Artikel-artikel lain seputar dunia kekristenan atau orang Kristen yang di luar kategori yang ada
Oleh: Herlianto
Menarik menyaksikan dua film DVD panjang dalam seminggu ini, yang pertama berjudul Julius Caesar yang terdiri dari dua keping dan yang kedua berjudul Rome produksi HBOfilms yang terdiri dari empat keping yang mencakup masa tayang 12 jam secara keseluruhan. Mengumpulkan koleksi film-film berkenaan dengan sejarah para raja dan kerajaan sekitar masa kehidupan Yesus menarik untuk menjadi bahan pelajaran sejarah, sebab film-film semacam a.l. Alexander, Cleopatra, Spartacus, Attila, Caligula dan Nero memberikan kita gambaran mengenai carut- marut dunia politik yang menyangkut raja-raja dan kerajaan Romawi pada masa sekitar kelahiran kekristenan, carut-marut yang akhirnya menjadi boomerang yang menenggelamkan raja/kerajaan itu sendiri (bandingkan dengan buku SuveiPerjanjian Baru karya Merril C. Tenney yang mengupas latar belakang sejarah sekitar kelahiran kekristenan).
Julius Caesar adalah tokoh paling populer dalam rangkaian cerita itu, apalagi perkawinannya dengan Cleopatra banyak dikenal. Julius Caesar mati karena dibunuh (44 sM) oleh anggota Senat termasuk temannya sendiri dengan ucapannya yang terkenal sebelum ia menghembuskan nafas terakhir: "Kau juga Brutus?" Kematiannya karena konspirasi menyebabkan Roma sempat mengalami chaos namun kemudian pada tahun 43 sM setelah para pembunuhnya satu-persatu dibinasakan oleh pendukung Caesar, posisinya digantikan oleh triumvirat Markus Antonius, Lepidus, dan Octavianus yang masih berumur 18 tahun. Pelan dan pasti kemudian Lepidus lepas dari trio ini dan setelah Markus Antonius yang kemudian mengawini Cleopatra bunuh diri maka Octavianus naik tahta tunggal dengan gelar Augustus (27sM - 14M). Agustus yang adalah kemenakan-cucu dari Julius Caesar kita kenal sebagai penyelenggara sensus yang mendorong Yusuf dan Maria pergi dari Nazaret ke Betlehem sebelum melahirkan Yesus (Lukas 2:1).
Banyak tokoh pemimpin memulai programnya dengan kerinduan untuk mendatangkan perubahan dan demokrasi, tapi sama halnya dengan Julius Caesar, banyak pemimpin ketika makin berkuasa dan kerajaannya menjadi besar, kemudian terikat jerat ambisi kekuasaan yang tak terbendung dan berakhir pada otorianisme dan tiranisme. Kekuasaan atau tahta adalah jerat kepemimpinan yang sulit dihindari manusia yang penuh ambisi seingga segala usaha dan intrik-intrik politik digunakan untuk merebutnya. Harta adalah tujuan sampingan yang melekat dalam kekuasaan dan menjadi tujuan para pemimpin karena tanpa harta kekuasaan sulit digapai dan dengan kekuasaan harta bisa direbut.
Menarik menyaksikan sejarah kekristenan awal, betapa firman Tuhan menanamkan konsep berbeda mengenai sikap kita menghadapi kekuasaan dan harta. Pelayanan para rasul yang tanpa pamrih pelan tapi pasti kemudian mulai mempengaruhi dunia perpolitikan sehingga kondisi para kaisar dan tatanan pemerintahan Romawi menjadi semakin manusiawi dimata rakyat. Kondisi ini memuncak dengan 'bertobatnya' kaisar Konstantin menjadi Kristen sehingga pusat pemerintahan dipengaruhi dengan moralitas yang diajarkan oleh Yesus dan para Rasulnya.
Masuknya Konstantin menjadi Kristen sekaligus menjadi berkat tetapi juga menjadi petaka bagi kekristenan. Menjadi berkat karena kalau sebelumnya kekristenan dibungkam kemudian kekristenan dijadikan agama resmi bahkan direstui oleh kaisar, tetapi kondisi demikian sekaligus menjadi petaka bagi kekristenan, sebab masa itu dikenal sebagai masa 'gereja disekularisasikan.' Gereja diangkat sebagai agama resmi pemerintahan dan para pemimpinnya diberi pakaian kebesaran bak pejabat negara, demikian juga gereja dihadiahi gedung-gedung Basilika yang besar sebagai tempat ibadat. Pengaruh visual ini disusul pengaruh virtual dimana kemudian kalau sebelumnya moralitas Kristen menggarami kerajaan Romawi, sekarang kepemimpinan kristen dipengaruhi oleh moralitas dunia politik riel dengan intrik dan perebutan kekuasaan dan asset. Ketika dunia dikristenkan, ketika itu juga terjadi gereja di duniawikan.
Perjalanan gereja selanjutnya sampai sekitar satu melenium menghasilkan masa kegelapan (abad-5-15) dalam sejarah Eropah, dimana kekuasaan gereja menjadi-jadi dan menjadi penguasa lahir batin atas rakyatnya. Sejarah Eropah diisi oleh sejarah gereja yang penuh lika- liku perpolitikan. Perang salib (abad-11-13) lebih merupakan perang politik daripada perang keyakinan, demikian juga Inquisisi pada abad pertengahan dan perang Hugenot pada masa Reformasi lebih menggambarkan pergesekan politik negara-negara daripada urusan kegerejaan. Sejarah gereja abad kegelapan mengungkapkan kepada kita bahwa gereja tidak rentan terhadap pengaruh dunia politik yang penuh dengan intrik-intrik dan interes berebut kekuasaan dan asset (lihat VCD 'History of Christianity' dan DVD 'Christianity, The First Thousand Years' dan 'Christianity, The Second Thousand Years.'
Riak-riak 'politik masuk gereja' masih ada sampai sekarang. Kita bukan saja telah melihat perebutan kekuasaan antar keuskupan di Eropah pada masa kegelapan (seperti kasus The Templar yang disinggung dalam The Da Vinci Code), tetapi masakini pun perebutan mencapai kedudukan ketua sinoda juga masih sering diisi ambisi-ambisi akan kursi dan uang yang menyedihkan Tuhan. Kedudukan pendeta jemaat pun masakini banyak diisi dengan ambisi yang lebih mempermalukan Tuhan daripada memuliakann-Nya!
Memang banyak pendeta melayani dengan tulus sehingga ketika pensiun (emiritat) banyak jemaat masih merindukannya dan tetap bernostalgia akan pelayanan tanpa pamrih pendetanya itu. Tetapi perlu banyak didoakan karena di gereja-gereja tertentu persaingan antar pendeta tidak jarang terjadi. Kalau ada dua pendeta maka timbullah fraksi- fraksi yang mendukung masing-masing pendeta. Belum lagi kalau harus menyerahkan estafet kepemimpinan, tidak jarang timbul hal-hal yang tidak kasih, sehingga timbullah 'demam Julius' mengenai 'pewaris kekuasaan' yang sering dicapai dengan tidak kasih atau bahkan nepotisme dengan diangkatnya putra mahkota yaitu anak sendiri sebagai penerus kerajaan pelayanan.
Dalam gereja-gereja yang berpola 'presbyterian' (jemaat dipimpin para penatua), sekalipun kemungkinan pergeseran pelayanan kearah kekuasaan lebih kecil tapi 'demam Julius' juga acap kali terjadi, apalgi di jemaat-jemaat yang berpola 'konggregasional' (jemaat setempat) sering kali terjadi bahkan majelis jemaatpun kalau ada, bisa tidak bergigi dan keuangan gereja dikuasai pendetanya dan bahkan ada yang majelis dan jemaatnya tidak mempunyai akses sama sekali untuk mengontrolnya.
Di tengah dunia yang makin sekuler dimana 'demam Julius' dimana kekuasaan dan keuangan menjadi prioritas yang dikejar, dunia gereja berada dalam bahaya demam yang sama. Sudah saatnya gereja-gereja dan khususnya para jemaat mendoakan dengan benar perilaku para pemimpin gereja, agar mereka kembali bermental 'melayani' dan bukannya 'memerintah.' Rasul Petrus yang begitu ambisius dan temperamental, ketika makin dewasa imannya menulis surat:
"Aku menasehatkan para penatua diantara kamu, aku sebagai teman penatua dan saksi penderitaan Kristus, yang juga akan mendapat bagian dalam kemuliaan yang akan dinyatakan kelak. Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. Janganlah kami berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah menjadi teladan bagi kawanan domba itu." (1Petrus 5:1-3).
Herlianto
Menarik mengenang pelayanan kemarin memenuhi undangan dalam rangka bulan keluarga di gereja GKI di bilangan Jakarta Pusat untuk memimpin seminar tentang Iman Kristen dan Adat-istiadat yang cukup merangsang diskusi yang hangat. Pertemuan seminar itu diakhiri dengan kesimpulan yang meneguhkan diskusi oleh pendeta senior gereja itu yang ramah yang notabena adalah ketua sinode saat ini.
Perlu disadari bahwa manusia tidak hidup sendiri di dunia dimana ia terbebas dari segala nilai dan adat-istiadat dan bisa berbuat apapun sesukanya, sebab sebagai mahluk yang tinggal di dunia ini, manusia selalu berinteraksi dengan keluarga, orang-orang di lingkungan hidup sekelilingnya, lingkungan pekerjaan, suku dan bangsa dengan kebiasaan dan tradisinya dimana ia dilahirkan, dan budaya religi turun-temurun dimana suku dan bangsa itu memiliki tradisi nenek-moyang yang kuat. Karena itu manusia tidak terbebas dari adat-istiadat.
Lalu bagaimana manusia bersikap menghadapi tradisi itu? Setidaknya ada 3 kecenderungan yang dijadikan panutan sikap manusia menghadapi adat-istiadat disekelilingnya.
Pertama, sikap antagonistis/penolakan akan segala bentuk adat-istiadat yang tidak diingininya, gejala ini kita lihat dalam bentuk fundamentalisme yang ektrim. Di Indonesia ada Islam pentungan yang suka melabrak kelab-kelab malam dan tempat bilyar kalau mendekati Lebaran, juga ada kalangan kristen yang melarang merokok, minum-minuman keras, dan nonton secara keras. Sikap ini jelas tidak realistis karena sekalipun yang ditolaknya itu barang haram tapi pengubah mental orang tidak tepat bila menggunakan cara larangan dan paksaan yang bersifat lahir demikian;
Kedua, sikap terbuka yang kompromistis yang menerima segala bentuk adat-istiadat lingkungannya. Sikap demikian sering terlihat dalam kecenderungan liberalisme ekstrim yang sering menganut faham kebebasan. Misalnya di Belanda yang dikenal sebagai negara Eropah yang paling liberal, pecandu narkoba bisa menjadi anggota dewan kota dan euthanasia dihalalkan. Kebebasan yang kebablasan demikian juga kurang tepat, karena bagaimanapun manusia hidup didunia berhubungan dengan orang lain, maka kebebasan yang keterlaluan dari sekelompok yang satu bisa berdampak merugikan kelompok lain;
Ketiga, sikap dualisme. Sikap ini tidak mempertentangkan dan tidak mencampurkan faham-faham adat itu, tetapi membiarkan semua adat-istiadat itu berjalan sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing. Ada contoh menarik mengenai perilaku mendua demikian. Ketika di tahun 1970-an mengerjakan proyek hotel di Bali, seorang pengusaha di hari minggu pagi-pagi benar mendahului yang lain menghilang dari hotel untuk pergi beribadat di depan pastornya untuk menerima komuni. Namun, tanpa rasa bersalah apa-apa, kalau malam minggu ia melupakan isterinya yang ditinggal di Surabaya dan berleha-leha di kelab-kelab malam sampai larut malam. Seorang rekannya menggelitik perilaku menduanya dengan mengatakan: Kalau minggu pagi lari ke gereja mencari hosti, tapi kalau malam minggu lari ke kelab malam mencari hostess. Ia dengan isterinya kemudian bercerai.
Pada umumnya orang-orang akan menjauhi pusat lingkaran dan karena dorongan sentrifugal akan mendekati kecenderungan-kecenderungan di lingkaran itu, lalu bagaimana sikap seorang kalau ia menjadi orang Kristen? Apakah ia juga berperilaku selayaknya orang dunia dimana ia hidup sebelumnya?
Memang ada praktek di kalangan orang Kristen yang fundamentalis ekstrim yang menolak segala sesuatu yang dianggapnya dosa, ada juga yang begitu liberal bebas yang menerima begitu saja dan berkompromi dengan semua yang bisa dinikmati orang dunia pada umumnya. Ada juga yang mendua dan berstandar ganda, yaitu dilingkungan kristen ia berusaha hidup suci sesuai standar lingkungan jemaatnya tetapi berada diluar ia bisa tidak ada bedanya dengan orang tidak beriman.
Rasanya ketiga kecenderungan sikap demikian kurang tepat bagi seorang Kristen. Verkuyl dalam salah satu buku etikanya mengatakan bahwa umat Kristen terjerat diantara daya tarik antara libertinisme dan farisiisme. Disatu segi ia ditarik oleh kecenderungan keterbukaan dengan moralitas bebasnya, disegi lain ia ditarik oleh kecenderungan ketertutupan dengan moralitas kakunya. Kenyataan yang disebutkan Verkuyl itu memang benar, dan sikap di antara itu juga tergoda sikap mendua yang ada di antara kedua kecenderungan itu.
Di kalangan kekristenan ada juga yang mencari jalan baru dengan mempromosikan moralitas baru yang menekankan situasi, kondisi dan waktu yang tepat sebagai jendela menerima keputusan etis menghadapi adat-istiadat. Sikap keempat ini mirip sikap mendua dan liberal. Sikap yang dikenal sebagai etika situasi ini (Joseph Fletcher, 1966) itu menolak sikap yang disebutkannya sebagai sikap legalistik, ia juga menolak sikap yang disebutnya sebagai sikap antinomian, karena itu ia menawarkan sikap perantara yang berdasarkan pertimbangan situasi, kondisi, dan waktu.
Lalu bagaimana selayaknya umat kristen bersikap? Bagi mereka yang takut akan Allah, rasanya semua tindakan kita dalam menerima adat-istiadat perlu berorientasi pada Allah dan kehendak-Nya, ini menghasilkan empat pertimbangan berikut, yaitu sikap menghadapi adat-istiadat yang: (1) Memuji dan memuliakan Allah; (2) Tidak menyembah berhala; (3) Mencerminkan kekudusan Allah; dan (4) Mengasihi manusia dan kemanusiaan. Keempatnya berurutan dari atas ke bawah dimana memuji dan memuliakan Allah adalah tugas utama umat Kristen (Mazmur 150) dan ketiga lainnya diukur dari apakah itu meneguhkan kepujian dan kemuliaan Allah atau tidak.
Lalu adakah tingkat-tingkat pertumbuhan yang menentukan umat kristen bersikap? Kedewasaan umat kristen dalam bersikap perlu mengarah pada kecenderungan kelima yaitu transformatif, yaitu ia hidup dengan mentransformasikan setiap adat-istiadat agar sesuai dengan kepujian, kemuliaan dan kehendak Allah. Ia semula hidup berkajang dalam dosa dan melakukan adat-istiadat dimana kuasa dosa banyak berpengaruh. Pengenalannya akan Tuhan Yesus Kristus membawanya kepada pertobatan (metanoea) dimana ia mulai merasakan perubahan arah dalam hidupnya dari dosa menuju kebenaran, dan seperti apa yang dikatakan oleh rasul Paulus: Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang (2Kor.5:17).
Dari perubahan yang transformatif inilah ia terus menerus melakukan trasformasi dari dosa menuju kebenaran sehingga kehidupannya makin hari makin baik. Rasul Paulus mengatakan bahwa: Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah menjadi sempurna, melainkan aku mengejarnya (Flp.3:12). Namun, harus disadari bahwa transformasi itu bukanlah hasil usaha manusia dengan kekuatannya sendiri tetapi sebagai hasil interaksi iman kita yang mendatangkan rahmat Allah: Dan semuanya itu dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan perdamaian itu kepada kami (2Kor.5:18).
Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasehatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurnya (Rm.12:1-2).
Semoga pembahasan di atas menjadi bekal bagi kita untuk bersikap dalam menghadapi adat-istiadat di sekeliling kita.
(Artikel ini disarikan dari makalah seminar)
SAYA berada di Tokyo untuk mengikuti 19th World Congress of the International Association for the History of Religions, yang diikuti 1.700 pakar ilmu perbandingan agama dari seluruh dunia. Tema kongres adalah "Agama; Konflik dan Perdamaian".
Panitia mengundang enam pembicara dari Indonesia, di antaranya Prof Alef Theria Wasim dari Yogyakarta yang menjadi salah satu anggota Komisi Program. Dari Aceh, Prof Zulkarnaini Abdullah menyampaikan makalah Religion amidst the Catastrophe; Rescue and Activities in Banda Aceh.
Simposium pertama hari Kamis bertema "Religious and Dialogue among Civilizations".
Prof Dr Hans JA van Ginkel dari United Nations University Tokyo, Prof Maria Luchetti Bingemer dari Brasil, Prof Yoshiko Oda dari Kansai University, dan Prof Tu Wei-ming, Confucianis dari Harvard University, tampil selaku panelis.
