya bisa melihat karakter Allah yang terpancar melalui kepribadiannya.

    Ternyata surga di dunia itu ada. Hukumnya adalah: jika syaratnya dipenuhi, maka janjiNYA pasti digenapi. Hidup hanya sekali. Mari kita berjuang meraih kehidupan "surga": hidup yang bahagia, berharga, membanggakan dan menjadi teladan bagi generasi mendatang.


    Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata,
    dan tidak pernah didengar oleh telinga,
    dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia:
    semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi-Nya.
    1 Korintus 2:9

    Rindu Mudik = Homesick

    Oleh: Mang Ucup

    Pepatah Tionghoa mengatakan: "Sejauh-jauh burung terbang, akhirnya akan kembali ke sarangnya". Hal ini terasakan sekali pada saat menjelang hari raya Idulfitri (Lebaran), dimana banyak sekali orang kejangkitan penyakit "Rindu Mudik". Rindu Mudik ini bukan hanya dirasakan oleh umat Muslim saja melainkan oleh hampir semua orang Indonesia yang berada dirantau, entah ia berada di New York, Amsterdam, Hongkong maupun di Jakarta. Rasa rindu yang dirasakan oleh mereka yang tinggal di Hong Kong maupun di Jakarta sama yang beda hanya jaraknya saja.

    Pada saat kita rindu mudik, kita teringat akan kampung halaman dan orang-orang yang kita kasihi, hal ini membuat kita jadi sedih dan sakit, oleh sebab itulah dalam bahasa Spanyol rindu mudik ini disebut "el mal de corazón" = sakit hati. Kita teringat akan kampung halaman, orang tua, masa-masa yang indah diwaktu kecil. Pada saat kita masih kecil, mungkin kita harus hidup dengan segala keterbatasan, tetapi kalau saya jujur itu, bagi saya masa tersebut adalah masa yang paling indah di dalam kehidupan saya. Ingatan saya ketika masa tersebut adalah: "Woouooo…w…..fantastic. it"s wonderfull, if we wanna to remember our childhood !"

    Mungkin anda masih ingat ketika masa sekolah di sekolah SD, SMP, nonton bioskop, mancing ikan, bermain diwaktu hujan turun. Memang kalau dibandingkan dengan permainan anak-anak jaman sekarang, ini tidak ada apa-apanya, tetapi bagi saya ini masa tersebut mempunyai nilai yang sangat indah dan tak terlupakan.

    Jadi rindu mudik tersebut bisa disamakan juga dengan rindu akan masa lampau - Nostalgia. Kata Notstalgia itu diserap dari dua kata dalam bahasa Yunani "Notos" = kembali kerumah dan "algos" = sakit/rindu.

    Rindu mudik atau rindu akan kampung halaman dalam bahasa Inggris disebut Homesick sedangkan dalam bahasa Jerman "Heimweh" . Weh = sakit, Heim = rumah, Heimat = tanah air. Kata Heim itu sendiri diserap dari bahasa Jerman kuno Heimoti = Surga.

    Kata Mudik diserap dari kata "Udik" yang berarti desa atau jauh dari kota alias di udik. Mudik berarti kembali ke udik, ke asal usul kita oleh sebab itu entah anda tinggal dirumah mewah yang bernilai ratusan milyar Rp ataupun bermukim di Amsterdam ataupun Hollywood sekalipun, ini tidak akan bisa menggantikan suasana seperti rumah di kampung halaman sendiri, walaupun itu di udik sekalipun juga. Jadi tepatlah pada saat kita sedang rindu mudik, kampung halaman itu bagi kita sama seperti juga "surga". Pada saat tersebut saya merasa iri terhadap mereka yang bisa pulang mudik ke kampung halamannya.

    Di Eropa, penyakit rindu mudik ini lebih dikenal dengan sebutan "penyakit orang Swiss". Masalahnya sejak abad ke 15 banyak sekali pemuda dari Swiss yang bekerja sebagai tentara bayaran di Italy, Perancis, Jerman maupun Belanda. Mereka itu adalah serdadu bayaran yang pertama, oleh sebab itu juga s/d saat ini di Vatikan masih tetap mengerjakan para serdadu Swiss.

    Kelemahan dari para serdadu Swiss itu mereka sering rindu mudik. Hal ini membuat banyak serdadu tersebut yang sering minggat maupun bunuh diri. Maka dari itu pada abad ke 18 di Perancis orang akan dihukum mati apabila berani menyanyikan atau bersiul lagu kampungnya orang Swiss "Kuhreihen" (Ranz de Vaches), mereka takut para serdadu bayaran mereka minggat. Apakah efeknya sama; seperti kalau orang Jawa mendengar lagu "Benggawan Solo"? Maka dari itu juga banyak orang Indonesia dirantau senang mendengar lagu musik Keroncong untuk mengurangi rasa rindu mudik.

    Kenapa orang Jawa lebih sering rindu mudik ? Mungkin karena dalam bahasa Jawa kata "dalem" berarti "saya" dan kata "dalem" itu juga identis dengan "tempat tinggal".

    Mungkin anda bisa merasakan kehidupan yang jauh lebih nyaman dan lebih berlimpah ruah di tanah orang, tetapi materi tidak akan bisa menggantikan maupun mengisi kekosongan maupun kesepian diri dan batin kita. Semakin lama anda berada ditanah orang semakin terasakan kekosongan jiwa kita, sama seperti juga HP yang kehabisan battere.

    Pada saat kita mudik, kita bisa nge-charge kembali batin dan kekosongan jiwa kita. Kita bisa mendapatkan kembali siraman-siraman rasa kasih dari orang-orang disekitar kita untuk mengembalikan kembali kegersangan, kekosongan maupun kesepian hidup kita dirantau. Sama seperti juga pada saat mengisi batterie; ini tidak harus berbulan-bulan walaupun hanya seminggu atau beberapa hari sekalipun juga, hal ini sudah dapat mengembalikan kembali keseimbangan jiwa kita.

    Entah anda ini seorang pejabat tinggi, direktor maupun pengusaha, ketika dirantau anda tetap saja Mr Nobody atau sekedar nomor saja, tetapi dikampung halaman sendiri kita dapat menghayati kembali makna kedudukan sebagai adik, paman, keponakan, saudara ataupun anak.

    Disitu kita dapat merasakan kembali kasih sayang tanpa pamrih, kasih sayang yang tulen bukan hanya sekedar basa-basi. Dengan tinggal beberapa saat saja di desa, kita dapat menyadari kembali makna sosial dari seorang tetangga, sahabat ataupun saudara, jadi bukan hanya sekedar sebagai orang lain yang tinggal di seberang rumah atau di samping meja kerjanya seperti yang dihayati di kota. Di kampung halaman kita bisa mendapatkan kembali harkat dan nilai kemanusiaan kita lagi.

    Para perantau yang mengadu nasib di kota-kota maupun di luar negeri pada hari Lebaran dapat bertemu dengan sanak saudara, keluarga, serta kerabat di tempat kelahirannya. Rasa haru mewarnai ajang tali silaturahmi, karena mereka selama satu tahun atau lebih berpisah kini dapat berkumpul, bercengkerama, bersendau gurau, serta melepas rindu antar saudara dan kerabat. Dari silaturahmi ini, timbullah rasa kebersamaan, kekeluargaan persatuan dan kesatuan, sehingga dapat merasakan kembali hidup dalam kerukunan, atau rukun dalam kehidupan. Pada saat mudik; kita bisa menjaga silaturahim dengan kerabat di kampung halaman atau lebih jauh lagi kita bakal tetap ingat kepada asal-muasal kita.

    Bagi mereka yang tidak begitu bahagia sehingga tidak bisa mudik, anda masih tetap bisa bersilaturahmi melalui surat, chatting, email, video maupun telepon, sebab kata arti sebenarnya dari silahturahmi adalah mendekatkan hubungan kekeluargaan dari segi aspek psikologis atau rohani saja, tanpa kehadiran jasmani atau fisik. Beda silatu-`rahim" sebab kata tersebut mengandung makna lebih dalam. Kata rahim berarti menyertakan jasmani dan rohani.

    Santa Claus

    Penulis : Herlianto

    Mengamati perayaan Natal 2003 dalam acara di TV, hotel dan mall, kita dapat melihat ada ciri khas yang menonjol dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sekarang kita melihat banyak ditonjolkan figur Santa Claus, baik dalam pakaian lengkap maupun hanya menggunakan topi merah berjambul. Baik presenter, paduan suara, penyanyi & penari, maupun kelompok kuis TV banyak yang menggunakan simbol Santa Claus tersebut. Siapakah Santa Claus itu?

    Santa Claus berasal dari seorang bernama Nicholas yang sejarahnya tidak jelas. Menurut tradisi, ia dilahirkan di kota Lycia pelabuhan kuno di Patara (Asia Kecil), dan kala muda berkelana ke Palestina dan Mesir, dan sekembalinya ke Myra menjadi uskup Lycia (abad-4). Ia dipenjarakan ketika raja Diokletus menganiaya umat Kristen dan dilepaskan ketika raja Konstantin berkuasa, ia hadir di Konsili Nicea (325) dan meninggal dan dikubur di Myra. Pada abad-6 peninggalannya dikeramatkan dan tahun 1087 para pelaut/pedagang Italia mencurinya dan membawanya ke Bari, Itali. Kemudian relikwinya dikeramatkan di basilika San Nicola di Bari pada abad-11.

