Keluarga

Artikel-artikel tentang hubungan keluarga (ayah, ibu, anak, saudara, kerabat), kehidupan keluarga, masalah dalam keluarga Kristen dsb.

10 Cara Menjadi Ayah yang Hebat

Sumber: Wiempy

Adik Kecilku

Penulis : Paul W.Kleinschmidt

Memang sulit sekali menjalani masa kecil dengan seorang kakak laki- laki yang usianya berbeda tujuh tahun dari saya. Saya sangat mengidolakan Scott, dan sakit hati sekali rasanya kalau saya tidak bisa pergi ke tempat-tempat yang suka didatanginya dan berkumpul dengan teman-temannya. Saya selalu saja memainkan peran adik kecil yang berusaha mati-matian sekedar bisa menyesuaikan diri dengannya. Yang saya inginkan saat itu hanyalah, kakak saya bangga pada saya.

Jadi, ketika Scott mengatakan bahwa dia akan pergi selama musim panas, mengajar anak-anak cacat mental, dan menawari saya apakah saya mau menjadi relawan di sana, saya langsung memanfaatkan peluang yang ada untuk menghabiskan waktu bersamanya.

Saat itu usia saya empat belas tahun dan satu-satunya relawan dalam program itu. Semua orang yang lain berumur dua puluh satu tahun ke atas, dan masing-masing sedang menjalankan usaha memperoleh nilai kredit dalam mata pelajaran khusus, seperti kakak saya, atau sekedar berusaha mencari uang tambahan untuk musim panas. Program itu kira-kira diikuti oleh tiga puluh murid, dengan mayoritas anak-anak sebaya saya. Pengalaman saya berhadapan dengan dunia anak-anak yang cacat mental itu sangat terbatas, dan di hari pertama, saya agak `ketinggalan kereta.´

Satu persatu kursi roda bergulir turun dari bus, masing- masing membawa penumpang spesialnya sendiri, yang memamerkan senyuman yang lebih cerah daripada matahari musim panas. Orang tua mengantar anak-anaknya, yang masing-masing penuh kegembiraan yang juga pernah saya rasakan di hari pertama sekolah saya.

Lalu datang Mikey. Mikey berumur sembilan tahun, tinggi, kurus, dan menderita gangguan emosi yang parah. Dia berdiri sendirian di sudut, maju- mundur, ketakutan. Seakan dia merasa dirinya tidak terlihat oleh murid-murid lain atau para konselernya. Saya berjalan mendekatinya, dan mengulurkan tangan saya, tetapi dia malah mulai menjerit-jerit. Saya ingat tatapan malu di mata kakak saya. Ingin rasanya saya merangkak ke bawah batu dan berhenti saja. Saya langsung mundur dan mendekati murid lain.

Setiap pagi, Ibu Mikey mengantarnya, dia selalu pergi ke sudut yang sama, dan menghabiskan hampir sepanjang harinya di sana sendirian saja. Bahkan murid-murid lain menghindarinya, tidak ingin menimbulkan jeritan atau amukan amarahnya.

Setiap sore, para konseler meminta semua murid untuk berbagi kelompok dua-dua, untuk melakukan berbagai kegiatan. Mikey akan tetap berdiri di sudutnya, memperhatikan semuanya. Setelah merasa lebih nyaman beberapa hari kemudian, saya mendatangi pemimpin konseler dan menanyakan perihal Mikey. Dia menjelaskan bahwa Mikey telah menjadi murid program ini selama beberapa tahun, dan selalu saja menghabiskan hari-harinya di sudut itu. Tidak pernah ada orang yang merasa perlu meluangkan waktu untuk mendekatinya. Lalu saya bertanya, apakah saya boleh mendekatinya. Mulanya, pemimpin konseler tidak menanggapi, dan saya bisa melihat dari tatapan matanya, seakan dia mengatakan "Kau ini baru empat belas tahun! Memangnya apa saja yang bisa kau lakukan?"

"Tentu, silahkan saja. Apa ruginya?" akhirnya, dia menjawab juga.

Maka setiap pagi, saya menunggu kedatangan Mikey. Ketika dia berjalan ke sudutnya, saya membuntutinya, lalu berdiri atau duduk di sebelahnya, berjam-jam lamanya, tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dia akan menjerit-jerit dan semua orang akan menoleh, tetapi saya hanya balas memandangi mereka, berteguh hati untuk tidak berhenti di tengah jalan. Hal ini berlangsung selama dua minggu. Saya tahu, para konseler itu pasti sudah membicarakan perihal saya kepada kakak saya. Musim panas itu ternyata tidak seindah yang saya impikan; saya berharap bisa mempererat ikatan antara saya dengan kakak saya, bukan malah menjauhkannya begini.

Lalu sesuatu terjadi, yang mengubah hidup saya selamanya. Pada suatu pagi, saya bangun kesiangan, dan kakak saya sudah pergi ke tempat kerjanya itu. Saya bergegas melompat ke sepeda dan ngebut ke sekolah itu, malu karena telah kesiangan dan khawatir kena masalah.

Saya masuk kedalam ruang kelas itu, dan mendadak ruangan jadi sepi. "Oh, tidak," pikir saya.

Lalu saya mendengar seseorang bertepuk tangan. Saya mengabaikannya dengan anggapan paling-paling itu hanya salah seorang murid yang sedang mengungkapkan kegirangannya. Lalu, yang lain mulai bertepuk tangan. Nah, ada lagi murid kegirangan, pikir saya. Tidak, ternyata salah seorang konseler yang bertepuk tangan. Ada apa? Lalu tepukan tangan pun meledak. Setiap orang bertepuk tangan. Apakah mereka semua menyindir keterlambatan saya?

Saat itu, mata saya bertatapan dengan mata kakak saya. Dia sedang tersenyum pada saya, bertepuk tangan paling keras di antara yang lain. Saya hanya berdiri terpaku, tertegun, sampai pimpinan program mendekati saya dan menjelaskan bahwa ini semua ada kaitannya dengan Mikey.

Ternyata, ketika Mikey datang pagi itu, dan tidak menemukan saya, dia pergi ke setiap meja, mendekati konseler, dan menanyakan , "Mana Paul ? Mana Paul?"

Pemimpin konseler memberitahu saya bahwa itulah kata-kata pertama yang diucapkan Mikey selama dua tahun terakhir hidupnya.

Saya tidak tahu harus berkata apa. Mata saya berkaca-kaca. Saya menoleh ke arah Mikey di sudut ruang kelas. Dia sedang tersenyum, menunjuk saya, mengatakan,"Paul! Paul! Paul!"

Saya merasakan sentuhan sebuah lengan di bahu saya. Ternyata Scott. "Inilah adik kecilku," katanya kepada setiap orang dengan nada penuh kebanggaan. Saat itulah saya mulai menangis.

*) Tahun berikutnya, Paul dipekerjakan sebagai konselor. Keluarga Mikey pindah ke wilayah Barat, dan Paul sedih membayangkan tidak akan bisa bertemu dengan Mikey lagi. Di hari terakhir program tahun itu, dia menerima kiriman kartu post dari California berisi kata-kata "Hai Paul" dengan tulisan tangan Mikey yang susah dibaca.

Sumber: Heartwarmers

Allah adalah Keluarga

"Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya namaMu di seluruh bumi..." [Mazmur 8:2].

Nama-Nama Allah yang dinyatakan didalam Alkitab mengungkapkan dan mewahyukan siapakah Allah sebenarnya. Nama-Nama Allah ini sangat bermakna, bahkan pemazmur berkata, "betapa mulianya namaMu...". Didalam Perjanjian Lama, ada tiga Nama Allah yang utama, yaitu Elohim (Allah), Yehovah (TUHAN), dan Adonai (Tuhan). Makna dari Nama Elohim adalah Pencipta yang Perkasa. Makna Nama Yehovah adalah Pribadi yang ada dengan sendirinya. Sedangkan makna Nama Adonai adalah Tuan dari seorang hamba. Selain tiga Nama Allah yang utama ini, ada puluhan Nama-Nama gabungan, sebagai contoh Yehovah Elohim (Kejadian 2:4), Adonai Yehovah (Kejadian 15:2), Adonai Elohim (Daniel 9:3).

Didalam Perjanjian baru, ada tiga Nama utama yang digunakan yaitu Theos, Kurios, dan Pater. Nama Theos mempunyai makna yang sama dengan Nama Allah didalam PL, yaitu El, Elohim, dan Elyon. Nama Theos adalah Nama yang umum digunakan bagi Nama Allah. Nama Kurios yang berarti Penguasa Tunggal, dapat disamakan maknanya dengan Nama Adonai. Sedangkan Nama Pater berarti Bapa, dan Nama ini digunakan oleh Tuhan Yesus untuk mengungkapkan hubunganNya dengan Bapa di Sorga.

Pemahaman Allah yang adalah Keluarga terungkap melalui NamaNya. Seperti kita ketahui didalam suatu keluarga ada seorang bapa, ibu dan anak, maka melalui NamaNya juga terungkap Allah sebagai Bapa, sebagai Ibu, dan sebagai Anak. Allah sebagai Bapa dan Allah sebagai Anak, diperkenalkan oleh Yesus kepada para pemimpin agama Yahudi, yang tercatat terutama didalam Injil Yohanes. Bagi para pemimpin Yahudi, pernyataan Yesus yang menegaskan bahwa Allah adalah BapaNya, sama dengan menyatakan bahwa diriNya adalah juga Allah (Yoh. 10:33). Dan Yesus dengan tegas menyatakan bahwa Ia adalah Anak Allah. Jadi, baik Allah sebagai Bapa, maupun Allah sebagai Anak, telah dinyatakan oleh Yesus.

Sementara itu, Allah sebagai Ibu terungkap didalam Nama El Shaddai. Nama El Shaddai adalah Nama gabungan yang terdiri dari El, yang berarti Pencipta yang perkasa, dan Shaddai, yang berarti Maha Kuasa. Tetapi kata Shaddai dan kata Shad, walaupun dua kata yang berbeda namun bermakna sama yaitu buah dada (seperti dalam Kej. 49:25, Ayub 3:12, dan Maz. 22:10). Jadi, El Shaddai adalah Allah yang Maha Kuasa yang menyediakan kebutuhan UmatNya, seperti seorang Ibu yang menyusui anaknya.

Didalam Kej. 1:2 ada tertulis, "...Roh Allah melayang-layang diatas permukaan air". Kata melayang-layang biasanya dipakai untuk melukiskan seekor burung yang sedang mengerami telur atau anak-anaknya yang masih kecil didalam sarangnya. Ini juga berbicara Allah sebagai ibu. Demikian juga dengan lahir dari Roh, suatu istilah yang muncul didalam PB, juga mengungkapkan Allah sebagai Ibu.

Jadi, Allah sebagai Bapa, Allah sebagai Ibu, maupun Allah sebagai Anak, terungkap melalui Nama-NamaNya. Dan Bapa, Ibu serta Anak, adalah suatu Keluarga.

"...Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendakNya kepada kita..." [ Efesus 1:3-14 ].

Didalam renungan keluarga ini, kita akan melihat bagaimana Allah, yang adalah Keluarga Sejati itu, memiliki kehendak dan rencana. Kehendak dan rencanaNya ini dilaksanakan bersama-sama secara Keluarga, sebagaimana yang diuraikan dalam Efesus 1:3-14.

Dalam ayat 5 diuraikan bagaimana Allah Bapa, "...menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anakNya, sesuai dengan kerelaan kehendakNya". Bapa yang memiliki Anak TunggalNya, kita lihat disini, menghendaki kita juga agar menjadi anak-anakNya. Karena kehendak Bapa ini, Yesus tidak malu menyebut kita saudaraNya, seperti tertulis dalam Ibrani 2:12, "...Aku akan memberitakan namaMu kepada saudara-saudaraKu...". Namun hubungan Yesus dengan Allah Bapa tetaplah unik dan berbeda. Itu sebabnya Ia tidak berkata tentang Allah sebagai Bapa kita, melainkan Bapamu dan BapaKu.

Tetapi, sebagaimana tertulis pada ayat 5, penentuan dan penetapan kita sebagai anak-anakNya, adalah melalui Yesus Kristus. Artinya, Yesus perlu mengalami kematian di kayu salib dan mencurahkan darahNya untuk pengampunan dosa, serta dibangkitkan dan naik kesorga, sebelum kita dapat dilahirkan oleh Roh dan menjadi anak-anakNya.

Bukan hanya dilahirkan oleh Roh, tetapi kita juga dimeteraikan dengan Roh Kudus. Pemeteraian kita dengan Roh Kudus ini merupakan suatu jaminan / panjar (dp = down payment), bahwa kita akan menerima keseluruhannya yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah [ ayat 14 ].

Kita lihat disini bagaimana Allah yang adalah Keluarga, secara bersama-sama menjalankan kehendakNya, dimana tujuan akhirnya adalah, "...in the dispensation of the fullness of the times He might gather together in one all things in Christ...[ 1:10, The New KJV ]. Jadi, inilah misteri (rahasia) kehendakNya, yaitu pada dispensasi kegenapan waktu, Ia dapat mempersatukan segala sesuatu didalam Kristus.

Tetapi, yang akan kita renungkan disini adalah bagaimana Allah menjalankan rencana dan kehendakNya secara Keluarga. Oleh sebab itu, kita yang melayaniNya, dalam arti menjalankan kehendakNya di muka bumi ini, haruslah melakukannya secara keluarga. Bapa, Ibu dan anak-anak didalam suatu keluarga Kristen, haruslah berfungsi sesuai peranannya dalam keluarga, untuk melayani Tuhan dan menggenapi kehendakNya.

Didalam Efesus 1:3-14, kita lihat bagaimana Bapa merencanakan, Anak melaksanakan dan Roh menolong serta memberi kekuatan, sehingga kehendakNya jadi, demikian juga diharapkan terjadi didalam suatu keluarga Kristen. Apabila didalam suatu keluarga kristen, hanya salah satu anggotanya saja yang melayani Tuhan, maka hal ini belum sejalan dengan rencanaNya. Bahkan, jika bapa, ibu dan anak-anak aktif didalam kegiatan kekristenan, tetapi tidak bekerja sama sebagai tim yang sehati sepikir, maka barangkali ini belum dapat disebut sebagai melakukan kehendakNya. Kita perlu merenungkan hal ini, terutama para bapa sebagai kepala keluarga.

"...Akulah Allah Yang Mahakuasa (El Shaddai), hiduplah dihadapanKu dengan tidak bercela" [ Kej. 17:1 ].

Telah kita ketahui bahwa Allah yang menyatakan Diri sebagai Ibu terungkap didalam Nama El Shaddai. Nama El Shaddai adalah Nama gabungan yang terdiri dari El, yang berarti Pencipta yang perkasa, dan Shaddai, yang berarti Maha Kuasa. Tetapi kata Shaddai dan kata Shad, walaupun dua kata yang berbeda namun bermakna sama yaitu buah dada (seperti dalam Kej. 49:25, Ayub 3:12, dan Maz. 22:10). Jadi, El Shaddai adalah Allah yang Maha Kuasa yang menyediakan kebutuhan UmatNya, seperti seorang Ibu yang menyusui anaknya.

Dalam konteks yang bagaimana El Shaddai pertama kali menyatakan DiriNya ? Kejadian 17:1 adalah pertama kali Allah menyatakan Diri sebagai El Shaddai, dan disini El Shaddai menegur Abram agar hidup dihadapanNya dengan tidak bercela. Memang Abram telah gagal, ketika ia mendengarkan usul Sarai untuk menghampiri Hagar. Sekalipun Ismael diberkati juga, namun perjanjian Allah tetap akan diadakan dengan Ishak yang akan dilahirkan Sarai (17:20-21). Jadi, El Shaddai memenuhi kebutuhan Abram seperti seorang Ibu memenuhi kebutuhan anaknya, namun dengan cara memberi teguran.

Tetapi, teguran El Shaddai adalah teguran yang penuh berkat serta memenuhi kebutuhan UmatNya, seperti seorang Ibu yang menyusui anaknya. Dalam Kejadian 17, teguran El Shaddai memulihkan Abram. Sejak saat itu, Abram berubah menjadi Abraham, dan perjanjian sunat-pun dimulai. Demikian juga dengan Naomi, yang dipulangkan dari daerah Moab oleh teguran El Shaddai (Rut 1:20). Sekalipun Naomi menganggap dirinya mengalami malapetaka, namun justru melalui teguran El Shaddai, maka kehidupannya dipulihkan dan ia mendapat anak melalui Rut, yang pada gilirannya menurunkan raja Daud.

Dari kasus-kasus yang telah disebutkan diatas, El Shaddai memenuhi kebutuhan umatNya dengan cara memberi teguran. Tetapi, El Shaddai juga memenuhi kebutuhan umatNya dengan banyak cara lain sesuai kondisi. Dalam kasus berkat Ishak kepada Yakub, El Shaddai diharapkan memberi keturunan dan membuat Yakub menjadi sekumpulan bangsa-bangsa (Kej. 28:3). Tetapi, yang harus diingat ialah pertama kali El Shaddai menyatakan DiriNya adalah memberi teguran. Pengertian-pengertian selanjutnya haruslah dibangun diatas pengertian pertama kali. Mengapa hal ini perlu ditegaskan ?