Sidang pleno kedua pada Jumat pagi, 25 Maret, bertopik "Religious Dimension of War and Peace". Penulis buku Terror in the Mind of God, Prof Mark Juergensmeyer dari UCLA Santa Barbara, tampil sebagai pemakalah dengan dua pembahas, Prof Gerrie ter Haar dari Institute of Social Studies di The Hague Netherland dan Profesor Manabu Watanabe dari Nanzai University Nagoya, Jepang. Moderatornya, Prof Rosalind Hackett dari University of Tennessee, yang juga akan menjadi moderator dari simposium tentang "Proselytization".
Sidang pleno ketiga, Sabtu pagi, menampilkan Prof Ibrahim Moosa yang berasal dari Afrika Selatan dan sekarang berkarya di Duke University di North Carolina AS. Prof William Lafleur dari Pennsylvania University dan Prof Haruko Okano menjadi pembahas makalah berjudul Technology, Life and Death.
Kongres masih akan berlangsung hingga Rabu petang, tetapi saya hari Senin sudah akan menuju Nagoya untuk meninjau Aichi Expo 2005. Kongres ke-19 IAHR itu tentu tidak bisa melepaskan diri dari kondisi politik aktual seperti demokrasi dan juga pro dan kontra euthanasia yang menimpa Terri Schiavo di AS tidak luput dari pembahasan.
Ketika membahas Moosa, Lafleur menyatakan, sudah tiba waktunya manusia mengakui dan menyerah kepada fakta bahwa kematian tidak terhindarkan. Menurut Lafleur, arogansi manusia untuk menciptakan manusia sempurna dengan teori eugenic sudah menghasilkan monster fasisme dan holocaust Nazi Jerman. Karena itu, kalau sekarang ini manusia takut mati dan tidak mau mati dengan berusaha menciptakan segala macam peralatan teknologi, atau membuat manusia seperti robot, itu adalah bertentangan dengan kodrat yang lebih baik dilupakan.
Memang jika manusia mengalami dilema seperti kasus Schiavo, maka pilihan antara euthanasia dengan tetap pasif membiarkan manusia hidup dalam kondisi vegetatif, memang sangat berat. Mantan Menlu Singapore S Rajaratnam sudah lama menyatakan sebagai surat wasiat, bahwa jika sudah tiba waktunya ia harus meninggal dan melalui kondisi koma, ia tidak mau dirawat menjadi vegetatif, lebih baik memakai cara euthanasia saja.
Masalah Terri Schiavo menjadi sulit karena pasien itu memang dari awal sudah tidak normal, tidak sadar, dan kondisi mental terbelakang. Sedang orang intelektual seperti Rajaratnam masih mempunyai kesadaran untuk memilih euthanasia jika kondisi fisik biologisnya memang darurat. Jadi, masalah surat wasiat yang dipilih oleh pasien secara langsung barangkali tidak ada masalah.
Kisah Schiavo menjadi heboh karena suaminya menginginkan proses euthanasia, sedang orangtuanya ingin tetap mempertahankan kondisi vegetatif yang sebetulnya juga memilukan.
Barangkali dilema euthanasia itu harus diterapkan juga dalam perang melawan terorisme. Apakah dunia akan membiarkan teroris merajalela dan mempunyai peluang mempergunakan nuklir menghancurkan dunia? Atau dilakukan upaya preventif dan preemptive untuk memukul lebih dulu calon teroris yang bisa melakukan bunuh diri massal secara global? Kalau manusia normal menunggu dan memberi kesempatan teroris model Mohamad Atta mempergunakan nuklir, maka pencegahan akan terlambat bila nuklir itu sudah diledakkan.
Dari diskusi terungkap, tuntutan politik Atta dan Osama bin Laden adalah religiusasi politik atau politik yang diagamakan, sehingga mencari pembenaran untuk pembantaian lawan politik, termasuk rakyat yang tidak berdosa.
Politisasi agama dan pembajakan Tuhan dalam gerakan terorisme mengakibatkan agama menjadi alat politik dan alat teroris yang malah melenyapkan sama sekali faktor perdamaian dari konotasi agama. Ada juga peserta dari Malaysia yang menuntut agar kongres mengeluarkan resolusi mengecam serangan AS ke Irak. Tentu saja agitasi itu kurang bergema dan tidak ditanggapi, sebab para pakar agama itu justru sedang tergugah untuk memikirkan betapa dunia dan agama menjadi tidak ramah setelah 911 (Peristiwa Teror 11 September, Red).
Seorang biku (biksu) mempertanyakan kenapa Taliban menghancurkan patung Buddha di Bamian dan sama sekali tidak toleran kepada agama lain. Ada juga yang menanyakan kenapa di Teheran ada orang berjualan gambar atau foto Nabi Muhammad, tapi tidak ditangkap dan dilarang. Kalau rezim diktator di Timur Tengah membantai ribuan rakyatnya sendiri, kenapa tidak ada perlawanan dan pengutukan?
Tampak ada "kerelaan" untuk membiarkan pembantaian oleh sesama bangsa penguasa. Yang dipersoalkan adalah siapa yang membantai. Kalau diktator bangsa sendiri, ya sudah, itu dianggap nasib dan kehendak takdir Allah. Kalau bangsa lain yang membasmi diktator, ya harus menimbulkan perlawanan hanya atas dasar perbedaan kebangsaan. Tetapi, solidaritas umat dalam soal Taliban dan Irak memang masih begitu dominan untuk menciptakan kejernihan berpikir, apakah perang agama model Osama harus terus dipuja dan dipopulerkan.
Itulah pertanyaan yang muncul di balik para peserta yang mewakili seluruh agama yang ada di dunia. Kalau Perang Salib abad ke-10 dibawa ke abad ke-20 dengan senjata nuklir, maka akan terjadi risiko bunuh diri global.
Sebetulnya, secara paralel ancaman nuklir tidak hanya datang dari dunia Timur Tengah, tetapi bisa juga datang dari Kim Jong-il. Jepang sangat cemas dengan nuklir Korea Utara. Jadi, dari segi itu, pengelompokan Korea Utara ke dalam axis of evil oleh George Bush memang secara nyata mengungkap bahwa hawa nafsu terorisme bukan hanya monopoli Osama bin Laden, tetapi juga despot model Kim Jong- il.
Menghadapi teroris model Osama dan Kim Jong-il, kalau dunia masih memakai paradigma lama, menunggu bukti dulu baru ditindak, maka pada saat itu sudah terlambat. Sebab, manusia dan dunia sudah hancur oleh nuklir yang diledakkan tanpa kalkulasi kemanusiaan, melainkan sudah nekat model kiamat akhir zaman. Namun, tampaknya dunia lebih cenderung untuk bersimpati kepada kekuatan yang seolah mewakili rakyat tertindas dan miskin, dan dengan dalih hak asasi dan kedaulatan nasional, menolak intervensi dan aksi preventif model George Bush.
Menurut saya, yang kurang diperhitungkan oleh para pendukung kiamat terorisme, ialah kebesaran Tuhan yang pasti tidak akan rela dunia yang secara geofisika sudah berumur miliaran tahun dan masih punya prospek survive miliaran tahun lagi. Tuhan yang sejati pasti akan mempunyai metodologi tersendiri untuk memunahkan dan memusnahkan manusia yang berlagak mewakili Tuhan, ingin menghukum manusia lain melalui 911 nuklir dan euthanasia massal global. Kiamat menurut saya adalah terlalu serius untuk dipasrahkan hanya pada Osama bin Laden dan pendukungnya.
Sumber: Suara Pembaruan
Sehubungan dengan semakin dekatnya jadwal pemilihan untuk referendum mengenai reproduksi buatan di Italia pada tanggal 12-13 Juni, berikut penulis melaporkan beberapa perkembangan yang terjadi di Italia, bahwa meskipun dilanda kritik di sana-sini, Gereja Katolik Italia senantiasa menganjurkan kepada umat beriman untuk tidak datang memilih demi membela kehidupan manusia.
Kita pun umat Kristiani di Indonesia, atau di manapun, dapat terus mendukung tindakan Gereja dengan lebih banyak lagi mendoakan kepada Tuhan melalui Bunda Maria agar umat Kristiani (Katolik) Italia sungguh-sungguh melaksanakan tanggung jawab iman mereka dengan mematuhi ajakan Gereja. Berita ini telah diupdate ke dalam website PondokRenungan (www.pondokrenungan.com) EROPA/ITALIA Gereja berspekulasi dalam ajakan untuk memboikot referendum reproduksi buatan Italia.
Gereja di Italia sedang mengambil satu dari spekulasi politiknya yang terbesar dalam dekade-dekade. Kardinal Camillo Ruini, Kepala Konferensi Waligereja Italia, telah mengajak para umat Katolik di negara itu untuk memboikot referendum tanggal 12-13 Juni yang akan mencabut larangan-larangan tertentu mengenai reproduksi buatan dan penelitian embrio.
Namun terakhir kali Gereja mengatakan kepada masyarakat bagaimana untuk memilih, hasilnya terbagi dalam dua kekalahan yang menyesakkan. Gereja dengan keras mendukung dua referendum, satu pada tahun 1974 membuat perceraian tidak sah dan satu pada tahun 1981 membuat aborsi sebuah kejahatan. Warga Italia, yang mayoritas adalah umat Katolik, membanjiri tempat-tempat pemberian suara, tetapi bukan untuk mematuhi Gereja. Mereka meloloskan kedua referendum untuk menguatkan keabsahan perceraian dan aborsi.
Kali ini, Kardinal Ruini yang berusia 74 tahun yakin akan kemenangan Gereja. Surat kabar Vatikan, 'L'Osservatore Romano', melemparkan dukungannya dibalik kampanye para uskup tanggal 25 Mei untuk "tidak memilih" ketika menerbitkan sebuah artikel di halaman depan yang mengatakan bahwa tidak mengunjungi tempat pemberian suara mencerminkan suatu tindakan yang membela kehidupan manusia.
"Tanggung jawab umat beriman tidak dapat berakhir dengan keberatan pribadi" terhadap "penurunan nilai dari kehidupan embrio manusia," yang tertulis dalam artikel, yang ditulis oleh Kardinal Dionigi Tettamanzi dari Milan, seorang teologi di bidang moral. Umat beriman memiliki "sebuah tanggung jawab yang dinamakan (melaksanakan dalam) sebuah cara yang efektif ... yaitu abstain (tidak memberi suara)," tulisnya. Sebelumnya tahun ini, Kardinal Ruini mengatakan memboikot pemberian suara "adalah bukan berarti sebuah ketidakterikatan" dari tugas-tugas seorang warga negara. "Adalah sebuah cara lebih kuat dan lebih efektif untuk melawan referendum" dengan meyakinkan bahwa pemilihan suara adalah secara keseluruhan tidak valid, katanya pada sebuah pidato tanggal 7 Maret kepada para anggota lembaga tetap Waligereja Italia.
Sementara beberapa umat Katolik mempertanyakan langkah itu, banyak pemimpin Gereja Italia berbaris dibelakang Kardinal Ruini dan mendukung ajakannya untuk abstain dari pemilihan suara. Kardinal Angelo Scola dari Venice mengatakan bahwa adalah sesuatu yang sah untuk "memutuskan untuk tidak mempertimbangkan" sebuah pengajuan referendum yang bermaksud untuk mencabut sebuah hukum. Demokrasi tidak akan dijalankan dengan baik oleh "jutaan orang yang menyatakan (pendapatnya) tentang masalah-masalah yang begitu kompleks dengan sebuah tanda �check� (check mark) sederhana di atas sebuah kartu suara," katanya kepada harian �La Repubblica� tanggal 23 Mei.
Sekeretaris Jenderal Waligereja Italia, Uskup Guiseppe Betori, mengatakan bahwa umat Katolik memiliki sebuah tugas dalam pemilihan-pemilihan umum yang "dipanggil oleh negara", referendum adalah pemilihan suara yang dibutuhkan oleh "sebuah kelompok, meskipun besar, dari warga negara." Karena sebuah quorum, atau 50 persen ditambah satu dari para pemilih yang memenuhi syarat, harus dicapai bagi sebuah hasil referendum untuk menjadi sah, tidak berpartisipasi dalam sebuah referendum dianggap sebagai sebuah cara yang sah dan alternatif untuk menunjukkan pertentangan terhadap pengajuan referendum, kata uskup kepada harian Katolik Italia, Avvenire, tanggal 16 Maret.
Namun seperti yang tidak disetujui dengan sengit oleh Parlemen Italia tentang bagian dari larangan-larangan tahun lalu mengenai reproduksi buatan, warga Katolik negara itu mengalami sebuah perpecahan yang serupa. Kardinal Fiorenzo Angelini, pensiunan kepala Lembaga Kepausan untuk para Pekerja Perawatan Kesehatan, mengatakan bahwa "umat Katolik yang sesungguhnya melakukan apa yang dikatakan oleh Waligereja Italia," seperti yang dilaporkan oleh harian 'Corriere della Sera', tanggal 11 Mei.
Perbincangan seperti "orang baik/orang buruk" itu memicu kemarahan dalam beberapa lingkaran-lingkaran keagamaan; banyak yang memprotes seruan para uskup yang mereka gambarkan sebagai suatu perburuan penyihir. Ernesto Preziosi, wakil kepala 'Catholic Action' di Italia, mengatakan bahwa kelompoknya tidak ingin memberikan seruan kardinal "sebuah ikatan dogma" atau pukulan "dari Perang Salib". "Kami ingin berdialog dengan kesadaran masyarakat, menghormati ide-ide dan situasi masyarakat," katanya kepada 'La Repubblica' tanggal 17 Mei.
Enrica Belli, kepala dari Federasi Universitas Katolik Italia, mengatakan dalam laporan surat kabar yang sama bahwa asosiasi itu mendukung ajakan Kardinal Ruini, "namun anggota-anggota kami bebas untuk memilih apa yang harus dilakukan." Perselisihan diantara umat Katolik itu bukan difokuskan kepada membebaskan hukum; melainkan dipusatkan kepada Gereja yang mengajak masyarakat untuk tidak memilih. "Tugas uskup adalah menekankan nilai-nilai, bukan memaksakan kepada umat yang percaya pilihan-pilihan yang berkompetisi dengan kesadaran diri dan iman mereka," kata sebuah seruan yang ditandatangani oleh lebih dari 700 orang, termasuk lusinan laki-laki dan wanita beriman. Seruan itu diterbitkan dalam web site dari agen berita Italia, 'Adista'. Pesan itu berkata, "Jika setiap orang memiliki hukum Tuhan yang tertulis dalam hati dan pikiran mereka, mengapa tidak mempercayakan laki-laki dan wanita" untuk memperkecil jarak antara "hukum manusi yang tidak sempurna dan hukum Tuhan yang sempurna" melalui "partisipasi demokrasi"?
Namun dalam meyakinkan umat Katolik untuk menjauhi tempat pemberian suara, kebanyakan pemimpin Gereja berusaha untuk menyerukan pertimbangan masyarakat dan mengingatkan mereka bahwa semua kehidupan manusia adalah suci, lebih daripada mengancam mereka dengan sensor atau pengucilan. Uskup Agung Serafino Sprovieri dari Benevento mengajak "semua orang untuk menjadi konsisten dengan iman mereka dan dengan pertimbangan yang jelas."
Kardinal Tettamanzi, yang juga adalah seorang ahli dalam bidang bioetik, mengatakan bahwa memboikot referendum adalah cara terbaik untuk menjaga hukum yang telah ada. Ia mengatakan kepada 'La Repubblica' tanggal 17 Mei bahwa umat Katolik harus "mencegah segala bentuk ... dari sensor" terhadap mereka yang memilih. Umat Katolik yang mencerca umat Katolik lainnya akan menjadi sebuah "percobaan setan" yang akan membawa "perpecahan yang berbahaya dan tak berdasar" kepada Gereja, katanya.
Dalam 20 tahun terakhir, hampir semua proposal referendum di Italia telah gagal menarik sebuah quorum pemberian suara, sehingga para pendukung referendum telah memfokuskan semua tenaga mereka untuk menganjurkan masyarakat untuk memilih. Kampanye 'pergilah memilih' mereka telah difokuskan bukan hanya mengenai pencabutan hukum yang berlaku, melainkan juga sebagai jalan untuk menegaskan pemisahan antara Gereja dan negara. Jika sejumlah pemilih yang mencukupi tidak datang memilih, pembelaan Gereja akan larangan-larangan di dalam hukum yang berlaku akan dikuatkan, namun para uskup sedang berspekulasi bahwa tindakan abstain yang luas akan lebih terlihat sebagai dukungan untuk posisi mereka daripada sebagai contoh lain dari berkembangnya kelesuan pemilih.
Sumber: Konferensi Waligereja Italia, L´Osservatore Romano, Corriere della Sera, La Repubblica, Avvenire, Az
Oleh: Yosi Rorimpandei
Arus deras globalisasi yang melipat dunia menjadi global village (kampung global) hampir tak bisa dielakkan lagi memengaruhi setiap lini kehidupan manusia abad ini. Kepungan pengaruhnya menjulur dari ruang paling privat kita di kamar mandi hingga cara pandang dan cara berpikir kita terhadap realitas.
