Artikel-artikel tentang doktrin kekristenan, termasuk di dalamnya khotbah dan pengajaran yang sesuai dengan Firman Tuhan
Oleh: Wiempy Wijaya
Di bawah ini akan saya bahas mengenai Allah Roh Kudus.
ALLAH ROH KUDUS
Siapakah Roh Kudus itu ?
Roh Kudus adalah Allah oknum ketiga
Kapan Roh Kudus mulai bekerja ?
Roh Kudus sudah ada sebelum dunia ada dan segala isinya tercipta (Kejadian 1:1-2). Namun pada hari Pentakosta aktivitas Roh Kudus dinyatakan kepada manusia yang menunjukkan masa baru (Kisah Para Rasul 2).
Bagaimana seseorang dapat dipenuhi dengan Roh Kudus ?
Setiap orang percaya menerima Roh Kudus untuk memimpin hidupnya. Jika orang tersebut membuang dosanya dan berada dalam ketaatan penuh pada pimpinan Roh Kudus maka orang itu dipenuhi dengan Roh Kudus (Kisah Para Rasul 4:31)
Berapa lamakah Roh Kudus berdiam dalam diri seseorang ?
Roh Kudus tinggal selama-lamanya dalam diri orang yang percaya (Efesus 1:13-14, Yohanes 14:17)
Apakah artinya dibaptiskan dengan Roh Kudus ?
Dibaptiskan dengan Roh Kudus yaitu masuknya Roh Kudus dan berdiam dalam diri orang yang menerima Yesus sebagai Juru Selamat. Baptisan Roh Kudus terjadi satu kali saja dalam hidup seorang percaya (Kisah Para Rasul 1:5). Jadi jika ada di antara saudara sekalian mau pindah dari gereja aliran Protestan ke gereja aliran Pantekosta, dan oleh Pdt. dari gereja Pantekosta tsb minta dibaptis ulang dengan cara baptis selam untuk bisa menjadi jemaat di gereja tersebut atau agar bisa mengikuti pelayanan di gereja tersebut, saya sarankan jangan mau dibaptis ulang untuk yg kedua kalinya. Baptisan hanya berlaku dan terjadi satu kali saja dalam hidup kita sebagai orang Kristen. Jika hanya gara-gara pindah gereja dan lalu kita dibaptis ulang untuk yang kedua kalinya, hal ini tidak diperkenankan.
Apakah orang yang dipenuhi dengan Roh Kudus harus berbahasa Roh ?
Dengan tegas saya katakan Tidak harus !!! Kita ambil contoh Rasul Petrus yang penuh dengan Roh Kudus namun berbahasa biasa (Kisah Para Rasul 4 :8, 13:9-10)
Oleh : Pdt. DR. Budyanto
Biasanya setiap orang Kristen berpendapat bahwa tidak ada keselamatan di luar Yesus Kristus, bahkan lebih sempit lagi tidak ada keselamatan di luar gereja. Adapun dasar yang dipakai adalah Yohanes 14:6: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak seorang pun datang kepada Bapa kalau tidak melalui Akuâ€Â.
William Barclay menafsirkan ayat ini sebagai berikut: Memang banyak orang yang mengajar tentang jalan yang harus ditempuh, tetapi hanya Yesuslah jalan itu dan di luar Dia manusia akan tersesat. Banyak orang yang berbicara tentang kebenaran, tetapi hanya Yesuslah yang dapat mengatakan “Akulah kebenaran†itu. Orang lain mengajarkan tentang jalan kehidupan, tetapi hanya dalam Yesus orang menemukan kehidupan itu. Karena itu hanya Dia saja yang dapat membawa manusia kepada Tuhan.
Lain halnya dengan Samartha yang mengatakan bahwa dalam agama Kristen Yesus Kristus memang juru selamat, tetapi orang Kristen tidak dapat mengklaim bahwa juru selamat hanya Yesus Kristus. Demikian pula Yesus adalah jalan, tetapi jalan itu bukan hanya Yesus, sebab seperti dikatakan Kenneth Cracknell bahwa di luar agama Kristen pun dikenal banyak keselamatan.
Dalam agama Yahudi dikenal istilah Halakhah, yang secara harafiah artinya berjalan. Kata ini merupakan istilah teknis dalam pengajaran agama Yahudi yang berhubungan dengan semua materi hukum dan tatanan hidup sehari-hari. Istilah ini diambil dari Keluaran 18:20: “Kemudian haruslah engkau mengajarkan kepada mereka ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan yang memberitahukan kepada mereka jalan yang harus mereka jalani dan pekerjaan yang harus mereka lakukanâ€Â.
Dalam agama Islam konsep jalan itu terdapat dalam Sura 1:5-7: “.... Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan. Pimpinlah kami ke jalan yang lurus (yaitu), jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka...â€Â
Dalam agama Hindu juga dikenal adanya jalan menuju moksha, menuju kelepasan dari kelahiran kembali, menuju keselamatan, yaitu Jnana marga atau jalan pengetahuan, Karma marga atau jalan perbuatan baik, serta bhakti marga yaitu jalan kesetiaan atau ibadah. Sedangkan dalam agama Budha dikenal Dhama pada, jalan kebenaran menuju nirwana.
Lalu bagaimana hubungan jalan-jalan ini dengan Kristus yang adalah jalan?
Ada berbagai penafsiran, di antaranya: ada banyak jalan kecil-kecil (path), tetapi hanya satu jalan besar (way) yaitu jalan Kristus. Atau ada yang mengatakan ada banyak jalan, termasuk jalan Kristus, tetapi hanya ada satu tujuan yaitu Allah.
Kalau kita memilih yang pertama, memang tidak cocok dengan semangat pluralisme agama-agama, tetapi lebih sesuai dengan teks Yohanes 14:6 Ada banyak jalan tetapi hanya ada satu jalan yang menuju Bapa, yaitu jalan Kristus.
Kalau memilih alternatif kedua, hal itu sesuai dengan semangat pluralisme tetapi persoalan tentang “Tidak seorang sampai kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku†tidak terpecahkan. Dan dengan memilih alternatif kedua, berarti menempatkan Yesus sebagai jalan (cara) untuk mencapai suatu tujuan. Padahal menurut banyak penafsir Yesus itu bukan jalan (cara) untuk mencapai tujuan, tetapi Ia sendiri jalan sekaligus tujuan. Dalam teks dikatakan “Aku adalah... (tiga kata berikutnya mempunyai kedudukan yang sejajar) jalan, kebenaran dan hidupâ€Â. Bukan Aku jalan menuju kebenaran dan menuju hidup, juga bukan Aku jalan kebenaran dan jalan hidup.
Penulis setuju bahwa di luar agama Kristen ada jalan (minhaj, marga, dhama pada), ada jalan kebenaran, ada keselamatan, tetapi tidak berarti bahwa jalan Yesus itu jalan yang luar biasa, sedangkan jalan yang lain jalan biasa. Lalu persoalannya adalah bagaimana kalimat “Tidak seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku†harus ditafsirkan?
Konteks ayat ini adalah: Ketika itu Tuhan Yesus berkata kepada para murid-Nya. Ia pergi untuk menyediakan tempat bagi murid-muridnya, kemudian Ia akan kembali menjemput mereka, supaya di mana Yesus berada murid-murid juga berada di sana (Yoh.14:3). Kemudian Thomas berkata: “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi, jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?
Dengan perkataan itu Thomas ingin tahu jalannya supaya bisa sampai ke tempat itu dengan cara dan kekuatannya sendiri.
Kemudian Tuhan Yesus menjawab: â€ÂAkulah jalan dan kebenaran dan hidup, tidak seorangpun datang kepada Bapa kalau tidak melalui Akuâ€Â. Yang dimaksud Tuhan Yesus dengan perkataan itu adalah: Thomas tidak dapat datang ke tempat itu dengan usaha dan kekuatannya sendiri. Kalau toh ia bisa datang ke tempat itu karena Tuhan Yesus yang membawa dia (Bdk. Ay. 3 yang berkata: “Aku akan datang kembali membawa kamuâ€Â). Dengan kata lain kalau Thomas bisa datang ke tempat itu, semua itu semata-mata hanya karena anugerah Allah yang nyata dalam kehadiran Yesus Kristus.
Jadi persoalannya bukan di luar Kristus tidak ada jalan, tetapi bagi umat Kristen kita bisa sampai ke tempat di mana Kristus berada, itu semata-mata karena anugerah Allah. Inilah yang membedakan jalan yang ditempuh umat Kristen dan jalan-jalan lainnya. Di sana bukan tidak ada jalan, di sana bisa juga ada jalan, jalan di sana bukan kurang baik, sedang di sini lebih baik, tetapi memang jalan itu berbeda. Dengan demikian pemutlakan orang Kristen terhadap Yesusnya, tidak harus membuat orang Kristen menjadi eksklusif, atau menyamakan saja semua agama.
Kita yakin seyakin-yakinnya bahwa hanya Yesus Kristuslah yang membawa kita kepada keselamatan, tetapi kita juga tidak harus mengatakan di sana, dalam agama lain, sama sekali hanya ada kegelapan dan kesesatan. Kalau kita sendiri tidak rela orang menganggap dalam kekristenan hanya ada kegelapan dan kesesatan, mengapa hal yang sama kita tujukan kepada orang lain.
Apakah pandangan itu tidak memperlemah semangat Pekabaran Injil? Tidak, hanya harus ada orientasi baru tentang Pekabaran Injil.
Pekabaran Injil harus dipahami seperti pemahaman Yesus Kristus sendiri: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku untuk menyampaikan kabar baik (mengabarkan Injil) kepada orang-orang miskin, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang†(Luk.4:18,19).
Memberitakan Injil tidak lagi dipahami sebagai kristenisasi, tetapi kristusisasi. Menambah jumlah orang-orang yang diselamatkan dan menjadi anggota gereja bukan tujuan pekabaran Injil, tetapi sebagai akibat atau buah pekabaran Injil: “mereka disukai semua orang dan setiap hari Tuhan menambahkan dengan “orang-orang yang diselamatkan†(Kis. 2:46). Buah pekabaran Injil ini mungkin tidak segera kita nikmati dalam kehadiran mereka di gereja, tetapi mungkin pada waktu dan di tempat lain.
Apakah pemahaman Pekabaran Injil ini tidak sama saja dengan pemahaman sebelumnya? Tidak, pada pola pemahaman yang pertama mengesampingkan sikap toleransi yang karenanya dapat menimbulkan kecurigaan bahkan konflik sosial. Dan sering kekristenan mereka yang “bertobat†lebih bersifat emosional. Sedangkan pola pekabaran Injil kedua, sangat bersikap tenggang rasa dan toleran dan bahkan mungkin pekabaran Injil bisa dilakukan dengan kerjasama antar agama. Dan kalau akhirnya ada yang menjadi anggota gereja, kekristenan mereka tidak bersifat emosional, tetapi dengan kesadaran penuh.
Penulis : Manfred T. Brauch
"Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih daripada itu, supaya kamu bernubuat." 1 Korintus 14:5 Ucapan Paulus dalam 1 Korintus 14:5 dan pembahasan sekitarnya mengenai kehadiran dan fungsi karunia-karunia rohani dalam diri orang-orang beriman telah menimbulkan banyak pertanyaan: Apa kedudukan "bahasa roh" di dalam jemaat? Apakah orang-orang yang telah mendapatkan karunia rohani ini menjadi orang Kristen yang lebih saleh, lebih terbuka terhadap pekerjaan Roh Kudus, dibandingkan mereka yang belum mendapatkannya? Apakah Paulus bermaksud mengatakan bahwa semua orang Kristen harus mendapatkan karunia ini? Atau sebaliknya semua orang harus berpartisipasi dalam pekerjaan nubuat, dan memberikan tempat yang tidak penting untuk "berkata-kata dengan bahasa roh"?
Beberapa orang Kristen, atas dasar teks ini dan teks-teks lainnya, merasa lebih tinggi, atau lebih lengkap, karena mereka memiliki karunia bahasa roh, dan bersama-sama Paulus berharap bahwa saudara-saudara seiman mereka dapat memiliki pengalaman yang sama ini. Orang-orang Kristen lainnya, atas dasar teks yang sama, menganggap glossolalia ini (dari bahasa Yunani glossai "lidah") perwujudan dari iman yang primitif dan tidak dewasa, dan menganggap ketiadaan karunia atau pengalaman ini sebagai tanda kedewasaan yang lebih besar. Yang lainnya lagi, melihat iman yang bersemangat dan antusias, dan juga kesaksian dari beberapa orang yang memiliki karunia berkata-kata dengan bahasa roh, merasa bahwa mereka tidak berjalan seiring dengan Roh Allah dan sungguh-sungguh merindukan atau mencari pengalaman Roh yang akan menimbulkan semangat pada iman yang statis.
Masalah di atas, yang sedikit banyak sudah ada di sebagian gereja sepanjang sejarah gereja telah muncul kembali akhir-akhir ini dalam sebuah bentuk yang dikenal dengan nama gerakan kharismatik (dari kata bahasa Yunani charisma "karunia"). Karena gerakan ini telah masuk ke dalam semua golongan gereja dan mempengaruhi orang-orang beriman dalam hampir semua tradisi Kristen, kita sangat perlu mengerti ucapan Paulus yang sulit ini.
Sebuah definisi singkat tentang istilah-istilah yang digunakan oleh Paulus akan bermanfaat. Dua aktivitas yang dipertentangkan dalam ucapan sulit ini adalah "berkata-kata dengan bahasa roh" dan "bernubuat." Fenomena "bahasa roh" yang dinyatakan oleh Paulus sebagai karunia (bahasa Yunani, karisma) dari Roh Kudus ini (1 Korintus 12-14) harus dibedakan secara jelas dari fenomena yang menyertai pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta (Kisah Para Rasul 2:1-12).
Dalam Kisah Para Rasul, Roh Kudus memampukan murid-murid Yesus untuk "berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain" (glossai Kisah Para Rasul 2:4, 11) sedemikian rupa sehingga para pendengarnya, yang terdiri dari orang-orang dari berbagai kelompok bahasa di seluruh daerah Yunani Roma, mendengar mereka berbicara mengenai kabar baik tentang Yesus (Kisah Para Rasul 2:6, 8) dalam bahasanya masing-masing (bahasa Yunani, dialekton "dialek/bahasa"). Di sini jelas terjadi pernyataan dan pendengaran yang penuh keajaiban di mana artinya yang jelas terungkap dan diterima pendengar.
Penafsiran Paulus tentang fenomena ini juga menunjukkan bahwa hal tersebut harus dimengerti sebagai pernyataan yang jelas tentang kebesaran Allah. Ia mengutip nubuat dalam Yoel 2:28-32, di mana pencurahan Roh Kudus itu menimbulkan nubuat (Kisah Para Rasul 2:17-18).
Di Korintus, di pihak lain, fenomena bahasa roh yang dirisaukan Paulus diidentifikasi sebagai "bahasa yang tidak dimengerti": tidak seorangpun mengerti hal ini (1 Korintus 14:2); bahasa itu perlu ditafsirkan jika ingin membangun jemaat (14:5); bahasa ini dikontraskan dengan "kata-kata yang jelas" (14:9, 19) dan "banyak macam bahasa...tidak ada satu pun di antaranya yang mempunyai bunyi yang tidak berarti" (14:10); bahasa ini tidak mencakup akal budi (14:14); orang lain tidak tahu apa yang dikatakan (14:16).