Karena fungsi dan peran El Shaddai dalam keluarga Kristen, terutama dijalankan oleh seorang isteri atau ibu. Seorang isteri atau ibu memang diharapkan dapat memberi teguran-teguran yang memenuhi kebutuhan, bukan seperti "teguran" Sarai kepada Abram yang ternyata melahirkan Ismael. Jika seorang isteri Kristen memiliki karakter seperti El Shaddai, maka teguran-tegurannya, baik kepada suami atau kepada anak-anak, akan memulihkan dan memberkati keluarga. Jika sebaliknya yang terjadi, maka teguran seorang isteri atau seorang ibu akan menjadi kritikan-kritikan pedas yang merusak, bahkan mungkin ia digelari "perempuan cerewet".

Seorang suami juga perlu belajar menerima teguran-teguran dari isterinya, begitu juga anak-anak. Karena seorang isteri atau ibu, akan memulihkan dan memberkati keluarga melalui teguran-tegurannya, sepanjang karakternya bertumbuh menjadi seperti El Shaddai. Semoga demikian yang terjadi dalam keluarga-keluarga Kristen.

Sumber: Gema Sion Ministry.

Allah Sebagai Bapa

Sumber: Gema Sion Ministry

" Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga" [ Efesus 1:3 ].

Banyak orang menyatakan bahwa Allah adalah Tritunggal, dalam arti tiga pribadi namun satu. Sekalipun kata Tritunggal tidak ada didalam Alkitab, tetapi pemahaman sedemikian sepertinya ada. Tetapi kami lebih senang menjelaskan Allah "Tritunggal", menjadi ALLAH ADALAH KELUARGA. Keluarga sejati adalah satu, sekalipun ada bapa, ibu dan anak-anak. Allah adalah keluarga sejati, oleh sebab itu Allah adalah satu. Sekalipun Allah termanifestasi didalam Bapa, Roh dan Anak, namun sesungguhnya Allah adalah satu pribadi.

Didalam Efesus pasal 1, Allah sebagai Bapa terlihat berfungsi sebagai pemberi segala berkat rohani didalam sorga ( ayat 3 ), melakukan pemilihan atas kita sebelum dunia dijadikan ( ayat 4 ), menentukan kita untuk menjadi anak-anakNya ( ayat 5 ), melimpahkan kekayaan kasih karuniaNya dalam hal pengampunan dosa kepada kita ( ayat 7-8 ), memiliki rahasia kehendakNya ( the secret of His will ) atau rencana ( ayat 9 ). Sekalipun semuanya ini dijalankan didalam AnakNya serta melalui kuasa RohNya, tetapi kita lihat disini bahwa Bapa merupakan sumber segala sesuatu, Dia yang mempunyai rencana dan Penyebab utama segala sesuatu.

Bapa-lah yang menciptakan segala sesuatu melalui AnakNya. Perlu kita pahami dengan baik bahwa menciptakan bukanlah berarti mengadakan sesuatu dari tidak ada menjadi ada. Terjemahan harafiah dari Ibrani 11:3, adalah sesuatu yang terlihat berasal dari sesuatu yang tidak terlihat, artinya dunia jasmani (terlihat) berasal dari Allah (tidak terlihat). Maksudnya, ketika Allah menciptakan segala sesuatu, Ia menggunakan DiriNya sendiri sebagai "bahan dasarnya". Menciptakan bukanlah seperti seseorang yang membuat meja dari kayu sebagai bahan dasarnya. Ketika Allah Bapa menciptakan segala sesuatu, Ia menggunakan DiriNya sendiri sebagai bahan dasarnya. Itu sebabnya kami lebih senang menggunakan istilah "memperluas diri ", dari pada istilah "menciptakan´. Jadi Bapa "memperluas DiriNya" didalam dan melalui ciptaanNya.

Demikianlah Allah sebagai Bapa, telah memperluas DiriNya. Ia adalah sumber segala sesuatu, penyebab segala sesuatu, dan yang memiliki rencana. Dialah yang menyebabkan adanya keluarga jasmani di muka bumi ini, untuk mengekspresikan keluarga sejati yang di sorga. Kalau Bapa yang di sorga memiliki peran dan fungsi sedemikian, bukankah Ia juga menghendaki bapa di muka bumi ini juga memiliki peran dan fungsi yang kurang lebih sama dengan DiriNya. Dengan segala keterbatasan yang ada, diharapkan, bapa jasmani yang dimuka bumi ini dapat "memperluas dirinya" melalui dan didalam anak-anaknya. Bapa jasmani perlu menanamkan tujuan, misi, dan visinya kepada anak-anaknya, agar perjuangan dan pelayanannya dapat diteruskan turun-temurun. Diharapkan bapa jasmani dapat menjadi "sumber" segala sesuatu bagi keluarganya, yaitu "sumber" urapan, pewahyuan, penghiburan, berkat jasmani dst. Diharapkan, bapa mempunyai rencana bagi keluarganya. Tentu semua ini dilakukannya dengan bantuan seorang penolong yaitu seorang istri. Apabila terjadi sesuatu kepada keluarganya, maka wajarlah apabila bapa dimintai pertanggung-jawaban. Istri dan anak-anak tentu mempunyai kesalahan, tetapi yang bertanggung jawab adalah seorang bapa.

Ayah, Ibu, Ketahuilah

Saya Juga Mencintaimu dengan Segenap Jiwa Ragaku...

Kisah berikut ini sangat menyentuh perasaan, dikutip dari buku "Gifts From The Heart for Women" karangan Karen Kingsbury. Buku ini dapat Anda peroleh di toko buku Gramedia, maupun toko buku lainnya. Kisahnya sbb: Bahkan Seorang Anak Berusia 7 Tahun Melakukan Yang Terbaik Untuk ....... Di sebuah kota di California, tinggal seorang anak laki2 berusia tujuh tahun yang bernama Luke. Luke gemar bermain bisbol. Ia bermain pada sebuah tim bisbol di kotanya yang bernama Little League. Luke bukanlah seorang pemain yang hebat. Pada setiap pertandingan, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kursi pemain cadangan. Akan tetapi, ibunya selalu hadir di setiap pertandingan untuk bersorak dan memberikan semangat saat Luke dapat memukul bola maupun tidak.

Kehidupan Sherri Collins, ibu Luke, sangat tidak mudah. Ia menikah dengan kekasih hatinya saat masih kuliah. Kehidupan mereka berdua setelah pernikahan berjalan seperti cerita dalam buku-buku roman. Namun, keadaan itu hanya berlangsung sampai pada musim dingin saat Luke berusia tiga tahun. Pada musim dingin, di jalan yang berlapis es, suami Sherri meninggal karena mobil yang ditumpanginya bertabrakan dengan mobil yang datang dari arah berlawanan. Saat itu, ia dalam perjalanan pulang dari pekerjaan paruh waktu yang biasa dilakukannya pada malam hari. "Aku tidak akan menikah lagi," kata Sherri kepada ibunya. "Tidak ada yang dapat mencintaiku seperti dia". "Kau tidak perlu menyakinkanku," sahut ibunya sambil tersenyum. Ia adalah seorang janda dan selalu memberikan nasihat yang dapat membuat Sherri merasa nyaman. "Dalam hidup ini, ada seseorang yang hanya memiliki satu orang saja yang sangat istimewa bagi dirinya dan tidak ingin terpisahkan untuk selama-lamanya. Namun jika salah satu dari mereka pergi, akan lebih baik bagi yang ditinggalkan untuk tetap sendiri daripada ia memaksakan mencari penggantinya."

Sherri sangat bersyukur bahwa ia tidak sendirian. Ibunya pindah untuk tinggal bersamanya. Bersama-sama, mereka berdua merawat Luke. Apapun masalah yg dihadapi anaknya, Sherri selalu memberikan dukungan sehingga Luke akan selalu bersikap optimis. Setelah Luke kehilangan seorang ayah, ibunya juga selalu berusaha menjadi seorang ayah bagi Luke. Pertandingan demi pertandingan, minggu demi minggu, Sherri selalu datang dan bersorak-sorai untuk memberikan dukungan kepada Luke, meskipun ia hanya bermain beberapa menit saja. Suatu hari, Luke datang ke pertandingan seorang diri. "Pelatih", panggilnya. "Bisakah aku bermain dalam pertandingan ini sekarang? Ini sangat penting bagiku. Aku mohon ?" Pelatih mempertimbangkan keinginan Luke. Luke masih kurang dapat bekerja sama antar pemain. Namun dalam pertandingan sebelumnya, Luke berhasil memukul bola dan mengayunkan tongkatnya searah dengan arah datangnya bola. Pelatih kagum tentang kesabaran dan sportivitas Luke, dan Luke tampak berlatih extra keras dalam beberapa hari ini.

"Tentu," jawabnya sambil mengangkat bahu, kemudian ditariknya topi merah Luke. "Kamu dapat bermain hari ini. Sekarang, lakukan pemanasan dahulu." Hati Luke bergetar saat ia diperbolehkan untuk bermain. Sore itu, ia bermain dengan sepenuh hatinya. Ia berhasil melakukan home run dan mencetak dua single. Ia pun berhasil menangkap bola yang sedang melayang sehingga membuat timnya berhasil memenangkan pertandingan. Tentu saja pelatih sangat kagum melihatnya. Ia belum pernah melihat Luke bermain sebaik itu. Setelah pertandingan, pelatih menarik Luke ke pinggir lapangan. "Pertandingan yang sangat mengagumkan," katanya kepada Luke. "Aku tidak pernah melihatmu bermain sebaik sekarang ini sebelumnya. Apa yang membuatmu jadi begini?"

Luke tersenyum dan pelatih melihat kedua mata anak itu mulai penuh oleh air mata kebahagiaan. Luke menangis tersedu-sedu. Sambil sesunggukan, ia berkata "Pelatih, ayahku sudah lama sekali meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Ibuku sangat sedih. Ia buta dan tidak dapat berjalan dengan baik, akibat kecelakaan itu. Minggu lalu,......Ibuku meninggal." Luke kembali menangis. Kemudian Luke menghapus air matanya, dan melanjutkan ceritanya dengan terbata-bata "Hari ini,.......hari ini adalah pertama kalinya kedua orangtuaku dari surga datang pada pertandingan ini untuk bersama-sama melihatku bermain. Dan aku tentu saja tidak akan mengecewakan mereka.......". Luke kembali menangis terisak-isak.

Sang pelatih sadar bahwa ia telah membuat keputusan yang tepat, dengan mengizinkan Luke bermain sebagai pemain utama hari ini. Sang pelatih yang berkepribadian sekuat baja, tertegun beberapa saat. Ia tidak mampu mengucapkan sepatah katapun untuk menenangkan Luke yang masih menangis. Tiba-tiba, baja itu meleleh. Sang pelatih tidak mampu menahan perasaannya sendiri, air mata mengalir dari kedua matanya, bukan sebagai seorang pelatih, tetapi sebagai seorang anak..... Sang pelatih sangat tergugah dengan cerita Luke, ia sadar bahwa dalam hal ini, ia belajar banyak dari Luke. Bahkan seorang anak berusia 7 tahun berusaha melakukan yang terbaik untuk kebahagiaan orang tuanya, walaupun ayah dan ibunya sudah pergi selamanya............Luke baru saja kehilangan seorang Ibu yang begitu mencintainya........ Sang pelatih sadar, bahwa ia beruntung ayah dan ibunya masih ada. Mulai saat itu, ia berusaha melakukan yang terbaik untuk kedua orangtuanya, membahagiakan mereka, membagikan lebih banyak cinta dan kasih untuk mereka. Dia menyadari bahwa waktu sangat berharga, atau ia akan menyesal seumur hidupnya............... Hikmah yang dapat kita renungkan dari kisah Luke yang HANYA berusia 7 TAHUN : Mulai detik ini, lakukanlah yang terbaik utk membahagiakan ayah & ibu kita. Banyak cara yg bisa kita lakukan utk ayah & ibu, dgn mengisi hari-hari mereka dgn kebahagiaan. Sisihkan lebih banyak waktu untuk mereka. Raihlah prestasi & hadapi tantangan seberat apapun, melalui cara-cara yang jujur utk membuat mereka bangga dgn kita. Bukannya melakukan perbuatan2 tak terpuji, yang membuat mereka malu. Kepedulian kita pada mereka adalah salah satu kebahagiaan mereka yang terbesar. Bahkan seorang anak berusia 7 tahun berusaha melakukan yang terbaik untuk membahagiakan ayah dan ibunya. Bagaimana dengan Anda ? Berapakah usia Anda saat ini ? Apakah Anda masih memiliki kesempatan tersebut ? Atau kesempatan itu sudah hilang untuk selamanya.........? Mohon KEMURAHAN HATI Anda untuk menyebarkan kisah ini kepada sanak keluarga Anda, famili, teman2, rekan2 kerja, rekan2 bisnis, atasan, bawahan, sebuah kelompok organisasi ataupun perusahaan, PELANGGAN, serta siapa saja yang Anda temui. Kisah ini dapat disebarkan melalui internet, ataupun difotocopy per banyak (hanya sekitar Rp. 1,500/10 lbr) untuk dibagi2kan secara gratis kepada orang banyak.

Ada 4 kemungkinan respon dari pihak2 yang telah membaca kisah ini.

PERTAMA, cuek/tidak peduli/tidak mengerti kisah ini.

KEDUA, tersentuh dengan kisah ini, tetapi tidak melakukan apapun.

KETIGA, tersentuh dengan kisah ini, intropeksi diri, tetapi tidak melakukan apapun.

KEEMPAT, tersentuh, intropeksi diri, lalu segera bergerak aktif untuk lebih memperhatikan kedua orangtuanya dan menjadi seorang anak yang lebih berbakti.

Bila di antara sekian banyak orang yang memperoleh kisah ini dari Anda, ada satu saja yang termasuk kategori nomor EMPAT, ini berarti Anda telah berhasil menyadarkan seseorang akan betapa pentingnya orangtuanya. Bayangkan kebahagiaan seorang anak yang bersyukur bahwa ayah dan ibunya masih hidup, lalu berusaha membahagiakan mereka. Lalu orangtuanya yang begitu bahagia mengetahui bahwa anaknya juga begitu mencintainya, seorang anak yang berbakti. Kebahagiaan ini lebih berharga daripada tumpukan emas permata. Mereka sungguh beruntung dengan KEHADIRAN ANDA di dunia ini, yang BERMURAH HATI untuk menyebarkan kisah ini. Ayah, Ibu, Ketahuilah, Saya Juga Mencintaimu Dengan Segenap Jiwa Ragaku....

Sumber: Sahabat Kristen

Ayah, Masihkah Engkau Menjadi Kekasih Hatiku?

Penulis : Saumiman Saud

Ayah kita itu bukan pilihan, ia juga tidak dapat dibeli dengan uang, ia juga tidak dapat diganti yang baru, nah kalaupun terpaksa maka ia akan menjadi ayah tiri, ayah tiri itu bukan yang asli. Itu sebabnya apa yang sudah ditetapkan oleh Tuhan ya terima saja, jangan iri karena ayah kita lebih miskin, jangan membanding-banding ayah kita dengan ayah orang lain. Ayah kita juga tidak dapat disangkal, baik atau brengseknya ia tetap adalah ayah kita. Dalam rangka memperingati hari Ayah, sering kita mendengar orang-orang bersaksi bagaimana kebaikan hati ayahnya, namun pada saat yang sama ada teman-teman yang begitu tersayat hati sebab mereka tidak pernah merasakan sisi-sisi baik dari sang ayah, sehingga tatkala memperingati hari Ayah, mereka merasa tidak ada sesuatu yang istimewa darinya.

Kadang memang ada pembentukan konsep yang salah dari seorang anak terhadap ayahnya, kita inginkan kalau segala sesuatu yang kita minta diberikan oleh ayah, maka ia akan disebut ayah yang baik, namun kalau pas ketemu permintaan kita yang tidak disetujui, maka langsung saja dicap ayah yang jahat. Permisi Tanya, apakah benar ayah yang meberikan segala sesuatu adalah ayah yang baik? Belum tentu bukan? Saya yakin sebagai seorang ayah, ia tahu akan kebutuhan anak-anaknya, ia kenal kita, ia mengerti kita, sehingga ia pasti memberikan yang terbaik buat kita.

Namun kita tidak bisa ingkar, sering juga kita bertemu dengan ayah yang tidak bertanggung jawab, ada ayah yang kerjanya mabuk-mabukkan, berjudi, malas kerja, kadang pulang dari tengah malam sang isteri dan anak-anak dimarahi, kadang juga main pukul atau digebukin. Nah, kondisi demikian, membuat trauma isteri dan anak-anak, bagaimana ayah yang model demikian perlu dikasihi dan dihormati?

Saya bersyukur sekali ada seorang teman mengatakan, bersyukurlah, Tuhan itu tidak pernah salah memberikaan kepada kita ayah ini, walaupun modelnya yang begini, dan itulah yang paling baik. Kepada mereka yang memiliki ayah yang dikategorikan baik, maka kemungkinan besar mereka justru memiliki kelemahan dan tidak kuat menghadapi ayah yang jahat. Itu sebabnya apabila anda memiliki ayah yang tidak masuk kategori baik, anda tetap harus bersyukur, sebab Tuhan ternyata memberikan kekuatan pada anda untuk memiliki ayah yang model begini.