    Mengapa Nicholas kemudian terkenal dan melegenda? Nicholas menggambarkan uskup yang ramah yang suka menolong anak dan orang miskin. Keramahannya kemudian dibumbui dengan mujizat-mujizat dan legenda sekitar bagaimana ia menolong banyak orang terutama anak-anak. Sebenarnya legenda Santo Nicholas itu bercampur baur dengan legenda pemberi hadiah kafir sebelumnya, seperti Befana di Roma, Berchta & Knecht Ruprecht di Jerman, dan Odin di Norwegia yang memiliki kekuatan sihir yang menghukum anak-anak nakal & menghadiahi anak-anak yang baik, dan biasa menaiki kereta terbang yang ditarik rusa kutub.

    Legenda ini kemudian menyebar ke seluruh Eropah, tetapi sejak Reformasi legenda kultus Nicholas tidak lagi dirayakan di gereja-gereja protestan, dan di gereja Jerman diganti bayi Yesus (Christkindl) sang pemberi hadiah yang dikenang pada hari kelahiran-Nya tanggal 25 Desember. Sebaliknya, di Belanda berkembang Sinterklaas yang menggambarkan orang tua berjanggut putih panjang berpakaian uskup menaiki kuda yang bisa terbang ke atap rumah dibantu budaknya Swarte Piet. Sinterklaas datang pada tanggal 5 Desember malam ke rumah-rumah untuk memberi hadiah bagi anak-anak yang baik melalui cerobong asap.

    Legenda Nicholas/Sinterklaas ini kemudian dibawa pada abad-17 ke koloni baru di New Amsterdam (sekarang New York) di benua Amerika dan kemudian dikenal sebagai Santa Claus yang berupa orang gemuk berjanggut putih memakai mantel dan kerpus berwarna merah yang menaiki kereta ditarik 8 rusa kutub yang bisa terbang. Nicholas dijuluki Santo (orang suci) dan gambarannya kemudian berbaur dengan gambaran Christkindl dan dijuluki Kriss Kringle. Legenda Santa Claus ini mencapai bentuknya pada abad-19 yang kemudian dirayakan dengan pemberian hadiah di malam Natal (24 malam). Legenda Santo Nicholas ini di dirayakan sebagai Pere Noel di Perancis, Julenisse di Skandinavia, dan Father Christmas di Inggeris. Figur rusa ke-9 bernama Rudolph memiliki hidung merah mengkilat diperkenalkan pada tahun 1939.

    Sekalipun Santa Klaus dianggap sebagai lambang semangat memberi hadiah khususnya untuk anak-anak, namun karena sifat pencampurannya dengan cerita-cerita magis kafir, misalnya kehadiran Santa Klaus yang penuh mujizat & naik kereta ditarik rusa terbang, dan peri bertongkat sihir dalam perayaan Magic Christmas, banyak juga yang mempersoalkannya sebagai tidak sesuai dengan semangat Natal dan mempromosikan ketamakan dan komersialisasi yang telah dimanipulasikan oleh para pengusaha mainan anak-anak, makanan & minuman, dan hiburan. Gambaran Sinterklaas yang juga populer di Indonesia juga bukan contoh baik bagi anak-anak karena dinilai banyak orang sebagai rasist, Orang tua kulit putih yang pengasih dan budak kulit hitam yang kejam yang suka mencambuki anak-anak nakal. Karena sejarah kehidupan Nicholas tidak jelas, Paus Paulus VI menanggalkan perayaan Santo Nicholas dari kalender resmi gereja Roma Katolik pada tahun 1969.

    Mengenang maraknya perayaan Natal di akhir tahun 2003 yang lebih menonjolkan figur Santa Klaus daripada figur Tuhan Yesus, sudah tiba saatnya umat Kristen sadar dan menempatkan dirinya lebih berpusat Injil dan berhati Tuhan Yesus, dan tidak makin jauh terpengaruh komersialisasi yang sudah begitu jauh dimanfaatkan oleh toko-toko mainan, makanan & minuman, dan bisnis hiburan itu.

    Sensus Sekitar Natal

    Penulis : Herlianto

    Natal masih meninggalkan masalah karena fakta sejarahnya diragukan kalangan tertentu, ada yang mengatakan bahwa data Natal pada Matius dan Lukas beda, dan data Lukas itu tidak sesuai dengan data Josephus tentang kapan terjadinya sensus, pada zaman raja Herodes (Matius 2) atau zaman gubernur Kirenius? (Lukas 2:2). Rasionalisme dengan liberalisme dalam teologi memiliki asumsi menolak kemungkinan segala sesuatu yang bersifat supra-natural termasuk kelahiran Yesus. John Dominic Crossan, pencetus Jesus Seminar menulis bahwa Sensus Kirenius terjadi pada tahun 6-7M sekitar satu dasawarsa setelah kelahiran Yesus dan kebiasaan Romawi melakukan sensus ditempat tinggal atau pekerjaan dan bukan di tempat asal atau kelahiran (The Historical Jesus, h.371-372). Dari perbedaan ini kemudian dianggap bahwa Lukas mengarang cerita iman menjadi dongeng Natal.

    Di satu segi ada kritik bahwa fundamentalisme kristen terperangkap ketidak bersalahan alkitab (innerancy), namun sebenarnya pihak liberalisme kristen juga terperangkap ketidak bersalahan (inerrancy) rasionalisme yang menganggap data Josephus tidak bisa salah (inerrant) maka data Lukas salah. Menurut data Lukas, yang tidak beda dengan Matius, Natal terjadi pada zaman raja Herodes (Mat.2;Luk.1:5), namun dalam Luk.2:1-2 disebutkan bahwa pada waktu itu Kaisar Agustus memberi perintah untuk melakukan sensus pertama kali sewaktu Kirenius menjadi walinegeri di Siria. Herodes meninggal tahun 4sM, maka karena Natal terjadi sebelum ia meninggal diperkirakan terjadinya sebelum tahun itu.

    Menurut Josephus (lahir, 37M), dalam kitabnya yang terkenal Antiquitas Judaica (XVII.xiii.5; XVIII.i.1) dikatakan bahwa sensus terjadi pada masa Kirenius memerintah di Siria setelah Archelaus anak Herodes meninggal (6M) jadi sekitar tahun 6-7M. Agaknya kurang tepat kalau mengatakan Alkitab bukan buku sejarah sedangkan buku Josephus buku sejarah yang benar, padahal kita tahu bahwa sekalipun data Alkitab memiliki keterbatasan, Josephus juga bukanlah alat rekam sejarah yang akurat benar. Penulis sejarah tidak pernah bisa obyektif sepenuhnya, tulisannya tetap mengandung subyektivitas terpengaruh apa fahamnya.

    Joseph ben Matthias adalah Yahudi farisi yang dekat dengan penguasa Roma, dan karena meramalkan Vespasius akan naik tahta menggantikan Nero, ia diadili Nero tetapi dibela Vespasius, ia kemudian bersahabat dengan anak Vespasius bernama Titus (yang menyerbu Yerusalem) dan Domitian (yang memenjarakan Yohanes), itulah sebabnya ia mengganti nama dengan nama keluarga Vespasius menjadi Flavius Josephus dan tinggal di Roma.

    Tulisan Josephus tidak bisa dibilang akurat benar, soalnya ada distorsi politik dalam karyanya. Bukunya tentang Perang Yahudi (Belum Judaicum) dicerca orang Yahudi dan dianggap sebagai penghianat bangsa sendiri karena menutupi kebenaran Yahudi dan membela penjajah. Ensiklopedia Britannicca menyebut ia tidak lepas dari kelemahan penulisan sejarah kuno: As a historian, Josephus shares the faults of most ancient writers; his analyses are superficial, his chronology faulty, his facts exaggerated, his speeches contrived. He is especially tendensius when his own reputation is at stake. Juga disebutkan bahwa tulisannya mengenai sejarah Yahudi mengabaikan para nabi dan ia biasa membumbui cerita Kitab Suci.

    Ensiklopedia Encarta juga menyebut tulisan Josephus bersifat ambigu dan tulisannya mengandung konflik. Dalam satu tulisannya ia menyebut bahwa ia memimpin kekuatan Yahudi dalam pemberontakan di propinsi Galilea (Israel), tetapi dalam tulisannya kemudian ia menyebut bahwa ia ikut meredam pemberontakan di Galilea. Dari sini kita dapat memaklumi sifatnya yang mendua dan mengapa Josephus tidak menyebut sensus yang pertama, soalnya itu berkaitan dengan kelahiran Yesus yang pantang bagi orang Yahudi dan Romawi, atau ia tidak tertarik untuk mencatatnya karena tidak memberi keuntungan apa-apa baginya.