Paulus membandingkan karunia "bahasa roh" ini dengan karunia "nubuat". Kita harus berhati-hati sejak awal untuk tidak memberikan gagasan yang terbatas pada kata nubuat. Kata ini tidak hanya berarti "meramalkan masa yang akan datang." Nubuat kadang-kadang mencakup unsur peramalan ini (baik di antara nabi-nabi Perjanjian Lama maupun nabi-nabi Kristen), tetapi aspek ini tidak eksklusif ataupun utama. Nabi-nabi Israel terutama menunjukkan Firman Allah pada kenyataan yang sekarang. Ini juga merupakan aspek utama dari pemberitaan Injil dalam kekristenan awal yang mula-mula. Dalam Kisah Para Rasul, nubuat Yoel (bahwa "anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat" Kisah Para Rasul 2:17-18) terpenuhi dalam pernyataan tentang apa yang telah dilakukan Allah dalam Yesus Kristus (Kisah Para Rasul 2:22-36).
Dalam 1 Korintus 11, berdoa dan bernubuat dibicarakan sebagai dua aspek khas dari orang Kristen dalam ibadah jemaat. Doa ditujukan kepada Tuhan, sedangkan nubuat berarti menunjukkan Firman Tuhan kepada jemaat yang beribadah. Dalam 1 Korintus 14:19-33, aktivitas nabi-nabi Kristen diartikan menyampaikan isi wahyu ilahi kepada jemaat demi pengajaran dan dorongan. Tujuan perkataan nabi ini sangat penting daam kontras antara nubuat dengan berkata-kata dalam bahasa roh, yaitu untuk membangun, menasihati, dan menghibur (1 Korintus 14:3).
Kita dapat meringkas perbedaan di atas sebagai berikut: Paulus memahami "bahasa roh" sebagai ucapan yang bersemangat dan penuh gairah, tetapi tidak jelas tanpa penafsiran. Tempatnya yang asli dan sesuai adalah dalam doa (1 Korintus 14:2, 16). Ia memahami "nubuat" sebagai pernyataan wahyu yang bersemangat (mungkin mencakup Injil, yaitu tindakan Allah di dalam Kristus, dan pengungkapan yang lebih jauh dari tujuan Allah berdasarkan kejadian itu), yang disampaikan pada gereja dalam bentuk perkataan yang jelas untuk pertumbuhannya yang terus menerus. Dengan latar belakang dan definisi ini kita sekarang siap untuk mengikuti argumentasi Paulus tentang ucapan yang sulit ini.
Konteks yang lebih luas terdapat sebelum bab 12-14, di mana Paulus membicarakan masalah-masalah dalam kehidupan masyarakat gereja, khususnya dalam konteks ibadah. Prinsip yang utama dan pokok untuk tindakan Kristen adalah prinsip kemajuan rohani. Semua kehidupan dan tindakan Kristen seharusnya diatur oleh pertanyaan: Apakah ini bermanfaat bagi orang lain? Apakah hal ini menimbulkan keselamatan dan/atau pertumbuhan iman mereka? Apakah ini baik untuk mereka? (1 Korintus 8:1, 9, 13, 9:12, 19-22; 10:23-24, 31-33; 11:21, 33). Prinsip ini terus berlanjut sebagai lintasan pedoman dalam pembahasan Paulus tentang kedudukan dan fungsi karunia rohani dalam 1 Korintus 12-14. Fokus dari pembahasan tersebut adalah manfaat relatif dari "bahasa roh" dan "nubuat" (bab 14). Tetapi Paulus menggunakan "nubuat" untuk membahas apa yang nampaknya merupakan masalah inti di Korintus: sikap meninggikan karunia berkata-kata dengan bahasa roh sedemikian rupa sehingga karunia-karunia lainnya dan juga orang-orang yang memiliki karunia itu diremehkan. Orang-orang yang menggunakan bahasa roh jelas melihat karunia ini sebagai tanda kerohanian yang lebih tinggi.
Pandangan semacam ini biasanya muncul secara alamiah di antara sekelompok orang beriman di Korintus yang merasa yakin bahwa mereka telah dibebaskan dari semua hubungan tanggung jawab dan masalah etika praktis (Lihat pembahasan tentang "orang-orang yang tinggi rohani" di Korintus dalam bab 15-17 di atas. Dalam ibadah, orang-orang yang tinggi rohani ini merasa bangga dalam fenomena wahyu sebagai pengesahan terakhir bahwa mereka bebas dari eksistensi yang terikat pada bumi, termasuk kata-kata yang rasional dan jelas. Pertanyaan Paulus kepada mereka dalam hal ini, seperti juga pertanyaan yang lebih awal sehubungan dengan masalah lain, adalah: Bagaimana peranan karunia ini untuk keselamatan atau untuk membangun orang lainnya, dan bukan hanya diri sendiri? (1 Korintus 14:4). Dasar untuk mengatasi masalah ini dijelaskan dengan teliti dalam bab 12-13. Singkatnya, pemikiran Paulus berkembang sebagai berikut: Ada bermacam-macam karunia untuk orang beriman, tetapi semuanya itu berasal dari Roh Allah (1 Korintus 12:4-6). Implikasinya adalah tidak seorang pun memiliki alasan untuk merasa bangga! Perwujudan dari Roh yang satu ini dalam bermacam-macam karunia itu adalah demi kepentingan bersama (1 Korintus 12:7). Jadi, dimilikinya karunia khusus itu bukanlah demi keuntungan pribadi seseorang. Rohlah yang menentukan bagaimana karunia itu dibagikan (1 Korintus 12:11). Karena itu, pemilik dari satu karunia tertentu tidak mempunyai alasan untuk merasa lebih disukai secara khusus atau dalam pengertian tertentu lebih tinggi daripada seseorang yang tidak memiliki karunia yang sama.
Rangkaian pemikiran ini kemudian ditunjang oleh gambaran jemaat sebagai tubuh Kristus, yang dibandingkan dengan anggota tubuh manusia yang hidup (1 Korintus 12:12-27). Tujuannya yang utama adalah untuk menyatakan bahwa walaupun ada bermacam-macam orang dan karunia dalam gereja, tidak boleh ada perpecahan; masing-masing bagian harus memperhatikan bagian yang lainnya (1 Korintus 12:25).
Setelah menekankan penting dan ab412nya semua anggota tubuh, dan juga karunianya yang bermacam-macam, Paulus kemudian melanjutkan dengan menunjukkan bahwa sehubungan dengan prinsip-prinsip yang membimbing kehidupan dan tindakan Kristen yaitu agar orang-orang lain dapat diselamatkan dan dibangun beberapa panggilan dan karunia lebih utama, lebih mendasar dari yang lain, dan memberikan sumbangan yang lebih langsung dan besar terhadap tujuan itu. Walaupun Paulus memulai daftar panggilan karunia itu dengan cara menyebutkan satu demi satu ("pertama rasul, kedua nabi, ketiga guru" 1 Korintus 14:28), ia tidak melanjutkan penyebutan itu pada daftar karunia yang tersisa. Pelayanan rangkap tiga dari kata itu yaitu kesaksian Rasul yang mendasar bagi Injil, pemberitaan Injil nabi pada gereja, dan pengajaran tentang arti dan implikasi praktis dari Injil jelas merupakan yang utama, sedangkan aktivitas-aktivitas lainnya yang ditandai oleh karunia-karunia itu (1 Korintus 14:28) bersifat tergantung dan sekunder terhadap pelayanan tersebut. Penyebutan bahasa roh di urutan terakhir tidak harus berarti bahwa karunia inilah yang "paling kecil" berdasarkan urutan hirarkisnya (karena kelima karunia itu tidak diberi nomor). Lebih mungkin Paulus menyebutkannya paling akhir karena bagi jemaat yang antusias di Korintus kata ini terletak di paling atas. Tetapi, sudah jelas bahwa "bahasa roh" ini termasuk ke dalam sekelompok karunia yang satu tingkat lebih rendah daripada pelayanan nubuat. Hal ini ditegaskan oleh kalimat penutup Paulus dalam Korintus 12:31, "Jadi berusahalah untuk memperoleh karunia-karunia yang utama." Dapat diduga dari lanjutannya dalam bab 14 bahwa pemberitaan nabi (khotbah) dan pengajaran adalah "karunia-karunia yang utama" itu.
Desakan untuk memperoleh karunia-karunia yang utama diikuti oleh panggilan menuju daya tarik yang lebih besar, "Dan aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi" (1 Korintus 12:31 "jalan yang lebih baik lagi," Alkitab versi RSV). Yang lebih baik lagi daripada berusaha memperoleh karunia-karunia yang lebih utama, menurut Paulus, adalah mengikuti jalan kasih (1 Korintus 13:1).Karena, seperti ditunjukkannya dengan sangat mengesankan di bab 13, karunia yang kecil maupun besar suatu hari akan lenyap. Tetapi kasih abadi. Paulus mungkin mengungkapkan panggilan yang luar biasa terhadap kasih ini karena ia mengetahui bahwa kasih itu secara murni ditujukan kepada orang lain dan akan menjadi kekuatan yang memberi semangat untuk mencari karunia-karunia yang membangun orang lain. Karena itu "kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat" (1 Korintus 14:1). Sekarang kita sudah siap untuk membahas secara khusus hakikat, fungsi, dan manfaat relatif dari bahasa roh dan nubuat (di dalam ucapan yang sulit itu). "Bahasa roh" adalah bahasa hati, yang ditujukan kepada Allah (1 Korintus 14:2). "Nubuat" adalah kata-kata Allah yang ditujukan kepada manusia untuk menasihati dan menghibur (1 Korintus 14:3). "Bahasa roh" pada pokoknya merupakan masalah pribadi; bahasa roh ini membangun diri sendiri. "Nubuat" merupakan masalah umum, nubuat ini membangun jemaat (1 Korintus 14:4).
Paulus menegaskan perlunya dimensi pribadi dan juga dimensi umum dari karunia-karunia yang berlawanan tersebut ketika ia mengungkapkan harapannya agar mereka semua memiliki karunia bahasa roh, dan kemudian segera melanjutkan harapan itu dengan harapa yang lebih besar, "tetapi lebih daripada itu, supaya kamu bernubuat" (1 Korintus 14:5). Pengalaman pribadi yang menggairahkan, khususnya dalam keakraban hubungan doa seseorang dengan Allah, tidak seharusnya ditolak ("Janganlah melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa roh" 1 Korintus 14:39). Paulus mengetahui nilainya dari pengalaman pribadi (1 Korintus 14:18). Dalam konteks ibadah jemaat sekalipun, bahasa roh ini bisa bermanfaat jika dijelaskan melalui penafsiran (1 Korintus 14:5) sehingga orang-orang lain dapat "dibangun" (1 Korintus 14:16-17). Karena "bahasa roh" itu dikenal sebagai karunia Roh dan diberikan oleh Roh Allah, Paulus dapat mengatakan, "Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh." Ini akan merupakan bukti bahwa Roh bekerja di dalam diri mereka. Walaupun demikian, prinsip pelaksananya (yaitu demi kebaikan orang lain) membawanya tanpa syarat kepada pilihan terhadap pemberitaan nubuat, "Tetapi dalam pertemuan jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, daripada beribu-ribu kata dengan bahasa roh" (1 Korintus 14:19).
Analisa ini membawa kita pada ringkasan kesimpulan sebagai berikut: Tidak satupun karunia Roh bersifat mutlak; hanya kasih yang mutlak. Karena itu, memiliki atau menggunakan karunia yang manapun bukan merupakan tanda kedewasaan rohani. Seseorang yang beriman harus terbuka terhadap karunia Roh dan jika mereka menerimanya, mereka harus menggunakannya dengan rasa syukur dan rendah hati. Setiap pencarian karunia tertentu secara sungguh-sungguh harus dipimpin oleh keinginan untuk melibatkan diri dalam membangun jemaat sehingga seluruh umat Allah benar-benar dapat menjadi alternatif ilahi bagi masyarakat manusia yang sudah rusak.
Children of Light - Serving with LOVE through FAITH Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia Kol 3:23 Karena bagiku hidup adalah Kristus & mati adalah keuntungan Fil 1:21
Sumber: Ucapan Paulus Yang Sulit
Penulis : James Montgomery Boyce
Belum lama berselang saya membaca ulang novel indah karya Charles Dickens yang berjudul A Tale of Two Cities. Kota yang dimaksud tentunya adalah Paris dan London, dan menceritakan kejadian pada Revolusi Perancis, dimana ribuan orang yang tidak bersalah dihukum mati dengan pemenggalan kepala oleh pendukung pendukung revolusi. Sebagaimana biasa dengan cerita Dickens, alur ceritanya sangat kompleks, tapi mencapai klimaks yang tidak terlupakan dimana Sydney Carton, satu tokoh yang tidak disukai dalam cerita ini, menggantikan temannya Charles Darney, yang seharusnya dihukum mati di Bastille.
Darney, yang telah dijatuhi hukuman mati, pergi dengan bebas, den Carton yang menggantikannya di tiang gantungan, berkata, "Ini adalah hal yang jauh, suatu tindakan yang jauh lebih baik yang kulakukan dari apapun yang pernah kuakukan; Ini adalah hal yang jauh, tempat peristirahatan yang jauh lebih baik yang kudatangi, dari apapun yang pernah kuketahui." Cerita itu ditulis dengan sangat indahnya sehingga tetap dapat membuatku menangis setiap kali membacanya, walaupun telah dibaca berulang kali. Ada perasaan terpesona yang dalam timbul sedemikian besarnya karena mengetahui pengorbanan hidup seseorang untuk orang lain. Itu adalah bukti paling besar dari cinta yang sejati.
Jika kita mencintai Yesus, kita akan mengorbankan hidup kita bagi-Nya. Yesus berkata, "Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seseorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat sahabatnya" (Yoh.15:13), dan la melakukannya bagi kita. la secara harafiah benar-benar melakukannya. Pengorbanan Sydney Carton bagi temannya hanyalah sebuah kisah belaka, sekalipun sangat menggugah, tapi Yesus sungguh-sungguh mati di kayu salib bagi penyelamatan kita. Sekarang, karena la mencintai kita dan menyerahkan diri-Nya bagi kita, demikian juga kita yang mencintai-Nya memberikan diri kita kepada-Nya sebagai "Persembahan yang hidup / living sacrifices".
Tapi ada perbedaan yang sangat besar antara pengorbanan yang Yesus lakukan dengan pengorbanan yang kita lakukan. Yesus mati menggantikan tempat kita untuk menanggung penghukuman Allah atas dosadosa kita sehingga kita tak perlu lagi menanggungnya. Pengarbanan kita, tidak sedikitpun sama seperti itu. Pengorbanan kita tidak merupakan penebusan atas dosa dalam arti apapun. Melainkan dalam arti bahwa kita sendirilah yang memutuskan pengorbanan kita yaitu mengorbankan diri kita sendiri. Itulah yang dikatakan Paulus ketika ia menulis, "karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati" (Roma 12:1). Dalam pelajaran ini saya hendak mengungkapkan arti lebih dalam, dengan pertanyaan: Apa sebenarnya yang dimaksudkannya dan bagaimana kita melakukannya
Persembahan yang hidup.
Hal yang pertama sangat jelas. yaitu mempersembahkan yang hidup dan bukan yang mati. Ini merupakan ide baru di zaman Paulus, dan jelas telah dilupakan di zaman kini karena telah menjadi istilah yang sangat biasa. Di zaman Paulus, pengorbanan selalu berarti pembunuhan. Di dalam praktek-praktek agama Yahudi, korban dibawa kehadapan imam, dosa dari orang yang membawa persembahan tersebut diakui atas korban dan dengan demikian secara simbolik memindahkan dosa-dosanya kepada korban yang dipersembahkan tersebut.