Mengapa kita perlu memperingati hari ayah? Terlepas dari sejarah hari ayah itu sendiri, saya melihat kalau saat ini kita setiap tahun memperingati hari Ayah, maka kita diingatkan kembali akan fakta bahwa kita memiliki seorang ayah, sekalipun modelnya bobrok, tetap kita perlu hormati, sebab bagaimanapun dia adalah ayah kita. Mungkin karakter dan perbuatannya kita tidak bisa terima, tetapi sosok dirinya sebagai ayah kita, tetap adalah ayah kita. Itu sebabnya, mari bedakan antara sosok diri ayah kita dengan perbuatan dan karakternya. Firman Tuhan menegaskan , hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut usiamu di tanah yang diberikan Tuhan Allaahmu kepadamu.

Yang paling paling penting justru terletak pada kita saat ini, kalau kebetulan kita sudah menjadi orang tua yang memiliki anak-anak, maka kita perlu meneladani sikap ayah yang baik, dan mencoba menjadi ayah yang baik pula, kalau memang ayah kita kebetulan berkarakter jelek, kita tidak perlu mencontoh model yang demikian. Saya yakin tidak gampang mengubah diri, tetapi Tuhan Yesus akan menolong kita. Kasih TUhan Yesus kepaad kita, sanggup menembus karakter kita, asal kita suk-rela mau berubah.

Saat ini yang menjadi pertanyaan adalah? Ayahku, masihkah engkau menjadi kekasih hatiku? Kalau masih , bersyukurlah, kalau sudah tidak lagi, mari coba kita selidiki problemnya? Minta Tuhan memberikan kekuatan untuk berdamai kembali. Karena dari Dia ada pengampunan, dari Dia ada Kasih, dari Dia ada perdamaian. Oh Ayah!!

Ayah, Mengapa Engkau Marah Hari Ini?

Setiap ayah itu memiliki kelemahan, kadang kita merasa ia begitu sayang pada kita, ada canda, ada tertawa, ada suka-cita, namun kadang kita melihat ia lagi cembuut, ia lagi sedih, ia lagi marah. Kita tidak tahu apa yang terjadi dengan ayah kita? Mungkin ia merasa tertekan dengan perjuangan hidupnya, usahanya mulai bermasalah, mungkin Mama lagi ngambek padanya, atau ada orang yang menyakiti hatinya? Namun , bagaimanapun keadaannya, ia tetap adalah ayah kita, pernahkah kita coba memahami keadaannya?

Saya ingat sekali kejadian pagi ini, memang tidak seperti biasanya, tetapi pagi ini lumayan agak sibuk, sebab ada beberapa orang yang harus saya hubungi, baik via telepon maupun email. Seperti biasanya, pagi-pagi sekali anak saya yang laki umur 3,5 tahun , ia sudah bangun, biasanya ia langsung menuju ke arah pintu lalu membawa Surat Kabar dan diserahkan kalau tidak ke saya ya ke mamanya, Namun pagi ini dia serahakan ke saya karena mamanya sibuk di dapur. Setelah itu biasanya, ia juga ikut-ikutan baca Surat Kabar itu, padahal ia belum bisa membaca, kecuali abjad dan angka yang empat bulan terakhir ini ia dia belajar sendiri melalui computer mainannya yang diberikan oleh isteri adik saya di Jakarta tahun lalu.

Kemarin pagi hari minggu di gereja memperingati hari Ayah, anak-anak sekolah Mnggu rupanya juga mendapat hadiah berupa alat gambar, baik itu kertas dan juga pe warna. Saya sudah wanti-wanti padanya, saya bilang “ En, namanya En En, perhatikan ya, yang boleh kamu gambar ini hanya kertas ini, lihat yang lalu kamu melukis dinding, papa dan mama dengan setegah mati sudah menghapusnya, kemudia ia menjawab ya.

Benar, kira-kira lima belas menit kemudian, ia masuk ke ruang kerja saya, dan ia membawa selembar kertas yang dia gambar coret-coretan, dia warnai semua, saya memuji dia bagus, bagus sekali, hebat, good job. Lalu saya menempelkan hasil kerjanya di depan pintu kamarnya, ia merasa senang dan berkali-kali ia memperlihatkan gambarnya pada saya dan mamanya, maksudnya dia sudah pandai menggambar dan bagus, saya juga merasa senang bersama dia; ia merasa bahagia sekali. Kami tertawa bersama, kami.

Kemudian saya menerima telepon dan melanjutkan menghubungi beberapa orang lagi via telepon, sementara saya mendengar suara , En En bernyayi-nyani. Kira-kira sepuluh menit kemudian, saya mengintip dia kembali, aduh celaka, ia melukis lukisan di karpet. Langsung saja saya panggil dia dengan agak keras, En En !!!!, kenapa kamu melukis karpet itu? Bukankah saya sudah beritahu kamu, jangan melukis di karpet, hanya boleh melukis di kertas saja. Waktu itu dia kaget, dan saya sempat memukul tangannya dua kali. Matanya mulai berair mau menangis, tetapi saya tahu ia sengaja menahan terus ngak berani menangis.

Kemudian sambil membawa kain basah, dan sabun, saya sengaja memperlihatkan cara membersihkan karpet, dan sambil ngomel-ngomel padanya. En En , diam seribu bahasa, sekali lagi ia tetap menahan tidak berani menangis. Saya katakan padanya, En En harus mendengar papa, kalau tidak mendengar perintah papa pasti dihukum. Sekaranga ini En En bersalah, makanya papa marah.

Selesai saya mebersihkan semuanya, kemudian saya dengan lembut panggil En En kembali, kali ini dia ragu, sebab tadi saya marah padanya, ia takut tidak berani mendekat. Kemudian saya yakinkan dia, papa ngak marah lagi padamu marilah, En En ngak boleh melukis-lukis karpet lagi. Ketika ia berada dipelukan saya, dia langsung menangis sekuat-kuatnya, tadinya ia menahan sedemikian rupa, ia hanya membiarkan air matanaya menetes, namun saat ini , dipelukan saya yang erat ia seakan-akan bilang ama saya, papa maafkan saya. Saya bilang ama dia, papa tidak marah lagi, papa sayang En En, makanya papa tidak suka En En buat hal yang salah. Beberapa saat kemudian menangisnya pun redah, pagi itu juga kami berdamai kembali, dia kembali bernyanyi dan main mobil-mobilanya, dan dia berjanji tidak berbuat lagi.

Ayah, mengapa engkau marah hari ini? Saya tidak mengerti kondisi anda dan hubungan anda dengan ayah anda? Ada orang mengatakan ayahnya tidak pernah marah, mau berbuat apa saja ia serahkan kebebasan sepenuhnya kepada anaknya. Lalu orang ini berkesimpulan ayahnya adalah ayah yang the best baik. Sebaliknya ada orang yang ayahnya begitu diktator, termasuk memilih sekolah, bergaul, dan semua kehidupannya dipantau dengan ketat. Lalu si anak merasa begitu tertekan, dan merasa tersiksa, kemuadian ia berkesimpulan bahwa di dalam diri ayahnya tidak ada kenangan manis. Ayah kejam dan diktator dan sebagainya.

Bagaimana, dan siapa ayah kita, rasanya semua Ayah memiliki kekurangan dan kelebihannya. Kita tidak berhak mengelak kenyataan bahwa ia adalah ayah kita,. Tanpa dia tentu tidak mungkin ada kita. Apabila engkau pernah mendapat perlakuan yang baik dari ayahmu selama hidup ini, bersyukurlah, dan terapkanlah kembali cara ayah terhadap anak-anakmu. Namun apabila engkau tidak pernah merasakan kesan dan perlakuan baik dari ayah, maka ingatlah jangan menerapkan cara pengajarannya itu pada anak-anaka anda; walaupun mungkin banyak sedikit-banyaknya anda terpengaruh olehnya. Oh , Ayah, masihkah engkau marah saat ini?

Ayahmu dan Ibumu

Penulis : Eka Darmaputera

Tahukah Anda bahwa hukum kelima dari Dasa Titah mempunyai dua versi? Yang pertama termuat dalam Keluaran 20:12, bunyinya: "Hormatilah ayahmu dan ibumu". Yang kedua tertulis dalam Imamat 19:31, bunyinya: "Setiap orang di antara kamu haruslah menyegani ibunya dan ayahnya ." Yang satu menyebut "ayah" terlebih dahulu, baru "ibu". Sementara yang lain, sebaliknya. Besar kemungkinan tidak ada perbedaan substansial yang pantas dibicarakan mengenai perbedaan tersebut. Namun, para rabi Yahudi toh tak urung menangkap juga nuansa yang-menurut mereka-cukup bermakna.

Menurut mereka, perbedaan tersebut pasti bukan kebetulan semata. Tapi ada tujuannya, yaitu merupakan penegasan, bahwa hormat orang kepada "ayah" harus seimbang dan sama besar dengan hormat kepada "ibu".

Bagi kita, penafsiran seperti itu mungkin terasa mengada-ada. Tapi dalam konteks kehidupan masyarakat Timur Tengah yang patriarkhal pada waktu itu-bahkan juga masyarakat kita sampai kini-, kesimpulan tersebut menjadi amat penting.

Salah seorang rabi yang terkemuka mengemukakan bahwa melalui perbedaan yang subtil itu Tuhan ingin menyampaikan sesuatu. "Adalah wajar," begitu tulis sang rabi, "bila seorang anak merasa lebih akrab dengan ibunya. Sebab bukankah sang ibu itulah yang telah mengandung dan melahirkan, kemudian menimang dan mengasuhnya?" Namun justru karena kecenderungan alamiah inilah, Tuhan menitahkan agar orang menghormati ayah terlebih dahulu-baru ibu.

Di pihak lain, juga lumrah semata, bila seorang anak menghormati ayahnya lebih dari pada ibunya. Bukankah dia sang kepala keluarga, dan dari dia pula ia mulai belajar mengenal Allah serta hukum-hukum-Nya? Namun justru karena kecondongan naluriah inilah, Tuhan menitahkan agar orang menghormati ibu terlebih dahulu-baru ayah". "Ayah" seimbang dengan "ibu". Betapa progresifnya!

* * *

PERINTAH untuk menghormati orang tua, bagi umat Israel, sungguh sentral dan vital. Begitu pentingnya, sehingga baik berkat yang dijanjikan Allah bagi mereka yang mematuhinya, maupun hukuman yang diancamkan Allah bagi para pelanggarnya, kedua-duanya sama dahsyatnya.

Berkat yang dijanjikan jelas termuat dalam titah itu sendiri, yakni "supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu" (Keluaran 20:12). Janji yang dahsyat, sebab tak ada berkat lain yang lebih didambakan orang, dari pada terwujudnya masa depan yang diimpikan.

Dan tak ada masa depan yang lebih diimpi-impikan, dari pada diperkenankan menikmati seluruh sisa usia yang panjang di "negeri idaman". Bukankah demikian?

Ya! Namun, jangan kita lupa memperhatikan ancaman kutuk-Nya! Tidak kalah dahsyat! Berbuat durhaka terhadap orang-tua, dalam pranata hukum Israel, ternyata dianggap setara dengan tindak pidana kelas berat. Bahkan disejajarkan dengan dosa yang paling serius: dosa menghujat Allah. "(Orang) yang mengutuki ayahnya dan ibunya, pastilah ia dihukum mati " (Imamat 20:9; 24:15)

Bukan cuma itu. Menurut si Arif Bijaksana, "Siapa mengutuki ayah atau ibunya, pelitanya akan padam pada waktu gelap" (Amsal 20:20). Artinya, berkat tak akan mau singgah dalam hidup seorang anak durhaka, baik dalam hidupnya di dunia ini, terlebih-lebih di akhirat nanti. Kemudian katanya pula, "Mata yang mengolok-olok ayah, dan enggan mendengarkan ibu, akan dipatuk gagak lembah dan dimakan anak rajawali" (Amsal 30:17). Artinya, sekiranya pun dalam hidupnya yang bersangkutan tidak mengalami kekurangan apa-apa, matinya akan amat hina. Tak ada orang mau merawat jasadnya. Bahkan tak ada tanah bersedia menerima jenasahnya. Mayatnya habis menjadi makanan gagak lembah dan anak rajawali.

* * *

SEMANGAT yang sama kita jumpai pula dalam Perjanjian Baru. Tidak kurang dari Yesus sendiri, yang mengecam keras ajaran pemimpin-pemimpin agama Yahudi, bahwa seolah-olah oke-oke saja orang menelantarkan kewajiban terhadap orang-tua, asalkan demi memenuhi kewajibannya terhadap Tuhan (Matius 7:9-13)

"Sama sekali tidak oke!", kata Yesus. "Kewajiban terhadap Tuhan" dan "kewajiban terhadap orang-tua" bukanlah pilihan "ini-atau-itu". Melainkan suatu kewajiban rangkap "baik-ini-maupun-itu". Mustahil orang sanggup memenuhi kewajibannya kepada Tuhan, sementara ia menelantarkan orang-tuanya.

Firman Tuhan amat jelas dan tegas. "Barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya" (1 Yohanes 4:20). Sebaliknya, mustahil pula orang mengasihi orang-tuanya-atau siapa saja-tetapi menafikan sang Sumber Kasih itu sendiri, yaitu Allah, yang adalah kasih itu sendiri (1 Yohanes 4:8).

Orang yang mengklaim bahwa ia mengasihi Allah tapi menutup hati terhadap sesamanya, atau sebaliknya berkata mengasihi sesama tapi tidak mengasihi Allah, adalah penipu. Paling sedikit, ia munafik. Kasihnya pura-pura, sebab bersyarat dan berpamrih. Yang dikasihinya, tak ada yang lain, hanyalah dirinya sendiri.

* * *

MELALUI kehidupan pribadi-Nya, Yesus memberi contoh kongkret mengenai apa artinya "menghormati orang-tua". Dari rentang usianya yang pendek-33 tahun -tak kurang dari 30 tahun Ia lalui di Nasaret. Di desa-Nya. Di rumah keluarga-Nya. Bersama orang-tua dan adik-adik-Nya.

Sepuluh-per-sebelas dari seluruh hidup-Nya, Ia manfaatkan untuk "urusan keluarga". "Hanya" satu-per-sebelas Ia pakai untuk "urusan pelayanan". Tapi Ia membuktikan, betapa pelayanan-Nya tak sedikit pun berkurang nilai, makna dan dampaknya, hanya karena "kuantitas" waktu yang tersedia relatif singkat. Yang menentukan adalah "kualitas"nya.

Mengenai apa saja yang terjadi selama 30 tahun itu, Alkitab bungkam seribu bahasa. Namun demikian, toh ada yang dengan bertanggungjawab dapat kita katakan berhubung dengan 30 tahun yang "misterius" itu.

Para penafsir pada umumnya sepakat, bahwa Yesus mempergunakan kurun waktu yang lumayan panjang itu untuk memenuhi "tanggungjawab keluarga". Sebab Yusuf-sang ayah dan kepala keluarga-besar kemungkinan telah meninggal dalam usia muda. Mengenai "dugaan" ini, beberapa alasan dapat dikemukakan.

Misalnya yang mencolok adalah, bahwa Alkitab cukup banyak berbicara mengenai Maria, sang ibu. Tapi tak sepatah kata pun tentang Yusuf. Mengapa ini? Dalam kisah perjamuan kawin di kota Kana (Yohanes 2:1-11), misalnya, Yohanes menyebutkan kehadiran Maria. Padahal sekiranya Yusuf masih hidup, ia-lah yang lebih pantas hadir di pesta, dan namanyalah yang patut disebut.

Bila ayah telah tiada, maka anak lelaki tertualah yang mengambil alih tanggungjawab. Dan itulah yang Yesus lakukan! Selama 30 tahun itu, Yesus bukan hanya seorang "anak tukang kayu". Tapi Ia sendirilah "si tukang kayu" itu, dengan apa Ia menghidupi keluarga-Nya. Berlatar-belakangkan "profesi"-Nya itulah, Ia dapat berkata, "kuk yang Ku-pasang itu enak" (Matius 11:30). Agaknya spesialisasi Yesus adalah membuat "kuk". Dan hasil pekerjaan-Nya prima; "enak" dipakai.

Tidak kurang dari 30 tahun, menunggu sampai adik-adikNya mampu mandiri, Yesus mewujudkan darma-bakti-Nya kepada orang-tua dan keluarga. Darma-bakti yang terus diperlihatkan-Nya sampai ketika Ia sudah berada di batas ajal! (Yohanes 19:26-27).

* * *

MENGHORMATI orang tua, kita tahu, bukan hanya kebajikan yang eksklusif Israel. Kebajikan ini bersifat universal. Legenda-legenda yang kita warisi, seperti si Malin Kundang misalnya, membuktikannya. Konfusianisme, apa lagi. Menurut ajaran ini, tidak ada yang lebih keji dari pada perbuatan seorang anak "put hao"-anak durhaka yang tidak berbakti kepada orang-tua.

Sebab itu, salah besarlah orang yang beranggapan, bahwa -karena Taurat tidak mengikat lagi-maka orang kristen bebas menjadi orang-orang "put hao". Tidak! Kata-kata Paulus begitu tegas dan jelas. "Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu - ini adalah perintah yang penting ." (Efesus 6:1-3).

Mengapa penting? Tidak lain karena ini merupakan urat nadi utama peradaban manusia. Ketika orang kehilangan rasa hormat kepada apa pun dan kepada siapa pun, maka hancur lebur pulalah peradaban serta merta. Pasti!