    Sekalipun memiliki kekurangan demikian dan bungkam mengenai Natal tidak dapat disangkal karya Josephus juga dapat digunakan sebagai sumber sejarah di zamannya. Demikian juga Lukas, di balik keterbatasannya, bukunya adalah buku sumber sejarah pula karena banyak menulis mengenai kejadian-kejadian di zamannya. Sekalipun Josephus tidak berpihak Kristen ia juga menulis bahwa Yesus adalah tokoh sejarah yang dijuluki Kristus (buku XX) dan menyebut ke Tuhan an Yesus (buku XVIII). Jadi data Yesus yang bersejarah diakui oleh Josephus bahkan Yesus sebagai Kristus dan Tuhan. Kita harus menyadari bahwa baik Lukas maupun Josephus keduanya menulis juga peristiwa yang terjadi masa lalu yang bukan pengamatan mata sendiri bahkan peristiwa sebelum kelahiran mereka (seperti Natal & sensus).

    Lalu bagaimana kita melihat data sejarah Sensus dari keterbatasan dan kebenaran kedua buku sejarah itu? Lukas menyebut bahwa setidaknya terjadi dua kali sensus, yaitu yang disebutnya pendaftaran yang pertama kali (Luk.2:2, apografee protee, kalau tidak ada yang kedua tentu tidak disebut protee/pertama) pada waktu Natal dan dilakukan lagi pada sekitar (6-7M, Kis.5:37, apografee) dalam ucapan Gamaliel. Lalu mengapa Natal disebut Lukas pada zaman Kirenius (Quirinius)? Ensilklopedia Britannica menyebut ada inskripsi di Museum Lateran yang menyebutkan ada gubernur yang duakali berkuasa di Siria dan sekitar tahun 8sM pernah dilakukan sensus juga, ini menunjuk Quirinius ( Interpreter s Dictionary of the Bible menyebut inskripsi itu Lapis Tiburtinus [CIL, XIV.3613], The New Bible Dictionary menulis bahwa Tertulianus menyebut adanya sensus sekitar 8-6sM [Adv.Marcion.IV.19. Intepreter s: 9-6sM], dan data lain menyebut adanya sensus di Roma setiap 14 tahun sekali).

    Tertulianus juga menyebut bahwa kemungkinan Quirinus memerintah dalam asosiasi dengan Saturninus yang dicatat sejarah sebagai gubernur Siria waktu itu, ada juga yang mengatakan bahwa Lukas keliru menyebut sensus pertama itu sebagai sensus Kirenius tetapi seharusnya Saturninus. Namun ada data lain yang menyebutkan bahwa Quirinus sudah menjadi tokoh penting di Roma dan Asia Kecil sejak 12sM, dan ada tumpang tindih antara waktu pemerintahan Saturninus (9-6sM) dan Quintilus (7sm-4M), maka tidak tertutup kemungkinan bahwa masa transisi antara 7-6sM itu dijabat oleh Quirinus dan dalam catatan Lateran namanya tidak disebut jelas mungkin karena hanya sebagai pejabat sementara gubernur Siria tahun itu (Archer, Ensyclopedia of Bible Difficculties, h.365-366).

    Kaisar Agustus menghadapi negara yang rusak akibat kediktatoran Julius Caesar yang digantikannya, ia lalu menata administrasi negaranya termasuk sistem perpajakan dan meluaskan negara jajahan Romawi, dan sekalipun ia memberi otonomi kepada negara-negara jajahannya yang kemudian disebutnya propinsi, dalam hal tertentu termasuk sensus masih dilakukan sentralisasi (Merril S. Tenney, Survey Perjanjian Baru, h.6). Lalu bagaimana dengan kesimpulan Crossan tentang tidak lazimnya sensus dilakukan di tempat asal atau kelahiran? Interpreter s Dictionary menyebutkan bahwa: evidence exists that a return to one s native residence for purpose of tax enrollment was required in a limited area (Pap.London 904, vol.III,p.124).

    Dari data-data di atas kita dapat melihat bahwa sekalipun Alkitab tidak khusus ditulis sebagai buku sejarah sesuai kriteria catatan sejarah masakini, di balik keterbatasannya, data-datanya menunjukkan kejadian-kejadian sejarah yang sejalan dengan para penulis sejarah di zamannya seperti karya Josephus yang bisa saling melengkapi, dan bisa menjadi sumber sejarah zamannya. Karena itu kita boleh bersyukur bahwa Alkitab tetap terbuka untuk diandalkan, namun dengan catatan bahwa kita harus tetap terbuka akan penyelidikan kritik teks, dan tidak lari mengunci diri baik ke dalam kutub fundamentalisme penafsiran yang harfiah maupun kutub rasionalisme, yang beranggapan bahwa semua produk sejarah seperti karya Josephus itu pasti benar dan sejarah Alkitab itu dongeng.

    Tabut Suci

    Oleh: Mang Ucup

    Artikel di bawah ini didapat dari milis tetangga dan merupakan karya dari Mang Ucup. Siapakah Mang Ucup? Untuk lebih mengenal dia, Anda dapat mengunjungi di website http://www.mangucup.org

    Apakah masih ingat film Indiana Jones dengan judul "Raider of the lost ark", dimana ia menemukan Tabut suci di dalam pyramid. Itu sih film mang Ucup, apakah mang Ucup tidak mengetahuinya bahwa s/d detik Tabut Suci tersebut belum diketemukan?

    Tabut suci itu apa? Baiklah saya ingin menjelaskan sedikit tentang Tabut Suci tersebut. Ketika Nabi Musa keluar dari negara Mesir, Musa membuat sebuah peti yg disebut tabut. Dalam bahasa Inggrisnya disebut ARK. Perkataan ark ini sebenarnya berasal dari bahasa Ibrani yg berarti peti. Di dalam tabut itu disimpan tiga macam barang yang dianggap suci, karena barang tersebut berasal dari Allah. Di dalam tabut perjanjian itu tersimpan buli-buli emas berisi manna, tongkat Harun yang pernah bertunas dan loh-loh batu yang bertuliskan perjanjian. Benda pertama melambangkan (tongkat Harun) kekuasaan Allah, benda kedua (roti = mana) melambangkan kasih sayang Allah kepada umat manusia, benda ketiga melambangkan keinginan Allah agar manusia tidak melakukan dosa. Keajaiban pertama di dalam tabut tersebut, ialah walaupun mana atau roti itu sudah ribuan tahun umurnya, tetapi masih tetap saja segar, tidak rusak. Mulai dari ukuran maupun bentuknya itu semuanya adalah hasil disain dari Tuhan Allah sendiri. (Keluaran 25:10-22)

    Bagaimana bentuknya tabut tersebut? Tabut itu dari kayu akasia yang panjangnya 110 sentimeter, lebar dan tingginya masing-masing 66 sentimeter yg di lapisi bagian dalam dan luarnya dengan emas murni begitu juga bingkainya dari emas. Tutupnya peti itu dari emas murni, panjangnya 110 sentimeter dan lebarnya 66 sentimeter.

    Tabut itu kudus sehingga bisa di symbolkan sebagai Tuhan Allah sendiri.

    Sebagai salah satu contoh dengan menggunakan tabut tersebut mereka bisa menyeberangi sungai Jordan yang dalam, tanpa harus melalui jembatan, jadi arus sungai itu bisa di stop dan di tahan oleh tabut. Dengan mana mereka bisa menyebrangi sungai, seperti dahulu ketika bani Israel jalan ditengah lautan.

    Josua 3:13 & 16 Nanti apabila para imam yang memikul Peti Perjanjian TUHAN menginjakkan kakinya ke dalam air di Sungai Yordan itu, arus airnya akan terputus; air yang mengalir dari hulu akan terbendung di satu tempat. Sehingga umat Israel dapat menyeberang di atas tanah kering berhadapan dengan kota Yerikho.

    Bahkan tabut ini bisa digunakan sebagai senjata untuk perang. Bani Israel membawa tabut dan mengitari kota Yerikho selama 7 kali, langsung benteng kotanya ambruk hancur, sehingga akhirnya mereka bisa menyerbu ke dalam kota Yerikho.

    Ketika bait suci yang pertama selesai dibangun oleh Raja Salomo, maka tabut tersebut disimpan di dalam bait suci itu, setelah itu tidak jelas ada dimana dan kemana tabut tersebut. Mereka mencari ribuan tahun, tetapi tidak pernah ada yang menemukannya.

    Ternyata tabut suci tersebut ada di Aksum - kota bagian utara dari Etiopia. Tabut tersebut sudah disimpan disana sejak sekitar 3.000 th yang lampau, sejak kerajaan Salomo. Disimpan di dalam satu tempat rahasia, di dalam gua dibawah tanah dari gereja "Zion of Mary". Gua tersebut dijaga dengan ketat oleh para imam dari keturunan raja Israel. Tabut tersebut di simpan di dalam ruangan yang di kelilingi oleh tujuh tembok. Hanya ruangan dari tembok pertama sampai dengan ke empat bisa digunakan untuk berdoa oleh para imam disana. Dan untuk ruangan ke lima maupun ke enam hanya boleh dimasuki oleh para tetua imam saja. Sedangkan yg boleh masuk keruangan paling dalam atau ruangan ketujuh dimana tabut tersebut disimpan, hanya seorang imam pilihan saja, yakni yang menjadi penjaga dari tabut suci tersebut.