Dalam wilayah pemenuhan kebutuhannya, manusia yang sebelumnya mengonsumsi dengan niat memenuhi kebutuhan primer mereka-sandang, pangan, papan-sekarang tidak lagi tercukupi, bahkan dengan tambahan kebutuhan sekunder maupun tersiernya an sich.
Lebih dari itu, manusia modern mengonsumsi demi kepentingan "hasrat" (pleasure) libidonial" terdalamnya yang nyata-nyata tak pernah terbatas. Manusia mengonsumsi "materi" lebih sebagai gengsi sosial, kepuasan, kenikmatan, prestis, dan mengejar pengakuan diri sebagai manusia modern! Pada titik inilah gaung globalisasi lebih mononjol pada sisi buruk/negatifnya berbentuk lahan subur konsumerisme...! (tanpa menafikan sisi positif globalisasi yang telah membantu kemajuan peradaban manusia)
Pengaruh materialisme juga merambah pada ranah agama. Aroma orientasi bisnisisasi agama telah menjadi tren umum, untuk tidak mengatakan membiasa, tidak hanya melalui tayangan di layar kaca, tetapi juga melalui kegiatan religius dan "pesta rohani" yang marak belakangan ini, yang justru membuktikan bahwa agama sering ditampilkan melalui pertimbangan kepentingan konsumen/pasar daripada pada sisi esensi dan nilai profetik (pembebasan, pencerahan) kesadaran umat. Tak heran sinetron dan tayangan religius yang bernuansa "menakut-nakuti" lebih digemari dan dominan daripada tampilan dan kegiatan agama yang memberi pencerahan dan penyadaran umat.
Jika terus berlanjut, bukan tidak mungkin agama akan terseret pada wilayah kemasan pragmatis bisnis media, yang tak beda sebagaimana berita dan infotainment lainnya. Prinsipnya, selama pasar menghendaki program akan tetap jalan, esensi pesan dan nilai, edukasi, hanyalah sebagai lipstik yang setiap waktu gampang untuk dikompromikan, bahkan mungkin bisa diabaikan, demi kepentingan konsumen!
Padahal di tengah semakin tingginya kebutuhan manusia mencari sandaran kepastian dan ketenangan jiwa menghadapi perubahan tantangan hidup, agama akhir-akhir ini justru menampakkan wajahnya yang keras dan jahat . Sehingga jurang kesenjangan semakin dalam antara pesan esensial-universal agama sebagai penyampai kabar damai, kasih dan rahmat bagi semesta alam, dengan praktek nyata manusia beragama yang menyenangi kekerasan dan intoleransi pada sesamanya.
Hasil pemahaman pribadi, kelompok, organisasi menjumpai teks suci dipaksakan menjadi milik publik, bukan sebaliknya, nilai-nilai universal agama (kedamaian, kerukunan, kasih, toleran, inklusif, dst) dalam teks suci yang mestinya menjadi norma publik dan menjiwai pengalaman atau pengalaman pribadi. Keterbalikan ini mengakibatkan relasi antar-agama yang terbangun hanya sampai pada "kami" dengan "mereka" belum beranjak menjadi "tentang kita".
Pengaruh terjauh dari materialisme ini adalah semakin tersingkirnya ruang nilai-nilai yang bersifat transenden (non-materi) yang sebenarnya juga menjadi kebutuhan dasar batin dan jiwa manusia. Sebab, tanpanya keseimbangan hidup manusia akan timpang-untuk tidak mengatakan kekeringan-kebutuhan itu adalah spiritualitas.
Spiritualitas yang memperkaya keimanan dapat dicapai melalui kesediaan diri melihat realitas keduniawian secara relatif, hanya sebagai jembatan untuk jalan yang lebih panjang dan abadi setelah mati. Bukan sekedar ingin "membangunkan mummi", mengultuskan konsep keberagamaan masa lampau yang diklaim rigid, yang asli , yang awal , tak tersentuh perubahan, padahal perubahan itu sendiri adalah keniscayaan sejarah yang terus terjadi.
Dalam hitungan sejarah agama yang bersandar pada wahyu secara tradisional telah mengalami masa pencerahan berkali-kali agar lebih menyapa pada tuntutan manusia modern. Namun di sisi lain, perkembangan modernisme semakin hari justru menggerus pesan dasar dan nilai terdalam dari agama yang ingin memberi arah kepastian keselamatan, membekali jiwa manusia menghadapi hidup dan setelah hidup secara harmoni.
Maka, jika spiritualitas agama hari ini hendak dimunculkan kembali, maka ia mesti diposisikan sebagai solusi, sekali lagi bukan untuk "membangkitkan mummi". Ia harus bisa menerima kesadaran aktualnya tanpa hendak terseret untuk mengabaikan esensi pesan universalnya.
Sangat mungkin, menguatnya budaya materialisme akan serentak diimbangi dengan kuatnya kerinduan manusia akan spiritualisme. Sebab, pada hakikatnya manusia selalu ingin hidup seimbang dan harmoni. Sekarang tinggal kita, mau memakai spiritualisme pada makna yang mana: yang penuh pencerahan akal budi atau yang mudah menina-bobokan kesadaran rasional?
Oleh: Mang Ucup
Apakah Anda mengetahui artinya lambang dari warna-warna telor paskah?
Penulis : Andar Ismail
"BERBANGGAKAH kita bahwa kita beragama? Memang mulia bila kita menganut sebuah agama. Namun, bagaimanakah cara keberagamaan itu kita ungkap dan wujudkan? Ada banyak cara mengekspresikan keberagamaan. "Pertama, agama diwujudkan secara verbal. Dalam percakapan sehari- hari sebentar-sebentar kita menyebut nama Allah atau Tuhan. Entah berapa puluh kali nama Allah disebut dalam satu hari sekadar sebagai pemanis percakapan.
"Kedua, agama diwujudkan secara ornamental. Kemana-mana kita memakai ornamen religius seperti topi agama, baju agama, kalung agama atau lainnya. Di mobil kita pasang stiker agama. Pokoknya, dari jauh langsung sudah kelihatan bahwa kita ini beragama.
"Ketiga, agama diwujudkan secara seremonial. Berbagai kegiatan kita awali dengan sebuah seremoni atau upacara agama, baik yang singkat terdiri dari satu dua kalimat atau lebih panjang dari itu.
"Keempat, agama diwujudkan secara ritual. Hidup dijadwal dengan ritus- ritus agama. Ada ritus harian, ada ritus mingguan dan ada ritus tahunan.
"Kelirukah cara mewujudkan agama secara itu? Tidak! Samasekali tidak keliru. Namun, cobalah kita rendah itukah agama hadir dalam hidup manusia?
"Yesus adalah pemeluk sebuah agama. Lalu Ia melihat kenyataan bahwa banyak teman-teman seagama mewujudkan keberagamaan hanya sebatas cara- cara verbal, ornamental, seremonial dan ritual tadi. Kemudian Ia mengecam cara keberagaman itu.
Misalnya, terhadap orang yang sebentar-sebentar menyebut nama Tuhan, Ia mengecam, "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! Akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku..." (Matius 7:21). Tentang orang yang suka memakai ornamen religius, Yesus berkata, "...supaya dilihat orang, mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang" (Matius 23:5)
"Kecaman Yesus itu sejajar dengan apa yang dibaca oleh Dia dalam buku- buku para nabi yang juga mengecam keberagamaan yang cuma verbal, ornamental, seremonial dan ritual. Dalam salah satu buku itu tertulis, "Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi ... itukah yang kausebut berpuasa ...? Bukan!
Berpuasa yang kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu- belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya ... supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar ... (Yesaya 58:4-7).
"Kalau begitu halnya, keberagamaan macam apakah yang dijalani oleh Yesus? Perhatikan kata melakukan dalam ucapan Yesus tadi, "... melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku". Jadi, menurut Yesus keberagamaan terungkap dalam wujud melakukan kehendak Allah.
Apakah kehendak Allah itu? Yesus berucap, "... supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu" (Yohanes 15:12).
"Jadi, Yesus mewujudkan keberagamaan-Nya bukan dengan cara pertama sampai dengan keempat tadi. Ia mempunyai cara kelima, yaitu mewujudkan agama secara operasional universal. Artinya, mengasihi dengan melampaui segala batas ras, etnik, agama, ideologi atau lainnya.
Patutkah kita bangga jadi orang beragama? Silakan! Namun, sungguh sayang jika keberagamaan kita cuma terungkap dangkal sebatas verbal, ornamental, seremonial dan ritual.
Seyogyanya keberagamaan terwujud secara operasional universal dalam bentuk perilaku yang luhur yang mendatangkan faedah untuk kepentingan semua orang.
"Filsuf Francois Duc de Levis (1764-1830) menulis, "Noblesse oblige". Artinya, sebutan yang luhur mengandung tanggung jawab yang luhur pula. Beragama mewujud dalam perilaku yang mulia. Sungguh bagus jika kita mengaku sebagai bangsa yang beragama, tetapi apakah kita juga berperilaku mulia?
Sumber: Suara Pembaruan Daily
Penulis : Kristian.N
Suatu hari Raja Daud mengajak Salomo anaknya menemaninya berjalan-jalan di taman istana. Setelah letih berkeliling duduklah dia di bawah sebuah pohon rindang. Dilihatnya Salomo sedang asik memandangi sesuatu. Rasa penasaran Daud mendorongnya untuk menghampiri Salomo. "Anak ku apa yang sedang engkau lihat?" tanya sang ayah.
Suatu hari Raja Daud mengajak Salomo anaknya menemaninya berjalan-jalan di taman istana. Setelah letih berkeliling duduklah dia di bawah sebuah pohon rindang. Dilihatnya Salomo sedang asik memandangi sesuatu. Rasa penasaran Daud mendorongnya untuk menghampiri Salomo. "Anak ku apa yang sedang engkau lihat?" tanya sang ayah.
"Oh lihatlah ayah sekawanan semut itu, mereka begitu sibuk mengangkat daun menuju sarang. Untuk apa sebenarnya daun-daun itu?" tanya Salomo kepada ayahnya.
"Daun itu adalah makannya, anakku. Ini adalah musim dimana mereka biasa mengumpulkan makanan, untuk bekal ketika salju mulai turun menutupi bumi." Jawab Daud.
"Lihatlah mereka begitu kecil tapi sanggup mengangkat daun yang begitu besar, bahkan jauh lebih besar dari tubuh mereka sendiri. Ternyata semut tidak selemah yang aku kira selama ini." Sambung Salomo. Dia tampak begitu heran dan kagum dengan pemandangan yang sedang dilihatnya.
"Yah itulah Kuasa Tuhan, bahkan binatang yang paling lemah diberikan Tuhan kekuatan melebihi yang lain. Tuhan itu adil. tahukah kamu anakku, semut yang kecil ini sanggup mengangkat beban yang bahkan 10 kali lebih berat dari tubuhnya. Seekor gajah yang paling besarpun tidk akan sanggup menandingi kekuatan seekor semut. Anakku, jangan pernah sekalipun engkau meremehkan mereka yang tampak lemah. Belajarlah dari semut! Jika engkau nanti menjadi seorang raja". Jawab Raja Daud.
"Engkau tahu berapa lama mereka akan mengangkat makanan-makanan itu?" tanya Raja.
"Entah ayah, mungkin sampai nanti sore". Jawab Salomo.
"Tidak nak, tidak seperti itu. Mereka akan terus bekerja mengumpulkan makanan hingga musim dingin tiba. Lihatlah bagaimana mereka bekerja! Mereka seakan tidak pernah lelah. Tidak ada yang diam, tidak ada yang tampak sedang asik bersantai bukan?" sambung Raja Daud.
"Ya, ayah benar. Mereka semua bekerja! Tapi Ayah, mungkinkah karena mereka takut akan dihukum jika tidak bekerja? mungkin ada yang sedang mengawasi mereka bekerja." Salomo mencoba mengajukan argumennya.
"Tidak, tidak ada yang mengawasi, semut bukan budak dari siapapun. Semut hanya memiliki seorang ratu yang bertugas melahirkan para semut, sedangkan sebagian besar semut adalah jenis pekerja dan sisannya adalah semut prajurit yang bertugas menjaga koloni dan ratu mereka. Tapi tidak untuk mengontrol para pekerja." Jawab Raja Daud.
"Anak ku, jika engkau mau merenungkannya, engkau bisa belajar banyak dari kehidupan para semut." Sambung Raja Daud.
"Apakah itu ayah, katakanlah supaya aku ini mengert." Pinta Salomo.
"Baiklah, supaya engkau tahu, semut adalah binatang yang bijaksana, yang menyadari bahwa untuk segala sesuatu ada masannya. Mereka menyadari ada waktu untuk mengumpulkan dan bekerja serta ada waktu untuk beristirahat. Ketika masa untuk bekerja datang, mereka akan menggunakannya untuk mengumpulkan bekal makanan. tak satupun dari mereka yang berusaha mencuri waktu untuk bersantai dan bersenang-senang. Karena mereka sadar ketika musim dingin tiba, mereka akan dapat beristirahat di dalam sarangnya yang hangat, semua beristirahat, tidak ada yang bekerja. Mereka makan dan minum, berpesta sambil menanti datangnya musim semi."
"Yang kedua, sebagai semut, mereka tahu bagaimana hidup dalam bersama dalam komunitasnya. Setiap semut paham akan tugas dan perannya masing masing. Mereka menjalankan tugasnya dengan setia. Mereka tidak perlu dipaksa dan tidak perlu didikte. Mereka tetap bekerja tanpa perlu diawasi. Tiap-tiap semut akan melakukan tugasnya dengan sukarela dan sungguh-sungguh. Yang satu tidak iri dengan yang lain. Selain rajin, semut adalah binatang yang memiliki integritas tinggi."
"Anakku jika engkau nanti menjadi seorang raja yang akan memimpin bangsamu, ajaklah rakyatmu belajar dari para semut." Sambung Sang Daud.
Tak terasa hari semakin siang. Matahari sudah berada tepat di atas kepala. Digandengnya tangan Salomo. "anak ku sudah saatnya untuk pulang. Masih cukup waktu untuk kamu bisa merenungkannya nanti."
Ya masih banyak waktu bagi kita untuk merenungkan, betapa tidak sempurnanya kita sebagai manusia, hingga masih harus belajar dari para semut.
Sumber: Nama Saya Kristian
share with us
Oscar Lewis, seorang antropolog, mengungkapkan bahwa masalah kemiskinan bukanlah masalah ekonomi, bukan pula masalah ketergantungan antar negara atau masalah pertentangan kelas. Memang hal-hal tadi dapat dan merupakan penyebab kemiskinan itu sendiri tetapi menurut Lewis, kemiskinan itu sendiri adalah budaya atau sebuah cara hidup. Dengan demikian karena kebudayaan adalah sesuatu yang diperoleh dengan belajar dan sifatnya selalu diturunkan kepada generasi selanjutnya maka kemiskinan menjadi lestari di dalam masyarakat yang berkebudayaan kemiskinan karena pola-pola sosialisasi, yang sebagian besar berlaku dalam kehidupan keluarga. (Kisah Lima Keluarga, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta 1988). Kebudayaan kemiskinan bukanlah monopoli mereka yang secara ekonomi tidak memiliki sumber-sumber produksi, distribusi benda-benda, dan jasa ekonomi. Kebudayaan kemiskinan juga dimiliki mereka yang oleh kita dianggap kaya atau bermodal. Dalam cakupan budaya kemiskinan beberapa hal dapat menunjukkan keberadaannya seperti meliputi tingkah laku kasar dalam keluarga yang selalu menjadi masalah mereka yang miskin, perasaan tidak puas atau tidak enak yang berkelanjutan, kurangnya cinta kasih, retaknya nilai-nilai moral dan etika, serta ketiadaan akses kepada kapital alias modal. Hal-hal ini dapat terjadi dalam kelaurga kaya sekalipun. Pada intinya walaupun sebuah keluarga atau masyarakat dianggap kaya tetapi jika gaya hidup dan cara hidupnya menunjukkan ciri-ciri kemiskinan maka mereka "mengidap" apa yang disebut kebudayaan kemiskinan.
Jadi walaupun sudah kaya raya tetapi ternyata seorang teman masih saja tidak bisa melepaskan berbagai cara kekerasan yang dilakukan bapaknya dulu ketika mendidik dia dan saudara-sudaranya. Dia bilang "Wah seperti refleks mas Wiji, saya itu tidak ingin dan tahu berkata kasar serta mencambuk anak itu tidak baik tapi saya lakukan juga, sepertinya tidak ada pilihan lain untuk mendisiplinkan anak saya itu." Atau beberapa tingkah orang kaya baru yang kadang norak dan aneh-aneh nampaknya juga menunjukkan perasaan tidak enak, tidak nyaman, dan tidak puas yang berkelanjutan.