Perintah menghormati orang-tua menegaskan, bahwa ada yang mesti kita hormati di bumi ini. Ada yang mesti kita hormati, bukan karena lolos kualifikasi.

Bukan pula karena dengan melakukannya, kita akan menarik manfaat. Tapi yang kita hormati, semata-mata karena "ia" adalah "ia". Yang kita hormati semata-mata karena mereka adalah ayah dan ibu kita. Ya, betapa pun buruk penampilan mereka! Betapa pun tak membanggakannya prestasi mereka bagi prestise kita!

Bukankah ini adalah bayangan mini dari hormat kita kepada Tuhan? Yang wajib kita hormati, semata-mata karena Ia adalah Tuhan. Titik. Bukan karena Ia begini atau begitu. Bukan pula karena ini akan mengakibatkan ini atau itu.

Ini adalah sikap yang lahir dari cinta yang murni. Cinta yang mengatakan, "Ich liebe dich weil du da bist"? Bukan "Ich liebe dich weil du so bist". Aku mencintaimu karena engkau adalah engkau! Bukan karena engkau begini atau begitu.

Sumber: http://www.glorianet.org/ekadarmaputera/ekadayah.html

Bagaimana Keluarga Dimulai

" Tuhan Allah berfirman :'Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." [ Kejadian 2:18 ].

Keluarga-keluarga yang ada dimuka bumi ini, adalah merupakan rancangan Allah sendiri. Dialah yang berinisiatif menciptakan keluarga di muka bumi ini. Ketika Tuhan Allah membentuk manusia dari debu tanah serta menghembuskan nafas hidup kedalam hidungnya, dan menempatkannya dalam taman Eden, maka Tuhan sendirilah yang berfirman, "tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja".

Ia sendiri yang mengambil " salah satu rusuk " dari manusia itu, dan dari " rusuk " itu dibangunNyalah seorang perempuan. Pengertian " rusuk " disini adalah ruang [chamber]. Jadi ketika Tuhan Allah mengambil "ruang" dari manusia itu, maka manusia itu menjadi "tidak lengkap" lagi tanpa seorang perempuan. Tanpa seorang perempuan, manusia itu tidak dapat memultiplikasikan dan memperluas dirinya melalui anak-anak ; karena hanya perempuan [ womb-man = manusia rahim ] yang dapat memberikan anak-anak kepadanya. Tanpa seorang perempuan, maka manusia itu kehilangan "sebagian dirinya", yang membuatnya "tidak utuh". Tetapi semua ini adalah rancangan sang Pencipta.

Demikianlah Tuhan Allah menghadirkan seorang perempuan bagi manusia itu sebagai penolong yang sepadan dengannya. Maka terciptalah apa yang disebut keluarga. Kejadian pasal 2 merupakan kisah bagaimana Tuhan Allah sendiri membangun keluarga pertama di muka bumi ini.

Setelah manusia jatuh dalam dosa, kita lihat ada banyak orang mencoba membangun keluarga. Namun tidak jarang keluarga-keluarga ini hancur berantakan dan tercerai-berai setelah sejangka waktu berjalan. Atau, kalaupun tidak bercerai, kehidupan yang ada di dalamnya sudah tidak seperti keluarga lagi. Masing-masing anggota keluarga sudah berjalan sendiri-sendiri. Suami, istri dan anak-anak mempunyai tujuan hidup masing-masing. Walaupun mereka masih hidup satu rumah, tidak ada lagi kesatuan seperti yang direncanakan Allah semula bagi suatu keluarga. Ini bukan saja terjadi pada keluarga-keluarga pada umumnya, namun seringkali terjadi juga dalam keluarga-keluarga yang menyebut dirinya Kristen. Mengapa ? Supaya genaplah firman Tuhan, "Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang membangunnya;". Jika bukan Tuhan yang membangun keluarga, sia-sialah usaha orang membangunnya, baik itu orang-orang pada umumnya maupun orang Kristen.

Sdr/i, keluarga adalah rancangan dan ciptaan Allah sendiri. Tak ada seorangpun yang dapat membangun keluarga. Marilah kita berserah dan mengizinkan Dia membangun keluarga kita sendiri. Amin.

Sumber: Gema Sion Ministry

Bapa atau Bapa-Bapa-An

Hari Minggu kita memperingati Father’s Day, saya ucapkan selamat kepada para Bapa, supaya melalaui peringatan ini para Bapa lebih mengasihi Tuhan, mengasihi istri dan mengasihi anak-anak. Tahukah saudara dari mana sesungguhnya asal mula Fathers’ Day ini?

Fathers’ Day berasal dari Amerika, lahir dari satu ide seorang bernama Henry Jackson yang ingin menyatakan penghargaan atau appraciation terhadap bapa-bapa. Ide itu dimulai dari tempat dimana Henry tinggal dan menjadi suatu kebiasaan didaerah mereka yang kemudian berkembang ke daerah-daerah yang lain. Pada tahun 1972 pemerintah Amerika menjadikan tradisi itu menjadi hari nasional. Sampai hari ini setiap awal bulan September kita merayakan Fathers’ Day.Itulah sedikit latar belakang dari Fathers’ Day.

Perumpamaan tentang "Anak yang hilang" ini menggambarkan tentang kasih dan sikap Bapa yang di Sorga terhadap anak-anakNya. Hal ini disebabkan sikap orang-orang Farisi dan para ahli Taurat yang tidak bisa menerima pelayanan Yesus terhadap pemungut cukai dan orang-orang berdosa. Mereka memandang rendah dan risih kepada orang banyak yang tidak mengenal Taurat Allah, mereka juga menghindari untuk bergaual dengan mereka.` Dalam hal ini Yesus ingin membenarkan tindakan-Nya dengan menggambarkan bagaimana sikap Allah terhadap orang-orang berdosa.

Coba kita lihat bagaimana sikap Bapa kita yang di Sorga terhadap anak-anakNya:

A. BAPA DI SORGA MENGHARGAI HAK ANAK-ANAKNYA

Tatkala anak bungsu menuntut pembagian harta warisan kepada bapanya, sebenarnya sang bapa cukup banyak alasan untuk tidak membagikannya. sebab pada waktu itu bapanya masih hidup, tentunya segala harta benda itu masih menjadi milik si bapa. Tetapi sang bapa tidak menerapkan prinsip ini terhadap si bungsu, ia tidak mempertahankan kuasanya; namun ia justru menghargai kebebasan dan hak anaknya. Dengan suka rela ia membagikan harta warisan tersebut pada si bungsu. Hal ini dapat kita lihat dalam ayat 12 "Ia membagi-bagikan harta kekayaan itu kepada kedua anaknya." Demikian juga pada waktu anak bungsu ini hendak menjual seluruh harta kekayaannya dan hendak merantau ke negeri yang jauh, bapanya tidak memaksakan anaknya untuk taat kepadanya. Sekali lagi ia memberikan kebebasan yang penuh kepada anaknya. Ini berarti bahwa sang bapa tidak diktator atau otoriter yang memaksa anaknya untuk tunduk pada kehendaknya.

Demikian juga dengan Allah Bapa di Sorga, Ia tidak pernah memaksakan kehendak-Nya supaya kita taat. Ia menghargai hak kita, oleh sebab itu Ia memberikan kebebasan kepada kita. Allah kita juga bukan Allah yang selalu menerapkan peraturan-Nya sehingga manusia mau tidak mau harus tunduk. Oleh sebab itu jangan salah paham, semua dosa yang kita pikul bukan merupakan kehendak Allah tetapi kehendak kita yang senantiasa melawan Tuhan. Dosa kita juga muncul dari ketidaktaatan kita pada-Nya.

Ada seorang bapa yang mempunyai seorang anak laki-laki, sejak kecil bapanya membiayai dia di sekolah yang terkenal dan setelah tamat SMA anaknya ini ingin menjadi insinyur, tetapi bapanya melarangnya, sang bapa ingin anaknya menjadi dokter. Ia tidak memberikan kebebasan kepada anaknya, tetapi ia memaksakan kehendaknya, ia tidak mau tahu yang penting anaknya harus menjadi dokter. Sang anak dengan terpaksa masuk ke Fakultas Kedokteran, namun karena dengan terpaksa maka anaknya itu tidak begitu serius untuk menekuninya dan akhirnya ia gagal. Ia gagal bukan karena ia bodoh, tetapi karena ia memang tidak menyukai bidang ini. Ini merupakan gambaran tentang bapa yang di dunia, tetapi tidaklah demikian dengan Bapa kita yang di Sorga, IA memberikan hak kepada kita untuk memilih, IA tidak pernah mengikat kita, IA tidak pernah memaksa kita. IA bahkan selalu memberikan yang terbaik bagi kita, namun sering kali manusia menyalahgunakan haknya.

Di dalam hidup kita, Allah menghargai hak kita untuk melakukan segala sesuatu. Janganlah kita memakai hak yang diberikan oleh Allah kepada kita untuk berbuat dosa. Jikalau Allah sudah begitu baik kepada kita, IA menghargai hak kita untuk melakukan segala sesuatu, marilah kita memakai waktu, kesehatan, dan kekuatan yang diberikan Tuhan kepada kita untuk melakukan hal-hal yang baik juga, sebab apabila sudah tiba waktu penghukuman maka Allah Yang Maha Adil akan menetapkan keputusan-Nya berdasarkan kesalahan manusia di dalam mempergunakan kebebasan mereka. Nah pada waktu itu kesempatan telah tidak ada, menyesalpun tidak ada gunanya.

B. BAPA DI SORGA MENANTI ANAK-ANAKNYA DENGAN SETIA

Tindakan anak bungsu membuat sang bapa sangat sedih hati dan kecewa. Anak bungsu menjual seluruh hartanya lalu pergi ke negeri yang jauh dan di sana ia menghabiskan semua harta milik ayahnya dengan hidup berfoya-foya dan bersenang-senang, hidup di dalam dosa dan percabulan akhirnya ia menjadi miskin. Sewaktu miskin, maka semua teman-teman pestanya satu persatu pun meninggalkannya. Keahlian si anak bungsu tidak ada sama sekali, ia hanya bisa memberi makan babi, dan inilah satu-satunya pekerjaan yang dapat dikerjakan selama di kampong halaman. Menjaga babi merupakan pekerjaan sangat menjijikkan bagi orang Yahudi; karena mereka memandang babi sebagai binatang yang paling najis. Tatkala si bungsu memberi makan babi, ia baru sadar bahwa sebenarnya ia telah berbuat salah pada bapanya, ia lapar tetapi tidak ada makanan yang boleh dia makan. Ia kemudian bernostalgia; tatkala ia berada di rumah bapanya, tidak akan begitu susah; makanan tersedia berlimpah. Akhirnya ia tidak dapat lagi menahan kelaparannya maka ia makan makanan babi itu juga. Semantara itu sang bapa setia menanti anaknya pulang. Lihat ayat 20a "Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya, ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya." Penulis yakin bahwa bapanya tentu tidak berdiri menunggu pada hari itu saja, ia saban hari berdiri di sana, menanti dan menanti anaknya.

Bapa kita di Sorga juga demikian, Ia senantiasa menanti anak-anak-Nya yang tidak setia dengan setia, walaupun anak-anak-Nya itu telah jauh dari-Nya, walaupun anak-anak-Nya tidak setia. Bapa yang di Sorga selalu dengan tangan terbuka menanti kita datang kembali kepada-Nya dengan setia.

Di dalam hidup kita, apabila kita merasakan sudah lama meninggalkan Tuhan, kita sudah lama hidup berkecimpung dalam dosa dan kenajisan, kita merasa begitu terikat dan sengsara, ingatlah bahwa Allah Bapa sedang menanti kita dengan setia agar kita pulang kembali kepada-Nya. Kalau kita merasa sudah lama meninggalkan Tuhan dan ingin kembali kepadaNya, mulailah saat ini juga, jangan tunda lagi.Tuhan senantiasa menanti kedatangan kita dengan setia.

C. BAPA DI SORGA MEMBERIKAN PENGAMPUNAN KEPADA ANAK-ANAK-NYA

Ketika anak yang bungsu ini menyesal, bertobat dan pulang ke rumah bapanya; maka bapanya mendapatkan dia, lalu memeluk dan mencium anaknya sebagai tanda pengampunan sebelum anaknya itu sendiri mengatakan sesuatu. Tatkala si bungsu berkata "Bapa, aku telah berdosa terhadap Sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa." Bapanya segera memanggil para pelayannya dan berkata : "Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersuka-cita."

Semua ini menunjukkan bahwa sang bapa menyambut dengan hangat kedatangan anaknya dan memperlakukannya dengan sikap yang menghargai. Lalu dikenakan jubah kepadanya yang melambangkan kebenaran, perangai yang suci. Tangannya diberi cincin yang melambangkan hak atau kuasa menjadi anak Allah. Kakinya dipakaikan sepatu yang baru melambangkan seseorang yang kembali kepada Tuhan dan Yesus Krisrus telah memberilkan kepada kita darah-Nya yang mulia untuk pengampunan dosa kita. Saudara, Bapa yang di Sorga memberikan pengampunan kepada anak-anakNya yang mau bertobat dan datang kepada-Nya karena Tuhan Yesus Kristus telah menebus dosa kita dengan darah-Nya yang mulia.

Sering kali di Surat Kabar kita membaca berita yang berbunyinya demikian: "Mulai hari ini, tanggal, bulan dan tahun, anak kami yang bernama, alamat, pekerjaan, tidak lagi kami akui sebagai anak. Oleh sebab itu segala tindak-tanduknya sudah berada di luar tanggung jawab kami. Tanda tangan, orang tua, nama jelas." Ini adalah suatu gambaran tentang orang tua yang tidak bisa mengampuni anaknya, tetapi Bapa yang di Sorga tidak demikian. Bapa kita yang di Sorga senantiasa memberikan pengampunan kepada anak-anak-Nya walaupun dosa mereka merah seperti Kirmizi, apabila kita bertobat dan meminta pengampunan dari-Nya, Tuhan akan memutihkannya seperti salju. Luar biasa.

Demikianlah dalam hidup kita ini, apabila kita menyesal atas segala perbuatan dosa kita yang sudah terlanjur dilakukan; kemudian kita bertobat maka Tuhan pasti menerima kita kembali dan memberikan pengampunan kepada kita melalui darah-Nya yang Kudus. Di dalam 1 Yohanes 1:9 di situ dikatakan "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan."

Marilah kita mengaku dosa-dosa kita karena Bapa yang di sorga memberikan pengampunan kepada kita anak-anak-Nya. Sekarang juga telah tersedia Anugerah bagi siapa saja yang mau mengakui dan menyatakan kesalahannya dan minta pengampunan pada Tuhan. Kita telah melihat bagaimana sikap Bapa kita yang di Sorga terhadap anak-anak-Nya, Ia menghargai hak mereka, Ia menantikan mereka dengan setia dan Ia memberikan pengampunan bagi mereka. Sekarang biarlah kita datang pada Tuhan, kembali pada-Nya, minta supaya hidup kita diperbaharui. Amin.

JANGAN KIRIMI AKU BUNGA . . .

Aku mendapat bunga hari ini meski hari ini bukan hari istimewa dan bukan hari ulangtahunku. Semalam untuk pertama kalinya kami bertengkar dan ia melontarkan kata-kata menyakitkan. Aku tahu ia menyesali perbuatannya karena hari ini ia mengirim aku bunga.

Aku mendapat bunga hari ini. Ini bukan ulangtahun perkawinan kami atau hari istimewa kami. Semalam ia menghempaskan aku ke dinding dan mulai mencekikku Aku bangun dengan memar dan rasa sakit sekujur tubuhku. Aku tahu ia menyesali (perbuatannya) karena ia mengirim bunga padaku hari ini.

Aku mendapat bunga hari ini, padahal hari ini bukanlah hari Ibu atau hari istimewa lain. Semalam ia memukul aku lagi, lebih keras dibanding waktu-waktu yang lalu. Aku takut padanya tetapi aku takut meningggalkannya. Aku tidak punya uang. Lalu bagaimana aku bisa menghidupi anak-anakku?

Namun, aku tahu ia menyesali (perbuatannya)semalam, karena hari ini ia kembali mengirimi aku bunga. Ada bunga untukku hari ini. Hari ini adalah hari istimewa : inilah hari pemakamanku. Ia menganiayaku sampai mati tadi malam. Kalau saja aku punya cukup keberanian dan kekuatan untuk meninggalkannya, aku tidak akan mendapat bunga lagi hari ini . . .

PESAN MORAL:

Sekedar untuk perenungan kita bahwa sebaiknya wanita jangan berpangku sepenuhnya pada laki-laki tanpa memiliki ketrampilan apa-apa dan janganlah laki-laki menganiaya wanita, Lelaki yang terhormat dan beradab adalah lelaki yang bisa memperlakukan wanita/istrinya secara baik. Kiranya kita selalu di lindungi oleh Tuhan Yesus Kristus.

Bapa Sebagai Imam

"UmatKu binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu maka Aku menolak engkau menjadi imamKu; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu" [Hosea 4:6].

Dari ayat diatas, kita dapat melihat fungsi seorang Imam bagi Umat pilihan Tuhan. Seorang Imam bertanggung jawab memberi pengajaran, agar Umat Tuhan tidak binasa dan dapat mengenal Allah. Tetapi di zaman Hosea, para Imam menolak pengenalan akan Allah, dan karenanya gagal menuntun Umat Tuhan. Akibat kegagalan mereka, bukan saja Allah menolak para Imam tetapi juga melupakan anak-anak mereka.