    Imam penjaga tabut, tidak diperkenankan keluar dari gua tersebut, bahkan ia hanya diperbolehkan keluar sampai dengan keruangan ke enam saja, untuk mengambil makanan/minuman yg dibawakan oleh imam tetua lainnya. Ia harus tinggal diruangan tersebut selama hidupnya, bahkan ia harus puasa dan berdoa selama 225 hari dalam setahun. Apabila ia mati maka ia akan digantikan oleh imam pilihan lainnya.

    Kenapa tabut suci itu bisa berada di negara Etiopia? Terakhir kali yang mengisahkan bahwa tabut suci masih berada di tangan orang Israel ialah ketika, Salomo mengusir putri Firaun istrinya dari tempat dimana tabut suci itu berada, sebab istri Firaun tidak percaya kepada Tuhan Allah (2 Tawarih 8:11). Sejak saat itu benda (tabut) yang dianggap paling penting dan paling suci oleh bani Israel menghilang dari sejarah Israel maupun dari Alkitab. Apa yang terjadi dengan tabut tersebut?

    Baiklah kita ikuti sejarah dari Raja Salomo, berdasarkan sejarah dari Kerajaan Etiopia, Ratu dari Negara Syeba telah menikah dengan Raja Salomo, ia sedemikian menyayangi Ratu tersebut sehingga ia boleh minta apa saja dari dia. 2 Tawarih 9:12 Selain hadiah-hadiah balasan yang biasanya diberikan oleh Salomo, Salomo juga memberikan kepada ratu dari negeri Syeba itu segala yang dimintanya.

    Dari hasil perkawinannya dengan Ratu dari Syeba, Salomo dapat seorang Putera. Pangeran Menelik I dari Etiopia adalah puteranya dari Raja Salomo.

    Bahkan Kaiser Haile Selasie adalah keturunannya dari Pangeran Menelik I, maka dari itu ia menamakan dirinya juga sebagai "The Lion of Judah", karena ia adalah keturunan langsung dari Raja Salomo.

    Berdasarkan kitab sejarah dari resmi dari negara Etiopia yang lebih dikenal dengan nama "Glory of Kings" (Kebra-Nagast) disitu tercantum apa yg telah terjadi dengan tabut perjanjian tersebut. Ketika Ratu dari Syeba meninggal dunia Pangeran Menelik I pada saat itu sudah berusia 19 th. Ia berhasrat meninggalkan Yerusalem untuk kembali kenegara Ibunya untuk diangkat menjadi raja disana. Sebelum ia berangkat, Raja Salomo telah memerintahkan para tukangnya untuk membuatkan duplikat dari Tabut Suci yang akan dihadiahkan kepada Pangeran Menelik I, sebab ia adalah putera dari istri kesayangannya - Ratu dari Syeba. Maklumlah Pangeran Menelik I telah dididik oleh Raja Salomo untuk percaya dan taat kepada Tuhan Allah.

    Pada saat pesta perpisahan Pangeran Menelik I membunuh para imam penjaga Tabut Suci dengan minuman anggur yang sudah dicampur dengan racun. Dan ia membawa Tabut Suci yang asli ke Aksum (Etiopia) beserta para imam yang benar-benar taat kepada Tuhan Allah, karena ia melihat para istri dari Raja Salomo semuanya sudah tidak percaya kepada Tuhan Allah lagi, mereka semuanya sudah menjadi murtad dan berdosa terhadap Tuhan Allah, oleh sebab itulah Tabut Suci nya dicuri dan dibawa oleh dia kenegaranya. Sedangkan copy dari Tabut Suci yang seyogianya untuk dia, ditinggal olehnya di dalam bait suci.

    Para imam di dalam bait suci tidak bisa membedakan antara yang asli dan dan copy-annya. Pangeran Menelik I berangkat membawa Tabut Suci tersebut dengan catatan akan dikembalikan kembali ke Yerusalem pada saat bangsa Yahudi sudah tidak murtad lagi terhadap Tuhan Allah, ternyata sampai dengan 3000 tahun kemudian hal ini belum terjadi.

    Para Imam Israel dan Pangeran Menelik I menamakan dirinya sebagai "Betha Israel" dan sekarang mereka lebih dikenal sebagai suku Falasha. Keturunan dari Pangeran Menelik I memerintah negara Etiophia sehingga wafatnya Kaiser Heila Selassie di th 1975.

    Mungkin anda tidak percaya bahwa sudah dari dahulu banyak sekali penganut agama Yahudi di negara Etiopia, bahkan ini tercantum di Alkitab Perjanjian Baru Kisah 8: 27 Pada waktu itu ada seorang pegawai istana Etiopia yang sedang dalam perjalanan pulang ke negerinya. Orang itu seorang pegawai tinggi yang bertanggung jawab atas semua kekayaan Kandake, ratu negeri Etiopia. Orang itu telah pergi ke Yerusalem untuk berbakti kepada Allah dan sekarang sedang kembali dengan keretanya. Sementara duduk di dalam kendaraannya itu ia membaca Buku Nabi Yesaya.

    Bangsa Israel sebenarnya sudah mengetahui hal ini bahkan pernah di muat di majalah B"nai B"rith Messenger, bahkan Anda bisa membaca di Encyclopedia Britannica satu artikel: It (Aksum-Aduwa) contains the ancient church where according to tradition, the Tabot, or Ark of the Convenant brought from Jerusalem by the son of Salomon and the Queen of Sheba, was deposited and is still supposed to rest.

    Bahkan sudah tercantum di dalam Alkitab bahwa pada suatu saat Tabut Allah akan dibawa kembali dari negara Etiopia ke Yerusalem Yesaya 18,1,7 : Dari sebuah negeri di seberang sungai-sungai Sudan terdengar dengingan serangga.

    Hai, kamu semua yang mendiami bumi! Perhatikanlah apabila panji-panji dinaikkan di puncak gunung-gunung! Dengarlah apabila trompet dibunyikan!

    Akan tiba saatnya persembahan-persembahan disampaikan kepada TUHAN Yang Mahakuasa dari negeri itu yang dilintasi sungai-sungai, dari bangsanya yg kuat dan perkasa, dari orang-orangnya yang tinggi dan berkulit halus dan ditakuti di seluruh dunia. Mereka akan datang ke Bukit Sion, ke tempat TUHAN Yang Mahakuasa disembah.

    The Passion Of The Christ

    Setahun sudah film "The Passion" yang disutradarai Mel Gibson yang resmi diputar pada Februari 2004 setelah dirilis terbatas pada tahun 2003. Banyak kalangan mengelu-elukan diputarnya film ini, Billy Graham menyebutnya "a lifetime of sermons in one movie" sedangkan Paus John Paul II menyebutnya "as it is" (pernyataan ini kemudian ditarik oleh sekertaris Paus), bahkan ada penginjil tenar Indonesia yang menyeminarkannya dan menyebut film ini tepat karena menyebut "The Christ." Film ini memang laris manis karena dengan modal 25 juta dolar laku 600 juta dolar, ini terutama berkat dukungan banyak pendeta yang ikut mempromosikannya bahkan banyak gereja memborong tiket film ini dan banyak yang memutarnya di gedung gereja atau nonton berkali-kali. Memang tragis bahwa banyak pendeta/penginjil justru menjadi promotor aktif film ini padahal mereka harus membayar, lagipula jubir perusahaan film pembuatnya mengaku bahwa: "promotion of the Passion to religious leaders as more in the interest of marketing than evangelism."

    Film ini kontroversial sebab sebelum diputar untuk umum sudah menerima banyak kritik, kritik utama adalah "ceritanya tidak sesuai Injil, mengobarkan sadisme, dan bersikap memojokkan orang Yahudi." Kritik demikian memang tidak keliru karena memang Gibson mencampurkan Injil dengan visiun Anne Catherine Emerich yang dibukukan sebagai "The Dolorous Passion of Our Lord Jesus."

    Banyak adegan non-Injil diputar di film ini, a.l.: Yesus ditemui Iblis di Taman Getsemane; Iblis berkali-kali ditampakkan misalnya dalam adegan Yudas dianiaya geng anak-anak yang kesetanan; Maria Magdalena diidentikkan dengan pelacur; Simon Kireni mengaku tidak bersalah dan terpaksa mengangkut salib terhukum; Yesus diolok tentara sebagai "king of worms"; mata penjahat dipatok burung; Mezbah Bait Allah terbelah. Belum lagi banyak adegan sadistik yang tidak tercatat Alkitab.

    Film ini mengumbar sadisme. Sejak Yesus ditangkap ia dipukuli dan ditampar sampai babak belur sampai mata bengkak, sekujur tubuhnya dibuat berbilur-bilur. Proses penyaliban benar-benar dibuat sangat sadis, sampai Chicago Sun Times menyebutnya "the most violent film." Ketika ditanya mengenai adegan sadis yang keterlaluan, Gibson tidak menjawab tentang kebenaran melainkan mengaku mendramatisir film itu untuk mendorong penonton sampai "over the edge."

    Anti Yahudi memang terasa dalam film ini karena kebencian, kemarahan, bahkan ringan tangannya orang Yahudi bahkan para imam yang memukuli Yesus, dibuat dalam porsi yang jauh melebihi catatan Alkitab. Memang film ini banyak diputar di bioskop di negara-negara Arab, namun sayangnya film ini bukan memberitakan Injil kepada mereka tetapi disuka kalangan Arab/Islam karena mereka dapat mengidentifikasikan diri sebagai korban kebengisan musuh bebuyutan "Yahudi."

