Alkitab

Artikel-artikel tentang Alkitab, sejarah Alkitab, versi Alkitab, studi Alkitab dll

(Artikel lain tentang Alkitab dapat dibaca di situs SAI)

Alkitab dan Kartu Remi

Sumber : Wiempy

Ini kisah tentang seorang prajurit di kawasan Afrika Utara saat Perang Dunia II. Setelah pertempuran dahsyat, mereka kembali ke perkemahan. Keesokan hari, pada hari Minggu, pendeta mengadakan kebaktian. Para prajurit diminta mengeluarkan Alkitab dan buku doa mereka.

Pendeta itu melihat salah seorang prajurit malah asyik memperhatikan setumpuk kartu. Setelah kebaktian, ia mengajak prajurit itu menemui komandannya.

Pendeta itu pun menjelaskan apa yang sudah dilihatnya. Sang komandan mengatakan kepada prajurit muda itu bahwa ia akan dihukum kalau tidak dapat memberikan penjelasan yang memuaskan.

Prajurit muda itu menceritakan bahwa selama bertempur, ia tidak memiliki Alkitab atau buku doa, sehingga ia menggunakan setumpuk kartu. Ia menjelaskan :

"Pak, kalau saya melihat kartu 'As', saya diingatkan bahwa hanya ada satu 'Allah' dan tidak ada yang lain.

Kalau saya melihat kartu '2', saya diingatkan ada dua bagian Alkitab, 'Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru'.

Kartu '3' menyatakan tentang Allah Tritunggal: 'Bapa, Anak dan Roh Kudus'.

Kartu '4' mengingatkan saya pada empat Injil : 'Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes'.

Kalau melihat kartu '5', saya teringat pada 'Lima gadis yang bijaksana dan yang bodoh'.

Kartu '6' membuat saya teringat bahwa 'Allah menciptakan bumi selama enam hari, dan mengatakan bahwa itu baik'.

Kalau melihat kartu '7', saya teringat bahwa 'Allah beristirahat pada hari ketujuh'.

Ketika melihat kartu '8', kartu itu menunjukkan bahwa 'Allah membinasakan seluruh kehidupan dengan air bah, kecuali delapan orang, Nuh, istrinya, tiga anak laki-lakinya dan tiga menantunya'.

Ketika melihat kartu '9', saya teringat pada 'sembilan penderita kusta yang Tuhan sembuhkan. Sebenarnya ada sepuluh penderita kusta, namun hanya satu yang kembali untuk berterima kasih kepadaNya'.

Kartu '10' mengingatkan saya pada 'Sepuluh Perintah Allah yang dituliskan pada loh batu oleh tangan Allah sendiri'.

Kartu 'Jack' membuat saya teringat pada 'penguasa kegelapan, seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya'.

Kartu 'Ratu' mengingatkan saya pada 'perawan Maria yang berbahagia, Ibu Yesus'.

Dan ketika melihat kartu terakhir 'Raja', saya diingatkan bahwa 'YESUS adalah TUAN DI ATAS SEGALA TUAN dan RAJA ATAS SEGALA RAJA'."

Alkitab dan Pelangi

Oleh: Ir. Stanley I. Sethiadi

Dari waktu kewaktu, kita dapat melihat Pelangi dilangit. Pada umumnya Pelangi inilah yang ditafsirkan sebagai busur yang dimaksud dalam Kejadian 9:12-13 tersebut diatas. Dari kisah Kejadian 6 s/d 9 kita dapat tarik kesimpulan bahwa sebelum banjir Nuh tidak ada pelangi. Pelangi baru ada setelah banjir Nuh selesai. Adakah jejak-jejak dari arkeologi yang mendukung kesimpulan diatas? Mari kita pelajari hal ini lebih dalam.

PELANGI DITINJAU DARI SUDUT FISIKA
Apakah pelangi itu? Ditinjau dari sudut ilmu alam (fisika), pelangi adalah gejala alam yang termasuk cabang fisika yang disebut optika. Bila sinar matahari mengenai butir-butir air diudara, maka pada kondisi tertentu terjadilah pantulan, refraksi dan dispersi yang dapat dilihat orang sebagai Pelangi. Kadang-kadang ada dua pelangi, busur luar dan busur dalam. Busur dalam lebih terang. Pada bagian luar merah dan bagian dalam ungu. Pada busur luar urutan warna dibalik. Kalau kita asumsikan bahwa hukum alam tetap sama sebelum dan sesudah banjir Nuh, maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa ada "sesuatu" yang berubah sewaktu terjadi banjir Nuh. Matahari dan hukum optika tidak berubah. Jadi apa yang mungkin dapat berubah? Tidak lain, butir-butir air itu. Sebelum banjir Nuh, tidak ada butir-butir air. Tanpa butir-butir air diudara, pelangi tidak akan terjadi. Tetapi mengapa dahulu tidak ada butir-butir air itu, dan kemudian ada?

STRUKTUR BUMI SEBELUM BANJIR NUH.
Seorang ahli hidrologi, Dr Henry M. Morris telah membuat suatu teori mengenai struktur bumi sebelum banjir Nuh. Morris mengatakan bahwa sebelum banjir Nuh, ada lapisan uap air yang mulai dari apa yang kini disebut lapisan ionosfeer, sampai jauh keatas. Lapisan uap air ini merupakan saringan yang sangat efektif terhadap sinar matahari terutama sinar ultra-violet. Lapisan uap air itu seperti selimut yang menutupi seluruh bumi. Terjadilah efek rumah kaca (greenhouse effect). Akibat efek rumah kaca ini, iklim diseluruh dunia hampir rata, sejuk menyegarkan. Air dilapisan udara ini berupa uap yang tidak kelihatan, dan bukan berupa butir-butir air. Karena tidak ada butir-butir air di-atmosfer, maka tidak ada pelangi. Awan juga belum ada waktu itu. Permukaan bumi juga lebih rata daripada sekarang. Laut hanya sedikit. Waktu itu darat jauh lebih banyak daripada laut. Tidak ada hujan, maka tidak ada banjir. Tidak ada bagian bumi yang kekeringan. Tidak ada bagian bumi yang terlalu dingin dan tidak ada yang terlalu panas. Diseluruh bumi ada Flora dan Fauna yang subur.

"Pada waktu itu orang-orang raksasa ada dibumi ......." (Kejadian 6:4a). Waktu itu, menurut Morris, juga ada dinosaurus diberbagai tempat dibumi. Banyak binatang seperti gajah waktu itu juga mempunyai ukuran yang lebih besar daripada sekarang.

BANJIR NUH
Pada saat yang tepat, seperti yang ditetapkan Allah, terjadilah letupan gunung berapi. Abunya menyebar jauh keatas, sampai kelapisan uap air ini. Abu itu menjadi inti dan uap air sekitarnya menggumpal menjadi butir air yang kecil. Butir-butir ini menjadi makin lama makin besar. Kemudian jatuh kebumi. Terjadi effek berantai, maka runtuhlah seluruh lapisan uap air itu. Terjadi lagi letupan gunung berapi diberbagai tempat didunia. Air yang tadinya ada dibawah tanah menyembur keluar. Terjadilah banjir Nuh seperti dimaksud kitab Kejadian 6 s/d 9. Seluruh permukaan bumi ditutupi air. Semua manusia dan binatang yang tidak dapat hidup diair musnah. Kemudian terjadi lagi letupan gunung-gunung berapi. Terjadi perbedaan yang lebih besar pada permukaan bumi. Ada gunung yang sangat tinggi dan ada jurang yang sangat rendah, termasuk jurang-jurang dilaut. Permukaan airpun menurun. Banjirpun mereda.

STRUKTUR BUMI SETELAH BANJIR NUH
Sebagian air kembali kebawah tanah menjadi air tanah. Sebagian lagi jadi uap air diatmosfir bumi. Kejadian 9 : 14 menyaksikan: "Apabila kemudian Kudatangkan awan diatas bumi dan busur itu tampak di awan, maka ................. ". Sebelum banjir Nuh tidak ada awan. Setelah banjir Nuh ada awan, artinya ada butir-butir air diudara, jadi ada pelangi. Lautan menjadi jauh lebih luas. Kini 2/3 permukaan bumi terdiri dari permukaan air. Terjadilah permukaan bumi, lautan dan iklim seperti yang kita kenal sekarang. Permukaan bumi ini berlainan daripada permukaan bumi sebelum banjir Nuh. Ada hujan, petir, badai. Ada musim kering yang kadang-kadang terlalu panjang. Kadang-kadang ada hujan yang sangat besar, sehingga timbul banjir-banjir lokal. Tetapi banjir global tidak pernah lagi terjadi, sesuai dengan janji Allah.

JEJAK- JEJAK
Kalau teori Morris benar, apakah ada bekas-bekas yang menunjukkan hal ini ? Kalau betul cuaca diseluruh dunia hampir sama dimana-mana, tentu tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang yang hidup zaman dahulu juga hampir sama dimana-mana. Dapatkah hal ini dibuktikan dari penggalian- penggalian fosil-fosil dan bekas-bekas lain? Mari kita lihat referensi 4 halaman 27: " .... Hooke percaya bahwa fosil-fosil membuktikan bahwa Inggris pernah punya iklim tropis ...... ". Majalah Amerika Serikat yang sangat fanatik mendukung teori evolusi "Discover" pada penerbitan bulan Pebruari 1983 menulis dihalaman 6, bahwa ada tanda-tanda bahwa gurun pasir Sahara pernah mempunyai sungai-sungai dan hutan-hutan. Dari sumber lain dikatakan bahwa kutub Utara pernah mempunyai iklim yang tidak begitu dingin. Sumber-sumber tersebut diatas berasal dari sumber-sumber sekuler, bahkan sebagian dari mereka yang dengan fanatik membela teori evolusi. Penggalian-penggalian diberbagai tempat dibumi ini memang seperti mendukung pernyataan bahwa iklim zaman dahulu lebih merata diseluruh permukaan bumi ini.

Para kreasionis dan para evolusionis memang masih berbeda pendapat masalah waktu terjadinya iklim demikian. Para kreasionis berpendapat bahwa iklim yang merata itu terjadi setelah penciptaan, tetapi sebelum banjir Nuh. Jadi kurang dari 10.000 tahun tetapi lebih dari 4.600 tahun yang lalu.

Para evolusionis tidak percaya bahwa Allah yang menciptakan alam semesta ini dan bahwa ada banjir global. Mereka akui bahwa fosil-fosil membuktikan bahwa Inggris pernah punya iklim tropis, tetapi mereka katakan bahwa hal itu terjadi setelah dentuman besar (the big bang) kurang dari 4.5 milyar, tetapi sudah jutaan atau ratusan juta tahun yang lampau.

DISKUSI
Bagi beberapa orang studi-studi seperti diatas sangat menarik. Pertanyaan yang timbul dari diskusi diatas a.l. adalah sebagai berikut. Kalau di Inggris ada bekas-bekas flora dan fauna tropis, bagaimana halnya di Perancis, Jerman, Cina dll? Kalau digurun pasir Sahara ada bekas-bekas sungai dan hutan, bagaimana di gurun pasir Gobi?

Tetapi kita harus senantiasa ingat bahwa teori Morris hanyalah spekulasi- spekulasi metafisis. Kalau namanya teori, maka itu tidak pernah dapat dibuktikan benar. Maksimal dapat dikatakan ia belum terbukti salah. Ini berlaku untuk semua teori buatan manusia, termasuk teori-teori para evolusionis, tetapi juga termasuk teori-teori para kreasionis.

Yang pertama kali mengatakan bahwa sebuah teori tidak pernah dapat dikatakan benar adalah David Hume (1711-1776). Pada abad ke-20 ini hal ini ditegaskan dengan lebih jelas lagi oleh seorang filsuf yang sangat terkenal, Karl Popper (1902-1994). Popper adalah orang Yahudi yang lahir dan besar di Wina, Austria, yang berbahasa Jerman. Sewaktu Popper menyatakan pendapatnya pada tahun 1936 didepan "Aristotelian Society" di Oxford dalam bahasa Inggris yang patah-patah, orang tertawa terbahak- bahak dan bertepuk tangan mengira bahwa Popper sedang bersenda gurau, atau sedang mengucapkan suatu paradox. Tetapi Popper ternyata sangat serius. Kini praktis semua ilmuwan setuju bahwa berapa banyak pun pengamatan dan/atau percobaan yang mendukung sebuah teori ia tidak pernah dapat dikatakan benar, karena ia selalu dapat dibantah oleh pengamatan dan/atau percobaan yang lebih kemudian lagi.

Saya sebut teori para kreasionis seperti tersebut diatas sebagai tandingan teori para evolusionis. Tetapi sebaiknya orang-orang Kristen jangan terlalu menggantungkan imannya pada spekulasi-spekulasi demikian, baik spekulasi-spekulasi yang menguntungkan, maupun yang merugikan exegese yang sehat (sound exegeses) dari Alkitab. Percayalah bahwa apa yang dikatakan Allah melalui Alkitab adalah benar. Kalau ada teori yang mendukung, baiklah. Tetapi kalau ada teori yang membantah, kita tetap lebih percaya Firman Allah. Dihari kemudian teori yang membantah itu selalu mungkin akan terbukti salah.

SEBUAH KONFLIK ANTARA ALKITAB DENGAN SEBUAH TEORI BUATAN MANUSIA, BUKANLAH SEBUAH MALAPETAKA, TETAPI SEBUAH KESEMPATAN. SEBUAH KONFLIK DEMIKIAN MENUNJUK KAN BAHWA DIBELAKANG KONFLIK ITU ADA, ATAU AKAN ADA TEORI YANG LEBIH DALAM DAN LEBIH LUAS YANG AKAN MENGHAPUSKAN KONFLIK TERSEBUT. INILAH KESEMPATAN UNTUK MENCARI TEORI YANG LEBIH TINGGI ITU.

LITERATUR.
1. "ALKITAB". Terbitan Lembaga Alkitab Indonesia, Jakarta 1992.
2. "The Genesis Flood" oleh John C. Whitcomb dan Henry M. Morris, Presbyterian and Reformed Publishing Co, New Jersey, U.S.A..
3. "The Genesis Record" oleh Henry M. Morris, Baker Book House, Michigan, U.S.A.
4. "Evolution of the Earth" oleh Robert H. Dott dan Roger L. Batten, McGraw-Hill, U.S.A. 5. "Discover" U.S.A. February 1983.
6. "Optics" oleh Francis Weston Sears, Addison-Wesley, U.S.A.

Sumber: Sahabat Surgawi.

Alkitab Menyehatkan

Penulis : Mang Ucup

Berdasarkan riset dari Prof Dr Jeffrey Leven dan Dr David Larsen (Washington Times, 30 Juli 1996), dilaporkan bahwa apabila orang membaca Alkitab secara teratur, ini bukan saja baik bagi jiwanya, tetapi juga baik bagi tubuhnya. Mereka melakukan penelitian terhadap lebih dari 500 orang, selama berbulan-bulan. Ditemukan bahwa pada mereka yang membaca Alkitab secara teratur:

  • mempunyai tekanan darah lebih rendah
  • tingkat depresi lebih rendah
  • lebih sedikit penderita penyakit jantung
  • jarang yang kecanduan obat maupun alkohol
  • jarang terjadi perpecahan dalam perkawinan
  • tingkat kesehatannya jauh lebih baik

    Dan berdasarkan laporan dari Religion in American Life, para peneliti menemukan bahwa mereka yang sering membaca Alkitab, mempunyai kemungkinan 50% jauh lebih banyak untuk menolak obat-obatan yang terlarang, daripada mereka yang tidak pernah membaca Alkitab. Di samping itu di tempat pekerjaan mereka, mereka memiliki tingkat produktivitas yang lebih tinggi di atas rata-rata.

    Di penjara "Lewes Remand Prison" di Inggris, pendetanya telah berhasil menobatkan sekitar 600 orang napi, setelah mereka membaca Alkitab selama berbulan-bulan. Mereka memberikan kesaksian "Bahwa Alkitab itu ternyata lebih baik daripada nyetun!"

    Suatu malam di tahun 1989 dua orang salesman keliling, John Nicholson dan Samuel Hill, bertemu di sebuah hotel. Dalam percakapannya ternyata mereka mempunyai gagasan yang sama, yakni alangkah baiknya apabila ada Alkitab di dalam kamar hotelnya. Oleh sebab itulah akhirnya mereka berdua bersama seorang rekan lainnya lagi, WJ Knight, membentuk satu yayasan untuk menyalurkan Alkitab ke hotel-hotel. Yayasan mereka diberi nama "Gideon."

    Nama Gideon diambil dari Kitab Hakim-Hakim 6 & 7. Mereka bukan saja menempatkan Alkitab di hotel-hotel, melainkan juga di rumah sakit, penjara maupun gedung-gedung asrama lainnya. Hampir di seluruh Hotel di Eropa maupun di USA, Anda akan selalu menemukan Alkitab dari Gideon di laci kamar hotel Anda. Pada saat ini Gideon menyalurkan dan membagi-bagikan lebih dari satu juta jilid Alkitab perminggu ke seluruh mancanegara.

    Dengan ini saya akhiri oret-oretan saya mengenai Alkitab. Melalui oret-oretan ini sebenarnya saya ingin mengajak para pembaca untuk merenungkannya sejenak arti dan makna dari Alkitab dalam kehidupan Anda sehari-hari, sambil bertanya apakah benar Alkitab ini bermanfaat bagi saya? Berapa jauh saya membutuhkan Alkitab dalam kehidupan saya sehari-hari?

    Jangan kita membaca Alkitab tanpa kita sendiri menyadari untuk apa makna dan manfaatnya, seperti juga kalau tiap hari kita menelan obat atau vitamin, tanpa kita sendiri menyadari untuk apa. Mungkin motivasi makan obat tersebut akan lenyap apabila kita tidak tahu untuk apa kita memakan obat tersebut. Begitu juga dengan membaca Alkitab, tetapi kebalikannya kalau kita menyadari manfaat dari firman Allah tersebut, maka kita akan memiliki motivasi yang jauh lebih besar untuk membaca Alkitab.

  • Alkitab yang Di-inspirasikan (The Inspiration of the Bible)

    Penulis : awam_k

    Bila kita berbicara tentang "inspirasi" Alkitab seringkali yang muncul dalam pemikiran kita bahwa kata ini ditujukan untuk menggambarkan kualitas dari penulis dari pada tulisan itu sendiri. Namun sebenarnya kata ini dengan jelas memberi arti utama pada tulisan itu sendiri. Jikalau kita memperhatikan definisi dari kata inspirasi dalam beberapa bahasa, maka kita akan mengerti dengan jelas kemana arah utama dari kata ini.