Seorang Imam berfungsi sebagai perantara. Imam harus menghadap Allah demi kepentingan Umat, dan ia harus mengajar Umat demi kepentingan Allah. Fungsi perantara seperti ini sangat penting, karena jika gagal maka yang terkena akibatnya bukan hanya para Imam tapi juga Umat Tuhan. Dalam ayat diatas kita lihat akibat kegagalan para Imam, yaitu Allah melupakan anak-anak mereka.

Kasus kegagalan para Imam pada ayat diatas, terjadi dalam konteks suatu bangsa. Bila kasus ini kita lihat dalam konteks keluarga, bagaimana akibatnya ? Siapakah "para Imam" dalam satu keluarga ? Tidak diragukan lagi, "para Imam" dalam suatu keluarga adalah seorang Bapa yang dibantu oleh seorang Ibu. Bila seorang Bapa gagal menjalankan fungsi ke-imam-an dalam keluarganya, maka Allah akan melupakan anak-anaknya. Hal ini sangat menyedihkan sekali. Apa jadinya dengan anak-anak kita, jika Allah telah melupakan mereka ?

Rasul Yohanes yang telah lanjut usia itu berkata, "Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran". Sukacita terbesar bagi seorang bapa sejati, ditentukan oleh anak-anaknya. Betapa bahagianya seorang bapa, jika anak-anaknya tidak dilupakan Allah.

Tetapi semuanya ini hanya dapat terjadi jika bapa dapat menjalankan fungsi ke-imam-an dengan benar. Dalam konteks Israel, kekudusan seorang Imam diuraikan dengan jelas didalam Imamat 21. Seseorang yang tidak memenuhi standar kekudusan sesuai dengan yang telah ditetapkan, tidak dapat berfungsi sebagai Imam. Jika seorang bapa tidak memenuhi standar kekudusan yang Tuhan minta, bagaimana ia dapat berfungsi sebagai Imam bagi keluarganya ? Seorang bapa harus belajar menjadi pendoa syafaat yang tangguh bagi anak-anaknya. Seorang bapa harus belajar menjadi pengajar yang diurapi bagi anak-anaknya. Seorang bapa harus belajar menjadi teladan dalam kekudusan hidup bagi anak- anaknya. Dan semuanya ini tidak mudah dijalankan. Tetapi tidak ada pilihan lain. Tuhanlah yang telah menetapkan para Bapa agar berfungsi sebagai Imam. Semoga para Bapa menyadari semua perkara ini.

Sumber: Gema Sion Ministry

Bapa Sebagai Nabi

"…tidak ada satupun dari firmanNya itu yang dibiarkanNya gugur. Maka tahulah seluruh Israel…,bahwa kepada Samuel telah dipercayakan jabatan nabi Tuhan" [I Samuel 3:19-20].

Nabi adalah seorang yang dipercayakan dan diberikan firman Tuhan untuk disampaikannya kepada Umat Tuhan. Firman yang disampaikan seorang nabi tidak harus selalu berbentuk nubuat (sesuatu yang akan Tuhan lakukan di masa depan). Bahkan yang terutama, seorang nabi dipercayakan firman yang baru dan segar yang berlaku saat ini. Apa yang akan Tuhan kerjakan dan yang Tuhan kehendaki bagi UmatNya saat ini, dinyatakanNya pada seorang nabi, agar firmanNya diteruskan pada UmatNya. Nabi adalah penyambung lidah Tuhan.

Pada ayat diatas ditegaskan bahwa tidak ada satupun dari firmanNya itu yang dibiarkanNya gugur, dalam arti Tuhan selalu bertindak sesuai dengan firman yang telah disampaikan Samuel. Karena kepada Samuel dipercayakan firman Tuhan, maka seluruh Israel tahu bahwa Samuel adalah seorang nabi.

Sekarang, apakah yang dimaksud dengan Bapa sebagai Nabi ? Artinya seorang bapa, dengan bantuan seorang ibu, dipercayakan firman Tuhan yang baru dan segar, agar diteruskan kepada anak-anaknya. Dengan demikian, anak-anak dituntun oleh firman Tuhan, sehingga anak-anak memiliki visi serta pengertian yang tepat, yang sesuai dengan situasi saat ini, agar anak-anak dapat melayani Tuhan dan meneruskan perjuangan serta visi orang tua.

Karenanya, seorang bapa perlu membangun hubungan yang akrab dengan Tuhan, agar ia dapat mendengar suaraNya dan dipercayakan firmanNya, yang pada gilirannya dapat menuntun anak-anak sehingga anak-anak mengerti kehendak Tuhan bagi diri mereka sendiri saat ini. Seorang bapa perlu memiliki firman, visi dan ministry yang jelas. Inilah warisan terbaik dari seorang bapa bagi anak-anaknya. Bapa bukan saja harus mengumpulkan harta bagi anak-anaknya ( II Korintus 12:14 ), tetapi yang terutama, seorang bapa harus mewariskan firman, visi dan ministry kepada anak-anaknya. Bukan pendeta atau guru sekolah minggu, yang harus mewarisi firman kepada anak-anak kita, walaupun mereka dapat membantu. Tetapi tugas bapalah, untuk mewariskan firman Tuhan kepada anak-anaknya.

Didalam kekristenan, umumnya para bapa berpikir bahwa tugasnya adalah mengumpulkan uang bagi anak-anaknya, sedangkan tugas pendeta dan guru sekolah minggu adalah memberi firman bagi anak-anaknya. Kalau mau ditelusuri, penyakit ini disebabkan kejatuhan gereja yang telah berlangsung berabad-abad, dimana gereja dibelah menjadi golongan imam / pendeta, dan golongan Umat / jemaat. Perlu pewahyuan radikal untuk menyembuhkan penyakit yang sudah berabad-abad ini. Tetapi bagaimanapun juga seorang bapa bertanggung jawab memenuhi kebutuhan utama anak-anaknya, yaitu kebutuhan akan firman Tuhan. Anak-anak tidak hidup dari roti saja, melainkan juga firman Tuhan. Untuk itu seorang bapa haruslah berfungsi sebagai nabi bagi anak-anaknya.

Sumber: Gema Sion Ministry

Bapa Sebagai Pendidik

"Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan Tuhan, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya Tuhan memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikanNya kepadanya" [ Kejadian 18:19 ].

Latar belakang ayat ini adalah suatu kejadian dimana Allah memiliki rencana hendak memusnahkan Sodom dan Gomorah disebabkan dosa-dosa yang terjadi dikedua kota tersebut. Tetapi Allah berpikir apakah Ia akan menyembunyikan rencanaNya kepada Abraham, atau tidak. Mengapa Allah berpikir demikian, adalah karena Ia telah memilih Abraham agar ia menjadi bangsa yang besar dan melalui dia, seluruh kaum di muka bumi mendapat berkat. Demikianlah kejadian yang menjadi latar-belakang ayat diatas.

Ayat diatas [ Kejadian 18:19] mengungkapkan bagaimana tindakan Abraham sebagai orang yang dipilih Tuhan, terhadap anak-anaknya serta keturunannya. Dengan tegas Abraham memerintahkan anak-anaknya serta keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan Tuhan. Tindakan Abraham ini sama seperti tindakan Yosua ketika ia berkata pada orang Israel bahwa, "aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan !" [ Yosua 24:15 ].

Didalam salah satu terjemahan harafiah dari ayat diatas, tertulis demikian, "for I have known him, that he commandeth his children" Dari terjemahan harafiah ini ( yang lebih tepat ), kita dapat menarik kesimpulan ( dari sisi manusia ) bahwa salah satu alasan mengapa Allah memilih Abraham, adalah karena Ia telah mengetahui bahwa Abraham akan memerintahkan anak-anaknya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan Tuhan. Kalau memang benar demikian, betapa pentingnya bagi seorang bapa untuk memerintahkan anak-anaknya agar mengikuti jalan yang ditunjukkan Tuhan. Didalam suatu keluarga, bapa mempunyai tanggung jawab menjalankan otoritas yang diberikan Tuhan padanya, yaitu dalam hal memerintahkan anak-anaknya agar mengikut Tuhan. Disini kita lihat fungsi bapa didalam keluarga sebagai seorang pendidik, tentunya dengan pertolongan seorang istri.

Tetapi kita harus jelas melihat bahwa tanggung jawab mendidik ( memerintahkan ) anak-anak, terletak dipundak seorang bapa. Tentu saja istri sebagai seorang penolong, akan membantu, demikian juga guru-guru disekolah, serta pelayan-pelayan Tuhan didalam gereja ikut serta mendidik anak-anak. Tetapi tanggung jawab itu ada pada sang bapa. Apabila anak-anak memberontak dan tidak menurut jalan yang ditunjukkan Tuhan, maka pertanggung-jawaban terakhir harus didapat dari seorang bapa.

Apabila fungsi bapa sebagai pendidik dijalankan dengan baik, maka ada tindakan Tuhan yang indah ( sesuai ayat diatas ), yaitu Tuhan akan menepati janjiNya kepada seorang bapa. Tentu saja janji Tuhan semuanya baik dan indah. Amin.

Sumber: Gema Sion Ministry

Bapa Sebagai Raja

"Ketika saat kematian Daud mendekat, ia berpesan (charged / commanded) kepada Salomo, anaknya" [ I Raja-Raja 2:1 ].

Kata yang perlu diperhatikan dari ayat diatas adalah berpesan. Terjemahan harafiahnya lebih tepat adalah charged atau commanded, yaitu memberi perintah. Setiap perkataan Daud sebagai Raja Israel memang bersifat memerintah, dalam arti mengandung otoritas dan harus ditaati oleh seluruh Israel. Tetapi kita akan melihat ayat ini dari sudut yang lain, yaitu dari sudut hubungan Daud dan Salomo sebagai bapa dengan anaknya. Daud sebagai bapa juga mempunyai otoritas untuk memberi perintah kepada Salomo sebagai anaknya. Pada ayat selanjutnya, kita lihat perintah pertama Daud untuk anaknya yaitu agar Salomo melakukan kewajibannya dengan setia kepada Tuhan.

Disini kita lihat bagaimana Daud sebagai bapa menjalankan otoritasnya kepada Salomo dengan memberi perintah. Demikian telah kita lihat juga bahwa Abraham memberi perintah kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya, agar tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan Tuhan [ Kej. 18:19 ]. Yosua juga menggunakan otoritas atas anak-anak dan seisi rumahnya, dengan membuat pernyataan yang tegas [ Yosua 24:15 ]. Semua ini menunjukkan bahwa seorang bapa harus menjalankan otoritas yang didelegasikan Tuhan padanya, atas anak-anak yang dipercayakan kepadanya.

Tetapi perlu diingat disini bahwa otoritas seorang bapa adalah terhadap anak-anaknya, bukan terhadap pasangannya. Perintah agar seorang isteri tunduk pada suaminya, bukanlah karena suami memiliki otoritas untuk mendidik isterinya, sebagaimana seharusnya ia mendidik anak-anaknya. Seorang isteri tunduk pada suami, semata-mata karena peran isteri adalah sebagai penolong suaminya. Kalau kita menggunakan istilah Raja dan Ratu, maka bapa adalah raja sedangkan ibu adalah ratu, dan secara bersama-sama, mereka didelegasikan otoritas untuk mendidik anak-anaknya.

Bagaimana caranya seorang bapa, dengan bantuan seorang ibu, menjalankan otoritas terhadap anak-anaknya ? Amsal 13:24 menjelaskannya demikian, "Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya,…" Kapan tongkat didikan ini harus dikenakan pada seorang anak ? Umumnya, pada usia 3 sampai 6 tahun, seorang anak harus mengalami tongkat didikan berulang-ulang, agar ia mengenal dan mengakui otoritas orang tua, sehingga ia menjadi anak yang penurut. Bapa yang tidak menggunakan tongkat didikan, benci pada anaknya, dalam arti ia membiarkan kebodohan melekat pada anaknya [ Amsal 22:15 ]. Bukan hanya itu, seorang bapa yang tidak menggunakan tongkat, akan menciptakan anak-anak yang tidak mengenal otoritas yang ada pada gurunya di sekolah, pada pemerintahannya mulai dari polisi di jalan sampai presiden, dan yang paling parah adalah pada para pembimbing rohani di gereja yang telah ditetapkan Tuhan baginya. Dapat dipastikan, anak pemberontak ini tidak akan berguna dalam pekerjaan Tuhan.

Tongkat melambangkan otoritas. Anak-anak harus mulai belajar apa itu otoritas sejak masa kecilnya, dan ini dimulai melalui tongkat didikan seorang bapa di rumah. Seorang bapa perlu belajar tegas terhadap anak-anak, bahkan sampai hal-hal yang kecil nampaknya, misalnya film apa saja yang boleh ditonton anak-anak.

Semoga para bapa menyadari bahwa ia adalah raja, dan pasangannya adalah ratu, bagi anak-anaknya.

Sumber: Gema Sion Ministry

Berkat Tertinggi

"…Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan pada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan AnakNya, Yesus Kristus" [ I Yohanes 1:3 ].

Rasul Yohanes menyatakan bahwa tujuan pemberitaan Injil oleh para rasul adalah agar umat Tuhan memperoleh persekutuan ( koinonia ), baik dengan para rasul itu sendiri maupun dengan Bapa dan dengan AnakNya, Yesus Kristus. Apakah makna dari kata persekutuan, yang dalam bahasa Yunaninya adalah koinonia ? Kata koinonia bukan hanya berarti suatu persahabatan antara seseorang dengan yang lainnya. Makna kata koinonia lebih dalam dari pada itu. Koinonia adalah suatu kesatuan antara seseorang dengan yang lainnya. Konsep koinonia dalam Perjanjian Baru adalah suatu kesatuan atau suatu pertalian diantara orang percaya, yang tercipta karena penebusan dalam Kristus Yesus. Koinonia adalah kesatuan dalam Kristus.

Kisah Para Rasul mencatat bahwa karena memperoleh koinonia, jemaat mula-mula "…tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama" [ 2:44 ]. Ini adalah berkat yang luar biasa yang Tuhan curahkan pada umatnya, yaitu kesatuan. Tetapi lambat laun kedagingan manusia menyusup kedalam sehingga berkat kesatuan ini hancur. Kita semua menyadari bagaimana saat ini kondisi umat Tuhan yang terpecah-belah.

Yang menarik dari ayat diatas adalah persekutuan itu merupakan persekutuan dengan Bapa dan dengan AnakNya. Bapa dan Anak adalah sesuatu yang berhubungan dengan keluarga. Jadi koinonia itu adalah sesuatu yang seharusnya ada didalam keluarga. Apabila suatu keluarga Kristen memperoleh koinonia yang sesungguhnya, maka keluarga itu adalah satu. Ini sesungguhnya adalah berkat tertinggi yang mungkin diperoleh dalam suatu keluarga.

Kebanyakan keluarga Kristen tidak mengejar berkat kesatuan ini. Salah satu sebabnya adalah karena banyak keluarga tidak menyadari bahwa sesungguhnya Allah adalah keluarga, dan bahwa Allah adalah satu. Allah ingin mengekspresikan diriNya didalam keluarga-keluarga di muka bumi ini. Inilah alasan utama Allah menciptakan keluarga dimuka bumi ini. Jika kita sebagai keluarga Kristen dapat melihat perkara ini dengan jelas, maka kita akan sungguh-sungguh mengejar berkat kesatuan ini.

Tetapi kesatuan keluarga ini tidak mudah dicapai, karena kesatuan yang dimaksud disini adalah kesatuan seperti yang ada pada Bapa, Anak dan Roh Kudus. Kesatuan ini adalah satu dalam pikiran, perasaan, dan kehendak. Anak-anak bukan saja tidak memberontak pada orang tua, tetapi mereka mempunyai pikiran, perasaan dan keinginan yang sama dengan orang tua. Isteri bukan mengalah dan mematahkan keinginannya sendiri agar dapat tunduk pada suami, tetapi isteri mempunyai keinginan yang sama dengan suaminya. Kesatuan dalam Kristus yang seperti ini, dapat dicapai walaupun tidak mudah. Karena kesatuan keluarga ini adalah berkat, bahkan kami percaya ini adalah berkat tertinggi yang dicurahkan Tuhan bagi umat pilihanNya. Semoga kita mengejar berkat ini dengan sepenuh hati.

Sumber: Gema Sion Ministry

Betapa Berartinya Keluarga

Sumber: Oliver N

Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata: "Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh.” (Lukas 11 : 17).

Saya menabrak seorang yang tidak dikenal ketika ia lewat. "Oh, maafkan saya" adalah reaksi saya. Ia berkata, "Maafkan saya juga, saya tidak melihat Anda." Orang tidak dikenal itu, juga saya, berlaku sangat sopan. Akhirnya kami berpisah dan mengucapkan selamat tinggal.

Namun cer! ita lainnya terjadi di rumah, lihat bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang kita kasihi, tua dan muda.

Pada hari itu juga, saat saya tengah memasak makan malam, anak lelaki saya berdiri diam-diam di samping saya. Ketika saya berbalik, hampir saja saya membuatnya jatuh. "Minggir," kata saya dengan marah. Ia pergi, hati kecilnya hancur. Saya tidak menyadari betapa kasarnya kata-kata saya kepadanya.