    Soal porsi sadisme yang keterlaluan memang tidak lepas dari sutradara dan pemain yang mampu menjiwainya. Gibson populer dalam film action keras, serial "Mad Max" (1979;81;85) diwakili ucapan dalam film itu: "They kill us, we kill them! Kill them! Kill!" Film "Galipoli" (1981) disebut Amazone.com sebagai "This brutally antiwar movie." Debut sadismenya dilanjutkan dengan sukses dalam serial "Lethal Weapon" (1987;89;92;98). Belum lagi film-film "Braveheart (1995), Ransom (1995), & Patriot (2000)" menunjukkan bakat sadisme Mel yang diluar batas.

    Film ini mengumbar sadisme sepanjang 2 jam lamanya tetapi hanya mengalokasikan Yesus yang bangkit selama hanya 30 detik saja. Berita Injil dilandaskan Yesus yang bangkit dan bukan Yesus yang berdarah-darah. Pengungkapan kesadisan yang ditimpakan kepada Yesus di luar porsinya lebih merupakan pemberitaan kebohongan dan merupakan ungkapan jiwa yang sadistik (merasa nikmat kalau jiwa sadismenya tersalur melalui peran yang dilihat) dan masochistik (merasa nikmat kalau ikut kesakitan melihat peran yang dilihatnya kesakitan).

    Bukan Cuma Mel Gibson, pemain Yesus "James Caviezel" dipakai karena mampu menjiwai film balas dendam "The Lord of the Monte Cristo" dimana digambarkan setiap tahun ia dicambuki selama 13 tahun berada dipenjara Chatteu Dif, kemudian ia membalas dendam dengan mengejar para musuhnya satu persatu dan menghancurkan kehidupan mereka. Tiga pemain film porno dilibatkan Mel dalam film ini. Tepat kritik "wayoflife" yang menyebut film ini: "intimately associated with the moral vileness of those involved in its production." Tidak salah kalau Dorothy Marx, dosen Etika ITB itu berujar: "Siapakah yang layak memainkan peran Yesus?" Memang patut dipertanyakan "benarkah promosi para pendeta dan penginjil yang mengatakan bahwa Mel Gibson bertobat karena film ini?"

    Keuntungan besar yang diperoleh dan penderitaan Yesus tidak mengubah hidup dan hobi sadisme Mel, sebab keuntungan besar yang diperolehnya digunakan untuk membuat film sadis berikutnya yang justru menunjukkan bagaimana iman Mel. Ia membuat film berikutnya berjudul "Savage" (liar, ganas, biadab) dengan mengajak jagoan sadis "David Carradine." David terkenal sebagai jago silat dalam serial film "Kungfu" yang penuh perkelahian. Film-filmnya bukan sekedar film keras tetapi juga "anti Kristen." Dalam salah satu adegan episode berjudul "The Praying Manthis" ia mengkritik orang kristen dengan mengatakan "Orang Kristen itu seperti The Praying Manthis (walangkadung) yang berdoa sebelum membunuh." Film barunya adalah serial "Kill Bill" (2003;04).

    Sungguh tidak bisa dimengerti bagaimana para pendeta/penginjil bisa ditobatkan oleh selebriti untuk mendukung filmnya dan bukannya sebaliknya. Tepat apa yang dikatakan majalah Christianity Today tentang dukungan kalangan evangelicals ini dengan komentar: "a distinction evangelicals evidently no longer recognized," maksudnya adalah bahwa mereka tanpa sadar telah diperalat untuk membuat film itu laku. Penulis lain "Film Forum Christianity Today" juga menyebut: "I have been fascinated by the lack of critical voices among conservative Christians."

    Memang ada yang menyebut bahwa ada yang merasa disegarkan setelah menonton film "The Passion". Havelock Ellis dalam "Psychology of Sex" menyebut sadisme sebagai "sexual emotion associated with the wish to inflict pain, physical or moral, on the object of emotion." Ia juga mengatakan bahwa "love of blood and murder was an irresistible obsession, and its gratification produced immense emotional relief." Ellis juga menyebut bahwa orang yang merasa terangsang dengan melakukan kekerasan biasa disebut "sadis" sedangkan mereka yang "massochist" adalah mereka yang secara naluri merasa senang atau dipuaskan kalau mereka merasakan sebagai korban sadisme itu atau mengindentifikasikan diri dengan kesengsaraan orang lain yang dilihatnya. Gagnon & Simon dalam buku "Sexual Defience" menyebut hal-hal berbau kekerasan yang disebutnya "aggressiveness or assault offenses" tergolong "pathological deviance."

    Pada tahun yang sama (2003) juga dibuat film tentang Injil yang berjudul "The Gospel of John." Film ini dibuat dengan setia bahkan secara harfiah mengikuti setiap kata Injil Yohanes menurut "Good News Bible" dan dijuluki: "This film is a faithful representation of that Gospel." Dibandingkan film "The Passion" yang banyak mengambil sumber non-biblical seperti visiun dan jiwa sadistik pembuatnya, film "The Gospel of John" setia pada isi Injil yang ayat-ayatnya dinarasikan oleh Christopher Plummer, pemeran Kapten dalam film "The Sound of Music." Dua fasal terakhir "The Gospel of John" memberitakan "Yesus yang bangkit" dan Film ini juga dibuat secara profesional pula.

    Sayang film "The Gospel of John" yang injili itu jauh kalah populer dengan film "The Passion" yang apokrifal itu, dan tragis bahwa nyaris pendeta dan penginjil yang dahulu mempopulerkan "The Passion" pada umumnya bungkam dengan kehadiran film "The Gospel of John." Bahkan, film ini nyaris diabaikan dalam kehidupan gereja dan gereja tidak memborong tiketnya, apalagi memutarnya di gedung gereja mereka.

    Sudah tiba saatnya umat Kristen menjauhi film-film yang sadistik dan mulai membuka diri agar makin peka akan "damai sejahtera dan kasih Kristus" melalui adegan-adegan film yang mereka tonton seperti film "The Gospel of John." Penulis "The Gospel of John" yang semula berperilaku sebagai "anak guruh" setelah bertemu Yesus disebut sebagai "Rasul Kasih."

    Tuhan Menuntut Respon yang Nyata

    Oleh: SMT Gultom

    Sungguh penting semua orang Kristen menyadari kebenaran yang diucapkan Yesus kepada wanita Samaria itu: “Keselamatan datang dari bangsa Yahudi” (Yohanes 4:22). Tanpa bangsa Yahudi, tidak mungkin kita memunyai para datuk (bapak bangsa), para nabi, para rasul, atau pun Alkitab. Dan kita tidak akan memunyai seorang Juruselamat juga! Alkitab jelas menyatakan bahwa Tuhan minta umat Kristen dari semua bangsa yang lain supaya jangan lupa akan utang budi mereka kepada bangsa Yahudi, dan perlu membayar kembali utang tersebut, entah bagaimana caranya.

    Rasul Paulus menyimpulkan pengajarannya mengenai utang umat Kristen yang bukan keturunan Yahudi terhadap bangsa Israel dan kewajiban mereka untuk membalas budi itu. Dengan kata lain, Tuhan menghendaki kita untuk berbelas kasihan kepada Israel, karena belas kasihan-Nya kepada kita (umat Kristen yang bukan Yahudi) adalah berkat bangsa Israel! Bagaimanakah utang budi itu perlu diselesaikan?

    Ada 4 cara praktis untuk melakukan hal tersebut:

    Pertama, kita dapat mengasihi bangsa Yahudi dengan sungguh-sungguh dan mengekspresikan sikap itu terhadap mereka;

    Kedua, berkat Tuhan yang begitu melimpah yang kita peroleh di dalam Kristus dapat kita nikmati dan perlihatkan begitu rupa, sehingga membuat orang Yahudi cemburu dan juga menginginkan apa yang kita nikmati itu;

    Ketiga, melalui doa-doa dan permohonan, kita dapat meminta supaya Israel diberkati, seperti dianjurkan oleh Alkitab. (Roma 10:1);

    Keempat, dengan melakukan hal-hal praktis dalam kebaikan hati dan berbelas kasihan, kita dapat membayar kembali utang budi kepada Israel.

    Saya percaya bahwa Tuhan sedang melakukan sesuatu pada bangsa Israel dan situasi di Timur Tengah, dan bahwa Ia menghendaki supaya umat-Nya yang percaya jangan diam-diam saja, tetapi memberikan sebuah respon yang nyata. Umat Tuhan tidak boleh bersikap netral, apatis atau acuh tak acuh. Tuhan menuntut sebuah tanggapan. Dalam kitab nabi Yeremia diberitahukan kepada kita perintah Tuhan (Yeremia 31:7-8). Kita lihat ada 5 respon atau tanggapan yang diminta oleh Tuhan. Semuanya bersifat vokal (diucapkan dengan mulut): bersorak, memuji, meeklarasikan dan mengatakannya (atau mendoakan)

    Hal apakah yang harus kita tanggapi? Jawabnya adalah pengerahan kembali sisa-sisa bani Yakub. Kepada siapakah perintah Tuhan itu ditujukan? Kepada Gereja, yaitu kita semua yang percaya bahwa Alkitab adalah Sabda Tuhan dan perintah-Nya harus dituruti.