Kata para ahli, apa yang disebut cara hidup miskin ini merupakan "penyakit" hampir di semua belahan bumi yang menurut ukuran negeri kapitalis (maju) adalah negeri yang sedang berkembang atau miskin?padahal bisa jadi kalau diukur kekayaan alamnya bisa lebih kaya. Negara-negara yang biasanya pernah dijajah dan mengalami benturan budaya karena terkejut dan tidak bisa menerima kemajuan teknologi. Di satu sisi beberapa negara ini masih memiliki kebudayaan petani yang kental tetapi tiba-tiba juga harus menghadapi kebudayaan material yang diusung oleh negara kapitalis tersebut dan menguasai hampir semua lini kehidupan. Jadi kemiskinan di sini dilanggengkan karena secara langsung ataupun tidak langsung dipelajari dan dipraktekkan cara hidupnya oleh masyarakat pendukungnya. Sekolah di mana saya bekerja rupanya menjadi bagian dari lembaga yang melanggengkan hal tersebut. Pada masa sekitar tahun 60-80-an sekolah ini merupakan sekolah yang cukup berjaya. Gaji gurunya melebihi gaji pegawai negeri pada masa itu. Ditawari menjadi pegawai negeri guru-guru tersebut tidak mau. Bahkan dengan bangga mereka bisa memamerkan sepeda pemberian dari Yayasan Pusat yang belum tentu dapat diperoleh pegawai negeri saat itu. Sekilas sepertinya sekolah ini maju pesat. Tetapi ternyata semua itu terjadi karena ada dukungan dana dari Belanda untuk operasionalisasi semua kegiatan disekolah ini.
Sekolah hampir tidak mengadakan pembaharuan ataupun rencana-rencana untuk masa depan. Yang kemudian terjadi adalah rebutan rejeki sehingga sebisa mungkin saudara ataupun teman menjadi bagian dari Pengurus Yayasan ataupun Guru di sekolah-sekolah yang berada di bawah naungan Yayasan Pengelola. Dapat ditebak situasinya adalah situasi aman karena mendapat sokongan. Tidak ada budaya berusaha, tetapi seperti sebuah involusi, dana bantuan yang harusnya dikembangkan itu malah dibuat supaya dapat menghidupi banyak sekali para kolega maupun saudara. Seperti sepetak sawah yang kemudian dikerjakan oleh banyak orang hanya supaya semua orang kebagian rejeki. Sebuah cara hidup miskin karena ketiadaan sumber produksi dan ketiadaan pengetahuan mengelola sumber produksi maka apa yang ada dimaksimalkan dengan cara di buat "padat karya". Jelas hal ini akan menjauhkan kita dari kemajuan. Ketika traktor berperan habislah model pertanian ini.
Kembali ke sekolah tadi. Dalam situasi seperti ini jelas anak-anak sadar atau tidak sadar diajak untuk belajar menjadi miskin. Mereka selalu melihat bahwa saudara-saudara Guru mereka yang lebih berperan dan Guru-guru juga selalu menekankan bahwa kekayaan sepertinya adalah sebuah wahyu bukan karena usaha. Sisa-sisa pengajaran mereka itu masih dapat dilihat sampai sekarang. Seorang Guru berkata "Nasib Mas Wiji, dulu kita jaya sekarang terpuruk." Kepada murid-murid dia berkata, "Kamu belajar yang rajin, dan nanti kalau nasibmu baik jangan lupa kepada sekolah ini". Jadi nasib baik saja yang menentukan. Nasib baik siapa tahu mendapat donatur lagi atau menjadi kaya. Arogansi ketika mereka merasa lebih baik dari pegawai negeri juga membuat keinginan maju tidak ada. Maka gaya mengajar dan juga situasinya minimalis sekali. Miskin kreatifitas. Yang ada rutinitas.
Datanglah badai itu. Bantuan dari Belanda karena permasalahan politik dihentikan sama sekali. Guru-guru dan pengurus yang tadinya bergelimang korupsi menjadi kalang kabut karena mereka harus menghidupi diri sendiri sementara saingan menjamur di mana-mana. Hampir tidak mungkin mereka menaikkan uang sekolah untuk menyokong pendidikan di sekolah itu karena sekolah negeri dengan mutu sama bisa lebih murah. Sentimen SARA makin menghambat laju sekolah ini. Akhirnya sang Kepala Sekolah berujar "Nasib kita memang sedang tidak baik, Tuhan sedang menguji kita." Ujian ini ternyata berjalan lama. Satu persatu aset sekolah tidak dapat digunakan dan satu-persatu sekolah-sekolah dari Yayasan ini ditutup sampai akhirnya tinggal satu sekolah?yang saat ini bekerja sama dengan tempat kerja saya. Keadaan ini makin diperburuk dengan saling menjatuhkan antar pengurus dan juga antar guru. Berebut aset yang sebenarnya tidak seberapa.
Lalu mengapa satu sekolah itu bisa bertahan? Jawabnya juga karena mereka melakukan strategi kemiskinan. Kalau melihat keseharian Guru yang sudah lama dan tetap bertahan, saat ini mereka sebenarnya sudah mencapai taraf kemakmuran secara individu. Bisa dilihat dari rumah mereka yang pasti berbata dan anak-anak mereka yang bisa berkuliah?kebanyakan di Universitas swasta pula. Satu hal yang dulu sulit dilakukan Guru-guru negeri. Memang Guru-guru itu juga memiliki usaha lain dalam bidang pertanian?sebagai dampak "pembagian" dana donasi dulu sehingga mereka bisa memiliki akses sumber-sumber produksi.
Tetapi untuk memajukan sekolah sekali lagi yang dipakai adalah strategi kemiskinan. Rupanya sekolah itu di buat menjadi kelihatan semiskin mungkin. Kalau Anda pertama kali ke sana anda akan menjumpai sekolah yang tak terawat sama sekali dengan alsan tidak ada dana untuk perawatan. Buku hampir tidak ada. Penjaga sekolah tidak melakukan tugasnya sama sekali. Atap bocor, alat peraga tidak ada, dapur jadi satu dengan kantor, dan wc tidak ada airnya. Alasannya sekali lagi tidak ada uang. Lambat laun saya tahu kalau setiap tahun ada dana dari pemerintah untuk operasional sekolah. Bantuan alat peraga juga ada. Dan berbagai donatur silih berganti membantu sekolah ini. Lalu ke mana dana-dana bantuan tersebut? Usut punya usut dana-dana tersebut selalu dibagi rata untuk Guru-guru yang telah terbiasa mendapatkan dana lebih baik dari pegawai negeri. Ketika bantuan tidak ada dan krisis moneter menghantam mereka menjadi pihak yang secara ekonomi miskin dan tidak punya akses produksi serta kapital lagi.
Lambat laun, berbagai alat peraga bantuan pemerintah saya temukan. Ada yang disimpan di rumah penduduk dan ada pula yang disimpan di rumah penjaga sekolah. Saya hanya geleng-geleng kepala melihat hal ini. Beberapa dokumen dipalsukan hanya agar beberapa Guru memperoleh insentif dari pemerintah. Maka ketika beberpa perubahan kami lakukan kata yang pertama keluar dari Kepala sekolah "Lebih baik tidak dibantu Mas, dibantu kita tidak dapat apa-apa." Dengan kondisi pemiskinan tadi sudah barang tentu budaya kemiskinan tertanam baik dalam benak dan pikiran anak-anak. Semuanya serba minimalis dan bahkan dibuat tidak ada sama sekali. Sampai-sampai dana beasiswa tidak sepenuhnya digunakan untuk anak-anak. Sempurna kan? Miskinnya maksdunya.
Dengan memiskinkan diri itulah maka sekolah selalu terlihat membutuhkan bantuan dan berbagai bantuan dari orang yang kasihan mengalir ke sekolah. Padahal kalau dipikir hanya sedikit yang akan didapat dari metode miskin ini. Sama sekali tidak terpikir oleh Guru-guru itu untuk membuat terobosan dengan memajukan sekolah dan mengolah sumber yanga ada disekolah untuk kemajuan sekolah. Budaya kemiskinan telah mengajar207 kepada mereka dengan hanya mengulurkan tangan seperti pengemis maka dana akan mengalir. Alasannya selalu saja ini: tidak ada yang memikirkan, Yayasan tidak melakukan apa-apa?ya mereka bertengkar terus, dan tidak ada uang. Tapi ketika mendapat uang terus digunakan untuk hal yang tidak benar bahkan untuk rebutan.
Budaya kemiskinan jelas telah menggerogoti banyak segi dalam kehidupan bangsa ini. Bahkan terlembagakan dengan jeniusnya disekolah. Di beberapa sekolah negeri saya melihat praktek-praktek pemiskinan tersebut juga berlangsung. Dana insentif untuk Guru honorer masih saja dipotong dan dibagi rata kepada Guru yang seharusnya tidak menerima. Pemerataan katanya. Membentak dan menjewer adalah hal biasa juga dalam keseharian di sekolah. Dalam kehidupan sehari-hari kemiskinan adalah bagian dari kita dan berbagai cara korupsi serta kekerasan di negara ini adalah merupakan bukti nyata adanya kebudayaan kemiskinan tersebut. Bukti juga kalau bangsa kita?paling tidak dilingkungan saya bekerja?masih terjajah. Beberapa waktu lalu saya membaca di sebuah harian Nasional?saya lupa tanggalnya?negara kita ini mungkin memang hanya akan bisa maju kalau terjajah karena mentalnya memang mental miskin dan terjajah. Bagaimana, masih mau terjajah atau mau maju? Lalu saya teringat kepada perumpamaan tentang talenta dari Tuhan Yesus. Kalau kasusnya memiskinkan diri seperti tadi termasuk mengembangkan talenta tidak ya? Kasusnya memang rumit tapi mudah-mudahan kalau kita nanti di tanya Tuhan apa yang dilakukan di dunia ini kita akan mendengarkan Tuhan berkata "Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu." (Matius 25:23).
Ketika Kardinal Joseph Ratzinger (78) terpilih menjadi Paus ke-265, ia kemudian memilih nama Benediktus XVI. Mengapa ia tidak memilih nama Yohanes Paulus III? Bukankah Ratzinger sangat menghormati Yohanes Paulus II yang wafat 2 April lalu? Atau mengapa ia tidak menggunakan nama Paulus VII sebagai kelanjutan dari pemerintahan konservatif Paus Paulus VI (1963-1978)? Tentu Kardinal Ratzinger memilih nama Benediktus-artinya 'yang diberkati'-bukan karena ia membaca Ramalan St Malachi (sekitar 1139). Ramalan itu menyebutkan bahwa Paus pengganti Yohanes Paulus II adalah seseorang yang hidup dan kerjanya memiliki ciri sebagai Gloria Olivae (Kemuliaan Zaitun). Tafsiran mengenai nama simbolik tersebut memang mengaitkannya dengan seorang tokoh bernama Benediktus dari Nursia, Italia (480-543).
Sebagai orang yang taat pada tradisi Gereja Katolik, pasti Kardinal Ratzinger tak memercayai Ramalan St Malachi. Ambisi dan ramalan itu tabu dalam kepemimpinan Gereja (Kompas, 18/4).
"Ada yang memilih sebuah nama karena nama tersebut mencerminkan sebuah keutamaan," tulis Hergemoeller. "Nama Innosensius, misalnya, mencerminkan sebuah kesucian. Sementara Clemensius menggambarkan sebuah watak penyayang," lanjutnya.
Hergemoeller juga menemukan bahwa ada Paus yang memilih sebuah nama karena Paus yang digantikannya telah mengangkatnya sebagai kardinal. Itu dilakukan, misalnya, oleh Paus Benediktus XIV (menjabat Paus: 1740-1758), Pius VIII (1829-1830), atau Pius XII (1939-1958).
Alasan duniawi dan keluarga juga ada. Misalnya, Kardinal Antonio Pignatelli (1615-1700) memakai nama Innosensius XII karena ia sangat kagum dengan cara hidup yang mewah dari Paus Innosensius XI (1676- 1689). Selain ingin hidup segemerlap Innosensius XI, Pignatelli memilih nama tersebut karena idolanya itu juga telah membantu kehidupan keluarganya.
Lepas dari alasan-alasan duniawi atau keluarga, pada umumnya pemilihan nama itu memang banyak didasarkan pada rasa terima kasih dan-ini yang lebih penting-keinginan untuk melanjutkan warisan spiritual atau sebaliknya untuk memulai sesuatu yang baru. Hergemoeller menyebutkan bahwa Kardinal Angelo Guiseppe Roncalli (1881-1963) memilih nama Yohanes XXIII karena "ia ingin mengakhiri era kepausan para Pius". Dua pendahulunya memang memakai nama Pius XI (1922-1939) dan Pius XII (1939-1958).
Sumber: Kompas
Penulis : Imelda Seloadji
Lagu sekolah minggu, singkat tapi pesannya luar biasa. Saya sering menyanyikannya di masa kecil tanpa memahami betul makna lagu ini. Tapi dua puluh tahun lebih telah berlalu dari hari-hari menyanyi di sekolah minggu, saya sempat menjadi pribadi yang penuh ambisi untuk menjadi seorang profesional yang sukses dan berakhir dengan kekecewaan ketika mata saya melihat kenyataan di dunia kerja.
Cari apa di dalam dunia? Seorang hamba Tuhan pernah menulis bahwa hidup adalah sebuah perjalanan bertujuan, seperti perjalanan Frodo Baggins untuk mencapai kawah Mordor dalam Lord of the Rings karya Tolkien. Bayangkan kalau Frodo memiliki motivasi yang salah, kabur dengan cincin yang penuh kharisma yang mampu membuatnya menjadi penguasa. Apa yang terjadi? Mungkin Dark Lord Sauron akan membinasakan nya dan merebut cincin itu kembali karena Sauron adalah tuan sebenar-benarnya dari cincin itu.
Kisah Lord of the Rings adalah alegori yang sangat indah dan meninggalkan kebebasan interpretasi makna bagi masing-masing penontonnya. Dalam interpretasi saya, Cincin itu adalah dunia dan segala iming-imingnya, harta, kekuasaan, ketenaran. Cincin itu memiliki tuan, Sauron, yang merupakan simbol daripada iblis. Perjalanan Frodo untuk membawa cincin itu ke kawah Mordor dan menghancurkannya adalah perjalanan hidup manusia bergumul mengalahkan yang jahat. Dalam perjalanan itu terdapat banyak rintangan dan pertempuran. Hari-hari kita sering dihadapkan pada peperangan rohani, peperangan melawan keinginan duniawi kita. Kita punya pilihan, mengalahkannya, atau menjadi hamba dari Mamon atau "si cincin" dalam cerita itu.
Mengapa bukan seorang pahlawan gagah tetapi seorang hobbit yang dilukiskan pendek dan naif dalam roman Tolkien menjadi sentral cerita? mengapa bukan Aragorn saja yang pergi memusnahkan cincin itu? Karena hobbit adalah gambaran yang lebih tepat untuk melukiskan manusia, lemah, tak berdaya dan menghadapi banyak cobaan hidup.
Para penonton film Lord of The Rings bersyukur Frodo tak jadi memiliki cincin itu untuk dirinya. Makhluk buruk Smeagol merebut cincin itu dan setelah bergulat akhirnya Smeagol yang serakah jatuh ke kawah beserta cincin itu. Kalau kita menghadapi persaingan tidak sehat di kantor, orang-orang yang berusaha menjegal kita, orang-orang yang cari muka ke boss, maka kita perlu bersyukur, barangkali Allah sedang mengingatkan kita akan tujuan hidup yang dikehendakiNya. Ia sedang meluruskan fokus kita, menarik kita kembali ke jalan yang menuju pada DiriNya.
Lumatnya cincin itu di kawah Mordor menghancurkan juga kerajaan dan kekuasaan Sauron. Kalau kita membuang jauh-jauh keinginan dan ambisi kita memiliki dunia, maka iblis tak punya celah untuk menguasai kehidupan kita. Kemenangan besar itu ditutup dengan pelantikan Aragorn sebagai raja dan hari pernikahannya dengan sang putri Elf. Kemenangan besar adalah kita menjadikan Kristus sebagai raja dalam hidup kita, dan kita siap menjadi mempelai Kristus di akhir jaman nanti, saat di mana semua perjuangan dan pergumulan kita selesai, Yesus menjadi Raja atas segalanya dan kita akan bersama Dia.
Cari apa di dalam dunia? Motivasi yang salah membuat manusia sering merasa kosong dalam dirinya.
"Apakah gunanya manusia berusaha dengan jerih payah di bawah matahari? ...Segala sesuatu menjemukan, sehingga tak terkatakan oleh manusia; mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar." (Pengkotbah 1:3,8).
Tentu saja bekerja dengan rajin itu penting, karena hidup kita harus memuliakan Tuhan tapi pernahkah kita renungkan sebenarnya apa sih yang kita cari dalam kehidupan ini? Hal-hal di dunia ini ternyata tak pernah cukup untuk memberi kepuasan. Apapun itu, ketenaran, kekayaan, keluarga, dan sebagainya.
Seorang ibu di kantor terpekur dengan tatapan kosong memandang laptop miliknya. Dia begitu mencari pengakuan sehingga memaksakan diri untuk kuliah doktor padahal secara intelektual kurang mampu. Ya, dia secara finansial mampu maka diambilnyalah program doktor sangat mahal yang dibuka untuk orang-orang kaya di sebuah PTN. Meski program itu sudah cukup mengejutkan bagi orang-orang lain yang menempuh pendidikan doktor yang wajar, bahkan juga saya yang belum kuliah doktor, ternyata masih saja terlalu berat baginya. Ia merasa waktunya untuk keluarga tersita untuk kuliah tersebut. Lalu ia gamang, gelisah tentang apa yang sebenarnya ia cari. Mata hatinya mulai terbuka akan kesia-siaan. Meski sebelumnya ibu itu begitu menyebalkan bagi rekan-rekan kantornya, saya mulai merasa kasihan padanya. Saya mengasihi dia dan sedapat mungkin menyampaikan kebenaran padanya.