Kemudian korban tersebut dibunuh. Ini merupakan gambaran yang hidup yang mengingatkan kepada setiap orang bahwa "Upah dosa adalah maut" (Roma 6:23) dan bahwa keselamatan para pendosa digantikan secara substitusi. Di dalam gambaran pengorbanan tersebut, korban yang dipersembahkan mati menggantikan tempat manusia yang mempersembahkannya. Korban tersebut harus mati agar orang tersebut tidak mati mati. Tetapi sekarang, dengan ledakan kreativitas Iliahi yang diinspirasikan, Paulus mengatakan bahwa persembahan yang kita persembahkan adalah persembahan yang hidup, dan bukan yang mati. Sehingga sebagai hasilnya kita mempersembahkan hidup kita kepada Allah, sehingga kita "tidak lagi hidup untuk diri sendiri tetapi untuk Dia, yang telah mati untuk kita dan telah dibangkitkan kembali" (2Kor. 5:15).
Persembahan yang dengan kehidupan yang hidup, ya. Tapi dengan kehidupan lama yang penuh dengan dosa dimana ketika kita hidup didalamnya, kita telah mati. Melainkan kita mempersembahkan kehidupan rohani yang baru yang telah diberikan kepada kita oleh Kristus. Robert Smith Candlish seorang pastor Skotlandia yang pernah hidup lebih dari 100 tahun yang lulu (1806-1873) telah meninggalkan beberapa pengajaran Alkitab yang indah. Satu set pengajarannya adalah mengenai Roma 12, dan didalamnya ada beberapa alinea yang akan kita refleksikan ke dalam kehidupan yang kita persembahkan kepada Allah. Kehidupan apa? tanya Candlish. "Bukan sekadar kehidupan binatang belaka yaitu kehidupan yang umum dari seluruh ciptaan dan termasuk ciptaan yang bergerak; Tidak sekadar, sebagai tambahannya, kehidupan yang inteligent (cerdas), yang menggambarkan kehidupan seluruh makhluk yang mampu berpikir dan mampu melakukan pemilihan yang bebas; tapi kehidupan rohani yaitu kehidupan yang memiliki arti yang tertinggi yang sebenarnya membutuhkan pertobatan yang dicapai melalui pengorbanan namun dinyatakan tak cukup, ketika mereka merasakan hal ini, maka mereka membutuhkan pengorbanan yang bersifat menebus.
Apa artinya ini, diatas segala hal, adalah bahwa kita harus menjadi orang-orang percaya jika kita ingin memberikan diri kita kepada Allah sebagaimana yang Ia inginkan. Orang lain mungkin memberikan kepada Allah, uang mereka atau waktu bahkan mungkin bekerja di lapangan pekerjaan agamawi, tapi hanya orang Kristen sajalah yang dapat memberikan kembali kepada Allah kehidupan barunya di dalam Kristus karena ia telah menerima terlebih dahulu. Sesungguhnya, ini hanya dapat terjadi karena kita telah dihidupkan di dalam Kristus sehingga kita dapat melakukannya atau bahkan kita dapat menginginkannya.
Mempersembahkan Tubuh
Hal kedua yang perlu kita lihat mengenai hakekat persembahan yang Allah kehendaki adalah meliputi pemberian tubuh kita kepada Allah. Beberapa buku-buku tafsiran kuno memberikan penekanan bahwa mempersembahkan tubuh berarti mempersembahkan seluruh totalitas kehidupan kita, seluruh aspek yang kita miliki. Calvin menulis, "Tubuh yang dimaksudkan bukan hanya kulit dan tulang-tulang, tapi seluruh totalitas yang membentuk tubuh kita." Walaupun ini benar bahwa kita harus mempersembahkan seluruh totalitas yang kita miliki, banyak buku tafsiran saat ini menolak kata tubuh ini dengan demikian mudahnya, padahal mereka mengetahui bagaimana Alkitab menekankan pentingnya tubuh kita. Sebagai contoh. Leon Morris berkata, "Paulus dengan sesungguhnya mengharapkan orang-orang Kristen mempersembahkan kepada Allah bukan hanya tubuh mereka saja tapi seluruh keberadaan mereka.Tapi harus selalu diingat bahwa tubuh adalah hal yang penting dalam pengertian kekristenan mengenai banyak hal Tubuh kita mungkin merupakan 'senjata-senjata kebenaran' (6:13) dan 'anggota Kristus' (1Kor. 6:15). Tubuh kita adalah 'bait dari Roh Kudus' (1Kor.6:19); Paulus dapat berkata untuk menjadi "kudus baik di dalam tubuh maupun di dalam jiwa" (1Kor. 7:34). Ia mengetahui bahwa ada kemungkinan adanya yang jahat di dalam tubuh (tubuh dosa) tapi di dalam orang-orang percaya "tubuh yang penuh dosa" telah dibersihkan (6:6).
Di dalam arti yang lama, Robert Haldane berkata, "Yang dibicarakan oleh para rasul di sini adalah mengenai tubuh, dan tidak perlu menggalinya lebih dalam dari arti yang sebenarnya.Ini menunjukkan bahwa kepentingan melayani Tuhan dengan tubuh sama dengan melayani-Nya dengan jiwa". Paulus tidak menguraikan Roma 12 lebih mendalam kepada pengertian dari mempersembahkan tubuh kepada Allah "sebagai persembahan yang hidup," tapi kita tidak ditinggalkan di dalam kegelapan mengenai pengertian ini karena pemikiran ini bukanlah ide yang baru, bahkan tidak di Roma. Pemikiran ini telah muncul di pasal enam surat Roma. Di pasal itu Paulus berkata, "Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya. Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada Allah sebagai orang-orang yang dahulu mati tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran.
Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia" (vv, l2-14). Ini adalah kala pertama dimana Paulus berbicara soal persembahan, dan point yang ia buat ini sama dengan point yang dibuatnya kini yang berjudul, bahwa kita melayani Allah dengan mempersembahkan tubuh kita kepada-Nya.
Dosa dapat menguasai kita melalui tubuh kita, tapi hal ini tidak perlu terjadi Sehingga, daripada mempersembahkan anggota-anggota tubuh kita sebagai alat dosa, kita mempersembahkan tubuh kita kepada Allah sebagai senjata-senjata untuk melaksanakan kehendakNya. Secara praktikal kita perlu memikirkan hal ini dengan melibatkan anggot119ubuh kita yang spesifik
Apakah saudara pernah mempertimbangkan bahwa apapun yang saudara lakukan dengan akal saudara akan sangat menentukan pembentukan saudara sebagai seorang Kristen? Jika saudara hanya mengisi akal saudara dengan produk-produk kebudayaan sekular, saudara akan tetap bersifat sekular dan berdosa. Jika saudara mengisi kepala saudara dengan novel-novel "pop" yang tidak bermutu, saudara akan mulai hidup seperti karakter tak bermutu yang saudara baca. Jika saudara tidak melakukan apapun dan hanya menonton acara televisi, saudara akan mulai bertingkah seperti penjahat-penjahat dilayar televisi. Di lain pihak, jika saudara mengisi pemikiran dengan Alkitab dan buku-buku Kristen, melatihnya dengan percakapan-percakapan yang bermutu, dan mendisiplinkan diri dengan pertanyaan-pertanyaan tajam tentang apa yang saudara lihat dan dengan membandingkannya dengan kebenaran Alkitab di dalam praktekpraktek dunia, saudara akan bertumbuh dalam kebajikan dan bertambah berguna bagi Allah. Untuk setiap buku sekular yang saudara baca, buatlah itu menjadi pendorong semangat saudara. Untuk membaca satu buku kristen yang bermutu, buku yang dapat membangun pemikiran rohani saudara.
Saya tidak mengarahkan kepada sistim penginjilan biara dimana saudara mundur dari segala bentuk kebudayaan, karena berpikir adalah jauh lebih baik menjaultinya daripada harus mati karenanya. Tapi kadangkadang masukan sekular harus diseimbangkan dengan masukan rohani. Tujuan lain yang sederhana untuk saudara adalah untuk menghabiskan waktu dengan mempelajari Alkitab, berdoa, dan pergi ke gereja sebanyak yang saudara habiskan untuk menonton televisi.
Yang saudara perlu lakukan adalah menggunakan lidah saudara untuk memuji dan melayani Allah. Untuk satu hal, saudara harus belajar bagaimana menceritakan Alkitab dengan menggunakannya. Saudara mungkin menghafal banyak nyanyian-nyanyian populer? Dapatkah saudara juga menggunakan lidah saudara untuk memberitakan perkataan Allah? Dan bagaimana dengan penyembahan? Saudara harus menggunakan lidah saudara untuk memuji Allah dalam lagu-lagu pujian dan lagu-lagu kristiani lainnya. Di atas seluruhnya, saudara harus menggunakan lidah saudara untuk menyaksikan kepada orang lain mengenai Pribadi dan Pekerjaan Yesus Kristus. Ini adalah tujuan untuk saudara jika saudara ingin bertumbuh dalam kebajikan: Gunakanlah lidah saudara sebanyak mungkin untuk menceritakan tentang Yesus kepada orang lain setiap saat.
Sedemikian jauh kaki kita juga diperhatikan. Dalam Roma 10 Paulus menuliskan tentang pentingnya orang lain mendengar penginjilan, dengan berkata "Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya,jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis "Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!" (Rm. 10: l4-15). Apa yang saudara lakukan dengan tangan saudara? Ke mana kaki saudara membawa saudara? Apakah saudara mengijinkannya jika mereka membawa saudara ke tempat dimana Knstus ditolak dan dihina? Ke tempat dimana secara terbuka praktek-praktek dosa dilakukan? Apakah saudara menghabiskan lebih banyak waktu luang saudara di bar-bar yang panas atau tempat-tempat tercela lainnya? Di sana saudara tidak akan bertumbuh dalam kebaikan.
Malah sebaliknya, saudara akan jauh dari kelakuan yang benar. Sebaliknya, biarkanlah kaki saudara memimpin saudara ke perkumpulan orang-orang yang mencintai dan melayani Tuhan. Atau, bila saudara pergi ke dalam dunia, biarlah hal tersebut menjadi pelayanan kepada dunia dan menjadi saksi bagi nama Kristus. Gunakanlah kaki dan tangan saudara bagi Dia. Untuk setiap pertemuan-pertemuan sekular yang saudara hadiri, jadikanlah menjadi dorongan untuk menghadiri pertemuan-pertemuan Kristen juga. Dan jika saudara pergi ke pertemuan sekular, lakukanlah sebagai kesaksian bagi Firman-Nya dan lakukanlah untuk Tuhan Yesus Kristus.
Kata ketiga yang Paulus gunakan untuk menjelaskan arti persembahan pengorbanan yang kita lakukan untuk Allah adalah "suci". Pengorbanan apapun yang kita lakukan haruslah kudus. Yaitu, harus tanpa noda atau cacat dan hanya berpusat pada Allah. Yang kurang dari hal tersebut adalah merupakan penghinaaan kepada yang Terbesar, Allah yang Kudus kepada siapa setiap orang harus menyembah. Tapi seberapa jauh kita harus kudus -- kita yang telah ditebus "bukan dari barang-barang yang fana seperti perak atau emas .... melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus, darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat" (1Pet l:18- 19). Petrus menjelaskan. "tetapi sebagaimana Ia yang memanggilmu adalah Kudus, maka kuduslah kamu dalam segala perbuatanmu; sebagaimana tertulis: "Kuduslah kamu, sebab Aku kudus" (VV. 15-16). Pengarang Ibrani berkata, "Tanpa kekudusan tidak seorangpun melihat Allah" (Ibr 12:14). Ini adalah pusat dari perbincangan kita ketika kita berbicara tentang persembahan yang hidup. Atau dengan kata yang lain lagi, kekudusan adalah tujuan dari seluruh arahan kitab Roma. Kitab Roma berbicara tentang penyelamatan. Tapi, keselamatan tidak berarti bahwa Yesus mati menyelamatkan kita di dalam (in) dosa kita tetapi menyelamatkan kita dari (from) dosa.
Handley C.G. Moule melukiskan hal ini lebih baik. "Sebagaimana kita sedang mendekati peraturanperaturan tentang kekudusan dihadapan kita, biarlah kita sekali lagi mengumpulkan apa yang telah kita lihat di dalam zaman rasul-rasul, bahwa kekudusan adalah merupakan tujuan dan persoalan dari seluruh Injil. Hal ini merupakan "bukti hidup" merupakan pembuktian tentang seberapa jauh seseorang mengenal Yesus sebagai satusatunya jalan ke Surga. Bahkan lebih lagi; hal ini adalah ekspresi dari hidup; merupakan dasar dan tindakan dimana hidup seharusnya dijalankan.Kita yang sudah merupakan "orang-orang pilihan" dan "ditetapkan" untuk "menghasilkan buah" (Yoh 15:16), buah yang banyak dan tetap. Apakah ada subjek-subyek lain yang lebih banyak ditinggalkan / dilupakan dalam penginjilan di Amerik139120m zaman kini ketimbang kekudusan? Saya tidak berpikir demikian. Memang ada waktu dimana kekudusan merupakan hal serius yang dikejar oleh siapapun yang menamakan dirinya Kristen, dan bagaimana seseorang hidup dan apa yang ada di dalam seseorang merupakan hal yang sangat vital.
J.I. Packer menuliskan sebuah buku berjudul "Rediscovering Holliness" dimana ia meminta perhatian untuk hal ini. "Kaum Puritan mendesak agar seluruh aspek kehidupan dan hubungan-hubungan didalamnya harus "kudus bagi Allah". John Wesley mengatakan kepada dunia bahwa Tuhan telah membangkitkan kaum Metodis "untuk memercikkan kekudusan Alkitab keseluruh dunia". Phoebe Palmer, Handlev Moule, Andrew Murray, Jessie Penn Lewis, F.B. Meyer, Oswald Chambers, Hotrauus Bonar, Amy Carmichael dan L B.Maxwell hanyalah sedikit dari figure-figure yang memimpin kepada "kebangkitan kekudusan" yang menyentuh seluruh penginjilan kristiani antara abad pertengahan 19 dan pertengahan 20. Tapi sekarang? Didalam zaman kita, kekudusan adalah hal yang sangat dilupakan sebagai kualitas yang sangat penting bagi umat Kristen. Sehingga kita tidak mencoba untuk hidup kudus. Kita dengan pasti tahu apa artinya kudus. Dan kita tidak melihat kekudusan pada diri orang lain. Pendeta Robert Murray Mc.Cheney berkata, "keperluan terbesar dari umatku adalah kekudusan pribadiku." Tapi kekudusan seperti apa yang dilihat jemaat-jemaat pada diri pastor-pastor zaman kini? Pastinya ada. Mereka melihat kepada kepribadian yang menyenangkan, kepada kemampuan komumkasi yang baik, kemampuan administrative, dan hal-hal secular lainnya.
Seperti untuk diri kita sendiri, kita tidak mencari buku atau kaset agar menjadi kudus atau menghadiri seminar yang dapat membawa kita lebih dekat kepada Allah. Kita lebih menginginkan informasi mengenai "Bagaimana menjadi bahagia," "Bagaimana membesarkan anak." "Bagaimana memperoleh kehidupan sexual yang indah," dan lain-lainnya. Untunglah kekurangan ini telah diperhatikan oleh pemimpin-pemimpin rohani yang merasa terganggu dan telah memulai membahas pokok persoalannya. Saya menghargai buku karangan Packer sebagai buku yang sama baiknya dengan buku yang ditulis beberapa tahun sebelunuiya oleh Jerry Bridges yang berjudul "The Pursuit of Holiness / Pengejaran dari Hidup Suci". Ada juga cerita klasik yang sama dari seorang Bishop lnggris John Charles Ryle.