    Tuhan meminta kita untuk bersyafaat bagi bani Israel. Dia berkata:”Saat iniAku sedang memulihkan kembali keadaan bangsa umat-Ku”. Aku sedang mengerahkan mereka kembali dan Kuminta kalian untuk bersehati dengan-Ku dan rencana-Ku melalui doa-doamu”.

    Saya kira kita harus melihat hal ini sebagai salah satu fakta yang misterius mengenai Tuhan: apabila Ia berniat melakukan sesuatu, maka Ia akan berkata kepada umat-Nya: ”Berdoalah supaya Aku akan melakukannya”. Dengan kata lain :”Inilah niat-Ku, tetapi itu semua tak akan terjadi sebelum kalian berdoa”.

    Sebagai umat Kristen kita memunyai beban tanggung jawab yang besar untuk berkomitmen sepenuhnya supaya rencana-rencana Tuhan untuk sejarah umat manusia akan terealisasi.

    Umat Kristen Asia Perlu Ciptakan Komunitas Lebih Besar

    Umat Kristen Asia Perlu Ciptakan Komunitas Lebih Besar Melampaui Batas Gereja

    PORTO ALEGRE, Brazil (UCAN) -- Umat Kristen Asia perlu menciptakan sebuah komunitas yang lebih besar melampaui batas Gereja tradisional, kata Pastor Felix Wilfred dari India pada forum teologi internasional. "Kekuatan profetis umat Kristen Asia sepadan dengan kemampuannya untuk mengakar kuat ke dalam tanah, yang dilupakan misi Kristen Barat di masa lalu," kata Pastor Wilfred dalam presentasinya kepada 300 orang.

    "Theology for Another Possible World" adalah tema Forum Dunia tentang Teologi dan Pembebasan. Acara 21-25 Januari di Porto Alegre, Brazil, itu digelar sebagai pembukaan Forum Sosial se-Dunia Ke-5, yang menurut rencana akan diselenggarakan di Brazil pada 26-31 Januari.

    Dalam presentasinya, Pastor Wilfred mengatakan, teologi-teologi progresif Asia mempunyai sejumlah perspektif yang sama: munculnya perspektif dari cabang-cabang lain dalam berteologi, perspektif kritis dan feminis, dan teologi agama-agama.

    Ia mengatakan, teologi Minjung (masyarakat umum) di Korea, teologi dalit (bekas kaum hina-dina) di India, dan teologi warga suku dan masyarakat adat di berbagai bagian di Asia mendukung suatu perspektif yang sedang bermunculan dalam teologi yang menantang apa yang telah menjadi teologi utama (yang sudah mapan).

    Mengamati signifikansi di Asia tentang teologi agama-agama, Pastor Wilfred mengatakan, praktek dialog dan pembebasan harus berkaitan erat satu sama lain. Ia menyarankan agar metode teologi Asia hendaknya kontekstual, inter-disipliner, dan antaragama.

    "Relevansi dan signifikansi teologi-teologi Asia yang sedang bermunculan akan bergantung pada kemampuan teologi-teologi itu untuk tanggap terhadap pencarian Asia di semua jenjang," simpulnya.

    Dalam presentasi lain pada forum itu, Dwight Hopkins asal Amerika, menggambarkan model-model teologi neo-konservatif, liberal, dan profetis. Ia bekerja di bidang model-model teologi kontemporer, teologi hitam, dan teologi pembebasan.

    Para teolog neo-konservatif telah memberi kontribusi pengakuan umum bahwa Amerika Serikat adalah "yang terbaik" dan bahwa "inilah saatnya untuk mengupayakan strategi global di mana politik, ekonomi, budaya, dan agama di Amerika Serikat menjadi norma di seluruh dunia," katanya.

    Teologi profetis saat ini terlalu kecil dan lemah, kata Hopkins. Namun ini bisa menjadi kekuatan di tingkat akar rumput lewat kerjasama internasional di kalangan masyarakat yang percaya bahwa "dunia lain itu ada," katanya, sambil meminjam motto Forum Sosial se-Dunia.

    Pada upacara pembukaan forum teologi itu, para pelaksana menekankan bahwa agama hendaknya tidak digunakan sebagai alasan atau senjata untuk membenarkan perang atau agresi. Sebaliknya, agama hendaknya menjadi pembawa pesan pengharapan bagi kaum tertindas, kata mereka. Beberapa teolog mengungkapkan harapan mereka bahwa forum teologi itu akan memunculkan pembaruan teologi pembebasan untuk mengatasi dampak negatif globalisasi.

    Dalam sebuah pesan ucapan selamat, Asosiasi Para Pemimpin Religius Pria dan Wanita Amerika Latin mengatakan, "Naga yang harus kita hadapi tidak begitu besar dan masih ada harapan". Pesan itu menegaskan teologi pembebasan sebagai sarana bagi pengharapan dan pembebasan.

    Forum yang diselenggarakan oleh Asosiasi Para Pemimpin Religius Pria dan Wanita Amerika Latin dan Dewan Gereja-Gereja Nasional Brazil itu berlangsung di Pontifical Catholic University do Rio Grande do Sul.

    Aloisio Kardinal Leo Arlindo Lorscheider OFM (pensiunan Uskup Agung Aparecida, Brazil), Uskup Agung Porto Alegre Mgr Dadeus Grings, dan Pendeta Walter Altmann (Ketua Evangelical Church of the Lutheran Confession of Brazil) juga menghadiri forum itu.

    Teolog-teolog Asia yang menjadi narasumber antara lain Suster Emelina Villegas dari Kongregasi Hati Maria Tak Bernoda dari Filipina, Pastor Wilfred dan Pastor Michael Amaladoss SJ dari India, dan Pastor Tissa Balasuriya OMI dari Sri Lanka. Narasumber lainnya adalah teolog feminis dari Amerika Serikat, Chung Hyung-kyung, seorang etnis Korea.

    Sekitar 300 teolog dan anggota lain dari berbagai denominasi Kristen berperan serta dalam forum yang pertama kali diusulkan oleh Leonardo Boff tahun 2003 itu. Boff, bekas imam Fransiskan dan pakar teologi pembebasan yang terkenal di Brazil, terilhami oleh keberhasilan Forum Sosial se-Dunia.

    Forum Sosial se-Dunia pertama kali digelar tahun 1999 di Brazil dan merupakan platform bagi berbagai organisasi yang menentang globalisasi. Semua pertemuan tahunan forum itu diselenggarakan di Brazil, kecuali pertemuan tahun 2004 yang diselenggarakan di India.

    Umat Kristen Jangan sampai Menjadi Kerajaan

    Umat kristiani sebagai warga gereja, jangan sampai tumbuh menjadi kerajaan-kerajaankecil yang eksklusif. Umat kristiani harus meneladani Yesus yang membawa kesaksian kebenaran, berbaur dengan masyarakat.

    Imbauan tersebut disampaikan Pdt RA Waney MTh ketika menyampaikan renungan singkat dalam ibadah konsolidasi Partisipasi Kristen Indonesia (Parkindo) di rumah kediaman Mayjen Theo Syafei, Jumat (23/9) petang. Waney mengingatkan, agar gereja-gereja dengan masing- masing sinode atau denomasi, tidak membangun kerajaan sendiri- sendiri.

    Ketua Umum Sinode Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) itu menilai, akan sangat berbahaya apabila warga gereja menjadi kelompok fanatisme yang sangat eksklusif lalu merasa diri paling benar, terhadap masyarakat sekitar bahkan terhadap sesama umat Kristen sendiri. Misalnya, tidak mau berbaur dengan masyarakat sekitar termasuk mengabaikan etika bermasyarakat dan bernegara.

    Pdt Waney mempertanyakan apakah kesaksian kebenaran seperti itu alkitabiah atau tidak. Menurutnya, umat kristiani harus berlaku seperti Yesus Kristus sendiri yang bersaksi atas kebenaran ilahi dengan berbaur bersama masyarakat dan menyelami kehidupan manusia.

    Bersaksi

    Namun dari cara Yesus sendiri, justru muncul keberanian bersaksi tentang kebenaran. Sekalipun di hadapan Pontius Pilatus yang dikenal sangat berani dan keras kepala, Yesus berani mengatakan, Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku.

    Ibadah konsolidasi tersebut dihadiri Ketua Dewan Penasehat Parkindo, Sabam Sirait, tuan rumah Theo Syafei dan istrinya, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Parkindo, SM Doloksaribu, Edward Tanari (Sekretaris Jenderal), John Palinggi, dua mantan anggota DPR dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), Sterra Pieters dan Hobbes Sinaga dan mantan aktivis Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Marthinus Monot serta dua artis Tetty Manurung dan Joan Tanamal.

    Menurut Ketua Umum Parkindo, acara ini diselenggarakan sebagai persiapan menjelang Musyawarah Nasional (Munas) III Parkindo. Dia mengakui sangat sulit menghidupkan Organisasi Massa (Ormas) seperti Parkindo dari pada organisasi partai politik.