    Dalam bahasa latin, kata "inspirasi" berasal dari dua kata yaitu in dan spiro yang berarti menghembuskan ke dalam. Dalam bahasa Ibrani kata inspirasi adalah Neshama dan Nismah yang berarti nafas. Dalam bahasa Yunani yang tertulis dalam 2 Timotius 3:16 ".... segala tulisan yang diilhamkan Allah" pasa graphe theo-pneustos, berarti Allah menafasi.

    Alkitab adalah diberikan melalui inspirasi Allah. Kata-kata yang ada dalam Alkitab itu adalah inspirasi (nafas) Allah.

    Dalam ayat di atas secara harfiah disebutkan bahwa Allah menafasi, artinya diinspirasikan oleh Allah. Disini digambarkan bagaimana tulisan itu datang. Tulisan itu adalah produksi dari aktifitas yang kreatif dari nafas Ilahi. Walau manusia yang menulisnya, namun Allah- lah yang membawanya kepada kenyataan. Isi dan sifat dari tulisan itu sendiri telah ditentukan melalui kuasa dari Roh. Hal demikian inilah yang membuat tulisan itu layak untuk mengajar, menegur, memperbaiki dan mendidik orang pada kebenaran.

    Ide tentang "nafas Allah" atau "nafas Illahi" telah cukup dikenal dalam dunia Perjanjian Lama. Hal itu merupakan sebuah perbandingan (metafora) dalam mengaplikasikan aktifitas Ilahi, khususnya Roh Kudus. Mazmur 33:6, "Oleh firman TUHAN langit telah dijadikan, oleh nafas dari mulut-Nya segala tentaranya." Ayub 33:4, "Roh Allah telah membuat aku, dan nafas Yang Mahakuasa membuat aku hidup."

    Teori-teori tentang inspirasi

    Masalah terbesar dalam sejarah penerimaan Alkitab adalah keraguan orang tentang keabsahan Alkitab yang semuanya adalah dinafasi Allah. Si A berkata, "Oh ya, Alkitab itu Firman Allah tetapi tidak semuanya." Si B berkata, "Alkitab itu adalah sebagian perkataan Allah dan sebagian lagi perkataan manusia."

    Dari keraguan dan kesalahan pengajaran dan keyakinan itu, maka muncullah beberapa teori tentang inspirasi.

    Kita bisa bingung bila melihat pernyataan dari konsep-konsep palsu di atas. Namun ada hal yang mungkin bisa menjadi bahan pertimbangan bagi kita bahwa dalam kebenaran tiada jalan tengah. Sesuatu itu pasti kasus atau bukan kasus. Sebuah garis itu lurus atau tidak lurus. "Alkitab itu diiinspirsikan oleh Allah, atau tidak diinspirasikan oleh Allah" jadi hanya ada dua pilihan. Bila tulisan dalam Alkitab itu tidak diinspirasikan oleh Allah, maka hal itu hanyalah produksi manusia belaka.

    Paulus berkata, "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik" (2 Timotius 3:16, 17). Alkitab memastikan inspirasinya sendiri tanpa meragukan.

    Pengajaran yang benar tentang inspirasi Inspirasi Pleanary dan Inspirasi Verbal .

    Plenary berarti penuh, komplit, keseluruhan dari tiap-tiap bagian. Inspirasi Plenary menjelaskan bahwa setiap bagian dari Alkitab itu diwahyui/mendapat wahyu yang sama, tidak ada yang berat sebelah.

    Inspirasi verbal mengungkapkan bahwa dokumen asli dari Alkitab telah dituliskan oleh manusia, dimana mereka diizinkan untuk menuliskan sesuai dengan kepribadian dan talenta yang mereka miliki. Namun saat mereka menulis, mereka berada di bawah pengawasan dan bimbingan Roh Kudus. Hasilnya setiap kata yang ada dalam naskah asli adalah yang sempurna dan tanpa kesalahan dan tepat seperti apa yang diinginkan Allah untuk diberikan kepada manusia.

    Mari kita perhatikan lebih teliti lagi 2 Timotius 3:16. "Tiap-tiap kitab yang diwahyukan Allah (TL), pasa graphe theopneustos (all scripture God-breathed).

    Dalam teks ada sesuatu yang dikatakan dinafasi oleh Allah yaitu tiap- tiap "kitab" yaitu kitab yang dituliskan.

    Yang dituliskan itu adalah perkataan dalam Alkitab yaitu nafas Allah. Inilah yang disebut dengan konsep inspirasi verbal.

    Dalam Perjanjian Lama lebih dari 3800 kali disebutkan bahwa kitab itu adalah Firman Allah. Contoh, Keluaran 17:14; 2 Samuel 23:2; Yeremia 1:9. Yesus sendiri dengan jelas menganut konsep inspirasi verbal seperti yang Dia katakan dalam Matius 5:17, 18:"Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi".

    Iota adalah huruf terkecil dalam bahasa Yunani. Disini Yesus mengungkapkan keyakinan yang teguh bahwa Perjanjian Lama adalah wahyu Ilahi, sebab itu setiap perkataan memiliki arti yang rohani.

    Kristus berjanji pada murid-muridNya bahwa perkataan akan pengabaran Injil akan diberikan pada mereka (Matius 10:19). Paulus memberi fakta melalui tulisannya bahwa apa yang dia tuliskan adalah perkataan Allah (1 Korintus 11:23).

    Catatan akhir:

    Bagaimana Kita Mengetahui Bahwa Alkitab Itu Benar?

    Bukti-Bukti External

    Ada banyak bukti-bukti external, yaitu fakta-fakta diluar Alkitab yang memperlihatkan bahwa Alkitab adalah sumber informasi yang dapat dipercaya.

    Bukti-Bukti Ilmiah

    Belum ada bukti-bukti ilmiah yang dapat menyatakan kesalahan pernyataan-pernyataan apapun yang ada di dalam Alkitab. Walaupun ada banyak orang yang mengatakan, "Alkitab adalah bukan buku ilmiah, tetapi itu ditulis untuk memberikan pandangan mengenai keagamaan atau kerohanian." Walaupun begitu seluruh isi Alkitab adalah mutlak dapat dipercaya dalam hal ilmiah maupun rohani.

    Ketepatan catatan dari benda-benda, peristiwa-peristiwa, orang-orang dan tempat-tempat didalam Alkitab memperlihatkan integritas Tuhan. Tuhan telah memberikan pernyataan-pernyataan yang harus diterima secara utuh dimana hal ini memperlihatkan kemampuan Tuhan untuk menjaga ketepatan isi Alkitab selama berabad-abad. Kita tidak akan bisa melampaui batas kepercayaan akan ketepatan pernyataan-pernyataan tentang dunia ini seperti yang tertulis didalam Alkitab karena hal itu menunjukkan bahwa Tuhan-lah yang mengarang Alkitab.

    Bukti-bukti Geography

    Sementara Alkitab tidak ditulis untuk mengajarkan prinsip-prinsip ilmu alam akan tetapi setiap topik yang membicarakan ciptaan Tuhan didalam Alkitab adalah sangat benar dan akurat. Dalam satu hal Alkitab menyatakan secara benar di Ayub 26:7 bahwa bumi berbentuk bulat, dan pernyataan ini ditulis kira-kira 3000 tahun sebelum Masehi. Deskripsi yang tepat mengenai bentuk bumi ini begitu berlawanan dengan pendapat atau kepercayaan kebanyakan orang yang hidup pada masa itu dimana mereka percaya bahwa bumi ini berbentuk datar. Dan Yesaya 40:22 juga menyatakan hal yang sama bahwa Tuhan bertakhta di atas "bulatan bumi". Pernyataan di Yesaya 40:22 adalah pararel dengan pernyataan di Ayub 26:7 yang menyatakan telah menyebutkan bentuk bumi dengan benar, dan kebenaran-kebenaran seperti itulah yang selalu kita dapatkan dari Alkitab. Lagipula siapakah yang lebih mengetahui daripada sang Pencipta sendiri tentang bagaimana alam semesta ini dibuat?

    Bukti-bukti Arkeologi

    Salinan yang tertua dari puisi-puisi atau karangan-karangan Yunani adalah 800 sampai 1000 tahun lebih baru daripada tulisan yang aslinya. Tapi, tidak ada ilmuwan yang akan menerima pernyataan bahwa tulisan-tulisan Yunani ini telah menyeleweng dari tulisan yang aslinya dan seharusnya dibuang. Tetapi salinan tertua dari kitab-kitab Perjanjian Lama hanyalah 200 tahun lebih baru dari tulisan aslinya. Dan salinan tertua dari kitab-kitab Perjanjian Baru tertanggal 50 sampai 80 tahun setelah tulisan aslinya. Dari dasar informasi ini, Alkitab seharusnya dipercayai paling tidak seperti tulisan-tulisan Yunani lainnya, yang sampai sekarang masih sangat dipercaya.

    Penemuan-penemuan arkeologi banyak yang memperkuat bukti integritas dari Alkitab yang menyebabkan para arkeolog yang dulunya melecehkan Alkitab menjadi berbalik dari menentang menjadi percaya kepada Alkitab. Selama berabad-abad ada banyak orang-orang yang meragukan kebenaran Alkitab karena Alkitab menyebutkan begitu banyak nama bangsa-bangsa kuno yang telah lama menghilang. Contohnya di Kejadian 15:20 Alkitab menyebutkan tentang suku bangsa Het. Dan ternyata beberapa ratus tahun yang lalu para arkeolog menemukan reruntuhan sebuah kota yang terletak di Turki, yaitu disebelah Utara dari tanah Israel, yang ternyata adalah reruntuhan dari kota utama bangsa Het.

    Dalam kasih karunia Tuhan, pada sekitar tahun 1950 ditemukan gulungan-gulungan kitab di sebuah gua yang bernama Qumran didekat Laut Mati. Hebatnya karena kondisi gua yang sangat-sangat kering gulungan-gulungan kitab ini berada dalam taraf yang baik dan tidak mengalami kehancuran, kitab-kitab ini dapat dibuka dan dibaca. Penemuan yang paling menakjubkan adalah salinan dari kitab Yesaya. Menurut uji carbon 14, penanggalannya adalah 100 tahun sebelum Masehi, itu adalah 1000 tahun lebih awal daripada salinan yang dipergunakan sebelumnya. Selisihnya hanya sekitar 600 tahun dari teks yang aslinya. Dan para ahli menemukan kalau ini adalah identik dengan tulisan Yahudi (Ibrani) yang digunakan untuk menterjemahkan alkitab King James yang diterbitkan pada tahun 1611. Jadi, gulungan-gulungan kitab ini menolong untuk membuktikan fakta bahwa kita sesungguhnya mempunyai Injil sejati yang asli.

    Bukti-bukti Sejarah

    Alkitab juga berbicara mengenai kejadian-kejadian jauh dari sebelum hal itu terjadi. Nabi Yesaya pernah berbicara mengenai seorang raja Persia yang bernama Koresh (Yesaya 45:1) dimana dinubuatkan bahwa dia-lah yang akan membangun kembali bangsa Yehuda. Persia adalah sebuah kerajaan besar yang terletak disekitar negara Iran. Yesaya menulis nubuat ini pada masa pemerintahan raja Hizkia yang meninggal pada tahun 687 sebelum Masehi. Dan Koresh tidak mulai memerintah sebagai raja sampai tahun 600 sebelum Masehi, ini adalah lebih dari 80 tahun setelah nubuat itu ditulis. Hanya Tuhan saja yang dapat mengetahui nama dari raja Persia sebelum dia naik ke atas tahta.

    Kemudian Alktiab mempunyai banyak nubuat-nubuat mengenai Yesus Kristus yang ditulis 1000 tahun sebelum Dia dilahirkan. Hal ini mungkin sedikit tersembunyi yang hanya terlihat bila kita memperhatikan setiap kata dengan teliti, tetapi sebetulnya setiap kitab-kitab dalam Perjanjian Lama dengan jelas menunjuk kepada Yesus. Contohnya, perhatikanlah dengan sangat teliti nubuat-nubuat yang ditulis dalam Mazmur 22, Yesaya 53 dan Mikha 5:2.

    Melihat fakta-fakta bersejarah ini, kita dihadapkan hanya kepada dua kemungkinan. Apakah Alkitab itu dikarang oleh Dia yang tidak mempunyai batas waktu, atau itu hanyalah sebuah lelucon yang ditulis oleh seseorang setelah kejadian itu terjadi untuk membuat Alkitab kelihatan hebat. Pilihan yang benar adalah: Alkitab merupakan satu-satunya firman Tuhan yang sejati.

    Bukti Dari Pengalaman Pribadi

    Salah satu sumber lain dari kebenaran Alkitab adalah pengalaman pribadi dari mereka-mereka yang sudah dirubah hidupnya oleh Alkitab. Ada perubahan yang besar dan nyata didalam hidup orang-orang yang percaya kepada Kristus dan berjalan menurut firman-Nya, yaitu Alkitab. Dalam kata lain Alkitab sanggup melakukan kepada orang-orang yang percaya janji-janji yang terkandung didalamnya.

    Alkitab menjanjikan pembebasan dari hari pengadilan terakhir dan memberikan kepastian tidak akan adanya hukuman bagi orang-orang yang percaya (Yohanes 5:24, Roma 8:1,16, 1 Yohanes 4:18). Alkitab menjanjikan orang-orang yang percaya akan dibersihkan secara rohani (Mazmur 119:9,11, Yohanes 15:3). Alkitab menjanjikan kebebasan dari perbudakan dosa dan kemenangan total (Yohanes 8:34-36, Roma 6:18, Kolose 3:1-2). Alkitab memberikan arti dan tujuan dari hidup ini (1 Petrus 2:9).

    Semua hal-hal ini adalah bagian dari pengalaman pribadi orang-orang yang percaya. Orang-orang yang percaya mengalami hidup yang baru yang menjadi bukti bahwa mereka tidak lagi dipenuhi dengan kepahitan atau penyesalan tentang masa lalu mereka ketika mereka mengetahui pengampunan Tuhan (Ibrani 10:16-17). Bahkan orang-orang yang percaya berani berkorban untuk sesamanya manusia karena mereka mengetahui bahwa mereka selalu dapat bergantung kepada Tuhan. Seseorang yang percaya kepada Alkitab mempunyai pengalaman rohani pribadi yang mengetahui dengan pasti bahwa Alkitab adalah bukan sekedar tulisan-tulisan puisi biasa, tetapi itu adalah firman Tuhan yang bersaksi jauh kedalam hati mereka.

    Kesaksian Alkitab

    Alkitab sendiri bersaksi bahwa ia berasal dari Tuhan. Misalnya di 2 Samuel 23:2 Daud, yang menulis banyak bagian dari kitab Mazmur, menyatakan bahwa apa yang ditulisnya berasal dari Tuhan. Nabi Yeremia menyatakan hal yang sama (Yeremia 1:4), juga rasul Paulus (1 Tesalonika 2:13). Dan di 2 Petrus 3:16 rasul Petrus menyatakan bahwa tulisan-tulisan Paulus adalah bagian Kitab Suci (scriptures). Yesus sendiri membuat banyak pernyataan-pernyataan bahwa Alkitab mutlak dapat dipercaya (Lukas 16:17, 24:44, Yohanes 17:17). Dan Yesus seringkali menggunakan kisah-kisah dari Perjanjian Lama sebagai peristiwa-peristiwa yang nyata (Lukas 11:51, 17:26-33).

    Kesatuan Alkitab

    Alkitab terdiri dari 66 buku yang ditulis selama periode waktu lebih dari 1500 tahun, dari zaman Musa (1400 Sebelum Masehi) sampai zaman rasul Yohanes (kira-kira 100 Masehi). Jumlah penulisnya sedikitnya ada 40 orang. Beberapa dari pengarangnya hidup terpisah 600 mil jauhnya, dan kebanyakan dari mereka tidak mengenal satu sama lain. Tetapi kata-kata yang tertulis di dalam Alkitab mempunyai pesan yang sama, dan mempunyai satu kesatuan yang sempurna secara keseluruhan.

    Satu-satunya alasan kenapa bisa terjadi seperti itu karena Tuhan-lah yang mengarang Alkitab. Tuhan menggunakan orang-orang ini untuk menulis apa yang Ia ingin tuliskan kepada umat manusia. Setiap kata dan setiap huruf didalam aslinya (Ibrani untuk Perjanjian Lama dan Yunani untuk Perjanjian Baru) adalah tepat seperti apa yang Tuhan ingin sampaikan kepada umat manusia. Para penulis ini hidup dan mati di zaman yang berbeda-beda, tetapi Tu493 yang sama yang hidup selama-lamanya yang memberitahukan kepada orang-orang ini apa yang harus mereka tulis. Untuk alasan ini, kita bisa selalu bisa membandingkan bagian-bagian yang berbeda dari Alkitab dan menemukan bahwa mereka adalah saling melengkapi, saling menjelaskan, dan sangat konsisten satu dengan yang lainnya (1 Korintus 2:13). Kita dapat membaca bagian yang mana saja dari Alkitab dan menemukan firman Tuhan disana.

    Isi Alkitab

    Hal yang paling menakjubkan yang dapat kita temukan didalam Alkitab adalah hal-hal yang dibicarakan didalamnya. Ada hal-hal di dalam Alkitab yang kita ketahui bahwa hanya Tuhan saja yang dapat menulis pernyataan-pernyataan yang seperti itu. Misalnya Alkitab menyatakan di Yohanes 10:30 Yesus berkata bahwa Ia adalah Allah. Di Yohanes 20:28 seorang murid menyatakan bahwa Yesus adalah Allah. Dan di Ibrani 1:8 Bapa menyatakan bahwa Yesus adalah Allah. Kesimpulan terakhir dari kesaksian-kesaksian ini adalah apakah Alkitab itu gila atau itu adalah benar-benar berisikan firman-firman Tuhan.

    Contoh lain yang penting adalah bahwa Alkitab membicarakan masalah dosa (1 Yohanes 3:14). Tidak ada orang lain yang mempunyai keberanian untuk menuliskan kenyataan-kenyataan hidup manusia seperti yang tertulis didalam Alkitab. Alkitab memberikan gambaran yang menyeramkan dari upah dosa. Alkitab menyinggung kita, dan kita tidak selalu menyukai apa kita baca didalamnya. Ini menerangkan mengapa kita sulit untuk mempercayai Alkitab.