Menyenangkan Allah
Kalimat terakhir yang digunakan Paulus untuk menerangkan arti dari persembahan yang hidup adalah "menyenangkan Allah". Tapi ini juga merupakan kesimpulan dari apa yang telah dibicarakan dalam pelajaran ini, karena tujuan utamanya adalah jika kita melakukan hal yang Paulus usulkan --sebutlah, mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, kudus untuk Allah" -- kita juga akan menemui bahwa apa yang telah kita lakukan adalah menyenangkan hati Allah atau diterima. Sangatlah mengagumkan saya bahwa Allah menemukan sesuatu yang mungkin dapat kita lakukan untuk menyenangkan-Nya. Tapi itulah kenyataannya. Perhatikan bahwa kata menyenangkan muncul dua kali dalam kalimat yang pendek itu. Kali pertama, yaitu apa yang kita lihat disini, menyatakan bahwa mempersembahkan diri kepada Allah adalah menyenangkan-Nya. Kali kedua, muncul di akhir ayat kedua, menyatakan bahwa ketika kita melakukan hal ini kita akan menemukan kehendak Allah dalam hidup kita yaitu untuk menyenangkan Allah sejauh dan sesempurna mungkin. Saya sadar bahwa kehendak Allah bagi saya merupakan hal yang menyenangkan - yaitu menyenangkan saya. Bagaimana mungkin tidak jika Allah adalah Allah yang Bijaksana dan Sumber kebaikan? Kehendak-Nya pasti adalah hal yang baik untuk saya. Tapi persembahan tubuh saya kepada-Nya juga menyenangkan hati-Nya -- ketika saya menyadari diri sebagai yang sangat berdosa, bebal dan yang tidak tulus hati walaupun didalam usaha yang terbaik sekalipun kenyataan ini sangat mengejutkan.
Namun inilah kenyataannya! Alkitab berkata bahwa untuk kebaikan kita harus berpikir sebagai hamba yang tidak berharga (Luk.17:10). Tapi juga dikatakan bahwa jika aku hidup bagi Yesus, mengembalikan kepada-Nya apa yang telah Ia berikan dulu kepada saya, maka suatu hari aku akan mendengar-Nya berkata, "Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia! .... masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu!) (Mat.25: 21,23).
Penulis : John Calvin
Ada sejumlah orang yang menimbulkan kehebohan di dalam gereja berkenaan dengan baptisan anak-anak. Dengan sombong mereka mengatakan bahwa baptisan ini tidak memiliki dasarnya sebagai institusi Allah, tetapi dimasukkan kemudian semata-mata berdasarkan ide manusia. Tentu kita menyetujui bahwa suatu sakramen yang tidak berdiri di atas dasar Firman Tuhan, tidak akan mempunyai kekuatannya. Tetapi bagaimana kalau setelah diperiksa, ternyata tuduhan yang dilontarkan terhadap institusi yang kudus ini hanyalah fitnah yang tidak beralasan. Inilah jawaban kita. Pertama, ajaran yang sudah diterima baik di antara orang-orang saleh ialah pandangan yang tepat mengenai tanda-tanda tidak terletak hanya pada segi lahiriah dari upacara itu, tetapi terutama terletak pada janji dan rahasia-rahasia (kebenaran-kebenaran) rohani yang digambarkan oleh upacara yang diperintahkan oleh Tuhan itu. Alkitab menyatakan bahwa baptisan pertama-tama menunjuk kepada pembersihan dari dosa, yang kita peroleh dari darah Kristus; selanjutnya ialah pematian kedagingan, yang didasarkan pada keikutsertaan kita dalam kematian-Nya yang melaluinya kita dilahirkan kembali untuk memperoleh hidup yang baru dan persekutuan dengan Kristus. Inilah intisari ajaran Alkitab tentang baptisan; yang ada di luar itu hanyalah suatu tanda yang menyatakan kepercayaan kita di hadapan orang-orang.
Sebelum baptisan ditetapkan, umat Allah telah memiliki sunat. Ketika menyelidiki perbedaan dan kesamaan antara kedua tanda ini, terlihatlah hubungan anagogi keduanya, maksudnya, sunat mengantisipasi baptisan. Janji yang diberikan Allah kepada para bapa leluhur dalam sunat, juga diberikan kepada kita dalam baptisan, yaitu sebagai gambaran tentang pengampunan dosa dan pematian kedagingan (bdk. Ul.10:16; 30:6). Sekarang kita dapat melihat dengan jelas persamaan dan perbedaan kedua tanda ini. Dalam keduanya terdapat janji yang sama, yaitu anugerah Allah yang penuh kebapaan, pengampunan dosa, dan kehidupan kekal. Hal yang dirujuk keduanya juga sama, yaitu kelahiran baru, dan keduanya memiliki satu landasan yang sama yang menjadi dasar bagi penggenapan semua ini. Jadi tidak ada perbedaan kebenaran internal yang melaluinya seluruh kekuatan dan karakter dari sakramen ini diuji. Perbedaan antara keduanya terletak di bagian luar, yaitu upacara lahiriah, yang merupakan seginya yang paling idak penting.
Ketika menyelidiki Alkitab untuk mengetahui apakah dibenarkan untuk melakukan baptisan kepada anak-anak, kita akan menemukan bahwa baptisan bukan saja layak diberikan, bahkan wajib diberikan kepada mereka. Bukankah dulu Tuhan telah menganggap mereka layak menerima sunat untuk membuat mereka berbagian dalam semua janji yang ditunjuk oleh sunat? Penyunatan bayi ini bagaikan meterai yang mengesahkan janji-janji kovenan. Dan karena janji ini masih teguh maka semua ini juga berlaku bagi anak-anak Kristen sekarang ini, sama seperti dulu menyangkut anak-anak Yahudi. Dan kalau anak-anak ini turut mendapat bagian dalam apa ditunjuk oleh tanda itu, mengapa mereka harus dicegah untuk mendapatkan tandanya?
Alkitab bahkan membukakan kepada kita kebenaran yang lebih pasti. Anak-anak Yahudi, karena telah dijadikan sebagai pewaris kovenan ini, dan dibedakan dari orang-orang yang fasik, sehingga mereka disebut benih yang kudus (Ez. 9:2; Yes. 6:13). Demikian juga, anak-anak Kristen dianggap kudus, yang dibedakan dari orang-orang yang najis (1Kor. 7:14). Kita melihat bahwa setelah mengadakan kovenan dengan Abraham, Tuhan memerintahkan supaya hal ini dimeteraikan oleh suatu tanda lahiriah, dengan demikian, kita tidak mempunyai alasan untuk tidak menyaksikan dan memeteraikan kovenan ini di dalam diri anak-anak kita.
Ketika Kristus memerintahkan supaya anak-anak dibawa kepada-Nya, Ia menambahkan "karena orang-orang seperti inilah yang empunya kerajaan Allah." Pertanyaan kita ialah jika anak-anak harus dibawa kepada-Nya, mengapa mereka tidak sekaligus diterima dalam baptisan, yaitu simbol persekutuan dengan-Nya? Jika Kerajaan Allah adalah milik mereka, mengapa kita menolak tanda yang membuka jalan bagi mereka untuk masuk ke dalamnya? Mengapa kita menutup pintu bagi mereka yang hendak Allah terima?
Karena itu, janganlah ada seorang pun yang tidak menerima bahwa baptisan bukanlah karangan manusia, karena Alkitab membenarkan dan menunjang hal ini. Orang-orang yang menolak baptisan anak karena mengatakan tidak ada bukti bahwa para rasul membaptiskan anak-anak adalah tidak meyakinkan. Sebab, walaupun para penulis Injil tidak menyebutkan secara eksplisit bahwa anak-anak juga dibaptis, namun mereka juga tidak menyebutkan bahwa anak-anak dikecualikan dari baptisan yang diberikan kepada seluruh keluarga (Kis. 16:15, 32-33). Siapakah yang dapat menunjukkan dari nas-nas ini bahwa anak-anak tidak turut dibaptis? Apakah karena Alkitab tidak pernah menuliskan secara eksplisit bahwa wanita juga turut menerima Perjamuan Kudus oleh para rasul, maka wanita harus dikecualikan dari Perjamuan Kudus.
Selanjutnya kita akan menunjukkan berkat apa yang diberikan oleh pelaksanaan baptisan anak ini kepada orang percaya yang menyerahkan anak-anaknya untuk dibaptis dan bagi anak-anak yang dibaptis itu, agar jangan ada orang yang melecehkannya sebagai hal yang tidak berguna. Melalui institusi/sakramen kudus ini iman kita mendapatkan penghiburan. Sebab tanda ilahi yang diberikan kepada anak itu menegaskan janji yang diberikan kepada orangtua yang saleh dan menyatakan bahwa secara pasti Tuhan akan menjadi Allahnya dan bahkan Allah anak-anaknya; dan bahwa Ia akan mencurahkan kebaikan dan anugerah-Nya kepadanya dan keturunannya hingga beribu-ribu angkatan (Kel. 20:6). Mereka yang menyambut janji Allah, yaitu bahwa kemurahan Allah menjangkau hingga kepada anak-anak mereka, hendaklah memahami kewajiban mereka untuk mempersembahkan anak-anak mereka kepada gereja untuk dimeteraikan oleh simbol kemurahan, dan dengan demikian, memberikan keyakinan yang lebih sungguh kepada mereka, karena mereka melihat sendiri kovenan Tuhan telah diukirkan di dalam diri anak-anak mereka.
Di pihak lain, anak-anak juga menerima berkat baptisan. Dengan dimasukkannya mereka ke dalam tubuh gereja, berarti mereka telah dipercayakan kepada anggota-anggota tubuh yang lain, dan ketika mereka sudah dewasa, mereka akan lebih terdorong untuk sungguh-sungguh menyembah Allah karena mereka telah diterima menjadi anak-anak Allah melalui simbol adopsi, sebelum mereka cukup besar untuk mengakui Dia sebagai Bapa. Akhirnya, kita patut merasa gentar terhadap ancaman yang menyatakan bahwa Allah akan membalas siapa saja yang menganggap hina pemberian tanda simbol kovenan kepada anak-anaknya. Karena dengan penghinaan seperti ini, anugerah yang ditawarkan telah mereka tolak, dan bahkan ingkari (Kej. 17:14).
Sebagian orang mengatakan bahwa anak-anak tidak boleh dibaptis karena mereka belum cukup umur untuk dapat mengerti misteri (kebenaran) yang dirujuk oleh baptisan, yaitu kelahiran baru secara rohani. Orang yang berkata demikian tidak mengerti bahwa anak-anak dilahirbarukan oleh karya Allah yang melampaui pengertian kita. Alasan mereka yang lain ialah karena baptisan adalah sakramen pertobatan dan iman, maka anak-anak tidak boleh dibaptis karena mereka belum dapat bertobat maupun beriman. Kita akan menjawab bahwa argumen ini tidak dapat menjawab pertanyaan mengapa Allah memerintahkan penyunatan anak-anak, yang disebut oleh Kitab Suci sebagai tanda pertobatan, dan yang disebut oleh Paulus sebagai "meterai kebenaran berdasarkan iman" (Rm. 4:11). Kita menyatakan bahwa anak-anak dibaptis dalam pertobatan dan iman yang akan mereka lakukan di masa yang akan datang, dan benih ini tersimpan dalam diri mereka karena karya Roh Kudus.
Sumber: Institutes of the Christian Religion, IV.16
Penulis : Eka Darmaputera
Kalau saya tidak salah, adalah Jean-Paul Sartre, seorang filsuf berkebangsaan Prancis, yang terkenal dengan ucapannya, bahwa setiap orang manusia adalah "makhluk terkutuk". Astaga, "terkutuk"? Ya! "Dikutuk" para datuk menjadi makhluk "bebas". Dengan perkataan lain, menurut Sartre, "kebebasan" atau "kemerdekaan" adalah "laknat". "Kutuk". Pada satu pihak, katanya, tak seorang manusia pun yang tidak mendambakan kebebasan. Anda, saya, siapa saja, siapa sih yang suka ditelikung atau dikurung? Sebaliknya, berkorban apa pun manusia bersedia, demi apa? Demi kebebasannya. "Kami cinta perdamaian, tapi lebih cinta kemerdekaan!", pekik Bung Karno. Namun, pada saat yang sama, tak dapat disangkal, "kebebasan" itu tak lain tak bukan adalah "beban". Bila sudah mengalami sendiri apa implikasi "kebebasan" itu dalam kehidupan, siapa pun—bila mungkin— ingin menghindarinya. Sayangnya, ini mustahil. Tak mungkin. Jauh di lubuk hatinya, manusia pada satu pihak ingin bebas, tapi pada saat yang sama sebenarnya juga ingin "tidak bebas". Mengapa? Sebab "kebebasan" itu berarti "tanggung-jawab". Dan "tanggung-jawab" itu berarti "risiko". Dan siapa yang menyukai "risiko"? Bukankah yang paling enak adalah mengerjakan sesuatu, tapi tak perlu bertanggungjawab bila salah? Bila kita dapat melemparkan risiko pada orang lain? "Saya cuma sekadar melaksanakan instruksi pimpinan!".
JADI, pada satu pihak, dari "bawahan" kita ingin merambat naik agar menjadi "atasan". Dari "anak kecil" kita ingin cepat-cepat menjadi "orang dewasa". Alasannya? Supaya "bebas"! Namun sekali Anda merasakan sendiri bagaimana situasi "di atas sana", Anda akan mengatakan, "Wah, sebenarnya enakan dulu lho, ketika masih jadi bawahan". Sebab di atas sana, o, sunyi sekali. Yang ada cuma Anda sendiri. It�s lonely on the top! Anda tidak dapat mengatakan, "Saya sekadar melaksanakan perintah atasan". Anda yang harus bertanggungjawab — seluruhnya dan sendirian! Memang tak ada "atasan" yang sengaja "melorotkan" diri agar kembali jadi "bawahan". Dan itulah, menurut Sartre, letak "kutuk"nya. Kita tak dapat melepaskan diri. Apa sih sisi yang paling memberatkan dalam "tanggung jawab"? Saya kira tak bakal meleset terlalu jauh, bila saya mengatakan, bahwa yang paling berat dari "tanggung jawab" adalah, "melakukan pilihan" dan "mengambil keputusan". Apa lagi, bila "keputusan" yang kita ambil itu tidak boleh salah! Atau orang, dengan mata menyala, akan menggugat dan menuntut "pertanggung-jawaban" kita.
DIHARUSKAN melakukan pilihan dan mengambil keputusan sendiri itu memang lebih terhormat dan bermartabat ketimbang tidak punya hak pilih sama sekali. Namun, tetap saja, mengambil keputusan itu tidak enak. Dan sulit. Terlebih-lebih, bila kita harus memilih antara yang "benar" dan yang "salah"! "Ini" atau "itu". Lebih aman dan nyaman bila tidak perlu memilih, alias "netral". Dengan begitu, tak perlu seorang pun kecewa atau sakit hati akibat pilihan kita. Toh kesulitan tersebut masih relatif belum seberapa. Yang jauh lebih sulit dari pada memilih antara yang "benar" dan yang "salah", adalah tatkala kita harus memilih antara antara "yang salah" dan "yang salah". Ke situ salah, ke sini salah. Mundur kena, maju kena. Bak harus makan buah simalakama. Karena sulitnya memilih dan tidak enaknya risiko serta tanggungjawab itulah, pada diri setiap orang—ya, setiap orang!—sebenarnya ada semacam dorongan naluriah untuk "tidak terlibat", untuk "cari selamat", untuk menjadi "safe-player". Banyak orang yang, ingin "netral" saja. Atau berkata, "No comment." Atau "Off-the-record". Orang-orang ini, enggan dengan tegas mengatakan "ya" atau "tidak". "Bagaimana, Anda pilih "A" atau "B"?". "Yah, menurut saya, masing-masing punya kelebihan dan kekurangan masing-masing". Sip, bukan? Semua orang, bilamana memungkinkan, akan cenderung mengambil sikap "cari aman" seperti itu. Yang maksimal mereka katakan adalah, "Mungkin", "Barangkali", "Belum pasti". "Lihat saja nanti!".