    Sabam Sirait dan Theo Syafei dalam kesempatan tersebut memahami kesulitan menghidupkan Parkindo. Untuk itu, keduanya setuju dengan imbauan Pdt Waney, agar umat kristiani tidak tumbuh menjadi kerajaan- kerajaan sendiri, tetapi hendaknya tumbuh bersama-sama bahu membahu dan hidup bersama masyarakat sekitar dari agama mana pun sehingga tidak menimbulkan egoisme atau eksklusifisme

    .Sumber: Suara Pembaruan Daily

    Waras

    Oleh: Lay Sion Antonius

    Dalam sebuah perkuliahan, seorang dosen menceritakan sebuah kisah sebagai berikut: Di sebuah desa pada suatu saat timbul sebuah mata air. Lambat laun mata air ini berubah menjadi sebuah danau kecil. Lalu lewatlah seorang pengembara dan berkata kepada penduduk desa, air di danau tersebut jangan pernah di minum, sebab setiap orang yang meminumnya pasti akan menjadi gila. Setelah mendengar larangan pengembara tersebut, terjadilah perdebatan diantara penduduk desa, ada yang percaya dan ada pula yang tidak mempercayai ucapan si pengembara. Pada hari itu semua kembali ke rumah masing-masing tanpa sesuatupun yang terjadi. Rupanya malam itu ada seorang penduduk yang terus memikirkan hal tersebut dan dia termasuk orang yang tidak percaya pada perkataan si pengembara. Esok harinya dia bertekad untuk menjadi orang pertama yang membuktikan kebohongan si pengembara. Ia mengambil air di danau tersebut lalu meminumnya dan seketika itu juga orang tersebut menjadi gila.

    Ketika penduduk tahu bahwa dia menjadi gila, karena minum air danau itu. Mereka kembali berdebat. Kelompok yang tidak percaya kemudian bertekad untuk mencoba minum air dari danau itu, dan sungguh mereka satu persatu menjadi gila. Hal ini terjadi karena setiap ada yang menjadi gila, yang lainnya tambah ingin membuktikan bahwa itu salah, maka satu persatu kelompok tersebut menjadi gila.

    Kelompok yang percaya setelah tahu apa yang terjadi pada temannya yaitu kelompok yang tidak percaya akhirnya menjadi gila semua, malah menjadi penasaran. Rasa penasaran ini kemudian malah menimbulkan rasa ingin tahu untuk juga mencicipi air danau. Mereka pun satu persatu mencicipi minum air danau dan juga sekaligus menjadi gila. Hingga semua penduduk desa tersebut seluruhnya menjadi gila kecuali tersisa satu orang pemuda yang sangat pandai.

    Pemuda ini menjadi satu-satunya orang yang waras di desa tersebut. Hari demi hari pemuda tersebut harus bergaul dengan orang-orang yang tidak waras. Pada mulanya tidak ada hal-hal yang menjengkelkan, namun lambat laun perilaku orang-orang yang tidak waras di desanya menjadi sangat mengganggu dirinya. Seiring berjalannya waktu maka gangguan penduduk desa menjadi tidak tertahankan bagi si pemuda. Teror mental ini membuat si pemuda tidak sanggup lagi menjadi orang waras, karena bagi orang-orang yang tidak waras justru pemuda inilah yang bermasalah, mereka menilai pemuda itulah makhluk yang aneh. Si pemuda yang pandai ini karena tertekan oleh masyarakat, lalu mengambil sebuah keputusan paling tidak logis yaitu dia akan minum air danau itu supaya menjadi sama dengan penduduk desa lainnya. Singkat cerita, pemuda inipun minum air danau dan menjadi gila. Seluruh penduduk desa menjadi orang tidak waras tanpa kecuali. Kita mungkin tertawa ketika membaca kisah tadi, namun seringkali kita sama dengan pemuda cerdas yang paling terakhir menjadi gila. Seringkali kita lebih memilih untuk menjadi sama dengan orang lain di sekitar kita walaupun tahu bahwa mereka keliru. Ketika orang lain melakukan kebiasaan x maka kitapun beramai-ramai bertindak x. Kita tidak berusaha menjadi orang yang teguh dalam berpendirian ketika teror dan tekanan menghantam.

    Sebenarnya dalam banyak hal kita bisa untuk bertindak benar, contohnya: dalam soal ketepatan waktu, bagi orang-orang sangat tidak menghargai waktu, mereka yang terbiasa untuk berlambat-lambat, suatu saat mereka bisa berubah menjadi orang yang tepat waktu ketika berurusan dengan orang-orang dari barat . Mereka bisa menjadi orang yang disiplin ketika berurusan dengan orang asing. Penyebab perubahan ini adalah akibat dari filosofi ketika dunia waras maka akupun menjadi waras. Begitu pula untuk soal membuang sampah, setiap orang yang berada di negara Singapura pasti akan menjadi pembuang sampah yang baik. Tidak peduli jika tadinya adalah pembuang sampah yang sangat jorok, ketika berada pada suatu sistem yang tidak mentoleransi perbuatannya, maka dia akan menjadi orang yang tahu membuang sampah pada tempatnya.

    Kondisi lingkungan masyarakat dimana kita hidup sangat mempengaruhi setiap perbuatan yang dilakukan. Mengenai tindakan korupsi, apabila dunia sekelilingnya adalah koruptor maka dia akan sulit berada dalam dunia tersebut tanpa ikut ambil bagian dalam korupsi. Lambat laun orang yang tadinya tidak melakukan korupsi, akhirnya juga akan melakukan perbuatan korupsi, jika tidak mau ikut biasanya harus keluar dari kelompoknya. Sebaliknya yang terjadi adalah seorang koruptor tidak akan bisa hidup dalam lingkungan yang bebas dari korupsi.

    Pertanyaannya lanjutan bagi kita adalah bisakah hidup dalam sebuah dunia yang gelap namun tidak terkontaminasi? Maukah melawan dunia yang penuh dengan ketidakadilan, keserakahan, kejahatan, ambisi untuk menguasai orang lain, namun kita tidak larut untuk menjadi sama tidak adilnya, sama serakahnya, sama jahatnya dengan orang lain? Harusnya untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut jawabannya adalah Ya , karena kita diciptakan dengan kemampuan secara moral untuk bisa berbuat baik dan benar. Maka langkah selanjutnya jika kita katakan bisa dan mau maka hal itu harus terwujud dalam tindakan yang nyata. Berani berkata bisa harus ada implementasi yang jelas, bukan hanya dalam konsep saja. Disinilah beratnya konsekuensi dari keinginan untuk berbuat kebenaran. Saat ini banyak sekali orang yang pandai untuk merumuskan hal-hal yang baik namun dirinya sendiri tidak melakukan atau menjadi teladan dalam menjalankan konsep tersebut. Tidak setiap orang yang berkata berantas korupsi lalu tidak menjadi koruptor, mereka tetap korupsi sambil berteriak berantas korupsi. Seperti ada pepatah maling teriak maling, itulah yang dikerjakan orang banyak pada umumnya. Persoalan lainnya bagi orang-orang yang berani berkata tidak kepada pendapat mayoritas yang salah adalah mau melawan arus/tekanan. Ketika orang banyak sudah melakukan suatu perbuatan, dan perbuatan tersebut benar-benar keliru, dia harus berani menghadapinya dengan mengatakan saya tidak mau melakukan perbuatan yang salah tersebut. Penilaian mayoritas seringkali membawa kesimpulan bahwa yang minoritas itu harus tunduk pada mayoritas. Sebuah kebenaran adalah ditentukan oleh seberapa banyak yang berkata bahwa itu adalah benar, tidak peduli kebenaran mayoritas itu adalah sebuah kesalahan. Keberanian juga sulit didapatkan karena kecenderungan orang untuk lebih baik mencari posisi aman. Kalau sudah mendapatkan keamanan lebih tepatnya kenyamanan dalam masyarakat, untuk apa repot-repot memperjuangkan sebuah kebenaran. Biarlah suatu kesalahan terjadi selama diri kita tidak terganggu. Orang membuang sampah di jalanan tidak mungkin ada yang mau menegur, selama sampah itu tidak di buang pada halaman rumah kita.

    Ijinkan saya pada akhir tulisan ini mengajak para pembaca marilah kita menjadi orang yang waras, bukan waras karena secara mental sehat, namun waras ketika menghadapi masyarakat yang sakit. Waras dalam memperjuangkan kebenaran dalam masyarakat yang selalu cinta kepada ketidakbenaran. Mari kita kuatkan tekad untuk selalu memperjuangkan hal-hal yang benar, karena saat ini banyak orang yang sudah jelas melakukan kesalahan tetapi tidak mau mengakui perbuatannya itu salah. Apakah anda sudah bisa dikategorikan sebagai orang waras?