    Masalahnya adalah bukan bukti kebenarannya melainkan hati kita. Siapa yang ingin mengetahui bahwa sebenarnya dia sedang berada didalam bahaya, seorang penjahat, seorang pendosa yang busuk dan buruk? Siapa yang akan bersuka-cita sewaktu dia diberitahu bahwa dia sedang berjalan menuju ke neraka, dimana dia akan menderita selamanya dibawah murka Tuhan? Siapa yang menyambut pengetahuan bahwa tidak ada kebaikan apapun sama sekali didalam dirinya dan sebenarnya dia sedang berada didalam pemberontakan melawan Tuhan yang telah menciptakannya?

    Hanya Tuhan saja yang dapat berkata jujur kepada kita karena hanya Dia saja yang mengetahui kebenaran. Hanya Tuhan yang mau berterus-terang kepada kita untuk menyatakan kasih-Nya. Kasih sejati tidak dinyatakan dengan kata-kata yang mencoba untuk membuat kita merasa enak dan nyaman dengan cara menyanjung, tapi meninggalkan kita didalam kesusahan karena mereka tidak mempunyai pengharapan yang nyata. Kasih yang sejati dinyatakan dalam kebenaran, karena itu adalah satu-satunya hal yang dapat menyelamatkan kita.

    Kejujuran Alkitab tentang manusia tidak menarik, tetapi Alkitab berisi kata-kata dari seorang teman sejati. Tuhan mengetahui bahwa kita sedang berjalan dipinggir jurang, dan siap untuk jatuh ke dalam neraka. Dia memberitahu persisnya apa yang kita butuhkan untuk menghindari kemalangan ini. Walaupun Alkitab tidak akan tampil sebagai salah satu dari sepuluh buku paling populer tahun ini, tapi hanya Alkitab yang dapat memberikan janji-janji seperti yang Yesus katakan di Matius 11:28-30:

    "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan."

    Pesan-pesan Alkitab

    Ada satu hal terakhir yang harus kita pertimbangkan untuk menilai kebenaran Alkitab. Kebanyakan orang percaya akan adanya Tuhan. Tapi jika Tuhan itu memang Tuhan, berarti Dia berkata-kata dengan kuasa yang mutlak dan kita harus berserah kepada perintah-perintah-Nya. Dengan kata lain, apa yang kita pikirkan tentang firman-Nya dan bagaimana kita bereaksi terhadapnya, mengambarkan pikiran kita tentang Tuhan. Kita tidak dapat memisahkan Tuhan dan Alkitab-Nya. Kita tidak harus percaya kepada Alkitab, tetapi kita akan menghadapi akibatnya. Kalau seseorang tidak percaya kepada Tuhan yang membuat Alkitab maka dia akan bertingkah-laku menurut jalan pikirannya itu, dan kepahitan serta kehidupan yang egois itulah yang mereka akan tuai tepat seperti yang Alkitab katakan. Ini adalah bukti yang mengerikan. Dan mereka juga harus menghadap murka Tuhan yang akan mengejar mereka sampai diluar batas liang kubur dan mereka akan dibangkitkan kembali untuk dihakimi oleh sang Hakim (Yesus Kristus adalah firman Tuhan) pada hari penghakiman terakhir seperti yang dikatakan Alkitab

    Mempertanyakan tentang kebenaran Alkitab adalah hal yang baik, dan Alkitab mampu untuk melewati pemeriksaan-pemeriksaan yang ada dan menjawab semua pertanyaan yang ada dan dapat menghapuskan keragu-raguan kita. Yakobus 1:6 menyatakan bahwa kita tidak perlu ragu-ragu untuk meminta kepada Tuhan supaya kita mempercayai firman-Nya dan meminta kebijaksanaan untuk mendapatkan hadiah yang terbaik yang bisa kita dapatkan dari Alkitab. Tetapi, untuk mempelajari Alkitab adalah sesuatu yang suci. Hanya kalau kita menghampiri Alkitab dengan rendah hati dan pikiran yang terbuka untuk kebenaran maka kita akan bisa menemukan jawaban-jawaban yang kita perlukan. Dan kita dapat berdoa, "Ya Tuhan saya tidak tahu apa-apa, ajarkanlah saya."

    "firman-Mu adalah kebenaran."
    (Yohanes 17:17)

    Sumber: www.familyradio.com

    Gandum dan Ilalang

    Dalam Perjanjian Lama kata Ibrani "malak" yang sering diterjemahkan sebagai "malaikat" kadang-kadang juga diterjemahkan sebagai "pembawa pesan" (messenger). Sama juga halnya dalam Perjanjian Baru, kata Yunani "aggelos" yang sering diterjemahkan sebagai "malaikat" kadang-kadang juga diterjemahkan sebagai "pembawa pesan". Ketika kita memperhatikan dengan teliti ayat-ayat yang menggunakan ungkapan ini, kita menemukan bahwa Tuhan bisa menggunakan ungkapan ini untuk menunjuk kepada diri-Nya sendiri, bisa menunjuk kepada malaikat dan bisa juga menunjuk kepada manusia yang mempunyai pesan untuk dikabarkan. Kita harus memperhatikan konteks dari ayatnya dengan teliti untuk menentukan terjemahan yang benar dari ungkapan ini. Misalnya di Maleakhi 3:1 dimana kita baca:

    "Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku [malak], supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat [malak] Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman TUHAN semesta alam."

    Kata "malak" (malaikat) digunakan dua kali dalam ayat ini. Yang pertama sudah pasti menunjuk kepada Yohanes pembaptis yang diutus mendahului Tuhan Yesus untuk mengabarkan berita tentang Yesus Kristus sebagai "Anak Domba Allah" (Yohanes 1:29). Dan kata "malak" yang kedua jelas menunjuk kepada Tuhan Yesus sendiri, yang adalah pembawa pesan dari Perjanjian itu.

    Dalam Perjanjian Lama kata "malak" lebih dari 100 kali diterjemahkan sebagai "malaikat" dan hampir 100 kali diterjemahkan sebagai "pembawa pesan". Biasanya ketika hal itu menunjuk kepada "pembawa pesan" ini sedang berbicara tentang seseorang yang membawa suatu berita kepada orang lain. Tetapi seperti yang kita lihat dalam kitab Maleakhi, pembawa pesan itu juga bisa menunjuk kepada Tuhan sendiri.

    Sedangkan dalam Perjanjian Baru kata "aggelos" (malaikat) kira-kira 180 kali diterjemahkan sebagai "malaikat" dan 7 kali diterjemahkan sebagai "pembawa pesan".
    Misalnya Matius 11:10 berbicara tentang Yohanes pembaptis sebagai "pembawa pesan" (utusan) dari Tuhan, disitu kita baca:

    "Karena tentang dia ada tertulis: Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku [aggelos] mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan-Mu di hadapan-Mu."

    Karena itu kita bisa mengerti sekarang bahwa kata Ibrani "malak" dan kata Yunani "aggelos" yang seringkali diterjemahkan sebagai malaikat harus diperiksa konteksnya dengan teliti untuk menentukan apakah ungkapan itu sedang menunjuk kepada Tuhan sendiri, malaikat atau juga manusia.

    Ini menjelaskan tentang kata "malaikat" di Matius 13 dimana sedang Tuhan berbicara mengenai malaikat yang mengumpulkan "hasil panen" pada akhir zaman.

    Di Matius 13:36-43 kita baca:

    "Maka Yesuspun meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya: "Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu." Ia menjawab, kata-Nya: "Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia; ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan dan lalang anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman dan para penuai itu malaikat [aggelos]. Maka seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman. Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya [aggelos] dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan DARI DALAM KERAJAAN-NYA. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!"

    Dalam kebanyakan translasi kata ini diterjemahkan sebagai "malaikat", tetapi siapakah para pembawa pesan dari Kerajaan Allah yang memberitakan Injil kepada dunia untuk mengumpulkan umat-Nya ke dalam --Yerusalem yang baru-- ?

    Di Yohanes 4:35-38 kita baca:

    "Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai. Sekarang juga penuai telah menerima upahnya dan ia mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal, sehingga penabur dan penuai sama-sama bersukacita. Sebab dalam hal ini benarlah peribahasa: Yang seorang menabur dan yang lain menuai. Aku mengutus kamu untuk menuai apa yang tidak kamu usahakan; orang-orang lain berusaha dan kamu datang memetik hasil usaha mereka."

    Ayat-ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa "para penuai" itu adalah orang-orang percaya. Mereka adalah para pembawa pesan yang diutus untuk memberitakan Injil kepada dunia. Dan ketika Injil diberitakan Roh Kudus akan membuat firman itu bersemayam didalam hati mereka yang sudah dipilih untuk diselamatkan. Jadi mereka yang diselamatkan melalui pemberitaan itu menjadi hasil panen yang dibawa masuk kedalam Kerajaan Allah.

    Kembali ke Matius 13:36-41 yang berbicara tentang pemisahan gandum dan lalang, malaikat-malaikat tidak mengumpulkan hasil panen itu. Hasil panen itu dikumpulkan oleh orang-orang percaya yang memberitakan Injil ke seluruh dunia supaya panen, yaitu --orang-orang yang diselamatkan-- dapat dikumpulkan ke dalam Kerajaan Allah.

    Jadi dalam perumpamaan "gandum dan lalang" (Matius 13:24-30), gandum itu menunjuk kepada orang-orang percaya yang sudah diselamatkan, dan lalang itu menunjuk kepada orang-orang yang tampak luar seperti gandum tetapi sebetulnya belum pernah diselamatkan. Dan ketika perumpamaan itu berlanjut, orang-orang percaya yang sejati juga disebut sebagai para "pembawa pesan" (penuai) yang mengumpulkan hasil panen gandum pada akhir zaman (final harvest).

    Dan di Matius 12:30 Yesus berkata:

    "Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan."

    Gelar Yesus Kristus dalam Tulisan Yohanes

    Penulis : Yohannes

    Dalam Injil Yohanes, pola penggunaan gelar itu sama dengan pola dalam Injil-injil lainnya. Kitab-kitab Injil menceritakan kegiatan manusia Yesus, dan bentuk gabungan Yesus Kristus hanya muncul dua kali bila totalitas makna Yesus dilihat dari sudut pandang sesudah kebangkitan. Walaupun istilah "Tuhan" berulang kali dipakai untuk menyapa Yesus, tapi dalam cerita jarang digunakan untuk memaksudkan Yesus sampai sesudah kebangkitan, yang menetapkan kedudukan Yesus yang baru. Tapi penting diperhatikan bahwa Yesus sendiri menunjukkan kedudukan-Nya sebagai "Tuhan" yang memberi perintah kepada hamba-hamba-Nya, walaupun murid-murid-Nya Dia pandang lebih sebagai sahabat-Nya ketimbang hamba-Nya.

    Satu dari sekian masalah pokok dalam Injil Yohanes ialah apakah Yesus memang "Mesias" yang dinanti-nantikan oleh orang Yahudi dan orang Samaria; tujuan Injil Yohanes ialah membimbing orang mempercayai hal ini. Kendati gelar "Mesias" jarang digunakan dalam Injil-injil lain, tapi dalam Injil Yohanes Yesus diakui "Mesias". Tapi sangat menarik perhatian bahwa Yesus sendiri tidak pernah mengucapkan kata itu. Acuan-acuan lain yang bersifat setengah gelar yang digunakan dalam Injil Yohanes ialah "Yang (akan datang)", "Yang Kudus dari Allah", "Juruselamat", "Anak Domba Allah", "Nabi", dan "Raja Israel". Beberapa dari gelar ini terdapat juga dalam Injil Sinoptik.

    Begitu pula gelar "Anak Manusia", yaitu sebutan khas dari Yesus tentang diri-Nya sendiri, mendapat kedudukan penting dalam Injil Yohanes. Tapi di sini ada penekanan baru pada asal surgawi Anak Manusia itu, pada kedatangan-Nya ke dunia ini, pemuliaan-Nya di kayu salib, arti dan peranan-Nya di kayu salib dan artinya Dia sebagai pemberi hidup, hal-hal yang alpa dalam Injil-injil Sinoptik. Walaupun tidak perlu menganggap bahwa pengaruh-pengaruh asinglah yang mendorong penggunaan gelar itu dalam Injil Yohanes, tapi jelas bahasa yang diagunakan cukup berbeda dari bahasa-bahasa Injil-injil Sinoptik untuk mengisyaratkan bahwa -- kendati sebuatan-sebutan itu jelas berdasarkan ajaran Yesus -- sebuatan-sebutan itu sampai batas tertentu telah ditulis ulang oleh Penginjil sendiri atau oleh penulis sumber-sumbernya.

    Tidak diragukan bahwa gelar utama Yesus dalam Injil Yohanes adalah "Anak Allah". Belar ini menandakan karibnya hubungan Allah dengan Anak-Nya yang tunggal, yang sudah ada sebelum penciptaan; hubungan ini ialah saling mengasihi, dan kasih ini diungkapkan dalam cara Anak menaati Bapa-Nya dan Bapa telah mempercayakan kepada-Nya tugas-Nya sebagai Hakim dan Pemberi hidup. Hubungan Yesus sebagai khas Anak dengan Allah, yang kita dapati dalam Injil Sinoptik diungkapkan di sini lebih jelas lagi. Pada dasarnya pemikiran itulah muatan gelar 'logos' (atau "Firman") yang terdapat dalam pendahuluan Injil ini. Begitu dekatnya Firman disamakan dengan Allah, sehingga tepat bila Yesus diberi gelar "Allah"; jelas inilah makna pengakuan Tomas dalam Yohanes 20:28, di mana penampakan Yesus yang telah bangkit itulah yang mendampakkan pengakuan akan ke-Allah-an-Nya. Yesus juga diperkenalkan sebagai "Anak Allah yang sama dengan Bapa" (Terjemahan Bahasa Indonesia "ada di pangkuan Bapa") dalam Yohanes 1:18.

    Perlu kita perhatikan bahwa ada beberapa ungkapan "Aku-lah" dalam Yohanes yang berkaitan dengan "Gembala yang baik" dan "Pohon anggur yang benar" merujuk kepada Yesus. Kadang-kadang kita jumpai ungkapan "Aku ini", "Aku ada". Karena ungkapan-ungkapan ini adalah gema dari pengakuan YHVH akan diri-Nya yang terdapat dalam Yesaya 43:10 dan 48:12, maka patutlah ungkapan-ungkapan ini kita pandang secara terselubung memaksudkan ke-Allah-an Yesus.

    Penggunaan gelar dalam surat-surat Yohanes serupa dengan penggunaannya dalam Injil Yohanes, walaupun ada beda dalam cara Injil Yohanes memperkenalkan Yesus waktu hidup di dunia dari cara Surat Kiriman memperkenalkan Tuhan yang telah bangkita dari kematian. Satu-satunya Surat dalam Perjanjian Baru yang tidak merujuk kepada Yesus ialah 3 Yohanes.Tapi hal itu tentu bukanlah tanpa sebab. Dalam 1 Yohanes sering Yesus menjadi pokok uraian, di mana dinyatakan Yesus adalah "Mesias" atau "Anak Allah". Walaupun di sini bisa timbul pertanyaan apakah Yesus memang adalah Mesias yang dinanti-nantikan orang Yahudi, umumnya para ahli sependapat bahwa masalah pokok yang paling mendasar di sini ialah, apakah dalam Yesus sudah ada inkarnasi Allah yang sungguh-sungguh dan mantap. Lawan-lawan Yohanes agaknya menyangkal kesatuan yang utuh mantap dan langgeng pada Mesias atau Anak Allah dengan Yesus, dan Yohanes harus menekankan bahwa Yesus Kristus benar-benar sudah datang baik dengan (dalam) air maupun dengan (dalam) darah. Artinya, menjalani baptisan dan mengalami kematian. Justru Yohanes memakai gelar selengkapnya, "Anak-Nya, Yesus Kristus" untuk menandaskan obyek kepercayaan Kristen. Hanya Anak Allah saja yang bisa menjadi Juruselamat dunia. Istilah "Tuhan" alpa dalam Surat-surat Yohanes.

    Dalam Wahyu, nama Yesus mendapat kedudukan penting sebagai sebutan seperti dalam Ibrani. Gelar lengkap Yesus Kristus hanya digunakan sebagai sebutan khidmat dalam pendahuluan Kitab, tapi ada empat ayat mengenai Mesias atau Mesias-Nya, yang menunjukkan bahwa pemikiran mengenai Mesias sebagai petugas Allah untuk menegakkan pemerintahan-Nya sangat hidup pada Yohanes. Pemikiran ini selanjutnya nampak dalam cara penggunaan gelar ilahi "Raja" dan "Tuhan" baik terhadap Allah maupun Yesus. Tapi gelar Yesus yang paling khas istimewa dalam Wahyu ialah "Anak Domba", yang di sini muncul 28 kali dan tidak muncul di tempat-tempat lain. "Anak domba" menggabungkan ciri-ciri paradoksal, yaitu sudah disembelih atau disalibkan tapi menjadi Tuhan yang patut disembah. Ia mengarahkan murka-Nya terhadap yang jahat dan dipimpin-Nya umat Allah dalam peperangan, tapi darah-Nya-lah yang menjadi korban penghapus dosa, dan melalui darah-Nya umat-Nya yang sudah mati martir bangkit dalam kemenangan.

    Injil Gnostik

    Penulis: Herlianto

    Khasanah Gnostik adalah kumpulan tulisan yang dijilid (kodeks) dalam bahasa koptik yang ditemukan di Mesir di perpustakaan Chenoboskion yang lebih dikenal di lokasi Nag Hamadi di tepi sungai Nil di Mesir. Penemuan itu terjadi pada tahun 1945 dan kemudian baru pada tahun 1957 dikenal luas setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Perpustakaan itu berasal dari abad-3-4M dan berisi tulisan-tulisan berfaham Gnostik, sedangkan kita mengetahui bahwa faham Gnostik baru berkembang sekitar abad-2-3 M di sekitar Palestina.