Ketika saya berbaring di tempat tidur, dengan halus Tuhan berbicara padaku, "Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, etika kesopanan kamu gunakan, tetapi anak-anak yang engkau kasihi,sepertinya engkau perlakukan dengan sewenang-wenang. Coba lihat ke lantai dapur, engkau akan menemukan beberapa kuntum bunga dekat pintu. Bunga-bunga tersebut telah dipetik sendiri oleh anakmu, merah muda, kuning dan biru. Anakmu berdiri tanpa suara supaya tidak menggagalkan kejutan yang akan ia buat bagimu, dan kamu bahkan tidak melihat matanya yang basah saat itu."

Seketika aku merasa malu, dan sekarang air mataku mulai menetes. Saya pelan-pelan pergi ke kamar anakku dan berlutut di dekat tempat tidurnya, "Bangun, nak, bangun," kataku.

"Apakah bunga-bunga ini engkau petik untukku?" Ia tersenyum, " Aku menemukannya jatuh dari pohon. Aku mengambil bunga-bunga ini karena mereka cantik seperti Ibu. Aku tahu Ibu akan menyukainya, terutama yang berwarna biru."

Aku berkata, "Anakku, Ibu sangat menyesal karena telah kasar padamu; Ibu seharusnya tidak membentakmu seperti tadi."

Si kecilku berkata, "Oh, Ibu, tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu."

Aku pun membalas, "Anakku, aku mencintaimu juga, dan aku benar-benar menyukai bunga-bunga ini, apalagi yang biru." Renungan : Apakah anda menyadari bahwa jika kita mati besok, perusahaan di mana kita bekerja sekarang bisa saja dengan mudahnya mencari pengganti kita dalam hitunga! n hari? Tetapi keluarga yang kita tinggalkan akan merasakan kehilangan selama sisa hidup mereka.

Mari kita renungkan, kita melibatkan diri lebih dalam kepada pekerjaan kita ketimbang keluarga kita sendiri, suatu investasi yang tentunya kurang bijaksana, bukan? Jadi apakah anda telah memahami apa tujuan cerita di atas? Apakah anda tahu apa arti kata KELUARGA?

FAMILY = (F)ather (A)nd (M)other, (I), (L)ove, (Y)ou

Candanya, Hilang

Penulis : Walsinur Silalahi

Saya butuh suami yang mau duduk dan menemani saya.Bukan hanya membiayai pengobatan yg mahal,makanan yg enak dan perawatan di rumah sakit yang paling utama,"keluh seorang isteri yang sedang sakit berat.

Anaknya yg melihat penderitaan ibunya berkata,"Mam,tatkala kita masih dirumah kecil,hubungan kita terasa hangat.Ada nada2 nyanyi bersama sebelum tidur.Ada canda dan tawa ria saat menonton acara TV."Tetapi setelah rumah kita menjadi besar,dan pangkat ayah semakin tinggi,hubungan kita semakin mengecil dan dingin,semakin jauh saja. Kita kehilangan ayah".Kebahagiaan yang tadinya dimiliki keluarga ini hilang ditelan oleh kegiatan2 suami yg mempunyai jabatan yang semakin tinggi.Ada apa dengan suamimu? tanyaku balik."Dia memang pekerja keras,karirnya cemerlang sehingga sampai kedudukan seperti ini. Rumah kami besar,dan segala kebutuhan material kami dipenuhi,"desahnya sambil berhenti sejenak menyeka airmatanya.Sejak dia menjadi Pres.Direktur di perusahaannya,hubungan kami semakin renggang.Kami jarang berkomunikasi. Kelelahan fisiknya karena kerja keras setiap hari membuatnya ingin istirahat dan tdk mau diganggu tatkala tiba dirumah. Kami hanya bicara seperlunya dan kehilangan kehangatan seperti saat ia masih pimpinan tingkat menengah.Kami pun tertegun lesu mendengar penuturannya.

Sebuah harapan yang sangat sederhana.Sang isteri tdk banyak menuntut dari laki-laki yg dulu menjadi idolanya.Materi yg cukup dan kehormatan kekuasaan tdk mampu mengobati rasa sakitnya.Ia masih ingat tatkala laki-laki itu mengucapkan kalimat:"Saya akan menerimamu sebagai isteri yang sah dan satu-satunya.Saya akan selalu setia,dalam suka dan duka,dalam susah dan senang...sampai maut memisahkan kita."

Kini,ucapan itu hanya terbukti pada saat senang dan suka.dalam keadaan susah dan duka,kehangatan dan kehadiran serta perhatian itu hilang karena sebuah pertemuan dengan rekan bisnisnya/pelanggan,atau negosiasi proyek2 atau menemani rekan2nya main golf.

Menjadi suami yg baik adalah sebuah keharusan yg seringkali diabaikan.Peran sebagai seorang ayah/suami hanya dijalani sambil lalu saja. Padahal menjadi suami berarti melepaskan diri dari pangkat yg ada dikantor dalam berhubungan dengan isteri.Isteri adalah satu2nya pelanggan yg harus dilayani.Harus dipuaskan dan menjadi sumber inspirasi bagi kebahagiaan keluarga.

Kalau sdh mulai mencampur adukkan tindak-tanduk sebagai pipmpinan dikantor dengan perilaku suami,maka ikatan keluarga akan berantakan.Ini dua peran yang terpisah tapi saling berhubungan.Jangan biarkan kasih emosional meluntur.Bila kasih rasional berkuasa,maka tak heran banyak pernikahan kristen yang sebenarnya sdh runtuh dan parah tapi terbingkai rapi oleh kemunafikan karena alasan tdk bisa cerai.Secara fisik mereka bersama,tetapi secara hati sebenarnya sdh terpisah jauh sekali.Kelihatannya bersatu sebagai suami/isteri diluar.tapi didalam rumah mereka adalah seteru yg sudah tidak saling menghormati.

Menjadi ayah yang mau membimbing yg kata2nya penuh hikmat adalah harapan murni seorang anak.Anak butuh kehangatan pelukan sang ayah,bukan tebalnya selimut sutra.Anak butuh pengertian dan bukan saja peraturan yg mesti dilakukan.Anak butuh diskusi bukan perintah yg harus ditaati.Itu berarti butuh waktu yang harus dialokasikan dengan tepat,

Laki-laki itu harus bisa memainkan perannya sebagai seorang SUPERMAN

Ini bukan pilihan,tetapi kewajiban mutlak yg tak boleh didebat bila seorang laki-laki berani mengambil langkah hidup berkeluarga.

Apakah hal diatas dapat dicapai? Ya..Bila kita selalu melibatkan Tuhan dalam perjalanan keluarga kita masing-masing dan Tidak..Bila kita menjauh dari Dia yang menciptakan kita dan mengandalkan superioritas kita sendiri.

Rekan2 pria yg belum menikah,pertimbangkanlah hal2 diatas agar memiliki keluarga yg harmonis.

Cinta dan Seks dalam Keluarga

Lihatlah, cantik engkau, manisku, sungguh cantik engkau, bagaikan merpati matamu. Lihatlah, tampan engkau, kekasihku, sungguh menarik; sungguh sejuk petiduran kita [Kidung Agung 1:15-16 ] Kitab Kidung Agung, yang ditulis oleh Salomo, mengungkapkan bagaimana mempelai pria dan mempelai wanita saling memuji satu dengan yang lain. Saling memuji diantara mereka terjadi karena cinta dan ketertarikan fisik.

Kitab Kidung Agung dapat dipahami dari berbagai sudut pandang. Dari sudut pandang historis, kitab ini menceritakan bagaimana Salomo, sekalipun memiliki 60 permaisuri dan 80 selir serta dara-dara tak terbilang banyaknya, tetap mencintai gadis Sulam sebagai satu-satunya merpatinya [ Kidung Agung 6:8-9,13 ]. Secara kiasan, kitab ini dapat dipahami sebagai ungkapan kasih antara Allah sebagai suami dan Israel sebagai isteri, atau Tuhan Yesus sebagai mempelai pria dan gereja sebagai mempelai wanita. Semua pendekatan yang telah dijelaskan diatas, dapat dibenarkan. Tetapi dalam renungan ini, kita akan melihat kitab Kidung Agung sebagai ungkapan cinta antara seorang gadis dan seorang pria.

Alkitab memberi tempat bagi cinta jasmani antara pria dan wanita. Cinta yang terjadi antara pria dan wanita, karena ketertarikan fisik bukanlah hal yang terlarang. Kalau kita membaca dua pasal pertama Kitab Kejadian, maka kita dapat melihat bahwa sex adalah sesuatu yang merupakan rancangan Allah sebelum Kejatuhan. Jadi, persetubuhan dalam hubungan suami-isteri adalah sesuatu yang kudus, dan cinta jasmani yang terlibat didalamnya juga kudus. Tetapi, setelah manusia jatuh dalam dosa, maka cinta jasmani dan sex telah menjadi hawa nafsu yang menjerumuskan.

Kita dapat melihat dalam kisah Amnon dan Tamar, bagaimana sex dan cinta jasmani telah dipakai Iblis [ II Samuel 13 ]. Didalam kisah ini, Amnon bin Daud jatuh cinta kepada Tamar, a2dik perempuan dari Absalom bin Daud ( ayat 1 ). Cinta didalam diri Amnon demikian kuat sampai ia jatuh sakit karenanya. Selanjutnya diceritakan bagaimana Amnon memperkosa Tamar, dan bagaimana dalam sekejab saja tiba-tiba Amnon membenci Tamar ( ayat 14,15 ). Amnon, yang pada mulanya sangat mencintai Tamar, tetapi tiba-tiba dapat sangat membencinya. Tentu peristiwa ini terjadi karena Iblis telah memakai cinta jasmani untuk mendatangkan malapetaka atas keluarga Daud. Dan memang, jika kita melihat pada pasal-pasal sebelumnya, Allah telah mengizinkan Iblis mendatangkan malapetaka atas keluarganya, karena peristiwa Batsyeba. Jadi kita lihat setelah Kejatuhan, bahwa Iblis dapat memakai cinta jasmani dan sex menjadi hawa nafsu yang merusak. Tetapi, cinta jasmani dan sex itu sendiri berasal dari Allah, sama seperti selera makan dan minum.

Bagi pria dan wanita kristen yang belum menikah dan sedang dalam proses memilih teman hidup, haruslah sangat berhati-hati terhadap cinta jasmani. Sebab, Iblis dapat "menimbulkan" cinta jasmani didalam pria atau wanita, sehingga dapat merusak rencana Allah dalam hal memilih jodoh. Pria atau wanita yang akan menikah, perlu sungguh-sungguh menguji cinta jasmaninya, apakah telah ditunggangi Iblis atau tidak.

Bagi mereka yang telah menikah, maka cinta jasmani dan sex haruslah mendapat tempat yang selayaknya. Suami dan isteri yang penuh Roh Kudus, akan dapat menikmati cinta jasmani dan sex sebagaimana yang direncanakan Allah. Perlu kita ingat bahwa cinta jasmani dan sex yang dinikmati dalam Roh Kudus, akan menjadi alat ditangan Tuhan untuk mempersatukan keluarga.

Sumber: Gema Sion Ministry

Cinta Sejati Seorang Ibu

Oleh: Oliver N

"Bisa saya melihat bayi saya?" pinta seorang ibu yang baru melahirkan penuh kebahagiaan. Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki yang mungil itu, ibu itu menahan nafasnya. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang kearah luar jendela rumah sakit. Bayi itu dilahirkan tanpa kedua belah telinga.

Waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk. Suatu hari anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu yang menangis. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi. Anak lelaki itu terisak-isak sambil berkata, "Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh."

Anak lelaki itu tumbuh dewasa. Ia cukup tampan dengan cacatnya. Iapun disukai teman-teman sekolahnya. Ia juga mengembangkan bakatnya di bidang musik dan menulis. Ia ingin sekali menjadi ketua kelas. Ibunya mengingatkan,"Bukankah nantinya kau akan bergaul dengan remaja-remaja lain?" Namun dalam hati ibu merasa kasihan dengannya.

Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga untuknya. "Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuknya. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya," kata dokter. Kemudian, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya pada mereka.

Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelakinya, "Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia." kata sang ayah.

Operasi berjalan dengan sukses. Seorang lelaki baru pun lahirlah. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya. Beberapa waktu kemudian ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia menemui ayahnya, "Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku, ia telah berbuat sesuatu yang besar namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya." Ayahnya menjawab, "Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu." Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, "Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini."

Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Hingga suatu hari tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga itu. Di hari itu ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku itu, lalu menyibaknya sehingga tampaklah... bahwa sang ibu tidak memiliki telinga.

"Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya," bisik sang ayah. "Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya bukan?" Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh namun di dalam hati.

Renungan: Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun pada apa yang tidak dapat terlihat. Cinta yang sejati tidak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apa yang telah dikerjakan namun tidak diketahui.

Kegagalan Keluarga Daud

"...I have sinned against the Lord...you shall not die" II Samuel 12:13.

Daud adalah seorang yang hatinya berkenan kepada Tuhan. Ini bukan berarti Daud seorang yang sempurna, tanpa suatu kegagalan. Tetapi ini berarti Daud adalah orang yang hatinya condong kepada Tuhan dan tunduk pada firmanNya.

Ketika Natan diutus Tuhan untuk menegur Daud,maka Daud berkata, "Aku telah berdosa kepada Tuhan". Karena Daud tunduk pada firmanNya dan mengaku bersalah, maka Tuhan mengampuninya dan ia tidak akan mati. Namun karena perbuatannya, Daud dan keluarganya harus menerima disiplin Tuhan, sebab apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.

Apakah yang telah dilakukan Daud ? Kegagalan apa yang menyebabkan keluarganya menerima disiplin Tuhan ? Dari II Samuel 12:7-9, kita dapat lihat bahwa kepada Daud telah diserahkan ini dan itu, agar dijaga dan dipelihara. Kepada Daud, telah diberikan Tuhan, keluarganya, Umat Israel dan Yehuda, pengurapan untuk menjadi raja, rumah tangga tuannya ( Saul ), kebebasan dari tangan Saul yang hendak membunuhnya. Semua ini diserahkan Tuhan kepada Daud agar dijaga dan dipelihara. Dan Tuhan juga berkata bahwa jika pemberianNya ini terlalu kecil, maka Ia akan memberikannya lebih lagi. Tetapi Daud telah mengambil sesuatu bagi dirinya, yaitu istri Uria, dengan cara yang tidak berkenan dihadapanNya. Dihadapan Tuhan, perbuatan ini merupakan tindakan yang meremehkan perintah Tuhan, karena melakukan yang jahat dimataNya ( ayat 9 ).

Perbuatan Daud ini juga berarti bahwa ia kurang puas dengan apa yang telah diberikan Tuhan, kurang bersyukur, dan juga berarti kurang menjaga dan memelihara apa yang telah diserahkan Tuhan. Penambahan istri Uria, yang Daud lakukan dengan cara yang salah, kedalam genggamannya, ternyata mendatangkan masalah terhadap apa yang sudah menjadi milik Daud. Tuhan mendatangkan 4 perkara yang harus ditanggung Daud dan keluarganya ( miliknya ).

Pertama, pedang tidak akan menyingkir dari keluarganya, Kedua, akan ada permusuhan terhadap Daud yang datang dari keluarganya sendiri. Ketiga, Tuhan akan mengambil isrti-istri Daud untuk ditiduri, dihadapan banyak orang. Keempat, anak yang diberikan istri Uria kepadanya, akan mati. Tepat seperti yang Daud katakan sendiri sebagai respon atas cerita Natan ( II Samuel 12:1-6 ),bahwa orang yang merampas harta milik orang lain, harus menggantinya 4 kali lipat, maka demikianlah yang dilakukan Tuhan kepadanya.

Kita tahu cerita selanjutnya mengenai Absalom, Amnon, dan Tamar, yang mana semuanya ini merupakan cara Tuhan mengenapi keempat perkara yang telah diucapkanNya.

Pelajaran apa yang dapat kita ambil dari kegagalan Daud ini ? Yang perlu diperhatikan disini adalah, kepada seorang bapa, dipercayakan Tuhan keluarganyaserta ini dan itu pemberian Tuhan. Semua ini harus dijaga dan dipelihara oleh seorang bapa ( tentu dengan penolong seorang ibu ). Apabila seorang bapa kurang puas dan tidak bersyukur, serta tidak menjaga apa yang telah Tuhan percayakan, dan bahkan menambahkan sesuatu kepada miliknya dengan cara yang salah, maka tindakannya ini akan mendatangkan disiplin Tuhan atas keluarganya. Semoga para bapa memelihara dan merawat pemberian Tuhan dan tidak meremehkan perintah Tuhan, serta belajar menguasai diri untuk tidak menambah sesuatu dengan cara yang salah kedalam miliknya.

Sumber: Gema Sion Ministry

Kegagalan Keluarga Salomo

"Adapun raja Salomo mencintai banyak perempuan asing……isteri-isterinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya, seperti Daud, ayahnya" [ I Raja-Raja 11:1,4 ].