TAPI walaupun yang saya katakan itu adalah kecenderungan yang nyaris ada pada setiap orang, ada orang-orang tertentu yang lebih "ekstrem". Kecenderungan tidak mau mengambil sikap itu telah menjadi bagian dari "kepribadian", "watak" dan "karakter" yang bersangkutan. Telah menjadi "habit". Orang-orang yang saya maksud ini hampir tak pernah mau atau berani mengatakan "ya" atau "tidak". Paling banter yang mereka katakan adalah, "barangkali" atau "nanti saya usahakan". "Warna apa yang Anda sukai? Kuning atau merah?" Jawab mereka, "Kuning bagus. Tapi merah juga bagus". Bergaul , berurusan, apa lagi bekerja-sama dengan orang-orang macam begini—tipe orang- orang "Barangkali"—bisa sangat menjengkelkan dan menyebalkan. Bayangkan bila Anda menjadi pacar orang seperti ini. "Jadi bagaimana? Kita jadi kawin atau tidak? Maksud saya, kalau ya, kapan, di mana, apa yang mesti kita persiapkan?". Yang ditanya hanya menjawab, "Jadi sih jadi, tapi ..." "Tapi apa?" "Tapi ya itu. Ah, kita bicarakan lain kali saja ya!" Begitu setiap kali. Atau sekiranya Anda mempunyai bawahan seperti ini. "Oke, saya membutuhkan nasihat dan pendapat Anda sekarang, sebab sebentar lagi saya harus mengambil keputusan. Kita terima tidak tawaran PT "Kencana Wungu" itu? Bagaimana Harto?". Jawab Harto, "Ah, saya sih mana-mana saja, boss! Apa yang bapak putuskan, pasti saya dukung. 100 persen!". "Tapi saya butuh pendapatmu!". "Pendapat saya ya itu tadi. Mana-mana yang bapak putuskan pasti baik. Saya nurat- nurut saja".
DARI sudut pandang iman kristen, mengambil keputusan adalah bagian tak terpisahkan dari hakikat kita sebagai manusia. Maksud saya, sebab kita diciptakan sebagai manusia, maka kita harus mengambil keputusan. Tidak bisa tidak. Itulah konsekuensi dari diciptakannya manusia sebagai makhluk yang "bebas", berbeda dengan makhluk-makhluk lain. Manusia dikaruniai oleh Tuhan "kehendak bebas". Hewan mengikuti nalurinya. Ia, misalnya. tak memilih pekerjaan. Ia tak memilih jodoh. Ia tidak mengambil keputusan. Sebab itu hewan tidak dapat diminta pertanggung-jawabannya. Di dalam kitab Taurat disebutkan, bila ada ternak merambah dan kemudian merusak pagar serta halaman orang lain, maka si pemilik hewan itulah yang dijatuhi hukuman. Binatang tidak mengenal apa yang disebut "etika", atau pedoman mengenai tingkah laku yang benar dan salah, baik dan jahat, tepat dan tidak tepat. Sebab binatang tidak mendasarkan tingkah-lakunya pada "norma". Bila seekor kucing melihat daging dijemur di halaman, ia tidak berpikir dan bergumul keras mengenai "benar/salah"nya atau "baik/jahatnya" sekiranya ia mengambil daging yang bukan miliknya itu. Bila ia menginginkannya, dan ada kesempatan untuk itu, ya sambar saja.
BERBEDA dengan manusia. Begitu ia diciptakan oleh Khaliknya, Tuhan berpesan, "Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati" (Kejadian 2:16-17) Bila Anda bertanya, "Mengapa Allah perlu menciptakan pohon yang akhirnya dilarang untuk dimakan?. Bukanlah lebih "aman", bila pohon terlarang itu tidak ada?" Jawabnya, "Ya, mungkin lebih aman. Seaman bila Anda seharian mengunci anak Anda di dalam kamar, guna mencegahnya dari kemungkinan celaka bila bermain di jalan." Tapi itulah risiko yang diambil Allah, ketika Ia menciptakan manusia sebagai makhluk yang bebas. Atau Anda lebih suka pilihan yang lain?" Bebas berarti mesti punya pilihan. Bebas berarti mesti mengambil keputusan antara dua kemungkinan atau lebih. Dan ini memang berisiko untuk memilih yang salah! Risiko ini telah diperhitungkan Allah. Dan Ia memilih mengambil risiko itu, ketimbang menciptakan Anda dan saya seperti kambing atau unta atau cacing. Karena itu, bila ada orang secara sadar tidak mau dan tidak berani menentukan pilihan, alias cuma berani mengatakan "barangkali" sebab tak mau memikul risiko, ia sebenarnya telah melakukan pilihan juga. Hanya saja, yang bersangkutan memilih untuk tidak menjadi manusia yang sepenuhnya. Sayang sekali, bukan? Kasihan sekali, bukan?
Oleh: Richard L. Strauss
" Apa salah dengan kerohanianku? Kenapa aku tidak mempunyai damai dan kegembiraan yang dimiliki orang Kristen lainnya?" Saya tidak bisa lagi menghitung banyaknya orang-orang yang menanyakan pertanyaan seperti itu selama pelayanan saya. Mereka sudah membaca Alkitab yang seharusnya mempunyai " kegembiraan yang tak dapat dilukiskan dan penuh dengan kemuliaan" ( 1 Petrus 1:8), tetapi mereka tidak bisa membayangkan apa itu pengalaman Kristen. Jika mereka menulis suatu acuan hidup Kristen itu akan lebih seperti " kemuraman yang tidak tertahan dan penuh dengan keraguan."
Tidak Ada Formula Ajaib
Saya tidak mempunyai formula apapun untuk memperindah hidup Kristenmu. Ada banyak faktor dalam Alkitab yang bisa mempengaruhi kesejahteraan rohani kita, tetapi satu hal yang pasti – pengenalan Tuhan secara pribadi, adalah satu faktor utama. Keuntungan pengenalan Tuhan pengetahuan sangat luar biasa. Kita akan bicara lebih banyak tentang itu bersama dengan masing-masing atributnya, tetapi mari kita pertimbangkan beberapa keuntungan umum sebelum kita mulai, agar supaya kita mempertajam selera rohani kita dan membangunkan dahaga kita untuk Tuhan. Di sini ada sebagian hal baik yang akan kita nikmati saat pengetahuan kita akan bertumbuh.
Daniel mengantisipasi pemerintahannya secara nubuat dalam pasal kesebelas kitab ini. Dan ia lakukan persis seperti Daniel ramalkan. Ia perintahkan untuk memberhentikan pemberian korban orang Yahudi dan mengotori Bait Tuhan dengan mengorbankan babi diatas altar. Sebagai tambahan, ia melarang pelaksanaan hari sabat dan sunat anak-anak, memerintahkan semua salinan Kitab-kitab dibinasakan, menyediakan altar pemujaan, memerintahkan bangsa Yahudi untuk mengorbankan korban yang kotor, dan meminta dengan tegas agar mereka makan daging babi. Orang yang menentang perintahnya dihukum mati. Itu adalah bencana masa lampau. Ketika Daniel mengantisipasi kekejaman ini ia bertanya pada dirinya bagaimana orang-orang ini akan mampu bertahan. Jawaban tidaklah lama: “ umat yang mengenal Allahnya akan tetap kuat dan akan bertindak†( 11:32). Dan itu persis apa yang mereka lakukan. Suatu kelompok orang berani disebut Maccabees memimpin suatu pemberontakan gagah berani melawan Antiochus. Eksploitasi mereka, melawan rintangan tak dapat diatasi, adalah benar-benar luar biasa. Mereka mengenal Tuhan mereka, memegang Kuasa Kedaulatannya, bertindak, dan menghancurkan genggaman Antiochus atas Israel. Cerita mereka adalah suatu hikayat kekuatan, keperkasaan dari orang yang mengenal Tuhan. Orang-Orang hari ini yang sungguh-sungguh mengetahui Tuhan mempunyai derajat tingkat kekuatan dan keberanian yang sama. Mereka membela kebajikan, menentang kejahatan, bertahan dalam penyiksaan saat perlu, kemenangan melalui menderita, dan memenuhi berbagai hal besar untuk kemuliaan Tuhan. Tidak ada jalan lain untuk mempunyai kuasa rohani kecuali melalui pengenalan akan Tuhan.
Daniel sendiri adalah manusia yang mengenal Tuhan. Ketika presiden dan para pangeran Medo Kerajaan Persia mendorong Raja Darius untuk mengeluarkan suatu keputusan yang melarang siapapun menyembah dewa manapun atau manusia kecuali raja, atau dilempar ke dalam kandang singa, Daniel tetap berdoa kepada Tuhan di Surga ( Daniel 6:4-15). Tidak saja ancaman kematian tidak bisa menghalangi dia melakukannya. Ia mengenal Tuhannya, dan orang-orang yang mengenal Tuhan mempunyai keberanian dan kekuatan untuk lakukan Kehendaknya walaupun keseluruhan dunia melawan mereka dan semua orang di sekitar mereka menyerah dalam dosa. Kita juga dapat memiliki kuasa rohani untuk melakukan kehendak Tuhan dan membuat dampak penting atas dunia yang tidak berTuhan di mana kita tinggal. Ketika pengenalan kita akan Dia meningkat dan persahabatan kita denganNya tumbuh lebih akrab, Ia membuat Kuasanya lebih siap tersedia untuk kita.
Damai
Petrus menceritakan kepada kita tentang orang-orang yang mengenal Tuhan. Ia berkata, “ Kasih karunia dan damai sejahtera melimpahi kamu oleh pengenalan akan Allah dan akan Yesus, Tuhan kita†( 2 Petrus 1:2). Statemennya mengungkapkan baik rahmat dan damai meningkat dalam hidup orang percaya melalui pengenalan Tuhan yang saksama dan penuh. Anugrah adalah keinginan Tuhan, Kepedulian yang sangat, bantuan yang setia, dan pertolongan. Kita menikmati pertolongan Tuhan setingkat dengan pengenalan kita. Itu seharusnya mudah dipahami. Jika kita tidak mengenalNya dengan baik, kita tidak akan mengetahui bantuan apa Ia sediakan, atau bahkan saat Ia sedang menawarkan kita bantuan. Kita harus mengenalNya untuk mampu menerima manfaat yang diberikanNya pada kita.
Tetapi damai yang saya ingin bahas disini  ketenangan didalam diri, suatu kepercayaan diri, suatu stabilitas dan kendali menghadapi keadaan sulit. Itu bertambah dalam kita melalui pengenalan kita akan Tuhan yang mengendalikan keadaan kita. Betapa kita memerlukan damai dalam dunia yang gelisah ini! Ketika kita mempunyai damai, kita menyadari bahwa tidak ada alasan untuk khawatir atas setiap masalah baru. Tuhan Yang Maha Kuasa yang mencintai kita dan memperhatikan tiap-tiap detil hidup kita akan mengusahakan yang terbaik. Makin baik kita berusaha memahamiNya, semakin kita bersandar dalam rencanaNya yang bijaksana untuk masa depan kita.
Jawaban ketiga para pelayan Tuhan merupakan salah satu ungkapan iman dalam Alkitab. Mereka mulai dengan mengatakan, “ Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini†(ayat 16). Tidak rasa tidak hormat didalam kata-kata mereka. Mereka mengakui bahwa tuduhan itu benar dan mereka tidak membela diri. Mereka melakukan apa yang harus dilakukan. Tetapi mereka melanjutkan, “ Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya pemimpin; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya pemimpin, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu†(ayat 17,18). Mereka mengenal Tuhan yang Maha Kuasa mampu menyelamatkan mereka. Ia yang menciptakan api dan yang membuat badan mereka pasti bisa menjaga mereka dari hal ini. Dan mereka percaya Ia mau. Tetapi sekalipun mereka tidak secara penuh memahami rencana Tuhan pada waktu itu dan Ia tidak menyelamatkan mereka, tidak apa-apa! Mereka akan ada dalam keadaan yang lebih baik dihadiratNya. Di dalam kasus manapun, mereka tidak akan menentangNya dengan membungkuk didepan patung. Mereka mempunyai damai yang sempurna dan kepercayaan dihadapan kematian sebab mereka mengenal Tuhan.
Apakah anda ingin memiliki damai seperti itu? Apakah anda ingin menghadapi pencobaan, masalah apapun, bahaya apapun, atau ancaman apapun, serta bisa berkata dengan penuh percaya diri, “ Tidak penting apa yang terjadi kepada saya. aku mengetahui bahwa Tuhan akan bekerja bersama-sama untuk kebaikan. aku hanya ingin melakukan KehendakNya dan memuliakanNya.†Kedamaian seperti itu tergantung pada tingkat pengenalan Tuhan. Ketika kita belajar untuk mengenalNya lebih baik dan mulai untuk merasakan Kuasanya dengan Cinta abadinya, kita akan belajar untuk tenang didalam Dia  seperti anak kecil tenang dan damai didalam lengan ayahnya selagi badai mengamuk diluar.
Kebijaksanaan
Sebagian dari kita memiliki kekurangan dalam pemahaman rohani. Kita membaca Firman Tuhan tanpa mengerti apa yang dikatakan, dan kita secara total kehilangan implikasinya bagi kita. Kita ingin mendapatkan apa yang Paulus doakan untuk, suatu roh kebijaksanaan dan pernyataan, kemampuan untuk melihat kebenaran ilahi, tetapi kita tidak pernah mencapainya. Di mana itu bisa ditemukan? Bagaimana mungkin kita mendapatkannya? Apakah itu memerlukan suatu ijazah teologi? Paulus memberitahu dimana letaknya  dalam pengenalan akan Dia. Orang-Orang yang dengan intim mengenal Tuhan mereka mempunyai pemahaman rohani yang jauh melebihi pendidikan formal mereka. Waktu yang mereka habiskan bersamaNya telah memberi mereka pengertian yang lebih dalam tentang tujuan hidup dibanding yang bisa diberikan universitas manapun didunia.
Petrus dan Yohanes adalah orang seperti itu. Mereka sedang mengkhotbahkan Kristus di halaman bait dan para pemimpin Yahudi sangat marah. Mereka menyeret keduanya kedalam tahanan dan menanyakan mereka sekitar aktivitas mereka, meminta dengan tegas agar mereka memberitahu dengan kuasa apa mereka melakukan mujizat. Kemudian Petrus, dipenuhi dengan Roh Kudus, membawakan kesaksian yang kuat tentang Kristus yang menunjukkan tidak hanya keakrabannya dengan peristiwa sebelumnya di Jerusalem, tetapi juga pengertiannya tentang PL ( Kis 4:812). Itu adalah suatu ungkapan iman yang luar biasa dari seorang nelayan yang tak berpendidikan. Di mana ia mendapatkan kebijaksanaan itu? Tulisan ini terus menceritakan kepada kita: bangsa Yahudi “mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus†( Kis 4:13). Mereka telah masuk ke dalam suatu pengenalan pribadi dengan Tuhan yang hidup melalui Yesus Kristus Putra-Nya. Mereka telah berjalan denganNya dan berbicara denganNya selama tiga setengah tahun. Sebagai hasilnya mereka mempunyai suatu pemahaman tentang kebenaran rohani yang tidak bisa ditandingi oleh pendidikan keagamaan pemimpin agama. Orang-Orang yang mengenal Tuhan mempunyai kebijaksanaan.