    Dalam khasanah Gnostik di Nag Hamadi terkumpul sebanyak 13 kodeks papirus yang dijilid dengan sampul kulit (perkamen) dan seluruhnya terdiri dari 52 traktat Gnostik, termasuk 3 karya Corpus Hermeticum dan terjemahan karya Plato Republik. Setelah melalui berbagai tangan di pasar gelap barang antik, sebagian besar khasanah Gnostik itu akhirnya terkumpul dan disimpan di Museum Koptik di Kairo, Mesir. Dari khasanah Gnostik itu, 5 diantaranya disebut Injil, yang memuat percakapan Yesus yaitu Injil Thomas, Injil Filipus, Injil Maria, Injil Mesir, dan Injil Kebenaran. Dari kelima Injil itu, Injil Thomas-lah yang paling terkenal karena ditemukan lengkap. Injil Thomas paling diminati para penganut Jesus Seminar dan dianggap sebagai Injil Kelima (The Five Gospels, Scribner, 1996) hingga dapat dimengerti mengapa pengikut Jesus Seminar cenderung bernafaskan Gnostik juga.

    Injil Gnostik tidak ada satu pun yang sesuai dengan Injil Perjanjian Baru dari abad-1M. Ciri khas dari Injil gnostik adalah percakapan rahasia antara Yesus dengan murid-muridNya dimana ajaran gnostik diajarkan di dalamnya.

    Khasanah atau pustaka Gnostik dimiliki komunitas Gnostik di Mesir waktu itu yang mungkin karena adanya tentangan karya tulis mereka disembunyikan. Ajaran Gnostik adalah ajaran mistik esoterik yang kemudian dipercayai secara sinkretis dengan kekristenan oleh para pengikutnya. Gnostik berasal dari bahasa yunani Gnosis yang artinya pengetahuan rahasia yang diungkapkan kepada manusia. Aliran gnostik menawarkan pengetahuan rahasia mengenai realita ilahi. Percikan atau benih ilahi yang baik itu jatuh dari realitas yang transenden ke dua materi yang jahat, dan terpenjara dalam tubuh manusia. Dibangunkan oleh pengetahuan rahasia, percikan api ilahi itu dapat kembali ke dunia dimana dia sebenarnya berasal yaitu dunia spiritual yang transenden.

    Bagi para pengikut gnostik, ada sumber kebaikan tertinggi yang disebut pikiran Ilahi yang esa yang berada dialam spiritual diluar alam materi ini yang pada dasarnya baik. Pikiran ilahi yang lebih rendah dipancarkan keluar dari sumber itu secara bertingkat. Yang terakhir dari seri pancaran itu adalah Sophia (hikmat) yang mengandung keinginan untuk mengetahui sumber kebaikan yang tidak diketahui itu. Keinginan ini menghasilkan bayangan ilahi yang cacat dan jahat atau Demiurge yang diyakini sebagai yang menciptakan alam semesta. Percikan ilahi yang mendiami manusia jatuh ke alam materi untuk membebaskan kemanusiaan. Orang-orang Gnostik menganggap demiurge sebagai Yahweh Perjanjian Lama yang menciptakan langit dan bumi untuk memelihara kemanusiaan dari keinginan mereka kembali kepada sumbernya.

    Graham Stanton, ahli Perjanjian Baru Inggeris merumuskan keyakinan Gnostik Kristen secara sederhana sebagai: dunia adalah tempat yang jahat diciptakan oleh Tuhan yang jahat (Yahweh), dan yang berbalikan dari Tuhan yang benar dan Esa. Pengikut Gnostik kristen menganggap diri mereka sebagai keturunan Tuhan yang esa itu, dan sebagai percikan ilahi yang terkurung dalam dunia yang jahat ini. Kristus dikirim untuk mengingatkan pengikut Gnostik mengenai hakekat diri mereka yang sebenarnya. Kristus memberitakan rahasia (gnosis) pada para pengikut Gnostik agar mereka dapat melepaskan diri dari dunia yang jahat ini dan kembali kepada Tuhan yang benar. (Gospel Truth? hlm.87).

    Manusia sebagai keturunan Ilahi yang esa itu memiliki percikan kekuatan Ilahi itu, namun ia terkurung dalam penjara tubuh materi. Berbeda dengan kepercayaan Kristen, gnostik mengajarkan bahwa setiap orang bisa berhubungan dengan pikiran Ilahi itu dan keselamatan terletak dalam membangunkan percikan api Ilahi itu dan kembali menyatu kedalam pikiran Ilahi (pandangan mistik/kebatinan). Untuk mencapainya dibutuhkan seorang pembimbing rohani yang dikalangan gnostik-kristen disebut Kristus.

    Bagi Gnostik, Kristus mengajarkan ucapan-ucapan rahasia sehingga mereka yang mengerti bisa mencapai ke Ilahi an mereka sama seperti Kristus. Bagi mereka, Kristus, Roh Yesus yang ilahi mendiami tubuh manusia Yesus, Yesus yang ilahi tidak mati disalib tetapi dinaikkan ke realita ilahi dimana Ia semula berasal, bahkan dalam Second Discourse of Seth (ca 200-230) disebutkan Yesus tidak mati disalib. Karena itu pengikut Gnostik menolak penderitaan dan kematian Yesus yang menebus manusia dan kebangkitan tubuh.

    Injil Gnostik lainnya yang ditemukan kemudian di Muhafazat El-Minya, kira-kira 300 KM disebelah utara Nag Hamadi, pada tahun 1970-an adalah Injil Yudas. Injil Yudas mulai dikenal khalayak ramai ketika situs web National Geographic memuat liputan panjang soal Injil Yudas. Liputan mana juga difilmkan dan diputar melalui media TV, dan kemudian pada bulan berikutnya dimuat dalam versi cetak dan menjadi cover story majalah National Geographic - May 2006 dan versi Indonesianya dimuat dalam edisi National Geographic - Juni 2006.

    Injil Yudas ditemukan dalam bentuk papirus diantara tahun 1950-60 dan menurut perhitungan waktu radiokarbon, papirus itu ditaksir berasal dari tahun ca 220-340, dan ada yang menyimpulkan sebagai terjemahan dari naskah asli bahasa Yunani dari tahun ca 130-180. Yang jelas, sekalipun disebut berjudul Injil Yudas, Injil itu tidak mengklaim diri sebagai ditulis oleh Yudas (Iskariot).

    Injil Yudas mulai menarik perhatian pada tahun 1970 ketika dicuri keluar Mesir dan kemudian muncul ke pasar antik Jenewa pada tahun 1983, dan mulai diperkenalkan pada konperensi Koptik di Paris pada 2004. Setahun kemudian diberitakan bahwa naskah itu akan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Perancis dan Jerman. Pada tahun 1999 baru diketahui sebanyak 26 halaman, kemudian berangsur-angsur dapat dikumpulkan dua-pertiga dari naskah lengkap 62 halaman itu pada awal tahun 2006. Pada bulan April 2006, National Geographic mengumumkan selesainya terjemahan Injil Yudas ke dalam bahasa Inggris (terjemahan bahasa Indonesianya diterbitkan oleh Gramedia dan dirilis pada tanggal 29 Juni 2006 bersama dengan buku The Lost Gospel (Injil yang Terhilang).

    Memang, dalam catatan sejarah gereja, Irenius dari Lyons pernah menyebut mengenai Injil Yudas sebagai sejarah fiktif dalam tulisannya Adversus Haereses (180) yang kemudian dikutip oleh Origenes dalam tulisannya De Stromateis (230). Pada tahun 375, Epiphanes, uskup Salamis, juga menolak Injil Yudas. Apakah Injil Yudas yang disebutkan oleh Irenius, Origenes dan Epiphanes sama dengan Injil Yudas yang baru ditemukan itu memang tidak pasti, yang jelas Irenius menyebut Injil Yudas yang disebutnya sebagai sesat karena tidak merupakan fakta sejarah dan mengandung ajaran Gnostik ini dikuatkan oleh Origenes dan Epiphanes. Bila perkiraan perhitungan waktu penulisan Injil Yudas baru itu benar, mungkin Injil Yudas itulah yang dimaksudkan oleh Irenius.

    Isi dari Injil Yudas memang bersifat gnostik sama halnya dengan tulisan-tulisan yang ditemukan dalam pustaka Gnostik di Nag Hamadi. Bagi Gnostik memang kematian Yesus diatas salib sebagai penebus tidak ada artinya, itulah sebabnya dalam Injil Yudas kesan Yesus sebagai korban yang disalibkan menjadi kabur dan Yudas dijadikan pahlawan. Injil Yudas diawali kalimat berbunyi: Isi Rahasia Wahyu yang dikatakan Yesus dalam percakapannya dengan Yudas, dan rahasia itu juga mengungkapkan bahwa yang dimengerti para murid Yesus selama ini salah arah.

    Yang jelas, isi Injil Yudas berbalikkan dengan berita Injil yang selama ini dipercayai gereja, misalnya ucapan Yesus yang mengingatkan para muridnya bahwa mereka selama ini salah jalan. Dalam injil ini, Yudas digambarkan secara positif sebagai murid yang paling disukai Yesus, setia dan taat akan perintah Yesus dan bukan sebagai seseorang yang menyerahkan Yesus. Yesuslah yang menyuruh Yudas untuk menyerahkan diri Yesus. Injil ini tidak mengklaim bahwa para murid lainnya setuju dengan pemikirannya, tetapi inti Injil ini menyebutkan bahwa para murid Yesus lainnya belum mengerti Injil yang benar yang hanya diajarkan oleh Yesus secara rahasia kepada Yudas. Itulah sebabnya ada gambaran dalam Injil Yudas bahwa ia mati karena dilempari batu oleh murid-murid lainnya. Dalam beberapa kesempatan Yesus disebutkan mengkritik para muridnya akan ketidak acuhan mereka. Kalau begitu, apakah banyak Injil Gnostik yang dianggap ditulis para murid Yesus yang lain seperti Injil Thomas juga salah arah karena penulisnya kurang mengerti gnosis sebenarnya?

    Salam kasih.
    Sumber: www.yabina.org

    Kanon Perjanjian Baru (PB)

    Sumber: http://www.mail-archive.com/i-kan-untuk-revival@xc.org/msg01711.html

    Setelah Tuhan Yesus naik ke surga, belum sebuah kitab pun ditulis mengenai diri dan ajaran-Nya, karena belum dirasa perlu para saksi mata utama masih hidup. Jadi Injil masih dalam bentuk verbal, lisan; dari mulut ke mulut, oleh para rasul. Seiring dengan berjalannya waktu, jumlah para saksi mata dan para rasul berkurang, dan semakin banyak ancaman pemberitaan ajaran-ajaran sesat. Pada masa itu banyak ditemukan tulisan-tulisan yang bercorak rohani, yang sebenarnya bukan Firman Allah. Oleh karena itu gereja merasakan pentingnya ditentukan kitab-kitab mana sajakah yang dapat diakui berotoritas sebagai Firman Allah. Kemudian para rasul mulai menuliskan surat-suratnya untuk para jemaat, lalu perlahan-lahan dibuat salinan surat-surat itu untuk berbagai gereja dan salinan itu dibacakan dalam pertemuan gereja (Kolose 4:16; 1 Tesalonika 5:7, Wahyu 1:3). Tulisan-tulisan ini diinspirasikan oleh Allah (2 Petrus 1:20-21; Wahyu 22:18; Efesus 3:5).

    Pada waktu yang bersamaan, ada orang-orang yang menulis kitab-kitab tentang Yesus dan surat-surat ke gereja-gereja, yang tidak termasuk kanon. Lambat- laun gereja-gereja mulai jelas mengenai kitab-kitab mana yang diinspirasikan oleh Roh Kudus.

    Pada abad ke 2 kanon PB telah lengkap. Hal ini kita ketahui dari:

    The Old Syriac terjemahan PB pada abad kedua dalam bahasa Syria. Semua kitab ada, kecuali: 2 Petrus, 2 Yohanes, 3 Yohanes, Yudas, dan Wahyu.

    Justin Martyr pada tahun 140 M. Semua kitab PB ada, kecuali: Filipi dan 1 Timotius.

    The Old Latin sebuah terjemahan sebelum tahun 200 M. Terkenal sebagai Alkitab dari gereja Barat. Semua PB ada, kecuali Ibrani, Yakobus, 1 Petrus dan 2 Petrus.

    The Muration Canon pada tahun 170 M. Semua PB ada, kecuali: Ibrani, Yakobus, 1 Petrus dan 2 Petrus (sama dengan The Old Latin).

    Codex Barococcio pada tahun 206 M. Semua kitab PL dan PB ada, kecuali: Ester dan Wahyu.

    Polycarp pada tahun 150 M pernah mengutip: Matius, Yohanes, sepuluh surat Paulus, 1 Petrus, 1 Yohanes dan 2 Yohanes.

    Irenaeus (murid Polycarp) pada tahun 170 M. Semua kitab PB ada, kecuali: Filemon, Yakobus, 2 Petrus, dan 3 Yohanes.

    Origen pada sekitar tahun 230 M menulis daftar kitab-kitab PB, sebagai berikut: ke-4 Injil, Kisah Para Rasul, ke-13 surat-surat Paulus, 1 Petrus, 1 Yohanes dan Wahyu.

    Eusebius di awal abad ke 4 menyebut semua kitab PB.

    Pada tahun 367 M dalam Festal Letter yang ditulis oleh Athanasius, Bishop Alexandria, mencantumkan daftar 27 kitab-kitab PB.

    Jerome pada tahun 382 M, Ruffinua pada tahun 390 M dan Augustine pada tahun 394 M mencatat kanon PB sebanyak 27 kitab.

    Akhirnya pada tahun 397 M, konsili gereja di Carthago mengesahkan 27 kitab PB.

    Gereja sebagai persekutuan orang-orang yang ditebus, yang beriman sungguh-sungguh di dalam Kristus bukan menentukan atau menciptakan kanon, tetapi gereja hanya mengesahkan kitab-kitab yang memiliki tanda kanonitas dan karena itu kitab-kitab tersebut memiliki otoritas dalam gereja.

    Kebangkitan Yesus: Refleksi Historis-Teologis

    Pertanyaan tentang kebangkitan Yesus pada Paskah subuh sudah lama menjadi persoalan sejarah dan teologis. Banyak pakar yang meragukan historisitas dari laporan kebangkitan Yesus seperti yang ditemukan dalam Perjanjian Baru. Namun di sisi lain perlu dicatat keraguan akan hal ini bukanlah hal yang baru. Sejak abad pertama, pertanyaan dan sikap skeptik yang meragukan kebangkitan Yesus sudah sering dan berulang-ulang ditemukan.

    Ketika Paulus berkotbah di Athena tentang kebangkitan Yesus (Kis 17), orang-orang, khususnya para intelektual zaman itu, mentertawakan pernyataan dan keyakinan Paulus. Alasannya sederhana saja, karena orang mati biasanya memang tidak bangkit lagi. Pada saat yang sama, gereja mula-mula juga memahami bahwa kebangkitan orang mati memang normalnya tidak terjadi. Bisa dikatakan sejak zaman kuno, baik para intelektual maupun orang awan, sama-sama memahami bahwa kebangkitan orang mati adalah peristiwa yang sangat luar biasa. Karena itu kebangkitan Yesus sebagai suatu pusat kesaksian gereja mula-mula, memang merupakan gejala dan peristiwa yang sangat unik.

    Kalau kita menelusuri pikiran tenatng kebangkitan dalam sejarah, keyakinan akan kebangkitan orang mati memang bukanlah ide yang baru. Setidaknya sejak masa Plato, orang sudah beranggapan bahwa orang mati punya kehidupan setelah kematian. Namung, kebangkitan dalam pikiran Plato adalah kehidupan roh, dimana seseorang exist dalam suatu bentuk kehidupan lain selain jasmaniah. Pada masa kini orang pada umumnya juga menerima adanya bentuk kehidupan seperti ini.

    Yang penting untuk di catat disini adalah, jika kita mempelajari Judaisme pada masa Yesus, kebangkitan tidak pernah dipahami dalam kategori rohani seperti ini. Kebangkitan pada masa itu, selalu berarti ´kembali kepada kehidupan fisik setelah mengalami kematian´. Dengan kata lain ´KEHIDUPAN SETELAH KEHIDUPAN SETELAH KEMATIAN´. Keyakinan akan adanya kehidupan seperti ini diteruskan oleh gereja mula-mula. Dalam hal ini mereka tidak berbeda dengan Judaism masa itu. Mereka percaya setelah kematian, orang-orang percaya akan beristirahat bersama dengan Tuhan. Tetapi ini bukan akhir cerita, kemudian mereka akan dibangkitkan dalam bentuk jasmaniah pada akhir zaman.

    Dimana perbedaan Judaism masa itu dengan kekristenan? Yang menjadi perbedaan yang mencolok dan bisa dikatanan ´inti keyakinan gereja mula-mula´ adalah bahwa ´PERISTIWA AKHIR ZAMAN INI TELAH TERJADI DI DALAM DIRI YESUS KRISTUS´. Dimana pengharapan eskatologis Jahudi mengalami suatu kejutan sejarah, dan buah pertama dari kedatangan Kerajaan Allah telah terjadi di dalam Yesus Kristus.

    Orang Jahudi tidak percaya bahwa peristiwa itu telah terjadi lebih dahulu pada Yesus sebagai yang sulung sebelum kebangkitan terjadi pada semua orang. Khususnya kelompok Farisi, mereka memiliki keyakinan yang kuat mengenai kebangkitan, namun pengakuan akan kebangkitan Yesus tidaklah masuk akal mereka. Mereka melihat, kebangkitan akan terjadi bagi seluruh orang Israel, tetapi bagaimana mungkin itu terjadi pada diri seorang manusia yang disebut Yesus? Disinilah Injil dan Paulus memberikan suatu presentasi yang unik. Yesus adalah Israel itu sendiri, Dia adalah Anak Allah sebagaimana Israel adalah anak Allah. Didalam kebangkitanNya, maka nubuatan akan penggenapan bagi restorasi Israel telah dimulai, tetapi belum sampai pada kesempurnaannya. Ketegangan antara ´already´ and ´not-yet´ menjadi corak pemberitaan akan kebangkitan Israel didalam kebangkitan Yesus.

    Dokumen tertua Perjanjian Baru adalah surat-surat Paulus (kl. 40-50 AD). Dalam bagian ini telah ditemukan pengakuan akan kematian dan kebangkitan Yesus. Banyak pakar liberal membuat suatu perbedaan yang tegas antara Yesus, sosok sejarah yang berasal dari Galilea, dengan Kristusnya Paulus, yang diperTuhankan dan di sembah oleh gereja mula-mula. Dikotomi antara Yesus sejarah dan Kristus Iman, terus menerus menjadi paradigma kebanyakan pakar. Meski harus diakui bahwa dikotomi seperti ini tidak ditemukan dalam tulisan Paulus sendiri. Bagi Paulus, Kristus yang diakui sebagai messias Israel adalah Yesus sejarah yang telah mati dan bangkit. Dikotomi ini sering diangkat didasarkan pada asumsi bahwa ajaran Yesus dan ajaran Paulus nyata-nyata berbeda. Yesus adalah rabbi yang sangat menekankan etika dan kedatangan Kerajaan Allah, sedangkan Paulus menganut Teologi Salib.