Salomo adalah seorang yang sangat dikasihi Tuhan, bahkan melalui nabi Natan, Tuhan menamakannya Yedija. Tuhan menampakkan DiriNya kepada Salomo 2 kali. Pertama, ketika Salomo meminta hikmat, yaitu hati yang faham menimbang perkara agar dapat menghakimi Umat Israel ( I Raja-Raja 3:5 ). Kedua, ketika Salomo mendirikan Bait Suci ( I Raja-Raja 6:11-13 ). Pada dua kali penampakkan DiriNya kepada Salomo itu, Ia berfirman, "…jika engkau hidup menurut segala ketetapanKu", maka Tuhan menjanjikan ini dan itu kepadanya. Jadi, sekalipun Salomo sangat dikasihi Tuhan dan Tuhan telah dua kali menampakkan DiriNya kepada Salomo, namun jika Salomo menyimpang dan tidak hidup menurut ketetapanNya, maka akan ada akibat yang harus ditanggungnya ( dan keluarganya / keturunannya ) sebagai disiplin Tuhan.

Ayat diatas menegaskan bahwa Salomo mencintai banyak perempuan asing, padahal Tuhan telah berfirman, "…Janganlah kamu bergaul dengan mereka…sesungguhnya mereka akan mencondongkan hatimu kepada allah-allah mereka" ( I Raja-Raja 11:2 ). Salomo gagal memperhatikan peringatan Tuhan ini, sehingga ketika ia telah menjadi tua, isteri-isterinya meminta agar dibangun bukit-bukit pengorbanan bagi allah-allah mereka, dan Salomo mengizinkannya. Karena tindakannya ini, maka Tuhan membangkitkan lawan-lawan Salomo sehingga tidak ada lagi damai sebagaimana sebelumnya, dan yang sangat menyedihkan bahwa Tuhan akan memecah kerajaannya.

Apa yang menyebabkan Salomo jatuh kedalam penyembahan berhala ? Mengapa hikmatnya tidak dapat mencegah dia dari penyembahan berhala ? Penyebab kejatuhan Salomo jelas karena hatinya mencintai banyak perempuan asing, sedemikian sehingga ia mengabaikan peringatan Tuhan, bahkan sampai masa tuanya. Hatinya benar-benar telah terpaut kepada sesuatu yang lain dan bukan kepada Tuhan. Hikmat yang diperolehnya dari Tuhan, ternyata lebih banyak bersangkut paut dengan pikirannya, dan bukan hatinya. Dalam kehidupan ini, ternyata hati lebih menentukan masa depan seseorang daripada pikirannya. Pikiran ada tempatnya, tetapi hati menentukan jalan hidup seseorang. Itu sebabnya Tuhan berfirman, "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan".

Ketika hatinya telah terpaut kepada yang lain, Salomo tidak lagi mengikut Tuhan dengan sepenuh hati, seperti Daud, ayahnya. Daud adalah seorang yang hatinya berkenan kepada Tuhan, walaupun Daud juga memiliki kegagalan-kegagalannya. Namun hati Daud melekat kepada Tuhan. Salah satu mazmurnya adalah, "Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah". Salomo memiliki hikmat, kekayaan, keterkenalan, dan ia juga memiliki pewahyuan karena Tuhan telah menyatakan Diri dua kali kepadanya, namun yang menentukan jalan hidup seseorang adalah hatinya. Bagaimana dengan hati kita, khususnya para bapa ? Apakah para bapa mencintai Tuhan atau dunia ini ? Boleh jadi seorang bapa memiliki hikmat, kekayaan, keterkenalan, pewahyuan, dan mungkin pelayanan yang luas. Tetapi, pelajaran diatas menegaskan bahwa, pada akhirnya, yang menentukan hidup seseorang adalah hatinya. Apakah ia mencintai Tuhan dan terpaut kepadaNya, atau terpaut kepada yang lain.

Sumber: Gema Sion Ministry.

Keluarga

Oleh : Walsinur Silalahi

Pada umumnya kita menginginkan suasana damai,ceria dalam kehidupan keluarga. Suasana demikian perlu diupayakan oleh orangtua sebagai motivator terhadap perilaku anggota keluarga dhi anak-anak.Kebiasaan komunikasi yang tdk sehat dapat mengakibatkan kedamaian tdk akan pernah dicapai seperti mengeluarkan nada suara yang kasar,mata melotot dan jawaban kasar yg tdk pantas. Untuk mencapai kehidupan keluarga yang damai,ceria, maka kebiasaan2 sbb perlu dilakukan.

  1. Setiap anggota keluarga berupaya menciptakan suasana gembira ketika memasuki rumah/ruangan.(menyanyi,bersiul dll)
  2. Setiap anggota keluarga baik tua ataupun muda harus mengucapkan salam bila memasuki rumah atau permisi bila meninggalkan rumah.
  3. Anak-anak dibiasakan mencium pipi ibunya bila mau kesekolah atau sepulangnya dari sekolah
  4. Biasakan bercerita kepada anggota keluarga tentang pengalaman2 yang diperoleh di sekolah,ditempat kerja dll.
  5. Bila anak-anak menanyakan sesuatu,orangtua harus mendengar,jangan pura2 mendengar.Anak dapat melihat dari sorot mata ,apakah orangtua serius menanggapi atau tdk.Dibutuhkan kejujuran dan kesabaran mendengar cerita anak-anak.Berikan respon sehingga dia akan terus bercerita.

Dibawah adalah contoh kebiasaan keluarga yang menggunakan bentuk2 komunikasi negatif.

  1. Keluarga kompetitif. Anak-anak bersaing mendapatkan perhatian dengan tingkah laku dengan cara2 negatif seperti melempar piring,berteriak,marah2 dll.
  2. Keluarga hening. Disini anggota keluarga jarang berbicara,makan bersama atau berinteraksi dengan cara lain.Anggota keluarga tdk mau membagi pengalaman untuk didiskusikan bersama.Masing2 sibuk dengan masalah2 sendiri.Terkadang mereka marah,muka cemberut,kelihatan lelah tdk semangat dll. Orangtua tdk mengetahui cara mencairkan suasana yang serba hening.
  3. Keluarga yang kasar. Anggota keluarga jenis ini menggunakan rumah sebagai tempat pelampiasan perasaan buruk.Bukan berarti keluarga ini kejam,melainkan karena keluarga ini penuh dengan perasaan marah.Anggota keluarga saling mengucapkan kata2 kasar dan jarang mengucapkan kata2 yang menggembirakan.Ayah dperlakukan dengan dingin oleh anggota keluarga laki2 atau perempuan.Adakalanya salahsatu anggota keluarga menjadi sasaran kemarahan di rumah ini.
  4. Keluarga yang tegang. Bila salah satu anggota keluarga yg lebih dewasa sering mengeluarkan geraman menegangkan atau ekspresi yg tdk menyenangkan,sehingga anggota keluarga yg lain ikut tegang dan menganggapnya penyakit syaraf(gila). Pertanyaan sederhana saja dapat membuatnya geram seperti:"Bagaimana keadaannmu?" dijawab dengan kecurigaan:"Ngapain nanya2 segala?"Setiap orang takut,gerakan keliru sekecil apapun akan memicu ledakan.Keluarga semacam ini disebut juga keluarga berperasaan halus,alias mudah tersinggung dengan hal2 sepele.
Anda memiliki keluarga yang mana?

Keluarga dan Alkitab

Sumber : Gema Sion Ministry

"Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus" [ II Timotius 3:15 ].

Ayat diatas menegaskan bahwa Kitab Suci dapat memberi hikmat dan menuntun orang kepada keselamatan. Membangun keluarga yang dapat mengekspresikan Allah yang adalah Keluarga Sejati, tidak mungkin terlepas dari peran Kitab Suci (Alkitab). Keluarga yang mengekspresikan Allah, tentu harus berlimpah dalam hikmat serta keselamatan Kristus. Disinilah Alkitab mendapatkan perannya yang sangat penting. Tetapi, apakah Alkitab itu, dan bagaimana Alkitab dapat memberi hikmat serta menuntun seseorang kepada keselamatan? Apakah setiap orang yang membaca Alkitab, sudah pasti memperoleh hikmat Kristus?

Alkitab adalah tulisan yang diilhamkan Allah dan karenanya tidak terdapat kesalahan didalamnya. Yang mungkin terjadi adalah orang memiliki sikap yang salah dalam membaca Alkitab. Tidak setiap orang yang membaca Alkitab, pasti memperoleh hikmat Kristus dan mengalami keselamatan. Injil Yohanes mencatat kesalahan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat dalam mendekati Kitab Suci. Yohanes 5:39-40 menyatakan, "â€Â¦walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepadaKu untuk memperoleh hidup itu". Jadi, mungkin saja terjadi bahwa seseorang membaca Alkitab, namun tidak bertemu dengan Firman Yang Hidup itu yaitu Kristus Yesus.

Tetapi kita lihat bahwa peranan Alkitab dalam kehidupan Timotius, sangat efektif. Mengapa demikian? Kami percaya bahwa salah satu sebabnya adalah karena neneknya, Lois dan ibunya, Eunike adalah orang-orang yang memiliki iman yang tulus ikhlas (II Timotius 1:5). Sejak masa kecilnya, Timotius sudah diperkenalkan dengan Kitab Suci. Keluarga Timotius adalah keluarga yang mencintai Alkitab. Keluarga yang mencintai Alkitab adalah keluarga yang bertumbuh didalam hikmat Kristus, dimana pada waktunya keluarga ini dapat mengekspresikan Allah. Tetapi kita lihat disini kuncinya bahwa baik nenek, ibu atau orang tua haruslah seorang yang beriman.

Bagaimana dengan keluarga-keluarga Kristen ? Apakah para orang tua adalah orang-orang yang beriman dan mencintai Alkitab? Sudahkah anak-anak sejak masa kecilnya diperkenalkan dengan Alkitab? Perlu ditegaskan lagi disini bahwa suasana keluarga yang cinta Alkitab, harus diciptakan oleh para orang tua. Karena bapa berfungsi sebagai imam bagi keluarganya, maka kecintaan keluarga pada Alkitab menjadi tanggung jawabnya. Ini bukan berarti seorang bapa harus menjadi ahli teologi. Membaca Alkitab dan bertemu dengan berbagai aliran teologi, sangatlah disayangkan. Seorang bapa harus memiliki sikap sedemikian sehingga ketika ia mendekati Alkitab, maka ia bertemu dengan Firman Yang Hidup itu. Sikap yang benar dari seorang bapa terhadap Alkitab ini, akan menular pada seluruh anggota keluarga. Dengan demikian keluarga ini dibangun dalam hikmat Kristus, serta bertumbuh dalam keselamatanNya.

Kemurnian Suami dan Isteri

"Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu" [ Kejadian 2:25 ].

Alkitab menceritakan bahwa manusia dan istrinya itu dalam kondisi telanjang. Ketelanjangan didalam Alkitab selalu menunjukkan sesuatu yang memalukan dan suatu kondisi seseorang yang menyedihkan. Namun kita lihat disini bahwa manusia dan istrinya itu tidak merasa malu dengan kondisi mereka. Mengapa ketelanjangan manusia dan istrinya itu tidak menimbulkan rasa malu diantara keduanya ? Hal ini disebabkan mereka "diselimuti" oleh kemuliaan Allah. Kemuliaan Allah telah membuat mereka saling memandang dengan "mata" yang berbeda dan mereka tidak tahu bahwa mereka telanjang. Mereka dapat menerima keadaan diri mereka sendiri dan juga keadaan pasangan mereka. Ketelanjangan mereka malah merupakan sesuatu hal yang positif dimana ini berarti diantara mereka ada keterbukaan dan kesatuan, yang memang mutlak diperlukan dalam hubungan suami-istri.

Tetapi setelah dosa masuk, maka manusia kehilangan kemuliaan Allah [ Roma 3:23 ]. Hilangnya kemuliaan Allah ini membuat manusia memiliki mata jasmani yang memandang ketelanjangan sebagai sesuatu yang memalukan, dan ketelanjangan memang merupakan sesuatu yang memalukan. Manusia telah sadar dan tahu bahwa dirinya telanjang. Selama manusia diselimuti kemuliaan Allah, ia tidak tahu bahwa dirinya telanjang. Kemuliaan Allah membuat manusia hanya memandang Allah dan tidak memandang dirinya sendiri.

Sekarang, bagaimana hubungan suami-istri ini setelah mereka melihat ketelanjangan mereka ? Alkitab menyatakan bahwa, "mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat". Manusia dan istrinya itu sekarang sibuk menutupi rasa malu yang diakibatkan kondisi mereka. Tidak ada lagi keterbukaan dan kesatuan diantara mereka. Tidak ada lagi saling menerima keadaan masing-masing. Tidak ada lagi kemurnian diantara mereka. Masing-masing telah menjadi egois dan memikirkan diri mereka sendiri. Dosa dan hilangnya kemuliaan Allah telah membuat hubungan suami-istri rusak berat.

Pelajaran apa yang dapat kita ambil dari ayat diatas ? Pertama, "ketelanjangan yang diselimuti kemuliaan Allah" merupakan suatu hal yang mutlak didalam hubungan suami-istri. Adanya keterbukaan total dan saling menerima diantara suami istri, merupakan syarat mutlak menuju kesatuan yang direncanakan Allah. Suami dan istri tidak memiliki "simpanan" apapun yang tidak diketahui pasangannya. Kedua, dosa dan hilangnya kemuliaan Allah perlu diselesaikan dengan tuntas diantara suami-istri. Perlu adanya saling mengaku dosa dan saling mengampuni diantara suami-istri. Suami-istri harus belajar bagaimana membiarkan Allah bekerja menempa kemuliaanNya sedikit demi sedikit didalam kehidupan mereka. Suami-istri perlu belajar memandang Allah saja didalam kehidupan rumah tangga mereka. Melalui ketekunan suami-istri, maka kemurnian hubungan itu akan tercapai. Amin.

Sumber: Gema Sion Ministry

Kereta Waktu

Penulis : Pdt. Dr. Paul Gunadi

Dulu saya berpikir bahwa saya mempunyai sekurang-kurangnya 18 tahun untuk membagi hidup bersama dengan anak-anak kami. Sekarang baru saya menyadari bahwa sesungguhnya saya hanya memiliki 12 tahun.

Dua di antara tiga anak kami sudah menginjak remaja dan mulai menampakkan perilaku remaja, bukan kanak-kanak lagi. Mereka enggan diajak pergi bersama jika tidak ada teman sebaya dan di rumah, telepon telah berubah menjadi alat komunikasi yang SANGAT vital bagi mereka (begitu vitalnya sehingga saya kesulitan memakainya). Dulu saya dapat memeluk putri kami dengan bebas, sekarang saya perlu berhati-hati memeluknya. Dulu saya bisa bercanda dengan putra saya dan mendapatkan respons apa adanya darinya, namun sekarang tanggapannya seolah-olah berbentuk pertanyaan, 'Papa, mengapa engkau bertingkah laku aneh?'

Saya mengibaratkan waktu bak kereta yang sedang melaju. Betapa inginnya saya menghentikan laju lokomotif itu tetapi sayang, saya tak kuasa menahannya. Kadang dengan bercanda (dan setengah berharap) saya meminta kepada putra-putri kami untuk berhenti bertumbuh. Saya merindukan dan berkhayal agar mereka tetap berusia 5, 7, dan 9 tahun terus-menerus. Mendengar itu, biasanya mereka menertawakan saya (mungkin saudara juga) sebab mereka sadar bahwa itu adalah permintaan yang tak mungkin mereka luluskan.

Saya sungguh berharap bahwa saya dapat memperlambat laju kereta waktu dan menikmati mereka sebagai anak-anak kembali. Dulu saya beranggapan bahwa saya masih mempunyai waktu yang panjang untuk hidup dengan mereka sebagai kanak-kanak. Ternyata perhitungan saya meleset; setelah usia 12, anak-anak berubah mandiri dan mulai melepaskan diri dari orangtua. Saya masih membutuhkan mereka namun mereka tidak lagi membutuhkan saya. Sisa waktu bersama mereka menjadi begitu sedikit dan begitu berharga!

Kita tidak dapat mempercepat atau memperlambat waktu; kita hanya bisa melaluinya. Ada hal-hal yang dapat kita lalui berulang-kali, tetapi ada sebagian hal yang hanya dapat kita lalui sekali. Waktu bersama anak termasuk dalam kategori yang kedua itu. Kita hanya dapat menikmati anak pada masa kanak-kanaknya sebagai kanak-kanak sekali, tidak bisa dua atau tiga kali. Celotehnya sebagai bayi hanya terdengar pada masa bayi; tangisnya sebagai balita hanya terjadi pada masa ia duduk di taman kanak-kanak; main sepeda, kelereng, atau petak lari hanya dilakukannya pada masa sekolah dasar; perilakunya yang berlagak seperti orang dewasa namun masih seperti anak-anak hanya terlihat pada masa remaja. Setelah semua itu berlalu, kita hanya dapat menatap gambar-gambar hidup itu melalui sesuatu yang kita sebut, memori. Kita tidak bisa melalui waktu itu lagi secara langsung; kita hanya dapat mengenangnya.

Salomo, si pengkhotbah, meringkasnya dengan tepat, "Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya" (3:1). Kesimpulannya adalah, hiduplah pada masa sekarang, bukan pada masa lampau atau masa datang. Waktu yang sudah lewat tersisa dalam kenangan, sedangkan waktu yang akan datang menyembul dalam khayalan. Hiduplah pada masa sekarang, dalam kenyataan, bukan dalam kenangan yang membuahkan penyesalan atau khayalan yang merupakan pelarian semata-mata. Jadilah ayah dan ibu untuk anak-anak kita sesuai usianya sekarang! Nikmati setiap tetesan kehadiran mereka dan jangan sampai mereka hanya hidup dalam kenangan atau khayalan kita. Ingat, kereta waktu terus berjalan ..... dan anak-anak kita berada di dalamnya!