Tujuanmu Sebenarnya
Bukankah itu yang benar-benar kamu inginkan? Bukan kamu dapat mengagumkan para temanmu dengan pengetahuan Alkitab atau pengertian teologimu. Tetapi sedemikian sehingga kamu dapat mengetahui apa itu hidup, dan membuat dampak atas hidup mereka untuk kemuliaan Tuhan yang hidup ketika mereka mengamati kenyataan Kristus didalam kamu. Itu akan terjadi ketika kamu berusaha mengenalNya dengan intim.
Itu merupakan suatu pemikiran yang harus dipikirkan orang percaya. Beberapa orang bertanya, “Mengapa aku tidak memiliki kasih dan sukacita serta kedamaian yang aku cari?†Di sini ada satu alasan. Kesuksesan berbuah dan pertumbuhan kita tergantung pada pengenalan akan Tuhan kita. Kita hendaknya bisa memahami bahwa itu bekerja dengan cara yang sama dalam keberadaan manusia. Ketika saya berkembang dalam pengenalanku tentang para temanku, saya menikmati bersama dengan mereka dan lebih ingin menyenangkan mereka. Itulah apa yang terjadi dengan hubungan kita dengan Tuhan. Semakin kita mengenal kasihNya untuk kita semakin kita mencintaiNya sebagai balasan ( 1 Yohanes 4:19). Dan semakin kita mencintai Nya semakin kita ingin menyenangkanNya ( 1 Yohanes 5:3; Yohanes 14:15).
Ada analogi manusia lain yang akan membantu kita memahami kebenaran ini. Psikolog menunjukkan bahwa kita memperoleh persamaan dengan orang-orang yang kita kenal dengan baik dan dengan orang yang sering bersama kita. Ketika kita meluangkan waktu dengan Tuhan dan bertumbuh dalam pengenalan akan Dia, kita mulai berkembang menjadi seperti Kristus, inilah yang dimaksud Perjanjian Baru dengan buah. Dengan kata lain, kita akan berbuah dan meningkatkan tiap-tiap pekerjaan baik oleh karena pengenalan akan Tuhan. Usaha untuk mengenali Nya lebih baik. Anda akan menikmati itu.
Penulis Mazmur bernama Asaph melakukannya. Ia sedang dalam keadaan rohani yang buruk. Ia berkata kalau dia hampir tersandung; langkah-langkahnya hampir tergelincir ( Mazmur 73:2). Ia hampir-hampir mengalami suatu kekalahan rohani yang serius, marah kepada Tuhan sebab orang-orang tak beriman sedang melakukan hal yang lebih baik daripada ia. Ia pasti tidaklah bertumbuh sampai, ia berkata, Sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah, dan memperhatikan kesudahan mereka (ayat 17).
Sedang berada dalam tempat kudus Tuhan adalah suatu cara Perjanjian Lama menyatakan persahabatan denganNya. Asaph dibawa mengetahui Tuhan  kasihNya, kepedulianNya, bimbinganNya, dan pemenuhanNya. Kemudian ia berkata, Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku. Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan. Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya (ayat 23,26). Pengenalannya akan Tuhannya mengubah hidupnya dan memberi dia suatu sukacita yang bertumbuh didalam berjalan denganNya. Ia bisa katakan, “ Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah†(ayat 28). Semakin dekat ia ke Tuhan semakin ia tumbuh dan makin baik ia menikmati pengalaman rohaninya. Itu baik untuk kita juga. Kita akan mengalami kesuksesan dan pertumbuhan baru ketika kita berusaha mengenalNya.
Kebebasan
Ada satu lagi berkat pengenalan akan Tuhan yang umum yang ingin saya tunjukan. Itu ditemukan dalam surat Paulus kepada jemaat Galatia. Mereka, jemaat Galatia mempunyai suatu masalah dengan legalism. Hidup Kristen mereka adalah suatu pekerjaan berat: “Aku telah melakukan ini, aku telah melakukan itu, aku tidak bisa pergi di sini, aku tidak bisa katakan itu.†Mereka terus hidup dalam ketakutan kalau mereka tidak pernah cukup berbuat untuk menyenangkan Tuhan dan itu menghasilkan rasa bersalah yang berlimpah. Satu-Satunya cara untuk mengganti kerugian rasa bersalah mereka adalah dengan mencoba lebih keras. Mereka mungkin berkata, “aku harus bertabah hati dan memberinya semua yang aku punya. Tetapi aku benar-benar merasa seperti itu. aku ingin Tuhan akan berhenti menggangguku.†Bersama dengan ketakutan dan rasa bersalah ada kemarahan terhadap Tuhan untuk tekanan yang mereka sedang merasakan. Satu kata meringkas kehidupan Kristen semacam itu  perbudakan!
Tuhan tidak pernah berniat kita hidup seperti itu. MengenalNya sungguh-sungguh, secara pribadi, dan dengan intim mengeluarkan kita dari perbudakan. Paulus menulis kepada mereka, “Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, bagaimanakah kamu berbalik lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin dan mau mulai memperhambakan diri lagi kepadanya?†(Galatians 4:9) Mereka mengenali Tuhan dan pengenalan mereka telah membawa mereka keluar dari perbudakan. Tetapi sama menyedihkan seperti semula adalah, mereka telah dengan sengaja menaruh dipunggung mereka beban perbudakan yang dari situ mereka sudah dibebaskan. Mengapa? Apa masalah mereka?
Berusaha untuk menyenangkan Tuhan tanpa bertumbuh dalam pengenalan akan Dia bisa membuat kita diperbudak. Kita berpikir kita harus berusaha untuk diterima. Maka kita berjuang dan bekerja keras untuk menyenangkanNya, tidak pernah merasa yakin kita sudah berhasil, frustrasi atas tekanan yang kita berpikir dari Dia, namun takut untuk berhenti berusaha. Hidup semacam itu adalah kesengsaraan belaka.
Ketika kita memahami kasihNya, anugrahNya, pengampunanNya, dan penerimaan tanpa syaratNya didalam Kristus, ketaatan tidak lagi suatu perjuangan atau suatu pekerjaan berat. Itu bebas, alami, dan penuh kegembiraan. Sesungguhnya, itu benar-benar kesenangan. Kita mematuhiNya bukan karena kita berpikir kita harus melakukan itu dalam rangka memperoleh persetujuanNya, tetapi karena ingin seperti itu. Ingin mempertimbangkannya sebagai suatu perlakuan khusus yang menyenangkan. Kita mencintai Satu yang sudah menerima kita, walau kita tak pantas mendapatkannya, dan kita suka menyenangkanNya. Paulus memohon pada jemaat Galatia dan kepada kita, “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan†( Galatians 5:1 KJV). Satu-Satunya cara kita dapat melakukan itu adalah dengan berusaha memahamiNya lebih baik.
Tidak ada akhirnya berkat dari pengenalan akan Tuhan. Seperti kata Petrus, “ Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib†( 2 Petrus 1:3). Segala yang diperlukan untuk meyakinkan kita tentang keabadian didalam hadirat Tuhan ditemukan dalam pengenalan kita akan Dia. Segala yang kita butuhkan untuk membantu kita hidup dalam Tuhan saat ini juga ditemukan dalam pengenalan kita akan dia. Segalanya! Itu berulang terus menunjukan kalau mengenali Tuhan merupakan aspek yang paling utama dari kehidupan kekristenan kita. Apa lagi yang kita tunggu? Marilah kita mulai untuk bertumbuh dalam pengenalan akan Dia.
Tindakan Untuk Dilakukan
Mulai untuk lebih sering memikirkan Tuhan disepanjang hari. Pada setiap situasi baru tanyakan diri anda, “Apa perbedaan yang bisa aku buat jika aku mengenal cara pandang Tuhan atas hal ini? Bagaimana seharusnya aku berespon jika aku benar-benar mengenal Tuhan?â€Â.
Penulis : Yohanes Adrie Hartopo
PENDAHULUAN
"Unless I am convinced by Sacred Scriptura or by evident reason, I will not recant. My consience is held captive by the Word of God and to act against conscience is neither right nor safe." Kata-kata ini diucapkan oleh Martin Luther pada 18 April 1521 ketika ia diajukan pada sidang kekaisaran di kota Worms di hadapan kaisar Charles V yang menjadi penguasa Jerman (dan beberapa bagian Eropa lainnya) pada saat itu, serta di hadapan para pemimpin gerejawi. Luther dipanggil ke kota ini dengan tujuan supaya ia menarik kembali perkataan dan pengajarannya. Ia diminta mengaku salah di depan publik untuk apa yang ia tuliskan dan ajarkan tentang Injil, keselamatan melalui iman, dan hakikat gereja. Tetapi ia tidak bersedia melakukannya.1
Mengapa Luther tidak bersedia? Sebab hati nuraninya dikuasai sepenuhnya oleh firman Tuhan. Ia yakin sepenuhnya bahwa Alkitab dengan jelas mengajarkan kebenaran tentang manusia, jalan keselamatan, dan kehidupan Kristen. Ia melihat bahwa kebenaran-kebenaran yang penting ini sudah dikaburkan dan diselewengkan oleh gereja-gereja pada saat itu, yang seharusnya justru menjadi pembela yang setia. Di mata Luther, dasar penyelewengan gereja pada saat itu adalah pengajaran yang tidak sesuai dengan Alkitab.2 Ia tidak dapat tahan lagi melihat kerusakan gereja yang telah melawan Alkitab, yang juga sudah mencemari aspek-aspek kehidupan gereja lainnya.
Di sinilah kita melihat sikap Reformasi terhadap Alkitab. Prinsip penting yang ditegakkan dalam gerakan Reformasi adalah Sola Scriptura (hanya percaya kepada apa yang dikatakan oleh Alkitab yang adalah firman Tuhan, karena hanya Alkitab yang memiliki otoritas tertinggi). Kita mengetahui dua ungkapan yang mewakili gerakan Reformasi yaitu Sola Fide dan Sola Scriptura. Sering dikatakan bahwa Sola Fide adalah prinsip material dari pengajaran Reformasi, sedangkan Sola Scriptura adalah prinsip formalnya.3 Kalau ditelusuri lebih dalam lagi maka jelaslah bahwa prinsip Sola Scriptura ada di balik semua perdebatan mengenai pembenaran melalui iman, karena Luther yakin sekali bahwa ke benaran ini diajarkan di dalam Alkitab.4
SOLA SCRIPTURA DAN KEWIBAWAAN ALKITAB
Para Reformator tidak pernah berusaha menegakkan doktrin yang baru atau berminat mendirikan gereja yang lain, yang mereka inginkan ialah mereformasi gereja,5 dalam pengertian mereka ingin menghidupkan kembali kepercayaan-kepercayaan dan praktek-praktek gerejawi yang murni berdasarkan Alkitab. John R. de Witt mengatakan, "The Reformation rediscovered and accentuated afresh the authority of the Bible."6 Para Reformator memiliki semangat untuk mengembalikan iman orang Kristen dan kekristenan kepada otoritas Alkitab . John Calvin mengemukakan,
Biarlah hal ini kemudian menjadi suatu aksioma yang pasti: bahwa tidak ada yang lain yang harus diakui di dalam gereja sebagai firman Allah kecuali apa yang termuat, pertama dalam Torah dan Kitab Nabi- nabi, dan kedua dalam tulisan-tulisan para Rasul; dan bahwa tidak ada metode pengajaran lain di dalam gereja yang berlainan dari apa yang sesuai dengan ketentuan dan aturan dari firman-Nya.7
Prinsip Sola Scriptura dengan jelas mendobrak tirani dari suatu hierarki gerejawi yang sudah "corrupt" karena gereja menempatkan dirinya lebih tinggi dari firman Tuhan. Padahal, berdasarkan Efesus 2:20 dapat dikatakan bahwa otoritas Alkitab sudah lebih dulu ada sebelum gereja berdiri karena gereja didirikan di atas dasar pengajaran para rasul dan para nabi. Pengajaran para rasul dan nabi adalah pengajaran firman Tuhan, yang jelas bukan hanya lebih tua tetapi juga lebih tinggi dari pengajaran gereja. Alkitab mampu memberikan penilaian atas gereja sekaligus memberikan model bagi gereja yang benar.
Para Reformator memiliki pendapat yang tegas bahwa wewenang gereja dan para penjabatnya (para Paus, dewan-dewan dan teolog-teolog) berada di bawah Alkitab. Ini tidak berarti mereka tidak memiliki wewenang. Namun, sebagaimana diungkapkan Alister McGrath, wewenang tersebut berasal dari Alkitab dan berada di bawah Alkitab.8 Kewibawaan mereka dilandaskan pada kesetiaan mereka pada firman Allah. Selanjutnya McGrath mengatakan, "Bila orang-orang Katolik menekankan pentingnya kesinambungan historis, para Reformator dengan bobot yang sama menekankan makna penting dari kesinambungan ajaran.9
Jadi, prinsip Sola Scriptura menolak otoritas tradisi gereja yang disetarakan dengan otoritas Alkitab. Sebuah catatan perlu diberikan di sini guna menghindari kesalahpahaman yang sudah cukup umum. Banyak orang berpikir bahwa para Reformator percaya kepada otoritas Alkitab yang tanpa salah, sedangkan gereja Roma Katolik percaya hanya kepada otoritas gereja dan tradisinya yang tanpa salah. Ini suatu kekeliruan. Pada masa Reformasi, kedua pihak sama-sama mengakui otoritas Alkitab.10 Contohnya, bagi sebagian besar teolog abad pertengahan, Alkitab merupakan sumber yang mencukupi untuk ajaran Kristen.Gereja Roma Katolik mengajarkan ada dua sumber wahyu khusus, yaitu Alkitab dan tradisi. Tradisi di sini dimengerti sebagai satu sumber yang berbeda, di samping Alkitab. Alkitab tidak berkata apa-apa mengenai sejumlah pokok masalah atau doktrin, dan Allah telah menetapkan suatu sumber wahyu kedua untuk melengkapi kekurangan ini. Ini adalah suatu tradisi yang tidak tertulis. Jikalau ditelusuri lebih mendalam, tradisi yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya di dalam gereja, itu dianggap berasal dari para rasul. Jadi tradisi yang dimaksud di sini adalah "a separate, unwritten source handed down by apostolic succession."13 Dengan demikian, suatu kepercayaan ya ng tidak ditemukan dalam Alkitab, dapat dibenarkan dengan mengacu pada tradisi yang tidak tertulis tersebut.
Gereja Roma Katolik memberikan otoritas kepada tradisi ini, karena itu mereka tidak mengizinkan siapapun menafsir Alkitab dengan cara yang bertentangan dengan tradisi tersebut. Jelas mereka meninggikan tradisi melebihi Alkitab, bahkan menganggap bahwa Alkitab hanya bisa ditafsirkan dan diajarkan dengan perantaraan Paus atau konsili gerejawi. Para Reformator dengan tegas melawan konsep ini. Dalam perdebatan dengan teolog-teolog Roma Katolik, Luther dengan berani menegaskan bahwa adalah mungkin bagi Paus dan konsili gerejawi untuk melakukan kesalahan.