Elvis Presley, di tahun-tahun akhir hidupnya, begitu gelisah mencari makna hidupnya. Ia membaca begitu banyak buku keagamaan dan menghadiri beraneka ragam pertemuan keagamaan dari segala macam agama, dan tetap merasakan kegelisahan akan apa yang ia cari dalam hidupnya.
Cari dunia nanti binasa. Ya, itu benar. Saat hidup kita di dunia sudah mencapai "titik", maka semua hal-hal duniawi tak bisa lagi kita cari, tak bisa pula dibawa ke surga. Nah, kehidupan yang setelah kematian di dunia itu bukan lagi titik, tetapi kekekalan. Ada dua kekekalan, keselamatan kekal atau kebinasaan kekal.
Apapun yang kita banggakan di dunia ini, gelar, kekayaan, kecantikan, popularitas, bahkan juga karunia-karunia rohani seperti berbahasa roh, mengusir setan, karunia menyembuhkan, tak bisa menjadi jaminan untuk masuk surga.
"Namun demikianlah janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga." (Lukas 10:20).
"Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi namaMu, dan mengusir setan demi namaMu, dan mengadakan banyak mujizat demi namaMu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah daripadaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan!"
Mengerikan bukan? Ternyata memiliki karunia-karunia pun bukan jaminan. Jadi bagaimana masuk surga?
Akankah kita membukakan pintu rumah kita bagi orang yang tidak kita kenal? Surga adalah tempat di mana Allah berdiam. Kita hanya akan masuk jika nama kita terdaftar di kitab kehidupan, atau dengan kata lain, dikenal oleh Allah. Paulus mengatakan: "Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya dan persekutuan dalam penderitaanNya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematianNya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati. " (Filipi 3:10,11)
Nah, mengenal Allah harus menjadi tujuan hidup kita. Kalau kita sibuk mencari apa yang disediakan oleh dunia, kita sudah mati selagi hidup. Dan percayalah, ujungnya adalah kehampaan. Seorang hamba Tuhan pernah bercerita tentang seorang pengusaha yang ia layani yang jatuh ke dalam obat-obat terlarang justru di puncak kesuksesannya. Di saat kekayaannya begitu melimpah pengusaha itu bingung, tak tahu lagi tentang apa yang dia cari. Banyak selebritis kawin cerai, dan beberapa bunuh diri atau mati karena overdosis. Mereka tak tahu apa yang mereka cari dalam hidup.
Cari Yesus yang penuh cinta. Yesus berkata bahwa Ia adalah jalan dan kebenaran dan hidup. Ia bukan seorang tiran yang otoriter. Ia mati di kayu salib menggantikan kita. Ia tak memaksa kita, kita sendiri yang menentukan pilihan tentang apa yang kita cari dalam hidup. Yesus berkata dalam rumahNya ada banyak tempat. Jalan ke surga memang sempit tapi surga sendiri tak sempit. Selalu ada ruang di hati Yesus untuk anda dan saya. Adakah kita menjadikan Yesus tujuan hidup kita? jalan yang lain, ujungnya adalah kecewa. Karena cinta Yesus maka hari ini anda dan saya masih punya kesempatan menentukan pilihan yang tepat. Yesus mengasihi kita.
Tuhan memberkati.
Penulis : Jonathan Goeij
Kata Christmas mempunyai arti Mass of Christ yang kemudian disingkat menjadi Christ-Mass. Versi yang lebih pendek lagi Xmas pertama kali dipakai di Eropa pada tahun 1500-an, berasal dari abjad Yunani, X adalah huruf pertama dari Xristos (Kristus) juga X merepresentasikan salib, jadilah "X-Mass".Christmas dirayakan orang-orang diberbagai belahan bumi pada tanggal 25 Desember, tetapi sebenarnya Yesus tidaklah lahir pada 25 Desember.
Pada masa awal kekristenan, bangsa Romawi yang masih menganut kepercayaan pagan merayakan Saturnalia untuk menyembah dewa Saturnus (dewa panen) dan Mithras (dewa terang/sinar), suatu bentuk dari penyembahan matahari yang berasal dari Syria seabad sebelumnya. Perayaan Saturnalia ini diadakan tepat setelah winter solstice, hari pertama musim dingin (winter), juga merupakan siang hari terpendek dan malam hari terpanjang sepanjang tahun. Solstice berarti "sun standing still", matahari tetap berdiri, untuk menyatakan bahwa musim dingin tidaklah selamanya, hidup terus berlangsung, suatu undangan untuk tetap dalam semangat yang baik.
Orang-orang Kristen pada masa itu menyamarkan perayaan winter solstice. Pada saat orang-orang Romawi dengan meriah merayakan Saturnalia, maka orang-orang Kristen berkumpul bersama di dalam sebuah rumah bersekutu dan mengadakan kebaktian untuk merayakan kelahiran Yesus.
Pada tahun 274M solstice jatuh pada tanggal 25 Desember. Kaisar Romawi pada waktu itu, Aurelian, memproklamirkan tanggal itu sebagai "Natalis Solis Invicti", perayaan kelahiran matahari yang perkasa. Pada tahun 320M Paus Julius I menyatakan tanggal 25 Desember sebagai tanggal resmi kelahiran Yesus. Pada tahun 325M Kaisar Constantine the Great, kaisar Romawi pertama yang beragama Kristen, yang menginginkan seluruh kekaisaran menjadi Kristen, merubah perayaan solstice menjadi Christmas. Secara resmi dirayakan sebagai kelahiran Yesus Kristus.
Lebih dari 1000 tahun kemudian, perayaan Christmas mengikuti ekspansi kekristenan ke seluruh Eropa dan Mesir. Sepanjang waktu itu perayaan Christmas tercampur dengan pesta pora kepercayaan pagan, tukar menukar kado yang sebelumnya marak pada perayaan Saturnalia juga menjadi tradisi Christmas, berbagai macam ritual menyambut musim dingin menjadi suatu tradisi yang panjang dalam merayakan Christmas.
Sebenarnya banyak penolakan terhadap Christmas, pada tanggalnya yang mengambil tanggal perayaan Saturnalia, ataupun juga pada toleransi terhadap tradisi pagan yang ikut serta dalam perayaan Christmas. Pada masa Reformasi Gereja di abad ke 16 orang-orang Protestan menentang otoritas Gereja Katolik, termasuk Christmas yang sarat dengan tradisi pagan. Pada abad ke 17 kaum Puritan melarang Christmas di Inggris dan beberapa koloni Inggris di Amerika Utara karena mereka merasa Christmas berisi berbagai kegiatan yang tidak berguna seperti judi, pesta pora dan makan minum sepuasnya, bersaing dalam kemewahan.
Pada masa kini orang-orang bahkan banyak yang tidak mengetahui asal mula penentuan tanggal 25 Desember, yang diketahui pada waktu ini adalah merayakan kelahiran Yesus Kristus. Atau bahkan mungkin juga sudah bukan lagi merayakan kelahiran Yesus Kristus tetapi merayakan kedatangan Santa Claus dari mall dan plaza, eh.. maksudnya cerobong asap membagi hadiah J.
Berbagai kebaktian diadakan di gereja gereja pada malam menyambut Christmas, biasanya disertai renungan makna kelahiran Yesus bagi kita. Tetapi itu di dalam gereja, di luar itu, apakah kita masih merenungkan makna Natal atau lebih sibuk berbelanja dalam musim diskon yang luar biasa ini dan berlibur keluar kota dalam libur panjang?
Sumber: http://www.glorianet.org
Buku ini lebih laris dari alkitab pada tahun 2003. Sudah diterjemahkan kedalam 8 bahasa utama dan terlaris di Amerika dan Australia. Bisa dikatakan buku ini adalah sebuah ‘world-wide cultural phenomena’. Apakah kita perlu menanggapi buku ini? Saya kira perlu sebab ini mengindikasikan situasi dunia dimana kita sedang berada.
Halaman pertama buku ini berjudul ´fact´ dengan maksud ingin menindikasikan bahwa fakta yang ada didalam buku ini baik mengenai arsitektur, sejarah dan document alkitab adalah fakta sejarah. Masalahnya, seperti diungkap oleh Ben Witherington III dalam ‘Gospel Code’ setidaknya terdapat 150 ´historical errors´ dalam novel tersebut. Meski buku ini ingin tampil sebagai novel sejarah yang memiliki akurasi data, namun justru ini menjadi blunder bagi buku ini. Namun dalam budaya postmodern sekarang, keakuratan kadang menjadi nomor dua. Daya hipnotis retorika sering lebih berpengaruh dari keakuratan data seseorang. Penampilan lebih menarik dari isi, dan dalam konteks seperti inilah novel ini bisa populer bagi kebanyakan orang. Disamping itu novel ini menawarkan sebuah penjelasan yang bersifat konspirasi yang cocok dengan masyarakat kita yang menyimpan curiga terhadap segala sesuatu yang establish (warisan intelektual Nietzsche). Jadi ketika di tawarkan bahwa Gereja Katolik mungkin menyembunyikan fakta bahwa Yesus sebenarnya menikah dengan Maria Magdalena dan bahwa mereka punya anak yang lagi kuliah di NUS, maka orang-orang bilang, siapa tahu?!
Salah satu dari karakter utama novel ini adalah Robert Landon, Profesor of Religius Symbology dari Harvard. Klaim historical accuracy buku cukup menggelitik mengingat di Harvard tidak ada profesorship seperti itu. Langdon mengatakan bahwa setiap kepercayaan di dunia ini didasarkan kepada ´fabrication´. Artinya Allah dinyatakan lewat metaphor, allegory dan exaggeration, masalah muncul ketika orang mulai percaya secara literal terhadap metaphor ini. Tapi orang-orang yang mengerti dengan baik kepercayaan itu tahu bahwa itu semua hanyalah ´metaphorical´. Namun dibalik pendekatan ini adalah maksud tersembunyi untuk merendahkan pendekatan tradisional dalam memahami injil. Esensi dari presentasi Brown sebenarnya adalah bahwa selama ini kebenaran tentang Yesus telah sekian lama disembunyikan dari kita. Dan sekarang apa yang dulu tersembunyi, akan dinyatakan (lewat buku tersebut).
Sebagai kritik terhadap buku ini, marilah kita mencatat 7 kesalahan sejarah yang fatal yang terdapat dalam buku ini.
Pertama, salah paham mengenai ajaran Gnostik, suatu sekte yang populer di abad kedua masehi. Menurut novel ini, Gospel of Gnostic mencatat tentang Yesus menikah dengan Maria. Tetapi masalahnya, Gnosticism adalah ajaran yang bersifat asketism. Berasal dari kata gnosis yang artinya ´pengetahuan´, sekte ini percaya akan adanya ´pengetahuan rahasia´ yang diturunkan melalui ´secret line´ kepada mereka. Pengetahuan itu adalah bahwa daging itu jahat dan roh itu baik. Dalam hal ini keinginan-keinginan tubuh, termasuk seks, adalah jahat dan hal-hal rohani itu baik. Masalahnya, kalau sekte ini tahu bahwa Yesus menikah, maka mustahil mereka akan mengikut Yesus. Perkawinan Yesus dan Maria akan dianggap tidak suci. Sekte ini tidak mungkin akan mengusulkan Yesus dan Maria dalam bentuk apapun memiliki relasi yang berhubungan dengan keinginan tubuh dan sex. Karena itu baik di dalam Injil Alkitab dan Injil Gnostik tidak ada bukti bahwa Yesus menikah dengan Maria. Dan jika Yesus tidak menikah dengan Maria maka keseluruhan rekonstruksi dari novel ini menjadi omong kosong belaka.
Kesalahan kedua, adalah masalah dokumen Kekristenan yang original. Dalam novel ini dikatakan bahwa dokumen kekristenan yang awal adalah Dead Sea scrolls dan Nag Hamadi scrolls. Apa yang salah dengan pernyataan ini? Saya kira bukan hanya salah tetapi menggelikan, karena Dead Sea Scrolls bukanlah dokumen kekristenan. Dokumen tersebut penting bagi orang kristen, tetapi merupakan gulungan milik orang jahudi. Gulungan ini milik Sekte Essene dan tidak ada dokumen tentang kekristenan dalam gulungan tersebut. Sementara Dokumen Nag Hamadi adalah adalah gulungan milik sekte gnostik yang ditemukan di Gurun Mesir pada tahun 1947. Yang paling penting untuk dicatat adalah, bahwa semua gulungan Nag Hamadi ditulis dalam bahasa Koptik. Bahasa ini adalah bahasa Mesir, dan sudah menjadi pengetahuan umum bahwa dokumen keristenan berasal dari bahasa Greek, Ibrani dan Aramaik. Karena itu dokumen ini tidak mungkin merupakan document terawal dan sudah pasti merupakan terjemahan. Karena itu seperti klaim lainnya dalam novel ini bahwa Injil Gnostik, Injil Philip dan Injil Maria adalah dokumen terawal, kita bisa katakana bahwa klaim seperti ini bersifat esoteric. Tidak ada seorangpun pakar di dunia yang akan berani memberikan klaim bahwa Injil Gnostik adalah yang terawal. Ini jelas klaim yang menggelikan.
Kesalahan ketiga, adalah klaim bahwa Yesus adalah Tuhan berawal dari keputusan politik Konstantine yang ´memaksa´ semua gereja untuk menerima Konsili Nicea bahwa Yesus bukanlah sekedar Orang Bijak ataupun nabi Besar, tetapi Tuhan itu sendiri. Namun kalau kita melihat dokumen sekarah yang ada, Dokumen tertua dari Perjanjian Baru, yang berasal dari tahun 40-an AD adalah surat-surat Paulus. Menarik untuk dicatat karena dalam dokumen ini Yesus telah dipanggil sebagai LORD (Kurios, kl. 140 kali). Disamping itu Yesus disebut juga sebaga God ´Theos´ kl. 7 kali dalam seluruh Perjanjian Baru). Kepercayaan bahwa Yesus adalah Tuhan tidak muncul pada Konsili Nicea 325, tetapi sudah beredar sejak permulaan kekristenan. Meragukan hal ini bukanlah tanda kekritisan, tetapi masalah tidak memahami dokumen dari kekristenan abad pertama.
Kesalahan keempat, perkawinan Yesus dan Maria, dan adanya anak kecil keturunan Yesus didasarkan dari ´argument from silent´. Masalahnya argumen seperti ini tidak punya dasar sama sekali, sebab silence hanya berarti bahwa tidak ada yang terjadi sama sekali. Dalam sebuah cuplikan dari Gospel of Mary ada catatan yang menjadi sumber spekulasi ini. Kutipan dari manuskrip tersebut berbunyi sebagai berikut,
"and the companion of the…
Mary Magdalene…
her more than…the disciples…
kiss her…
on her..."
Banyaknya gap kosong dalam dokumen ini adalah karena dokumen ini ditemukan dalam keadaan yang rusak sehingga pakar harus mengisi kekosongan tersebut dengan hipotesa dan dugaan. Kalaupun dugaan akademis ingin dilakukan, dokumen ini hanya menggambarkan bahwa ada seseorang mencium Maria Magdalena. Hal ini tidaklah aneh, sebab dalam ajaran Gnostik, seseorang menyingkapkan ´secret knowledge´ dengan melakukan ciuman. Ini adalah salah satu ajaran penting Gnostik dimana orang diselamatkan dengan memahami ´secret knowledge´ yang secara mistis ditularkan melalui ekstasi, dan salah satu medianya adalah melalui ciuman. Jadi cuplikan diatas adalah mengenai ´ciuman´ untuk menularkan ´secret knowledge´ bukan soal kawin atau hubungan sex.
Kesalahan kelima, pandangan bahwa Yesus pastilah menikah karena semua orang jahudi abad pertama menikah. Masalahnya hal ini tidak akurat. Yohanes Pembabtis tidak menikah dan di Matius 19 Yesus mengajarkan bahwa adalah baik untuk tidak menikah demi kerajaan Allah. Banyak pakar berpandangan bahwa bagian pasal tersebut mengindikasikan Yesus tidak menikah dengan alasan yang sama yaitu demi kerajaan Allah. Sekte Essene bertahan kurang lebih 120-150 tahun dan sekte ini jelas menganut paham selibat. Jadi bukanlah hal yang asing di Judaism zaman Yesus untuk hidup dalam selibat.