    Namun dikotomi ini hanya benar dalam melihat adanya PENEKANAN YANG BERBEDA antara Yesus dan Paulus. Perbedaan ini menjadi dikotomi karena mereka melihat baik Paulus maupun Yesus adalah DUA PENDIRI AGAMA. Namun baik Paulus maupun Yesus tidak pernah berpikir bahwa mereka adalah pendiri agama atau pengajar suatu ajaran yang baru.

    Kalau kita melihat Perjanjian Baru dengan teliti, maka kita akan menemukan Yesus sebagai seseorang yang melihat dirinya sebagai pribadi yang didalamnya penantian dan nubuatan Israel telah mencapi klimaksnya. Dia adalah puncak dari penggenapan janji Allah kepada Israel. Narrative Israel di Perjanjian Lama ditandai dengan kejahatan yang mengungkung Israel dan umat manusia secara universal. Dengan menyadari panggilanNya, Yesus menarik dan menyerap semua kejahatan tersebut ke dalam diriNya, mati di dalam penggenapan akan nubuat keselamatan, dan menaklukkan kejahatan itu sekali untuk selamanya di atas salib. Dalam konteks ini, PAULUS PERCAYA BAHWA YESUS TELAH BERHASIL DALAM MENGEMBAN PANGGILAN TERSEBUT. Keberhasilan Yesus dikonfirmasikan oleh penyataan Allah yang membangkitkan Dia dari kematian. Fakta kebangkitan Yesus bagi Paulus adalah suatu twist sejarah yang mengejutkan. Apa yang dinantikan si-farisi ini ternyata telah terjadi dalam suatu bentuk yang tak terpikirkan sebelumnya. Kebangkitan Israel telah dimilai dengan kebangkitan Yesus, anak Allah yang mewakili umatNya Israel. Karena itu tugas Paulus bukan untuk melakukan kembali apa yang Yesus sudah lakukan, tetapi memberitakan apa yang sudah Yesus capai, atau lebih tepatnya mengimplementasikan apa yang Yesus telah capa2i.

    Perbedaan antara Yesus dan Paulus adalah dalam hal ´ACHIEVING´ dan ´IMPLEMENTING´. Perbedaan ini ibarat perbedaan antara Composer dengan Conductor dalam komposisi musik. Composer menciptakan, Conductor melakukan. Kalau Conductor melakukan lagi apa yang dilakukan oleh Composer maka dia sudah menciptakan suatu yang baru, atau dia adalah seorang Conductor yang jelek. Conductor yang baik memainkan apa yang sudah ada, yang telah ditulis Composer. Demikian juga Paulus, untuk meneruskan apa yang telah dilakukan Yesus, Paulus tentu saja tidak melakukan apa yang Yesus lakukan, tetapi memberitakan apa yang telah dicapai oleh Yesus. Yesus mengalahkan kejahatan di salib dan menyempurnakannya dalam kebangkitanNya, Paulus melihat tugasnya adalah memberitakan apa yang sudah dicapai oleh Yesus dalam hidup, kematian dan kebangkitanNya.

    Selanjutnya banyak pakar juga yang meragukan kebangkitan Yesus didasarkan pada laporan yang berbeda yang ditemukan dalam Injil Perjanjian Baru. Misalnya, dalam versi tertua dari Markus, tidak ada laporan tentang penampakan Yesus. Lukas Menggeser fokus kesaksian dari Galilea ke Jerusalem. Dan hanya Yohanes yang menghubungkan kebangkitan Yesus dengan ke-TuhananNya. Namun kritik seperti ini, dibela dari sudut manapun, tidak akan pernah habis-habisnya. Kalau seandainya ceritanya persis sama, maka pakar bisa saja berkata, bahwa hanya satu yang asli, dan yang lainnya hanya meng-copy saja dari yang asli. Atau malah bertanya kalau sama saja untuk apa ada empat versi laporan kebangkitan Yesus.

    Terlepas dari kritik seperti ini, yang menarik dari cerita Paskah adalah perbedaan yang sangat mencolok dari KATA YANG DIGUNAKAN. Hal ini menunjukkan bahwa dalam melaporkan peristiwa ini, para penulis Injil cukup independent dalam menuturkannya, namun disis lain mereka memiliki suatu PENGERTIAN YANG SAMA TENTANG APA YANG TERJADI PADA PASKAH SUBUH TERSEBUT.

    Lebih menarik lagi, detail dari peristiwa yang mereka laporkan dapat dikatakan begitu mirip, meskipun kata-kata mereka yang digunakan sangat berbeda. Data ini menunjukkan bahwa dalam tradisi oral ketika peristiwa ini kerap dituturkan dalam perkumpulan komunitas Kristen purba, laporan kebangkitan memiliki versi yang beragam sesuai dengan saksi mata dan penutur yang menjadi sumber berbagai komunitas. Yang penting bagi kita adalah bukan perbedaan detail kisahnya, tetapi kehadiran kisah-kisah ini yang sangat universal dalam berbagai komunitas Kristen purba. Ini menunjukkan bahwa kisah ini sudah sejak semula menjadi pusat dari pemberitaan dari komunitas Kristen, karena itu central bagi identitas umat Kristen. Itu makanya Paulus berkata, tanpa kebangkitan sia-sialah kepercayaan Kristen.

    Dalam laporan Paulus tentang kebangkitan (IKor 15) kita menemukan tradisi gereja yang sudah baku tentang kebangkitan. Yang menarik dalam pengakuan iman IKor 15 kita, tidak ditemukan adanya kisah tentang saksi mata perempuan. Tapi pada saat yang sama, di keempat Injil kita menemukan secara konsisten bahwa saksi mata pertama peristiwa ini adalam perempuan. Pada za319 itu, melaporkan suatu peristiwa yang luar biasa dengan saksi mata perempuan adalah suatu blunder retorika. Hal ini karena kebudayaan pada masa itu, meragukan kebenaran dan keakuratan dari cerita dan penuturan perempuan. Seandainya para penulis Injil hanya mengarang kisah kebangkitan Yesus, maka menempatkan wanita sebagai saksi mata adalah keanehan yang luar biasa. Dengan kata lain, sulit sekali untuk menerima bahwa laporan ini hanyalah fiktif semata.

    Beberapa pakar mencoba menjelaskan laporan kebangkitan Yesus dengan memberikan sudut pandang psikologis. Para murid yang kehilangan pemimpin mengalami goncangan psikologis yang membuat mereka memprojeksikan Yesus yang bangkit. Namun kalau kita melihat sejarah Palestina sekitar 200 SM- 200 AD, kita menemukan adanya tokoh-tokoh seperti Yudas dari Galilea, Teudas dan Bar-Kokhba yang merupakan pemimpin besar gerakan agama yang kemudian mati, tetapi tanpa ada laporan tentang kebangkitan mereka. Satu demi satu para pemimpin ini di bunuh oleh Roma dan para pengikut mereka tercerai berai. Mengapa tidak satupun dari mereka yang jelas-jelas mengalami kondisi psikologis yang tergoncang kemudian menciptakan cerita tentang kebangkitan pemimpin mereka? Mengapa? Ini menarik sekali! Pada zaman itu penyakit psikologis modern yang suka berhalusinasi tidaklah populer seperti sekarang ini. Gerakan yang dikalahkan biasanya bubar, menyerah dan kembali kepada aktivitas mereka, atau gerakan itu memilih seorang pengganti untuk menjadi pemimpin mereka. Karena itu laporan kebangkitan Yesus yang secara konsisten diberitakan gereja purba adalah sesuatu yang unik.

    Pakar lain coba untuk menerima laporan tentang kebangkitan Yesus sebagai kesaksian yang tak tertolak. Tapi mereka menolak bahwa itu berarti Yesus adalah anak Allah, mungkin Yesus hanyalah seorang nabi yang secara luar biasa diberkati oleh Tuhan, tetapi bukan berarti Dia adalah Tuhan atas segala sesuatu. Pandangan seperti ini banyak dianut oleh pakar dengan latar belakang Jahudi. Namun kalau kita coba untuk memahami kebangkitan Yesus dengan latar belakang semua TINDAKAN YANG DIA LAKUKAN BERDASARKAN LAPORAN INJIL, seperti membersihkan Bait Allah, menyembuhkan dan membangkitkan orang mati, lalu akhirnya Dia bangkit, maka dari sudut pandang Teologi Judaism masa itu, Dia adalah messias yang diutus Allah, dan dengan kata lain ´Lord of all´. Ini memiliki dimensi politik yang kental karena itu berarti gereja berkata bahwa ´Kaisar Romawi bukanlah Tuhan dan Penguasa, tetapi YESUSLAH TUHAN DAN PENGUASA DUNIA!´ Tindakan Paulus menyebut Yesus ´Tuhan´ dalam pembukaan surat-suratnya adalah suatu tindakan provokatif dan subversif, khususnya mengingat dia sendiri adalah warga negara Romawi. Dengan demikian dia sedang mengatakan bahwa Kaisar itu hanyalah raja kecil yang masih berada dibawa Yesus Kristus, Kaisar atas segala kaisar.

    Ketika kita mempelajari dokumen Perjanjian baru kita menemukan suatu perkembangan yang unik, dalam waktu 20-30 tahun setelah kebangkitan Yesus, maka gereja telah sampai kepada keyakinan yang solid bahwa Yesus adalah messiah yang didalamNya Yahweh Israel dikenal dan dinyatakan, dengan perkataan lain Dia adalah inkarnasi dari Yahweh Israel. Pernyataan-pernyataan seperti yang ditemukan dalam tulisan Paulus dan Injil menunjukkan kenangan Para Rasul dan komunitas Kristen purba akan Yesus sebagai Tuhan dan penyataan Allah. Dalam konteks monotheisme yang ketat dari Jahudi, penyembahan kepada Yesus hanya bisa dimengerti sebagai suatu pengakuan akan Yesus sebagai messias yang didalamNya Yahweh telah menyatakan diri. Dia adalah penyataan dari Yahweh Israel, kalau tidak maka gereja mula-mula telah melakukan suatu penyembahan berhala, suatu dosa yang disadari dengan sensitif oleh orang Jahudi masa itu.

    Dengan memberikan kritik dan kupasan diatas, bisa kita lihat bahwa menempatkan laporan Kebangkitan Yesus dalam konteks Judaisme abad pertama membuat laporan Paulus dan Injil Perjanjian Baru menjadi masuk akal dan penuh dengan makna yang relevan bagi pembaca pertama dokumen-dokumen tersebut. Dalam konteks narasi Israel, kebangkitan Yesus adalah mutlak untuk memahami ungkapan keyakinan Paulus yang luar biasa akan kemesias-an Yesus dan penuturan Injil akan keilahianNya.

    Ulasan ini kiranya menjadi suatu penyegar bagi keyakinan kita akan signifikansi kebangkitan Yesus bagi komunitas Kristen. Kebangkitan Yesus adalah suatu buah sulung dari kebangkitan orang percaya. Didalam kebangkitanNya kita menemukan klimaks dari perjanjian Allah kepada Israel dan umat manusia, dimana kejahatan dan maut telah ditaklukkan, dan kepada kita semua diberikan undangan untuk berpartisipasi dalam kerajaan Allah yang telah menerobos masuk ke dalam sejarah manusia dan memberikan suatu perubahan yang final akan arah sejarah dan tujuan bumi ciptaan Tuhan. Dalam konteks meta-narrative yang berpusat pada kebangkitan Yesus, kiranya kita menemukan makna dan kuasa dalam narrative kehidupan kita, khususnya di dunia yang semakin kehilangan pusat kehidupan ini.

    Kitab Suci Torat dan Injil

    Penulis : Herlianto

    Kitab Suci Torat dan Injil atau Kitab Suci 2000 (sebut saja KS2000) diterbitkan oleh Eliezer (Suradi) ben Abraham dengan organisasi Bet Yesua Hamasiah. KS2000 adalah puncak dari seri 5 traktat (yang kemudian disatukan) berjudul Siapakah Yang Bernama Allah Itu? (sebut saja SYBAI), yang diterbitkan sebelumnya yang pada prinsipnya beranggapan bahwa nama Yahweh dan Eloim tidak boleh diubah dan diterjemahkan, dan penggunaan nama Allah yang dianggap nama dewa-berhala Arab itu sebagai penghujatan.

    KS2000 nyaris menjiplak seluruh terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia - Terjemahan Baru (LAI-TB), dengan perubahan kecil yaitu dihilangkannya judul-judul perikop dan beberapa nama diganti dalam bahasa Ibrani terutama nama Allah diganti Eloim dan sebagian nama Tuhan diganti dengan Yahwe , dan Yesus Kristus diganti Yesua Hamasiah. Dari awal sudah terlihat kesalahan, dimana ALKITAB (LAI-TB) yang mencakup Perjanjian Lama dan Baru , dalam KS2000 ditulis dalam sampulnya sebagai Kitab Suci Torat dan Injil padahal isinya mencakup PL & PB. Seperti diketahui PL dalam bahasa Ibraninya disebut Tanakh artinya Torat, Nebiim (kitab nabi-nabi) dan Khetubim (tulisan sastra) ini disebutnya Torat saja, dan PB yang mencakup Injil, Kisah Para Rasul, Surat-Surat, dan Wahyu, dalam KS2000 disebutnya Injil saja. Bagaimana sikap kita menghadapi versi Alkitab ini?

    Secara Etis , terlihat KS2000 tidak memiliki tata-krama penulisan karena tidak meminta izin kepada LAI dalam menggunakan hak-cipta penerjemahan tersebut, bahkan terjemahan LAI yang melibatkan dana mahal dan begitu banyak ahli teologia dan bahasa itu, begitu saja dibajak tanpa menyebut sumber dasar terjemahan (LAI-TB) yang digunakan, bahkan hasil bajakan itu diaku seakan-akan penulisnya adalah Eliezer ben Abraham dan organisasi kelompoknya Bet Yesua Hamasiah sebagai penerbitnya. Sungguh disayangkan bahwa kelompok yang ingin menguduskan YHWH telah melakukan perbuatan yang memalukan YHWH. Tiadanya etika dalam membajak karya terjemahan LAI jelas menyiratkan motivasi apa yang berada dibalik terjemahan itu yang kelihatannya dijiwai fanatisme Yudaisme yang jelas berpotensi untuk memecah belah kekristenan di Indonesia.

    Secara Teologis dapat dilihat banyak hal yang tidak tepat dan menunjukkan bahwa fanatisme nama Yahwe dan Eloim membuat kelompok Nasrani ini tidak sadar akan keterbatasan pengertiannya mengenai latar belakang sejarah, budaya, bahasa, maupun teologia Alkitab, sehingga menghasilkan versi Kitab Suci 2000 yang jauh lebih menunjukkan kesalahan-kesalahan penerjemahan yang lebih fatal daripada terjemahan LAI yang ingin digantinya yang dianggap sebagai tidak benar.

    Ada dua kesalahan fatal dalam KS2000: (1) KS2000 mengabaikan perbedaan antara El, Elohim dan Eloah, semuanya ditulis Eloim , padahal kita tahu bahwa sekalipun ada kesamaannya dan disana sini dipertukarkan, ketiganya memiliki perbedaan; (2) KS2000 menganggap hanya Yahweh yang merupakan nama diri, sedang Elohim diartikan sebutan/gelar. Akibatnya bila nama diri El diterjemahkan Eloim berarti dua kesalahan terjadi, yaitu nama diri Tuhan El diartikan sebagai sebutan dan El dianggap identik dengan Elohim.

    Anggapan bahwa Eloim adalah gelar menunjukkan adanya kekurang pengertian akan sejarah bahasa Ibrani. KS2000 mengganti semua nama El dalam PL yang berarti nama diri yang sejajar dengan Yahweh dengan nama Eloim yang hanya diartikan sebutan/gelar sesembahan Yahudi saja. Contoh berikut menggambarkan nama diri El (yang definitif) yang dikaburkan sekedar diartikan sebutan/gelar saja (yang dikurung adalah bahasa aslinya dalam bahasa Ibrani):

    "Akulah Eloim (El) yang di Betel (Bet El) itu" (KS2000, Kej.31:13)

    "Eloim (Elohim) Israel ialah Eloim (El)." (KS2000, Kej.33:20)

    Pada kedua ayat di atas jelas El adalah nama diri yang tinggal di Bet El , ini dilemahkan hanya sekedar Eloim yang diartikan sebutan/gelar sesembahan saja. Demikian juga Elohim yang artinya sebagai nama diri yang disejajarkan dengan Yahweh dan El, juga dikaburkan menjadi Eloim yang diartikan sebutan/gelar saja:

    "Aku, YAHWE (Yahweh). Eloim(Elohim)mu, adalah Eloim (El) yang cemburu ..." (KS2000, Ulg.5:9).

    "Hai anak manusia, katakanlah kepada raja Tirus: Beginilah firman Tuhan (Adonai) Yahwe (Yahweh): Karena engkau menjadi tinggi hati, dan berkata: Aku adalah Eloim (El)! Aku duduk di takhta Eloim (Elohim) di tengah-tengah lautan. Padahal engkau adalah manusia, bukanlah Eloim (El), walau hatimu menempatkan diri sama dengan Eloim (Elohim)." (KS2000, Yeh.28:2).

    El yang adalah nama diri yang cemburuan (Ulg.5:9) telah dikaburkan sekedar gelar saja. Demikian juga pernyataan Yahweh bahwa aku adalah El (yang disejajarkan dengan Yahweh, Yeh.28:2) di sini ditulis sekedar sebagai Eloim yang diartikan gelar . Hal yang sama dapat dilihat pada ayat-ayat berikut:

    "Eloim (Elohim) berfirman kepada Yakub: "Bersiaplah, pergilah ke Betel (Bet El), tinggallah di situ, dan buatlah di situ mezbah bagi Eloim (El), yang telah menampakkan diri kepadamu." (KS2000, Kej.35:1,3)

    "Akulah Eloim (El), Eloim (Elohim) ayahmu, janganlah takut pergi ke Mesir, sebab aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar di sana." (KS2000, Kej.46:3)

    "Lalu berserulah Mose kepada YAHWE (Yahweh): "Ya Eloim (El), sembuhkanlah kiranya dia." (KS2000, Bil.12:13).