    Yang Baru Cuma 2013

    Oleh: Sefnat A. Hontong

    Ada sebagian orang berpandangan bahwa sesuatu yang disebut sebagai tradisi itu harus dipertahankan untuk tetap sama dan bila perlu jangan berubah. Oleh karena itu, apabila ada sebuah tradisi yang telah berubah dan tidak lagi sama dengan yang dulu, kadangkala sudah dianggap sebagai bukan tradisi lagi. Hal semacam ini banyak kita dengar terutama ketika kita duduk berdiskusi dengan sekolompok orang tua-tua di desa-desa yang kecewa dengan fakta perkembangan baru dalam masyarakat yang dinilai tidak sesuai lagi dengan nilai-nilai positif dalam tradisi yang dulu pernah mereka anut dan jalani. Namun dalam kenyataannya kecenderungan untuk mempertahankan sebuah tradisi agar tetap sama sejak dulu hingga sekarang, adalah suatu harapan yang mustahil. Tradisi adalah sesuatu yang selalu bertumbuh, berkembang dan selalu menjadi baru, seiring dengan perubahan jaman dan perubahan dalam masyarakat. Kira-kira inilah kesimpulan secara sosiologis apabila kita memperhatikan realitas yang ada di sekitar kita.

    Tetapi, apabila kita dengan mata yang terang dan cermat memperhatikan dan menelusuri sejumlah fakta dalam masyarakat kita, saya merasa harapan para orang tua-tua di desa-desa tadi ada benarnya juga. Contoh kasus, coba kita perhatikan cara hidup kita di tahun yang baru ini, mulai dari tanggal 1 Januari s/d hari ini. Pertanyaan saya adalah: adakah sesuatu yang baru, yang sungguh-sungguh baru, sesuai dengan nama tahun baru? Perhatikan juga cara masyarakat kita dalam merayakan dan menyambut tahun baru; dari dulu sampai sekarang sama saja; ada pesta miras, ada perkelahian, ada kecelakaan bahkan sampai ada yang meninggal dunia. Perhatikan lagi cara kita menyapa orang lain dan cara kita memperlakukan orang lain, baik di dalam rumah maupun di tempat kerja kita. Perhatikan juga model pelayanan PLN kita dalam melayani para pelanggannya, masih juga sama seperti dulu; mati-menyala, mati-menyala, dan mati-menyala. Jangan lupa pula perhatikan harga kopra di pasar (moga-moga sudah sedikit berubah).

    Secara khusus, dalam dunia pendidikan coba kita teliti dengan baik. Secara nasional, menurut media massa paling-tidak sampai dengan tanggal 11 Januari 2013, DPR-RI kita masih bersitegang dalam menentukan sikap untuk menerima perubahan kurikulum ‘tematik yang terintegrasi’ sebagaimana yang diusulkan oleh pemerintah dalam rangka menjawab masalah pendidikan di Indonesia. Sedangkan secara lokal, kita di Maluku Utara, menurut Radar Halmahera tanggal 10 Januari 2013 menegaskan bahwa tingkat kualitas pendidikan kita di Maluku Utara berada pada peringkat ke 31 dari 33 propinsi yang ada di Indonesia. Bahkan yang lebih aneh lagi, ada data tentang pemotongan tunjangan guru daerah terpencil (tudacil) yang tidak diketahui oleh dinas yang menanganinya. Semua ini masih sama seperti dulu. Kata Dian Pisyesa: ‘aku masih seperti yang dulu………….’. Kita tidak bisa membayangkan nanti apabila dalam pelaksanaan ujian nasional di sekolah-sekolah kita pada tahun ini, apakah masih berpola seperti dulu, yakni: ada dua (2) buah laporan pendidikan setiap anak dan bukan mereka yang ujian melainkan guru mereka? Moga-moga tidak begitu lagi.

    Pada sisi yang lain, Timothy Wibowo seorang pakar psikologi pendidikan di Indonesia menegaskan: dalam sebuah penelitian (di Amerika Serikat) diperoleh data ada 90 persen kasus pemecatan para pegawai di semua instansi pemerintah dan swasta disebabkan oleh perilaku buruk seperti tidak bertanggung jawab, tidak jujur, dan hubungan interpersonal yang buruk. Selain itu, terdapat juga penelitian lain yang mengindikasikan bahwa ada 80 persen keberhasilan seseorang di masyarakat ditentukan oleh emotional quotient (kecerdasan emosional).

    Data-data ini hampir mirip dengan temuan yang diperoleh oleh Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) pada tanggal 5 Januari 2013 tentang adanya dugaan markup anggaran di beberapa kementerian pada mata anggaran batuan social (bansos) yang meningkat cukup tajam pada APBN tahun 2013, yang dikwatirkan sangat rawan dikorup. Sementara itu menurut prediksi ICW (Indonesia Corruption Watch) korupsi akan semakin meningkat di tahun 2013. Koordinator Divisi Korupsi Politik ICW Ade Irawan beralasan karena pada tahun 2013 ada banyak pemilihan umum kepala daerah dan terutama menjelang pemilihan umum nasional 2014. “Ini akan menjadi momentum mengumpulkan modal, terutama bagi politikus pemegang kekuasaan,” kata Ade ketika dihubungi, oleh kompas pada Senin, 24 Desember 2012. Ade menuturkan, politikus akan melakukan penggelapan anggaran untuk pribadi atau kelompok partainya. Tujuannya adalah untuk mempertahankan kekuasaan atau bahkan kalau bisa memperluas wilayahnya. Ia mewanti-wanti masyarakat agar terus memantau Anggaran Pendapatan Belanja Negara maupun Anggaran Pendapat Belanja Daerah di tahun 2013-2014, karena rawan kebocoran. Sementara itu menurut data Transparency Internatinal the Global Coalition Against Corruption, Indonesia berada pada rangking V negara terkorup di dunia dan berhasil mendapat rangking I di Asia Pasifik.

    Semua data-data di atas, pada dasarnya hendak memberi indikasi kepada kita tentang adanya fakta non-interkonektifitas antara proses pendidikan seseorang dalam sebuah lembaga pendidikan dengan karakter dan tabiatnya ketika ia berkarya di lapangan seusai menempuh masa pendidikan pada sebuah lembaga pendidikan. Fakta-fakta non-interkonektifitas dalam dunia pendidikan semacam itu sudah lama sekali menjadi bahan gumulan sejumlah orang, bahkan oleh raja Soleman yang berkata: “Aku telah membulatkan hatiku untuk memahami hikmat dan pengetahuan, kebodohan dan kebebalan. Tetapi aku menyadari bahwa hal ini pun adalah usaha menjaring angin, karena di dalam banyak hikmat ada banyak susah hati, dan siapa memperbanyak pengetahuan, memperbanyak kesedihan.

    Tentu pernyataan sang raja tersebut sangat menyedihkan, apabila dunia pendidikan kita bukan lagi menjadi wadah untuk memperbaiki kehidupan dan meningkatkan kualitas hidup, melainkan hanya berdampak pada lebih banyak menyusahkan hati orang dan memperbanyak kesedihan warga. Lalu kita bertanya: apa arti dari kehadiran dan pembangunan lembaga-lembaga pendidikan yang berhamburan di sana-sini di daerah dan Negara kita ini? Ini tentu akan menjadi bahan dan referensi bagi kegelisahan kita yang sedang berkarya di bidang pendidikan agar mau sungguh-sungguh bekerja lebih giat, lebih keras, dan lebih cerdas sehingga wajah dunia pendidikan kita tidak menyusahkan hati orang dan memperbanyak kesedihan warga.

    Jika benar bahwa pernyataan sang raja tadi disampaikan ketika ia sudah berusia lanjut, maka kita bisa membayangkan ternyata soal dan masalah pendidikan adalah sebuah pergumulan yang sudah sangat tua usianya dalam berusaha untuk menjadi sebuah wadah pendidikan yang berkualitas di tengah masyarakat. Oleh karena itu, sebagai generasi baru yang sedang berkarya di dunia pendidikan, kepada kita terdapat panggilan mulia untuk menjadikan lembaga pendidikan yang kita layani sebagai yang sungguh-sungguh menjadi wadah pembentukkan karakter dan kualitas hidup masyarakat yang semakin maju dan beradab. Theodore Roosevelt mengatakan: “To educate a person in mind and not in morals is to educate a menace to society” (Mendidik seseorang dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah ancaman marabahaya kepada masyarakat). Dengan kata lain, tidak ada masa depan yang lebih baik yang bisa diwujudkan tanpa kejujuran, tanpa meningkatkan disiplin diri, tanpa kegigihan, tanpa semangat belajar yang tinggi, tanpa mengembangkan rasa tanggung jawab, tanpa semangat berkontribusi bagi kemajuan bersama, serta tanpa rasa percaya diri dan optimisme.

    Saya rasa itulah pesan utama kepada kita semua yang notabene adalah orang-orang yang akan dan terus berkarya di sebuah lembaga pendidikan di tahun yang baru (2013) ini. Sehingga betul-betul ada yang baru yang kita buat dan karyakan, supaya tidak-lah tepat apa yang saya sebut sebagai judul tulisan ini. Yang baru adalah segala-nya, baik semangat kita, motivasi kita, metode kita, disiplin kita, program kita, kinerja kita, pola dan strategi kita, serta gaya dan inovasi kita. Asalkan jangan ada suami atau isteri baru bagi yang sudah punya. Dan apabila semua ini bisa kita lakukan secara serius dan tekun di tahun yang baru ini, niscaya akan ada juga perubahan gaji dan tunjangan yang baru, sehingga bukan cuma 2013-nya saja.

    Situs penulis: http://sefnathontong.blogspot.com/