Kesalahan keenam, didalam alkitab Yesus hanya digambarkan sebagai Orang Bijak ataupuan Nabi yang besar, bukan sebagai Tuhan. Kita lihat satu contoh, di bagian akhir 1Korintus 16, Paulus mengutip doa yang lazim digunakan oleh orang jahudi berbahasa Aramaik, "marana tha!" yang artinya ´datanglah Oh Tuhan!´ Kalau kita bisa bayangkan seorang Jahudi yang sangat kental Monotheismenya berdoa kepada Yesus mengatakan "datanglah oh Tuhan!" apa yang diindikasikan disini? Ini menunjukkan bahwa pengikut mula-mula dari Yesus telah percaya bahwa Yesus tidak mati, bahwa Dia berada di Surga dan bahwa Dia adalah Tuhan. Marana Tha adalah doa dari pengikut Yesus pertama yang berbahasa Aramaik, dan disini mereka telah meyembahNya sebagai Tuhan. Jadi sejak tahun 30-an Yesus telah dikenal sebagai Tuhan, ini bukanlah karangan gereja yang berasal dari tahun 300-an.
Kesalahan ketujuh, novel ini tidak mengklaim dirinya sebagai murni fiksi, tetapi justru berpretensi sebagai Historikal Novel. Karena itu novel ini bertanggungjawab dengan apa yang ditampilkannya sebagai sejarah. Jika dalam gambar DaVinci, orang yang bersandar di bahu Yesus bukanlah Yohanes tetapi Maria Magdalena, maka ini perlu di verifikasi melalui sejarah. Masalahnya adalah adanya tradisi sejarah bahwa murid yang dikasihi (Yohanes) selalu digambarkan sebagai seorang yang berkulit lembut, berwajah feminism dan berambut merah panjang. Ini bukanlah penggambaran seorang wanita, tetapi symbol dari identitas dirinya sebagai Rasul Kasih. Yang menarik bahwa teori Brown begitu mudah dipercaya oleh banyak orang, bahwa di gambar itu konon bukanlah Yohanes tetapi maria Magdalena (DaVinci´s Code), yang menggambarkan mentalitas modern yang demikian genit berideologi. Orang begitu mudah di goyang dengan slogan ´open-minded´ sehingga sulit membedakan mana fakta dan mana yang merupakan ilusi.
Akhirnya sebagai penutup, nasihat bijak dari seorang tua, "good to be open minded, but be careful, don´t be too open-minded that all your brain will be poured out"
Natal dirayakan secara besar-besaran di Amerika. Orang-orang ateis pun merayakannya dengan bersemangat. Meskipun banyak orang Amerika memandang Natal sebagai saat untuk memusatkan perhatian pada kelahiran Yesus Kristus, hampir setiap orang menganggapnya sebagai musim untuk berbelanja. Tidak mengherankan kalau Natal juga merupakan peristiwa besar di Asia. Saya pernah di Asia selama tujuh perayaan Natal, yaitu di Singapura, Thailand, dan Sri Lanka, sekali di Korea, dan selebihnya di Amerika. Setiap pengalaman perayaan Natal mempunyai keistimewaan sendiri. Setiap pengalaman itu berbeda dari pengalaman perayaan Natal di Amerika, dan masing-masing saling berbeda pula. Demikian tulis Leon Howell sebagaimana dimuat Sinar Harapan.
Selain kegembiraan ketika melihat salju tiruan di etalase-etalase berbagai toserba di Bangkok, perayaan Natal yang saya alami di Asia sangat berbeda dengan di Amerika. Pertama, cuaca tropis di Asia selalu panas, sangat panas. Berenang di udara terbuka saat Natal menyenangkan, tetapi agak kurang tepat. Belum lagi yang terjadi di Singapura, saat saya membagi-bagikan hadiah Natal di luar sebuah Taman Kanak-Kanak, saya kepanasan mengenakan pakaian Santa Claus.
Di Amerika, pada hari Natal mestinya dingin, sangat dingin, dan salju turun di mana-mana, seperti di Korea. Sebenarnya, saya jarang melihat salju pada musim Natal di Amerika. Namun, gagasan mengenai salju melebihi kenyataan, dan karena itu lagu yang dinyanyikan Bing Crosby I´m Dreaming of a White Christmas merupakan salah satu rekaman lagu terlaris di Amerika.
Kedua, meskipun Perayaan Natal itu merupakan peristiwa keagamaan di Amerika, namun tidak demikian halnya di Asia. Di negara-negara Asia, hanya sekitar seperdua-belas penduduk di sana yang beragama Nasrani. Karena Natal demikian penting bagi pemeluk agama Nasrani untuk menguatkan kepercayaan mereka, merayakannya sebagai golongan minoritas memberikan arti khusus pada peristiwa itu.
Keluarga Cina tetangga saya di Singapura menghadiri misa tengah malam menjelang Natal, kemudian menyanyikan lagu-lagu Natal dalam Bahasa Mandarin kira-kira pada pukul tiga pagi setiap tahun.
Ketiga, perayaan Natal di Amerika tidak mencerminkan kebiasaan zaman kolonial seperti di banyak daerah Asia. Menurut tradisi Inggris, banyak warga masyarakat Kristen Singapura dan Sri Lanka saling memberikan hadiah Natal, pada tanggal 26 Desember, yang dikenal sebagai "Boxing Day". Dengan demikian memberikan banyak waktu bagi gereja dan keluarga untuk merayakan Natal.
Apa persamaannya? Jelas, di sebagian besar negara Asia Natal telah menjadi bagian dari kegiatan pada akhir tahun, demikian pula di Amerika. Di Jepang, banyak orang memasang pohon Natal, toko-toko serba-ada memainkan lagu-lagu Natal, dan banyak orang saling memberikan hadiah Natal. "Masyarakat Jepang cenderung mengubah berbagai hal dari luar negeri menjadi sesuatu yang khas Jepang," demikian tulis seorang wartawan Jepang.
Thailand juga merayakan Natal secara terbuka, meskipun 95 persen penduduknya beragama Budha. "Kami merayakan Natal," kata seorang Thailand, "karena rakyat Thailand ingin bergembira dan masyarakat kami terbuka, dan bertoleransi terhadap agama lain."
Cina mengakui Natal "dengan semangat yang semakin besar," kata seorang pengamat. Masyarakat kristiani telah bertambah jutaan dalam 20 tahun ini. Cina juga beruntung menjadi negara produsen terbesar di dunia dengan paling banyak memproduksi mainan anak-anak untuk Natal. Ekspor produk Cina untuk perayaan Natal dalam tahun 2003 bernilai 1,5 miliar dolar.
Satu sebab mengapa Natal demikian besar dampaknya di seluruh dunia adalah karena lambangnya tetap sama, meskipun masing-masing budaya di dunia mempunyai cara-cara sendiri yang unik untuk menyatakan perasaan mereka pada hari Natal.
Sumber: www.glorianet.org
Penulis : RP Borrong
Istilah Globalisasi, pertama kali digunakan oleh Theodore Levitt tahun 1985 yang menunjuk pada politik-ekonomi, khususnya politik perdagangan bebas dan transaksi keuangan. Menurut sejarahnya, akar munculnya globalisasi adalah revolusi elektronik dan disintegrasi negara-negara komunis. Revolusi elektronik melipatgandakan akselerasi komunikasi, transportasi, produksi, dan informasi. Disintegrasi negara-negara komunis yang mengakhiri Perang Dingin memungkinkan kapitalisme Barat menjadi satu-satunya kekuatan yang memangku hegemoni global. Itu sebabnya di bidang ideologi perdagangan dan ekonomi, globalisasi sering disebut sebagai Dekolonisasi (Oommen), Rekolonisasi ( Oliver, Balasuriya, Chandran), Neo-Kapitalisme (Menon), Neo-Liberalisme (Ramakrishnan). Malahan Sada menyebut globalisasi sebagai eksistensi Kapitalisme Euro-Amerika di Dunia Ketiga.
Secara sangat sederhana bisa dikatakan bahwa globalisasi terlihat ketika semua orang di dunia sudah memakai celana Levis dan sepatu Reebok, makan McDonald, minum Coca-Cola. Secara lebih esensial, globalisasi nampak dalam bentuk Kapitalisme Global berimplementasi melalui program IMF, Bank Dunia, dan WTO; lembaga-lembaga dunia yang baru-baru ini mendapat kritik sangat tajam dari Dennis Kucinich, calon Presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat, karena lembaga-lembaga itu mencerminkan ketidakadilan global.
Program-program dari lembaga-lembaga itu telah menjadi alat yang ampuh dari kapitalisme Barat yang mengguncangkan, merontokkan dan meluluh-lantakkan bukan hanya ekonomi, tetapi kehidupan negara-negara miskin dalam suatu bentuk pertandingan tak seimbang antara pemodal raksasa dengan buruh gurem. Rakyat kecil tak berdaya di negara-negara miskin, menjadi semakin terpuruk dan merana.
Jadi walaupun ada dampak positif globalisasi seperti misalnya hadirnya jaringan komunikasi dan informasi yang mempermudah kehidupan umat manusia, ditinjau dari sudut kepentingan masyarakat miskin, globalisasi lebih banyak dampak negatifnya. Kita melihat aspek negatif itu dalam ketidak-adilan perdagangan antar-bangsa, akumulasi kekayaan dan kekuasaan di tangan para kapitalis negara-negara maju yang mengakibatkan kemelaratan yang tak terbayangkan di negara-negara miskin, termasuk di Indonesia. Menurut Kucinich, Negara-negara miskin telah diperas lewat pembayaran beban utang ke lembaga global . Dicontohkan, setiap tahun 2,5 miliar dolar AS dana mengalir dari sub-Sahara Afrika ke kreditor internasional, sementara 40 juta warga mereka kurang gizi.
Respons
Saya tidak bermaksud membicarakan artiglobalisasi yang sangat luas ini. Saya hanya ingin menekankan bahwa sebenarnya kita tidak bisa begitu saja latah berbicara tentang globalisasi kalau kita tidak mengetahui secara persis apa yang kita maksudkan dengan istilah itu. Kini istilah globalisasi telah mencakup pengertian yang menggambarkan sutau proses atau gerakan multi-dimensi yang bersifat simultan, terutama dalam bidang ekonomi, politik dan budaya. Walaupun demikian globalisasi terutama nampak dalam gerakan ekonomi-moneter yang membuat dunia semakin menyatu dan membawa dampak positif maupun negatif bagi kemanusiaan. Karena itu, saya ingin menekankan pada saat ini bagaimana respons iman kristiani terhadap dampak globalisasi baik yang positif maupun yang negatif.
Dari sudut positif, kita harus mampu memberdayakan diri kita sebagai masyarakat untuk memanfaatkan peluang dari arus globalisasi, misalnya dalam hal kemampuan bersaing dalam perdagangan bebas, tentu saja sesuai dengan nilai-nilai luhur, seperti kejujuran dan akuntibilitas di atas dasar keadilan dan kebenaran. Dua kata ini dalam konsep agama, misalnya dalam Alkitab selalu mempunyai makna yang sama: keadilan dan kebenaran Allah adalah Allah sendiri. Dua nilai ini penting dalam menyikapi dan menyiasati arus globalisasi, sebab gejala persaingan dunia bisnis di arena globalisasi ini semakin dilanda oleh ketidakjujuran sebagai akibat persaingan yang semakin ketat.
Globalisasi tidak hanya terkait dengan masalah ketidak-adilan ekonomi, tetapi ibarat kanker, telah menjalar dan menyusupi semua aspek kehidupan umat manusia. Bukan saja masalahnya adalah persoalan ketidak-adilan dalam bidang ekonomi moneter, tetapi globalisasi telah menimbulkan begitu banyak masalah, dengan kemajuan yang luarbiasa di bidang informasi dan interaksi manusia. Stackhouse menyebutkan adanya tiga dewa globalisasi yaitu dewa Mammon (materialisme), Mars (perang/kekerasan) dan Eros (pornografi). Tiga dewa ini seringkali berkolaborasi dalam kehidupan etika dan nilai-nilai kemanusiaan, sehingga etika dan kemanusiaan pada umunya tidak bermakna lagi sebagai norma kehidupan.
Materialisme misalnya, telah menciptakan "malaekat" pembangunan yang mendorong orang ingin terus berproduksi dan mengonsumsi supaya materi semakin menguasai kehidupan kita. Dewa Mammon mungkin dapat dianggap sebagai dewa tertinggi dari dewa-dewi ini karena dialah yang paling berjasa melahirkan dua dewa lainnya, bahkan masih banyak lagi dewa-dewi globalisasi yang sedang lahir dan bermunculan, misalnya dewa Hedonisme dan dewa Konsumerisme.
Mammonisme telah menjadi dewa yang paling menguasai umat manusia. Sekarang ini materi seolah telah menjadi ukuran segala sesuatu. Apa saja harus dibeli dan bisa di beli. Mereka yang tidak bisa dibeli dan membeli adalah ateis yang tak bertuhan. Dalam masyarakat mammonistik, agama resmi tinggal menjadi formalistik dan seremonistik. Nilai agama itu telah diganti menjadi nilai Mammon, nilai uang. Tanpa uang Anda tidak bisa menikmati sesuatu dan tanpa nikmat hidup menjadi seolah hampa. Itulah hedonisme, suatu bentuk kehidupan yang mengagungkan kesenangan dan kenikmatan belaka. Membeli dan dibeli, menikmati dan dinikmati, itulah tujuan hidup mammonisme yang telah menyingkirkan semua tujuan hidup lainnya. Akibatnya, hubungan kemanusiaan tidak lain dari hubungan materi. Tanpa materi, hubungan dengan sesama manusia seolah tidak bernilai. Hubungan kemanusiaan seolah hanya ditandai dengan "transaksi".
Baru-baru ini, seorang teman di Belanda menulis kepada mitra kerjanya di Indonesia dengan kata-kata yang sangat dalam menggambarkan situasi ini. "Janganlah hubungan kemitraan kita dilihat seperti sebuah transaksi perbankan sehingga seluruh relasi diukur hanya dengan sejumlah cash". Pernyataan itu sungguh menggugah rasa kemanusiaan kita di arus kuat globalisasi dengan dewa Mammon-nya. Kiranya seluruh relasi kemanusiaan kita perlu dievaluasi dan direnungkan kembali sesuai dengan nilai-nilai luhur agama.
Keserakahan
Dewa Mars adalah dewa yang kedua, yang merajalela. Perang hanyalah salah satu wujud dari simbol Mars yang sesungguhnya. Mars adalah dewa kekerasan dalam mitologi Yunani. Keperkasaannya selalu menjadi momok baik bagi dewa lain maupun bagi manusia, karena kebengisan yang tercermin dari wajahnya. Bukankah teror yang sekarang ini menjadi kata terpopuler di dunia menjadi wujud paling nyata dari dewa Mars globalisasi? Kekerasan di mana-mana, teror di mana-mana, bukan hanya dalam bentuk bom yang meledak di mana-mana, tetapi dalam bentuk lain seperti perampokan, pembunuhan, penculikan dan semua bentuk kekerasan yang seolah sah dan wajar dalam kehidupan manusia masa kini.
Kekerasan bukan hanya terhadap sesame manusia tetapi juga terhadap lingkungan hidup kita. Kalau kita misalnya merenungkan peristiwa banjir bandang dan longsor yang menelan ratusan korban di Sumatera Utrara, maka nyatalah bahwa itu terjadi sebagai akibat kekerasan manusia terhadap alam. Perambahan hutan sebagai salah satu bentuk kekerasan manusia terhadap lingkungan telah membawa akibat yang sangat fatal.
Dewi Eros sesungguhnyalah pembawa cinta dan damai dalam hidup manusia. Tetapi kini, erotisme seluruh dunia merupakan anak kandung dari mammonisme yang menghalalkan segala cara mendapatkan uang. Cyber-porno merupakan salah satu bisnis mengeksploitasi umat manusia demi uang. Kalau ia hanya menjadi bisnis, mungkin tidak terlalu menjadi persoalan. Tetapi pornografi telah merusak moral banyak manusia di dunia dengan penggambaran-penggambaran yang tidak sehat dan tidak mendidik. Apa yang ditonjolkannya hanyalah hedonisme dan kekerasan. Inilah dampak globalisasi yang menyusup melalui komunikasi dan informasi di dunia maya yang melahirkan dewa baru bernama Eros. Pemujuaan terhadap seks di dunia maya ini membawa nilai baru dalam hubungan rumah tangga, hubungan laki-laki dan perempuan dan hubungan antar- manusia seolah tanpa penghormatan terhadap gender.
Pada suatu siang, dua remaja yang sedang cekikikan di depan monitor komputer memanggil semua saudara mereka sejumlah 6 orang, laki-laki dan perempuan remaja dan anak-anak berusia 8 tahun. Apa yang mereka tertawakan dengan nikmat? Gambar hati tertembus (maaf) penis, yang baru saja diterima dari seorang rekannya. Tidak ada dunia yang tidak dilanda pornografi, mulai dari internet sampai kepada tampilan handphone yang mini bisa menjadi ajang menikmati pornografi. Dewi Eros (erotica) tak pelak lagi menjadi dewi yang397aling berkuasa di era globalisasi saat ini.