    Kej.35:1,3 jelas menyebut Mezbah bagi El yang adalah nama diri tetapi dikaburkan dengan Eloim yang diartikan gelar, demikian juga Kej.46:3, pengakuan nama diri Akulah El telah dikaburkan menjadi sekedar Akulah Eloim yang diartikan gelar. Seruan Musa pada nama diri El dalam Bil.12:13 juga kabur menjadi ditujukan pada Eloim yang diartikan gelar. Contoh berikut menunjuk jelas bahwa El adalah nama diri , bahkan dalam kaitan pengertian ke esa an, dan ini juga diganti Eloim yang dimengerti sebagai sebutan/gelar saja.

    "Jadi dengan siapa kamu hendak samakan Eloim (El), dan apa yang dapat kamu anggap serupa dengan Dia? (KS2000, Yes.40:18)

    "Kamu inilah saksi-saksiKu," demikianlah firman YAHWE (Yahweh), "dan hambaKu yang telah Kupilih, supaya kamu tahu dan percaya kepadaKu dan mengerti, bahwa Aku tetap Dia. Sebelum Aku tidak ada Eloim (El) dibentuk, dan sesudah Aku tidak ada lagi. Aku, Akulah YAHWE (Yahweh) dan tidak ada juruselamat selain daripadaKu. Akulah yang memberi-tahukan, menyelamatkan dan mengabarkan, dan bukannya allah asing yang ada di antaramu. Kamulah saksi-saksiKu," demikianlah firman YAHWE (Yahweh), "dan Akulah Eloim (El)." (KS2000, Yes.43:10-12)

    "Beginilah firman YAHWE (Yahweh): "Hasil tanah dari Mesir dan segala laba Etiopia dan orang-orang Syeba, orang-orang yang tinggi perawakannya, akan pindah kepadamu dan menjadi kepunyaanmu, mereka akan berjalan di belakangmu dan dirantai; mereka akan sujud kepadamu dan akan membujuk engkau, katanya: Hanya di tengah-tengahmu ada Eloim (El), dan tidak ada yang lain; di samping Dia tidak ada Eloim (Elohim)." (KS2000, Yes.45:14).

    Dari beberapa contoh di atas kita dapat melihat bahwa usaha yang ingin memurnikan bahasa Ibrani dalam KS2000 pada kenyataannya justru mengganti kata El dengan kata Eloim bahkan yang fatal nama diri El disebut sebagai nama sebutan/gelar Eloim . Kesalahan yang sama juga terjadi dalam penggantian dalam Perjanjian Baru dimana kata Allah yang berasal dari kata Theos yang dalam konteks Septuaginta bisa berarti El/Elohim/Eloah yang bisa merupakan nama diri mau-pun sebutan/gelar yang perlu dilihat dari konteksnya, juga diterjemahkan (karena bahasa aslinya Yunani) secara borongan dengan kata Eloim yang diartikan sebagai sebutan/gelar saja.

    Contoh lain adalah sebutan Rumah Allah yang dalam konteks Perjanjian Lama menunjuk pada Bait El (Rumah El ) dalam KS2000 diterjemahkan menjadi Bet Eloim (KS2000, Mar.11:15-16). Tentu artinya menjadi lemah bila nama Bait El yang adalah RumahKu (Mar.11:17) yang menunjuk nama diri Tuhan sekarang diganti menjadi sekedar Rumah milik gelar sesembahan saja.

    Yang menarik untuk diamati adalah bahwa kalau kata Theos dalam bahasa asli Yunaninya bila dimengerti dalam konteks Septuaginta bisa berarti Yahweh (TUHAN) atau Adonai (Tuhan/Tuan) tergantung pengertian konteksnya, maka dalam KS2000 sebagian diterjemahkan sebagai YAHWE, dan penggantian itu mengikuti contoh Alkitab terjemahan Saksi-Saksi Yehuwa yang disebut Kitab-Kitab Yunani Kristen Terjemahan Dunia Baru (NW, Apendiks 2,h.413) dengan beberapa perkecualian. Dari 237 nama Tuhan dalam PB yang diganti dengan nama Yehuwa oleh Saksi Yehuwa (NW), sekitar 60%nya diikuti KS2000 dengan menggantinya dengan nama Yahwe dan sisanya tetap disebut Tuhan yang dalam konteks pandangan KS2000 diartikan sebagai Adonai. Maka, dengan anggapan bahwa sebagian saja dari yang sisanya 40% itu tentunya dimaksudkan sebagai Yahweh , berarti KS2000 telah mengubah sebagian dari yang 40% itu yang seharusnya Yahwe diterjemahkan dengan Tuhan , sesuatu yang dikritiknya. KS2000 tidak mengerti bahwa bahasa asli Perjanjian Baru bukan Ibrani tetapi Yunani , dan disekitar hidup Yesus yang berlaku adalah bahasa percakapan Yunani dan Aram.

    Beberapa contoh ayat yang menunjuk pada nama diri Tuhan (dalam LAI-TB) yang berarti Yahweh ternyata diganti Tuhan , jadi diterjemahkan juga:

    "Ada tertulis dalam kitab nabi-nabi: Dan mereka semua akan diajar oleh Allah (KS2000: Eloim). Dan setiap orang, yang telah mendengar dan menerima pengajaran dari Bapa, datang kepadaKu." (LAI, Yoh.6:45). Dalam ayat ini, LAI menterjemahkan kata Allah itu sesuai bahasa asli Yunaninya yang ditulis Theos , dan KS2000 menggunakan kata Eloim , padahal Yes.45:13 yang dikutip dari PL, Ibraninya adalah Yahweh , jadi KS2000 juga mengganti kata Yahweh.

    Contoh lebih mencolok adalah ayat berikut:

    "Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar, bahwa Tuhan (KS2000: Eloim) telah menunjukkan rahmatNya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia." (LAI-TB, Luk.1:58). Disini LAI menterjemahkan kata Tuhan dari bahasa aslinya Kurios yang bisa berarti Yahweh atau Adonai dalam kacamata Septuaginta, dan sekalipun bahasa asli Yunaninya secara eksplisit tidak menyebut artinya sebagai Yahweh, dari konteks ayat itu dapat diraba bahwa artinya adalah nama diri Yahweh . Tetapi, KS2000 menterjemahkannya sebagai Eloim .

    Tiga kesalahan fatal telah dilakukan KS2000 pada 2 ayat itu: (1) Kurios (Tuhan) diterjemahkan sebagai Eloim ; (2) Kurios (Tuhan) yang dalam konteks ini menunjukkan nama diri dianggap sebutan/gelar saja; dan (3) Kurios (Tuhan) yang justru maksudnya nama diri Yahweh ternyata diterjemahkan sebagai sebutan/gelar Eloim . Ini menunjukkan bahwa maksud memperbaiki yang salah, namun karena yang diperbaiki ternyata benar, maka perbaikannyalah sekarang yang salah.

    Contoh lain dimana nama diri Yahweh , diterjemahkan sebagai Tuhan dapat dilihat pada ayat berikut:

    "Roh Tuhan ada padaKu, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku." (KS2000, Luk.4:18). Disini LAI menterjemahkan Tuhan dari bahasa Yunani Kurios yang dalam konteks PL yang dibaca menunjuk pada Yahweh (Yes.61:1) tetapi disebut KS2000 sebagai Tuhan juga. Jadi, KS2000 juga menterjemahkan nama Yahweh menjadi Tuhan , sesuatu yang diharamkannya! Contoh lain:

    "Bukankah telah dikatakan Musa (KS2000: Mose): Tuhan Allah (KS2000: Eloim) akan membangkitkan bagimu seorang nabi dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku: Dengarkanlah dia dalam segala sesuatu yang akan dikatakannya kepadamu." (LAI-TB, Kis.3:22, yang dikurung versi KS2000). Di sini LAI menterjemahkan Tuhan Allah sesuai bahasa asli Yunaninya yang berbunyi Kurios Theos , yang dalam kacamata ayat aslinya dalam PL berarti Yahweh Elohim (Ulg. 18:15), tetapi KS2000 menterjemahkan sebagai Tuhan Eloim :

    Penterjemahan Alkitab memang bukan monopoli LAI, dan setiap orang berhak merevisinya sesuai yang benar, tetapi bila seseorang mengambil naskah LAI kemudian mengganti beberapa kata yang malah tidak benar, tentu ini memutar balikkan kebenaran. Apalagi kita tahu bahwa terjemahan Alkitab LAI dikerjakan oleh puluhan ahli teologia/bahasa yang mewakili mayoritas gereja, yaitu Protestan, Katolik, Pentakosta, Baptis dan Advent, maka adalah ceroboh bila satu orang yang tidak belajar teologia formal begitu saja mau menggantikan kerja tim para-ahli itu, dan menganggap karya mereka sebagai penghujatan. Apalagi, kita ketahui bahwa faktanya, sejak hari Pentakosta (Kis.2:11) dimana Roh Kudus mendorong para Rasul dalam penterjemahkan, dan jauh sebelum masa jahiliah dan Islam, orang Kristen Arab dan Yahudi sudah menyebut Allah , dan saat ini ada 4 versi Alkitab bahasa Arab yang semuanya menggunakan nama Allah. Nama ini adalah transliterasi nama El ke bahasa Arab sama halnya Alloho ke bahasa Aram-Siria.

    Kitab Suci Umat Perjanjian Tuhan

    Penulis : Herlianto

    Bila dalam beberapa puluh tahun umat Kristen semua aliran di Indonesia menggunakan Alkitab terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) yang juga diakui oleh gereja Roma Katolik, dalam lima tahun terakhir ini di Indonesia terbit tiga versi Kitab Suci baru dalam bahasa Indonesia, yaitu: (1) 'Kitab Suci Terjemahan Dunia Baru' (KS-TDB) yang diterbitkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa (1999); (2) 'Kitab Suci Taurat dan Injil' (KS-2000) yang diterbitkan oleh Bet Yesua Hamasiah (2000); dan (3) 'Kitab Suci Umat Perjanjian Tuhan' (KS-UPT) yang diterbitkan oleh Jaringan Gereja-Gereja Pengagung Nama Yahweh (2002). Ketiganya ingin mengembalikan nama Yehuwa/Yahwe/Yahweh dalam Kitab Suci, nama Tuhan yang dianggap harus dimuliakan dan tidak boleh diterjemahkan.

    'Kitab Suci Umat Perjanjian Tuhan' (KS-UPT) diterbitkan oleh 'Jaringan Gereja-Gereja Pengagung Nama Yahweh' (Jakarta, 2002) dan disebutkan bahwa penerjemahan ini bagian dari gerakan Roh Kudus, dan diilhami 'The Scriptures' (The Institute of Scripture Research, Afrika Selatan). Sumber lain adalah 'The Word of Yahweh' (Assembly of Jahweh, Eaton Rapids, USA). Keduanya memunculkan kembali nama 'YAHWEH,' dan tujuannya untuk menopang "Gerakan Penganggungan Kembali Nama Yahweh," dengan maksud agar umat perjanjian Tuhan mengingat, menyebut dan mengagunggkan nama diri Tuhan itu seperti yang dikehendaki untuk disebutkan dan diagungkan turun temurun (Kel.3:13-15).

    KS-UPT dan sumbernya menyalahkan tradisi yang sudah melencengkan kaidah yang ditetapkan Firman Tuhan, yaitu: (1) Yudaisme Orthodox, yang mengganti nama YHWH (tatragrammaton) dengan Adonai (Tuan atau Majikan); (2) Septuaginta, yang mengganti nama YHWH dengan Kurios (dianggap sama dengan Adonai); dan (3) Perjanjian Baru yang juga menulis nama YHWH dengan Kurios dan dalam bahasa Aram menjadi Mariah. Disebutkan kemudian bahwa tujuan menyebut dan mengagungkan kembali nama 'Yahweh' sebagai usaha 'back to the Bible.'

    Alasan teologis yang dikemukakan adalah: (1) Tuhan memperkenalkan nama dirinya sebagai 'Yahweh' (Kel.3:13-15); (2) Nama diri Yahweh ditulis 7000 kali dalam Kitab Suci; (3) Keselamatan hanya karena nama Yahweh (Yl.2:32;Rm.10:13); dan (4) Sangat mungkin nama Yahweh muncul dalam Perjanjian Baru. KS-UPT menggunakan nama Yahweh dan bukan Yehuwa untuk membedakan diri dengan aliran sesat Saksi-Saksi Yehuwa, dan tidak digunakannya YHWH (Ibrani) agar tidak sulit membaca nama itu, dan pengucapan nama Yahweh tidak terlalu jauh dari aslinya.

    Bagaimana sikap kita memandang versi baru yang kembali membingungkan sebagian umat Kristen itu? Ada dua pertimbangan, yaitu secara 'etis' dan 'teologis'. Secara 'etis', KS-UPT adalah pekerjaan plagiat yang menggunakan Alkitab LAI sebagai dasar dengan mengganti nama TUHAN (YHWH) dengan Yahweh dan nama Allah diganti Tuhan. Sungguh tidak nyambung bahwa gerakan yang mengaku berasal dari Roh Kudus dan ingin mengagungkan nama Yahweh itu bisa melakukan tindakan yang begitu rendah dengan menjiplak terjemahan LAI yang sudah menghabiskan biaya begitu besar dan melibatkan banyak ahli theologi itu tanpa meminta izin. Di tengah penggalakan UU Hak Cipta di Indonesia, para pengikut Yahweh justru melakukan tindakan tidak terpuji sehingga menimbulkan pertanyaan, layakkah para pengagung ini meng'atasnama'kan Yahweh? Perilaku demikian itu 'mengagungkan' atau 'mempermalukan' nama Yahweh?

    Secara 'teologis' sifat bidaah ditunjukkan para pengagung nama Yahweh itu dengan menganggap diri mereka paling benar dan menyalahkan semua aliran yang tidak sependapat darinya. Baik Yahudi orthodox, Septuaginta, sampai PB dianggap melenceng (tapi yang dianggap melenceng seperti terbitan LAI dijiplak begitu saja). Memang ada kelompok Yahudi yang karena rasa takut salah menyebut nama YHWH kemudian menyebutnya sebagai Adonai tetapi dalam Alkitab hal itu tidak disalahkan Tuhan kecuali jika mereka menggunakan nama Tuhan dengan sia-sia, jadi bukan pengucapan namanya, tetapi pengejawantahan esensi nama itu yang disalahkan! Ingat, nama diri YHWH bukan nama diri satu-satunya, sebab ada nama diri lain yaitu 'El' dan sekalipun sudah diperkenalkan kepada Musa, nama diri El masih juga digunakan bahkan oleh Yesaya (Yes.43:10-12). Bandingkan 'El, elohe Yisrael' (Kej.31:13;33:20;46:3) dengan 'YHWH, elohe Yisrael' (Kel.20:2;32:27;Yos.8:30) di mana kedua nama diri 'El' dan 'YHWH' itu disejajarkan.

    Perlu disadari bahwa 'nama diri YHWH' baru diperkenalkan kepada Musa di padang gurun (Kel.6:1-2) dan sebelumnya nama diri yang digunakan adalah 'El' (Kej.17:1, termasuk Kel.3:13-15). Bila KS-UPT jujur, harus menyadari bahwa adanya tetragrammaton sebelum Kel.6:1-2, sebenarnya adalah perubahan yang dilakukan para pengagung nama Yahweh waktu itu yang tidak merasa enak kalau Yahweh hanya menjadi 'Tuhan Israel yang mengeluarkan mereka dari Mesir', maka kemudian nama itu digunakan juga untuk menyebutnya Tuhan umat manusia (Kej.4:26, Enos artinya 'manusia'), dan lebih jauh lagi nama itu diklaim sebagai nama Tuhannya langit dan bumi (Kej.2:4).

    Nama diri Tuhan dalam PL disebutkan sebagai 'El' dan 'Yahweh' dan sekalipun Elohim & Eloah adalah sebutan untuk Tuhan, namun sesekali juga digunakan sebagai nama diri Tuhan. Demikian juga Adonai bisa berarti 'nama diri Tuhan' (untuk menghindari sebutan YHWH), 'sebutan Tuhan', atau secara terbatas sebutan untuk 'Tuan.' Kesalahan KS-UPT adalah mencampur adukkan nama 'El' dengan 'YHWH' dan El/Elohim/Eloah (Allah) diterjemahkan menjadi 'Tuhan.' Akibatnya para pengagung nama Yahweh ini tidak mentaati nama Tuhan yang lain karena mereka tidak mau memanggil Tuhan dengan nama 'El' padahal nama inilah aslinya yang digunakan Tuhan dalam Kel.3:13-15 (band.Kel.6:1-2) dan disejajarkan dengan nama Yahweh (El elohe Yisrael = Yahweh Elohe Yisrael). Sikap 'anti nama El' menyebabkan KS-UPT janggal dalam terjemahan. Contohnya ucapan Thomas: "Ya Tuhanku (Kurios) dan Allahku (Theos)!" (Yoh.20:28, LAI), KS-UPT menerjemahkan: "Ya Tuhanku dan Sembahanku!". Lihatlah pengakuan ini dalam terang PL: "Ya Allahku (Elohim) dan Tuhanku (Adonai)! ... Ya TUHAN (YHWH) Allahku (Elohim)" (Mzm.35:23-24, LAI), ini diterjemahkan KS-UPT menjadi: "Ya Sembahanku dan Tuhanku! ... Ya Yahweh Tuhanku."

    Kasus Thomas menunjukkan bahwa kalau dalam Septuaginta dan PB-yunani dibedakan antara 'Kurios' (YHWH & Adonai) dengan 'Theos' (El/Elohim/Eloah) yang disepakati dalam bahasa Indonesia oleh LAI menjadi 'TUHAN' (YHWH) & 'Tuhan' (Adonai), dan 'Allah' (El/Elohim/Eloah), demikian juga pengakuan Thomas dan Mazmur membedakannya, KS-UPT menerjemahkannya secara kacau. Dalam Yoh.20:28, Kurios diterjemahkan 'Tuhan' dan 'Theos diterjemahkan 'Sembahan', tetapi dalam Mzm.35:23 Elohim diterjemahkan 'Sembahan' dan dalam ayat 24 Elohim diterjemahkan 'Tuhan'! El Shadai (Kej.17:1;Kel.6:2, Allah yang mahakuasa, LAI) diterjemahkan 'Tuhan yang Mahakuasa', El Elyon (Bil.24:16, Allah yang Mahatinggi) diterjemahkan 'Tuhan yang Mahatinggi', El Olam (Kej.21:33, Allah yang Kekal, LAI) diterjemahkan 'Tuhan yang Kekal', dan El Bethel (Kej.16:33, Allah yang di Bethel, LAI) diterjemahkan 'Tuhan yang di Bethel', tetapi 'El Elohe Yisrael (Kej.33:20, Allah Israel adalah Allah, LAI) diterjemahkan 'Yang Maha Tinggi Tuhannya Israel' (di sini El diterjemahkan Yang Maha Tinggi dan Elohim diterjemahkan Tuhan).