Prinsip Sola Scriptura juga tidak dapat dilepaskan dari masalah kanon Alkitab. Istilah "kanon" (aturan, norma) digunakan untuk merujuk pada kitab-kitab yang oleh gereja dianggap otentik. Bagi teolog-teolog abad pertengahan dan gereja Roma Katolik, yang dimaksud dengan Alkitab ialah karya-karya yang tercakup dalam Vulgata. Di dalamnya terdapat tambahan kitab-kitab yang sering disebut kitab-kitab Apokrifa, yang tidak terdapat dalam PL bahasa Ibrani. Para Reformator tidak setuju dengan adanya tambahan tersebut, dan mereka merasa berwenang untuk mempersoalkan penilaian ini. Menurut mereka, tulisan-tulisan PL yang dapat diakui untuk masuk ke dalam kanon Alkitab hanyalah yang asli terdapat di dalam Alkitab Ibrani.14Mengapa para Reformator sangat menjunjung tinggi otoritas Alkitab? Jawabannya sederhana sekali: karena Alkitab adalah firman Tuhan, maka Alkitab dengan sendirinya memiliki kewibawaan atau otoritas. Luther berkata, "The Scriptures, although they also were written by men, are not of men nor from men, but from God."17 Sedangkan menurut Calvin,
The Scriptures are the only records in which God has been pleased to consign his truth to perpetual rememberance, the full authority which they ought to possess with faithful is not recognized, unless they are believed to have come from heaven, as directly as if God had been heard giving utterance to them.18
Jadi ada konsensus bahwa Alkitab harus diterima seakan-akan Allah sendirilah yang sedang berbicara.
Otoritas Alkitab berakar dan berdasarkan pada fakta bahwa Alkitab diberikan melalui inspirasi Allah sendiri (2Tim. 3:16). Inspirasi adalah cara di mana Allah memampukan penulis-penulis manusia dari Alkitab untuk menulis semua perkataan di bawah pengawasan Allah sendiri. Kepribadian dan kemanusiawian para penulis Alkitab diakui aktif dalam proses di mana Roh Allah memimpin mereka dalam proses inspirasi tersebut. Karena itu apa yang ditulis bukan semata-mata tulisan mereka sendiri tetapi firman Allah yang sejati. Calvin memberi komentar mengenai 2Timotius 3:16,
This is the principles that distinguishes our religion from all others, that we know that God hath spoken to us and are fully convinced that the prophets did not speak of themselves, but as organs of the Holy Spirit uttered only that which they had been commissioned from heaven to declare. All those who wish to profit from the Scriptures must first accept this as a settled principle, that the Law and the prophets are not teachings handed on at the pleasure of men, or produced by men�s minds as their source, but are dictated by the Holly Spirit.Bagaimana sebenarnya cara atau metode mengenai inspirasi ilahi ini tidak dipaparkan secara jelas dalam Alkitab.20 Butir yang lebih krusial adalah fakta bahwa "the Scriptures are the direct result of the breathing out of God."21 B.B. Warfi104 memberikan komentar yang sangat baik mengenai kata Yunani theopneustos:
The Greek term has...nothing to say inspiring or of inspiration: it speaks only of a "spiring" or "spiration." What it says of Scripture is, not that it is "breathed into by God" or that it is the product of the Divine "inbreathing" into its human authors, but that it is breathed out by God...when Paul declares, then, that "every scripture," or "all scripture" is the product of the Divine breath, "is God-breathed," he asserts with as much energy as he could employ that Scripture is the product of a specifically Divine operation.22
Ini berarti semua yang ditulis para penulis Alkitab itu berasal dari Allah. Jadi, Alkitab berotoritas adalah karena kenyataan dirinya sebagai penyataan ilahi yang diberikan melalui inspirasi ilahi.
Pertanyaan penting berkaitan dengan otoritas Alkitab ialah: Berdasarkan apa kita menerima otoritas Alkitab tersebut? Bagaimana kita tahu dan yakin bahwa yang kita tegaskan tentang otoritas Alkitab itu benar adanya? Apakah melalui gereja kita mengerti dan diyakinkan akan otoritas Alkitab sebagai firman Allah (pandangan gereja Roma Katolik yang tradisional)? Di dalam sejarah gereja kita melihat ada banyak orang berusaha memberikan argumen-argumen yang rasional guna mendukung klaim bahwa Alkitab adalah firman Tuhan. Tetapi kita pun tahu bahwa sering argumen-argumen itu, meskipun perlu dan penting, tidak sepenuhnya "convincing."
Di sini kita melihat satu pokok pikiran Calvin yang sangat penting berkaitan dengan masalah ini. Ia dengan tidak henti-hentinya menegaskan bahwa dasar satu-satunya yang meyakinkan mengapa kita percaya otoritas Alkitab adalah kesaksian Roh Kudus sendiri. Kita percaya bahwa Alkitab adalah firman Allah karena kesaksian Roh Kudus. Ia mengatakan:
The testimony of the Spirit is more excellent than all reason. For as God alone is a fit witness of himself in his Word, so also the Word will not find acceptance in men�s hearts before it is sealed by the inward testimony of the Spirit. The same Spirit, therefore, who has spoken through the mouths of the prophets must penetrate into our hearts to persuade us that they faithfully proclaimed what had been divinely commanded.23
Jadi, otoritas Alkitab tidak tergantung pada bukti-bukti kehebatan dan kesempurnaannya, tetapi oleh karena iman yang Roh Kudus sudah kerjakan dalam hidup orang-orang percaya sehingga mereka mempercayai kebenaran Alkitab dan menaklukkan diri di bawah otoritas tersebut. James M. Boice mengutarakan bahwa kesaksian Roh Kudus ini adalah "the subjective or internal counterpart of the objective or external revelation."24
Apa yang Calvin ajarkan di sini sesuai dengan perkataan Paulus di 1Korintus 2:13-14. Jadi, jelas sekali bahwa terlepas dari karya Roh Kudus seseorang tidak akan menerima kebenaran-kebenaran rohani dan secara khusus tidak akan menerima kebenaran bahwa perkataan-perkataan Alkitab adalah firman Allah. Calvin juga mengatakan, "But it is foolish to attempt to prove to infidels that the Scripture is the Word of God. This it cannot be known to be, except by faith."25
Keyakinan yang datangnya dari kesaksian Roh Kudus adalah keyakinan yang muncul ketika kita membaca firman Tuhan dan mendengar suara Tuhan berbicara melalui perkataan-perkataan Alkitab tersebut serta menyadari bahwa ini bukanlah kitab biasa. Roh Kudus berbicara di dalam (in) dan melalui (through) perkataan-perkataan Alkitab dalam memberikan keyakinan ini.26 Tepatlah apa yang dikatakan oleh seorang pastor, "If you have the Bible without the Spirit, you will dry up. If you have the Spirit without the Bible, you will blow up. But if you have both the Bible and the Spirit together, you will grow up."
Setelah zaman Reformasi, pandangan ortodoks mengenai Alkitab mendapat serangan demi serangan. Gereja Roma Katolik bahkan secara resmi pada tahun 1546 (konsili Trent) menempatkan tradisi gereja berdampingan dan setara dengan Alkitab sebagai sumber penyataan. Serangan lain datang dari golongan rasionalis pada abad 18 dan 19. Alkitab bukanlah "God word to man" tetapi "man�s word about God and man." Alkitab hanya berisi kesaksian atau catatan manusia tentang karya penyataan dan keselamatan Allah dalam sejarah. Sifat ilahi yang unik dari Alkitab ditolak, sehingga otoritasnya pun ditolak. Otoritas tertinggi ialah rasio manusia. Rasio menusia memiliki kebebasan mutlak yang harus terlepas dari klaim-klaim teologis.27 Bagaimana dengan sikap gereja-gereja Tuhan terhadap Alkitab? Sola Scriptura adalah doktrin yang menegaskan bahwa Alkitab, dan hanya Alkitab, yang memiliki kata akhir untuk semua pengajaran dan kehidupan kita. Seluruh aspek pemikiran dan kehidupan kita harus tunduk pada firman Allah. Benarkah demikian? David Well, dalam bukunya, No Place for Truth,28 memberikan kritik tajam kepada golongan injili yang sudah jatuh ke dalam berbagai pencobaan zaman modern, sehingga akhirnya kebenaran Allah sudah tidak lagi mengatur gereja-gereja.
Hal-hal apa sajakah yang menjadi mentalitas zaman ini? Menurut Well ada beberapa, yakni:
Bagaimana sikap para hamba Tuhan terhadap Alkitab? Panggilan hamba Tuhan ialah panggilan untuk mempelajari dan menguraikan firman Tuhan (bdk. Kis 20:27, dimana Paulus mengajarkan "the whole counsel of God" selama pelayanannya di Efesus). Menurut de Witt, salah satu ciri khas teologi Reformed ialah pandangan mengenai berkhotbah (preaching) yang distingtif. Ia menulis, "It is by preaching that God confronts people and draws them to himself, conforming them to the pattern of his Son; indeed, it is by preaching that Jesus addresses himself to the hearts and consciences of men (Rom. 10:14)."29 Berdasarkan apa yang dinyatakan di dalam Alkitab, preaching adalah eksposisi dan apli kasi firman Tuhan. Tugas ini dipercayakan kepada para hamba Tuhan (bdk. Kis. 6:1 dst.). John Stott dengan keras berkata, "Sehat tidaknya keadaan jemaat-jemaat kita lebih banyak tergantung pada mutu pelayanan pemberitaan firman Tuhan daripada hal-hal lainnya...apa yang terjadi di bangku jemaat memancarkan apa yang terjadi di mimbar."30 Apakah tugas ini sudah kita jalankan dengan penuh kesungguhan dan keseriusan karena kita memberitakan firman yang memiliki otoritas dari Allah?
SOLA SCRIPTURA DAN PENAFSIRAN ALKITAB
Elemen baru di dalam pengajaran Sola Scriptura dari para Reformator sebenarnya bukanlah permasalahan otoritas Alkitab, karena gereja Roma Katolik juga berpegang pada hal itu. Elemen yang baru berkaitan dengan masalah penafsiran Alkitab. Bukanlah hal yang berlebihan kalau dikatakan bahwa Reformasi pada abad 16 tersebut pada dasarnya adalah suatu revolusi hermeneutik.31 Gerakan Reformasi menolak penafsiran otoritatif terhadap Alkitab, khususnya dari gereja Roma Katolik yang menekankan bahwa Paus atau konsili gerejawilah yang memiliki otoritas untuk menafsirkan Alkitab. Sampai zaman Reformasi Alkitab masih dianggap oleh kebanyakan orang sebagai kitab yang "obscure." Orang awa n biasa tidak dapat diharapkan untuk mengertinya, sehingga mereka tidak didorong untuk membacanya. Bahkan Alkitab tidak tersedia dalam bahasa yang mereka mengerti. Mereka jelas bergantung sepenuhnya pada penafsiran gereja yang bersifat otoritatif. Pengajaran Alkitab dikomunikasikan kepada orang-orang Kristen hanya melalui perantaraan Paul, konsili, atau pastor.
Para Reformator sangat menekankan prinsip "private interpretation," yakni hak untuk menafsirkan Alkitab secara pribadi. Dengan demikian setiap orang Kristen memiliki hak untuk membaca dan menafsirkan Alkitab untuk dirinya sendiri.32 Tetapi ini bukan berarti kepada setiap individu diberikan hak untuk menyelewengkan atau mendistorsi Alkitab. Ini adalah prinsip yang berasumsi bahwa Allah yang hidup berbicara kepada umat-Nya secara langsung dan otoritatif melalui Alkitab. Karena itu orang Kristen harus didorong untuk membaca Alkitab. Alkitab harus diterjemahkan kedalam bahasa umum. Luther, contohnya, sangat menekankan hal ini, sehingga ia menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Jerman.
Para tokoh Reformator sendiri tampaknya menekankan pengertian mereka terhadap Alkitab dengan tidak mempedulikan apa124105ngajaran mereka bertentangan dengan keputusan-keputusan konsili atau penafsir-penafsir gerejawi lainnya. Bagi mereka gereja bukanlah penentu arti Alkitab, justru Alkitablah yang harus mengoreksi dan menghakimi gereja. Tetapi pertanyaannya: apakah memang tidak ada peranan pengajaran (tradisi) gereja sama sekali dalam hal ini? Reformasi sering kali dilihat mempunyai ciri khas yaitu suatu "massive break" dengan tradisi gereja. Yang benar adalah, para Reformator menentang otoritas tradisi dan otoritas gereja, hanya sejauh otoritas tersebut mengungguli otoritas Alkitab.33Para Reformator tidak pernah menolak tradisi eksegetis dan teologis dari gereja yang didasarkan dan tunduk pada kebenaran Alkitab. Mereka menghormati tradisi, khususnya yang diajarkan oleh bapa-bapa gereja (terutama Agustinus). Luther berkata, "The teachings of the Fathers are useful only to lead us to the Scriptures as they were led, and then we must hold to the Scriptures alone."34 Calvin, sebagai contoh, menulis edisi Institutes pertama pada tahun 1536 ketika ia masih berusia dua puluhan. Buku ini mengalami revisi beberapa kali, dan edisi akhir adalah tahun 1559. Selama masa dua dekade tersebut ia berkecimpung dan sibuk memberikan eksposisi Alkitab dan berkhotbah. Dalam hal ini ia berinteraksi banyak dengan penafsiran penafsir-penafsir sebelumnya. T. H. L. Parker berkata tentang Calvin:
As his understanding of the Bible broadened and deepened, so the subject matter of the bible demanded ever new understanding in its interrelation within itself, in its relations with secular philosophy, in its interpretation by previous commentators.35
Maka jelaslah, seperti yang Silva katakan, "the reformation marked a break with the abuse of tradition but not with the tradition itself."36 Kritik yang diberikan adalah terhadap ajaran dan praktek yang sudah menyeleweng dari, atau bertentangan dengan, Alkitab. Para Reformator masih mempertahankan ajaran-ajaran gereja yang paling tradisional (seperti keilahian Kristus, Trinitas, baptisan anak, dan sebagainya) karena ajaran-ajaran tersebut sesuai dengan Alkitab. Mereka menghargai tulisan-tulisan bapa-bapa gereja yang adalah pembela-pembela kebenaran Alkitab.
Hak "private interpretation" haruslah disertai dengan tanggung jawab untuk memakai dan menafsirkan Alkitab dengan hati-hati dan akurat. Karena itu dalam hal ini kebutuhan akan penafsir dan guru sangat diperlukan. Memang Alkitab dapat dibaca dan dimengerti oleh orang-orang percaya (doktrin the clarity or perspicuity of Scripture), tetapi masih ada hal-hal tertentu yang masih belum jelas dan sulit bagi banyak orang yang sudah tentu membutuhkan suatu penyelidikan dan penelitian akademik. Ketidakjelasan atau kekaburan tersebut lebih banyak disebabkan oleh ketidaktahuan akan bahasa, tata bahasa, dan budaya dari penulis Alkitab, daripada dikarenakan isi pengajaran atau subject-matter-nya. Oleh sebab itu, "biblical scholarship" sangat penting dan diperlukan.