Ketika Aku Sudah Tua

Ketika aku sudah tua, bukan lagi aku yang semula. Mengertilah, bersabarlah sedikit terhadap aku. Ketika pakaianku terciprat sup, ketika aku lupa bagaimana mengikat sepatu, ingatlah bagaimana dahulu aku mengajarmu.

Ketika aku berulang-ulang berkata-kata tentang sesuatu yang telah bosan kau dengar, bersabarlah mendengarkan, jangan memutus pembicaraanku. Ketika kau kecil, aku selalu harus mengulang cerita yang telah beribu-ribu kali kuceritakan agar kau tidur.

Ketika aku memerlukanmu untuk memandikanku, jangan marah padaku. Ingatkah sewaktu kecil aku harus memakai segala cara untuk membujukmu mandi?

Ketika aku tak paham sedikitpun tentang tehnologi dan hal-hal baru, jangan mengejekku. Pikirkan bagaimana dahulu aku begitu sabar menjawab setiap "mengapa" darimu.

Ketika aku tak dapat berjalan, ulurkan tanganmu yang masih kuat untuk memapahku. Seperti aku memapahmu saat kau belajar berjalan waktu masih kecil.

Ketika aku seketika melupakan pembicaraan kita, berilah aku waktu untuk mengingat. Sebenarnya bagiku, apa yang dibicarakan tidaklah penting, asalkan kau disamping mendengarkan, aku sudah sangat puas.

Ketika kau memandang aku yang mulai menua, janganlah berduka. Mengertilah aku, dukung aku, seperti aku menghadapimu ketika kamu mulai belajar menjalani kehidupan. Waktu itu aku memberi petunjuk bagaimana menjalani kehidupan ini, sekarang temani aku menjalankan sisa hidupku. Beri aku cintamu dan kesabaran, aku akan memberikan senyum penuh rasa syukur, dalam senyum ini terdapat cintaku yang tak terhingga untukmu.

Kisah Batin Seorang Ibu Menjaga "Hasil Tenunan"

Penulis : Job Palar

Jakarta - Jika sebuah kisah dituturkan dengan menggunakan kata ganti orang pertama "saya", pastilah kisah yang mengalir adalah pengalaman batin dari si pencerita itu sendiri. Kisah-kisah yang hadir dalam buku Tangan yang Menenun ini adalah juga sebuah kisah batin dari seorang ibu yang berstatus orang tua tunggal tapi berperan ganda-ayah sekaligus ibu dari anak-anaknya.

Tulisan "Mengapa Kita Tidak Kaya?" telah dihadirkan harian ini di halaman 11 pada Sabtu, 17 Juli 2004. Namun, versi koran dengan versi tulisan di buku ini tentu berbeda, baik dari segi kedalaman maupun panjang-pendeknya tulisan.

"Allah menenun sejak anak-anak berada dalam kandungan" (Mazmur 139:13), inilah dasar dari segala perkara, prahara, dan suka cita yang tertuang dalam buku. Tampak jelas, benang merah dari isi buku ini adalah bagaimana seorang ibu berusaha mempertanggungjawabkan dan menjaga "hasil tenunan" Allah agar menjadi seperti yang Allah inginkan. Kali ini, "hasil tenunan" itu berwujud dalam bentuk seorang anak bernama Dika.

Ada tawa bahagia, ada duka nestapa, ada air mata dalam kisah-kisah interaksi "saya" dan Dika dalam buku ini. Pembaca juga akan disuguhkan beberapa fragmen rumah tangga yang tak sepenuhnya terang. Namun bahasa yang disajikan penuh kelugasan dan jauh dari kesan dirumit-rumitkan.

Tentu pembaca akan bertanya, "Apa peran si ayah atau suami?", "Mengapa di kisah ini ada, lalu di kisah lain lagi seperti lenyap tersedot pusat bumi alias hilang?" Ada kesamaran alur yang mungkin dapat direka-reka oleh pembaca, bagaimana sebenarnya "jalan cerita" yang terjadi sehingga tokoh " saya" dalam kisah-kisahnya akhirnya memilih menjadi orang tua tunggal. Setidaknya, status "orang tua tunggal" dipatrikan sendiri oleh pengarang, Lesminingtyas, yang akrab dipanggil Ning atau Mbak Ning.

Dalam beberapa fragmen interaksi ibu-anak memang terselip peran seorang suami, namun peran itu muncul lebih banyak sebagai tokoh antagonis. Setidaknya tokoh suami atau ayah hadir di situ sebagai orang yang justru menjadi katalis hubungan batin antara ibu dan anak, namun bukan dalam sisinya yang positif. Lengkaplah sebuah drama keluarga.

Menurut pengakuan pengarang dalam bukunya, dia memiliki tiga anak, tapi dalam buku ini hanya "jagoan" pertamanya saja yang muncul, si Dika. Entah kalau "jagoan-jagoan"-nya yang lain akan muncul juga dalam buku-buku Ning selanjutnya.

Bagi para orang tua, buku ini pasti bisa menjadi salah satu acuan dalam mendidik anak. Buku ini seperti memberikan trik bagaimana menerapkan makna-makna yang abstrak bagi seorang anak kecil berumur sekitar 4 tahunan. Makna-makna abstrak itu bahkan terkadang tak bisa dipahami oleh seorang dewasa sekali pun.

Makna mengampuni, menang tanpa harus mengalah, dosa, cabul, dan berbagai makna yang rasanya cukup berat untuk dipahami oleh seorang anak, dicoba diterapkan oleh sang ibu dengan segala kelembutan, jauh dari kesan penyesalan dan luapan kemarahan. Pedoman semua itu adalah Alkitab, padahal untuk banyak orang Alkitab itu pun adalah buku yang begitu sulit untuk dipahami. Namun, kiat-kiat memahami isi Alkitab di sini bisa hadir secara begitu aplikatif.

Emosi kemarahan bercampur kasih yang makin dalam bisa terpancar begitu kuat dalam fragmen kehidupan "Astaga, Anakku Mencuri!" atau "Astaga, Anakku Bicara Kotor!". Kelucuan bisa muncul dengan begitu polosnya dalam "Donat Ayu". Pencarian makna kehidupan akan sangat kentara dalam fragmen "Mengapa Kita Tidak Kaya?".

Pada fragmen "Astaga, Anakku Mencuri!" malah terasa sekali interaksi tiga pihak beroposisi-ayah, ibu, anak-, namun bisa selesai dengan solusi yang sangat cair dan berujung pada makin indahnya hubungan ibu-anak. Ke mana sang ayah? Ya itu, tadi. Sang ayah hanyalah katalis yang makin memperat hubungan batin ibu dan anaknya.

Namun, memang terasa membingungkan untuk memahami suasana batin si anak saat si ibu selalu memperhadapkan fakta bahwa "Tuhan akan marah." atau "Tuhan menginginkan.", atau "Tuhan merencanakan.". Setidaknya, sebagai pembaca, letupan-letupan kejutan yang terjadi karena perkembangan setiap tokohnya-terutama Dika-akan menjadi kurang terasa karena kalimat-kalimat seperti di atas akan selalu muncul di permukaan untuk diperhadapkan pada kejutan-kejutan itu.

Pernyataan ini bukan hendak merendahkan makna kehadiran Tuhan yang mewarnai hubungan batin ibu-anak, atau yang melingkupi seisi buku. Hanya saja, model penulisannya bisa dipertimbangkan agar arah pemikiran pengarang tidak mudah terbaca.

Sebuah buku yang telah menjadi milik publik tentu dipertimbangkan untuk bisa dibaca oleh semua khalayak. Untuk pembaca yang belum punya anak atau belum menikah sekali pun, buku ini sangat bisa menjadi referensi karena menjabarkan makna kehidupan nan bersahaja, dan hubungan emosional yang naik-turun dari ibu dan anak ini begitu patut untuk direnungkan.

Sumber: Resensi Buku TANGAN YANG MENENUN* di Sinar Harapan

Menghormati Orang Tua.

Oleh : Walsinur Silalahi

Ketika kita mempelajari perintah mengenai menghormati orangtua,kita akan melihat bahwa ini adalah ringkasan bagaimana Allah menginginkan kita bersikap terhadap semua orang,bukan hanya orangtua kita.(Roma 13:6-10).Selama kita bertumbuh,kita menemukan beberapa jenis otoritas lain yang juga harus kita hormati.Pada mulanya,semua manusia dimaksudkan untuk gentar kepada Allah.Dia adalah Pencipta dan Raja atas segala sesuatu dan kita harus memberi hormat dan taat secara penuh kepadaNya.Para orangtua memelihara dan melindungi anak-anak mereka.Para suami memelihara dan melindungi isteri mereka.Para raja atau penguasa memelihara dan melindungi rakyat,dan juga para pendeta dan penatua memelihara dan melindungi gereja.Orang-orang ini tdk dapat melaksanakan tugas yang diberikan Allah kepada mereka apabila mereka terus-menerus berdebat dengan orang2 yang berada dibawah otoritas mereka untuk menentukan apa yg terbaik.Jadi Allah telah memberikan otoritas kepada mereka.Orang2 yang mereka pimpin harus menghormati dan mentaati mereka.Memang orang-orang yg berkuasa tdk selalu benar.Namun selama mereka tdk memerintahkan kita untuk tidak taat kepada Allah,kita harus menghargai dan menaati mereka.Apabila kita tdk menunjukkan rasa hormat kepada pemimpin,itu berarti kita tdk menghormati Allah,yang telah menetapkan mereka menjadi pemimpin kita.(Roma 13:1-2)

Allah telah menetapkan otoritas dalam keluarga yaitu Suami mengepalai isterinya.Ia harus memelihara kehidupan sang isteri ,melindunginya,dan melakukan semua yg dapat ia lakukan untuk menolongnya bertumbuh semakin menyerupai Kristus dan mempergunakan karunia2 yg telah Allah berikan kepadanya.Isteri harus tunduk kepada suaminya.Ia harus menghormati suaminya dan melakukan apa yang diinginkan suaminya.Orangtua berkuasa atas anak-anaknya.Orangtua harus menyediakan semua yg diperlukan anak2nya untuk bertumbuh dengan tubuh,pikiran ,dan jiwa yang sehat.Mereka harus melindungi anak-anak dan melatih mereka.Anak-anak harus menghormati orangtua dan mematuhi mereka dengan segera.(Kolose 3:18-21).Didalam gereja Allah telah menetapkan para pendeta dan penatua untuk melindungi gereja dari ajaran2 sesat,guru2 palsu. Mereka mendorong umat Allah untuk mengikuti Kristus.Orang Kristen harus tunduk kepada keputusan para pendeta dan penatua gereja mereka. (Ibrani 13:17).Orang muda berada dibawah orang yg lebih tua.Anak-anak berada dibawah orangtua mereka.Orang2 yang berkuasa tdk boleh menyalahgunakan kekuasaannya.Mereka harus dengan setia melaksanakan semua tanggungjawab yg telah Allah berikan.(1 Tim 5:8 ) Perintah ini memanggil kita untuk menghormati orangtua kita,termasuk memperlakukan orang2 yang berada dibawah kita sebagaimana yang Allah kehendaki(Roma 12:10 dan Filip 2:3-4)

Menjaga Kemurnian Pacaran dan Pernikahan

Oleh: Walsinur Silalahi

Banyak manusia masa kini tidak lagi menganggap bahwa pernikahan sebagai hal yang istimewa,sehingga mereka saling memadu kasih dengan mempergunakan tubuh mereka. Mereka tidak perlu lagi menunggu sampai mereka menikah untuk melakukan intercourse. Pria dan wanita mempergunakan tubuh mereka untuk saling mendekatkan diri. Tidak masalah apakah mereka sudah menikah atau belum.

Mereka mempergunakan tubuh mereka dengan cara yang mereka inginkan, dan melakukan perbuatan yang memberikan kesenangan bagi mereka. Mereka sudah lupa tujuan utama manusia diciptakan yaitu untuk memuliakan Tuhan dan menikmati kehadiranNya. Menunjukkan kasih atau cinta kepada lawan jenis tdk harus menyerahkan tubuh untuk saling mengenal. Mempergunakan tubuh untuk menunjukkan kasih kepada seseorang bukanlah cara untuk mengenal orang itu. Dua orang itu harus saling mengenal dengan baik,jika mereka melihat karakter yang menyerepuai Kristus di dalam diri masing-masing, lalu mereka dapat bersahabat dan mulai saling mengasihi. Kemudian mereka membuat komitmen untuk selalu hidup bersama sebagai suami-isteri. Bila mereka sdh mendapat pemberkatan nikah,maka mereka boleh menggunakan tubuh mereka untuk saling menunjukkan kasih mereka. Ketika seorang pria dan wanita menikah,mereka saling mengucapkan janji nikah dihadapan Tuhan. Mereka ber-ikrar untuk menjadi suami/isteri satu sama lain dan tdk dengan orang lain seumur hidup mereka berdua.

Seekor binatang bisa memiliki pasangan yang berbeda-beda,tetapi manusia bukanlah binatang,dan sungguh menyedihkan apabila manusia tdk menyadarinya. Manusia diciptakan menurut gambar Allah. Hubungan suami- isteri harus menjadi gambaran hubungan Allah dengan umat-Nya untuk selamanya. Menjadi murni secara seksual bermakna lebih dari sekedar bersikap hati-hati dalam penggunaan tubuh kita. Kita harus menjaga kemurnian hati dan perkataan seperti juga dalam perbuatan. Yesus berkata jika seorang pria tdk berbuat salah dengan tubuhnya,tetapi membayangkan didalam hatinya untuk melakukan hal2 yang tdk boleh dilakukan dengan seorang wanita yang bukan isterinya, maka pria itu telah berjinah didalam hatinya(mat 5:28). Allah tdk berkenan dengan apa yang kita lakukan secara lahiriah.

Allah menghendaki kita memiliki hati yang murni. Cara terbaik untuk tetap menjaga kemurnian seksual didalam perbuatan kita adalah dengan tetap menjaga kemurnian dalam segala hal yang kita pikirkan. Apa yang kita lakukan berasal dari dalam hati kita. Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan karena dari situlah terpancar kehidupan.(Amsal 4;23)

Mezbah Keluarga

Sumber: Gema Sion Ministry

"Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi Tuhan; Lalu Allah memberkati Nuh dan anak-anaknya" [Kejadian 8:20 dan 9:1].

Menurut arti kata-nya, mezbah adalah tempat korban dipersembahkan. Mezbah pertama yang dicatat Alkitab adalah mezbah yang didirikan oleh Nuh. Melalui mezbah inilah Nuh mempersembahkan korban yang merupakan suatu penyembahan kepada Tuhan. Yang menarik untuk kita perhatikan disini adalah mezbah ini didirikan oleh Nuh, tetapi sebagai respon atas perbuatan Nuh, Allah memberkati Nuh dan anak-anaknya. Jadi mezbah yang didirikan Nuh bukanlah mezbah pribadi tetapi mezbah keluarga.

Apakah artinya mezbah keluarga? Bagaimana kita saat ini memahami dan menerapkan mezbah keluarga ini? Secara sederhana, mezbah keluarga adalah suatu tindakan yang diambil oleh seorang bapa untuk memimpin seluruh anggota keluarga agar menyembah Tuhan bersama-sama. Yang perlu digarisbawahi adalah pengertian menyembah Tuhan bersama-sama. Menyembah Tuhan bersama-sama bukanlah berarti masing-masing anggota keluarga melayani Tuhan secara pribadi, mengadakan saat teduh dan meditasi firman sendiri-sendiri. Kalau demikian, ini berarti masing-masing anggota keluarga mendirikan mezbah pribadi.

Mezbah keluarga haruslah didirikan oleh seorang bapa, karena dialah yang harus memimpin seluruh anggota keluarga menyembah dan melayani Tuhan secara bersama-sama. Memang tidak mudah bagi seorang bapa untuk mendirikan mezbah keluarga. Sebelum Nuh mendirikan mezbah keluarga, ia telah lebih dahulu mendapat kasih karunia dimata Tuhan [ Kej. 6:8 ]. Nuh dan seluruh keluarganya juga telah melihat perbuatan Tuhan yang besar dengan menyelamatkan mereka dari air bah. Setelah melalui semua perkara ini, barulah Nuh dapat mendirikan mezbah keluarga.

Seorang bapa haruslah benar-benar pemimpin rohani bagi keluarganya. Bapa haruslah memiliki dan menanamkan tujuan, misi dan visi yang jelas, agar seluruh anggota keluarga dapat menyembah dan melayani Tuhan bersama-sama sebagai suatu tim. Yang umumnya kita lihat pada keluarga-keluarga Kristen adalah masing-masing anggota melayani Tuhan secara sendiri-sendiri, atau kalaupun mereka melayani Tuhan ditempat yang sama, kepemimpinan seorang ayah tidak terlihat didalam keluarga itu. Keluarga itu bukan merupakan suatu tim pelayan. Sebenarnya, keluarga adalah tim pelayan dengan kepemimpinan seorang bapa. Keluarga seperti ini benar-benar satu, dalam arti hanya memiliki satu mezbah yaitu mezbah keluarga. Kebanyakan keluarga Kristen memiliki banyak mezbah pribadi, ya…ini memang lebih baik dari pada tidak ada mezbah sama-sekali. Tetapi yang kita bicarakan adalah mezbah k