    Untuk menghindari nama El/Elohim/Eloah yang kata Arabnya 'Allah', KS-UPT menerjemahkan Allah (El/Elohim/Eloah dalam PL dan Theos dalam PB) menjadi Tuhan tetapi tidak terhindarkan bahwa nama 'Betel' (beth el, rumah El) terpaksa tidak diterjemahkan dan diterima sebagai 'betel' juga, demikian juga 'El Roi' (Kej.16:13, Allah yang melihat, LAI) tetap ditulis sebagai 'El Roi.' Jadi nama El diterima juga, sama halnya nama 'Imanuel' (Mat.1:23;Yes.7:14;8:8, Allah menyertai kita, LAI) tetapi artinya diterjemahkan 'Tuhan menyertai kita' (El diterjemahkan Tuhan).

    Sekalipun ada kelompok Yahudi Orthodox yang mengganti 'nama Yahweh menjadi Adonai' perlu disadari ada juga kelompok Yahudi orthodox yang mengganti nama El/Elohim/Eloah/Adonai menjadi Yahweh! KS-UPT mengganti beberapa nama 'Adonai' yang disangka Yahweh menjadi Yahweh (Kel.15:17), dengan demikian terbuka kemungkinan bahwa ada sebagian nama 'Adonai' yang diubah oleh Orthodox Yahudi dari kata Yahweh tidak dipulihkan (Yes.6:1,8), berarti KS-UPT dalam usahanya mengagungkan nama Yahweh juga beberapa kali tidak menerjemahkan Yahweh sebagai Yahweh. Contoh jelas bisa di baca dalam nama 'Yah Yahweh' yang diterjemahkan 'Tuhan YAHWEH' (Yes.12:2;26:4), 'Yah' nama diri Tuhan diterjemahkan sebagai Tuhan.

    Kasus demikian akan makin jelas terlihat dalam penggunaan nama Yahweh dalam PB. Seperti diketahui bahwa dalam naskah asli (Yunani) PB, hanya ditemui satu nama Yahweh yang ada dalam kalimat Haleluya (Why.19:1,3,4) Yang artinya 'pujilah Yah' (kalau konsekwen, 'pujilah Tuhan' dalam ayat:5 mestinya diganti 'pujilah Yah' juga), tetapi KS-UPT menerjemahkan banyak kata Kurios menjadi Yahweh, padahal Kurios itu dalam konteks Septuaginta bisa berarti 'Yahweh' (TUHAN) atau 263237onai' (Nama Diri Tuhan, sebutan Tuhan, atau Tuan). Saksi-Saksi Yehuwa yang tergolong pengagung utama nama Yahweh menerjemahkan 237 nama Yahweh dalam PB, banyak diantaranya diikuti KS-UPT, tetapi sebagian tidak diikuti (a.l. Mrk.5:19;13:20;Luk.1:9,28;2:15). Ini berarti terbuka kemungkinan ada Kurios yang sebenarnya artinya Yahweh hanya diterjemahkan sebagai Tuhan dalam KS-UPT. Bahwa KS-UPT juga tidak mengembalikan beberapa kata Yahweh berarti para pengagung nama Yahweh ini juga tidak selamat menurut kriteria yang mereka buat sendiri.

    Bagaimana dengan Septuaginta dan PB? Septuaginta diterjemahkan oleh 70 tua-tua (LXX) yang dikirim oleh Imam Besar Yahudi Eliezer, dan hasilnya direstui pimpinan Yahudi sehingga LXX digunakan umat Yahudi di Sinagoge (kecuali di Bait Allah dimana digunakan bahasa Ibrani untuk tulisan suci karena bahasa Ibrani hanya berbentuk huruf mati (konsonan) tanpa vokal sehingga tidak digunakan sebagai bahasa percakapan) maupun digunakan oleh jemaat Kristen pertama. Dalam PB tidak ada kesan bahwa 'Allah yang bersuara dari langit' menyalahkan penggunaan 'Kurios' tetapi yang disalahkan adalah 'tidak melakukan kehendak-Nya' (Mat.7:21). Yesus sendiri membaca terjemahan Septuaginta dalam Luk.4:18-19 dan bukan terjemahan Massoret, bandingkanlah hal ini dengan terjemahan Yes.61:1-2 dalam PL-LAI yang berupa salinan naskah Masoret. Jadi penggunaan terjemahan Kurios untuk 'nama diri' Tuhan direstui oleh Allah bapa, Anak maupun Roh Kudus. Roh Kuduslah yang memenuhi para Rasul sehingga mereka dapat menyampaikan firman Tuhan (termasuk nama diri Tuhan) ke bahasa-bahasa lain termasuk bahasa Arab (Kis.2:4).

    KS-UPT menyebut bahwa keselamatan itu datang dari penyebutan 'nama diri Tuhan tetragrammaton dengan benar'. Nama Tuhan yang mana dan haruskah nama itu YHWH? Yang mana sebutan yang paling tepat untuk tetragrammaton? YHWH, Yahwe, Yahweh, Jehovah, atau Yehuwa? Semuanya tidak sama. Memang Roma 10:13 berbunyi: "Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan (Yunani: Kurios), akan diselamatkan," tetapi Matius 7:21 berbunyi: "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! (Yunani: Kurios) akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di Sorga." Apakah dapat disebut melakukan kehendak Bapa kalau KS-UPT adalah naskah bajakan (sekalipun menyebut Yahweh)? Di luar sepengetahuan dan seizin pemilik hak ciptanya? (LAI).

    Memang sifat bidaah memiliki pandangan fanatisme yang sempit yang beranggapan bahwa kelompok sendiri yang kecil itu selamat dan kelompok Kristen yang mayoritas (para Rasul, Bapa-Bapa Gereja, para pendeta, penginjil dan umat Kristen di seluruh dunia, yang jumlahnya sekitar satu milyar sejak abad pertama), semuanya tidak selamat karena tidak menggunakan nama tetragrammaton. Yesus sendiri dalam hidupnya tidak menyebut nama Allah Bapa dengan tetragrammaton melainkan dengan nama diri 'El' (ketika di kayu salib) dan diberi nama oleh Allah Bapa dengan nama 'El yang menyertai kita.'

    Nama Allah

    Penulis : Herlianto

    Akulah Allah Yang Mahakuasa [El Shadday], hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela. (Kejadian 17:1b)

    Nama El/Elohim/Eloah (dalam dialek Arab = Allah/Ilah), adalah nama pertama Tuhan yang tercatat dalam kitab Kejadian sebelum nama Yahweh diperkenalkan kepada Musa dalam masa Keluaran (Kel.6:1-2). El digunakan sebagai nama diri dan juga sebagai sebutan untuk Tuhan, dan sekalipun Elohim lebih banyak digunakan sebagai sebutan, kadang-kadang digunakan sebagai nama diri Tuhan yang bersifat jamak, Eloah adalah bentuk tunggal dari Elohim.

    El (baca Eel) atau Il adalah nama Tuhan rumpun Semitik (keturunan Sem), yang dalam jalur Ibrani keturunan Arphaksad disebut El/Elohim/Eloah dan dalam jalur Aram dan Arab disebut dengan dialek Ila/Elah/Eloh/Aloh/Alaha/Ilah/Allah, dll. Bangsa Ibrani melalui jalur keturunan Sem Arphaksad Eber (dari nama ini disebut bangsa Ibrani) Peleg Abraham (melalui Sara) menyebut Il Semitik sebagai El/Elohim/Eloah, sedangkan melalui keturunan Sem Aram lahir bangsa Siria yang menyebutnya Elah/Eloh/Alaha . Bangsa Arab adalah keturunan Aram Yoktan (Anak Eber) Hagar (selir Abraham) Keturah (selir Abraham), menyebutnya dengan dialek mereka sebagai Ilah/Allah.

    Tidak dapat disangkal bahwa bangsa Ibrani, Aram, dan Arab masih berpangkal pada El/Alaha/Allah dari Abraham/Ibrahim yang sama, sebagai Tuhan pencipta langit dan bumi yang menciptakan Adam, memanggil Nuh dan kemudian memanggil Abraham/Ibrahim yang disebut sebagai Bapa Orang Beriman (atau Bapa Monotheisme) yang dalam jalur Arab secara turun-temurun oleh kaum Hanif dirayakan sebagai Idul Adha. . Sebagai imbas perceraian bahasa di Babel (Kej.11) dan situasi lingkungan yang berbeda, nama Tuhan yang sama disebut dengan dialek berbeda-beda namun masih dalam rumpun semitik (Tuhan Il/El Semitik berbeda dengan sesembahan lain seperti Brahman, Tao, atau Anatta yang dipopulerkan sebagai Yang Satu dalam inklusifisme).

    Namun, sekalipun ketiga agama Semitik Yahudi, Kristen dan Islam menyembah Tuhan El/Allah yang sama, itu tidak berarti bahwa semua pengajaran/aqidah ketiganya sama. Pengajaran/aqidah bisa berbeda karena kepercayaan ketiganya didasarkan tradisi dan kitab suci (yang dianggap masing-masing sebagai wahyu) berbeda mengenai El/Allah yang sama itu.

    Pada jalur Ibrani, sebutan El pernah merosot ditujukan kepada berhala Anak Lembu (Kel.32:4/1Raj.12:28/Neh.9:18), namun Musa dan para Nabi meluruskan kembali kepada El Israel (El Elohe Yisrael, Kej.33:20;46:3). Orang-orang Arab yang percaya akan Il/El Semitik/Ibrani dan juga yang menganut Kristen menyebutnya Allah dalam dialeknya. Beberapa petunjuk penggunaan pada pra-Islam dapat dilihat bahwa sejak jauh sebelum masa Kristen sudah ada bagian kitab suci Tenakh dalam bahasa Aram (Sebagian kitab Ezra, Daniel, dan Yeremia ditulis dalam bahasa Aram, a.l. Dan.2:47;5:3 mengandung nama Elah ) dan terjemahan Peshitta (Alkitab bahasa Aram) ditulis pada abad-2. Di sini El ditulis Alaha (dibaca dalam berbagai dialek seperti Elah/Eloh/Aloh/Aloho).

    Yesus tidak menggunakan bahasa Ibrani melainkan Yunani dan Aram, dan di atas kayu salib Ia memanggil Bapa dengan nama El/Elo yang adalah bahasa Aram (Mat.27:46;Mrk.15:34). Di kalangan bangsa Arab pengikut Yesus, penggunaan nama Allah sudah terjadi sejak awal kekristenan jauh sebelum masa jahiliah Arab dan kelahiran Islam. Pada Konsili Efesus (431) wilayah suku Arab Harits dipimpin uskup bernama Abd Allah. Inskripsi Zabad (512) diawali Bism al-Ilah (Dengan nama Allah) lengkap dengan tanda salib diikuti nama-nama Kristen, demikian juga Inskripsi Umm al-Jimmal (abad-6) menyebut Allahu ghafran (Allah yang mengampuni). Inskripsi Hurran al-Lajja (568) dan inskripsi lain pra Islam dari lingkungan Kristen menggunakan nama Allah pula.

    Pada masa Islam lahir (abad-7), dalam Al-Quran nama Allah diakui oleh Muhammad digunakan bersama baik oleh umat Islam, Yahudi, Nasrani dan Kristen, seperti dalam ayat:

    "(Yaitu) orang2 yang diusir dari negerinya, tanpa kebenaran, melainkan karena mereka mengatakan: Tuhan kami Allah. Jikalau tiadalah pertahanan Allah terhadap manusia, sebagian mereka terhadap yang lain, niscaya robohlah gereja2 pendeta dan gereja2 Nasrani dan gereja2 Yahudi dan mesjid2, di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah menolong orang yang menolong (agama)Nya. Sungguh Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa." (Mahmud Yunus, Tafsir Quran Karim, QS.22:40)

    Dari kenyataan ini kita tahu bahwa nama Allah bukanlah kata Islam melainkan kata Arab sebab sudah digunakan sejak keturunan Semitik suku Arab yang menyebut El Semitik dalam dialek mereka, dan juga digunakan orang Arab yang beragama Yahudi dan Kristen jauh sebelum kehadiran masa jahiliah dan Islam. Ulil Absar Abdala dalam seminar LAI mengakui bahwa 70% data Al-Quran berasal dari tradisi agama Yahudi dan Kristen, ini berarti Islam menggunakan istilah Allah dari kedua sumber itu dan digabungkan dengan konsep Allah nenek moyang mereka penganut agama Hanif.

    Di negara-negara berbahasa Arab, saat ini ada empat Alkitab bahasa Arab dan keempatnya menggunakan nama Allah , dan penggunaan nama Allah bersama-sama oleh umat Islam dan Kristen di negara-negara berbahasa Arab tidak pernah menjadi masalah. Di Kairo kota lama, ada gereja Al-Mu alaqqah dimana dipintunya ditulis kaligrafi Arab yang berbunyi Allah Mahabah (Allah itu kasih), dan dipintu lainnya Ra isu al-Hikmata Makhaafatu Ilah (Permulaan Hikmat Adalah Takut kepada Allah), dan dari situ ada sinagoga Ben Ezra dimana disebut bahwa dahulu di situ Rabbi Moshe Ben Ma imun menulis buku Al-Mishnah dan Dalilat el-Hairin dalam bahasa Ibrani dan Arab dimana El/Elohim diterjemahkan Allah.

    Dalam jalur Arab yang percaya ajaran Il/El Semitik ini tidak dapat disangkal bahwa mereka menyebut dalam dialek mereka sendiri sebagai Allah terutama untuk menunjuk Allah dari Adam, Sem (semitik), Yoktan (anak Eber, Ibranik), dan Ibrahim (Abrahamik).

    "Gagasan tentang Tuhan Yang Esa yang disebut dengan Nama Allah, sudah dikenal oleh Bangsa Arab kuno ... Kelompok keagamaan lainnya sebelum Islam adalah hunafa(tngl.hanif), sebuah kata yang pada asalnya ditujukan pada keyakinan monotheisme zaman kuno yang berpangkal pada ajaran Ibrahim dan Ismail . (Glasse, Ensiklopedia Islam, h.50).

    Sekalipun pada masa jahiliah pra-Islam dimana banyak berhala asing diimpor dan juga disebut sebagai Ilah/Allah (karena bisa bersifat nama diri/sebutan), sejarah menunjukkan bahwa sudah sejak masa Abraham di kalangan suku Arab ada penganut agama Hanif yang mempercayai Allah Ibrahim (ini dikenang terus menerus melalui tradisi Idul Adha) terutama suku-suku Ibrahimiyah dan Ismaeliyah yang tidak menganut agama Israel maupun Kristen. Iman Ibrahim ini tetap terjaga ditengah kemerosotan agama masa jahiliah dan kemudian diteguhkan kembali oleh Islam.

    Agama Islam dibawa ke Indonesia oleh orang Sufi yang berbaur dengan pribumi sejak abad-13, dan baru pada abad-16 agama Kristen masuk. Setelah 4 abad banyak kata Arab terserap ke dalam bahasa Melayu dan kemudian Indonesia (Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sekarang ada 1495 kata Arab menjadi kosakata bahasa Indonesia termasuk kata Allah). Sejak Kitab Injil pertama dalam bahasa Melayu karya Corneliz van Ruyl (1629) sudah digunakan nama Allah untuk menyebut El PL dan Theos PB. Corneliz tahu bahwa di negara berbahasa Arab nama Allah digunakan baik oleh orang Kristen maupun Islam, dan karena nama Allah sudah diadopsi ke dalam bahasa Melayu dan kemudian Indonesia, maka penggunaan nama itu dalam terjemahan Alkitab justru tepat, karena bukan merupakan terjemahan nama El melainkan hanya dialek yang berbeda dari nama yang sama

    .

    Robert Morey dalam buku Islamic Invasion, confronting the world s fastest religion (1992) menyebut nama Allah adalah nama dewa bulan bangsa Babil. Bukunya memuat Appendix Moon God dan menyebut bahwa bangsa Arab menyembah dewa bulan ini, sebagai buktinya ditunjukkan gambar bulan sabit diatas kubah mesjid (h.50,51,218). Ia menyebut Alkitab Arab ditulis pada abad-9 dan umat Kristen dipaksa penguasa Islam menulis nama Allah dalam Alkitab Arab (h.64). Sayang, Morey kurang terbuka wawasannya tentang sejarah penggunaan nama Allah sebelum masa Islam di kalangan orang Siria dan Arab, baik yang beragama Yahudi, maupun Kristen, dan juga penggunaannya dikalangan Arab Hanif pra-Islam, dan mungkin karena fobia akan Islam ia mengabaikan fakta bahwa dalam Al-Quran, Muhamad mengaku bahwa nama Allah dipakai bersama dengan umat Yahudi, Nasrani, dan Kristen (QS.22:40), tentu mereka menggunakannya lebih dahulu.

    Mengenai moon god yang banyak gambar inskripsinya dalam buku Morey (h.211-218), tidak jelas apa hubungannya dengan nama Allah karena pada masa kemerosotan jahiliah sebelum hadir Islam, di kawasan Arab (kecuali kaum Hanif) memang terjadi adopsi berhala-berhala asing dimana moon god disembah sebagai hubal. Bukan hanya dewa bulan hubal tetapi pada masa jahiliah berhala lain juga disebut Allah, seperti dewa air, dewa kesuburan, Al-Atta, Al-Uzza, dll. Menuduh bulan sabit sebagai bukti penyembahan dewa bulan jelas keliru, sebab lambang itu baru muncul di Turki pada abad-15 ol602penguasa Otoman yang mengadopsinya dari Byzantium, karena disana bulan sabit merupakan tanda kemenangan karena kemunculannya yang tiba-tiba menyelamatkan Byzantium dari serangan mendadak musuh di malam gelap. Bagi Islam, bulan sabit (hilal) adalah petunjuk ritme waktu. Muhamad mengatakan:

    Wahai bulan sabit yang indah dan bulan sabit petunjuk, keyakinanku teguh kepada Dia yang telah menciptakanmu. (Glasse, Ensiklopedia Islam, h.64).