Kontribusi penting dari para Reformator terhadap penafsiran Alkitab ialah penegasan mereka mengenai "plain meaning" (arti yang alamiah atau wajar) dari Alkitab. Secara khusus kepedulian mereka adalah menyelamatkan Alkitab dari penafsiran alegoris yang masih terus ada saat itu.37 Luther mengungkapkan, "The Holy Spirit is the plainest writer and speaker in heaven and earth and therefore His words cannot have more than one, and that the very simplest sense, which we call the literal, ordinary, natural sense." Apa yang ditekankan di sini bukanlah penafsiran harafiah yang kaku. Prinsip ini menegaskan bahwa "the Bible must be interpreted according to the manner in which it is written."39 Arti yang "plain" dari Alkitab adalah arti yang dimaksudkan oleh penulis manusia, dan hal itu hanya dapat dimengerti melalui analisa konteks sastra dan sejarah. Jadi jelaslah ada aturan- aturan dalam penafsiran yang harus diikuti untuk menghindari penafsiran yang subjektif dan aneh-aneh. Pengaruh dari semangat Renaissance dalam hal ini tidak bisa dipungkiri. Kita melihat adanya suatu ketertarikan baru terhadap sifat historis dari tulisan-tulisan kuno, di mana Alkitab termasuk di dalamnya.40
Ada yang mengatakan, "It is almost a truism to say that modern historical study of the Bible could not have come into existence without the Reformation."41 Prinsip Reformasi ini terkait erat dengan apa yang kita sebut metode penafsiran "Grammatical-Historical," yang berfokus pada "historical setting" dan "grammatical structure" dari bagian-bagian Alkitab. Dalam hal ini para Reformator berfokus pada sifat manusiawi dari Alkitab itu sendiri. Ekses negatif dari pendekatan ini adalah pendapat yang mengatakan bahwa Alkitab harus dimengerti dan ditafsirkan seperti buku biasa lainnya. Inilah yang membuka jalan untuk pendekatan "Historical-Critical" yang berkembang pada abad 18-19 . Bedanya dengan pendekatan Reformasi adalah, iman atau komitmen teologi tidak diperbolehkan mempengaruhi penafsiran.42 Mereka berusaha untuk netral, tetapi sebenarnya tidak dapat netral karena mereka sudah berpegang pada "teologi" (iman) mereka sendiri yaitu teologi yang tidak percaya adanya intervensi Allah dalam dunia ini. Sumbangsih gerakan Reformasi dalam hal penafsiran Alkitab sangat penting, di mana prasuposisi iman tidak mungkin dilepaskan dari penafsiran Alkitab.
Pemikiran Reformasi mengenai penafsiran Alkitab juga menolong kita untuk berhati-hati di dalam merespons segala bentuk pendekatan atau metode penafsiran posmodernisme, yang secara khusus memberikan penekanan pada respons dari pembaca masa kini (reader-response approach). Pendekatan ini beranggapan bahwa tidak ada "meaning" yang pasti dan benar, yang ada hanyalah "meanings" yang muncul atau dihasilkan dari pembaca sendiri. Bahaya subjektivisme dan relativisme sangat terlihat di sini. Memang betul penafsiran Alkitab tidak hanya berhenti pada interpretasi, tetapi aplikasi. Kendati demikian ini bukan berarti aplikasi yang tidak terkontrol dan sembarangan di mana seolah-olah pembacanya yang menentukan arti dan aplikasinya.43 Gerakan Reformasi juga menetapkan suatu prinsip penting dalam penafsiran yaitu "Scripture is to interpret itself" (Sacra Scriptura sui interpres). Kita menafsirkan Alkitab dengan Alkitab. Oleh sebab itu, kita tidak mempertentangkan satu bagian Alkitab dengan bagian lainnya. Apa yang tidak jelas di suatu bagian mungkin dapat dijelaskan oleh bagian lain. Di balik prinsip ini ada sebuah keyakinan bahwa jikalau Alkitab ialah firman Allah maka ia bersifat koheren dan konsisten pada dirinya sendiri. Allah tidak mungkin berkontradiksi dengan diri-Nya sendiri. Memang benar Alkitab dituliskan oleh orang-orang yang berbeda, yang hidup pada zaman yang berbeda pula. Tetapi kita juga menyadari bahwa Allah adalah Penulis aslinya, sehingga jelas ada kesatuan dan koherensi. Ini tidak sama artinya dengan uniformitas (keseragaman). Para penulis manusi a menunjukan tulisan mereka pada situasi yang nyata, tetapi Allah dalam kedaulatan-Nya menuntun mereka dan situasi mereka, bahkan secara langsung mempengaruhi dan mengajar mereka (bdk. 2Ptr. 1:21), sehingga kita melihat kesatuan pikiran di balik semua itu. Untuk mengetahui maksud Allah tidak mungkin kita memperhatikan "bits" dan "pieces" saja. Kita harus melihat Alkitab secara keseluruhan, sama seperti ketika kita bermaksud mengetahui maksud penulis manusia, yaitu dengan membaca hasil akhir karyanya.
Jelaskan bahwa Alkitab menyajikan tujuan ilahi. Concern Alkitab adalah memberitahukan kepada kita suatu "story," yaitu cerita mengenai karya penebusan Allah bagi umat-Nya melalui Yesus Kristus. Alkitab menyajikan kepada kita "Redemptive History." Oleh sebab itu ayat-ayat dalam Alkitab tidak pernah dapat ditafsirkan lepas dari konteks kesatuan keseluruhan Alkitab. Setiap bagian Alkitab berkaitan erat dan tidak boleh ditafsirkan di luar konteks rencana dan aktivitas Allah yang bersifat "redemptive-historical" dan "covenantal" (relasi antara Allah dan umat-Nya).
PENUTUP
Apakah doktrin Sola Scriptura masih relevan untuk dipertahankan? Melihat situasi yang kita hadapi saat ini maka penegasan doktrin yang mendasar ini masih sangat penting. Kita sekarang hidup pada zaman yang sering kali disebut sebagai zaman pascamodernisme. Apa yang menjadi mentalitas zaman ini? William Edgar mengemukakan, "at the heart of the postmodern mentalily is a culture of extreme skepticism... According to many postmodernists, knowledge is no longer objective-nor even useful-and ethics is not universal."
Daftar Catatan Kaki
Sumber: Majalah Veritas (Vol. 3, Nomor 1 - April 2002)
Alkitab sendiri telah mengungkapkan doktrin-doktrin yang esensial dari iman Kekristenan. Doktrin-doktrin itu adalah:
Ke-Tuhan-an Kristus
Yesus adalah Allah dalam daging manusia (Yohanes 8:58 dan Keluaran 3:14). Lihat juga Yohanes 1:1,14; 10:30-33; 20:28; Kolose 2:9; Filipi 2:5-8; Ibrani 1:8
1 Yohanes 4:2-3: "Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia."
Ayat di atas perlu di referensi silangkan dengan Yohanes 1:1,14 (yang juga ditulis oleh Yohanes) dimana ia menulis bahwa Firman itu adalah Allah dan Firman itu telah menjadi manusia.
1 Yohanes 4:2-3 mengatakan bahwa jika kamu menolak bahwa Yesus adalah Allah dalam daging manusia berarti anda berasal dari roh antikristus.
Yohanes 8:24, "Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam
dosamu."
Yesus mengatakan di sini bahwa jika anda tidak percaya bahwa "Akulah Dia" anda akan mati dalam dosa-dosamu. Dalam bahasa Yunaninya frasa ini adalah 'ego eimi,' yang berarti 'Aku adalah Aku.' Kata-kata yang sama dengan yang dipakai dalam Yohanes 8:58 ketika Yesus berkata"...sebelum Abraham jadi, Aku telah ada." Ia mengklaim gelar Ketuhanan dengan mengutip Keluaran 3:14 dalam Septuaginta Yunani. (Septuaginta adalah Perjanjian Lama yang diterjemahkan dalam Bahasa Yunani.)
Yesus adalah objek yang benar bagi iman.
Tidak cukup hanya mempunyai iman. Iman itu valid atau tidaknya tergantung objek imannya. Anda harus memiliki objek iman yang benar. Kultus-kultus memiliki objek yang keliru untuk iman mereka; karenanya, iman mereka sia-sia--tidak peduli setulus apa pun iman mereka.
Jika anda menjadikan sebuah penyedot debu sebagai objek iman anda, maka anda akan mempunyai masalah ketika hari penghakiman tiba. Anda mungkin punya iman yang luar biasa, lalu? Imanmu itu terhadap sesuatu yang tidak dapat menyelamatkan anda.
Doktrin Ketuhanan Kristus meliputi:
Kecukupan pengorbanan Kristus - Pengorbanan Kristus memadai untuk membayar dosa dunia. Sebagai Allah - Yesus haruslah Allah untuk dapat memberikan pengorbanan yang nilainya melebihi manusia.
Ia harus mati bagi dosa dunia (1 Yohanes 2:2). Hanya Allah yang sanggup melakukannya.
Sebagai manusia - Yesus haruslah seorang manusia untuk dapat berkorban bagi manusia.
Sebagai manusia Ia dapat menjadi pengantara antara kita dan Allah (1 Timotius 2:5).
Keselamatan Oleh Anugrah
"Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,-- itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri" (Efesus 2:8-9).
"Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia." (Galatia 5:4).
Ayat ini terang-terangan mengajarkan bahwa jika anda percaya bahwa anda diselamatkan oleh karena iman dan usaha-usaha anda maka anda sama sekali tidak diselamatkan. Inilah kekeliruan yang umum diterima oleh kultus. Karena mereka memiliki Yesus yang palsu, mereka jadi memiliki doktrin keselamatan yang palsu. (Bacalah Roma 3-5 dan Galatia 3-5).
Anda tidak dapat menambah-nambahi pekerjaan Allah.
Galatia 2:21 mengatakan, "Aku tidak menolak kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus."
"Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan dihadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa." (Roma 3:20).
"Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran." (Roma 4:5).
"Kalau demikian, bertentangankah hukum Taurat dengan janji-janji Allah? Sekali-kali tidak. Sebab andaikata hukum Taurat diberikan sebagai sesuatu yang dapat menghidupkan, maka memang kebenaran berasal dari hukum Taurat." (Galatia 3:21).
Kebangkitan Kristus.
"Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu." (1 Korintus 15:14). "Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu." (1 Korintus 15:17).
Menolak kebangkitan fisik dari Kristus berarti menolak karya-Nya, pengorbanan-Nya, dan kebangkitan kita sendiri.
Ayat-ayat di atas dengan terang-terangan menyatakan bahwa jika anda mengatakan bahwa Yesus tidak bangkit dari kematian (dalam tubuh yang sama dengan tubuh kematian-Nya -- Yohanes 2:19-21), maka sia-sialah iman anda.
Injil
"Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia." (Galatia 1:8-9).
Ayat 8 dan 9 di Galatia ini menyatakan bahwa anda harus percaya kepada injil. Pesan injil yang keseluruhannya adalah Yesus adalah Allah dalam daging manusia, yang mati bagi dosa-dosa kita, bangkit dari kematian, dan secara bebas memberikan anugrah hidup abadi kepada siapa saja yang percaya.
Lebih jauh lagi, tidak mungkin untuk mempresentasikan injil secara benar tanpa mendeklarasikan bahwa Yesus adalah Allah dalam daging manusia seperti yang
tertulis pada Yohanes 1:1,14 ; 10:30-33; 20:28; Kolose 2:9; Filipi 2:5-8; Ibrani 1:8.
1 Korintus 15:1-4 mendefinisikan injil sebagai: "Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri. Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamukecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya. Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;".
Dalam ayat-ayat di atas yang esensial adalah: Kristus adalah Allah dalam daging manusia (Yohanes 1:1,14; 10:30-33; 20:28; Kolose 2:9); Keselamatan itu diterima melalui iman (Yohanes 1:12; Roma 10:9-10), karenanya, keselamatan adalah anugrah; dan kebangkitan disinggung dalam ayat 4. Karenanya, pesan injil ini memasukkan juga unsur esensial.
Penulis : Sunanto Choa
Yoh 10:27 "Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku "
Pada satu hari yang cerah di padang rumput Israel yang subur itu berkumpulah tiga orang gembala yang sedang menggembalakan domba-domba mereka. Para gembala tersebut asyik bercengkrama tanpa peduli domba-domba yang mereka gembalakan berbaur menjadi satu. Karena sudah berbaur satu dengan yang lainnya maka domba-domba tersebut sulit dikenali lagi mana kepunyaan masing-masing gembala. Matahari mulai terbenam dan sudah waktunya bagi para gembala membawa kembali domba-domba tersebut. Lalu ketiga gembala tersebut berjalan ke tempat yang terpisah sambil bernyanyi. Aneh bin ajaib, domba-domba yang sebelumnya menyatu terpisah menjadi tiga bagian kelompok menurut kepunyaan masing-masing gembala. Domba memang binatang yang bodoh dan mudah tersesat tetapi mereka mempunyai sebuah kelebihan yaitu mampu mengenali suara dari gembalanya.
Salah satu pertanyaan yang paling banyak ditanyakan kepada saya adalah bagaimana caranya untuk bisa mendengar suara atau mengetahui kehendak Tuhan? Sepertinya Tuhan memang telah menaruh sebuah hasrat dalam diri manusia untuk ingin bisa mengetahui kehendak Allah. Di dalam diri kita terdapat sebuah hasrat untuk mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Mengetahui bahwa manusia mempunyai hasrat untuk mengetahui mana yang benar dan yang salah maka iblis menipu Adam dan Hawa untuk memakan buah terlarang agar bisa mengetahui mana yang benar dan yang salah dengan jalan pintas. Dari sejak semula Allah memang ingin manusia bisa menjadi sepertiNya dan dewasa sehingga bisa mengetahui mana yang baik dan yang jahat. Allah ingin manusia menjadi dewasa melalui sebuah proses bukan jalan pintas. Tetapi iblis menipu manusia dengan mengatakan bahwa Allah itu jahat dan tidak ingin manusia menjadi sepertiNya sehingga bisa mengetahui perbedaan antara yang baik dan yang jahat. Iblis menipu manusia untuk mengambil jalan pintas untuk menjadi serupa dengan Allah dengan memakan buah terlarang. Sampai hari ini, iblis masih berusaha menipu banyak orang dengan mengatakan Allah itu jahat dan mendorong manusia untuk mengambil jalan pintas untuk menjadi serupa dengan Allah. Bila Tuhan tidak ingin manusia menjadi serupa denganNya, mengapa Ia menciptakan kita menurut gambar dan rupaNya ?
Semua orang yang dipimpin Roh Allah adalah anak Allah ( Rm 8:14 ). Dalam terjemahan bahasa inggris kata anak disini dituliskan dengan kata 'son' (bukan child) yang berarti anak yang sudah dewasa. Dalam bahasa aslinya kata anak ini dituliskan dengan kata 'huios' yang berarti anak yang sudah dewasa (sekitar 30 thn). Biasanya domba-domba dewasalah yang mampu mengenali suara dari gembalanya dengan baik sedangkan domba-domba yang belum dewasa kurang mampu mengenali suara gembalanya dengan baik. Anak-anak domba yang masih muda mengikuti domba yang telah dewasa untuk bisa mengenali suara gembala mereka. Ketika gembala memanggil maka domba-domba yang dewasa akan mengenali suara tersebut, lalu domba-domba yang lebih muda akan mengikuti mereka.
Tidak ada jalan pintas untuk mampu mendengar suara atau mengetahui kehendak Tuhan dengan baik. Dibutuhkan sebuah kedewasaan/kematangan rohani untuk memiliki hikmat ilahi yang dapat membedakan sesuatu itu kehendak Allah atau bukan. Bergaulah dengan Allah dan berkomunikasilah denganNya setiap hari lewat doa Pelajari dengan baik Firman Allah sehingga kerohanian kita bisa bertumbuh menuju kedewasaan. Semakin kita dewasa rohani maka kita akan semakin mengenal suaraNya dengan baik. Bersekutulah dengan sesama saudara seiman sebab tanpa persekutuan dengan sesama saudara seiman, kita tidak bisa bertumbuh dengan baik. Domba akan mudah tersesat dan dimangsa serigala jika ia sendirian.
Sepasa