Rupanya memang telah terjadi pergeseran paradigma dalam soal agama. Agama lama yang masih formal diakui umat manusia dan Allah atau Tuhan yang benar, sedang dimarginalisasi oleh dewa-dewi baru, yang ternyata lebih menarik dan lebih meyakinkan banyak manusia di dunia. Materi, kenikmatan, kekerasan dan erotisme sedang menguasai sanubari kita dan ternyata semua itu tidak membuat kita menjadi manusia bebas melainkan menjadi manusia yang semakin terpenjara dan terbelenggu. Karena itu, globalisasi dalam bentuk dewa-dewi baru itu tidak lebih dari dewa-dewi palsu (pseudo-lords) yang menyesatkan; yang karenanya seharusnya diwaspadai dan disiasati.supaya tidak memerangkap kehidupan kita. Kita harus kembali memberi tempat pada Tuhan yang asli dalam kehidupan kita, dalam relasi-relasi kita, baik relasi dengan sesama manusia maupun dengan lingkungan hidup kita. Dengan memberi tempat pada Tuhan yang asli dalam sanubari kita, maka relasi-relasi kemanusiaan kita yang asli dan hakiki akan pulih dan akan memberikan kebebasan dan kemerdekaan yang sejati kepada kita.
Dengan mengembalikan Tuhan bertahta dalam hidup kita, maka dewa-dewi globalisasi yang destruktif akan menyingkir dari kehidupan kita. Kita harus mensyukuri keberadaan kita sebagai orang beragama dan ber-Tuhan, karena selalu tersedia kesempatan untuk mengelakkan diri dari pengaruh buruk globalisasi dengan pendampingan dari agama asli yang kita yakini.
Kita sedang merayakan nikmat ibadah Puasa yang sedang dijalani oleh umat Islam di seluruh dunia. Kita menghargai nikmat Allah ini sebagai salah satu wadah yang diberikan Tuhan untuk mengevaluasi pengaruh materi, emosi dan seks dalam hidup kita, sehingga mampu mengendalikan diri dan tidak dikuasai. Itulah hakikat keberagamaan yang dapat menjadi salah satu wadah mengalahkan godaan globalisasi.
Sumber: Suara Pembaruan Daily
Penulis : Markus Rani
ALLAH hadir dalam globalisasi. Paling sedikit, dari perspektif Allah, globalisasi mempunyai arah, sasaran, dan tujuan tertentu. Dengan demikian, globalisasi mempunyai dimensi teologis, bukan suatu proses yang sekuler belaka. Karena itu, tugas gereja bukan bagaimana meniadakan globalisasi, melainkan bagaimana mengisi. Hal itu perlu dilakukan karena Mamon juga tidak kurang hadir dalam (arus) globalisasi.
Rumusan di atas merupakan petikan pemikiran Eka Darmaputera, PhD, dan Dr JB Banawiratma dalam Seminar Agama-Agama XXI di Cipayung, Bogor, Jawa Barat, 13-17 September. Seminar bertema "Globalisasi, Kebangsaan, dan Agama-agama di Indonesia" itu, diselenggarakan Departemen Penelitian dan Pengembangan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (Litbang-PGI).
Eka mengawali paparannya dengan mengutip Roma 11:36 "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dia-lah kemuliaan sampai selama-lamanya."
Di depan sekitar 70 peserta seminar, Eka menjelaskan, tiga hal mendasar yang dikatakan Alkitab mengenai Allah, yakni (a) bahwa Ia Maha-Kuasa (omnipotent); (b) bahwa Ia Maha-Mengetahui (omniscient); dan (c) bahwa Ia Maha-Hadir (omnipresent).
Menurut Eka, "Maha-Kuasa" artinya, tak ada satupun yang terjadi bisa terjadi tanpa perkenan dan pengendalian-Nya. "Maha-Mengetahui" artinya, tak ada satu pun yang terjadi bisa terjadi tanpa pengetahuan dan keterlibatan-Nya. Sedangkan "Maha-Hadir" artinya, tak ada satu pun yang terjadi bisa terjadi tanpa Ia ada di sana. Implikasi pemahaman seperti itu adalah: segala sesuatu yang ada, itu ada bukan sekadar kebetulan atau by chance belaka, melainkan karena ada penciptanya, ada maksudnya, dan ada tujuannya.
Dengan demikian, kata Eka, globalisasi-paling sedikit dari perspektif Allah-mempunyai arah, sasaran, dan tujuan tertentu. Dengan perkataan lain, globalisasi mempunyai dimensi teologis, bukan suatu proses yang sekuler belaka. Karena itu, dapat dikatakan bahwa tugas utama kita sekarang bukan bagaimana meniadakan globalisasi, tetapi bagaimana mengisinya.
Pernyataan Eka itu, secara tidak langsung menjawab makalah dan diskusi yang cukup "panas" dalam seminar itu. Salah seorang peserta dari GKE, Kalimantan, mengatakan, ketika terjadi kerusuhan antarsuku di Kalimantan, umat Kristen minta tolong kepada Tuhan, tetapi tidak ada jawaban. Pertolongan tidak diberikan. Ketika masyarakat berbalik minta tolong kepada (roh) nenek moyang, maka pertolongan segera datang.
Kekerasan Ganda
Dalam makalah berjudul "Globalisasi dari Bawah", Dr JB Banawiratma mengutip dokumen teologis Thou Shall Not Worship Other Gods: Towards a De-colonizing Theology yang dikeluarkan Asian Theological Conference V yang diselenggarakan oleh Ecumenical Association of Third World Theologians (EATWOT) di Kandy, Sri Lanka 9-15 Januari 2000. Dalam dokumen itu disebut bahwa globalisasi sebagai kolonialisme tahap ketiga setelah kolonialisme merkantil dan kapitalisme pasca-Revolusi Industri di Eropa.
Menurut Banawiratma, apa yang digambarkan Boff dan Pixley (1989:12) sebagai integrasi trans-nasional dapat dipakai untuk menerangkan kolonialisme tahap ketiga itu. Dikatakan, dalam integrasi trans-nasional tidak pertama-tama digambarkan hubungan antarbangsa dan antarnegara, melainkan antarkelas dari berbagai negara.
Kaum miskin dan tertindas mengalami kekerasan ganda, oleh vested interest perusahaan trans- nasional dan oleh dominating classes negara miskin sendiri.
Dikatakan pula, kolonialisme tahap ketiga dapat juga digambarkan dengan apa yang dikemukakan David Korten (1999:59-60) sebagai pergeseran kekuatan dari rakyat ke sistem keuangan global. Kekuasaan uang terpisah dari kepekaan manusiawi, dan rakyat menjadi tidak berdaya. Terjadi pergeseran kekuasaan dari rakyat ke keuangan global.
Korten, dan juga Francois Houtart dan kawan-kawan, mengusulkan agenda untuk memulihkan hak-hak untuk hidup, yakni mewujudkan demokrasi politis; akhiri korporasi sebagai badan hukum; hapuskan kesejahteraan korporasi; kembalikan peran uang sebagai sarana tukar-menukar; dan majukan demokrasi ekonomis. Menurut Banawiratma, agenda semacam itu tidak disukai oleh mereka yang mempromosikan proyek-proyek neoliberalistis, namun resistensi terhadap proyek semacam itu semakin meluas.
Disebutkan, dua forum berhadapan frontal, diselenggarakan pada saat yang bersamaan. Pada 23-28 Januari 2003 diadakan pertemuan World Economic Forum di Davos, Swiss. Sementara di Porto Alegre, Brasil, berlangsung World Social Forum. Forum pertama menggulirkan globalisasi yang membawa marginalisasi, sementara forum yang kedua menggerakkan globalisasi dari bawah yang liberatif. Forum Porto Alegre bertujuan menciptakan ruang alternatif bagi pemikiran-pemikiran teoretis, sosial kultural, ekonomis, dan politis.
Model Lain
Di Porto Alegre dicanangkan model globalisasi lain yang tidak membawa marginalisasi melainkan menuju kesejahteraan bersama. Diharapkan juga agar semakin kuat jaringan berbagai organisasi yang menggerakkan resistensi terhadap proyek neoliberalisme. Pertemuan Porto Alegre menunjukkan bahwa gerakan dari bawah bukanlah sekadar cita-cita hampa, melainkan sedang digulirkan.
Menurut Banawiratma, agama tidak netral, agama dapat melegitimasikan globalisasi kolonial atau menggulirkan globalisasi dari bawah, membela kaum marginal. Dijelaskan, pada 1993 Parlemen Agama-agama Sedunia mencanangkan "Declaration toward a Global Ethic" (Kueng 1996:9-26). Tanpa etika global tidak akan ada tatanan global yang baru. Tuntutan yang mendasar adalah perlakuan manusiawi terhadap semua orang.
Deklarasi yang baru disebut mengungkapkan empat arahan, yakni, tekad untuk mewujudkan budaya tanpa kekerasan dan hormat terhadap kehidupan; budaya solidaritas dan tata ekonomi yang adil; budaya toleransi dan kehidupan yang setia pada kebenaran; dan budaya dengan hak-hak sederajat beserta kemitraan laki-laki dan perempuan.
Dijelaskan, menjadi orang Kristen berarti mengikut Yesus Kristus sebagai Jalan, berada bersama Dia di mana Dia berada dan menjalankan apa yang sedang Dia kehendaki. Bagi gereja yang hidup di tengah-tengah kenyataan globalisasi yang memojokkan kaum miskin, di tengah- tengah akumulasi kekayaan tanpa berbagi perlu kiranya mengingat Lukas 16:13 yang menegaskan: "Kami tidak dapat melayani Allah dan melayani Mamon."
Dikatakan, Mamon dalam bahasa Yunani mamonas berasal dari bahasa Aramea mamon. Kata benda itu dibentuk dari kata kerja ´mn, yang berarti percaya, mempercayakan diri. Dalam teks rabbinis dan Perjanjian Baru arti kata mamon berkembang menjadi "milik, kekayaan" dengan nada negatif, yang diusahakan secara tidak jujur.
Bagi mereka yang miskin, korban dari Mamon, Allah mengadakan pakta perjanjian untuk melawan musuh bersama, yakni Mamon itu sendiri. Menurut Banawiratma, gereja menjadi gereja kalau bersatu dengan kaum miskin dan tertindas, kalau bersatu dengan kaum marginal, dengan mereka yang menjadi korban Mamon, dengan orang-orang yang menderita.
Dijelaskan, dalam masyarakat Indonesia sekarang, gereja dipanggil guna menemukan cara baru untuk hidup yang terbuka sebagai murid-murid Yesus. Dalam hal itu, perlu kiranya dikembangkan komunitas basis yang kontekstual, dalam aras persekutuan Kristiani, dan komunitas basis manusiawi dalam aras antar-iman sebagai komunitas dialog dan transformasi.
Menjadi Satu
Dengan demikian, orientasi pemberdayaan komunitas basis merupakan cara baru hidup bergereja. Yang menentukan dalam cara baru hidup menggereja ini adalah kaum miskin, para korban. Itu sebabnya, Yesus (dan murid-murid) dalam pelayanan kepada mereka yang tertindas, menempatkan diri (satu) di antara yang dila-yani. Jadi bukan sebagai orang asing, orang yang datang dari luar komunitas si miskin.
Kita memahami sikap Yesus kepada orang miskin, orang menderita, orang yang lemah sering bertentangan status-quo yang ada. Marcel Gervais lewat tulisannya berjudul God and the Poor dalam buku Middle Classes the Poor God, Donum Dei Nomor 25 (1979) halaman 86, mengatakan, jemaat di Qumran, memandang orang lumpuh dan yang cacat lainnya terkucil dari keselamatan eskatologis. Tetapi Yesus mengatakan, mereka itu berbahagia, karena bagi merekalah Kerajaan Allah (Lukas 6:20).
Tindakan Yesus melanggar status-quo, juga dapat dibaca dalam Lukas 5:12-16 tentang penyembuhan seorang yang sakit kusta. Orang Yahudi memandang orang sakit kusta itu najis, sehingga harus dikucilkan dari masyarakat, dari persekutuan umat Allah.
Orang kusta dicap sebagai orang yang terkutuk. Penyakit tersebut dianggap penyakit yang sukar disembuhkan. Nyata dari ucapan-ucapan pengajar kesusilaan Yahudi yang menganggap orang sakit kusta sebagai mayat bergerak, sehingga menyembuhkan orang dari penyakit ini sama sukarnya dengan menghidupkan kembali orang yang sudah mati. (J Sutopo, SJ dalam Mysterium Christy, Penjelasan Injil Markus, bagian I, Kanisius, 1970, hal. 79).
Dalam kisah itu, Yesus tidak hanya melanggar hukum agama 329g ketat, melanggar status-quo sehingga membiarkan diri-Nya didekati orang kusta. Yesus bahkan bersedia menyembuhkan penyakit kusta yang oleh orang Yahudi dianggap paling sulit disembuhkan.
Tujuan pelayanan Yesus dan murid-murid-Nya, dengan demikian tujuan pelayanan gereja sekarang ini, adalah satu atau sama dengan maksud Allah, yaitu kebahagiaan bagi umat manusia. Allah mau supaya umat-Nya secara bertanggung jawab mewujudkan hubungan yang harmonis antara sesamanya manusia, antara manusia dengan ciptaan lainnya.
Dalam kerangka itulah, globalisasi hendaknya disambut dan diisi agar sifat-sifat Mamon yang terkandung di dalamnya diminimalkan, bahkan ditiadakan. Globalisasi harus ditumbuhkan dari bawah sehingga tidak ada yang tercecer.
Sumber: Suara Pembaruan Daily
Melakukan penginjilan kepada setiap manusia yang berkomunikasi dengan setiap orang yang percaya kepada Kristus merupakan bukti kesadaran kita bahwa manusia akan binasa tanpa Kristus. Berkembangnya pemahaman sekelompok Kristen bahwa keselamatan ada di luar Kristus nampaknya mengurangi semangat kelompok ini akan pentingnya penginjilan. Mereka menuduh kelompok Kristen yang rajin melakukan penginjilan sebagai kelompok fundamentalis. Benarkah kelompok yang rajin melakukan penginjilan kelompok fundamentalis?. Menurut kenyataan yang saya lihat, tidak sepenuhnya benar. Jika mau jujur, kelompok yang melakukan penginjilan Beberapakali melakukan kesalahan.
Saya sebagai orang yang menerima anugerah keselamat dari Kristus, tentunya memberitahu kepada setiap orang yang berkomunikasi dengan saya bahwa Kristus adalah jalan keselamatan dengan cara kontekstual. Kontekstual yang saya maksud adalah menyampaikan iman melalui pembicaraan dan perbuatan. Cara penyampaian kontekstual juga harus melihat situasi dan kondisi. Saya kira, tidak bermasalah apa yang saya sampaikan tentang imanku di negeri Pancasila ini. Penyampaian iman saya merupakan bahan diskusi bagi mereka yang tidak satu iman kepada saya. Saya juga tidak pernah segan menanyakan kepada setiap orang bagimana mereka beriman. Bagimana mereka bergumul memilih iman mereka. Dengan demikian diskusi perbedaan iman tidak menjadi sesuatu diskusi yang sensitif. Jika diskusi pergumulan iman tidak menjadi sesuatu yang sensitif, maka kebebasan memilih iman percaya seseorang menjadi mutlak. Bukankah memilih seseorang menjadi percaya kepada Tuhan pekerjaan Tuhan itu sendiri?. Jika hal itu menjadi pekerjaan Tuhan, mengapa seringkali dipersoalkan manusia?.
Cukupkah sebagai orang beriman kepada Kristus hanya melakukan penginjilan?. Mungkinkah penginjilan bisa dilakukan tatkala lingkungan hidup sudah rusak?. Jika ozon sudah bocor kelak, es abadi meleleh akibat pemanasan global yang mengakibatkan pulau-pulau tenggelam. Mungkinkah di masa itu, kita masih punya waktu melakukan penginjilan?. Saya kira, hal itu bisa saja waktu yang paling efektif melakukan penginjilan, seperti melakukan penginjilan kepada orang-orang yang ditimpa bencana. Tetapi harap diingat, bahwa penginjilan haruslah murni karena iman percaya kita. Saya kira, sebuah kekeliruan besar yang dilakukan orang kristen jika dia menolong orang lain, agar orang lain yang ditolongnya menjadi Kristen. Melakukan segala sesuatu bagi orang percaya adalah karena iman. Jika seseorang mau mengikuti iman kita, bukan karena kita, tetapi karena pekerjaan Roh Kudus.
Kembali ke tanggungjawab orang Kristen kepada alam disekitarnya. Memang harus diakui, terlalu banyak persoalan yang kita hadapi di bumi ini. Di mulai semangat penginjilan, cara penginjilan, sampai persoalan internal gereja yang runyam akibat tidak bertumbuhnya iman jemaat. Kapan kita berbicara dan melakukan tanggung jawab sosial, khususnya masalah lingkungan hidup yang semakin kritis?.
Dalam tulisan ini, saya berasumsi persolan internal Gereja sebentar lagi akan selesai. Di waktu pembenahan internal Gereja ini, saya mau mengajak orang Kristen mulai memikirkan sikap iman kita kepada lingkungan hidup yang makin kritis ini. Tentunya dimulai dari diri kita sendiri. Berbicara diri sendiri tentu tidak lepas dari perilaku kita sethari-hari.