    Dari para pemuja nama Yahweh juga sering diajukan kutipan yang menyebut bahwa nama Allah adalah nama berhala bulan/air. Kita perlu mengajak mereka agar membaca dengan benar kutipan tersebut, sebab mereka mencomot kutipan itu dari konteks ceritanya. Bila kita mempelajari konteks bacaan sekitar kutipan tersebut kita akan mengetahui bahwa penulis menyebut bahwa pada masa jahiliah nama Allah merosot ditujukan kepada berhala yang diimpor dari negeri sekeliling, namun dalam konteksnya jelas pula bahwa kemudian Islam mengembalikan kemerosotan itu kembali kepada agama hanif yang tetap mempertahankan iman agama Ibrahim. Tidak ada ayat dalam Al-Quran yang menyebut nama Allah asalnya nama berhala bulan, air atau lainnya.

    Mengkait-kaitkan berhala moon god Babel kuno dengan nama Allah, sama halnya dengan kalau mengkaitkan berhala anak lembu yang banyak dijumpai dalam inskripsi peninggalan Babel, Kanaan, dan Mesir kuno dengan nama Elohim dan Yahweh (Kel.32:4/1Raj.12:28/Neh.9:18).

    Para pemuja nama Yahweh mengidap Yudaisme mania dan Islam fobia dan menuduh bahwa nama Allah adalah nama berhala bulan dan baik umat Islam maupun Kristen disebut menghujat Tuhan bila menyebut nama Allah. Beberapa hal sebaiknya direnungkan oleh mereka:

    Akhirnya, umat Kristen perlu mendoakan para pemuja nama Yahweh itu agar mereka mau belajar dan mengerti kebenaran sejarah, dan tidak terjebak fanatisme sempit karena kekurang tahuan, dan agar Roh Kudus sendiri menerangi dan menaungi mereka dengan kebenaran Allah.

    Nama Yahweh

    Penulis : Herlianto

    Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: Akulah TUHAN (Yahweh). Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak, dan Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa (El Shadday), tetapi dengan nama-Ku TUHAN Aku belum menyatakan diri. (Keluaran 6:1-2)

    Ayat-ayat di atas cukup kontroversial, soalnya di situ disebutkan kepada Musa bahwa kepada para leluhurnya belum dinyatakan nama Yahweh tetapi baru El (Shadday), padahal kita membaca dalam Alkitab bahwa di kitab Kejadian, para leluhur pun ditulis sudah mengenal nama Yahweh (Dalam Alkitab terbitan LAI diterjemahkan TUHAN, atau LORD dalam Alkitab Inggeris).

    Memang bila kita membaca teks terjemahan sekarang terbaca bahwa dalam kitab Kejadian nama Yahweh sudah ditulis sebelum Keluaran, namun bila begitu timbul masalah bahwa kenyataan itu bertentangan dengan ayat Keluaran 6:2 dalam kutipan di atas. Pemuja nama Yahweh mencoba memberikan penerjemahan baru yang berusaha membuka peluang pada penerjemahan Kel.6:1-2 sehingga bisa sesuai dengan data-data Kejadian dimana nama Yahweh sebelum Musa sudah dikenal oleh para leluhur (misalnya dalam terjemahan Hebraic Roots Version yang banyak mempengaruhi Pemuja Nama Yahweh). Penerjemahan ulang ayat-ayat itu tidaklah mudah dan terkesan dicari-cari, lebih bersifat eisegese (memasukkan penafsiran kedalam Alkitab) daripada exegese (menggali Alkitab), dan kalau sebelum Musa sudah dikenal nama itu tentu Musa tidak akan bertanya lagi kepada Allah (Kel.3:13). Tetapi kalau belum bagaimana menjelaskan nama Yahweh dalam kitab Kejadian?

    Bila kita mempelajari sifat-sifat Tuhan El dan Yahweh , sekalipun keduanya memiliki teologi sama, dapat dilihat bahwa ada sifat baru yang ditunjukkan nama Yahweh, yaitu sebagai Tuhan yang menyelamatkan/membebaskan Israel dari perbudakan di Mesir yang dikenal sebagai Keluaran, ini menunjukkan bahwa nama itu baru dikenal bangsa Israel melalui Musa. Tuhan Yahweh adalah khas Israel, Tuhan yang dinamis, yang memberikan keteguhan iman bagi Israel dan yang menyatukan mereka menghadapi penindasan perbudakan di Mesir. Tuhan yang menyatakan diri dengan nama baru khas padang gurun Sinai itu bisa kita lihat petunjuknya di banyak kitab lain dalam Alkitab Perjanjian Lama (Tanakh) yang tidak bergantung satu dengan lainnya (a.l. Hos.2;13:4; Yes.43:3; Yer.2:1 dst; Yeh.20; Am.2:10 dst; 5:25; dan yang juga dinyanyikan penyair-penyair kuno Israel yang menyanyikan nyanyian kemenangan seperti dalam Hak.5 dan Mzm.68:8 dst.).

    Tetapi, kalau memang Yahweh adalah nama yang baru diberikan dalam keluaran bangsa Israel dari Mesir yang dinyatakan kepada Musa, bagaimana dengan ayat-ayat yang mengandung nama Yahweh dalam kitab Kejadian? Kelihatannya dalam proses penulisan dan penyalinan ada usaha intervensi teologis kaum Yahwis untuk mengubah nama El dalam sumber Kejadian dengan nama yang baru diperkenalkan itu, dimana kemudian nama Yahweh tidak sekedar disebut secara eksklusif sebagai Tuhan Israel tetapi diperpanjang sampai ke ayat Kejadian dan disebut bahwa Waktu itulah orang mulai memanggil nama TUHAN (Kej.4:26. Enos artinya manusia) untuk menunjukkan bahwa Yahweh juga Tuhan umat manusia. Bahkan keberadaan nama Yahweh itu kemudian dikaitkan dengan Penciptaan langit dan bumi (Kej.2:4-7), dan kemudian menghiasi banyak halaman kitab Kejadian (Kitab Pentateuch menurut tradisi ditulis oleh Musa yang sudah dikenalkan nama Yahweh).

    Yahwis mempunyai pandangan lain. Menurutnya, Yahweh adalah Allah seluruh umat manusia sejak awal kejadian dunia, dan ibadat kepada Yahweh didirikan oleh Enos, sebagai wakil umat manusia pada zaman awal sekali (Kej.4:26). Pandangan yang demikian tidak sesuai dengan kepercayaan bahwa Yahweh baru bertemu dengan israel di padang gurun. Tampaknya, pandangan Yahwis itu merupakan pandangan teologis dan bukan ingatan historis. Pandangan teologis ini sesuai dengan cara pemikirannya, yaitu bahwa penyataan yahweh bersifat universal dan berlaku untuk seluruh dunia. (Th. C. Vriezen, Agama Israel Kuno, h.125).

    Petunjuk lain bahwa Tuhan dengan nama Yahweh belum dikenal di kitab Kejadian bisa dilihat dari fakta bahwa selama berada di Kanaan, para leluhur dengan Tuhan mereka yang bernama El rukun-rukun saja berdampingan dengan orang Kanani (yang menyembah Baal), padahal sesudah Keluaran generasi Israel secara tegas dan fanatik dengan pimpinan Tuhan Yahweh membumi hanguskan orang-orang Kanani tanpa ampun. Bahwa Abraham juga belum mengenal nama Yahweh bisa dilihat dari fakta bahwa ia memberi nama kepada anaknya dengan nama El bukan Yah ,yaitu Isma el (El telah melihat. Kej.16:11). EL Shadday memberi Yakub nama baru Isra el (Kej.32:28;35:9-12), ini menyebabkan Israel membuat mezbah yang dinamai El Elohe Yisrael (Kej.33:20) dan mendirikan tugu dan menamai tempat itu Bet El (Kej.35:15). Absennya nama yang mengandung nama Yah dalam kitab Kejadian yang banyak hadir sejak kitab Keluaran seperti Abi yah , Eli yah , dan Yesa yah , tetapi hanya nama-nama yang mengandung nama El seperti a.l. Bab El (gerbang El), Mehuya el & Metusa el (Kej.4:18), dan Isra el (El yang bergumul. Kej.32:28), menunjukkan bahwa memang di masa kitab Kejadian kenyataannya yang disembah Yakub adalah El Elohe Yisrael (Kej.33:20) dan Ialah El Bet El (Kej.35:7).

    Ujian iman Abraham (yang dirayakan Islam sebagai Idul Adha ) menunjukkan bahwa nama Yahweh tidak dikenal dalam jalur bangsa Arab keturunan Ismael, bahkan Hagar menamai Tuhannya El Roi (El yang melihat). Ini memperkuat bukti bahwa nama Yahweh belum dikenal pada saat Abraham dan baru sesudah Musa keturunan Ishak-Yakub-lah nama Yahweh dikenal dalam jalur bangsa Israel. Kenyataan ini menunjukkan indikasi bahwa nama Tuhan semula adalah El dan baru dalam masa Keluaran dinyatakan nama kedua Yahweh, namun sekalipun demikian nama El masih terus digunakan sebagai sinonim Yahweh sesudah Keluaran (Bil.23:4,8,19,22-23;Mzm.85:8-9;Yes.42:5). Yesus diberi dua nama yang mengandung kedua nama itu, yaitu Imanuel (El menyertai kita. Mat.1:23) dan Yesus (Yahweh adalah keselamatan. Mat.1:21).

    Memang ada ayat yang dikemukakan pemuja nama Yahweh bahwa nama itu adalah nama Tuhan Israel satu-satu-nya (Yes.42:8; Kel.3:15), tetapi perlu diingat bahwa dari pembahasan di atas kita sudah melihat bahwa nama dalam Kel.3:15 baru disebutkan El sehingga Musa bertanya nama-Nya yang khas Israel (kata hayah memiliki berbagai variasi arti), namun perlu juga diingat bahwa sesudah Keluaran sampai kitab Yesaya pun nama El masih tetap digunakan sejajar dengan Yahweh (Yes.40:18;43:10-12;45:14). Sekalipun kelompok Yahwis berusaha mempertahankan Yahweh sebagai nama Tuhan satu-satunya dan tidak boleh diterjemahkan, perlu disadari bahwa Imam Besar Yahudi di Yerusalem Eliezer sendirlah yang mengutus 72 tua-tua Israel ke Alexandria untuk menerjemahkan Tanakh ke dalam bahasa Yunani (Septuaginta/LXX, abad-3sM), dimana nama Yahweh diterjemahkan Kurios dan El diterjemahkan Theos.

    Selain Tanakh yang digunakan sebagai tulisan suci di Bait Allah, LXX-lah yang digunakan umat Yahudi secara umum termasuk di sinagoge. Yesus membaca LXX ketika berkotbah di sinagoge di Nazaret (Luk.4:16-19) dan bukan naskah Tanakh (bandingkan dengan teks Yes.61:1-2 (LAI) yang diterjemahkan dari teks Ibrani Masoret). Dalam Perjanjian Baru tidak ada ayat yang menunjukkan bahwa Allah Bapa di sorga melarang LXX, padahal Yesus dan para Rasulnya menggunakan Septuaginta. Roh Kudus menerjemahkan kotbah Petrus ke dalam bahasa-bahasa asing termasuk yang didengar orang Arab (Kis.2:8-11). Adanya fragmen LXX yang dikemukakan Saksi-Saksi Yehuwa dan dikutip pemuja nama Yahweh (a.l. Kitab Ulangan & Zak.8:19-21 dan 8:23-9:4) justru menunjukkan rekayasa Yahwis yang mengganti nama Kurios dengan mencangkokkan nama tetragramaton yang terlihat dari perbedaan kepekatan tintanya, besarnya font, dan kata yang terpisah dari pola kalimat (huruf Ibrani ditulis dari kanan ke kiri sedang Yunani dari kiri ke kanan, ucapan Ibrani Pujilah Yah dalam Mzm.106:1 [LXX] tidak ditulis dalam aksara Ibrani tetapi dengan kata Yunani Allelouia ).

    Kita harus menyadari bahwa Yesus dan orang Israel dalam percakapan sehari-hari tidak menggunakan bahasa Ibrani melainkan bahasa Aram dan Yunani, dan Alkitab PB ditulis dalam bahasa Yunani koine (umum). Kalau Alkitab LAI menyebut bahasa Ibrani (seperti di atas kayu salib), itu terjemahan kata yunani hebraisti (lidah Ibrani) atau hebraidi dialektos (dialek Ibrani), yang maksudnya bahasa Aram. Bahasa Ibrani bukan bahasa surgawi yang terus-menerus dipakai dan tidak berubah. Bahasa Ibrani mengalami perkembangan, yaitu sebagai: (1) Ibrani Kuno (abad-11 s/d 6sM) yang berasal dan masih berciri bahasa Kanaan dan Amorit; (2) Ibrani Kitab Suci (abad-6 s/d 3sM) yang hanya terdiri konsonan sehingga sulit dibaca dan pada masa pembuangan mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Aram (Neh.8:4,9); (3) Ibrani Miznah (abad-3sM s/d 6M) bahasa Ibrani Kitab Suci yang dipengaruhi bahasa Aram, dalam percakapan sehari-hari digunakan bahasa Aram dan Yunani; (4) Ibrani Para Rabi (Abad-7 s/d 18M) bahasa Ibrani tulisan dipengaruhi Arab mulai diberi tanda-tanda baca dan vokal; dan (5) Ibrani Modern (Sejak abad-18) sejalan bangkitnya Zionisme mulai dipergunakan sebagai 104asa percakapan (tahun 1948 baru dijadikan bahasa nasional Israel).

    Pemuja nama Yahweh menganggap PB ditulis dalam bahasa Ibrani (seperti Hebraic Roots Version), ini bukan fakta sejarah melainkan harapan iman fanatisme Yudaisme karena bahasa Ibrani bahasa mati kala itu dan sudah beberapa abad sejak masa Ezra tidak dikenal umum. Josephus menulis bukunya Perang Yahudi dalam bahasa Aram (hebraisti). Memang Papias (160) menyebut bahwa Matius menulis logia dalam lidah Ibrani (hebraisti yang maksudnya bahasa Aram). Logia ini bukan Injil Matius sebab Injil Matius mengambil sebagian besar sumber Markus yang berbahasa Yunani dan banyak mengutip Septuaginta. Sumber ini mungkin digabung dengan logia Aram (ucapan/oracle Yesus) oleh Matius untuk menulis Injilnya dalam bahasa Yunani.

    NUBUATAN AKAL-AKALAN

    Oleh: Herlianto

    Artikel berjudul Tragedi Teologi Sukses mendapat tanggapan, baik yang mendukung maupun yang menyanggah, dan dari tanggapan itu ada beberapa yang berseberangan yang berasal dari lingkaran dekat penginjil tersebut.

    Seorang tokoh di kota Semarang yang dekat dengan penginjil itu (penginjil itu berasal dari Semarang) mengungkapkan bahwa memang penginjil itu dikenal sebagai sering membawakan nubuatan-nubuatan aneh yang berpusat pada diri dan keluarganya sendiri tapi banyak yang tertarik dan isteri penginjil itu pernah bersaksi ada banyak yang memberikan persembahan bahkan sampai 1M. Seorang pendeta yang banyak tahu praktek penginjil itu menyebutkan bahwa memang penginjil itu sering melakukan Prophetic Trickery (bisa diartikan Nubuatan Akal-Akalan ) dan pendeta itu memandang musibah sekitar penginjil itu sebagai peringatan Tuhan!

    Seorang teman dekat penginjil itu menyebutkan bahwa penginjil itu bersaksi bahwa peristiwa itu mujizat Tuhan karena ia sekarang sehat walafiat dan bahkan bangga karena kerugian mobil Mercedesnya yang hancur sudah dibayar asuransi dengan mobil seri E tipe terbaru. Dan ketika ditanya bagaimana dengan menantunya yang meninggal, dengan enteng ia menjawab bahwa telah dinubuatkan bahwa menantu itu dipanggil Tuhan karena kalau masih hidup ia akan menghadapi masalah besar yang tidak tertanggung hidupnya. Menarik untuk menyimak perilaku penginjil itu bahwa untuk menghibur kedua anak almarhumah yang meninggal katanya mereka sudah berhubungan dengan ibunya (spiritisme?) dan mendapat nubuatan hiburan bahwa si ibu sekarang sudah senang tinggal di rumah besar di surga! Seorang penginjil wanita yang dekat dengan pelayanan penginjil itu menyebutkan bahwa anak sipenginjil (yang juga jadi penginjil) yang terlibat penggelapan dana tentara, memperoleh sukses bisa membangun rumah mewah dan mendapat proyek besar karena ada deal dengan Tuhan.

    Kalau diamati, nubuatan akal-akalan semacam ini sudah menjadi bisnis penginjil yang tidak beda dengan praktek bisnis ramalan perdukunan yang menyenangkan telinga. Bila orang pergi kedukun atau ke gunung Kawi biasa yang diminta adalah sukses kekayaan dan jabatan atau lainnya, tetapi biasanya ada tumbal (sebagai deal) yang dikorbankan. Ada pabrik rokok yang maju berkat ramalan gunung Kawi tetapi keluarganya berantakan bahkan ada anaknya yang mengalami kecelakaan mobil terguling, beberapa pemilik kebon apel di kota Batu sukses tetapi mengorbankan anak yang menjadi gila atau mati. Yang jelas dalam kasus penginjil di atas, sehatnya sipenginjil dan kembalinya mobil mewah yang malah lebih baru tipenya, bahkan anaknya yang beroleh sukses bisa membangun rumah mewah dan mendapat proyek besar itu dianggap sebagai mujizat berkat Tuhan, tetapi dengan enteng menganggap kematian menantu sebagai sudah dinubuatkan, kematian yang akan menimbulkan trauma kepada ibunya yang mengandungnya dan kedua anak almarhumah yang masih remaja. Jelas pula kesaksian bahwa tuhan bisa dengan mudah diajak dialog dan didengar suaranya itu adalah tuhan yang sama sekali membutakan hati dan tidak menyadarkan orang akan jerat dan bahaya ber-KKN dengan tentara! Dan deal apaan dengan tuhan apaan yang mengorbankan nyawa isteri?

    Nubuatan akal-akalan yang berkaitan dengan kematian bisa kita lihat dari praktek Oral Roberts yang ketika membangun City of Faith nya yang kekurangan dana 8 juta dolar kemudian menubuatkan bahwa kalau tidak terpenuhi