Jikalau ada pertanyaan kepada anda. Apakah anda orang Kristen yang mengeksploitasi sumberdaya alam atau orang Kristen yang memelihara sumberdaya alam. Kedua pertanyaan ini agak sulit dijawab, karena membutuhkan jawaban komprehensif. Akan tetapi, anda boleh merenungkan sikap anda sehari-hari. Dimulai dari cara anda memakai air, membeli mobil yang ramah lingkungan, atau anda tidak perlu naik mobil bila angkutan umum tersedia karena pertimbangan mobil anda menambah macet, penggunaan bensin akan tinggi bila naik mobil pribadi. Apakah anda pengguna bahan-bahan kimia yang berbahaya?, apakah anda membela perusahaan tempat anda bekerja, padahal perusahaan tempat anda bekerja telah memperkosa hak-hak rakyat?, atau jika anda pengusaha Kristen, sudahkah perusahaanih bahan baku yang menghasilkan limbah yang tidak berbahaya, atau jika anda pengusaha Kristen apakah perusahaan anda memilih bahan baku yang tidak menghasilkan limbah yang berbahaya?, apakah perusahaan anda sudah mengelola limbah dengan baik?. Sudahkah perusahaan anda menggunakan air dengan hemat mengingat jumlah air yang semakin kritis?. Atau anda menjadi orang Kristen penyumbang uang ke Gereja terbesar, padahal uang anda bersumber dari judi, korupsi atau perpuluhan profit perusahaan anda yang merusak lingkungan dan mencabik-cabik martabat masyarakat luas itu?. Lalu, dengan sumbangan anda yang besar tempat duduk anda seolah-olah orang terhormat di Gereja?. Atau mungkin juga, karena anda merasa uang anda banyak digunakan membangun Gereja, lalu dengan sembarangan anda mengangkat pistol?. Sebenarnya, apa yang anda cari?. Bukankah menjadi Kristen tugasnya memuliakan Tuhan?.
Salah satu kesalahan Gereja yang paling besar adalah tidak secara sengaja mengajarkan hubungan manusia dengan alam?. Bukankah alam memiliki hak untuk lestari?. Masihkah kita menilai alam sebagai alat bagi kepentingan kita?. Apakah kita masih menilai alam sebagai alat pemuas bagi keinginan kita?. Masihkah kita memperlakukan alam semaunya kita dengan alasan keindahan?. Apakah kepedulian kita terhadap alam hanya semata-mata untuk menjamin kebutuhan hidup kita?, bukankah alam mempunyai nilai pada diri sendiri sehingga pantas dilindungi?. Satu hal yang harus direnungkan buat sahabatku para konsevasionist, tolong jawab pertanyaanku ini. Apa tujuan sahabatku untuk mengkonservasi?. Apakah anda melakukan konservasi hanya karena terbukti mempunyai dampak menguntungkan bagi kepentingan manusia?, khususnya kepentingan ekonomis?. Jikalau itu tujuannya, apakah kita tidak egoistis, karena hanya mengutamakan kepentingan manusia?.
Gurgur Manurung adalah jemaat HKBP yang memberikan perhatianya kepada masalah sosial dan lingkungan hidup.
Pdt. Dr. Andreas A Yewangoe-DKI Jakarta, Adakah Hubungan Antara Iman dan Politik? Inilah pertanyaan yang tidak selalu mudah dijawab. Kalau dijawab bahwa hubungan itu ada, pertanyaan lanjutannya adalah bagaimana hal itu diungkapkan. Agaknya pertanyaan ini makin mendesak untuk diajukan, khususnya di Indonesia, setelah sekian banyak partai politik Kristen dibentuk, di samping sekian banyak orang-orang Kristen yang aktif di dalam partai-partrai non-Kristen, tentu saja dengan alasannya masing-masing. Adakah Hubungan Antara Iman dan Politik?
Inilah pertanyaan yang tidak selalu mudah dijawab. Kalau dijawab bahwa hubungan itu ada, pertanyaan lanjutannya adalah bagaimana hal itu diungkapkan. Agaknya pertanyaan ini makin mendesak untuk diajukan, khususnya di Indonesia, setelah sekian banyak partai politik Kristen dibentuk, di samping sekian banyak orang-orang Kristen yang aktif di dalam partai-partrai non-Kristen, tentu saja dengan alasannya masing-masing. Yang tidak setuju berpendapat, adanya partai-partrai Kristen tidak relevan dengan perkembangan masyarakat kita yang justru makin lama makin memperlihatkan kecenderungan ke luar dari batas-batas primordial, seperti agama, suku, dan ras misalnya. Membentuk partai Krtisten di Indonesia, apalagi dengan jumlah pemilih yang terbatas, akan merugikan kita semua, karena tidak akan ada satu pun kursi bakal diperoleh nanti. Yang setuju menilai bahwa justru sekaranglah partai-partai Kristen dibutuhkan, sebab selama ini partai-partai (yang bercorak nasionalis) di mana di dalamnya orang-orang Kristen menjadi anggotanya tidak memperjuangkan kepentingan Kristen. Bukankah ketika gereja-gereja dibakar dan berbagai hal lain yang merugikan kepentingan-kepentingan Kristen dilancarkan, partai-partai itu diam saja? Demikian antara lain alasan yang dilontarkan.
Terlepas dari alasan yang cenderung praktis-pragmatis itu, mungkin baik kalau dipertanyakan secara mendalam, apakah ada perbedaan (boleh dibaca: adakah dampaknya dalam masyarakat) apabila seorang Kristen terlibat dan atau tidak terlibat dalam politik? Sumbangan apakah yang diberikan bagi kebaikan bersama apabila mereka terlibat dan sungguh-sungguhkah masyarakat merasa kehilangan apabila mereka tidak terlibat? Kalau mereka terlibat, sungguhkah mereka dimotivasi oleh imannya, atau hanya sekedar "mengalir" bersama trend di dalam masyarakat?
Iman
Mengenai iman, rasanya kita semua sudah memahaminya. Memang iman bukan sekedar persoalan pemahaman, tetapi penghayatan. Sebagai umat Kristen, kita beriman kepada Allah sebagaimana diungkapkan di dalam Yesus Kristus dan secara terus-menerus diaktualisasikan melalui perbuatan kita oleh bantuan Roh Kudus. Ini berarti bahwa perbuatan politik kita pun mestinya merupakan aktualisasi iman tersebut. Bagaimana? Karl Barth, dalam bukunya yang berjudul Rechtfertigung und Recht mengindikasikan bahwa kekristenan hanya mempunyai pengaruh tidak langsung terhadap politik. Ia kurang lebih mengatakan; "Bukan dengan melakukan politik, tetapi dengan menjadi gereja pun, maka gereja telah melakukan politik." Bagaimana memahami ungkapan ini? Ini berarti gereja mestilah sungguh-sungguh gereja, committed terhadap panggilannya, sehingga ia terpercaya dan credible di tengah-tengah dunia di mana ia berada melalui pelayanan dan kesaksiannya. Apabila ia terpercaya , tidak dicurigai oleh lingkungannya, maka gereja telah ikut berpolitik, artinya telah ikut serta membangun polis di mana gereja berada.
Persoalannya adalah bahwa keadaan yang kita hadapi tidak selalu demikian. Ini bias ditinjau dari dua sudut pandang. Sudut pandang pertama, dari sudut pandang gereja, di mana gereja tidak selalu menduduki kedudukan ideal. Sebaliknya gereja juga dikondisikan secara historis. Jadi apa yang dianggap ideal hari ini sebagai ukuran dalam berpolitik, belum tentu besok akan tetap demikian, seperti juga halnya dengan keadaan yang dihadapi dahulu oleh jemaat pertama terhadap lingkungannya. Sudut pandang kedua, dari masyarakat, belum tentu gereja selalu dianggap sebagai partisipan penuh dalam membangun kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Ada saatnya ketika gereja, ketimbang mitra dianggap sebagai ´gangguan´ dalam kehidupan bersama.
Politik
Saya sering mengartikan politik dalam dua pengertian. Pertama, sebagai kemampuan untuk hidup bersama dalam dan membangun polis (kota) di mana kita hidup di dalamnya dengan siapa pun. Dalam pengertian kedua, politik adalah perjuangan untuk memperoleh kekuatan politik (Belanda; politieke machtstrijd) Setiap partai politik tentu merumuskan tujuannya berpolitik, yaitu sebagai upaya mewujudkan kesejahteraan bersama (dan kesejahteraan anggota-anggotanya) Guna mencapai tujuan ini, maka program politik dirumuskan di mana kekuasaan dipakai untuk mencapainya. Diharapkan partisipasi masyarakat dalam pencapaian tujuan itu yang diindikasikan melalui persetujuan di dalam pemilihan umum.
Bagaimana gereja (baca; orang-orang Kristen) menginterpretasikan program politik yang ditawarkan oleh partai-partai politik? Andaikata program politik itu ditafsirkan sebagai ungkapan kasih terhadap sesama, di mana keadilan dan kesejahteraan bersama diperlihatkan, maka gereja bisa memahaminya sebagai juga ungkapan dari imannya. Maka terhadap program politik seperti ini, pantaslah gereja (dan anggotanya) ikut serta. Program politik itu sekaligus merupakan ukuran untuk menilai apakah suatu pemegang kekuasaan masih bertindak atas dasar itu, atau sudah menyimpang. Kalau menyimpang, maka gereja mesti memberikan teguran.
Apa yang dikatakan ini kedengarannya sederhana, tetapi di dalam prakteknya tidak sesederhana itu. Mengapa? Karena berpolitik membutuhkan ´seni´ yang tidak jarang bisa ke luar dari koridor moral dan etika (Kristen dan Politik) Kita teringat kepada ungkapan: "Tidak ada kawan dan atau seteru abadi dalam (ber)politik. Kawan hari ini, besok bisa menjadi lawan." Dan seterusnya. Memberikan bantuan kepada orang yang dilanda banjir, bisa merupakan tindakan kasih terhadap yang bermalapetaka. Ini bisa merupakan tindakan iman dari si pemberi bantuan. Tetapi apabila sebuah partai politik melakukan hal itu, apalagi dengan membawa bendera partai (dengan publikasi luas) maka hal itu bisa merupakan tindakan politik sebagai salah satu upaya memperoleh dukungan politik. Interesnya belum tentu merupakan pengungkapan iman, tetapi sungguh-sungguh bertujuan politik.
Di dalam berpolitik, paling tidak dibutuhkan hal-hal;
a. Prinsip-prinsip berpolitik,
b. Analisis terhadap situasi di mana prinsip ini dioperasionalisasikan,
c. Dugaan (prediksi) mengenai akibat dari operasionalisasi prinsip tersebut.
Tidak jarang pada prinsip-prinsip itu dikompromikan dengan ´pihak lain´ yang belum tentu selalu sejalan dengan apa yang dipikirkan semula. Bukan tidak mungkin pula apa yang dijanjikan dalam pemilu tidak bisa dilaksanakan sepenuhnya karena berbagai alasan. Maka dalam keadaan seperti ini gereja (dan umat Kristen) mesti sungguh-sungguh jeli menyiasati, apakah yang sedang berjalan itu sesuai dengan imannya atu tidak. Panggilan seorang politisi Kristen, dengan demikian tidaklah mudah dalam hal ini.
Sumber: www.pgi.or.id
Abraham Bapak orang percaya adalah orang yang sangat disayang Tuhan karena begitu tulusnya kepercayaannya kepada Tuhan, hampir sulit dipercaya bagaimana dia menuruti semua kemauan dan permintaan Tuhan dijaman itu dimana orang disekitarnya tidak percaya Tuhan, melainkan mempercayai para dewa. Anaknya Isak dan Cucunya Yakub juga adalah orang-orang yang beriman kepada Allah.
Sebagaimana janji Tuhan kepada Abraham maka dari cucunya Yakub lahirlah suatu bangsa yang besar yaitu bangsa Israel atau orang biasa menyebut orang Yahudi, sekalipun bangsa ini dikenal sebagai bangsa yang tegar tengkuk suka memberontak kepada Allah. Namun demikian berkat/karunia Allah yang pernah diberikan kepada nenek moyang mereka yaitu Abraham, Isak dan Yakub tidak meninggalkan bangsa ini, berkat tersebut tetap melekat hingga kini. Suka atau tidak suka harus diakui hampir semua pakar ilmu pengetahuan yang pernah ada didunia ini berasal dari bangsa yahudi, para konglomerat terkaya didunia berasal dari bangsa Yahudi, bahkan ada informasi yang mengatakan bahwa 90% uang yang ada didunia ini dimiliki oleh orang yahudi.
Daud sejak kecil sangat beriman kepada Allah, bahkan iman tersebut bukan hanya dimulut tetapi didalam praktek hidup sehari-hari, dia berani bertarung dengan binatang buas karena yakin Tuhan pasti menolongnya. Tuhan sangat menyukai Daud, itu diperlihatkan Tuhan dengan memberikan kedudukan raja israel sampai hari tuanya, bahkan kepada anaknya Salomo diberikan bukan hanya tahta kerajaan tetapi juga diberikan hikmat yang melebihi semua orang yang pernah ada dibumi. sayang salomo tidak setia seperti Ayahnya Daud. Salomo sibuk dengan para istrinya yang berjumlah 1000 orang sehingga melupakan Tuhan Allahnya. Walaupun anak dan keturunan Daud tidak setia kepada Tuhan seperti Daud namun karunia Allah kepada Daud tidak terlepas, Juruselamat dunia berasal dari keturunan daud yang disebut tunas Daud.
Negara-negara Eropah dan Amerika dan Australia dibangun oleh orang-orang Kristen. Diantara orang tersebut tentunya banyak orang-orang berdoa yang takut dan setia kepada Tuhan. Hal itu dapat kita lihat dari jejak-jejak nenek moyang mereka dengan mudah kita temui dimana-mana. Sekarang kita dapat melihat berkat dari Tuhan kepada bangsa-bangsa tersebut akibat dari doa-doa dan ketaatan para nenek moyang mereka dijawab Tuhan. sekalipun mungkin sebagian besar orang orang yang berdiam disana sekarang sudah tidak perduli kepada Allah, tetapi berkat/karunia Allah tidak begitu saja dicabut dari mereka, kemakmuran tetap mereka nikmati hingga sekarang.
Pertanyaan yang perlu direnungkan :
Ketika seorang hamba Tuhan yang sangat tekun dan setia mencari kehendak Allah dan kemudian Allah menyukai dan berkenan kepada orang tersebut, sehingga Allah mengaruniakan berbagai macam karunia diantaranya karunia untuk menyembuhkan orang sakit, menghilangkan kelemahan dan mengusir setan.
Namun dikemudian hari hamba Tuhan tersebut lupa diri sehingga berkat-berkat yang dimilikinya dinikmati sendiri bahkan mungkin sampai memiliki pesawat jet pribadi? mungkin ingin selalu menginap dikamar hotel yang terbaik? dan lain sebagainya yang kelihatannya tidak mencerminkan hidup yang kristiani. Untuk hal seperti itu apakah Allah akan mencabut berkat-berkat tersebut daripadanya seketika itu juga, atau Allah akan mengijinkan berkat tersebut melekat padanya sambil menunggu barangkali dia akan berbalik dari kesalahannya, dan kembali melayani Tuhan dengan baik. Salam
Penulis : Jonathan Goeij
"Kebebasan beragama bukanlah diberikan oleh pemerintah, melainkan merupakan anugerah Tuhan untuk semua umat manusia."
Demikianlah pernyataan Pdt. DR(HC) Stephen Tong dalam menjawab pertanyaan salah seorang pengunjung yang menanyakan tentang kebebasan beragama di Indonesia dalam sesi tanya jawab pada hari ketiga Kebaktian Kebangunan Rohani di Los Angeles yang diadakan dikota Artesia tanggal 25-27 Oktober barusan. Dengan jawabannya ini, Pdt. Tong mengartikan bahwa kebebasan beragama merupakan hak asasi setiap manusia yang sudah melekat pada dirinya sejak lahir, bukannya diberikan oleh pemerintah yang merupakan kemauan politik.
Hari itu adalah hari terakhir KKR pak Tong di Los Angeles. Sebenarnya sejak hari pertama aku sudah ingin menghadiri KKR itu, apalagi Christianto Wibisono pada hari Senin malam mengatakan bahwa dirinya datang ke LA adalah khusus untuk melihat KKR pak Tong ini, bertemu dengan dua orang tokoh pluralis yang terpisah dari satu ujung bumi ke ujung bumi lainnya tentu merupakan kesempatan langka. Sayang sekali kegiatan dikampus benar-benar menhalangiku untuk datang, untung pada hari ketiga aku bisa mendapat kesempatan untuk hadir.
Bersama dengan Tante Twan, Ibu Mathilda, Iing, dan istriku Fanny, kami datang sekitar jam 7 malam. Sebenarnya setengah jam lebih awal dari jadwal KKR, tetapi ternyata pada hari terakhir itu diadakan satu jam ekstra untuk sesi tanya jawab sehingga pada hari itu pertemuan dimulai jam 6:30 malam. Sambil setengah bergurau aku berkata pada Fanny: "Cepat kekamar kecil dulu, nanti kalau sudah didalam tidak bisa keluar lagi, pendetanya kereng (galak)." Salah seorang panitia yang berada disitu tertawa mendengar perkataanku "Benar, pendetanya galak." Kulihat pak Tong dengan gagah dan enerjik berdiri diatas mimbar menjawab satu demi satu pertanyaan yang diajukan, padahal beliau sudah berusia cukup lanjut, 65 tahun, dan menderita sakit jantung sehingga harus dipasang 8 buah cincin. Benar-benar sebuah mujijat yang di